Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PASIEN

RESUME DIARE KRONIS TANPA


TANDA DEHIDRASI

Oleh:
dr. Dimas Tri Anantyo

Supervisor:
dr. Budi Santoso, SpA (K)
dr. I. Hartantyo, SpA (K)
dr. Ninung Rose D K, Msi.Med,SpA

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO
RUMAH SAKIT UMUM PUSAT Dr. KARIADI
SEMARANG
2013

LAPORAN PASIEN
RESUME DIARE KRONIS TANPA TANDA DEHIDRASI
A. IDENTITAS PENDERITA
Nama

: An. F

Umur

: 8 bulan

Jenis kelamin

: laki-laki

Alamat

: Krandon RT 8 RW 3 Warungasem Batang Jawa Tengah

No RM

: C423333/ 7313127

Tgl dirawat

: 10 September 2013

I. Anamnesis
a. Keluhan utama: Mencret
b. Riwayat Penyakit Sekarang:
+ sejak 3 minggu SMRS anak diare cair (+) 6-8 x/sehari, @ gelas belimbing, lendir (-),
darah (-), bau asam (-), nyemprot (-), tanda dehidrasi (-), mata cekung (-), saat menangis anak
masih mengeluarkan air mata, UUB cekung (-), muntah (-), demam (+), nglemeng, suhu : 38
C, sudah diberi paracetamol, demam turun kemudian naik kembali, menggigil (-), kejang (-).
Menangis saat BAK (-), BAK jumlah dan frekuensi berkurang (-). Batuk (-), berat badan
tidak naik (-), nafsu makan menurun (-), memar/ bengkak di sendi (-), perdarahan (-),
gangguan kesadaran (-).
Anak kemudian dibawa ke RS Bakti Widya dan dirawat selama 5 hari. Selama perawatan
anak mendapat injeksi antibiotik. Selama perawatan demam menurun, anak masih diare 2-3
x/ sehari. Karena sudah mengalami perbaikan anak dibawa pulang.
Saat di rumah 2 hari anak kembali diare cair (+) 6-8 x/ sehari, ampas (+), darah (-),
kemudian anak dirawat di RS Budi Rahayu selama 5 hari. Setelah mengalami perbaikan,
anak dibawa pulang kembali.
7 hari SMRS anak kembali diare cair (+) 6-8 x/ sehari, ampas (+), lendir (-), darah (-), @
gelas belimbing, mata cekung (+), UUB cekung (-). Anak kemudian dirawat di RSUD
Batang selama 7 hari, mendapat infus RL, injeksi meropenem, amikasin, L-Bio sachet,

paracetamol. Selama perawatan anak didiagnosa sepsis dan diare kronik. Karena tidak ada
perbaikan anak dirujuk ke RSDK.

c. Riwayat Penyakit Dahulu


Anak belum pernah sakit seperti ini sebelumnya
d. Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat anggota keluarga yang saat ini menderita diare disangkal
e. Riwayat Sosial Ekonomi
Sosial ekonomi kurang
f. Riwayat prenatal
Pemeriksaan prenatal di bidan teratur, ANC (+) 6 kali di bidan, minum vitamin (+),
penyakit kehamilan kencing manis, asma dan hipertensi disangkal, minum obat-obatan
atau jamu tanpa resep dokter selama hamil disangkal. Riwayat sakit panas ataupun
perdarahan selama hamil disangkal.
g. Riwayat kelahiran
No.
1.

Kehamilan dan Persalinan

Umur

Laki-laki, aterm, spontan, langsung menangis, dokter, BBL 3000

8 bulan

gram, PB 50 cm.

h. Riwayat pemeliharaan post natal


Pemeriksaan postnatal dilakukan di bidan, anak dinyatakan sehat.
i.

Riwayat kontrasepsi
Ibu menggunakan KB suntik 3 bulan
j. Riwayat makan dan minum
ASI : lahir sekarang. ASI saja sampai 6 bulan.
Usia 6 - 8 bulan : susu formula SGM 2, 3-4 x sehari @ 50 -100 cc + bubur susu promina 3
kali sachet (1/2 mangkok kecil), habis
Kesan : ASI eksklusif, kualitas dan kuantitas cukup.
k. Riwayat Imunisasi
Hepatitis B

: 4x (0, 2, 3, 4 bulan)
3

Polio

: 4x (0, 2, 3, 4 bulan)

BCG

: 1x (1 bulan, scar (+))

DPT

: 3x (2,3,4 bulan)

Campak

:-

Kesan: imunisasi dasar lengkap sesuai usia


k. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan Anak
Senyum

: 2 bulan

Miring

: 3 bulan

Tengkurap

: 4 bulan

Duduk

: 6 bulan

Gigi keluar

: 7 bulan

Merangkak

: 8 bulan

Motorik halus: anak mampu memegang benda/ mainan


Bahasa : saat ini anak sudah dapat mengucapkan kata mama, papa, maem
Personal sosial: anak mampu senyum saat diajak ciluk ba
Kesan: perkembangan sesuai usia
Riwayat Pertumbuhan
Berat Lahir

