Anda di halaman 1dari 26

Surveilans Kualitas Layanan Kesehatan

Disusun untuk memenuhi tugas dalam menempuh Mata Kuliah


Surveilans Epidemiologi
Dosen pengampu : dr. Mahalul Azam, M.Kes
Oleh:
Naili Akrima Faradis

(6411413134)

Nur Lissa Utami

(6411413136)

Fitria Retno Pangesti

(6411413137)

Mursita Eka Nordianti

(6411413138)

May Fathah Ikhtiyari

(6411413140)

Ziko Nuzulul Imanu

(6411413142)

Rombel 5

JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas limpahan
rahmat dan hidayahnya, makalah surveilans epidemiologi yang berjudul
Surveilans Kualitas Layanan Kesehatan ini dapat disusun dengan sebaik
mungkin.
Dalam makalah ini kami menjelaskan mengenai penjelasan secara umum.
Adapun tujuan utama kami menulis makalah ini adalah untuk memenuhi tugas
dari dosen pengampu yang membimbing kami dalam mata kuliah surveilans
epidemilogi di Universitas Negeri Semarang. Di sisi lain, kami menulis makalah
ini untuk mengetahui lebih rinci mengenai surveilans kualitas layanan kesehatan.
Kami menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab
itu, kami mengharapkan kritik dan saran pembaca demi kesempurnaan makalah
kami untuk ke depannya. Mudah-mudahan makalah ini bermanfaat bagi kita
semua terutama bagi mahasiswa-mahasiswa yang mengikuti mata kuliah
surveilans epidemiologi ini.

Semarang, 27 September 2015


Penulis

DAFTAR ISI

Halaman Judul...........................................................................................

Kata Pengantar...........................................................................................

ii

Daftar Isi....................................................................................................

iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah................................................................
1.2. Rumusan Masalah..........................................................................
1.3. Tujuan............................................................................................

1
2
2

BAB II PEMBAHASAN
2.1. Pengertian......................................................................................
2.2. Tujuan............................................................................................
2.3. Karakteristik..................................................................................
2.4. Metode...........................................................................................
2.5. Sumber Data..................................................................................
2.6. Penanggung Jawab.........................................................................
2.7. Pengumpulan Data.........................................................................
2.8. Pengolahan Data............................................................................
2.9. Analisis Data..................................................................................
2.10. Diseminasi Informasi dan Pengambilan Keputusan......................
2.11. Contoh Hasil dan Penyajian Data..................................................
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan....................................................................................
3.2. Saran..............................................................................................
Daftar Pustaka............................................................................................

4
4
4
5
6
10
10
10
11
11
12
21
21
22

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Surveilans adalah

proses pengumpulan, pengolahan, analisis dan

interprestasi data secara sistematik dan terus menerus serta penyebaran informasi
kepada unit yang membutuhkan untuk dapat mengambil tindakan. Istilah
surveilans sebenarnya berasal dari bahasa perancis yang berarti mengamati
tentang sesuatu. Istilah ini awalnya dipakai dalam bidang penyelidikan untuk
memata-matai orang yang dicurigai maupun yang dapat membahayakan.
Surveilans kesehatan masyarakat semula hanya dikenal dalam bidang
epidemiologi, namun dengan berkembangnya berbagai macam teori dan aplikasi,
surveilans telah berkembang di luar bidang epidemiologi. Maka surveilans
menjadi cabang ilmu tersendiri yang diterapkan luas dalam kesehatan masyarakat.
Surveilans sendiri mencakup masalah morbiditas, mortalitas, masalah gizi,
demografi, penyakit menular, penyakit tidak menular, demografi, pelayanan
kesehatan, kesehatan lingkungan, kesehatan kerja, dan beberapa faktor risiko pada
individu, keluarga, masyarakat dan lingkungan sekitarnya.
Surveilans kualitas layanan kesehatan adalah analisis secara sistematik dan
terus menerus terhadap kualitas layanan kesehatan untuk mendukung terwujudnya
pelayanan kesehatan yang berkualitas sesuai dengan harapan masyarakat. Kualitas
pelayanan didefinisikan sebagai perbedaan antara harapan pelanggan dengan
kenyataan yang diterima. Untuk mengetahui kualitas suatu layanan kesehatan,
diperlukan suatu sistem surveilans yang nantinya akan menghasilkan output
kualitas layanan kesehatan yang pang pada akhirnya dapat dijadikan pedoman
dalam peningkatan kualitas layanan kesehatan.
Berdasarkan uraian di atas, melalui makalah ini, penulis bermaksud untuk
menguraikan secara lebih jelas mengenai surveilans kualitas layanan kesehatan.

1.2. Rumusan Masalah


1. Apa pengertian surveilans kualitas layanan kesehatan?
2. Apa tujuan surveilans kualitas layanan kesehatan?
3. Bagaimana karakteristik surveilans kualitas layanan kesehatan?
4. Bagaimana metode surveilans kualitas layanan kesehatan?
5. Apa saja sumber data surveilans kualitas layanan kesehatan?
6. Siapa penanggung jawab pelaksanaan surveilans kualitas layanan
kesehatan?
7. Bagaimana

