Anda di halaman 1dari 15

KUALITAS BATUBARA

A. Batubara
Batubara adalah salah satu bahan bakar fosil yang terbentuk dari
endapan, batuan organik yang terutama terdiri dari karbon, hidrogen dan
oksigen. Batubara terbentuk dari tumbuhan yang telah terkonsolidasi
antara strata batuan lainnya dan diubah oleh kombinasi pengaruh tekanan
dan panas selama jutaan tahun sehingga membentuk lapisan batubara.
Proses Pembentukan batubara itu sendiri dimulai sejak zaman
batubara pertama (Carboniferous Period/Periode Pembentukan Karbon
atau Batubara), yang berlangsung antara 360 juta sampai 290 juta tahun
yang lalu.
Mutu dari setiap endapan batu bara ditentukan oleh suhu dan
tekanan serta lama waktu pembentukan, yang disebut sebagai maturitas
organik. Proses awalnya gambut berubah menjadi lignite (batubara muda)
atau brown coal (batubara coklat) Ini adalah batubara dengan jenis
maturitas organik rendah. Dibandingkan dengan batubara jenis lainnya,
batubara muda agak lembut dan warnanya bervariasi dari hitam pekat
sampai kecoklat-coklatan. Akibat pengaruh suhu dan tekanan yang terus
menerus selama jutaan tahun, batubara muda mengalami perubahan yang
secara bertahap menambah maturitas organiknya dan mengubah batubara
muda menjadi batubara sub-bitumen. Perubahan kimiawi dan fisika terus
berlangsung hingga batubara menjadi lebih keras dan warnanya lebih
hitam dan membentuk bitumen atau antrasit. Dalam kondisi yang tepat,
peningkatan maturitas organik yang semakin tinggi terus berlangsung
hingga membentuk antrasit.
B. Jenis - Jenis Batubara
Berdasarkan tingkat proses pembentukan yg dikontrol oleh
tekanan, panas dan waktu, batu bara umumnya dibagi dalam lima kelas:
antrasit, bituminus, sub-bituminus, lignit dan gambut.

1. Antrasit adalah kelas batu bara tertinggi, dengan warna hitam


berkilauwan (luster) metalik, mengandung antara 86%-98% unsur
Karbon (C) dengan kadar air kurang dari 8%.

Gambar Batubara Jenis Antrasit


2. Bituminous mengandung 68 - 86% unsur Karbon (C) dan berkadar air
8 - 10% dari beratnya. Kelas batu bara yang paling banyak ditambang
di Indoneaia, tersebar di pulau Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi.

Gambar Batubara Jenis Bituminous

3. Sub-bituminus mengandung sedikit karbon dan banyak air, dan oleh


karenanya menjadi sumber panas yang kurang efisien dibanding
dengan

bituminius.

Gambar Batubara Jenis Sub-bituminous


4. Lignit atau batu bara coklat adalah batu bara yang sangat lunak yang
mengandung air 35 - 75% dari beratnya.

Gambar Batubara Jenis Lignit

5. Gambut, berpori dan memiliki kadar air di atas 75% serta nilai kalori
yang paling rendah.

Gambar Batubara Jenis Gambut

C. Tingkatan Batubara
Tingkat perubahan yang dialami batu bara, dari gambut sampai
menjadi antrasit disebut sebagai pengarangan memiliki hubungan yang
penting dan hubungan tersebut disebut sebagai tingkat mutu batubara.
Batubara dengan mutu yang rendah, seperti batubara muda dan subbitumen biasanya lebih lembut dengan materi yang rapuh dan berwarna
suram seperti tanah. Batubara muda memilih tingkat kelembaban yang
tinggi dan kandungan karbon yang rendah, dan dengan demikian
kandungan energinya rendah.
Batubara dengan mutu yang lebih tinggi umumnya lebih keras dan
kuat dan seringkali berwarna hitam mengkilap seperti kaca. Batubara
dengan mutu yang lebih tinggi, memiliki kandungan karbon yang lebih
banyak, tingkat kelembaban yang lebih rendah dan menghasilkan energi
yang lebih banyak. Antrasit adalah batubara dengan mutu yang paling baik
dan dengan demikian memiliki kandungan karbon dan energi yang lebih
tinggi serta tingkat kelembaban yang lebih rendah. (seperti terlihat pada
diagram berikut).

