Anda di halaman 1dari 27

PENINGKATAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS ANAK USIA 4-5

TAHUN MELALUI KEGIATAN MENGGUNTING DENGAN METODE


DEMONSTRASI DI KELOMPOK BERMAIN LEMBAH TERIANG
PAGADIH MUDIAK KECAMATAN PALUPUH
NAMA
NIM
email

: ELNI
: 821674475
: elnaelni@yahoo.com
ABSTRAK

Penelitian ini dilatar belakangi oleh rendahnya kemampuan motorik halus anak di Kelompok
Bermain Bintang Lembah Teriang Pagadih Mudiak Kecamatan Palupuh. Penelitian ini bertujuan
untuk meningkatkan Perkembangan Kemampuan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan
Menggunting Dengan Metode Demonstrasi di KB Lembah Teriang Pagadih Mudiak Kecamatan
Palupuh. Subjek penelitian ini adalah anak usia 4-5 tahun dengan jumlah 20 orang. Data yang
diambil dalam penelitian ini adalah melalui observasi dan dokumentasi. Penelitian ini dilakukan
dalan dua siklus, Siklus I dilakukan tiga kali pertemuan dan siklus II dilakukan tiga kali pertemuan.
Untuk melakukan Siklus I maka peneliti melihat kondisi awal dan setelah Siklus I dilaksanakan,
apabila tingkat kemampuan anak masih renah maka dilanjutkan pada Siklus II. Hasil penelitian
perbaikan kegiatan pengembangan telah menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan karena
sudah Berkembang Sangat Baik (BSB). Perkembangan kemampuan motorik halus anak melalui
kegiatan menggunting dengn metode demonstrai terlihat dalam data berikut: 1) Ketepatan
mengendalikan jari-jemari ketika menggunting, pada kondisi awal 0% kemudian pada siklus I
menjadi 35% dan pada siklus 2 meningkat menjadi 85%. 2) Kerapian menggunting sesuai sesuai
pola, pada kondisi awal 0% kemudian pada siklus I menjadi 35% dan pada siklus 2 meningkat
menjadi 85%. Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan di KB Lembah Teriang Pagadih
Mudiak Kecamatan Palupuh maka kemampuan motorik halus anak dapat ditingkatkan dengan
kegiatan menggunting menggunakan metode demonstrasi sehingga dapat meningkatkan kemampuan
motorik halus anak.
Kata kunci : Kemampuan, Motorik Halus, Metode Demonstrasi

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pengembangan jasmani dan rohani anak dibagi dalam tiga aspek pengembangan
yaitu aspek motorik halus, aspek afektif, aspek psikomotorik anak, dimana aspek motorik
halus terdiri dari kemampuan bahasa, daya pikir dan daya cipta yang merupakan
komponen terpenting dalam pengembangan akademik anak, sedangkan aspek afektif
yang meliputi moral, emosi, sosial, yang akan membentuk sikap perilaku untuk dapat
bersosialisasi dalam masyarakat dan kehidupan anak di masa mendatang, dan aspek
psikomotorik yang meliputi pengembangan motorik halus dan motorik kasar, untuk
menentukan keluwesan anak dalam bergerak dan koordinasi dari unsur-unsur jasmani
anak.

Undang Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem


Pendidikan Nasional pada BAB I Pasal 1 Ayat 14 tertulis bahwa pendidikan anak usia
dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai
dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk
membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki
kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. BAB II Pasal 3 Undang Undang
Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
ditetapkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan keterampilan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertaqwa pada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab.
Hal ini berarti bahwa peletakan proses pendidikan di Kelompok Bermain harus
benar dan sesuai dengan karakter pertumbuhan dan perkembangan menuju pertumbuhan
optimal. Apabila tidak dikembangkan dengan baik dan benar akan menyebabkan
penyimpangan terhadap tumbuh kembang anak dan akan sulit untuk diperbaiki. Hal ini
akan merugikan anak dalam menghadapi masa depannya, keluarga dan bangsa.
Perkembangan Motorik adalah perkembangan dari unsur pengembangan dan
1

