Anda di halaman 1dari 23

I.

IDENTITAS
IDENTITAS PASIEN
Nama

: An. M.F

Umur

: 8 tahun

Tanggal Lahir : 5 Desember 1998


Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama

: Islam

Alamat

: Jl. Kampung Pulau Jahe Rt. 10/09. Jakarta Timur

No. CM

: 210174

Tanggal Masuk: Tanggal : 30 Mei 2012, Pukul 03.00 WIB


Hubungan dengan pasien : Anak kandung
IDENTITAS ORANG TUA
Nama Ayah

: Tn. S

Umur

: 42 tahun

Pendidikan

: D3

Pekerjaan

: Perawat

Umur saat nikah

: 24 tahun

Alamat

: Jl. Kampung Pulau Jahe Rt. 10/09. Jakarta Timur

Agama

: Islam

Suku Bangsa

: Jawa

Nama Ibu

: Ny. S

Umur

: 47 tahun

Pendidikan

: SMP

Pekerjaan

: Karyawan pabrik

Umur saat nikah

: 20 tahun

Alamat

: Jl. Kampung Pulau Jahe Rt. 10/09. Jakarta Timur

Agama

: Islam

Suku Bangsa

: Jawa

II. ANAMNESIS
Alloanamnesis dari ibu dan ayah pada tanggal 30 Mei 2012 , Pukul 09.30 WIB
Keluhan utama

: Panas

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien anak laki-laki, usia 8 tahun, berat badan 17 kg, datang ke UGD RSPAD
dengan keluhan panas sejak 5 hari sebelum masuk rumah sakit, panas naik perlahan
semakin lama semakin tinggi dengan panas tertinggi 39 C. Panas turun apabila
minum obat penurun panas tetapi naik kembali. Panas dirasakan terutama lebih tinggi
pada sore hingga malam hari. Tidak disertai kejang maupun penurunan kesadaran
selama keluhan panas. Selain itu pasien juga mengeluh pusing, nyeri perut, mual dan
muntah sebanyak dua kali, muntah berupa sisa makanan dan air. Tidak ada batuk dan
pilek, tidak ada mimisan dan gusi berdarah, bintik-bintik merah tidak ada. BAK
pasien normal berwarna kuning jernih tidak ada nyeri saat berkemih, belum BAB
sejak 5 hari sebelum masuk rumah sakit, nafsu makan berkurang. Pasien mengaku
sering jajan makanan dari luar. Pasien menyangkal telah bepergian ke luar daerah.
Tidak ada keluarga dan tetangga sekitar rumah yang menderita keluhan yang sama
dengan pasien
.
Riwayat Penyakit Dahulu
Tidak ada
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada
Riwayat Kehamilan
Status anak

: Anak kandung

Lahir

: Spontan

Kehamilan

: Cukup bulan

Ibu pasien mengatakan teratur melakukan pemeriksaan kehamilan, setiap


bulan sekali melakukan pemeriksaan di bidan. Ibu pasien mengatakan tidak
mengkonsumsi jamu, obat-obatan atau merokok selama kehamilan.

Riwayat Kelahiran
Tanggal lahir

: 4 Februari 2004

Ditolong oleh

: Bidan

Cara persalinan

: Spontan

Berat lahir

: 2400 gram

Panjang lahir

: 48 cm

Masa gestasi

: cukup bulan

Keadaan bayi setelah lahir

: langsung menangis

Kelainan bawaan

: tidak ada

Anak ke

: dua

Riwayat perkembangan
Pertumbuhan gigi pertama

: 7 bulan

Duduk

: 9 bulan

Berjalan

: 12 bulan

Bicara

: 13 bulan

Membaca dan menulis

: 5 tahun

Kesan : perkembangan sesuai dengan umur pasien


Riwayat Makanan
Umur

ASI/PASI

Buah/Biskuit

Bubur Susu

Nasi Tim

0 2 bulan
2 4 bulan
4 6 bulan
6 8 bulan
8 10 bulan
10 12 bulan

ASI
ASI
ASI
ASI + formula
ASI + formula
ASI + formula

+
+
+
+

+
+
+
+

+
+

Diatas 1 tahun
3

JENIS MAKANAN
Nasi
Sayuran
Daging

FREKUENSI
7x seminggu, 2-3xsehari, 5-6 sendok
3x seminggu, 2x sehari, 1 sendok sayur
2x seminggu, 2 x sehari, 1 potong

Telur
5x seminggu, 2 x sehari, 1 butir
Ikan
3x seminggu, 2 x sehari, potong
Tahu
5x seminggu, 2 x sehari, 1 potong
Tempe
5x seminggu, 2 x sehari, 1 potong
Susu : Merk/Takaran
Dancaw sachet 2kali sehari
Kesan : kualitas dan kuantitas makanan kurang
Riwayat Imunisasi
Jenis Imunisasi
DASAR
ULANGAN
BCG
3 bulan
DPT
3 bulan
POLIO
Saat lahir
1x (2 bulan)
CAMPAK
12 bulan
HEPATITIS B
Saat lahir
1x (2 bulan)
Kesan imunisasi dasar dan ulangan : belum pernah imunisasi

