Anda di halaman 1dari 23

MATERI MOUNTAINEERING

Secara bahasa arti kata Mountaineering adalah teknik mendaki gunung. Ruang
lingkup kegiatan Mountaineering sendiri meliputi kegiatan sebagai berikut :
SEJARAH SINGKAT MOUNTAINEERING
Pendakian gunung sebenarnya telah dilakukan oleh para nenek moyang kita
yang dimulai dengan bapak manuasia Nabi Adam AS yang menjelajahi bukit
tursina untuk mencari cintanya Siti Hawa. Siti Hajar yang telah lintas dari bukit
marwah ke bukit Safa ditemani dengan sherpa JIBRIL untuk mencari air bagi
ismail yang lagi kehausan. Dan pendakian demi pendakian hingga saat ini masih
terus berlangsung dan kelak (tak lama lagi ) giliran kalian untuk melanjutkan
amanah menjaga kelanggengan kemanusian.
a. Sejarah Dunia
1942 : Anthoine de Ville memanjat tebing Mont Aiguille (2907 m) di pegunungan
alpen untuk berburu chamois (Kambing gunung)
1624 : Pastor pastor Jesuit, melintasi pegunungan himalaya dari gharwal di Iindia
ke Tibet menjalankan tugas misionarisnya
1760 : Professoe de Saussure menawarkan hadiah besar bagi siapa saja yang
dapat menaklukkan puncak mont blanc guna kepentingan ilmiahnya.
1786 : Puncak tertinggi di pegunungan alpen Mont Blanc (4807 m) akhirnya
dicapai oleh Dr. Michel Paccaro dan Jacquet Balmat.
1852: Batu pertama jaman keemasan dunia keemasan di Alpen diletakkan
oleh Alfred Wills dalam pendakiannya ke puncak Wetterhorn (3.708 m), cikal
bakal pendakian gunung sebagai olah raga.
1852 : Sir George Everest, akhirnya menentukan ketinggian puncak tertinggi
dunia, dan di abadikan dengan namanya (8.848 m), orang Nepal menyebut
puncak ini dengan nama sagarmatha, orang tibet menyebutnya chomolungma.
1878 : Clinton Dent (bukan pepsoden) memnjat tebing Aigullie de dru di perancis
yang memicu trend pemanjatan tebing yang tidak terlalu tinggi tetapi cukup
curam dan sulit, banyak orang menganggap peristiwa ini adalah kelahiran panjat
tebing
1895 : AF Mummery orang yang disebut sebagai bapak pendakian gunung
modern hilang di Nanga Parbat (8.125 m), pendakian ini adalah pendakian
pertama puncak di atas ketinggian 8.000 m
1924 : Mallory dan Irvina mencoba lagi mendaki Everest, keduanya hilang di
ketinggian sekitar 8.400 m
1953 : Pada tanggal 29 mei Sir Edmund Hillary dan Sherpa Tenzing Norgay
akhirnya mencapai atap dunia puncak everest.
b. Sejarah Indonesia
1623 : Yan Carstenz adalah orang pertama melihat adanya pegunungan sangat
tinggi, dan tertutup salju di pedalaman irian

1899: Ekspedisi Belanda pembuat peta di Irian menemukan kebenaran


laporan Yan Carstensz hampir 3 abad sebelumnya tentang pegunungan yang
sangat tinggi, di beberapa tempat tertutup salju! di perdalaman Irian. Maka
namanya diabadikan sebagai nama puncak yang kemudian ternyata merupakan
puncak gunung tertinggi di Indonesia.
1962 : Puncak Carstenz akhirnya berhasil dicapai oleh tim pimpinan Heinrich
Harrer.
1964 : Beberapa pendaki Jepang dan 3 orang Indonesia, yaitu Fred
Athaboe, Sudarto dan Sugirin, yang tergabung dalam Ekspedisi Cendrawasih,
berhasil mencapai Puncak Jaya di Irian. Puncak yang berhasil didaki itu sempat
dianggap Puncak Carstensz, sebelum kemudian dibuktikan salah.
Puncak Eidenburg, juga di Irian, berhasil di daki oleh ekspedisi yang
dipimpin Philip Temple.
Dua perkumpulan pendaki gunung tertua di Indonesia lahir : Wanadri di Bandung
dan Mapala UI di Jakarta, lalu di susul oleh perkumpulan perhimpunan pencinta
alam lainnya mulai dari, MPA,SISPALA, KPA, ERNIPALA, MODIPALA dan sebagainya
1972 : Mapala UI, diantaranya adalah Herman O. Lantang dan Rudy Badil,
berhasil mencapai Puncak cartenz.Mereka merupakan orang-orang sipil pertama
dari Indonesia yang mencapai puncak ini.

E. PERSIAPAN DALAM SEBUAH PERJALANAN


1. Dapat berpikir secara logis.
Ini adalah elemen yang terpenting dalam membuat keputusan selama
pendakian, dimana cara berpikir seperti ini lebih banyak mempertimbangkan
faktor safety atau keselamatannya.
2. Memiliki pengetahuan dan keterampilan.
Meliputi pengetahuan tentang medan ( navigasi darat) ,cuaca dan teknik
pendakian , pengetahuan tentang alat pendakian atau pemanjatan dan
sebagainya.
3. Dapat mengkoordinir tubuh kita.

koordinasi antara otak dengan anggota tubuh.

Haruslah terdapat keseimbangan antara apa yang dipikirkan di

Otak dan apa yang sanggup dilakukan oleh tubuh.

Keseimbangan antara emosi dan kemampuan diri.

Ketenangan dalam melakukan tindakan .

koordinasi antar anggota tubuh.

Ialah keseimbangan dan irama anggota tubuh itu sendiri dalam membuat
gerakan-gerakan atau langkah- langkah ketika berjalan atau diam
4. kondisi fisik yang memadai.

Ini dapat dimengerti karena mendaki gunung termasuk dalam olahraga yang
cukup berat . Seringkali berhasil tidaknya suatu pendakian / pemanjatan
bergantung pada kekuatan fisik. Untuk mempunyai kondisi fisik yang baik dan
selalu siap maka jalan satu-satunya haruslah berlatih.

5. Berdoa
Penyeberangan Basah
Ada beberapa teknik/tips dalam melakukan penyeberangan disungai :
Carilah Jembatan
Jika jembatan tidak ada jangan berharap ada yang mau buatkan jadi carilah
daerah aliran sungai tak beriak, deras dan dalam biasanya semakin ke hulu
aliran sungai seperti itu ada
Jika kalian menyeberangi sungai dan ada tali, ada yang tau berenang ada juga
tidak maka itu yang tau berenang menyeberang kesebelah dengan diikat tali lalu
tali tali itu di tambatkan sudah itu nyebrang mako
Pada saat menyeberang sungai kalian bisa membawa tongkat untuk menjaga
keseimbangan dan juga berguna untuk mengukur kedalaman air
Ingatlah jika menyeberang sungai jangan pernah membelakangi arah arus air
hadapilah walau itu deras karena kalian akan jauh lebih kokoh dan lintasan jalur
yang kalian lalui ada baiknya diagonal begitupun jika kalian menyeberang secara
tim
Selamat Mendaki !!!!!

