Anda di halaman 1dari 84

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dewasa ini kereta api merupakan sarana angkutan
darat yang semakin banyak digunakan baik untuk
mengangkut penumpang maupun mengangkut
barang. Kereta api menjadi perioritas utama dalam
jasa layanan angkutan darat menggantikan
angkutan darat lainnya. Selain dapat mengangkut
penumpang atau barang dalam jumlah besar untuk
sekali jalan, kereta api merupakan sarana
transportasi yang mempunyai tingkat penyebab
polusi udara yang sangat kecil. Sejalan dengan
semakin menipisnya cadangan minyak bumi dan
perkembangan teknologi, kereta api dapat menjadi
sarana transportasi darat yang sangat penting
dimasa yang akan datang, karena dengan kereta api
dapat menghemat konsumsi bahan bakar migas
apalagi dimasa yang akan datang kereta api
mungkin berganti seluruhnya menjadi kereta listrik.
Dengan semakin meningkatnya pengguna jasa
layanan kereta api, maka diperlukan adanya
penambahan jumlah perjalanan kereta api. Dengan
adanya penambahan jumlah perjalanan kereta api
dapat menyebabkan makin berkurangnya kapasitas
lintas untuk setiap petak jalan kereta api. Untuk
mengatur dan mengendalikan lalu lintas perjalanan
kereta api agar aman, efisien, dan efektif, maka
sesuai dengan Keputusan Menteri Perhubungan No:
Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 1

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

KM 34 tahun 1989 tanggal 18 Juli 1989 tentang


Standarisasi Persinyalan Elektrik Kereta Api ,
dipilih sistem persinyalan elektronik untuk secara
bertahap
menggantikan
sistem
persinyalan
mekanik dan elektromekanik yang telah lama
beroperasi di Indonesia untuk menghindari
terjadinya kekusutan perjalanan kereta api.
Dipilihnya sistem persinyalan elektronik karena
sistem persinyalan elektronik memiliki beberapa
keuntungan dibandingkan dengan sistem-sistem
persinyalan lainnya, antara lain:
1. Keandalan lebih tinggi
2. Ketergantungan sistem
operator sangat kecil

elektronik

terhadap

3. Software yang digunakan memiliki karakteristik


sebagai berikut:
a. Final safe design dual system
b. Pengecekan sistem diagnosa oleh software
dan hardware itu sendiri
4. Adaptasi ke sistem otomatik Centralized Traffic
Control (CTC)
5. Kecenderungan dunia untuk menggunakan
komponen-komponen elektronik lebih banyak
dibanding menggunakan komponen-komponen
mekanik karena komponen-komponen mekanik
sudah jarang diproduksi lagi.
Secara umum sistem persinyalan kereta api dapat
dikelompokkan menjadi:
1. Peralatan-peralatan luar yang terdiri atas:
Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 2

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

a. Sinyal-sinyal, yang berfungsi memberikan


informasi kepada masinis supaya berhenti,
mengurangi
kecepatan
kereta
apinya,
berjalan langsung, dan sebagainya.
b. Wesel (Point Machine), yang berfungsi untuk
mengatur kereta api agar berjalan pada rel
atau track yang telah ditentukan.
c. Pendeteksi Kereta Api (track circuit, axle
counter)
dan
Peralatan
Antar
Muka
(Interface),
yang
berfungsi
mendeteksi
keberadaan kereta api, memantau kecepatan
kereta api, yang selanjutnya melaporkannya
ke
pusat
sistem
interlocking
untuk
pengaturan
perjalanan
kereta
api
selanjutnya.
2. Peralatan-peralatan dalam, terdiri atas:
a. Elektronik Interlocking
b. Local Control Panel
c. Central Control Panel
Peralatan-peralatan dalam ini digunakan terutama
untuk merencanakan, mengatur jadwal dan
mengamankan perjalanan kereta api secara
keseluruhan. Pada sistem persinyalan elektronik
fungsi-fungsi logic dikendalikan secara software
dengan mikroprosesor.
3. Peralatan-peralatan
terdiri atas:

Prepared by Moch. Ridwan

pendukung,

antara

lain

Halaman 3

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

a. Sistem catu daya, Uninterruptible Power


Supply
(UPS),
diesel
generator,
dan
sebagainya.
b. Sistem komunikasi untuk suara (voice)
maupun data yang digunakan untuk
hubungan antar stasiun dan antara stasiun
dengan masinis.
Sistem-sistem persinyalan elektronik terbagi dalam
dua jenis yaitu prosesor tunggal (single processor)
dan prosesor ganda (multiple processor). Saat ini
sistem persinyalan elektronik yang telah terpasang
di Indonesia adalah sebagai berikut:
1. WESTRACE
tunggal

yang

menggunakan

prosesor

2. VPI yang menggunakan prosesor tunggal


3. SSI yang menggunakan prosesor ganda
Pada pembahasan selanjutnya akan dijelaskan
mengenai sistem persinyalan WESTRACE yang telah
terpasang di Indonesia.
Di Indonesia sistem persinyalan WESTRACE telah
terpasang untuk mengendalikan operasi kereta api
di daerah-daerah sesuai dengan tabel berikut ini:
Daerah
Operasi
Daop 2 Bandung

J umlah
CTC
Stasiun
Tasikmalaya-Banjar 7 stasiun Tasikmalaya
Antara

Daop 3 Cirebon

Luwung-Songgom

Daop 5 Purwokerto

Prupuk-Randegan 12 stasiun Purwokerto


Langen-Sikampuh 11 stasiun Purwokerto
Kroya-Kutoarjo
15 stasiun Purwokerto

Daop 6 Yogyakarta

Montelan-Patukan

Prepared by Moch. Ridwan

8 stasiun

8 stasiun

Cirebon

Yogyakarta

Halaman 4

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Tabel 1.

1.2

Sistem Persinyalan Westrace

Lokasi Sistem Persinyalan WESTRACE

Sistematika Pembahasan
Dalam pembahasan ini terbagi dalam enam bab
dengan sistematika pembahasan sebagai berikut:
BAB I.

PENDAHULUAN

Pada bab ini dijelaskan mengenai latar belakang


dilaksanakannya modernisasi sistem persinyalan
dengan menggunakan sistem persinyalan elektronik
dan sistematika pembahasan dari buku ini.

BAB II. SISTEM INTERLOCKING


Pada bab ini diuraikan mengenai gambaran umum
sistem, konfigurasi sistem, sistem interlocking baik
hardware maupun software, rele interface, dan local
control panel.
BAB III. PERALATAN LUAR
Pada bab ini akan diuraikan mengenai peralatan
luar
yang
mendukung
interlocking
sistem
persinyalan WESTRACE seperti; sinyal, wesel,
sistem pendeteksi keberadaan kereta api, dan lainlain.
BAB IV. PERALATAN PENDUKUNG SISTEM
PERSINYALAN WESTRACE
Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 5

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

Pada bab ini akan dijelaskan mengenai peralatanperalatan yang mendukung sistem persinyalan
WESTRACE antara lain; sistem power supply,
sistem komunikasi, centralized traffic control (CTC).
BAB V.

PERENCANAAN DESAIN/MODIFIKASI
SISTEM PERSINYALAN WESTRACE

Pada
bab
ini
akan
dijelaskan
mengenai
perencanaan sistem persinyalan WESTRACE dalam
hal desain atau modifikasi yang antara lain meliputi
penomoran dan penempatan peralatan luar, serta
prosedur modifikasi sistem persinyalan WESTRACE.

BAB II

SISTEM INTERL OCKING


PERSINYAL AN WESTRACE

2.1 Gambaran Umum Sistem Persinyalan WESTRACE


WESTRACE adalah kepanjangan dari WEStinghouse
Train Radio and Advanced Control Equipment.
WESTRACE
merupakan
sistem
persinyalan
elektronik yang didesain sebagai sistem pengontrol
untuk keselamatan perjalanan kereta api. Sistem
WESTRACE menggunakan suatu sistem konfigurasi
logic sehingga para desainer dapat mendefinisikan
operasi logika sistem WESTRACE tersebut. Logic
Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 6

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

tersebut dapat diubah dan dikembangkan sesuai


kebutuhan.
Sistem persinyalan WESTRACE dikembangkan oleh
empat perusahaan persinyalan yang tergabung
dalam kelompok BTR, yaitu: Westinghouse Brake &
Signal Co. (Australia), Westinghouse Signals (UK),
Safetran Systems (USA), dan Dimetronic (Spanyol).
Keempat perusahaan tersebut bersama-sama
mengembangkan sistem persinyalan yang berbasis
prosesor dan hasil pengembangan tersebut
menghasilkan sistem persinyalan yang prinsip
keselamatannya berdasarkan pada standar Eropa
dan Amerika (ETCS dan ATCS).

Remote Control ( LCP,CTC )

Signalling
Outputs
Logic
processing
Signalling
Inputs

Power Supplies

Gambar 1. Gambaran umum sistem Persinyalan


WESTRACE

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 7

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

Di Indonesia sistem persinyalan WESTRACE


dipasang melalui dua proyek modernisasi sistem
persinyalan, yaitu:
1.

Cirebon Kroya Yogyakarta Resignalling


Project; terdiri dari 43 stasiun dilengkapi
dengan CTC di Cirebon, Purwokerto, dan
Yogyakarta.

2.

Tasikmalaya Banjar Kroya Resignalling


Project; terdiri dari 18 stasiun dan dilengkapi
dengan CTC di Tasikmalaya, dan Purwokerto.

Kedua proyek modernisasi sistem persinyalan


tersebut menggunakan dana yang diperoleh dari
pinjaman lunak luar negeri melalui Departemen
Perhubungan.
Proyek
modernisasi
sistem
persinyalan tersebut memakan dana investasi
dengan nilai yang sangat besar. Hal ini dapat dilihat
melalui tabel yang ditunjukkan di bawah ini:
Nama
P ro yek
No/Tanggal
Kontrak
Nilai Kontrak
Kontrakto r
P embebanan
Dana

Tabel 2.

2.2

C irebo n-Kroya-Yogyakarta
R esignalling P roject

Tasikmalaya-B anjar-Kroya
R esignalling P ro ject

P L.101/8/I/DRP D/93
13 April 1993

11/CONTR /P FSP /VI/95


23 J uni 1995

A UD. 127.997.193,5

AUD. 77.090.765,40

Westinghouse Brake&Signal
Co (Australia) Ltd

Westinghouse Brake&Signal
Co (Australia) Ltd

Bantuan
P emerintah Australia

Bantuan lunak pemerintah


Australia melalui DIFF/EFIC

Matriks Proyek Modernisasi Sistem


Persinyalan WESTRACE

Konfigurasi Sistem Persinyalan WESTRACE

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 8

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

Komponen-komponen utama yang terdapat dalam


sistem persinyalan WESTRACE adalah:
1)

Hardware atau Vital Logic Equipment (VLE),


yang berisi semua modul-modul WESTRACE
baik vital maupun non-vital.

