Anda di halaman 1dari 14

GOOD GOVERNANCE

KONSEP, PRINSIP, DAN IMPLEMENTASINYA DI INDONESIA


Oleh:
Drs. T.A.M. Ronny Gosal
Dosen Program Studi Ilmu Pemerintahan Fispol Unsrat
A. Pendahuluan
Dewasa ini permasalahan yang dialami oleh bangsa Indonesia semakin komplek dan
semakin sarat. Oknum-oknum organisasi pemerintah yang seyogyanya menjadi panutan
rakyat banyak yang tersandung masalah hukum. Eksistensi pemerintahan yang baik atau yang
sering disebut good governance yang selama ini dielukan-elukan faktanya saat ini masih
menjadi mimpi dan hanyalah sebatas jargon belaka. Revolusi disetiap bidang harus dilakukan
karena setiap produk yang dihasilkan hanya mewadahi kepentingan partai politik, fraksi dan
sekelompok orang. Padahal seharusnya penyelenggaraan negara yang baik harus menjadi
perhatian serius. Transparansi memang bisa menjadi salah satu solusi tetapi apakah cukup
hanya itu untuk mencapai good governance.
Sebagai negara yang menganut bentuk kekuasaan demokrasi. Maka kedaulatan berada
di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar seperti disebutkan dalam
UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945 Pasal 1 ayat (2). Negara seharusnya
memfasilitasi keterlibatan warga dalam proses kebijakan publik. Menjadi salah satu bentuk
pengawasan rakyat pada negara dalam rangka mewujudkan good governance. Memang akan
melemahkan posisi pemerintah. Namun, hal itu lebih baik daripada perlakuan otoriter dan
represif pemerintah.
B. Konsep Good Governance
Terdapat tiga terminologi yang masih rancu dengan istilah dan konsep good
governance, yaitu: good governance (tata pemerintahan yang baik), good government
(pemerintahan yang baik), dan clean governance (pemerintahan yang bersih). Untuk lebih
dipahami makna sebenarnya dan tujuan yang ingin dicapai atas good governance, maka
beberapa pengertian dari good governance, antara lain:
1.

Menurut Bank Dunia (World Bank) Good governance merupakan cara kekuasaan yang
digunakan dalam mengelola berbagai sumber daya sosial dan ekonomi untuk
pengembangan masyarakat.

2.

Menurut

UNDP

(United

National

Development

Planning)

Good governance merupakan praktek penerapan kewenangan pengelolaan berbagai


urusan. Penyelenggaraan negara secara politik, ekonomi dan administratif di semua
tingkatan. Dalam konsep di atas, ada tiga pilar good governance yang penting, yaitu:
a. Kesejahteraan rakyat (economic governance).
b. Proses pengambilan keputusan (political governance).
c. Tata laksana pelaksanaan kebijakan (administrative governance) (Prasetijo,
2009).
United National Development Program (UNDP, 1997) mendefinisikan governance
sebagai penggunaan wewenang ekonomi, politik dan administrasi guna mengelola
urusan-urusan negara pada semua tingkat. Tata pemerintahan mencakup seluruh
mekanisme, proses dan lembaga-lembaga dimana warga dan kelompok-kelompok
masyarakat mengutarakan kepentingan mereka, menggunakan hak hukum, mematuhi
kewajiban dan menjembatani perbedaan-perbedaan diantara mereka. Selanjutnya
berdasarkan pemahaman atas pengertian governance tadi maka penambahan kata sifat
good dalam governance bisa diartikan sebagai tata pemerintahan yang baik atau positif.
Letak sifat baik atau positif itu adalah manakala ada pengerahan sumber daya secara
maksimal dari potensi yang dimiliki dari masing-masing aktor tersebut atas dasar
kesadaran dan kesepakatan bersama terhadap visi yang ingin dicapai. Governance
dikatakan memiliki sifat-sifat yang good, apabila memiliki ciri-ciri atau indikator
tertentu.
3.

Kunci utama memahami good governance, menurut Masyarakat Transparansi Indonesia


(MTI), adalah pemahaman atas prinsip-prinsip yang mendasarinya. Bertolak dari
prinsip-prinsip ini didapat tolok ukur kinerja suatu pemerintah. Prinsip-prinsip tersebut
meliputi:
a. Partisipasi masyarakat: semua warga masyarakat mempunyai suara dalam
pengambilan keputusan, baik secara langsung maupun melalui lembaga-lembaga
perwakilan yang sah yang mewakili kepentingan mereka. Partisipasi menyeluruh
tersebut dibangun berdasarkan kebebasan berkumpul dan mengungkapkan pendapat,
serta kepastian untuk berpartisipasi secara konstruktif.
b. Tegaknya supremasi hukum: kerangka hukum harus adil dan diberlakukan tanpa
pandang bulu, termasuk didalamnya hukum-hukum yang menyangkut hak asasi
manusia.
c. Transparasi: transparansi dibangun atas dasar informasi yang bebas. Seluruh proses
pemerintah, lembaga-lembaga, dan informasi perlu.