1. Hill Walking/Hiking Penggiat Alam Bebas Perlu Miliki Beberapa Kemampuan


masa liburan biasanya digunakan oleh banyak anggota pencinta alam untuk
mendaki gunung. Namun beberapa kali kita melihat atau mendengar musibah
yang dialami para pendaki gunung. Banyak musibah menimpa para pendaki di
gunung tertentu akibat hilang atau tersesat hingga menimbulkan kematian.
Mengapa hal itu bisa terjadi?
Mendaki gunung sebagai kegiatan di alam bebas perlu disadari betul sebagai
kegiatan yang berisiko tinggi. Sebab terjadi perubahan penyesuaian diri terhadap
lingkungan yang kita datangi. Dari kehidupan di perkotaan yang nyaman dan
aman dengan segala fasilitasnya, menuju lingkungan dengan kondisi yang
ekstrem. Biasanya kita bermukim di rumah yang nyaman dan sejuk, terhindar
dari panasnya matahari, dinginnya malam dan hujan serta tidur di ranjang yang
empuk dengan selimut yang menghangatkan. Belum lagi dengan makanan dan
minuman yang cepat tersedia dari para pembantu di rumah maupun di tempat
jajanan.
Semua itu akan berubah drastis jika kita mendaki gunung. Perbekalan selama
mendaki kita bawa dalam ransel yang berat termasuk peralatan dan
perlengkapan lainnnya. Tenda untuk berteduh harus didirikan untuk menghindari

dinginnya suhu di ketinggian serta angin dan hujan yang sewaktu-waktu datang
dengan tiba-tiba. Makanan dan minuman juga harus diolah terlebih dahulu
sebelum kita menikmatinya. Belum lagi dengan kondisi lingkungan dalam
perjalanan. Hutan yang lebat serta jalan yang menanjak dan tak jarang kita
harus melewati pinggiran tebing dengan jurang yang dalam. Dengan situasi
seperti itu jelas diperlukan persiapan dan perencanaan yang matang sebelum
kita mendaki gunung dengan nyaman.
Seorang pakar pendidikan alam terbuka, Collin Mortlock, mengatakan bahwa
para penggiat alam bebas harus memiliki beberapa kemampuan dalam
berkegiatan. Kemampuan itu adalah kemampuan teknis yang yang berhubungan
dengan ritme dan keseimbangan gerakan serta efisiensi penggunaan
perlengkapan. Sebagai contoh, pendaki harus memahami ritme berjalan saat
melakukan pendakian, menjaga keseimbangan pada medan yang curan dan
terjal sambil
membawa beban yang berat serta memahami kelebihan dan kekurangan dari
perlengkapan dan peralatan yang dibawa serta paham cara penggunaannya.
Lalu, kemampuan kebugaran yang mencakup kebugaran spesifik yang
dibutuhkan untuk kegiatan tertentu, kebugaran jantung dan sirkulasinya, serta
kemampuan pengkondisian tubuh terhadap tekanan lingkungan alam.
Berikutnya, kemampuan kemanusiawian. Ini menyangkut pengembangan sikap
positif ke segala aspek untuk meningkatkan kemampuan. Hal ini mencakup
determinasi/kemauan, percaya diri, kesabaran, konsentrasi, analisis diri,
kemandirian, serta kemampuan untuk memimpin dan dipimpin.
Seorang pendaki seharusnya dapat memahami keadaan dirinya secara fisik dan
mental sehingga ia dapat melakukan kontrol diri selama melakukan pendakian,
apalagi jika dilakukan dalam suatu kelompok, ia harus dapat menempatkan diri
sebagai anggota kelompok dan bekerja sama dalam satu tim.
Tak kalah penting adalah kemampuan pemahaman lingkungan. Pengembangan
kewaspadaan terhadap bahaya dari lingkungan spesifik. Wawasan terhadap iklim
dan medan kegiatan harus dimiliki seorang pendaki. Ia harus memahami
pengaruh kondisi lingkungan terhadap dirinya dan pengaruh dirinya terhadap
kondisi lingkungan yang ia datangi.
Keempat aspek kemampuan tersebut harus dimiliki seorang pendaki sebelum ia
melakukan pendakian. Sebab yang akan dihadapi adalah tidak hanya sebuah
pengalaman yang menantang dengan keindahan alam yang dilihatnya dari
dekat, tetapi juga sebuah risiko yang amat tinggi, sebuah bahaya yang dapat
mengancam keselamatannya.
IGN FERRY IRAWAN
sumber: Suara PembaruanPERLENGKAPAN PRIBADI
1. Sepatu, ada beberapa tipe sepatu yang dirancang khusus untuk berbagai jenis
perjalanan. Sepatu yang baik adalah yang dapat memberikan perlindungan bagi
kaki dan cocok untuk jenis perjalanan.
2. Pakaian, harus dapat melindungi si pemakai dari gangguan medan dan cuaca.
Meliputi pakaian untuk kepala, badan, tangan dan kaki.

3. Perlengkapan tambahan, meliputi bekal makanan / minuman, senter, pisau,


perlengkapan menginap / tidur, dll.
PERLENGKAPAN TEKNIK
1. Tali (Rope)
Tali yang dipergunakan dalam pendakian / pemanjatan tebing (climbing rope)
bersifat fleksible, elastis dan tahan terhadap beban yang berat. Diameter tali
berkisar antara 11, 10 dan 9 mm. Kemampuan menahan beban berkisar antara
1.360 s/d 2.720 kg. Yang biasa digunakan ada dua jenis yaitu : Hawser laid dan
Kernmantel.
2. Helmet / Crash Hat
Berfungsi sebagai pelindung kepala terhadap benturan benda keras.
3. Harness
Tali tubuh yang berfungsi sebagai sabuk pengaman.
4. Carabineer
Carabineer adalah cincin kait yang berbentuk oval atau D dan mempunyai gate /
pintu, terbuat dari allumunium alloy dan mempunyai kekuatan antara 1.500
3.500 kg. Carabineer ini ada dua jenis, yaitu : screw gate (berkunci) dan snape
gate (tidak berkunci).
5. Sling
Sling terbuat dari webbing tubular. Panjang sekitar 1,5 m dengan lebar 2,5 cm
dibentuk menjadi sebuah loop (lingkaran) yang dihubungkan dengan simpul pita.
PERENCANAAN PERLENGKAPAN PERJALANAN :
Keberhasilan suatu kegiatan di alam terbuka juga ditentukan oleh perencanaan
dan perbekalan yang tepat. Dalam merencanakan perlengkapan perjalanan
terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, diantaranya adalah :
1. Mengenal jenis medan yang akan dihadapi (hutan, rawa, tebing, dll)
2. Menentukan tujuan perjalanan (penjelajahan, latihan, penelitian, SAR,
3. Mengetahui lamanya perjalanan (misalnya 3 hari, seminggu, sebulan,
4. Mengetahui keterbatasan kemampuan fisik untuk membawa beban
5. Memperhatikan hal-hal khusus (misalnya : obat-obatan tertentu)
Setelah mengetahui hal-hal tersebut, maka kita dapat menyiapkan perlengkapan
dan perbekalan yang sesuai dan selengkap mungkin, tetapi beratnya tidak
melebihi sepertiga berat badan (sekitar 15-20 kg), walaupun ada yang
mempunyai kemampuan mengangkat beban sampai 30 kg.
Dari kegiatan penjelajahan, ada beberapa jenis perjalanan yang disesuaikan
dengan medannya, yaitu :
1. Perjalanan pendakian gunung
2. Perjalanan menempuh rimba
3. Perjalanan penyusuran sungai, pantai dan rawa
4. Perjalanan penelusuran gua
5. Perjalanan pelayaran
Untuk perjalanan ilmiah dan kemanusiaan, bisa pula dikelompokkan berdasarkan
jenis medan yang dihadapi. Dari setiap kegiatan tersebut, kita dapat
mengelompokkan perlengkapannya sebagai berikut :

1. Perlengkapan dasar, meliputi :


o Perlengkapan dalam perjalanan / pergerakkan
o Perlengkapan untuk istirahat
o Perlengkapan makan dan minum
o Perlengkapan mandi
o Perlengkapan pribadi

