Anda di halaman 1dari 15

PEMERINTAH KABUPATEN

BENGKALIS
DOKUMEN KERANGKA ACUAN
KERJA

Pekerjaan :
BELANJA JASA KONSULTAN PEMBUATAN
PETA RAWAN KEBAKARAN HUTAN DAN
LAHAN

KABUPATEN BENGKALIS
TAHUN ANGGARAN 2016

A.

LATAR BELAKANG
Kebakaran Hutan dan lahan telah menjadi sebuah fenomena tahunan dan terjadi setiap
tahun pada musim kemarau di Indonesia khususnya di wilayah Kabupaten Bengkalis Provinsi
Riau.Setiap tahunnya disediakan anggaran baik pusat maupun daerah untuk kegiatan
pencegahan dan pemadaman namun aktifitas kebakaran hutan masih tetap terjadi baik dalam
skala kecil maupun besar.
`Kegiatan perencanaan untuk pencegahan dan pemadaman kebakaran hutan dan
lahan ini memerlukan informasi yang akurat, aktual serta mudah di pahami oleh pengambil
keputusan. Seringkali informasi mengenai daerah dan wilayah rawan bencana kebakaran
hutan

dan

lahan

ini

tidak

disajikan

secara

jelas

dan

tidak

didasari

pada

metode

pengolahan data dan metodologi yang tidak konsisten sehingga cenderung subyektif dan
tergantung pada pengambilan kebijakan.
Informasi mengenai daerah rawan kebakaran merupakan informasi yang sangat
penting, sehingga dengan adanya informasi mengenai daerah yang potensial terhadap
kebakaran hutan dan lahan dapat dilakukan upaya pencegahan dan peringatan dini,
khususnya saat musim kemarau panjang, dan pada bentangan di areal yang luas dan sulit
di jangkau.
Pada umumnya risiko bencana alam meliputi bencana akibat faktor geologi (gempa
bumi, tsunami dan letusan gunung api), bencana akibat hydro meteorologi (banjir, tanah
longsor, kekeringan, angin topan), bencana akibat faktor biologi (wabah penyakit manusia,
penyakit tanaman/ ternak, hama tanaman) serta kegagalan teknologi (kecelakan industri,
kecelakaan transportasi, radiasi nuklir, pencemaran bahan kimia). Bencana akibat ulah
manusia terkait dengan konflik antar manusia akibat perebutan sumberdaya yang terbatas,
alasan ideologi, religius serta politik. Sedangkan kedaruratan kompleks merupakan kombinasi
dari situasi bencana pada suatu daerah konflik. Berdasarkan catatan sejarah, Indonesia
mengalami beberapa bencana dengan skala sangat besar atau Catastrophe

baik pada era

sebelum Indonesia merdeka pada Tahun 1945, atau pun setelahnya.


Berbagai upaya telah dilaksanakan oleh Indonesia dalam sebuah kesatuan negara, baik
pemerintah, masyarakat dan komunitas-komunitas lain, untuk mengurangi dampak yang
ditimbulkan akibat bencana. Keragaman dan keunikan wilayah Indonesia sebagai negara
kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.508 pulau, dihuni oleh lebih dari 250 juta jiwa
dengan

total

luas

wilayah

1.904.569

km2,

membuat

upaya-upaya

penyelenggaraan

penanggulangan bencana membutuhkan beragam pendekatan untuk mendapatkan hasil yang


optimal. Beberapa upaya telah dilaksanakan untuk memberikan pondasi yang kokoh bagi
keragaman pendekatan tersebut. Pondasi ini dipersiapkan oleh Pemerintah Indonesia sebagai
penanggung jawab penyelenggaraan penanggulangan bencana.
Kabupaten Bengkalis adalah salah satu Kabupaten yang terdapat di Provinsi Riau.
Kabupaten

ini mempunyai luas daerah sekitar 7.773,93

km2 ( BPS Bengkalis). Ibukota

kabupaten Bengkalis ini berada di Bengkalis tepatnya berada di Pulau Bengkalis yang

terpisah dari Pulau Sumatera. Pulau Bengkalis sendiri berada tepat di muara sungai Siak,
sehingga dikatakan bahwa pulau Bengkalis adalah delta sungai Siak. Kota terbesar di
kabupaten ini adalah kota Duri di kecamatan Mandau.
Pemanfaatan ruang yang berkualitas di Kabupaten Bengkalis harus ditunjang dengan
peta yang akurat dan mutakhir yang berisikan data spasial yang mewakili sumber daya
alam yang memiliki nilai ekonomis tinggi, dan menginformasikan keadaan sebenarnya dari
kondisi tanah, keadaan hidrologi, data geomorfologi, peta geologi, hutan yang ada, data
kondisi pertanian, perkebunan, karakteristik sosial budaya dan kondisi lingkungan.
Ketersediaan data spasial secara digital di seluruh wilayah Indonesia khususnya
Kabupaten Bengkalis masih belum begitu banyak, hanya wilayah-wilayah tertentu saja yang
kelengkapan data spasial secara digitalnya tersedia, itupun terkadang terbatas hanya
terdapat di Ibukota Provinsi atau Ibukota Kabupaten.
Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana menjadi
dasar penyelenggaraan penanggulangan bencana di Indonesia. Terbitnya Undang-undang
tersebut telah memicu terjadinya pergeseran paradigma penanggulangan bencana menjadi
berorientasi