Proses pembentukan batubara dari gambut hingga antrasit, tentu


saja

dipengaruhi

perkembangan

oleh

dan

terdapat

jenis

beberapa

faktor

tumbuh-tumbuhan,

seperti

keadaan

adanya

lingkungan

pengendapan, dan adanya proses geologi.


Perkembangan dan jenis tumbuh-tumbuhan sangat berpengaruh sekali
terhadap jenis dan akumulasi batubara yang terjadi. Berbagai macam jenis
tumbuhan dan bagian-bagian dari akar sampai bunga, antara lain : vitrain
yang terbentuk dari batang kayu yang keras dan merupakan batubara yang
porous.
Sementara itu, keadaan lingkungan pengendapan batubara akan
mempengaruhi jenis, kilap dan peringkat dari batubara. Keadaan
lingkungan pengendapan ini meliputi : cuaca, iklim dan keadaan tanah
maupun rawa-rawa tersebut. Batubara yang terendapkan pada daerah
tropis dan beriklim hangat akan membentuk batubara yang mengkilap,
sedangkan pada daerah dingin akan membentuk batubara yang kusam.
Sedangkan proses geologi yang dapat mempengaruhi pembentukan
atau peningkatan derajat kualitas batubara, antara lain :

a. Intrusi yang menyebabkan batubara mengalami metamorfosa


kontak sehingga derajat batubara akan meningkat seperti di
Tambang Air Laya dan Balong Hijau.
b. Perlipatan yang terjadi pada zona perlipatan yang kuat, batubara
akan mengalami kenaikan derajat.
c. Patahan atau zona patahan, batubara akan mengalami metamorfosis
akibat adanya dislokasi, misalnya di Ombilin Sumatera Barat.
D. Pengertian Analisa Kualitas Batubara
Analisa Kualitas batubara bertujuan untuk mengetahui kandungan
yang terdapat di dalamnya. Dalam pemanfaatannya, batubara harus
diketahui

terlebih

dahulu

kualitasnya. Hal ini dimaksudkan

agar

spesifikasi mesin atau peralatan yang memanfaatkan batubara sebagai


bahan bakarnya sesuai dengan mutu batubara yang akan digunakan,
sehingga mesin-mesin tersebut dapat berfungsi optimal dan tahan lama.
Kualitas batubara diperlukan untuk menentukan apakah batubara
tersebut menguntungkan untuk ditambang selain dilihat dari besarnya
cadangan batubara di daerah penelitian.
Semakin tinggi kualitas batubara, maka kadar karbon akan
meningkat, sedangkan hidrogen dan oksigen akan berkurang. Batubara
bermutu rendah, seperti lignite dan sub-bituminous, memiliki tingkat
kelembaban (moisture) yang tinggi dan kadar karbon yang rendah,
sehingga energinya juga rendah. Semakin tinggi mutu batubara, umumnya
akan semakin keras dan kompak, serta warnanya akan semakin hitam
mengkilat. Selain itu, kelembabannya pun akan berkurang sedangkan
kadar karbonnya akan meningkat, sehingga kandungan energinya juga
semakin besar.

