Anda di halaman 1dari 17

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian mengenai perbandingan efektivitas penggunaan sabun Antiseptik


dan Baby Shop pada penderita luka diabetes yang dirawat Di Poli RSUD ULIN
Banjarmasin telah dilakukan pada tanggal 21 April - 17 Mei 2014 (penelelitian
selesai lebih cepat lima hari dari waktu yang ditentukan sebelumnya 22 Mei).
Penentuan awal responden adalah 60 orang yang mana terdiri dari 30 orang
kelompok kontrol dan 30 orang kelompok intervensi, namun saat penelitian
berlangsung yang dapat dijadikan responden dan sesuai kriteria hanya 46 orang
saja, dan dari 46 responden, hanya 8 orang saja yang masuk dalam evaluasi
penelitian yaitu pada kelompok kontrol (menggunakan antiseptik) terdapat 5
orang dan pada kelompok intervensi (menggunakan baby soap) 8 orang.
A. Karakteristik Responden
Karakteristik responden dalam penelitian ini berupa jenis kelamin, grade luka
dan jumlah perlakuaan menggunakan cutisoft maupun baby soft.
1. Karateristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Data demografi jumlah responden berdasarkan jenis kelamin responden
pada kelompok kontrol maupun kelompok intervensi dapat dilihat pada tabel 5.1.
Tabel 5.1 Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin
Jenis

Kelompok

Kelompok

Kelompok

Kelompok

Kelamin

kontrol
Frekuensi (n)

kontrol
Persentase (%)

intervensi
Frekuensi (n)

Intervensi

4
1
5

80 %
20 %
100%

3
5
8

Laki-laki
Perempuan
Jumlah

Hasil penelitian perbandingan efektivitas penggunaan

Persentase (%)
25%
75%
100%

baby soap dengan

sabun antiseptik (chlorhexsidin glukonate 4%) terhadap dressing luka kaki


diabetik grade II,III dan IV di poli kaki diabetik RSUD ulin banjarmasin

menunjukan bahwa jenis kelamin yang memiliki persentase tertinggi pada


kelompok kontrol adalah laki-laki sebanyak 4 orang (80%), sedangkan pada
kelompok intervensi responden dengan jenis kelamin perempuanlah yang
memiliki persentase terbanyak dengan persentase 75%.
2. Karakteristik responden berdasarkan Grade Luka
Data demografi jumlah responden berdasarkan Grade Luka responden pada
kelompok kontrol maupun kelompok intervensi dapat dilihat pada tabel 5.2.
Tabel 5.2 Karakteristik responden berdasarkan Grade Luka
Grade Luka

Kelompok

Kelompok

Kelompok

Kelompok

kontrol
Frekuensi (n)

kontrol
Persentase (%)

intervensi
Frekuensi (n)

Intervensi

0
4
1
5

0%
80%
20%
100%

5
3
0
8

Grade 2
Grade 3
Grade 4
Jumlah

Persentase (%)
73%
25%
0%
100%

Hasil penelitian perbandingan efektivitas penggunaan baby soap dengan


sabun antiseptik (chlorhexsidin glukonate 4%) terhadap dressing luka kaki
diabetik grade II,III dan IV di poli kaki diabetik RSUD ulin banjarmasin
menunjukan bahwa grade 3 yang memiliki persentase tertinggi pada kelompok
kontrol adalah grade 3 sebanyak (80%), sedangkan pada kelompok intervensi
jumlah grade luka responden yang memiliki persentase terbanyak adalah grade 2
dengan persentase 75%.
3. Karakteristik Responden Berdasarkan Jumlah Perlakuan Pencucian
Luka Menggunakan Baby Soap Dan Cutisoft.
Data demografi jumlah responden berdasarkan Jumlah Perlakuan Pencucian
Luka Menggunakan Baby Soap Dan Cutisoft pada kelompok kontrol maupun
kelompok intervensi dapat dilihat pada tabel 5.3.