d. Dapat diakses oleh pihak-pihak yang berkepentingan, dan informasi yang tersedia
harus memadai agar dapat dimengerti dan dipantau.
e. Peduli dan stakeholder: lembaga-lembaga dan seluruh proses pemerintah harus
berusaha melayani semua pihak yang berkepentingan.
f. Berorientas pada consensus: tata pemerintahan

yang

baik

menjembatani

kepentingan-kepentingan yang berbeda demi terbangunnya suatu consensus


menyeluruh dalam hal apa yang terbaik bagi kelompok-kelompok masyarakat, dan
bila mungkin, konsensus dalam hal kebijakan-kebijakan dan prosedur-prosedur.
g. Kesetaraan: semua warga masyarakat mempunyai kesempatan memperbaiki atau
mempertahankan kesejahteraan mereka.
h. Efektifitas dan efisiensi: proses-proses pemerintahan dan lembaga-lembaga
membuahkan hasil sesuai kebutuhan warga masyarakat dan dengan menggunakan
sumber-sumber daya yang ada seoptimal mungkin.
i. Akuntabilitas: para pengambil keputusan di pemerintah, sektor swasta, dan
organisasi masyarakat bertanggungjawab, baik kepada masyarakat maupun kepada
lembaga-lembaga yang berkepentingan.
j. Visi strategis: para pemimpin dan masyarakat memiliki perspektif yang luas dan jauh
ke depan atas tata pemerintahan yang baik dan pembangunan manusia, serta
kepekaan akan apa saja yang dibutuhkan untuk mewujudkan perkembangan tersebut.
Selain itu mereka juga harus memiliki pemahaman atas kompleksitas kesejarahan,
budaya, dan sosial yang menjadi dasar bagi perspektif tersebut.
Dalam proses memaknai peran kunci stakeholders (pemangku kepentingan),
mencakup 3 (tiga) domain good governance, yaitu:
1.
2.
3.

Pemerintah yang berperan menciptakan iklim politik dan hukum yang kondusif.
Sektor swasta yang berperan menciptakan lapangan pekerjaan dan pendapatan.
Masyarakat yang berperan mendorong interaksi sosial, konomi, politik dan mengajak
seluruh anggota masyarakat berpartisipasi (Efendi, 2005).
Menurut Bintoro Tjokroamidjojo (2001), mengemukakan bahwa Governance berarti ;

memerintah, menguasai, mengurusi, mengelola. Kemudian kutipan pendapat Bondan


Gunawan dengan istilah penyelenggaraan sebagai terjemahan dari Governance. Begitu juga
dalam pidato Presiden RI tanggal 16 Agustus 2000 istilah Governance diterjemahkan menjadi
pengelolaan.
Makna dari governance dan good governance pada dasarnya tidak diatur dalam sebuah
undang-undang (UU). Tetapi dapat dimaknai bahwa governance adalah tata pemerintahan,
penyelenggaraan negara, atau management (pengelolaan) yang artinya kekuasaan tidak lagi
semata-mata dimiliki atau menjadi urusan pemerintah. Governance itu sendiri memiliki unsur
3

kata kerja yaitu governing yang berarti fungsi pemerintah bersama instansi lain (LSM, swasta
dan warga negara) yang dilaksanakan secara seimbang dan partisipatif. Sedangkan good
governance adalah tata pemerintahan yang baik atau menjalankan fungsi pemerintahan yang
baik, bersih dan berwibawa (struktur, fungsi, manusia, aturan, dan lain-lain). Clean
government adalah pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Good corporate adalah tata
pengelolaan perusahaan yang baik dan bersih. Governance without goverment berarti bahwa
pemerintah tidak selalu di warnai dengan lembaga, tapi termasuk dalam makna proses
pemerintah (Prasetijo, 2009).
Istilah good governance lahir sejak berakhirnya Orde Baru dan digantikan dengan
gerakan reformasi. Sejak itu pula sering diangkat menjadi wacana atau tema pokok dalam
setiap kegiatan pemerintahan. Namun meski sudah sering terdengar, pengaturan mengenai
good governance belum diatur secara khusus dalam bentuk sebuah produk, Undang-Undang
misalnya. Hanya terdapat sebuah regulasi yaitu Undang-Undang Nomor 28 tahun 1999
tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme
yang mengatur penyelenggaraan negara dengan Asas Umum Pemerintahan Negara yang Baik
(AUPB).
Good governance sebagai upaya untuk mencapai pemerintahan yang baik maka harus
memiliki beberapa bidang yang dilakukan agar tujuan utamanya dapat dicapai, yang meliputi
(Efendi, 2005):
1.

