Anda di halaman 1dari 19

BAB II

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TIMBULNYA TINDAK


PIDANA PEMBUNUHAN SESUAI PASAL 340 KUHP

A. Tindak Pidana Pembunuhan Berencana


1. Pengertian Tindak Pidana Pembunuhan
Menurut Agus Sulistyo dan Adi Mulyono, Membunuh berasal dari kata
bunuh yang berarti menghilangkan nyawa, mematikan. (Agus Sulistyo dan Adi
Mulyono, 2000 : 86). Sedangkan menurut Imam Malik membagi pembunuhan
menjadi 2 (dua), yaitu: pembunuhan sengaja dan pembunuhan kesalahan.
Pembunuhan sengaja adalah suatu perbuatan dengan maksud menganiaya dan
mengakibatkan hilangnya nyawa atau jiwa orang yang dianiaya, baik
penganiayaan itu dimaksudkan untuk membunuh ataupun tidak dimaksudkan
membunuh. Sedangkan pembunuhan kesalahan adalah suatu perbuatan yang
mengakibatkan kematian yang tidak disertai niat penganiayaan. (Imam Malik,
2000 : 54) Pembunuhan dibedakan menjadi 3 (tiga) macam, yaitu :
1) Pembunuhan sengaja yaitu suatu perbuatan penganiayaan terhadap seseorang
dengan maksud untuk menghilangkan nyawanya.
2) Pembunuhan semi sengaja yaitu suatu perbuatan penganiayaan terhadap
seseorang tidak dengan maksud untuk membunuhnya tetapi mengakibatkan
kematian.
3) Pembunuhan

karena

kesalahan,

yang

diakibatkan

karena

(tiga)

kemungkinan yaitu :
a) Bila si pelaku pembunuhan sengaja melakukan suatu perbuatan dengan
tidak bermaksud melakukan suatu kejehatan tetapi mengakibatkan
kematian seseorang. Kesalahan seperti ini disebut kesalahan dalam
perbuatan (error in concrito).
b) Bila pelaku sengaja melakukan perbuatan dan mempunyai niat membunuh
seseorang yang dalam persangkaannya boleh dibunuh, namun ternyata

orang tersebut tidak boleh dibunuh, misalnya sengaja menembak


seseorang musuh dalam peperangan tetapi ternyata kawan sendiri.
Kesalahan seperti ini disebut kesalahan dalam maksud (error in objecto).
c) Bila si pelaku bermaksud melakukan kejahatan tetapi akibat kelalaiannya
dapat menimbulkan kematian, seperti seseorang terjatuh dan menimpa
bayi yang berada di bawahnya hingga mati.
Menurut KUHP tindak pidana pembunuhan diklasifikasikan sebagai
berikut :
1) Pembunuhan Biasa (Doodslag)
Pembunuhan biasa yaitu pembunuhan yang dilakukan oleh seseorang
dengan maksud supaya korban mati atau dengan kata lain yaitu merampas
nyawa orang lain. Apabila tidak ada unsur kesengajaan, dalam arti tidak ada
niat atau maksud untuk mematikan orang itu, tetapi apabila orang itu mati
juga maka perbuatan tersebut tidak dapat diklasifikasikan dalam pembunuhan
ini. Bila terhadap orang yang justru harus dilindungi seperti : ibu, bapak dan
keluarganya maka pidananya lebih berat.
Dengan menyebutkan unsur tingkah laku sebagai merampas nyawa
orang lain, menunjukkan bahwa kejahatan pembunuhan adalah suatu tindak
pidana materiil. Tindak pidana materiil adalah suatu tindak pidana yang
malarang menimbulkan suatu akibat tertentu, akibat yang dilarang atau akibat
konstitutif (constitutief gevolg). Pembunuhan biasa (doodslag) dapat
dikenakan hukuman penjara, seperti pada KUHP sebagai berikut :
Pasal 338 Barang siapa dengan sengaja menghilangkan jiwa orang lain,
dihukum, karena makar mati, dengan hukuman penjara selama-lamanya lima
belas tahun.
Pada Pasal 338 KUHP di atas disebut dengan pembunuhan biasa, dimana
pembunuhan ini dilakukan apabila pelaku memenuhi 3 unsur yaitu barang
siapa, dengan sengaja, dan menghilangkan jiwa orang lain. Pelaku tindak
pembunuhan ini dituntut dengan hukuman penjara selama-lamanya lima belas
tahun. Pasal 339 Makar mati diikuti, disertai atau didahului dengan perbuatan

yang dapat dihukum dan yang dilakukan dengan maksud untuk menyiapkan
atau memudahkan perbuatan itu atau jika tertangkap tangan akan melindungi
dirinya atau kawan-kawannya dari pada hukuman atau akan mempertahankan
barang yang didapatnya dengan melawan hak, dihukum penjara seumur hidup
atau penjara sementara selama-lamanya dua puluh tahun.
Pasal 340 Barang siapa dengan sengaja dan dengan direncanakan lebih
dahulu menghilangkan jiwa orang lain, dihukum, karena pembunuhan
direncanakan (moord), dengan hukuman mati atau penjara seumur hidup atau
penjara sementara selama-lamanya dua puluh tahun. Pada Pasal 339 dan 340
KUHP di atas disebut dengan pembunuhan berencana, dimana pembunuhan
ini dilakukan apabila pelaku memenuhi 4 (empat) unsur yaitu barang siapa,
dengan sengaja, direncanakan, dan menghilangkan jiwa orang lain. pelaku
tindak pembunuhan ini dituntut dengan hukuman penjara selama-lamanya
lima belas tahun.
2) Pembunuhan Anak (Kinder doo)
Bentuk pembunuhan oleh ibu kepada bayinya pada saat dan tidak lama
setelah dilahirkan, yang dalam praktek hukum sering disebut dengan sebutan
pembunuhan bayi. Kategori dalam pembunuhan ini adalah pembunuhan oleh
ibunya sendiri kepada seorang anak pada waktu atau tidak lama setelah
dilahirkan dan didorong oleh ketakutan si ibu akan diketahui bahwa ia telah
melahirkan anak.

