Anda di halaman 1dari 23

Artikel Ilmiah Akuntansi Sektor Publik

Tema : Analisis Laporan Keuangan Pemda

Artikel :

Evaluasi Kinerja Keuangan,


Perkembangan Kemandirian dan
Pertumbuhan PAD Pemda Lotim
Th. 2012 2014.

Sri Indriani
NIM :I2F 015 084
Maksi Batch 5 Unram

Program Pasca Sarjana


Universitas Mataram
Tahun 2016

Page | 0

Abstrack :
Tujuan Penulisan Artikel ini adalah untuk mengetahui apakah kinerja keuangan
Pemerintah Kabupaten Lombok Timur dalam mengelola keuangan daerah berdasarkan
rasio keuangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) selama tahun anggaran
2012 -2014. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah laporan perhitungan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah tahun anggaran 2012-2014.
Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu rasio kemandirian, efektifitas
dan efisiensi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, aktivitas (keserasian), dan rasio
pertumbuhan Pendapatan Asli Daerah.
Dari hasil perhitungan atau analisis yang telah dilakukan diketahui bahwa ada
sebagian besar rasio selama tiga tahun mengalami fluktuasi, untuk rasio kemandirian di
Kabupaten Lombok Timur masih rendah sekali dengan rata-rata 10,57%, kurang dari 25%.
ini menunjukkah ketergantungan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur masih tinggi.
Rasio Efektivitas untuk mengetahui perbandingan kemampuan pemerintah daerah
dalam merealisasikan pendapatan/penerimaan daerah yang direncakan dibanding target
yang ditetapkan. Semakin besar nilai rasio efektifitas menunjukkan semakin baiknya
efektifitas kinerja pemerintah daerah dalam merealisasikan pendapatan/penerimaan yang
direncakan. Rata-rata keseluruhan dalam 3 tahun (2012-2014) besarnya rasio efektivitas
sebesar 94,90% sehingga kinerja penggunaan anggaran Pemda Lotim Efektif.
Rasio Keserasian ( Belanja Langsung dan Tidak Langsung) Pemerintah Kabupaten
Lombok Timur sebagian besar didominasi oleh Belanja Tidak Langsung sebesar 70,19%
dan Belanja Langsung sebesar 30, 55%. Ini berarti bahwa alokasi dana lebih besar pada
Belanja tidak langsung yang dialokasikan untuk belanja yang berhubungan dengan
masyarakat (hibah, bantuan sosial dll).
Pertumbuhan PAD pada Pemerintah Kabupaten Lombok Timur dapat dikategorikan
tinggi karena rasionya sudah melebihi atau di atas 40 %. Dimana rasio Pertumbuhan pada
tahun 2014 mencapai

85, 41 %. Sehingga rata-rata pertumbuhan PAD Lotim 51,02%

(tinggi).

Kata kunci: Kinerja Keuangan, Kemandirian dan Pertumbuhan


PAD.

Page | 1

Inti dari Penjabaran Artikel ini :


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Uraian tentang Kinerja Keuangan Daerah ;


Uraian tentang Tehnis Analisis Laporan Keuangan ;
Uraian Jenis Analisis Yang digunakan ;
Perkembangan Penerimaan Keuangan Pemda Lotim ;
Perkembangan Pengeluaran Keuangan Pemda Lotim;
Analisis Komparasi per Rasio Keuangan ( Pemda Lotim).

I. Pendahuluan
Pemerintah adalah pihak manajemen yang dipercaya oleh rakyat untuk mengatur dan
menyelenggarakan pemerintahan dalam rangka memenuhi hajat hidup orang banyak.
Tujuan dari penyelenggaraan pemerintah adalah dalam rangka mensejahterakan

Page | 2

masyarakat. Oleh karena itu agar tugas dan tanggung jawab dapat dilaksanakan sesuai
dengan amanat maka harus ada laporaI yang melaporkan hal tersebut.
Mengacu kepada UU Nomor 17 tahun 2003, yang mulai berlaku efektif pada tahun
anggaran 2005, tentang Keuangan Negara, maka setiap pengelola keuangan daerah harus
menyampaikan laporan pertanggungjawaban pengelolaan keuangannya dalam bentuk
Laporan Keuangan, yang setidak-tidaknya meliputi Laporan Realisasi Anggaran, Neraca,
Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan.
Sedangkan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan
Negara menyebutkan bahwa Laporan Keuangan dimaksud harus disusun berdasarkan
proses akuntansi, yang wajib dilaksanakan oleh setiap Pengguna Anggaran dan kuasa
Pengguna Anggaran serta pengelola Bendahara Umum Daerah. Sehubungan dengan hal
tersebut, maka setiap Pemerintah Daerah menyelenggarakan sistem akuntansi untuk
lingkungan pemerintah daerahnya yang pedomannya ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri.
Dengan adanya laporan keuangan yang lengkap sesuai dengan amanat undangundang tersebut serta disusunnya laporan keuangan melalui proses yang dapat
dipertanggungjawabkan tersebut maka diharapkan akuntabilitas pemda sebagai manajemen
yang dipercaya oleh rakyat sebagai stakeholder dapat disajikan sebagaimana mestinya.
Akuntabilitas dari pemerintah merupakan salah satu indikasi tegaknya perekonomian
suatu negara. Pemerintah yang akuntabel merupakan pemerintah yang dapat dipercaya dan
bertanggungjawab dalam mengelola sumber daya publik. Sumber daya publik yang
digunakan untuk membiayai pembangunan dan keberlangsungan roda pemerintah, dalam
setiap rupiah sumber daya publik harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.
Pertanggungjawaban tersebut tidak cukup dengan laporan lisan saja, namun perlu didukung
dengan laporan pertanggungjawaban tertulis berupa penyajian laporan keuangan atas
kinerja yang telah dicapai.
Salah satu cara untuk mengetahui kinerja pemerintah adalah dengan melakukan
analisis laporan keuangan terhadap anggaran yang telah ditetapkan dan dilaksanakan.
Sumber untuk menganalisis laporan keuangan adalah laporan keuangan utama yang terdiri
dari neraca, laporan arus kas, dan laporan realisasi anggaran. Fungsi utama dari laporan
keuangan adalah untuk memberikan informasi keuangan kepada pihak-pihak yang
berkepentingan, laporan keuangan tersebut akan digunakan sebagai dasar pengambilan
keputusan ekonomi, sosial, dan politik.
Analisis laporan keuangan pada organisasi sektor publik dilakukan dengan cara
membandingkan kinerja keuangan satu periode dengan periode sebelumnya berdasarkan
laporan keuangan. Terdapat beberapa teknik dalam analisis laporan keuangan, yaitu antara
lain: analisis aset, analisis kewajiban dan ekuitas dana, analisis pendapatan, analisis
belanja, analisis pembiayaan, dan analisis laporan arus kas. Terdapat berbagai jenis rasio

