Anda di halaman 1dari 8

Panduan Praktik Klinis

KSM : T H T
RSD dr. SOEBANDI
Tahun 2016 - 2017

VERTIGO POSISI
1. Pengertian (Definisi)

Vertigo posisi adalah gangguan


keseimbangan postural yang
disebabkan oleh kelainan pada organ
vestibuler perifer. Kelainan vestibuler
sangat berperan menimbulkan
masalah klinis stabilitas
keseimbangan postural dan
memberikan kontribusi sebesar 65%
dalam mempertahankan
keseimbangan.

2.

Gejala
berdasarkan
anamnesis
mencakup
keluhan
utam
yang
membawa penderita datang berobat,
kualitas/beratnya
keluhan,
faktorfaktor yang memprovokasi keluhan
atau
gejala,
faktor-faktor
yang
mengurangi keluhan, keluhan/gejala
penyerta seperti gejala vegetatif mualmuntah, riwayat penggunaan obatobatan yang dapat sebagai penyebab
atau
mempengaruhi
hasil
pemeriksaan, dan keadaan umum
penderita. Kesamaan persepsi tentang
keluhan-keluhan
tersebut
antara
penderita dan dokter juga dibutuhkan.
Tes skrining fungsi vestibuler terdiri
dari :
1.) Pemeriksaan adanya nistagmus
spontan atau gaze nistagmus
yang terbaik di lakukan dengan
kacamata franzel atau video
inframerah okulografi. Dapat
juga
dilakukan
penilaian
visualisasi langsung dibantu
suatu sumber cahaya misalnya
penlight. Nistagmus spontan
atau
geze
nistagmus
menunjukkan keadaan tidak

Anamnesis

3. Pemeriksaan Fisik

seimbang pada sistem vestibuler.


Kelainan vestibuler perifer dapat
ditunjukkan
dengan
adanya
nistagmus
horisontal-rotari,
berkurang dengan fiksasi visual,
umumnya sama pada kedua
mata dan intensitas meningkat
bila penglihatan ke arah fase
cepat
(menjauh
dari
lesi).
Kelainan vestibuler sentral dapat
ditunjukkan dengan nistagmus
vertikal dan torsio murni, tidak
dipengaruhi oleh fiksasi visual
atau bahkan meningkat, lebih
kuat pada satu mata dan arah
fase cepat dapat berubah tanpa
perubahan alat penglihatan.
2.) Tes
Romberg
yang
menilai
kemampuan
keseimbangan
berdiri dengan membandingkan
keadaan mata terbuka dan
tertutup. Bila ayun tubuh pada
saat sisi searah dengan arah
ayunan yang lebih besar. Ayun
tubuh berlebihan namun sama
bila
dibandingkan
kedua
keadaan (mata terbuka dan mata
tertutup)
mengindikasikan
kemungkinan
kelemahan
proprioseptif.
Romberg
dipertajam (sharpened romberg)
merupakan tes yang lebih sulit
dengan
posisi
kedua
kaki
segaris, juga membandingkan
keadaan mata terbuka dan
tertutup dengan cara interpretasi
yang sama. Pada disfungsi
vestibuler yang terkompensasi
mungkin tes romberg normal
namun dengan tes ini kelainan
akan terdeteksi.
3.) Fukuda stepping test dilakukan
dengan 100 langkah di tempat
dengan mata tertutup dimana
nilai
normal
adalah
tidak
bergeser lebih dari 1 m atau
tidak berputar lebih dari 45.
Pada disfungsi vestibuler terjadi
pergeseran dan rotasi lebih dari
normal ke sisi lesi.
4.) Tes
disadokokinesia
menilai
kemampuan
koordinasi
melakukan
gerak
antagonis

yaitu dengan gerakan supinasi


dan pronasi kedua tangan secara
cepat,
bersamaan
dan
bergantian
di
atas
lutut.
Ketidakmampuan
melakukan
gerak koordinasi tersebut sering
pada kelainan serebelum.
5.) Finger to nose test
6.) Past pointing test.
4. Pemeriksaan Penunjang