III. PEMERIKSAAN FISIK


Tanggal 30 Mei 2012
Berat badan

: 17 kg

Tinggi badan

: 111 cm

Berat badan ideal

Status gizi

kg

Tanda-tanda vital :
Tekanan Darah

: 90 sistolik, 60 diastolik

Nadi

: 96x/menit

Pernapasan

: 28x/menit

Suhu

: 38 C (axilla)

Keadaan umum

: Tampak Sakit Sedang

Kesadaran

: Compos Mentis
4

Kepala

: Normocephal

Rambut

: Rambut hitam, distribusi merata, tidak mudah dicabut

Mata

: Conjungtiva tidak anemis, Sklera tidak ikterik, Pupil isokor diameter


+ 3 mm, Reflex cahaya langsung (+/+), Reflex cahaya tidak langsung
(+/+)

Telinga

: Daun telinga bentuk tidak ada kelainan, liang telinga lapang,


membran timpani tidak ada kelainan

Hidung

: Bentuk tidak ada kelainan, tidak ada napas cuping hidung, mukosa
tidak hiperemis, sekret tidak ada

Mulut

: Sianosis tidak ada, Mukosa bibir agak kering

Lidah

: Lidah kotor, tepi hiperemis

Tonsil

: T1 T1 tenang

Tenggorok

: Faring hiperemis

Leher

: Kelenjar Getah Bening tidak teraba

Thoraks

: Simetris saat statis dan dinamis, retraksi tidak ada

Paru
Inspeksi

: Simetris saat statis dan dinamis

Palpasi

: Tidak teraba massa, fremitus kanan dan kiri sama

Perkusi

: Sonor di kedua lapang paru

Auskultasi

: Suara nafas dasar vesikuler, rhonki tidak ada, wheezing tidak

ada
Jantung
Inspeksi

: Ictus cordis tidak tampak

Palpasi

: Ictus cordis teraba pada ICS VI mid clavicula sinistra, tidak


kuat angkat

Perkusi

: Batas atas

: ICS II linea sternalis sinistra

Batas kanan : ICS IV mid clavicula dextra


Batas kiri
Auskultasi

: ICS V mid clavicula sinistra

: BJ I II murni, reguler, murmur tidak ada, gallop tidak ada

Abdomen
Inspeksi

: Datar

Palpasi

: Datar, supel, nyeri tekan epigastrium (+), Hati dan limpa tidak
teraba pembesaran

Perkusi

: Timpani pada seluruh lapang abdomen


5

Auskultasi

: Bising usus (+) normal

Anus

: Ada, tidak ada kelainan

Genitalia

: Edema scrotum tidak ada

Ekstremitas

: Edema tungkai atas dan bawah tidak ada, Akral hangat,


Rumple Leed negative, CRT < 2

Pemeriksaan neurologis :
Refleks Fisiologis :
Refleks Biceps : +/+ normal
Refleks Triceps : +/+ normal
Refleks Patella : +/+ normal
Reflek Patologis :
Refleks Babinski : -/Refleks Chaddock : -/Refleks Oppenheim : -/Refleks Schaefer : -/Tanda Rangsang Meningeal :
Kaku kuduk : Refleks Kernig : Refleks Brudzinski 1 : Refleks Brudzinski 2 : Refleks Brudzinski 3 : -