Politik
Politik merupakan bidang yang sangat riskan dengan lahirnya msalah karena
seringkali menjadi penghambat bagi terwujudnya good governance. Konsep politik
yang kurang bahkan tidak demokratis yang berdampak pada berbagai persoalan di
lapangan. Krisis politik yang saat ini terjadi di Indonesia dewasa ini tidak lepas dari
penataan sistem politik yang kurang demokratis. Maka perlu dilakukan pembaharuan
politik yang menyangkut berbagai masalah penting seperti:
a. UUD NRI 1945 yang merupakan sumber hukum dan acuan pokok
penyelenggaraan pemerintahan maka dalam penyelenggaraannya harus dilakukan
untuk mendukung terwujudnya good governance. Konsep good governance itu
dilakukan dalam pemilihan presiden langsung, memperjelas susunan dan
kedudukan MPR dan DPR, kemandirian lembaga peradilan, kemandirian
kejaksaan agung dan penambahan pasal-pasal tentang hak asasi manusia.
b. Perubahan UU Politik dan UU Keormasan yang lebih menjamin partisipasi dan
mencerminkan keterwakilan rakyat.
c. Reformasi agraria dan perburuhan.
4

d. Mempercepat penghapusan peran sosial politik TNI.


e. Penegakan supremasi hukum.
2.

Ekonomi
Ekonomi Indonesia memang sempat terlepas dari krisis global yang bahkan bisa
menimpa Amerika Serikat. Namun keadaan Indonesia saat ini masih terbilang krisis
karena masih banyaknya pihak yang belum sejahtera dengan ekonomi rakyat. Hal ini
dikarenakan krisis ekonomi bisa melahirkan berbagai masalah sosial yang bila tidak
teratasi akan mengganggu kinerja pemerintahan secara menyeluruh. Permasalahan
krisis ekonomi di Indonesia masih berlanjut sehingga perlu dilahirkan kebijakan untuk
segera.

3.

Sosial
Masyarakat yang sejahtera dengan terwujudnya setiap kepentingan masyarakat yang
tercover dalam kepentingan umum adalah perwujudan nyata good governance.
Masyarakat selain menuntut perealisasikan haknya tetapi juga harus memikirkan
kewajibannya dengan berpartisipasi aktif dalam menentukan berbagai kebijakan
pemerintahan. Hal ini sebagai langkah nyata menjalankan fungsi pengawasan yang
efektif dalam pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan. Namun keadaan Indonesia
saat ini masih belum mampu memberikan kedudukan masyarakat yang berdaya di
hadapan negara. Karena diberbagai bidang yang didasari kepentingan sosial masih
banyak timbul masalah sosial. Sesuai dengan UUD NRI Pasal 28 bahwa
Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan
tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang. Masyarakat diberikan
kesempatan untuk membentuk golongan dengan tujuan tertentu selama tidak
bertentangan dengan tujuan negara. Namun konflik antar golongan yang masih sering
terjadi sangat kecil kemungkinan good governance bisa ditegakkan. Maka good
governance harus ditegakkan dengan keadaan masyarakat dengan konflik antar

4.

golongan tersebut.
Hukum
Dalam menjalankan pemerintahan pejabat negara memakai hukum sebagai istrumen
mewujudkan tujuan negara. Hukum adalah bagian penting dalam penegakan good
governance. Setiap kelemahan sistem hukum akan memberikan influence terhadap
kinerja pemerintahan secara keseluruhan, karena good governanance tidak akan
dapat berjalan dengan baik dengan hukum yang lemah. Penguatan sistem hukum atau
reformasi hukum merupakan kebutuhan mutlak bagi terwujudnya good governance.
5