pengendalian gerak tubuh. Perkembangan motorik berkembang dengan kematangan


syarat dan otot. Perkembangan motorik pada anak meliputi motorik kasar dan halus.
Motorik halus adalah gerakan tubuh menggunakan media kertas dalam kegiatan
pengembangan. Aktivitas anak dalam keterampilan menggerakan motorik halus dalam
perkembangan menganyam dari kreativitas anak masih belum terampil dengan
ketidakmaksimalan ini penyebabnya adalah pengelolaan kelas, yaitu penggunaan metode
dalam menumbuh kembangkan kreativitas anak dalam meningkatkan keterampilan
motorik halusnya. Pendidikan di Kelompok Bermain dalam pelaksanaan kegiatan
pengembangan yang menggunakan otot-otot besar atau sebagian besar atau seluruh
anggota tubuh yang dipengaruhi oleh kematangan anak itu sendiri.
Motorik merupakan perkembangan pengendalian gerakan tubuh melalui kegiatan
yang terkoordinir antara susunan saraf, otot, otak, dan spinal cord. Motorik halus adalah
gerakan yang menggunakan otot-otot halus atau sebagian anggota tubuh tertentu, yang
dipengaruhi oleh kesempatan untuk belajar dan berlatih. Misalnya, kemampuan
memindahkan benda dari tangan, mencoret-coret, menyusun balok, menggunting,

menulis dan sebagainya. Kedua kemampuan tersebut sangat penting agar anak bisa
berkembang dengan optimal. Perkembangan motorik sangat dipengaruhi oleh organ otak.
Lewat bermain terjadi stimulasi pertumbuhan otot-ototnya ketika anak melompat,
melempar, atau berlari. Selain itu anak bermain dengan menggunakan seluruh emosi,
perasaan, dan pikiranya. Pendidikan di Kelompok Bermain (KB) dilaksanakan dengan
prinsip Bermain sambil belajar, atau belajar seraya bermain. Sesuai dengan
perkembangan, oleh sebab itu diharapkan seorang pendidik yang kreatif dan inovatif agar
anak bisa merasa senang, tenang, aman dan nyaman selama dalam proses belajar
mengajar.
Berdasarkan pengamatan di KB Lembah Teriang Kecamatan Palupuh, Kabupaten
Agam, keterampilan motorik halus kelompok umur 4-5 tahun belum begitu berkembang.
Beberapa anak menunjukkan keterlambatan dalam keterampilan motorik halusnya
terutama menggunting, yang ditandai dengan belum terampilnya anak dalam
menggunting. Dari 20 anak tercatat sebanyak 13 anak yang cara memegang guntingnya
belum benar dan belum tepat dalam menggunting sesuai garis atau belum mengikuti
garis batas. Ada 5 anak yang cepat selesai mengguntingnya sehingga hasilnya masih
kurang rapi dan asal-asalan, akan tetapi ada 2 anak yang berhasil mengerjakannya
dengan baik dan terampil sehingga hasilnya sesuai harapan.
Banyaknya faktor penyebab rendahnya perkembangan motorik halus anak dan
adanya keterbatasan dari peneliti berupa terbatasnya waktu maka penelitian ini dibatasi
pada aspek metode kegiatan pengembangan yang digunakan guru, maka peneliti
melakukan tindakan melalui kegiatan menggunting .
1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas rendahnya kemampuan motorik
halus anak dapat di identifikasi sebagai berikut :
a. Anak masih kaku dalam memegang gunting, cara menggunting anak belum
sesuai pola yang diharapkan, dan hasil guntingan anak tidak mengikuti petunjuk
guru.
b. Anak kurang tertarik melaksanakan kegiatan.
c. Anak kurang konsentrasi pada kerjaannya.
d. Metode pengembangan motorik halus anak yang digunakan guru kurang sesuai
dengan prinsip kegiatan pengembangan anak usia dini
e. Media kegiatan pengembangan kurang menarik dalam pengembangan motorik
halus anak.
f. Kurangnya stimulasi dari orang tua di rumah
g. Rendahnya kemampuan motorik halus anak dalam menggunting
Diantara masalah yang teridentifikasi di atas maka yang menjadi fokus
penelitian ini adalah pengembangan kemampuan menggunting anak masih kurang.