pengumpulan

data

surveilans

kualitas

layanan

kesehatan?
8. Bagaimana pengolahan data surveilans kualitas layanan kesehatan?
9. Bagaimana analisis data surveilans kualitas layanan kesehatan?
10. Bagaimana diseminasi informasi dan pengambilan keputusan pada
surveilans kualitas layanan kesehatan?
11. Bagaimana contoh hasil dan penyajian data surveilans kualitas
layanan kesehatan?
1.3. Tujuan
1. Mengetahui dan memahami pengertian surveilans kualitas layanan
kesehatan
2. Mengetahui dan memahami tujuan surveilans kualitas layanan
kesehatan
3. Mengetahui dan memahami karakteristik surveilans kualitas
layanan kesehatan
4. Mengetahui dan memahami metode surveilans kualitas layanan
kesehatan
5. Mengetahui dan memahami sumber data surveilans kualitas
layanan kesehatan
6. Mengetahui dan memahami penanggung jawab pelaksanaan
surveilans kualitas layanan kesehatan
7. Mengetahui dan memahami pengumpulan data surveilans kualitas
layanan kesehatan
8. Mengetahui dan memahami pengolahan data surveilans kualitas
layanan kesehatan ?
9. Mengetahui dan memahami analisis data surveilans kualitas
layanan kesehatan
10. Mengetahui dan memahami diseminasi informasi dan pengambilan
keputusan pada surveilans kualitas layanan kesehatan

11. Mengetahui dan memahami contoh hasil dan penyajian data


surveilans kualitas layanan kesehatan

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian
Surveilans kualitas layanan kesehatan adalah proses pengumpulan,
pengolahan, analisis dan interprestasi data mengenai kualitas layanan unit-unit

pelayanan kesehatan secara sistematik dan terus menerus serta penyebaran


informasi kepada unit yang membutuhkan untuk dapat mengambil tindakan
guna mewujudkan pelayanan kesehatan yang berkualitas sesuai dengan
harapan masyarakat. Data mengenai kualitas layanan kesehatan tersebut
diukur dengan berpedoman pada indikator-indikator yang meliputi, prosedur
pelayanan, persyaratan pelayanan, kejelasan petugas pelayanan, kedisiplinan
petugas pelayanan, tanggung jawab petugas pelayanan, kemampuan petugas
pelayanan, kecepatan pelayanan, keadilan mendapatkan pelayanan, kesopanan
dan keramahan petugas, kewajaran biaya pelayanan, kepastian biaya
pelayanan, kepastian jadwal pelayanan, kenyamanan lingkungan, dan
keamanan pelayanan.
2.2. Tujuan
Tujuan surveilans kualitas layanan kesehatan adalah
1. Mengetahui tingkat kinerja unit pelayanan kesehatan
2. Mengidentifikasi, mengimplementasikan, dan mengevaluasi strategi dalam
rangka meningkatkan kualitas layanan kesehatan
2.3. Karakteristik
1. Kesederhanaan (Simplicity)
Kesederhanaan sistem surveilans menyangkut struktur dan
pengorganisasian sistem. Besar dan jenis informasi yang diperlukan untuk
menunjang sumber pelapor, cara pengiriman data, organisasi yang
menerima laporan, kebutuhan pelatihan staf, pengolahan dan analisa data
perlu dirancang agar tidak membutuhkan sumber daya yang terlalu besar
dan prosedur yang terlalu rumit.
2. Fleksibilitas (Flexibility).
Sistem surveilans yang fleksibel dapat menyesuaikan diri dalam
mengatasi perubahan-perubahan informasi yang dibutuhkan atau kondisi
operasional tanpa memerlukan peningkatan yang berarti akan kebutuhan
biaya, waktu dan tenaga.
3. Dapat diterima (Acceptability).
Penerimaan terhadap sistem surveilans kualitas layanan kesehatan
tercermin dari tingkat partisipasi individu, organisasi dan lembaga
kesehatan. lnteraksi sistem dengan mereka yang terlibat, temasuk

penerima pelayanan dan petugas pemberi pelayanan sangat berpengaruh


terhadap keberhasilan sistem tesebut.
4. Sensitivitas (Sensitivity).
Sensitivitas suatu surveilans kualitas layanan kesehatan dapat
dinilai dari tingkat pelaporan kasus dan kemampuan mendeteksi kejadian
yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan sesuai dengan.
2.4. Metode
Pelaksanaan surveilans layanan kesehatan dilakukan dengan:
1. Melakukan survey secara langsung terhadap unit-unit pelayanan
kesehatan
2. Mengidentifikasi dan menganalisis kualitas pelayanan kesehatan dengan
disesuaikan pada indikator-indikator penilaian kualitas pelayanan
kesehatan
3. Memonitor kinerja unit-unit pelayanan kesehatan dalam memberikan
pelayanan kepada pasien
4. Melakukan wawancara dengan masyarakat sebagai penerima pelayanan
kesehatan

2.5. Sumber Data


Sumber data surveilans kualitas layanan kesehatan didapat dari
penerima layanan kesehatan, unit pelayanan kesehatan sebagai pemberi
layanan kesehatan, dokumen-dokumen, dan bentuk lainnya. Sumber data
dari unit pelayanan kesehatan adalah sebagai berikut :
1. Sumber data dari puskesmas
Pengertian pelayanan yang dimaksud disini adalah, kualitas
pelayanan kesehatan yang berhubungan erat dengan kepuasan
pengguna pelayanan atau pasien. Suatu pelayanan dikatakan baik atau
buruk tergantung pada tingkat kepuasan pengguna layanan yang
didasarkan pada kualitas pelayanan itu sendiri. Kesehatan adalah suatu
konsep yang telah sering digunakan tetapi sulit untuk dijelaskan
artinya. Faktor yang berbedda menyebabkan sulitnya mendefinisikan
kesehatan, penyakit, dan kesakitan(Gochman,1988; Endar Sugiharto
1999:47).