2)

Configuration Sub System (CSS), adalah suatu


paket software yang bekerja pada suatu
Personal Computer (PC). Sistem konfigurasi
digunakan untuk data konfigurasi yang
mendefinisikan operasi unique dari masingmasing interlocking tertentu dan untuk
mengecek
kebenaran
dari
interlocking
tersebut.

3)

Configuration Check Sub System (CCSS),


adalah suatu program software yang bekerja
pada suatu komputer yang digunakan untuk
memastikan bahwa data yang dipasang pada
suatu interlocking atau sistem beroperasi
dengan benar.

4)

Data Konfigurasi, yang dibangkitkan oleh


Sistem Konfigurasi

5)

Manual Aplikasi, yang berisi aturan-aturan


dan petunjuk untuk membantu dalam
mengaplikasikan pendesainan sistem.

6)

Configuration
System
Manual,
yang
menjelaskan penggunaan Configuration Sub
System dan Configuration Check Sub System.

7)

First
Line
Maintenance
Manual,
menjelaskan pemeliharaan sistem.

Prepared by Moch. Ridwan

yang

Halaman 9

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

Gambar 2. Konfigurasi Sistem Persinyalan


WESTRACE

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 10

WESTRACE HOUSING

DIAGNOCSTIC
MODULE

PSU

LOCAL CONTROL
PANEL
PANEL
PROCESSOR

DETEKSI
MOTOR WESEL

TRACK RELAY

SYSTEM
LOGIC AND
CONFIGURATION

MOTOR
WESEL

RELAY SUPPLY

VLM

TELEMETRY
LINE INTERFACE
(MODEM ETC)

VTC

LINE INTERFACE

LINE INTERFACE

VTC
tambahan
jika
diperlukan

MODUL I/O
TAMBAHAN
JIKA
DIPERLUKAN

HVLM
OPC
OPCR
VPIM
VROM
NVC
VTC

REMOTE
CONTROL
CENTRE

KE INTERLOCKING
STASIUN SEBELAH

: Hot Stand-by Vital Logic Module


: Output Power Control
: Output Power Control Relay
: Vital Parallel Input Module
: Vital Relay Output Module
: Non Vital Communication Module
: Vital Telemetry Continuous Module

Keterangan

VTC

OPCR

INTERLOCKING LAIN

EVENT
RECORDER
TECHNICIAN'S
TERMINAL

DATA
PREPARATION
SIMULATOR
24 VOLT dc
SUPPLY

LOCAL
POWER
SUPPLIES

VITAL
LACHES
RWR

Halaman 11

Prepared by Moch. Ridwan

VROM

NVC

VPIM

NVC
VITAL
TIMERS
KONTROL
MOTOR WESEL

NWR

Sistem Persinyalan Westrace


Subdit Sintelis Kantor Pusat

OPC

Gambar 3. Diagram Blok Sistem Persinyalan


WESTRACE
SIGNAL LAMP
DRIVE

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

Pada dasarnya sistem persinyalan WESTRACE


sama sebagaimana sistem persinyalan elektronik
lainnya, yaitu terdiri dari Peralatan Dalam (sistem
interlocking), Peralatan Luar, dan Peralatan
Pendukung lainnya. Peralatan Dalam berfungsi
sebagai peralatan yang memproses interlocking
berdasarkan masukan dari meja pengendalian
(operator) atau dari peralatan luar di lapangan
seperti sinyal-sinyal, wesel-wesel, dan track
circuit/axle counter.
Gambaran
mengenai
sistem
persinyalan
WESTRACE dapat terlihat dalam gambar diagram
blok sistem persinyalan WESTRACE pada gambar 3.

2.3

Sistem Interlocking
2.3.1

Hardware

Pada sistem persinyalan WESTRACE hardware


untuk sistem interlocking terletak dalam suatu rack
yang ditempatkan di Equipment Room. Rack
tersebut terdiri dari beberapa modul utama, yaitu:
1.

Vital Logic Module (VLM)


Modul ini merupakan otak dari sistem
WESTRACE yang mengontrol sistem operasi,
interface ke setiap modul-modul sistem lainnya
dan melaksanakan pemrosesan sistem logika.
Masing-masing
sistem
WESTRACE
mempunyai 1 VLM.

2.

Hot Standby Vital Logic Module (HVLM)

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 12

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

Modul ini merupakan versi alternatif dari


VLM. Modul ini menggunakan Hot standby
Vital Logic Card (HVLC), Hot standby Vital
Backplane dan VLM OPC standar.
HVLM melaksanakan semua fungsi VLM dan
menggunakan mikroprosesor yang lebih kuat
dan dapat mengeksekusi aplikasi logika lebih
cepat. Hal ini memungkinkan kapasitas logika
sistem yang lebih besar.
Pada sistem persinyalan WESTRACE, kapasitas
sistem ditentukan oleh kedua modul tersebut yang
didasarkan pada jumlah parameter berikut ini:
-

Penggunaan
mnemonic

yang

Internal latch, dan

Timer

didefinisikan

sebagai

Internal latch adalah beberapa mnemonic yang


tidak dinyatakan sebagai suatu input atau input,
awal timer atau batas berlakunya timer.
Jumlah parameter yang dapat ditampung oleh
kedua modul tersebut dapat ditunjukkan oleh tabel
berikut ini:

FUNGSI

VLM

HVLM

Mnemonics

963

2500

Internal Latches

384

2057

Timers

96

200

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 13

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

Tabel 3. Kapasitas maksimum sistem

Dalam aplikasi persinyalan, waktu yang disediakan


untuk memproses logic akan membatasi jumlah
rung logic, dimana untuk HVLM sekitar 750 rung
sedangkan VLM sekitar 300 rung (hal ini akan
sangat tergantung pada kompleks-nya rung).
3.

Vital Parallel Input Module (VPIM)


Modul ini digunakan untuk menerima input
sinyal ke dalam sistem WESTRACE.

4.

Vital Relay Output Module (VROM)


Modul ini digunakan untuk men-drive secara
langsung 50 V dc ke rele-rele sinyal dan
beban-beban yang serupa. Output VROM
diisolasi satu sama lain dari kontrol logika
dan suplai sinyal 50 V dc.

5.

Vital Lamp Output Module (VLOM)


Modul ini digunakan untuk men-drive
transformer 110 V yang tergabung langsung
dengan lampu sinyal dibawah kontrol
interlocking logic.

6.

Vital Telemetry Continuous Module (VTC)


Modul VTC ini digunakan untuk mentransfer
data di kedua arah pada sistem WESTRACE.

7.

Non Vital Communications Module (NVC)


Modul NVC ini digunakan untuk mentransfer
data non-vital antara sistem WESTRACE dan

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 14

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

sistem pengontrol eksternal. Pada umumnya


data pengontrol dapat dikirim ke WESTRACE
dan indikasi dapat dikembalikan dari
WESTRACE.
8.

Diagnostic Module (DM)


Modul ini dipasang disetiap sistem untuk
membantu set-up, pendinasan, dan pelacakan
gangguan, tujuannya adalah untuk:

9.

Merekam data gangguan untuk analisa


selanjutnya,

Merekam operasi yang baru dikerjakan


untuk analisa selanjutnya

Membuang operasi sistem untuk suatu


display eksternal atau data logger,

Membantu pengecekan instalasi software


aplikasi, mengijinkan pencatatan real
time
operasi
yang
menggunakan
eksternal logger.

Event Recorder
Untuk dapat berhubungan dengan event
recorder
eksternal
maka
WESTRACE
dilengkapi suatu port komunikasi serial.
Spesifikasi logic memungkinkan pemilihan
beberapa input, output atau bagian eksternal
dari port tersebut untuk kepentingan analisa
interlocking.

10.

Data Preparation dan Simulator


Data preparation dan simulator adalah bagian
yang berdiri sendiri dengan menggunakan

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 15

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

sistem operasi untuk standar industri


komputer IBM XT atau PS/2 yang digunakan
untuk menghasilkan data bagi vital PROM
untuk interlocking tertentu.
11.

Power Supply Unit (PSU)


PSU ini mengubah nominal eksternal power
supply 24 V dc ke tegangan internal yang
diperlukan
oleh
modul-modul,
dan
membangkitkan sinyal reset sistem yang
diperlukan oleh modul-modul lainnya.

12.

Protection and Filter Modules (PFM)


Modul ini diperlukan untuk melindungi
modul-modul input/output dan power supply
unit dari pengaruh-pengaruh gangguan listrik
eksternal
yang
melebihi
batas
yang
dibangkitkan oleh radio, rele-rele, lampu neon,
dan sebagainya.

Modul-modul tersebut ditempatkan dalam suatu


housing, dimana dalam satu housing terdiri dari 16
slot. Untuk satu intelocking sistem persinyalan
WESTRACE maksimal terdiri dari empat housing,
dengan konfigurasi sebagai berikut:

Untuk sistem yang hanya memerlukan satu


housing, ada 11 slot yang disediakan untuk
modul-modul interface (I/O module) karena
pada housing pertama untuk slot 2, dan 3
dipergunakan untuk modul HVLM/VLM dan
slot 1 dipasang suatu blanker, sedangkan slot
15 dipergunakan untuk Diagnostic Module
(DM), dan slot ke-15 untuk masing-masing

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 16

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

housing dipergunakan untuk Power Supply


Unit (PSU);

Untuk sistem yang menggunakan dua


housing, ada 26 slot yang dipergunkan untuk
modul-modul interface;

Untuk sistem yang menggunakan tiga


housing, ada 41 slot yang dipergunkan untuk
modul-modul interface, dan

Untuk sistem yang menggunakan empat


housing, ada 56 slot yang dipergunkan untuk
modul-modul interface.

