Anda di halaman 1dari 31

BAB I

STATUS PASIEN
I. Identitas Pasien
Nama

: Ny. W

Usia

: 22 Tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Agama

: Islam

Alamat

: Cigembreng Utara

Pekerjaan

: Pegawai swasta

Status perkawinan

: Menikah

No. RM

: 560046

Tanggal Pemeriksaan : 13 Juli 2016


II. Anamnesa
Dilakukan secara autoanamnesis kepada pasien pada hari Rabu, 13 Juli 2016 pukul 10.00 di Poli
Bedah RSUD Soreang.
Keluhan Utama
Benjolan di payudara kanan
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke IGD RSUD Soreang dengan keluhan benjolan pada payudara kanan. Benjolan
tersebut muncul 2 tahun yang lalu dan tidak mengalami pembesaran. Pasien mengaku benjolan
tersebut tidak nyeri saat dipegang. Benjolan muncul pada setiap saat, bukan hanya waktu
menstruasi saja. Pasien tetap merasa khawatir walaupun benjolan itu tidak menggangunya. Hanya
saja, kadang kadang pasien merasakan pegal-pegal
Pasien mengaku tidak menggunakan alat kontrasepsi hormonal, tidak mengalami keputihan atau
perdarahan diluar menstruasi. Pasien tidak mengalami penurunan berat badan.
Riwayat Penyakit Dahulu
Tidak ada
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada

III. Pemeriksaan Fisik


Kesadaran

Composmentis

Tanda vital

Tekanan Darah

: 120/80 mmHg

Nadi

: 96x/menit regular, equal, isi cukup

Respirasi

: 24x/menit

Suhu

: 36,4 0C

A. Status Generalis

Mata
Konjungtiva

: tidak anemis

Sklera

: tidak ikterik

Leher
Tekanan Vena Jugularis tidak meningkat, KGB tidak teraba membesar

Thorax
COR

: Bunyi Jantung Murni Regular, Murmur (-) Gallop (-)

Pulmonal

: Vesicular Breath Sound kanan = kiri, Rhonki -/- Wheezing -/-

Abdomen
Inspeski

: cembung, tidak ada kelainan kulit

Palpasi

: Soepel, Nyeri tekan (-) Hepar/Lien tidak teraba membesar

Perkusi

: timpani diseluruh lapang abdomen

Auskultasi

: Bising Usus (+) Normal

Ekstremitas

Ekstremitas atas: akral hangat +/+, CRT <2, turgor baik, edema (-)
Ekstremitas bawah : akral hangat +/+, CRT <2, turgor baik, edema (-)
B. Status Lokalis

Inspeksi
Mammae kanan dan kiri tampak simetris. Tidak terdapat retraksi puting, sekret atau
discharge yang keluar dari puting kedua payudara. Tidak terdapat perubahan warna, peau
dorange, skin dimpling, pada kedua payudara

Palpasi
Terdapat satu benjolan pada mammae dextra yang teraba lunak di bagian kuadran medial
superior dextra. Benjolan ukuran 2x1 cm, konsistensi kenyal, mobile, permukaan licin, dan
tidak terdapat nyeri tekan serta pembesaran KGB

III. Resume
Pasien datang ke RSUD Soreang dengan keluhan benjolan di mammae dekstra sejak 2 tahun
yang lalu, benjolan dirasakan tidak membesar sejak pertama diketahui. Pasien tidak menggunakan
kontrasepesi hormonal dan belum menikah. Pasien menyangkal di keluarga ada yang sakit serupa.
Pasien kini merasakan pegal-pegal.
Terdapat 1 benjolan pada mammae dekstra di kuadran medial superior dengan ukuran 2x1
cm, mobile, dengan permukaan licin dan tidak nyeri. Tidak terdapat kelainan pada inspeksi dan
tidak ada pembesaran KGB
IV. Diagnosis
Tumor mammae dekstra Susp. Benigna
V. Usulan Pemeriksaan

Darah Rutin

USG

VI. Diagnosis Banding


Tumor Mammae dekstra Susp. Benigna dan mastitis
VII. Penatalaksanaan
Non-Farmakologi

Operasi : biopsi eksisi

Farmakologi

Dancera 3x1 PO

VIII. Edukasi

Hindari faktor risiko : pemakaian obat KB hormonal


3

IX. Prognosis
Quo ad Vitam

: ad bonam

Quo ad Functionam

: dubia ad bonam

Quo ad Sanationam

: ad bonam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
I. Anatomi
Payudara merupakan kelenjar aksesoris kulit yang terletak pada iga dua sampai iga enam,
dari pinggir lateral sternum sampai linea aksilaris media. Kelenjar ini dimiliki oleh pria dan wanita.
Namun, pada masa pubertas, payudara wanita lambat laun akan membesar hingga membentuk
setengah lingkaran, sedangkan pada pria tidak. Pembesaran ini terutama terjadi akibat penimbunan
lemak dan dipengaruhi oleh hormon-hormon ovarium.
Secara umum, payudara terdiri atas dua jenis jaringan, yaitu glandular (kelenjar) dan
jaringan stromal (penopang). Jaringan kelenjar meliputi kelenjar susu (lobus) dan salurannya
(ductus). Sedangkan jaringan penopang meliputi jaringan lemak dan jaringan ikat. Selain itu,
payudara juga memiliki aliran limfe. Aliran limfe payudara sering dikaitkan dengan timbulnya
kanker maupun penyebaran (metastase) kanker payudara.

Setiap payudara terdiri atas 15-20 lobus yang tersusun radier dan berpusat pada papilla
mamma. Saluran utama tiap lobus yang disebut ductus laktiferus memiliki ampulla yang membesar
tepat sebelum ujungnya yang bermuara ke papilla. Diantara kelenjar susu dan fasia pektoralis, juga
diantara kulit dan kelenjar tersebut terdapat jaringan lemak. Diantara lobus tersebut terdapat
jaringan ikat yang disebut ligamentum cooper yang merupakan tonjolan jaringan payudara, yang
bersatu dengan lapisan luar fasia superfisialis yang berfungsi sebagai struktur penyokong dan
memberi rangka untuk payudara. Jaringan ikat memisahkan payudara dari otot-otot dinding dada,
otot pektoralis dan anterior. Tiap papilla dikelilingi oleh daerah kulit yang berwarna lebih gelap
yang disebut areola mamma. Pada areola mamma, terdapat tonjolan-tonjolan halus yang merupakan
tonjolan dari kelenjar areola dibawahnya.
5