Hukum saat ini lebih dianggap sebagai komiditi daripada lembaga penegak keadilan
dan kalangan kapitalis lainnya. Kenyataan ini yang membuat ketidakpercayaan dan
ketidaktaatan pada hukum oleh masyarakat.
Hingga saat ini istilah government dan governance seringkali dianggap memiliki
arti yang sama yaitu cara menerapkan otoritas dalam suatu organisasi, lembaga atau negara.
Government atau pemerintah juga adalah nama yang diberikan kepada entitas yang
menyelenggarakan kekuasaan pemerintahan dalam suatu negara. Sebenarnya governance
dalam literatur administrasi dan ilmu politik sudah dikenal hampir selama 125 tahun yang
lalu, sejak W.Wilson, menjadi Presiden USA ke 27, memperkenalkan bidang studi tersebut
kurang lebih 125 tahun yang lalu. Tetapi selama itu, governance hanya digunakan dalam
literatur politik dengan pengertian yang sempit. Wacana tentang governance diterjemahkan
ke dalam bahasa Indonesia sebagai tata pemerintahan, penyelenggaraan pemerintahan atau
pengelolaan pemerintahan, tata-pamong baru muncul dua dasawarsa belakangan, terutama
setelah berbagai lembaga donor internasional menetapkan good governance sebagai
persyaratan utama untuk setiap program bantuan mereka. Para pakar dan praktisi administrasi
negara Indonesia, istilah good governance telah diterjemahkan dalam berbagai istilah,
misalnya, penyelenggaraan pemerintahan yang amanah (Bintoro Tjokroamidjojo), tata
pemerintahan yang baik (UNDP), pengelolaan pemerintahan yang baik dan bertanggunjawab
(LAN), dan ada juga yang mengartikan secara sempit sebagai pemerintahan yang bersih
(clean government). Bahkan pada tahun 1992, ada lembaga internasional Eropa telah
menggunakan keruntuhan Soviet , sebagai momentum untuk membenarkan sistem ideologi
liberal yang intinya adalah: (1) menjunjung tinggi nilai-nilai HAM khususnya hak dan
kebebasan individu, (2) demokrasi, (3) penegakan Rule of Law, (4) pasar bebas dan (5)
perhatian terhadap lingkungnan. Sejak itu pula good governance di negara penerima bantuan
dijadikan salah satu persyaratan oleh lembaga penyedia keuangan internasional.
C. Prinsip-Prinsip Good Governance
Ada tiga pilar utama yang mendukung kemampuan suatu bangsa dalam melaksanakan
good governance, yakni: Negara/pemerintah (the state), masyarakat adab, masyarakat madani,
masyarakat sipil (civil society), dan pasar atau dunia usaha. Penyelenggaraan pemerintahan
yang baik dan bertanggung jawab baru tercapai bila dalam penerapan otoritas politik,
ekonomi dan administrasi ketiga unsur tersebut memiliki jaringan dan interaksi yang setara
dan sinerjik. Interaksi dan kemitraan seperti itu biasanya baru dapat berkembang subur bila
ada kepercayaan (trust), transparansi, partisipasi, serta tata aturan yang jelas dan pasti, Good
6

governance yang sehat juga akan berkembang sehat dibawah kepemimpinan yang berwibawa
dan memiliki visi yang jelas.
Menurut UNDP ada 14 prinsip good governance, penulis memilih yang lebih lengkap
karena sudah menyangkut banyak unsur dan prinsip dalam menjalankan Good Governance
dengan masing-masing penjelasan terdapat empat belas prinsip yang dapat terhimpun dari
telusuran wacana good governance, yaitu:
1. Wawasan ke Depan (visionary);
2. Keterbukaan dan Transparansi (openness and transparency);
3. Partisipasi Masyarakat (participation);
4. Tanggung Gugat (accountability);
5. Supremasi Hukum (rule of law);
6. Demokrasi (democracy);
7. Profesionalisme dan Kompetensi (profesionalism and competency);
8. Daya Tanggap (responsiveness);
9. Keefisienan dan Keefektifan (efficiency and effectiveness);
10. Desentralisasi (decentralization);
11. Kemitraan dengan Dunia Usaha Swasta dan Masyarakat (private Sector and civil society
partnership);
12. Komitmen pada Pengurangan Kesenjangan (commitment to reduce Inequality);
13. Komitmen pada Lingkungan Hidup (commitment to environmental protection);
14. Komitmen Pasar yang Fair (commitment to Fair Market);
Ke-empat belas prinsip good governance secara singkat dijelaskan sebagai berikut:
1. Tata pemerintahan yang berwawasan ke depan (visi strategis),
Semua kegiatan pemerintah di berbagai bidang dan tingkatan seharusnya didasarkan pada
visi dan misi yang jelas dan jangka waktu pencapaiannya serta dilengkapi strategi
implementasi yang tepat sasaran, manfaat dan berkesinambungan.
2. Tata pemerintahan yang bersifat terbuka (transparan),
Wujud nyata prinsip tersebut antara lain dapat dilihat apabila masyarakat mempunyai
kemudahan untuk mengetahui serta memperoleh data dan informasi tentang kebijakan,
program, dan kegiatan aparatur pemerintah, baik yang dilaksanakan di tingkat pusat
maupun daerah.
3. Tata pemerintahan yang mendorong partisipasi masyarakat,
Masyarakat yang berkepentingan ikut serta dalam proses perumusan dan/atau
pengambilan keputusan atas kebijakan publik yang diperuntukkan bagi masyarakat,
sehingga keterlibatan masyarakat sangat diperlukan pada setiap pengambilan kebijakan
yang menyangkut masyarakat luas.
4. Tata pemerintahan yang bertanggung jawab/ bertanggung gugat (akuntabel),
Instansi pemerintah dan para aparaturnya harus dapat mempertanggungjawabkan
pelaksanaan kewenangan yang diberikan sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.

