Anda di halaman 1dari 21

BAB I

RESUME KASUS
PRO JUSTITIA
Visum et Repertum : 53/VI/2016/Forensik
a. Surat permintaan Visum
Surat Permintaan Visum et Repertum (SPV) dari Kepolisian
Negara Republik Indonesia Daerah Sulawesi Selatan Resor Kota Besar
Makassar Sektor Rappocini dengan No.Pol. B/82/VI/2016/SPK tertanggal
12 Juni 2016 yang ditandatangani oleh B. Efendi BRIPKA NRP 81090721
atas nama Kepala Kepolisian Sektor Rappocini.
Surat Permintaan Visum et Repertum tersebut diterima oleh staf
dokpol yang bertugas di RS Bhayangkara Mappaoudang tanggal 12 Juni
2016 pukul 13.30 Waktu Indonesia Bagian Tengah.
b. Identitas Korban
Berdasarkan

Surat

Permintaan

Visum

et

Repertum

No.

Pol.

B/82/VI/2016/SPK diperoleh keterangan mengenai identitas korban:


Nama

: Umi Aruwati NIngsih

JenisKelamin

: Perempuan

Umur

: 53 Tahun

Pekerjaan

: Swasta

Kewarganegaraan

: Indonesia

Agama

: Islam

Alamat

: BTN Minasa Upa Blok G6 No. 4 Makassar

c. Tempat dan Waktu dilakukan pemeriksan :


Pemeriksaan dilakukan di Rumah Sakit Bhayangkara Mappaoudang
Makassar, pada hari Minggu tanggal dua belas bulan Juni tahun dua ribu
enam belas pukul tiga belas lewat tiga puluh menit Waktu Indonesia
Bagian Tengah.

d. Hasil Pemeriksaan :
Anamnesis :
Seorang perempuan yang menurut Surat Permintaan Visum
berumur lima puluh tiga tahun dating ke Instalasi Forensik Rumah Sakit
Bhayangkara Mappoudang Makassar ditemani oleh penyidik. Menurut
pengakuan korban, kejadian terjadi di depan kontrakan korban, awalnya
pelaku beradu mulut dengan korban, kemudian pelaku mencakar muka
korban, kemudian pelaku pertama memanggil pelaku kedua (suami
pelaku) yang mendorong pasien hingga terjatuh, kemudian memukul pipi
kiri korban sebanyak 1 (satu) kali, kemudian ibu dari pelaku datang
dengan parang sambil mengancam, kejadian ini disaksikan oleh adik
perempuan korban yang kemudian menolongnya.
Pemeriksaan Fisik :
Status Vitalis : Denyut nadi delapan puluh kali per menit,
pernapasan sembilan belas kali per menit, tekanan darah tidak dilakukan
pemeriksaan, suhu tubuh tidak dilakukan pemeriksaan.
Status Lokalis : Dari hasil pemeriksaan, didapatkan empat buah
luka. Terdapat dua buah luka memar pada pipi kiri dan leher kiri bagian
belakang, dan sebanyak dua buah luka lecet gores pada pipi kiri bagian
bawah dan dagu kiri.
Luka pertama: satu buah luka memar pada pipi kiri, luka berjarak lima
sentimeter di sebelah kiri dari garis tengah tubuh dan tiga koma delapan
sentimeter di bawah garis mendatar yang melewati kedua mata. bentuk
luka tidak beraturan dengan ukuran luka panjang

satu koma dua

sentimeter dan lebar nol koma tujuh sentimeter. Warna pada daerah luka
tampak kemerahan dan terdiri atas kulit yang masih utuh, berbatas tidak
tegas, daerah di dalam garis batas luka terlihat sedikit menonjol
(bengkak), terdapat nyeri tekan.
Luka kedua: satu buah luka lecet gores pada pipi kiri bagian bawah, luka
berjarak dua koma lima sentimeter di sebelah kiri dari garis tengah tubuh
dan empat koma tiga sentimeter di bawah garis mendatar yang melewati

