Anda di halaman 1dari 15

C.

Arsitektur Postmodern
Gerakan arsitektur modern dapat dipandang sebagai cara pandang, meminjam
istilah Lyotard, masyarakat industrial. Kemudian dalam perkembangan baru
muncul fenomena masyarakat post-industrial yang memiliki cara pandang yang
mengalami perubahan paradigma yang dikenal sebagai paradigma posmodernisme.
Arsitektur sebagai bagian dari kebudayaan fisik manusia ikut mengalami perubahan
cara pandang, yang kemudian disebut sebagai Postmodernisme arsitektur.
Jencks,1986 dalam Ikhwanudin,2005 menyatakan bahwa postmoderisme
merupakan dialektika kritis terhadap ideology sebelumnya (modernisme).
Posmodern adalah kombinasi teknik modern dengan sesuatu yang lainnya, temasuk
bangunan tradisional, dengan demikian posmodernisme merupakan kritik dialogis
dan sekaligus kelanjutan dari modernisme, dengan mengambil unsur-unsur positif
seperti temuan bahan dan teknik konstruksi modern dan pemikiran
fungsionalismenya. Namun keduanya diletakan secara proporsional.
Jencks,1986 dalam Ikhwanudin,2005 menyatakan lebih lanjut bahwa Posmodern
sebagai akhir dari worldview tunggal dan perang terhadap segala bentuk totalitas,
resistensi terhadap penjelasan tunggal, penghargaan terhadap perbedaan dan
penerimaan terhadap (karakter) regional, lokal dan khusus. Posmodernisme
merupakan kelanjutan dari modernisme dan transendensinya, sebuah aktivitas
ganda, yang mengakui hubungan kompleks masa kini dengan paradigma dan
worldview sebelumnya. Postmodern didefinisikan sebagai double coding yakni
kombinasi teknik-teknik modern dengan yang lain, biasanya bangunan tradisional
yang bertujuan untuk berkomunikasi dengan masyarakat dan kelompok minoritas
tertentu, umumnya arsitek.
1. Langgam arsitektur posmodern
a. Purna modern yang dikomunikasikan adalah identitas regional, identitas kultural,
dan identitas historikal. Hal-hal yang ada di masa silam itu dikomunikasikan,
sehingga orang bisa mengetahui bahwa arsitektur itu hadir sebagai bagian dari
bagian dari perjalanan manusia.
b. Neo modern, mengkomunikasikan kemampuan teknologi dan bahan untuk
berperan sebagai elemen artistic dan estetik yang dominan
c. Dekontruksi, yang dikomunikasikan adalah:
1) Unsurunsur yang paling mendasar, essensial, substansial yang dimiliki oleh
arsitektur.
2) Kemampuan maksimal untuk berarsitektur dari elemenelemen yang essensial
maupun substansial.
Sehingga dapat dikatakan bahwa:
Arsitektur purna modern memiliki kepedulian yang besar pada masa lalu
Arsitektur neo modern memiliki kepedulian yang besar pada masa kini.

Arsitektur dekontruksi tidak mengikatkan diri pada salah satu dimensi.

2. Ciri ciri umum arsitektur postmodern


Untuk lebih memperjelas pengertian arsitektur postmodern, Charles Jencks
memberikan daftar ciriciri sebagai berikut:
a. Ideological, yaitu suatu konsep bersistem yang menjadi asas pendapat untuk
memberikan arah dan tujuan. Jadi dalam pembahasan Arsitektur post modern,
ideological adalah konsep yang memberikan arah agar pemahaman arsitektur post
modern bisa lebih terarah dan sistematis
1) Double coding of Style, bangunan post modern adalah suatu paduan dari dua
gaya atau style, yaitu arsitektur modern dengan arsitektur lainnya.
2) Popular and pluralist, Ide atau gagasan yang umum serta tidak terikat terhadap
kaidah tertentu, tetapi memiliki fleksibilitas yang beragam. Hal ini lebih baik dari
pada gagasan tunggal.
3) Semiotic form, penampilan bangunan mudah dipahami, Karena bentukbentuk
yang tercipta menyiratkan makna atau tujuan atau maksud.
4) Tradition and choice, merupakan halhal tradisi dan penerapannya secara terpilih
atau disesuaikan dengan maksud atau tujuan perancang.
5) Artist or client, mengandung dua hal pokok yaitu bersifat seni (intern) dan
bersifat umum (extern), yang menjadi tuntutan perancangan sehingga mudah
dipahami secara umum.
6) Elitist and participative, lebih menonjolkan suatu kebersamaan serta mengurangi
sikap borjuis seperti dalam arsitektur modern.
7) Piecemal, penerapan unsurunsur dasar, secara subsub saja atau tidak
menyeluruh. Unsurunsur dasar seperti: sejarah, arsitektur vernakular, lokasi, dan
lainlain.
8) Architect, as representative and activist, arsitek berlaku sebagai wakil
penerjemah, perancangan dan secara aktif berperan serta dalam perancangan.
b. Stylistic (ragam), gaya adalah suatu ragam (cara, rupa, bentuk, dan sebagainya)
yang khusus. Pengertian gaya gaya dalam arsitektur post modern adalah suatu
pemahaman bentuk, cara, rupa dan sebagainya yang khusus mengenai arsitektur
post modern:
1) Hybrid Expression, penampilan hasil gabungan unsurunsur modern dengan:
Vernacular
Local
Metaphorical