IV. PEMERIKSAAN LABORATORIUM


Tanggal 30 Mei 2012
Darah Rutin :
Hb

Nilai Rujukan :
: 12,1 g/dl

13 - 18 g/dl
6

Ht

: 30 %*

40 - 52 %

Eritrosit

: 3,7

4,3 6 juta/ul

Trombosit

: 246.000/ul*

150000 400000/ul

Leukosit

: 9.400/ul*

4800 10800/ul

MCV

: 79 fl

80 96 fl

MCH

: 33 pg

27 32 pg

MCHC

: 41 %

32 36 %

juta/ul

Widal
Salmonella Typhi O

: - / negatif

Salmonella Paratyphi AO

:-

Salmonella Paratyphi BO

:-

Salmonella Paratyphi CO

:-

Salmonella Typhi H

: + 1/320

Salmonella Paratyphi AH

:-

Salmonella Paratyphi BH

: + 1/80

Salmonella Paratyphi CH

:-

Anti Dengue Ig G

Anti Dengue Ig M

Kimia
Natrium

nilai rujukan
129

Kalium
Klorida

135 - 145 mEq/L


3,7

91

3,5 5,3 mEq/ L


97 107 mEq/L

Urinalisa
Urin lengkap
pH

6,5

berat jenis

1.010

protein

negatif

glukosa

negatif

bilirubin

negatif
7

eritrosit

0-0-0

leukosit

1-2-1

torak

negatif

kristal

negatif

epithel

positif

lain-lain

negatif

V. RESUME (Anamnesis, Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang)


Pasien anak laki-laki, usia 8 tahun, berat badan 23 kg, datang ke UGD RSPAD
dengan keluhan panas sejak 5 hari sebelum masuk rumah sakit, panas naik perlahan
semakin lama semakin tinggi dengan panas tertinggi 39 C. Panas turun apabila
minum obat penurun panas tetapi naik kembali. Panas dirasakan terutama lebih tinggi
pada sore hingga malam hari. Tidak disertai kejang maupun penurunan kesadaran
selama keluhan panas. Selain itu pasien juga mengeluh pusing, nyeri perut, mual dan
muntah sebanyak dua kali, muntah berupa sisa makanan dan air. Tidak ada batuk dan
pilek, tidak ada mimisan dan gusi berdarah, bintik-bintik merah tidak ada. BAK
pasien normal berwarna kuning jernih tidak ada nyeri saat berkemih, belum BAB
sejak 5 hari sebelum masuk rumah sakit, nafsu makan berkurang. Pasien mengaku
sering jajan makanan dari luar. Pasien menyangkal telah bepergian ke luar daerah.
Tidak ada keluarga dan tetangga sekitar rumah yang menderita keluhan yang sama
dengan pasien
Pada pemeriksaan fisik ditemukan keadaan umum tampak sakit sedang,
kesadaran compos mentis, TD : Sistolik : 90 mmHg, Diastolik : 60 mmHg, Nadi : 96
x/menit, Pernapasan : 28x/menit, Suhu

: 37,8 C (axilla). Mata : Conjungtiva

anemis, Lidah : Lidah kotor, tepi hiperemis, pemeriksaan abdomen didapatkan nyeri
tekan pada epigastrium, bising usus (+) melemah.
Pada pemeriksaan laboratorium
Darah Rutin :

Nilai Rujukan :

Hb

: 12,1 g/dl

13 - 18 g/dl

Ht

: 30 %*

40 - 52 %

Eritrosit

: 3,7

4,3 6 juta/ul

Trombosit

: 246.000/ul*

juta/ul

150000 400000/ul

Leukosit

: 9.400/ul*

4800 10800/ul

MCV

: 79 fl

80 96 fl

MCH

: 33 pg

27 32 pg

MCHC

: 41 %

32 36 %

VI.

DIAGNOSIS KERJA
Demam tifoid

VII.

DIAGNOSIS BANDING
-gastroenteritis

-bronkitis

-isk

VIII. USULAN PEMERIKSAAN TAMBAHAN


Darah lengkap, Gall kultur.
IX.

TATA LAKSANA
KURATIF
-

IVFD DS % 1300cc / 24 jam

Ceftriaxone 2 x 750 mg, IV

Sanmol 3 x 1 Cth

PROMOTIF
Banyak minum
Makanan yang bergizi
PREFENTIF
Tidak makan sembarangan
X.

PROGNOSIS
Quo ad Vitam

: Dubia at bonam

Quo ad Fungsionam

: Dubia at bonam
9

Quo ad Sanationam

XI.

: Dubia at bonam

FOLLOW UP

Tanggal

31 Mei 2012

Demam (+) batuk(-),


pilek(-)
Belum BAB 4 hari
Pusing(+)

1 Juni 2012

2 Juni 2012

Belum BAB 7 hari, BAK

Perut terasa sakit, belum

normal, demam berkurang,

BAB, demam (-), makan

makan sedikit, pusing (-)

sedikit, mual (-), muntah


(-)

KU : tampak sakit sedang


Kesadaran : CM

KU : tampak sakit sedang


Kesadaran : CM

KU : tampak sakit sedang


Kesadaran : CM

10

TD:100/60 mmHg
N: 96 x/menit
RR:28x/menit
S : 37,5 C
Kepala : normocephal
Mata: CA -/-, SI -/THT : NCH(-), faring tidak
hiperemis, tonsil T1-T2 tidak
hiperemis.
Lidah : kotor, tepi hiperemis
Thorax : Simetris, retraksi
(-)
Jantung : BJ I-II regular,
Murmur (-), Gallop (-)
Paru : Suara napas vesikuler,
rh-/-, wh-/Abdomen : Datar, supel,
nyeri epigastrium (-),
hepar /lien tak teraba
membesar, bising usus (+)
normal.
Ekstremitas : Akral hangat,
oedem tidak ada, perfusi
perifer baik.

TD:90/60 mmHg
N: 88 x/menit
RR:24x/menit
S : 36,8 C
Kepala : Normocephal
Mata: CA -/-, SI -/THT : NCH -, faring tidak
hiperemis, tonsil T1-T2 tidak
hiperemis.
Lidah : Tidak kotor
Thorax : Simetris, retraksi
(-)
Jantung : BJ I-II regular,
Murmur (-), Gallop (-)
Paru : Suara napas vesikuler,
rh-/-, wh-/Abdomen : datar, tegang,
nyeri tekan (+), nyeri lepas
(+), nyeri ketok (-), hepar
dan lien tidak teraba, bising
usus + lemah
Ekstremitas : Akral hangat,
oedem tidak ada, perfusi
perifer baik.