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 17

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

Gambar 4. Housing hardware interlocking


WESTRACE

2.3.2

Rele Interface

Hardware
interlocking
sistem
persinyalan
WESTRACE tidak secara langsung menggerrakkan
peralatan persinyalan yang berada di lapangan.
Supaya peralatan luar tersebut dapat bekerja, maka
digunakan rele interface untuk menghubungkan
antara hardware interlocking dengan peralatan luar.
Rele interface yang dipergunakan adalah rele seri
Q yang merupakan produk Westinghouse.
Rele seri Q adalah rele plug-in yang didesain
untuk memenuhi kebutuhan rele plug-in dalam
persinyalan kereta api dan penggunaan lainnya.
Rele seri Q terdiri dari berbagai macam tipe, tetapi
ada 3 macam tipe dasar dari rele Q, yaitu:
a. Jenis QN1 d.c rele netral, yaitu rele tunggal
yang mempunyai sampai dengan 16 kontak dan
rangkaian tembaga dengan ukuran standard.
b. Jenis QN3 d.c rele sensitiv netral, yaitu rele
tunggal yang mempunyai sampai dengan 12
kontak dan ukuran rangkaian tembaga yang
besar.
c. Jenis QNN1 d.c rele netral, yaitu suatu unit
kembar yang terdiri dari 2 rele, dimana masingmasing rele mempunyai 8 kontak.
Dari ketiga tipe dasar rele tersebut, ada beberapa
variasi dari masing-masing rele tersebut seperti: a.c
Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 18

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

immune; rele jatuh lambat; rele bias; dan


sebagainya, dan juga unit-unit dan rele-rele spesial
seperti: timer, unit kapasitor, unit resistor, dan
sebagainya.
Pada sistem persinyalan WESTRACE menggunakan
beberapa macam tipe rele seri Q, dimana rele-rele
tersebut digunakan untuk berbagai macam
penggunaan. Rele-rele yang digunakan pada sistem
persinyalan WESTRACE antara lain adalah
sebagaimana ditunjuk pada tabel di bawah ini.

J enis
Rele
QNN1

Tegangan I ndependent
Penggunaan
Nominal
Contacts
50 V dc
2X4F-4B
Aspect Control
Kontrol arah genta
Deteksi arah bunyi genta
Track Repeat Relay

QN1

50 V dc

8F-8B

Yellow aspect control


OPCR
Restart R

QECX1

110 V ac

4F-2B

Lamp proving

QECX11
QBCA1

110 V ac
50 V dc

4F-2B
2HD 4F-4B

QBBA1

50 V dc

2X4F-4B

QT1

50 V dc

2F

QN3

110 V dc

2F-2B

Ket:

Speed & Dir. Lamp proving


Penggerak kedudukan wesel
Deteksi kedudukan wesel
Track relay
Kontrol arah bunyi genta

F = Front contacts ;
B = Back contacts

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 19

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Tabel 4.

2.3.3

Sistem Persinyalan Westrace

Beberapa rele seri Q pada sistem


persinyalan WESTRACE dan
penggunaannya.

Software

Software interlocking pada sistem persinyalan


WESTRACE terdiri dari tiga macam, yaitu:
1. WESTRACE GCSS (Graphical Configuration
Sub System)
Yaitu suatu program aplikasi yang berbasis ladder
logic dipergunakan untuk menyusun rung logic
suatu interlocking stasiun. WESTRACE GCSS ini
juga dapat disebut vital software.
WESTRACE GCSS adalah suatu suatu perangkat
yang
digunakan
untuk
mendesain
dan
mengkonfigurasi secara efisien dan sederhana
interlocking
WESTRACE.
Software
ini ideal
digunakan oleh teknisi sinyal yang belum
mempunyai pengalaman dengan komputer untuk
mendesain interlocking.

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 20

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

Gambar 5. WESTRACE GCSS Revision 3


WESTRACE GCSS adalah suatu perangkat yang
berbasis Personal Computer dengan grafis windows
yang
mempermudah
pengguna
untuk
menggunakannya.
WESTRACE
GCSS
ini
mempunyai beberapa feature, antara lain:

Desain interlocking lengkap dalam suatu


paket tunggal

Proses desain setahap demi setahap

Familiar ladder logic atau kontak relay

Output dalam bentuk cetak yang dapat


digunakan untuk audit dan pengesahan

Penggunaan mnemonic yang fleksible


(menggunakan sampai dengan 15 karakter
alpha-numeric)
Pada WESTRACE GCSS ini seorang design engineer
juga dapat mengkonfigurasi hardware interlocking
Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 21

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

sistem persinyalan WESTRACE melalui housing


editor. Dengan mengkonfigurasi hardware tersebut,
maka dapat diketahui kebutuhan modul-modul
yang
diperlukan
dalam
satu
interlocking
WESTRACE.

Gambar 6.

Konfigurasi Hardware WESTRACE


melalui WESTRACE GCSS

Hardware yang diperlukan untuk menjalankan


WESTRACE GCSS harus mempunyai spesifikasi
sebagai berikut:

PC IBM atau IBM compatible, dengan 486DX


33 MHz (disarankan menggunakan Pentium
100 MHz atau prosesor yang lebih cepat);

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 22

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

Menggunakan sistem operasi Windows 3.1


atau versi berikutnya;

Mempunyai RAM minimal 8 Mb (disarankan


menggunakan RAM 16 Mb atau RAM yang
kapasitasnya lebih besar);

Mempunyai hard disk dan floppy disk drive


3.5 inch, 1,44 Mb;

Mempunyai space
kurangnya 40 Mb.

Gambar 7.

2.

hard

disk

sekurang-

Rung editor pada WESTRACE GCSS

WESTRACE ICS (Installation Check System)

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 23

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

Yaitu suatu program aplikasi yang dipergunakan


untuk mengecek rung logic dan konfigurasi
hardware WESTRACE pada sistem persinyalan yang
telah terpasang.
Sebagaimana halnya dengan WESTRACE GCSS,
program aplikasi ini dapat dijalankan melalui PC
IBM atau IBM Compatible dengan spesifikasi
sebagai berikut:

Prosesor
486DX
33
MHz
menggunakan Pentium 100
prosesor yang lebih cepat);

Menggunakan sistem operasi Windows 3.1


atau versi berikutnya;

Mempunyai RAM minimal 8 Mb (disarankan


menggunakan RAM 16 Mb atau RAM yang
kapasitasnya lebih besar);

Mempunyai hard disk dan floppy disk drive


3.5 inch, 1,44 Mb;

Mempunyai space
kurangnya 40 Mb.

Prepared by Moch. Ridwan

hard

disk

(disarankan
MHz atau

sekurang-

Halaman 24

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

Gambar 8. WESTRACE ICS Revision 3

3.

Interlogic

Yaitu suatu program aplikasi yang dipergunakan


untuk memprogram interlocking dalam meja
pengendalian. interlogic ini juga dapat disebut nonvital software.
Sebagaimana halnya dengan WESTRACE GCSS,
software ini adalah suatu perangkat yang berbasis
Personal Computer dan menggunakan aplikasi
ladder logic yang bekerja dibawah DOS.
Hardware yang diperlukan untuk menjalankan
INTERLOGIC harus mempunyai spesifikasi sebagai
berikut:

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 25

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

PC IBM atau IBM compatible, dengan prosesor


minimal 80286 atau prosesor yang lebih
cepat;

Menggunakan sistem operasi DOS 3.3 atau


versi berikutnya;

Mempunyai RAM minimal 640 Kb dimana 550


Kb digunakan untuk program aplikasi;

Mempunyai hard disk dan floppy disk drive


3.5 inch, 1,44 Mb;

Mempunyai space
kurangnya 2 Mb.

hard

disk

sekurang-

Gambar 9. Interlogic Ver 3.1e Software

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 26

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

Gambar 10. Rung editor pada Interlogic software

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 27

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

BAB III

PERAL ATAN LUAR


SISTEM PERSINYAL AN WESTRACE

Peralatan luar yang terdapat pada sistem persinyalan


WESTRACE meliputi sinyal-sinyal cahaya, wesel-wesel yang
digerakkan oleh motor wesel 110 VDC dengan sistem
penguncian external locking, dan sistem pendeteksi
keberadaan kereta api yang terdiri dari: di petak blok
menggunakan axle counter AZS-600, sedangkan di
emplasemen menggunakan axle counter AZS-350; 5 VDCCode track circuit dan 5 VDC track circuit.

2.1

Sinyal Cahaya
Sinyal cahaya dalam sistem persinyalan WESTRACE
terdiri dari:

Sinyal Berangkat 2 aspek dengan sinyal langsir,


sinyal penunjuk arah, atau tidak.

Sinyal masuk 3 aspek dengan sinyal pembatas


kecepatan.

Sinyal darurat

Sinyal blok.

Sinyal langsir berdiri sendiri.

Sinyal muka 2 aspek.

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 28

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

Deskripsi mengenai spesifikasi dari sinyal-sinyal


tersebut dapat dilihat pada tabel 5, dan gambar 11,
12, 13 pada bab ini.

J enis Sinyal
Tipe
Sinyal Berangkat
R2 Mark 4
Sinyal Masuk
R2 Mark 4
Sinyal Blok
R2 Mark 4
Sinyal Muka
R2 Mark 4
Sinyal Langsir
PLS Mark II
Sinyal Darurat
Sinyal Pembatas Kecepatan
Sinyal Penunjuk Arah

Tabel 5.

PJ 1

Lampu
12V 24W SL Series
12V 24W SL Series
12V 24W SL Series
12V 24W SL Series
110V 40W
110V 60W
10V 50W
(Tungsten Halogen)
12V SL Series

Spesifikasi Sinyal Pada Sistem


Persinyalan WESTRACE

Gambar 11. Gambar head sinyal 3 aspek

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 29

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

Gambar 12. Gambar Sinyal Langsir

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 30

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

Gambar 13. Gambar Sinyal Penunjuk Arah

2.2

Sistem Pendeteksi Keberadaan Kereta Api


Dalam sistem persinyalan WESTRACE, sistem
pendeteksi keberadaan kereta api terbagi dalam dua
bagian, yaitu:
a. Sistem pendeteksi kereta api di area stasiun;
b. Sistem pendeteksi kereta api di petak blok (antara
stasiun).

2.2.1

Sistem Pendeteksi Kereta Api di Area Stasiun

Sistem pendeteksi kereta api di stasiun pada sistem


persinyalan
WESTRACE
pada
umumnya
menggunakan axle counter AzS M 350, tetapi di
beberapa stasiun ada yang sebagian menggunakan
track circuit yaitu: 5Vdc track circuit, dan coded
track circuit. Beberapa bagian yang menggunakan
track circuit tersebut pada umumnya digunakan
sebagai approach track.