E. Klasifikasi Batubara
Ada 3 macam Klasifikasi yang dikenal untuk dapat memperoleh
beda variasi kelas/mutu dari batubara yaitu:
1. Klasifikasi Menurut ASTM
Klasifikasi ini dikembangkan di Amerika oleh Bureau of Mines yang
akhirnya dikenal dengan Klasifikasi menurut ASTM (America Society
for Testing and Material). Klasifikasi ini berdasarkan rank dari
batubara itu atau berdasarkan derajat metamorphism nya atau
perubahan selama proses coalifikasi (mulai dari lignit hingga antrasit).
Untuk menentukan rank batubara diperlukan data fixed carbon
(dmmf), volatile matter (dmmf) dan nilai kalor dalam Btu/lb dengan
basis mmmf (moist, mmf).
2. Klasifikasi Menurut Natioal Coal Board (NCB)
Klasifikasi ini dikembangkan di Eropa pada tahun 1946 oleh suatu
organisasi Fuel Research dari departemen of Scientific and Industrial
Research di Inggris. Klasifikasi ini berdasarkan rank dari batubara,
dengan menggunakan parameter volatile matter (dry, mineral matter
free) dan cooking power yang ditentukan oleh pengujian Gray King.
3. Klasifikasi Menurut International
Klasifikasi ini dikembangkan oleh Economic Commision for Europe
pada tahun 1956 Klasifikasi ini dibagi atas dua bagian yaitu:
a. Hard Coal
Di definisikan untuk batubara dengan gross calorific value lebih
besar dari 10.260 Btu/lb atau 5.700 Kcal/kg (moist ash free).
International System dari hard coal dibagi atas 10 kelas menurut
kandungan VM. Kelas 0 sampai 5 mempunyai kandungan VM
lebih kecil dari 33% dan kelas 6 sampai 9 dibedakan atas nilai
kalornya (mmaf) dengan kandungan VM lebih dari 33%. Masingmasing kelas dibagi atas 4 group (0-3) menurut sifat cracking nya
dintentukan dari Free Swelling Index dan Roga Index. Masingmasing group ini dibagi lagi atas sub group berdasarkan tipe dari

coke yang diperoleh pengujian Gray King dan Audibert-Arnu


dilatometer test. Jadi, pada International klasifikasi ini akan
terdapat 3 angka, angka pertama menunjukkan kelas, angka kedua
menunjukkan group dan angka ketiga menunjukkan sub-group.
b. Brown Coal
International klasifikasi dari Brown coal dan lignit dibagi atas
parameternya yaitu total moisture dan low temperature Tar Yield.
F. Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Batubara
Kualitas batubara adalah sifat fisika dan kimia dari batubara yang
mempengaruhi potensi kegunaannya. Kualitas batubara dipengaruhi oleh
komponen-komponen yang terdapat dalam batubara tersebut, yaitu air
(moisture), organic matter dan mineral matter penyusunnya.
a. Air (moisture)
Air yang terkandung dalam batubara terdiri dari ; Air bebas (free
moisture) adalah air yang terikat secara mekanik dengan
batubara

pada permukaan, dalam retakan atau kapiler dan

mempunyai tekanan uap normal. Kadarnya dipengaruhi

oleh

bermacam macam kondisi, seperti pengeringan dan pembasahan


selama penambangan, transportasi, penyimpanan dan lain-lain.
Air lembab (inherent moisture/moisture in air dried sample)
adalah air yang terikat secara fisik dalam batubara pada struktur
pori-pori sebelah dalam, dan mempunyai tekanan uap lebih
rendah daripada tekanan normal. Kadar air lembab dipakai sebagai
karakteristik dasar daripada batubara, kadar air lembab bertambah
besar dengan turun naiknya rank batubara.
Air kristal adalah air yang terikat secara kimia dengan mineral
yang terdapat dalam batubara. Bentuk ini menguap pada suhu yang
cukup tinggi, tergantung dari jenis mineral yang mengikatnya.
Penguapan umumnya mulai terjadi pada suhu di atas 4500C.
Beberapa badan standarisasi international membuat metode untuk
menetapkian air kristal ini, namun jarang dipergunakan. Para ahli
Amerika menetapkan air kristal ini sebesar 8% dari kadar abu

batubaranya, sedangkan negara Eropa menetapkan sebesar 9% dari


kadar abu batubaranya.
b. Organic Matter (Zat Organik)
Organic matter adalah satu-satunya komponen batubara yang
menghasilkan

kalori

pada proses pembakaran.