Perdarahan
Arteri
A. Cabang-cabang perforantes mammaria interna. Cabang-cabang I,II,III, IV,V dari arteria
mammaria interna menembus di dinding dada dekat tepi sternum pada intercostal yang
sesuai, menembus muskulus pektoralis mayor dan memberi aliran dara dari tepi medial
glandulla mamma.
B. Rami Pektoralis arteri torako-akromialis. Arteri ini berjalan turun diantara muskulus
pektoralis minor dan muskulus pektoralis mayor. Arteri ini akan memberikan aliran darah ke
glandula mamma bagian dalam (deep surface).
C. A. thorakalis lateralis (arteri mammae eksternal). Pembuluh darah ini berjalan turun
menyusuri tepi lateral muskulus pektoralis mayor untuk mendarahai bagian lateral payudara
Vena
A. Cabang-cabang perforantes v.mammaria interna. Vena ini merupakan vena yang tersebar
pada jaringan payudara yang mengalirkan darah dari payudara dan bermuara pada v.
mammaria interna yang kemudian bermuara pada v. minominata.
B. Cabang-cabang v.aksilaris, yang terdiri dari v. thorakaoakromialis, v. thorakalis lateralis dan
v. thorako-dosalis.
C. Vena-vena kecil bermuara pada v.interkostalis. Vena interkostalis bermuara pada v.
Vertebralis, kemudia bermuara pada Azygos (melalui vena-vena ini, keganasan pada
payudara akan dapat bermetastase langsung ke paru).
Persarafan
Payudara sisi superior dipersarafi oleh nervus supraklavikula yang berasal dari cabang ke 3 dan ke 4
pleksus servikal.payudara sisi medial dipersarafi oleh cabang kutaneus anterior dari nervus
interkostalis2-7. Papilla mamae dipersarafi oleh cabang kutaneus lateral dari nervus interkostalis
4sedangkan cabang kutaneus lateral dari nervus interkostalis lain mempersarafi areola dan mamae
sisi lateral
Aliran limfatik
Terdapat 6 kelompok kelenjar limfatik yang dikenali oleh ahli bedah, yaitu aliran limfatik
vena aksilaris, mamaria eksterna, scapular, sentral, subklavikular dan interpectoral (rotters group).
Sekitar 75% aliran limfatik payudara mengalir ke kelompok limfatik aksila, sebagian lagi mengalir
ke kelenjar parasternal ( mamaria interna ), terutama dari bagian sentral dan medial dank e kelenjar
6

interpektoralis. Pada aksila terdapat rata rata 50 (antara 10 90 ) buah kelenjar getah bening yang
terdapat pada sepanjang arteri dan vena brakialis. Saluran limfe dari seluruh payudara mengalir
kekelompok anterior aksila bagian dalamyang kemudian berlanjut ke kelenjar servikal bagian
kaudal dalam di fossa supraklavikuler.
Untuk standarisasi luasnya diseksi aksila, kelenjar aksila dibagi menjadi tiga level. Level
berg satu terletak disebelah lateral otot pektoralis minor. Level berg dua terletak di balik otot
pektoralis minor, level berg tiga mencakup kelenjar limfatik subklavikula di sebelah medial otot
pektoralis minor.

II. Definisi
Tumor payudara adalah benjolan tidak normal akibat pertumbuhan sel yang terjadi secara terus
menerus. Dalam klinik, istilah tumor sering digunakan untuk semua tonjolan dan diartikan sebagai
pembengkakan, yang dapat disebakan baik oleh neoplasma maupun oleh radang, atau perdarahan.
Neoplasma membentuk tonjolan, tetapi tidak semua tonjolan disebabkan oleh neoplasma.
III. Epidemiologi
Pada usia muda, sebagian besar (80-90%) benjolan di payudara adalah jinak dan biasanya disertai
keluhan. Justru bila tanpa keluhan, harus dicurigai kemungkinan kanker payudara. Diantara
berbagai jenis tumor jinak payudara yang tersering adalah kista dan fibroadenoma.

Pada suatu penelitian disebutkan bahwa dalam kurun waktu 10 tahun pengamatan, sedikitnya 16%
wanita datang dengan keluhan benjolan di payudaranya. Dari jumlah ini, ternyata 8% adalah kanker
payudara, terutama pada usia diatas 40 tahun. Gejala subjektif yang dikeluhkan bervariasi dari
hanya benjolan yang nyeri/tidak nyeri sampai keluarnya carian dari putting susu.
IV. Etiologi dan Faktor Predisposisi
Sampai saat ini, penyebab pasti tumor payudara belum diketahui. Namun, ada beberapa faktor
resiko yang telah teridentifikasi yaitu:

Jenis kelamin
Wanita lebih beresiko menderita tumor payudara dibandingkan pria. Prevalensi tumor
payudara pada pria hanya 1% dari seluruh tumor payudara.

Riwayat keluarga
Wanita memiliki keluarga tingkat satu penderita tumor payudara beresiko tiga kali lebih
besar untuk menderita tumor payudara.

Faktor genetik
Mutase gen BRCA 1 pada kromosom 17 dan BRCA 2 pada kromosom 13 dapat
meningkatkan resiko tumor payudara sampai 85%. Selain itu, gen p53, BARDI, BRCA3,
dan noey2 juga diduga meningkatkan resiko terjadinya kanker payudara.

Faktor usia
Resiko tumor payudara meningkat seiring dengan pertambahan usia.

Faktor hormonal
Kadar hormon yang tinggi selama masa reproduktif, terutama jika tidak diselingi oleh
perubahan hormon akibat kehamilan, dapat meningkatkan resiko terjadinya tumor payudara.

Usia saat kehamilan pertama


Hamil pertama pada usia 30 tahun beresiko dua kali lipat dibandingkan dengan hamil pada
suia kurang dari 20 tahun.

Terpapar radiasi

Intake alkohol

Pemakaian kontrasepsi oral


Pemakaian kontrasepsi oral dapat meningkatkan resiko tumor payudara. Penggunaan pada
usia kurang dari 20 tahun beresiko lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan pada usia
lebih tua

V. Klasifikasi
Pada dasarnya kelainan patologi payudara dapat digolongkan menjadi empat golongan besar
yaitu kelainan kongenital, infeksi, kelainan akibat ketidakseimbangan hormonal, dan neoplasma
A. Kelainan kongenital dan hormone
Kelainan kongenital tidak diketahui dengan pasti etiologinya, tetapi segala sesuatu yang
bersifat menimbulkan kegagalan secara total maupun parsial perkembangan somatik payudara akan
berakibat kurang atau gagalnya pembentukan komponen payudara. Kelainan kongenital dapat
berupa agenesis, hipoplasia dan hipotrofi, polythelia atau jumlah puting susu yang berlebihan,
polymastia atau terdapat lebih dari sepasang payudara, dan lainlain (Fadjari, 2012).
Kelainan payudara akibat ketidakseimbangan hormon terutama hormon estrogen disebut
hyperestrenisme. Kelainan ini akan menimbulkan penyimpangan pertumbuhan dan komponen
jaringan payudara yang disebut mammary dysplasia pada wanita dan gynecomastia pada pria. Bila
terdapat bentuk kista yang tidak teratur baik letak maupun ukurannya dan disertai peningkatan
unsur jaringan ikat ekstralobular akan didapatkan fibrokistik payudara.
B. Lesi Akibat Infeksi Jaringan Payudara
1. Mastitis
Merupakan kondisi radang akut yang nyeri, biasanya terjadi pada minggu pertama setelah
persalinan dengan Staphylococcus aureus sebagai penyebab terbanyak. Terdapat beberapa
contoh jenis radang misalnya mastitis tuberkulosa, mastitis sifilika, dan mastitis mikotik y
ang biasanya berjalan kronik dengan tandatanda radang tidak nyata seperti tidak nyeri,
bertukak, dan ada indurasi keras sehingga sering merupakan diagnosis banding karsinoma
payudara
2. Ektasia Duktus Mammae
Ektasia duktus mammae ini merupakan proses pelebaran sistem duktus sampai percabangan
duktulus yang disertai fibrosis periduktal dan reaksi radang mononukleus. Duktus yang
melebar, berisi bahan berwarna putih kehijauan yang merupakan discharge papila. Pada
pemeriksaan klinis, kasus yang berat sering dikelirukan dengan karsinoma mammae karena
terdapat discharge papila mamma yang terkadang bercampur darah. Fibrosis disekitar
mamma menyebabkan retraksi papila dan dapat pula teraba benjolan keras. Meskipun
demikian hal tidak berhubungan dengan proses keganasan tetapi merupakan kelainan radang

