Anda di halaman 1dari 22

KASUS MALPRAKTIK DALAM KEPERAWATAN

Untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Etika Keperawatan


Dosen pengajar:
Ibu Pujiani, S.Kep.,Ns.,M.Kes.

Disusun oleh:
Imti Khanah (7115018)

D3 KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PESANTREN TINGGI DARUL ULUM
JOMBANG
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas Rahmat-Nya pada
akhirnya makalah ini dapat diselesaikan.
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas

dari Mata Kuliah Etika

Keperawatan.Pada kesempatan ini tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih


kepada :Ibu Pujiani, S.Kep.,Ns.,M.Kes. Selaku dosen Mata Kuliah

Etika

Keperawatan yang telah

demi

memberikan

bimbingan

dan

pengarahan

terselesainya makalah ini.


Semoga makalah ini bermanfaat bagi para mahasiswa, khususnya penulis
dan pembaca pada umumnya. Dan semoga makalah ini dapat dijadikan sebagai
bahan tambahan untuk memperoleh pengetahuan.

Jombang, 18 Mei 2016

Penulis

DAFTAR ISI
Halaman Judul......................................................................................................
Kata Pengantar.....................................................................................................
Daftar Isi................................................................................................................
BAB I

PENDAHULUAN..................................................................................

1.1 Latar belakang...................................................................................................


1.2 Tujuan...............................................................................................................
1.3 Rumusan masalah.............................................................................................
BAB II PEMBAHASAN.....................................................................................
2.1 Definisi Malpraktek..........................................................................................
2.2 Tinjauan malpraktek Secara Hukum.................................................................
2.3 Pembuktian Malpraktek....................................................................................
2.4 Tanggung Jawab Hukum...................................................................................
2.5 Upaya Pencegahan dan Menghadapi Tuntutan Malpraktek..............................
BAB III TINJAUAN KASUS..............................................................................
3.1 Kasus.................................................................................................................
3.2 Analisa..............................................................................................................
BAB IV PENUTUP..............................................................................................
5.1 Kesimpulan.......................................................................................................
5.2 Saran.................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan keperawatan di Indonesia telah mengalami perubahan yang
sangat pesat menuju perkembangan keperawatan sebagai profesi. Proses ini
merupakan suatu perubahan yang sangat mendasar dan konsepsional, yang
mencakup seluruh aspek keperawatan baik aspek pelayanan atau aspek-aspek
pendidikan, pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi,
serta kehidupan keprofesian dalam keperawatan.
Perkembangan keperawatan menuju keperawatan profesional sebagai
profesi di pengaruhi oleh berbagai perubahan, perubahan ini sebagai akibat
tekanan globalisasi yang juga menyentuh perkembangan keperawatan professional
antara lain adanya tekanan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
keperawatan yang pada hakekatnya harus diimplementasikan pada perkembangan
keperawatan professional di Indonesia. Disamping itu dipicu juga adanya UU No.
23 tahun 1992 tentang kesehatan dan UU No. 8 tahun 1999 tentang perkembangan
konsumen sebagai akibat kondisi sosial ekonomi yang semakin baik, termasuk
latar belakang pendidikan yang semakin tinggi yang berdampak pada tuntutan
pelayanan keperawatan yang semakin berkualitas.
Dalam menjalankan profesinya sebagai tenaga perawat professional
senantiasa memperhatikan etika keperawatan yang mencakup tanggung jawab
perawat terhadap klien ( individu, keluarga, dan masyarakat ).selain itu , dalam
memberikan pelayanan keperawatan yang berkualitas tentunya mengacu pada
standar praktek keperawatan yang merupakan komitmen profesi keperawatan
dalam melindungi masyarakat terhadap praktek yang dilakukan oleh anggota
profesi dalam hal ini perawat.
Dalam menjalankan tugas keprofesiannya, perawat bisa saja melakukan
kesalahan