Revivalist
Commercial
Contextual
2) Complexity, hasil pengembangan ideologyideology dan ciriciri post modern
yang mempengaruhi perancangan dasar sehingga menampilkan perancangan yang
bersifat kompleks.
3) Pengamat diajak menikmati, mengamati, dan mendalami secara lebih seksama.
Variable Space with surprise, perubahan ruang ruang yang tercipta akibat kejutan,
misalnya: warna, detail elemen arsitektur, suasana interior dan lainlain.
Conventional and Abstract Form, kebanyakan menampilkan bentukbentuk
konvensional dan bentukbentuk yang rumit (popular), sehingga mudah ditangkap
artinya.
Eclectic, campuran langgamlanggam yang saling berintegrasi secara kontinu
untuk menciptakan unity.
Semiotic, arti yang hendak di tampilkan secara fungsi.
Varible Mixed Aesthetic Depending On Context
Expression on content and semantic appropriateness toward function. Gabungan
unsur estetis dan fungsi yang tidak mengacaukan fungsi.
Pro Or Organic Applied Ornament, mencerminkan kedinamisan sesuatu yang hidup
dan kaya ornamen.
Pro Or Representation, menampilkan ciriciri yang gamblang sehingga dapat
memperjelas arti dan fungsi.
Pro-metaphor, hasil pengisian bentukbentuk tertentu yang diterapkan pada desain
bangunan sehingga orang lebih menangkap arti dan fungsi bangunan.
Pro-Historical reference, menampilkan nilai-nilai histori pada setiap rancangan yang
menegaskan ciri-ciri bangunan.
Pro-Humor, mengandung nilai humoris, sehingga pengamat diajak untuk lebih
menikmatinya.
Pro-simbolic, menyiratkan simbol-simbol yang mempermudah arti dan yang
dikehendaki perancang.
c. Design ideas ( Ide-Ide Desain ), ide-ide desain adalah suatu gagasan
perancangan. Pengertian ide-ide desain dalam Arsitektur Post Modern yaitu suatu
gagasan perancangan yang mendasari Arsitektur Post Modern.
1) Contextual Urbanism and Rehabilitation, kebutuhan akan suatu fasilitas yang
berkaitan dengan suatu lingkungan urban.

2) Functional Mixing, gabungan beberapa fungsi yang menjadi tuntutan dalam


perancangan.
3) Mannerist and Baroque, kecenderungan untuk menonjolkan diri.
4) All Phetorical Means, bentuk rancangan yang berarti.
5) Skew Space and Extensions, pengembangan rancangan yang asimetris-dinamis.
6) Ambiquity, menampilkan ciri-ciri yang mendua atau berbeda tetapi masih unity
dalam fungsi.
7) Trends to Asymetrical Symetry, menampilkan bentuk-bentuk yang berkesan
keasimetrisan yang seimbang.
8) Collage/Collision, gabungan atau paduan elemen-elemen yang berlainan.
Dalam arsitektur postmodern terdapat beberapa metode perancangan yang terbagi
atas dua kelompok yaitu pertama, metode perancangan utama dan metode
perancangan pendukung.
Metode perancangan utama meliputi:
a. Representasi (metaphor dan simbolisasi ), Arsitektur didefinisikan sebagai
representasi dari sesuatu yang lain, meluas menuju bahasa, dimana metaphor
arsitektur menjadi lazim. Jadi, metaphor adalah bagian dari representasi. Arsitektur
posmodern menerima penggunaan bentuk-bentuk metaforik dan simbolik yang
memberi peluang pemaknaan yang lebih kaya. Metafora adalah teknik melihat
suatu objek dengan kacamata objek lain,. Setiap orang akan melihat sebuah
bangunan dengan cara mencari hubungan dengan objek lain yang serupa dengan
bangunan tersebut.
Metafor adalah kiasan atau ungkapan bentuk pada bangunan yang diharapkan
mendapatkan tanggapan dari masyarakat yang menikmati atau memakainya.
Metaphor dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :
1) Mentransfer referensi dari sebuah subjek ke subjek yang lain.
2) Mencoba melihat subjek seolah-olah sebagai sesuatu yang lain.
3) Memindahkan fokus penelitian dari satu area kosentrasi kedalam area kosentrasi
yang lain.
4) Simbolisasi
b. Hybrid dan Both and adalah sebuah metode untuk menciptakan sesuatu dengan
pola-pola lama (sejarah), namun dengan bahan dan teknik baru. Dengan kata lain,
menggabungkan bentuk-bentuk tradisional dengan teknik modern. Dipihak lain
Kurokawa mendefinisikan hybrid berarti menggabungkan atau mencampur berbagai
unsur terbaik dari budaya yang berbeda, baik antara budaya masa kini dengan
masa lalu (diakronik), atau antar budaya masa kini (sinkronik). Dengan demikian
hybrid menurut kurokawa berarti menerima penggunaan referensi majemuk (plural

