Anda di halaman 1dari 29

SAMPAH SEMIOTIKA

SEGALA AMPAS, HASIL DARI SENI, MIMPI, OBSESI, TRAGEDI DAN LOGIKA SEORANG GEOSCIENTIST
YANG VANDALIST
type your se

Selasa, 19 Juli 2011


TEKTONIK PULAU SUMATERA

PENDAHULUAN
I.1 Gambaran Umum
Indonesia merupakan daerah pertemuan 3 lempeng tektonik besar, yaitu lempeng IndoAustralia, Eurasia dan lempeng Pasific. Lempeng Indo-Australia bertabrakan dengan
lempeng Eurasia di lepas pantai Sumatra, Jawa dan Nusatenggara, sedangkan dengan
Pasific di utara Irian dan Maluku utara. Di sekitar lokasi pertemuan lempeng ini
akumulasi energi tabrakan terkumpul sampai suatu titik dimana lapisan bumi tidak lagi
sanggup menahan tumpukan energi sehingga lepas berupa gempa bumi.
Pertemuan lempeng Indo-Australia dengan Eurasia di selatan Jawa hampir tegak lurus,
berbeda dengan pertemuan lempeng di wilayah Sumatera yang mempunyai subduksi
miring dengan kecepatan 5-6 cm/tahun (Bock, 2000).

Pulau Sumatera dicirikan oleh tiga sistem tektonik. Berurutan dari barat ke timur adalah
sebagai berikut: zona subduksi oblique dengan sudut penunjaman yang landai, sesar
Mentawai dan zona sesar besar Sumatera. Zona subduksi di Pulau Sumatera, yang sering
sekali menimbulkan gempa tektonik, memanjang membentang sampai ke Selat Sunda

dan berlanjut hingga selatan Pulau Jawa. Subsuksi ini mendesak lempeng Eurasia dari
bawah Samudera Hindia ke arah barat laut di Sumatera dan frontal ke utara terhadap
Pulau Jawa, dengan kecepatan pergerakan yang bervariasi. Puluhan hingga ratusan
tahun, dua lempeng itu saling menekan. Namun lempeng Indo-Australia dari selatan
bergerak lebih aktif. Pergerakannya yang hanya beberapa milimeter
hingga beberapa sentimeter per tahun ini memang tidak terasa oleh manusia. Karena
dorongan lempeng Indo-Australia terhadap bagian utara Sumatera kecepatannya hanya
5,2 cm per tahun, sedangkan yang di bagian selatannya kecepatannya 6 cm per tahun.
Pergerakan lempeng di daerah barat Sumatera yang miring posisinya ini lebih cepat
dibandingkan dengan penyusupan lempeng di selatan Jawa.
I.2 Kondisi Hidrologi Pulau Sumatera
Pulau Sumatra memiliki potensi Sumber Daya air yang sangat besar, baik potensi air
permukaan seperti sungai, waduk, dan perairan laut maupun potensi air tanah. Di pulau
Sumatra mengalir sungai-sungai (besar maupun kecil) yang bermuara ke selat Malaka
maupun ke Samudera Hindia. Seperti yang ada di Propinsi Sumatra Barat, sangat
banyak sungai baik yang kecil maupun yang besar, dan arah alirannya pun berbedabeda.
Secara garis besar dapat kita bedakan berdasarkan arah aliran tersebut antara lain:
1. Sungai-sungai yang bermuara ke Samudera Hindia yaitu di Kabupaten Pasaman Barat
terdiri dari Batang Sikabau, Batang Sikilang, Batang Pasaman, Batang Masang Kanan
dan Batang Masang Kiri, di Kabupaten Agam Batang Antokan yang berasal dari Danau
Maninjau. Di Kabupaten Padang Pariaman ada Batang Anai, di Kota Padang Batang
Arau, Batang Kuranji dan Batang Air Dingin. Di Kabupaten Pesisir Selatan umumnya
sungai bermuara ke Samudera Hindia yaitu Batang Inderapura, Batang Lunang, Batang
Silaut dan lain-lain.
2. Sungai yang mengalir ke Timur terdapat di Kabupaten Sawahlunto Sijunjung,
Dharmasraya antara lain adalah, Batanghari, Batang Piruko, Batang Sangir, Batang
Jujuhan, Batang Simabur, Batang Sirat, Batang Takung semuanya mengalir ke Propinsi
Jambi. Dibagian tengah ada Batang Kuantan yang merupakan lanjutan dari Batang
Ombilin yang hulu sungainya di Danau Singkarak, Batang Sinamar, Batang Agam dan
Batang Selo semua sungai ini mengalir ke Propinsi Riau. Dibagian Utara terdapat
beberapa sungai yang mengalir ke Batang Kampar (Propinsi Riau) yakni Batang
Sumpur, Hulu Batang Kampar dan Batang Mahat.
Di pulau tersebut juga terdapat danau-danau yang terbesar di setiap propinsinya, seperti
yang ada pada Propinsi Sumatra Barat. Di sana terdapat 5 buah danau yaitu, Danau
Maninjau, Danau Singkarak, Danau Diatas, Danau Dibawah, dan Danau Talang, dengan
jumlah luas seluruhnya sebesar 23.492 Ha (0,56%) dari luas Propinsi Sumatra Barat.

Perairan Pulau Sumatra meliputi perairan Samudera Hindia di sebelah barat, perairan
Selat Malaka, Selat Karimata dan perairan Laut Jawa di sebelah timur dan tenggara,
serta periran Selat Sunda di sebelah selatan.
Kuantitas air tanah yang ada di pulau Sumatra cukup besar. Hal ini sangat dipengaruhi
oleh jumlah curah hujan yang relatif tinggi yaitu lebih dari 2.500 mm. Selain itu,
keadaan tanah di Pulau Sumatra yang pada umumnya memiliki permeabilitas yang baik
menyebabkan proses infiltrasi mudah terjadi. Jadi curah hujan yang banyak dan
keadaan tanah yang mendukung menyebabkan keadaan akuifer mudah ditemukan di
hampir semua wilayah di Pulau Sumatra.
I.3 Kondisi Geomorfologi Pulau Sumatera
Pulau Sumatra luasnya 435.000 km2 hampir sama dengan luas negara Inggris.
Sumatra mempunyai bentuk memanjang, dari Kota Raja di bagian utara sampai Tanjung
Cina di bagian selatan sepanjang 1650 km dan sepanjang pantai banyak teluk-teluknya.
Pantai barat melengkung, sebarannya di Teluk Tapanuli, sedangakan di pantai timur
sungai-sungainya besar dan melebar, sehingga membentuk estuarium yang dangkal
pada muaranya. Pada ujung selatan pulau ini terdapat 2 teluk penting yang menjorok ke
daratan -50 km. Teluk- teluk tersebut meliputi Teluk Lampung (dengan Teluk Betung)
dan pelabuhan timur EAST HARBOUR dan Teluk Semangko (dengan Kota Agung).
Gambaran secara umum keadaan fisiografi pulau itu agak sederhana. Fisiografinya
dibentuk oleh rangkaian Pegunungan Barisan di sepanjang sisi baratnya, yang
memisahkan pantai barat dan pantai timur. Lerengnya mengarah ke Samudera
Indonesia dan pada umumnya curam. Hal ini mengakibatkan jalur pantai barat
kebanyakan bergunung-gunung kecuali dua ambang dataran rendah di Sumatera Utara
(Melaboh dan Singkel/Singkil) yang lebarnya -20 km. Sisi timur dari pantai Sumatra ini
terdiri dari lapisan tersier yang sangat luas serta berbukit-bukit dan berupa tanah
rendah aluvial.
Jalur rendah terdapat di bagian timur. Pada bagian ini banyak mengandung biji intan
tersebar di Aceh yang lebarnya 30 km. Semakin ke arah selatan semakin melebar dan
bertambah hingga 150-200 km yang terdapat di Sumatra Tengah dan Sumatra Selatan.
1. Rangkaian Bukit Barisan.
Elemen orografis yang utama adalah Bukit Barisan yang panjangnya 1650 km dan
lebarnya -100 km (puncak tertingginya ialah Gunung Kerinci dan Gunung Indrapura
3800 m). Bukit Barisan merupakan rangkaian sejumlah pegunungan yang sejajar atau
colisses yang setelah cabang lainnya ke luar dari arah pokok barat laut tenggara,
dikatakan bahwa arahnya lebih ke arah timur barat dan merosot (menurun) ke arah
tanah rendah di bagian timur. Di antara Sungai Wampu dan Barumun merupakan
Pegunungan Barisan yang bercorak empat persegi panjang (sumbu barat laut tenggara
275 km panjangnya dan 150 km lebarnya). Puncak ini disebut Batak Tumor. Pada bagian