yang

dapat

merugikan

klien

sebagai

penerima

asuhan

keperawatan,bahkan bisa mengakibatkan kecacatan dan lebih parah lagi


mengakibatkan kematian, terutama bila pemberian asuhan keperawatan tidak

sesuai dengan standar praktek keperawatan.kejadian ini di kenal dengan


malpraktek.
Di dalam setiap profesi termasuk profesi tenaga kesehatan berlaku norma
etika dan norma hukum. Oleh sebab itu apabila timbul dugaan adanya kesalahan
praktek sudah seharusnyalah diukur atau dilihat dari sudut pandang kedua norma
tersebut. Kesalahan dari sudut pandang etika disebut ethical malpractice dan dari
sudut pandang hukum disebut yuridical malpractice. Hal ini perlu dipahami
mengingat dalam profesi tenaga perawatan berlaku norma etika dan norma
hukum, sehingga apabila ada kesalahan praktek perlu dilihat domain apa yang
dilanggar.
Karena antara etika dan hukum ada perbedaan-perbedaan yang mendasar
menyangkut substansi, otoritas, tujuan dan sangsi, maka ukuran normatif yang
dipakai untuk menentukan adanya ethical malpractice atau yuridical malpractice
dengan sendirinya juga berbeda.Yang jelas tidak setiap ethical malpractice
merupakan yuridical malpractice akan tetapi semua bentuk yuridical malpractice
pasti merupakan ethical malpractice.
Untuk menghindari terjadinya malpraktek ini, perlu di adakan kajiankajian etika dan hukum yang menyangkut malpraktek khususnya dalam bidang
keperawatan sehingga sebagai perawat nantinya dalam menjalankan praktek
keperawatan senantiasa memperhatikan kedua aspek tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
1.
2.
3.
4.
5.

Apa yang dimaksud dengan Malpraktek?


Bagaimana Tinjauan malpraktek Secara Hukum?
Bagaimana cara Pembuktian Malpraktek?
Bagaimana Tanggung Jawab Hukum?
Bagaimana Upaya Pencegahan dan Menghadapi Tuntutan Malpraktek?

1.3 Tujuan Penulisan


Tujuan penulisan makalah ini, secara umum adalah mahasiswa dapat
memahami malpraktek dalam bidang keperawatan dilihat dari dimensi etik dan
dimensi hukum. Dan secara khusus mahasiswa dapat menjelaskan tentang
pengertian, kriteria dan unsur-unsur terjadinya malpraktek, disamping itu juga
dapat menjelaskan dampak yang terjadi dengan adanya malpraktek serta
bagaimana mencegah terjadinya malparaktek dalam praktek keperawatan.

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Definisi Malpraktek
Malpraktek merupakan istilah yang sangat umum sifatnya dan tidak selalu
berkonotasi yuridis. Secara harfiah mal mempunyai arti salah sedangkan
praktek mempunyai arti pelaksanaan atau tindakan, sehingga malpraktek berarti
pelaksanaan atau tindakan yang salah. Meskipun arti harfiahnya demikian tetapi
kebanyakan istilah tersebut dipergunakan untuk menyatakan adanya tindakan
yang salah dalam rangka pelaksanaan suatu profesi.
Sedangkan definisi malpraktek profesi kesehatan adalah kelalaian dari
seorang dokter atau perawat untuk mempergunakan tingkat kepandaian dan ilmu
pengetahuan dalam mengobati dan merawat pasien, yang lazim dipergunakan
terhadap pasien atau orang yang terluka menurut ukuran dilingkungan yang sama.
Malpraktek juga dapat diartikan sebagai tidak terpenuhinya perwujudan hak-hak
masyarakat untuk mendapatkan pelayanan yang baik, yang biasa terjadi dan
dilakukan oleh oknum yang tidak mau mematuhi aturan yang ada karena tidak
memberlakukan prinsip-prinsip transparansi atau keterbukaan,dalam arti, harus
menceritakan secara jelas tentang pelayanan yang diberikan kepada konsumen,
baik pelayanan kesehatan maupun pelayanan jasa lainnya yang diberikan.
Dalam

memberikan

menginformasikan

kepada

pelayanan

wajib

bagi

pemberi

konsumen

secara

lengkap

dan

jasa

untuk

komprehensif

semaksimal mungkin. Namun, penyalah artian malpraktek biasanya terjadi karena


ketidaksamaan persepsi tentang malpraktek.Guwandi (1994) mendefinisikan
malpraktik sebagai kelalaian dari seorang dokter atau perawat untuk menerapkan
tingkat keterampilan dan pengetahuannya di dalam memberikan pelayanan
pengobatan dan perawatan terhadap seorang pasien yang lazim diterapkan dalam
mengobati dan merawat orang sakit atau terluka di lingkungan wilayah yang
sama.
Ellis dan Hartley (1998) mengungkapkan bahwa malpraktik merupakan
batasan yang spesifik dari kelalaian (negligence) yang ditujukan pada seseorang

yang telah terlatih atau berpendidikan yang menunjukkan kinerjanya sesuai


bidang tugas/pekerjaannya.
Ada dua istilah yang sering dibicarakan secara bersamaan dalam kaitannya
dengan malpraktik yaitu kelalaian dan malpratik itu sendiri. Kelalaian adalah
melakukan sesuatu dibawah standar yang ditetapkan oleh aturan/hukum guna,
melindungi orang lain yang bertentangan dengan tindakan-tindakan yaag tidak
beralasan dan berisiko melakukan kesalahan (Keeton, 1984 dalam Leahy dan
Kizilay, 1998).
Malpraktik sangat spesifik dan terkait dengan status profesional dan
pemberi pelayanan dan standar pelayanan profesional. Malpraktik adalah
kegagalan seorang profesional (misalnya, dokter dan perawat) untuk melakukan
praktik sesuai dengan standar profesi yang berlaku bagi seseorang yang karena
memiliki keterampilan dan pendidikan (Vestal, K.W, 1995). Malpraktik lebih luas
daripada negligence karena selain mencakup arti kelalaian, istilah malpraktik pun
mencakup