kedua mata. Bentuk luka menyerupai garis lurus dengan ukuran panjang
lima sentimeter dan lebar nol koma satu sentimeter. Warna pada daerah
luka tampak kemerahan, berbatas tegas.
Luka ketiga: satu buah luka lecet gores di dagu sebelah kiri, luka berjarak
satu koma tujuh sentimeter di sebelah kiri dari garis tengah tubuh dan
delapan sentimeter di bawah garis mendatar yang melewati kedua mata.
Bentuk menyerupai garis lurus dengan ukuran panjang nol koma tiga
sentimeter dan lebar nol koma dua sentimeter. Warna pada daerah luka
tampak kemerahan, berbatas tegas, terdapat nyeri tekan.
Luka keempat: satu buah luka memar di leher kiri bagian belakang,
Bentuk luka bulat dengan ukuran panjang satu sentimeter dan lebar satu
sentimeter. Warna pada daerah luka tampak kemerahan, berbatas tegas,
terdapat nyeri tekan.
e. Diagnosis Kerja :
Damage

: Luka Memar pada pipi kiri dan leher kiri bagian


belakang. Luka Lecet pada pipi kiri bawah dan dagu
kiri.

A-1

: Pecah pembuluh darah bawah kulit (kapiler dan


vena) dan kerusakan jaringan bawah kulit.

A-2

: Trauma akibat benda tumpul.

: Tidak ada

f. Pengobatan dan Tindakan :


Tidak mendapat pengobatan.
g. Prognosis dari penyakit/damage :
Berdasarkan hasil pemeriksaan prognosis pasien baik dan dapat sembuh
sempurna tanpa gejala sisa.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Surat Permintaan Visum

B. Multiple Cause of Damage


Damage

: Tampak dua buah luka memar pada pipi kiri

1a

II b

1b

1c

dan leher kiri bagian belakang. Tampak dua


buah luka Lecet pada pipi kiri bawah dan dagu
kiri..
Penyebab langsung (A1)

: Pecah pembuluh darah bawah kulit (kapiler


dan vena) dan kerusakan jaringan bawah kulit.

Penyebab dasar (A2)

: Trauma benda tumpul.

C. Hasil Pemeriksaan
Telah dilakukan pemeriksaan didapatkan empat buah luka. Terdapat dua
buah luka memar pada pipi kiri dan leher kiri bagian belakang, dan
sebanyak dua buah luka lecet gores pada pipi kiri bagian bawah dan dagu
kiri.
Luka pertama satu buah luka memar pada pipi kiri, luka berjarak lima
sentimeter di sebelah kiri dari garis tengah tubuh dan tiga koma delapan
sentimeter di bawah garis mendatar yang melewati kedua mata. bentuk luka
tidak beraturan dengan ukuran luka panjang satu koma dua sentimeter dan
lebar nol koma tujuh sentimeter. Warna pada daerah luka tampak kemerahan
dan terdiri atas kulit yang masih utuh, berbatas tidak tegas, daerah di dalam
garis batas luka terlihat sedikit menonjol (bengkak), terdapat nyeri tekan.
Luka kedua satu buah luka lecet gores pada pipi kiri bagian bawah, luka
berjarak dua koma lima sentimeter di sebelah kiri dari garis tengah tubuh
dan empat koma tiga sentimeter di bawah garis mendatar yang melewati
kedua mata. Bentuk luka menyerupai garis lurus dengan ukuran panjang
lima sentimeter dan lebar nol koma satu sentimeter. Warna pada daerah luka
tampak kemerahan, berbatas tegas.
Luka ketiga satu buah luka lecet gores di dagu sebelah kiri, luka berjarak
satu koma tujuh sentimeter di sebelah kiri dari garis tengah tubuh dan
delapan sentimeter di bawah garis mendatar yang melewati kedua mata.
Bentuk menyerupai garis lurus dengan ukuran panjang nol koma tiga
sentimeter dan lebar nol koma dua sentimeter. Warna pada daerah luka
tampak kemerahan, berbatas tegas, terdapat nyeri tekan.

