Anda di halaman 1dari 14

Journal Reading

Spironolactone For Heart Failure with Preserved Ejection Fraction


KEPANITERAAN KLINIK STASE INTERNA

DISUSUN OLEH
Annisa Tri Handayani
NIM : 2011730010
Dosen Pembimbing : dr. H. Muh.Masrin, M.Sc, Sp.PD

RUMAH SAKIT UMUM KELAS B CIANJUR


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
TAHUN AJARAN 2016

Referat
Keracunan Bahan Makanan, Obat-obatan dan Bahan Kimia
KEPANITERAAN KLINIK STASE INTERNA

DISUSUN OLEH
Annisa Tri Handayani
NIM : 2011730010
Dosen Pembimbing : dr. H. Muh.Masrin, M.Sc, Sp.PD

RUMAH SAKIT UMUM KELAS B CIANJUR


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
TAHUN AJARAN 2016

BAB I
PENDAHULUAN

Di masa kini makin sering terjadi masalah keracunan, mulai dari kecelakaan wisata, kecelakaan
kerja atau kecelakaan rumah tangga sampai usaha bunuh diri, pembunuhan perorangan bahkan
pembunuhan masal yang dikaitkan dengan Bio terrorism . Penanggulangan masalah ini cukup
rumit karena beberapa faktor yaitu kurangnya informasi tentang zat penyebab keracunan
karenatidak sadar atau tidak bicara dan faktor ketersediaan antidote racun yang belum semuanya
tersedia, serta terkadang antidotnya sendiri merupakan bahan toksik, oleh karena itu
penatalaksanaan keracunan seringkali bersifat simptomatis dan suportif.

BAB II

KERACUNAN BAHAN KIMIA, OBAT DAN MAKANAN


Menurut Taylor, racun adalah suatu zat yang dalam jumlah relatif kecil (bukan minimal), yang
jika masuk atau mengenai tubuh seseorang akan menyebabkan timbulnya reaksi kimiawi (efek
kimia) yang besar yang dapat menyebabkan sakit, bahkan kematian. Menurut Gradwohl racun
adalah substansi yang tanpa kekuatan mekanis, yang bila mengenai tubuh seorang (atau masuk),
akan menyebabkan gangguan fungsi tubuh, kerugian, bahkan kematian. Sehingga jika dua
definisi di atas digabungkan, racun adalah substansi kimia, yang dalam jumlah relatif kecil, tetapi
dengan dosis toksis, bila masuk atau mengenai tubuh, tanpa kekuatan mekanis, tetapi hanya
dengan kekuatan daya kimianya, akan menimbulkan efek yang besar, yang dapat menyebabkan
sakit, bahkan kematian.
Penegakkan diagnosis pasti penyebab keracunan cukup sulit karena diperlukan sarana
laboratorium toksikologi yang cukup handal, dan belum ada sarana laboratorium rumah swasta
yang ikut berperan sedangkan sarana laboratorium rumah sakit untuk pemeriksaan ini juga belum
memadai sedangkan sarana instansi resmi pemerintah juga sangat minim jumlahnya. Untuk
membantu penegakkan diagnosis maka diperlukan autoanamnesis dan aloanamnesis yang cukup
cermat serta diperlukan bukti-bukti yang diperoleh ditempat kejadian. Selanjutnya pada
pemeriksaan fisik harus ditemukan dugaan tempat masuknya racun yang dapat melalui berbagai
cara yaitu inhalasi, per oral, absorpsi kulit dan mukosa atau parenteral, hal ini penting diketahui
karena berpengaaruh pada efek kecepatan dan lamanya ( durasi ) reaksi keracunan. Racun yang
melalui rute oral biasanya bisa diketahui lewat bau mulut atau muntahan kecuali racun yang sifat

dasarnya tidak berbau dan berwarna seperti arsenikum yang sulit ditemukan hanya berdasar pada
inspeksi saja. Luka bakar berwarna keputihan pad amukosa mulut atau keabuan pada bibir dan
dagu menunjukkan akibat bahan kausatif atau korosif baik yang bersifat asam kuat maupun basa
kuat. Perbedaan pada dampak luka bakarnya yaitu nekrosis koagulatif akibat paparan asam kuat
sedangkan basa kuat menyebabkan nekrosis likuitaktif. Kerusakan korosif hebat akibat alkali
(basa) kuat pada esophagus lebih berat dibandingkan akibat asam kuat, kerusakan terbesar bila
pH > 12 tapi tergantung juga pada konsentrasi bahan tersebut. Waspadai kemungkinan kerusakan
esophagus dan lambung meskipun tidak ditemukan kerusakan pada rongga mulut beberapa jenis
racun mempunyai bau yang spesifik tetapi kemampuan mendeteksi bau pada populasi umum di
masyarakat hanya 50%, beberpaa ciri tertentu dari urin dapat pula membantu meneggakkan
diagnosis.
Tabel 1. Karakteristik Bau Racun
Bau
Aseton
Almond
Bawang Putih
Telur Busuk