Pembunuhan terhadap anak dapat dikenakan hukuman

penjara, seperti pada KUHP sebagai berikut :


Pasal 341 Seorang ibu yang dengan sengaja menghilangkan jiwa anaknya
pada ketika dilahirkan atau, tidak berapa lama sesudah dilahirkan, karena
takut ketahuan bahwa ia sudah melahirkan anak dihukum, karena makar mati
terhadap anak (kinderdoodslag), dengan hukuman penjara selama-lamanya
tujuh tahun.
Pasal 342 Seorang ibu yang dengan sengaja akan menjalankan keputusan
yang diambilnya sebab takut ketahuan bahwa ia tidak lama lagi akan
melahirkan anak, menghilangkan jiwa anaknya itu pada ketika dilahirkan atau

tidak lama kemudian dari pada itu, dihukum karena pembunuhan anak
(kinderdoodslag), yang direncanakan dengan hukuman penjara selamalamanya sembilan tahun.
Pasal 343 Bagi orang lain yang turut campur dalam kejahatan yang
diterangkan dalam Pasal 341 dan Pasal 342 dianggap kejahatan itu sebagai
makar mati atau pembunuhan.
3) Pembunuhan atas Permintaan Si Korban
Pembunuhan atas permintaan si korban atas dirinya sendiri ini dikenal
dengan euthanasia (mercy killing) yang dengan dipidananya si pembunuh
walaupun si pemilik sendiri yang memintanya. Pembunuhan atas permintaan
si korban dapat dikenakan hukuman penjara, seperti pada KUHP sebagai
berikut :
Pasal 344 Barang siapa menghilangkan jiwa orang lain atas permintaan
orang itu sendiri, yang disebutkannya dengan nyata dan dengan sungguhsungguh, dihukum penjara selama-lamanya dua belas tahun.
4) Pembunuhan terhadap Diri Sendiri
Perbuatan mendorong pembunuhan terhadap dirinya sendiri adalah
perbuatan dengan cara dan bentuk apapun terhadap orang lain yang sifatnya
mempengaruhi agar pada orang terbentuk kehendak tertentu yang diinginkan
olehnya. Masalah bunuh diri sendiri tidak diancam pidana, tetapi orang yang
sengaja menghasut, mendorong, membantu, memberi saran kepada orang lain
untuk bunuh diri dapat dikenakan pidana asal orang yang dihasutnya mati.
Pembunuhan terhadap diri sendiri karena hasutan atau dorongan orang lain,
maka orang lain tersebut dikenakan hukuman penjara, seperti pada KUHP
sebagai berikut :
Pasal 345 Barang siapa dengan sengaja menghasut orang lain untuk
membunuh diri, menolongnya dalam perbuatan itu, atau memberikan daya
upaya kepadanya untuk itu, maka jika orang itu jadi membunuh diri, dihukum
penjara selama-lamanya empat bulan.

5) Menggugurkan Kandungan
Menggugurkan kandungan yaitu seorang perempuan yang menggugurkan
atau mematikan kandungannya atau menyuruh orang lain menggugurkan atau
mematikan kandungan tersebut.
Pasal 346 Perempuan yang dengan sengaja menyebabkan gugur atau
mati kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, dihukum penjara
selama-lamanya empat tahun.
Pasal 347 (1) Barang siapa dengan sengaja menyebabkan gugur atau mati
kandungannya seorang perempuan tidak dengan izin perempuan itu dihukum
penjara selama-lamanya dua belas tahun. (2) Jika karena perbuatan itu
perempuan itu jadi mati dia dihukum penjara selama-lamanya lima belas
tahun.
Pasal 348 (1) Barang siapa dengan sengaja menyebabkan gugur atau mati
kandungannya seorang perempuan dengan izin perempuan itu, dihukum
penjara selama-lamanya lima tahun enam bulan. (2) Jika karena perbuatan itu
perempuan itu jadi mati dia dihukum penjara selama-lamanya tujuh tahun.
Pasal 349 Jika seorang tabib, dukun beranak atau tukang obat membantu
dalam kejahatan yang disebut dalam Pasal 346, atau bersalah atau membantu
dalam salah satu kejahatan yang diterangkan dalam Pasal 347 dan Pasal 348,
maka hukuman yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengan
sepertiganya dan dapat dipecat dari jabatannya yang digunakan untuk
melakukan kejahatan itu.
Dari semua jenis pembunuhan tersebut masih diberi pasal tambahan pada
Pasal 350 KUHP sebagai berikut : Pasal 350 Pada waktu menjatuhkan hukuman
karena makar mati, (doodslag) pembunuhan itu direncanakan (moord) atau
karena salah satukejahatan yang diterangkan dalam Pasal 344, 347 dan 348,
dapat dijatuhkan hukuman mencabut hak yang tersebut dalam Pasal 35.