Peserta program Jamkesmas berhak mendapatkan pelayanan


kesehatan yang komprehensif secara berjenjang, termasuk obat, sesuai
indikasi medis. Setiap peserta Jamkesmas mempunyai hak mendapat
pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas dan jaringannya meliputi
pelayanan kesehatan rawat jalan dan rawat inap tingkat pertama, serta
persalinan termasuk oleh bidan desa.
Puskesmas sering kali terbentur pada keterbatasan seperti
kekurangan sarana prasarana, kekurangan dokter spesialis. Oleh karena
itu pelayanan askeskin di Puskesmas dipengaruhi pula oleh mutu
Puskesmas tersebut. Untuk itu, cakupan derajat kesehatan yang
setinggi-tingginya bukan semata tercover dalam seratus persen
cakupan penduduk miskin (jamkesmas) yang terlayani. Terlayaninya
pasien dengan askeskin perlu dievaluasi dengan sejauh mana standar
pelayanan diberikan oleh Puskesmas.
Tuntutan masyarakat adalah optimalnya pelayanan yang
diberikan oleh rumah sakit. Demikian pula pelayanan yang diberikan
kepada pengguna askeskin harus optimal dari segi mutu. Perlu sekali
memanusiakan para pengguna askeskin jika masih ada petugas
kesehatan yang menganggap rendah pengguna Jamkesmas.
Kepuasan pasien Jamkesmas di Puskesmas akan turut
meningkatkan mutu Puskesmas tersebut. Sebab kepuasan klien adalah
keberhasilan pelayanan kesehatan. Optimalisasi pelayanan kesehatan
para pasien askeskin akan mendorong kemajuan suatu Puskesmas.
Peningkatan derajat kesehatan orang miskin secara tidak langsung
memberi jalan untuk mempertinggi produktivitas mereka sehingga
pada akhirnya tercapai kemandirian dalam pembiayaan dan kesadaran
kesehatan. Dampaknya bagi Puskesmas adalah semakin tingginya
kemampuan membayar masyarakat sehingga dapat mensejahterakan
petugas kesehatan di Puskesmas. Dampak lainnya adalah citra positif
yang akan menumbuhkan kepercayaan masyarakat bahwa Puskesmas
bukan layanan kesehatan tidak bermutu.
Indikator menuju Indonesia Sehat 2010 salah satunya adalah
indicator proses dan masukan. Indikator ini salah satunya adalah
persentase keluarga miskin yang mendapat pelayanan kesehatan
6

seratus persen. Oleh karena itu diharapkan Puskesmas sungguhsungguh memperhatikan pelayanan Jamkesmas. Pelayanan Jamkesmas
harus benar-benar memenuhi standar pelayanan. Kesehatan peserta
Jamkesmas adalah jalur menuju keberhasilan pembangunan kesehatan
Indonesia. Rakyat miskin adalah kelompok yang rentan terhadap
kesehehatan (utamanya ibu hamil, menyusui, bayi, dan balita). Rakyat
miskin rentan terhadap kesakitan karena latar belakang sosial ekonomi
memberi kontribusi yang sangat kompleks terhadap status kesehatan.
Di antaranya adalah pengaruh gizi, sanitasi, beban kerja, pendidikan,
dan lain sebagainya. Maka prioritas terhadap pengguna askeskin
adalah langkah tepat dalam mewujudkan Indonesia sehat 2010.
Diharapkan

program

Jamkesmas

dapat

mendorong

kesadaran

masyarakat akan arti penting kesehatan dan kesadaran untuk


memperoleh pelayanan kesehatan.
2. Sumber data dari rumah sakit
a. Pelayanan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang menyatakan
baik terhadap kehandalan pelayanan (reliability) di RSUD
Lakipadada Kabupaten Tana Toraja yaitu sebanyak 71 orang
(75,5%) yang memiliki persepsi bahwa kehandalan perawat yang
baik

adalah

jika perawat

mampu

memberikan

pelayanan

pemeriksaan dengan cepat atau mereka menilai kualitas dari segi


waktu (faster) artinya bahwa pasien memiliki persepsi bahwa jika
perawat mampu memeriksa pasien dengan segera maka bagi
mereka itulah pelayanan yang berkualitas. Selain itu pada saat
mereka pertama kali di rawat inap perawat menerima mereka tanpa
prosedur yang berbelit-belit, hal ini sejalan dengan pandangan
mereka bahwa kualitas adalah kecepatan pelayanan.Bagi pihak
rumah sakit perlu memperhatikan pasien yang sebagian besar pada
posisi puas terhadap kehandalan petugas dengan jalan memberikan
pengetahuan dan keterampilan pada perawat sehingga mereka
mampu memberikan pelayanan yang sesuai dengan keinginan
pasien.
7