references) yang lintas budaya dan sejarah. Kekayaan makna diciptakan dengan
melakukan manipulasi kode-kode referensi yang telah mapan dan memadukan atau
menggabungkan kode-kode referensi yang telah dimanipulasi tersebut dalam
desain. Metode perancangan hybrid dinyatakan oleh Jencks,1978 dalam
ikhwanudin,2005 dengan hybrid language, yaitu mix old pattern and new technics
or tradition and choice, sedangkan Kurokawa,1991 dalam Ikhwanudin,2005
menyatakannya sebagai hybridization dan Venturi,1966 dalam Ikhwanudin,2005
menyebut sebagai hybrid saja.
Metode hybrid dilakukan melalui tahapan-tahapan quotation, manipulasi elemen
dan unifikasi atau penggabungan. Metode ini memiliki kesamaan berfikir dengan
metode both and versi Venturi yang meliputi tatanan, fragmentasi dan infleksi dan
juxtaposition atau superimposisi. Metode hybrid berpikir dari elemen atau bagian
menuju keseluruhan. Sebaliknya pada metode both and, berpikir dilakukan dari
keseluruhan menuju elemen atau bagian.
Tahapan metode hybrid adalah sebagai berikut :
1. Eklektik atau quotation
Eklektik artinya menelusuri dan memilih perbendaharaan bentuk dan elemen
arsitektur dari massa lalu yang dianggap potensial untuk diangkat kembali. Eklektik
menjadikan arsitektur masa lalu sebagai titik berangkat, bukan sebagai model ideal.
Asumsi dasar penggunaan arsitektur masa lalu adalah telah mapannya kode dan
makna yang diterima dan dipahami oleh masyarakat. Di sisi lain, quotation adalah
mencuplik elemen atau bagian dari suatu karya arsitektur yang telah ada
sebelumnya.
2. Manipulasi dan modifikasi
Elemen-elemen atau hasil quotation tersebut selanjutnya dimanipulasi atau
dimodifikasi dengan cara-cara yang dapat menggeser, mengubah dan atau
memutarbalikan makna yang telah ada.
Beberapa teknik manipulasi yaitu :

a) Reduksi atau simplifikasi


Reduksi adalah pengurangan bagian-bagian yang dianggap tidak penting.
Simplifikasi adalah penyederhanaan bentuk dengan cara membuang bagian-bagian
yang dianggap tidak atau kurang penting.
b) Repetisi
Repetisi artinya pengulangan elemen-elemen yang di-quotationkan, sesuatu yang
tidak ada pada referensi.
c) Distorsi bentuk

Perubahan bentuk dari bentuk asalnya dengan cara misalnya dipuntir (rotasi),
ditekuk, dicembungkan, dicekungkan dan diganti bentuk geometrinya.
d) Disorientasi
Perubahan arah (orientasi) suatu elemen dari pola atau tatanan asalnya.
e) Disporsisi
Perubahan proporsi tidak mengikuti system proporsi referensi (model).
f) Dislokasi
Perubahan letak atau posisi elemen di dalam model referensi sehingga menjadi
tidak pada posisinya seperti model referensi.
3. Penggabungan (kombinasi atau unifikasi)
Penggabungan atau penyatuan beberapa elemen yang telah dimanipulasi atau
dimodifikasi ke dalam desain yang telah ditetapkan ordernya.
Metode hybrid bertujuan untuk menyusun suatu makna dari kode-kode yang telah
mapan dan dimanipulasi sedemikian rupa sehingga maknanya berubah atau
bergeser dari makna asalnya. Metode hybrid memungkinkan terciptanya makna
yang kaya karena berasal dari beberapa kode yang telah mapan. Kode-kode yang
memiliki makna yang mapan adalah kode-kode yang berasal dari sejarah dan tradisi
yang telah dipahami maknanya oleh masyarakat. Kode dari masa kini menyangkut
realitas kehidupan masa kini. Kode adalah bentuk dengan karakter , aturan, atau
pola tertentu. Apabila kode ini diubah karakter, bentuk aturan atau polanya, dengan
tetap mempertahankan esensinya, kode-kode tersebut telah mengalami pergeseran
makna. Namun, apabila perubahannya sampai mengubah esensinya, maknanya
menjadi kabur, tidak mudah dipahami.
Metode hybrid terdiri dari beberapa tahap yaitu quotations petikan langsung atau
eklektik, manipulasi elemen yang dipetik langsung dan kombinasi elemen-elemen.
Ketiganya merupakan urutan proses dan menjadi satu kesatuan. Perbedaan antara
tiap elemen adalah sejauh mana tingkat manipulasinya.
c. Kontekstual, Arsitektur postmodern adalah arsitektur yang kontekstual.
Kontekstual didefinisikan sebagai suatu doktrin yang menekankan pentingnya
konteks dalam membangun makna, seperti setting tempat bangunan diletakan,
situsnya, karakter lingkungannya (burden,1988 dalam ikhwanudin 2005).