2. Pengertian Pembunuhan Berencana


Pembunuhan berencana ialah pembunuhan yang dilakukan oleh terdakwa
dengan direncanakan terlebih dahulu, misalnya, dengan berunding dengan orang
lain

atau

setelah

memikirkan

siasat-siasat

yang

akan

dipakai

untuk

melaksanakan niat jahatnya itu dengan sedalam-dalamnya terlebih dahulu,


sebelum tindakan yang kejam itu dimulainya.
Pembunuhan berencana yang dilakukan biasanya bertujuan untuk
kepentingan komersil atau untuk kepentingan si pembunuh itu sendiri, antara
lain adanya suatu dendam dan berencana untuk mengakhiri nyawa si korban bisa
juga pelaku di bayar untuk melakukan suatu tindakan pembunuhan tersebut
karna alasan tertentu.
Menurut Adami Chazawi yang menyatakan : Pembunuhan berencana itu
dimaksudkan oleh pembuat undang-undang sebagai pembunuhan bentuk khusus
yang memberatkan, seharusnya tidak dirumuskan dengan cara demikian,
melainkan delam pasal 340 KUHP itu cukup disebut sebagai pembunuhan saja,
tidak perlu menyebut ulang seluruh unsur pasal 338 KUHP dan rumusannya
dapat berupa pembunuhan yang dilakukan dengan rencana terlebih dahulu
dipidana karena pembunuhan dengan rencana.dan seterusnya57
Pembunuhan berencana adalah suatu pembunuhan biasa seperti pasal 338
KUHP, akan tetapi dilakukan dengan direncanakan terdahulu. Direncanakan
lebih dahulu (voorbedachte rade) sama dengan antara timbul maksud untuk
membunuh dengan pelaksanaannya itu masih ada tempo bagi si pembuat untuk
dengan tenang memikirkan misalnya dengan cara bagaimanakah pembunuhan
itu akan dilakukan.
Perbedaan antara pembunuhan dan pembunuhan direncanakan yaitu
kalau pelaksanaan pembunuhan yang dimaksud pasal 338 itu dilakukan seketika
pada waktu timbul niat, sedang pembunuhan berencana pelaksanan itu
ditangguhkan setelah niat itu timbul, untuk mengatur rencana, cara bagaimana
pembunuhan itu akan dilaksanakan. Jarak waktu antara timbulnya niat untuk

57

Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana I, PT. Raja Grafindo Persada 2000, Jakarta

hal. 81

membunuh dan pelaksanaan pembunuhan itu masih demikian luang, sehingga


pelaku masih dapat berfikir, apakah pembunuhan itu diteruskan atau dibatalkan,
atau pula nmerencana dengan cara bagaimana ia melakukan pembunuhan itu.
Perbedaan lain terletak dalam apa yang terjadi didalam diri si pelaku
sebelum pelaksanaan menghilangkan jiwa seseorang (kondisi pelaku). Untuk
pembunuhan direncanakan terlebih dulu diperlukan berfikir secara tenang bagi
pelaku.

Di

dalam

pembunuhan

biasa,

pengambilan

putusan

untuk

menghilangkan jiwa seseorang dan pelaksanaannya merupakan suatu kesatuan,


sedangkan pada pembunuhan direncanakan terlebih dulu kedua hal itu terpisah
oleh suatu jangka waktu yang diperlukan guna berfikir secara tenang tentang
pelaksanaannya, juga waktu untuk memberi kesempatan guna membatalkan
pelaksanaannya. Direncanakan terlebih dulu memang terjadi pada seseorang
dalam suatu keadaan dimana mengambil putusan untuk menghilangkan jiwa
seseorang ditimbulkan oleh hawa nafsunya dan di bawah pengaruh hawa nafsu
itu juga dipersiapkan pelaksanaannya.58
Mengenai unsur dengan rencana terlebih dahulu, pada dasarnya
mengandung 3 (tiga) unsur/syarat :
a) Memutuskan kehendak dalam suasana tenang.
b) Ada tersedia waktu yang cukup sejak timbulnya kehendak sampai dengan
pelaksanaan kehendak.
c) Pelaksanaan kehendak ( perbuatan ) dalam suasana tenang
Pembunuhan berencana mempunyai unsur-unsur sebagai berikut :
1. Unsur Subyektif:
a. Dengan sengaja
b. Dengan rencana terlebih dahulu
2. Unsur Obyektif
a. Perbuatan : menghilangkan nyawa.
b. Obyeknya : nyawa orang lain

58

H.A.K Moch Anwar, Hukum Pidana Bagian Khusus ( KUHP buku II ), PT Citra
Aditya Bakti, Bandung,1989, hal. 78

Apabila salah satu unsur di atas terpenuhi maka seseorang dapat


ditetapkan sebagai pelaku tindak pidana pembunuhan berencana. Setelah ada
bukti-bukti dan saksi yang kuat maka pelaku tindak pidana dapat dituntut
dipengadilan. Pasal 1 ayat (3) Undang-undang Dasar 1945 menyatakan bahwa
Negara Indonesia adalah negara hukum. Hal ini berarti segala bentuk perilaku
individu didasarkan kepada hukum yang berlaku. Pelaku kejahatan ataupun
korban

kejahatan

akan

perundangundangan

yang

mendapatkan
berlaku.

tindakan

Seseorang

yang

hukum
diduga

berdasarkan
melakukan

pelanggaran hukum tidak dapat dikatakan bersalah sebelum adanya keputusan


hukum dari hakim yang bersifat tetap. Untuk menjaga supremasi hukum saat ini
sedang gencar-gencarnya diadakan reformasi penegak hukum yang bersih dan
berwibawa.