Sistem pendeteksi kereta api Axle Counter AzS M


350
Axle counter AzS M 350 terdiri dari dua bagian
utama, yaitu:
a. Alat pendeteksi gandar (Wheel Detector Unit) ZP
43E yang terpasang pada setiap bagian ujung
track;
Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 31

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

WDU ZP 43E bekerja berdasarkan pada metoda


pendeteksian secara elektromagnetik. Apabila
suatu gandar kereta api melewati bagian ini,
maka kuat medan elektromagnetik tersebut akan
diubah menjadi arus listrik bolak-balik yang
kemudian akan membangkitkan pulsa-pulsa.
Pulsa-pulsa tersebut kemudian ditransmisikan
melalui kabel ke unit evaluator yang terpasang di
equipment room.
b. Evaluator Unit.
Evaluator unit adalah suatu unit pemroses data
dengan menggunakan mikrokomputer yang
bekerja berdasarkan prinsip-prinsip fail-safe
dalam persinyalan. Mikrokomputer tersebut
bekerja pada frekuensi 2 MHz, mempunyai 8
Kbytes RAM dan 8 Kbytes memori program
(EPROM).
Sistem axle counter ini memerlukan tegangan
input yang tak terputus antara 24 dan 60 VDC.
Tegangan tersebut kemudian oleh konverter
digunakan untuk membangkitkan tegangan kerja
yang dibutuhkan oleh sistem axle counter
tersebut, yaitu:

5 VDC dan 12 VDC untuk operasi internal;

70 VDC untuk operasi eksternal dari dua unit


WDU.

Apabila WDU yang dihubungkan ke evaluator


lebih dari dua (maksimum 4 buah) sedangkan
tegangan batere 60 VDC, maka power supply
board (S25552 B653 A1) dipasang dalam rak
penyangga evaluator unit untuk mensuplai
Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 32

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

tegangan yang diperlukan oleh WDU ketiga dan


keempat tersebut.
5 Vdc track circuit
Sumber arus listrik yang digunakan untuk mensuplai
tegangan track circuit ini berasal dari jaringan listrik
380 VAC. Suatu trafo mampu memberikan arus pada
dua track circuit dengan menghubungkan pada catu
380 V di tiap tempat dimana track tersebut perlu
diberi arus. Transformator ini terdiri dari satu lilitan
primer dan dua lilitan sekunder yang bebas untuk
menghasilkan 5 VDC yang diperlukan oleh track
circuit. Rele track yang digunakan adalah jenis QT1
yang mempunyai tahanan kumparan 4 ohm. Rele ini
dapat beroperasi dengan arus maksimum 117 mA
dan arus minimum 103 mA. Agar operasi track
circuit efektif, kumparan rele harus dapat mencapai
arus operasi penuh maksimum sebesar 146 mA.
Track circuit ini dapat digunakan untuk mendeteksi
keberadaan kereta api sepanjang 1250 km.

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 33

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

WDU 1

WDU 2

WDU 3

WDU 4

WDU 5

EU
A
AzGrT(A)

EU
B

AzGrT(B)
Cl(A)

AzGrT(A)
Cl(B)

AzGrT(B)
Cl(A)

AzGrT

: Axle counter reset button

Cl

: Clear indication

EU

: Evaluation unit

WDU

: Wheel detection unit

Cl(B)

Gambar 14. Skema sistem axle counter Az S M 350

Coded track circuit


Coded track circuit dirancang untuk dipakai sebagai
track circuit yang dapat bekerja sendiri dan
menunjukkan dengan tegas keberadaan suatu kereta
pada suatu track yang kemudian disampaikan
dengan tegas satu, dua atau tiga informasi status
dari pemancar ke penerima. Coded track circuit ini
terdiri dari: Code Generator dan pemancar; penerima;
transformator penerima; Decoding unit; dan resistor
pengisi track.
Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 34

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Spesifikasi
Ukuran

Lebar
P anjang
Tinggi

Sistem Persinyalan Westrace

P emancar

P enerima

114 mm
137 mm
225 mm

114 mm
137 mm
225 mm

Suplai tegangan nominal

12 Volt

12 Volt

Suplai arus maksimum

400 mA

700 mA

Code (cycles per minute)

75, 120, & 180 75, 120, & 180

Tegangan output

4 Volt/25 ohm

Impedansi output

6 ohm

Output
Decoding
Transfo rmer
Unit
114 mm
137 mm
225 mm

114 mm
137 mm
225 mm

Tabel 6. Spesifikasi Coded Track Circuit

2.2.2 Sistem pendeteksi kereta api di petak blok


(antara stasiun)
Sistem pendeteksi kereta api di petak blok pada
sistem persinyalan WESTRACE menggunakan axle
counter AZ S 600.
Prinsip kerja dari axle counter Az S 600 tidak jauh
berbeda dengan axle counter Az S M350. Axle counter
Az S 600 dapat dipergunakan untuk track yang
panjangnya lebih dari 11,8 km dan kecepatan data
yang dikirim dari titik indikasi poros dapat mencapai
600 bit/detik. Batasan mengenai panjang track
ditentukan oleh sistem transmisi yang dipergunakan.
Dasar dari operasi fail-safe pada axle counter adalah
sistem mikrokomputer SIMIS. Sistem ini telah
dikembangkan secara khusus untuk memproses
fungsi-fungsi vital yang diperlukan dalam sistem
persinyalan kereta api. Sistem mikrokomputer ini

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 35

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

mengolah
data
yang
diterimanya
menggunakan dua saluran (channel).

dengan

SIMIS terdiri dari dua mikrokomputer yang


independen. Dalam waktu yang bersamaan akan
menerima data yang sama, dan karena menggunakan
program yang sama maka akan mengolah fungsi yang
sama pula dan akan mengeluarkan informasi yang
dikehendaki melalui dua saluran yang berbeda
tersebut. Melalui dua komparator yang independen,
output akan mungkin dapat dihasilkan apabila
terdapat kecocokan diantara kedua mikrokomputer
tersebut.
Transmisi data pada axle counter Az S 600 dapat
menggunakan sistem transmisi apapun asalkan
mempunyai interface V.24. Untuk mengendalikan
sistem transmisi, pada sistem axle counter dilengkapi
dengan satu SIMIS interface board pada setiap
saluran. Circuit board tersebut dihubungkan secara
paralel dengan interface V.24 dan saling beroperasi
secara bergantian.

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 36

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

Mikrocomputer 1

Mikrocomputer 2
Data input

INPUT

INPUT

DATA EXCHANGE

DATA EXCHANGE

Processor
and
Memory

Processor
and
Memory

OUTPUT

Channel 1

SYNCHRO
NISATION

SYNCHRO
NISATION

COMPARI
SON

COMPARI
SON

OUTPUT

Channel 2

Gambar 15.
Bagan representasi SIMIS dengan
konfigurasi 2 dari 2

Karena axle counter Az S 600 digunakan sebagai


pendeteksi kereta api di petak blok, maka peralatan
ini bertanggung jawab terhadap keamanan di petak
blok tersebut, sehingga seringkali mempunyai sistem
transmisi sendiri.

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 37

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

Track section ( > 11,8 km )

WDU 1

WDU 2

Block
A

EU

AzGrT

C/OI

Block
B
Clear indication point

Gambar 16.
transmisi blok

AzGrT

Axle counter reset button

EU

Evaluation Unit

C/OI

Clear/occupied indication

Transmission equipment

WDU

Wheel detection unit

Block
B
EU

Block
A
Axle indication point

Sistem axle counter AzS 600 dengan

Input dan output berasal dari clear indication point


dan axle indication point. Input informasi blok
memungkinkan empat sinyal digital masuk pada
clear indication point dan axle indication point. untuk
mendapatkan prinsip keamanan informasi, maka
untuk setiap saluran dimasukkan secara terpisah
(operasi dua saluran). Input-input tersebut diisolasi
dari mikrokomputer melalui penyambung optik dan
dihubungkan melalui kontak-kontak rele.

2.3

Motor Wesel

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 38

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

Motor wesel yang digunakan dalam


persinyalan WESTRACE adalah T84M.

sistem

Motor wesel seri 84M dapat dihubungkan secara


langsung ke wesel melalui mekanisme penguncian
ujung wesel, dengan menggunakan mekanisme
penguncian Claw Lock.
Spesifikasi dari motor wesel seri 84M ini adalah
sebagai berikut:
Motor

: 110/120 VAC satu phasa

Thrust

: dapat dilanggar 2,2kN min

Operating time

: kurang dari 5 detik

Operating stroke

: 140 mm

Ambient temperature range : -100C s.d +600C


Maximum humidity

: 95%

Berat

: 205 kg

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 39

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Gambar 17.

Sistem Persinyalan Westrace

Motor wesel seri 84M


BAB IV

PERAL ATAN PENDUKUNG


SISTEM PERSINYAL AN WESTRACE
3.1

Sistem Komunikasi
Dalam sistem komunikasi pertukaran informasi
dapat dilakukan baik dalam bentuk analog maupun
dalam bentuk digital.
Penggunaan teknik analog untuk pertukaran
informasi umumnya sering digunakan untuk
transmisi suara. Hal ini dalam persinyalan sudah
bertahun-tahun digunakan yaitu dengan melalui
telepon, dan sampai dengan saat ini masih tetap
digunakan pada sistem persinyalan modern dalam

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 40

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

hal untuk mendukung kelancaran operasi kereta api


dengan melalui komunikasi suara. Pada sistem
persinyalan modern, komunikasi suara digunakan
untuk komunikasi antara Operator stasiun dengan
Operator stasiun sebelah, Penjaga Pintu Lintas,
Masinis dengan melalui telepon sinyal, Petugas
langsir dengan melalui talk-back, dan komunikasi
suara antara Operator stasiun dengan Petugas
pengendali terpusat yang ada di CTC. Semua
percakapan tersebut direkam dalam suatu voice
recorder yang juga merupakan suatu peralatan yang
termasuk dalam sistem komunikasi pada sistem
persinyalan elektrik.
Sedangkan teknik komunikasi digital pada umumnya
banyak digunakan dengan basis sistem komputer.
Pada kenyataannya teknik digital telah digunakan
pada telegraph. Electric token block adalah suatu
contoh penggunaan teknik digital sebelumnya yang
digunakan dalam sistem persinyalan.
Dasar telemetri penggunaan komunikasi digital pada
industri persinyalan adalah sebagai suatu bagian
yang tak terpisahkan dengan sistem kontrol
komputer.
Pada
sistem
persinyalan
elektrik,
komunikasi digital digunakan untuk transmisi data
antara
sistem
pengendalian
yang
di
setiap
interlocking dengan sistem pengendalian terpusat.
3.1.1

Komunikasi suara

Pada umumnya jenis media komunikasi suara


banyak yang menggunakan telepon. Telepon pada
umumnya diterima oleh semua orang yang
menggunakannya karena dengan menggunakan
Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 41

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

telepon dapat tanpa memperhitungkan keperluan


infrastruktur untuk mendukungnya.
Dengan menggunakan jaringan pribadi PT. Kereta
Api, metoda operasi point to point digunakan dimana
memungkinkan operator dapat berhubungan secara
langsung
dengan
pusat
pengendali
untuk
kepentingan pertukaran informasi tertentu. Dalam
hal ini maka memerlukan automatic exchange
network (jaringan pengubah otomatis), dimana semua
panggilan dapat dihubungkan secara langsung ke
pusat pengendali melalui jalur non-dedicated.
Masing-masing jalur dikonfigurasi dengan suatu
telephone interface card untuk berfungsi sebagai
penghubung ke operator. Telephone interface card juga
dapat digunakan sebagai bagian dari
local
switchboard. Card tersebut dapat mensuplai semua
switching yang diperlukan dan memberikan indikasi
untuk melengkapi panel komunikasi lokal.