3. Nekrosis Lemak
Penyebab kelainan ini diduga akibat trauma walaupun terkadang riwayat trauma sering
disangkal penderita. Kelainan ini lebih sering ditemui pada wanita obesitas dan setelah
menopause, dimana mamma secara proporsional membesar akibat banyaknya jaringan
lemak berupa benjolan berbatas tegas dan secara klinis mirip karsinoma.
C. Kelainan Akibat Ketidakseimbangan Hormon
1. Penyakit Fibrokistik
Kelainan ini paling sering ditemukan, bersifat jinak dan nonneoplastik tetapi memiliki
hubungan dengan meningkatnya resiko terjadinya keganasan. Fibrokistik payudara ditandai
dengan rasa nyeri dan benjolan yang ukurannya berubahubah. Benjolan ini membesar
sebelum periode menstruasi serta mengeluarkan cairan puting yang tidak normal.
D. Neoplasma Jinak
Neoplasma merupakan sel tubuh yang mengalami transformasi dan tumbuh secara autonom, lepas
dari kendali pertumbuhan sel normal sehingga bentuk dan struktur sel ini berbeda dengan sel
normal. Sifat sel tumor ini bergantung pada besarnya penyimpangan bentuk dan fungsi,
autonominya dalam sifat pertumbuhan, dan kemampuan dalam berinfiltrasi serta bermetastasis.
Neoplasma dapat bersifat ganas dan jinak. Neoplasma ganas atau kanker tumbuh secara tidak
terkendali, menginfiltrasi ke jaringan sekitar sekaligus merusaknya, dan dapat menyebar ke bagian
tubuh lain yang dapat disebut sebagai metastasis. Sedangkan neoplasma jinak memiliki batas tegas
dan tidak infiltratif, tidak merusak, serta tidak bermetastasis, tetapi dapat bersifat ekspansif, yaitu
dapat terus membesar sehingga menekan jaringan sekitarnya
1. Fibroadenoma Mammae
Fibroadenoma mammae (FAM) merupakan tumor jinak yang paling banyak ditemukan.
Fibroadenoma berasal dari proliferasi kedua unsur lobulus, yaitu asinus atau duktus
terminalis dan jaringan fibroblastik. Terdapat dua jenis FAM, yaitu FAM intrakanalikuler
atau stroma yang tumbuh mendesak kanalikulus pada sistem duktulus intralobulus dan FAM
perikanalikuler atau stroma yang tumbuh proliferatif mengitari sistem kanalikulus sistem
duktulus intralobulus. Sifat lesi jinak ini berupa benjolan yang mobile atau dapat
digerakkan, lobulasi tidak nyeri tekan, kenyal seperti karet berukuran satu sampai dengan
empat sentimeter, dan banyak ditemukan pada kuadran lateral kanan atas payudara kiri pada

10

penderita yang right handed. Benjolan ini dapat bertambah besar satu sentimeter dibawah
pengaruh estrogen haid normal, kehamilan, laktasi, atau penggunaan kontrasepsi oral.
2. Papiloma Duktus
Papiloma duktus lebih jarang ditemukan dibandingkan fibroadenoma dan lesi ini banyak
ditemukan pada wanita usia pertengahan. Sekitar 80% kasus papiloma duktus terdapat
discharge serous yang sering bercampur darah dan dapat teraba adanya benjolan. Tumor ini
berasal dari epitel duktus yang memiliki lesi soliter tumbuh didalam duktus yang besar,
sampai 40 mm dari papila. Lesi ini terlihat sebagai struktur panjang berkelokkelok tumbuh
sepanjang duktus yang menyebabkan distensi duktus sehingga memiliki bentuk mirip kista
dan merupakan lesi prekanker.
3. Tumor filoides
Secara mikroskopik memiliki pola pertumbuhan seperti FAM tipe intrakanalikuler dengan
stroma yang sangat seluler, tumbuh cepat, dapat disertai pembentukan radang pada kulit
akibat desakan, sehingga menimbulkan nekrosis iskemik pada kulit. Berdasarkan gejala
klinik yang ditimbulkan dan insidensi terbanyak yaitu 40 tahun yang merupakan diagnosis
banding karsinoma payudara
E. Neoplasma Ganas
Neoplasma ganas parenkim payudara terdiri atas dua golongan, yaitu karsinoma duktal yang berasal
dari sistem duktus dan karsinoma lobular yang berasal dari asinus kelenjar payudara. Insidensi
karsinoma duktal invasif mencapai 7080% dengan subtipe papilotubular, solid tubular, dan skirus
dengan prognosis masingmasing baik, kurang baik, buruk. Sedangkan karsinoma lobular invasif
sekitar 20% dari seluruh keganasan payudara dan memiliki 3 jenis yaitu jenis sel kecil, jenis sel
besar, dan atypical invasive lobular carcinoma
1. Non invasive carcinoma

Ductal carcinoma in situ


Ductal carcinoma in situ, juga disebut intraductal cancer, merujuk pada sel kanker yang
telah terbentuk dalam saluran dan belum menyebar. Saluran menjadi tersumbat dan membesar
seiring bertambahnya sel kanker di dalamnya. Kalsium cenderung terkumpul dalam saluran yang
tersumbat dan terlihat dalam mamografi sebagai kalsifikasi terkluster atau tak beraturan (clustered
or irregular calcifications) atau disebut kalsifikasi mikro (microcalcifications) pada hasil
mammogram seorang wanita tanpa gejala kanker.

11

DCIS dapat menyebabkan keluarnya cairan puting atau munculnya massa yang secara jelas
terlihat atau dirasakan, dan terlihat pada mammografi. DCIS kadang ditemukan dengan tidak
sengaja saat dokter melakukan biopsy tumor jinak. Sekitar 20%-30% kejadian kanker payudara
ditemukan saat dilakukan mamografi. Jika diabaikan dan tidak ditangani, DCIS dapat menjadi
kanker invasif dengan potensi penyebaran ke seluruh tubuh.
DCIS muncul dengan dua tipe sel yang berbeda, dimana salah satu sel cenderung lebih
invasif dari tipe satunya. Tipe pertama, dengan perkembangan lebih lambat, terlihat lebih kecil
dibandingkan sel normal. Sel ini disebut solid, papillary atau cribiform. Tipe kedua, disebut
comedeonecrosis, sering bersifat progresif di awal perkembangannya, terlihat sebagai sel yang lebih
besar dengan bentuk tak beraturan.