TD:90/60 mmHg
N: 130 x/menit
RR:28x/menit
S : 36,6 C
Kepala : Normocephal
Mata: CA -/-, SI -/THT : NCH -, faring tidak
hiperemis, tonsil T1-T2
tidak hiperemis.
Lidah : Tidak kotor
Thorax : Simetris, retraksi
(-)
Jantung : BJ I-II regular,
Murmur (-), Gallop (-)
Paru : Suara napas
vesikuler, rh-/-, wh-/Abdomen : datar, tegang,
nyeri tekan (+), nyeri lepas
(+), nyeri ketok (-), hepar
dan lien tidak teaba, bising
usus + .
Ekstremitas : Akral hangat,
oedem tidak ada, perfusi
perifer baik.

Demam Tifoid

Demam Tifoid

Demam Tifoid

IVFD DS %
1300cc/24jam
Ceftriaxon 2 x 750 mg, IV
Sanmol Syr 3 x 1 Cth
Dexanta Syr 3 x 1 Cth
Makan lunak
Rencana cek darah lengkap
Hb : 12
Ht : 36
Eritrosit : 4,5 juta
Leukosit : 6620
Trombosit : 253000
Hitung jenis
Basofil 0
MCV 79
Eosinofil 3
MCH 27
Batang 5
MCHC 33
Segmen 46 RDW 12,6
Lmfosit 45
Monosit 3

IVFD DS % 1000cc /
24jam
Ceftriaxon 2 x 750 mg, IV
Sanmol Syr 3 x 1 Cth
Dexanta Syr 3 x 1 Cth
Makan lunak

IVFD DS % 1000cc /
24jam
Ceftriaxon 2 x 750 mg, IV
Sanmol Syr 3 x 1 Cth
Dexanta Syr 3 x 1 Cth
Makan lunak

Lab dan
konsul

11

12 Juni 2009

15 Juni 2009

16 Juni 2009

Panas (-), perdarahan (-)

Perdarahan (-), demam (-)

Demam (-), perdarahan (-)

KU : tampak sakit sedang,


Kesadaran : CM
TD : 110/70 mmHg
RR : 28 x/menit
N : 96 x/menit
S : 36,5 C
Kepala : Mesocephal
Mata : CA -/-, SI-/-.
THT : Bibir tidak sianosis,
faring tidak hiperemis,Tonsil T2T2 tidak hiperemis.
Thorax : Simetris, retraksi (-)
Jantung : BJ I-II regular,
Murmur (-), Gallop (-)
Paru : Suara napas vesikuler,
rh-/wh-/Abdomen : Datar, supel, bising
usus (+) melemah.
Ekstremitas : Akral hangat,
oedem tidak ada, perfusi perifer
baik.

KU : tampak sakit sedang,


Kesadaran : CM
TD : 110/70 mmHg
RR : 28 x/menit
N : 100 x/menit
S : 36,5 C
Kepala : Mesocephal
Mata : CA -/-, SI-/-.
THT : Bibir tidak sianosis,
faring tidak hiperemis,Tonsil
T2-T2 tidak hiperemis.
Thorax : Simetris, retraksi (-)
Jantung : BJ I-II regular,
Murmur (-), Gallop (-)
Paru : Suara napas vesikuler,
rh-/-, wh-/Abdomen : Datar, supel,
bising usus (+) melemah,
luka operasi tenang, drain :
produksi (-)
Ekstremitas : Akral hangat,
oedem tidak ada, perfusi
perifer baik.

- Post operasi laparotomi


eksplorasi e.c perforasi tifoid
- Demam dengue

- Post operasi laparotomi


eksplorasi e.c perforasi tifoid
- Demam dengue

KU : tampak sakit sedang,


Kesadaran : CM
TD : 110/70 mmHg
RR : 24 x/menit
N : 104 x/menit
S : 36,5 C
Kepala : Mesocephal
Mata : CA -/-, SI-/-.
THT : Bibir tidak sianosis,
faring tidak hiperemis,
Tonsil T2-T2 tidak
hiperemis.
Thorax:Simetris, retraksi
(-)
Jantung : BJ I-II regular,
Murmur (-), Gallop (-)
Paru : Suara napas
vesikuler, rh-/-, wh-/Abdomen : Datar, supel,
bising usus (+) melemah,
luka operasi tenang.
Ekstremitas : Akral hangat,
oedem tidak ada, perfusi
perifer baik.
- Post operasi laparotomi
eksplorasi e.c perforasi
tifoid
- Demam dengue

