Anda di halaman 1dari 13

Referat

Perawatan Dermatologi pada Usia Lanjut


Blok 6.2

Nama: Andi Ammar R. A.


NIM: G1A113027

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JAMBI
2016

BAB I
PENDAHULUAN
Dermatologi pada usia lanjut atau dermatologi geriatri adalah spesialisasi medis yang
mengkhususkan pada diagnosa, penanganan atau pengendalian kondisi-kondisi kulit pada kaum
manula. Karena populasi manusia umumnya memiliki waktu hidup yang cukup lama, penyakit
kronis menjadi lebih sering terjadi, termasuk penyakit kulit.
Penelitian di Amerika dengan sampel 20,000 menunjukkan hampir 40% usia 65-75 tahun
setidaknya mempunyai 1 masalah kulit, dengan keluhan terbanyak adalah gatal. Gangguan yang
biasanya sering ditemui pada lansia adalah kulit keriput akibat kehilangan jaringan lemak, kulit
kering dan kurang elastik karena menurunnya cairan dan kehilangan jaringan adiposa, kulit pucat
dan terdapat bintik-bintik hitam akibat menurunnya aliran darah ke kulit dan menurunnya sel-sel
yang memproduksi pigmen, kuku pada jari tangan dan kaki menjadi lebih tebal dan rapuh, pada
wanita usia lebih dari 60 tahun rambut wajah meningkat, rambut menipis atau botak dan warna
rambut kelabu.
Terdapat cukup banyak perubahan-perubahan yang timbul pada kulit manusia akibat
proses penuaan. Perubahan-perubahan tersebut dapat menimbulkan kelainan-kelainan pada kulit
dan adneksanya sehingga diperlukan penanganan untuk mengatasi hal tersebut.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Dermatologi pada Usia Lanjut
Pada dasarnya, penuaan kulit ada dua golongan, yaitu penuaan internal (chronological
aging) dan penuaan eksternal, yang disebabkan oleh pengaruh lingkungan, khususnya sinar
matahari, disebut photoaging. Proses penuaan menyebabkan perubahan-perubahan struktur dan
fisiologis pada tubuh, termasuk kulit.
Tabel 2.1 Perubahan struktur histologist kulit akibat proses penuaan.

Tabel 2.1 memaparkan perubahan-perubahan yang terjadi pada setiap lapisan kulit:
epidermis dan dermis, serta struktur adneksa kulit. Selain itu, perubahan fisiologis pada kulit
dapat dilihat pada Tabel 2.2.
Tabel 2.2 Penurunan fungsi kulit akibat proses penuaan.

2.2 Penanganan Dermatologi pada Usia Lanjut


Pada usia lanjut, terjadi penurunan struktur dan fungsi kulit sehingga dapat menimbulkan
kondisi-kondisi sebagai berikut.
2.2.1 Xerosis
Xerosis atau kulit kering adalah hilangnya atau berkurangnya kadar kelembaban stratum
corneum yang menyebabkan kekeringan pada kulit normal dan membran mukosa lainnya.
Xerosis dengan perubahan struktur stratum korneum dan metabolisme hydrolipidic
menyebabkan kulit kering,kasar dan memerah. Penyebab utama kulit kering adalah kekurangan
gizi, dehidrasi, dan dermatitis atopik. Kulit kering juga dapat disebabkan oleh penyakit tertentu
seperti diabetes, kekurangan vitamin, faktor lingkungan seperti hawa di musim dingin dan efek
samping pengobatan.
Penanganan pada Xerosis antara lain:

Gunakan pelembab yang mengandung urea dan asam laktat. bahan-bahan yang
digunakan untuk mencegah atau mengurangi kekeringan, sebagai perlindungan bagi kulit
(emolien) dapat meningkatkan xerosis tersebut.
Gunakan steroid topikal untuk daerah yang meradang dan sangat gatal.

Hindari Mandi berlama-lama.