2. Perlengkapan khusus, disesuaikan dengan perjalananan, misalnya


o Perlengkapan penelitian (kamera, buku, dll)
o Perlengkapan penyusuran sungai (perahu, dayung, pelampung, dll)
o Perlengkapan pendakian tebing batu (carabineer, tali, chock, dll)
o Perlengkapan penelusuran gua (helm, headlamp/senter, harness, sepatu karet,
dll)
3. Perlengkapan tambahan
Perlengkapan ini dapat dibawa atau tergantung evaluasi yang dilakukan
(misalnya : semir, kelambu, gaiter, dll).
Mengingat pentingnya penyusunan perlengkapan dalam suatu perjalanan, maka
sebelum memulai kegiatan, sebaiknya dibuatkan check-list terlebih dahulu.
Perlengkapan dikelompokkan menurut jenisnya, lalu periksa lagi mana yang
perlu dibawa dan tidak.
Apabila perjalanan kita lakukan dengan berkelompok, maka check-list nya untuk
perlengkapan regu dan pribadi. Dalam perjalanan besar dan memerlukan waktu
yang lama, kita perlu menentukan perlengkapan dan perbekalan mana saja yang
dibawa dari rumah atau titik keberangktan, dan perlengkapan atau perbekalan
mana saja yang bisa dibeli di lokasi terdekat dengan tujuan perjalanan kita.
(Sumber : Buku Panduan Pedoman Mendaki Gunung & Penjelajahan
Rimba/EAT&E EAST 2003
Mendaki gunung adalah suatu olah raga keras, penuh petualangan dan
membutuhkan keterampilan, kecerdasan, kekuatan serta daya juang yang tinggi.
Bahaya dan tantangan merupakan daya tarik dari kegiatan ini. Pada hakekatnya
bahaya dan tantangan tersebut adalah untuk menguji kemampuan diri dan
untuk bisa menyatu dengan alam. Keberhasilan suatu pendakian yang sukar,
berarti keunggulan terhadap rasa takut dan kemenangan terhadap perjuangan
melawan diri sendiri.
Di Indonesia, kegiatan mendaki gunung mulai dikenal sejak tahun 1964 ketika
pendaki Indonesia dan Jepang melakukan suatu ekspedisi gabungan dan berhasil
mencapai puncak Soekarno di pegunungan Jayawijaya, Irian Jaya (sekarang
Papua). Mereka adalah Soedarto dan Soegirin dari Indonesia, serta Fred Atabe
dari Jepang. Pada tahun yang sama, perkumpulan-perkumpulan pendaki gunung
mulai lahir, dimulai dengan berdirinya perhimpunan penempuh rimba dan
pendaki gunung WANADRI di Bandung dan Mahasiswa Pencinta Alam Universitas
Indonesia (Mapala UI) di Jakarta, diikuti kemudian oleh perkumpulanperkumpulan lainnya di berbagai kota di Indonesia.
JENIS PERJALANAN / PENDAKIAN

Mountaineering dalam arti luas adalah suatu perjalanan, mulai dari hill walking
sampai dengan ekspedisi pendakian ke puncak-puncak yang tinggi dan sulit
dengan memakan waktu yang lama, bahkan sampai berbulan-bulan.
Menurut kegiatan dan jenis medan yang dihadapi, mountaineering terbagi
menjadi tiga bagian :
1. Hill Walking / Fell Walking
Perjalanan mendaki bukit-bukit yang relatif landai dan yang tidak atau belum
membutuhkan peralatan-peralatan khusus yang bersifat teknis.
2. Scrambling
Pendakian pada tebing-tebing batu yang tidak begitu terjal atau relatif landai,
kadang-kadang menggunakan tangan untuk keseimbangan. Bagi pemula
biasanya dipasang tali untuk pengaman jalur di lintasan.
3. Climbing
Kegiatan pendakian yang membutuhkan penguasaan teknik khusus. Peralatan
teknis diperlukan sebagai pengaman. Climbing umumnya tidak memakan waktu
lebih dari satu hari.
Bentuk kegiatan climbing ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu :
a. Rock Climbing
Pendakian pada tebing-tebing batu yang membutuhkan teknik pemanjatan
dengan menggunakan peralatan khusus.
b. Snow & Ice climbing
Pendakian pada es dan salju.
4. Mountaineering
Merupakan gabungan dari semua bentuk pendakian di atas. Waktunya bisa
berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Disamping harus
menguasai teknik pendakian dan pengetahuan tentang peralatan pendakian,
juga harus menguasai manajemen perjalanan, pengaturan makanan,
komunikasi, strategi pendakian, dll.
KLASIFIKASI PENDAKIAN
Tingkat kesulitan yang dimiliki setiap orang berbeda-beda, tergantung dari
pengembangan teknik-teknik terbaru. Mereka yang sering berlatih akan memiliki
tingkat kesulitan / grade yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang baru
berlatih.
Klasifikasi pendakian berdasarkan tingkat kesulitan medan yang dihadapi
(berdasarkan Sierra Club) :
Kelas 1 : berjalan tegak, tidak diperlukan perlengkapan kaki khusus (walking).
Kelas 2 : medan agak sulit, sehingga perlengkapan kaki yang memadai dan
penggunaan tangan sebagai pembantu keseimbangan sangat dibutuhkan
(scrambling).
Kelas 3 : medan semakin sulit, sehingga dibutuhkan teknik pendakian tertentu,
tetapi tali pengaman belum diperlukan (climbing).
Kelas 4 : kesulitan bertambah, dibutuhkan tali pengaman dan piton untuk
anchor/penambat (exposed climbing).
Kelas 5 : rute yang dilalui sulit, namun peralatan (tali, sling, piton dll), masih
berfungsi sebagai alat pengaman (difficult free climbing).
Kelas 6 : tebing tidak lagi memberikan pegangan, celah rongga atau gaya geser

yang diperlukan untuk memanjat. Pendakian sepenuhnya bergantung pada


peralatan (aid climbing).
SISTEM PENDAKIAN
1. Himalayan System, adalah sistem pendakian yang digunakan untuk
perjalanan pendakian panjang, memakan waktu berminggu-minggu. Sistem ini
berkembang pada pendakian ke puncak-puncak di pegunungan Himalaya.
Kerjasama kelompok dalam sistem ini terbagi dalam beberapa tempat
peristirahatan (misalnya : base camp, flying camp, dll). Walaupun hanya satu
anggota tim yang berhasil mencapai puncak, sedangkan anggota tim lainnya
hanya sampai di tengah perjalanan, pendakian ini bisa dikatakan berhasil.
2. Alpine System, adalah sistem pendakian yang berkembang di pegunungan
Alpen. Tujuannya agar semua pendaki mencapai puncak bersama-sama. Sistem
ini lebih cepat, karena pendaki tidak perlu kembali ke base camp, perjalanan
dilakukan secara bersama-sama dengan cara terus naik dan membuka flying
camp sampai ke puncak.
PERSIAPAN BAGI SEORANG PENDAKI GUNUNG
Untuk menjadi seorang pendaki gunung yang baik diperlukan beberapa
persyaratan antara lain :
1. Sifat mental.
Seorang pendaki gunung harus tabah dalam menghadapi berbagai kesulitan dan
tantangan di alam terbuka. Tidak mudah putus asa dan berani, dalam arti kata
sanggup menghadapi tantangan dan mengatasinya secara bijaksana dan juga
berani mengakui keterbatasan kemampuan yang dimiliki.
2. Pengetahuan dan keterampilan
Meliputi pengetahuan tentang medan, cuaca, teknik-teknik pendakian
pengetahuan tentang alat pendakian dan sebagainya.
3. Kondisi fisik yang memadai
Mendaki gunung termasuk olah raga yang berat, sehingga memerlukan kondisi
fisik yang baik. Berhasil tidaknya suatu pendakian tergantung pada kekuatan
fisik. Untuk itu agar kondisi fisik tetap baik dan siap, kita harus selalu berlatih.
4. Etika
Harus kita sadari sepenuhnya bahwa seorang pendaki gunung adalah bagian
dari masyarakat yang memiliki kaidah-kaidah dan hukum-hukum yang berlaku
yang harus kita pegang dengan teguh. Mendaki gunung tanpa memikirkan
keselamatan diri bukanlah sikap yang terpuji, selain itu kita juga harus
menghargai sikap dan pendapat masyarakat tentang kegiatan mendaki gunung
yang selama ini kita lakukan.
(Sumber : Buku Panduan Pedoman Mendaki Gunung & Penjelajahan
Rimba/EAT&E EAST 200