tindakan-tindakan

yang

dilakukan

dengan

sengaja

(criminal

malpractice) dan melanggar undang-undang. Di dalam arti kesengajaan tersirat


adanya motif (guilty mind) sehingga tuntutannya dapat bersifat perdata atau
pidana.
Caffee (1991) dalam Vestal, K.W. (1995) mengidentifikasi 3 area yang
memungkinkan perawat berisiko melakukan kesalahan, yaitu tahap pengkajian
keperawatan (assessment errors), perencanaan keperawatan (planning errors), dan
tindakan intervensi keperawatan (intervention errors). Untuk lebih jelasnya dapat
diuraikan sebagai berikut :
a. Assessment errors, termasuk kegagalan mengumpulkan data atau informasi
tentang pasien secara adekuat atau kegagalan mengidentifikasi informasi
yang diperlukan, seperti data hasil pemeriksaan laboratorium, tanda-tanda
vital, atau keluhan pasien yang membutuhkan tindakan segera. Kegagalan
dalam pengumpulan data akan berdampak pada ketidaktepatan diagnosis
keperawatan dan lebih lanjut akan mengakibatkan kesalahan atau
ketidaktepatan dalam tindakan. Untuk menghindari kesalahan ini, perawat
seharusnya dapat mengumpulkan data dasar secara komprehensif dan
mendasar.

b.

Planning errors, termasuk hal-hal berikut :


1.

Kegagalan mencatat masalah pasien dan kelalaian menuliskannya dalam


rencana keperawatan.

2.

Kegagalan mengkomunikaskan secara efektif rencana keperawatan yang


telah dibuat, misalnya menggunakan bahasa dalam rencana keperawatan
yang tidak dimahami perawat lain dengan pasti.

3.

Kegagalan memberikan asuhan keperawatan secara berkelanjutan yang


disebabkan

kurangnya

informasi

yang

diperoleh

dari

rencana

keperawatan.
4.

Kegagalan memberikan instruksi yang dapat dimengerti oleh pasien.

Untuk mencegah kesalahan tersebut, jangan hanva menggunakan perkiraan


dalam membuat rencana keperawatan tanpa mempertimbangkannya dengan
baik. Seharusnya, dalam penulisan harus memakai pertimbangan yang jelas
berdasarkan masalah pasien. Bila dianggap perlu, lakukan modifikasi
rencana berdasarkan data baru yang terkumpul. Rencana harus realistis
berdasarkan standar yang telah ditetapkan, termasuk pertimbangan yang
diberikan oleh pasien. Komunikasikan secara jelas baik secara lisan maupun
dengan tulisan. Lakukan tindakan berdasarkan rencana dan lakukan secara
hati-hati instruksi yang ada. Setiap pendapat perlu divalidasi dengan teliti.
c. Intervention
melaksanakan

errors,

termasuk

tindakan

kegagalan

kolaborasi,

menginteipretasikan

kegagalan

melakukan

dan

asuhan

keperawatan secara hati-hati, kegagalan mengikuti/mencatat order/pesan dari


dokter atau dari penyelia. Kesalahan pada tindakan keperawatan yang sering
terjadi adalah kesalahan dalam membaca pesan/order, mengidentifikasi
pasien sebelum dilakukan tindakan/prosedur, memberikan obat, dan terapi
pembatasan (restrictive therapy). Dari seluruh kegiatan ini yang paling
berbahaya tampaknya pada tindakan pemberian obat. Oleh karena itu, perlu
adanya komunikasi yang baik di antara anggota tim kesehatan maupun
terhadap pasien dan keluarganya.
2.2 Tinjauan malpraktek Secara Hukum

Untuk malpraktek hukum atau yuridical malpractice dibagi dalam 3 kategori


sesuai bidang hukum yang dilanggar, yakni Criminal malpractice, Civil
malpractice dan Administrative malpractice.

a. Criminal malpractice
Perbuatan seseorang dapat dimasukkan dalam kategori criminal malpractice
manakala perbuatan tersebut memenuhi rumusan delik pidana yakni :
1)

Perbuatan tersebut (positive act maupun negative act) merupakan


perbuatan tercela.