pengurangan risiko. Oleh karena itu Kabupaten/ Kota sebagai pemangku

kepentingan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat perlu melakukan upaya terpadu
melalui pengkajian risiko bencana yang terukur. Hal ini sejalan dengan fokus fase
penanggulangan bencana Indonesia saat ini.
Sejalan dengan itu, pengukuran efektivitas penanggulangan bencana berdasarkan
indeks risiko membutuhkan baseline (gambaran dasar) yang digunakan sebagai acuan saat
mengukur keberhasilan dinamika penyelenggaraan penanggulangan bencana di Indonesia
selama 5 tahun ke depan. Baseline indeks risiko bencana pada dasarnya tetap mengacu
kepada metodologi Kajian Risiko Bencana yang telah ditetapkan menjadi Peraturan oleh
Kepala BNPB.
Penyusunan kajian risiko bencana di seluruh wilayah Indonesia penting dilakukan
sebagai landasan konseptual untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh bencana
sekaligus dalam rangka pengenalan dan adaptasi terhadap bahaya alam dan buatan
manusia, serta kegiatan berkelanjutan untuk mengurangi atau menghilangkan risiko jangka
panjang, baik terhadap kehidupan manusia maupun harta benda.
Hasil pengkajian risiko bencana juga diharapkan mampu menjadi landasan teknokratis
bagi

rencana-rencana

terkait

penanggulangan

bencana

di

daerah

seperti:

Rencana

penanggulangan bencana; rencana-rencana teknis pengurangan risiko bencana; rencana


penanggulangan kedaruratan bencana; rencana kontingensi; rencana operasi kedaruratan;
dan rencana pemulihan pasca bencana. Oleh karena itu pelaksanaan pengkajian risiko bencana
harus dilakukan berdasarkan data dan metode yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Penyajian Peta rawan kebakaran hutan dan lahan secara spasial akan lebih membantu
memberikan gambaran yang jelas antara daerah rawan dengan sumber daya pemadaman yang

ada di lapangan. Permasalahan selanjutnya muncul saat peta tersebut tidak akurat lagi
akibat

adanya

perubahan

dari

faktor-faktor yang digunakan untuk peta rawan kebakaran

tersebut. Sebagai contoh, perubahan status lahan dalam rentang waktu

1 (satu) tahun

akan memiliki karakteristik yang berbeda terhadap perilaku dan potensi kebakaran. Sehingga
diperlukan sebuah sistem informasi kebakaran yang dinamis untuk melakukan

pemutakhiran

peta sesuai dengan perubahan yang terjadi agar menjadi lebih akurat.
RENCANA PENANGGULANGAN BENCANA
Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) sebagai sebuah rencana induk daerah
harus mampu menjawab persoalan pada setiap fase penanggulangan bencana dan merangkum
perspektif penyelenggaraan penanggulangan bencana dari seluruh instansi pemerintahan daerah
yang terlibat. Oleh karenanya RPB perlu ditetapkan dalam sebuah aturan hukum yang jelas
sehingga dapat memberikan kekuatan dan perlindungan hukum dalam penerapannya.

Gambar 1 :

Posisi Rencana Penanggulangan Bencana dalam Fase Tahapan Penanggulangan


Bencana

Sebagai sebuah rencana induk, RPB dapat dicapai dengan memberikan sebuah kerangka
yang efektif sehingga mampu menjamin pencapaian tujuan penyelenggaraan penanggulangan
bencana dalam rentang waktu 5 tahun. Kerangka ini perlu disusun dengan berdasarkan
pada kajian dengan metode yang terstruktur dan mampu memberikan gambaran tentang
kondisi terkini secara terpadu.
Kerangka yang merupakan batang tubuh dan subtansi RPB suatu daerah adalah
berbasis kajian risiko bencana. Pengkajian risiko bencana suatu daerah tidak hanya mendalam,
tapi juga dituntut untuk menghasilkan parameter-parameter tegas dan jelas yang digunakan

sebagai sasaran kunci sebuah RPB Daerah. Parameter tersebut tidak hanya berupa angka
perhitungan

termasuk

pembiayaan, namun

juga

dapat

menentukan

lokasi-lokasi yang

merupakan prioritas dan membutuhkan penanganan segera untuk menghindari dampak


negatif dari bencana.
Acuan

utama

dalam

penyusunan

kebijakan-kebijakan

daerah

dalam

Rencana

Penanggulangan Bencana adalah hasil Pengkajian Risiko Bencana. Hal ini menjadikan
kajian risiko bencana dan rencana penanggulangan bencana sebagai suatu kesatuan utuh
yang saling melengkapi satu dengan yang lainnya dan bahkan dapat dipastikan bahwa
kajian risiko bencana merupakan prasyarat bagi penyusunan RPB. Secara sederhana
hubungan antara Kajian risiko bencana dengan Rencana Penanggulangan Bencana dapat
terlihat pada gambar dibawah ini :