Hill walking atau yang lebih dikenal sebagai hiking adalah sebuah kegiatan
mendaki daerah perbukitan atau menjelajah kawasan bukit yang biasanya tidak
terlalu tinggi dengan derajat kemiringan rata-rata di bawah 45 derajat. Dalam

hiking tidak dibutuhkan alat bantu khusus, hanya mengandalkan kedua kaki
sebagai media utamanya. Tangan digunakan sesekali untuk memegang tongkat
jelajah (di kepramukaan dikenal dengan nama stock atau tongkat pandu)
sebagai alat bantu. Jadi hiking ini lebih simpel dan mudah untuk dilakukan
2..scrambling.
Dalam pelaksanaannya, scrambling merupakan kegiatan mendaki gunung ke
wilayah-wilayah dataran tinggi pegunungan (yang lebih tinggi dari bukit) yang
kemiringannya lebih ekstrim (kira-kira di atas 45 derajat). Kalau dalam hiking
kaki sebagai alat utama maka untuk scrambling selain kaki, tangan sangat
dibutuhkan sebagai penyeimbang atau membantu gerakan mendaki. Karena
derajat kemiringan dataran yang lumayan ekstrim, keseimbangan pendaki perlu
dijaga dengan gerakan tangan yang mencari pegangan. Dalam scrambling, tali
sebagai alat bantu mulai dibutuhkan untuk menjamin pergerakan naik dan
keseimbangan tubuh.
Berbeda dengan hiking dan scrambling, level mountaineering yang paling
ekstrim adalah climbing! Climbing mutlak memerlukan alat bantu khusus seperti
karabiner, tali panjat, harness, figure of eight, sling, dan sederetan peralatan
mountaineering lainnya. Kebutuhan alat bantu itu memang sesuai dengan
medan jelajah climbing yang sangat ekstrim. Bayangkan saja, kegiatan climbing
ini menggunakan wahana tebing batu yang kemiringannya lebih dari 80 derajat!
Ouhhh
Nah, tentu saja mountaineering ini cukup menantang untuk digeluti selain
wahana kegiatannya yang berada di daerah ketinggian pegunungan yang
diwarnai dengan tebing lembah, ngarai, ceruk, sungai, dan panorama tiada tara,
untuk melakoni mountaineering ini tentu saja dibutuhkan kesiapan fisik yang
mantap
Secara garis besarnya untuk melakoni mountaineering pastikan tubuh kalian
dalam kondisi sehat, fit, dan stamina oke. Untuk itu olahraga teratur sangat
mutlak. Selain itu, kau harus bebas dari semua phobia akan hal-hal yang
berkaitan dengan tempat-tempat tinggi dan punya kesiapan rencana yang
mantap!
Peralatan dasar kegiatan alam bebas seperti :
ransel, vedples (botol air), sepatu gunung, pakaian gunung, tenda, misting
(rantang masak outdoor), kompor lapangan, topi rimba, peta, kompas, altimeter,
pisau, korek, senter, alat tulis, dan matras mutlak dibutuhkan selain alat bantu
khusus mountaineering seperti tali houserlite/kernmantel, karabiner, figure of
eight, sling, prusik, bolt, webbing, harness, dan alat bantu khusus lainnya yang
dibutuhkan sesuai level kegiatannya.
2. Climbing
Climbing adalah olah raga panjat yang dilakukan di tempat yang curam atau
tebing. Tebing atau jurang adalah formasi bebatuan yang menjulang secara
vertikal. Tebing terbentuk akibat dari erosi. Tebing umumnya ditemukan di
daerah pantai, pegunungan dan sepanjang sungai. Tebing umumnya dibentuk
oleh bebatuan yang yang tahan terhadap proses erosi dan cuaca.

Di dalam arti yang sebenarnya memang climbing itu panjat tebing. Tetapi banyak
pula orang mengartikan bukan hanya panjat saja dalam kegiatan climbing ini
melainkan juga Repling (turun tebing), Pursiking (naik tebing dengan
menggunakan tali pursik) dan lain-lain.
Biasanya orang melakukan pemanjatan tebing ini dilakukan dengan konsentrasi
yang tinggi, kekuatan tangan, kekuatan kaki, keseimbangan tubuh dijadikan
tolak ukur dalam melakukan pemanjatan ini. Panjat tebing bukan hanya di alam
tetapi kita bisa di tebing buatan (woll-climbing).
Dalam divisi climbing ini sangatlah mengharapkan peran lembaga STTA dalam
melancarkan kegiatannya, yaitu adanya pembuatan woll-climbing. Didalam
pembuatan wool-climbing memang memerlukan dana yang cukup besar. Maka
dari itu Palastta mengharapkan kerjasama dari pihak manapun untuk dapat
bekerja sama dalam pembuatan wool-climbing ini.
3. Rock Climbing
Rock Climbing adalah olah raga fisik dan mental yang mana selalu
membutuhkan kekuatan, keseimbangan, kecepatan, ledakan-ledakan tenaga
yang didukung dengan kemampuan mental para pelakunya. Ini adalah kegiatan
yang sangat berbahaya dan dibutuhkan pengetahuan dan latihan. Olah raga ini
juga menggunakan alat-alat panjat yang sangat krusial dan rawan, tetapi dengan
teknik dan pengetahuan yang benar, olah raga ini sangat aman untuk dilakukan.
Ice and Snow Climbing
Ice and Snow Climbing adalah olah raga fisik dan mental yang mana selalu
membutuhkan kekuatan, keseimbangan, kecepatan, ledakan-ledakan tenaga
yang didukung dengan kemampuan mental para pelakunya. Ini adalah kegiatan
yang sangat berbahaya dan dibutuhkan pengetahuan dan latihan. Olah raga ini
juga menggunakan alat-alat panjat yang sangat krusial dan rawan, tetapi dengan
teknik dan pengetahuan yang benar, olah raga ini sangat aman untuk dilakukan.

Seorang awam (tidak memiliki cukup penagalaman di hutan dan gunung)


mungkin segera akan menilai bahwa bahaya dihutan adalah sbb :
`Hutan dan gunung adalah wilayah berkeliarannya binatang-binatang buas
pemangsa yang setiap detik siap memangsa manusia yang memasuki
wilayahnya. Tumbuh-tumbuhan yang lebat saling berbelit dan rimbunnya
dedaunan akan menghambat sinar matahari dan menimbulkan kegelapan yang
segera akan menyesatkan arah perjalanan kita. Legenda tentang batang kayu
besar yang tumbang serta dipenuhi lumut dan ketika seseorang menancapkan
lumut atasnya segera menyemburlah darah. Dan batang kayu itu menggeliat;
ternyata batang kayu itu adalah tubuh seekor ular yang sangat besar yang
segera akan marah dan menelan manusia yang menyakitinya. Bayang-bayangan
sejenis itu adalah wajar dimiliki oleh seorang awam. Sebagian ada benarnya tapi
sebagian lagi adalah hal-hal yang sangat dilebih-lebihkan
Tetapi bagi orang yang telah berpuluh-puluh kali mengalami perjalanan di hutan
dan gunung ternyata sebahagian besar belum pernah bertemu dengan binatang
buas seperti yang ditakautkan (walau mengkin sesungguhnya salah seorang dari