Demikian halnya dengan kebijakan, program, dan kegiatan yang dilakukannya dapat
dipertanggungjawabkan.
5. Tata pemerintahan yang menjunjung supremasi hukum,
Wujud nyata prinsip ini mencakup upaya penuntasan kasus KKN dan pelanggaran HAM,
peningkatan kesadaran HAM, peningkatan kesadaran hukum, serta pengembangan
budaya hukum. Upaya-upaya tersebut dilakukan dengan menggunakan aturan dan
prosedur yang terbuka dan jelas, serta tidak tunduk pada manipulasi politik.
6. Tata pemerintahan yang demokratis dan berorientasi pada konsensus,
Perumusan kebijakan pembangunan baik di pusat maupun daerah dilakukan melalui
mekanisme demokrasi, dan tidak ditentukan sendiri oleh eksekutif. Keputusan-keputusan
yang diambil antara lembaga eksekutif dan legislatif harus didasarkan pada konsensus
agar setiap kebijakan publik yang diambil benar-benar merupakan keputusan bersama.
7. Tata pemerintahan yang berdasarkan profesionalitas dan kompetensi,
Wujud nyata dari prinsip profesionalisme dan kompetensi dapat dilihat dari upaya
penilaian kebutuhan dan evaluasi yang dilakukan terhadap tingkat kemampuan dan
profesionalisme sumber daya manusia yang ada, dan dari upaya perbaikan atau
peningkatan kualitas sumber daya manusia.
8. Tata pemerintahan yang cepat tanggap (responsif),
Aparat pemerintahan harus cepat tanggap terhadap

perubahan

situasi/kondisi

mengakomodasi aspirasi masyarakat, serta mengambil prakarsa untuk mengatasi berbagai


masalah yang dihadapi masyarakat.
9. Tata pemerintahan yang menggunakan struktur & sumber daya secara efisien & efektif,
Pemerintah baik pusat maupun daerah dari waktu ke waktu harus selalu menilai
dukungan struktur yang ada, melakukan perbaikan struktural sesuai dengan tuntutan
perubahan seperti menyusun kembali struktur kelembagaan secara keseluruhan,
menyusun jabatan dan fungsi yang lebih tepat, serta selalu berupaya mencapai hasil yang
optimal dengan memanfaatkan dana dan sumber daya lainnya yang tersedia secara efisien
dan efektif.
10. Tata pemerintahan yang terdesentralisasi,
Pendelegasian tugas dan kewenangan pusat kepada semua tingkatan aparat sehingga
dapat mempercepat proses pengambilan keputusan, serta memberikan keleluasaan yang
cukup untuk mengelola pelayanan publik dan menyukseskan pembangunan di pusat
maupun di daerah.
11. Tata pemerintahan yang mendorong kemitraan dengan dunia usaha swasta dan
masyarakat,
Pembangunan masyarakat madani melalui peningkatan peran serta masyarakat dan sektor
swasta harus diberdayakan melalui pembentukan kerjasama atau kemitraan antara
pemerintah, swasta, dan masyarakat. Hambatan birokrasi yang menjadi rintangan
8

terbentuknya kemitraan yang setara harus segera diatasi dengan perbaikan sistem
pelayanan kepada masyarakat dan sektor swasta serta penyelenggaraan pelayanan
terpadu.
12. Tata pemerintahan yang memiliki komitmen pada pengurangan kesenjangan,
Pengurangan kesenjangan dalam berbagai bidang baik antara pusat dan daerah maupun
antardaerah secara adil dan proporsional merupakan wujud nyata prinsip pengurangan
kesenjangan. Hal ini juga mencakup upaya menciptakan kesetaraan dalam hukum (equity
of the law) serta mereduksi berbagai perlakuan diskriminatif yang menciptakan
kesenjangan antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan bermasyarakat.
13. Tata pemerintahan yang memiliki komitmen pada lingkungan hidup,
Daya dukung lingkungan semakin menurun akibat pemanfaatan yang tidak terkendali.
Kewajiban penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan secara konsekuen,
penegakan

hukum

lingkungan

secara

konsisten,

pengaktifan

lembaga-lembaga

pengendali dampak lingkungan, serta pengelolaan sumber daya alam secara lestari
merupakan contoh perwujudan komitmen pada lingkungan hidup.
14. Tata pemerintahan yang memiliki komitmen pada pasar,
Pengalaman telah membuktikan bahwa campur tangan pemerintah dalam kegiatan
ekonomi seringkali berlebihan sehingga akhirnya membebani anggaran belanja dan
bahkan merusak pasar. Upaya pengaitan kegiatan ekonomi masyarakat dengan pasar baik
di dalam daerah maupun antar daerah merupakan contoh wujud nyata komitmen pada
pasar.
D.

