Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PENDAHULUAN

KANKER PARU
A. Definisi
Kanker paru adalah tumor ganas paru primer yang berasal dari saluran napas atau epitel
bronkus. Terjadinya kanker ditandai dengan pertumbuhan sel yang tidak normal, tidak
terbatas, dan merusak sel-sel jaringan yang normal. Proses keganasan pada epitel bronkus
didahului oleh masa pra kanker. Perubahan pertama yang terjadi pada masa prakanker
disebut metaplasia skuamosa yang ditandai dengan perubahan bentuk epitel dan
menghilangnya silia.
B. Etiologi
Etiologi pasti dari kanker paru masih belum diketahui, namun diperkirakan bahwa
inhalasi jangka panjang dari bahan bahan karsiogenik merupakan faktor utama, tanpa
mengesampingkan kemungkinan perana predisposisi hubungan keluarga ataupun suku
bangsa atau ras serta status imunologis.
Sedangkan beberapa faktor resiko yang dapat menyebabkan kanker paru antara lain :
1. Merokok
Merokok merupakan salah satu yang mempunyai dampak buruk terhadap kesehtaan.
Rokok mengandung lebih dari 4000 bahan kimia, diantaranya telah diidentifikasi dapat
menyebabkan kanker. Kejadian kanker paru pada perokok dipengaruhi oleh usia mulai
merokok, jumlah batang rokok yang diisap setiap hari, lamanya kebiasaan merokok, dan
lamanya berhenti merokok. Merokok merupakan penyebab utama Ca paru. Suatu
hubungan statistik yang defenitif telah ditegakkan antara perokok berat (lebih dari dua
puluh batang sehari) dari kanker paru (karsinoma bronkogenik). Perokok seperti ini
mempunyai kecenderung sepuluh kali lebih besar dari pada perokok ringan. Selanjutnya
orang yang perokok berat

sebelumnya dan telah meninggalkan kebiasaannya akan

kembali ke pola resiko bukan perokok dalam waktu sekitar 10 tahun. Hidrokarbon
karsinogenik telah ditemukan dalam ter dari tembakau rokok yang jika dikenakan pada
kulit hewan, menimbulkan tumor.
2. Perokok pasif
Perokok pasif mempunyai efek yang lebih buruk dari pada perokok aktif, karena
perorok pasif menghirup asap dua kali lipat lebih banyak dari perokok aktif. Semakin
banyak orang yang berhubungan dekat antara perokok aktif dan pasif, maka risiko

terjadinya kanker paru akan semakin meningkat. Beberapa penelitian telah menunjukkan
bahwa pada orang-orang yang tidak merokok, tetapi mengisap asap dari orang lain, risiko
mendapat kanker paru meningkat dua kali
3. Paparan zat karsinogenik
Terdapat insiden yang tinggi dari pekerja yang terpapar dengan karbonil nikel
(pelebur nikel) dan arsenic (pembasmi rumput). Pekerja pemecah hematite (paru paru
hematite) dan orang orang yang bekerja dengan asbestos dan dengan kromat juga
mengalami peningkatan insiden. Contoh : radon, nikel, radiasi dan arsen
4. Polusi udara
Pulosi udara terutama di daerah kota-kota besar akan sangat mempunyai dampak
yang sangat tinggi terhadap kejadian kanker paru, namun polusi udara mempunyai
pengaruh kecil bila dibandingkan dengan merokok. Kematian akibat kanker paru
jumlahnya dua kali lebih banyak di daerah perkotaan dibandingkan dengan daerah
pedesaan. Karena banyak didaerah perkotaan sangat kurang lahan hijau untuk dapat
menyaring polusi-polusi udara akibat banyaknya kendaraan bermotor. Kurangnya lahan
hijau di daerah perkotaan dapat disebabkan karena pembangunan yang sangat besar dan
tidak diimbangi dengan lahan hijau sebagai keseimbangan lingkungan
5. Penyakit paru
Penyakit paru seperti tuberkulosis dan penyakit paru obstruktif kronik dapat menjadi
risiko terjadinya kanker paru. Seseorang dengan penyakit paru obstruktif kronik berisiko
empat sampai enam kali lebih besar terkena kanker paru ketika efek dari merokok
dihilangkan
C. Manifestasi klinis
Pada fase awal kebanyakan kanker tidak menimbulkan gejala klinis. Bila sudah menunjukkan
gejala klinis berarti pasien sudah dalam stadium lanjut.
1. Gejala dapat bersifat lokal
Batuk baru
Hemoptosis
Mengi (wheezing, stridor) karena ada obstruksi jalan napas
Atelectasis
2. Invasi local
Nyeri dada
Dyspnea
Aritmia
Sindrom vena cava superior
Sindrom horoner