Metode perancangan pendukung meliputi:


a. Ornamen dan dekorasi, arsitektur postmodern menerima kehadiran ornament
dan dekorasi. Ornament adalah hiasan yang ditempelkan pada elemen struktural,
sedangkan dekorasi adalah hiasan yang diletakkan pada elemen-elemen
nonstruktural.

b. Improvisasi, metode improvisasi bertujuan membantu mencapai kekayaan


makna.
c. Kaya warna ( polychromy), arsitektur posmodern cenderung menggunakan warna
yang kaya (polychromi). Selain itu, tiap warna dapat memiliki nilai simbolis yang
khas.
Berdasarkan uraian ciri-ciri umum arsitektur postmodern, terdapat hybrid
Expression, sebagai salah satu style bangunannya. Pada kasus ini, Penerapan style
hybrid menampilkan hasil gabungan unsurunsur modern dengan bangunan
tradisionalnya, yakni penggabungan bangunan adat Baruga dan Lobo yang
keduanya berada di Kabupaten Sigi dengan fungsi ruang yang mendekati fungsi
bangunan untuk peruntukan Kantor Bupati sebagai wadah pemaksimalan tata kerja
pemerintahan. Proses transformasi yang sesuai yang nantinya akan menghasilkan
style hybrid yang tidak sempurna sehingga makna dan bentuk bangunannya tidak
terlalu disamarkan, mengingat bangunan yang yang digunakan sebagai objek
transformasinya adalah bangunan adat.

Teori Transformasi
1. Pengertian transformasi dalam arsitektur
Transformasi dapat diartikan sebagai perubahan bentuk yaitu perubahan bentuk
dari deep structure yang merupakan struktur mata terdalam sebagai isi struktur
tersebut ke surface structure yang merupakan struktur tampilan berupa struktur
material yang terlihat. Menrut Josef Prijotomo dalam Rahmatia 2002, apabila di
indonesiakan kata Transformasi dapat disepadankan dengan kata pemalihan, yang
artinya perubahan dari benda asal menjadi benda jadiannya. Baik perubahan yang
sudah tidak memiliki atau memperlihatkan kesamaan atau keserupaan dengan
benda asalnya, maupun perubahan yang benda jadiannya masih menunjukan
petunjuk benda asalnya.
Adapun kategori transformasi dalam desain yaitu :
a. Desain pragmatic
Desain pragmatic menggunakan bahan dasar material, seperti tanah, batu, batang
pohon, ranting-ranting, bambu kulit binatang atau kadang salju. Proses yang
dilakukan dengan cara trial and error hingga memunculkan suatu bentuk yang
terlihat melayani tujuan desainer. Kebanyakan bentuk bangunan sepertinya dimulai
dari cara ini. Desain ini digunakan dalam desain dengan material baru. Usaha besarbesaran adalah contoh yang sangat baik dan usaha ini masih digunakan ketika akan
menggunakan bahan material baru, seperti plastic air houses dan struktur
suspension. Baru pada akhir-akhir ini, setelah dua decade desain pragmatic, dasardasar teori untuk desain struktur semacam mulai muncul. Dengan demikian suatu