: 3 kg

Berat bulan lalu

: 6,8 kg

Berat saat ini

: 6,3 kg

TB saat ini

: 63 cm

WAZ : -2,09 SD
HAZ : 1,4 SD
WHZ : -2,81 SD
Kesan:
Cross sectional : Berat badan normal,
Perawakan normal, Gizi kurang
Longitudinal : Loss of growth (T3)
Pemeriksaan fisik
Tanggal 10 September 2013 di C1L2 RSDK
An. Laki-laki, 8 bulan, BB : 6,3 kg, PB : 63 cm
4

KU: Sadar, kurang aktif, nafas spontan (+), tanda dehidrasi (-)
TV :

HR : 124/menit

N : regular,isi dan tegangan cukup,

RR : 28x/menit

t : 38,5oC

Kepala : LK 43,5 (mesosefal)


Mata

: Anemis (-), sklera ikterik (-), mata cekung (-/-)

Hidung : discharge (-), napas cuping (-)


Mulut : sianosis (-), tonsil T1/T1, hiperemis (-)
Telinga : discharge (-)
Leher : kaku kuduk (-), pembesaran nnll -/Dada : simetris, retraksi (-)
Cor

: BJ I-II normal, bising (-) gallop (-)

Pulmo : SD vesikuler (+/+), ST hantaran (-/-), Rh -/-, Wh -/Abd

: datar, supel, BU (+)N, turgor kembali cepat


Hepar/Lien tidak teraba

Genital : perempuan, OUE hiperemis (-)


Ekstremitas :
edema

-/-

-/-

sianosis

-/-

-/-

akral dingin

-/-

-/-

r. fisiologis

+N/+N +N/+N

Hematologi Rutin
Pemeriksaan
Hematologi
Hb
Ht
Eritrosit
MCH
MCV
MCHC
Lekosit
Trombosit
GDS
Na
K

Satuan

10/9/13

gr%
%
Juta/mm
k
Pg
Fl
g/dl
ribu/mm
k
ribu/mm
k
mg/dl
mmol/L
mmol/L

10,4
31,4
4,21
25,7
76.5
33,5
20,3
135
168
142
3,5

Cl
Ca

mmol/L
mmol/L

106
2,14

ASSESSMENT :
- Diare kronik tanpa tanda dehidrasi dd/osmotik
sekretorik
- Obs. Febris 3 minggu dd/ISK
PROGRAM
- Evaluasi keadaan umum, tanda vital, tanda dehidrasi, syok
- Evaluasi jumlah diare, muntah
TERAPI :
Inf. D5 NS 480/20/5 tpm
Injeksi ceftriaxone 500 mg/24 jam
PO : - 100-350 cc oralit tiap muntah / diare
- Paracetamol syrup 60 mg (1/2cth) tiap 4-6 jam (bila t38c)
- Zinc 20mg/ 24 jam (10-14 hari)
- Lacto-B 2 x sach
Diet : - ASI ad lib
- susu 5 x 100cc LLM

Hari
10/9/13
C1L2

11/9/13
C1L2

Klinis / Laboratorium

Assesment

KU: Sadar, kurang aktif, nafas spontan (+), tanda


dehidrasi (-)
TV :
HR : 110/menit
N : i/t ckp
RR : 28x/menit
t : 38,3oC
Kepala : LK 43,5 (mesosefal), UUB cekung (-)
Mata : Anemis (-), sklera ikterik (-), mata
cekung (-/-)
Hidung : discharge (-), napas cuping (-)
Mulut : sianosis (-), T1/T1, hiperemis (-)
Telinga : discharge (-)
Leher : kaku kuduk (-), pembesaran nnll -/Dada : simetris, retraksi (-)
Cor
: BJ I-II normal, bising (-) gallop (-)
Pulmo : SD vesikuler (+/+), ST hantaran (-/-),
Rh -/-, Wh -/Abd
: datar, supel, BU (+)N, turgor kbl cpt
Hepar/Lien tidak teraba
Genital : perempuan, OUE hiperemis (-)
Ekstremitas :
edema
-/-/sianosis
-/-/akral dingin
-/-/r. fisiologis +N/+N +N/+N

