Anda di halaman 1dari 33

Laporan Kasus

OSTEOARTRITIS GENU

Disusun oleh:
Fredy Ciputra, S.Ked

04054821618111

Rofifah Dwi Putri, S.Ked

04084821618228

Kepaniteraan Klinik Bagian Rehabilitasi Medik


Periode 30 Mei 2016 15 Juni 2016
Pembimbing: dr. Yenny Fitrizar

BAGIAN/DEPARTEMEN REHABILITASI MEDIK


RUMAH SAKIT Dr. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2016
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah S.W.T. atas karunia-Nya sehingga penulis
dapat menyelesaikan laporan kasus yang berjudul Osteoartritis Genu.
Laporan kasus ini merupakan salah satu syarat Kepaniteraan Klinik di
Bagian/Departemen Rehabilitasi Medik RSUP DR. Moh. Hoesin Palembang
Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada dr.Yenny Fitrizar selaku
pembimbing yang telah memberikan bimbingan selama penulisan dan penyusunan
laporan kasus ini.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan laporan
kasus ini. Oleh karena itu, kritik dan saran dari berbagai pihak sangat penulis
harapkan. Semoga laporanini dapat memberi manfaat bagi pembaca.

Palembang, 11 Juli 2016

Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.................................................................................................i
KATA PENGANTAR...............................................................................................ii
DAFTAR ISI...........................................................................................................iii
BAB I

PENDAHULUAN ..................................................................................4

BAB II

LAPORAN KASUS ...............................................................................6


Anamnesis...............................................................................................6
Pemeriksaan Fisik....................................................................................8
Resume..................................................................................................15
Tatalaksana............................................................................................16

Prognosis...............................................................................................17
BAB III TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................18
BAB IV PENUTUP.............................................................................................31
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................32

BAB I
PENDAHULUAN

Salah satu gangguan kesehatan yang menonjol pada usia lanjut adalah gangguan
muskuloskeletal, salah satunya ialah Osteoartritis. Osteoarthritis (OA) adalah penyakit pada
sendi yang menyebabkan kerusakan pada kartilago sendi. Osteoarthritis adalah salah satu
jenis radang sendi yang terjadi akibat kartilago sendi menipis. Kartilago adalah tulang rawan
yang menjadi bantalan di ujung tulang sehingga mencegah terjadinya gesekan antar ujung
tulang. Bila kartilago tersebut habis, maka ujung tulang pun akan rusak dan hancur sedikit
demi sedikit serta sendi akan terasa sakit.30
Osteoarthritis (OA) paling sering menyerang mereka yang sudah lanjut usia, terutama
diatas 40 tahun. Sekitar 50% penderita OA mengalami perubahan radiologis namun hanya
separuhnya yang terdapat gejala-gejala. Osteoarthritis menyerang pria dan wanita, tapi lebih
banyak wanita yang menderita penyakit ini dalam stadium sedang sampai berat. Di Amerika
Serikat, dilaporkan terjadi 1-10% dari populasi ratio laki-laki dan perempuan 1:1.
Prevelensinya dalam satu tahun berkisar antara 15% - 20% sedangkan insiden berdasarkan
kunjungan pasien baru ke pihak medis adalah 13,4%. Di Inggris dilaporkan prevelensi
osteoarthritis pada populasi lebih kurang 16.500.000 pertahun, yang melakukan konsultasi ke
pihak medis lebih kurang antara 3 7 juta orang. Di India, prevelensi osteoarthritis antara
laki-laki dan perempuan mencapai hingga 40%. Sekitar 5,1 % pria yang berusia 30 tahun
mengalami osteoarthritis dan sekitar 3,7 % wanita dengan kondisi serupa.31
Menurut penelitian Warma Haditmaja (2011), jumlah prevelensi penderita
osteoarthritis di Indonesia berkisar 5- 10 % per tahunnya dengan perbandingan 2:1 antara
perempuan dan laki-laki. Dengan jumlah sekitar 30 % penderita yang berusia diatas 30 tahun
keatas mengalami osteoarthritis. Hal ini di karenakan faktor aktivitas yang tinggi, umur,
hormon dan berat badan. Data yang diperoleh berdasarkan observasi yang bersumber dari
RSAD Pelamonia Tingkat II Makassar, menyebutkan bahwa selama 3 bulan terakhir
dengankunjungan pasien berulang dengan 2 3 kali kunjungan setiap minggunya yakni
antara bulan Agustus-Oktober 2015 tercatat sekitar total kunjungan dengan kasus
osteoarthritis kefisioterapi diperoleh data 10 orang laki laki dan 26 orang perempuan
dengan jumlah insidensi kunjungan sebanyak 36 kali.32
Mengingat pentingnya fungsi dari sendi lutut, maka penanganan OA pada lutut harus
diusahakan seoptimal mungkin, dengan lebih dulu memahami keluhan-keluhan yang
4

ditimbulkan OA pada lutut tersebut. OA pada lutut dapat menimbulkan gangguan kapasitas
fisik yang berupa : (1) Adanya nyeri pada lutut baik nyeri diam, tekan, ataupun gerak, (2)
Adanya keterbatasn lingkup gerak sendi karena nyeri, (3) Adanya spasme, penurunan
kekuatan otot dan odema. Sedangkan gangguan fungsionalnya berupa: (1) Adanya gangguan
aktifitas jongkok berdiri terutama saat toileting, (2) Kesulitan untuk naik turun tangga
terutama saat menekuk dan menapak, (3) Berjalan jauh serta mengalami gangguan untuk
aktifitas sholat terutama untuk duduk antara dua sujud, serta berdiri lama.33
Salah satu pelayanan kesehatan yang ikut berperan dalam rehabilitasi OA adalah
fisioterapi.Fisioterapi adalah suatu bentuk pelayanan kesehatan yangditujukan kepada
individu maupun kelompok untuk memulihkan dan mengembangkan fungsigerak tubuh
sepanjang daur kehidupan dengan penanganan secara manual maupun dengan peralatan
(fisik, elektroterapiutis dan mekanis). Sedangkan rehabilitasi medis adalah cabang ilmu
kedokteran yang menekankan pada pemulihan fungsional pasien agar aktivitas fisik,
psikososial, kejuruan, dan rekreasinya bisa kembali normal.34
Berikut akan disampaikan sebuah laporan kasus seorang penderita osteoartritis genu
bilateral yang dirawat di bagian Rehabilitasi Medik RSMH.