Page | 3

yang dapat digunakan untuk mengevaluasi dan menggambarkan laporan keuangan. Hasil
dari perhitungan rasio-rasio keuangan dapat digunakan untuk mengevaluasi kinerja
keuangan organisasi sektor publik dan selanjutnya dapat digunakan sebagai dasar
pengambilan keputusan.
Dalam atikel ini, akan diuraikan tentang konsep analisis laporan keuangan sektor
publik (pemerintah) yang terdiri dari pengertian, tujuan dan pihak-pihak yang berkepentingan
terhadap analisis laporan keuangan, tahapan, dan metode serta tehnik analisis laporan
keuangan.

Dikutip dari Artikel Danang Prio Utomo Mahasiswa STKIP Hamzanwadi Selong yang
diposting tanggal 14 Juli 2014 tentang Rasio Keuangan untuk mengukur Kinerja Keuangan
Pemda Lotim, prints.ung.ac.id/.../2012-1-62201-241408079-bab2-13082012112859 oleh R
DAMA - 2014. Yang diposting pada tahun 2014 tentang landasan teori Kinerja Keuangan
Daerah dan Buku Analisis Laporan Keuangan Daerah, Karya Mahmudi tahun 2010 Edisi
Kedua. Yogyakarta: UPP STIM YKPN serta buku Analisis Laporan Keuangan dari karya
penulis lainya. Menguraikan seperti yang dijabarkan selanjutnya di bawah ini :

II.

Kinerja Keuangan Daerah


a. Kinerja
Pengertian kinerja seperti yang dikemukakan oleh Bastian (2001: 329) adalah

gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan / program /


kebijaksanaan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, visi, dan misi organisasi terutang dalam
perumusan skema strategis suatu organisasi. Secara umum dapat juga dikatakan bahwa
kinerja merupakan prestasi yang dapat dicapai oleh organisasi dalam periode tertentu,
sedangkan menurut Inpres No. 7 Tahun 1999 tentang akuntabilitas kinerja instansi
pemerintah, kinerja adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu
kegiatan/program/kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi organisasi.
Mardiasmo (2002) mendefinisikan sistem pengukuruan kinerja publik adalah suatu
sistem yang bertujuan untuk membantu manajer publik menilai pencapaian suatu strategi
melalui alat ukur financial dan non financial. Adapun Indikator kinerja seperti yang
dikemukakan oleh Mardiasmo (2002) bahwa sekurang-kurangnya ada empat tolak ukur
penilaian kinerja keuangan pemerintah daerah yaitu:
Penyimpangan antara realisasi anggaran dengan yang ditargetkan yang ditetapkan
dalam APBD;

Page | 4

Efisiensi biaya ;
Efektivitas program ;
Pemerataan dan keadilan .
b. Keuangan Daerah
Menurut Mamesah (Halim 2008: 18-19) keuangan daerah dapat diartikan sebagai
hak dan kewajiban yang dinilai dengan uang, demikian pula segala sesuatu baik berupa
uanga maupun barang yang dapat dijadikan kekayaan daerah sepanjang belum dikuasi
atau dimiliki negara atau daerah yang lebih tinggi atau pihak-pihak lain sesuai dengan
ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Berkaitan dengan hal ini Bastian (2001) dalam Moito (2010) menyatakan persektif
kedepan dari sistem keuangan daerah adalah mewujudkan sistem antara keuangan pusat
dan daerah yang mencerminkan pembagian tugas kewenangan dan tanggungjawab yang
jelas antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang transparan, memperhatikan
aspirasi dan partisipasi masyarakat serta kewajiban untuk mempertanggungjawabkannya
kepada masyarakat, mengurangi kesenjangan antar daerah dalam kemampuannya untuk
membiayai tanggung jawab otonominya dan memberikan kepastian sumber keuangan
daerah yang berasal dari wilayah daerah yang bersangkutan.
Halim (2008: 25) menyatakan keuangan daerah memiliki ruang lingkup yang terdiri
atas keuangan yang dikelola langsung dan kekayaan daerah yang dipisahkan. Yang
termasuk keuangan daerah yang dikelola langsung adalah : Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah (APBD) dan barang-barang inventaris milik daerah. Di lain pihak, keuangan
daerah yang dipisahkan meliputi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).
Jadi keuangan daerah dapat diartikan sebagai hak dan kewajiban yang dapat dinilai
dengan uang, demikian pula segala sesuatu baik berupa uang maupun barang yang dapat
dijadikan kekayaan daerah sepanjang belum dimiliki atau dikuasai oleh negara. Keuangan
daerah berperan penting dalam otonomi daerah karena dari keuangan daerah
menggambarkan cerminan kemampuan daerah untuk mengatur dan mengurus sendiri
urusan pemerintahan berdasarkan azas otonomi.
Salah satu aspek pemerintah daerah yang harus diatur adalah masalah pengelolaan
keuangan daerah dan anggaran daerah. Dalam upaya pemberdayaan pemerintah daerah.
Pengelolaan keuangan daerah harus bertumpu pada kepentingan publik, hal ini tidak saja
terlihat dari besarnya porsi penganggaran untuk kepentingan public, tetapi pada besarnya
partisipasi masyarakat dalam perencanaan pelaksanaan dan pengawasan keuangan
daerah. Asas umum pengelolaan keuangan daerah yang ditetapkan dalam peraturan
Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah sesuai isi pasal
4 yaitu:

Page | 5

1. Keuangan daerah dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang undangan,
efisien, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan

memperhatikan asas

keadilan, kepatuhan, dan manfaat untuk masyarakat;


2. Pengelolaan keuangan daerah dilaksanakan dalam suatu system yang terintegrasi
yang diwujudkan dalam APBD yang setiap tahun ditetapkan

dengan peraturan

daerah.
Untuk bisa menjalankan tugas dan fungsi pemerintah, pemerintah daerah dilengkapi
dengan seperangkat kemampuan pembiayaan dimana menurut pasal 55 sumber
pembiayaan pemerintah terdiri dari 3 komponen yaitu:
1. Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang terdiri dari beberapa pos pendapatan yaitu pajak
daerah, retribusi daerah, bagian laba usaha daerah dan pendapatan yang sah lainnya
2. Pendapatan yang berasal dari pusat yang teridir dari pendapatan hasil pajak bukan
pajak, Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus;
3. Pendapatan Daerah yang Sah Lainnya. Pendapatan yang berasal dari besarnya
dana dari pusat merupakan cerminan atau indikator dari ketergantungan pendanaan
pemerintah daerah terhadap

pemerintah pusat. Dengan demikian ada beberapa

proyek pemerintah pusat melalu APBN tetapi dana itu juga masuk dalam anggaran
pemerintah Daerah (APBD).
c. Kinerja Keuangan Daerah
Analisis kinerja keuangan pada dasarnya dilakukan untuk menilai kinerja di masa lalu
dengan melakukan berbagai analisis sehingga diperoleh posisi keuangan yang mewakili
realitas entitas dan potensi-potensi kinerja yang akan berlanjut.
Salah satu alat untuk menganalisis kinerja keuangan pemerintah daerah

adalah

dengan melaksanakan analisis rasio terhadap APBD yang telah ditetapkan


dilaksanakannya (Halim, 2008: 230). Penggunaan analisis rasio pada sektor

dan
publik

khususnya terhadap APBD belum banyak dilakukan, sehinggga secara teori belum ada
kesepakatan secara bulat mengenai nama dan kaidah pengukurannya. Meskipun demikian
dalam rangka pengelolaan keuangan daerah yang transparan, jujur, demokratis, efektif,
efisien dan akuntabel, analisis rasio terhadap APBD perlu dilaksanakan meskipun kaidah
pengakuntansian dalam APBD berbeda dengan keuangan yang dimiliki oleh perusahaan
swasta (Halim, 2008: 231-232).
d. APBD sebagai Instrumen Kebijakan Pengelolaan Keuangan Dana Masyarakat
Dalam Pelaksanaan Pengelolaan Keuangan Daerah, APBD sebagai Instrumen
kebijakan pengelolan keuangan masyarakat oleh Pemerintah Daerah memegang peranan
penting. Hal ini dikarenakan :
1. APBD merupakan alat bagi pemerintah untuk mengarahkan pembangunan sosial,
ekonomi, menjamin kesinambungan dan meningkatkan kwlitas hidup masyarakat;

Page | 6

2. APBD diperlukan karena adanya kebutuhan dan keinginan masyarakat yang tak
terbatas dan terus berkembang, sedang sumberdaya yang terbatas APBD diperlukan
karena adanya masalah keterbatasan sumber daya, pilihan dan trade off;
3. APBD diperlukan untuk meyakinkan bahwa pemerintah telah bertanggung jawab
terhadap rakyat. Dalam hasil ini APBD merupakan instrumen pelaksanaan
akuntabilitas publik pemeritahan daerah.
e. Tujuan Analisis Laporan Keuangan
1) Screening, untuk mengetahui situasi dan kondisi perusa-haan secara umum.
2) Understanding, memahami kondisi suatu daerah, kondisi keuangan dan apa
yang dihasilkan.
3) Forecasting, untuk meramalkan kondisi keuangan di masa datang.
4) Diagnosis, untuk melihat kemungkinan masalah yang terjadi, baik dalam
manajemen, operasi, keuangan atau masalah lainnya.
5) Evaluation, untuk menilai prestasi pihak eksekutif dalam pengelolaan suatu
daerah serta perbaikan kebijakan yang ada jika dibutuhkan
Analisis rasio keuangan pada APBD dilakukan dengan membandingkan hasil yang
dicapai dari satu periode dibandingkan dengan periode sebelumnya

sehinggga dapat

diketahui bagaimana kecenderungan yang terjadi.


Selain itu dapat pula dilakukan dengan cara membandingkan dengan rasio keuangan
pemerintah
potensi

daerah tertentu dengan rasio keuangan daerah lain yang terdekat ataupun

daerahnya relatif sama untuk dilihat bagaimana posisi keuangan pemerintah

daerah tersebut terhadap pemerintah daerah lainnya.

Menurut Pasal 2 Peraturan

Pemerintah No. 108/2000 pihak-pihak yang berkepentingan dengan rasio keuangan pada
APBD ini adalah:
1. DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah)
DPRD adalah badan yang memberikan otorisasi kepada pemerintah daerah untuk
mengelola laporan keuangan daerah.
2. Badan eksekutif
Badan eksekutif merupakan badan penyelenggara pemerintahan yang
otorisasi pengelolaan keuangan daerah dari DPRD, seperti

menerima

Gubernur, Bupati,

Walikota, serta pimpinan unit Pemerintah Daerah lainnya.


3. Badan pengawas keuangan
Badan Pengawas Keuangan adalah badan yang melakukan pengawasan atas
pengelolaan keuangan daerah yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah. Yang
termasuk dalam badan ini adalah Inspektorat Jendral, Badan Pengawas Keuangan
dan Pembangunan (BPKP), dan Badan Pemeriksa Keuangan.
4. Investor, kreditor dan donatur
Badan atau organisasi baik pemerintah, lembaga keuangan, maupun lainnya baik dari
dalam negeri maupun luar negeri yang menyediakan sumber

keuangan bagi

pemerintah daerah.