Transmission Medium
Voice Frequency

WB & S
Interface

WB & S
Interface
Signalling

Gambar 18.

3.1.2

Komunikasi Suara

Komunikasi Data

Apabila kita membahas masalah komunikasi data,


maka
pertama
kali
kita
harus
membahas
karakteristik
data
tersebut.
Pada
dasarnya
Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 42

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

pertukaran informasi menggunakan suatu seria


digital bit stream baik itu synchronous maupun
asynchronous. Bentuk gelombang suatu digital bit
stream memerlukan bandwith yang sangat tinggi
untuk dapat mereproduksi dengan menggunakan
beberapa teknik penggabungan langsung yang
standard. Supaya komunikasi data dapat digunakan
melalui frekuensi suara standard, maka perlu
digunakan modem. Modem memodulasi data stream
yang masuk dan mendemodulasi sinyal pada
outgoing port untuk mereproduksi digital bit stream di
bagian tujuan.
Sejumlah teknik modulasi dapat digunakan, masingmasing mempunyai karakteristik tersendiri untuk
aplikasi tertentu. Dua teknik dasar modulasi adalah
sebagai berikut:

Frequency Shift Keying (FSK)

Phase Shift Keying (PSK)

Transmission Medium
WB & S
Modem

WB & S
Modem

Data

Data
Modulated Data

MO dulate

DEM

o dulate

MO DEM

Gambar 19.

Prepared by Moch. Ridwan

Komunikasi Data

Halaman 43

Subdit Sintelis Kantor Pusat

3.2

Sistem Persinyalan Westrace

Sistem Power Supply


Sistem
power
supply yang
disediakan
oleh
Westinghouse untuk mendukung sistem persinyalan
terdiri dari:

3.3

Peralatan
changeover

kontrol

Inverter normal supplies

Alternator (Genset)

Batteries

Transformer

untuk

mains/standby

Centralized Traffic Control (CTC)


Sistem CTC pada persinyalan WESTRACE disediakan
untuk lintas Cirebon Kroya Yogyakarta dan
Tasikmalaya Banjar Kroya. CTC sistem persinyalan
WESTRACE terletak di Tasikmalaya, Cirebon,
Purwokerto, dan Yogyakarta.
Peralatan-peralatan yang ada di CTC terdiri dari
beberapa komponen berikut ini:

VME bus computers;

Enhanced Operator Interface (EOI);

Local Area Network (LAN);

Mimic Panel.

Perangkat telemetri terdiri dari komponen-komponen


pada CTC dan masing-masing Remote Field Station
(RFS), dan juga sistem transmisi bagi keduanya.
Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 44

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Perangkat RFS
berikut ini:

Sistem Persinyalan Westrace

terdiri

dari

Remote Field Station (RFS);

Local Control Panel (LCP);

Gambar 20.

3.3.1

komponen-komponen

Konfigurasi hardware CTC

VME bus computer

VME bus computer adalah merupakan interface


antara CTC dengan dunia luar. VME bus computer
memproses dan menyimpan indikasi dari stasiunstasiun, memproses instruksi yang diberikan oleh
operator.
Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 45

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

VME bus computers di setiap CTC berhubungan


dengan:

EOI computer melalui LAN;

RFS-RFS melalui sistem telemetri;

Mimic panel.

3.3.2

Enhanced Operator Interface (EOI)

Pengendalian jarak jauh peralatan persinyalan


dilakukan
oleh
seorang
operator
dengan
menggunakan EOI computer. Perintah yang diberikan
melalui EOI ditransmisikan ke VME bus computer
untuk selanjutnya diproses. EOI dapat menampilkan
baik layout detail stasiun maupun overview area. EOI
computer berhubungan dengan VME bus computer
melalui LAN sehingga dapat melakukan pengendalian
dan menampilkan indikasi-indikasi dari RFS-RFS.
EOI computer menyediakan akses untuk tiga mode
operasi, dimana masing-masing mode mempunyai
fasilitas-fasilitas
tertentu.
Mode-mode
operasi
tersebut adalah Operator, Supervisor, dan Maintainer.

3.3.3

Local Area Network (LAN)

LAN disediakan pada masing-masing CTC untuk


menampung pesan dan melewatkan file diantara
Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 46

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

peralatan. Peralatan-peralatan yang dihubungkan


oleh LAN adalah sebagai berikut:

VME bus computer

Operator EOI

Supervisor EOI

Maintainer EOI

LAN untuk masing-masing


berhubungan.

3.3.4

CTC

tidak

saling

Mimic Panel

Untuk masing-masing CTC disediakan overview


diagram yang menampilkan keseluruhan stasiun
yang dikendalikannya. Overview diagram tersebut
ditampilkan dalam suatu Mimic Panel.
Mimic panel secara terus menerus diperbaharui oleh
VME bus computer disetiap perubahan indikasi yang
dihasilkan dari interlocking melalui RFS dan
perangkat telemetri.

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 47

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

BAB V
PERENCANAAN DESAIN/MODIFIKASI
SISTEM PERSINYALAN WESTRACE
Dalam perencanaan suatu persinyalan elektronik terdapat
beberapa hal mendasar yang perlu diuraikan, antara lain
sistem penomoran peralatan luar, penempatan peralatan
luar, dan pengelompokan sistem.
5.1

Sistem Penomoran Peralatan Luar


Sistem penomoran peralatan luar dalam sistem
persinyalan Westrace dibagi dalam beberapa area
baik secara horizontal maupun secara vertikal.

1.

Pengelompokan area secara horizontal.


Cara penomoran peralatan luar sistem
persinyalan Westrace di emplasemen dibagi
dalam empat area (0, 1, 2, 3, dan 4) yang
berurutan ditentukan dari arah barat ke
timur dan dua area tambahan bila dipetak
jalan terdapat sinyal blok antara/intermediate
block (5, dan 6).

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 48

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

Barat

Timur

Apabila Terdapat
Intermediate Block
(Sinyal Blok)

Gambar 21. Pengelompokan Area Sistem Penomoran

2. Pengelompokan area secara vertikal menurut

nomor
sepurnya
dan
sebagai
acuan
menggunakan arah dari barat ke timur,
sehingga sebelah kiri sepur I (main line)
berurutan adalah genap, dan sebelah kanan
berurutan adalah ganjil.

5.1.1

Penomoran Track Circuit


1. Di petak jalan
a. Penomoran track circuit di petak
jalan dengan menggunakan angka 1
diikuti nomor area dimana track
circuit tersebut diletakkan untuk
jalan rel no. 1, menggunakan angka
2 diikuti nomor area dimana track
circuit tersebut diletakkan untuk
jalan rel no. 2, dan seterusnya dan
diakhiri dengan huruf T sebagai

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 49

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

petunjuk bahwa nomor


adalah nomor track circuit.

14BT

15T

16T

10AT

tersebut

10BT

14AT

b. Bilamana dalam suatu area terdapat


lebih dari satu track circuit, maka
penomoran track circuit ditentukan
sebagaimana butir a. yang masingmasing berurutan diikuti dengan
huruf A, B, C, dan seterusnya.

2. Di stasiun
Track circuit diberi nomor yang terdiri
dari dua angka dan diakhiri dengan
huruf T.
a. Angka puluhan menunjukkan nomor
jalan rel yang bersangkutan.
1) Angka ganjil digunakan untuk
sepur utama (main line) dan
sepur-sepur di sebelah kanan
yang sejajar dengan sepur utama.
2) Angka genap digunakan untuk
sepur-sepur di sebelah kiri yang
sejajar dengan sepur utama.
3) Angka
satuan
menunjukkan
nomor area dimana track circuit
tersebut diletakkan.
Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 50

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

b. Angka satuan menunjukkan nomor


area dimana track circuit tersebut
diletakkan.

5.1.2

Penomoran Sinyal
1. Di petak jalan
Apabila di petak jalan terdapat sinyal
maka penomoran sinyal tersebut dapat
dilakukan dengan menggunakan awalan
B yang menunjukkan bahwa sinyal
tersebut adalah merupaka sinyal blok
antara
(intermediate
block)
yang
kemudian diikuti dengan nomor track
circuit yang ada di depannya.

B16
14BT
14AT

15T
MB15

2.

MB16
16T

10AT

B15

Di stasiun
Penomoran sinyal-sinyal di stasiun
dapat
dilakukan
dengan
menggunakan
awalan
J
yang
menunjukkan bahwa sinyal tersebut
adalah
sinyal
jalan,
L
yang
menunjukkan bahwa sinyal tersebut
adalah sinyal langsir, dan sebagainya
yang kemudian diikuti dengan nomor
track circuit dimana sinyal tersebut
berada.

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 51

10BT

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

Apabila dalam satu track circuit


terdapat lebih dari satu sinyal, maka
nomor sinyal tersebut ditambah
dengan huruf A, atau B.

JENIS SINYAL

PENOMORAN SINYAL

Sinyal Muka Jalan

MJ [Nomor track circuit]

Sinyal Jalan (sinyal masuk, sinyal


berangkat)

J [Nomor track circuit]

Sinyal Jalan yang dilengkapi


dengan sinyal langsir

JL [Nomor track circuit]

Sinyal langsir

L [Nomor track circuit]

Sinyal Blok Antara (Intermediate


Block)

B [Nomor track circuit]

Sinyal Muka Blok Antara

MB [Nomor track circuit

Tabel 7. Tabel Penomoran Sinyal

5.1.3

Penomoran Wesel
1. Wesel-wesel
diberi
nomor
sesuai
dengan nomor track circuit dimana
wesel tersebut berada.
2. Apabila dalam satu track circuit
terdapat lebih dari satu wesel, maka
penomoran wesel harus diikuti oleh
huruf A, B, dan seterusnya.