mereka pernah bertemu, tetapi binatangnya buas itu segera menghindar karena
mendengar suara manusia sehingga tak terlihat). Penagalaman2 yang lebih pasti
dialaminya adalah mereka pasti selalu bertemu debgan nyamuk-nyamuk yang
berusaha menghisap darahnya. Seandainya salah seekor nyamuk yang
menggigitnya berpotensi menularkan malaria, demam berdarah ataupun
penyakit kaki gajah, tentu saja hal ini sudah merupakan potensi bahaya yang
dapat berakibat sama fatalnya dengan serangan binatang buas. Hujan, angin,
dan udara dingin adalah contoh lain dari hambatan-hambatan yang paling sering
ditemui, dimana bila menjadi extreme dapat menjadi bahaya atau potensi
bahaya yang tidak kalah fatalnya. Banyak lagi hal-hal lain yang karena mungkin
belum pernah dialami atau terlihat dapat menjadi potensi bahaya, menjadi
terabaikan. Atau mungkin juga sesuatau hal yang dilingkungan kehidupan
normal dapat dianggap hal yang biasa terjadi dikarenakan fasilitas-fasilitas
pendukung yang memadai, tidak disadri dapat merupakan bahaya atau
berpotensi menjadi bahaya fatal dalam perjalanan di hutan dan gunung :
misalnya luka-luka kecil yang bisa terkena infeksi bila tidak terawat dengan baik.
Tentu saja membahas bentuk-bentuk bahaya yang mungkin dihadapi di hutan
fdan gunung dengan cara diatas akan menjadi bertele-tele, berbelit dan sangat
tidak sistematis. Untuk itu marilah kita mencoba membahas secara lebih
sistematis bahaya-bahaya yang mungjkin kita hadapi di hutan dan gunung.
Pengelompokan Bahaya di Hutan dan Gunung
Bila kita kelompokan bahaya di hutan dan gunung dapat kita simpulkan sebagai
berikut :
1. Bahaya Obyektif : Segala bentuk bahaya atau potensi bahaya yang
ditimbulkan oleh objek hutan dan gunung itu sendiri dan segala sesuatu yang
berada dilingkungannya
2. Bahaya Subyektif : Segala bentuk bahaya dan atau potensi bahaya yang
diawali atau ditimbulkan oleh pelaku dalam segala bentuk perilaku, tindakan dan
pengambilan keputusan baik sebelum ataupun saat ia berkegiatan di hutan dan
gunung.
3. Nasib Buruk dan Nasib Baik : segala bentuk bahaya dan atau potensi bahaya
yang pada dasarnya diluar perhitungan ataupun pertimbangan pelakunya, dan
bersifat sama sekali tidak terduga. Umumnya sangat jarang terjadi. Nasib Buruk
akan langsung dirasakan oleh pelaku sebagai potensi bahaya ataupun bahaya.
Nasib Baik bila tidak secara bijak diterima sebagai sebentuk pengalaman
tentang keberuntungan, dapat menjadi sebentuk sikap berfikir yang dapat
menjadi potensi dan atau bahaya disaat mendatang.
Kelompok-kelompok Bahaya di Hutan dan Gunung.
1. Bahaya Objectif
a) Kondisi Bentuk Permukaan Bumi (Terrain); Apakah Terrain berpemukaan:
datar, curam, patahan-patahan, tonjolan-tonjolan dan gabungan dari beberapa
bentuk. Masing-massing memiliki bahaya sendiri-sendiri. Apakah kondisi
permukaan itu terbentuk oleh tanah padat, gembur, berair, becek, rawa, sungai,
pasir, kerikil bulat, krikil tajam, batuan lepas, batuan padat dan serterusnya.

Masing- masing juga memeiliki sifat-sifat tersendiri yang tentunya memeiliki


potensi-potensi bahaya.
b) Bentuk-bentuk Kehidupan (living Form);
Kehidupan Binatang: Mulai kehidupan Micro organisme yang sederhana hingga
binatang-binatang besar dapat menjadi potensi bahaya. Secara umum potensi
itu adalah :
Dapat menimbulkan penyakit.
Dapat menularkan penyakit.
Beracun bila menyengat, bersentuhan atau menggigit.
Beracun bila dimakan.
Karena ukurannya besar dapat berbahaya bila menyerang.
Binatang besar pemangsa.
Minimbulkan/mengeluarkan zat-zat kimia yang membuat sangat tidak nyaman.
Tumbuh-tumbuhan
Potensi bahaya yang dapat ditimbulkan oleh tumbuhan adalah :
Kerapatan tumbuhan dapat menghambat dan mencederai kita dalam
pergerakan.
Kerapatan tumbuhan dapat menghambat jarak dan keleluasaan pandangan
(visibility) sehingga menyulitkan orientasi.
Mempunyai duri-duri atau getah beracun yang dapat mencederai kita.
Mengandung racun bila dimakan.
Tetapi harus dicatat, dalam situasi survival ada tidaknya binatang dan tumbuhan
yang dapat kita manfaatkan juga merupakan problem bagi kita untuk sumber
makakan, shelter, bahan bakar, perlengkapan pengganti dll.
c) Iklim dan Cuaca
Iklim yang merupakan gambaran umum musim-musim yang terjadi disuatu
daerah tertentu dalam periode waktu satu tahun mungkin lebih mudah
doiperkirakan. Tetapi cuaca yang berkaitan dengan: temperatur, kelembaban
dan pergeerakan udara akan lebih sulit diperkirakan. Ketiga hal itu sangat
berkaitan dengan kemampuan tubuh kita yang mempunyai keterbatasan untuk
dapat berfungsi normal. Hal-hal yang dapat menjadi potensi bahaya dari kondisi
cuaca adalah :
Temprertur Tinggi, yang berkaitan debngan terik matahari dapat menyebabkan
Heatstroke dan Sunstroke.
Temperature rendah, basah, angin, dan kombinasinya dapat menyebabkan
Hypotermia.
Basah terus-menerus dapat menyebabkan bagian telapak kaki mengalami
Water immersion foot (seperti kena kutu air). Akan mudah lecet dan peluang
terinfeksi menjadi lebih besar.
Potensi-potensi bahaya lain yang diakibatkan oleh cuaca misal: angin yang
sangat besar dapat mematahkan batang2 pohon besar yang bisa mencederai
kita, curah hujan yang tinggi dapat menghambat pergerakan dan jarak pandang.
Curah hujan yang sangat extreme mempunyai potensi bahaya tersendiri.
Demikian juga kekeringan yang extreme

d) Ketinggian
Tinggi rendahnya suatu tempat dari atas permukaan laut, akan berkaitan dengan
besarnya tekanan udara di tempat itu. Disekitar ketinggian sejajar dengan
permukaan laut tekanan udara besarnya kurang lebih 1 Atmosfir (atm), pada 500
Meter Diatas Permukaan Laut (mdpl) tekanan udaranya hanya kurang lebih
50%nya. Besarnya tekanan disebabkan massa udara yang lebih besar. Dengan
kata lain materi yang membentuk udara lebih banyak. Makin kecil tekanannya,
makin sedikit materi yang membentuknya. Oksigen yang kita butuhkan ada
kurang lebih 20% dari materi yang membentuk udara. Dengan demikian makin
tinggi suatu tempat dari permukaan laut makin sedikit jumlah oksigen dari setiap
liter yang terhisap paru-paru kita. Tubuh kita membutuhkan waktu untuk
beraklimatisasi dengan kondisi ini. Kurangnya waktu aklimatisasi dapat
menimbulkan gangguan pada kesehatan tubuh kita, yaitu apa yang disebut
Mountain Sickness, yang bila berlanjut dari kondisi Hypoxia dapat berkembang
menjadi Pulmonaryedema dan atau Cerebraledema. Bahkan diatas ketinggian
yang berkisar mulai diatas 5000 mdpl, tubuh kita tidak mampu beraklimatisasi
secara permanaen. Hanya dalam batasan waktu tertentu tubuh kita dapat
bertahan. Daerah diatas ketinggian itu sering juga disebut Death Zone dimana
tidak ada makhluk hidup yang dapat beraklimatisasi permanent disana. (Can u
follow it?)
e) Besaran Jarak dan Waktu
Besarnya jarak biasanya berkaitan dengan lamanya waktu tempuh, walau
tingkat kesulitan medan (berkaitan dengankondisi Terrain, Living Form, Iklim dan
cuaca, ketinggian) ikut berpengaruh. Secara sederhana dapat dilihat bahwa
makin besar jarak dan waktu makin rumit rencana perjalan yang harus kita buat.
Banyak masalah- masalah yang harus kita pertimbangkan seperti misalnya :
masalah perbekalan, navigasi, kesehatan, shelter, peralatan, tekanantekanan/stress (fisik dan psikis) yang mungkin dialami dst. Makin rumit rencana
perjalanan yang harus kita pertimbangkan, ada kemungkinan makin besar
faktor-faktor kesalahan yang terjadi. Faktor- faktor kesalahan yang ini dapat
berkembang pada pelaksanaanya menjadi potensi bahaya.
f) Kondisi Akibat/Pengaruh
Yang dimaksud dengan kondisi akibat atau pengaruh adalah suatu kondisi yang
pada umumnya/biasanya tidak merupakan potensi bahaya, tetapi akibat
pengaruh tertentu menjadikannya sebagai potensi atau bahaya. Beberapa
contoh misalnya :
Adanya bangkai binatang besar diatas aliran sungai yang sangat jernih dihutan
atau digunung yang kita gunakan sebagai sumber air.
Adanya ganggang beracun pada genangan air tetrentu yang kita anggap
sebagai sumber air yang baik.
Munculnya gas beracun di wilayah gunung berapi dimana biasanya wilayah
tersebut aman. Hal ini mungkin akibat aktivitas gunung berapi beraktivitas diluar
normalnya.
Jenis-jenis ikan tertentu yang biasanya tidak beracun menjadi ikan beracun bila
dikonsumsi akibat adanya kandungan mineral tertentu atau micro organisme
tertentu diperairan habitatnya.