desain akan mengalami transformasi pragmatic ketika desain tersebut memiliki


kriteri dengan menggunakan bahan material sebagai dasar pengolahan bentuk
desainnya atau sebagai raw materialnya.
b. Desain typologic
Desain topologic dimulai dari mental image yang telah fiks dari bentuk-bnetuk
bangunan yang telah dikenal sebagai solusi terbaik untuk penggunaan material
yang telah dikenal sebagai solusi terbaik untuk penggunaan material yang didapat
di sebagian tempat dengan bagian iklimnya, rumah yang mewujudkan gaya hidup,
mekanisme arsitektur primitive dan vernakuler tetapi masih digunakan oleh arsitekarsitek yang kurang dikenal dalam mengikuti desain-desain dari form givers. Desain
ini juga menyertakan fakta budaya sebagai bagian mental image. Sering digunakan
penggunaan budaya primitif seperti legenda, tradisi yang menggambarkan adaptasi
mutual dengan menempatkannya diantara way of life dan bentuk bangunan.
Dengan demikian suatu desain akan mengalami transformasi typologic ketika
desain tersebut memiliki kaitan budaya suatu daerah, memberikan image tentang
daerah atau budaya tertentu.
c. Desain Analogical
Desain analogical menggambarkan visual analogi ke dalam solusi permasalahan
desain seseorang. Ada alas an simbolik untuk ini, analogi juga memperlihatkan
mekanisme arsitektur yang kreatif. Pada abad ke-20 sangat banyak arsitektur yang
digambarkan pada lukisan dan sculpture sebagai sumber analogi, tetapi analogi
dapat juga menjadi gambaran seseorang (personal analogy) dan konsep abstract
filosophical (sebagai sebuah hadirnya keasyikan yang tidak ditentukan).
Desain analogi memerlukan penggunaan beberapa medium sebagai sebuah
gambaran untuk menerjemahkan keaslian kedalam bentuk-bentuk barunya.
Beberapa desain analogi seperti gambar, model atau program computer akan
mengambil alih dari desainer dan mempengaruhi jalan desainnya.
Dengan demikian suatu desain akan mengalami transformasi analogical ketika
desain tersebut memiiki kriteria penggambarantentang sesuatu hal. Hal ini dapat
berupa benda, watak atau kejadian.
d. Desain Canonic
Desain canonic (geometri) didasari dari grid-grid dan axis dari gambaran desain
awal. Hal ini menjadikan usaha untuk menyamai atau melebihi pekerjaan-pekerjaan
besar dari system-sistemproporsi. Tinjauan bentuk-bentuk mengenai seni dan
desain yang dapat disokong oleh system-sistem proporsional ini diterima dari
Geometri Greek (Phytagoras) dan filsuf klasik (seperti Plato). Pada abad kedua puluh
ini banyak desain yang berdasar pada persepsi serupa, seperti system modular,
koordinasi dimensional, bangunan bersistem fabrikasi. Namun teknik baru
matematikal bnayak disukai oleh para desainer untuk mendorong lebih lanjut
ketertarikan ini.

Sehingga suatu desain akan mengalami transformasi canonic ketika desain tersebut
menggunakan pendekatan geometrical sebagai raw materialnya baik itu dalam
system konvensional maupun system komputasi.

2. Saluran-saluran transformasi
Untuk mencapai keempat moda transformasi diatas ada beberapa saluran yang
dapat dilalui, yaitu :
a. Material
Penggunaan material bangunan dipilih berdasarkan konsekuensi bahwa material
tersebut dapat system struktur dan penataan fungsi. Konsekuensi ini menimbulkan
suatu penataan dan struktur yang berdasar material, misalnya system modular.
Namun pemilihan bahan juga dapat mempengaruhi tampilan arsitektur, misalnya
mengenai tekstur pada eksterior maupun interior, detil finishing dan sebagainya.
Namun begitu pemilihan material ini cenderung memilih yang paling gampang
didapatkan di daerah tempat karya tersebut dibuat.
Kriteria saluran transformasi ini adalah :
Tema : Material
Transformasi : - Penggunaan teknologi
- Eksplorasi sifat bahan
Alat : Bidang permukaan, tampak, massa
Tampilan visual : - Penonjolan tekstur bahan
- Penonjolan system konstruksi
- Penampilan sifat bahan
b. Pemalihan
Berdasarkan strategi pembentukannya, terdapat tiga macam transformasi, pertama
adalah strategi tradisional sebagai evolusi progresif dari sebuah bentuk melalui
penyesuaian langkah demi langkah terhadap batasan-batasan eksternal, internal
dan artistic.
Pembentukan kedua adalah dengan peminjaman dari objek-objek lain dan
mempelajari property dua dan tiga dimensinya sambil terus menerus mencari
kedalaman interpretasi dengan memperhatikan kelayakan aplikasi dan validitasnya.
Transformasi peminjaman ini adalah pemindahan rupa dan dapat pula
dikualifikasikan sebagai metaphor rupa.
Pembentukan yang ketiga adalah dekonstruksi atau dekomposisi, yaitu sebuah
proses dimana susunan yang ada dipisahkan untuk mencari cara baru dalam

