Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN
Seperti diketahui bersama dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
dewasa ini, perkembangan di segala bidang kehidupan yang membawa kesejahteraan
bagi umat manusia, pada kenyataannya juga menimbulkan berbagai akibat yang tidak
diharapkan.

Salah satu diantara akibat yang tidak diharapkan tersebut adalah

meningkatnya kuantitas maupun kualitas mengenai cara atau teknik pelaksanaan tindak
pidana, khususnya yang berkaitan dengan upaya pelaku tindak pidana dalam usaha
meniadakan sarana bukti, sehingga tidak jarang dijumpai kesulitan bagi para petugas
hukum untuk mengetahui korban dan atau pelakunya.
Selain itu kemajuan teknologi yang dijumpai pada sarana-sarana angkutan baik
udara, laut maupun darat yang menggunakan mesin-mesin modern dan canggih sehingga
mampu menempuh dalam ruang dan waktu dengan kecepatan yang sangat tinggi dan
daya angkut yang besar, disamping itu juga pembangunan gedung-gedung besar dan
bertingkat di kota-kota besar, seperti perkantoran, pasar dan kompleks pertokoan,
gedung-gedung pertunjukan dan hiburan, hotel-hotel, pabrik-pabrik dan sebagainya; yang
semuanya mempunyai resiko terhadap adanya kemungkinan terjadinya musibah
kecelakaan massal atau kebakaran, demikian pula persenjataan perang dan bencana alam
yang akan dapat menghancurkan semua benda dan manusia yang menjadi korbannya
sehingga sulit atau bahkan tidak dapat dikenali lagi. Disitulah semua, identifikasi
mempunyai arti penting baik ditinjau dari segi untuk kepentingan forensik maupun nonforensik.
Identifikasi forensik merupakan salah satu upaya membantu penyidik menentukan
identitas seseorang yang identitasnya tidak diketahui baik dalam kasus pidana maupun
kasus perdata. Penentuan identitas seseorang sangat penting bagi peradilan karena dalam
proses peradilan hanya dapat dilakukan secara akurat bila identitas tersangka atau pelaku
dapat diketahui secara pasti. Identifikasi forensik dapat dilakukan dengan metode-metode
antara lain yaitu metode visual yang dilakukan dengan memperlihatkan korban kepada
anggota keluarga atau teman dekatnya untuk dikenali, pemeriksaan dokumen,

pemeriksaan perhiasan yang dikenakan korban, pemeriksaan pakaian, identifikasi medis


meliputi pemeriksaan dan pencarian data bentuk tubuh, tinggi dan berat badan, ras, jenis
kelamin, warna rambut, warna tirai mata, cacat tubuh/kelainan khusus, jaringan parut
bekas operasi/luka, tato (rajah).
Selain metode pemeriksaan diatas terdapat juga pemeriksaan serologis dilakukan
untuk menentukan golongan darah korban dari bahan darah/bercak darah, rambut, kuku,
atau tulang. Pemeriksaan sidik jari dengan membuat sidik jari langsung dari jari korban
atau pada keadaan di mana jari telah keriput, sidik jari dibuat dengan mencopot kulit
ujung jari yang mengelupas dan mengenakan pada jari pemeriksa yang sesuai lalu
dilakukan pengambilan sidikjari. Pemeriksaan gigi meliputi pencatatan data gigi
(odontogram) dan rahang secara manual, radiologis, dan pencetakan gigi dan rahang.
Odontogram memuat data jumlah, bentuk, susunan, tambalan, protesa gigi. Metode
lainnya yang dapat digunakan adalah metode eksklusi dilakukan jika terdapat korban
yang banyak dengan daftar tersangka korban pasti seperti pada kecelakaan masal
penumpang pesawat udara, kapal laut (melalui daftar penumpang). Bila semua korban
kecuali satu yang terakhir telah dapat ditentukan identitasnya dengan metoda identifikasi
lain, maka korban yang terakhir tersebut langsung diidentifikasikan dari daftar korban
tersebut.
Identitas seseorang dipastikan bila minimal dua metode yang digunakan memberi
hasil positif (sesuai), di mana salah satunya adalah metode identifikasi medis. Peran
dokter dalam identifikasi personal terutama dalam identifikasi secara medis, serologis,
dan pemeriksaan gigi.
Upaya identifikasi pada kerangka bertujuan untuk membuktikan bahwa kerangka
tersebut adalah kerangka manusia, ras, jenis kelamin, perkiraan umur, tinggi badan,
parturitas (riwayat persalinan), ciri-ciri khusus, deformitas, dan bila memungkinkan dapat
dilakukan superimposisi serta rekonstruksi wajah. Dicari pula tanda kekerasan pada
tulang. Perkiraan saat kematian dilakukan dengan memperhatikan keadaan kekeringan
tulang.
Bila terdapat dugaan berasal dari seseorang tertentu, maka dilakukan identifikasi
dengan membandingkan data-data hasil pemeriksaan dengan data-data antemortem. Bila
terdapat tulang tengkorak yang utuh dan terdapat foto terakhir wajah orang tersebut