B. Unsur-Unsur Pembunuhan Berencana


Dalam perbuatan menghilangkan jiwa/nyawa (orang lain) terdapat 3
(tiga) syarat yang harus dipenuhi, yaitu :
1) Adanya wujud perbuatan ;
2) Adanya suatu kematian(orang lain) ;
3) Adanya hubungan sebab dan akibat antara perbuatan dan akibat kematian.
Rumusan pasal 340 KUHP dengan menyebutkan unsur tingkah laku
sebagai menghilangkan nyawa orang lain menunjukkan bahwa kejahatan
pembunuhan berencana adalah suatu tindak pidana materil. Perbuatan
menghilangkan nyawa dirumuskan dalam bentuk aktif dan abstrak. Bentuk aktif
artinya mewujudkan perbuatan itu harus dengan gerakan pada sebagian anggota
tubuh, tidak boleh diam atau pasif, misalnya memasukkan racun pada minuman.
Disebut abstrak, karena perbuatan itu tidak menunjuk bentuk kongkrit tertentu.
Oleh karena itu dalam kenyataan secara kongkrit, perbuatan itu dapat bermacam
macam wujudnya, misalnya menembak, mengampak, memukul, meracuni, dan
lain sebagainya.

Wujud perbuatan tersebut dapat saja terjadi tanpa menimbulkan akibat


hilangnya nyawa orang lain. Bilamana perbuatan yang direncanakan untuk
menghilangkan nyawa orang lain telah diwujudkan kemudian korban tidak
meninggal dunia, maka delik yang terjadi adalah percobaan melakukan
pembunuhan berencana. Oleh karena itu akibat ini amatlah penting untuk
menentukan selesai atau tidaknya pembunuhan itu. Saat timbul akibat hilangnya
nyawa tidaklah harus seketika atau tidak lama setelah perbuatan melainkan
dapat timbul beberapa lama kemudian, yang penting akibat itu benar-benar
disebabkan oleh perbuatan itu. Misalnya setelah dibacok, karena menderita lukaluka berat ia dirawat di rumah sakit, dua minggu kemudian karena luka-luka
akibat bacokan itu meninggal dunia.
Adapun tiga syarat yang ada dalam unsur perbuatan menghilangkan
nyawa sebagaimana di atas harus dibuktikan walaupun satu sama lain dapat
dibedakan, akan tetapi tidak dapat dipisahkan. Oleh karena merupakan suatu
kebulatan. Apabila salah satu unsur tidak terdapat diantara 3 (tiga) syarat
tersebut,

maka

perbuatan

menghilangkan

nyawa

tidak

terjadi.

Untuk

menentukan adanya wujud perbuatan dan adanya kematian, tidaklah merupaan


hal yang amat sulit. Lain halnya dengan untuk menentukan apa sebab timbulnya
kematian atau dengan kata lain menetapkan adanya hubungan kausal antara
wujud perbuatan dengan akibat kematian.
Dalam hal hubungan antara perbuatan sebagai penyebab dengan
hilangnya nyawa orang sebagai akibat, ada masalah pokok yang amat penting,
yakni bilamanakah atau dengan syarat-syarat apakah yang harus ada untuk suatu
kematian dapat ditetapkan sebagai akibat dari suatu wujud perbuatan. Ajaran
tentang sebab akibat (kausalitas) adalah suatu ajaran yang berusaha untuk
mencari jawaban atas masalah tersebut.
Ajaran Von Buri yag dikenal dengan teori Conditio Sinequa Non, yang
pada pokoknya menyatakan : Semua faktor yang ada dianggap sama
pentingnya dank karena dinilai sebagai penyebab atas timbulnya akibat. Oleh
karena itu setiap faktor sama pentingnya, maka suatu faktor tidak boleh

dihilangkan dari rangkaian faktor penyebab, sebab apabila dihilangkan akibat itu
tida akan terjadi.59.
Kendatipun ajaran Von Buri mendapat tantangan dari banyak ahli hukum
pidana yang lain, namun Hoge Raad (HR) pernah menerapkan ajaran arrestnya
menyatakan bahwa. Untuk dianggap sebagai sebab suatu akibat, perbuatan itu
tidak perlu bersifat umum atau normal 60. Menurut Van Hamel, menganut ajaran
Von Buri, teori tersebut sudah baik, akan tetapi harus dilengkapi lagi atau
dibatasi dengan ajaran tentang kesalahan (schuldleer). Maksudnya untuk
mempertanggung jawabkan bagi seseorang tidak cukup dengan melihat pada
bagaimana perbuatannya dan yang dalam hubungannya dengan akibat saja, akan
tetapi juga dilihat atau dibatasi pada ada tidaknya unsur kesalahannya.
Dalam perkembangan selanjutnya timbul banyak teori yang berusaha
memperbaiki dan menyempurnakan teori Von Buri, yang pada dasarnya teori
tersebut mencari batasan antara faktor syarat dan faktor penyebab atas suatu
akibat. Teori yang dimaksud adalah sebagi berikut :
a. Teori yang mengindividualisir (individualiserede thoeorien). Maksud dari
teori ini ialah bahwa dalam menentukan faktor sebab, hanyalah melihat pada
yang mana yang paling berperan atau paling dominant terhadap timbulnya
akiat, sedangkan faktor lainnya adalah faktor syarat.
b. Teori yang menggeneralisir (Genaralisered Thoeorien). masked dari teori ini
ialah dalam mencari untuk menentukan faktor sebab hanya melihat pada
faktor mana yang pada umumnya menurut kewajiban dapat menimbulkan
akibat.61.
Direncanakan terlebih dahulu Perbedaan antara pembunuhan dan
pembunuhan yang direncanakan erlebih dahulu terletak dalam apa yang terjadi
di dalam diri si pelaku sebelum pelaksanaan menghilangkan jiwa seseorang.
Mengenai unsur dengan rencana terlebih dahulu, pada dasarnya mengandung 3
(tiga) syarat yaitu :