Gambar2 : Hubungan Kajian Risikodan Rencana Penanggulangan Bencana


Sebagai

sebuah

dokumen

perencanaan

yang

menentukan

arah

penyelenggaraan

penanggulangan bencana di daerah, maka RPB harus secara langsung tersinkronisasi


dengan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana di tingkat pusat. Proses sinkronisasi
diharapkan dapat memberikan keterpaduan upaya penanggulangan bencana di Indonesia.
Disamping itu, sebagai sebuah dokumen perencanaan daerah, RPB harus secara langsung
bersinergi berintegrasi dengan dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah
(RPJMD) dan merujuk pada Perencanaan lainnya baik Rencana Pembangunan Jangka
Panjang Daerah (RPJPD) maupun Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten/ Kota
yang bersangkutan. Oleh karena itu, substansi RPB perlu disesuaikan dengan subtansi
perencanaan daerah.
Struktur perencanaan dalam RPB harus mengikuti

aturan metode perencanaan

daerah. RPB Daerah harus memperlihatkan visi, misi, kebijakan, program dan fokus
prioritas daerah dalam

penanggulangan bencana. Pada tataran visi,

misi, kebijakan,

program dan fokus prioritas, keseluruhannnya ditetapkan bersama dan menjadi komitmen
daerah. Oleh karenanya pelibatan SKPD dalam penyusunan RPB Daerah adalah suatu

keharusan dan prasyarat utama. Program dan Fokus Prioritas penanggulangan bencana
daerah juga harus di sertai sasaran yang menjelaskan siapa institusi pelaksana utama dan
pendukung, dimana kegiatan tersebut dilaksanakan, berapa besaran objek yang akan
dikerjakan, kapan kegiatan akan dilaksanakan dan berapa pagu anggaran untuk setiap
kegiatan.

B.

MAKSUD DAN TUJUAN


MAKSUD :
Kajian Peta Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan ini bermaksud untuk mendapatkan
gambaran wilayah rentan dan berpotensi mengalami kebakaran hutan dan lahan yang sering
terjadi pada saat musim kering (kemarau) dan cara penangulangannya di wilayah Kabupaten
Bengkalis.
TUJUAN :
Tujuan dari pelaksanaan pekerjaan ini adalah tersedianya gambaran terhadap daerah
yang berpotensi mengalamai kebakaran hutan dan lahan. Disamping itu dapat dijadikan
sebagai acuan untuk :
1. Pedoman untuk melakukan pencegahan dan peringatan dini atas potensi kebakaran
hutan dan lahan.
2. Mengurangi dampak negatif akibat kebakaran hutan dan lahan.
3. Mendukung Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi dalam menyusun
dokumen kajian risiko bencana.
4. Mendukung

BPBD

Kabupaten/ Kota

dalam

menyiapkan

Rencana

Penanggulangan

Bencana sebagai bagian perencanaan pembangunan daerah berdasarkan hasil kajian


risiko bencana. Dokumen ini diharapkan menjadi dasar dalam penyusunan perencanaan
dan kebijakan pembangunan di daerah, khususnya berkaitan dengan kawasan-kawasan
rawan bencana di daerah pusat pertumbuhan ekonomi.
5. Tersusunnya Dokumen Kajian Risiko Bencana dalam lingkup wilayah kerja.
6. Menyusun album peta kajian risiko bencana untuk setiap daerah dalam lingkup wilayah
kerja, yang terdiri dari :
a. Peta-peta Bahaya
b. Peta-peta Kerentanan
c.

Peta-peta Kapasitas

d. Peta-peta Risiko Bencana


e. Peta Risiko Multi Bahaya Daerah
sebagai bahan utama penyusunan Pengkajian Risiko Bencana Daerah sesuai dengan
metodologi yang ditentukan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Peta tersebut di atas tersusun dalam bentuk album digital dengan format sistem
informasi geografis (SIG).
7.

Tersusunnya dokumen Rencana Penanggulangan Bencana Daerah dalam lingkup wilayah


kerja yang dibangun berdasarkan standar baku yang berlaku secara Nasional.

8.

Untuk daerah yang telah mempunyai dokumen Kajian Risiko Bencana dan atau
dokumen

Rencana

Penanggulangan

Bencana

penyempurnaan terhadap dokumen sebelumnya.

Daerah,

akan

dilakukan

review

dan

C.