Ductal Carcinoma in situ (A) dan Sel-sel kanker menyebar keluar dari ductus, menginvasi
jaringan sekitar dalam mammae (B)

Lobular carcinoma in situ


Meskipun sebenarnya ini bukan kanker, tetapi LCIS kadang digolongkan sebagai tipe
kanker payudara non-invasif. Bermula dari kelenjar yang memproduksi air susu, tetapi tidak
12

berkembang melewati dinding lobulus. Mengacu pada National Cancer Institute, Amerika Serikat,
seorang wanita dengan LCIS memiliki peluang 25% munculnya kanker invasive (lobular atau lebih
umum sebagai infiltrating ductal carcinoma) sepanjang hidupnya.

Lobular carcinoma in situ


2. Invasive carcinoma

Pagets disease dari papilla mammae


Pagets disease dari papilla mammae pertama kali dikemukakan pada tahun 1974. Seringnya
muncul sebagai erupsi eksim kronik dari papilla mammae, dapat berupa lesi bertangkai, ulserasi,
atau halus. Paget's disease biasanya berhubungan dengan DCIS (Ductal Carcinoma in situ) yang
luas dan mungkin berhubungan dengan kanker invasif. Biopsi papilla mammae akan menunjukkan
suatu populasi sel yang identik (gambaran atau perubahan pagetoid). Patognomonis dari kanker ini
adalah terdapatnya sel besar pucat dan bervakuola (Paget's cells) dalam deretan epitel. Terapi
pembedahan untuk Paget's disease meliputi lumpectomy, mastectomy, atau modified radical
mastectomy, tergantung penyebaran tumor dan adanya kanker invasif.
Invasive ductal carcinoma

Adenocarcinoma with productive fibrosis (scirrhous, simplex, NST) (80%)


Kanker ini ditemukan sekitar 80% dari kanker payudara dan pada 60% kasus kanker ini
mengadakan metastasis (baik mikro maupun makroskopik) ke KGB aksila. Kanker ini biasanya
terdapat pada wanita perimenopause or postmenopause dekade kelima sampai keenam, sebagai
massa soliter dan keras. Batasnya kurang tegas dan pada potongan meilntang, tampak
permukaannya membentuk konfigurasi bintang di bagian tengah dengan garis berwarna putih kapur
atau kuning menyebar ke sekeliling jaringan payudara. Sel-sel kanker sering berkumpul dalam
kelompok kecil, dengan gambaran histologi yang bervariasi.
13

Medullary carcinoma (4%)


Medullary carcinoma adalah tipe khusus dari kanker payudara, berkisar 4% dari seluruh
kanker payudara yang invasif dan merupakan kanker payudara herediter yang berhubungan dengan
BRCA-1. Peningkatan ukuran yang cepat dapat terjadi sekunder terhadap nekrosis dan perdarahan.
20% kasus ditemukan bilateral. Karakterisitik mikroskopik dari medullary carcinoma berupa (1)
infiltrat limforetikular yang padat terutama terdiri dari sel limfosit dan plasma; (2) inti pleomorfik
besar yang berdiferensiasi buruk dan mitosis aktif; (3) pola pertumbuhan seperti rantai, dengan
minimal atau tidak ada diferensiasi duktus atau alveolar. Sekitar 50% kanker ini berhubungan
dengan DCIS dengan karakteristik terdapatnya kanker perifer, dan kurang dari 10% menunjukkan
reseptor hormon. Wanita dengan kanker ini mempunyai 5-year survival rate yang lebih baik
dibandingkan NST atau invasive lobular carcinoma.

Mucinous (colloid) carcinoma (2%)


Mucinous carcinoma (colloid carcinoma), merupakan tipe khusus lain dari kanker payudara,
sekitar 2% dari semua kanker payudara yang invasif, biasanya muncul sebagai massa tumor yang
besar dan ditemukan pada wanita yang lebih tua. Karena komponen musinnya, sel-sel kanker ini
dapat tidak terlihat pada pemeriksaan mikroskopik.

Papillary carcinoma (2%)


Papillary carcinoma merupakan tipe khusus dari kanker payudara sekitar 2% dari semua
kanker payudara yang invasif. Biasanya ditemukan pada wanita dekade ketujuh dan sering
menyerang wanita non kulit putih. Ukurannya kecil dan jarang mencapai diameter 3 cm. McDivitt
dan kawan-kawan menunjukkan frekuensi metastasis ke KGB aksila yang rendah dan 5- and 10year survival rate mirip mucinous dan tubular carcinoma.

Tubular carcinoma (2%)


Tubular carcinoma merupakan tipe khusus lain dari kanker payudara sekitar 2% dari semua
kanker payudara yang invasif. Biasanya ditemukan pada wanita perimenopause dan pada periode
awal menopause. Long-term survival mendekati 100%.

3. Invasive lobular carcinoma (10%)


Invasive lobular carcinoma sekitar 10% dari kanker payudara. Gambaran histopatologi meliputi selsel kecil dengan inti yang bulat, nucleoli tidak jelas, dan sedikit sitoplasma. Pewarnaan khusus
dapat mengkonfirmasi adanya musin dalam sitoplasma, yang dapat menggantikan inti (signet-ring
cell carcinoma). Seringnya multifokal, multisentrik, dan bilateral. Karena pertumbuhannya yang
tersembunyi sehingga sulit untuk dideteksi.
14

Sistem TNM
TNM merupakan singkatan dari T yaitu tumor size atau ukuran tumor, N yaitu node atau
kelenjar getah bening regional dan M yaitu metastasis atau penyebaran jauh. Ketiga faktor T, N,
dan M dinilai baik secara klinis sebelum dilakukan operasi, juga sesudah operasi dan dilakukan
pemeriksaan histopatologi (PA). Pada kanker payudara, penilaian TNM sebagai berikut :
Ukuran Tumor (T)

Ukuran Nodul (N)

15

Ukuran Metastase (M)

Stadium Kanker

Dengan tahapan stadium :


1. Stadium 0 (Tis, N0, M0)
DCIS yang termasuk penyakit paget pada puting payudara dan LCIS.
2. Stadium I (T1, N0, M0)
Karsinoma invasif dengan ukuran 2 cm atau kurang serta kelenjar getah bening negatif.
16