- Diare kronik tanpa


tanda
dehidrasi
dd/osmotik
sekretorik
- Obs. Febris 3
minggu dd/ISK

KU: Sadar, kurang aktif, nafas spontan (+), tanda


dehidrasi (-)
TV :
HR : 103/menit
N : i/t ckp
RR : 28x/menit
t : 36,3oC
Kepala : LK 43,5 (mesosefal), UUB cekung (-)
Mata : Anemis (-), sklera ikterik (-), mata
cekung (-/-)
Hidung : discharge (-), napas cuping (-)
Mulut : sianosis (-), T1/T1, hiperemis (-)
Telinga : discharge (-)
Leher : kaku kuduk (-), pembesaran nnll -/Dada : simetris, retraksi (-)
Cor
: BJ I-II normal, bising (-) gallop (-)
Pulmo : SD vesikuler (+/+), ST hantaran (-/-),
Rh -/-, Wh -/Abd
: datar, supel, BU (+)N, turgor kbl cpt
Hepar/Lien tidak teraba
Genital : perempuan, OUE hiperemis (-)
Ekstremitas :
edema
-/-/sianosis
-/-/akral dingin
-/-/-

- Diare kronik tanpa


tanda
dehidrasi
dd/osmotik
sekretorik
- Obs. Febris 3
minggu dd/ISK

Terapi / program
Inf. D5 NS 480/20/5 tpm
Injeksi ceftriaxone 500 mg/24
jam
PO : - 100-350 cc oralit tiap
muntah / diare
- Paracetamol syrup 60
mg (1/2cth) tiap 4-6 jam
(bila t38c)
- Zinc 20mg/ 24 jam (1014 hari)
- Lacto-B 2 x sach
Diet : - ASI ad lib
- susu 5 x 100cc LLM
Program
evaluasi KU, TV
cek DR, diffcount,
GDT, hitung jenis,
SGOT SGPT, ur
crea, elektrolit, ca,
gds, feses rutin,
kultur feses
konsul THT
hasil konsul THT :
ADS serumen
Inf. D5 NS 480/20/5 tpm
Injeksi ceftriaxone 500 mg/24
jam
PO : - 100-350 cc oralit tiap
muntah / diare
- Paracetamol syrup 60
mg (1/2cth) tiap 4-6 jam
(bila t38c)
- Zinc 20mg/ 24 jam (1014 hari)
- Lacto-B 2 x sach
Diet : - ASI ad lib
- susu 5 x 100cc LLM
Program
evaluasi KU, TV
cek DR, diffcount,
kultur darah,CD4,
urin rutin, kultur
urin

12/9/13
C1L2

13/9/13
C1L2

14/9/13
C1L2

r. fisiologis +N/+N +N/+N


KU: Sadar, kurang aktif, nafas spontan (+), tanda
dehidrasi (-), diare 2x ampas (+)
TV :
HR : 118/menit
N : i/t ckp
RR : 30x/menit
t : 36,8oC
Kepala : LK 43,5 (mesosefal), mata cekung (-/-)
Mata : Anemis (-), sklera ikterik (-), mata
cekung (-/-)
Hidung : discharge (-), napas cuping (-)
Mulut : sianosis (-), T1/T1, hiperemis (-)
Telinga : discharge (-)
Leher : kaku kuduk (-), pembesaran nnll -/Dada : simetris, retraksi (-)
Cor
: BJ I-II normal, bising (-) gallop (-)
Pulmo : SD vesikuler (+/+), ST hantaran (-/-),
Rh -/-, Wh -/Abd
: datar, supel, BU (+)N, turgor kbl cpt
Hepar/Lien tidak teraba
Genital : perempuan, OUE hiperemis (-)
Ekstremitas :
edema
-/-/sianosis
-/-/akral dingin
-/-/r. fisiologis +N/+N +N/+N
KU: Sadar, kurang aktif, nafas spontan (+), tanda
dehidrasi (-), diare (-)
TV :
HR : 120/menit
N : i/t ckp
RR : 30x/menit
t : 37,5oC
Kepala : LK 43,5 (mesosefal), mata cekung (-/-)
Mata : Anemis (-), sklera ikterik (-), mata
cekung (-/-)
Hidung : discharge (-), napas cuping (-)
Mulut : sianosis (-), T1/T1, hiperemis (-)
Telinga : discharge (-)
Leher : kaku kuduk (-), pembesaran nnll -/Dada : simetris, retraksi (-)
Cor
: BJ I-II normal, bising (-) gallop (-)
Pulmo : SD vesikuler (+/+), ST hantaran (-/-),
Rh -/-, Wh -/Abd
: datar, supel, BU (+)N, turgor kbl cpt
Hepar/Lien tidak teraba
Genital : perempuan, OUE hiperemis (-)
Ekstremitas :
edema
-/-/sianosis
-/-/akral dingin
-/-/r. fisiologis +N/+N +N/+N
KU: Sadar, kurang aktif, nafas spontan (+), tanda
dehidrasi (-), diare (-)
TV :
HR : 110/menit
N : i/t ckp
RR : 30x/menit
t : 37,2oC
Kepala : LK 43,5 (mesosefal), mata cekung (-/-)
Mata : Anemis (-), sklera ikterik (-), mata
cekung (-/-)
Hidung : discharge (-), napas cuping (-)
Mulut : sianosis (-), T1/T1, hiperemis (-)
Telinga : discharge (-)
Leher : kaku kuduk (-), pembesaran nnll -/Dada : simetris, retraksi (-)
Cor
: BJ I-II normal, bising (-) gallop (-)