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 52

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

22T
11T
11B

12T

13B

11A

13A
32T

5.2

13T

Penempatan Sinyal
Dalam pengendalian operasi kereta api, sinyal
merupakan peralatan luar yang berperan sangat
penting sebagai media komunikasi antara operator
pengendali perjalanan kereta api dan masinis yang
mengemudikan kereta api. Dengan perantara aspek
yang ditunjukkan oleh sinyal tersebut, masinis
dapat mengetahui kapan ia harus menambah
kecepatan kereta apinya, mengurangi kecepatan
kereta
apinya,
atau
kapan
ia
harus
memberhentikan kereta apinya.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka dalam
melaksanakan perencanaan persinyalan elektrik
penempatan sinyal harus disesuaikan dengan jarak
tampak sinyal tersebut dan sedapat mungkin
ditempatkan di tempat yang bebas pandang
sehingga aspek yang ditunjukkan dapat dilihat oleh
masinis dengan jelas. Dalam penentuan jarak
tampak suatu sinyal dipengaruhi oleh kecepatan
dan karakteristik pengereman kereta api serta
kondisi geografis jalan kereta api. Semakin cepat
suatu kereta api maka semakin lama waktu yang
diperlukan oleh kereta api untuk melakukan proses
pengereman sehingga jarak tampak suatu sinyal
akan bertambah. Dengan pertimbangan hal-hal
tersebut
diharapkan
masinis
dapat

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 53

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

memberhentikan kereta apinya pada jarak + 50


meter di depan sinyal yang menunjukkan indikasi
tidak aman (aspek merah). Pada jarak ini masinis
masih dapat melihat dengan mudah perubahan
aspek sinyal yang ditunjukkan oleh sinyal yang
bersangkutan.
Agar supaya kereta api dapat diberhentikan dengan
aman pada jarak + 50 meter di depan sinyal dan
aspek lampu sinyal masih dapat dilihat oleh
masinis dengan jelas, maka jarak tampak sinyal
harus memenuhi syarat sebagai berikut:
V max

JT = JR + JPB + 50

JPB

JR

50 m

JT
JR
JPB
JP

= Jarak tampak sinya


= Jarak reaksi
= Jarak pengereman b
= Jarak pengereman

JT = JP

Gambar 22. Jarak tampak sinyal

5.2.1

Penentuan Letak Sinyal


1. Sinyal Masuk
Sejalan dengan semakin bertambahnya
kecepatan kereta api, maka dalam
perencanaan
persinyalan
listrik,

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 54

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

penentuan letak sinyal masuk adalah


tidak boleh kurang dari 350 meter dari
wesel terujung di belakang sinyal masuk
yang bersangkutan.
Dalam Undang-Undang Perkereta Apian
pasal 51 ayat 3 dan pasal 105 ayat 1
ditetapkan bahwa penempatan sinyal
masuk harus sedemikian rupa sehingga
apabila di stasiun terdapat langsiran
yang melewati wesel terujung menuju ke
arah sinyal tersebut, maka langsiran
tidak boleh melampaui jarak 50 meter di
belakang sinyal masuk tersebut.

50 m

350 m
Berdasarkan
ketentuan-ketentuan
tersebut di atas, maka penempatan
sinyal masuk di suatu stasiun diatur
sebagai berikut:
a. Apabila wesel terujung di stasiun
merupakan wesel yang dilalui kereta
api masuk dari arah depan, maka
sinyal masuk harus ditempatkan 350
meter dari ujung wesel tersebut.
Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 55

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

b. Apabila wesel terujung di stasiun


merupakan wesel yang dilalui kereta
api masuk dari arah belakang, maka
sinyal masuk harus ditempatkan 350
meter dari patok bebas wesel
tersebut.
c. Apabila di stasiun tidak terdapat
wesel yang akan dilalui kereta api
masuk dan hanya terdapat tempat
pemberhentian, maka sinyal masuk
harus ditempatkan 350 meter dari
ujung pemberhentian yang akan
dilalui kereta api masuk.

2. Sinyal Berangkat
Sinyal berangkat dipasang pada sepur
kereta api yang digunakan sebagai
tempat mulai berangkatnya kereta api.
a. Apabila wesel pertama yang akan
dilalui kereta api adalah wesel yang
dilalui kereta api dari arah depan,
maka penempatan sinyal berangkat
adalah 20 meter dari ujung lidah
wesel yang bersangkutan.
b. Apabila wesel pertama yang akan
dilalui kereta api adalah wesel yang
dilalui kereta api dari arah belakang,
maka penempatan sinyal berangkat

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 56

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

adalah 10 meter dari ujung lidah


wesel yang bersangkutan.
c. Sinyal-sinyal
berangkat
yang
terdapat pada salah satu sisi
emplasemen
harus
ditempatkan
sedemikian rupa sehingga sinyalsinyal tersebut dapat terletak dalam
satu garis lurus.
d. Apabila
di
emplasemen
tidak
terdapat wesel yang akan dilalui
kereta api dan hanya dilengkapi
tempat
pemberhentian,
maka
penempatan sinyal berangkat adalah

50
meter
dari
tempat
pemberhentian kereta api tersebut.

3. Sinyal Blok
Sinyal blok dipasang di titik tempat
masuknya kereta api ke dalam blok.
Apabila di tempat tersebut telah
dipasang sinyal berangkat atau sinyal
masuk, maka sinyal blok tidak perlu
dipasang karena dalam keadaan ini
sinyal berangkat atau sinyal masuk yang
bersangkutan berfungsi juga sebagai
sinyal blok.

4. Sinyal Langsir

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 57

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

Sinyal langsir ditempatkan pada sepur


langsir atau sepur kereta api di tempat
dimana gerakan langsir tersebut dimulai.
a. Apabila wesel pertama yang
dilalui gerakan langsir adalah
yang dilalui dari arah depan,
sinyal langsir dipasang pada
minimum 3 meter dari ujung
wesel yang bersangkutan.

akan
wesel
maka
jarak
lidah

b. Apabila wesel pertama yang akan


dilalui gerakan langsir adalah wesel
yang dilalui dari arah belakang,
maka sinyal langsir dipasang pada
jarak minimum 7 meter dari patok
bebas wesel yang bersangkutan.
c. Apabila gerakan langsir dilakukan di
sepur kereta api, maka sinyal langsir
dapat dipasang pada tiang sinyal
berangkat. Dalam hal demikian
aspek merah untuk sinyal langsir
ditunjukkan oleh sinyal berangkat
yang bersangkutan.

5. Sinyal Muka
Sinyal muka dipasang pada jarak
minimum 900 meter dari sinyal masuk.
Apabila
karena
kondisi
geografis
sehingga menyebabkan jarak tampak
sinyal masuk yang terkait dengan sinyal
muka tidak memenuhi syarat yang
ditentukan, maka penempatan sinyal
Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 58

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

muka dapat digeser lebih jauh dari jarak


tersebut di atas.

5.2.2 Penentuan Letak Antara Dua Sinyal Yang


Berurutan
Agar laju jalannya kereta api dapat lancar
dan tidak tersendat-sendat, maka jarak
antara dua sinyal yang dipasang berurutan
harus
disesuaikan
dengan
jarak
pengereman kereta api pada kecepatan
maksimum yang diperkenankan di lintas
yang bersangkutan. Jarak tersebut secara
praktis ditetapkan bahwa jarak antara dua
sinyal yang dipasang berurutan adalah 700
meter dengan toleransi antara 630 1050
meter, tergantung kondisi geografis jalan rel
diantara kedua sinyal tersebut.

5.3

Pembagian Sistem
Pembagian sistem suatu persinyalan elektrik dalam
perencanaan persinyalan elektrik dibagi menjadi
tiga kelompok, yaitu sistem yang terdapat:
1.

Di emplasemen

2.

Di petak jalan

3.

Di perlintasan sebidang

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 59

Subdit Sintelis Kantor Pusat

5.3.1

Sistem Persinyalan Westrace

Di Emplasemen
1. Interlocking
a. Rute
1) Persyaratan untuk rute kereta
api, rute darurat dan rute langsir
dinyatakan
dalam
tabel
interlocking.
2) Rute dapat terbentuk dan sinyal
akan
dapat
menunjukkan
indikasi aman apabila:

Prepared by Moch. Ridwan

Wesel-wesel
yang
bersangkutan telah terkunci
pada
kedudukan
yang
dikehendaki.

Sinyal yang berlaku untuk


arah yang berlawanan telah
terkunci pada kedudukan
tidak aman.

Bagian-bagian
track
yang
termasuk dalam rute yang
bersangkutan
dalam
kedudukan aman.

Petak blok dalam kedudukan


aman (untuk sinyal keluar)

Overlap
aman

dalam

kedudukan

Halaman 60

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

Penjaga
samping
telah
terkunci dalam kedudukan
sebagaimana mestinya.

3) Rute kereta api dan rute darurat


dimulai dari sinyal utama (sinyal
masuk, sinyal berangkat, atau
sinyal blok). Rute-rute tersebut
berakhir pada sinyal utama
berikutnya atau pada sepur mati
(badug).
4) Rute langsir dimulai dari sinyal
langsir atau sinyal langsir yang
tergabung pada sinyal masuk
atau
sinyal
berangkat
dan
sebagai tujuan dapat berupa
sinyal langsir atau sinyal utama,
sepur mati, marka batas langsir
atau suatu daerah yang tidak
dilengkapi dengan sinyal.
5) Rute langsir dan rute darurat
dilengkapi dengan berth track
dimana sinyal langsir atau sinyal
darurat
akan
menunjukkan
indikasi aman apabila berth track
tersebut telah terduduki oleh
bakal pelanting.

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 61

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

6) Untuk
stasiun
kecil
dapat
dilengkapi dengan fasilitas rute
otomatis sehingga apabila stasiun
tersebut akan terjadi persilangan,
pembentukan
rute
dapat
dilakukan sebelum kedatangan
kereta api, dan sinyal masuk
yang bersangkutan akan berubah
menunjukkan aspek hijau secara
otomatis oleh kereta api yang
memasuki
stasiun
tersebut
terlebih dahulu.

b. Luncuran
1) Luncuran adalah bagian jalan rel
yang terletak di belakang sinyal
jalan dengan panjang tertentu
dimana suatu sinyal jalan tidak
akan
dapat
menunjukkan
indikasi aman apabila bagian
jalan rel tersebut tidak aman.
2) Luncuran
diperlukan
untuk
semua rute kereta api dimana
persyaratan
yang
diperlukan
tertera dalam tabel interlocking.
3) Pada setiap saat harus diberi
kemungkinan
untuk
dapat
merubah luncuran rute kereta
api yang telah terbentuk, tanpa
menyebabkan sinyal ditempat

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 62

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

asal rute kembali menjadi tidak


aman.
4) Luncuran rute kereta api akan
terhapus secara otomatis apabila
waktu lambat selama 30 90
detik telah terlampaui.

c. Penjaga samping
1) Penjaga samping adalah suatu
cara untuk memisahkan suatu
jalan yang sedang digunakan oleh
suatu gerakan bakal pelanting
dengan maksud agar gerakan
tersebut terhindar dari bahaya
atau pengaruh yang ditimbulkan
oleh gerakan bakal pelanting
yang sedang berlangsung di jalan
lain yang saling terhubung.
2) Penjaga samping dapat dilakukan
dengan menggunakan :

Wesel

Perintang

Sinyal

Track Circuit

3) Untuk rute kereta api, penjaga


samping harus dapat terdeteksi
secara berkesinambungan.