BAB II
LAPORAN KASUS

2.1 ANAMNESIS
A. Identitas Pasien
Nama

: Tn. MIA

Umur

: 69 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Pensiun BUMN

Alamat

: Jl. Ahmad Yani Blok F No.41/42 Nigata

Status Perkawinan

: Menikah

Tanggal Periksa

: 1 Juli 2016

No.RM

: 780735

B. Keluhan Utama
Nyeri pada saat jongkok
C. Riwayat Penyakit Sekarang
Sejak 1 tahun yang lalu os mulai merasakan nyeri pada lutut, pertama kali
nyeri dirasakan hadir pada lutut sebelah kanan kemudian dirasakan juga pada lutut
sebelah kiri. Nyeri terlokalisasi di lutut, tidak menjalar, dan terasa seperti ditusuktusuk. Nyeri lutut disertai kekakuan terutama saat bangun di pagi hari 10-15 menit,
kemudian hilang dengan sendirinya. Nyeri terutama dirasakan pada saat os sedang
melakukan aktivitas dan hilang ketika beristirahat, serta nyeri dirasakan hilang timbul.
Nyeri bertambah berat ketika melakukan aktivitas seperti berjongkok lama, berdiri
lama, menaiki tangga, saat sholat, duduk bersila dan terdapat bunyi krek-krek saat
lutut digerakkan. Sejak dua minggu terakhir, os merasa nyeri bertambah berat setelah
berjongkok lama, dan kesulitan dalam menjalankan aktivitas sehari-harinya terutama
6

dalam hal beribadah (sholat) dan berkebun. Riwayat jatuh disangkal. Os sudah pernah
berobat ke dokter tetapi keluhan tetap dirasakan. Terakhir os berobat ke dokter
spesialis, diberikan suntikan pada lutut dan didiagnosis dengan OA genu, kemudian os
dirujuk ke RS Dr. Moh. Hoesin.
D. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat hipertensi

: disangkal

Riwayat DM

: disangkal

Riwayat penyakit jantung

: disangkal

Riwayat alergi

: disangkal

Riwayat asma

: disangkal

Riwayat trauma

: disangkal

Riwayat operasi

: disangkal

E. Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat sakit serupa

: disangkal

Riwayat hipertensi

: disangkal

Riwayat DM

: disangkal

Riwayat penyakit jantung

: disangkal

Riwayat asma

: disangkal

F. Riwayat Pekerjaan
Os merupakan pensiunan BUMN. Os memiliki hobi berkebun sehingga
banyak waktu dihabiskan dengan berjongkok dan berdiri dalam waktu yang cukup
lama. Os juga sering mengangkat barang-barang yang cukup berat seperti
memindahkan pot tanaman.
G. Riwayat Sosial Ekonomi
Os sudah menikah 1x sampai sekarang, saat ini tinggal dengan istri, kedua
anak dan menantu, serta kedua cucunya. Os tinggal di rumah permanen, 2 lantai,
lantai ubin, ada 10 anak tangga, sumber penerangan dari Perusahaan Listrik Negara,
sumber air dari Perusahaan Air Minum, WC jenis duduk, berjarak 6 m dari kamar
tidur, dan tidak ada pegangan tangan di dalam kamar mandi. Rumah cukup dekat
7

dengan jalan raya, pasar, dan rumah sakit. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai
tempat pelayanan tersebut (pasar dan rumah sakit) 10 menit dengan menggunakan
angkutan umum. Os sekarang tidak bekerja.
2.2 PEMERIKSAAN FISIK
1.

Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum
: Baik
Kesadaran
: Kompos Mentis (GCS: E4M6V5 = 15)
Tinggi Badan/Berat Badan : 168 cm/87 kg (BMI: 30,82 kg/m2 / Obesitas derajat 1)
Cara Berjalan/Gait

: Normal

Bahasa/Bicara

: Komunikasi verbal

: Normal

Komunikasi nonverbal

: Normal

: Tekanan Darah
Nadi

: 120/80 mmHg
: 70 x/menit, reguler, isi

Respirasi

cukup
: 20 x/menit

Suhu

: 36,7C

Tanda Vital

Kulit

: Warna sawo matang, pucat (-), ikterik (-), petechie (-),


hiperpigmentasi (-), hipopigmentasi (-)

Status Psikis

Kepala

: Sikap

: Kooperatif

Ekspresi wajah

: Eutimik

Orientasi

: Normal

Perhatian

: Normal

: Bentuk kepala normochepal, kedudukan kepala


simetris, luka (-), rambut hitam, tidak mudah rontok,
tidak mudah dicabut, atrofi otot (-), wajah simetris.

Mata

: Konjunctiva pucat (-/-), sklera ikterik (-/-), refleks


cahaya langsung dan tak langsung (+/+), pupil isokor
(3mm/3mm), oedem palpebra (-/-), sekret (-/-)

Hidung

: Nafas cuping hidung (-), deformitas (-), darah (-/-),


sekret (-/-)

Telinga

: Deformitas (-/-), darah (-/-), sekret (-/-)

Mulut

: Bibir kering (-), sianosis (-), lidah kotor (-), lidah


simetris, lidah tremor (+), stomatitis (-), mukosa pucat
(-), gusi berdarah (-).

Leher

: Simetris, trakea di tengah, JVP normal(5-2 cmH2O),


kelenjar getah bening tidak membesar, nyeri tekan (-),
benjolan (-)
Tes Provokasi

Lhermitte test/Spurling

: tidak dilakukan

Tes Distraksi

: tidak dilakukan

Tes Valsava

: tidak dilakukan

Tes Nafziger

: tidak dilakukan

Thorax

Jantung
Inspeksi

: Ictus Cordis tidak tampak

Palpasi

: Ictus Cordis tidak teraba

Perkusi

: Batas jantung normal

Auskultasi

: Bunyi jantung I dan II intensitas normal, reguler,


murmur (-), gallop (-)

Paru
Inspeksi

: Saat statis dan dinamis, pengembangan dada kanan =


kiri

Palpasi

: Fremitus raba kanan = kiri, krepitasi (-), Nyeri tekan(-)

Perkusi

: Sonor/sonor

Auskultasi

: Vesikuler (+/+), normal, suara tambahan (-/-)

Abdomen
Inspeksi

: Datar, tidak tampak massa, venektasi (-), scar (-)

Auskultasi

: Peristaltik (+) normal

Palpasi

: Nyeri tekan (-), lemas, hepar dan lien tidak teraba

Perkusi

: Tympani, pekak beralih (-)

Trunkus
Inspeksi

: deformitas (-), skoliosis (-), kifosis (-), lordosis (-),


gibbus (-), hairy spot (-)

Palpasi

: massa (-), nyeri tekan (-), oedem (-)

Perkusi

: nyeri ketok kostovertebrae (-)


9

Tes Provokasi

: Tidak dilakukan

Ektremitas
Oedem

Akral dingin

Status Lokalis (Genu Dextra et Sinistra)


Inspeksi

: deformitas (-/-), peradangan (-/-), varises (-/-)

Palpasi

: nyeri tekan (+/+), krepitasi (+/+)

Movement

: nyeri gerak aktif (+/+ minimal)