Penyebab
Isopropil alcohol, Aseton
Sianida
Arsenik, Selenium, Talium
Hidrogen sulfide, Merkaptan

Tabel 2. Karakteristik warna urin


Warna urin
Hiaju/Biru
Kuning Merah
Coklat tua
Butiran keputihan
Coklat

Penyebab
Metilin biru
Rifampisin, besi
Fenol, kresol
Primidon
Haemoglobinuria

Penilaian keadaan klinis yang paling awal adalah status kesadaran, alat ukur kesadaran yang
paling sering digunakan adalah GCS (Glasgow Coma Scale ). Apabilapasien tidak sadar dan
tidak ada keterangan apapun (alloanamnesis ) maka diagnosis keracuanan dapat dilakukan
perekslusionam dna semua penyebab penuruna kesadaran seperti meningoensefalitis, trauma,
hipoglikemia, perdarahan subarachnoid diabetic ketoasidosis dan ensefalopati. Penentuan klinis
seperti ukuran pupil mata, frekuensi nafas dan denyut jantung mungkin dapat membantu
penegakkan diagnosis pada pasien dengan penurunan kesadaran.
Tabel 3. Gambaran klinis yang dapat menunjukkan bahan penyebab keracunan
Gambaran Klinis

Kemungkinan Penyebab

Pupil pin point, frekuensi nafas turun

Opioid,

Dilatasi pupil, laju nafas turun


Dilatasi pupil, Takikardia

fenotiazin
Benzodiazepin
Antidepresan trisiklik, amfetamin, ekstasi,

Sianosis

kokain, antikolinergik, antihistamin


Obat depresan SSP, bahan

Hipersaliva
Nistagmus, ataksia, tanda sereblar
Gejala ekstapiramidal
Hipertermia
Hipertermia& hipertensi
Hipertermia, takikardia, asidosis metabolik
Bradikardia

methaemoglobinemia
Organofosfat, insektisida
Antikonvulsan, ( fenitoin, karbamazepin)
Haloperidol, metoklopramid
Litium, antidepresan trisiklik, antihistamin
Amfetamin, ekstasi, kokain
Salisilat
Penghambat beta, digoksin, opioid, klonidin,

Abdominal cramp, diare

antagonis kalsium, organofosfat


Withdrawal alcohol, opiate benzodiazepin

Pemeriksaan Penunjang

inhibitor

kolinesterase,

klonidin,

penyebab

Analisis toksikologi harus dilakukan sedini mungkinhal ini selain dapat membantu penegakkan
diagnosis juga berguna untuk kepentingan penyidikan polisi pada kasus kejahatan. Sampel yang
dikirim ke laboratorium adalah 50 ml urin, 10 ml serum, bahan muntahan, feses.
Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan radiologi perlu dilakukan terutama bila dicurigai adanya aspirasi zat racun melalui
inhalasi atau dugaan adanya perforasi lambung
Laboratorium Klinik
Pemeriksaan ini penting dilakukan terutama analisa gas darah. Beberapa gangguan gas darah
dapat membantu penegakkan diagnosis penyebab keracunan. Pemeriksaan fungsi hati, ginjal dan
sedimen urin harus pula dilakukan karena selain berguna untuk mengetahui dampak keracunan
juga dapat dijadikan sebagai dasar diagnosis penyebab keracunan seperti

keracunan

parasetamolatau makanan yang mengandung asam jengkol. Pemeriksaan kadar gula darah
sewaktu dan darah perifer lengkap juga harus dilakukan.
Pemeriksaan EKG
Pemeriksaan ini perlu dilakukan pada kasus keracunan karena sering diikuti terjadinya gangguan
irama jantung yang berupa sinus takikardia, takikardia supraventrikular, torsade de pointes,
asistol, fibrilasi ventricular. Beberapa faktor predisposisi timbulnya aritmia pada keracunan
adalah keracunan obat kardiotoksik, hipoksia, nyeri dan ansietas, hiperkabia, gangguan elektrolit
darah, hipovolemia dan penyakit dasar jantung iskemik. Sangat penting diperhatikan pada semua
kasus aritmia: oksigenasi, koreksi ganggguan elektrolit dan asam basa hindari obatg antiaritmia
karena bisa mencetuskan timbulnya aritmia, gunakan oabat inotropik negatif dan kronotropik.