12

Lab

- Kebutuhan cairan : 1500 cc/24


jam
- Oral : puasa 3 hari
- IVFD : PRC 100 cc/24 jam
FFP : 200 cc/1 jam
TC : 4 U
- Aminofusin
- IVFD D 10 % : NaCl 0.9 % =
4:1
- Ceftriaxone 1x1 gram dalam
NaCl 0,9 % = 100 cc
- Flagyl 3x200 mg i.v
- Vitamin C 1x200 mg
- Neurobion 5000 1x1/2 ampul
i.v

-Ceftriaxone 1x1/2 gram


dalam NaCl 0,9% = 100 cc
drip jam
-Vit C 1x200 mg i.v
-Neurobion 5000 1x1/2 amp
i.v
-IVFD D5 S dan KCl 10
mEq/kolf = 1000 cc/24 jam
-Diet

- IVFD D5 S dan KCl


10 mEq/kolf = 500 cc/24
jam
- Ceftriaxone 1x1 1/2 gram
dalam NaCl 0,9% = 100 cc
drip jam
- Neurobion 5000 1x1/2
amp i.v
- Diet : makan lunak 1500
kalori.
- ganti verban

Hb : 10,3
Ht : 29
Eritrosit : 3,9
Leukosit : 3400
Trombosit : 67000
IgG dan IgM dengue (-)

17 juni 2009
S
O

Demam (-)

- Post operasi laparotomi eksplorasi e.c perforasi tifoid


- Demam dengue klinis perbaikan

- cefotaxim 3x200 mg
- diet : makan lunak 1500 kalori
- asam folat 1x5 mg
- vitamin A 1x200.000 i.u
- B kompleks 1x1 tab
- vitamin C 1x50 mg

KU : tampak sakit sedang


Kesadaran : CM
TD:110/80 mmHg
N: 100 x/menit
RR:22x/menit
S : 36,5 C
Kepala : Mesocephal
Mata: CA +/+, SI -/THT : NCH (-), faring tidak hiperemis, tonsil T1-T2 tidak hiperemis.
Lidah : Tidak kotor
Thorax : Simetris, retraksi (-)
Jantung : BJ I-II regular, Murmur (-), Gallop (-)
Paru : Suara napas vesikuler, rh-/-, wh-/Abdomen : Datar, supel, nyeri epigastrium (-), hepar /lien tak teraba membesar, bising usus (+)
normal, luka operasi tenang.
Ekstremitas : Akral hangat, oedem tidak ada, perfusi perifer baik.

13

TINJAUAN PUSTAKA
DEMAM TIFOID

I.

PENDAHULUAN
Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai
saluran cerna dengan gejala demam lebih dari 7 hari, gangguan pada saluran
cerna, dan gangguan kesadaran.1,2

II.

EPIDEMIOLOGI
Di Indonesia terdapat dalam keadaan endemik. Penderita anak yang
ditemukan biasanya berumur di atas satu tahu. Sebagian besar dari penderita
(80%) yang dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta berumur di
atas 5 tahun.1

III.

ETIOLOGI
Salmonella typhii, basil gram negatif, bergerak dengan rambut getar,
tidak berspora. Mempunyai sekurangnya 4 macam antigen, yaitu antigen O
(somatik), H (flagela), Vi, dan protein membrane hialin. Dalam serum
penderita terdapat zat anti (aglutinin) terhadap ketiga macam antigen
tersebut.1,2

IV.

PATOGENESIS
Masuknya Salmonella typhii ke dalam tubuh manusia terjadi melalui
makanan yang terkontaminasi kuman.Bakteri masuk melalui saluran cerna.
Sebagian besar bakteri mati oleh asam lambung. Bakteri yang tetap hidup akan
masuk kedalam ileum melalui mikrovili dan mencapai plak peyeri, selanjutnya
masuk ke dalam pembuluh darah. Pada tahap selanjutnya, bakteri menuju ke
organ sistem retikuloendotelial, yaitu hati, limpa, sumsum tulang, dan organ
lain. Kandung empedu merupakan organ yang sensitif terhadap infeksi
14

salmonella typhii. Ketika bakteri masuk ke dalam darah dan menyebar ke


seluruh tubuh terutama ke dalam kelenjar limfoid usus halus, menimbulkan
tukak berbentuk lonjong pada mukosa di atas plak peyeri. Tukak tersebut
dapat menghasilkan perdarahan dan perforasi usus. Gejala demam disebabkan
oleh endotoksin sedangkan gejala pada saluran cerna disebabkan oleh kelainan
pada usus.1,2,3
V.