- Diare kronik tanpa


tanda
dehidrasi
dd/osmotik
sekretorik
- Obs. Febris 3
minggu dd/ISK

Inf. D5 NS 480/20/5 tpm


Injeksi ceftriaxone 500 mg/24
jam
PO : - 100-350 cc oralit tiap
muntah / diare
- Paracetamol syrup 60
mg (1/2cth) tiap 4-6 jam
(bila t38c)
- Zinc 20mg/ 24 jam (1014 hari)
- Lacto-B 2 x sach
Diet : - ASI ad lib
- susu 5 x 100cc LLM
Program
evaluasi KU, TV
cek DR, diffcount,
prep darah
tepi,CD4, urin rutin,
kultur urin
kultur feses

- Diare kronik tanpa


tanda
dehidrasi
dd/osmotik
sekretorik
- Obs. Febris 3
minggu dd/ISK

Inf. D5 NS 480/20/5 tpm


Injeksi ceftriaxone 500 mg/24
jam
PO : - 100-350 cc oralit tiap
muntah / diare
- Paracetamol syrup 60
mg (1/2cth) tiap 4-6 jam
(bila t38c)
- Zinc 20mg/ 24 jam (1014 hari)
- Lacto-B 2 x sach
Diet : - ASI ad lib
- susu 5 x 100cc LLM
Program
evaluasi KU, TV

- Diare kronik tanpa


tanda
dehidrasi
dd/osmotik
sekretorik
- Obs. Febris 3
minggu dd/ISK
- Anemia mikrositik
normokromik
dd/ def FE

Inf. D5 NS 480/20/5 tpm


Injeksi ceftriaxone 500 mg/24
jam
PO : - 100-350 cc oralit tiap
muntah / diare
- Paracetamol syrup 60
mg (1/2cth) tiap 4-6 jam
(bila t38c)
- Zinc 20mg/ 24 jam (1014 hari)
- Lacto-B 2 x sach
Diet : - ASI ad lib
- susu 5 x 100cc LLM

15/9/13
C1L2

16/9/13
C1L2

17/9/13
C1L2

Pulmo : SD vesikuler (+/+), ST hantaran (-/-),


Rh -/-, Wh -/Abd
: datar, supel, BU (+)N, turgor kbl cpt
Hepar/Lien tidak teraba
Genital : perempuan, OUE hiperemis (-)
Ekstremitas :
edema
-/-/sianosis
-/-/akral dingin
-/-/r. fisiologis +N/+N +N/+N
KU: Sadar, kurang aktif, nafas spontan (+), tanda
dehidrasi (-), diare (+)
TV :
HR : 120/menit
N : i/t ckp
RR : 30x/menit
t : 36,3oC
Kepala : LK 43,5 (mesosefal), mata cekung (-/-)
Mata : Anemis (-), sklera ikterik (-), mata
cekung (-/-)
Hidung : discharge (-), napas cuping (-)
Mulut : sianosis (-), T1/T1, hiperemis (-)
Telinga : discharge (-)
Leher : kaku kuduk (-), pembesaran nnll -/Dada : simetris, retraksi (-)
Cor
: BJ I-II normal, bising (-) gallop (-)
Pulmo : SD vesikuler (+/+), ST hantaran (-/-),
Rh -/-, Wh -/Abd
: datar, supel, BU (+)N, turgor kbl cpt
Hepar/Lien tidak teraba
Genital : perempuan, OUE hiperemis (-)
Ekstremitas :
edema
-/-/sianosis
-/-/akral dingin
-/-/r. fisiologis +N/+N +N/+N
KU: Sadar, kurang aktif, nafas spontan (+), tanda
dehidrasi (-), diare (-)
TV :
HR : 120/menit
N : i/t ckp
RR : 30x/menit
t : 36,6oC
Kepala : LK 43,5 (mesosefal), mata cekung (-/-)
Mata : Anemis (-), sklera ikterik (-), mata
cekung (-/-)
Hidung : discharge (-), napas cuping (-)
Mulut : sianosis (-), T1/T1, hiperemis (-)
Telinga : discharge (-)
Leher : kaku kuduk (-), pembesaran nnll -/Dada : simetris, retraksi (-)
Cor
: BJ I-II normal, bising (-) gallop (-)
Pulmo : SD vesikuler (+/+), ST hantaran (-/-),
Rh -/-, Wh -/Abd
: datar, supel, BU (+)N, turgor kbl cpt
Hepar/Lien tidak teraba
Genital : perempuan, OUE hiperemis (-)
Ekstremitas :
edema
-/-/sianosis
-/-/akral dingin
-/-/r. fisiologis +N/+N +N/+N
KU: Sadar, kurang aktif, nafas spontan (+), tanda
dehidrasi (-), diare (-)
TV :
HR : 120/menit
N : i/t ckp
RR : 30x/menit
t : 36,3oC