Visual Analogue Scale (VAS) genu dekstra


1 Juli 2016
0

10

Visual Analogue Scale (VAS) genu sinistra


1 Juli 2016

10

II. Status Neurologis


Kesadaran

: GCS E4V5M6

Fungsi Luhur

: dalam batas normal

Fungsi Vegetatif

: dalam batas normal

Nervus Cranialis

: dalam batas normal

Fungsi Sensorik
- Rasa Eksteroseptik

: suhu, nyeri, dan raba dalam batas normal


10

- Rasa Propioseptik

: getar, posisi, dan tekan dalam batas normal

- Rasa Kortikal

: stereognosis, barognosis dalam batas normal

Fungsi Motorik dan Reflek


Kekuatan

Tonus

R.Fisiologis

R.patologis

+2

+2

+2

+2

III. Range of Motion


NECK

ROM Pasif

ROM Aktif

Fleksi

0 - 70

0 - 70

Ekstensi

0 - 40

0 - 40

Lateral bending kanan

0 - 60

0 - 60

Lateral bending kiri

0 - 60

0 - 60

Rotasi kanan

0 - 90

0 - 90

Rotasi kiri

0 - 90

0 - 90

Ektremitas Superior

Shoulder

Elbow

Wrist

ROM Pasif

ROM Aktif

Dekstra

Sinistra

Dekstra

Sinistra

Fleksi

0-90

0-90

0-90

0-90

Ektensi

0-50

0-50

0-50

0-50

Abduksi

0-180

0-180

0-180

0-180

Adduksi

0-75

0-75

0-75

0-75

Eksternal Rotasi

0-90

0-90

0-90

0-90

Internal Rotasi

0-90

0-90

0-90

0-90

Fleksi

0-150

0-150

0-150

0-150

Ekstensi

Pronasi

0-90

0-90

0-90

0-90

Supinasi

0-90

0-90

0-90

0-90

Fleksi

0-90

0-90

0-90

0-90

Ekstensi

0-70

0-70

0-70

0-70
11

Finger

Trunk

Ulnar Deviasi

0-30

0-30

0-30

0-30

Radius deviasi

0-20

0-20

0-20

0-20

MCP I Fleksi

0-50

0-50

0-50

0-50

MCP II-IV fleksi

0-90

0-90

0-90

0-90

DIP II-V fleksi

0-90

0-90

0-90

0-90

PIP II-V fleksi

0-100

0-100

0-100

0-100

MCP I Ekstensi

0-30

0-30

0-30

0-30

Fleksi

0-90

0-90

0-90

0-90

Ekstensi

0-30

0-30

0-30

0-30

Lateral

0-35

0-35

0-35

0-35

Lateral

0-35

0-35

0-35

0-35

Right
Bending
Left
Bending

Ektremitas Inferior

Hip

Knee

Ankle

ROM Pasif

ROM Aktif

Dekstra

Sinistra

Dekstra

Sinistra

Fleksi

0-100

0-120

0-120

0-120

Ektensi

0-20

0-20

0-20

0-20

Abduksi

0-45

0-45

0-45

0-45

Adduksi

0-45

0-45

0-45

0-45

Eksorotasi

0-30

0-30

0-30

0-30

Endorotasi

0-30

0-30

0-30

0-30

Fleksi

0-70

0-1000

0-90

0-120

Dorsofleksi

0-15

0-15

0-15

0-15

Plantarfleksi

0-30

0-30

0-30

0-30

Eversi

0-50

0-50

0-50

0-50

Inversi

0-40

0-40

0-40

0-40

Ekstensi

IV. Manual Muscle Testing (MMT)


NECK
Fleksor M. Sternocleidomastoideus

Ekstensor M. Sternocleidomastoideus

5
12

TRUNK
Fleksor

M. Rectus Abdominis

Thoracic group

Lumbal group

Rotator

M. Obliquus Eksternus Abdominis

Pelvic Elevation

M. Quadratus Lumbaris

Ektensor

Ektremitas Superior

Dekstra

Sinistra

M. Deltoideus anterior

M. Biseps anterior

M. Deltoideus

M. Teres Mayor

M. Deltoideus

M. Biseps

M. Latissimus dorsi

M. Pectoralis mayor

M. Latissimus dorsi

M. Pectoralis mayor

Eksternal

M. Teres mayor

Rotasi

M. Infra supinatus

M. Biseps

M. Brachilais

Eksternsor

M. Triseps

Supinator

M. Supinatus

Pronator

M. Pronator teres

Fleksor

M. Fleksor carpi radialis

Ekstensor

M. Ekstensor digitorum

Abduktor

M. Ekstensor carpi radialis

Adduktor

M. Ekstensor carpi ulnaris

Fleksor

M. Fleksor digitorum

Ekstensor

M. Ekstensor digitorum

Fleksor
Ekstensor
Abduktor
Shoulder
Adduktor
Internal Rotasi

Fleksor
Elbow

Wrist

Finger

13

Ektremitas Inferior
Hip

Sinistra

Fleksor

M. Psoas mayor

Ekstensor

M. Gluteus maksimus

Abduktor

M. Gluteus medius

Adduktor

M. Adduktor longus

Hamstring muscle

(disertai

(disertai

nyeri)

nyeri)

Knee
Fleksor

Ankle

Dekstra

Ekstensor

Quadriceps femoris

Fleksor

M. Tibialis

Ekstensor

M. Soleus

V. Tes Provokasi
Pemeriksaan

Dekstra

Sinistra

Anterior drawer test

Posterior drawer test

McMurrays test

Apley grinding test

Apley distraction test

2.3 Resume
Laki laki, 69 tahun datang ke poliklinik Rehabilitasi Medik tanggal 1 Juli 2016
dengan keluhan utama nyeri pada saat jongkok. Morning stiffness (+), bunyi krek-krek
saat lutut digerakkan (+), bengkak (-), kemerahan (-). Pada pemeriksaan fisik didapatkan
tekanan darah 120/80mmHg dan indeks massa tubuh 30,82 kg/m2 (obesitas grade I). Pada
status lokalis regio genu ditemukan deformitas (-), nyeri gerak aktif dan pasif pada
ekstremitas inferior dextra dan sinistra (+), dan krepitasi genu bilateral (+). VAS pada genu
dextra 6 dan VAS genu sinistra 4. Terdapat keterbatasan LGS genu bilateral karena nyeri.

14

2.4 Evaluasi
NO

Level ICF

Kondisi saat ini

Sasaran

Struktur dan fungsi tubuh

Nyeri regio genu dekstra dan Nyeri berkurang dan


sinistra, dan keterbatasan LGS mempertahankan performa
genu dekstra dan sinistra

otot dan LGS sendi lutut


bilateral maksimal

Aktivitas

Gangguan aktivitas sehari-

Dapat mekukan aktivitas

hari yaitu jongkok dan berdiri

sehari-hari seperti berkebun

dalam waktu cukup lama (saat dalam durasi yang cukup


berkebun), kesulitan dalam

lama, beribadah dengan

menaiki tangga, perpindahan

nyaman, dan kesulitan

posisi dari duduk ke berdiri

berkurang dalam menaiki

dan dari berdiri ke duduk

tangga.

(saat ibadah sholat)


3

Partisipasi

Diagnosis klinik: Osteoartritis Genu Bilateral


2.5 Tatalaksana
A. Medikamentosa
Obat Anti Inflamasi Non-Steroid (Meloxicam 7,5 mg 2x1)
B. Program Rehabilitasi Medik
Fisioterapi
Terapi panas

:IRR, parafin, MWD

Terapi dingin

:-

Stimulasi listrik

:-

Terapi latihan

: Latihan ROM (aktif dan pasif)

Okupasi terapi
ROM excercise

: Latihan dilakukan setiap hari sebanyak 3-4x/minggu. Setiap


gerakan diulang sebanyak 4-10 repetisi (pada fase akut, sendi
lutut tidak boleh diregangkan hingga nyeri timbul, setiap
15

gerakan harus didalam lingkup gerak sendi tanpa nyeri, dan


pada fase kronis, sendi harus diregangkan hingga LGS penuh)
ADL excercise

: Edukasi siap tubuh yang ergonomis dengan prinsip


mengurangi beban pada sendi lutut (penyesuaian saat ibadah
sholat dengan posisi duduk dikursi menghadap ke meja, dan
meminimalkan jongkok agar dapat mengurangi beban sendi
lutut).