59

Adami Chazawi, Ibid, hal. 60


Adami Chazawi, Ibid, hal. 61
61
Adami Chazawi, Ibid, hal. 62
60

a) Memutuskan kehendak dalam suasana tenang pada saat memutuskan untuk


membunuh itu dilakukan dalam suasana tidak tergesa-gesa. Indikatornya
adalah sebelum memutuskan kehendak untuk membunuh telah dipikirkan dan
di pertimbangkan, telah dikaji untung ruginya. Pemikiran dan pertimbangan
seperti itu hanya dapat dilakukan apabila ada dalam suasana tenang. Ia
memikirkan dan mempertimbangkan dengan mendalam itulah ia akhirnya
memutuskan kehendak untuk berbuat, sedangkan perbuatannya tidak
diwujudkan ketika itu.
b) Ada tersedia waktu yang cukup sejak timbulnya kehendak sampai dengan
pelaksanaan kehendak. Waktu yang cukup dalam hal ini adalah relative,
dalam arti tidak diukur dari lamanya waktu tertentu melainkan bergantung
pada keadaan atau kejadian konkrit yang berlaku. Tidak perlu singkat, tidak
mempunyai kesempatan lagi untuk berpikir-pikir, karena tergesa-gesa, waktu
yang demikian tidak menggambarkan adanya hubunga antara pengambilan
putusan dan kehendak untuk membunuh dengan pelaksanaan pembunuhan.
Mengenai adanya cukup waktu, di maksudkan adanya kesempatan untuk
memikirkan dengan tenang untung ruginya perbuatan itu dan sebagainya.
c) Pelaksanaan kehendak (perbuatan) dalam suasana tenang, syarat ini
dimaksudkan suasana hati dalam melaksanakan pembunuhan itu tidak dalam
suasana yang tergesa-gesa, amarah yang tinggi, rasa takut yang berlebihan,
dan lain sebagainya.
Arrest Hoge Raad (HR) (1909;22) menyatakan:Untuk dapat diterimanya
suatu rencana terlebih dahulu, maka perlu adanya suatu tenggang waktu pendek
atau panjang dalam mana dilakukan pertimbangan dan pemikiran yang tenang.
Pelaku harus dapat memperhitungkan makna dan akibat-akibat perbuatannya,
dalam suatu makna kejiwaan yang memungkinkan untuk berfikir.62 Tiga syarat
dengan rencana lebih dahulu sebagai mana yang diterangkan di atas, bersifat
kumulatif dan saling berhubungan, suatu kebulatan yang tidak terpisahkan.
Sebab bila sudah terpisah maka sudah tidak ada lagi dengan rencana terlebih

62

Adami Chazawi, Ibid, hal. 83

dahulu. Hermien HK berpendapat bahwa unsur dengan rencana terlebih


dahulu adalah bukan bentuk kesengajaan, akan tetapi hanya berupa cara
membentuk kesengajaan, lebih lanjut beliau mengemukakan bahwa unsur ini
bukan merupakan bentuk opzet, tapi cara membentuk opzet, yang mana
mempunyai 3 (tiga) syarat yakni :
1. Opzetnya itu dibentuk setelah direncanakan terlebih dahulu,
2. Setelah orang merencanakan (opzetnya) itu terlebih dahulu, maka yang
penting ialah caranya opzet itu di bentuk yaitu harus dalam keadaan yang
tenang.
3. Dan pada umumnya, merencanakan pelaksanaan opzet itu memerlkan
jangka waktu yang agak lama63.
Bertitik tolak pada pengertian dan syarat unsur direncanakan terlebih
dahulu sebagaimana yang telah diuraikan di atas, maka terbentuknya
direncanakan lebih dahulu adalah lain dengan terbentuknya kesengajaan. Proses
terbentuknya direncanakan memerlukan dan melalui syarat-syarat tertentu.
Sedangkan

terbentuknya

kesengajaan

tidak

memerlukan

syarat-syarat

sebagaimana yang diperlukan bagi terbentuknya unsur-unsur dengan rencana


terebih dahulu. Juga dengan melihat pada proses terbentuknya unsur dengan
rencana terlebih dahulu, maka kesengajaan (kehendak) sudah dengan sendirinya
terdapat didalam unsur dengan rencana terlebih dahulu, dan tidak sebaliknya.
Dengan demikian dapat diartikan bahwa kesengajaan (kehendak) adalah bagian
dari direncanakan terlebih dahulu.