Page | 7

5. Analisis ekonomi dan pemerhati pemerintah daerah


Analisis ekonomi dan pemerhati pemerintah daerah yaitu pihak-pihak yang menaruh
perhatian atas aktivitas yang dilakukan Pemerintah Daerah, seperti

lembaga

pendidikan, ilmuwan, peneliti dan lain-lain.


6. Rakyat
Rakyat disini adalah kelompok masyarakat yang menaruh perhatian kepada aktivitas
pemerintah khususnya yang menerima pelayanan pemerintah daerah

atau yang

menerima produk dan jasa dari pemerintah daerah.


7. Pemerintah Pusat
Pemerintah pusat memerlukan laporan keuangan pemerintah daerah untuk menilai
pertanggungjawaban Gubernur sebagai wakil pemerintah

III.

Tehnik Analisis Laporan Keuangan


Menurut Mahmudi (2009), teknik analisis laporan keuangan organisasi sektor publik

adalah sebagai berikut:


a.

Analisis Varians (Selisih)


Analisis varians pada umumnya digunakan untuk menganalisis laporan realisasi

anggaran, yaitu dengan cara mengevaluasi selisih yang terjadi antara anggaran dengan
realisasinya.
Aspek yang penting dalam analisis varians ini, yaitu:
b.

Menentukan tingkat signifikansi selisih anggaran.


Menentukan tingkat varians anggaran yang bisa ditoleransi.
Mencari penyebab terjadinya selish varians.
Analisis Rasio Keuangan
Analisis rasio keuangan merupakan perbandingan antara dua angka yang datanya

diambil dari elemen laporan keuangan. Analisis ini dapat digunakan untuk
mengintepretasikan perkembangan kinerja dari tahun ke tahun dan membandingkanya
dengan kinerja organisasi lain yang sejenis. Terdapat berbagai macam analisis rasio
keuangan, antara lain:

Analisis Aset
Analalisis Likuiditas, meliputi:
Rasio Lancar
Rasio Kas
Rasio Cepat
Rasio Modal Kerja terhadap Total Aset
Analisis Solvabilitas
Analisis Kewajiban
Rasio Total Utang terhadap Equitas
Rasio Total Utang terhadap Aset Modal

Page | 8

- Rasio Total Utang terhadap Pendapatan


Analisis Ekuitas
Analisis Profitibilitas
- Profit Margin
- Return on Asset (ROA)
- Return on Invesment (ROI)
- Return on Equity (ROE)
- Return on Capital Employed (ROCE)
- Net Income
Analisis Aktivitas
c.

Analisis Pertumbuhan (Trend)


Analisis ini dilakukan untuk mengetahui kecenderungan baik berupa kenaikan atau

penurunan kinerja selama kurun waktu tertentu. Analisis ini dapat diaplikasikan misalnya
untuk menilai pertumbuhan asset, pendapatan, utang, surplus/defisit, dan sebagainya.
d.

Analisis Regresi
Analisis ini dilakukan untuk menguji pengaruh variabel independen terhadap variabel

dependent. Analisis ini sangat bermanfaat untuk riset kebijakan publik yang hasilnya dapat
diaplikasikan oleh pemerintah daerah. Contohnya:

e.

Menguji pengaruh tingkat serapan APBD terhadap petumbuhan ekonomi daerah;


Menguji pengaruh belanja modal terhadap pertumbuhan ekonomi daerah,
Dan lain-lain.
Analisis Prediksi
Analisis ini digunakan untuk memprediksi pendapatan tahun depan dengan

menggunakan data tahun ini dan tahun sebelumnya sebagai dasar prediksi.
IV.

Jenis Analisis yang digunakan :


a. ANALISIS PENDAPATAN

Rasio Keuangan

1. Analisis Rasio Kemandirian Daerah :


Rasio

kemandirian

menggambarkan

kemampuan

pemerintah

daerah

dalam

membiayai sendiri kegiatan pemerintah, pembangunan dan pelayanan kepada mayarakat


yang telah membayar pajak dan retrebusi sebagai sumber pendapatan asli daerah.

Rasio Kemandirian Daera h=

PAD
Transfer Pusat + Provinsi+ Pinjaman

Tabel 1. Kriteria Penilaian Kemandirian Keuangan

Kreteria kemandirian keuangan

Kemandirian

Page | 9

Rendah sekali

0% - 25%

Rendah

25% - 50%

Sedang

50% - 75%

Tinggi

75% - 100%

2. Analisis Rasio efektifitas dan efisiensi APBD


Rasio

efektifitas

menggambarkan

kemampuan

pemerintah

daerah

dalam

merealisasikan pendapatan/ penerimaan daerah yang direncanakan dibandingkan dengan


target yang ditetapkan berdasarkan potensi riil daerah.
Atau Menunjukkan kemampuan pemerintah daerah dalam memobilisasi penerimaan
PAD sesuai dengan yang ditargetkan. Secara umum nilai efektivitas PAD dapat
dikategorikan sbb:
Sangat efektif
Efektif
Cukup efektif
Kurang efektif
Tidak efektif

: > 100%
: 100%
: 90% - 99%
: 75% - 89%
: < 75%

Rasio Efektivitas PD=

Realisasi PAD
x 100
Target PAD

3. Rasio efisiensi PAD


Semakin kecil nilai rasio ini maka semakin efisien kinerja pemerintah daerah dalam
melakukan pemungutan PAD. Secara umum nilai sefisiensi PAD dapat dikategorikan sbb:
Sangat efisien
: < 10%
Efisien
: 10% - 20%
Cukup efisien
: 21% - 30%
Kurang efisien
: 31% - 40%
Tidak efisien
: > 40%

Rasio Efisiensi PD=

Biaya Pemungutan PAD


x 100
Realisasi PAD

4. Rasio Kemampuan Mengembalikan Pinjaman


(Debt Service Coverage ratio DSCR)
Untuk mengukur kemampuan pemerintah daerah dalam membayar kembali pinjaman
daerah. Berdasarkan rasio ini, pemerintah daerah dinilai layak untuk melakukan pinjaman
daerah apabila nilai DSCR minimal sebesar 2,5.