Ortotik prostetik
Ortotic

: (-)

Prostetic

: (-)

Alat bantu ambulasi

: (-)

Terapi wicara
Afasia

: (-)

Dysartria

: (-)

Dysfagia

: (-)

Sosial medik

: Motivasi dan edukasi keluarga untuk membantu dan merawat


penderita di rumah dan memberikan beberapa penyesuaian di
rumah

Edukasi

Mengurangi aktivitas yang berdampak besar pada lutut seperti naik turun
tangga, berjongkok lama, berjalan lama, serta berdiri dalam waktu yang lama.
Posisi kaki lebih banyak diluruskan saat duduk (jangan ditekuk).

Kompres air hangat pada lutut untuk menghilangkan nyeri.

Kontrol ke poli rehabilitasi medik secara rutin

Kontrol ke poli gizi untuk perencanaan diet

2.6 Prognosa
Ad vitam

: dubia ad bonam

16

Ad fungsionam

: dubia ad bonam

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Anatomi Regio Lutut


Sendi lutut dibentuk oleh epiphysis distalis tulang femur, epiphysis proxsimalis, tulang
tibia dan tulang patella, serta mempunyai beberapa sendi yang terbentuk dari tulang
yang berhubungan, yaitu antar tulang femur dan patella disebut articulatio patella
femoral, antara tulang tibia dengan tulang femur disebut articulatio tibio femoral dan
antara tulang tibia dengan tulang fibula proximal disebut articulatio tibio fibular
proxsimal.1
Tulang
Tulang-tulang yang membentuk sendi lutut diantaranya adalah tulang femur distal, tulang
tibia proksimal, tulang fibula dan tulang patella yaitu:
a. Tulang Femur
Tulang femur atau tulang paha merupakan tulang panjang terbesar pada manusia. Tulang
femur bersendi ke atas dengan pelvis dan ke bawah dengan tulang tibia. Tulang femur
terdiri dari epiphysis proksimal, diaphysis dan epiphysis distalis. Pada tulang femur ini
yang berfungsi dalam persendian lutut adalah epiphysis distalis. Epiphysis distalis
merupakan bulatan sepanjang yang disebut condylus femoralis lateralis dan medialis. Di
bagian proksimal tonjolan tersebut terdapat sebuah bulatan kecil yang disebut
epicondylus lateralis dan medialis. Pandangan dari depan, terdapat dataran sendi yang
melebar ke lateral yang disebut facies patellaris yang nantinya bersendi dengan tulang
patella. Dan pandangan dari belakang, diantara condylus lateralis dan medialis terdapat
cekungan yang disebut fossa intercondyloidea. 1
b. Tulang Patella
Tulang patella merupakan tulang dengan bentuk segitiga pipih dengan apeks menghadap
ke arah distal. Pada permukaan depan kasar sedangkan permukaan dalam atau dorsal
memiliki permukaan sendi yaitu facies articularis medialis yang sempit. 1

17

c. Tulang Tibia
Tulang tibia terdiri dari epiphysis proxsimalis, diaphysis, epiphysis diatalis. Epiphysis
proxsimalis pada tulang tibia terdiri dari dua bulatan yang disebut condylus lateralis dan
condylus medialis yang atasnya terdapat dataran sendi yang disebut facies artikularis
lateralis dan medialis yang dipisahkan oleh ementio intercondyolidea. Lutut merupakan
sendi yang bentuknya dapat dikatakan tidak ada kesusaian bentuk, kedua condylus dari
femur secara bersama-sama membentuk sejenis katrol (troclea), sebaliknya dataran tibia
tidak rata permukaannya, ketidaksesuaian ini dikompensasikan oleh bentuk meniscus. 1
d.

Tulang Fibula

Tulang fibula ini berbentuk kecil panjang, terletak di sebelah lateral dari tibia juga terdiri
dari tiga bagian yaitu: epiphysis proximal, diaphysis, dan epiphysis distalis. Epiphysis
proximalis membulat disebut capitulum fibula yang ke proximal meruncing menjadi
apex capitulis fibula. Pada capitulum terdapat dua dataran yang disebut facies articularis
capituli fibula untuk bersendi dengan tibia. Diaphysis mempunyai empat crista lateralis,
crista medialis, crista lateralis dan facies posterior. Epiphysis distalis ke arah lateral
membulat disebut malleolus lateralis (mata kaki luar). 1

Gambar 1. Tulang penyusun sendi lutut


18

Ligamentum
Ligamentum mempunyai sifat ekstensibilitas dan kekuatan yang cukup kuat (tensile
strength) yang berfungsi sebagai pembatas gerakan dan stabilisator sendi. Ada
beberapa ligamen sendi lutut yaitu:
1. Ligamentum cruciatum anterior yang berjalan dari depan culimintio
intercondyloidea ke permukaan medial condyler lateralis femur yang
berfungsi menahan hiperekstensi dan menahan bergesernya tibia ke depan.
2. Ligamentum cruciatum posterior berjalan dari facies lateralis condylus
medialis femoris menuju ke fossa intercondylodea tibia, berfungsi menahan
bergesernya tibia ke arah belakang.
3. Ligamentum collateral lateral yang berjalan dari epicondylus lateralis ke
capitulum fibula yang berfungsi menahan gerakan varus atau samping luar.
4. Ligamentum collateral mediale berjalan dari epicondylus medial ke
permukaan medial tibia (epicondylus medialis tibia) berfungsi menahan
gerakan valgus atau samping dalam eksorotasi. Namun secara bersamaan
fungsi fungsi ligament collaterall menahan bergesernya tibia ke depan pada
fleksi lutut 90. 1

19

Gambar 2. Ligamen penyusun sendi lutut

Kapsul Sendi
Tulang-tulang pembentuk sendi dihubungkan satu dengan lainnya oleh selubung yang
disebut kapsula artikularis sebagai pembungkus yang mengelilingi permukaanpermukaan sendi dan membungkus rapat ruang sendi yang terdapat diantara tulangtulang tersebut. Lapisan luar kapsula arikularis (lamina fibrosa) merupakan salah satu
struktur penting yang mengikat tulang-tulang pembentuk sendi. Lamina fibrosa dapat
menahan regangan yang kuat. Lapisan dalam kapsula artikularis (lamina synovial)
dibentuk oleh membrane synovial yang mensekresikan cairan sinovial (synovia) ke
dalam ruang sendi ujung artikular tulang masanya membesar dan mempunyai lapisan
luar tulang yang tipis tetapi padat (kompakta), disebelah dalamnya terdapat anyaman
tulang spongiosa. Kapsul sendi lutut ini termasuk jaringan fibrosus yang avascular
sehingga jika cedera sulit proses penyembuhan.1