2)

Dilakukan dengan sikap batin yang salah (mens rea) yang berupa
kesengajaan (intensional), kecerobohan (reklessness) atau kealpaan
(negligence).

Criminal malpractice yang bersifat sengaja (intensional) misalnya melakukan


euthanasia (pasal 344 KUHP), membuka rahasia jabatan (pasal 332 KUHP),
membuat surat keterangan palsu (pasal 263 KUHP), melakukan aborsi tanpa
indikasi medis pasal 299 KUHP).
Criminal malpractice yang bersifat ceroboh (recklessness) misalnya
melakukan tindakan medis tanpa persetujuan pasien informed consent.
Criminal malpractice yang bersifat negligence (lalai) misalnya kurang hatihati mengakibatkan luka, cacat atau meninggalnya pasien, ketinggalan klem
dalam perut pasien saat melakukan operasi. Pertanggung jawaban didepan
hukum pada criminal malpractice adalah bersifat individual/personal dan oleh
sebab itu tidak dapat dialihkan kepada orang lain atau kepada rumah
sakit/sarana kesehatan.
b. Civil malpractice
Seorang tenaga kesehatan akan disebut melakukan civil malpractice apabila
tidak

melaksanakan

kewajiban

atau

tidak

memberikan

prestasinya

sebagaimana yang telah disepakati (ingkar janji). Tindakan tenaga kesehatan


yang dapat dikategorikan civil malpractice antara lain:
1)

Tidak melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan.

2)

Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi


terlambat melakukannya.

3)

Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi


tidak sempurna.

4)

Melakukan apa yang menurut kesepakatannya tidak seharusnya


dilakukan.

Pertanggung jawaban civil malpractice dapat bersifat individual atau korporasi


dan dapat pula dialihkan pihak lain berdasarkan principle of vicarius liability.
Dengan prinsip ini maka rumah sakit/sarana kesehatan dapat bertanggung
gugat atas kesalahan yang dilakukan karyawannya (tenaga kesehatan) selama
tenaga kesehatan tersebut dalam rangka melaksanakan tugas kewajibannya.
c. Administrative malpractice
Tenaga perawatan dikatakan telah melakukan administrative malpractice
manakala tenaga perawatan tersebut telah melanggar hukum administrasi.
Perlu diketahui bahwa dalam melakukan police power, pemerintah
mempunyai kewenangan menerbitkan berbagai ketentuan di bidang kesehatan,
misalnya tentang persyaratan bagi tenaga perawatan untuk menjalankan
profesinya (Surat Ijin Kerja, Surat Ijin Praktek), batas kewenangan serta
kewajiban tenaga perawatan. Apabila aturan tersebut dilanggar maka tenaga
kesehatan yang bersangkutan dapat dipersalahkan melanggar hukum
administrasi.
2.3 Pembuktian Malpraktek
Dari definisi malpraktek adalah kelalaian dari seseorang dokter atau perawat
untuk mempergunakan tingkat kepandaian dan ilmu pengetahuan dalam
mengobati dan merawat pasien, yang lazim dipergunakan terhadap pasien atau
orang yang terluka menurut ukuran dilingkungan yang sama. (Valentin v. La
Society de Bienfaisance Mutuelle de Los Angelos, California, 1956). Dari definisi
tersebut malpraktek harus dibuktikan bahwa apakah benar telah terjadi kelalaian
tenaga kesehatan dalam menerapkan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang
ukurannya adalah lazim dipergunakan diwilayah tersebut.

Andaikata akibat yang tidak diinginkan tersebut terjadi apakah bukan


merupakan resiko yang melekat terhadap suatu tindakan medis tersebut (risk of
treatment) karena perikatan dalam transaksi teraputik antara tenaga kesehatan
dengan pasien adalah perikatan/perjanjian jenis daya upaya (inspaning
verbintenis) dan bukan perjanjian/perjanjian akan hasil (resultaat verbintenis).
Sebagai contoh adanya komplain terhadap tenaga perawatan dari pasien yang
menderita radang uretra setelah pemasangan kateter. Apakah hal ini dapat
dimintakan tanggung jawab hukum kepada tenaga perawatan? Yang perlu
dipahami semua pihak adalah apakah ureteritis bukan merupakan resiko yang
melekat terhadap pemasangan kateter? Apakah tenagaperawatan dalam memasang
kateter telah sesuai dengan prosedur profesional ?. Hal-hal inilah yang menjadi
pegangan untuk menentukan ada dan tidaknya malpraktek.
Apabila tenaga perawatan didakwa telah melakukan kesalahan profesi, hal ini
bukanlah merupakan hal yang mudah bagi siapa saja yang tidak memahami
profesi kesehatan dalam membuktikan ada dan tidaknya kesalahan. Dalam hal
tenaga perawatan didakwa telah melakukan ciminal malpractice, harus dibuktikan
apakah perbuatan tenaga perawatan tersebut telah memenuhi unsur tindak
pidananya yakni:
1. Apakah perbuatan (positif act atau negatif act) merupakan perbuatan yang
tercela.
2. Apakah perbuatan tersebut dilakukan dengan sikap batin (mens rea) yang
salah (sengaja, ceroboh atau adanya kelalaian).
Selanjutnya apabila tenaga perawatan dituduh telah melakukan kelalaian sehingga
mengakibatkan pasien meninggal dunia, menderita luka, maka yang harus
dibuktikan adalah adanya unsur perbuatan tercela (salah) yang dilakukan dengan
sikap batin berupa lalai atau kurang hati-hati ataupun kurang praduga. Dalam
kasus atau gugatan adanya civil malpractice pembuktianya dapat dilakukan
dengan dua cara yakni :
1. Cara langsung
Oleh Taylor membuktikan adanya kelalaian memakai tolok ukur adanya 4 D
yakni :
a. Duty (kewajiban)