b. Assurance (jaminan)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 70 responden (74,5%)
menyatakan baik terhadap jaminan pelayanan dan 24 responden
(25,5%) menyatakan buruk. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian
jaminan pelayanan (assurance) di RSUD Lakipadada sudah baik
karena sebagian besar responden menyatakan baik selama
menggunakan fasilitas pelayanan rawat inap di rumah sakit
lakipadada, Sebagian kecil responden yang masih mengharapkan
jaminan pelayanan yang lebih baik.Mereka masih mengeluhkan
pengetahuan petugas dalam menangani masalah/ keluhan mereka.
Hal ini perlu mendapat perhatian khusus dari pihak rumah sakit
dengan cara meningkatkan SDM semua perawat baik kualitas
maupun kuantitas melalui penambahan tenaga sesuai kebutuhan.
c. Bukti fisik
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 86 responden (91,5%)
menyatakan baik terhadap bukti langsung pelayanan di RSUD
Lakipadada dan 8 responden (8,5%) menyatakan buruk. Beberapa
hal yang mendukung bukti langsung pelayanan yang sudah baik
adalah kondisi ruang perawaatan yang bersih dan didukung
tersedianya fasilitas penunjang di ruang perawatan seperti WC,
kenyamanan ruang perawatan dan penampilan petugas kesehatan
yang rapi dan bersih.
d. Perhatian
Hasil penelitian pada menunjukkan bahwa 90 responden (95,7%)
menyatakan baik terhadap perhatian petugas rumah sakit dan 4
responden (4,3%) yang menyatakan buruk. Hal menunjukkan
bahwa sebagian besar pasien yang menjadi responden telah
mendapat

perhatian

yang

tulus

dari

para

petugas

kesehatan.Sebagian kecil responden yang menyatakan buruk


terhadap perhatian petugas rumah sakit memiliki harapan untuk
mendapatkan perhatian lebih dari para petugas kesehatan, misalnya
petugas harus mampu untuk menghibur para pasien jika mereka
gelisah dan dapat menerima keluhan pasien dengan baik.Beberapa
pasien juga megeluhkan tentang pelayanan petugas yang

membeda-bedakan satus sosial di mana hanya sebagian orang saja


yang mendapat perhatian khusus dan mendapat pelayanan ekstra
saat dirawat di rumah sakit tersebut.
3. Sumber data dari masyarakat
Masyarakat sebagai penentu kepuasan sistim pelayanan
kesehatan, masyarakat sebagian menilai tentang kualitas pelayanan
kesehatan itu masih mnimal/ kurang tepat. Banyak keluhan dari
masyarakat mengenai kualitas pelayanan yang berupa asuransi,
jamkesmas, sistim rujuk dll. untuk kasus tuntutan, keluhan dan kritikan
langsung pada instansi kebanyakan masyarakat mengeluh hal tersebut
hanya omongan-omongan di belakang. Banyak juga masyarakat
menuntut

karena

setelah

timbulnya

suatu

kecelakaan

yang

menimbulkan cacat bahkan kematian, banyak yang menyalahkan


sistim pelayanan kesehatan kurang memadai, kurang tepat, ada pula
yang menyalahkan tenaga kesehatan.
2.6. Penanggung Jawab
Dalam pelaksanaan surveilans kualitas layanan kesehatan, tim
pelaksana bertanggung jawab kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
Person in charge dan stakeholder
Unit kerja struktural atau fungsional yang bertanggungjawab dalam
pelaksanaan kegiatan pengendalian, pencegahan, pemberantasan atau
penanggulangan masalah kesehatan adalah pengelola program atau unit
kerja surveilans (unit pengelola sistem informasi kesehatan yang dimiliki).
Stakeholder

meliputi

masyarakat,

unit

pelayanan

kesehatan,

kabupaten/kota dan provinsi


Pengumpulan data
Teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan wawancara dan
pemeriksaan. Tujuan pengumpulan data adalah menentukan kelompok
high risk, menentukan jenis dan karakteristik (penyebabnya), menentukan
reservoir, transmisi, pencatatan kejadian penyakit, dan KLB. Terdapat lima
tipe sistem administratif pengumpulan data, meliputi : ketersediaan dan

kegunaan, sistem informasi kesehatan terpadu, sistem data pelaksana


rumah sakit, pengumpulan data ruang emergensi dan data rawat jalan.
Jika suatu prosedur surveilans telah dipilih, muailah merancang
prosedur pengumpulan data. Hal ini memuat 3 langkah:
1. Mengembangkan definisi operasional kasus
2. Mengembangkan atau memperbaiki perlengkapan pengumpulan data
3.
1.
2.
3.
4.

dan pencatatan data


Pengujian perlengkapan
Tipe sistem pengumpulan data
Sistem pencatatan vital
Kumpulan data yang ada
Pencatatan/registrasi atau survei yang ada
Mengembangkan instrumen pengumpulan data
Ada 3 jenis perlengkapan yang dapat digunakan didalam surveilans
rutin dansentinel yaitu registrasi, kuesioner suvei dan protkol
pengujian kasus. Setelahmengembangkan instrumen pengumpulan
data, sebaiknya diuji dibawah kondisinormal (mencoba diluar program
untuk melihat apakah instrument tersebutmudah dipahami oleh staf,

mudah digunakan dan menghasilkan jenis data yangdibutuhkan).


5. Menguji metode dilapangan. Dilakukan seleksi terhadap prosedur
pengumpulan data untuk tiap indikator.
6. Mengembangkan pendekatan analisis

dataAnalisis

sebaiknya

dilakukan pada tiap tingkatan sistem surveilans. Kegunaananalisis


adalah

untuk

mengidentifikasi

pola

penyakit

dan

mengidentifikasi penyebab penyakit atau kematian.


