Anda di halaman 1dari 4

http://jateng.tribunnews.com/2015/11/11/dana-silpa-kota-semarang-bakalmembengkak-jadi-rp-15-triliun. 30 Maret 2016.

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG- Serapan Anggaran Pendapatan dan Belanja


Daerah (APBD) Kota Semarang 2015 dinilai sejumlah anggota dewan jauh dari
harapan. Banyaknya proyek yang tidak terlaksana sesuai jadwal diprediksi
membuat Sisa lebih perhitungan anggaran (Silpa) lebih tinggi dibanding tahun lalu.
Anggota Komisi B DPRD Kota Semarang, Ari Purbono mengatakan banyak proyek
revitalisasi pasar yang tidak akan selesai hingga Desember 2015. Ia memprediksi
Silpa akan naik menjadi Rp 1,5 triliun, atau naik Rp 0,4 triliun dibanding tahun lalu
sebesar Rp 1,1 triliun. APBD Kota Semarang tahun 2015, sebesar Rp 3,8 triliun.
"Kalau begini siapa yang dirugikan? Ya masyarakat. Salah satu penyebab
pertumbuhan ekonomi Semarang melambat yakni penyerapan anggaran yang
minim," ujarnya, Rabu (11/11).
Ari mengatakan DPRD dalam lima tahun terakhir selalu tepat waktu dalam
pembahasan dan penetapan APBD. Sayangnya, hal itu tidak diikuti dengan
pelaksanaan proyek tepat waktu. Ari menyontohkan revitalisasi Pasar Bulu sampai
tiga tahun, revitalisasi Pasar Peterongan yang dijanjikan selesai satu tahun dengan
anggaran Rp 30 miliar, relokasi Pasar Johar, dan pembangunan Pasar Klitikan
Peterongan dengan anggaran Rp 19 miliar.
"Faktornya banyak, berdasarkan pengalaman proyek besar yang tidak tepat waktu
salah satunya yakni persoalan aparatur atau SDM pemerintah. Jangan lantas
mengkambing hitamkan pihak ketiga, meskipun ada pihak ketiga yang wan
prestasi. Momentum Pilwakot, siapapun yang terpilih menjadi momentum
melakukan pembenahan aparatur," kata Ari.
Sementara itu, Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi mendesak SKPD sebagai
pelaksana anggaran diminta untuk segera melakukan percepatan pekerjaan,
terlebih dengan sisa waktu kurang dari dua bulan. "Kami minta Pj walikota lebih
intens mengecek proyek yang sedang berjalan. Apabila terjadi Silpa karena
pekerjaan tidak terselesaikan jelas yang rugi masyarakat. Kami sebagai wakil rakyat
tidak ingin uang rakyat digunakan secara tidak efisien," ujarnya. (*)
Penulis: galih permadi
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng

http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/silpa-rp-1-triliun-lebih/. 30 Maret 2016

23 November 2015 0:45 WIB Category: Semarang Metro, SmCetak A+ / ASEMARANG Serapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota
Semarang 2015 dinilai sejumlah kalangan jauh dari harapan.

Banyaknya proyek yang tidak terlaksana sesuai jadwal, diprediksi membuat Sisa
Lebih Perhitungan Anggaran (Silpa) lebih tinggi dibanding tahuntahun sebelumnya.
Anggota Komisi B DPRD Kota Semarang, Ari Purbono memprediksi Silpa APBD 2015
berkisar Rp 1,5 triliun, atau naik Rp 400 miliar dibanding tahun lalu sebesar Rp 1,1
triliun. APBD Kota Semarang tahun 2015 sendiri sebesar Rp 3,8 triliun.

Rugikan Masyarakat

Dengan demikian yang dirugikan tentu masyarakat. Salah satu penyebab


pertumbuhan ekonomi Semarang melambat yakni penyerapan anggaran yang
minim, ujarnya.

Ari mengatakan, DPRD dalam lima tahun terakhir selalu tepat waktu dalam
pembahasan dan penetapan APBD. Sayangnya, hal itu tidak diikuti dengan tepat
waktunya pelaksanaan program kegiatan di SKPD. Faktornya banyak, berdasarkan
pengalaman proyek besar yang tidak tepat waktu salah satunya yakni persoalan
aparatur atau SDM pemerintah.

Jangan lantas mengkambinghitamkan pihak ketiga, meski pun ada pihak ketiga
yang wanprestasi, kata Ari. Wachid Nurmiyanto, Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota
Semarang menyampaikan, dengan tak jalannya beberapa program fisik khususnya
penanganan banjir, juga mempengaruhi tingginya potensi Silpa. Bisa jadi, katanya,
Silpa di APBD 2015 ini di atas Rp 1,2 triliun.