Implementasi Good Governance di Indonesia


Mewujudkan konsep good governance dapat dilakukan dengan mencapai keadaan

yang baik dan sinergi antara pemerintah, sektor swasta dan masyarakat sipil dalam
pengelolaan sumber-sumber alam, sosial, lingkungan dan ekonomi. Prasyarat minimal untuk
mencapai

good

governance

adalah

adanya

transparansi,

akuntabilitas,

partisipasi,

pemberdayaan hukum, efektifitas dan efisiensi, dan keadilan. Kebijakan publik yang
dikeluarkan oleh pemerintah harus transparan, efektif dan efisien, serta mampu menjawab
ketentuan dasar keadilan. Sebagai bentuk penyelenggaraan negara yang baik maka harus
keterlibatan masyarakat di setiap jenjang proses pengambilan keputusan.
Melalui regulasi sejak tahun 1999 setelah reformasi dilaksanakan terbitlah banyak UU
yang mengatur dan menjadi bagian dalam implementasi good governance di Indonesia,
diantaranya UU tentang Hak Asasi manusia, UU penyelenggara Negara yang bebas dari KKN
kemudian Undang-undang tentang desentralisasi Pemerintahan daerah yang didalamnya
diatur tentang tatacara pemilihan kepala daerah. Artinya kepala daerah harus sudah
9

memaparkan Visi misi dalam melaksanakan pemilihan Pemilihan umum kepala daerah, UU
tentang

Keuangan

Negara

hingga

akuntabilitas

penyelenggaraan

Negara.

Misal

Departemen/kementrian dan lembaga serta organisasi pemerintah daerah harus sudah


membuat laporan akuntabilitas kinerja (LAKIP) sesuai dengan Keputusan Menteri
Pendayagunaan Aparatur Negara. Di dalam Lakip ada juga dijabarkan Visi dan misi hingga
program kegiatan yang menjadi tujuan organisasi dalam 5 tahun. Selanjutnya dengan UU
nomor 25 tahun 2004 mulai disusun Rencana Jangka Panjang mulai Nasional hingga daerah
selama 20 tahun, Rencana Jangka Menengah selama 5 tahun dan Rencana Jangka Pendek
selama 1 tahun pada setiap level pemerintahan.
Pada perkembangannya sampai dengan saat ini, telah banyak dikeluarkan aturan
dalam rangka melengkapi praktek-pratek pelaksanaan good governance misalnya UU tentang
kebebasan informasi Publik dengan membentuk Komisi informasi publik, UU tentang
Lingkungan hidup hingga mulai menerapkan proses pasar bebas dimulai dari ASEAN hingga
dengan China (ACFTA).
Penerapan Good Governance akan berjalan baik jika didukung oleh tiga pilar yang
saling berhubungan, yaitu Negara/Pemerintah dan perangkatnya sebagai regulator, dunia
usaha sebagai pelaku pasar, dan masyarakat sebagai pengguna produk dan dunia usaha.
Sehingga menjalankan good Governance seyogyanya dilakukan bersama-sama pada tiga
pilar/elemen. Bila pelaksanaan hanya dibebankan pada Pemerintah saja maka keberhasilannya
kurang optimal dan bahkan memerlukan waktu yang panjang. Prinsip dasar yang harus
dilaksanakan oleh tiga pilar dalam menjalankan Good Governance adalah:
1. Negara/Pemerintah dan perangkatnya menciptakan peraturan perundang-undangan yang
menunjang iklim usaha yang sehat, efisien dan transparan, melaksanakan peraturan
perundang-undangan dan penegakan hukum secara konsisten. Antara lain yang harus
dilakukan :

Menjaga

stabilitas

Politik,

Ekonomi,

Hankam

dan

social

budaya

secara

berkesinambungan.

Melaksanakan koordinasi secara efektif antar penyelenggara negara dalam


penyusunan Regulasi berdasarkan sistem hukum nasional dengan memprioritaskan
kebijakan yang sesuai dengan kepentingan publik, dunia usaha dan masyarakat.

Mengikutsertakan

Stakeholder

dan

dunia

bertanggungjawab dalam penyusunan Regulasi.