Program
evaluasi KU, TV
tunggu hasil kultur
darah dan kultur
urin

- Diare kronik tanpa


tanda
dehidrasi
dd/osmotik
sekretorik
- Obs. Febris 3
minggu dd/ISK
- Anemia mikrositik
normokromik
dd/ def FE

Inf. D5 NS 480/20/5 tpm


Injeksi ceftriaxone 500 mg/24
jam
Inj amikasin 1 x 50 mg
PO : - 100-350 cc oralit tiap
muntah / diare
- Paracetamol syrup 60
mg (1/2cth) tiap 4-6 jam
(bila t38c)
- Zinc 20mg/ 24 jam (1014 hari)
- Lacto-B 2 x sach
- sequestran 2 x 1/6 sach
Diet : - ASI ad lib
- susu 5 x 100cc LLM
Program
evaluasi KU, TV
tunggu hasil kultur
darah dan kultur
urin

- Diare kronik tanpa


tanda
dehidrasi
dd/osmotik
sekretorik
- Obs. Febris 3
minggu dd/ISK
- Anemia mikrositik
normokromik
dd/ def FE

Inf. D5 NS 480/20/5 tpm


Injeksi ceftriaxone 500 mg/24
jam
Inj amikasin 1 x 50 mg
PO : - 100-350 cc oralit tiap
muntah / diare
- Paracetamol syrup 60
mg (1/2cth) tiap 4-6 jam
(bila t38c)
- Zinc 20mg/ 24 jam (1014 hari)
- Lacto-B 2 x sach
- sequestran 2 x 1/6 sach
Diet : - ASI ad lib
- susu 5 x 100cc LLM
Program
evaluasi KU, TV
tunggu hasil kultur
urin

- Diare kronik tanpa


tanda
dehidrasi
dd/osmotik
sekretorik

Inf. D5 NS 480/20/5 tpm


Injeksi ceftriaxone 500 mg/24
jam
Inj amikasin 1 x 50 mg

Kepala : LK 43,5 (mesosefal), mata cekung (-/-)


Mata : Anemis (-), sklera ikterik (-), mata
cekung (-/-)
Hidung : discharge (-), napas cuping (-)
Mulut : sianosis (-), T1/T1, hiperemis (-)
Telinga : discharge (-)
Leher : kaku kuduk (-), pembesaran nnll -/Dada : simetris, retraksi (-)
Cor
: BJ I-II normal, bising (-) gallop (-)
Pulmo : SD vesikuler (+/+), ST hantaran (-/-),
Rh -/-, Wh -/Abd
: datar, supel, BU (+)N, turgor kbl cpt
Hepar/Lien tidak teraba
Genital : perempuan, OUE hiperemis (-)
Ekstremitas :
edema
-/-/sianosis
-/-/akral dingin
-/-/r. fisiologis +N/+N +N/+N

- Obs. Febris 3
minggu dd/ISK
- Anemia mikrositik
normokromik
dd/ def FE

Program
evaluasi KU, TV
boleh pulang

Pemeriksaan laboratorium :
Pemeriksaan
Hematologi
Hb
Ht
Eritrosit
MCH
MCV
MCHC
Lekosit
Trombosit
GDS
Na
K
Cl
Ca
Ur
Cre
SGOT
SGPT

10/9/13

12/9/13

14/9/13

10,4
31,4
4,21
25,7
76.5
33,5
20,3
135
168 (H)
142
3,5
106
2,14
18
0,5 (L)
77 (H)
156 (H)

11,1
33,3
4,34
25,6
76.7
33,3
19,3 (L)

9,3 (L)
26,7 (L)
3,47 (L)
26,7
76,8 (L)
34,7
17,3

Clump ++

99, Clp ++

Pemeriksaaan laboratorium
10/9/2013
Feses rutin
Sisa lemak +
Sisa protein +
Sudan 3 +
Bakteri +
Benzidin test +

10

PO : - cefixime 2 x 25 mg
- 100-350 cc oralit tiap
muntah / diare
- Paracetamol syrup 60
mg (1/2cth) tiap 4-6 jam
(bila t38c)
- Zinc 20mg/ 24 jam (1014 hari)
- Lacto-B 2 x sach
- sequestran 2 x 1/6 sach
- candistatin 3 x 1,5 cc
Diet : - ASI ad lib
- susu 5 x 100cc LLM