2.2.2 Pruritus Senilis


Kulit senile yang kering dan mudah menderita fisur (chapped skin) mudah menjadi
pruritik. Pruritus senilis sering terjadi pada orang tua dengan usia 60 tahun atau lebih. Pruritus
dapat terjadi dengan atau tanpa reaksi inflamatorik. Rasa gatal terjadi karena stimulasi
ringan, seperti gosokan dengan pakaian atau perubahan suhu di sekitar penderita. Pruritus
senilis biasanya merupakan gejala dari penyakit lain. Oleh karena itu penting untuk mengetahui
penyebab dari gejala tersebut. Daerah yang tersering ialah daerah genital eksterna,
perineal dan perianal. Selain pruritus senilis sine material pada orang tua, ada pula pruritus yang
merupakan permulaan dermatitis eksfoliativa generalisata (eritroderma). Kadang-kadang
terdapat genesis dermatitis seboroik atau psoriasis.
Penanganan pruritus senilis:

Lakukan kompres dingin seperti es batu, bedak dingin yang mengandung


mentol, bila keluhan pruritus masih berlanjut, perlu pemeriksaan pruritus akibat
masalah sistemik.
Gunakan Alpha-Keri, Lubath (bath oil) yang mengandung surfaktan dan membuat
minyak bercampur dengan air rendaman untuk membersihkan kulit.
Preparat kortikosteroid topikal bermanfaat sebagai obat anti-inflamasi untuk mengurangi
rasa gatal.

Antihistamin, seperti difenhidramin (Benadryl), efektif membuat tidur nyenyak,


sedangkan antihistamin nonsedasi seperti terfenadin (seldane) baik untuk
menghilangkan pruritus pada siang hari.
Sementara antihistamin trisiklik seperti doksepin (sinequen) untuk pruritus akibat
neuropsikogen.

2.2.3 Psoriasis
Psoriasis adalah penyakit yang penyebabnya autoimun, bersifat kronik dan residif,
ditandai dengan adanya bercak-bercak eritema berbatas tegas dengan skuama yang kasar,
berlapis-lapis dan transparan, disertai dengan fenomena tetesan lilin, Auspitz dan Kobner.
Secara garis besar, pengobatan pada psoriasis terdiri dari pengobatan secara sistemik,
pengobatan secara topical, terapi penyinaran dengan PUVA dan pengobatan dengan cara
Goeckman.
1. Pengobatan Sistemik
a. Kortikosteroid
Kortikosteroid dapat mengontrol psoriasis dengan dosis ekuivalen
prednisone 30mg per hari. Setelah membaik dosis diturunkan perlahan-lahan lalu
diberikan dosis pemeliharaan. Penghentian obat secara mendadak akan
menyebabkan kekambuhan dan dapat terjadi psoriasis pustulosa generalisata. 2
b. Obat Sitostatik
Obat sitistatik yang biasa digunakan adalah metotrexate. Obat ini bekerja
dengan cara menghambat enzim dihidrofolat reduktase, sehingga menghambat
sintesis timidilat dan purin. Obat ini menunjukkan hambatan replikasi dan fungsi
sel T dan mungkin juga sel B karena adanya efek hambatan sintesis. 7
Indikasinya ialah untuk psoriasis, psoriasis pustulosa, psoriasis arthritis
dengan lesi kulit dan eritroderma karena psoriasis yang sukar terkontrol dengan
obat standar. Kontraindikasinya ialah bila terdapat kelainan hepar, ginjal, system
hematopoetik, kehamilan, penyakit infeksi aktif (misalnya TBC, Ulkus peptikum,
colitis ulserosa dan psikosis). Pada awalnya metotrexate diberikan dengan dosis
inisial 5 mg per orang dengan psoriasis untuk melihat apakah ada gejala
sensitivitas atau gejala toksik. Jika tidak terjadi efek yang tidak diinginkan maka
MTX diberikan dengan dosis 3 x 2.5mg dengan interval 12 jam selama 1 minggu
dengan dosis total 7.5mg. Jika tidak ada perbaikan maka dosis dinaikkan 2,5 - 5