Suara serak karena penekanan pada nervus laryngeal recurrent


Sindrom Pancoast karena invasi pada pleksus brakialis dan saraf simpatis servikalis
3. Gejala metastase
Gangguan pada otak, tulang, hati dan adrenal
Limfadenopati servikal dan supraklavikula
4. Sindrom paraneoplastic
Sistemik : penurunan BB, anoreksia, demam
Hematologi : leukositosis, anemia, hiperkoagulasi
Neurologi : dementia, ataksia, tremor
Endokrin : sekresi berlebihan hormone paratiroid (hiperkalasemia)
Renal : syndrome of inappropriate antidiuretic hormone (SIADH)
D. Klasifikasi
Klasifikasi berdasarkan TNM : tumor, nodul, metastase
1. T
T0
: Tidak tampak tumor primer
T1
: diameter tumor < 3cm, tanpa invasive ke bronkus
T2
: diameter > 3cm, dapat disertai atelectasis atau pneumonitis, namun berjarak
lebih dari 2 cm dari karina serta belum ada efusi pleura
T3
: tumor ukuran besar dengan tanda invasi ke sekitar atau sudah mendekati karina
dan disertai efusi pleura
2. N
N0
: tidak didapatkan penjalaran ke kelenjar limfe
N1
: terdapat penjalaran ke kelenjar limfe hilus ipsilateral
N2
: terdapat penjalaran ke kelenjar limfe mediastinum/kontralateral
N3
: terdapat penjalaran ke kelenjar limfe ekstratorakal
3. M
M0
: tidak terdapat metastase jauh
M1
: sudah terdapat metastase jauh ke organ lain
E. Pemeriksaan penunjang
1. CT-Scan
2. MRI
3. Foto thoraks
4. Pemeriksaan sitologi sputum
5. Pemeriksaan hispatopatologi
6. Pemeriksaan serologi
F. Penatalaksanaan
1. Pembedahan
Indikasi pembedahan pada kanker paru adalah untuk stadium I dan II. Pembedahan
juga merupakan bagian dari combine modality therapy, misalnya kemoterapi neoadjuvant
untuk stadium IIIA. Indikasi lain adalah bila kegawatan yang memerlukan intervensi
bedah seperti kanker paru dengan sindroma vena cava superior berat.

2. Radioterapi
Penetapan radiasi ditentukan oleh beberapa faktor antara lain :
a. Stadium penyakit
b. Status tampilan
c. Fungsi paru
3. Kemoterapi
Regimen kemoterapi untuk kanker paru adalah :
a. Platinum based therapy (cisplatin atau karboplatin)
b. PE (cisplatin/karboplatin + etoposide
c. Paklitaksel + cisplatin atau karboplatin
d. Gemsitabin+cisplatin atau karboplatin
e. Dosektasel+cisplatin atau karboplatin
4. Pengobatan paliatif
Pengobatan palliative untuk kanker paru meliputi radioterapi, kemoterapi,
medikamentosa, fisioterapi, dan psikososial.
5. Rehabilitasi medik
Untuk penderita kanker paru yang akan dilakukan pembedahan perlu dilakukan
rehabilitasi medik prabedah dan pasca bedah dengan tujuan membantu memperoleh hasil
optimal tindakan bedah, terutama untuk mencegah komplikasi paska bedah (misal :
retensi sputum, paru tidak mengembang) dan mempercepat mobilisasi.
G. Masalah keperawatan yang mungkin muncul
1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas
2. Ketidakefektifan pola napas
3. Nyeri akut
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
5. Deficit perawatan diri (mandi, makan, toileting)
6. Anxiety

H. Pathway

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth, 2001, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, vol 1, EGC, Jakarta.
Bulecheck, G.M., Butcher, H.K., Dochterman, J.M., Wagner, C.M., 2013. Nursing Interventions
Classification (NIC) 6th Edition.USA : Elsevier Mosby.
Moorhead, S., Johnson, M., Maas, M.L., Swanson, E. 2013. Nursing Outcomes Classification
(NOC) 5th Edition. SA : Elsevier Mosby.
NANDA. 2015. Nursing Diagnoses: Definitions & Classification 2015-2017. The North
American Nursing Diagnosis Association. Philadelphia. USA
Smeltzer, S.C & Bare, B.G. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth
Edisi 8 Vol.1. Jakarta : EGC.
Nurarif, Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis dan
NANDA. Yogyakarta: MediAction.