Dalam hubungan perjanjian tenaga perawatan dengan pasien, tenaga


perawatan haruslah bertindak berdasarkan.
1)

Adanya indikasi medis.

2)

Bertindak secara hati-hati dan teliti.

3)

Bekerja sesuai standar profesi.

4)

Sudah ada informed consent.

b. Dereliction of Duty (penyimpangan dari kewajiban)


Jika

seorang

tenaga

perawatan

melakukan

asuhan

keperawatan

menyimpang dari apa yang seharusnya atau tidak melakukan apa yang
seharusnya

dilakukan

menurut standard

profesinya,

maka

tenaga

perawatan tersebut dapat dipersalahkan.


c. Direct Causation (penyebab langsung)
d. Damage (kerugian)
Tenaga perawatan untuk dapat dipersalahkan haruslah ada hubungan
kausal (langsung) antara penyebab (causal) dan kerugian (damage) yang
diderita oleh karenanya dan tidak ada peristiwa atau tindakan sela
diantaranya., dan hal ini haruslah dibuktikan dengan jelas. Hasil(outcome)
negatif tidak dapat sebagai dasar menyalahkan tenaga perawatan. Sebagai
adagium dalam ilmu pengetahuan hukum, maka pembuktiannya adanya
kesalahan dibebankan/harus diberikan oleh si penggugat (pasien).
2. Cara tidak langsung
Cara tidak langsung merupakan cara pembuktian yang mudah bagi pasien,
yakni dengan mengajukan fakta-fakta yang diderita olehnya sebagai hasil
layanan perawatan (doktrin res ipsa loquitur). Doktrin res ipsa loquitur dapat
diterapkan apabila fakta-fakta yang ada memenuhi kriteria:
a. Fakta tidak mungkin ada/terjadi apabila tenaga perawatan tidak lalai.
b. Fakta itu terjadi memang berada dalam tanggung jawab tenaga perawatan.
c. Fakta itu terjadi tanpa ada kontribusi dari pasien dengan perkataan lain
tidak ada contributory negligence. Misalnya ada kasus saat tenaga
perawatan akan mengganti/ memperbaiki kedudukan jarum infus pasien
bayi, saat menggunting perban ikut terpotong jari pasien tersebut . Dalam

hal ini jari yang putus dapat dijadikan fakta yang secara tidak langsung
dapat membuktikan kesalahan tenaga perawatan, karena:
1) Jari bayi tidak akan terpotong apabila tidak ada kelalaian tenaga
perawatan.
2) Membetulkan jarum infus adalah merupakan/berada pada tanggung
jawab perawat.
3) Pasien/bayi tidak mungkin dapat memberi andil akan kejadian
tersebut.

2.4 Tanggung Jawab Hukum


Seperti dikemukakan di depan bahwa tidak setiap upaya kesehatan selalu
dapat memberikan kepuasan kepada pasien baik berupa kecacatan atau bahkan
kematian. Malapetaka seperti ini tidak mungkin dapat dihindari sama sekali. Yang
perlu dikaji apakah malapetaka tersebut merupakan akibat kesalahan perawat atau
merupakan resiko tindakan, untuk selanjutnya siapa yang harus bertanggung gugat
apabila kerugian tersebut merupakan akibat kelalaian tenaga perawatan. Di dalam
transaksi teraputik ada beberapa macam tanggung gugat, antara lain:
1. Contractual liability
Tanggung gugat ini timbul sebagai akibat tidak dipenuhinya kewajiban dari
hubungan kontraktual yang sudah disepakati. Di lapangan pengobatan,
kewajiban yang harus dilaksanakan adalah daya upaya maksimal, bukan
keberhasilan, karena health care provider baik tenaga kesehatan maupun
rumah sakit hanya bertanggung jawab atas pelayanan kesehatan yang tidak
sesuai standar profesi/standar pelayanan.
2. Vicarius liability
Vicarius liability atau respondeat superior ialah tanggung gugat yang timbul
atas kesalahan yang dibuat oleh tenaga kesehatan yang ada dalam tanggung
jawabnya (sub ordinate), misalnya rumah sakit akan bertanggung gugat atas
kerugian pasien yang diakibatkan kelalaian perawat sebagai karyawannya.
3. Liability in tort