kombinasinya dan menimbulkan sebuah kesatuan baru dan tatanan baru dengan
strategi structural dan komposisi yang berbeda. Dalam melakukan transformasi ada
empat tahapan yang dilalui untuk dapat mengakomodasi kepentingan perancang
dan klien. Pertama pernyataan visual dari keragaman pendekatan konseptual
terhadap permasalahan melalui semua dokumen. Kedua, evolusi terhadap ide-ide
untuk dapat memilih yang paling memuaskan semua pihak sebagai alternative
optimal dan dijadikan dasar untuk transformasi berikutnya. Ketiga adalah
transformasi alternative sebagai optimalisasi dari keseluruhan dan bagian-bagian
sebuah objek. Terakhir adalah mengkomunikasikan hasil akhir dari suatu
transformasi kepada orang lain sehingga dapat dibaca dan dipahami, kemudian
diterima dan dibangun.
Kriteria saluran transformasi adalah :
Tema : Fungsi, bentuk
Transformasi : Evolusi tradisional, pemecahan (break), pengirisan
(cut), pembagian (segment), penambahan (addition), pergeseran (friction),
pengumpulan ( accumulation), penumpukan (stracking), penembusan (penetration),
penjalinan (interlacking), pertautan (meshing), peminjaman, pemindahan rupa,
dekonstruksi.
Alat : Massa, bentuk permukaan, detil
Tampilan visual : - simetri-asimetri
- Regular- irregular
c. Eksotik dan multicultural
Eksotik memiliki dua pengertian, pertama adalah eksotik dalam hal fisik dan yang
kedua adalah eksotik dalam metafisik. Eksotik secara fisik mempunyai konotasi
geografik, yaitu berkaitan dengan suatu tempat yang berada di luar lingkungan
seseorang, semakin jauh semakin kuat daya eksotiknya. Sedangkan eksotik
metafisik memiliki eksotik konotasi negatif. Eksotik metafisik untuk menjaga
sesuatu dari kejauhan, mengacaukan pikiran, menghilangkan orientasi atau
membuat rusak pribadi seseorang. Oleh karena itu dalam karya rancangan harus
dapat memuat pemahaman tentang masyarakat, iklim, material, metode konstruksi
dan teknik-teknik yang terdapat dalam tempat asing yang dirancang tersebut.
Kriteria saluran transformasi ini adalah :
Tema : Keganjilan fenomena, pertautan budaya, sejarah
Transformasi : Peniruan, perpaduan
Alat : Site, material, detil
Tampilan visual : Suasana, symbol
d. Kompleksitas dan kontradiksi

Dalam kompleksitas dan kontradiksi bahan mentah yang ditransformasikan dapat


bermula dari aspek kesejarahan ataupun seni-seni popular. Sedangkan alat yang
digunakan akan lebih sering menggunakan elemen-elemen yang biasa dikenal atau
elemen-elemen konvensional.
Secara sederhana kompleksitas arsitektur ditandai dengan adanya penggunaan
elemen-elemen baik itu dalam wujud bidang, bentuk, warna atau kegunaan atau
yang lain yang beraneka. Penggunaan ini merupakan penggunaan secara bersamasama untuk membentuk sebuah komposisi tanpa menghilangkan sifat asli dari
elemen-elemen dasar tersebut. Namun jika elemen-elemen dasar tersebut telah
mampu melebur menjadi suatu bentuk jadian yang berubah dari sifat dasarnya,
maka bukan sekedar kompleksitas yang terjadi terjadi tetapi lebih merupakan
sebuah kontradiksi.
Bentuk-bentuk transformasi yang memungkinkan antara lain merupakan penerapan
kaidah-kaidah tersebut. Seperti adanya kompleksitas bentuk atau both-and dan
kompleksitas fungsi atau double function.
Kriteri saluran transformasi ini adalah :
Tema : Elemen bangunan sejarah, seni popular
Transformasi : Pembaruan, pengironian
Alat : - Elemen-elemen bangunan konvensional
- Elemen-elemen yang telah biasa dikenal
Tampilan visual : Simbolik
e. Historicism dan preseden
Batasan kreasi pada bangunan dalam bingkai historicism adalah perolehan
pengetahuan dari budaya, teknologi dan filosofi. Penggunaan historicism harus
meliputi referensi sejarah yang benar.
Preseden dari waktu yang telah lewat mungkin tidak lagi relevan dengan budaya
sekarang atau dengan faktor lain di jaman sekarang. Untuk itu setiap budaya harus
diposisikan dalam bingkai waktu tertentu. Walaupun begitu menghindari preseden
dalam waktu tertentu akan dapat menghilangkan proses desain pada kesempatan
evolusi yang baik. Untuk itu perlu dihindari karya-karya yang bersifat tiruan dan
jiplakan supaya terhindar pula dari karya-karya yang berapresiasi rendah. Sekalipun
karya yang dihasilkan akan bersifat eklektik namun hal ini dapat dicapai dengan
unsure-unsur kontekstual dengan mempertimbangkan makna primordialnya.
Penggunaan aspek budaya, teknologi dan filosofi dimana harus memiliki referensi
sejarah yang benar dan preseden yang tepat.
Kriteria saluran transformasi ini adalah :
Tema : Bangunan sejarah, artefak
Transformasi : Evolusi