3. Stadium IIA (T0, N1, M0), (T1, N1, M0), (T2, N0, M0)
Karsinoma invasif dengan ukuran 2 cm atau kurang disertai dengan metastasis ke kelenjar
getah bening atau karsinoma invasif lebih dari 2 cm tetapi kurang dari 5 cm dengan kelenjar
getah beningnegatif.
4. Stadium IIB (T2, N1, M0), (T3, N0, M0)
Karsinoma invasif berukuran garis tengah lebih dari 2 cm tetapi kurang dari 5 cm dengan
kelenjar getah bening positif atau karsinoma invasif berukuran lebih dari 5 cm tanpa
keterlibatan kelenjar getah bening.
5. Stadium IIIA (T0, N2, M0), (T1 atau T2, N2, M0), (T3, N1 atau N2, M0)
Karsinoma invasif ukuran berapa pun dengan kelenjar getah bening terfiksasi dengan invasi
ekstranodus yang meluas diantara kelenjar getah bening atau karsinoma berdiameter lebih dari
5 cm dengan metastasis kelenjar getah bening nonfiksasi.
6. Stadium IIIB (T4, N1 atau N2 dan N3, M0)
Karsinoma inflamasi yang menginvasi dinding dalam, karsinoma yang mengivasi kulit,
karsinoma dengan nodus kulit satelit, atau setiap karsinoma dengan metastasis ke kelenjar
getah bening mamaria interna ipsilateral.
7. Stadium IV (T1T4, N1N4, M1)
Metastatis ke tempat jauh \
VI. Patofisiologi
Tumor atau neoplasma merupakan kelompok sel yang berubah dengan ciri-ciri proliferasi
sel yang berlebihan dan tidak berguna yang tidak mengikuti pengaruh struktur jaringan sekitarnya.
Neoplasma yang maligna terdiri dari sel-sel kanker yang menunjukkan proliferasi yang tidak
terkendali yang mengganggu fungsi jaringan normal dengan menginfiltrasi dan memasukinya
dengan cara menyebarkan anak sebar ke organ-organ yang jauh. Di dalam sel tersebut terjadi
perubahan secara biokimia terutama dalam intinya. Hampir semua tumor ganas tumbuh dari suatu
sel di mana telah terjadi transformasi maligna dan berubah menjadi sekelompok sel-sel ganas di
antar sel-sel normal.
Karsinoma mammae bermetastasis dengan penyebaran langsung ke jaringan sekitarnya dan
juga melalui saluran limfe dan aliran darah. Pada keluarga dengan riwayat kanker payudara yang
kuat, banyak perempuan memiliki mutasi dalam gen kanker payudara, yang disebut BRCA-1 (di
kromosom 17q21.3). Pola keturunan adalah dominan autosomal dan dapat diturunkan melalui garis
maternal maupun paternal. Sindrom kanker payudara familial lainnya berkaitan dengan gen pada
kromosom 13, yang disebut BRCA-2 (di kromosom 13q12-13). Kedua gen ini diperkirakan
17

berperan penting dalam perbaikan DNA. Keduanya bekerja sebagai gen penekan tumor, karena
kanker muncul jika kedua alel inaktif atau cacat pertama disebabkan oleh mutasi sel
germinativum dan kedua oleh sel somatik berikutnya.
Proses jangka panjang terjadinya kanker ada 4 fase:
a) Fase induksi: 15-30 tahun
Sampai saat ini belum dipastikan sebab terjadinya kanker, tapi bourgeois lingkungan mungkin
memegang peranan besar dalam terjadinya kanker pada manusia.
Kontak dengan karsinogen membutuhkan waktu bertahun-tahun samapi bisa merubah jaringan
displasi menjadi tumor ganas. Hal ini tergantung dari sifat, jumlah, dan konsentrasi zat
karsinogen tersebut, tempat yang dikenai karsinogen, lamanya terkena, adanya zat-zat
karsinogen atau ko-karsinogen lain, kerentanan jaringan dan individu.
b) Fase in situ: 1-5 tahun
Pada fase ini perubahan jaringan muncul menjadi suatu lesi pre-cancerous yang bisa ditemukan
di serviks uteri, rongga mulut, paru-paru, saluran cerna, kandung kemih, kulit dan akhirnya
ditemukan di payudara.
c) Fase invasi
Sel-sel menjadi ganas, berkembang biak dan menginfiltrasi meleui membrane sel ke jaringan
sekitarnya ke pembuluh darah serta limfe. Waktu antara fase ke 3 dan ke 4 berlangsung antara
beberpa minggu sampai beberapa tahun.
d) Fase diseminasi: 1-5 tahun
Bila tumor makin membesar maka kemungkinan penyebaran ke tempat-tempat lain bertambah.
Metastasis di parenkim paru pada rontgenologis memperlihatkan gambaran coin lesion yang
multiple dengan ukuran yang bermacam-macam. Metastasis ini seperti pula mengenai pleura
yang dapat mengakibatkan pleural effusion.
Metastasis ke tulang vertebra akan terlihat pada gambaran rontgen sebagai gambaran osteolitik
atau destruksi yang dapat pula menimbulkan fraktur patologis berupa fraktur kompresi.
Metastasis tumor ganas payudara dapat terjadi melalui dua jalan :
A. Metastasis melalui sistem vena
Metastasis tumor ganas payudara melalui sistem vena akan menyebabkan terjadinya metastasis
ke paru-paru dan organ-organ lain. Akan tetapi dapat pula terjadi metastasis ke vertebra secara
langsung melalui vena-vena kecil yang bermuara ke v. Interkostalis dimana v. Interkostalis ini
akan bermuara ke dalam v. Vertebralis. V. Mammaria interna merupakan jalan utama metastasis
tumor ganas payudara ke paru-paru melalui sistem vena,
B. Metastasis melalui sistem limfe
18

Metastasis tumor ganas payudara melalui sistem limfe adalah ke kelenjar getah bening aksila.
Pada stadium tertentu, biasanya hanya kelenjar aksila inilah yang terkena.

Metastasis ke kelenjar getah bening sentral. Kelenjar getah bening sentral ini merupakan
kelenjar getah bening yang tersering terkena metastasis. Menurut beberapa penyelidikan
hampir 90% metastasis ke kelenjar aksila adalah ke kelenjar getah bening sentral.

Metastasis ke kelenjar getah bening interpektoral.

Metastasis ke kelenjar getah bening subklavicula.

Metastasis ke kelenjar getah bening mammaria eksterna. Metastasis ini adalah paling jarang
terjadi dibanding dengan kelenjar-kelenjar getah bening aksila lainnya.

Metastasis ke kelenjar getah bening aksila kontralateral. Jalan metastase ke kelenjar getah
bening kontralateral sampai saat ini masih belum jelas. Bila metastase tersebut melalui
saluran limfe kulit, sebelum sampai ke aksila akan mengenai payudara kontralateral terlebih
dahulu. Padahal pernah ditemukan kasus dengan metastasis ke kelenjar getah bening aksila
kontralateral tanpa metastasis ke payudara kontralateral. Diduga jalan metastasis tersebut
melalui deep lymphatic fascial plexus di bawah payudara kontralateral melalui kolateral
limfatik.

Metastasis ke kelenjar getah bening supraklavicula. Bila metastasis karsinoma mammae


telah sampai ke kelnjar getah bening subklavicula, ini berarti bahw metastasis tinggal 3-4 cm
dari grand central limfatik terminus yang terletak dekat pertemuan v. Subklavicula dan v.
Jugularis interna. Bila sentinel nodes yang terletak di sekitar grand central limfatik terminus
telah terkena metastasis, dapat terjadi stasis aliran limfe. Sehingga bisa terjadi aliran
membalik, menuju ke kelenjar getah bening supraklavicula dan terjadi metastasis ke kelenjar
tersebut. Penyebaran ini disebut sebagai penyebaran tidak langsung. Dapat pula terjadi
penyebaran ke kelanjar supraklavicula secara langsung dari kelenjar subklavicula tanpa
melalui sentinel nodes.