mg per minggu dan biasanya dengan dosis 3 x 5 mg akan tampak ada perbaikan.
Cara lain adalah dengan pemberian MTX i.m dosis tunggal sebesr 7,5 25 mg.
Tetapi dengan cara ini lebih banyak menimbulkan reaksi sensitivitas dan reaksi
toksik. Jika penyakit telah terkontrol maka dosis perlahan diturunkan dan diganti
ke pengobatan secara topical.
Setiap 2 minggu dilakukan pemeriksaan hematologic, urin lengkap, fungsi
ginjal dan fungsi hati. Bila jumlah leukosit < 3500/uL maka pemberian MTX
dihentikan. Bila fungsi hepar baik maka dilakukan biopsy hepar setiap kali dosis
mencapai dosis total 1,5 gram, tetapi bila fungsi hepar abnormal maka dilakukan
biopsy hepar bila dosis total mencapai 1 gram.
Efek samping dari penggunaan MTX adalah nyeri kepala, alopecia,
saluran cerna, sumsul tulang, hepar dan lien. Pada saluran cerna berupa nausea,
nyeri lambung, stomatitis ulcerosa dan diare. Pada reaksi yang hebat dapat terjadi
enteritis hemoragik dan perforasi intestinal. Depresi sumsum tulang menyebabkan
timbulnya leucopenia, trombositopenia dan kadang-kadang anemia. Pada hepar
dapat terjadi fibrosis dan sirosis.
c. Levodopa
Levodopa sebenarnya dipakai untuk penyakit Parkinson. Pada beberapa
pasien Parkinson yang juga menderita psoriasis dan diterapi dengan levodopa
menunjukkan perbaikan. Berdasarkan penelitian, Levodopa menyembuhkan
sekitar 40% pasien dengan psoriasis. Dosisnya adalah 2 x 250 mg 3 x 250 mg.
Efek samping levodopa adalah mual, muntah, anoreksia, hipotensi, gangguan
psikis dan gangguan pada jantung.
d. Diaminodifenilsulfon
Diaminodifenilsulfon (DDS) digunakan pada pengobatan psoriasis
pustulosa tipe Barber dengan dosis 2 x 100 mg sehari. Efek sampingnya adalah
anemia hemolitik, methemoglobinuria dan agranulositosis.
e. Etretinat & Asitretin
Etretinat merupakan retinoid aromatik, derivat vitamin A digunakan bagi
psoriasis yang sukar disembuhkan dengan obat-obat lain mengingat efek
sampingnya. Etretinat efektif untuk psoriasis pustular dan dapat pula digunakan
untuk psoriasis eritroderma. Pada psoriasis obat tersebut mengurangi proliferasi
sel epidermal pada lesi psoriasis dan kulit normal. Dosisnya bervariasi : pada
bulan pertama diberikan 1mg/kgbb/hari, jika belum terjadi perbaikan dosis dapat

dinaikkan menjadi 1 mg/kgbb/hari. Efek sampingnya berupa kulit menipis dan


kering, selaput lendir pada mulut, mata, dan hidung kering, kerontokan rambut,
cheilitis, pruritus, nyeri tulang dan persendian, peninggian lipid darah, gangguan
fungsi hepar, hiperostosis, dan teratogenik. Kehamilan hendaknya tidak terjadi
sebelum 2 tahun setelah obat dihentikan. Asitretin (neotigason) merupakan
metabolit aktif etretinat yang utama. Efek sampingnya dan manfaatnya serupa
dengan etretinat. Kelebihannya, waktu paruh eliminasinya hanya 2 hari,
dibandingkan dengan etretinat yang lebih dari 100 hari. 2
f. Siklosporin
Siklosporin berikatan dengan siklofilin selanjutnya

menghambat

kalsineurin. Kalsineurin adalah enzim fosfatase dependent kalsium dan memgang


peranan kunci dalam defosforilasi protein regulator di sitosol, yaitu NFATc
(Nuclear Factor of Activated T Cell). Setelah mengalami defosforilasi, NFATc ini
mengalami translokasi ke dalam nukleus untuk mengaktifkan gen yang
bertanggung jawab dalam sintesis sitokin, terutama IL-2. Siklosporin juga
mengurangi produksi IL-2 dengan cara meningkatkan ekspresi TGF- yang
merupakan penghambat kuat aktivasi limfosit T oleh IL-2. Meningkatnya ekspresi
TGF- diduga memegang peranan penting pada efek imunosupresan siklosporin. 7
Efeknya ialah imunosupresif. Dosisnya 1-4 mg/kgbb/hari. Bersifat
nefrotoksik dan hepatotoksik. Hasil pengobatan untuk psoriasis baik, hanya
setelah obat dihentikan dapat terjadi kekambuhan.
g. Terapi biologic
Obat biologic merupakan obat yang baru dengan efeknya memblok
langkah molecular spesifik yang penting paa pathogenesis psoriasis. Contoh
obatnya adalah alefaseb, efalizumab dan TNF--antagonist.
2. Pengobatan Topikal
a. Preparat Ter
Obat topikal yang biasa digunakan adalah preparat ter, yang efeknya
adalah anti radang. Menurut asalnya preparat ter dibagi menjadi 3, yakni yang
berasal dari:
Fosil, misalnya iktiol.
Kayu, misalnya oleum kadini dan oleum ruski.
Batubara, misalnya liantral dan likuor karbonis detergens