Tabel 5.3 Karakteristik responden berdasarkan Jumlah Perlakuan Pencucian


Luka Menggunakan Baby Soap Dan Cutisoft
Jumlah

Kelompok

Kelompok

Kelompok

Kelompok

Perlakuan

kontrol
Frekuensi (n)

kontrol
Persentase (%)

intervensi
Frekuensi (n)

Intervensi

0
4
1
5

0%
80%
20%
100%

0
7
1
8

2 kali
3 kali
6 kali
Jumlah

Persentase (%)
0%
87,5%
12,5%
100%

Hasil penelitian perbandingan efektivitas penggunaan baby soap dengan


sabun antiseptik (chlorhexsidin glukonate 4%) terhadap dressing luka kaki
diabetik grade II,III dan IV di poli kaki diabetik RSUD ulin banjarmasin
menunjukan bahwa pada kelompok kontrol jumlah pencucian luka menggunakan
cutisoft dengan jumlah perlakuan 3 kali memiliki jumlah responden terbanyak
yaitu sebanyak 4 orang (80%) sedangkan responden yang mendapatkan perlakuan
pencucian luka menggunakan baby soft

persentase sebanyak 87,5% dengan

jumlah perlakuan 3 kali.

B. Karakteristik Tanda-tanda Infeksi Luka Pada Kelompok Kontrol


Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, hasil dapat dilihat pada tabel
5.4.
Tabel 5.4 Karakteristik Tanda-tanda Infeksi Luka Pada Kelompok Kontrol
Karakteristik luka

1. Slough

Ya
Frekuens
i (n)
1

Persentase
(%)
20%

Tidak
Frekuensi (n)
4

Persentase
(%)
80%

baru/bertambah

2. Kurangnya

20%

80%

5
3
2
1

100%
60%
40%
20%

0
2
3
4

0%
40%
60%
80%

jaringan granulasi
3.
4.
5.
6.

Kemerahan
Nyeri
Bau
Peningkatan Ukuran
luka

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dari tolal 5 responden yang
menjadi kelompok kontrol didapatkan bahwa terdapat 5 responden (100%)
mengalami kemerahan dikulit sekitar luka dan tampak bengkak, 3 responden
(60%) mengalami nyeri, 2 responden (40%) terdapat bau pada luka dan 20%
responden tampak adanya slough yang bertambah, granulasi kurang dan tampak
adanya peningkatan ukuran pada luka. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pencucian
luka dengan menggunakan cutisoft tanda-tanda infeksi yang paling banyak
muncul adalah kemerahan. Semua luka yang dijadikan responden untuk kelompok
kontrol adalah luka pada grade 3 dan 4 dan merupakan luka kronis.
Luka kronis merupakan luka yang berlangsung lama atau sering timbul
kembali (rekuren), terjadi gangguan pada proses penyembuhan yang biasanya
disebabkan oleh masalah multifaktor dari penderita (Fowler E,1990). Pada luka
kronik luka gagal sembuh pada waktu yang diperkirakan, tidak berespon baik
terhadap terapi dan punya tendensi untuk timbul kembali, sehingga perlunya
perawatan luka ulkus diabetik yang terdiri dari pencucian luka, debridement, dan
pemilihan balutan.
Pada kelompok kontrol luka dilakukan pencucian menggunakan cutisoft,
yang mana Cutisoft mengandung bahan aktif Chlorhexidine gluconate 4% b/v
(Setara dengan Chlorhexidine Gluconate Solution Ph. Eur 20% merupakan