Metastasis ke kelenjar getah bening mammaria interna ternyata lebih sering dari yang
diduga. Biasanya terjadi pada karsinoma mamma di sentral dan kuadran medial. Dan
biasanya terjadi setelah metastasis ke aksila.

Metastasis ke hepar. Selain melalui sistem vena, ternyata dapat terjadi metastasis karsinoma
mammae ke hepar melalui sistem limfe. Keadaan ini terjadi bila tumor primer terletak di tepi
medial bagian bawah payudara. Metastasis melalui sistem limfe yang jalan bersama-sama
vasa epigastrika superior. Bila terjadi metastasis ke kelenjar preperikardial akan terjadi stasis
aliran limfe dan bisa terjadi aliran balik limfe ke hepar dan terjadi metastasis hepar.
19

Metastasis ke tulang belakang. Jika metastase tulang yaitu ke tulang belakang mungkin
terjadi kompresi medula spinalis, metastase otak, limfedema kronis jika tumor kambuh lagi
pada aksila.

Metastasis ke otak. Metastasis jenis ini mempunyai gejala yaitu, nyeri kepala dan tidak
ditemukan adanya rasa mual.

20

VII. Diagnostik

1. Anamnesis
Anamnesis harus diawali dengan pencatatan identitas pasien secara lengkap, keluhan apa yang
mendasari penderita untuk datang ke dokter. Keluhan ini dapat berupa massa di payudara yang
berbatas tegas atau tidak, benjolan dapat digerakkan dari dasar atau melekat pada jaringan di
bawahnya, adanya nyeri, cairan dari puting, adanya retraksi putting payudara, kemerahan, ulserasi
sampai dengan pembengkakan kelenjar limfe. Terdapat kemungkinan patologis yang menyebabkan
terdapatnya lesi klinis pada payudara wanita dari berbagai umur, seperti yang terdapat perlu
ditanyakan pula riwayat penyakit terdahulu hingga riwayat penyakitsekarang. Tumor mulai
dirasakan sejak kapan, cepat membesar atau tidakterasa sakit atau tidak. Anamnesis penderita
kelainan payudara harusdisertai pula dengan riwayat keluarga, riwayat kehamilan maupun riwayat
ginekologi
2. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi
Pasien diminta duduk tegak atau berbaring atau kedua duanya, kemudian perhatikan bentuk kedua
payudara, warna kulit, tonjolan, lekukan, retraksi adanya kulit berbintik seperti kulit jeruk, ulkus
dan benjolan
b. Palpasi
Palpasi lebih baik dilakukan berbaring dengan bantal tipis dipunggung sehingga payudara
terbentang rata. Pemeriksaan ini dapat dilakukan sendiri oleh pasien atau oleh klinisi menggunakan
telapak jari tangan yang digerakan perlahanlahan tanpa tekanan pada setiap kuadran payudara.
Benjolan yang tidak teraba ketika penderita berbaring kadang lebih mudah ditemukan pada posisi
duduk. Perabaan aksila pun lebih mudah dilakukan dalam posisi duduk. Dengan memijat halus
21

puting susu dapat diketahui adanya pengeluaran cairan, darah, atau nanah. Cairan yang keluar dari
kedua puting susu harus dibandingkan

3. Pemeriksaan Penunjang
a. Fine Needle Aspiration Biopsi (FNAB)Prosedur pemeriksaan ini dengan cara menyuntikkan
jarum berukuran 2225 gauge melewati kulit atau secara percutaneous untuk mengambil contoh
cairan dari kista payudara atau mengambil sekelompok sel dari massa yang solid pada payudara.
Setelah dilakukan FNAB, material sel yang diambil dari payudara akan diperiksa di bawah
mikroskop yang sebelumnya terlebih dahulu dilakukan pengecatan sampel. Sebelum dilakukan
pengambilan jaringan, terlebih dulu dilakukan pembersihan pada kulit payudara yang akan
diperiksa. Apabila benjolan dapat diraba maka jarum halus tersebut di masukan ke daerah benjolan
seperti pada gambar 6.
Apabila benjolan tidak dapat diraba, prosedur FNAB akan dilakukan dengan panduan dari sistem
pencitraan yang lain seperti mammografi 30 atau USG. Setelah jarum dimasukkan ke dalam bagian
22

payudara yang tidak normal, maka dilakukan aspirasi melalui jarum tersebut. Pada prosedur FNAB
seringkali tidak dilakukan pembiusan lokal karena prosedur anastesi lebih memberikan rasa sakit
dibandingkan pemeriksaan FNAB itu sendiri. Selain itu, lidokain yang digunakan sebagai bahan
anestesi bisa menimbulkan artefak yang dapat terlihat pada pemeriksaan mikroskopis. Hampir
semua tumor dapat dilakukan biopsi aspirasi, baik yang letaknya superfisial palpable ataupun tumor
yang terletak di dalam rongga tubuh unpalpable, dengan indikasi:
Membedakan tumor kistik, solid dan peradangan
Diagnosis prabedah kanker sebagai pengganti diagnosis potong beku intraoperatif
Diagnosis pertama pada wanita muda yang kurang dari 30 tahun dan wanita lanjut usia
Payudara yang telah dilakukan beberapa kali biopsi diagnostik
Penderita yang menolak operasi atau anestesi
Nodulnodul lokal atau regional setelah operasi mastektomi
Kasus kanker payudara stadium lanjut yang sudah inoperabel
Mengambil spesimen untuk kultur dan penelitian (Lestadi, 2004).

Prosedur FNAB memiliki beberapa keuntungan antara lain FNAB adalah metode tercepat dan
termudah dibandingkan biopsi eksisi maupun insisi payudara. Hasil dapat diperoleh dengan cepat
sehingga pasien dapat segera mendapatkan terapi selanjutnya. Keuntungan lain dari metode ini
adalah biaya pemeriksaan lebih murah, rasa cemas dan stress pasien lebih singkat dibandingkan
metode biopsi. Kekurangan dari metode ini hanya mengambil sangat sedikit jaringan atau sel
payudara sehingga hanya dapat menghasilkan diagnosis berdasarkan keadaan sel. Dari kekurangan
tersebut, FNAB tidak dapat menilai luasnya invasi tumor dan terkadang subtipe kanker tidak dapat
diidentifikasi sehingga dapat terjadi negatif palsu
23