Tes spesifik untuk fungsi vestibuler


dilakukan dengan beberapa tes yang
merupakan prosedur neurodiagnostik,
yaitu :
1.) Elektronistagmografi, gerak bola
mata penderita dimonitor untuk
mengetahui adanya gerak bola
mata yang tidak sesuai dan
sebagai
respons
vestibuler
terhadap
stimulus
yang
diberikan. Dari tiga subtes yaitu
tes okuomotor termasuk evaluasi
geze dan nistagmus spontan, tes
posisi dan tes kalori, yang
terpenting adalah tes kalori
untuk menilai keadan vestibuler
perifer
yang
diwakili
KSS
horisontal yang distimulasi. Dari
subtes
ini
dapat
diketahui
adakah disfungsi
vestibuler
yang
menyebabkan
keadaan
asimetri dan apakah disfungsi
tersebut unilateral atau bilateral.
2.) Tes rotasi, monitoring gerak bola
mata penderita pada saat ia
bergerak
(oscillated)
secara
perlahan ke belakang dan ke
depan.
3.) Tes
gerak
kepala
anteriorposterior/headshake nistagmus,
tes
dilakukan
dengan
menggerakkan kepala penderita
ke depan dan ke belakang dalam
bidang horisontal, kemudian
diamati
adanya
nistagmus.
Nistagmus ini disebabkan oleh
fungsi VOR yang asimetris
dimana dengan gerakan kepala
tersebut
terjadi
peningkatan
aktivitas vestibuler sisi sehat dan
fase lambat nistagmus yang
tampak ke arah sisi lesi.
4.) Tes
gerak
kepala
kanan-

kiri/head thrust (head impulse)


test, tes dilakukan dengan
menggerakkan kepala penderita
ke kanan dan ke kiri pada
bidang horisontal seperti gerak
kepala
menggeleng.
Interval
gerak kepala ke lateral kira-kira
15-30 dari garis tengah dan
penderita
mempertahankan
fokus
penglihatannya
pada
suatu objek di tengah selama
gerakan. VOR sebagai respons
terhadap
gerakan
dievaluasi
dengan mengamati kemampuan
penderita
untuk
mempertahankan
fokus
penglihatannya pada objek.
5.) Posturografi adalah monitoring
ayun tubuh penderita saat
penderita
mempertahankan
keseimbangan tubuhnya di atas
alat kontrol yang divariasikan
secara sistematis.
6.) Perasat Dix-Hallpike merupakan
monitoring gerak bola mata
penderita
setelah
kepala
digerakkan
bersama
tubuh
secara cepat dan arah terbalik
sesuai bidang KSS posterior dan
KSS anterior.
7.) Tes gliserol, tes ini dilakukan
pada kecurigaan adanya hidrops
endolimf (meniere) dengan suatu
bahan diuretik gliserol dosis oral
1,2 ml/kg BB yang secara teori
gliserol dalam sirkulasi akan
mengurangi cairan endolimf dan
akan memperbaiki fungsi koklea
dan vestibuler. Evaluasi dengan
audiometri nada murni pre dan
pasca tes interval 3 jam setelah
pemberian. Perbaikan satu atau
dua ambang dengar berurutan
10 dB atau lebih merupakan tes
gliserol yang positif dan memiliki
nilai diagnostik tinggi untuk
hidrops endolimf.
5.
6.
7.

Kriteria Diagnosis
Diagnosis Kerja
Diagnosis Banding

8. Terapi

1. Vertigo spontan
2. Vertigo non vestibuler
3. Vertigo sentral
Terapi Farmakologis:

Di gunakan
tertentu

hanya

untuk

kondisi

Terapi Non Farmakologis:


A. Penghindaraan, bersamaan dengan
pemberian obat, pasien diedukasi
untuk
menghindari
atau
mengurangi aktivitas yang dapat
menimbulkan
serangan
baru
selama proses tatalaksana.
B. Terapi adaptasi, apabila tidak
terdapat
perbaikan
dengan
farmakoterapi dan penghindaran,
maka
dipertimbangkan
untuk
pemberian
pelatihan
vestibulo
retraining terapi (dengan berbagai
pertimbangan khusus).
C. Edukasi
D. Rehabilitasi vestibuler (adaptasi,
substitusi,
liberatori/reposisi/desensitisasi),
tatalaksana dengan menggunakan
ketiga model RV tersebut dilakukan
dengan strategi yang didasarkan
atas
diagnosis
atau
kategori
kelainan yang dikelompokkan oleh
Gans. Tiap kategori dikaitkan
dengan suatu desain rehabilitasi.
Mula-mula
harus
ditentukan,
penderita masuk ke dalam kategori
diagnosis yang mana.