Preparat ter yang berasal dari fosil biasanya kurang efektif untuk psoriasis, yang
cukup efektif ialah yang berasal dari batubara dan kayu. Ter dari batubara lebih
efektif daripada ter berasal dari kayu, sebaliknya kemungkinan memberikan iritasi
juga besar. Pada psoriasis yang telah menahun lebih baik digunakan ter yang
berasal dari batubara, karena ter tesbut lebih efektif daripada ter yang berasal dari
kayu dan pada psoriasis yang menahun kemungkinan timbulnya iritasi kecil.
Sebaliknya pada psoriasis akut dipilih ter dari kayu, karena jika dipakai ter dari
batu bara dikuatirkan akan terjadi iritasi dan menjadi eritroderma.
Ter yang berasal dari kayu kurang nyaman bagi penderita karena berbau
kurang sedap dan berwarna coklat kehitaman. Sedangkan likuor karbonis
detergens tidak demikian. Konsentrasi yang biasa digunakan 2 5%, dimulai
dengan konsentrasi

rendah, jika tidak ada perbaikan konsentrasi dinaikkan.

Supaya lebih efektif, maka daya penetrasi harus dipertinggi dengan cara
menambahkan asam salisilat dengan konsentrasi 3 5 %. Sebagai vehikulum
harus digunakan salap karena salap mempunyai daya penetrasi terbaik.
b. Kortikosteroid
Kortikosteroid topikal memberi hasil yag baik. Potensi dan vehikulum
bergantung pada lokasinya. Pada skalp, muka dan daerah lipatan digunakan krim,
di tempat lain digunakan salap. Pada daerah muka, lipatan dan genitalia eksterna
dipilih potensi sedang, bila digunakan potensi kuat pada muka dapat memberik
efek samping di antaranya teleangiektasis, sedangkan di lipatan berupa strie
atrofikans. Pada batang tubuh dan ekstremitas digunakan salap dengan potensi
kuat atau sangat kuat bergantung pada lama penyakit. Jika telah terjadi perbaikan
potensinya dan frekuensinya dikurangi.
c. Ditranol (Atralin)
Obat ini dikatakan efektif. Kekurangannya adalah mewarnai kulit dan
pakaian. Konsentrasi yang digunakan biasanya 0,2-0,8 persen dalam pasta, salep,
atau krim. Lama pemakaian hanya jam sehari sekali untuk mencegah
iritasi. Penyembuhan dalam 3 minggu.
d. Pengobatan dengan Penyinaran
Seperti diketahui sinar ultraviolet mempunyai efek menghambat mitosis,
sehingga dapat digunakan untuk pengobatan psoriasis. Cara yang terbaik ialah
penyinaran secara alamiah, tetapi sayang tidak dapat diukur dan jika berlebihan