Padahal dari total APBD sebesar Rp 3,8 triliun, saat ini baru terserap sekitar Rp 1,9
triliun. Beberapa program penanganan banjir yang tak berjalan, di antaranya
pembangunan Polder Banger (Rp 50 miliar), peningkatan drainase Kali Tenggang
(Rp 10 miliar), beberapa rencana pembebasan lahan, dan pekerjaan fisik lainnya.
Bantuan hibah dan sosial juga banyak yang tak jalan, karena ada peraturan UU 23
tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah yang mewajibkan organisasi
kemasyarakatan harus berbadan hukum nasional.

Silpa yang ada nantinya harus kembali ke kas daerah. Ini sangat merugikan, sebab
kebutuhan masyarakat tak bisa segera dipenuhi karena harus mundur
penanganannya, tegasnya. Beberapa waktu lalu, Pj Wali Kota Semarang, Tavip
Supriyanto mengakui penyerapan anggaran memang belum memuaskan karena
sejumlah kendala yang menyebabkan program kegiatan yang direncanakan belum
berjalan.

Khawatir Hukum

Dia mencontohkan adanya proyek pekerjaan yang proses lelangnya harus diulang
dan kekhawatiran jajaran SKPD atas persoalan hukum dalam beberapa kegiatan.
Kami terus melakukan percepatan penyerapan anggaran, termasuk mengimbau
jajaran SKPD untuk tidak khawatir menjadi pejabat pembuat komitmen (PPK) proyek
kegiatan, terang Tavip.

Dalam rapat Paripurna Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah


(RAPBD) Kota Semarang 2016, beberapa waktu lalu, disinyalir tingginya Silpa salah
satu penyebabnya adalah kekhawatiran pengguna anggaran atau pejabat pembuat
komitmen akan dampak hukum ketika melaksanakan program pembangunan.

Kondisi ini tentu membuat banyak pihak prihatin. DPRD pun berusaha mencari
solusi dengan mengundang Tim Pengawal dan Pengamanan Pemerintahan dan
Pembangunan Daerah (TP4D) Kejaksaan Negeri Kota Semarang pada Rapat
Paripurna Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) Kota
Semarang 2016. Kami sudah ada kerja sama dengan Kejari Semarang, kami
undang Kejari untuk mengawal perencanaan dan pelaksanaan APBD 2016 Kota
Semarang, dengan kehadiran TP4D Kejari maka ada jaminan transparansi dan
kepastian hukum.

Selain ini tentu membuktikan kalau tidak ada kongkalikong dalam pembahasan
anggaran, kata Ketua DPRD Kota Semarang Supriyadi. Dia mengapresiasi
kedatangan TP4D pada rapat paripurna DPRD Kota Semarang. Menurutnya, hal ini
menunjukkan semangat transparansi dalam perencanaan, pelaksanaan, hingga
pertanggung jawaban program di Kota Semarang. Kehadiran TP4D ini akan berlanjut
hingga pelaksanaan paripurna mengesahkan RAPBD Kota Semarang 2016.

TP4D juga kami undang pada pembahasan RAPBD 2016 yang akan dibahas secara
teknis dan lebih detail pada rapat komisi-komisi, ujarnya. Langkah ini untuk

memastikan program yang dibahas di komisi juga aman secara hukum dan sekali
lagi ingin menunjukkan bahwa pembahasan anggaran berlangsung secara
transparan. Kami juga memohon pendampingan pembahasan Raperda APBD 2016
secara keseluruhan.

Pendampingan agar tidak ada persoalan di kemudian hari. Kami tidak ingin ada
persoalan hukum sehingga pelaksanaan program pembangunan bisa dilaksanakan
dengan baik dan masyarakat mendapatkan haknya, ujar politisi PDI Perjuangan ini.
Sementara di kesempatan itu, Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kota Semarang,
Asep Nana Mulyana mengatakan, dalam hal pendampingan pihaknya juga akan
menggandeng institusi tertentu.

Misalnya jika terkait barang dan jasa akan mengajak LKPPatau penatalaksanaan
keuangan atau lembaga lain yang sesuai dengan permasalahan. Dari situ kami
bisa keluarkan rekomendasi dan langkah taktis apa. Kami pun tidak membebani
apapun kepada pihak yang diberi saran, ujarnya. Adanya TP4D, lanjut Asep, agar
pihak Pemkot Semarang tidak ada keraguan dalam pelaksanaan program.

Teman-teman Pemkot punya kesulitan datang ke kami untuk mendiagnosa


persoalan dan sama-sama mencari penyelesaian agar bisa nyaman bekerja,
mengawal, dan melaksanakan program dan pelayanan kepada masyarakat. Apalagi
kami sudah menandatangani nota kerja sama dengan DPRD Kota
Semarang,ujarnya.(H71,fri-72)