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 63

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

4) Untuk rute langsir dan rute


darurat
tidak
memerlukan
adanya pendeteksian terhadap
penjaga samping.

d. Sinyal
1) Aspek sinyal yang dipergunakan
harus sesuai dengan aspek sinyal
yang telah baku.
2) Sistem harus dilengkapi dengan
pengaturan
tegangan
lampu
sinyal sehingga pada malam hari
tegangan lampu sinyal dapat
dikurangi
untuk
mencegah
terlalu terangnya cahaya yang
dipancarkan oleh sinyal-sinyal di
emplasemen yang bersangkutan.
3) Semua sinyal utama kecuali
sinyal langsir dan sinyal darurat
dilengkapi
dengan
filament
switching
sehingga
apabila
filamen utama lampu sinyal yang
bersangkutan putus maka aspek
sinyal akan ditunjukkan oleh
filamen cadangan lampu sinyal
yang bersangkutan dan putusnya
filamen utama lampu sinyal
tersebut akan ditunjukkan oleh
indikator
pada
meja
pengendalian.

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 64

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

4) Semua sinyal pembantu dan


sinyal pelengkap tidak dilengkapi
dengan filament switching dan
tidak dilengkapi juga dengan
filamen cadangan lampu sinyal.
5) Untuk sinyal langsir dan sinyal
darurat,
aspek sinyal akan
kembali menunjukkan indikasi
tidak aman apabila dalam waktu
90 detik bakal pelanting belum
melewati
sinyal
yang
bersangkutan.

e. Wesel
1) Pelayanan mesin penggerak wesel
dapat dilakukan secara otomatis
yang
terpusat
pada
meja
pengendalian.
2) Pada wesel terlayan tempat yang
dilengkapi
dengan
pembebas
kunci dan terletak pada rute
dideteksi dalam kedudukan biasa
dengan menggunakan pendeteksi
kedudukan wesel.
3) Pada wesel terlayan tempat yang
dilengkapi dengan perintang dan
terletak pada rute dideteksi
dalam kedudukan biasa dengan
menggunakan
pendeteksi
kedudukan wesel.
Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 65

Subdit Sintelis Kantor Pusat

f.

Sistem Persinyalan Westrace

Pembentukan rute dan penghapusan


rute
1) Pembentukan rute, pelayanan
wesel dan pelayanan peralatanperalatan interlocking lainnya
dilakukan dengan jalan menekan
serempak dua tombol pada meja
pengendalian.
2) Penghapusan rute yang telah
terbentuk
dapat
dilakukan
dengan beberapa cara, yaitu:

Otomatis
kereta api

oleh

Penghapusan
manual

pergerakan
rute

secara

Penghapusan
rute
secara
manual
dapat
dilakukan
secara langsung apabila rute
yang telah terbentuk belum
diduduki oleh kereta api atau
approach
track
belum
diduduki kereta api untuk
rute masuk.
Penghapusan
rute
dapat
dilakukan
dengan
waktu
lambat 30 90 detik dimana
aspek sinyal akan kembali
menunjukkan indikasi tidak
aman tetapi rute masih tetap
Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 66

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

dipertahankan sampai waktu


lambat
yang
ditentukan
terlampaui.
3) Pembentukan rute berurutan dapat
digunakan pada jalur utama yang
lurus. Apabila fasilitas pembentuan
rute berurutan ini digunakan, maka
perubahan aspek sinyal masuk dan
sinyal berangkat tergantung pada
letak kereta api sebagaimana prinsip
yang digunakan pada sinyal blok
otomatis.
Pembentukan
rute
berurutan tersebut dapat dilakukan
dengan menekan tombol urutan rute
(TUR) yang akan bercahaya apabila
tombol
tersebut
sedang
dipergunakan. Apabila penggunaan
rute berurutan tersebut sudah tidak
diperlukan kembali, maka TUR dapat
ditekan kembali sehingga rute akan
terhapus dan indikator TUR akan
padam.

2. Panjang efektif sepur kereta api


a. Panjang efektif sepur kereta api
adalah jarak antara batas track
circuit yang terjauh dengan sinyal
berangkat ke arah berlawanan dan
sinyal berangkat yang bersangkutan
Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 67

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

dimana apabila sepur tersebut


diduduki oleh kereta api, maka
perjalanan kereta api di sepur
lainnya tidak terganggu oleh kereta
api tersebut.
b. Pada
waktu
merencanakan
pembagian
track
circuit
dan
penempatan sinyal berangkat di
suatu
emplasemen
diusahakan
sedemikian rupa sehingga pada
emplasemen
tersebut
minimum
terdapat dua sepur kereta api yang
panjangnya
tidak
kurang
dari
rangkaian kereta api terpanjang yang
melewati lintas yang bersangkutan.
c. Panjang efektif sepur kereta api
untuk kedua jurusan belum tentu
sama tergantung pada dimana sinyal
berangkat dan track circuit terjauh
tersebut diletakkan.

5.3.2

Di Petak Jalan
Untuk mengendalikan perjalanan kereta api
di petak jalan perlu adanya pengamanan
perjalanan kereta api di petak jalan tersebut.
Apabila jarak tempuh petak jalan tersebut
terlalu jauh, maka petak jalan tersebut
dapat dibagi menjadi beberapa blok dimana
perjalanan kereta api di blok yang satu
dengan blok lainnya diamankan dengan
sinyal blok. Jadi yang dimaksud dengan blok

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 68

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

adalah suatu bagian jalan rel dengan


panjang tertentu dimana perjalanan kereta
api di bagian jalan tersebut diatur oleh
suatu sinyal blok atau sinyal kabin atau
oleh kedua-duanya.
Pembagian jenis blok didasarkan pada dua
hal, yaitu:
1. Berdasarkan cara pemberian ijin masuk
ke dalam blok
a. Blok tertutup, adalah suatu blok
yang menganut prinsip bahwa untuk
setiap kereta api yang akan masuk ke
dalam blok harus diberi ijin oleh
stasiun terdekat yang merupakan
batas blok yang bersangkutan. Pada
kondisi normal sinyal menunjukkan
aspek merah.

b. Blok terbuka, adalah suatu blok yang


menganut prinsip bahwa ijin yang
diberikan
stasiun
untuk
memberangkatkan kereta api yang
akan masuk ke dalam blok berlaku
juga untuk kereta api lainnya yang
berjalan searah secara berurutan.
Untuk kereta api berikutnya yang
berjalan berlawanan arah dengan
perjalanan kereta api sebelumnya,
maka
pemberian
ijin
harus
dilakukan
kembali.
Pada
blok

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 69

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

terbuka ini, pada kondisi normal


sinyal menunjukkan aspek hijau.

2. Berdasarkan sistem
a. Sistem blok manual, adalah suatu
blok atau sederetan blok berurutan
yang dilindungi oleh sinyal blok yang
pelayanannya
dilakukan
secara
manual yang sebelumnya dilakukan
pertukaran
informasi
dengan
menggunakan telepon atau alat
komunikasi lainnya.
b. Sistem
blok
manual
dengan
pengamat, adalah suatu blok atau
sederetan blok yang berurutan yang
dilindungi oleh sinyal blok dimana
pelayanannya
dilakukan
sebagaimana blok manual dan
keadaan
blok
tersebut
diamati
dengan
menggunakan
alat
pendeteksi sepur.
c. Sistem
blok
otomatis,
adalah
sederetan blok yang berurutan dan
dilindungi dengan sinyal blok yang
bekerja secara otomatis karena
gerakan
kereta
api
yang
bersangkutan.
d. Sistem
blok
dengan
pengubah
jurusan, adalah sistem blok otomatis
yang berlaku untuk dua jurusan.
Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 70

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

(digunakan pada bidirectional double


track)

Dalam menentukan jenis blok yang akan


digunakan, perlu diperhatikan beberapa hal
berikut ini:
1. Pola operasi kereta api
2. Jumlah kereta api yang perlu dijalankan
dalam satu hari
3. Selang waktu (headway) antar dua kereta
api yang berurutan
4. Waktu pemeliharaan
prasarana lainnya

jalan

rel

dan

Berdasarkan jarak antara dua stasiun dan


sistem persinyalan yang digunakan serta
waktu tempuh dari satu stasiun menuju ke
stasiun berikutnya, maka dapat diketahui
jumlah kereta api per hari yang dapat
melewati petak jalan tersebut dengan
menggunakan rumus Scott berikut ini:

N=

1440
T+C1+C2

Dimana:
N

Prepared by Moch. Ridwan

= Jumlah kereta api dalam satu


hari / Kapasitas Lintas (KA/hari)

Halaman 71

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

T
= Waktu tempuh rata-rata kereta api
(menit)
C1

= Waktu pelayanan blok (menit)

C2
= Waktu pelayanan perangkat sinyal
(menit)

= Faktor efisiensi (0,5 0,75)

Rumus tersebut didasarkan pada operasi


kereta api pada satu jalan rel yang
digunakan satu arah pada suatu lintas
walaupun pada kenyataannya rumus ini
dapat digunakan untuk operasi kereta api
yang berjalan pada satu jalan rel yang
digunakan dua arah. Apabila petak jalan
tersebut dianggap terlalu panjang, maka
petak jalan tersebut dapat dibagi menjadi
dua petak blok dengan memasang sinyal
blok antara di tengah petak jalan antara dua
stasiun tersebut sehingga waktu tempuh
perjalanan
kereta
api yang
berjalan
berurutan dalam blok tersebut akan
menjadi setengahnya dan waktu pelayanan
blok akan menjadi setengahnya juga.
Penentuan letak sinyal blok pada umumnya
lebih jauh dari jarak pengereman sehingga
kereta api yang berjalan dengan kecepatan
maksimum yang diijinkan pada petak jalan
yang bersangkutan dapat diberhentikan
dalam blok tersebut.

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 72

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

Vmax
Vi

JP

JP

Kapasitas lintas hasil perhitungan dengan


menggunakan rumus scott tersebut sifatnya
adalah merupakan kapasitas lintas teoritis
saja, sedangkan kapasitas lintas sebenarnya
yang merupakan kapasitas lintas praktis
besarnya adalah 70% dari nilai kapasitas
teoritis. Apabila jumlah kereta api yang
melewati suatu petak jalan dalam sehari
telah melampaui nilai kapasitas lintas
praktisnya, maka kapasitas lintas petak
jalan tersebut dikatakan telah jenuh.