RUANG LINGKUP STUDI


Lingkup Studi dan Wilayah obyek pekerjaan ini mencakup seluruh wilayah administrasi
Kabupaten Bengkalis.
Lingkup Substansi dan Kegiatan
a)

Survey Lahan eksisting :


-

Melakukan kajian (akuisisi data dan analisa) wilayah Kabupaten Bengkalis.

Mengidentifikasi status lahan dan hutan yang ada di kabupaten Bengkalis.

Menganalisa potensi bahaya kebakaran hutan dan lahan.

prediction analysis guna mendapatkan gambaran wilayah.

b)

Survey wilayah untuk mempelajari kondisi geografis dari sebuah area Kabupaten
Bengkalis, seperti :

c)

d)

D.

pola terrain permukaan bumi,

peta tata guna lahan,

Peta kemiringan lereng/kontur

Peta tutupan lahan

Peta penggunaan lahan

Peta jenis tanah dan peta geologi

Peta jaringan jalan

Peta daerah aliran sungai (DAS)

Peta rupa bumi (RBI)

Survey kondisi umum wilayah meliputi :


-

Data administrasi area desa, kecamatan dan Kabupaten.

Kondisi ekonomi

Data-data demografis,

Sosial Budaya

Tinjauan terhadap tata ruang Kabupaten Bengkalis

KELUARAN / OUTPUT
1. Laporan Pendahuluan.
Laporan ini merupakan penjabaran (penafsiran) lebih lanjut dari Kerangka Acuan
Kerja

(KAK),

metodologi

dan

pendekatan

perencanaan,

rencana

kerja

dan

penjadwalan seluruh proses kegiatan. Laporan Pendahuluan dibuat sebanyak

10

(sepuluh) eksemplar, selambat-lambatnya 1 (satu) bulan setelah penandatanganan SPK.

2. Laporan Antara.
Laporan
penyusunan

ini
Kajian

menggambarkan
Risiko

kemajuan

Bencana

dan

dan

hasil-hasil

sementara dalam

Dokumen Teknokratik RPB, analisis

permasalahan serta rekomendasinya.


Laporan

Antara

dibuat

sebanyak 1 0 (sepuluh)

eksemplar,

selambat-lambatnya

3,5 bulan setelah penandatanganan SPK.


3. Laporan Akhir Sementara.
Laporan ini merupakan penjabaran dari hasil pelaksanaan kegiatan secara keseluruhan.
Laporan Akhir Sementara ini dilengkapi dengan konsep/ draft :
a) Dokumen Kajian Risiko Bencana untuk setiap daerah dalam lingkup wilayah kerja
b) Album peta 2 0 ( d u a p u l u h ) e k s e m p l a r

untuk

kajian risiko bencana (ukuran A3

fitto page) untuk setiap daerah dalam lingkup wilayah kerja, yang terdiri dari :
1. Peta-peta Bahaya
2. Peta-peta Kerentanan
3. Peta-peta Kapasitas
4. Peta-peta Risiko Bencana
5. PetaRisiko Multi Bahaya Daerah,
c) Dokumen Teknokratik RPB
Laporan Akhir Sementara dan seluruh kelengkapannya dibuat sebanyak 10 (sepuluh)
eksemplar, selambat- lambatnya 2 minggu sebelum berakhirnya pekerjaan.
4. Laporan Akhir.
Laporan ini merupakan penyempurnaan Laporan Akhir Sementara berdasarkan koreksi
dan masukan pihak-pihak terkait dalam pekerjaan disediakan sebanyak 10 (sepuluh
eksemplar. Laporan Akhir ini juga dilengkapi dengan :
a) Dokumen Kajian Risiko Bencana untuk setiap daerah dalam lingkup wilayah kerja
b) Album peta kajian risiko bencana (ukuran A3 fitto page) sebanyak

20

(duapuluh),

untuk setiap daerah dalam lingkup wilayah kerja, yang terdiri dari :
1. Peta-peta Bahaya
2. Peta-peta Kerentanan
3. Peta-peta Kapasitas
4. Peta-peta Risiko Bencana
5. Peta Risiko Multi Bahaya Daerah,
c) Album data base digital dalam format sistem informasi geografis
d) Dokumen Teknokratik RPB
Laporan Akhir dan seluruh kelengkapannya dibuat sebanyak 10 (sepuluh) eksemplar,
selambat-lambatnya 3 hari sebelum berakhirnya pekerjaan.

E.

METODOLOGI PEKERJAAN
Hingga saat ini belum ada teknologi lain kecuali Geographic Information System (GIS)
yang mampu untuk melakukan visualisasi secara efektif mengenai kondisi geografis yang
akurat, kejadian bencana kebakaran, ataupun perkiraan ancaman kebakaran yang akan
terjadi. Informasi spasial tersebut akan sangat membantu dalam melakukan identifikasi dan
perencanaan, pencegahan, persiapan, respon serta restorasi (Greene,2002)

PERSIAPAN dan LAPORAN PENDAHULUAN


Persiapan Awal
Tahapan persiapan ini digunakan untuk menginisiasi pelaksanaan kegiatan. Inisiasi
dilaksanakan dengan mengadakan beberapa perlengkapan dan kebutuhan kerja. Selain itu proses
penyusunan rencana kerja, perizinan kegiatan dan internalisasi personil juga dilaksanakan
pada tahap ini. Persiapan ini dituangkan dalam laporan pendahuluan yang diberikan kepada
BNPB untuk mendapatkan review terhadap rencana proses yang akan dilaksanakan.
Persiapan Teknis
Persiapan teknis yang dilakukan meliputi:
i.