b. Pemeriksaan Histopatologi
Pemeriksaan ini dapat dilakukan baik dengan menggunakan jarum yang sangat halus maupun
dengan jarum yang cukup besar untuk mengambil jaringan. Kemudian jaringan yang diperoleh
menggunakan metode insisi maupun eksisi dilakukan pewarnaan dengan Hematoxylin dan Eosin.
Metode biopsi eksisi maupun insisi ini merupakan pengambilan jaringan yang dicurigai patologis
disertai pengambilan sebagian jaringan normal sebagai pembandingnya. Tingkat keakuratan
diagnosis metode ini hampir 100% karena pengambilan sampel jaringan cukup banyak dan
kemungkinan kesalahan diagnosis sangat kecil. Tetapi metode ini memiliki kekurangan seperti
harus melibatkan tenaga ahli anastesi, mahal, membutuhkan waktu pemulihan yang lebih lama
karena harus di insisi, menimbulkan bekas berupa jaringan parut yang nantinya akan mengganggu
gambaran mammografi, serta dapat terjadi komplikasi berupa perdarahan dan infeksi
c. Mammografi dan Ultrasonografi
Mammografi dan ultrasonografi berperan dalam membantu diagnosis lesi payudara yang padat
palpable maupun impalpable serta bermanfaat untuk membedakan tumor solid, kistik dan ganas.
Teknik ini merupakan dasar untuk program skrinning sebagai alat bantu dokter untuk mengetahui
lokasi lesi dan sebagai penuntun FNAB. Menurut Muhartono (2012), FNAB yang dipandu USG
untuk mendiagnosis tumor payudara memiliki sensitivitas tinggi yaitu 92% dan spesifisitas 96%.
Pemeriksaan ini mempergunakan linear scanner dengan transduser berfrekuensi 5 MHz. Secara
sistematis, scanning dimulai dari kuadran medial atas dan bawah dilanjutkan ke kuadran lateral atas
dan bawah dengan film polaroid pada potongan kraniokaudal dan mediolateral oblik. Nilai
ketepatan USG untuk lesi kistik adalah 90 95%, sedangkan untuk lesi solid seperti FAM adalah
7585%. Untuk mengetahui tumor ganas nilai ketepatan diagnostik USG hanya 6278% sehingga
masih diperlukan pemeriksaan lainnya untuk menentukan keganasan pada payudara
VIII. Penatalaksanaan
Terapi dapat bersifat kuratif atau paliatif. Terapi kuratif dianjurkan untuk stadium I, II, dan III.
Pasien dengan tumor lokal lanjut (T3,T4) dan bahkan inflammatory carcinoma mungkin dapat
disembuhkan dengan terapi multimodalitas, tetapi kebanyakan hanya bersifat paliatif. Terapi paliatif
diberikan pada pasien dengan stadium IV dan untuk pasien dengan metastasis jauh atau untuk
karsinoma lokal yang tidak dapat direseksi.
A. Terapi secara pembedahan
1. Mastektomi partial (breast conservation)

24

Tindakan konservatif terhadap jaringan payudara terdiri dari reseksi tumor primer hingga
batas jaringan payudara normal, radioterapi dan pemeriksaan status KGB (kelenjar getah
bening) aksilla. Reseksi tumor payudara primer disebut juga sebagai reseksi segmental,
lumpectomy, mastektomi partial dan tylectomy. Tindakan konservatif, saat ini merupakan
terapi standar untuk wanita dengan karsinoma mammae invasif stadium I atau II. Wanita
dengan DCIS hanya memerlukan reseksi tumor primer dan radioterapi adjuvan. Ketika
lumpectomy dilakukan, insisi dengan garis lengkung konsentrik pada nipple-areola complex
dibuat pada kulit diatas karsinoma mammae. Jaringan karsinoma diangkat dengan diliputi
oleh jaringan mammae normal yang adekuat sejauh 2 mm dari tepi yang bebas dari jaringan
tumor. Dilakukan juga permintaan atas status reseptor hormonal dan ekspresi HER-2/neu
kepada patologis.
Setelah penutupan luka payudara, dilakukan diseksi KGB aksilla ipsilateral untuk penentuan
stadium dan mengetahui penyebaran regional. Saat ini, sentinel node biopsy merupakan
prosedur staging yang dipilih pada aksilla yang tidak ditemukan adanya pembesaran KGB.
Ketika sentinel node biopsy menunjukkan hasil negatif, diseksi KGB akilla tidak dilakukan.
2. Modified Radical Mastectomy
Modified radical mastectomy mempertahankan baik M. pectoralis mayor and M. pectoralis
minor, dengan pengangkatan KGB aksilla level I dan II tetapi tidak level III. Modifikasi
Patey mengangkat M. pectoralis minor dan diseksi KGB axilla level III. Batasan anatomis
pada Modified radical mastectomy adalah batas anterior M. latissimus dorsi pada bagian
lateral, garis tengah sternum pada bagian medial, bagian inferiornya 2-3 cm dari lipatan
infra-mammae dan bagian superiornya m. subcalvia.
Seroma dibawah kulit dan di aksilla merupakan komplikasi tersering dari mastektomi dan
diseksi KGB aksilla, sekitar 30% dari semua kasus. Pemasangan closed-system suction
drainage mengurangi insidensi dari komplikasi ini. Kateter dipertahankan hingga cairan
drainage kurang dari 30 ml/hari. Infeksi luka jarang terjadi setelah mastektomi dan
kebanyakan terjadi sekunder terhadap nekrosis skin-flap. Pendarahan sedang dan hebat
jarang terjadi setelah mastektomi dan sebaiknya dilakukan eksplorasi dini luka untuk
mengontrol pendarahan dan memasang ulang closed-system suction drainage. Insidensi
lymphedema fungsional setelah modified radical mastectomy sekitar 10%. Diseksi KGB
aksilla ekstensif, terapi radiasi, adanya KGB patologis dan obesitas merupakan faktor-faktor
predisposisi.
B. Terapi secara medikalis (non-pembedahan)
25

1. Radioterapi
Terapi radiasi dapat digunakan untuk semua stadium karsinoma mammae. Untuk wanita
dengan DCIS, setelah dilakukan lumpectomy, radiasi adjuvan diberikan untuk mengurangi
resiko rekurensi lokal, juga dilakukan untuk stadium I, IIa, atau IIb setelah lumpectomy.
Radiasi juga diberikan pada kasus resiko/kecurigaan metastasis yang tinggi.Pada karsinoma
mammae lanjut (Stadium IIIa atau IIIb), dimana resiko rekurensi dan metastasis yang tinggi
maka setelah tindakan pembedahan dilanjutkan dengan terapi radiasi adjuvan.
2. Kemoterapi

Kemoterapi adjuvan

Kemoterapi adjuvan memberikan hasil yang minimal pada karsinoma mammae tanpa
pembesaran KGB dengan tumor berukuran kurang dari 0,5 cm dan tidak dianjurkan. Jika
ukuran tumor 0,6 sampai 1 cm tanpa pembesaran KGB dan dengan resiko rekurensi tinggi
maka kemoterapi dapat diberikan. Faktor prognostik yang tidak menguntungkan termasuk
invasi pembuluh darah atau limfe, tingkat kelainan histologis yang tinggi, overekspresi
HER-2/neu dan status reseptor hormonal yang negatif sehingga direkomendasikan untuk
diberikan kemoterapi adjuvan.
Contoh regimen kemoterapi yang digunakan antara lain siklofosfamid, doxorubisin, 5fluorourasil dan methotrexate.Untuk wanita dengan karsinoma mammae yang reseptor
hormonalnya negatif dan lebih besar dari 1 cm, kemoterapi adjuvan cocok untuk diberikan.
Rekomendasi pengobatan saat ini, berdasarkan NSABP B-15, untuk stadium IIIa yang
operabel adalah modified radical mastectomy diikuti kemoterapi adjuvan dengan
doxorubisin diikuti terapi radiasi.