5.3.3

Di Perlintasan Sebidang
Untuk mencegah kecelakaan diperlintasan
yang paling ideal adalah dengan membuat

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 73

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

perlintasan tersebut tidak sebidang. Tetapi


pada
kenyataannya
sangat
banyak
perlintasan yang sebidang sehingga tidak
mungkin semua perlintasan tersebut dibuat
tidak
sebidang.
Untuk
menghindari
terjadinya kecelakaan antara kereta api
dengan pengguna jalan raya maka perlu
adanya
perangkat
pelindung
untuk
perlintasan sebidang tersebut.
Jenis perangkat pelindung perlintasan
sebidang yang diperlukan tergantung pada
jumlah kereta api yang melewati perlintasan
tersebut, kepadatan lalu-lintas jalan raya,
dan jarak tampak perlintasan sebidang yang
bersangkutan. Sehubungan dengan hal
tersebut,
maka
untuk
menentukan
perlintasan mana yang perlu dilengkapi
dengan perangkat pelindung, sebelumnya
perlu dilakukan perhitungan hal-hal berikut
ini:
1. Jumlah perjalanan kereta api yang
melewati perlintasan tersebut dalam
satu hari atau satu jam.
2. Jumlah kepadatan lalu-lintas jalan raya
pada
perlintasan
sebidang
yang
bersangkutan dalam satu hari atau
dalam satu jam.
3. Jarak tampak perlintasan sebidang yaitu
suatu jarak dari perlintasan yang harus
bebas pandang terhadap kereta api yang
datang, diukur dari titik perpotongan
sumbu jalan rel terluar dan sumbu jalan
Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 74

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

5m

Bebas Pandang

Perlintasan sebidang

raya, dilihat dari sumbu jalan raya yang


berjarak 5 meter dari sumbu jalan rel
terluar pada ketinggian 1,2 meter dari
permukaan jalan raya.

5m

Sumbu jalan rel

Bebas Pandang
Gambar 23.
sebidang

Jarak

tampak

perlintasan

Jarak Tampak

Perlintasan sebidang harus dilengkapi


dengan lampu silang datar apabila keadaan
perlintasan yang bersangkutan adalah
sebagai berikut:
1. Kepadatan lalu-lintas jalan raya tiap hari
telah
mencapai
angka-angka
Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 75

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

sebagaimana
tabel 8.

yang

ditunjukkan

pada

2. Frekuensi kecelakaan pada perlintasan


tersebut selama tiga tahun terakhir
mencapai tiga kali atau lebih, atau
selama dua tahun sebelumnya telah
mencapai dua kali atau lebih sehingga
diperkirakan dengan memasang lampu
silang datar frekuensi kecelakaan dapat
dikurangi atau jika mungkin terjadinya
kecelakaan dapat dihindari.

Jumlah Perjalanan Kereta


Api
Tiap Hari

Jarak Tampak Perlintasa


< 50 meter

>5

< 15

4000 6300

450

15 30

3700 6200

420

30 50

3300 6000

380

50 100

2500 5200

300

100 150

2300 4000

280

150 200

2100 3200

260

200 300

2000 2500

240

> 300

Prepared by Moch. Ridwan

Kepadatan Lalu-lintas J
Tiap Hari

2000

Halaman 76

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

Tabel 8. Tabel acuan pemasangan lampu


silang datar pada perlintasan
sebidang.

3. Di dekat perlintasan terdapat sekolah,


tempat umum lainnya atau tempat yang
mempunyai kemungkinan besar untuk
terjadi kecelakaan maka perlintasan
tersebut harus dipasang lampu silang
datar.

Perlintasan sebidang juga harus dilengkapi


dengan pintu perlintasan apabila keadaan
perlintasan
sebidang
tersebut
adalah
sebagai berikut:
1. Perlintasan yang lebarnya beberapa
meter
dan
berdasarkan
Peraturan
Pemerintah Lalu-Lintas Jalan, mobil
diperbolehkan berjalan pada jalan
tersebut dan jarak tampak perlintasan
tersebut tidak memenuhi persyaratan
yang ditentukan.
2. Kepadatan lalu-lintas jalan raya tiap jam
telah mencapai angka yang dibakukan
untuk tiap jumlah perjalanan kereta api
sebagaimana yang tercantum pada tabel
9.
3. Lampu silang datar yang terpasang pada
perlintasan tersebut hanya dapat terlihat
pada jarak kurang dari 45 meter (22
Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 77

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

meter
untuk
jalan
raya
yang
memungkinkan mobil dapat berjalan
dengan kecepatan 30 km/jam).

Jumlah Perjalanan Kereta Api


Per Jam

Tabel 9.

Kepadatan Lalu-linta
Per Jam

3 10

2.400

10 15

2.200

15 20

1.800

20 25

1.400

25 30

1.100

30 40

750

40 50

500

Di atas 50

360

Tabel acuan pemasangan pintu


perlintasan pada perlintasan
sebidang.

4. Di dekat perlintasan tersebut terdapat


perlintasan yang melintasi jalan rel
lainnya yang sejajar dengan jalan rel
pertama
sehingga
karena
kondisi
sekeliling perlintasan tersebut yang
Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 78

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

khusus kemungkinan besar dapat terjadi


kecelakaan.

Suatu perlintasan harus diubah menjadi


perlintasan yang tidak sebidang apabila
kepadatan lalu-lintas jalan raya yang
tertahan akibat adanya penutupan pintu
perlintasan
telah
mencapai
10.000
kendaraan jam, yang dihitung berdasarkan
rumus berikut ini:

Q
=
P
x
T

Dimana:
Q

Kepadatan lalu-lintas jalan raya


perhari yang tertahan akibat
penutupan
pintu
perlintasan
(Kendaraan Jam)

Kepadatan lalu-lintas jalan raya


perhari (kendaraan)

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 79

Subdit Sintelis Kantor Pusat

5.4

Sistem Persinyalan Westrace

Jumlah waktu penutupan pintu


perlintasan perhari (jam)

Prosedur Modifikasi
Sistem persinyalan WESTRACE didesain sedemikan
rupa dengan memberikan berbagai feature sehingga
dapat mempermudah engineer persinyalan, baik itu
software engineer maupun hardware engineer dapat
melakukan modifikasi apabila terjadi perubahan
layout suatu stasiun. Dalam melakukan modifikasi
sistem
persinyalan
WESTRACE
diperlukan
beberapa dokumen yang digunakan sebagai acuan
dalam pelaksanaan modifikasi. Dokumen-dokumen
tersebut antara lain adalah sebagai berikut:
a.

Station Interface Circuit, yang terdiri dari:


Track Plan;
Signal Aspect Plan;
Interlocking Control Table;
LCP Layout;
Cabling Plan;
Dan sebagainya.

b.

Station LCP and Communication Circuit Book

c.

CTC Circuit Book

d.

Station GCSS Revision 3

e.

Station Interlogic ver 3.1e

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 80

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

Pelaksanaan
modifikasi
sistem
persinyalan
WESTRACE didasarkan pada perubahan kondisi
sistem persinyalan di stasiun, baik itu perubahan
layout suatu stasiun maupun perubahan peralatan
persinyalan di lapangan. Pelaksanaan modifikasi
juga
dilakukan
apabila
terjadi
perubahan
operasional perjalanan kereta api di suatu stasiun.
Modifikasi sistem persinyalan WESTRACE meliputi
obyek-obyek sebagai berikut:

Perubahan
instalasinya;

peralatan

luar

termasuk

Modifikasi terminasi baik di equipment room


maupun di LEB;

Perubahan layout LCP;

Modifikasi non-vital logic pada LCP;

Modifikasi konfigurasi WESTRACE system;

Modifikasi vital logic pada WESTRACE system;

Modifikasi layout mimic panel di CTC;

Modifikasi non-vital logic pada mimic panel;

Modifikasi software CTC (geographical layout)


dan train berth number pada komputer EOI.

Langkah-langkah dalam melaksanakan modifikasi


sistem persinyalan WESTRACE dapat dilakukan
sesuai dengan gambar diagram alir pelaksanaan
desain/modifikasi sistem persinyalan WESTRACE
yang ditunjukkan pada Gambar 24.

Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 81

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Sistem Persinyalan Westrace

Signalling
Plan

Signalling
Principles
Signalling
Team

Write
Layout Data

Prepare
simulator
program

Error

Prepare I/L rules


(spech. app. s/w)

Signalling
Engineer
Design s/w
Error

Check
Data

Check
Design

Enter Data &


s/w to system

Check Rules
& Data via
Simulator

Generate
Application s/w

System
Integration
Test

Error

Error

Error

Check
S/W

Function
Check to
Control Table

Commision

Prepared by Moch. Ridwan

Sign "Job"
to use

Halaman 82

Check
Simulator

Subdit Sintelis Kantor Pusat

Gambar 24.

Sistem Persinyalan Westrace

Diagram alir proses


desain/modifikasi sistem
persinyalan WESTRACE

Dalam pelaksanaan desain/modifikasi sistem


persinyalan WESTRACE perlu juga diperhitungkan
kebutuhan modul input/output supaya dapat
mengendalikan
peralatan
persinyalan
yang
terpasang di suatu stasiun. Setiap modul
input/output mempunyai kapasitas maksimum
tertentu dan dalam satu sistem interlocking
persinyalan WESTRACE untuk mengendalikan satu
stasiun diperlukan lebih dari satu modul
input/output. Pada tabel 10 ditunjukkan kapasitas
maksimum modul input/output dan jumlah
input/output
yang
diperlukan
untuk
mengendalikan peralatan persinyalan.

Jenis
Kapasitas Maksimum Peralatan Persinyalan
Juml. Inpu
I/O Module
Input
Output
Yang Dikendalikan
VPIM 50 VROM 5
VPIM 50
VROM 50
NVC

12
48

8
64

Sinyal Berangkat
Sinyal Masuk
Sinyal Langsir
Wesel
Electric Lock
Track Circuit
Track Block
Level Crossing
Route

Tabel 10. Tabel kapasitas maksimum modul


input/output dan jumlah input/output yang
Prepared by Moch. Ridwan

Halaman 83

2
3
1
3
1
6

2
4
1
3
1
5
2

Subdit Sintelis Kantor Pusat

diperlukan
persinyalan.

Prepared by Moch. Ridwan

Sistem Persinyalan Westrace

untuk

mengendalikan

peralatan

Halaman 84