puncak yang mempunyai ketinggian 2000 m (sibutan 2457 m) terdapat kawah besar
Toba yang panjangnya 31 km, serta luasnya 2269 km2, sedangkan Danau Toba
panjangnya 87 km dan luasnya 1776,5 km2 (termasuk Pulau Samosir).
Sistem Barisan di Sumatra Tengah terdiri dari beberapa pegunungan blok. Bagian yang
paling sempit pada peralihan Batak Tumor (75 m) yang kemudian melebar menjadi 175
m pada irisan penampang bukit Padang. Perbukitan yang tertinggi terletak di bagian
barat daya dengan ketinggian lebih dari 2000 m, kemudian berangsur-angsur semakin
rendah ke arah dataran rendah Sumatra Timur (Lisun-Kuantan-Lalo 1000 m dan Suligi
Lipat Kain ketinggiannya lebih dari 500 m).
TOBLER (1971) membedakan elemen-elemen tektonis dan morfologi Sumatra sebagai
berikut:
a. Dataran alluvial terbentang di pantai timur.
b. Tanah endapan/ Foreland tersier (peneplain) dengan Pegunungan Tiga Puluh
c. Depresi sub Barisan
d. Barisan depan / fore barisan dengan masa lipatan berlebihan (over thrust masses)
e. Scheifer Barisan dengan lipatan yang hebat dan batuan metamorf.
f. Barisan tinggi/ High Barisan dengan vulkan- vulkan muda.
g. Dataran alluvial terbentang di pantai barat.
Berdasarkan kajian perkembangan geologi, Pulau Sumatra dibedakan menjadi: Basin
Tersier di Sumatra Timur (a-c) disebut zone I, rangkaian pegunungan berbongkah di
sebelah utara Umbilin disebut zone II, Fore barisan merupakan zone III, The Schiefer
Barisan (e) tergolong zone IV kecuali zone Schiefer Barisan di sebelah utara Padang, dan
High Barisan (f) termasuk zone V. Zone II dan III termasuk unsur luar terletak di sisi
timur dari Bukit Barisan. Lengkung geantiklin di Bukit Barisan terangkat pada zaman
Pleistosen merupakan zone IV dan V.
Elemen-elemen tektonis dan morfologi Sumatra (Verstappen)
Dataran pantai barat (pantai abrasi), merupakan daerah yang sempit, bahaya terkena
erosi dan abrasi, pantainya berpasir dan tidak cocok untuk dijadikan sebagai
permukiman.
Landas Bengkulu. Merupakan kawasan lahan rusak di sebelah barat bukit barisan dan
banyak tererosi, serta memiliki lereng yang terjal. Deretan pegunungan vulkan muda.
Daerahnya sempit dan erosinya tinggi.
Depresi sub barisan (lembah bongkah semangka). Tidak cocok sebagi tempat hidup
karena sangat sempit.
Daerah Basalt Sukadana Lampung. Irigasnya sangat sulit karena tidak terdapat
simpanan air.
Landaian sebelah timur. Cocok bila dijadikan sebagai tempat hidup karena tanahnya
datar. Dimanfaatkan sebagai daerah transmigrasi. Daerah ini berkembang menjadi

daerah transmigrasi terluas di Sumatera.


Dataran aluvial pantai timur. Merupakan daerah Rawa Payau.
2. Zona Semangko
Zona ini merupakan suatu corak permukaan yang mencerminkan karakteristik dari
Geantiklin Barisan sepanjang pulau itu secara keseluruhan, yang dinamakan jalur
depresi- menengah pada puncak yang disebut Semangko Rift Zone. Zone Semangko ini
terbentang mulai dari teluk semangko di Sumatera Selatan dan berkembang lebih jauh
ke arah Trog lembah Aceh dengan Kota Raja sebagai ujung utaranya. Di beberapa jalur
ini terisi dan tertutup oleh vulkan-vulkan muda.
3. Arah Struktur Pokok
Secara umum arah struktur pokok dari Pulau Sumatra adalah:
Sisi barat Geantiklin Barisan terbentang di sebelah barat jalur Semangko berada pada
setengah Pulau Sumatera di sebelah selatan Padang tepatnya. Sisi baratnya terbentuk
oleh blok kerang yang panjang dan miring ke Samudera Hindia, dan disebut Block
Bengkulu.
Gawir sesar sepanjang jalur semangko memisahkan pantai barat dan timur. Disebut
juga Bukit Barisan Sensu stricto atau barisan tinggi.
Ujung selatan bukit barisan adalah daerah Lampung.
Di antara Padang dan Padang Sidempuan struktur geantiklinal Bukit Barisan tidak
menentu. Geantiklinal block pegunungan yang memanjang di sisi timur, sama dengan
daerah di sisi barat sungai subsekuen dan cabang-cabangnya.
Batak Tumor yang merupakan lanjutan dari Bukit Barisan yang berupa kubah
geantiklinal besar yang terpotong oleh jalur Semangko.
Bukit Barisan di daerah Aceh adalah bagian teruwet pecah menjadi sejumlah
pegunungan Block, yaitu block leuser dan pegunungan barat. Kedudukannya searah sisi
barat seperti Block Bengkulu.
Di sebelah barat bukit Barisan terbentang palung antara sistem pegunungan Sunda
yang membentuk cekungan laut antara Sumatera dan rangkaian pulau-pulau di
baratnya.
I.4 Kondisi Geografi Pulau Sumatera
Pulau Sumatra terletak di bagian barat gugusan kepulauan Indonesia. Di sebelah utara
berbatasan dengan Teluk Benggala, di timur dengan Selat Malaka, di sebelah selatan
dengan Selat Sunda, dan di sebelah barat dengan Samudera Hindia. Luas pulau ini
sekitar 473.606 Km2. Secara astronomis Sumatra berada pada posisi 6LU-6LS dan
antara 95BB-109BT. Kondisi fisiografi di Pulau Sumatra sangat unik yaitu berupa
pulau-pulau di sebelah barat Sumatra yang membentang dari Simeuleu hingga Enggano,
rangkaian bukit barisan, zone Semangko, dataran alluvial pantai timur, rangkaian pulau
ini terbentuk suatu palung yang dalam dan suatu palung kecil yang terbentuk di sebelah

timur laut jajaran pegunungan Bukit Barisan, serta bukit, lembah lereng, dan dataran
rendah di sebelah timur.
Sumatra mempunyai bentuk memanjang, dari Kota Raja sampai Bagian utara sampai
Tanjung Cina di bagian selatan sepanjang 1650 km dan sepanjang pantai banyak telukteluknya. Gambaran secara umum keeadaan fisiografi pulau itu agak sederhana.
Fisiografinya dibentuk oleh rangkaian Pegunungan Barisan di sepanjang sisi baratnya,
yang memisahkan pantai barat dan pantai timur. Lerengnya mengarah ke Samudera
Indonesia dan pada umumnya curam. Hal ini mengakibatkan jalur pantai barat
kebanyakan bergunung-gunung kecuali dua ambang dataran rendah di Sumatera Utara
(Melaboh dan Singkel atau Singkil) yang lebarnya -20 km. Sisi timur dari pantai
Sumatra ini terdiri dari lapisan tersier yang sangat luas serta berbukit-bukit dan berupa
tanah rendah aluvial. Jalur rendah terdapat di bagian timur. Pada bagian ini banyak
mengandung biji intan tersebar di Aceh yang lebarnya 30 km. Semakin ke arah selatan
semakin melebar dan bertambah hingga 150-200 km yang terdapat di Sumatra Tengah
dan Sumatra Selatan.
Kondisi atau jenis tanah yang terdapat di Sumatra antara lain alluvial Hidromorfik
Kuning, Organosol, Podsolik Merah Kuning, Podsolik Coklat, Latosol, Litosol, Andosol,
dan ada beberapa jenis tanah lainnya yang juga tersebar di seluruh pulau Sumatra.
Sumatra berada pada iklim tropis basah, dengan kondisi tersebut menyebabkan curah
hujan yang banyak. Sehingga hidrologi di sana atau keadaan akuifer di Sumatra mudah
ditemukan hamper disemua wilayah Sumatra.
Pengembangan potensi wilayah di Pulau ini dapat dilakukan diberbagai bidang antara
lain bidang pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, pertambangan, pariwisata,
dan lain-lain. Hal ini dapat dikembangkan dengan baik karena didukung dengan kondisi
fisik wilayah Sumatera. Potensi iklim, terutama curah hujan yang tinggi dan
penyebarannya yang cukup merata sepanjang tahun, serta kondisi tanahnya yang yang
bervariasi sehingga menjadikan lahan di Pulau Sumatra memiliki potensial untuk
produksi pertanian, perkebunan, kehutanan. Dan dengan memiliki sumber daya air yang
besar, baik potensi air di permukaan seperti sungai, waduk maupun perairan laut
sehingga baik untuk pengembangan produksi perikanan. Selain itu Pulau Sumatra
memiliki obyek wisata yang tidak kalah menarik dengan daerah lain, baik wisata alam,
wisata budaya, maupun wisata sejarah sehingga wilayah ini juga penting untuk
pengembangan di sektor pariwisata.
TEKTONIK PULAU SUMATRA
II.1 Sistem Subduksi Sumatra
Pada akhir Miosen, Pulau Sumatera mengalami rotasi searah jarum jam. Pada zaman
Pliopleistosen, arah struktur geologi berubah menjadi barat daya-timur laut, di mana