golongan halogen, suatu antiseptik spektrum luas untuk berbagai jenis kuman
gram negatif dan gram positif, anaerob, aerob dan ragi. Antiseptik ini bersifat
bakteriostatik dan bakterisid dan bekerja dengan merusak membrane sel kuman
dan menginaktifkan ATP-ase, sewaktu dilakukan desinfeksi.
Efek yang tidak diinginkan dari Klorheksidin adalah gangguan kulit dan
jaringan subkutan : Frekuensi tidak diketahui: reaksi kulit alergi seperti dermatitis,
pruritus, eritema, eksim, ruam, urtikaria, iritasi kulit, dan lecet. gangguan sistem
kekebalan tubuh. Sedangkan prinsip dari pencucian luka adalah proses
membersihkan luka meliputi pemilihan larutan pembersih yang tepat dan
menggunakan cara yang tepat dalam membersihkan luka tanpa menyebabkan
cedera pada jaringan yang sedang tumbuh.
Berdasarkan hasil penelitian Andiny (2013) menyatakan bahwa bahwa
klorheksidin 2% memiliki daya antibakteri lebih tinggi dibandingkan propolis
25% terhadap bakteri Enterococcus faecalis. Klorheksidin merupakan larutan
irigasi yang terbukti paling efektif terhadap bakteri Enterococcus faecalis.
antibakteri klorheksidin 2% didapatkan dengan merusak integritas sel membran
bakteri menyebabkan terjadi perubahan pada permeabilitas membran sitoplasma
yang

dapat

meningkatkan

pengendapan

protein

sitoplasma,

mengubah

keseimbangan osmotik seluler, mengganggu metabolisme, pertumbuhan dan


pembelahan sel bakteri sehingga dinding sel Enterococcus faecalis dapat rusak,
lisis dan akhirnya mati.
Klorheksidin 2% dapat menghambat sintesis dinding sel bakteri, menghambat
aktivitas bakteri pada proses anaerobic dan juga tetap efektif membunuh bakteri
dalam waktu 48 jam hingga 72 jam setelah perawatan menggunakan alat

instrumental saluran akar sampai 12 minggu. Dalam uji in vitro, Dhita Ardian
Mareta,dkk2 menemukan bahwa klorheksidin 2% lebih efektif terhadap bakteri
Enterococcus faecalis dibandingkan dengan ekstrak daun jambu biji pada
konsentrasi 20%, 40%, 60%, dan 80% dengan rata-rata zona hambat sebesar
15,95%.
C. Karakteristik Tanda-tanda Infeksi Luka Pada Kelompok Intervensi
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, hasil dapat dilihat pada tabel
5.5.
Tabel 5.5 Karakteristik Tanda-tanda Infeksi Luka Pada Kelompok Intervensi
Karakteristik luka

Ya
Frekuens

Persentase
(%)

Tidak
Frekuensi (n)

Persentase
(%)

i (n)
0

0%

100%

2. Kurangnya
jaringan granulasi

0%

100%

3.
4.
5.
6.

1
0
0
0

12,5%
0%
0%
0%

7
8
8
8

87,5%
100%
100%
100%

1. Slough
baru/bertambah

Kemerahan
Nyeri
Bau
Peningkatan Ukuran
luka

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dari tolal 8 responden yang
menjadi kelompok kontrol didapatkan bahwa terdapat 1 responden (12,5%)
mengalami kemerahan dikulit sekitar luka dan tampak bengkak, 8 responden
(100%) tidak ada penambahan slough, tidak ada granulasi yang kurang, nyeri, bau
maupun penambahan ukuran pada luka. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pencucian
luka dengan menggunakan cutisoft tanda-tanda infeksi yang muncul adalah
kemerahan. Semua luka yang dijadikan responden untuk kelompok intervensi
adalah luka pada grade 2 dan 3 dan merupakan luka kronis.