Neoadjuvant chemotherapy

Kemoterapi neoadjuvan merupakan kemoterapi inisial yang diberikan sebelum dilakukan


tindakan pembedahan, dimana dilakukan apabila tumor terlalu besar untuk dilakukan
lumpectomy.
Rekomendasi saat ini untuk karsinoma mammae stadium lanjut adalah kemoterapi
neoadjuvan dengan regimen adriamycin diikuti mastektomi atau lumpectomy dengan diseksi
KGB aksilla bila diperlukan, diikuti kemoterapi adjuvan, dilanjutkan dengan terapi radiasi.
Untuk Stadium IIIa inoperabel dan IIIb, kemoterapi neoadjuvan digunakan untuk
menurunkan beban atau ukuran tumor tersebut, sehingga memungkinkan untuk dilanjutkan
modified radical mastectomy, diikuti dengan kemoterapi dan radioterapi.
3. Terapi anti-estrogen
26

Dalam sitosol sel-sel karsinoma mammae terdapat protein spesifik berupa reseptor hormonal
yaitu reseptor estrogen dan progesteron. Reseptor hormon ini ditemukan pada lebih dari
90% karsinoma duktal dan lobular invasif yang masih berdiferensiasi baik.
Setelah berikatan dengan reseptor estrogen dalam sitosol, tamoxifen menghambat
pengambilan estrogen pada jaringan payudara. Respon klinis terhadap anti-estrogen sekitar
60% pada wanita dengan karsinoma mammae dengan reseptor hormon yang positif, tetapi
lebih rendah yaitu sekitar 10% pada reseptor hormonal yang negatif. Kelebihan tamoxifen
dari kemoterapi adalah tidak adanya toksisitas yang berat. Nyeri tulang, hot flushes, mual,
muntah dan retensi cairan dapat terjadi pada pengunaan tamoxifen. Resiko jangka panjang
pengunaan tamoxifen adalah karsinoma endometrium. Terapi dengan tamoxifen dihentikan
setelah 5 tahun. Beberapa ahli onkologi merekomendasikan tamoxifen untuk ditambahkan
pada terapi neoadjuvan pada karsinoma mammae stadium lanjut terutama pada reseptor
hormonal yang positif. Untuk semua wanita dengan karsinoma mammae stadium IV, antiestrogen (tamoxifen), dipilih sebagai terapi awal.
4. Terapi antibodi anti-HER2/neu
Penentuan ekspresi HER-2/neu pada semua karsinoma mammae yang baru didiagnosis, saat
ini direkomendasi. Hal ini digunakan untuk tujuan prognostik pada pasien tanpa pembesaran
KGB, untuk membantu pemilihan kemoterapi adjuvan karena dengan regimen adriamycin
menberikan respon yang lebih baik pada karsinoma mammae dengan overekspresi HER2/neu. Pasien dengan overekspresi Her-2/neu mungkin dapat diobati dengan trastuzumab
yang ditambahkan pada kemoterapi adjuvan.
IX. Prognosis
Survival rates untuk wanita yang didiagnosis karsinoma mammae antara tahun 1983-1987
telah dikalkulasi berdasarkan pengamatan, epidemiologi dan hasil akhir program data,
didapatkan bahwa angka 5-year survival untuk stadium I adalah 94%, stadium IIa 85%, IIb
70%, dimana pada stadium IIIa sekitar 52%, IIIb 48% dan untuk stasium IV adalah 18%.
X. Pencegahan
Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) Pemeriksaan terhadap payudara sendiri dilakukan setiap
bulan secara teratur. Dengan melakukan pemeriksaan sendiri secara teratur maka kesempatan untuk
menemukan tumor dalam ukuran kecil lebih besar, sehingga dapat dengan cepat dilakukan tindakan
pengobatan. SADARI dapat dilakukan dengan cara:

27

Berdiri di depan cermin, perhatikan payudara. Dalam keadaan normal, ukuran payudara kiri
dan kanan sedikit berbeda. Perhatikan perubahan perbedaan ukuran antara payudara kiri dan
kanan dan perubahan pada puting susu (misalnya tertarik ke dalam) atau keluarnya cairan
dari puting susu. Perhatikan apakah kulit pada puting susu berkerut.

Masih berdiri di depan cermin, kedua telapak tangan diletakkan di belakang kepala dan
kedua tangan ditarik ke belakang. Dengan posisi seperti ini maka akan lebih mudah untuk
menemukan perubahan kecil akibat tumor. Perhatikan perubahan bentuk dan kontur
payudara, terutama pada payudara bagian bawah.

Kedua tangan diletakkan di pinggang dan badan agak condong ke arah cermin, tekan bahu
dan sikut ke arah depan. Perhatikan perubahan ukuran dan kontur payudara.

Angkat lengan kiri. Dengan menggunakan 3 atau 4 jari tangan kanan, telusuri payudara kiri.
Gerakkan jari-jari tangan secara memutar (membentuk lingkaran kecil) di sekeliling
payudara, mulai dari tepi luar payudara lalu bergerak ke arah dalam sampai ke puting susu.
Tekan secara perlahan, rasakan setiap benjolan atau massa di bawah kulit. Lakukan hal yang
sama terhadap payudara kanan dengan cara mengangkat lengan kanan dan memeriksanya
dengan tangan kiri. Perhatikan juga daerah antara kedua payudara dan ketiak.

Tekan puting susu secara perlahan dan perhatikan apakah keluar cairan dari puting susu.
Lakukan hal ini secara bergantian pada payudara kiri dan kanan.

Berbaring terlentang dengan bantal yang diletakkan di bawah bahu kiri dan lengan kiri
ditarik ke atas. Telusuri payudara kiri dengan menggunakan jari-jari tangan kanan. Dengan
posisi seperti ini, payudara akan mendatar dan memudahkan pemeriksaan. Lakukan hal yang
sama terhadap payudara kanan dengan meletakkan bantal di bawah bahu kanan dan
mengangkat lengan kanan, dan penelusuran payudara dilakukan oleh jari-jari tangan kiri.

Pemeriksaan akan lebih mudah dilakukan ketika mandi karena dalam keadaan basah tangan
lebih mudah digerakkan dan kulit lebih licin.

28

29

Daftar Pustaka
Bruncardi, F.C., et al. 2004. Schwartzs Principal Of Surgery. Edisi 8 Volume 1.United States of
America.
Burkitt, H.G., Clive R.G., Gatt, D., 1990. Essential Surgery Problem, Diagnosis, and Management.
New York.
Current. 2003. Surgical Diagnosis and Treatment, 11th Edition. Lange Medical Book. United States
of America.
Lester S. C, The Breast, in V. Kumar, Abul K. Abbas, N. Fausto, J.C.Aster dkk. 2010 , Pathologic
Basis of Disease, Eight Ed. Saunders, and inprint of Elsevier Inc 1065-1095
Sabiston.1995. Buku Ajar Bedah, Bagian I. EGC. Jakarta.
Sjamsuhidayat dan Wim de Joing, R. 2002. Buku Ajar Ilmu Bedah, Revisi ed. EGC, Jakarta.

30

31