Internalisasi rencana dan metodologi kerja dengan Tim Teknis/ Asistensi BNPB.

ii.

Penyediaan peta-peta tematik yang mendukung keakuratan data hasil Kajian Risiko Bencana

iii.

Penyediaan

Peta

RBI

(update)

termasuk

pembaharuan

sebaran

pemukiman

(menggunakan Citra Satelit).


iv.

Pengumpulan Literatur/ referensi yang dibutuhkan dalam melakukan Kajian Risiko


Bencana

v.

Penyediaan data faktual kebencanaan daerah

vi.

Penyusunan

Peta

Bahaya

Dasar

sebagai

acuan

dalam

melakukan

survey

dan

pengambilan data
vii.

Menyusun metodologi pelaksanaan verifikasi lapangan

viii.

Menyusun metodologi pelaksanaan survey Kesiapsiagaan untuk mengetahui tingkat


kesiapsiagaan masing-masing daerah kerja

ix.

Pengumpulan

Literatur/referensi

yang

dibutuhkan

dalam

menyusun

Rencana

Penanggulangan Bencana

F.

LANDASAN PELAKSANAAN KEGIATAN


Dasar hukum Pelaksanaan Kegiatan ini mengacu kepada peraturan perundang undangan sebagai
berikut :
1. Undang undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan
Bencana
2. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penanggulangan Bencana
3. Pernendagri Nomor 46 Tahun 2008 tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Badan
Penanggulangan Bencana
4. Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 2 Tahun 2012
5. Peraturan Kapala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 3 tahun 2012 tentang
Pengkajian Kapasitas Daerah
6. Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 17 Tahun 2013 tentang Penanggulangan Bencana
Alam
RAPAT KOORDINASI AWAL
Rapat koordinasi awal dilakukan di tingkat nasional untuk menjaring komitmen leading
institution Penanggulangan Bencana di tingkat Nasional, Provinsi, dan Kabupaten/ Kota di
daerah kerja terhadap pelaksanan kegiatan ini. Pertemuan ini diselenggarakan di sekitar

Jakarta dengan menghadirkan perwakilan BNPB, Tim Asistensi, dan peserta daerah.
Perwakilan Pemerintah sebagai Narasumber.
Rapat koordinasi awal diharapkan juga dapat menghasilkan kesepakatan :
a) Tahapan/proses yang akan dilaksanakan bersama.
b) Kerangka jadwal pelaksanaan kegiatan di daerah.
c) Dukungan dari pemerintah daerah untuk pendampingan substansi kebijakan daerah.
Ketentuan Rapat:
1. Penyelenggaraan disiapkan oleh Konsultan
2. Lokasi diwilayah Jabodetabek
3. Narasumber 3 orang dari Pusat
4. Peserta Daerah yang di Undang : Kalaksa/ Kabid Pencegahan BPBD serta Kepala
Bappeda (total 3 orang dari Kabupaten/ Kota yang terkait)
5. Diberikan Seminar Kit
6. Dilengkapi dengan spanduk kegiatan
7. Undangan kegiatan disiapkan oleh BNPB.
SURVEY DAN VERIFIKASI LAPANGAN
Survey
Survey

dilakukan

untuk

mendapatkan

berbagai

data

yang

dibutuhkan

dalam

melakukan pengkajian risiko bencana serta data lain yang dibutuhkan sebagai pelengkap
penyusunan

indeks

mendapatkan

risiko

tingkat

bencana

kapasitas

di

daerah.

masyarakat

Survey

melaui

juga

survey

dilakukan

melalui

kesiapsiagaan.

untuk

Hasil survey

kesiapsiagaan ini akan mempengaruhi dalam penentuan tingkat kapasitas daerah serta
dalam penyusunan rencana kebijakan penanggulangan bencana daerah.
Verifikasi Lapangan
Verifikasi
prosedur

yang

Lapangan
harus

merupakan

dilakukan

salah

dalam

satu

cara

pembuatan

dalam

peta

pengambilan

tematik. Verifikasi

data

dan

Lapangan

dilakukan dengan menggunakan GPS dengan fokus di titik beratkan pada dua hal utama,
yaitu

daerah

potensi

bahaya

dan

disebutkan di atas yaitu :