Luka keempat satu buah luka memar di leher kiri bagian belakang, Bentuk
luka bulat dengan ukuran panjang satu sentimeter dan lebar satu sentimeter.
Warna pada daerah luka tampak kemerahan, berbatas tegas, terdapat nyeri
tekan.
D. Kesimpulan
Telah dilakukan pemeriksaan berdasarkan Surat Permintaan Visum
dengan nomor B/82/VI/2016/SPK terhadap seorang perempuan yang
bernama Umi Aruwati Ningsih, usia lima puluh tiga tahun pada hari minggu
tanggal dua belas bulan Juni tahun dua ribu enam belas pukul tiga belas
lewat tiga puluh menit Waktu Indonesia Bagian Tengah bertempat di
Instalasi Forensik Rumah Sakit Bhayangkara Makassar. Dari hasil
pemeriksaan dapat disimpulkan bahwa korban datang dengan kesadaran
baik, status vital dalam keadaan normal dan ditemukan dua buah luka
memar pada pipi kiri dan leher kiri bagian belakang, dan dua buah luka lecet
gores pada pipi kiri bagian bawah dan dagu akibat kekerasan benda tumpul.
Selanjutnya pada korban tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan lain. Luka
yang didapat oleh pasien ini diakibatkan oleh trauma benda tumpul di mana
terjadi kerusakan pada lapisan epidermis kulit, dibawah kulit dan pembuluh
darah kecil sekitar kulit.
Dari aspek medikolegal, orientasi dan paradigma yang digunakan
dalam merinci luka dan kecederaan adalah untuk dapat membantu
merekonstruksi peristiwa penyebab terjadinya luka dan memperkirakan
derajat keparahan luka. Luka memar pada korban tidak menganggu aktivitas
dalam pekerjaan sehari-hari serta luka memar tersebut dapat sembuh
sehingga dapat digolongkan ke dalam derajat luka ringan.

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

A. PENDAHULUAN
Menurut Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI)

Traumatologi Forensik
Traumatologi adalah ilmu yang mempelajari tentang luka dan cedera serta
hubungannya dengan berbagai kekerasan, sedangkan yang dimaksudkan dengan
luka adalah suatu keadaan terjadinya diskontinuitas jaringan tubuh akibat
kekerasan. (1)
Berdasarkan sifat serta penyebabnya, kekerasan dapat dibedakan atas
kekerasan yang bersifat:1, 2

1. Mekanik :
-

Kekerasan benda tajam

Kekerasan benda tumpul

Tembakan senjata api

2. Fisika :
-

Suhu

Listrik dan petir

Perubahan tekanan udara

Akustik

Radiasi

3. Kimiawi :
-

Asam atau basa kuat

B. KEKERASAN BENDA TUMPUL


Kekerasan karena benda tumpul merupakan kasus yang paling banyak
terjadi dan selalu menduduki urutan pertama yang masuk di bagian ilmu
kedokteran forensik. .(2)
Benda tumpul bila mengenai tubuh dapat menyebabkan luka, yaitu luka
lecet, memar, dan luka robek atau luka terbuka. Dan bila kekerasan benda tumpul
tersebut sedemikian hebatnya dapat pula menyebabkan patah tulang..(2)
Luka adalah terputusnya kontinuitas suatu jaringan oleh karena adanya
cedera atau pembedahan.3
Luka benda tumpul adalah luka yang diakibatkan oleh benda benda yang
memiliki permukaan yang tumpul yang mengenai tubuh. Benda tumpul bila
mengenai tubuh dapat menyebabkan luka, yaitu luka lecet, memar, luka robek
terbuka dan bila kekerasan benda tumpul tersebut sedemikian hebatnya dapat pula
menyebabkan patah tulang. Penyebab trauma akibat benda tumpul antara lain
batu, kayu, martil, terkena bola, ditinju, jatuh dari tempat tinggi, kecelakaan lalu
lintas dan lain-lain sebagainya.4,5

Organ atau jaringan pada tubuh mempunyai beberapa cara menahan


kerusakan yang disebabkan objek atau alat dengan permukaan yang tumpul, daya
tahan tersebut menimbulkan berbagai tipe luka yakni:

Gambar 1 :Jenis-jenis luka pada kulit. .(2)


1. Luka Memar
Luka memar atau dalam bahasa inggris dikenal sebagai bruise/contusion
adalah jenis luka akibat kekerasan benda tumpul (blunt force injury) yang
merusak

atau merobek

pembuluh

darah

kapiler dalam jaringan subkutan

sehingga darah meresap ke jaringan sekitarnya..(2)