20

Gambar 3. Sendi lutut


3.2

Osteoarthritis

3.2.1

Definisi

Osteoartritis (OA) adalah penyakit sendi degeneratif dengan etiologi dan patogenesis yang
belum jelas serta mengenai populasi luas. Pada umumnya penderita OA berusia di atas 40
tahun dan populasi bertambah berdasarkan peningkatan usia. Osteoartritis merupakan
gangguan yang disebabkan oleh multifaktorial antara lain usia, mekanik, genetik, humoral
dan faktor kebudayaan.2 Osteoarthritis merupakan suatu penyakit dengan perkembangan slow
progressive, ditandai adanya perubahan metabolik, biokimia, struktur rawan sendi serta
jaringan sekitarnya, sehingga menyebabkan gangguan fungsi sendi.3 Kelainan utama pada OA
adalah kerusakan rawan sendi yang dapat diikuti dengan penebalan tulang subkondral,
pertumbuhan osteofit, kerusakan ligamen dan peradangan ringan pada sinovium, sehingga
sendi yang bersangkutan membentuk efusi.4 Osteoartritis diklasifikasikan menjadi 2
kelompok, yaitu OA primer dan OA sekunder. Osteoartritis primer disebut idiopatik,
disebabkan faktor genetik, yaitu adanya abnormalitas kolagen sehingga mudah rusak.
Sedangkan OA sekunder adalah OA yang didasari kelainan endokrin, inflamasi, metabolik,
pertumbuhan, mikrodan makro trauma, imobilitas yang terlalu lama serta faktor
risikolainnya, seperti obesitas dan sebagainya.5
3.3. Epidemiologi

21

Osteoartritis merupakan salah satu kondisi yang paling sering menyebabkan


disabilitas terutama pada populasi lansia. OA adalah penyakit sendi yang paling umum di
negara maju dan penyebab utama dari disabilitas kronik, sebagian besar karena OA lutut dan
atau panggul. Prevalensi OA lutut lebih tinggi dibandingkan OA lainnya. Sekitar 13% wanita
dan 10% pria yang berusia 60 tahun ke atas memiliki OA lutut yang simtomatik. Proporsi
penduduk yang mengalami OA lutut kemungkinan akan terus meningkat seiring dengan
peningkatan penduduk usia lanjut dan tingginya kejadian obesitas ataupun berat badan
berlebih pada populasi umum. Perempuan terutama yang berusia 55 tahun cenderung
mengalami OA yang lebih berat di lutut namun tidak di daerah lainnya. Prevalensi
radiographic knee OA pada 2282 pasien lansia di Jepang menunjukkan pada wanita semakin
tinggi usia, semakin tinggi pula angka kejadiannya. Symptomatic knee OA lebih umum pada
masyarakat pedesaan disbanding masyarakat perkotaan. Orang Afrika-Amerika memiliki
prevalensi OA lebih tinggi dibandingkan orang Kaukasia.6
3.4. Etiologi
OA memiliki etiologi yang multifactorial, yang terjadi karena interaksi antara faktor
sistemik dan local. OA dapat terjadi pada orang dengan usia apa saja. Beberapa gen
dihubungkan dengan terjadinya penyakit ini. Olahraga, cedera pada sendi, obesitas, dan
kerentanan genetic merupakan faktor prediskposisi untuk atlet remaja mengalami OA.
Riwayat trauma pada lutut meningkatkan risiko OA lutut 3.86 kali lebih tinggi. Usia tua, jenis
kelamin perempuan, kelebihan berat badan dan obesitas, penggunaan sendi yang berulangulang, cedera lutut, kepadatan tulang, kelemahan otot, semua memainkan peranan dari
terjadinya OA.6 Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya OA antara lain:
a. Usia
Proses penuaan dianggap sebagai penyebab peningkatankelemahan di sekitar sendi,
penurunan kelenturan sendi, kalsifikasi tulang rawan dan menurunkan fungsi
kondrosit,

yang

semuanya

mendukung terjadinya

OA. Studi

Framingham

menunjukkan bahwa 27% orang berusia 63 70 tahun memiliki bukti radiografik


menderita OA lutut, yang meningkat mencapai 40% pada usia 80 tahun atau lebih. 7
Studi lain membuktikan bahwa risiko seseorang mengalami gejala timbulnya OA lutut
adalah mulai usia 50 tahun.8 Studi mengenai kelenturan pada OA telah menemukan
bahwa terjadi penurunan kelenturan pada pasien usia tuadengan OA lutut.9

22

b. Ras
Prevalensi OA lutut pada penderita di negara Eropa dan Amerika tidak berbeda,
sedangkan suatu penelitian membuktikan bahwa ras Afrika Amerika memiliki risiko
menderita OA lutut 2 kali lebih besar dibandingkan ras Kaukasia. Penduduk Asia juga
memiliki risiko menderita OA lutut lebih tinggi dibandingkan Kaukasia. 10,12 Suatu
studi lain menyimpulkan bahwa populasi kulit berwarna lebih banyak terserang OA
dibandingkan kulit putih.4
c. Jenis Kelamin
Prevalensi OA pada laki-laki sebelum usia 50 tahun lebih tinggi dibandingkan
perempuan, tetapi setelah usia lebihdari 50 tahun prevalensi perempuan lebih tinggi
menderita OA dibandingkan laki-laki. Perbedaan tersebut menjadi semakin berkurang
setelah menginjak usia 80 tahun. Hal tersebut diperkirakan karena pada masa usia 50
80 tahun wanita mengalami pengurangan hormon estrogen yang signifikan.10
d. Faktor Herediter
Faktor herediter juga berpengaruh terhadap kejadian osteoartritis, misalnya pada
seorang ibu dengan osteoartritis pada sendi lutut, maka kemungkinan anaknya
berpeluang 3 kali lebih sering untuk terkena penyakit yang sama.14

e. Obesitas
Obesitas merupakan faktor risiko terkuat yang dapat dimodifikasi. Selama berjalan,
setengah berat badan bertumpu pada sendi lutut. Peningkatan berat badan akan
melipatgandakan beban sendi lutut saat berjalan. Studi di Chingford menunjukkan
bahwa untuk setiap peningkatan Indeks Massa Tubuh (IMT) sebesar 2 unit (kira-kira
5 kg berat badan), rasio odds untuk menderita OA lutut secarara diografik meningkat
sebesar 1,36 poin.15 Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa semakin berat tubuh
akan meningkatkan risiko menderita OA lutut. Kehilangan 5 kg berat badan akan
mengurangi risiko OA lutut secara simtomatik pada wanita sebesar 50%. Demikian
juga peningkatan risiko mengalami OA lutut yang progresif tampak pada orang-orang
yang kelebihan berat badan dengan penyakit pada bagian tubuh tertentu.16
f. Trauma dan Aktivitas
23