Liability in tort adalah tanggung gugat atas perbuatan melawan hukum


(onrechtmatige daad). Perbuatan melawan hukum tidak terbatas haya
perbuatan yang melawan hukum, kewajiban hukum baik terhadap diri sendiri
maupun terhadap orang lain, akan tetapi termasuk juga yang berlawanan
dengan kesusilaan atau berlawanan dengan ketelitian yang patut dilakukan
dalam pergaulan hidup terhadap orang lain atau benda orang lain (Hogeraad
31 Januari 1919).
2.5 Upaya Pencegahan dan Menghadapi Tuntutan Malpraktek
1. Upaya pencegahan malpraktek dalam pelayanan kesehatan Dengan adanya
kecenderungan masyarakat untuk menggugat tenaga perawatan karena adanya
malpraktek diharapkan para perawat dalam menjalankan tugasnya selalu
bertindak hati-hati, yakni:
a. Tidak menjanjikan atau memberi garansi akan keberhasilan upayanya,
karena perjanjian berbentuk daya upaya (inspaning verbintenis) bukan
perjanjian akan berhasil (resultaat verbintenis).
b.

Sebelum melakukan intervensi agar selalu dilakukan informed consent.

c. Mencatat semua tindakan yang dilakukan dalam rekam medis.


d.

Apabila terjadi keragu-raguan, konsultasikan kepada senior .

e. Memperlakukan pasien secara manusiawi dengan memperhatikan segala


kebutuhannya.
f.

Menjalin komunikasi yang baik dengan pasien, keluarga dan masyarakat


sekitarnya.

2. Upaya menghadapi tuntutan hukum Apabila upaya kesehatan yang dilakukan


kepada pasien tidak memuaskan sehingga perawat menghadapi tuntutan
hukum, maka tenaga perawatan seharusnyalah bersifat pasif dan pasien atau
keluarganyalah yang aktif membuktikan kelalaian perawat. Apabila tuduhan
kepada perawat merupakan criminal malpractice, maka tenaga perawatan
dapat melakukan :
a. Informal

defence,

dengan

mengajukan

bukti

untuk

menangkis/

menyangkal bahwa tuduhan yang diajukan tidak berdasar atau tidak


menunjuk pada doktrin-doktrin yang ada, misalnya perawat mengajukan

bukti bahwa yang terjadi bukan disengaja, akan tetapi merupakan risiko
medik (risk of treatment), atau mengajukan alasan bahwa dirinya tidak
mempunyai sikap batin (men rea) sebagaimana disyaratkan dalam
perumusan delik yang dituduhkan.
b.

Formal/legal defence, yakni melakukan pembelaan dengan mengajukan


atau menunjuk pada doktrin-doktrin hukum, yakni dengan menyangkal
tuntutan dengan cara menolak unsur-unsur pertanggung jawaban atau
melakukan pembelaan untuk membebaskan diri dari pertanggung
jawaban, dengan mengajukan bukti bahwa yang dilakukan adalah
pengaruh daya paksa. Berbicara mengenai pembelaan, ada baiknya
perawat menggunakan jasa penasehat hukum, sehingga yang sifatnya
teknis pembelaan diserahkan kepadanya. Pada perkara perdata dalam
tuduhan civil malpractice dimana perawat digugat membayar ganti rugi
sejumlah uang, yang dilakukan adalah mementahkan dalil-dalil
penggugat, karena dalam peradilan perdata, pihak yang mendalilkan
harus membuktikan di pengadilan, dengan perkataan lain pasien atau
pengacaranya harus membuktikan dalil sebagai dasar gugatan bahwa
tergugat (perawat) bertanggung jawab atas derita (damage) yang dialami
penggugat. Untuk membuktikan adanya civil malpractice tidaklah mudah,
utamanya tidak diketemukannya fakta yang dapat berbicara sendiri (res
ipsa

loquitur),

apalagi

untuk

membuktikan

adanya

tindakan

menterlantarkan kewajiban (dereliction of duty) dan adanya hubungan


langsung antara menterlantarkan kewajiban dengan adanya rusaknya
kesehatan (damage), sedangkan yang harus membuktikan adalah orangorang awam dibidang kesehatan dan hal inilah yang menguntungkan
tenaga perawatan.