semasa hidup, maka dapat dilakukan metode superimposisi, yaitu dengan menumpukkan
foto Rontgen tulang tengkorak di atas foto wajah yang dibuat berukuran sama dan
diambil dari sudut pemotretan yang sama. Dengan demikian dapat dicari adanya titik-titik
persamaan. Pada keadaan tersebut dapat pula dilakukan pencetakan tengkorak tersebut
lalu dilakukan rekonstruksi wajah dan kepala pada cetakan tengkorak tersebut dengan
menggunakan materi lilin atau gips sehingga dibentuk rekaan wajah korban. Rekaan
wajah tersebut kemudian ditunjukkan kepada tersangka keluarga korban untuk dikenali.
Pemeriksaan antropologi dilakukan untuk memperkirakan apakah kerangka
adalah kerangka manusia atau bukan. Antropologi adalah studi tentang umat manusia,
budaya dan fisik, disemua waktu dan tempat. Antropologi forensik adalah aplikasi
pengetahuan antopologis dan teknik dalam konteks hukum. Hal ini melibatkan
pengetahuan rinci osteologi (anatomi budayatulang dan biologi) untuk membantu dalam
identifikasi dan penyebab kematian sisa-sisa kerangka, serta pemulihan tetap
menggunakan teknik arkeologi. Antropologi fisik forensik mengkhususkan diri dalam
penelitian dan penerapan teknik yang digunakan unutk menentukan usia saat kematian,
seks, afinitas populasi, perawakannya, kelainan dan atau patologi, dan keistimewaan
untuk bahan tulang modern.Osteologi forensik adalah subdisiplin dari antropologi
forensik dan secara garis besar memfokuskan pada analisa dari rangka manusia untuk
tujuan medikologal. Osteologi forensik paling sering dibutuhkan saat investigasi sisa-sisa
dari tubuh manusia akibat dari kematian wajar yang tidak dapat dijelaskan, pembunuhan,
bunuh diri, atau bencana alam. Meskipun begitu, seiring meningkatnya frekuensi
tersebut, osteolog forensik seringkali diminta untuk mendampingi dokter spesialis
forensik dalam mengkonfirmasi usia dari makhluk hidup maupun jenazah untuk
keperluan peradilan.
Jika dengan pemeriksaan tersebut masih diragukan, misalnya jika yang ditemukan
hanya sepotong tulang saja, maka perlu dilakukan pemeriksaan serologi (reaksi
presipitin), histologi (jumlah dan diameter kanal-kanal Havers), dan bahkan dengan
pemeriksaan DNA.
Referat ini bertujuan membahas berbagai hal mengenai identifikasi forensik
ataupun identifkasi secara umum meliputi: pengertian, arti penting, macam-macam
pemeriksaan dan cara atau metode serta sistem identifikasi. Hal-hal demikian diperlukan

untuk memperoleh pemahaman pemahaman dalam penanganan dan pemeriksaan


identifikasi yang komprehensif.