Penguraian

komponen ini dapat dilihat dari dua sisi berbeda. Pertama dilihat
dari sisi bagian dan jenis tanaman awal yang membentuknya,
sedangkan sisi kedua dilihat dari unsur kimia yang membentuknya.
Dilihat dari sisi pertama, yaitu bagian dan jenis tanaman awal
yang membentuknya, komponen batubara ini diuraikan menjadi
beberapa elemen yang disebut dengan maceral. Lihat tabel di
bawah ini!
Tabel 1. Mean Maceral Group
Maceral Group
Vitrinite

Exinite

Inertinite

Maceral

Bagian/jenis tanaman

Collinite
Telinit

Wood and cortical tissues

Sporinite

Spore exines

Resinite

Resine and waxes

Cutinite

Leaf cuticles

Alginite

Algae

Fusinite

Wood and corticle tissues

Semi Fusinite

Wood and corticle tissues

Micrinite

Uncertain

Scleronite

Resin or fungae

Jika dilihat dari sisi kedua, yaitu unsur kimia yang membentuknya,
komponen ini terdiri dari unsur carbon, hydrogen, nitrogen,
sulfur, oxygen, serta terdapat juga sedikit unsur zat organik
bawaan, seperti natrium, kalium, dan sebagainya.
Walaupun
komponen

zat

organik

yang

batubara

merupakan

satu-satunya

menghasilkan kalori, namun di dalamnya

terdapat beberapa unsur yang dianggap pengotor, karena pada


proses pembakaran unsur ini dapat menimbulkan polusi. Unsur
kimia tersebut

antara lain nitrogen dan sulfur. Dalam

proses

pembakaran, nitrogen akan membentuk NOx, sedangkan sulfur


akan membentuk SO2.
c. Inorganic Matter (Zat Anorganik)
Elemen dari zat anorganik disebut mineral atau disebut juga
dengan mineral matter. Satu hal yang perlu diingat, bahwa batubara
tidak mengandung abu tetapi mengandung mineral. Abu hanyalah
residu sisa pembakaran batubara, namun dalam pengujian disebut
sebagai kadar abu. Kadar mineral matter dalam batubara bisa
didapat lewat pengujian di laboratorium, tetapi hal tersebut
jarang dilakukan. Pada umumnya untuk mendapatkan data ini
melaui perhitungan. Banyak formula yang dapat digunakan untuk
menghitung

kandungan

mineral matter, Parr formula adalah

salah satunya,
MM = 1.08A + 0.55S MM = mineral matter, % A = ash, %
S = sulfur, %
Mineral yang terdapat dalam batubara terbagi dalam dua bentuk,
yaitu : inherent mineral dan extraneous mineral matter.
Inherent Mineral
Material ini terdapat dalam batubara dalam bentuk partikel
halus yang tersebar ke seluruh bagian batubara.
dasarnya,

sebagian

Pada

material ini ialah unsur anorganik

berasal dari tanaman yang membentuk batubara tersebut,


dan sebagian lainnya berasal dari material sampingan
yang terbawa ke dalam batubara selama terjadinya

proses pembentukan batubara. Oleh karena itu jumlah serta


sifat mineral dalam batubara bisa berbeda dari satu lapisan
ke lapisan lainnya.
Berdasarkan bentuk ikatan mineral ini dengan batubara
maka hampir dapat dipastikan bahwa mineral ini tidak
dapat dipisahkan dari batubara dengan cara mekanis
(penggilingan dan pencucian).
Extraneous Mineral
Material ini berasal dari tanah penutup atau lapisan-lapisan
yang terdapat di antara lapisan batubara yang terbawa ke
dalam batubara saat berlangsungnya proses penambangan.
Pada umumnya tingkat kandungan extraneous mineral
dalam batubara bervariasi mengikuti ukuran partikelnya,
dimana partikel yang lebih halus akan mempunyai
kandungan extraneous

mineral

yang

lebih

tinggi,

sehingga proses liberasi dengan penggilingan keukuran


yang lebih kecil dapat dimanfaatkan.
Komponen-komponen batubara dapat digambarkan sebagai berikut