Dan contoh lainnya.


g) Kondisi Sosial Budaya
Lain padang lain belalangnya, lain lubuk lain pula ikannya, demikian kata
peribahasa. Setiap daerah memang memiliki adat-istiadat tersendiri. Kesalahan
kita dalam menghargai adat istiadat setempat dapat menimbulkan
kesalahpahaman. Rasa tidak suka, penolakan terhadap kehadiran kita akan
menimbulkan ketidaknyamanan dan atau rasa tidak aman pada diri kita. Hal ini
bila berlanjut dapat menjadi potensi bahaya yang tidak jarang pula menjadi
bahaya. Tidak jarang pula masyarakat pedalaman yang akan merasa tidak aman
bila wilayahnya dimasuki orang asing. Bagi kita sikap mereka sering kita anggap
agresif, yang sesungguhnya itu adalah manifestasi dari rasa tidak aman itu.
Pendekatan yang cermat perlu kita lakukan agar situasi itu tidak menjadi potensi
bahaya.
2. Bahaya Subjektif
a. Kondisi Kebugaran (fitness)
Subject : Berkegiatan di alam terbuka dalam tingkatan tertentu menuntut
kebugaran tubuh pelakunya. Tidak saja sitem peredaran darahnya (cardios
culary), metabolisme tubuh, kekuatan otot-ototnya, tetapi juga daya pertahanan
tubuhnya terhadap perubahan-perubahan cuaca (berkaitan dengan temperatur,
kebasahan angin). Sering juga berkegiatan di gunung dan hutan mengharuskan
kita melakukan irama dan siklus kehidupan yang tidak teratur. Atau setidaknya
tidak sebagaimana pada kehidupan kita sehari-hari. Situasi dan kondisi ini dapat
menjadi potensi bahaya apabila kebugaran tubuh pelaku tidak dapat memenuhi
sebagaimana yang dituntut kegiatan itu.

b. Kondisi Kemampuan Tekhnis (Technical Skills)


Subyek : Sebentuk pengetahuan dan keterampilan tekhnis tentu saja dituntut
dalam berkegiatan di gunung dan hutan. Keterampilan untuk dapat bergerak
dengan efisien serta efektif, mengontrol keseimbangan dan irama gerak tubuh
serta beristirahat secara efektif tapi efisien. Hal ini juga harus ditunjang dengan
pengetahuah apa saja, peralatan pembantu yang dibutuhkan secara tepat, serta
penggunaanya secara benar untuk membantunya bergerak atau beristirahat.
Pengetahuan dan keterampilan menjaga kesehatan, kebugaran tubuh dan
bagaimana mengatasi bila tergangu juga dituntut. Tidak mendukungnya
kemampuan tekhnis pelaku, akan menjadi sebentuk potensi bahaya.
c. Kondisi Kemampuan Kemanusiaan (Human Skills)
Sebentuk kondisi kemampuan kemanusiaan juga dituntut dalam berkegiatan di
alam bebas. Apa yang sering kita dengar sebagai mental yang kuat dan emosi
yang stabil itu yang dituntut. Tetapi uraian dari mental yang kuat itu sendiri
jarang kita dengar. Pengertian mental itu sendiri adalah bagaimana sikap
berfikir kita dalam mengontrol aksi gerak tubuh/tindakan kita. Dengan kata lain
bagaimana kita terhadap sebentuk situasi dan kondisi: Menilai, Menganalisa,
Merasionalisasikannya, Mengambil/Menentukan keputusan, serta Melaksanakan
keputusan itu. Hal-hal diatas terntu saja menuntut sebentuk perilaku positif
manusia. Seperti : Leadership, Judgement, Determination, Integrity,

Patience/Kecermatan, dan seterusnya untuk dapat melaksanakannya dengan


baik. Emosi adalah sebentuk reaksi perasaan yang timbul bila menghadapi
situasi dan kondisi tertentu. Dapat dianggap sebagai suatu kewajaran, tetapi
tidak jarang sesungguhnya tidak bersifat rasional. Rasa Takut, Kesal, Kesepian,
Patah Semangat, Frustasi, adalah contoh-contoh yang dapat berkembang
menjadi potensi bahaya.
d. Kondisi Kemampuan Pemahaman Lingkungan (Enviromental Skills)
Pamahaman akan segala bentuk sifat dan karakter dari lingkungan gunung dan
hutan dituntut bagi pelaku yang berkegiatan disana. Segala sifat dan karakter
lingkungan yang dapat menjadi potensi bahaya harus bisa dinilainya; tetapi sifat
dan karakter yanhg dapat dimanfaatkan harus pula dapat dipahaminya. Sifat dan
karakter lingkungan itu bukan dianggap sebagai musuh, tetapi bagaimana ia
harus mampu bernegosiasi dengan segala kemampuan yang dimilinya.
Ketidakmampuan memahami segala karakter dan sifat lingkungan dimana ia
berkegiatan akan dapat menimbulkan potensi bahaya.
3. Nasib Buruk dan Baik
Hal utama dari sikap pendekatan kita terhadap nasib baik dan buruk mungkin
yang terbaik adalah sebagai berikut: Adanya nasib buruk adalah sesuatu yang
tak dapat dihindari. Apabila terjadi pada kita, terimalah sebagai suatu realita
bukan dengan reaksi emosi yang negatif seperti : Kesal, Menyesali, Marah dst.
Hal terpenting yang harus kita lakukan adalah bagaimana kita dapat
mengatasinya dengan bijak dan tepat. Mendapatkan nasib baik harus kita sadari
hanya benar-benar sebuah keberuntungan. Hal ini jangan kita jadikan sandaran
untuk tindakan-tindakan atau kegiatan-kegiatan selanjutnya. Tidak rela
menerima adanya nasib buruk dan tidak menyadari itu hanyalah sebuah
keberuntungan, akan menjadi suatu potensi bahaya bagi kita.

Perencanaan Perjalanan
Wanadri 23 Nov, 2015 Artikel
Terbaru, Pendidikan, Teknik #buletinwanadri, #teknik, #wanadri

Kalau mau melakukan sesuatu seringkali kita harus membuat semacam


perencanaan terlebih dahulu. Apakah yang akan kita kerjakan itu sesuatu yang
besar ataupun hanya sebuah kegiatan yang kecil saja.
Perencanaan itu diperlukan agar apa yang akan kita lakukan bisa kita
berlangsung dengan baik, lancar dan tidak mengalami hambatan yang berarti.
Tanpa adanya satu perencanaan bisa jadi apa yang akan kita lakukan tidak bisa
berlangsung dengan baik, bayangkan bila kamu mau membuat masakan,
misalnya: bikin kue bolu: kalau tidak kita persiapkan apa-apa saja yang
diperlukan serta bagaimana urutankerjanya, bisa-bisa kue yang akhirnya jadi
malahan kue apem. Begitupun dalam keseharian kita, ada baiknya jika kita
selalu membuat perencanaan terlebih dahulu. Apakah kegiatan setelah sekolah
itu apa, lantas kalau kita mau bikin PR itu kapan, dan banyak hal lainnya. Dalam
berkegiatan di alam terbuka unsur perencanaan perjalanan merupakan satu
unsur terpenting dalam keberhasilan sebuah kegiatan. Tanpa perencanaan yang
baik, sulit mengharapkan kegiatan yang akan dilakukan bisa memberikan hasil
yang baik, bahkan seringkali menjadi satu bencana. Kesalahan kecil apabila tidak
bisa ditanggulangi secara dini,bisa menjadi akibat yang besar. Nah dalam bagian
ini, kita akan coba buka sedikit hal ikhwal perencanaan perjalanan ini.
Empat Kemampuan Dasar Dalam Kegiatan di alam terbuka
Sebelum kita membahas lebih jauh apa dan bagaimana merencanakan satu
perjalanan, ada baiknya kita coba bahas terlebih dahulu empat kemampuan
dasar bagi penggiat dalam kegiatan di alam terbuka :
Kemampuan Teknis, kemampuan ini erat kaitannya dengan kegiatan yang akan
kita lakukan. Misalnya kamu akan melakukan kegiatan pendakian gunung, maka
kamu harus punya bekal yang cukup (ingat bekal disini bukan hanya makanan),
terutama yang berkaitan dengan pendakian gunung. Kemampuan ini juga
berkaitan dengan keseimbangan tubuh, bagaimana kamu bisa menyusun
perlengkapan dan perbekalan secara effesien dan effektif (bahasa susah lagi )
Kemampuan Fisik, kemampuan ini penting sebagai pendukung keberhasilan
sebuah kegiatan. Walau bagaimanapun tanpa didukung dengan fisik yang baik,