Pada kelompok intervensi dilakukan pencucian luka menggunakan baby


soap. Baby Shop adalah surfaktan yang digunakan dengan air untuk mencuci,
membersihkan dan pengharum. Baby Shop biasanya berbentuk kemasan cair.
Baby Shop mengandung Ph balance 7,35- 7,45. Komposisi Baby Shop
diantaranya: Aqua, Sodium Laurreth sulfat, cocamidopropyl betaine, stryene/
arcylate copolymer, sodium benzoate, sodium choride, Parfum, lactic Acid,
glicerin, polysorbate 20, PEG-120 Methyl glucosa diolate, tetrasodium glutamate
diacetate, sodium hydroxide, polyquaternium-7, hydrolyzed milk protein, prunus
amygdalus dulcis (sweet almond) oil, olea europaea (olive), rosa damacena (rose)
flower oil, bahan ini bekerja dengan busa yang melimpah , wangi bunga yang
lembut dan pembersih dari kuman.
Surfaktan (juga dikenal sebagai aksi partisipatif permukaan agen ing) adalah
zat kimia yang mematuhi permukaan kulit dan mengurangi jumlah gesekan yang
diperlukan untuk menghapus bahan yang tidak diinginkan. Surfactants umumnya
dikategorikan menjadi 4 kelompok besar berdasarkan muatan bersih mereka.
Surfaktan anionik, surfaktan kationik, surfaktan amfoter dan surfaktan nonionik.
Beberapa pembersih menggabungkan antimicrobial dan surfaktan untuk
mengurangi

bakteri. Sedangkan pada baby soap yang kami pakai dalam

penelitian tidak ada bahan sebagai antimikroba didalamnya.


Sedangkan ternyata PH pembersih kulit mempengaruhi kadar asam kulit.
produk pembersihan dengan pH dari 4 sampai 7 dianjurkan, memilih produk
dengan pH antara 4 dan 7 adalah sangat penting untuk pasien usia lanjut karena
kulit mereka pengering, lebih rentan terhadap retak, dan lebih lambat untuk pulih

dari efek dari pembersihan dengan produk yang alkalinizes kulit. Kebanyakan bar
pembersih memiliki pH 7 sampai 11.
Untuk bahan-bahan yang digunakan pada baby soap yang kami gunakan
banyak mengandung bahan-bahan yang bermanfaat untuk lapisan kulit luar
sehingga efek yang diharapkan pada penelitian ini adalah tidak menambah iritasi
maupun infeksi pada jaringan bawah kulit serta bau pada luka dapat kurangi,
dapat dilihat berdasarkan observasi ketika setiap melakukan perawatan luka.
Tampak 100% responden tidak ada bau pada luka dan tidak tampak adanya
penambahan slough.
Pada perlakuan menggunakan cuti soft maupun baby soap hal yang
menyebabkan luka adalah karena kurangnya kontrol diabetes melitus selama
bertahun-tahun sehingga memicu terjadinya kerusakan syaraf atau masalah
sirkulasi yang serius yang dapat menimbulkan efek pembentukan luka diabetes
melitus (Maryunani, 2013).

Ada 2 tipe penyebab ulkus kaki diabetes secara umum yaitu:


a.Neuropati
Neuropati diabetik merupakan kelainan urat syaraf akibat diabetes melitus
karena kadar gula dalam darah yang tinggi yang bisa merusak urat syaraf
penderita dan menyebabkan hilang atau menurunnya rasa nyeri pada kaki,
sehingga apabila penderita mengalami trauma kadang- kadang tidak terasa.