-

pola terrain permukaan bumi,

peta tata guna lahan,

Peta kemiringan lereng/ kontur

Peta tutupan lahan

Peta penggunaan lahan

Peta jenis tanah dan peta geologi

Peta jaringan jalan

Peta daerah aliran sungai (DAS)

Peta rupa bumi (RBI)

pemukiman

beserta

infrastrukturnya

seperti

yang

Data citra yang digunakan untuk output dengan skala 1 : 50.000 dan 1 : 25.000
adalah citra dengan RS (Resolusi apasial 25 M dan 30 M). Jenis citra Lansat TM, Alos
dan Spot (10m). Dari hasil interpretasi citra nanti didapatkan Kelas tutupan lahan.
Selain dengan menginterpretasi citra dengan true color dianjurkan juga untuk
menggunakan citra pankromatik. Hal ini lebih memudahkan dalam pengindentifikasian jenis
tutupan lahan seperti sawah, daerah datara rendah (air), Vegetasi kerapatan sedang,
rendah dan tinggi.
Metode pengolahan citra dilakukan dengan cara, yaitu :
1. Mathcing, dengan menggunakan logika, caranya semua data di gabungkan lalu akan
muncul banyak poligon yang hasilnya rentan atau tidak rentan akan kebakaran (Lebih
kepada pengoperasian Arcgis)
2. Skoring, setiap atau masing-masing variabel diberikan nilai/ bobot (lebih keangka) dan
dibagikan kedalam beberapa kelas
Daerah potensi bahaya yang menjadi fokus verifikasi lapangan adalah :
-

Area terpapar.

Lokasi landaan yang nampak ekstrim.

Daerah pemukiman dan infrastruktur yang menjadi fokus adalah :


-

Apakah sentra pemukiman berada dalam daerah potensi bahaya

Infrastruktur yang menjadi fokus adalah fasilitas kritis, fasilitas umum.


Hasil survey dan verifikasi lapangan akan secara langsung diinput dalam perbaikan

peta bahaya. Hasil perbaikan peta bahaya selanjutnya akan dilaporkan pada saat asistensi
1 serta dituangkan dalam Laporan Antara.
Ketentuan Survey dan Verifikasi lapangan:
1. Dikoordinasikan oleh Tenaga Ahli/ Asisten
2. Dapat dibantu personil lokal (diberi tanda pengenal lapangan)
ASISTENSI 1 dan LAPORAN ANTARA
Untuk menjamin kesesuaian metodologi pengkajian risiko bencana yang dilakukan,
maka akan dilakukan Asistensi 1 dengan memberikan Laporan Antara yang telah disusun.
Pertemuan ini melibatkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana sebagai institusi yang
mengeluarkan Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana dan Pedoman penyusunan
RPB.
Asistensi 1 difokuskan

kepada kesesuaian

metodologi penilaian Bahaya serta

memberikan gambaran titik kritis pada proses penilaian kerentanan dan kapasitas daerah.
Dengan demikian diharapkan Peta Bahaya yang dihasilkan telah sesuai dengan metodologi
yang digunakan oleh BNPB.

Selain itu,

proses ini juga untuk memberikan gambaran

proses teknis penyusunan dokumen RPB dan untuk memastikan Rencana Penanggulangan
Bencana selaras dengan pola perencanaan di tingkat nasional, maka perlu dilakukan
sebuah asistensi. Asistensi ini diharapkan mampu memberikan kesesuaian perencanaan
penanggulangan bencana dengan pola pengembangan kawasan di tingkat nasional. Proses

asistensi tersebut akan dilakukan antara Tim Ahli dengan Tim Asistensi BNPB di tingkat
nasional.
PENYUSUNAN DRAFT 1 KAJIAN RISIKO BENCANA
Berdasarkan
internalisasi,

serta

hasil

pekerjaan

asistensi

1,

survey

telah

dan

didapatkan

pengambilan
data

dan

data,

peta

sosialisasi

kajian

yang

dan
telah

terverifikasi. Berdasarkan data dan peta tersebut diharapkan Tim Ahli telah dapat menyusun
draft 1 Kajian Risiko Bencana daerah dan.
PENYUSUNAN DRAFT 1 RENCANA PENANGGULANGAN BENCANA
Berdasarkan dari data primer dan sekunder yang didapat termasuk hasil Draft 1
Kajian Risiko Bencana, Tim Ahli dapat menyusun Draft Awal Rencana Penanggulangan
Bencana Daerah, yang selanjutnya dibahas pada Rapat Teknis dengan Tim Substansi yang
ada di daerah.
Rapat Teknis dengan Tim Substansi yang ada di daerah dimaksudkan untuk membangun
kesesuaian kerangka kebijakan penanggulangan bencana di daerah dengan kebijakan
pembangunan daerah dan kebijakan tematik lintas sektor. Dengan demikian diharapkan
proses pengaruh utama penanggulangan bencana dalam perencanaan pembangunan di
daerah dapat berjalan lebih maksimal. Rapat Teknis ini akan menghasilkan Draft 1 Rencana
Penanggulangan Bencana yang selanjutkan akan di paparkan dan dibahas pada Diskusi
Publik.
DISKUSI PUBLIK
Diskusi Publik ini ditujukan untuk membahas Draft 1 Rencana Penanggulangan
Bencana daerah bersama-sama para pemangku kepentingan ditingkat Kabupaten/ Kota.
Pertemuan ini diharapkan mampu menghasilkan beberapa rekomendasi perbaikan dan
penyempurnaan Rencana Penanggulangan Bencana yang disusun, termasuk pengintegrasian
unsur kearifan lokal dalam Rencana Penanggulangan Bencana yang sedang disusun.