jangan berharap kalau kegiatan yang akan kita lakukan akan mencapai
keberhasilan
Kemampuan Kemanusiawian, kemampuan ini sering terabaikan, padahal
memegang peranan yang sangat penting.Termasuk dalam kemampuan ini,
adalah kemampuan kita untuk bisa meningkatkan rasa percaya diri, kemampuan
untuk memimpin dan dipimpin, kemampuan untuk bersabar, menjaga
konsentrasi, bersikap positif .
Kemampuan dalam Pemahaman Lingkungan, kemampuan ini berkaitan dengan,
peningkatan kewaspadaan terhadap bahaya yang datang dari lingkungan,
terutama dari lingkungan yang asing dan baru. Safety Dalam berkegiatan di
alam terbuka, unsur safety merupakan hal yang harus mendapat perhatian, apa
jadinya sebuah kegiatan di alam terbuka apabila kita mengabaikan unsur safety
didalamnya. Kegiatan yang akan kita lakukan, sekecil apapun kegiatan itu, tetap
harus memperhatikan unsur pengamanan di dalamnya.
Bahaya yang timbul harus sedini mungkin diantisipasi, jangan sampai bahaya
yang tadinya kecil karena kelalaian kita menjadi bahaya yang sulit untuk
diatasi. Bahaya yang timbul bisa disebabkan oleh dua hal :
Bahaya Obyektif, bahaya ini sulit untuk diatasi karena, seringkali berada di luar
batas kemampuan kita untuk bisa mengatasinya. Bahaya seperti ini disebabkan
oleh obyek tempat kita melakukan kegiatan, mengalami hal-hal yang di luar
batas kita untuk bisa merubahnya, misalnya : Banjir, Kabut, Hujan Badai,
Longsor, dan lain-lain.
Bahaya Subyektif, bahaya ini seringkali diabaikan. Sering para penggiat di alam
terbuka apabila terjadi satu kecelakaan menyalahkan, obyek tempat kegiatan
berlangsung(bahaya obyektif),padahal lebih banyak karena kesalahan yang
melakukan kegiatan. Bahaya seperti in, yang seringkali menimbulkan korban.
Sekedar gambaran saja, dari 10 kali kecelakaan dalam pendakian gunung, 7 kali
diantaranya karena kesalahan si pelaku kegiatan. Bahaya subyektif ini bisa
dikurangi bahkan dihindari apabila kita mau, caranya dengan belajar dan
berlatih, tanpa kemauan untuk belajar dan berlatih, jangan harap bahaya ini bisa
kita hindarkan.

Unsur-Unsur Dalam Perencanaan Perjalanan Dalam membuat perencanaan


perjalanan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan :

Tujuan Perjalanan, tujuan ini akan banyak berkaitan dengan perlengkapan apa
saja yang harus dibawa, baik itu jenis perlengkapannya, jumlahnya sampai
beratnya
Informasi daerah tujuan, dengan adanya informasi daerah tujuan maka, kita
akan bisa membawa perlengkapan yang harus dibawa. Misalnya : Kita akan
melakukan perjalanan ke Gn. Puntang, suhu udara minimal 5 derajat celcius,
cuaca seringkali hujan walau di musim panas. Maka perlengkapan kitapun harus
disesuaikan, kita harus membawa sleeping bag yang cukup tebal, jashujan atau
ponco, dll.
Lama waktu, ini penting jangan sampai kita salah. Membawa perlengkapan yang
terlalu sedikit padahal waktu yang perjalanannya panjang atau sebaliknya,
perjalanannya cuma satu hari tapi kita membawa perleng kapan seublak-ublak
banyaknya. Bawalah perlengkapan secukupnya saja.
Mengetahui keterbatasan untuk membawa. Mengetahui keterbatasan untuk
membawa ini berkaitan dengan kondisi tubuh kita sendiri., Bayangkan kalau
misalnya kamu harus membawa perlengkapan yang beratnya 75 Kg, padahal
kamu termasuk orang yang kecil dan kurus, apa nggak berabe itu ! Bisa-bisa
pulang dari perjalanan kamu masuk Rumah Sakit. Ada satu patokan untuk
mengetahui keterbatasan ini, yaitu dengan memakai rumusan 1/3 dari berat
badan. Kalau berat badan kamu 50 Kg, idealnya kamu membawa beban
maksimal 16,3 Kg. Namun hal ini bisa berubah, kalau kamu memang sudah
berlatih untuk membawa beban lebih dari rumusan diatas.
Memperhatikan hal-hal khusus. Nampaknya sederhana namun pengaruhnya
besar, bahkan bisa menjadi kendala dalam perjalanan. Misalnya : Kamu
orangnya kalau tidurharus memeluk guling yang sudah sedari kecil kamu akrabi,
padahal kalau dilihat gulingnya udah kucel dan berbau yang cukup aduhai. Kalau
memang itu akan mempengaruhii kamu dalam kenyamanan tidur kamu, tidak
ada salahnya kamu bawa, jangan perdulikan apa kata orang yang penting kamu
bisa tidur dengan nyenyak. Atau untuk kaum hawa, pada saat tertentu kamu
harus membawa barang khusus kamu. Kalau barang itu tidak dibawa alamat
bahaya !.

Setelah mengetahui unsur-unsur yang diperlukan dalam perencanaan


perjalanan, sekarang kita coba kelompokkan perlengkapan itu dalam 3 kelompok
besar :
Perlengkapan dasar, termasuk dalam kelompok ini adalah :
Perlengkapan pergerakkan
Perlengkapan untum masak,makan dan minum
Perlengkapan MCK
Perlengkapan istirahat/tidur
Perlengkapan tidur
Perlengkapan Kegiatan Khusus, termasuk dalam perlengkapan ini adalah
perlengkapan yang disesuaikan dengan kegiatan yang akan dilakukan, misalnya

perlengkapan ilmiah untuk kegiatan ilmiah, perlengkapan tebing untuk kegiatan


pendakian tebing, dan lain-lain.
Perlengkapan Tambahan, perlengkapan ini hanya merupakan tambahan saja dan
kalaupun tidak dibawa, bukan hal yang terlalu berpengaruh dalam kegiatan kita.
Namun perlengkapan ini kalau dibawa akan meningkatkan kenyamanan dalam
perjalanan.

Perlengkapan Dasar
Topi, penting untuk menjaga bagian kepala dari kemungkinan cedera kecil yang
diakibatkan oleh duri, atau ranting pohon dan curah hujan terutama pada bagian
belakang kepala. Pakailah topi yang menyerap keringat, lebih baik lagi yang
disampingnya memiliki sedikit ventilasi. Jenis topi rimba atau gaya topi Jepang
cocok untuk kegiatan di alam terbuka.