7. Menentukan mekanisme diseminasi (penyebaran)
8. Menentukan metode
Menurut PerMenkes RI No.45 tahun 2014 tentang penyelenggaraan
surveilans kesehatan, BAB II pasal 9,

bahwa pengumpulan data

dilakukan dengan cara aktif dan pasif. Pengumpulan data secara aktif
dilakukan dengan cara mendapatkan data secara langsung dari fasilitas
pelayanan kesehatan, masyarakat atau sumber data lainnya melalui
kegiatan

penyelidikan

epidemiologi,

surveilans

aktif

puskesmas/rumah sakit, survei khusus dan kegiatan lainnya.


Pengumpulan secara pasif dilakukan dengan cara menerima data dari
fasilitas pelayanan kesehatan, masyarakat atau sumber data lainnya
dalam bentuk rekam medis, buku register pasien, laporan data

10

kesakitan/kematian, laporan kegiatan, laporan masyarakat dan bentuk


lainnya. Secara singkat Pengumpulan data dilakukan dengan cara
aktif dan pasif. Jenis data
Surveilans Kesehatan dapat berupa data kesakitan, kematian, dan
faktor risiko. Pengumpulan data dapat diperoleh dari berbagai sumber
antara lain individu, Fasilitas Pelayanan Kesehatan, unit statistik dan
demografi, dan sebagainya. Metode pengumpulan data dapat
dilakukan

melalui

wawancara,

pengamatan,

pengukuran,

dan

pemeriksaan terhadap sasaran. Dalam melaksanakan kegiatan


pengumpulan data, diperlukan instrumen sebagai alat bantu.
Instrumen dibuat sesuai dengan tujuan surveilans yang akan dilakukan
dan memuat semua variabel data yang diperlukan.

2.7. Pengumpulan Data


Pengumpulan data dilakukan dengan cara:
1. Pengumpulan data secara aktif dilakukan dengan cara mendapatkan data
secara langsung dari unit-unit pelayanan kesehatan, masyarakat atau
sumber data lainnya, melalui kegiatan penyelidikan, surveilans aktif
puskesmas/rumah sakit, survei khusus, dan kegiatan lainnya.
2. Pengumpulan data secara pasif dilakukan dengan cara menerima data dari
unit-unit pelayanan kesehatan, masyarakat atau sumber data lainnya,
laporan kegiatan, laporan masyarakat dan bentuk lainnya.
2.8. Pengolahan Data
Sebelum data diolah dilakukan koreksi dan cek ulang, selanjutnya
data diolah dengan cara perekaman data, validasi, pengkodean, alih bentuk
(transform) dan pengelompokan berdasarkan variabel tempat, waktu, dan
orang. Hasil pengolahan dapat berbentuk tabel, grafik, dan bentuk lainnya.
Pengolahan data yang baik akan memberikan informasi spesifik.
Selanjutnya adalah penyajian hasil olahan data dalam bentuk yang
informatif, dan menarik. Hal ini akan membantu pengguna data untuk
memahami keadaan yang disajikan.

11

2.9. Analisis Data


Analisis data) dilakukan dengan metode deskriptif dan/atau analitik
untuk menghasilkan informasi yang sesuai dengan tujuan surveilans yang
ditetapkan.
2.10. Diseminasi Informasi dan Pengambilan Keputusan
Diseminasi informasi adalah kegiatan yang berupa pelaporan,
umpan balik, dan tindakan investigasi. Hasil analisa dan interpretasi data
selain terutama dipakai sendiri oleh unit kesehatan setempat untuk
keperluan penentuan tindak lanjut, juga untuk disebarluaskan dengan
jalan dilaporkan kepada atasan sehagai infomasi lebih lanjut, dikirimkan
sebagai umpan balik (feed back) kepada unit kesehatan pemberi laporan.
Umpan balik atau pengiriman informasi kembali kepada sumbersumber data (pelapor) mengenai arti data yang telah diberikan dan
kegunaannya setelah diolah, merupakan suatu tindakan yang penting,
selain tindakan follow up.
Diseminasi informasi dapat disampaikan dalam bentuk buletin, surat
edaran, laporan berkala, forum pertemuan, termasuk publikasi ilmiah.
Diseminasi informasi dilakukan dengan memanfaatkan sarana teknologi
informasi yang mudah diakses. Diseminasi informasi dapat juga dilakukan
apabila petugas surveilans secara aktif terlibat dalam perencanaan,
pelaksanaan

dan

monitoring

evaluasi

program

kesehatan,

dengan

menyampaikan hasil analisis.


Pengambilan keputusan dapat berbentuk kebijakan teknis, penetapan
keputusan,

atau

pengaturan.

Dalam

proses

mempertimbangkan situasi dan kondisi:


a. sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat;
b. politik, keamanan, dan pertahanan;

12

pengambilan

keputusan

c. potensi dampak yang dapat terjadi.


2.11. Contoh Hasil dan Penyajian Data
A. Hasil Kinerja Pelayanan Kesehatan Puskesmas Playen II
1. Upaya Kesehatan Wajib
Tabel 1. Hasil Pencapaian Kinerja Upaya Kesehatan Wajib UPT
Puskesmas Playen II Tahun 2010
HASIL CAKUPAN

TINGKAT

NO

KOMPONEN KEGIATAN UPAYA KESEHATAN WAJIB

(%)

KINERJA

KETERANGAN

UPAYA PROMOSI KESEHATAN

79%

Kurang

Baik 91 %

UPAYA KESEHATAN LINGKUNGAN

92%

Baik

Cukup 81-90 %

UPAYA KESEHATAN IBU DAN ANAK TERMASUK KB

96%

Baik

Kurang 80%

UPAYA PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT

93%

Baik

UPAYA PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN


5

PENYAKIT MENULAR

UPAYA PENGOBATAN

Rata-rata Kinerja

80%

Kurang

97,45%

Baik

90%

Cukup

2. Upaya Kesehatan Pengembangan


Tabel 2. Hasil Pencapaian Kinerja Upaya Kesehatan Pegembangan
UPT Puskesmas Playen II Tahun 2010
N
O