10

usaha

serta

masyarakat

secara

Menciptakan sistem politik yang sehat dengan penyelenggara negara yang memiliki
integritas dan profesionalitas yang tinggi.

Melaksanakan peraturan perundang-undangan dan penegakan hukum secara konsisten.

Mencegah terjadinya korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).

Mengatur

kewenangan

dan

desentralisasi

pemerintahan

yang

jelas

dalam

meningkatkan pelayanan masyarakat dengan integritas yang tinggi mendukung


terciptanya iklim usaha yang sehat, efisien dan transparan

Membuat peraturan yang efektif dan berkeadilan

Menyediakan public service yang efektif dan accountable

Menegakkan HAM

Melindungi lingkungan hidup

Mengurus standar kesehatan dan standar keselamatan publik

Membuka ruang publik yang transparan terhadap informasi

Dunia usaha sebagai pelaku pasar menerapkan Good Corporate Governance sebagai
pedoman dasar pelaksanaan usaha

Transfer ilmu pengetahuan dan tehnologi kepada masyarakat

Menyediakan kredit bagi pengembangan UMKM di lingkungannya maupun yang


mendukung usahanya.

2. Masyarakat sebagai pengguna produk dan jasa dunia usaha serta pihak yang terkena
dampak dari keberadaan perusahaan, menunjukkan kepedulian dan melakukan kontrol
sosial secara aktif dan obyektif serta ikut bertanggung jawab.

Melakukan kontrol sosial dengan memberikan perhatian dan kepedulian terhadap


pelayanan masyarakat yang dilakukan penyelenggara negara serta terhadap kegiatan
dan produk atau jasa yang dihasilkan oleh dunia usaha, melalui penyampaian pendapat
secara objektif dan bertanggung jawab.

Melakukan komunikasi dengan penyelenggara negara dan dunia usaha dalam


mengekspresikan pendapat dan keberatan masyarakat.

Mematuhi peraturan perundang-undangan dengan penuh kesadaran dan tanggung


jawab.

Menjaga agar hak-hak masyarakat terlindungi bersama.

Mempengaruhi kebijakan publik yang dibuat dan dijalankan oleh pemerintah.

11

1.

2.

Sebagai sarana cheks and balances terhadap pemerintah

Mengawasi penyalahgunaan kewenangan sosial pemerintah

Mengembangkan Sumber Daya Manusia secara bersama-sama.

Sarana berkomunikasi, dialog dan gotong royong sesama anggota masyarakat.


Dengan berbagai statement negatif yang dilontarkan terhadap pemerintah atas keadaan

Indonesia saat ini. Banyak hal mendasar yang harus diperbaiki, yang berpengaruh terhadap
clean and good governance, diantaranya:
Integritas Pelaku Pemerintahan
Peran pemerintah yang sangat berpengaruh, maka integritas dari para pelaku
pemerintahan cukup tinggi tidak akan terpengaruh walaupun ada kesempatan untuk
melakukan penyimpangan misalnya korupsi.
Kondisi Politik dalam Negeri
Jangan dianggap lumrah setiap hambatan dan masalah yang dihadirkan oleh politik.
Bagi terwujudnya good governance konsep politik yang tidak/kurang demokratis yang
berimplikasi pada berbagai persoalan di lapangan. Maka tentu harus segera dilakukan

3.

perbaikan.
Kondisi Ekonomi Masyarakat
Krisis ekonomi bisa melahirkan berbagai masalah sosial yang bila tidak teratasi akan

4.

mengganggu kinerja pemerintahan secara menyeluruh.


Kondisi Sosial Masyarakat
Masyarakat yang solid dan berpartisipasi aktif akan sangat menentukan berbagai

5.

kebijakan pemerintahan. Khususnya dalam proses penyelenggaraan pemerintahan


yang merupakan perwujudan riil good governance. Masyarakat juga menjalankan
fungsi pengawasan yang efektif dalam pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan.
Namun jika masyarakat yang belum berdaya di hadapan negara, dan masih banyak
timbul masalah sosial di dalamnya seperti konflik dan anarkisme kelompok, akan
sangat kecil kemungkinan good governance bisa ditegakkan.
Sistem Hukum
Menjadi bagian yang tidak terpisahkan disetiap penyelenggaraan negara. Hukum
merupakan faktor penting dalam penegakan good governance. Kelemahan sistem
hukum akan berpengaruh besar terhadap kinerja pemerintahan secara keseluruhan.
Good governanance tidak akan berjalan dengan baik di atas sistem hukum yang lemah.
Oleh karena itu penguatan sistim hukum atau reformasi hukum merupakan kebutuhan
mutlak bagi terwujudnya good governance.
Pemberantasan Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN) menjadi agenda wajib yang
tidak pernah lelah untuk dilakukan. Inilah satu hal yang tidak boleh dilewatkan untuk
12