G. Impurities Batubara
Batubara yang diperoleh dari penambangan pasti mengandung

pengotor (impurities). Keberadaan pengotor ini diperparah dengan

kenyataan bahwa tidak mungkin memilih batu bara yang bersih dan
terbebas dari mineral . Penambangan dalam jumlah besar

selalu

menggunakan alat-alat berat seperti bulldoser, backhole, tractor, dan


lainnya.
Impurities terbagi menjadi dua jenis yaitu :
1. Inherent Impurities
Merupakan pengotor bawaan yang terdapat pada batubara. Batubara
yang sudah dicuci (washing) yang di kecilkan ukuran butirannya
(crushing) kemudian di bakar dan menyisakan abu. Pengotor ini
merupakan pengotor bawaan pada saat pembentukan batubara,
pengotor tersebut dapat berupa gipsum (CaSO4.2H2O), anhidrid
(CaSO4), spirit (FeS2), silika (SiO2) dapat pula terbentuk tulang-tulang
bintang (diketahui dari senyawa-senyawa fasfor dari analisis abu).
Pengotor bawaan ini tidak mungkin dihilangkan sama sekali, tetapi
dapat di kurangi dengan cara pembersihan. Proses ini dikenal dengan
tenologi batubara bersih.
2. External Impurities
Meruoakan pengotor yang berasal dari luar, timbul pada saat proses
penambangan.

Dalam menentukan mutu/kualitas batubara perlu

diperhatikan beberapa hal :


a. Heating value (HV) (Calorific Value/Nilai kalor)
Dinyatakan dengan kkal/Kg, banyaknya jumlah kalori yang di
hasilkan batubara tiap satuan berat (dalam kilogram).
b. Moisture Content (kandungan lengas/air)
Batubara dengan jumlah lengas tinggi akan memerlukan lebih
banyak udara primer untuk mengeringkan batubara tersebut agar
suhu batubara pada saat keluar dari gilingan tetap, sehingga
hasilnya memiliki kualitas yang terjamin. Jenis air sulit untuk
dilepaskan tetapi dapat dikurangi, dengan cara memperkecil ujuran
butir batubara.
c. Ash Content (Kandungan abu)
Komposisi batubara bersifat heterogen, apabila batubara dibakar
maka senyawa organik yang ada akan di ubah menjadi senyawa
oksida yang berukuran butiran dalam bentuk abu. Abu dari sisa
pembakaran inilah yang dikenal sebagai ash content. Abu ini

merupakan kumpulan dari bahan-bahan pembentukan batubara


yang tidak dapat terbakar, atau yang dioksidasi oleh oksigen.
Bahan sisa dalam bentuk padatan ini antara lain senyawa SiO 2,
AI2O3, TiO2, Mn3O4, CaO, Fe2O3, MgO, K2O, Na2O,P2O, SO3 dan
oksida unsur lainnya.
d. Sulfur Content (kandungan belerang)
Belerang yang terdapat pada batubara adalah bentuk senyawa
organik dan arorganik, dalam senyawa anorganik dapat dijumpai
dalam bentuk mineral pirit (FeS2 bentuk kristal kubus) , markasit
(FeS2 bentuk kristal orhorombik) atau dalam bentuk sulfat.
Sedangkan belerang organik terbentuk selama terjadinya proses
coalification . (Krevelen, 1993).
e. Volatile Matter (bahan mudah menguap)
Kandungan Volatile matter mempengaruhi

kesempurnaan

pembakaran dan intensitas nyala api.