11/9/2013
Kultur bactec dan sensitivitas darah
: tidak ada pertumbuhan kuman
Urin rutin
Sedimen lekosit 0-1 LPK
Sedimen eritrosit 1-2 LPB
14/9/2013
Feses rutin
Sisa karbohidrat +
Sisa protein +
Sisa daging +
Bakteri ++
Hitung Jenis + Darah Tepi
Eosinofil
2%
Basofil
0%
Batang
0%
Segmen
78 %
Limfosit
13 %
Monosit
7%
Eritrosit
Trombosit
Leukosit

anisositosis ringan, poikilositosis ringan, pear shape, tear drop


clumping ++ estimasi sulit dilakukan, bentuk besar
estimasi jumlah tampak normal, vacuolisasi +, limfosit teraktivasi +

15/9/2013
Urin rutin
Sedimen epitel 0-1 LPK
Sedimen eritrosit 1-2 LPB
PEMBAHASAN
Menurut WHO (1999) secara klinis diare didefinisikan sebagai bertambahnya
defekasi (buang air besar) lebih dari biasanya/lebih dari tiga kali sehari, disertai dengan
perubahan konsisten tinja (menjadi cair) dengan atau tanpa darah. Secara klinik dibedakan
tiga macam sindroma diare yaitu diare cair akut, disentri, dan diare persisten.
Sedangkan menurut menurut Depkes RI (2005), diare adalah suatu penyakit dengan
tanda-tanda adanya perubahan bentuk dan konsistensi dari tinja, yang melembek sampai
mencair dan bertambahnya frekuensi buang air besar biasanya tiga kali atau lebih dalam
sehari .
Departemen Kesehatan RI (2000), mengklasifikasikan jenis diare menjadi empat
kelompok yaitu:
11

1.

Diare akut: yaitu diare yang berlangsung kurang dari empat belas hari (umumnya kurang

dari tujuh hari).


2. Disentri; yaitu diare yang disertai darah dalam tinjanya.
3. Diare persisten; yaitu diare yang berlangsung lebih dari empat belas hari secara terus
menerus.
4. Diare dengan masalah lain: anak yang menderita diare (diare akut dan persisten) mungkin
juga disertai penyakit lain seperti demam, gangguan gizi atau penyakit lainnya.
Menurut Suraatmaja, (2007)di bagi menjadi 2 yaitu:
1. Berdasarkan lamanya diare:
a. Diare akut, yaitu diare yang berlangsung kurang dari 14 hari.
b. Diare kronik, yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari dengan
kehilangan berat badan atau berat badan tidak bertambah (failure to thrive) selama masa diare
tersebut.
2. Berdasarkan mekanisme patofisiologik:
a. Diare sekresi (secretory diarrhea)
b. Diare osmotic (osmotic diarrhea)
Menurut World Gastroenterology Organization Global Guidelines 2005, etiologi diare
akut dibagi atas empat penyebab:
1. Bakteri : Shigella, Salmonella, E. Coli, Gol. Vibrio, Bacillus cereus, Clostridium perfringens,
Stafilokokus aureus, Campylobacter aeromonas.
2. Virus : Rotavirus, Adenovirus, Norwalk virus, Coronavirus, Astrovirus.
3. Parasit : Protozoa, Entamoeba histolytica, Giardia lamblia, Balantidium coli, Trichuris
trichiura, Cryptosporidium parvum, Strongyloides stercoralis.
4. Non infeksi : malabsorpsi, keracunan makanan, alergi, gangguan motilitas, imunodefisiensi,
kesulitan makan, dll.
Diare dapat ditularkan dengan berbagai cara yang mengakibatkan timbulnya infeksi
antara lain:
1.

Makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi, baik yang sudah dicemari oleh serangga

atau kontaminasi oleh tangan yang kotor.


2. Bermain dengan mainan yang terkontaminasi, apalagi pada bayi sering memasukan tangan/
mainan / apapun kedalam mulut. Karena virus ini dapat bertahan dipermukaan udara sampai
beberapa hari.
3. Pengunaan sumber air yang sudah tercemar dan tidak memasak air dengan benar
4. Pencucian dan pemakaian botol susu yang tidak bersih.
5. Tidak mencuci tangan dengan bersih setelah selesai buang air besar atau membersihkan tinja
anak yang terinfeksi, sehingga mengkontaminasi perabotan dan alat-alat yang dipegang
Penderita dengan diare cair mengeluarkan tinja yang mengandung sejumlah ion
natrium, klorida, dan bikarbonat. Kehilangan air dan elektrolit ini bertambah bila ada muntah