Gejala- gejala neuropati meliputi kesemutan, rasa panas, rasa tebal di telapak
kaki, kram, badan sakit semua terutama malam hari ( Maryunani,2013).
b.Angiopathy
Angiopathy diabetik adalah penyempitan pembuluh darah pada penderita
diabetes. Apabila sumbatan terjadi di pembuluh darah sedang/ besar pada
tungkai, maka tungkai akan mudah mengalami gangren diabetik, yaitu luka
pada kaki yang merah kehitaman atau berbau busuk. Angiopathy
menyebabkan asupan nutrisi, oksigen serta antibiotik terganggu sehingga
menyebabkan kulit sulit sembuh. (Maryunani, 2013).
Sehingga pada penderita DM ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses
penyembuhan luka, yaitu:
a. Faktor Umum
1. Perfusi dan oksigenasi jaringan
Proses penyembuhan luka tergantung suplai oksigen. Oksigen merupakan
kritikal untuk leukosit dalam menghancurkan bakteri dan untuk fibroblast dalam
menstimulasi sintesis kolagen. Selain itu kekurangan oksingen dapat menghambat
aktifitas fagositosis. Dalam keadaan anemia dimana terjadi penurunan oksigen
jaringan maka akan menghambat proses penyembuhan luka (Ekaputra, 2013)
2. Status nutrisi
Kadar serum albumin rendah akan menurunkan difusi (penyebaran) dan
membatasi kemampuan neutrofil untuk membunuh bakteri. Oksigen rendah pada
tingkat kapiler membatasi profilerasi jaringan granulasi yang sehat. Defisiensi zat
besi dapat melambatkan kecepatan epitelisasi dan menurunkan kekuatan luka dan
kolagen. Jumlah vitamin A dan C zat besi dan tembaga yang memadai diperlukan

untuk pembentukan kolagen yang efektif. Sintesis kolagen juga tergantung pada
asupan protein, karbohidrat dan lemak yang tepat. Penyembuhan luka
membutuhkan dua kali lipat kebutuhan protein dan karbohidrat dari biasanya
untuk segala usia. Diet seimbang mengandung bahan nutrisi yang dibutuhkan
untuk perbaikan luka seperti asam amino ( daging, ikan dan susu), energi sel (bijibijian, gula, madu, buah-buahan dan sayuran), vitamin C ( buah kiwi, strawberry,
dan tomat), vitamin A ( hati, telur, buah berwarna hijau cerah, dan sayur-sayuran),
Vitamin B ( kacang, daging dan ikan), zinc (makanan laut, jamur, kacang kedelai,
bunga matahari), bahan mineral (makanan laut dan kacang dari biji-bijian), air
(Ekaputra, 2013).
3. Stres fisik dan psikologis
Stres, cemas dan depresi telah dibuktikan dapat mengurangi efisiensi dari
sistem imun sehingga dapat mempengaruhi proses penyembuhan. Suatu sikap
positif untuk memberikan penyembuhan oleh tiap pasien dan perawat dapat
mempengaruhi dalam meningkatkan penyembuhan luka ( Ekaputra, 2013)
4. Gangguan sensasi atau gerakan
Gangguan aliran darah yang disebabkan oleh tekanan dan gesekan benda asing
pada pembuluh darah kapiler dapat menyebabkan jaringan mati pada tingkat lokal.
Gerakan/ mobilisasi diperlukan untuk membantu sistem sirkulasi, khususnya
pembuluh darah balik (vena) pada ekstremitas bawah ( Ekaputra, 2013)
b.Faktor lokal
1. Praktek managemen luka
Tidak

sesuainya

penanganan

luka

secara

umum

dapat

mempengaruhi

penyembuhan, untuk mencengah dan mengidentifikasi masalah tersebut, fisiologi

penyembuhan luka harus dipahami sebagai kebutuhan dari proses penyembuhan


tersebut. Pengetahuan beberapa jenis atau kategori dari produk perawatan luka
dan bentuk pemberian pelayanan mereka merupakan sesuatu yang penting. Luka
harus dilakukan dalam sebuah metode dengan mempertimbangkan suatu keadaan
dari jaringan luka tersebut. Luka, pasien/ personal dan kebersihan lingkungan
harus lebih optimal, untuk mengurangi resiko terjadinya infeksi silang (Ekaputra,
2013)
2. Hidrasi luka
Penanganan luka secara tradisional didukung dengan keadaan lingkungan luka
yang kering, karena berdasarkan keyakinan bahwa luka kering akan mencengah
infeksi. Keadaan luka kering akan menghambat migrasi sel epitel. Sebuah luka
dengan