aktivitas tersebut terus berlanjut hingga kini. Hal ini disebabkan oleh pembentukan
letak samudera di Laut Andaman dan tumbukan antara Lempeng Mikro Sunda dan
Lempeng India-Australia terjadi pada sudut yang kurang tajam. Terjadilah kompresi
tektonik global dan lahirnya kompleks subduksi sepanjang tepi barat Pulau Sumatera
dan pengangkatan Pegunungan Bukit Barisan pada zaman Pleistosen.
Pada akhir Miosen Tengah sampai Miosen Akhir, terjadi kompresi pada Laut Andaman.
Sebagai akibatnya, terbentuk tegasan yang berarah NNW-SSE menghasilkan patahan
berarah utara-selatan. Sejak Pliosen sampai kini, akibat kompresi terbentuk tegasan
yang berarah NNE-SSW yang menghasilkan sesar berarah NE-SW, yang memotong
sesar yang berarah utara-selatan.
Di Sumatera, penunjaman tersebut juga menghasilkan rangkaian busur pulau depan
(forearch islands) yang non-vulkanik (seperti: P. Simeulue, P. Banyak, P. Nias, P. Batu,
P. Siberut hingga P. Enggano), rangkaian pegunungan Bukit Barisan dengan jalur
vulkanik di tengahnya, serta sesar aktif The Great Sumatera Fault yang membelah
Pulau Sumatera mulai dari Teluk Semangko hingga Banda Aceh. Sesar besar ini menerus
sampai ke Laut Andaman hingga Burma. Patahan aktif Semangko ini diperkirakan
bergeser sekitar sebelas sentimeter per tahun dan merupakan daerah rawan gempa bumi
dan tanah longsor.
Penunjaman yang terjadi di sebelah barat Sumatra tidak benar-benar tegak lurus
terhadap arah pergerakan Lempeng India-Australia dan Lempeng Eurasia. Lempeng
Eurasia bergerak relatif ke arah tenggara, sedangkan Lempeng India-Australia bergerak
relatif ke arah timurlaut. Karena tidak tegak lurus inilah maka Pulau Sumatra dirobek
sesar mendatar (garis jingga) yang dikenal dengan nama Sesar Semangko.
Penunjaman Lempeng India Australia juga mempengaruhi geomorfologi Pulau
Sumatera. Adanya penunjaman menjadikan bagian barat Pulau Sumatera terangkat,
sedangkan bagian timur relatif turun. Hal ini menyebabkan bagian barat mempunyai
dataran pantai yang sempit dan kadang-kadang terjal. Pada umumnya, terumbu karang
lebih berkembang dibandingkan berbagai jenis bakau. Bagian timur yang turun akan
menerima tanah hasil erosi dari bagian barat (yang bergerak naik), sehingga bagian
timur memiliki pantai yang datar lagi luas. Di bagian timur, gambut dan bakau lebih
berkembang dibandingkan terumbu karang.
II.2 Sistem Sesar Mentawai
Potensi sumber gempa di Daerah Padang terdapat pada 3 zona, yaitu pada zona
subduksi (baik inter dan intraplate), pada Zona Sesar Mentawai dan pada Zona Sesar
Sumatera. Proses penunjaman miring di sekitar Pulau Sumatera ini mengakibatkan
adanya pembagian / penyebaran vektor tegasan tektonik, yaitu slip-vector yang hampir
tegak lurus dengan arah zona penunjaman yang diakomodasi oleh mekanisme sistem
sesar anjak. Hal ini terutama berada di prisma akresi dan slip-vector yang searah dengan

zona penunjaman yang diakomodasi oleh mekanisme sistem sesar besar Sumatera. Slipvector sejajar palung ini tidak cukup diakomodasi oleh sesar Sumatera tetapi juga oleh
sistem sesar geser lainnya di sepanjang Kepulauan Mentawai, sehingga disebut zona
sesar Mentawai (Diament, 1992)
Jauh di lepas pantai barat Sumatera, penunjaman lempeng membentuk kepulauan
Mentawai yang dipisahkan dari daratan Sumatera oleh patahan Mentawai (MF) yang
berada di dasar laut (Diament dkk., 1992, gambar 4.1) dan cekungan busur muka (fore
arc basin). Sistem sesar Mentawai adalah sesar mendatar terbentuk mulai dari sekitar
Lampung menerus hingga ke sekitar Nias di utara. Kegiatan konvergensi lempeng masih
aktif sampai sekarang menimbulkan kegiatan kegunungapian dan kegempaan di
sepanjang jalur patahan dan penunjaman lempeng. Gambar 4.1 memperlihatkan jalur
penunjaman, patahan dan penyebaran gunung api di Pulau Sumatera, sedangkan
gambar 4.2 memperlihatkan penyebaran rekaman kegempaan sampai dengan tahun
2004 menurut hasil pengukuran BMG.
II.3 Sistem Sesar Sumatra
Di pulau Sumatera, pergerakan lempeng India dan Australia yang mengakibatkan kedua
lempeng tersebut bertabrakan dan menghasilkan penunjaman menghasilkan rangkaian
busur pulau depan (forearch islands) yang non-vulkanik (seperti: P. Simeulue, P.
Banyak, P. Nias, P. Batu, P. Siberut hingga P. Enggano), rangkaian pegunungan Bukit
Barisan dengan jalur vulkanik di tengahnya, serta sesar aktif The Great Sumatera Fault
yang membelah Pulau Sumatera mulai dari Teluk Semangko hingga Banda Aceh. Sesar
besar ini menerus sampai ke Laut Andaman hingga Burma. Patahan aktif Semangko ini
diperkirakan bergeser sekitar sebelas sentimeter per tahun dan merupakan daerah
rawan gempa bumi dan tanah longsor.
Di samping patahan utama tersebut, terdapat beberapa patahan lainnya, yaitu: Sesar
Aneuk Batee, Sesar Samalanga-Sipopok, Sesar Lhokseumawe, dan Sesar Blangkejeren.
Khusus untuk Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar dihimpit oleh dua patahan
aktif, yaitu Darul Imarah dan Darussalam. Patahan ini terbentuk sebagai akibat dari
adanya pengaruh tekanan tektonik secara global dan lahirnya kompleks subduksi
sepanjang tepi barat Pulau Sumatera serta pengangkatan Pegunungan Bukit Barisan.
Daerah-daerah yang berada di sepanjang patahan tersebut merupakan wilayah yang
rawan gempa bumi dan tanah longsor, disebabkan oleh adanya aktivitas kegempaan dan
kegunungapian yang tinggi. Banda Aceh sendiri merupakan suatu dataran hasil
amblesan sejak Pliosen, hingga terbentuk sebuah graben. Dataran yang terbentuk
tersusun oleh batuan sedimen, yang berpengaruh besar jika terjadi gempa bumi di
sekitarnya.
Penunjaman Lempeng India Australia juga mempengaruhi geomorfologi Pulau
Sumatera. Adanya penunjaman menjadikan bagian barat Pulau Sumatera terangkat,
sedangkan bagian timur relatif turun. Hal ini menyebabkan bagian barat mempunyai

dataran pantai yang sempit dan kadang-kadang terjal. Pada umumnya, terumbu karang
lebih berkembang dibandingkan berbagai jenis bakau. Bagian timur yang turun akan
menerima tanah hasil erosi dari bagian barat (yang bergerak naik), sehingga bagian
timur memiliki pantai yang datar lagi luas. Di bagian timur, gambut dan bakau lebih
berkembang dibandingkan terumbu karang.
Sejarah tektonik Pulau Sumatera berhubungan erat dengan dimulainya peristiwa
pertumbukan antara lempeng India-Australia dan Asia Tenggara, sekitar 45,6 juta tahun
lalu, yang mengakibatkan rangkaian perubahan sistematis dari pergerakan relatif
lempeng-lempeng disertai dengan perubahan kecepatan relatif antar lempengnya
berikut kegiatan ekstrusi yang terjadi padanya. Gerak lempeng India-Australia yang
semula mempunyai kecepatan 86 milimeter / tahun menurun secara drastis menjadi 40
milimeter/tahun karena terjadi proses tumbukan tersebut. Penurunan kecepatan terus
terjadi sehingga tinggal 30 milimeter/tahun pada awal proses konfigurasi tektonik yang
baru (Char-shin Liu et al, 1983 dalam Natawidjaja, 1994). Setelah itu kecepatan
mengalami kenaikan yang mencolok sampai sekitar 76 milimeter/tahun (Sieh, 1993
dalam Natawidjaja, 1994). Proses tumbukan ini, menurut teori indentasi pada
akhirnya mengakibatkan terbentuknya banyak sistem sesar geser di bagian sebelah
timur India, untuk mengakomodasikan perpindahan massa secara tektonik (Tapponier
dkk, 1982).
Keadaan Pulau Sumatera menunjukkan bahwa kemiringan penunjaman, punggungan
busur muka dan cekungan busur muka telah terfragmentasi akibat proses yang terjadi.
Kenyataan menunjukkan bahwa adanya transtensi (trans-tension) Paleosoikum tektonik
Sumatera menjadikan tatanan tektonik Sumatera menunjukkan adanya tiga bagian pola
(Sieh, 2000). Bagian selatan terdiri dari lempeng mikro Sumatera, yang terbentuk sejak
2 juta tahun lalu dengan bentuk, geometri dan struktur sederhana, bagian tengah
cenderung tidak beraturan dan bagian utara yang tidak selaras dengan pola
penunjaman.
Bagian selatan Pulau Sumatera memberikan kenampakan pola tektonik:
a. Sesar Sumatera menunjukkan sebuah pola geser kanan en echelon dan terletak pada
100 ~ 135 kilometer di atas penunjaman,
b. lokasi gunungapi umumnya sebelah timur-laut atau di dekat sesar,
c. cekungan busur muka terbentuk sederhana, dengan kedalaman 1 ~ 2 kilometer dan
dihancurkan oleh sesar utama,
d. punggungan busur muka relatif dekat, terdiri dari antiform tunggal dan berbentuk
sederhana,
e. sesar Mentawai dan homoklin, yang dipisahkan oleh punggungan busur muka dan
cekungan busur muka relatif utuh, dan
f. sudut kemiringan tunjaman relatif seragam.
Bagian utara Pulau Sumatera memberikan kenampakan pola tektonik:

a. sesar Sumatera berbentuk tidak beraturan, berada pada posisi 125 ~ 140 kilometer
dari garis penunjaman,
b. busur vulkanik berada di sebelah utara sesar Sumatera,\
c. kedalaman cekungan busur muka 1 ~ 2 kilometer,
d. punggungan busur muka secara struktural dan kedalamannya sangat beragam,
e. homoklin di belahan selatan sepanjang beberapa kilometer sama dengan struktur
Mentawai yang berada di sebelah selatannya, dan
f. sudut kemiringan penunjaman sangat tajam.
Bagian tengah Pulau Sumatera memberikan kenampakan tektonik:
a. sepanjang 350 kilometer potongan dari sesar Sumatera menunjukkan posisi
memotong arah penunjaman,
b. busur vulkanik memotong dengan sesar Sumatera,
c. topografi cekungan busur muka dangkal, sekitar 0.2 ~ 0.6 kilometer, dan terbagi-bagi
menjadi berapa blok oleh sesar turun miring ,
d. busur luar terpecah-pecah,
e. homoklin yang terletak antara punggungan busur muka dan cekungan busur muka
tercabik-cabik, dan
f. sudut kemiringan penunjaman beragam.
Selanjutnya sebagai respon tektonik akibat dari bentuk melengkung ke dalam dari tepi
lempeng Asia Tenggara terhadap Lempeng Indo-Australia, besarnya slip-vector ini
secara geometri akan mengalami kenaikan ke arah barat-laut sejalan dengan semakin
kecilnya sudut konvergensi antara dua lempeng tersebut. Pertambahan slip-vector ini
mengakibatkan terjadinya proses peregangan di antara sesar Sumatera dan zona
penunjaman yang disebut sebagai lempeng mikro Sumatera (Suparka dkk, 1991). Oleh
karena itu slip-vector komponen sejajar palung harus semakin besar ke arah barat-laut.
Sebagai konsekuensi dari kenaikan slip-vector pada daerah busur-muka ini, maka secara
teoritis akan menaikkan slip-rate di sepanjang sesar Sumatera ke arah barat-laut.
Pengukuran offset sesar dan penentuan radiometrik dari unsur yang terofsetkan di
sepanjang sesar Sumatera membuktikan bahwa kenaikan slip-rate memang benar-benar
terjadi (Natawidjaja, Sieh, 1994). Pengukuran slip-rate di daerah Danau Toba
menunjukkan kecepatan gerak sebesar 27 milimeter / tahun, di Bukit Tinggi sebesar 12
milimeter / tahun, di Kepahiang sebesar 11 milimeter / tahun (Natawidjaja, 1994)
demikian pula di selat Sunda sebesar 11 milimeter / tahun (Zen dkk, 1991)
Sesar Sumatera sangat tersegmentasi. Segmen-segmen sesar sepanjang 1900 kilometer
tersebut merupakan upaya mengadopsi tekanan miring antara lempeng Eurasia dan
IndiaAustralia dengan arah tumbukan 10N ~ 7S. Sedikitnya terdapat 19 bagian
dengan panjang masing-masing segmen 60 ~ 200 kilometer, yaitu segmen Sunda
(6.75S ~ 5.9S), segmen Semangko (5.9S ~ 5.25S), segmen Kumering (5.3S ~
4.35S), segmen Manna (4.35S ~ 3.8S), segmen Musi (3.65S ~ 3.25S), segmen

Ketaun (3.35S ~ 2.75S), segmen Dikit (2.75S ~ 2.3S), segmen Siulak (2.25S ~ 1.7S),
segmen Sulii (1.75S ~ 1.0S), segmen Sumani (1.0S ~ 0.5S), segmen Sianok (0.7S ~
0.1N), segmen Barumun (0.3N ~ 1.2N), segmen Angkola (0.3N ~ 1.8N), segmen
Toru (1.2N ~ 2.0N), segmen Renun (2.0N ~ 3.55N), segmen Tripa (3.2N ~ 4.4N),
segmen Aceh (4.4N ~ 5.4N), segmen Seulimeum (5.0N ~ 5.9N)
1. Segmen Sunda (Selat Sunda-Lampung)
Panjang : 150 Km
Sliprate : 1 cm/thn
Slip Accumulation per 100 thn : 10 cm
Slip Accumulation per 200 thn : 20 cm
Periode pengulangan 100 thn : 7.2 Mw
Periode pengulangan 200 thn : 7.4 Mw
2. Segmen Semangko (Lampung)
Panjang : 65 Km
Sliprate : 1 cm/thn
Slip Accumulation per 100 thn : 10 cm
Slip Accumulation per 200 thn : 20
Periode pengulangan 100 thn : 7.2 Mw
Periode pengulangan 200 thn : 7.4 Mw
3. Segmen Kumering (Lampung)
Panjang : 150 Km
Sliprate : 1 cm/thn
Slip Accumulation per 100 thn : 10 cm
Slip Accumulation per 200 thn : 20
Periode pengulangan 100 thn : 7.2 Mw
Periode pengulangan 200 thn : 7.4 Mw
4. Segmen Manna (Bengkulu)
Panjang : 85 Km
Sliprate : 1 cm/thn
Slip Accumulation per 100 thn : 10 cm
Slip Accumulation per 200 thn : 20
Periode pengulangan 100 thn : 7.2 Mw
Periode pengulangan 200 thn : 7.4 Mw
5. Segmen Musi (Bengkulu)
Panjang : 70 Km
Sliprate : 1 cm/thn
Slip Accumulation per 100 thn : 10 cm men
Slip Accumulation per 200 thn : 20
Periode pengulangan 100 thn : 7.2 Mw

Periode pengulangan 200 thn : 7.4 Mw


6. Segmen Ketaun (Jambi)
Panjang : 85 Km
Sliprate : 1 cm/thn
Slip Accumulation per 100 thn : 10 cm
Slip Accumulation per 200 thn : 20
Periode pengulangan 100 thn : 7.2 Mw
Periode pengulangan 200 thn : 7.4 Mw
7. Segmen Dikit (Jambi)
Panjang : 60 Km
Sliprate : 1 cm/thn
Slip Accumulation per 100 thn : 10 cm
Slip Accumulation per 200 thn : 20
Periode pengulangan 100 thn : 7.2 Mw
Periode pengulangan 200 thn : 7.4 Mw
8. Segmen Siulak (Jambi )
Panjang : 70 Km
Sliprate : 1 cm/thn
Slip Accumulation per 100 thn : 10 cm
Slip Accumulation per 200 thn : 20
Periode pengulangan 100 thn : 7.2 Mw
Periode pengulangan 200 thn : 7.4 Mw
9. Segmen Suliti (Sumbar)
Panjang : 95 Km
Sliprate : 1 cm/thn
Slip Accumulation per 100 thn : 10 cm
Slip Accumulation per 200 thn : 20
Periode pengulangan 100 thn : 7.2 Mw
Periode pengulangan 200 thn : 7.4 Mw
10. Segmen Sumani (Sumbar)
Panjang : 60 Km
Sliprate : 1 cm/thn
Slip Accumulation per 100 thn : 10 cm
Slip Accumulation per 200 thn : 20
Periode pengulangan 100 thn : 7.2 Mw
Periode pengulangan 200 thn : 7.4 Mw
11. Segmen Sianok (Sumbar)
Panjang : 90 Km
Sliprate : 1 cm/thn

Slip Accumulation per 100 thn : 10 cm


Slip Accumulation per 200 thn : 20
Periode pengulangan 100 thn : 7.2 Mw
Periode pengulangan 200 thn : 7.4 Mw
12. Segmen Sumpur (Sumbar)
Panjang : 35 Km
Sliprate : 1 cm/thn
Slip Accumulation per 100 thn : 10 cm
Slip Accumulation per 200 thn : 20
Periode pengulangan 100 thn : 7.2 Mw
Periode pengulangan 200 thn : 7.4 Mw
13. Segmen Barumun (Sumut)
Panjang : 125 Km
Sliprate : 1 cm/thn
Slip Accumulation per 100 thn : 10 cm
Slip Accumulation per 200 thn : 20
Periode pengulangan 100 thn : 7.2 Mw
Periode pengulangan 200 thn : 7.4 Mw
14. Segmen Angkola (Sumut)
Panjang : 160 Km
Sliprate : 1 cm/thn
Slip Accumulation per 100 thn : 10 cm
Slip Accumulation per 200 thn : 20
Periode pengulangan 100 thn : 7.2 Mw
Periode pengulangan 200 thn : 7.4 Mw
15. Segmen Toru (Sumut)
Panjang : 95 Km
Sliprate : 2,7 cm/thn
Slip Accumulation per 100 thn : 27 cm
Slip Accumulation per 200 thn : 54 cm
Periode pengulangan 100 thn : 7.5 Mw
Periode pengulangan 200 thn : 7.7 Mw
16. Segmen Renun ( Sumut )
Panjang : 220 Km
Sliprate : 2,7 cm/thn
Slip Accumulation per 100 thn : 27 cm
Slip Accumulation per 200 thn : 54 cm
Periode pengulangan 100 thn : 7.5 Mw
Periode pengulangan 200 thn : 7.7 Mw