KOMPONEN KEGIATAN UPAYA KESEHATAN


PENGEMBANGAN

HASIL
CAKUPAN (%)

TINGKAT
KINERJA

KETERANGA
N

Upaya Kesehatan Usia Lanjut

83%

CUkup

Baik 91 %

Upaya Kesehatan Mata / Pencegahan Kebutaan


Upaya Kesehatan Telinga / Pencegahan Gangguan
pendengaran

Baik

Cukup 81-90
%

Baik

Kurang 80%

100%
100%

Kesehatan Jiwa

40%

Pencegahan dan penanggulangan penyakit gigi

83%

Cukup

Perawatan Kesehatan Masyarakat

100%

Baik

84%

Cukup

Rata-rata Kinerja

Kurang

Nilai cakupan kinerja pelayanan kesehatan adalah : rata rata nilai


upaya kesehatan wajib dan upaya kesehatan pengembangan, atau dengan
kata lain nilai pencapaian upaya kesehatan wajib + pengembangan dibagi
dua.
Jadi Nilai Kinerja cakupan pelayanan kesehatan UPT Puskesmas
Playen II adalah : 85,5 % (cukup)
B. Hasil Kinerja Kegiatan Manajemen UPT Puskesmas Playen II

13

Tabel 3. Hasil Pencapaian Kinerja Manajemen UPT Puskesmas Playen II


Tahun 2010
KOMPONEN
MANAJEMEN
PUSKESMAS
MANAJEMEN
1 OPERASIONAL
PUSKESMAS

NO
.

CAKUPAN
KEGIATAN

TINGKAT
KINERJA

KETERANGA
N

baik

Baik 8,5

sedang

Cukup 5,5
8,4

baik

Kurang < 5,5

8,71

2 MANAJEMEN ALAT
DAN OBAT

7,6

3 MANAJEMEN
KEUANGAN

10

4 MANAJEMEN
KETENAGAAN

9,25
baik
8,89

Rata-rata

baik

Jadi hasil kinerja kegiatan manajemen puskesmas Playen II tahun 2009


adalah : 8,89 (Kinerja Baik )

1. Hasil Kinerja Mutu Pelayanan Kesehatan UPT Puskesmas Playen


II
Tabel. 4. Hasil Pencapaian Kinerja Mutu Pelayanan Kesehatan UPT
Puskesmas Playen II Tahun 2010
N
o

JENIS KEGIATAN

Cakupa
n

Drop out pelayanan ANC (K1-K4)

0%

Nila
i

Tingkat
Kinerja

10
Baik

Persalinan oleh tenaga kesehatan

98,97%

10
Baik

3
4

Penanganan komplikasi obstetri / resiko


tinggi

100%

10
Baik
Baik

Kepatuhan terhadap standar ANC


100%
14

10

Kepatuhan terhadap standar


pemeriksaan TB Paru

100%

10
Baik

Tingkat Kepuasan pasien terhadap


pelayanan puskesmas

96%

10
Baik
10

Rata-rata nilai

Baik

Dengan melihat tabel diatas hasil kinerja mutu pelayanan kesehatan


Puskesmas Playen II tahun 2009 adalah 10 ( termasuk kinerja Baik )
C. ANALISIS HASIL KINERJA
1. Hasil Kinerja Kegiatan (Upaya Kesehatan Wajib Dan Upaya
Kesehatan Pengembangan) UPT Puskesmas Playen II Tahun 2010
Dari grafik diatas semua kegiatan belum mencapai 100 %, yang
termasuk kurang yaitu : upaya promosi kesehatan (79 %) dan

upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular (80 %).


Dari grafik di atas terlihat bahwa untuk kegiatan bayi
mendapatkan ASI eksklusif hanya mencapai 20 %, dan kegiatan

penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat 90 %.


Terlihat bahwa penyuluhan PHBS yang kurang adalah di tempat-

tempat umum.
Terlihat bahwa kegiatan yang belum mencapai 100 % adalah
kegiatan pengawasan sanitasi tempat-tempat umum 94 % dan
penyehatan lingkungan pemukiman dan jamban keluarga 55 %.
Hal ini disebabkan sanitasi tempat-tempat umum yang memenuhi
syarat 89%, pemeriksaan penyehatan lingkungan pada perumahan

55% dari 4948 rumah seharusnya diperiksa.


Untuk kegiatan KIA dan KB, Kesehatan ibu (95 %), Kesehatan
Bayi (100%), Upaya Kesehatan bayi dan Anak Prasekolah (92
%), Upaya Kesehatan Anak Usia Sekolah dan Remaja (100 %),
Pelayanan Keluarga Berencana (94 %). Untuk Upaya Kesehatan

15

Bayi dan Anak Prasekolah kami belum mengadakan kegiatan

DTKB apras sehingga belum dapat dinilai.


Untuk kegiatan Kesehatan Ibu, Linakes 99%, KN3 99 %, dan

rujukan bumil resti 82 %.


Untuk program gizi, yang belum mencapai 100 % adalah balita

yang naik berat badannya (60%).