lingkungan

yang

lembab

membantu

pertumbuhan

sel

untuk

mempertahankan dasar luka yang baik dan membantu proses migrasi permukaan
luka. Sebuah lingkungan yang lembab akan membantu autolitik debridement.
Nyeri pada luka berkurang jika persyarafan tetap dalam keadaan lembab
(Ekaputra, 2013).
3. Temperatur luka
Dalam studi tentang efek temperatur pada penyembuhan luka, Lock (1979)
mendemonstrasikan bahwa sebuah temperatur yang konstan kira-kira 37C
mempunyai dampak yang signifikan yaitu peningkatan 108% pada aktifitas mitotik
pada luka. Dengan demikian jika penyembuhan ingin ditingkatkan, temperatur
luka harus dipertahankan. Seringnya luka tanpa dressing dan penggunaan larutan
dingin perlu dipertanyakan. Dressing yang mengurangi proses penggantian dan

mempertahankan

kelembapan

lebih

kondusif

dalam

proses

penyembuhan( Ekaputra, 2013).


4. Tekanan dan gesekan
Kapiler merupakan sel yang sangat tipis. Penekanan pada arteri dan kapiler
dengan tekanan 30 mmhg dengan penekanan terus-menerus dapat menurunkan
aliran ke akhir venous. Jika penyumbatan pembuluh darah terjadi, hipoksia
jaringan dan menyebabkan kematian. Tekanan, gesekan dan shearing merupakan
akibat dari aktifitas atau tanpa aktifitas, retraksi kantong atau pakaian, abrasi atau
tekanan dari dressing luka. Perlindungan luka merupakan sesuatu yang utama
untuk meningkatkan vaskularisasi dan penyembuhan (Ekaputra, 2013)
5. Adanya benda asing
Beberapa benda asing pada luka dapat menghambat penyembuhan. Secara
umum benda asing yang ditemukan diluka adalah debris luka, jahitan, lingkungan
debris (misalnya kotoran,rambut dan glass), debris produk dressing (misalnya
benang, serat kasa), infeksi. Semua luka tersebut akan menghambat penyembuhan
dan perlu diperhatikan adanya benda asing dan sinar-X mungkin dibutuhkan.
Pembersihan luka secara hati-hati, dan cairan yang dingunakan untuk
membersihkan harus non toksis, misalnya normal salin (Ekaputra, 2013).
6. Luka infeksi
Semua luka terkontaminasi, tetapi tidak mengakibatkan terjadinya sepsis
(Smith, 1983). Adanya bakteri sebagai bagian dari suatu flora dari kulit, dan
organisme pindah ke dalam luka dari sekitar kulit. Secara sehat individu hidup
dalam harmoni dengan jumlah besar bakteri. Flora kulit kering rata-rata 10 sampai
1000 bakteri per gram tiap jaringan dengan mengalami peningkatan secara

dramatis dalam bakteri dari jaringan lembab, saliva atau feses (Laurence, 1992).
Tempat flora kulit akan berkoloni dengan luka yang menempati seluruh
permukaan kulit. Sebuah luka dikatakan infeksi jika adanya tingkat pertumbuhan
bakteri 100.000 organisme per gram dari jaringan. Infeksi pada luka menghasilkan
jaringan kurang sehat atau devital. Luka infeksi kemungkinan menyebabkan
infeksi sistemik, yang tidak hanya berdampak pada proses penyembuhan.

Keterbatasan Penelitian
Pada penelitian ini terdapat banyak keterbatasan yaitu:
1. Waktu yang diperlukan untuk melakukan penelitian ini cukup singkat
sehingga kurangnya waktu untuk melakukan evaluasi dan mengumpulkan
sampel baik kelompok kontrol maupun kelompok perlakuan.
2. Responden yang diberikan intervensi dan pada kelompok kontrol memiliki
karakteristik luka atau grade yang berbeda sehingga seharusnya kriteria
evaluasi yang digunakan juga berbeda.
3. Instrumen yang dilakukan hanya metode observasi sehingga hanya terbatas
pada perbaikan luka yang tampak saja.
4. Responden yang tidak rutin datang melakukan perawatan kaki serta jarangnya
penelitian tentang penggunaan sabun dressing luka pada kaki diabtik sehingga
peneliti sulit membandingkan hasil penelitian yang dilakukan.
5. Responden menggunakan bahan yang berbeda-beda pada saat tahap
pemilihan bahan sehingga mungkin saja bahan tersebut yang dapat
memberikan perbedaan atau tidak pada hasil yang didapat.
6. Kurangnya literatur yang membahas tekait efektifitas penggunaan baby soap
maupun clorheksidin.

