Anda di halaman 1dari 4

Perubahan Molekular pada Sel-Sel Kanker

untuk Diskusi Kelompok II Pemicu IV – Kamis, 15 April 2010


oleh Evan Regar, 0906508024

Proses Pertumbuhan dan Perkembangan, Perbaikan DNA, serta Kematian Sel Normal1

Sel normal menjalani proses pembelahan secara terkontrol dengan sangat ketat. Faktor
pertumbuhan (dan pembelahan) dalam suatu sel dikode oleh suatu regio dalam genom yang
dinamakan proto-onkogen. Keberadaan proto-onkogen dinilai sangat penting mengingat proto-
onkogen mengkode faktor pertumbuhan, reseptor faktor pertumbuhan, faktor transkripsi, dan
protein-protein lain yang terlibat dalam proses pertumbuhan dan perkembangan suatu sel.

Faktor pertumbuhan berperan sebagai ligan yang berikatan dengan reseptor. Reseptor
merangsang reaksi berantai (cascade) di dalam sel, yang pada akhirnya memicu terjadinya aktivasi
kinase intraselular, gen-gen yang terlibat pertumbuhan sel, serta pembentukan protein. Selain melalui
reseptor, ada faktor pertumbuhan yang dapat langsung menembus membran sel dan bekerja
intraselular. Kedua proses ini selanjutnya mendorong pertumbuhan dan pembelahan sel.

Sel juga memiliki sistem perbaikan (repair mechanism) yang menekan angka laju mutasi pada
DNA sel manusia mencapai 10-10. Sistem ini adalah sistem yang vital untuk mempertahankan sel tetap
normal dalam kehidupan sel itu sendiri.

Kematian sel juga merupakan hal yang wajar dalam proses fisiologis. Kematian ini diinduksi
oleh faktor apoptosis.

Perubahan Tingkat Molekular pada Sel-Sel Kanker

Terdapat beberapa macam perubahan tingkat molekular yang dapat diamati pada sel-sel kanker.

Perubahan Proto-Onkogen menjadi Onkogen

Proto-onkogen yang seharusnya mengontrol pembelahan sel yang normal dapat berubah menjadi
onkogen, yang menyebabkan terjadinya pembelahan sel yang abnormal dan tidak terkontrol. Proses
yang dapat terjadi diantaranya:

(a) radiasi dan karsinogen kimia yang menyebabkan mutasi di regio regulator; sehingga
meningkatkan produksi protein dari proto-onkogen;
(b) terjadinya mutasi pada proto-onkogen sehingga menghasilkan protein yang berbeda, yang
mampu mengakibatkan transformasi pada sel;
(c) adanya transposisi atau translokasi daerah proto-onkogen (misal: perpindahan dari 1 posisi
pada genom tertentu ke posisi lain), mengakibatkan proto-onkogen lebih aktif di tempat yang
baru, sehingga mengalami overekspresi;
(d) proto-onkogen mengalami amplifikasi (penggandaan), sehingga terdapat banyak proto-
onkogen, juga berakibat terjadi overekspresi; dan
virus onkogen yang mengintegrasi onkogen virus ke sel pejamu (host cell),
(e) infeksi virus-virus
mengakibatkan produksi protein yang abnormal.
abnormal

Tabel 1 – Beberapa jenis proto-onkogen


onkogen yang telah dikenal,, serta kelainan yang ditimbulkan apabila
bertransformasi menjadi onkogen

Gambar 1 – Fungsi fisiologis dan biologis dari proto-onkogen


Kelalaian Sistem Reparasi DNA

enzim yang melakukan perbaikan DNA)) merupakan bagian dari TSG


Sistem perbaikan (enzim-enzim
(Tumor Supressor Gene),, karena secara tidak langsung mencegah pertumbuhan sel
sel-sel yang tak
terkendali. Sistem ini bekerja dengan memperbaiki kesalahan selama replikasi, dengan maksud
replikasi tidak menghasilkan DNA yang bermutasi. Apabila terjadi mutasi pada gen--gen pengkode
enzim perbaikan DNA, mutasi DNA akan terakumulasi, dan apabila mutasi berjalan pada proto
proto-
onkogen (dan gen-gen
gen pertumbuhan lain),
lain) kanker akan muncul.