akan memperberat psoriasis. Karena itu digunakan sinar ultraviolet artifisial,


diantaranya sinar A yang dikenal dengan UVA. Sinar tersebut dapat digunakan
secara tersendiri atau berkombinasi dengan psoralen (8-metoksipsoralen,
metoksalen) dan disebut PUVA, atau bersama-sama dengan preparat ter yang
dikenal sebagai pengobatan cara Goeckerman.
Dapat juga digunakan UVB untuk pengobatan psoriasis tipe plak, gutata,
pustular, dan eritroderma. Pada yang tipe plak dan gutata dikombinasikan dengan
salep likuor karbonis detergens 5 -7% yang dioleskan sehari dua kali. Sebelum
disinar dicuci dahulu. Dosis UVB pertama 12 -23 m J menurut tipe kulit,
kemudian dinaikkan berangsur-angsur. Setiap kali dinaikkan sebagai 15% dari
dosis sebelumnya. Diberikan seminggu tiga kali. Target pengobatan ialah
pengurangan 75% skor PASI (Psoriasis Area and Severity Index). Hasil baik
dicapai pada 73,3% kasus terutama tipe plak.
e. Calcipotriol
Calcipotriol ialah sintetik vitamin D. Preparatnya berupa salep atau krim
50 mg/g. Perbaikan setelah satu minggu. Efektivitas salep ini sedikit lebih baik
daripada salap betametason 17-valerat. Efek sampingnya pada 4 20% berupa
iritasi, yakni rasa terbakar dan tersengat, dapat pula telihat eritema dan skuamasi.
Rasa tersebut akan hilang setelah beberapa hari obat dihentikan.
f. Tazaroten
Merupakan molekul retinoid asetilinik topikal, efeknya menghambat
proliferasi dan normalisasi petanda differensiasi keratinosit dan menghambat
petanda proinflamasi pada sel radang yang menginfiltrasi kulit. Tersedia dalam
bentuk gel, dan krim dengan konsentrasi 0,05 % dan 0,1 %. Bila dikombinasikan
dengan steroid topikal potensi sedang dan kuat akan mempercepat penyembuhan
dan mengurangi iritasi. Efek sampingnya ialah iritasi berupa gatal, rasa terbakar
dan eritema pada 30 % kasus, juga bersifat fotosensitif.
g. Emolien
Efek emolien ialah melembutkan permukaan kulit. Pada batang tubuh
(selain lipatan), ekstremitas atas dan bawah biasanya digunakan salep dengan
bahan dasar vaselin 1-2 kali/hari, fungsinya juga sebagai emolien dengan akibat
meninggikan daya penetrasi bahan aktif. Jadi emolien sendiri tidak mempunyai
efek antipsoriasis.
3. PUVA

Karena psoralen bersifat fotoaktif, maka dengan UVA akan terjadi efek yang
sinergik. Mula-mula 10 20 mg psoralen diberikan per os, 2 jam kemudian dilakukan
penyinaran. Terdapat bermacam-macam bagan, di antaranya 4 x seminggu. Penyembuhan
mencapai 93% setelah pengobatan 3 4 minggu, setelah itu dilakukan terapi
pemeliharaan seminggu sekali atau dijarangkan untuk mencegah rekuren. PUVA juga
dapat digunakan untuk eritroderma psoriatik dan psoriasis pustulosa. Beberapa penyelidik
mengatakan pada pemakaan yang lama kemungkinan akan terjadi kanker kulit.
4. Pengobatan Cara Goeckerman
Pada tahun 1925 Goeckerman menggunakan pengobatan kombinasi ter berasal dari
batubara dan sinar ultraviolet. Kemudian terdapat banyak modifikasi mengenai ter dan sinar
tersebut. Yang pertama digunakan ialah crude coal ter yang bersifat fotosensitif. Lama
pengobatan 4 6 minggu, penyembuhan terjadi setelah 3 minggu. Ternyata bahwa UVB lebih
efektif daripada UVA.

2.2.4 Keratosis Seboroik


Keratosis seboroik merupakan tumor jinak yang sering pada orang tua. Keratosis
seboroik memiliki variasi dalam gambaran klinisnya, dan berkembang dari proliferasi sel
epidermis. Walaupun belum ditemukan penyebab yang spesifik namun keluhan ini lebih sering
muncul pada area yang terpapar matahari. Terkadang berbentuk soliter, biasanya timbul beberapa
papul berwarna coklat.
Penanganan keratosis seboroik antara lain,
1. Terapi obat
Ammonium laktat dan asam alfa hidroksi telah dilaporkan dapat mengurangi
bertambah beratnya penyakit. Lesi superfisial dapat ditangani dengan baik
menggunakan asam triklorasetic

pemberian obat topikal krim tazarotene 0,1%

selama 16 minggu memberikan hasil yang baik pada 50% pasien.