Letak, bentuk dan luas luka memar dipengaruhi oleh berbagai faktor
seperti:6,7
Besarnya kekuatan. Semakin besar kekuatan yang diterima maka akan
adanya luka memar lebih besar.
Kondisi dan jenis jaringan (jaringan ikat longgar, jaringan lemak). Semakin
sedikit kandungan jaringan ikat longgar dan jaringan lemak maka semakin
mudah juga adanya luka memar.
Usia. Semakin usia tua maka lebih mudah adanya luka memar, karena pada
usia tua lapisan kulit (epidermis dan dermis) lebih tipis, keelastisitas kulit,
dan pembuluh darah pada usia tua sudah rapuh. Begitu pula pada anak bayi.
Pada bayi mudah terjadi memar yang diakibatkan karena karena sifat kulit
yang longgar dan masih tipisnya jaringan lemak subkutan
Jenis kelamin. Pada wanita lebih mudah untuk menimbulkan adanya luka
memar, karena lapisan kulit pada wanita lebih tipis.

Corak dan Warna kulit.

Memar akan mudah terlihat pada kulit yang

berwarna lebih terang/putih.


Kerapuhan Pembuluh darah. Semakin rapuh pembuluh darah maka semakin
mudah adanya luka memar, ini sejalan dengan bertambahnya umur.
Lokasi. Lokasi yang memiliki pembuluh darah lebih banyak semakin
memudah adanya luka memar.
Salah satu bentuk luka memar yang dapat memberikan informasi mengenai
bentuk dari benda tumpul adalah apa yang dikenal dengan marginal
haemorrhages, misalnya bila tubuh korban terlindas ban kendaraan, dimana pada
tempat dimana terdapat tekanan justru tidak menunjukkan kelainan. Perdarahan
akan menepi sehingga terbentuk perdarahan tepi yang bentuknya sesuai dengan
bentuk celah antara kedua kembang ban yang berdekatan.(1)
Umur luka memar secara kasar dapat diperkirakan dari perubahan warna
yang terjadi pada memar.6,7
a. Umumnya diawali dengan bengkak
b. Mula-mula memar berwarna merah
c. Kemudian berubah menjadi ungu kehitaman
d. Pada hari ke 4-5 menjadi hijau
e. Pada hari ke 7 sampai dengan 10 warna kuning dan akhirnya menghilang
dalam 14 sampai dengan 15 hari
Patomekanisme
Anak-anak dan orang tua lebih mudah mengalami kontusio, karena anakanak memiliki kulit yang lebih tipis dan lembut serta memiliki banyak lemak
subkutan. Pada orang tua, terjadi hilangnya jaringan penyokong subkutan,
gangguan pembuluh darah dan memarnya lebih lama sembuh.(1)

10

Tabel 1 : perbedaan luka antermortem dan luka postmortem (1)


Perubahan warna ini semua disebabkan oleh aktivitas dari hemoglobin.
Dimana hemoglobin ini akan keluar ke ruang ekstravaskular akibat dari kekerasan
benda tumpul. Setelah itu Hb akan di fagositosis oleh makrofag dan degradasi
yang berurutan dari Hb kemudian menjadi biliverdin lalu bilirubin dan terakhir
menjadi hemosiderin. Dimana Hb ini akan memberikan warna merah pada memar,
biliverdin memberikan warna hijau, bilirubin memberikan warna kuning, dan
hemosiderin memberikan warna emas/warna coklat. Selain itu juga perubahan itu
disebabkan oleh faktor oksigen, dimana ketika perubahan dari merah ke biru
disebabkan Hb yang kehilangan oksigen dan ketika hijau berubah menjadi kuning
yang merupakan disintegrasi dan penyerapan darah secara bertahap.6,7
Tetapi perubahan warna ini juga tergantung kembali kepada masing
masing individu, mengenai kecepatan penyerapan dan sebagainya.
2. Luka Lecet
Luka lecet adalah luka yang superficial dimana kerusakan pada tubuh
umumnya hanya berbatas pada epidermis kulit dimana pada umumnya luka terjadi
sebagai akibat bersentuhannya kulit dengan benda tumpul yang memiliki
permukaan kasar atau runcing contohnya aspal maupun kuku. Misalnya pada
kecelakaan lalu lintas, tubuh terbentur aspal jalan, atau sebaliknya benda tersebut
yang bergerak dan bersentuhan dengan kulit.4,5
Walaupun kerusakan yang ditimbulkan minimal sekali, luka lecet
mempunyai arti penting dalam ilmu kedokteran kehakiman, oleh karena dari luka
tersebut dapat memberikan banyak petunjuk dalam banyak hal. Manfaat

11

interpretasi luka lecet ditinjau dari aspek medikolegal seringkali diremehkan.