Pakaian lapangan, yang harus diperhatikan dalam pemilihan pakaian lapangan


adalah menyerap keringat (bahan katun cukup baik), terbuat dari bahan yang
cukup kuat dan juga jahitannya kuat(nggak mudah robek,oom). Untuk baju
lapangan sebaiknya berlengan panjang (kecuali kalau kamu udah kuat sama duri
dan daun pulus), memiliki kantong yang cukup besar untuk menyimpan barangbarang kecil. Untuk baju dan celana lapangan sebaiknya terbuat juga dari bahan
yang mudah kering. Untuk celana lapangan sebaiknya celana panjang, sangat
tidak dianjurkan untuk kegiatan di hutan tropis memakai celana pendek,
memiliki kantong yang cukup (jangan terlalu banyak, nanti bingung sendiri
kegunaannya), terus juga sangat tidak dianjurkan untuk pakaian lapangan ini
terbuat dari bahan jeans, soalnya susah kering dan kalau malam harii
menambah dingin dan susah kering lagi kalau kena air.

Sepatu, untuk sepatu lapangan harusnya sih yang menutup mata kaki,
sebab bisa melindungi bagian engkel kaki(kalau cedera engkel rasanya sakit
sekali dan lama sembuhnya). Bahan dasarnya harus kuat dan tidak mudah
sobek, memiliki bagian bawah yang bergerigi, yang penting lagi harus
menguntungkan si pemakai. Jenis sepatu basket, walaupun menutupi mata kaki,
namun kurang cocok untuk dipakai di hutan tropis sebab bisa menyebabkan
jatuh, agak licin dek ! Jenis sepatu trekking atau sepatu boot tentara cukup baik
untuk dipakai di medan hutan tropis.

Ransel, Banyak jenis ransel yang sekarang beredar di Indonesia, dengan


beragam merk dan warna serta harga yang saling bersaing. Untuk ransel yang
akan kamu pakai, haruslah terbuat dari bahan yang cukup kuat dengan jahitan
yang juga kuat, ringan, bahannya tidak tembus air dan ringan (jangan beli ransel
yang terlalu berat bahannya, repot mbak !), memiliki keseimbangan yang baik.
Ada bagusnya kalau kamu mau membeli ransel untuk mencoba
keseimbangannya. Ransel yang baik biasanya memiliki frame, untuk membagi
beban agar seimbang. Sebelum membeli tanyakan terlebih dahulu, bagaimana
keseimbangannya, kekuatannya serta bahan dasarnya, jangan malu untuk
bertanya sebab pembeli adalah raja.

Kaus Kaki, Untuk kaus kaki sebaiknya terbuat dari bahan yang
menyerap keringat. Dalam berkegiatan apalagi di musim hujan, ada baiknya
kalau kamu membekali dengan kaus kaki cadangan.
SarungTangan, terbuat dari kulit, memiliki jahitan yang kuat. Sarung tangan ini
berguna, terutama apabila kamu akan melakukan penebasan, bisa membantu
mengurangi cederan akibat duri,menyentuh ulat bulu atau daun yang
membahayakan.

Peralatan Navigasi, kalau kamu sudah belajar navigasi, peralatan ini perlu kamu
membawa :
Peta Kompas Penggaris Busur Derajat Alat Tulis
Peralatan diatas amat penting bagi kamu, kalau kamu melakukan perjalanan di
hutan. Dan peralatan itu
merupakan peralatan wajib yang harus kamu bawa bila kamu akan melakukan
perjalanan, asal kamunya bisa
bernavigasi, untuk bisa ya harus belajar sama akhlinya.

Lampu Senter, Penting untuk membantu penerangan di malam hari. Jangan


bawa senter yang terlalu besar, selain merepotkan juga mahal harganya.
Bawalah senter yang kecil saja yang sesuai dengan kebutuhan kamu.
Peluit, penting juga untuk kamu bawa, apalagi kalau kegiatannya rada-rada jauh.
Sebaiknya memakai peluit Whistle/Pramuka, karena peluit ini memiliki frekwensi
yang tetap, tidak dianjurkan membawa peluit wasi/tukang parkir, kedengarannya
agak nggak pantas kalau dibawa di hutan dan frekwensi suaranya juga tidak
tetap, gitu lho.
Peralatan Masak, makan dan minum, peralatan ini amat sangat penting di hutan,
kecuali kalau kamu udah jadi tarzan. Peralatan masak yang praktis bisa kamu
pakai mistingnya tentara, ditambah kompor parafin sekalian dengan parafinnya.
Untuk minumnya bawalah gelas plastik, lebih bagus lagi kalau melamine, tidak
dianjurkanuntuk membawa gelas kaca, sebab bisa pecah. Jangan lupa bawalah
selalu sendok, selain berfungsi sebagai alat bantu makan juga bisa dipakai
sebagai alat pergaulan.
Peralatan Mandi, Walaupun kamu sedang berada di hutan bukan berarti kamu
nggak perlu mandi selain untuk kesehatan juga mandi bisa membuat tubuh kita

segar. Bawalah selalu sabun, odol dan sikat gigi kalau perlu juga shampo, lebih
baik lagi kalau bahan-bahan odol, sabun dan shamponya yang terbuat dari
bahan yang ramah dengan lingkungan (tapi kalau ini mah biasanya mahal lho)
Peralatan tidur, tidur itu penting, selain membuat kita segar juga bisa menjaga
keseimbangan diri kita.Kalau kurang tidur berbahaya bagi emosi kita, seringkali
kita jadi kurang kontrol, mudah marah dan bawaannya ngantuk terus. Kurang
tidur dalam berkegiatan di alam terbuka sebenarnya lebih berbahaya daripada
kurang makan, sebabnya ya itu tadi, kita jadi kurang kontrol. Yang lebih bagus
lagi sih, nggak kurang tidur dan juga nggak kurang makan. Peralatan tidur
yangharus kamu bawa antara lain :Pakaian tidur (harus dibedakan dengan
pakaian lapangan) bisa dari training spark (untuk putri tidak dianjurkan pakai
daster ), Sleeping Bag, kalau ada kalau nggak ada bisa pakai sarung bag (sarung
dua disambung), atau kalau nggak ada juga bawa saja selimut. Matras sebagai
alas, kalau ngak ada bisajuga memakai tumbuhan kering, awas serangganya
juga ulatnya. Jangan lupa bawa juga ponco atau fly sheet untuk atap dalam
pembuatan bivak, syukur-syukur kalau kamu punya tenda. Lebih nyaman lagi
kalau kamu lengkapi dengan kaus kaki dan balaclava(kupluk).
Kancing dan benang jahit, walaupun bukan peralatan utama namun perlu juga
dibawa, siapa tahu ada kancing yang lepas atau ada bagian pakaian yang sobek.
Pisau Pinggang dan Golok Tebas, kedua alat ini penting untuk dibawa selain
untuk dipakai menebas atau menetak, juga berfungsi sebagai alat bantu dalam
kondisi survival, untuk alat bantu membuat bivak, membuat perapian dan lainlain.

Plastik Packing, plastik packing ini penting untuk menjaga agarperlengkapan


yang ada dalam ransel kita tidak terkena air, terutama pakaian tidur dan pakaian
cadangan. Prinsip dasarnya adalah jangan sampai pakaian cadangan dan
pakaian tidur kita menjadi basah, sebab kalau basah akan menyulitkan kita pada
saat akan tidur . Menyusun Perlengkapan Dalam Ransel Menyusun perlengkapan
ke dalam ransel bukanlah pekerjaan yang mudah, kalau kita tidak terbiasa bisabisa ransel yang kita bawa dipakainya kurang nyaman, atau kadang rasanya
ransel yang kita bawa berat banget. Hal itu terjadi karena kesalahan kita dalam
menyusun perlengkapan dalam ransel, ada beberapa hal yang harus
diperhatikan pada saat kita menyusun perlengkapan ke dalam ransel.
Tempatkan barang-barang yang berat pada posisi paling atas, sedangkan
barang-barang yang ringan kita tempatkan di bawah (pakaian tidur, sleeping
bag).
Tempatkan barang-barang yang sewaktuwaktu diperlukan padabagian atas atau
kalau ada padabagian kantong samping (jas hujan, obat-obatan, senter)
Atur barang-barang berdasarkan kebutuhannya, sesuaikan tingkatan
penempatannya.

Jangan lupa masukkan barang-barang terutama pakaian tidur dan peralatan


elektronik ke dalam plastik.
Buatlah Check list Perlengkapan, agar tidak ada barang yang tertinggal.