17. Segmen Tripa (NAD)


Panjang : 180 Km
Sliprate : 2,7 cm/thn
Slip Accumulation per 100 thn : 27 cm
Slip Accumulation per 200 thn : 54 cm
Periode pengulangan 100 thn : 7.5 Mw
Periode pengulangan 200 thn : 7.7 Mw
18. Segmen Aceh (NAD)
Panjang : 200 Km
Sliprate : 1 cm/thn
Slip Accumulation per 100 thn : 10 cm
Slip Accumulation per 200 thn : 20 cm
Periode pengulangan 100 thn : 7.2 Mw
Periode pengulangan 200 thn : 7.4 Mw
19. Segmen Seulimeum (NAD)
Panjang : 120 Km
Sliprate : 1 cm/thn
Slip Accumulation per 100 thn : 10 cm
Slip Accumulation per 200 thn : 20 cm
Periode pengulangan 100 thn : 7.2 Mw
Periode pengulangan 200 thn : 7.4 Mw
Pulau Sumatra tersusun atas dua bagian utama, sebelah barat didominasi oleh
keberadaan lempeng samudera, sedang sebelah timur didominasi oleh keberadaan
lempeng benua. Berdasarkan gaya gravitasi, magnetisme dan seismik ketebalan sekitar
20 kilometer, dan ketebalan lempeng benua sekitar 40 kilometer (Hamilton, 1979).
Sejarah tektonik Pulau Sumatra berhubungan erat dengan dimulainya peristiwa
pertumbukan antara lempeng India-Australia dan Asia Tenggara, sekitar 45,6 juta tahun
yang lalu, yang mengakibatkan rangkaian perubahan sistematis dari pergerakan relatif
lempeng-lempeng disertai dengan perubahan kecepatan relatif antar lempengnya
berikut kegiatan ekstrusi yang terjadi padanya. Gerak lempeng India-Australia yang
semula mempunyai kecepatan 86 milimeter/tahun menurun menjaedi 40
milimeter/tahun karena terjadi proses tumbukan tersebut. (Char-shin Liu et al, 1983
dalam Natawidjaja, 1994). Setelah itu kecepatan mengalami kenaikan sampai sekitar 76
milimeter/ tahun (Sieh, 1993 dalam Natawidjaja, 1994). Proses tumbukan ini pada
akhirnya mengakibatkan terbentuknya banyak sistem sesar sebelah timur India.
Tatanan tektonik regional sangat mempengaruhi perkembangan busur Sunda. Di bagian
barat, pertemuan subduksi antara lempeng benua Eurasia dan lempeng samudra
Australia mengkontruksikan busur Sunda sebagai sistem busur tepi kontinen (epicontinent arc) yang relatif stabil; sementara di sebelah timur pertemuan subduksi antara

lempeng samudra Australia dan lempeng-lempeng mikro Tersier mengkontruksikan


sistem busur Sunda sebagai busur kepulauan (island arc) kepulauan yang lebih labil.
Perbedaan sudut penunjaman antara propinsi Jawa dan propinsi Sumatera Selatan
busur Sunda mendorong pada kesimpulan bahwa batas busur Sunda yang mewakili
sistem busur kepulauan dan busur tepi kontinen terletak di selat Sunda. Penyimpulan
tersebut akan menyisakan pertanyaan, karena pola kenampakan anomali gaya berat
menunjukkan bahwa pola struktur Jawa bagian barat yang cenderung lebih sesuai
dengan pola Sumatera dibanding dengan pola struktur Jawa bagian Timur. Secara
vertikal perkembangan struktur masih menyisakan permasalahan namun jika dilakukan
pembandingan dengan struktur cekungan Sumatra Selatan, struktur-struktur di Pulau
Sumatra secara vertikal berkembang sebagai struktur bunga.
Berdasarkan teori undasi Seksi Andaman dan Nikobar yang pusat undasinya di Margui
menghasilkan penggelombangan emigrasi yang mengarah ke Godwanland, sehingga hal
tersebut mempegaruhi pegunungan di Sumatra Utara (Atlas dan Gayao) dimana arah
pegunungan timur barat seperti Pegunungan Gayo Tengah berbeda dengan pegunungan
pada umumnya di Sumatra yang arahnya barat lauttenggara. Dengan demikian di
Sumatra terjadi pertemuan antar gelombang dengan pusat undasi Margui dan pusat
undasi Anambas. Titik pertemuannya adalah di Gunung Lembu, adapun busur dalam
hasil penggelombangan dari pusat undasi Margui adalah kepulauan Barren-Narkondam
dan busur luar AndamanNikobarGayo Tengah.
Sedangkan Seksi Sumatra dengan pusat undasinya di Anambas, penggelombangan dari
pusat undasi Anambas telah berkembang sejak Palaezoikumakhir, Sehingga
menghasilkan sisitem Orogene Malaya pada Mesozoikum bawah (Trias, Jura), system
Orogene Sumatra pada Mesozoikum atas (Crataceus) dan system orogene Sunda pada
priode tersier kuarter, yang dimaksud dengan Orogene Malaya adalah busur
pegunungan yang terbentuk pada Mesozoikun bawah dengan busur Zone Karimata dan
busur luar Daerah Timah. Yang dimaksud dengan Orogene Sumatra adalah busur
pengunungan yang terbentuk pada Mesozoikun atas dengan busur dalam Sumatra
Timur dan busur luar Sumatra Barat. Yang dimaksud dengan Orogenesa Sunda adalah
busur pengununagn yang terbuntuk periode Tersier-Kuarter dengan busur dalam Bukit
Barisan dan busur luar pulau-pulau sebelah barat Sumatra. Bukit Barisan pada
Mesozoikum atas masih merupakan Foredeep, memasuki tersier baru mengalami
pengangkatan pada priode Tersier pulau-pulau di sebelah barat Sumatra dari Nias
sampai Enggano belum ada memasuki periode Kuarter baru mengalami penggkatan
membentuk pulau-pulau tadi, sampai sekarang masih mengalami pengakatan secara
pelan-pelan.

Sejarah Kejadian Bukit Barisan dalam skala Zaman/Periode:


Mesozoikum Bawah Bukit barisan masih merupakan Foredeep dari Orogene Malaya,
terisi dengan Sendimen marin. Terjadi penyusupan batuan Ophiolith (larva basa/ ultra
basal) sebagai mana dapat dijumpai di Pegunungan Garba dan Gumai (Sumatra Selatan)
Kapur Atas mengalami Penggkatan I Terjadi intrusi batuan granit dalam batuan
sendimen slate masa Mesozoikum. Pegunungan yang terbentuk ini sifatnya masih non
vulkanis dan dikenal sebagei Proto Barisan.
Paleogen ( Oligo-Miosen) Terjadi penurunan Proto Basin secara pelan-pelan
Asthenolith yang terdiri dari materi magma dengan pemasaman sedang sehingga
terperas sehingga menyebar ke arah sisi bagian luar. Di Sumatra Selatan penurunan ini
disertai dengan aktivitas vulkanisme, menghasikan batuan Andesit Tua.
Intra Meosen Mengalami pengangkatan II disertai intrusi Batholit mendekati
permukaan bumi membentuk vulkan-vulkan andesit tua. Pengkatan masa ini bersifat
vulkanis dengan erupsi asam dan sedang. Sebagai kompensasi dari pengkatan ini
terbentuk foredeep dan backdeep yang kemudian terisi sedimen. Intrusi magma asam
menyebabkan keluarnya larva dasitis yang dapat di jumpai di Bengkulu berupa tuff
dasitis (dasit adalah andesit yang kaya dengan kuarsa, butir-butirnya kasar tidak seperti
Andesit yang berbutir halus). Reaksi grafitasional terhadap pengangkatan II
mengakibatkan pucak Geantiklin Bukit barisan pecah-pecah menghasilkan slenk atau
Graben antara Batang Ankola-Batang Toru di Sumatara Utara. Materi sedimen di
backdeep di sekitar Palembang, Mangkani, Batak Land mengalami pelipatan.
Niogen (MioPliosen) Bukit Barisan mengalami penurunan lagi secara pelan-penan
kemudian terisi dengan sedimen.
Plio-Pleistisen Bukit Barisan mengalami penggkatan III di mana seharusnya sudah
tidak vulkanis namun terjadi pengaktifan kembali vulkanisme. Gaya tarik ke dasar laut
yang dalam di sebelah barat menyebabkan retakan-retakan yang memungkinkan magma
masuk menyusup lewat retakan tersebut. Akibatnya geantiklin patahan memanjang
disekitar slank membentuk Lembah Semangka yang bermula dari Teluk Semangkadi
Tenggara sampai Lembah Aceh di Barat Laut.
Erupsi selama periode Pleistosen menghasilkan depresiVvolcano-Tektonik seperti
Lembah Suoh dan Danau Ranau di Sumatra Selatan, Danau Maninjau dan Danau
Rinjani di Sumatra Tengah, dan Danau Toba di Sumatra Utara. Pengangkatan III pada
periode Plio-Pleitosen di Sumatra Utara antara Sungai Barumun dan Sungai Wampu
menghasilkan bentuk Dome yang dikenal dengan nama Batak Timor.
Di dalam daerah Batak Timur ini terbentuk Danau Toba sebagai hasil Volkano-Tektonik
dari erupsi yang dialami Batak Timor. Pengangkatan Batak Timor pada periode PlioPleistosen diikuti dengan erupsi hebat dengan ciri nuee-ardente dan hembusan gas yang
dahsyat. Tekanan gasnya demikian besar sehingga materi yang dimuntahkan volumenya
sekitar 2000 km3, menghasilkan gua di bagian bawah pipa kepundan. Bahan erupsi