Kinerja P2M yang belum mencapai 100% adalah DBD 80 %, dan
ISPA 0 %. Untuk DBD dikarenakan ABJ 60 %, dan untuk ISPA

tidak diketemukan kasus pneumonia.


Untuk Upaya pengobatan 95 %,dikarenakan dari 25547

penduduk, yang berkunjung dalam tahun 2009 hanya 91 %


Pencapaian kinerja Upaya Kesehatan Pengembangan yang belum
mencapai 100 % adalah Upaya kesehatan Usila 83 %, Kesehatan
Jiwa 40 % dan Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Gigi 83
%. Hal ini dikarenakan tidak semua kelompok usila yang dibina,
dipantau kesehatannya oleh nakes (67 %), Pembinaan sikat gigi
massal di SD/MI 31 %. Untuk keswa dijabarkan pada grafik di
bawah ini :

2. Hasil Kinerja Kegiatan Manajemen Puskesmas


Kinerja Manajemen dibagi menjadi 4 variabel, yaitu : manajemen
operasional puskesmas, manajemen alat dan obat, manajemen
keuangan, dan manajemen ketenagaan. Berikut ini gambaran
pencapaian kinerja manajemen di UPT Puskesmas Playen II

Tahun 2010.
Terlihat bahwa pencapaian kinerja sebagian besar baik (>8,5),
tetapi masih ada yang sedang yaitu manejemen alat dan obat 7,6
dikarenakan tidak semua ruangan terdapat daftar inventaris

barang, dan updating data alat tidak rutin dilaksanakan.


Untuk kinerja manajemen operasional puskesmas lokmin
tribulanan kurang terlaksana, dan pengiriman laporan masih

kurang cepat.
Untuk kinerja manajemen alat dan obat, permasalahan yang ada
yaitu pada masalah inventarisasi barang : tidak terdapat daftar
inventaris barang yang terpasang di ruangan, kemudian updating
data inventaris kurang rutin.
16

Untuk kinerja manajemen keuangan semuanya baik, tidak ada

masalah.
Untuk kinerja manjemen ketenagaan, belum semua petugas
membuat rencana kerja bulanan.

D. IDENTIFIKASI MASALAH DAN ALTERNATIF PEMECAHAN

MASALAH
Dengan melihat gambaran di atas hasil kinerja kegiatan UPT Puskesmas
Playen II tahun 2010 dapat dikategorikan perjenis kegiatan:
1. Kategori Kinerja Baik
- Upaya Kesehatan Lingkungan
- Kesehatan Ibu & Anak Termasuk KB
- Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat
- Upaya Pengobatan
- Upaya Kesehatan Mata / Pencegahan Kebutaan
- Upaya kesehatan Telinga / Pencegahan Gangguan Pendengaran
- Perawatan Kesehatan Masyarakat
2. Kategori Kinerja Cukup
- Upaya Kesehatan Usia Lanjut
- Pencegahan & Penanggulangan Penyakit Gigi
3. Kategori Kinerja Kurang
- Promosi Kesehatan
- Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular
- Kesehatan Jiwa
Selanjutnya akan dibahas jenis kegiatan yg termasuk kategori kinerja
cukup & kurang. Menentukan penyebab dengan menelusuri variabel & sub
variabel :

Upaya Kesehatan Usia Lanjut dengan nilai 83 %


Permasalahan :
1.
Penanggung jawab program sedang mengambil ijin belajar
DIII kebidanan, sehingga kegiatan posyandu lansia kurang
terpantau
2.
Pendanaan khusus untuk kegiatan usila tidak ada
3.
Kegiatan posyandu lansia dilakukan saat siang ataupun sore
hari, sehingga petugas usila tidak dapat rutin hadir untuk ikut
pembinaan
4.
Masyarakat yang berusia lanjut, bila sehat tidak datang ke
posyandu, sehingga seakan-akan posyandu usila hanya untuk
berobat saya.

17

Pemecahan :
1. Kegiatan posyandu usila dilakukan di pagi hari atau saat hari libur
2. Membuat perencanaan kegiatan melalui dana yang ada di
puskesmas maupun di masyarakat. Contoh : Jamkesmas,
Jamkesos, PNPM, Alokasi Dana Desa
3. Perlu pelatihan untuk kader posyandu usila, sehingga dapat secara
mandiri melaksanakan kegiatan posyandu usila
4. Perlu adanya sosialisasi ke masyarakat mengenai peran posyandu
usila, dan kegiatan apa saja yang ada di dalamnya

Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Gigi dengan nilai 83 %.


Disebabkan oleh : pembinaan dan bimbingan sikat gigi missal pada
SD/MI 31 %.
Permasalahan :
1. Jumlah SD/MI di UPT Puskesmas Playen II 25 sekolah,
sedangkan petugas UKS juga bertugas di Poli Gigi Puskesmas.
2. Pendanaan untuk kegiatan UKS hanya sedikit, tidak dapat
mencakup seluruh SD/MI
3. Belum

semua

SD

dilatih

dokter

kecil,

sehingga

dapat

membimbing teman-temannya untuk berPHBS


Pemecahan :
1. Perlu penjadwalan yang matang, sehingga semua kegiatan dapat
terlaksana
2. Membuat perencanaan kegiatan melalui dana yang ada di
puskesmas maupun di masyarakat. Contoh : Jamkesmas,
Jamkesos, PNPM, Alokasi Dana Desa
3. Mengadakan Pelatihan dokter kecil bagi SD/MI yang belum dilatih
dokter kecil

Promosi Kesehatan dengan nilai 79 %.