GEJALA KLINIS.
Gejala klinis demam tifoid pada anak biasanya lebih ringan jika
dibandingkan dengan penderita dewasa. Masa tunas 7-14 hari (rata-rata 3-30
hari). Selama masa inkubasi mungkin ditemukan gejala prodromal berupa rasa
tidak enak badan, lesu, nyeri kepala, pusing dan tidak bersemangat. Kemudian
menyusul gejala klinis yang biasa ditemukan, yaitu :
1. Demam
Pada kasus-kasus yang khas, demam berlangsung 3 minggu. Bersifat
febris remiten dan suhu tidak berapa tinggi. Selama minggu pertama, suhu
tubuh berangsur-angsur meningkat setiap hari, biasanya menurun pada
pagi hari dan meningkat lagi pada sore dan malam hari. Dalam minggu
kedua, penderita terus berada dalam keadaan demam, bradikardi relatif
(adalah peningkatan suhu 1C tidak diikuti peningkatan denyut nadi 8
kali/menit). Dalam minggu ketiga suhu badan berangsur-angsur turun dan
normal kembali pada akhir minggu ketiga.
2. Gangguan pada saluran pencernaan.
Pada mulut terdapat nafas berbau tidak sedap. Bibir kering dan pecahpecah. Lidah ditutupi selaput putih kotor (coated tongue), ujung dan
tepinya kemerahan, jarang disertai tremor. Pada abdomen mungkin
ditemukan keadaan perut kembung. Hati dan limpa membesar disertai
nyeri pada perabaan. Biasanya didapatkan konstipasi, akan tetapi mungkin
pula normal bahkan dapat terjadi diare.
3. Gangguan kesadaran.
Umumnya kesadaran penderita menurun walaupun tidak berapa dalam,
yaitu apatis sampai somnolen. Jarang terjadi sopor, koma atau gelisah.1,2,3,4

15

VI.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Untuk

memastikan

diagnosis

perlu

dikerjakan

pemeriksaan

laboratorium, yaitu :
1. Pemeriksaan darah tepi.
Terdapat gambaran leukopenia, limfositosis relative dan aneosinofilia
pada permulaan sakit. Mungkin terdapat anemia dan trombositopenia
ringan.
2.

Pemeriksaan sumsum tulang.


Dapat digunakan untuk menyokong diagnosis. Pemeriksaan ini tidak
termasuk pemeriksaan rutin yang sederhana. Terdapat gambaran sumsum
tulang berupa hiperaktif sistem retikuloendotelial dengan adanya
makrofag, sedangkan sistem eritropoesis, granulopoesis dan trombopoesis
berkurang.

3. Biakan empedu
Untuk menemukan salmonella typhii. Bakteri dapat ditemukan dalam
darah penderita biasanya dalam minggu pertama sakit. Selanjutnya lebih
sering ditemukan dalam urin dan feses dan mungkin akan tetap positif
untuk waktu yang lama. Pemeriksaan dilakukan pada waktu masuk dan
setiap minggu berikutnya.
4.

Pemeriksaan Widal.
Pemeriksaan yang dipakai untuk membuat diagnosis yang pasti. Dasar
pemeriksaan adalah reaksi aglutinasi yang terjadi bila serum penderita
dicampur dengan suspense antigen salmonella typhii. Pemeriksaan yang
positif adalah bila terjadi reaksi aglutinasi. Untuk membuat diagnosis
yang diperlukan adalah titer zat anti terhadap antigen O. Titer yang
bernilai 1/200 atau lebih dan atau menunjukkan kenaikan yang progresif
digunakan untuk membuat diagnosis. Titer tersebut mencapai puncaknya
bersamaan dengan penyembuhan penderita.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi uji widal, yaitu :
a. Pengobatan dini dengan antibiotik
b. Gangguan pembentukan antibodi, dan pemberian kortikosteroid.
c. Waktu pengambilan darah.
d. Daerah endemik atau non-endemik.
e. Riwayat vaksinasi.
16

f. Reaksi tifoid akibat infeksi demam tifoid masa lalu atau vaksinasi.
g. Faktor teknik pemeriksaan antar laboratorium, akibat aglutinasi silang,
dan strain salmonella yang digunakan untuk suspense antigen.
5. Kultur darah.
Hasil biakan darah yang positif memastikan demam tifoid, akan tetapi
hasil negatif tidak menyingkirkan demam tifoid, karena mungkin
disebabkan beberapa hal berikut :
a. Telah mendapat terapi antibiotik. Bila pasien sebelum dilakukan kultur
darah telah mendapat antibiotik, pertumbuhan kuman dalam media
biakan terhambat dan hasil mungkin negatif.
b. Volume darah yang yang kurang (diperlukan kurang lebih 5 cc darah).
Bila darah yang di biak terlalu sedikit hasil biakan bisa negatif. Darah
yang diambil sebaiknya secara bedside langsung dimasukkan ke dalam
media cair empedu (oxgall) untuk pertumbuhan kuman.
c. Riwayat vaksinasi. Vaksinasi di masa lampau menimbulkan antibodi
dalam darah pasien. Antibodi (aglutinin) ini dapat menekan bakteremia
hingga biakan darah dapat negatif.
d. Saat pengambilan darah setelah minggu pertama, pada saat agglutinin
semakin meningkat.1,2,3
VII.