Alat : Denah, tampak, suasana


Tampilan visual : Eklektik, kontekstual, primordial

f. Imagery, Mimesis, Literality


Terdapat sebuah dugaan dalam Arsitektur bahwa peniruan tidak dapat menciptakan
kreatifitas. Peniruan adalah sebuah konsep peminjaman dan asal mula, telah
melalui controversial sejarah dalam arsitektur.
Kreatifitas dalam interpretasi literal, yaitu mitasi dengan dasar imajinasi spesifik
tidak dapat dilarang, yang perlu diantisipasi adalah seorang Arsitek salah
memperkirakan potensi perasaan untuk merasakan dan melihat konsep-konsep
diluar interpretasi yang dimaksud karena pada kenyataannya apa yang terlihat
sering menutupi apa sebenarnya.
Tidak dapat disangkal bahwa kemungkinan eksplorasi desain dapat melalui imitasi,
derivasi sampai eklektisasi. Karya yang baik akan mengangkat arsitektur ke tingkat
mimetic art yang lain sebagai bagian yang esensial dalam hidup dan membuang
literality dan devirasi yang dangkal.
Krieteria saluran transformasi ini adalah :
Tema : Elemen morfologi, style
Transformasi : Peniruan, peminjaman, derivasi
Alat : Massa, tampak
Tampilan visual : - Kemiripan visual
- Penonjolan makna haarfiah
g. Metaphora
Kekuatan metaphor akan menjadi bantuan dasar bagi imajinasi karena
memungkinkan untuk pengujian dan pengembangan imajinasi dan fantasi
perancang. Dengan demikian metaphora ini akan menjadi resep tambahan yang
memperluas dan memperdalam kemampuan fantasi dan imajinasi perancang.
Secara luas metaphora dapat dikategorikan dalam tiga hal : pertama, metaphora
yang tidak dapat diraba, yaitu penciptaan konsep, ide, kondisi manusia atau jumlah
kasus. Kedua adalah metaphora yang dapat diraba yaitu mengacu pada beberapa
visual atau sifat material seperti sebuah rumah yang berupa kastil. Sedangkan yang
ketiga adalah metaphora kombinasi dari keduanya yaitu antara konsep dan visual
saling tumpang tindih sebagai resep dari titik awal dan visual digunakan untuk
mengawasi nilai.
Dari ketiga metaphora tersebut dapat dibedakan lebih jauh lagi didasarkan pada
kekuatan masing-masing situasi dengan tujuan dari evaluasi kritik atau latar
belakang tujuan desain.

Kriteria saluran transformasi ini adalah :


Tema : Apa saja
Transformasi : Pengkiasan / Metaphora
Alat : - Tidak dapat diraba ( ide, konsep, kondisi manusia)
- Dapat diraba (tampilan visual, material)
- Kombinasi
Tampilan visual : Kemiripan visual, simbolik
h. Paradoks
Paradoks sesungguhnya merupakan sebuah saluran untuk keabadian. Paradoks
adalah saluran yang paling diminati untuk kreativitas. Berdasarkan sejarah
paradoks telah dikembangkan sebagai sebuah arti untuk mengkritik dan untuk
menggambarkan sebuah titik kritis yang menyarankan jalan alternatif dalam
menjalankan sesuatu. Hal ini diartikan sebagai tingkatan yang ironis yang
didalamnya berisi humor dan pada saat subjek menjadi duniawi, seringkali seperti
mencari Tuhan.
Kriteria saluran transformasi ini adalah :
Tema : Pemikiran prasangka
Transformasi : Pembalikan, pembelokan, dekonstruksi
Alat : Massa, tampak, denah
Tampilan visual : di luar pandangan umum manusia
i. Geometri
Berkaitan dengan kreatifitas arsitektural geometri memiliki daya tarik tersendiri.
Dimulai dari Plato yang merupakan tokoh pertama yang mengungkapkan unsur
kepastian dan hokum-hukum yang mengatur zat padat sebagai zat padat Platonik.
Sementara yang lain masih menunjukan kelemahan manusiawi yang seringkali
terlupakaan dan tidak seorangpun mengetahui siapa yang menemukan garis agung
dan bentuk terbalik.
Bentuk-bentuk geometri tertentu dapat menghasilkan struktur dan simbolisme
karena pembahasan segi estetika bukan pada bentuk mana yang paling tepat tetapi
mengenai kehalusan penerapannya. Elemen-elemen bangunan yang kelihatan. Sub
elemen ketinggian, kesesuaian dan ketidaksesuaian setiap bagian dengan
keseluruhan bangunan mendapat perhatian dalam porsi yang besar. Geometri
menawarkan kesiapannya untuk melayani kreatifitas yang kuat karena tidak peduli
apa yang terjadi.
Kriteria saluran transformasi ini adalah :
Tema : Bentuk-bentuk geometri