DSCR=

( PAD+ ( DBH DBHDR ) + DAU )BelanjaWajib


Angsuran Pokok Pinjaman+ Bunga+ Biaya Lainnya

Page | 10

Keterangan:
PAD
DAU
DBH
DBHDR
Belanja Wajib
Biaya Lainnya

: Pendapatan Asli Daerah


: Dana Alokasi Umum
: Dana Bagi Hasil yang merupakan bagian dari
PBB dan bagi hasil SDA
: Dana Bagi Hasil Dana Reboisasi
: Belanja Pegawai dan Belanja Anggota DPRD
: Biaya terkait pengadaan pinjaman antara lain Biaya
Administrasi, Biaya Provisi, Biaya Komitmen,
Asuransi dan denda.

5. Menghitung rasio pertumbuhan Pendapatan Asli Daerah.


Rasio pertumbuhan mengukur seberapa besar kemampuan pemerintah daerah dalam
mempertahankan dan meningkatakan keberhasilan yang telah dicapai dari periode ke
periode berikutnya. Hal ini bermanfaat untuk mengevaluasi potensi-potensi mana yang perlu
mendapat perhatian. Menurut Anto Dajan (dalam Armayani, 2001 : 21) pertumbuhan dapat
dinilai dengan formulasi dan kriteria sebagai berikut:

Rasio Pertumbuhan=

RPPADXn Xn1
x 100
RPPAD X n1

Dimana :
- RPPAD Xn X n-1 = Realisasi peneriamaan Pendapatan Asli daerah tahun
yang dihitung di kurangi tahun sebelumnya.
-RPPAD X n-1

= Realisasi peneriamaan pendapatan asli daerah tahun

sebelumnya
Kriteria Tingkat Pertumbuhan
Kriteria

%
Tingkat Pertumbuhan

Sangat rendah

0% - 10%

Rendah

11% - 20%

Sedang

21% - 30%

Tinggi

Diatas 40%

b. Analisis Belanja
Rasio Aktivitas,
Pemerintah daerah dinilai telah melakukan efisiensi anggaran jika rasio efisiensinya
kurang dari 100%, sebaliknya jika lebih maka mengindikasikan telah terjadi pemborosan
anggaran.

Rasio Efisiensi Belanja=

Realisasi belanja
x 100
Anggaran Belanja
Page | 11

V.

Kriteria
Tingkat Belanja Rutin

%
Tingkat Belanja Rutin

Baik

Dibawah 40%

Cukup Baik

40% - 80%

Kurang Baik

80% - 100%

Perkembangan Penerimaan Keuangan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur


Sebagaimana telah kita ketahui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)

merupakan instrumen kebijakan yang dipakai sebagai alat untuk meningkatkan pelayanan
umum dan kesejahteraan masyarakat di daerah. Dalam Undang-Undang Nomor 17 tahun
2003 Tentang Keuangan Negara, didalam pengelolaan APBD harus mengacu pada norma
dan prinsip; transparansi dan akuntabilitas, disiplin anggaran, keadilan anggaran serta
efisiensi dan efektifitas anggaran.
Untuk menjaga dan meningkatkan kesinambungan penyelenggaraan pemerintah dan
pembangunan di daerah diperlukan sumber-sumber pembiayaan yang berasal dari
penerimaan daerah. Berdasarkan UndangUndang Nomor 25 Tahun 1999 Pasal 79 dan
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 pasal 3 dan 4 dikatakan bahwa sumber pendapatan/
penerimaan daerah terdiri atas:
a

Pendapatan Asli Daerah yang berasal dari Pajak Daerah, Retribusi Daerah, hasil
pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dan lain lain pendapatan asli daerah

b
c
d

yang sah;
Dana Perimbangan;
Pinjaman Daerah;
Lain-lain Pendapatan Daerah yang sah.
Adapun besarnya kontribusi penerimaan daerah dalam pembentukan Anggaran

Pendapatan dan Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Lombok Timur pada tahun
anggaran 2012-2014 dapat dilihat dalam tabel berikut ini :

Page | 12

Tabel Realisasi Pendapatan DaerahPemda Lotim


Tahun Anggaran2012-2014
Komponen

No

Tahun Anggaran
2012

Pendapatan

PAD

Dana Perimbangan

Pendapatan lain-lain
Pendapatan

2013

2014

88.007.658.191

97.249.109.229

180.308.182.148

1.021.767.551.652

1.129.526.736.770

1.243.781.004.411

166.291.451.735

207.874.011.357

269.692.343.850

1.276.066.661.578 1.434.649.857.356 1.693.781.530.409

Sumber : DPPKA Kab. Lotim

Dari tabel di atas terlihat bahwa secara umum pendapatan daerah mengalami
peningkatan yang cukup berarti dari tahun ketahunnya. PAD dari Tahun 2013 ke 2014
mengalami kenaikan 100 %, ini berdampak baik bagi kemajuan daerah.
Proporsi terbesar dalam pembentukan pendapatan daerah didominasi oleh Dana
Perimbangan yang bersumber dari pemerintah pusat. Hal ini mengindikasikan bahwa dalam
membiayai pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan masih memiliki ketergantungan
yang besar dari pemerintah pusat.
Adapun kemampuan pemerintah dalam merealisasikan pendapatan dibandingkan
target yang ditetapkan dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Rencana dan Realisasi Pendapatan Daerah Tahun
Anggaran 2012-2014
Tah
un
201
2
201
3
201
4

Rencana

Realisasi

1.395.026.201.339,
00

1.276.066.661.578,0
0

91,47

1.666.585.050.506,
00

1.434.649.857.356,0
0

86,08

1.821.334.863.623,
00

1.693.781.530.409,0
0

93,00

Sumber : DPPKA Kab. Lotim

Berdasarkan tabel di atas secara umum pencapaian target penerimaan daerah selama
tahun anggaran 2012 - 2014 menunjukkan hasil yang cukup baik. Hal ini menunjukkan
efektifnya pelaksanaan pengelolaan keuangan daerah.