Padahal pemeriksaan luka lecet yang diteliti disertai pemeriksaan di TKP dapat
mengungkapkan peristiwa yang sebenarnya terjadi. Sesuai dengan mekanisme
terjadinya, luka lecet dapat diklasifikasi sebagai luka lecet gores, luka lecet serut,
luka lecet tekan, dan luka lecet geser.(1)
Jenis jenis luka lecet:6,7
a)

Luka Lecet Gores (Scratch)


Diakibatkan oleh benda runcing (misalnya kuku jari) yang menggeser

permukaan kulit (epidermis) di depannya dan mengakibatkan lapisan tersebut


terangkat sehingga dapat menunjukan arah kekerasan yang terjadi.
b) Luka Lecet Serut (Graze)
Adalah variasi dari luka gores yang daerah persentuhannya dengan
permukaan kulit lebih lebar. Arah kekerasan ditentukan dengan melihat letak
tumpukan epitel.
c) Luka Lecet Tekan (Impression)
Disebabkan oleh penjejakan benda tumpul pada kulit karena kulit adalah
jaringan yang lentur, maka bentuk luka lecet tekan belum tentu sama dengan
bentuk permukaan benda tumpul tersebut, tetapi masih memungkinkan
identifikasi benda penyebab yang mempunyai bentuk yang khas misalnya kisiskisi radiator mobil, jejas gigitan dan sebagainya.
d) Luka Lecet Geser (Friction Abrasion)
Disebabkan oleh tekanan linier pada kulit disertai gerakan bergeser,
misalnya pada kasus gantung atau kecelakaan lalu lintas.
3. Luka Robek
Luka robek (laserasi) merupakan luka terbuka akibat trauma benda tumpul,
cedera ini mengakibatkan robekan pada kulit dan jaringan subkutan dengan
pinggiran luka yang tercabik cabik dan bentuk yang pada umumnya irregular.
Cedera akibat benda tumpul ini menyebabkan kulit teregang kesatu arah dan bila
batas elastisitas kulit terlampaui, maka akan terjadi robekan pada kulit. Luka yang

12

terjadi ini adalah akibat robekan jaringan dan bukan karena terpotongnya jaringan.
(1)

Ciri ciri luka robek yaitu sebagai berikut.6,7


Pinggiran luka tidak teratur dan tercabik cabik.
Tepi atau dinding tidak rata
Tampak jembatan jaringan antara kedua tepi luka
Bentuk dasar luka tidak beraturan
Pada sisi luka sering terdapat luka memar
Akar rambut tampak hancur atau tercabut
Kemungkinan untuk infeksi lebih besar terutama jika jaringan tubuh yang
lebih dalam juga mengalami cedera dan tidak mendapat pengobatan yang
sesuai.
Luka robek biasanya tidak menggambarkan alat yang digunakan. Perkiraan
waktu terjadinya luka robek sulit ditentukan berdasarkan bentuk dan warna kulit
tidak sepeti luka memar. Penyembuhan luka robek tergantung pada vaskularisasi,
kesehatan tubuh korban, ukuran luka dan ada tidaknya komplikasi seperti infeksi.
Disebabkan oleh karena kompenan jaringan tubuh berbeda kekuatannya, maka
jika kita melihat ke dasar luka tersebut, tampak jembatan jaringan dari ujung ke
ujung. Jembatan jaringan itu merupakan bukti bahwa korban tidak menerima
kekerasan dari trauma benda tajam.6,7
C. DIAGNOSIS DAN PEMERIKSAAN
Diagnosis dibuat berdasarkan dari hasil anamnesis dan pemeriksaan yang
dilakukan, setelah data data yang dibutuhkan didapatkan kemudian dicoba untuk
ditarik satu kesimpulan atau beberapa assessment untuk membantu terapi yang
lebih efektif yang dibutuhkan oleh pasien.7
Pada pasien ini diagnosis didapatkan dari anamnesis pada pasien mengenai
kronologi kejadian dan bagaimana pasien mendapat luka tersebut, dimana pasien
mengakui bahwa pasien dipukul oleh pelaku sehingga pasien mendapat luka
tersebut. Pemeriksaan yang dilakukan pada pasien hanyalah pemeriksaan fisik
luar saja tanpa pemeriksaan penunjang lainnya, hal ini disebabkan karena luka