Transformasi : Peningkatan dimensi, pemejalan, pengosongan


Alat : Massa
Tampilan visual : Grid monotonic, blank box, bidang dan volume
j. Poetry dan literature
Apresiasi terhadap suatu karya dan variasi konsep dari grup satu ke grup lain, dari
budaya satu kebudaya lain akan berbeda dalam mental image, kolektif memori dan
perilaku. Watak negative dan positif penerima dari poetry dan literature akan
sangat berguna sebagai makna untuk rangsangan idea atau aspirasi arsitektural.
Sehingga rangsangan aspirasi dari poetry dan literature ini secara umum dapat
dibedakan menjadi dua. Pertama inspirasi langsung yaitu interpretasi literal dari
penggambaran lingkaran kerja literature . kedua adalah kasus inspirasi ketika
arsitek di ilhami oleh suatu bacaan yang dia baca dan termotifasi untuk menulis.
Arsitek mencatat ide-idenya dan menjadikannya tulisan secara sistematik baik
dalam wujud fiksi, puisi ataupun easy yang sebelum atau sesudahnya telah
dilanjutkan untuk catatan pribadi ataupun untuk dipublikasikan.
Kriteri saluran transformasi ini adalah :
Tema : Cerita, struktur, bahasa suatu poetry atau leteratur
Transformasi : Penggambaran, pengkiasan
Alat : Tampak, massa, situasi
Tampilan visual : Penekanan wujud dan bentuk

3. Kaitan moda dan saluran transformasi


Moda transformasi adalah penggolongan umum mengetahui makna yang disalurkan
dalam arsitektur. Sedangkan saluran transformasi lebih merupakan saluran
kreatifitas untuk mencapai wujud karya arsitektur yang termuat oleh makna yang
dimaksud.
Moda transformasi dapat dilaksanakan untuk memenuhi maksud tujuannya dalam
menyampaikan makna (deep structure ) ke dalam tampilan karya arsitektur
(surface structure) dengan memulai saluran-saluran transformasi yang kriterianya
tergolong dalam moda tersebut. Adapun saluran moda untuk mengubah struktur
dari deep structure ke dalam surface structure sehingga terwujud karya arsitektur
adalah :
a. Moda Pragmatik, dengan saluran material
b. Moda Typologic, dengan saluran pemalihan, eksotik dan multicultural,
kompleksitas dan kontradiksi

c. Moda Analogic, dengan saluran historicism dan preseden, imagery, mimesis dan
literality, metaphor, paradoks, poetry dan literature
d. Moda Canonic, dengan saluran geometri

4. Tampilan visual
Seorang pengamat akan menginterpretasi suatu tempat sebagai mana yang dimiliki
oleh tempat tersebut. Interpretasi ini sebagian besar sesuai dengan bentuk visual
yang ditampilkan oleh tempat tersebut. Sehingga ketika makna ini mendukung
tanggapan, maka tempat tersebut dikatakan memiliki kualitas yang disebut
kecocokan visual ( Bantley dalam rahmatia 2009 ).
Kecocokan visual suatu tempat dapat diperkuat suatu pemberian interpretasi
lingkungan dengan dukungan dari tiga tingkatan yang berbeda. Pertama, dengan
dukungan sifatnya yang mudah dibaca, baik dalam hal bentuk maupun guna.
Kedua, dengan dukungan keragamannya. Sedangkan yang ketiga adalah dengan
dukungan lingkungan yang menawarkan pilihan aktifitas baik dalam skala besar
maupun kecil.
Detil tampilan dari keragaman bangunan hendaknya dapat membantu pembacaan
mengenai apa yang terjadi dengan pembuatan image suatu lingkungan agar
terlihat cocok sebagaimana latar masing-masing pengguna atau pengamat.
Sedangkan mengenai tawaran aktifitas, haruslah mampu memperkuat potensi
tawaran pilihan ini dengan memperlihatkan kesesuaian untuk seluruh pengguna.
Sedangkan cirri-ciri visual lebih mengacu pada kualitas typology arsitektural.
Berdasarkan dari uraian teori transformasi, saluran transformasi yang sesuai
dengan pokok latar belakang yang menerima material baru dan menjadikan sejarah
sebagai titik berangkat adalah saluran transformasi material dan pemalihan dengan
pengaplikasiannya pada detil bangunan.