Page | 13

1,821,334,863,623.00
2,000,000,000,000.00
1,800,000,000,000.00
1,600,000,000,000.00
1,395,026,201,339.00
1,400,000,000,000.00
1,200,000,000,000.00
1,000,000,000,000.00
800,000,000,000.00
600,000,000,000.00
400,000,000,000.00
200,000,000,000.00
-

Rencana
Realisasi
%

Grafik di atas menggambarkan posisi rencana dan realisasi anggaran yang tidak jauh
beda jumlahnya dan setiap tahunnya mengalami peningkatan terus menerus.
VI

Perkembangan Pengeluaran Keuangan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur


Berdasarkan penetapan target penerimaan daerah sebagaimana dijelaskan di atas

untuk mendistribusikan hasil penerimaan tersebut maka ditetapkan pula pengalokasiannya


dalam bentuk belanja rutin dan belanja pembangunan. Adapun terget dan realisasi belanja
rutin dan belanja pembangunan dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Rencana dan Realisasi Pengeluaran Daerah Pemda Lotim
Tahun 2012-2014
Jenis Belanja

Ket
Renca
na

Belanja Tidak
Langsung

Realis
asi
%
Renca
na

Belanja Langsung

Realis
asi
%

Total Belanja APBD

Renca
na
Realis
asi

2012

Tahun Anggaran
2013

2014

900.670.824.716,
00

1.083.383.510.29
7,00

1.221.397.163.383,
00

864.459.790.376,
00

975.313.652.685,
00

1.177.600.144.339,
00

59,37

71,88

72,50

477.174.368.421,
00

507.109.928.987,
00

586.403.940.022,0
0

591.635.291.085,
00

381.564.742.018,
00

446.683.341.686,0
0

40,63

28,12

27,50

1.377.845.193.13
7,00

1.590.493.439.28
4,00

1.807.801.103.405,
00

1.456.095.081.46

1.356.878.394.70

1.624.283.486.025,

Page | 14

1,00
%

3,00

00

114,11

94,58

95,90

Sumber : DPPKA Kab.


Lotim

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui secara umum peningkatan yang cukup
berarti terjadi pada belanja ltidak langsung dari tahun ketahunnya. Sedangkan belanja
langsungmengalami penurunan tiap tahun dan peningkatan pada tahunnya setelahnya lagi.
Dimana pada tahun 2013 terjadi penurunan belanja langsung dan tahun 2014 terjadi
kenaikan belanja langsung.
Peningkatan yang terjadi pada tiap tahun pada belanja tidak langsung berdampak
pada penurunan jumlah belanja belannja langsung,. Hal ini disebabkan terjadinya
perubahan pada perubahan sistem anggaran yang lebih menekankan kepada peningkatan
dan pencapaian tingkat pelayanan di berbagai bidang kepada masyarakat dalam rangka
meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
VI.

Analisis Komparasi Per Rasio Keuangan

Hasil perhitungan rasio Keuangan (dalam %)


Hasil Perhitungan Rasio Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
Pemerintah Kabupaten Lombok Timur Tahun 2012-2015
Tahun Anggaran
No

Jenis Rasio

201
3

2014

8,61

8,61

14,50

10,57

Rendah Sekali

86,0
8
85,3
1

101,1
5

92,90

Efektif

89,85

93,61

Kurang Efisien

86,50

70,19

Cukup Baik

24,71

30,55

Cukup Baik

85,41

51,02

Tinggi

Rasio Kemandirian

Rasio Efektifitas

91,47

Rasio Efisiensi

105,6
8

Rasio Aktivitas (Keserasian)


-

Rasio Belanja Tidak Langsung

62,74

Rasio Belanja Langsung

42,94

Rasio Pertumbuhan PAD

Kriteria

2012
1

Ratarata

57,14

61,3
2
23,9
9
10,5
0

a
a. Analisis Rasio Kemandirian
Analisis ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan pemerintah daerah dalam
membiayai sendiri kegiatan pemerintah, pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat
yang telah membayar pajak dan retribusi sebagai sumber pendapatan yang diperlukan
daerah. Semakin besar nilai rasio kemandirian keuangan daerah menunjukkan semakin
kecilnya tingkat ketergantungan pemerintahan daerah kepada pemerintahan pusat.

Page | 15

Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan dalam tabel perhitungan Rasio


Kemandirian di atas menggambarkan tingkat kemandirian keuangan Pemerintah Kabupaten
Lombok Timur selama tahun anggaran 2012 2014 masih rendah sekali dan pada tahun
2012 dan 2013 memiliki tingkat rasio yang sama yaitu 8, 61 % rendah, sementara tahun
2014 mengalami kenaikan sebesar 14,50 % termasuk rendah juga karena di bawah 25 %
dari Jumlah Anggaran Kemandirian Pusat.
Untuk mengetahui gambaran peningkatan rasio pertumbuhan dapat di lihat pada grafik
di bawah ini :

Rasio Kemandirian Pemda Lotim


Tahun 2012-2014 ( %)
16.00

14.50

14.00
12.00
10.00
8.61
%

8.61

Rasio Kemandirian

8.00
6.00
4.00
2.00
0.00
2012

2013

2014

Dalam grafik tersebut digambarkan kenaikan yang mencolok terjadi pada tahun 2014
dengan rasio kemandirian sebesar 14, 50%.
b. Analisis Rasio Efektifitas Analisis rasio efektifitas APBD
Rasio Efektifitas ini untuk mengetahui perbandingan kemampuan pemerintah daerah
dalam merealisasikan pendapatan/ penerimaan daerah yang direncakan dibanding target
yang ditetapkan. Semakin besar nilai rasio efektifitas menunjukkan semakin baiknya
efektifitas kinerja pemerintah daerah dalam merealisasikan pendapatan/ penerimaan yang
direncakan.
Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan dalam tabel hasil perhitungan rasio di
atas menggambarkan efektifitas pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, ini
dapat diilustrasikan pada grafik di bawah ini :