Foccussed Group Discussion (FGD) pada Diskusi


perwakilan

dari

masyarakat,

pemerintah,

Publik ini

akademisi,

jurnalis,

setidaknya di hadiri oleh


LSM/ Kelompok

Peduli

Kebencanaan dan Kemasyarakatan lainnya, dunia usaha, tokoh adat dan agama serta wakil
dari kecamatan di Kabupaten/ Kota tersebut.
Ketentuan Diskusi Publik:

1. Penyelenggaraan dan materi disiapkan oleh Konsultan (minimal 2 orang)


2. Lokasi diwilayah Kabupaten/ kota terkait
3. Peserta undangan daerah minimal 45 orang dari 10 SKPD/ Organisasi/ Lembaga
(diberikan penggantian transport lokal) termasuk Tim Substansi Daerah

4. Narasumber dari Pimpinan SKPD/ Lembaga/ Organisasi daerah (2 orang)


5. Dilengkapi dengan spanduk kegiatan.
6. Undangan peserta disiapkan oleh Konsultan untuk mendapatkan persetujuan pemerintah
daerah (kepala daerah/ sekda/ kalaksa BPBD)

ASISTENSI 2
Untuk menjamin kesesuaian metodologi pengkajian risiko bencana yang dilakukan,
maka akan dilakukan Asistensi 2 yang

melibatkan Badan Nasional Penanggulangan

Bencana sebagai institusi yang mengeluarkan Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana
dan Pedoman umum Penyusunan Dokumen RPB.
Asistensi 2 difokuskan kepada kesesuaian metodologi penilaian kerentanan dan kapasitas
daerah untuk Kajian Risiko Bencana serta kesesuaian kerangka dan proses penyusunan
dokumen RPB. Dengan demikian diharapkan peta kerentanan, peta kapasitas serta Draft
Dokumen RPB yang dihasilkan telah sesuai dengan metodologi yang digunakan oleh
BNPB. Sebagaimana asistensi sebelumnya, maka proses Asistensi 2 juga akan dilakukan
antara Tim Ahli dengan Tim Asistensi BNPB di tingkat nasional.
PENYUSUNAN DRAFT 2 KAJIAN RISIKO BENCANA
Hasil dari Asistensi yang dilakukan sebelumnya akan dijadikan dasar bagi Tim Ahli
untuk merevisi Kajian Risiko Bencana sehingga dapat dijadikan sebagai draft 2 Kajian Risiko
Bencana. Hasil Draft 2 ini selanjutnya akan dipresentasikan pada saat Review oleh BNPB
di tingkat nasional.
PENYUSUNAN DRAFT 2 RENCANA PENANGGULANGAN BENCANA
Hasil dari Konsultasi Publik akan dijadikan dasar bagi Tim Ahli untuk merevisi
Rencana Penanggulangan Bencana yang dihasilkan, sehingga dapat dijadikan sebagai
rancangan awal Draft 2 Rencana Penanggulangan Bencana.
Finalisasi Draft 2 Rencana Penanggulangan Bencana dapat dilakukan melalui
Diskusi Teknis dengan Tim Substansi yang ada di daerah. Diskusi Teknis Tim Substansi
dimaksudkan untuk membangun kesesuaian perbaikan RPB berdasarkan hasil Diskusi
Publik dengan kebijakan pembangunan daerah dan kebijakan tematik lintas sektor. Hasil
akhir Draft 2 Rencana Penanggulangan Bencana akan dipresentasikan dan diulas bersamasama pada saat Review di BNPB.
DISKUSI TEKNIS DAERAH
Diskusi teknis merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh Konsultan bersama Tim
Substansi untuk membahas materi penyusunan dokumen kajian risiko bencana dan RPB di
daerah.
Ketentuan Diskusi Teknis :
1. Dilaksanakan oleh Team Leader/ tenaga ahli/ asisten tenaga ahli.
2. Penyiapan lokasi diskusi dilaksanakan/ dikoordinasikan oleh konsultan
LAPORAN DRAFT AKHIR dan REVIEW OLEH BNPB
Badan

Nasional

Penanggulangan

Bencana

(BNPB)

sebagai

muara

upaya

penanggulangan bencana di tingkat nasional akan melakukan review kualitas Kajian Risiko
Bencana serta kesesuaiannya dengan metode standar BNPB yang dituangkan dalam
Laporan Draft Akhir. Review ini diselenggarakan di sekitar Jakarta dengan menghadirkan

perwakilan

Direktorat

PRB - BNPB,

Tim

Asistensi,

Kalaksa/ Kabid

Pencegahan

BPBD

(Kabupaten/ Kota yang terkait).