Trauma lutut yang akut termasuk robekan pada ligamentum krusiatum dan meniskus
merupakan faktor risiko timbulnya OAlutut.17 Studi Framingham menemukan bahwa
orang dengan riwayat trauma lutut memiliki risiko 5 6 kali lipat lebih tinggi untuk
menderita OA lutut. Hal tersebut biasanya terjadi pada kelompok usia yang lebih
muda serta dapat menyebabkan kecacatan yang lama dan pengangguran. 7
Aktivitas fisik berat seperti berdiri lama (2 jam atau lebih setiap hari), berjalan jarak
jauh (2 jam atau lebih setiap hari), mengangkat barang berat (10 kg 50 kg selama 10
kali atau lebih setiap minggu), mendorong objek yang berat (10 kg 50 kg selama 10
kali atau lebih setiap minggu), naik turun tangga setiap hari merupakan faktor risiko
OA lutut.17,19
Osteoartritis banyak ditemukan pada pekerja fisik berat, terutama yang banyak
menggunakan kekuatan yang bertumpu pada lutut. Prevalensi lebih tinggi menderita
OA lutut ditemukan pada kuli pelabuhan, petani dan penambang dibandingkan pada
pekerja

yang

tidak

banyak

menggunakan

kekuatan

lutut

sepertipekerja

administrasi.17,20 Terdapat hubungan signifikan antarapekerjaan yang menggunakan


kekuatan lutut dan kejadian OAlutut.17
Atlit olah raga yang sering mengalami benturan keras dan membebani lutut seperti
sepak bola, lari maraton dan kung fu, memiliki peningkatan risiko untuk menderita
OA lutut. Kelemahan otot kuadrisep primer merupakan faktor risiko bagi terjadinya
OA karena terjadi penurunan stabilitas sendi. 12 Tetapi, di sisi lain seseorang yang
memiliki aktivitas minim sehari-hari juga berisiko mengalami OA lutut. Ketika
seseorang tidak melakukan gerakan, aliran cairan sendi akan berkurang dan berakibat
aliran makanan yang masuk ke sendi juga berkurang. Hal tersebut akan
mengakibatkan proses degeneratif menjadi berlebihan.23
3.5. Manifestasi Klinis
Nyeri dirasakan disekitar sendi dan dapat menjalar keatas di bagian anteriorpaha atau
menjalar kebawah di pergelangan kaki. Spasme otot umumnya terjadi pada otot
hamstring.Deformitas terbentuk dari adanya spasme otot hamstring dalam waktu lama
dengan posisifleksi lutut dimana deformitas yang terjadi adalah deformasi tibia yang disertai
dengandeformitas valgus. Sendi nampak membesar dan terjadi atropi otot quadriceps
khususnyaotot vastus medialis. Nampak pasien berjalan pincang akibat nyeri dan
kecenderungansendi untuk jatuh khususnya selama melangkah turun.24

24

3.6. Patofisiologi
Osteoarthritis timbul karena adanya kerusakan kartilago sendi, yang biasa disebut
dengan wear and tear. Pada kerusakan kartilago, terjadi pelepasan material daripermukaan
solid oleh karena adanya aksi mekanikal. Kerusakan permukaan kartilago dapat diobservasi
pada in vitro. Jika terjadikerusakan ultrastruktural dan atau hilangnya masa permukaan, maka
lapisanpermukaan kartilago menjadi lebih lunak dan lebih permeabel. Dalam keadaan
ini,tahanan terhadap gerakan cairan akan berkurang, yang memungkinkan cairan bocorkeluar
dari fluid film melalui permukaan kartilago sehingga terpecah di ataspermukaan. Hilangnya
cairan akan meningkatkan kemungkinan kontak yang tajampada permukaan solid kartilago
dan akhirnya dapat lebih memperberat terjadinyaproses abrasi.25
Kerusakan juga dapat terjadi pada permukaan tumpuan yang baiklubrikasinya. Kerusakan ini
terjadi akibat adanya deformasi yang berulang secara periodik. Kerusakan ini terjadi karena
adanya akumulasi dari kerusakan materialsecara mikroskopik ketika terjadi stress secara
berulang-kali. Meskipun besarnyastress yang terjadi jauh labih kecil daripada kekuatan
material, tetapi pada akhirnyakerusakan akan terjadi jika cukup sering mengalami stress.
Pada sendi sinovial,adanya gerakan rotasi dan geser dapat menyebabkan area permukaan
sendi bergerak kedalam dan keluar dari area kontak. Proses ini menyebabkan stress yang
berulang padakartilago dan dapat terjadi selama aktivitas fisiologis manusia. Ketika kartilago
terbebani, beban akan disangga oleh matriks collagen/proteoglycan dan disangga pula oleh
adanya tahanan (resisten) dari gerakan cairan yang melewati kartilago.24
Dengan demikian, beban yang berulang dan gerakan sendi dapat menyebabkan stress yang
berulang pada solid matriks serta terjadi exudasi dan inhibisi yang berulang dari cairan
interstitial jaringan. Kerusakan struktural pada kartilago dapat diobservasi melalui foto X-ray.
Bagian vertikal dari kartilago yang memperlihatkan keretakan disebut dengan fibrillasi, yang
akhirnya dapat meluas melewati lapisan kartilago yang sangat dalam. Kadang-kadang,
lapisan kartilago mengalami lebih banyak erosi daripada retak. Sekali terjadi kerusakan
mikrostruktur pada kartilago, maka mekanisme kerusakan yang bersifat mekanikal akan
terjadi secara progresif; terjadi pengeluaran molekul proteoglycan oleh gerakan cairan yang
keras dan kemampuan self lubrikasi dari kartilago mengalami kerusakan. Proses ini
mempercepat kerusakan interfasial dan terjadi kelelahan kartilago yang telah merusak matriks
collagen/proteoglycan. Akibat kerusakan kartilago, maka ujung tulang tidak terlindungi lagi
sehingga adanya kontak langsung atau gesekan saat bergerak akan menimbulkan nyeri hebat
dan akhirnya timbul inflamasi sendi yang dikenal sebagai osteoarthritis.26

25

3.7. Diagnosis
Secara radiologik didapatkan penyempitan celah sendi, pembentukan osteofit,
sklerosis subkondral dan pada keadaan yang berat akan tampak kista subkondral. Bila
dicurigai terdapat robekan meniskus atau ligamen, dapat dilakukan pemeriksaan MRI yang
akan menunjukkan gambaran tersebut lebih jelas. Walaupun demikian, MRI bukan alat
diagnostic yang rutin, karena mahal dan seringkali tidak merubah rancangan terapi.
Gambaran laboratorium umumnya normal. Bila dilakukan analisis cairan sendi juga
didapatkan gambaran cairan sendi yang normal. Bila didapatkan peninggian jumlah leukosit,
perlu dipikirkan kemungkinan artropati kristal atau artritis inflamasi atau artritis septik.4, 27
The American College of Rheumatology menyusun kriteria diagnosis OA lutut
idiopatik berdasarkan pemeriksaan klinis dan radiologi sebagai berikut:28
Klinis dan
Klinis dan Laboratorium
Nyeri lutut + minimal 5 dari 9

radiologi
Nyeri lutut +

Klinis
Nyeri lutut + minimal 3

berikut :

minimal 1 dari 3

dari 6 berikut :

Umur > 50 tahun

berikut:

stiffness < 30 menit

umur> 50 tahun

stiffness < 30 menit

krepitasi

stiffness < 30

krepitasi

nyeri pada tulang

menit

nyeri pada tulang

pelebaran tulang

krepitasi +

pelebaran tulang

tidak hangat pada

tidak hangat pada perabaan

LED < 40mm/jam

Rheumatoid factor <1:40

Cairan sinovial : jernih,

osteofit

umur> 50 tahun

perabaan

viscous, leukosit <2000/mm3


Derajat kerusakan sendi berdasarkan gambaran radiologis:

26

(A)

(B)

(C)

(D)

Gambar 10. Kriteri Kellgren and Lawrence


(A) Derajat 1. (B) Derajat 2. (C) Derejat 3. (D ) Derajat 4
1. Derajat 0 :

radiologi normal.