Page | 16

Rasio Efektivitas Pemda Lotim


Tahun 2012-2014 ( %)
105.00

101.15

100.00
95.00
91.47
%

Rasio Efektivitas

90.00
86.08
85.00
80.00
75.00
2012

2013

2014

Rasio efektivitas Pemerintah Kabupaten Lomok Timur mengalami fleksibilitas dimana


dalam tenggang tahun ke tahun mengalami pasang surut belanja anggaran yaitu terjadi
penurunan dan kenaikan. Hal ini dapat dilihat pada tahun 2013 mengalami penurunan rasio
efektivitas dari 91,47 % menjadi 86,08% dari kategori efektif menjadi cukup efektif. Akan
tetapi penggunan Anggaran menjadi sangat efektif dengan rasio sebesar 101,15% melebihi
100%. Rata-rata keseluruhan dalam 3 tahun (2012-2014) besarnya rasio efektivitas sebesar
94,90% termasuk dalam kategori efektif.
c. Analisis Rasio Efisiensi
Analisis rasio efisiensi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ini dilakukan untuk
mengetahui perbandingan antara besarnya biaya yang dikeluarkan dengan realisasi
penerimaan/ pendapatan daerah yang diterima pemerintah Kabupaten Lombok Timur.
Semakin rendah nilai rasio efisiensi yang dicapai pemerintah daerah menunjukkan
semakin baiknya kinerja pengeloaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang
ditunjukkan dengan semakin tingginya derajat efisiensi yang dicapai, sebaliknya bila
semakin tinggi nilai rasio efisiensi yang dicapai pemerintah daerah berarti menunjukkan
kurang efisiensinya pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan pada tabel perhitungan rasio di atas
dapat dilihat pada grafik di bawah ini.

Page | 17

Rasio Efisiensi Pemda Lotim


Tahun 2012-2014
120.00
100.00

105.68

80.00
%

85.31

89.85
Rasio Efisiensi

60.00
40.00
20.00
0.00
2012

2013

2014

Rasio efisiensi Pemerintah Kabupaten Lombok Timur terjadi flesibilitas di mana terjadi
tren penurunan dan kenaikan ini dapat di lihat dari terjadi penurunan pada tahun 2013 yang
semula rasio efektivitasnya sebesar 105,68% menjadi 85,31%.
Pada tahun 2012 efisiensi penggunaan dana pada Pemerintah Kabupaten Lombok
Timur TIDAK EFISIEN kareba lebih besar pengeluaran dari pada pendapatan ini sangatlah
berdampak buruk pada pengelolaan keuangan. Walapupun pada tahun 2013 terjadi
penurunan sebesar 85,31% menjadi kurang efisien lagi dengan adanya kenaikan
pengunaan dana dengan rasio sebesar 89,85%.
d. Analisis Rasio Belanja Langsung dan tidak langsung Terhadap APBD
(Rasio Aktivitas/Keserasian).
Analisis ini dilakukan untuk mengetahui gambaran aktifitas pemerintah daerah dalam
mengalokasikan dananya pada belanja langsung dan tidak langsung secara optimal. Kinerja
pemerintah dinilai baik berdasarkan rasio ini apabila persentase rasio belanja langsung dan
tidak langsung terhadap APBD bernilai <40%.
Dilihat dari perhitungan Rasio Belanja Tidak Langsung dan Rasio Belanja Langsung,
Pemerintah Daerah lebih banyak menggunakan dana untuk kegiatan Belanja Tidak
Langsung dibandingkan dengan kegiatan Belanja Langsung. Ini dilihat dari rasio keserasian
untuk belanja tidak langsung sebesar 70,19% dan Belanja Langsung cuman 30, 55%.
e. Analisis Rasio Pertumbuhan Pendapatan Asli Daerah.
Analisis ini dilakukan untuk mengukur seberapa besar perbandingan kemampuan
pemerintah daerah dalam mempertahankan dan meningkatkan pendapatan asli daerah
yang dicapai dari periode keperiode berikutnya. Semakin tingginya nilai rasio pertumbuhan
pendapatan asli daerah menunjukkan semakin baiknya kinerja pemerintah dalam

Page | 18

mempertahankan, menggali dan meningkatkan pendapatan asli daerah sebagai komponen


utama penerimaan dalam pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan
Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan, maka dapat hasil perhitungan rasio
dapat di lihat di ata. Grafik pertumbuhan penerimaan PAD Pemerintah Kabupaten Lombok
Timur dapat di lihat di bawah ini:

Rasio Pertumbuhan PAD


Pemda Lotim Tahun 2012-2014
85.41

90.00
80.00
70.00
57.14
60.00

Rasio
Pertumbuhan PAD
Pemda Lotim
Tahun 2012-2014

50.00
% 40.00
30.00
20.00

10.50

10.00
0.00
2012

2013

2014

Grafik di atas menggambarkan Rata rata pertumbuhan PAD dalam 3 tahun (20122014) tinggi karena > 40%. Besarnya rasio pertumbuhan PAD yang signifikan terlihat pada
tahun 2014 sebesar 85,41% menunjukkan pertumbuhan PAD tinggi, walaupun pada tahun
2013 terjadi penurunan yang sangat drastis dari 57,14% (tinggi) menjadi 10,50% (rendah).
VII

Kesimpulan dan saran-saran


Kesimpulan :
1. Berdasarkan hasil perhitungan dan analisa dia atas maka dapat diketahui tolak ukur
kinerja keuangan pemerintah dalam mengelola keuangan daerah berdasarkan rasio
keuangan APBD.
- Rasio Kemandirian untuk melihat kemandirian Pemerintah Kabupaten Lombok
Timur dalam membiayai aktivitas keuangannya dan melihat ketergantungan
Pemerintah Lombok Timur terhadap Dana Pusat. Tingkat Kemandirian
Pemerintah Kabupaten Lombok Timur rendah sekali dengan rata rata 10, 57%
-

dibawah 25% (tahun 2012-21014);