BAB III
TINJAUAN KASUS
3.1 Kasus
Jumat 25 November 2011 - Sudah jatuh tertimpa tangga. Begitulah yang
dialami bayi berusia lima minggu asal kampung Nanu, Desa Buar, Kecamatan
Rahong Utara, Manggarai-NTT, yang dirawat di ruang Teratai Rumah Sakit
Umum Daerah Ruteng, lantaran menderita sakit jantung bawaan sejak lahir.
Tapi baru tiga hari dirawat, buah hati pasangan Yofita Ubut dan Bosko Raka itu
harus menanggung derita baru. Jari kelingking tangan kirinya putus. Diduga
terpotong gunting seorang perawat yang akan memperbaiki selang infus.
Insiden itu terjadi pada Rabu sore, 23 November sekitar pukul 17.00 Wita.
Seorang perawat senior, tidak sengaja memotong jari kelingking bayi itu dengan
gunting. "Sedang menggunting plester pada tangan kiri si bayi. Saat siap
menggunting, tangan bayi spontan bergerak, dan kelingking kirinya putus tepat
diruas ke dua,".
Tidak lama setelah insiden itu, dokter ahli bedah langsung melakukan operasi
penyambungan jari kelingking si bayi. Jari itu dipastikan sudah tersambung
kembali, dan tinggal menunggu perkembangan.

3.2 Analisa
Dari kasus diatas , perawat telah melanggar etika keperawatan yang telah
dituangkan dalam kode etik keperawatan yang disusun oleh Persatuan Perawat
Nasional Indonesia dalam Musyawarah Nasionalnya di Jakarta pada tanggal 29
November 1989 khususnya pada Bab I, pasal 1, yang menjelaskan tanggung
jawab perawat terhadap klien (individu, keluarga dan masyarakat) dimana perawat
tersebut tidak hati-hati dalam melaksanakan tindakan, dalam hal ini memperbaiki
infus. Sehingga mengakibatkan terjadinya hal yang membahayakan pasien.
Selain itu perawat tersebut juga melanggar bab II pasal V,yang bunyinya
Mengutamakan perlindungan dan keselamatan klien dalam melaksanakan tugas,
serta matang dalam mempertimbangkan kemampuan jika menerima atau
mengalih-tugaskan tanggung jawab yang ada hubungan dengan keperawatan
dimana ia tidak mengutamakan keselamatan kliennya sehingga mengakibatkan
kliennya terluka.
Disamping itu perawat juga tidak melaksanakan kewajibannya sebagai
perawat dalam hal Memberikan pelayanan/asuhan sesuai standar profesi/batas
kewenangan.
Dari

kasus

tersebut

perawat

telah

melakukan

kelalaian

yang

mengakibatkan kerugian seperti putusnya jari kelingking bayi tersebut sehingga


bisa dikategorikan sebagai malpraktek yang termasuk ke dalam criminal
malpractice bersifat neglegence yang dapat dijerat hukum antara lain :
1. Pasal-pasal 359 sampai dengan 361 KUHP, pasal-pasal karena lalai
menyebabkan mati atau luka-luka berat.Pasal 359 KUHP, karena kelalaian
menyebabkan orang mati :Barangsiapa karena kealpaannya menyebabkan
mati-nya orang lain, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun
atau kurungan paling lama satu tahun.
2. Pasal 360 KUHP, karena kelalaian menyebakan luka berat:Ayat (1)
Barangsiapa karena kealpaannya menyebakan orang lain mendapat luka-luka
berat, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau kurungan
paling

lama

satu

tahun.Ayat

(2)