Batak Timor sampai ke Malaka dalam jarak 300-400 km, di mana tebal abu vulkanik
sekitar 5 ft (1,5 m). Aliran lava menutupi daerah seluas 20.000-30.000 km2 yang
tebalnya sampai ratusan meter.
Sebagai akibat dari gaya berat atap gua yang terbentuk di bawah pipa kepundan maka
atap gua runtuh membentuk depresi yang kemudian terisi air membentuk Danau Toba.
Kemudian gaya dari dalam dapur magma mendorong runtuhan tadi sehingga terungkit
ke atas dan muncul di permukaan danau sebagai pulau. Pada mulanya ketinggian
permukaan air danau 1.150 m di atas permukaan laut, tetapi karena erosi mundur yang
dialami sungai Asahan mencapai danau Toba maka drainasenya lewat sungai Asahan
menyebabkan permukaan air danau turun hingga ketinggian 906 m di atas permukaan
laut. Sebagaiman telah disinggunga dimuka, pada periode Neogen (Mio-Pliosen)
Sumatera Timur mengalami penurunan mencapai ribuan meter, kemudian terisi dengan
sdimen marine (Telisa & Lower Palembang stage) dan sedimen daratan (Middle & Upper
Palembang stage). Ketika terjadi pengangkatan III pada periode Plio-Pleitosen, maka
endapan di basin Sumatera Timur ini menderita tekanan gaya berat dari arah Bukit
Barisan. Gejala Compression di basin minyak sumatera Timur pada periode PlioPleistosen akan dibicarakan secara berturut-turut mulai dari Sumatra Selatan ke utara.
Perkembangan Struktur Sesar Sumatera (Eosen-Recent)
a. Eosen Awal-Oligisen Awal
Pada jaman Eosen gerak lempeng Hindia-Australia mencapai 18 cm/thn dengan arah
utara, sedangkan menjelang Oligosen berkurang hingga mencapai hanya 3 cm/thn saja.
Kemudian terjadi perubahan arah gerak beberapa derajat ke arah timur. Kondisi ini
mengakibatkan sesar mendatar dextral Sumatera yang mulai terbentuk akan
menimbulkan pola rekahan sepanjang sesar, sebagian respon terhadap gerak gesernya.
Pembentukan rekahan ini kemungkinan dimulai di Sumatera Selatan dan terus
berkembang ke utara (DAVIES, 1987). Gerak-gerak mendatar pada pasangan sesar yang
bertenaga (overstepping wrench) akan membentuk cekungan local (pull apart basin).
b. Oligosen Akhir-Miosen Awal
Terjadi gerak rotasi yang pertama dari lempeng mikro sunda sebesar 20 kearah yang
berlawanan dengan arah jarum jam, disertai dengan pemisahan Sumatera dari
Semenanjung Malaya. Rotasi yang pertama ini masih belum dapat menempatkan
kedudukan sumatera kedalam keadan dimana interaksi antar kedua lempeng akan
mampu menimbulkan terjadinya tegasan kompresi.
c. Miosen Tengah
Terjadi kembali sesar-sesar, bersamaan dengan berhentinya rotasi lempeng mikro
Sunda.
d. Miosen Atas sampai Sekarang
Terjadi gerak rotasi yang kedua saebesar 20-25 kearah yang berlawanan dengan jarum
jam, yang dipicu oleh membukanya laut Adaman. Pada saat ini interaksi antara lempeng

Hindia-Australia dengan lempeng Sunda sudah meningkat dari 40 menjadi hampir 65,
yang menimbulkan terjadinya tegasan kompresi. Keadaan ini menyebabkan
pengankatan bukit barisan Dan pengangkatan kegiatan volkanisme. Sebagai akibat
daripada rotasi yang bekelanjutan ini, mengakibatkan terbentuknya jalur subduksi dan
sesar-sesar mendatar di barat Dan perubahan status daripada pola-pola sesar di
cekungan Sumatera Timur. Sesar-sesar Paleogen yang berarah utara-selatan, berubah
menjadi baratlaut-tenggara, sedangkan yang berarah timurlaut-baratdaya (sesar
normal), menjadi utara-selatan. Karen lingkungan tegasannya berubah, maka sesarsesar mendatar yang berubah menjadi baratlaut-tenggara, menjadi aktif kembali sebagai
sesar naik dengan kemirinagn curam, sedangkan sesar normal yang berubah menjadi
utara-selatan, aktif kembali menjadi sesar mendatar (dextral).
II.4 Super Volcano
Danau Toba, yang dikenal sebagai salah satu danau air tawar terbesar di dunia, dengan
pulau Samosir yang elok, dalam sejarah vulcanology adalah sisa dari letusan kaldera
mahadashyat yang paling besar hingga detik ini (skala 8 VEI Vulkanic Explotion
Index). Letusan Toba dapat disamakan dengan 2000 kali letusan Gunung Helena atau
20000 kali letusan bom atom Hiroshima
Efek dari letusan itu adalah lubang besar dengan luas hampir 200 ribu hektar (panjang
100 km dan lebar 30 km) atau dua setengah kali negara Singapura dimana lubang itu
kini terisi air dan disebut dengan Danau Toba. Letusan itu memuntahkan material
vulkanis ke seluruh penjuru dunia dan batuan yang sama ditemukan di beberapa negara
oleh geologist. Awan debu yang dimuntahkan menutupi permukaan bumi dari sinar
matahari sehingga menurut para ahli suhu bumi turun hingga lebih dari 15 derajat
Celcius hingga beberapa dekade, awal dari jaman es yang terakhir
(sumber:Kompas.com)
Kejadian itu menyebabkan kematian dan kelaparan di seluruh permukaan bumi, dan
diperkiraan manusia yang hidup tinggal 10000 hingga 40000 orang saja. Manusia yang
tersisa bermigrasi dari Afrika, menyebar ke Arab, Eropa, Asia dan Indochina. Dan
dengan kecepatan replikasi hamster, kini manusia menghuni seluruh daratan di dunia.
Danau Toba yang besar itu (luasnya kira2 100 x 30 km) sebenarnya berdiri di atas
reruntuhan 3 kaldera besar. Di selatan terdapat Kaldera Porsea, berbentuk ellips dengan
dimensi 60 x 40 km, terbentuk oleh letusan gigantik 800 ribu tahun silam. Kaldera ini
meliputi sebagian selatan danau Toba dari Pulau Samosir, hingga ke daratan wilayah
Parapat Porsea dan teluk yang menjadi outlet ke Sungai Asahan. Wajah kaldera
Porsea ini dirusak oleh kaldera Sibadung yang terbentuk kemudian. Sementara di
sebelah utara, di utara Pulau Samosir terdapat kaldera Haranggaol yang nyaris bulat
dengan diameter hanya 14 km. Haranggaol terbentuk pada 500 ribu tahun silam.
Keberadaan kaldera-kaldera besar ini menunjukkan Danau Toba adalah kompleks
vulkanik nan luar biasa.

Letusan Toba 71 75 ribu tahun silam memang sungguh luar biasa. Gunung ini
melepaskan energi 1.000 megaton TNT atau 50 ribu kali lipat ledakan bom Hiroshima
dan menyemburkan tephra 2.800 km kubik berupa ignimbrit, yakni batuan beku sangat
asam yang memang menjadi ciri khas bagi letusan-letusan besar. 800 km kubik tephra
diantaranya dihembuskan ke atmosfer sebagai debu vulkanis, yang kemudian terbang
mengarah ke barat akibat pengaruh rotasi Bumi sebelum kemudian turun mengendap
sebagai hujan abu. Sebagai pembanding, erupsi paroksimal Tambora 1815 (yang
dinyatakan terdahsyat dalam sejarah modern) hanya menyemburkan 100 km kubik
debu dan itupun sudah sanggup mengubah pola cuaca di Bumi selama bertahun-tahun
kemudian, yang salah satunya menghasilkan hujan lebat yang salah musim di Eropa dan
berujung pada kekalahan Napoleon pada pertempuran besar Waterloo.
Sebuah penelitian terbaru menyatakan sebuah ledakan besar vulkanik di Indonesia
mengguncang planet Bumi pada 73.000 tahun yang lalu, bertanggungjawab terhadap
pendinginan suhu global dan menghancurkan populasi nenek moyang manusia.
Dibutuhkan heck dari sebuah bencana untuk menyeka pohon dari India.
Tetapi 73.000 tahun yang lalu, letusan titanic Gunung Toba (the great Toba) di
Indonesia melakukan hal itu, menyapu bersih daerah itu hampir dalam semalam seperti
menendang planet ke lemari es yang akan dingin bertahan selama hampir 2.000 tahun.
Letusan Toba mungkin merupakan peristiwa vulkanik yang paling penting dalam
sejarah manusia, derita leluhur penduduk manusia di Afrika turun secara drastis, hanya
yang menyisakan sekitar 30.000 orang yang selamat.
Bekas letusan berskala kecil dan kubah lava baru pasca erupsi hebat itu masih dapat
dijumpai di kerucut Pusukbukit di sebelah barat dan kerucut Tandukbenua di sebelah
utara. Terangkatnya Pulau Samosir hingga 450 meter dari elevasi semula (yang dapat
dilihat dari lapisan2 sedimen danau di pulau ini) juga menunjukkan bahwa reservoir
magma Toba telah terisi kembali, secara parsial. Studi seismik menunjukkan di bawah
danau Toba terdapat sedikitnya dua reservoir magma di kedalaman 40-an km dengan
ketebalan 6-10 km.
Kapan Toba akan kembali meletus dahsyat? Kita tidak tahu. Namun dilihat dari
historinya butuh waktu sedikitnya 300 ribu tahun pasca letusan besar Toba untuk
kembali menghasilkan letusan katastrofik. Memang sempat muncul kekhawatiran Toba
akan kembali menggeliat pasca guncangan gempa megathrust Sumatra Andaman 2004
yang mencapai 9,15 Mw itu dengan episenter hanya 300 km di sebelah barat danau,
namun sejauh ini belum terbukti. Kekhawatiran ini bukannya tanpa alasan. Krakatau
bangkit dari tidur panjangnya selama 200-an tahun tatkala gempa besar mengguncang
kawasan Selat Sunda di awal 1883 dimana getarannya terasakan hingga ke Australia.
II.5 Pulau Busur Sunda
a. Pulau Natuna
Litologinya berupa batuan beku (gabro, diorite, diabas, norit, amphibolit, serpentin, tuff)