mencapai pemerintahan yang baik. Mencegah (preventif) dan menanggulangi (represif)


adalah dua upaya yang dilakukan. Pencegahan dilakukan dengan memberi jaminan hukum
bagi perwujudan pemerintahan terbuka (open government). Jaminan kepada hak publik
seperti hak mengamati perilaku pejabat, hak memperoleh akses informasi, hak berpartisipasi
dalam pengambilan keputusan dan hak mengajukan keberatan bila ketiga hak di atas tidak
dipenuhi secara memadai. Jaminan yang diberikan jika memang benar-benar bisa
disosialisasikan dengan baik kepada masyarakat (Hardjasoemantri, 2003).
E.

Penutup
Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang sedang berjuang dan mendambakan

clean and good governance. Untuk mencapai good governance dalam tata pemerintahan di
Indonesia, maka prinsip-prinsip good governance hendaknya ditegakkan dalam berbagai
institusi penting pemerintahan, prinsp-prinsip tersebut meliputi: Partisipasi masyarakat,
tegaknya supremasi hukum, transparasi, peduli dan stakeholder, berorientas pada consensus,
kesetaraan,

efektifitas

dan

efisiensi,

akuntabilitas,

dan

visi

strategis.

Sehingga apa yang didambakan Indonesia menjadi negara yang Clean and good governance
dapat terwujud dan hilangnya faktor-faktor Kepentingan politik, KKN, peradilan yang tidak
adil, bekerja di luar kewenangan, dan kurangnya integritas dan transparansi adalah beberapa
masalah yang membuat pemerintahan yang baik masih belum bisa tercapai. Masyarakat dan
pemerintah yang masih bertolak berlakang untuk mengatasi masalah tersebut seharusnya
menjalin harmonisasi dan kerjasama mengatasi masalah-masalah yang ada. Good governance
sebagai upaya untuk mencapai pemerintahan yang baik tercermin dalam berbagai bidang yang
memiliki peran yang peting dalam gerak roda pemerintahan di Indonesia yang meliputi:
bidang politik, ekonomi, sosial, dan hukum.
Berbagai permasalahan nasional menjadi alasan belum maksimalnya good governance.
Dengan melaksanakan prinsip-prinsip good governance maka tiga pilarnya yaitu
pemerintah, korporasi, dan masyarakat sipil saling menjaga, support dan berpatisipasi
aktif dalam penyelnggaraan pemerintahan yang sedang dilakukan. Terutama antara
pemerintah dan masyarakat menjadi bagian penting tercapainya good governance.
Tanpa good governance sulit bagi masing-masing pihak untuk dapat saling
berkontribusi dan saling mengawasi. Good governance tidak akan bisa tercapai apabila
integritas pemerintah dalam menjalankan pemerintah tidak dapat dijamin. Hukum hanya
akan menjadi bumerang yang bisa balik menyerang negara dan pemerintah menjadi
lebih buruk apabila tidak dipakai sebagaimana mestinya. Konsistensi pemerintah dan
masyarakat harus terjamin sebagai wujud peran masing-masing dalam pemerintah.
13

Setiap pihak harus bergerak dan menjalankan tugasnya sesuai dengan kewenangan
masing-masing.

DAFTAR PUSTAKA
Dwiyanto, Agus, 2011, Mengembalikan Kepercayaan Publik Melalui Reformasi Birokrasi:
Gramedia Pustaka Utama.
Effendi, Sofian. 2005. Membangun Budaya Birokrasi Untuk Good Governance. Kantor
Menteri Negara PAN Jakarta.
Hardjasoemantri, Koesnadi. 2003, Good Governance Dalam Pembangunan Berkelanjutan Di
Indonesia. Bali.
Sedarmayanti, 2012, Membangun Sistem Manajemen Kinerja Guna Meningkatkan
Produktivitas Menuju Good Governance, Mandar Maju.
Suprayitno G., Khomsiyah, GI, dan Sedarnawati Y. 2004, Komitmen Menegakkan Good
Corporate Governance. The Indonesian Institute for Corporate Governance.
Tjokroamidjojo, Bintoro, 2001, Reformasi Administrasi Publik, Jakarta: MIA UNKRIS
Sumber Lainnya:
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 Amandemen
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara
yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme
FCGI. (2000). Corporate Governance. Forum for Corporate Governance in Indonesia. Jakarta.
Buletin Informasi Program Kemitraan untuk Pembaharuan Tata Pemerintahan di Indonesia,
2000

14