2. Derajat 1 :

penyempitan celah sendi meragukan.

3. Derajat 2 :

osteofit dan penyempitan celah sendi yang jelas.

4. Derajat 3 :

osteofit sedang dan multipel, penyempitan celah sendi, sklerosis

sedang dan kemungkinan deformitas kontur tulang.


5. Derajat 4 :

osteofit yang besar, penyempitan celah sendi yang nyata, sklerosis

yang berat dan deformitas kontur tulang yang nyata.22,29


Adapun grade osteoarthritis antara lain sebagai berikut:
a. Grade 0

: Normal

b. Grade 1

: Terdapat pertumbuhan tulang kecil (taji), belum terdapatnyeri.

c. Grade 2

: Nyeri terutama berlutut/membungkuk, kekakuan sendi.Dimana tulang

sudah tumbuh lebih besar dan cairansinovial sudah mulai berkurang.


d. Grade 3

: Nyeri saat berjalan, kekakuan sendi, edem. Dimana padafase ini

kerusakan tulang rawan tampak nyata & ruangantar tulang menyempit.

27

e. Grade 4

: Nyeri hebat saat sendi di gerakkan. Kerena ruang antartulang sudah

sempit bahkan hampir rusak, terjadi kekakuan sendi.29


3.8. Penatalaksanaan
Tujuan dari penatalaksanaan pasien yang mengalami OA adalah untuk mengedukasi
pasien, pengendalian rasa sakit, memperbaiki fungsi sendi yang terserang dan menghambat
progresivitas penyakit. Penatalaksanaan OA terdiri dari terapi non obat (edukasi, penurunan
berat badan, terapi fisik dan terapi kerja), terapi obat, terapi lokal dan tindakan bedah.21
1. Terapi non obat
a. Terapi panas superfisial
Terapi panas superfisial yaitu panas hanya mengenai kutis atau jaringan sub kutis
saja (Hot pack, infra merah, kompres air hangat, paraffin bath). Sedangkan terapi
panas dalam, yaitu panas dapat menembus sampai ke jaringan yang lebih dalam
yang sampai ke otot, tulang, dan sendi Diatermi gelombang mikro (MWD),
Diatermi gelombang pendek (SWD), Diatermi gelombang suara ultra (USD). Pada
kasus OA digunakan SWD (short wave diathermi) dan USD (ultra sound
diathermi).18
b. Terapi dingin
Terapi dingin digunakan untuk melancarkan sirkulasi darah, mengurangi
peradangan, mengurangi spasme otot dan kekakuan sendi sehingga dapat
mengurangi nyeri. Dapat juga menggunakan es yang dikompreskan pada sendi
yang nyeri. Terapi dingin dapat berupa cryotherapy, kompres es dan masase es.18
c. Terapi listrik
Yang digunakan adalah TENS (Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation). TENS
merupakan modalitas yang digunakan untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri
melalui peningkatan ambang rangsang nyeri.18
d. Hidroterapi
Hidroterapi bermanfaat untuk memberi latihan. Daya apung air akan membuat
ringan bagian atau ekstermitas yang direndam sehingga sendi lebih mudah
digerakan. Suhu air yang hangat akan membantu mengurangi nyeri, relaksasi otot
dan memberi rasa nyaman.18
e. Latihan penguatan otot

28

Latihan diketahui dapat meningkatkan dan mempertahankan pergerakan sendi,


menguatkan otot, meningkatkan ketahanan statik dan dinamik dan meningkatkan
fungsi yang menyeluruh.Latihan terdiri dari latihan pasif, aktif, ketahanan,
peregangan dan rekreasi.16
f. Ortotik Prostetik
Digunakan untuk mengembalikan fungsi, mencegah dan mengoreksi kecacatan,
menyangga berat badan dan menunjang anggota tubuh yang sakit. Pada penderita
OA biasa dilakukan rencana penggunaan knee brace atau knee support.16
g. Terapi okupasi
Terapi okupasi meliputi latihan koordinasi aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS)
untuk memberikan latihan pengembalian fungsi sehingga penderita bisa melakukan
kembali kegiatan/perkerjaan normalnya.16
h. Psikologi
Terapi psikologi diperlukan untuk pemberian motivasi dan penanaman sugesti
positif terhadap pasien agar mendapatkan kepercayaan dirinya kembali untuk
melakukan kegiatan sehari-hari.16
i. Sosial medik
Tujuannya adalah menyelesaikan/memecahkan masalah sosial yang berkaitan
dengan penyakit penderita, seperti masalah penderita dalam keluarga maupun
lingkungan masyarakat.16
2. Terapi obat
Parasetamol merupakan analgesic lini pertama yang diberikan pada penderita OA
dengan dosis 1 gram 4 kali sehari, karena cenderung aman dan dapat ditoleransi dengan
baik, terutama pada pasien dengan usia tua. Kombinasi parasetamol/opiat seperti
coproxamol bisa digunakan jika parasetamol saja tidak mampu mengurangi nyeri.
Tetapi jika dimungkinkan, penggunaan opiat yang lebih kuat hendaknya dihindari.21
Kelompok obat yang banyak digunakan untuk menghilangkan nyeri penderita OA
adalah obat anti inflamasi non steroid (OAINS). OAINS bekerja dengan cara
menghambat jalur siklooksigenase (COX) pada kaskade inflamasi. Terdapat 2 macam
enzim COX, yaitu COX-1 (bersifat fisiologik, terdapat pada lambung, ginjal dan
trombosit) dan COX-2 (berperan pada proses inflamasi). OAINS tradisional bekerja
dengan cara menghambat COX-1 dan COX-2, sehingga dapat mengakibatkan
perdarahan lambung, gangguan fungsi ginjal, retensi cairan dan hiperkalemia. OAINS
29

yang bersifat inhibitor COX-2 selektif akan memberikan efek gastrointestinal yang
lebih kecil dibandingkan penggunaan OAINS yang tradisional. 3,4,12
3. Terapi lokal
Terapi lokal meliputi pemberian injeksi intra artikular steroid atau hialuronan
(merupakan molekul glikosaminoglikan besar dan berfungsi sebagai viskosuplemen)
dan pemberian terapi topikal, seperti krem OAINS, krem salisilat atau krem
capsaicin. Injeksi steroid intra artikular diberikan bila didapatkan infeksi lokal atau
efusi sendi.12
4. Operasi
Bagi penderita dengan OA yang sudah parah, maka operasi merupakan tindakan yang
efektif. Operasi yang dapat dilakukan antara lain arthroscopic debridement, joint
debridement, dekompresi tulang, osteotomi dan artroplasti. Walaupun tindakan operatif
dapat menghilangkan nyeri pada sendi OA, tetapi kadang-kadang fungsi sendi tersebut
tidak dapat diperbaiki secara adekuat, sehingga terapi fisik pre dan pasca operatif harus
dipersiapkan dengan baik.11,12

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Secara umum, pada pasien ini penegakan diagnosis, alur tatalaksana sudah sesuai
dengan literatur yang ada. Prognosis pada pasien ini berdasarkan perjalanan penyakit dan
penatalaksanaan yang telah didapatkan adalah bonam.
4.2 Saran
Agar diagnosis pada pasien dapat ditegakan secara cepat dan tepat, maka
dibutuhkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang yang sesuai,
30

sehingga keputusan untuk penatalaksanaan dapat dilakukan secara tepat pula. Edukasi
pasien merupakan hal yang sangat penting. Pasien harus diedukasi dengan baik agar
pasien dapat menjalankan program pengobatan dengan teratur.