DIAGNOSIS BANDING
Paratifoid A,B,C, infeksi dengue, malaria, tuberkulosis, influenza1,2,3

VIII. PENATALAKSANAAN
Pengobatan demam tifoid terdiri dari 3 bagian, yaitu :
1. Tirah baring total selama demam sampai dengan 2 minggu normal kembali.
Dengan tujuan mencegah komplikasi dan mempercepat penyembuhan.
2. Diet dan terapi penunjang.
Dengan tujuan mengembalikan rasa nyaman dan kesehatan pasien secara
optimal. Diet merupakan hal yang cukup penting dalam proses
penyembuhan penyakit, karena makanan yang kurang akan menurunkan
keadaan umum dan gizi penderita akan semakin turun dan proses
penyembuhan akan menjadi lama. Makanan harus mengandung cukup
cairan, kalori, dan tinggi protein, tidak boleh mengandung banyak serat,
tidak merangsang maupun menimbulkan banyak gas.
17

4. Obat.
Dengan tujuan menghentikan dan mencegah penyebaran kuman. Obat-obat
yang sering digunakan adalah : Kloramfenikol, dengan dosis 4x100 mg
perhari dapat diberikan secara per oral atau intravena. Diberikan sampai 7
hari bebas panas. Obat lain yang juga digunakan adalah : tiamfenikol,
dosis sama dengan kloramfenikol, demam rata-rata menurun pada hari ke
lima sampai ke enam. Kotrimoksazol.1,2,3
IX.

KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat terjadi pada demam tifoid, yaitu :
1. Komplikasi intestinal.
a.

Perdarahan usus.
Bila sedikit hanya ditemukan jika dilakukan pemeriksaan tinja dengan
benzidin. Bila perdarahan banyak terjadi melena dan bila berat dapat
disertai perasaan nyeri perut dengan tanda-tanda renjatan.

b.

Perforasi usus.
Timbul biasanya pada minggu ketiga atau setelah itu dan terjadi pada
bagian distal ileum. Selain gejala umum demam tifoid yang biasa
terjadi maka penderita demam tifoid dengan perforasi mengeluh nyeri
perut yang hebat terutama di daerah kuadran kanan bawah yang
kemudian menyebar ke seluruh perut dan disertai dengan tanda-tanda
ileus. Perforasi yang tidak disertai peritonitis hanya dapat ditemukan
bila terdapat udara di rongga peritoneum, yaitu pekak hati menghilang
dan terdapat udara diantara hati dan diafragma pada foto rontgen
abdomen yang dibuat dalam keadaan tegak. Tanda-tanda perforasi
lainnya adalah nadi cepat, tekanan darah turun, dan bahkan dapat
syok. Leukositosis dengan pergeseran ke kiri dapat menyokong
adanya perforasi.

c. Peritonitis. Biasanya menyertai perforasi tetapi dapat terjadi tanpa


perforasi usus. Ditemukan gejala abdomen akut yaitu nyeri perut yang
hebat, dinding abdomen tegang dan nyeri pada tekanan.
2. Komplikasi ekstra intestinal.
Terjadi karena lokalisasi peradangan akibat sepsis (bakteremia), yaitu :
meningitis, kolesistitis, ensefalopati, dan lain-lain. Terjadi karena infeksi
18

sekunder, yaitu bronkopneumonia. Dehidrasi dan asidosis dapat timbul


akibat masukan makanan yang kurang dan perspirasi akibat suhu tubuh
yang tinggi.1,3
X.

PROGNOSIS
Umumnya baik bila pasien cepat berobat. Prognosis pasien demam
tifoid tergantung ketepatan kerja, usia, keadaan kesehatan sebelumnya, dan
ada tidaknya komplikasi. Prognosis kurang baik bila terdapat gejala klinis
yang berat, seperti hiperpireksia atau febris yang kontinu, penurunan
kesadaran : sopor, koma, delirium, komplikasi lain, yaitu : perforasi
gastrointestinal atau perdarahan hebat, meningitis, endokarditis, pneumonia.
Komplikasi berat seperti : dehidrasi, asidosis, perforasi usus dan gizi buruk,
bisa mengakibatkan morbiditas dan mortalitas yang tinggi.1,5