12

dan kehilangan air juga meningkat bila ada panas. Hal ini dapat menyebabkan dehidrasi,
asidosis, dan hipovolemia. Dehidrasi merupakan keadaan yang paling berbahaya karena dapat
menyebabkan hipovolemia, kolaps kardiovaskuler dan kematian bila tidak diobati dengan
tepat. Dehidrasi yang terjadi menurut tonisitas plasma dapat berupa dehidrasi ocialc,
dehidrasi hipertonik (hipernatremik) atau dehidrasi hipotonik. Menurut derajat dehidrasinya
oci tanpa dehidrasi, dehidrasi ringan, dehidrasi sedang atau dehidrasi berat (Juffrie, 2010).
Diare akut karena infeksi dapat disertai muntah-muntah, demam, tenesmus,
hematoschezia, nyeri perut dan atau kejang perut. Akibat paling fatal dari diare yang
berlangsung lama tanpa rehidrasi yang adekuat adalah kematian akibat dehidrasi yang
menimbulkan renjatan hipovolemik atau gangguan biokimiawi berupa asidosis ocialc yang
berlanjut. Seseoran yang kekurangan cairan akan merasa haus, berat badan berkurang, mata
cekung, lidah kering, tulang pipi tampak lebih menonjol, turgor kulit menurun serta suara
menjadi serak. Keluhan dan gejala ini disebabkan oleh deplesi air yang ocialc. Karena
kehilangan bikarbonat (HCO3) maka perbandingannya dengan asam karbonat berkurang
mengakibatkan penurunan Ph darah yang merangsang pusat pernapasan sehingga frekuensi
pernapasan meningkat dan lebih dalam (pernapasan Kussmaul)
Gangguan kardiovaskuler pada tahap hipovolemik yang berat dapat berupa renjatan
dengan tanda-tanda denyut nadi cepat (> 120 x/menit), tekanan darah menurun sampai tidak
terukur. Pasien mulai gelisah, muka pucat, akral dingin dan kadang-kadang sianosis. Karena
kekurangan kalium pada diare akut juga dapat timbul aritmia jantung.
Penurunan tekanan darah akan menyebabkan perfusi ginjal menurun sampai timbul
oliguria/anuria. Bila keadaan ini tidak segera diatsi akan timbul penyulit nekrosis tubulus
ginjal akut yang berarti suatu keadaan gagal ginjal akut.
Tabel 1.1 Penilaian Derajat Dehidrasi (Mansjoer, 2000).
Penilaian
Keadaan umum

Ringan
baik, sadar

Sedang
gelisah, rewel

Berat
lesu, lunglai atau tidak

Mata
Air mata
Mulut dan lidah

Normal
ada
Basah

cekung
tidak ada
Kering

sadar
sangat cekung
kering
tidak
ada,

Rasa haus

minum

biasa,

kering
tidak haus, ingin minum malas/tidak oci minum

Turgor kulit
Hasil pemeriksaan

haus
Kembali
tanpa dehidrasi

banyak
kembali lambat
kembali sangat lambat
Dehidrasi
ringan, Bila ada satu tanda

13

sangat

sedang,

bila

ada ditambah

satu

tanda ditambah satu lebih tanda lain.


atau lebih tanda lain.
Menurut Hassan dan Alatas (1998) pemeriksaan laboratorium pada diare adalah:
1. Feses
a. Makroskopis dan Mikroskopis
b. Ph dan kadar gula pada tinja dengan kertas lakmus dan tablet clinitest, bila diduga terdapat
intoleransi gula.
c. Biakan dan uji resisten.
2. Pemeriksaan keseimbangan asam basa dalam darah, dengan menentukan Ph dan cadangan
alkalin atau dengan analisa gas darah.
3. Ureum kreatinin untuk mengetahui faal ginjal.
4. Elektrolit terutama natrium, kalium dan fosfor dalam serium.
5. Pemeriksaan Intubasi deudenum untuk mengetahui jenis jasad renik atau parasit.
Menurut Kemenkes RI (2011), prinsip tatalaksana diare pada balita adalah LINTAS
DIARE (Lima Langkah Tuntaskan Diare), yang didukung oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia
dengan rekomendasi WHO. Rehidrasi bukan satu-satunya cara untuk mengatasi diare tetapi
memperbaiki kondisi usus serta mempercepat penyembuhan/menghentikan diare dan
mencegah anak kekurangan gizi akibat diare juga menjadi cara untuk mengobati diare.
Adapun program LINTAS DIARE yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.