Penatalaksanaan
Stabilisasi
Penatalaksanaan keracunan pada waktu pertama kali berupa tindakan resusitasi kardiopulmoner
yang dilakukan dengan cepat dan tepat berupa :

Pembebasan jalan napas

Perbaikan fungsi pernafasan ( Ventilasi dan Oksigenasi )

Perbaikan sistem sirkulasi darah

Dekontaminasi
Dekontaminasi merupakan terapi intervensi yang bertujuan untuk menurunkan pemaparan
terhadap racun, mengurangi absorpsi dan mencegah kerusakan. Sebelum memberikan
pertolongan harus menggunakan pelindung berupa sarung tangan, masker dan apron. Tindakan
dekontaminasi tergantung pada lokasi tubuh yang terkena racun yaitu :
Dekontaminasi Pulmonal
Dekontaminasi pulmonal berupa tindakan menjauhkan korban dari pemaparan inhalasi zat racun,
monitor kemungnkinan gawat napas dan berikan oksigen lembab 100% dan jika perlu ventilator
Dekontaminasi Mata

Dekontaminasi Mata berupa tindakan untuk membersihkan mata dari racun yaitu posisi kepala
pasien ditengadahkan adan miring ke sisi mata yang terkena atau terburuk kondisiny. Buka
kelopak matanya perlahan dan irigasi larutan aquades atau NaCl 0,9% perlahan sampai zat
racunnya diperkirakan sudah hilang , selanjutnya tutup mata dengan kasa steril dan segera konsul
ke dokter mata.
Dekontaminasi Kulit ( Rambut dan Kuku )
Tindakan dekontaminasi paling awal adalah melepaskan pakaian, arloji, sepatu dan aksesoris
lainnya dan masukkan dalam wadah plastik yang kedap air dan tutup rapat, cuci bagian kulit
yang terkena dengan air mengalir dan disabun minimal 10

menit selanjutnya keringkan

denganhanduk kering dan lembut

Dekontaminasi Gastrointestinal
Penelanan merupakan rute pemaparan yang tersering, sehingga tindakan pemberian bahan
pengikat (karbon aktif), pengenceran atau mnegeluarkan isi lambung dengan cara induksi
muntah atau aspirasi dan kkumbah lambung dapat mengurangi jumlah paparan bahan toksik.
Eliminasi
Tindakan eliminasi adalah tindakan untuk memeprcepat penegeluaran racun yang sedang beredar
dalam darah atau dalam saluran gastrointestinal setelah lebih dari 4 jam. Apabila masih dalam
saluran cerna dapat digunakan pemberian arang aktif yang diberikan berulang dengan dosis 3050 gram (0,5 1 gram/kgBB) setiap 4 jam per oral/enteral. Tindakan ini bermanfaat pada

keracunan obat seperti karbamazepin, nadolol, fenobarbital, fenilbutazone, fenitoin, salisilat


dapson, digoksin, teofilin,quinin, dan chlordecone.
Tindakan eliminasi yang lain perlu dikonsulkan pada dokter spesialis penyakit dalam karena
tindakan spesialistik berupa cara eliminasi racun yaitu :
1. Diuresis paksa
2. Alkalinisasi urin
3. Asidifikasi urin
4. Hemodialisis
Anti Dotum
Pada kebanyakan kasus keracunan sangat sedikit jenis racun yang ada obat antidotumnya dan
sediaan obat antidote yang tersedia secara komersial sangat sedikit jumlahnya. Beberapa jenis
antidotum:
Jenis Keracunan, antidotum dan metode Pemberiannya
Bahan Racun
Kimia
Sianida
Metanol