19

ANALISA KASUS
Pada kasus ini diagnosa kerja yang pertama kali ditegakkan adalah Demam
tifoid. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pada
anamnesis didapatkan keluhan utama panas sejak 8 hari sebelum masuk rumah sakit,
mendadak, naik-turun, pusing, mual, 6 hari tidak BAB. Dimana demam pada tifoid
yaitu demam tinggi yang timbul mendadak selama lebih dari 7 hari disertai adanya
gangguan pada saluran cerna, yaitu perut terasa mual. dan kadang kadang terdapat
konstipasi. Selain itu, pasien juga di diagnosis gizi buruk tipe marasmus, karena
mengacu kepada riwayat pemberian makanannya yang kurang. Karena untuk anak
seusia pasien, asupan makanan yang masuk ke dalam tubuhnya sangat kurang. Orang
tua kurang memperhatikan anaknya, seperti tidak diberikan imunisasi dan kurangnya
pengetahuan dari orang tua.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan kesadaran kompos mentis, tekanan darah
90/60 mmHg, nadi 96x/menit, pernapasan 28x/menit, suhu 37,8 C, mata konjungtiva
anemis, lidah kotor, tepi kemerahan, nyeri tekan pada epigastrium. Sesuai dengan
diagnosis demam tifoid, yaitu pada lidah ditutupi selaput putih kotor (coated tongue),
ujung dan tepinya kemerahan. dan juga terdapat gangguan pada saluran cerna, yaitu
pada abdomen terdapat nyeri tekan pada epigastrium. Berat badan : 19 kg, tinggi
badan : 135 cm, usia : 10 tahun, hal ini sangat dibawah rata-rata anak seusianya. Jika
mengacu kepada lokakarya antropometri Depkes tahun 1974 dan Puslitbang Gizi
1978 didapatkan pada pasien ini gambaran gizi buruk yang dikenal dengan malnutrisi
energi protein berat, karena hasil perhitungan dari berat badan per umur didapatkan
persentil sekitar 57%, yaitu dibawah 60%. Berat badan per tinggi badan didapatkan
persentil sekitar 63%, yaitu dibawah 70%.
Pada pemeriksaan penunjang laboratorium di Klinik Rajawali didapatkan Hb :
12,5 g/dl, Ht : 34 %, Trombosit : 64/ul, Leukosit : 3,1/ul, pemeriksaan widal :
Salmonella typhi O : +1/640, Salmonella typhi H : +1/640, Salmonella paratyphi
AH : +1/160, Salmonella paratyphi BH : +1/320, Salmonella paratyphi CH : +1/160.
20

Dan pemeriksaan di Gatot Soebroto : Hb : 10,9 g/dl, Ht : 37 %, Eritrosit : 4,1 juta/ul,


Trombosit : 68000/ul, Leukosit : 3800/ul. Pemeriksaan widal : Salmonella typhi H :
+1/80, Salmonella paratyphi BH : +1/80, ditemukan leukopenia, anemia dan
trombositopeni, dan juga tidak didapatkan hemokonsentrasi, sesuai untuk demam
dengue. Dari pemeriksaan widal, terdapat peningkatan titer antibodi terhadap antigen
O >200.
Pada pasien ini setelah hari kedua perawatan mengeluh perut terasa sakit, pada
pemeriksaan abdomen ditemukan tegang, nyeri tekan (+), nyeri lepas (+), nyeri ketok
(+). Didapatkan kesan peritonitis e.c susp tifoid perforasi, yaitu merupakan
komplikasi yang terjadi pada demam tifoid, dimana komplikasi tersebut didahului
dengan penurunan suhu, tekanan darah dan peningkatan frekuensi nadi. Pada perforasi
usus halus ditandai oleh nyeri abdomen pada perabaan abdomen, perut tegang (defans
musculare)
Penatalaksanaan pasien ini, mulai dari pemberian IVFD RL pada pasien ini,
karena untuk mengganti cairan, maka diberi kristaloid. Lalu diberi obat penurun
panas, paracetamol, dan obat untuk mengatasi gangguan pencernaan, yaitu ranitidin,
dan juga antibiotik. Saran untuk pasien ini, yaitu agar selalu banyak minum untuk
mengganti cairan yang terbuang, makan makanan yang bergizi dan tidak makan
disembarang tempat.
Prognosis pada pasien ini adalah dubia at bonam, karena prognosis pada
pasien demam tifoid tergantung ketepatan terapi, usia, dan ada tidaknya komplikasi.
Meskipun telah muncul komplikasi pada pasien ini, yaitu peritonitis, dan dapat
teratasi dengan tindakan operasi, apabila ditangani dengan tepat dan segera, maka
penyembuhan akan cepat teratasi.

21

DAFTAR PUSTAKA
1.

Latief A et al. Tifus abdominalis. Dalam Bab Infeksi. Ilmu Kesehatan Anak
Buku Kuliah vol. 2. Cetakan keempat. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. 1985. Hal : 593-97.

2.

Mansjoer A et al. Tifus abdominalis. Dalam Bab Infeksi Tropik dan Infeksi
Anak. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi ketiga. Jilid kedua. Media Aesculapius
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2000. Hal : 432-33.

3.

Sudoyo A. Demam Tifoid. Dalam : Widodo D. Ilmu Penyakit Tropik dan


Menular. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi kesepuluh. Jilid ketiga. Bagian
Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2000. Hal :
1774-78.

4.

Perry

MC.

%20Settings/

Typhoid

Fever.

Diambil

dari

file:///C:/Documents%20and

ALPHA03/My%20Documents/journal%20tifus.htm.

Diakses

tanggal 16 Juni 2009.


5.

Poorwosoedarmo S. Demam Tifoid. Dalam Bab Infeksi Bakteri. Buku Ajar


Infeksi dan Pediatri Tropis Ikatan Dokter Anak Indonesia. Edisi kedua. Bagian
Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Indonesia. Jakarta. 2008. Hal : 33846.

22

23