18

Disebabkan program bayi mendapatkan ASI Eksklusif 20 %.


Permasalahan :
1. Petugas kurang mempromosikan pentingnya ASI Esklusif
2. Pemerintah kurang tegas untuk menindak produsen susu yang
mempromosikan penggunaan susu formula bagi bayi usia 0-6
bulan, maupun penyalur (petugas kesehatan) yang memberikan
susu formula pada bayi 0-6 bulan tanpa indikasi medis.
3. Kurangnya pengetahuan ibu tentang menyusui, kebanyakan
sekarang wanita adalah pekerja sehingga kadang pemberian ASI
eksklusif hanya sampai usia 3 bulan
Pemecahan :
1. Sosialisasikan ke petugas dan pemegang program terkait untuk
lebih

giat

menginformasikan

kepada

masyarakat

tentang

pentingnya Asi Eksklusif.


2. Sosialisasi ke masyarakat mengenai ASI eksklusif

Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular dengan nilai

80 %.
Untuk program ISPA masih 0 %
ABJ 60 %
Permasalahan ISPA :
1. Petugas dan masyarakat kurang mengerti pneumonia
2. Kebanyakan pneumonia ditemukan di RS, karena biasanya sudah
dalam kondisi buruk, tidak dibawa lewat puskesmas
3. Pendanaan program ISPA tidak ada
Pemecahan ISPA :

19

1. Perlunya sosialisasi pneumonia pada petugas dan masyarakat.


2. Dibuat protap diagnosis Pneumonia
3. Adanya jejaring surveilans pneumonia tingkat kabupaten
4. Membuat perencanaan kegiatan melalui dana yang ada di
puskesmas maupun di masyarakat. Contoh : Jamkesmas,
Jamkesos, PNPM, Alokasi Dana Desa
Permasalahan ABJ :
1.

Gerakan PSN hanya terlaksana situasional bila ada kasus

2.

Perilaku masyarakat yang masih kurang tentang PSN

Pemecahan ABJ :
1. Menggalakkan kembali gerakan PSN
2. Sosialisasi PSN di masyarakat secara rutin
3. Kesehatan Jiwa dengan nilai 40 %
Permasalahan :
1.

Pemahaman masyarakat tentang gangguan jiwa masih


kurang

2.

Tidak semua petugas kesehatan mengetahui tentang


gangguan jiwa

3.

Pendanaan untuk Kesehatan Jiwa masih kurang.

Pemecahan :
1.

Sosialisasikan ke petugas dan pemegang program terkait


untuk lebih giat melakukan penyuluhan tentang gangguan jiwa ke
masyarakat.

20

2.

Petugas lebih meningkatkan kinerja dalam hal perencanaan,


pelaksanaan , dan evaluasi.

3.

Petugas melakukan kunjungan rumah dan memotivasi


masyarakat agar segera memeriksakan keluarganya bila ada yang
menderita gangguan jiwa

Untuk kinerja manajemen puskesmas, yang masih sedang adalah


manajemen alat dan obat. Berdasarkan sub variabel, disebabkan
inventarisasi barang di ruangan belum ada, updating barang masih
kurang.
Permasalahan :
1. Kurangnya motivasi dari petugas inventaris barang untuk
mendata.
2. Tenaga rangkap
Pemecahan masalah :
1. Memonitor tugas pokok dan fungsi dari pengelola barang
2. Mengusulkan tambahan tenaga administrasi barang

21

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Surveilans kualitas layanan kesehatan adalah proses pengumpulan,
pengolahan, analisis dan interprestasi data mengenai kualitas layanan unitunit pelayanan kesehatan secara sistematik dan terus menerus serta
penyebaran informasi kepada unit yang membutuhkan untuk dapat
mengambil tindakan guna mewujudkan pelayanan kesehatan yang berkualitas
sesuai dengan harapan masyarakat. Data mengenai kualitas layanan kesehatan
tersebut diukur dengan berpedoman pada beberapa indikator-indikator.
Tujuan surveilans kualitas layanan kesehatan adalah untuk mengetahui
tingkat

kinerja

unit

mengimplementasikan,

dan

pelayanan

kesehatan,

mengevaluasi

strategi

mengidentifikasi,
dalam

rangka

meningkatkan kualitas layanan kesehatan. Penyelenggaraan Surveilans


Kesehatan dilakukan melalui pengumpulan data, pengolahan data, analisis
data, dan diseminasi sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan untuk
menghasilkan informasi yang objektif, terukur, dapat diperbandingkan antar
waktu, antar wilayah, dan antar kelompok masyarakat sebagai bahan
pengambilan keputusan.
3.2. Saran
1. Meningkatkan transparansi data
2. Meningkatkan partisipasi/keikutsertaan masyrakat
3. Meningkatkan anggaran untuk pengadaan surveilans
4. Meningkatkan kemampuan petugas pelaksana surveilans

22

DAFTAR PUSTAKA
Dinas Kesehatan Kabupaten Agam. 2013. Laporan Pelaksanaan IKM. Diakses
tanggal
28
September
2015.
( http://dinkes.agamkab.go.id/up/download/17022014144255LAPORANPELAKSANAAN-IKM.doc.).

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2014,


Penyelenggaraan Surveilans Kesehatan,

UPT Puskesmas Playen II. 2010. Penilaian Kinerja UPT Puskesmas Playen II
Tahun
2010.
Diakses
tanggal
28
September
2015.
(https://uptpuskesmasplayenii.wordpress.com/).

23