13

pada tubuh pasien tidak ada yang membutuhkan pemeriksaan penunjang lain
seperti foto x-ray dan sebagainya. Dari hasil gabungan antara anamnesis dan
pemeriksaan fisik ditariklah beberapa kesimpulan antara lain luka pada pasien
didapatkan karena trauma benda tumpul dan didapatkan assessment yaitu luka
memar pada bagian pipi kiri dan leher kiri bagian belakang dan luka lecet gores
pada pipi kiri bagian bawah dan dagu kiri.

D. PENATALAKSANAAN
Pada pasien ini tidak mendapatkan perawatan karena luka memar yang
dialami pasien tidak parah sehingga tidak memerlukan penanganan yang lebih
lanjut seperti dijahit ataupun pemberian antibiotik. Perawatan luka karena
mengalami luka memar dapat diberikan perawatan dengan memberikan kompres
air dingin dan pertahankan selama kurang lebih 10 menit dan diberikan sedikit
tekanan untuk mengurangi pembengkakan. Dua hari setelah trauma gunakan
kompres air hangat selama kurang lebih 20 menit tiga kali sehari. 7,8,9
E. KOMPLIKASI
Secara umum luka memar tanpa komplikasi dapat membaik dalam waktu
lebih dari dua minggu. Prognosis bagi pasien ini baik.3,4
Komplikasi dari luka memar sendiri bisa terjadi jika perdarahan dalam yang
dialami pasien cukup massive yang dapat mengakibatkan kegagalan sirkulasi,
contohnya jika memar didapatkan pasien pada abdomen sedangkan didalam tubuh
sudah terjadi perdarahan massive akibat kerasnya cedera yang dialami pasien
sehingga organ dalam tubuh menjadi rupture contohya rupture limpa. 7,8
Pada pasien ini tidak didapatkan adanya komplikasi.
F. PROGNOSIS
Secara umum pada luka memar prognosis baik maupun buruk tergantung
pada tempat terjadinya luka memartersebut dan usia orang yang terkena luka

14

memar tersebut. Sebagai contoh jika memar yang terjadi pada lutut tentunya
prognosisnya lebih baik dibandingkan jika luka memar yang terjadi pada kepala
terutama jika pasien mengalami muntah maupun pusing setelah terkena cedera.
Prognosis bagi pasien ini baik.7,8
G. ASPEK MEDIKOLEGAL
Tujuan pemeriksaan kedokteran forensik pada korban hidup adalah untuk
mengetahui penyebab luka atau sakit dan derajat parahnya luka atau sakit tersebut.
Hal ini dimaksudkan untuk memenuhi rumusan delik dalam Undang-Undang.
Maka jelaslah disini bahwa pemeriksaan kedokteran forensik tidak ditujukan
untuk pengobatan.(1)
Visum et repertum adalah salah satu alat bukti yang sah sebagaimana tertulis
dalam pasal 184 KUHP. Visum et repertum turut berperan dalam proses
pembuktian suatu perkara pidana terhadap kesehatan dan jiwa manusia. VeR
menguraikan segala sesuatu tentang hasil pemeriksaan medic yang tertuang di
dalam bagian pemberitaan, yang karenanya dapat dianggap sebagai pengganti
barang bukti.(1)
Penentuan Derajat Luka
Salah satu yang harus diungkapkan dalam kesimpulan sebuah VeR
perlukaan adalah derajat luka atau kualifikasi luka. Dari aspek hukum, VeR
dikatakan baik apabila substansi yang terdapat dalam VeR tersebut dapat
memenuhi delik rumusan dalam KUHP. Penentuan derajat luka sangat tergantung
pada latar belakang individual dokter seperti pengalaman, keterampilan,
keikutsertaan dalam pendidikan kedokteran berkelanjutan dan sebagainya. Suatu
perlukaan dapat menimbulkan dampak pada korban dari segi fisik, psikis, sosial
dan pekerjaan, yang dapat timbul segera, dalam jangka pendek, ataupun jangka
panjang. Dampak perlukaan tersebut memegang peranan penting bagi hakim
dalam menentukan beratnya sanksi pidana yang harus dijatuhkan sesuai dengan
rasa keadilan.10