2. Terapi operasi
Keratosis seboroik yang simptomatis dan mengganggu secara kosmetik
membutuhkan penanganan. Destruksi metode krioterapi, elektrodesisasi, yang diikuti
dengan kuret, lalu desisi atau terapi laser telah menghasilkan terapi yang efektif.
Menghilangkan lesi yang kecil melalui kuret menghasilkan permukaan yang rata yang
akan tertutupi oleh epidermis disekitarnya dalam seminggu.

2.2.5 Pemfigoid Bullosa


Pemfigoid Bulosa (PB) adalah penyakit umum autoimun kronik yang ditandai oleh
adanya bula subepidermal pada kulit. Penyakit ini biasanya diderita pada orang tua dengan erupsi
bulosa disertai rasa gatal menyeluruh dan lebih jarang melibatkan mukosa, tetapi memiliki angka
morbiditas yang tinggi.
Pengobatan terdiri dari prednisone sistemik, sendiri atau dalam kombinasi dengan agen
lain yaitu azathioprine, mycophenolate mofetil atau tetracycline. Obat-obat ini biasanya dimulai
secara bersamaan, mengikuti penurunan secara bertahap dari prednison dan agen steroid setelah
remisi klinis tercapai. Kasus ringan mungkin hanya memerlukan kortikosteroid topikal.
Methrotrexate mungkin digunakan pada pasien dengan penyakit berat yang tidak dapat
bertoleransi terhadap prednison. Dosis prednisolon 40-60 mg sehari, jika telah tampak perbaikan
dosis di turunkan perlahan-lahan. Sebagian kasus dapat disembuhkan dengan kortikosteroid saja.
Terapi steroid sistemik biasanya diperlukan, tetapi tidak seperti Pemfigus, dimungkinkan
untuk menghentikan terapi ini setelah 2 sampai 3 tahun. Dosis awal 60-100 mg prednisolon atau
setara harus secara bertahap dikurangi ke jumlah minimum yang akan mengendalikan penyakit
ini. Azatioprine juga berpotensi memberikan efek samping yang buruk seperti prednison. Suatu
kajian menjelaskan jika glukokortikoid sistemik diberikan pada penderita dengan dosis tinggi
tanpa dilakukan tapering selama 4 minggu, kombinasi dengan azatioprine kurang memberi
manfaat tetapi sebaliknya penderita harus menanggung efek samping obat tersebut.
Pada penderita lanjut usia dengan gejala yang tidak progresif, obat imunosupresif ini bisa
digunakan pada terapi awal tanpa dikombinasikan dengan prednison. Glukokortikoid sistemik
biasanya diperlukan pada penderita dengan gejala yang berat dan progresif supaya penderita bisa
ditangani dengan cepat. Efek pemakaian glukokortikoid sistemik sangat cepat yaitu hanya
beberapa hari.
Terapi dosis tinggi metilprednisolon intravena juga dilaporkan efektif untuk mengontrol
dengan cepat pembentukan bula yang aktif pada Pemfigoid Bulosa.
Sulfon mungkin efektif pada setengah pasien dengan Pemfigoid Bulosa. Tidak banyak
pasien yang berespon terhadap dapson.

DAFTAR PUSTAKA
Champion RH, Burton JL, Burns DA, Breathnach. Rook Textbook of Dermatology 6th Edition,
Volume Two. United States : Blackwell Science; 1998.p.1658-60
Djuanda A. Pemfigoid Bulosa. In: Hamzah M, Aisah S, editors. Buku Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin Edisi kelima. Jakarta: Balai penerbit FK-UI 2010. P.210-211.
Norman RA. Xerosis and pruritus in the elderly: recognition and management. Dermatol Ther
2003; 16: 254259.
Wilkinson SM, and Beck MH. Rooks Textbook Of Dermatology 7th ed. Australia: Blackwell
Publishing. 2004.
Wolff K., Johnson R.A. Psoriasis. Dalam Wolff K., Johnson R.A.Fitzpatricks color atlas and
synopsis of clinical dermatology. Edisi keenam. New York:Mc Graw Hill;2009.h.53-71.
http://www.persify.com/id/perspectives/medical-specialty/dermatologi-geriatri-_-911000103284

diunduh pada 15 Mei 2016.