Rasio Efektivitas untuk mengetahui perbandingan kemampuan pemerintah
daerah dalam merealisasikan pendapatan/penerimaan daerah yang direncakan
dibanding target yang ditetapkan. Semakin besar nilai rasio efektifitas
menunjukkan semakin baiknya efektifitas kinerja pemerintah daerah dalam
merealisasikan pendapatan/penerimaan yang direncakan. Rata-rata keseluruhan

Page | 19

dalam 3 tahun (2012-2014) besarnya rasio efektivitas sebesar 94,90% sehingga


kinerja penggunaan anggaran Pemda Lotim Efektif.
-

Rasio Keserasian ( Belanja Langsung dan Tidak Langsung) Pemerintah


Kabupaten Lombok Timur sebagian besar didominasi oleh Belanja Tidak
Langsung sebesar 70,19% dan Belanja Langsung sebesar 30, 55%. Ini berarti
bahwa alokasi dana lebih besar pada Belanja tidak langsung yang dialokasikan
untuk belanja yang berhubungan dengan masyarakat (hibah, bantuan sosial dll)

Pertumbuhan

PAD

pada

Pemerintah

Kabupaten

Lombok

Timur

dapat

dikategorikan tinggi karena rasionya sudah melebihi atau di atas 40 %. Dimana


rasio Pertumbuhan pada tahun 2014 mencapai 85, 41 %. Sehingga rata-rata
pertumbuhan PAD Lotim 51,02% (tinggi).
2. Dalam analisa ini menunjukkan Kinerja kemandirian Pemda Lotim masih rendah
sekali, efektivitas pengelolaan keuangan sudah efektif, tetapi di lihat keefisienan
pengunaan dana masih dikategorikan kurang efisien. Namun Kinerja pemerintah
Kabupaten Lombok Timur sangat baik dalam pengelolaan PAD dengan tingkat
pertumbuhan yang tinggi melebihi 40% atau rata-rata dalam 3 tahun 51,02%.
Saran-saran :
Dari hasil analisa di atas dapat dilihat bagaimana kondisi pertumbuhan keuangan
Pemerintah Kabupaten Lombok Timur, sehingga dapat diambil langkah langkah sebagai
berikut :
1. Pertumbuhan

PAD

pada

tahun

2014

mengalami

kenaikan

yang

signifikan

dibandingkan tahun tahun sebelumnya, di mana pada tahun 2007-2009 ternyata


Pertumbuhan rata-rata PAD masih kurang dari 40%.
Dengan Pertumbuhan PAD yang tinggi harus terus ditingkatkan sehingga harapannya
mampu menngurangi tingkat Kemandirian Pemerintah Kabupaten Lombok Timur
terhadap dana pusat, sehingga tingkat ketergantungan pemda bisa diminimalisir,
walaupun tingkat kemandirian Pemda dari tahun 2012-2014 masih rendah sekali di
bawah 25%, hanya 10, 57%.

2. Untuk meningkatkan kinerja Pemda perlu dilakukan strategi diantaranya :


- Meningkatkan efiensi pelayanan;
- Lebih mengefisienkan Penggunaan dana;
- Mengidentifikansikan aktifitas yang efisien dengan mengurangi kegiatan yang tidak
menambah nilai tambah dan mempertahankan kegiatan yang dapat meningkatkan
nilai tambah (bermanfaat);

Page | 20

3. Untuk meningkatkan PAD Pemda Lotim dapat mengambill langkah-langkah :


- Intensifikasi yaitu Usaha dengan mengoptimalkan sumber daya yang ada di
daerah, misalnya : Pemberdayaan aparat pemerintah dan Punnisment yang
menarik dalam meningkatkan penerimaan pajak dan retribusi, pengelolahan SDA
yang ada melaui produksi barang/jasa yang dapat meningkatkan nilai ekonomis
(BUMD Produktif), Pemanfaatan Pariwisata dan tempat hiburan kaena kita tahu
banyak

sekali

daerah

pantai

yang

indah/menarik

yang

belum

terjamah/dimanfaatkan oleh Pemda Lotim.


-

Ekstensifikasi, Yaitu meningkatkan PAD dengan cara memperluas jaringan yang


bernilai ekonomis, misalnya seperti yang diuraikan di atas perluasan tempat wisata
pantai yang bisa menarik wisata domestik dan wisata asing dan tidak hanya
berfokus pada satu/beberapa tempat saja tapi di tempat yang lain.

Diversifikasi, dengan melakukan pendataan dan penganekaragam terhadap


potensi-potensi daerah yang bernilai ekonomis dengan memanfaat SDA, SDM dan
Faktor Produksi untuk menghasilkan Barang/jasa yang bernilai Ekonomis.

DAFTAR PUSTAKA

Bastian, Indra, 2001 Akuntansi Sektor Publik di Indonesia. Yogyakarta : BPFE;


Falikhatun dan Putri Nugrahaningsih. 2007. Analisis Laporan Keuangan. Surakarta : FE
UNS;
Halim, Abdul, 2008. Akuntansi Sektor Publik dan Akuntansi Keuangan Daerah. Jakarta, :
Salemba Empat;
Mahmudi, 2010. Analisis Laporan Keuangan Daerah. Edisi Kedua. Yogyakarta: UPP STIM
YKPN;

Page | 21

Mardiasmo, 2002. Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta. ANDI Offset;


Mardiasmo. 2002. Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah. Yogyakarta. ANDI Offset;
Prastowo, Dwi D dan Rifka Julianty, 2002. Analisis Laporan Keuangan Konsepdan Aplikasi.
Edisi Revisi. Yogyakarta: AMP YKPN;
Sawir, Agnes. 2001. Analisis Kinerja Keuangan dan Perencanaan Keuangan Perusahaan.
Jakarta. PT Gramedia Pustaka Utama;
Soemarso. 2002. Akuntansi Suatu Pengantar. Edisi Kelima. Jakarta: SalembaEmpat;
http://id.portalgaruda.org/?ref=browse&mod=viewarticle&article=252167;
http://www.lomboktimurkab.go.id;

eprints.ung.ac.id/.../2012-1-62201-241408079-bab2-13082012112859....oleh R DAMA 2014;


https://www.researchgate.net/.../50858612_ANALISA_KINERJA_KEU.

Page | 22