15

Untuk memahami yang dimaksud dengan kualifikasi derajat luka sebaiknya


mempelajari terlebih dahulu pasal-pasal dalam Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana, yang bersangkutan dengan penganiayaan.11,12
Pasal-pasal tersebut antara lain:
Pasal 35112
1. Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun
delapan bulan atau denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.
2. Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, dikenakan pidana penjara
lima tahun.
3. Jika mengakibatkan mati, dikenakan pidana penjara tujuh tahun
4. Dengan penganiayaan disamakan sengaja merusak kesehatan
5. Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.
Pasal 352 12
1. Kecuali yang tersebut dalam pasal 353 dan 356, maka penganiayaan yang
tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan
jabatan atau pencaharian, diancam sebagai penganiayaan ringan, dengan
pidana penjara paling lama tiga bulan, atau denda paling banyak empat ribu
lima ratus rupiah. Pidana dapat ditambah sepertiga bagi orang yang
melakukan kejahatan itu terhadap orang yang bekerja padanya, atau menjadi
bawahannya.
2. Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.
Pasal 353 12
1. Penganiayaan dengan rencana lebih dahulu, diancam dengan pidana penjara
paling lama empat tahun.
2. Jika perbuatan itu mengakibatkan luka luka berat, yang bersalah
dikenakan pidana penjara paling lama tujuh tahun.
3. Jika perbuatan itu mengakibatkan kematian yang bersalah diancam dengan
pidana penjara paling lama Sembilan tahun.

16

Pasal 354 12
1. Barang siapa sengaja melukai berat orang lain, diancam karena melakukan
penganiayaan berat dengan pidana penjara paling lama delapan tahun.
2. Jika perbuatan itu mengakibatkan kematian, yang bersalah diancam dengan
pidana penjara paling lama sepuluh tahun.
Pasal 355 12
1. Penganiayaan berat yang dilakukan dengan rencana terlebih dahulu,
diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.
2. Jika perbuatan itu mengakibatkan kematian, yang bersalah diancam dengan
pidana penjara paling lama lima belas tahun.
Hukum pidana Indonesia mengenal delik penganiayaan yang terdiri dari tiga
tingkatan dengan hukuman yang berbeda yaitu penganiayaan ringan (pidana
maksimum 3 bulan penjara), penganiayaan (pidana maksimum 2 tahun 8 bulan),
dan penganiayaan yang menimbulkan luka berat (pidana maksimum 5 tahun).
Ketiga tingkatan penganiayaan tersebut diatur dalam pasal 352 (1) KUHP untuk
penganiayaan ringan, pasal 351 (1) KUHP untuk penganiayaan, dan pasal 352 (2)
KUHP untuk penganiayaan yang menimbulkan luka berat. Setiap kecederaan
harus dikaitkan dengan ketiga pasal tersebut. Untuk hal tersebut seorang dokter
yang memeriksa cedera harus menyimpulkan dengan menggunakan bahasa awam,
termasuk pasal mana kecederaan korban yang bersangkutan.(10)
Rumusan hukum tentang penganiayaan ringan sebagaimana diatur dalam
pasal 352 (1) KUHP menyatakan bahwa penganiayaan yang tidak menimbulkan
penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencarian,
diancam, sebagai penganiayaan ringan. Jadi bila luka pada seorang korban
diharapkan dapat sembuh sempurna dan tidak menimbulkan penyakit atau
komplikasinya, maka luka tersebut dimasukkan ke dalam kategori tersebut.10
Selanjutnya rumusan hukum tentang penganiayaan sedang sebagaimana
diatur dalam pasal 351 (1) KUHP tidak menyatakan apapun tentang penyakit.
Sehingga bila kita memeriksa seorang korban dan didapati penyakit akibat

17

kekerasan tersebut, maka korban dimasukkan ke dalam kategori tersebut.