yang berkorelasi dengan Formasi Danau di Kalimantan. Endapan sediment berupa


konglomerat dengan lempung dan andesit. Lempung ungu dan lempung coklat
kemerahan yang ditemukan mirip dengan lempung di kepulauan Riouw dan Kalimantan
yang berumur Trias atas.
b. Midai
Terletak 80km Barat Daya Natuna, berupa kubah basalt yang datar dengan cekungan
dangkal dipuncaknya.
c. Pulau Anambas
Litologinya berupa batuan beku (gabro, gabro-porfiri, diabas, andesit) yang berkorelasi
dengan batuan Pulu Melaju di utara Kalimantan Barat dan seri vulkanik Pahang di
Malay Penisula.
d. Kepulauan Riau-Lingga
Kepulauan ini adalah hasil extension dari Malay Penisula, sehingga batuannya mirip
dengan litologi di Malaya. Adapun pulau-pulau yang tedapat di kepulauan ini antara lain
Sugi, Tjombol, Tjitlim, Kundur, Karimun, Batam, Bintan, Lingga.
e. Pulau Berhala
Terletak 30km ke Timur dari pelabuhan di Medan (Belawan Deli). 36 sampel batuan
telah diteliti, diantaranya mengandung pegmatite, topaz, granit, dan mika.
f. Singkep
Merupakan penghasil timah terbanyak setelah Bangka dan Belitung. Bijih bauksit
ditemukan pada batolit granit berdiameter 10-15km. Ditemukan juga dike diabas yang
berumur lebih muda.
g. Pulau Bangka
Merupakan penghasil timah terbesar di Indonesia. Bijih ditemukan pada batolit granit
berumur trias tengah. Juga ditemukan sebagai endapan alluvial dari pelapukan granit.
h. Pulau Belitung
Merupakan penghasil timah kedua terbesar di Indonesia setelah bangka. Formasi tertua
terdiri dari seri pelitik dan sediment psammitic.
II.6 Periode Tektonik Sumatra
Penjelasan mengenai periode tektonik wilayah sumatera terbagi menjadi 3 daerah
berdasarkan letak cekungan yang ada di sumatera yaitu cekungan Bengkulu yang
menandakan forearc basin, cekungan Sumateratengah yaitu central basin dan cekungan
Sumatera Selatan yang merupakan backarc basin. Berikut adalah penjelasan masing masingperiode yang terjadi di masing - masing cekungan tersebut.
a. Cekungan Bengkulu (forearc basin)
Cekungan Bengkulu adalah salah satu cekungan forearc di Indonesia. Cekungan forearc
artinya cekungan yang berposisi di depan jalur volkanik (fore - arc ; arc = jalur volkanik).
Berdasarkan berbagai kajian geologi, disepakati bahwa Pegunungan Barisan( dalam hal
ini adalah volcanic arc -nya) mulai naik di sebelah barat Sumatra pada Miosen Tengah.

Pengaruhnya kepada Cekungan Bengkulu adalah bahwa sebelum Misoen Tengah berarti
tidakada forearc basin Bengkulu sebab pada saat itu arc -nya sendiri tidak ada.Sebelum
Miosen Tengah, atau Paleogen, Cekungan Bengkulu masih merupakan bagian paling
barat Cekungan Sumatera Selatan. Lalu pada periode setelah Miosen Tengah atau
Neogen, setelah Pegunungan Barisan naik, Cekungan Bengkulu dipisahkan dari
Cekungan Sumatera Selatan. Mulai saat itulah,Cekungan Bengkulu menjadi cekungan
forearc dan CekunganSumatera Selatan menjadi cekungan backarc (belakang busur).
Sejarah penyatuan dan pemisahan Cekungan Bengkulu dari Cekungan Sumatera Selatan
dapat dipelajari dari stratigrafi Paleogen dan Neogen kedua cekungan itu. Dapat diamati
bahwa pada Paleogen, stratigrafi kedua cekungan hampir sama. Keduanya
mengembangkan sistem graben di beberapa tempat. Di Cekungan Bengkulu ada Graben
Pagarjati, Graben Kedurang-Manna, Graben Ipuh (pada saat yang sama di Cekungan
SumateraSelatan saat itu ada graben-graben Jambi, Palembang, Lematang,dan
Kepahiang). Tetapi setelah Neogen, Cekungan Bengkulu masuk kepada cekungan yang
lebih dalam daripada Cekungan Sumatera Selatan, dibuktikan oleh berkembangnya
terumbu terumbu karbonat yang masif pada Miosen Atas yang hampir ekivalen secara
umur dengan karbonat Parigi di Jawa Barat (paraoperator yang pernah bekerja di
Bengkulu menyebutnya sebagai karbonat Parigi juga). Pada saat yang sama, di Cekungan
Sumatera Selatan lebih banyak sedimen-sedimen regresif (Formasi Air Benakat/Lower
Palembang dan Muara Enim/Middle Palembang) karena cekungan sedang mengalami
pengangkatan dan inversi.Secara tektonik, mengapa terjadi perbedaan stratigrafi pada
Neogen di Cekungan Bengkulu yaitu disebabkan Cekungan Bengkulu dalam fase
penenggelaman sementara Cekungan Sumatera Selatan sedang terangkat.
b. Cekungan Sumatera Tengah (central basin)
Pola struktur yang ada saat ini di Cekungan Sumatra Tengah merupakan hasil sekurangkurangnya 3 (tiga) fase tektonikutama yang terpisah, yaitu Orogenesa Mesozoikum
Tengah,Tektonik Kapur Akhir-Tersier Awal, dan Orogenesa Plio-Plistosen(De Coster,
1974).Heidrick dan Aulia (1993), membahas secara terperinci tentang perkembangan
tektonik di Cekungan Sumatra Tengah dengan membaginya menjadi 3 (tiga) episode
tektonik, F1 (fase 1)berlangsung pada Eosen-Oligosen, F2 (fase 2) berlangsung
padaMiosen Awal-Miosen Tengah, dan F3 (fase 3) berlangsung pada Miosen TengahResen. Fase sebelum F1 disebut sebagai fase 0 (F0) yang berlangsung pada Pra Tersier.1.
Episode F0 (Pre-Tertiary)Batuan dasar Pra Tersier di Cekungan Sumatra Tengah terdiri
dari lempeng-lempeng benua dan samudera yang berbentuk mozaik. Orientasi struktur
pada batuan dasar memberikan efek pada lapisan sedimen Tersier yang menumpang di
atasnya dan kemudian mengontrol arah tarikan dan pengaktifan ulang yang terjadi
kemudian. Pola struktur tersebut disebut sebagai elemen struktur F0. Ada 2 (dua)

struktur utama pada batuan dasar. Pertama kelurusan utara -selatan yang merupakan
sesar geser (Transform/WrenchTectonic) berumur Karbon dan mengalami reaktifisasi
selama Permo-Trias, Jura, Kapur dan Tersier. Tinggian-tinggian yang terbentuk pada
fase ini adalah Tinggian Mutiara, Kampar, Napuh, Kubu, Pinang dan Ujung Pandang.
Tinggian tinggian tersebut menjadi batas yang penting pada pengendapan sedimen
selanjutnya.2. Episode F1 (26 - 50 Ma) Episode F1 berlangsung pada kala EosenOligosendisebut juga Rift Phase. Pada F1 terjadi deformasi akibat Rifting dengan arah
Strike timur laut, diikuti oleh reaktifisasi struktur-struktur tua. Akibat tumbukan
Lempeng Samudera Hindia terhadap Lempeng Benua Asia pada 45 Ma terbentuklah
suatu sistem rekahan Transtensional yang memanjang ke arah selatan dari Cina bagian
selatan ke Thailand dan ke Malaysia hingga Sumatra dan Kalimantan Selatan (Heidrick
& Aulia,1993). Perekahan ini membentuk serangkaian Horst dan Graben di Cekungan
Sumatra Tengah. Horst-Graben ini kemudian menjadi danau tempat diendapkannya
sedimen-sedimen Kelompok Pematang. Pada akhir F1 terjadi peralihan dari perekahan
menjadi penurunan cekungan ditandai oleh pembalikan struktur yang lemah, denudasi
dan pembentukan daratan Peneplain. Hasil dari erosi tersebut berupa paleosol yang
diendapkan di atas Formasi Upper Red Bed.3. Episode F2 (13 - 26 Ma) Episode F2
berlangsung pada kala Miosen Awal-Miosen Tengah. Pada kala Miosen Awal terjadi fase
amblesan (sagphase), diikuti oleh pembentukan Dextral Wrench Fault secararegional
dan pembentukan Transtensional Fracture Zone. Pada struktur tua yang berarah utaraselatan terjadi Release,sehingga terbentuk Listric Fault, Normal Fault, Graben, dan Half
Graben. Struktur yang terbentuk berarah relatif barat laut-tenggara. Pada episode F2,
Cekungan Sumatra Tengah mengalami transgresi dan sedimen-sedimen dari Kelompok
Sihapas diendapkan.4. Episode F3 (13-Recent) Episode F3 berlangsung pada kala
Miosen Tengah-Resendisebut juga Barisan Compressional Phase. Pada episode F3
terjadi pembalikan struktur akibat gaya kompresi menghasilkan reverse dan Thrust
Fault di sepanjang jalur Wrench Fault yang terbentuk sebelumnya. Proses kompresi ini
terjadi bersamaan dengan pembentukan Dextral Wrench Fault di sepanjang Bukit
Barisan. Struktur yang terbentuk umumnya berarah barat laut-tenggara. Pada episode
F3 Cekungan Sumatra Tengah mengalami regresi dan sedimen-sedimen Formasi Petani
diendapkan, diikuti pengendapan sedimen-sedimen Formasi Minas secara tidak selaras.
c. Cekungan Sumatera Selatan ( backarc basin)
Blake (1989) menyebutkan bahwa daerah Cekungan Sumatera Selatan merupakan
cekungan busur belakang berumur Tersier yang terbentuk sebagai akibat adanya
interaksi antara Paparan Sunda (sebagai bagian dari lempeng kontinen Asia) dan
lempeng Samudera India. Daerah cekungan ini meliputi daerah seluas 330 x 510 km2,
dimana sebelah barat daya dibatasi olehsingkapan Pra-Tersier Bukit Barisan, di sebelah
timur oleh PaparanSunda (Sunda Shield), sebelah barat dibatasi oleh Pegunungan Tiga
puluh dan ke arah tenggara dibatasi oleh Tinggian Lampung.Menurut De Coster, 1974