Rehidrasi menggunakan Oralit osmolalitas rendah


Zinc diberikan selama 10 hari berturut-turut
Teruskan pemberian ASI dan Makanan
Antibiotik Selektif
Nasihat kepada orang tua/pengasuh

a. Oralit
Untuk mencegah terjadinya dehidrasi dapat dilakukan mulai dari rumah tangga dengan
memberikan oralit osmolaritas rendah, dan bila tidak tersedia berikan cairan rumah tangga
seperti air tajin, kuah sayur, air matang. Oralit saat ini yang beredar di pasaran sudah oralit
yang baru dengan osmolaritas yang rendah, yang dapat mengurangi rasa mual dan muntah.
Oralit merupakan cairan yang terbaik bagi penderita diare untuk mengganti cairan yang
hilang. Bila penderita tidak oci minum harus segera di bawa ke sarana kesehatan untuk
mendapat pertolongan cairan melalui ocial. Pemberian oralit didasarkan pada derajat
dehidrasi (Kemenkes RI, 2011).
1) Diare tanpa dehidrasi
Umur < 1 tahun : - gelas setiap kali anak mencret

14

atau

Umur 1 4 tahun : - 1 gelas setiap kali anak mencret


Umur diatas 5 Tahun : 1 1 gelas setiap kali anak mencret
2) Diare dengan dehidrasi ringan sedang
Dosis oralit yang diberikan dalam 3 jam pertama 75 ml/ kg bb dan selanjutnya diteruskan
dengan pemberian oralit seperti diare tanpa dehidrasi.
3) Diare dengan dehidrasi berat
Penderita diare yang tidak dapat minum harus segera dirujuk ke Puskesmas untuk di ocial.
(Kemenkes RI, 2011)
Untuk anak dibawah umur 2 tahun cairan harus diberikan dengan sendok dengan cara
1 sendok setiap 1 sampai 2 menit. Pemberian dengan botol tidak boleh dilakukan. Anak yang
lebih besar dapat minum langsung dari gelas. Bila terjadi muntah hentikan dulu selama 10
menit kemudian mulai lagi perlahan-lahan misalnya 1 sendok setiap 2-3 menit. Pemberian
cairan ini dilanjutkan sampai dengan diare berhenti (Juffrie, 2010).
b. Zinc
Zinc merupakan salah satu mikronutrien yang penting dalam tubuh. Zinc dapat
menghambat enzim INOS (Inducible Nitric Oxide Synthase), dimana ekskresi enzim ini
meningkat selama diare dan mengakibatkan hipersekresi epitel usus. Zinc juga berperan
dalam epitelisasi dinding usus yang mengalami kerusakan morfologi dan fungsi selama
kejadian diare (Kemenkes RI, 2011).
Pemberian Zinc selama diare terbukti mampu mengurangi lama dan tingkat keparahan
diare, mengurangi frekuensi buang air besar, mengurangi volume tinja, serta menurunkan
kekambuhan kejadian diare pada 3 bulan berikutnya. Berdasarkan bukti ini semua anak diare
harus diberi Zinc segera saat anak mengalami diare. Dosis pemberian Zinc pada balita:
1) Umur <6 bulan : tablet (10 mg) per hari selama 10 hari
2) Umur > 6 bulan : 1 tablet (20 mg) per hari selama 10 hari.
Zinc tetap diberikan selama 10 hari walaupun diare sudah berhenti. Cara pemberian
tablet zinc : Larutkan tablet dalam 1 sendok makan air matangatau ASI, sesudah larut berikan
pada anak diare (Kemenkes RI, 2011).
c.

Pemberian ASI/makanan
Pemberian makanan selama diare bertujuan untuk memberikan gizi pada penderita
terutama pada anak agar tetap kuat dan tumbuh serta mencegah berkurangnya berat badan.
Anak yang masih minum ASI harus lebih sering di beri ASI. Anak yang minum susu formula
juga diberikan lebih sering dari biasanya. Anak usia 6 bulan atau lebih termasuk bayi yang
telah mendapatkan makanan padat harus diberikan makanan yang mudah dicerna dan

15

diberikan sedikit lebih sedikit dan lebih sering. Setelah diare berhenti, pemberian makanan
ekstra diteruskan selama 2 minggu untuk membantu pemulihan berat badan (Kemenkes RI,
2011).
d. Pemberian antibiotika hanya atas indikasi
Antibiotika tidak boleh digunakan secara rutin karena kecilnya kejadian diare pada
balita yang disebabkan oleh bakteri. Antibiotika hanya bermanfaat pada penderita diare
dengan darah (sebagian besar karena shigellosis), suspek kolera (Kemenkes RI, 2011).
e. Pemberian Nasihat
Menurut Kemenkes RI (2011), ibu atau pengasuh yang berhubungan erat dengan balita
harus diberi nasehat tentang:
1)
2)
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)

Cara memberikan cairan dan obat di rumah


Kapan harus membawa kembali balita ke petugas kesehatan bila :
Diare lebih sering
Muntah berulang
Sangat haus
Makan/minum sedikit
Timbul demam
Tinja berdarah
Tidak membaik dalam 3 hari.

16