Anti Dotum

Metode

Nitrit (sodium /amil nitrit), Amyl nitrit inhalasi 50 ml


Sodium

tiosulfat,

dikobalt (12,5 g) Na thiosulfat 25%

ederate

dlm 10 menit,

Etanol

2,5 ml/kgBB ethanol 40%


dalam air/jus jeruk,

Timbal

EDTA

Terapi kelasi

Asam 2,3 dimercaptosuksinat,


penilsilamin, BAL
Merkuri

D-penisilamine

Arsenikum

BAL,

DMPS,

Terapi Kelasi
Asam

2,3 Terapi kelasi

dimercaptosuksinat
Na hipoklorit

NatriumTiosulfat

50 mg atau 250 ml larutan 1%


i.v

Talium

Pottasium ferric

10 gr dalam 100 mlmanitol


15%, 2X oral

Organofosfat

Sulfas atropine, pralidoksim

1-2 mg i.v ulang 10-15 emnit,


max 50 mg /hari

Fe (besi)

Desferrioxamine

15 mg/kgBB /jam

Obat

Lorazepam

2 mg i.v

piridoksin

1 gram i.v/tiap gram iNH,

Amfetamin
isoniazide

maks 5 gr
Opioid

Nalokson

0,01 mg/kgBB i.vulang tiap 2


menit

Parasetamol

Metionin

Metionin efektif, paparan < 8


jam

Warfarin

Vitamin K 1

Propanolol

Isoproterenol,
glukagon

5-10 mg i.v pelan


adrenalin, Titrasi mulai 4 mcg/menit,
bolus 10 mg glucagon+ 5
mg/jam drip i.v

Racun alam

Fisotigmin Salisilat

0,02 mg/kgBB i.v 2 menit

Datura
Amanita

Salibinin

5 mg/kgBB infuse

Phaloide

Benzilpenisilin

1 jam+ 20 mg/kg/24 jam 300


mg/kgBB

Oleander

Kolestiramin

Racun binatang

Antivenin

3x4 gram/hari

Scorpion
Ubur-ubur

Antivenom

Ular berbisa

SABU

Metode Scchwartz

Makanan

Na bikarbonat

4x2 gram/hari

Jengkol

Terapi gejala penyerta atau penyulit

Gangguan Cairan, elektrolit dan asam basa


Kebutuhan dasar cairan harian 30 35 ml/kgBB/hari, Natrium 1-1,5 mmol/kgBB?hari, Kalium 1
mmol/kgBB/hari, apabila ada gangguan elektrolit harus dikoreksi sesuai derajat ringan beratnya
Hiperemesis
BIla muntah gagal dikendalikan, maka dapat diberikan metoklopropamid 10 mg i.v atau
prokloperazin 10 mg oral atau ondancentron 8 mg intravena
Rabdomiolisis
Kelainan ini bisa dideteksi dengan pemeriksaan kadar kreatinin klinase serumd dan kadar
mioglobin urin. Penatalaksanaan meliputi pemberian cairan rehidrasi i.v dan alkalinisaai urin.

DAFTAR PUSTAKA

1. Santoso, Jihad. Keracunan Arsenik. [online] April, 2012 [accessed April 12, 2012] ;.
2. Munim, Abdul. Kedokteran Forensik Edisi Pertama. Binarupa Aksara . Jakarta : 1997.
Hal 329-46
3. Asti, Yodenca. Faktor-Faktor Yang Berhubungan dengan Keracunan Pestisida
Organofosfat, Karbamat Dan Kejadian Anemia pada Petani Hortikultura Di Desa Tejosari
Kecamatan Ngablak Kabupaten Magelang. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Diponegoro Semarang. 2008.
4. Joseph Fenton. Insecticides In : Toxicology A case-Oriented Approach. CRC Press.
Washington D.C : 2002.
5. Philip Wiliiams, dkk. Properties and Effects of Pesticides In : Priciple of Toxicology. A
Wiley Interscience Publication. New York. 2000. Hal. 345-51
6. Sari Lubis, Halinda. Deteksi Dini dan Penatalaksanaan Keracunan Pestisida Golongan
Organofosfat. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. 2002.
7. Hodgson Ernest. A Textbook of Modern Toxicology. A John Wiley & Sons, Inc
Publication. New Jersey. 2004. Hal. 54-64
8. Budiawan. Peran Toksikologi Forensik dalam Mengungkap Kasus Keracunan dan
Pencemaran Lingkungan. Indonesian Journal of Legal and Forensik Sciences.Jakarta.
2008. Hal 35-9
9. Budiyanto A, Widiatmo W, Sudiono S, Winardi T, Munim A Sidhi, Hertian S, et al. Ilmu
Kedokteran Forensik. 1st ed. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia; 1997. Hal. 121-8
10. Saputra, Tri. Keracunan Baygon. [online] April, 2012 [accessed April 14, 2012] ;
Available from URL