C. Faktor-Faktor Timbulnya Tindak Pidana Pembunuhan Berencana


Sebenarnya banyak faktor yang menyebabkan anak melakukan tindak
pidana, bahkan berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa/i di
pulau Jawa dan di luar pulau Jawa pada tahun 2003 terhadap anak-anak yang
melakukan tindak pidana di Sumatera Utara sebagian besar karena kondisi
ekonomi yang tidak mampu (74,71%), pendidikan rendah (72,76%), lingkungan

63

Adami Chazawi, Ibid, hal. 85

pergaulan dan masyarakat yang buruk (68,87%) dan yang terakhir karena
lingkungan keluarga yang tidak harmonis (66,15%). Dari hasil penelitian ini
penyebab utama yang paling besar adalah karena kondisi ekonomi yang tidak
mampu dengan presentase sebanyak 74,71%. Kondisi ekonomi yang tidak
mampu memang bisa membuat anak berbuat jahat apabila imannya kurang dan
keinginannya akan sesuatu tak terpenuhi oleh orang tuanya, tindakan yang
dilakukannya bisa berbentuk pencurian benda yang di inginkannya.
Selain itu, adanya dampak negatif dari perkembangan pembangunan
yang cepat, arus globalisasi di bidang komunikasi dan informasi, kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi serta perubahan gaya dan cara hidup sebagian orang
tua telah membawa perubahan sosial yang mendasar dalam kehidupan
masyarakat yang pada gilirannya sangat berpengaruh terhadap nilai dan perilaku
anak Hal yang sama juga diperoleh melalui adegan-adegan kekerasan secara
visualisasi, khususnya melalui media elektronik (televisi). Melalui tingginya
frekuensi tontonan adegan kekerasan akan melahirkan apa yang di sebut dengan
kultur kekerasan. Hal ini akan menimbulkan penggunaan tindak kekerasan
yang mengarah kepada tindak pidana sebagai solusi dalam berbagai aspek
kehidupan manusia, termasuk anak. Anak juga bisa melakukan tindak pidana
karena terinspirasi dari tayangan film yang bernuansa pornografi dan pornoaksi.
Sehingga dalam berbagai kasus ada anak yang sampai tega memperkosa teman
sepermainannya setelah menonton film porno.

D. Pertimbangan Hukum Pembuktian Tindak Pidana Pembunuhan Sesuai


Pasal 340 KUHP
Pembunuhan berencana dalam KUHP diatur dalam pasal 340 adalah
Barang siapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang
lain, diancam karena pembunuhan dengan rencana (moord), dengan pidana mati
atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua
puluh tahun. Pembunuhan berencana itu dimaksudkan oleh pembentuk undangundang sebagai pembunuhan bentuk khusus yang memberatkan, yang

rumusannya dapat berupa pembunuhan yang dilakukan dengan rencana terlebih


dahulu dipidana karena pembunuhan dengan rencana.
Pada dasarnya seseorang melakukan suatu tindak pidana apabila pelaku
memenuhi unsur-unsur sebagai berikut :
1. Subjek
2. Kesalahan Bersifat melawan hukum (dari tindakan)
3. Suatu tindakan yang dilarang atau diharuskan oleh undang-undang/
perundangan dan terhadap pelanggarnya diancam dengan pidana.
4. Waktu, tempat dan keadaan (unsur objektif lainnya).64
Dapat diketahui pada Pasal 340 KUHP yang berbunyi :Barangsiapa
dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain,
diancam, karena pembunuhan dengan rencana, dengan pidana mati atau pidana
penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun.
Pada Pasal 340 KUHP di atas apabila dijabarkan unsur-unsur yang
terkandung ialah sebagai berikut :
1. Barang siapa, maksud kalimat tersebut menyatakan seseorang yang
melakukan suatu perbuatan atau tindakan.
2. Dengan sengaja, maksud kalimat tersebut adalah perbuatan yang disengaja
dengan maksud bahwa perbuatan tersebut bukan suatu perbuatan kelalaian
akan tetapi perbuatan tersebut mengandung unsur kesengajaan untuk
mencapai suatu hal yang diharapkan.
3. Direncanakan terlebih dahulu, maksud dari unsur ini ialah suatu perbuatan
yang telah direncanakan terlebih dahulu yang hampir sama dengan unsur
kesengajaan, misalnya rencana tersebut ialah untuk menikam menggunakan
sebilah pisau ke perut korbannya, hal tersebut merupakan suatu perencanaan
yang telah dipikirkan oleh pelaku.
4. Merampas nyawa orang lain, maksud dalam kalimat tersebut merupakan suatu
perbuatan yang merampas hak hidup seseorang yang dimana setiap orang

64

S.R Sianturi, Asas-asas Hukum pidana di Indonesia dan Penerapannya, AlumniPetehaem, Jakarta,2002, hal 211