Proses review akan dilakukan melalui presentasi dan diskusi oleh Tim Ahli yang
didampingi oleh Tim Asistensi, untuk selanjutnya direview bersama-sama oleh BNPB dan
BPBD. Hasil review ini akan menjadi input dalam menyusun hasil akhir Kajian Risiko
Bencana.
Ketentuan Rapat :
1. Penyelenggaraan disiapkan oleh Konsultan
2. Lokasi diwilayah Propinsi Riau
3. Narasumber dari Pusat
4. Peserta Daerah yang di Undang : Kalaksa/ Kabid Pencegahan BPBD serta Kepala
Bappeda (total 3 orang dari Kabupaten/ Kota yang terkait)
5. Diberikan Seminar Kit
6. Dilengkapi dengan spanduk kegiatan
7. Undangan kegiatan disiapkan oleh BNPB.
Asistensi
Untuk menjamin kesesuaian metodologi yang dilakukan, maka akan dilakukan
Asistensi 3 yang melibatkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana.
Asistensi 3 difokuskan kepada kesesuaian metodologi dengan hasil review di BNPB.
Dengan demikian diharapkan dokumen yang dihasilkan telah sesuai dengan metodologi
yang digunakan oleh BNPB dan mempertimbangkan kearifan lokal daerah. Sebagaimana
asistensi sebelumnya, maka proses asistensi 3 juga akan dilakukan antara Tim Ahli dengan
Tim Asistensi BNPB di tingkat nasional.
Penyusunan Hasil Akhir dan Laporan Akhir
Finalisasi akhir Kajian Risiko Bencana dan Dokumen Teknokratik RPB daerah
dilakukan

berdasarkan

hasil

review

oleh

BNPB.

Pada

tahap

ini

diharapkan

akan

menghasilkan Dokumen yang dapat dijadikan sebagai acuan dasar dalam menentukan arah
kebijakan penanggulangan bencana di daerah.

G. KEBUTUHAN TENAGA AHLI


No.

POSISI

A.

TENAGA AHLI

1.

Team Leader

KUALIFIKASI

S1 Geografi/Kehutanan, memiliki pengalaman untuk

JUMLAH
ORANG
1 (satu)

perkerjaan ini minimal 2 (dua) Tahun dan memiliki


sertifikat Kompetensi Sistim Informasi Geografis
2.

Ahli Lingkungan

S1 Teknik Lingkungan, memiliki Sertifikat Keahlian


Ahli Muda Teknik Lingkungan, pengalaman untuk
perkerjaan ini minimal 1 (satu) Tahun

1 (satu)

3.

Ahli Geodesi/Pemetaan

S1 Geodesi, memeiliki sertifikat muda teknik geodesi

1 (satu)

pengalaman untuk perkerjaan ini minimal 1 (satu)


Tahun
No.

POSISI

KUALIFIKASI

JUMLAH
ORANG

4.

Ahli Hidrologi

S1 Teknik Sipil, memiliki Sertifikat Keahlian Ahli Muda


Teknik

Sumber

Daya

Air,

pengalaman

1 (satu)

untuk

perkerjaan ini minimal 2 (dua) Tahun


5.

Ahli Kehutanan

S1

Manajemen

Kehutanan,

pengalaman

untuk

1 (satu)

untuk

perkerjaan ini minimal 2 (dua) Tahun


B.

Sub

Profesional

Staf/

Tenaga Pendukung
1.

Surveyor

S1/D3

Geodesi,

memiliki

pengalaman

perkerjaan surveyor pekerjaan pemetaan minimal 3

(delapan)

(tiga) Tahun
2.

Operator Komputer GIS

S1/D3 Teknik Informatika/Sistem Informasi, memiliki


pengalaman

untuk

pemograman

2 (dua)

Geographic

Information System minimal 3 (tiga)Tahun


3.

H.

Sekretaris

D3 Segala Jurusan

1 (satu)

JANGKA WAKTU PELAKSANAAN PEKERJAAN


Pekerjaan ini dilaksanakan dalam waktu 5 (lima) bulan.

I.

PEMBIAYAAN PELAKSANAAN PEKERJAAN


Pembiayaan untuk melaksanakan pekerjaan ini bersumber dari APBD Kabupaten Bengkalis
Tahun Anggaran 2016 dengan nilai pekerjaan sebesar Rp. 601.106.000.,- (Enam ratus satu

juta seratus enam ribu rupiah).

PEJABAT PEMBUAT KOMITMEN

MUCHAMAD JALAL, S.Sos


Pembina Utama Muda
NIP. 19600705 198503 1 006