Kegagalan Kerja Tumor Supressor Gene

Gen yang tergolong Tumor Supressor Gene mengkode protein


protein-protein
protein yang berfungsi untuk
menghambat proliferasi (pembelahan) sel. Sistem
S kerja Tumor Supressor Gene adalah dengan
memastikan pembelahan sel berlangsung dengan baik, terutama dengan menilik apakah ada
kerusakan DNA pada sel yang akan membelah ini. Proses kerjanya melibatkan pengaturan siklus sel,
tranduksi sinyal, serta transkripsi. Produk Tumor
T Supressor Gene mengintervensi jalur proto
proto-onkogen,
sehingga kerjasama ini akan mengakibatkan pertumbuhan sel yang normal.
normal

Sebagai contoh, retinoblastoma (rb); dan p53 adalah gen supresor tumor yang bekerja
dengan
n mengintervensi siklus sel. Rb (yang merupakan proudk dari rb) berperan sebagai penjaga
pintu perbatasan fase G1 dan S,, dengan mengatur faktor transkripsi
trans E2F. Demikian pula protein hasil
p53
3 mengatur siklus sel dan apoptosis.

Apabila terjadi kegagalan fungsi Tumor Supressor Gene, sel-sel


sel sel yang mengalami kerusakan
DNA juga tidak terkontrol untuk melakukan pembelahan sel. Pembelahan tidak terkendali ini akan
menghasilkan sel-sel
sel kanker yang terus berproliferasi.

Tabel 2 – Beberapa contoh Tumor Supressor Gene, serta kelainan yang ditimbulkan apabila terjadi
lalai fungsi

By-Pass Apoptosis

Apoptosis, atau kematian sel secara terprogram, seharusnya dapat terjadi akibat beberapa
rangsangan, seperti ketiadaan faktor pertumbuhan, atau peningkatan
peningkatan produk gen p53 akibat ada
adanya
deteksi akan kerusakan DNA, atau pelepasan Tumor Necrosis Factor (TNF). Namun demikian, sel-sel
kanker dapat menjadi resisten (atau tidak peka) terhadap persinyalan apoptosis. Apoptosis sendiri
terjadi akibat induksi protein p53 yang mengakibatkan kerja protein BAX (molekul pro-apoptotik)
dengan menghambat protein BCL-2 (molekul anti-apoptotik) yang terdapat di dalam mitokondria.
Selain itu, p53 berperan untuk meregulasi protein lain, yakni p21 yang mencegah pembentyukan
kompleks Cyclin D/Cdk4, sehingga mencegah fosforilasi RB dan menghambat aktivasi E2F.

Sel-sel kanker tidak memerlukan faktor pertumbuhan untuk tetap bertahan hidup (xsurvive);
bandingkan dengan sel normal yang membutuhkan faktor ini agar dapat mempertahankan
kehidupannya. Sel normal menunjukkan growth factor-dependent signaling pathways; seperti jalur
PDGF/Akt/BAD.

Gambar 2 – Regulasi apoptosis pada sel

Human Papillomavirus (HPV)

Virus ini dapat mengakibatkan terjadinya kanker serviks dengan mekansime:

1. Gen-gen virus HPV yang diintegrasikan kepada DNA sel pejamu


2. Gen tersebut menghasilkan protein E6 dan E7 yang bekerja dengan menghambat tumor
supression gene (yakni p53 dan rb). E6 menghambat kerja p53 dan E7 menghambat kerja
p53, p21, dan RB.

Daftar Pustaka

1. Marks DB, Marks AD, Smith CM. Biokimia kedokteran dasar: sebuah pendekatan klinis.
Jakarta:EGC; 2000.
2. Koolman J, Roehm KH. Corol atlas of biochemistry. Stuttgart: Thieme; 2005
3. Greenblatt R.J. 2005. Human papillomaviruses: Diseases, diagnosis, and a possible vaccine. Clinical
Microbiology Newsletter, 27(18), 139-45.