(dalam Salim, 1995), diperkirakantelah terjadi 3 episode orogenesa yang membentuk


kerangka struktur daerah Cekungan Sumatera Selatan yaitu orogenesa Mesozoik
Tengah, tektonik Kapur Akhir - Tersier Awal dan Orogenesa Plio - Plistosen. Episode
pertama, endapan - endapan Paleozoik danMesozoik termetamorfosa, terlipat dan
terpatahkan menjadi bongkah struktur dan diintrusi oleh batolit granit serta telah
membentuk pola dasar struktur cekungan. Menurut Pulunggono,1992 (dalam Wisnu
dan Nazirman ,1997), fase ini membentuk sesar berarah barat laut-tenggara yang berupa
sesar - sesar geser.Episode kedua pada Kapur Akhir berupa fase ekstensi menghasilkan
gerak - gerak tensional yang membentuk grabendan horst dengan arah umum utara selatan. Dikombinasikan dengan hasil orogenesa Mesozoik dan hasil pelapukan batuan
-batuan Pra - Tersier, gerak gerak tensional ini membentuk struktur tua yang
mengontrol pembentukan Formasi Pra - Talang Akar. Episode ketiga berupa fase
kompresi pada Plio Plistosen yang menyebabkan pola pengendapan berubah menjadi
regresi dan berperan dalam pembentukan struktur perlipatan dan sesar sehingga
membentuk konfigurasi geologi sekarang. Pada periode tektonik ini juga terjadi
pengangkatan Pegunungan Bukit Barisan yang menghasilkan sesar mendatar Semangko
yang berkembang sepanjang Pegunungan Bukit Barisan. Pergerakan horisontal yang
terjadi mulai Plistosen Awal sampai sekarang mempengaruhi kondisi Cekungan
Sumatera Selatan dan Tengah sehingga sesar -sesar yang baru terbentuk di daerah ini
mempunyai perkembangan hampir sejajar dengan sesar Semangko. Akibat pergerakan
horisontal ini, orogenesa yang terjadi pada Plio-Plistosen menghasilkan lipatan yang
berarah barat laut-tenggara tetapi sesar yang terbentuk berarah timur laut-barat daya
dan barat laut- tenggara. Jenis sesar yang terdapat pada cekungan ini adalah sesar naik,
sesar mendatar dan sesar normal. Kenampakan struktur yang dominan adalah struktur
yang berarah barat laut-tenggara sebagai hasil orogenesa Plio-Plistosen. Dengan
demikian pola struktur yang terjadi dapat dibedakan atas pola tua yang berarah utaraselatan dan barat laut-tenggara serta pola muda yang berarah barat laut-tenggara yang
sejajar dengan Pulau Sumatera.

KESIMPULAN
III.1 KESIMPULAN :
1. Pulau Sumatera secara garis besar terdiri dari 3 sistem Tektonik, yakni Sistem
Subduksi Sumatera; system sesar Mentawai (Mentawai Fault System); dan Sistem Sesar
Sumatera (Sumatera Fault System).
2. Berdasarkan rekonstruksi geologi oleh Robert Hall (2000), awal pembentukan
wilayah Sumatera dimulai sekitar 50 juta tahun lalu (awal Eosen).
3. Sedikitnya terdapat 19 Segmen sesar dengan panjang tiap segmen 60-200 km; yang
merupakan bagian dari Sistem Sesar Sumatera (Sumatera Fault System) dengan panjang
1900 km
4. Danau Toba yang berada di pulau Sumatera merupakan salah satu bukti nyata Super
Volcano dan merupakan sisa dari Letusan Kaldera mahadahsyat terbesar (skala 8 VEI)
III.2 KRITIK dan SARAN :
Sebagai insan yang manusiawi; yang takkan pernah bisa tuk sempurna, maka tim
penulis dengan tangan terbuka siap menerima berbagai kritik dan saran guna
melengkapi karya tulis yang belum sempurna ini. Tak ada gading yang tak retak; tak ada
mawar yang tak berduri; demikianpun tak ada ide / tulisan yang sempurna. Namun
demikian bukan berarti kita menerimanya begitu saja. Dengan adanya suplemen
pengetahuan tambahan dari para pembaca serta masukkan yang konstruktif diyakini tim
penulis dapat menjadikan tulisan ini lebih pedagogis dan menambah wawasan siapapun
yang membacanya. Berangkat dari tujuan berdaya guna tesebutlah, maka penulis ingin
berbagi apa yang telah diketahuinya tentang Kondisi Tektonik Pulau Sumatera.
Besar harapan tim penulis, kiranya tulisan ini dapat bermanfaat dan untuk itulah, tim
penulis mempersilahkan pihak manapun untuk memberikan kritik dan saran atas
tulisan ini.
Teriring salam dan Hormat;
GEOFISIKA
For a better tomorrow

Related Post:
Diposkan oleh alexander felix taufan parera di 18.47

Reaksi:
1 komentar:
Anonim mengatakan...
Menarik sekali penelitianya
23 Oktober 2011 21.28

Poskan Komentar
Link ke posting ini
Buat sebuah Link

Posting Lebih BaruPosting LamaBeranda


L
angganan: Poskan Komentar (Atom)

Follow Us on Twitter!

RSS

Contact

BIENVENUE , FELLAS !

the THINKER

Blog archive

o
o
o
o
o

o
o

2016 (6)
2015 (13)
2014 (11)
2013 (17)
2012 (50)
2011 (36)
Desember (3)
Oktober (1)
September (2)
Agustus (3)
Juli (5)
TEKTONIK PULAU SUMATERA
BIDUAN HATI UNTUK PERMAISURI HATI
RICHTER 45 : KISAH MANIS JAWARA PENSI 2011
When SMS breaks my Twilight (sebuah tinjauan tenta...
NURANI (tinjauan dari Sang Inspektur)
Juni (4)
Mei (10)

April (4)
Maret (4)

o
o

WEATHER INFO
Weather by Freemeteo.com

Blogroll
Alexander Ivan Parera Lmc

Buat Lencana Anda

Popular Posts

TEKTONIK PULAU SUMATERA


PENDAHULUAN I.1 Gambaran Umum Indonesia merupakan daerah pertemuan 3 lempeng
tektonik besar, yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia dan...

POSISI UTARA MAGNETIK DAN UTARA GEOGRAFIS (sebuah tinjauan praktis


analitis)
Di manakah letak kutub utara magnet bumi dan kutub utara geografis bumi? Sebuah
pertanyaan yang sering diajukan siapapun yang sedang me...


TSUNAMI FLORES 12 DESEMBER 1992
TSUNAMI FLORES,12 DESEMBER 1992 KATA PENGANTAR FLORES.sebuah pulau,seperti
yang kita ketahui,merupakan salah satu dari kumpulan pulau-pulau...

TRANSFORMASI FOURIER DENGAN BAHASA PEMROGRAMAN MATLAB


Dalam kajian ilmu Geofisika, kita mengenal Transformasi. Penggunaan Transformasi
diperlukan ketika kita ingin mendapatkan suatu informa...

TIPS TRICK ELIMINASI GAUSS-JORDAN


Pada edisi kali ini,saya akan mengulas tentang ELIMINASI GAUSS-JORDAN . Tentunya
metode yang satu ini sudah tidak asing lagi bagi kita par...

PENENTUAN HYPOCENTER MENGGUNAKAN MATLAB


Telah terjadi sebuah event Gempa pada sebuah lokasi (unknown) . Gempa tersebut tercatat di
seismograf 7 stasiun pencatat. Berikut tabel ha...

PROPOSAL TUGAS AKHIR -ALEXANDER PARERA


PROPOSAL TUGAS AKHIR ANALISIS SEISMISITAS DAN TINGKAT RESIKO TSUNAMI
SEBAGAI HANDOUT PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR PADA ZONA INUNDAS...


TUTORIAL BEKERJA DENGAN SOFTWARE Zmap
Dear all readers and my blogs visitors. Postingan saya kali ini sebenarnya berangkat dari
problema yang saya temui ketika harus meny...

TSUNAMI KRETA,365 AD
Pada Kuliah yang diberikan oleh Pak M.Husni tertanggal 5 April 2011 ;beliau sempat
menyinggung soal sejarah Tsunami.Beliau hanya menyinggung...

LARANTUKA : a GIFT from Saint Mary


Alam yang indah adalah anugerah yang berharga dari Sang Pencipta bagi manusia ; Mahkluk
ciptaan-Nya. Manusia dan alam hidup bersama ...

Pages

Beranda

Latest Tweets
Theme by Site5.
Experts in Web Hosting.

Copyright 2011 Diary/Notebook Theme by Site5.com. All Rights Reserved. by TNB

Anda mungkin juga menyukai