Akhirnya, rumusan hukum tentang penganiayaan yang menimbulkan luka berat
diatur dalam pasal 351 (2) KUHP yang menyatakan bahwa Jika perbuatan
mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam dengan pidana penjara
paling lama lima tahun. Luka berat itu sendiri telah diatur dalam pasal 90 KUHP
secara limitatif. Sehingga bila kita memeriksa seorang korban dan didapati salah
satu luka sebagaimana dicantumkan dalam pasal 90 KUHP, maka korban tersebut
dimasukkan dalam kategori tersebut.10
Luka berat menurut pasal 90 KUHP adalah:
Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh
sama sekali, atau yang menimbulkan bahaya maut.
Tidak mampu terus-menerus untuk menjalankan tugas, jabatan atau
pekerjaan pencarian.
Kehilangan salah satu panca indera.
Mendapat cacat berat.
Menderita sakit lumpuh.
Terganggunya daya pikir selama empat minggu lebih.
Gugur atau matinya kandungan seorang perempuan. (10)

18

BAB IV
KESIMPULAN
Telah dilakukan pemeriksaan berdasarkan Surat Permintaan Visum dengan
nomor B/82/VI/2016/SPK terhadap seorang perempuan yang bernama Umi
Aruwati Ningsih, usia lima puluh tiga tahun pada hari minggu tanggal dua belas
bulan Juni tahun dua ribu enam belas pukul tiga belas lewat tiga puluh menit
Waktu Indonesia Bagian Tengah bertempat di Instalasi Forensik Rumah Sakit
Bhayangkara Makassar. Dari hasil pemeriksaan dapat disimpulkan bahwa korban
datang dengan kesadaran baik, status vital dalam keadaan normal dan ditemukan
dua buah luka memar pada pipi kiri dan leher kiri bagian belakang, dan dua buah
luka lecet gores pada pipi kiri bagian bawah dan dagu akibat kekerasan benda
tumpul. Selanjutnya pada korban tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan lain.
Luka yang didapat oleh pasien ini diakibatkan oleh trauma benda tumpul di mana
terjadi kerusakan pada lapisan epidermis kulit, dibawah kulit dan pembuluh darah
kecil sekitar kulit.
Dari aspek medikolegal, orientasi dan paradigma yang digunakan dalam
merinci luka dan kecederaan adalah untuk dapat membantu merekonstruksi
peristiwa penyebab terjadinya luka dan memperkirakan derajat keparahan luka.
Luka memar pada korban tidak menganggu aktivitas dalam pekerjaan sehari-hari
serta luka memar tersebut dapat sembuh sehingga dapat digolongkan ke dalam
derajat luka ringan.

19

DAFTAR PUSTAKA

1. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S. Ilmu Kedokteran Forensik. 2 ed.


Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, editors. Jakarta Bagian
Kedokteran Forensik FK UI; 1997.
2. Saukko P, Knight B. KNIGHTS Forensic Pathology. 3rd ed. Ueberberg A,
editor. London: Edward Arnold (Publishers) Ltd; 2004.
3. Sidik D. Wound Care Overview & SSI Prevention. Moist Wound Healing
Management.2011
4. Dimaio VJ, Dimaio D. Blunt Trauma Wound In Forensic Pathology
Second Edition.New York: CRC Press; 2001.P 91-116
5. Cox W.A. Pathology Of Blunt Force Traumatic Injury. 2011
6. http://www.library.upnvj.ac.id/pdf/4s1kedokteran/207311083aneh/BAB
%20II.pdf/ diunduh pada tanggal 25 Mei 2015.
7. http://www.library.upnvj.ac.id/pdf/4s1kedokteran/207311106/Bab.2.pdf/
diunduh pada tanggal 25 Mei 2015.
8. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31496/6/Chapter
%20II.pdf/diunduh pada tanggal 25 Mei 2015.
9. Mohamad K. Pertolongan Pertama. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Hal 63

20

10. Afandi D. Visum et Repertum Perlukaan: Aspek Medikolegal dan


Penentuan

Derajat

Luka.

Majalah

Kedokteran

Indon.

April

2010;60(4):188-95.
11. Indris A. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik Edisi Pertama. Binarupa
Aksara
12. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Bab IX pasal 90 serta Bab
XX pasal 351 dan 352.

21