f. Fixed Carbon
Didevinisikan sebagai material yang tersisa , setelah berkurangnya
moisture, volatile matter dan ash. Hubungan ketiganya sebagai
berikut:
Fixed Carbon (%) = 100% - Moisture Content - Ash Content
Fixed Carbon = 100 - Volatile Matter (%).

g. Hardgrove Ggrindability Index (HGI)


Suatu bilangan yang menunjukan mudah atau sukarnya batubara
di giling atau di gerus menjadi bentuk serbuk. Butiran paling halus
< 3 mm sedangkan yang paling kasar sampai 50 mm.
h. Ash Fusion Character of coal
Kualitas batubara adalah sifat fisika dan kimia dari batubara yang
mempengaruhi potensi kegunaannya. Kualitas batubara ditentukan
oleh maseral dan mineral matter penyusunnya, serta oleh derajat
coalification.
H. Analisis Laboratorium Kualitas Batubara

Pada prinsipnya dikenal dua jenis pengujian analisis untuk kualitas


batubara yaitu Analisis Prosikmat (Proximate analysis) dan Analisis
Ultimate (Ultimate Analysis/Elemental Analysis).
1. Analisis Proksimat
Analisis proksimat batubara bertujuan untuk menentukan kadar
moisture (air dalam batubara) kadar moisture ini mencakup pula nilai
free moisture serta toal moisture, ash (debu), volatile matters (zat
terbang), dan fixed carbon

(karbon tertambat). Moisture ialah

kandungan air yang terdapat dalam batubara sedangkan abu (ash)


merupakan kandungan residu non-combustible yang umumnya terdiri
dari senyawa-senyawa silika oksida (SiO2), kalsium oksida (CaO),
karbonat, dan mineral-mineral lainya

volatile matters adalah

kandungan batubara yang terbebaskan pada temperatur tinggi tanpa


keberadaan oksigen. Fixed carbon ialah kadar karbon tetap yang
terdapat dalam batubara setelah volatile matters dipisahkan dari
batubara.
2. Analisis Ultimat
Analisis ultimat dijalankan dengan analisis kimia untuk menentukan
kadar karbon (C), Hidrogen (H2), Oksigen (O2), Nitrogen (N2), dan
Belerang (S). Keberadaan dan sifat dari unsur-unsur tersebut sebanding
dengan peringkat batubara, semakin tinggi rank batubara semakin
tinggi kandungan karbonnya, sementara kandungan hidrogen dan
oksigennya akan semakin berkurang. Sedangkan nitrogen merupakan
unsur yang bersifat bervariasi begantung dari material pembentuk
batubara. Analisis karbon pada ultimate tidak sama dengan analisis
fixed carbon. Fixed carbon merupakan kadar karbon terlambat atau
karbon tetap tertinggal bersama abu bila batubara telah dibakar tanpa
oksigen dan setelah zat volatile habis. Fixed carbon merupakan kadar
karbon yang pada temperatur penetapan voliatile matter tidak menguap
sedangkan karbon yang menguap pada temperatur tersebut termasuk
kedalam voliatile matter.

DAFTAR PUSTAKA
http://anisaahyar.blogspot.co.id/2014/01/kualitas-batubara.html
http://asalusulbatubara2.blogspot.co.id/2015/08/jenis-dan-impurities-batubara.html
http://idefa.blogspot.co.id/2012/10/pengertian-batubara-dan-tingkatan.html
https://www.academia.edu/8466599/ANALISIS_DAN_PENGUJIAN_BATUBAR
A_DALAM_KAITAN_DENGAN_PEMANFAATANNYA
https://www.scribd.com/doc/211808333/Bab-IV-Analisa-Kualitas-Batubara