9.

Edukasi

10. Prognosis
11. Penelaah Kritis

Kombinasi modalitas di atas hanya


dapat terlaksana dengan baik apabila
dilakukan edukasi yang baik dan
cermat kepada pasien.
Kelompok Studi Laring Faring PerhatiKL

12.Tingkat evidens

I/II/III/IV

13.Tingkat Rekomendasi

14. Indikator Medis

% pasien..menjadi stabil dalam


hari
Perdarahan
Infeksi
Tidak nyeri
Kembali bekerja
Kosmetik

15. Kepustakaan

1. Desmond
AL.
Function
and
dysfunction of the vestibular
system. In: Desmond AL. Vestibular
function: evaluation and treatment.
Theme medical publisher, New
York, 2004: p21-41
2. Lee KJ. The vestibular system and
its disorder. In: Lee KJ ed.
Essential otolaryngology, Head &
neck
surgery.
Eight
ed.
McGrawcompanies, New york,2003:
p.88-109
3. Gans, RE. Vestibular rehabilitation:
protocols and programs. Singular
peublishing
group,
Inc,
San
Diego,1996: p.3-12
4. Alper CM, Eibling DE,Myers EN.
Decision making in ear, nose, and
throat disorder. WB Saunders
company, Philadelphia,2001: p.223
5. McCabe BF. Vestibular physiology.
Its
clinical
application
in
understanding the dizzy pastient.
In: Papaprella MM, Shumrick DA,
Gluckman
JL,
Meyerhoff
WL
Otoraryngology.
WB
Saunders
company, Philadelphia, 1991: p.
911-9
6. Bashirudin
J.
Gangguan
keseimbangan. Simposium serbaserbi THT menuju hidup sehat.
Jakarta. Oktober 2002.
7. Bauer
CA.
Vestibular
rehabilitation.
Available
on
emedicine. Last updates November
4, 2004. Disitasi 12 Desember
2006.
8. Hadjar E, Kauzia EZ. Reposisi
Kanal
pada
vertigo
posisi
paroksismal jinak. Simposium dan
pelatihan neurotologi hotel Acacia.
Jakarta. Juli 2002.
9. Stockwell CW. Vestibular function
tests. In: Paparella MM, Shumrick
DA, Gluckman JL, Meyerhoff WL.
Otoryngology.
WB
Saunders
company. Philadelphia, 1991: p.2147
10. Brandt
T.
Vertigo.
Its
multisensory syndromes. Springerverlag. London. 1991: p23
11. Herdman SJ, Philip B, Schubert

MC, Tusa RJ. Falls in patients with


vestibular deficits. Am J Otol,
2000, 21: 847-51
12. Yardley L, Donovan-Hall M,
Smith HE, Walsh BM, Mulee M<
Bronstein AM. Effectiveness of
primary
care-based
vestibular
rehabilitation for chronic dizziness.
Ann Intern Med, 2004, 141: 598605
13. Medeiros
IRT,
Bittar
RSM,
Pedalini
MEB,
Lorenzi
MC,
Formigoni LG, Bento RF. Vestibular
rehabilitation therapy in children.
Otol Neurotol, 2005, 26: 699-703
14. Cowand JL, Wrisley DM, Walker
M, Strasnick B, Jacobson JT.
Efficacy of vestibular rehabilitation.
Otolaryngol Head Neck Surg, 1998,
118:49-54
15. Cohen
HS,
Kimball
KT.
Decreased ataxia and improved
balance
after
vestibular
rehabilition. Otolaryngol Head Neck
Surg, 2004, 130, 418-25
16. Black FO, Angel CR, Pesznecker
SC, Gianna C. Outcome analysis of
individualized
vestbular
rehabilitation protocols. Am J Otol,
2000, 21: 543-51
17. Wirsley
DM,
Whitney
SL,
Furman
JM.
Vestibular
rehabilitation outcomes in patients
with a history of migrain. Otol
Neurotol, 2002, 23:483-7

Jember, 1 Juni 2016

Ketua Komite Medik

Ketua KSM T H T

dr. Dandy Hari H.,SPJP

dr. Bambang Indra, SpTHT

Direktur RSD dr. Soebandi

dr. Budi Rahardjo, Sp.RM