mendapatkan hak untuk hidup yang terkandung dalam pasal 9 UndangUndang No 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, jadi istilah merampas
nyawa orang lain merupakan suatu perbuatan yang meniadakan hidup
seseorang dengan segala cara misalnya membunuh ataupun dengan cara
apapun yang menyebabkan seseorang tersebut kehilangan nyawanya. Apabila
dicermati secara detail, maka dalam hal ini pasal 340 KUHP hanyalah suatu
pasal yang ditujukan pada suatu perbuatan pembunuhan saja yang telah
direncanakan pelaku untuk meniadakan hidup seseorang dengan cara
melanggar hukum yang berlaku di Indonesia. .
Pada fakta yang berkembang dalam proses peradilannya bagi pelaku
pembunuhan yang disertai pembunuhan berencana dan penganiayaan berat
tersebut selalu menerapkan pada Pasal 338 KUHP ataupun 340 KUHP yang
dimana pada dasarnya pasal tersebut merupakan suatu pasal mengenai
pembunuhan. Adapun bunyi dari Pasal 338 adalah barang siapa sengaja
merampas nyawa orang lain, diancam, karena pembunuhan, dengan hukuman
pidana penjara paling lama lima belas tahun.
Sedangkan pada Pasal 340 hukumannya adalah dua puluh tahun, namun
dalam pembuktiannya hakim terkadang bisa juga menjatuhi hukuman mati atau
seumur hidup tergantung dari seberapa besar tindak pidana yang dilakukan oleh
terdakwa terhadap korbannya seperti yang kita ketahui terkadang pelaku tindak
pidana pembunuhan berencana dan penganiayaan berat cenderung ia tidak saja
membunuh satu korban saja namun pelaku terkadang telah melakukannya
terhadap korban-korban yang lainnya yang mungkin saja belum terungkap
kasusnya sampai terdakwa melakukannya kembali perbuatannya yang mana kini
perbuatannya telah di ketahui oleh aparat yang berwenang yaitu polisi.
Sehingga dalam proses penyidikannya terkadang jaksa penuntut umum
sering membawa atau menghadirkan alat bukti dan keterangan saksi baru yang
mana ada keterkaitan dengan terdakwa terhadap kejahatannya yang lain. Oleh
karena itu hakim selalu menjatuhi hukuman terhadap terdakwa dengan hukuman
mati atau seumur hidup dikarenakan dihawatirkan terdakwa melakukannya
kembali apabila telah bebas dari hukuman, bisa juga hakim mempertimbangkan

faktor lain yaitu adanya keterangan ahli yang mana terdakwa mengalami
kelainan sehingga bisa membahayakan bagi orang lain.
Jika dillihat dari peranan hakim dalam menentukan bahwa seseorang,
petindak mempunyai keadaan jiwa seperti yan ditentukan dalam pasal 44.
Jawabannya ialah bahwa yang menentukan dalam putusannya apakah sesuatu
keadaan jiwa sudah sesuai dengan yang dimaksud undang-undang, dalam hal ini
Pasal 44 adalah hakim. Mungkin sebenarnya soal keadaan jiwa ini tidak
termasuk ke dalam lapangan ilmu pengetahuan hukum, akan tetapi termasuk
kedalamlapangan ilmu penyakit kejiwaan atau psychiatrie, karena hakim harus
menentukan dalam putusannya maka ia membutuhkan penasehat atau ahli
penyakit jiwa, nasehat ahli penyakit jiwa tersebut dapat berisikan tentang, benar
atau tidak seorang pelaku mempunai keadaan jiwa seperti yang ditentukan
dalam Pasal 44 tersebut dan tingkat dari penyakit, kecacatan dan atau ketidak
sadaran dari jiwa tersebut, analisis atau diagnosa tentang tingkat dari
kemampuan bertanggung jawab dari penderita.
Namun hakim sendiri tidak terikat pada nasehat tersebut. Hakim dapat
meyakinkannya atau tidak meyakinkannya walaupun dalam keadaan ini sang
hakim tidak merupakan seorang ahli. Dalam mengambil putusan hakim harus
memperhatikan beberapa hal diantaranya mengenai hal perbarengan tindakan
tunggal yang mana perumusannya dalam KUHP, mengenai perbarengan
tindakan tunggal terdapat atau ditentukan dalam Pasal 63 KUHP yang isinya
yaitu, jika suatu tindakan masuk dalam lebih dari satu ketentuan pidana maka
yang harus dikenakan hanyalah salah satu dari ketentuan-ketentuan itu, jika
berbeda maka yang harus diterapkan adalah yang memuat ancaman pidana
pokok yang paling berat, suatu tindakan masuk kedalam suatu ketentuan pidana
umum, tetapi termasuk juga kedalam ketentuan pidana khusus, maka hanya yang
khusus itulah yang diterapkan.
Dapat diambil kesimpulan dari isi Pasal 63 KUHP bahwa perbarengan
tindakan tunggal, apabila dengan satu tindakan terjadi dua atau lebih tindakan
pidana, dengan perkataan lain dengan tindakan yang sama telah juga terjadi

tindak pidana yang lainnya. Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk
dapat menyatakan adanya perbarengan adalah :
1. Ada dua atau lebih tindak pidana dilakukan
2. Bahwa dua atau tindak pidana tersebut dilakukan oleh satu orang atau dua
orang atau lebih dalam rangka penyertaan.
3. Bahwa dua atau lebih tindak pidana tersebut
4. Bahwa dua atau lebih tindak pidana tersebut akan diadili sekaligus.65
Didalam R.U.U. KUHP Nasional Indonesia, mengenai perbarengan
perbuatan dicantumkan pada bab II dalam Pasal 23 yang berbunyi, barang siapa
melakukan beberapa tindakan pidana pada waktu yang bersamaan dapat
dikenakan lebih dari satu jenis pidana, barang siapa melakukan beberapa
tindakan pidana pada waktu yang tidak bersamaan dapat dikenakan pidana yag
berlaku untuk pengulangan atau dapat diperingati Sedangkan ketentuan pidana
bagi pengulangan suatu tindak pidana hakim dapat memperkuat pidana yang
dapat dikuasakan untuk tindak pidana yang bersangkutan atau mengenakan jenis
pidana lain yang dianggap lebih sesuai yang tidak boleh melampaui maksimum
pidana yang dapat dikenakan terhadap tindak pidana itu.
Oleh sebab itu bagi pelaku tindak kejahatan pembunuhan berencana dan
penganiayaan berat terkadang selain proses persidangannya yang sangat lama
dan memakan waktu yang sangat panjang namun terkadang jaksa penuntut
umum dalam surat dakwaannya sering menambahkan dakwaan atau pasal
berlapis yang mana mampu menjerat terdakwa dengan hukuman yang sangat
berat. Adapun penambahan dari dasar penambahan pidana adalah sebagai
berikut :
a. Karena pengulangan
b. Karena pembarengan atau gabungan
c. Karena beberapa keadaan tertentu lainnya yang secara khusus ditentukan
dalam beberapa pasal tindak pidan.