DAFTAR PUSTAKA
1. Aswin, S. 1989. Struktur Sendi dan Patofisiologi. Jakarta: PT. Penebar Swadaya.
2. Poole, A.R. 2001. Arthritis and Allied Conditions. Text Book of Rheumatology (edisi
ke-14). Lippincot Williams & Wilkins, Philadelphia, Amerika Serikat, hal. 226 284
3. Palletier, J.M. dan Palletier J.P. 1997. Effect of Aceclogenac and Diclofenac on
Inflamatory in Human Osteoarthritis. Clinical Drugs Investigation, 14 (3): 326 332
4. Bambang, S. 2003. Osteoartritis Selayang Pandang. Dalam Temu Ilmiah
Reumatologi. Jakarta: 27 31

31

5. Altman, R.D. 1997. Criteria for the Classification of Osteoarthritis. Journal of


Rheumatology, 27 (suppl): 10 12
6. Behzad, H. 2011. Knee osteoarthritis prevalence, risk factors, pathogenesis and
features: Part I. Caspian J Intern Med, 2(2):205-212.
7. Felson, D.T., Zhang Y., Hannan M.T., et al. 1995. The Incidence and Natural History
of Knee Osteoarthritis in the Elderly: The FraminghamOsteoarthritis Study. Arthritis
Rheumatology, 38: 1500 1505.
8. Kraus V.B. Pathogenesis and Treatment of Osteoarthritis. Med Clin North Am, 81: 85
112
9. Pay Y.C., Rymer W.Z., Chang R.W., et al. 1990. Effect of Age andOsteoarthritis on
Knee Proprioception. Arthritis Rheumatology, 40: 2260 2265
10. Felson D.T., ZhangY. 1998. An Update on the Epidemiology of Knee and Hip
Osteoarthritis with a View to Prevention. Arthritis Rheumatology, 41: 1343 1355
11. Dieppe Paul A., Lohmander L.S. 2005. Pathogenesis and Management of Pain in
Osteoarthritis. The Lancet,365: 965 973.
12. Klippel, J.H., Dieppe P.A., Brooks P., et al. 1994. Rheumatology: Osteoarthritis.
Mosby Year Book Europe Limited, Inggris, hal 21 106.
13. Data Keadaan Morbiditas Pasien Rumah Sakit Dokter Kariadi Semarang. Form RL2.
Tahun 2004 2006
14. Braunwald, E., Fauci A.S., et al. 2002.Harrisons Manual of Medicine: Degenerative
Joint Disease. McGraw-Hill, Boston, Amerika Serikat, hal. 748-749.
15. Felson, D.T. 2000. Osteoarthritis New Insights. Part 1 : The Disease and Its Risk
Factors. Ann Intern Med,133: 637 639.
16. Tulaar,

A.B.M.

2006.

Peran

Kedokteran

Fisik

dan

Rehabilitasi

Medik

padaTatalaksana Osteoartritis. Semijurnal Farmasi dan Kedokteran Ethical Digest


hal. 46-54
17. Maetzel, A., Makela M., Hawker G., et al. 1997. Osteoarthritis of the Hip and Knee
and Mechanical Occupational Exposure: A Systematic Overview of the Evidence,
1997; 24: 599 607.
18. Reni, H.M. 2005. Rehabilitasi Nyeri pada Sendi Degeneratif. Surabaya: FK UNAIR.
19. Lau E.C., Cooper C., Lam D., et al. 2000.Factors Associated with Osteoarthritis of the
Hip and Knee in HongKong Chinese: Obesity, Joint Injury, and Occupational
Activities.American Journal Epidemiology, 152: 855 862.

32

20. Hunter D.J., March L., Sambrook P.N. 2002. Knee Osteoarthritis: The Influence of
Environmental Factors. Clinical Exp Rheumatology, 20: 93 100.
21. Haq I., Murphy E., dan Dacre J. 2003. Osteoarthritis Review. Postgrad Med J, 79: 377
383.
22. Sengkey, L.S. 2010. Kumpulan Kuliah Rehabilitasi Medik. FK UNSRAT, Manado,
Indonesia.
23. Oliveria S.A., Felson D.T., Reed J.L., et al. 1995. Incidence of Symptomatic Hand,
Hip and Knee Osteoarthritis among Patients in a HealthMaintenance Organization.
Arthritis Rheum,38: 1134 1141.
24. Karen A. 2000. Phyisotherapy in Orthopaedics A Problem-Solving Approach.
Churchill Livingstone, Edinburgh.
25. Callavaro, G. dan Kenda S.F., 2009. Pathology Implication for the Physical Therapist
Elsevier, St.Louis, Amerika Serikat.
26. Kisner, C. dan Colby, L.A. 2007. Therapeutic Exercise Foundations and Technique
(edisi ke-3). F.A. Davis Company,Philadelphia, Amerika Serikat, hal. 69-87.
27. Price, S.A. dan Wilson L.M. 1995. Patofisiologi, Konsep Klinis Proses-proses
Penyakit. Edisi 4. EGC, Jakarta, Indonesia, hal. 1218 - 1222.
28. Altman, R.D. 1991. Criteria for the Classification of Osteoarthritis. Journal of
Rheumatology, 27 (suppl): 10 12.
29. Erwinanti, E. 2000. Perbandingan Terapi Osteoartritis Lutut Menggunakan SWD
dengan atau tanpa Latihan di RSUP Dr. Kariadi Semarang [skripsi]. Fakultas
Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang.
30. Sylvia dan Lorrine. 2002. Pathology Implication for the physical theraphy. Elsevier,
St. Louis.
31. Ahmed, H. I., Anwer A. S.,dan Alghadir, A. 2015. Effect of modified hold-relax
stretching and static stretching on hamstring muscle flexibility. J. Phys. Ther. Sci,27
(2).
32. Warma, H.2011. Pengaruh Mobilisasi Sendi dan hold relax terhadap Problematika
Penderita Osteoartritis Lutut. Universitas Surakarta, Malang.
33. Departemen Kesehatan RI. 2000.Indonesia Sehat 2010, Visi Baru, Misi Kebijakan dan

Strategi Pembangunan Kesehatan. Jakarta, hal. 4.

33