Barangsiapa

karena

kealpaannya

menyebabkan orang lain luka-luka sedemikian rupa sehinga menimbulkan


penyakit atau halangan menjalankan pekerjaan, jabatan atau pencaharian

selama waktu tertentu, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan
bulan atau denda paling tinggi tiga ratus rupiah.
3. Pasal 361 KUHP, karena kelalaian dalam melakukan jabatan atau pekerjaan
(misalnya: dokter, bidan, apoteker, sopir, masinis dan Iain-lain) apabila
melalaikan peraturan-peraturan pekerjaannya hingga mengakibatkan mati atau
luka berat, maka mendapat hukuman yang lebih berat pula.Pasal 361 KUHP
menyatakan:Jika kejahatan yang diterangkan dalam bab ini di-lakukan dalam
menjalankan suatu jabatan atau pencaharian, maka pidana ditambah dengan
pertiga, dan yang bersalah dapat dicabut haknya untuk menjalankan
pencaharian dalam mana dilakukan kejahatan dan hakim dapat memerintahkan
supaya putusnya di-umumkan.Pertanggung jawaban didepan hukum pada
criminal malpractice adalah bersifat individual/personal dan oleh sebab itu
tidak dapat dialihkan kepada orang lain atau kepada rumah sakit/sarana
kesehatan.
Selain pasal tersebut diatas, perawat tersebut juga telah melanggar Pasal 54 :
1. Terhadap tenaga kesehatan yang melakukan kesalahan atau kelalaian dalam
melak-sanakan profesinya dapat dikenakan tindakan disiplin.
2. Penentuan ada tidaknya kesalahan atau kelalaian sebagaimana yang dimaksud
dalam ayat (1) ditentukan oleh Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1.

Malpraktik bersifat sangat kompleks

2.

Perawat diperhadapkan pada tuntutan pelayanan profesional.

3.

Banyak kemungkinan yang dapat memicu perawat melakukan malpraktik.


Malpraktik lebih spesifik dan terkait dengan status profesional seseorang,
misalnya perawat, dokter, atau penasihat hokum

4.

Untuk mengatakan secara pasti malpraktik, apabila pengguagat dapat


menunujukkan hal-hal dibawah ini :
a. Duty Pada saat terjadinya cedera, terkait dengan kewajibannya yaitu,
kewajiban mempergunakan segala ilmu dan kepandaiannya untuk
menyembuhkan atau setidak-tidaknya meringankan beban penderitaan
pasiennya berdasarkan standar profesi.
b. Breach of the duty Pelanggaran terjadi sehubungan dengan
kewajibannya, artinya menyimpang dari apa yang seharusnya dilalaikan
menurut standar profesinya.

c. Injury Seseorang mengalami cedera (injury) atau kerusakan (damage)


yang dapat dituntut secara hukum.
d. Proximate caused Pelanggaran terhadap kewajibannya menyebabkan
atau terk dengan cedera yang dialami pasien.
5. Bidang Pekerjaan Perawat Yang Berisiko Melakukan Kesalahan yaitu tahap
pengkajian keperawatan (assessment errors), perencanaan keperawatan
(planning errors), dan tindakan intervensi keperawatan (intervention errors).
6.

yuridical malpractice dibagi dalam 3 kategori sesuai bidang hukum yang


dilanggar, yaitu : Criminal malpractice, Civil malpractice, Administrative
malpractice

3.2 Saran
1. Dalam memberikan pelayanan keperawatan , hendaknya berpedoman pada
kode etik keperawatan dan mengacu pada standar praktek keperawatan.
2. Perawat diharapkan mampu mengidentifikasi 3 area yang memungkinkan
perawat berisiko melakukan kesalahan, yaitu tahap pengkajian keperawatan
(assessment errors), perencanaan keperawatan (planning errors), dan tindakan
intervensi

keperawatan

(intervention

errors)

sehigga

nantinya

dapat

menghindari kesalahan yang dapat terjadi.


3. Perawat harus memiliki kredibilitas tinggi dan senantiasa meningkatkan
kemampuannya untuk mencegah terjadinya malpraktek.

DAFTAR PUSTAKA
Ameln,F., (1991), Kapita Selekta Hukum Kedokteran, Jakarta: Grafikatama Jaya,
Amir & Hanafiah, (1999). Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan, edisi ketiga:
Jakarta: EGC.
Craven & Hirnle. (2000). Fundamentals of nursing. Philadelphia. Lippincott
Dahlan, S.(2002) Hukum Kesehatan, Semarang: Badan Penerbit Universitas
Diponegoro
Huston, C.J, (2000). Leadership Roles and Management Functions in
Nursing; Theory and Aplication; third edition: Philadelphia: Lippincott.
Kozier.

(2000). Fundamentals

of

Nursing :

concept

theory

and

practices. Philadelphia. Addison Wesley.


Priharjo, R (1995). Pengantar etika keperawatan; Yogyakarta: Kanisius.
Redjeki, S. (2005). Etika keperawatan ditinjau dari segi hukum. Materi seminar
tidak diterbitkan.
Staunton, P and Whyburn, B. (1997). Nursing and the law. 4th ed.Sydney:
Harcourt.
Sampurno, B. (2005). Malpraktek dalam pelayanan kedokteran. Materi seminar
tidak diterbitkan.

Soenarto Soerodibroto, (2001). KUHP & KUHAP dilengkapi yurisprodensi


Mahkamah Agung dan Hoge Road: Jakarta : PT.RajaGrafindo Persada.
Tonia, Aiken. (1994). Legal, Ethical & Political Issues in Nursing. 2ndEd.
Philadelphia. FA Davis.