BAB VI
SIMPULAN DAN SARAN

A. SIMPULAN
Bersadarkan hasil observasi pada reponden dapat disimpulkan bahwa tidak
terdapat perbedaan yang signifikan antara penggunaan baby soap dengan sabun
antiseptik (chlorhexsidin glukonate 4%) terhadap derajat kesembuhan luka kaki
diabetik grade II,III dan IV dimana dari 5 kali perlakuan pada responden baik
menggunakan baby soap maunpun antiseptik terjadi penurunan grade luka
ditandai dengan: tidak ada infeksi, terdapat granulasi, terdapat epitel selama
perawatan dilakukan.

Berdasarkan studi kasus dan observasi saat dilapangan kedua sabun tersebut
memiliki keunggulan masing-masing dimana antiseptik (chlorhexsidin glukonate
4%) baik diberikan kepada luka yang infeksi dimana antiseptik berspektrum luas
yang dapat membunuh kuman gram negatif dan gram positif, anaerob, aerob dan
ragi. Pada luka yang terinfeksi tidak terjadi proses penyembuhan luka sehingga
tidak merugikan saat diberikan antiseptik (chlorhexsidin glukonate 4%).
Sedangkan keunggulan baby soap dimana sabun tersebut mempunyai Ph balance
yang berfungsi tidak merusak jaringan yang sedang melakukan proses
penyembuhan luka. Efek baik lain dari baby soap yang digunakan dalam
penelitian ini adalah responden dan perawat kaki merasa lebih nyaman karena
aroma lebut

baby soap dapat mengurangi bau pada saat dressing luka,

memberikan efek rasa nyaman bagi responden dan perawat kaki dan terjangkau
bagi masyarakat serta banyak dijual dipasaran.
Penurun grade luka tidak lepas dari faktor perawatan luka di poliklinik
RSUD Ulin Banjarmasin yang sudah menggunakan modern dressing serta
pendidikan 5 pilar yang diberikan kepada responden pada saat dilakukan
perawatan luka.

B. SARAN
1. Pemilihan bahan dressing luka sangat penting disesuaikan dengan luka
sehingga memberikan efek yang tepat.
2. Perawat dapat menganjurkan penderita luka kaki menggunaan baby soap
dalam melakukan perawatan mandiri luka dirumah. Baby soap merupakan
sabun yang aman tanpa mengiritasi kulit dengan pH balance ditambah

aroma wangi dari sabun yang dapat membuat penderita merasa nyaman
serta harga yang lebih terjangkau dan barang yang banyak dijual dipasaran.

D. Karakteristik Indikator Qualifikasi Bau Pada Luka kelompok Kontrol


dan Kelompok Intervensi
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, hasil dapat dilihat pada tabel
5.6.

Tabel 5.6 Karakteristik Indikator Qualifikasi Bau Pada Luka kelompok


Kontrol dan Kelompok Intervensi
Qualifikasi Bau

kontrol
Frekuensi (n)

kontrol
Persentase (%)

intervensi
Frekuensi (n)

100%

Intervensi
Persentase (%)

1. Tidak ada bau


2. Bau tercium saat
balutan dibuka
3. Bau tercium
walaupun balutan
belum dibuka
4. Bau tercium
dengan jarak satu
lengan dari pasien
5. Bau tercium
didalam kamar.
6. Bau tercium diluar
kamar
Jumlah

100%