65

Ibid.,hal. 392

d. Karena beberapa keadaan yang juga menjadi asas umum bagi suatu ketentuan
hukum pidana khusus.
Dari hasil penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa para pelaku
tindak pidana pembunuhan berencana dan penganiayaan berat terkadang mereka
telah melakukan perbuatanya itu lebih dari satu kali. Ketentuanketentuan
penjatuhan pidana selain ada penjatuhan pidana pokok ada pula penjatuhan
pidana yang diatur secara khusus, karena di dalam perundang-undangan di luar
KUHP, sering dapat ditemukan ketentuan-ketentuan yang menyimpang dari
sistem penjatuhan pidana yang diatur dalam KUHP. Adapun penyimpananpenyimpangnya adalah sebagai berikut :
a. Dapat menjatuhkan dua pidana pokok sekaligus
b. Dapat menjatuhkan pidana pokok tunggal atau ganda dan pidana tambahan
tunggal atau ganda disertai lagi dengan tindakan tata tertib
c. Menyelesaikan suatu tindakan pidana tertentu secara administratif
Adapun dalam hal-hal tertentu hakim dapat menjatuhkan pidana mati,
walaupun yang diancamkan pidana penjara seumur hidup, menjatuhkan pidana
penjara walaupun yang diancamkan pidana kurungan atau sebaliknya. Jadi Pasal
340 KUHP yang dijatuhkan terhadap pelaku pembunuhan disertai penganiayaan
berat menurut penulis sudah sesuai, sepanjang hukum tersebut positif hanya
ketentuan tersebut yang tepat untuk dijatuhkan kepada pelaku pembunuhan
berecencana dan penganiayaan berat. Kembaren dalam KUHP belum ada pasal
yang mengatur mengenai pembunuhan berencana, sehingga dalam menjatuhkan
hukuman hakim melihat unsur-unsur yang memberatkan dalam Pasal 340 KUHP
yaitu apakah pelaku melakukan pembunuhan berencana dan penganiayaan berat
tersebut dalam keadaan sadar atau dengan suatu perencanaan terlebih dahulu
dikarenakan oleh rasa dendam yang sangat mendalam, apabila semua itu
terpenuhi maka hukuman yang diberikan kepada pelaku pembunuhan berencana
dan penganiayaan berat dapat diberikan hukuman yang terberat sesuai dengan
ketentuan yang ada.

Berdasarkan apa yang diterangkan di atas, maka dapat disimpulkan


bahwa merumuskan pasal 340 KUHP dengan cara demikian, pembentuk
undang-undang sengaja melakukannya dengan maksud sebagai kejahatan yang
berdiri sendiri. Adanya tindak pidana yang dilakukan oleh tersangka, maka
langkahlangkah penegakan hukum merupakan proses yang panjang membentang
dari awal sampai akhir. Adapun menurut sistem yang dipakai dalam KUHAP,
maka pemeriksaan pendahuluan merupakan pemeriksaan yang dilakukan oleh
penyidik Polri termasuk di dalamnya pemeriksaan tambahan atas dasar petunjukpetunjuk dari jaksa penuntut umum dalam rangka penyempurnaan hasil
penyidikannya. Langkah selanjutnya adalah pemeriksaan pengadilan yang
dilakukan di depan pengadilan yang dipimpin oleh hakim. Di hadapan hakim,
Jaksa Penuntut Umum akan mengajukan tuntutannya sesuai pelanggaran yang
dilakukan terdakwa.
Penuntutan adalah tindakan penuntut umum untuk melimpahkan perkara
pidana ke pengadilan untuk diperiksa dan diputus oleh hakim. Kejaksaan adalah
satu-satunya lembaga pemerintahan negara yang mempunyai tugas dan wewenang
di bidang penuntutan dalam penegakan hukum dan keadilan di lingkungan
peradilan umum. Kejaksaan dalam menjalankan tugas penuntutan tindak pidana
setelah dilakukan tindakan

penyidikan oleh kepolisian, maka penuntut umum

harus melakukan penuntutan dengan melimpahkan ke pengadilan untuk


pemeriksaan guna membuktikan bahwa seseorang itu bersalah atau tidak, kecuali
untuk perkaraperkara tertentu demi kepentingan negara dan atau umum.
Adapun Sanksi Pidana terhadap Pelaku Pembunuhan Berencana
berdasarkan kitab undang-undang hukum pidana, Pasal 340 disebutkan bahwa :
Barangsiapa dengan sengaja dan dengan direncanakan lebih dahulu
menghilangkan nyawa orang lain, dihukum karena pembunuhan direncanakan
(moord), dengan hukuman mati atau penjara seumur hidup atau penjara
sementara selama-lamanya dua puluh tahun.66

66

KUHP, Politea Bogor, 1988, hal 241.