2. Analisis Masalah
Dari masalah di atas peneliti mencoba Berdasarkan identifikasi masalah di atas
maka saya mencoba menganalisis masalah tersebut dengan cara sebagai berikut:
1. Bertanya kepada diri sendiri
1) Apakah kegiatan menggunting yang saya tugaskan sudah sesuai dengan umur
anak?
2) Apakah saya sudah mencontohkan terlebih dahulu sebelum kegiatan dimulai?
3) Apakah saya sudah memvariasikan kegiatan tersebut dengan kegiatan yang
lain?
4) Apakah saya sudah memberi reward kepada anak?
5) Apakah saya sudah memotifasi anak dalam kegiatan menggunting?
2. Bertanya kepada anak didik
1) Apakah anak tertarik dengan kegiatannya?
2) Apakah anak takut memegang gunting?
3) Apakah kegiatannya tidak menarik?
Dari jawaban saya dan dari jawaban anak, maka penulis menduga ada
beberapa faktor yang menyebabkan munculnya masalah belum berkembangnya
kemampuan motorik halus anak dalam menggunting bebas antara lain:
1. Faktor diri sendiri atau pendidik
Saya sebagai pendidik belum memberikan kegiatan yang menyenangkan
dalam menggunting. Ini tidak sesuai dengan kebutuhan anak yaitu menggunakan
sumber belajar yang menyenangkan, agar anak aktif dalam bermain. Sumber
belajar yang sesuai dengan kebutuhan anak adalah sumber belajar yang sesuai
dengan karakteristik anak.
2. Faktor anak didik
Anak masih kurang percaya diri karena menganggap menggunting diluar
bentuk geometri itu tidak menarik dan tidak menyenangkan seperti kegiatan yang
lain. Penyebabnya sama dengan hal diatas yaitu tidak sesuai dengan karakteristik
anak yang menyenangkan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa masalah yang harus dipecahkan
adalah rendahnya kemampuan menggunting anak. Anak lebih suka setelah kegiatan
menggunting mereka menempelkannya. Maka alternatif menyelesaikan masalah
rendahnya kemampuan motorik halus anak dalam kegiatan menggunting bebas
dengan metode demonstrasi karena kegiatan ini lebih menyenangkan.
3. Alternatif dan Prioritas Pemecahan Masalah
Bertolak dari permasalahan di atas maka pemecahan masalah dari rendahnya
kemampuan motorik halus anak adalah menggunting dengan metode demonstrasi
di KB Lembah Teriang Pagadih Mudiak Kecamatan Palupuh. Keterampilan motorik
halus yang dimaksud dalam penelitian ini pada keterampilan jari jemari dan tangan,
serta koordinasi antara mata dan tangan yang memerlukan ketepatan untuk

berhasilnya keterampilan ini. Ketepatan pada keterampilan motorik halus ini terlihat
pada ketepatan dalam menggunting sesuai pola. Pada saat anak melakukan kegiatan
menggunting mengikuti pola gambar, kemampuan untuk mengontrol otot-otot kecil
diperlukan untuk mencapai pelaksanaan keterampilan yang berhasil.
B. Rumusan Masalah
Bagaimanakah cara meningkatkan kemampuan motorik halus anak umur 4-5 tahun
melalui kegiatan menggunting dengan metode demonstrasi di KB Lembah Teriang
Pagadih Mudiak Palupuh?
C. Tujuan Penelitian
1. Secara umum
Tujuan penelitian ini secara umum adalah untuk meningkatkan kemampuan
motorik halus anak umur 4-5 tahun dalam menggunting bebas dengan metode
demonstrasi di KB Lembah Teriang Kecamatan Palupuh.
2. Secara khusus
Tujuan penelitian ini secara khusus adalah:
a. Menjadikan kegiatan menggunting bebas menjadi kegiatan yang lebih
menyenangkan bagi anak.
b. Meningkatkan kemampuan anak dalam menggunting bebas.
D. Manfaat Penelitian Perbaikan Kegiatan pengembangan
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak yang terkait. Adapun
manfaat ini dapat ditinjau dari segi teoritis dan praktis.
1. Manfaat Teoretis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan serta dapat dijadikan
bahan kajian bagi para pembaca, khususnya untuk mendukung perkembangan anak
dalam hal keterampilan motorik halus melalui kegiatan menggunting dengan
berbagai media serta memberikan gambaran bagaimana peningkatan keterampilan
motorik halus melalui kegiatan menggunting dengan berbagai media pada anak usia
dini.
2. Manfaat Praktis
Setelah diadakan penelitian di KB Lembah Teriang Kecamatan Palupuh
diharapkan secara praktis dapat bermanfaat sebagai berikut:
a. Bagi pendidik
Penelitian ini bermanfaat bagi pendidik sebagai berikut:
1) Menambah

pengetahuan dalam menggunakan variasi metode kegiatan

pengembangan untuk meningkatkan keterampilan motorik halus.


2) Meningkatkan keterampilan guru dalam mengembangkan dan melaksanakan

kegiatan pengembangan yang bervariasi.


b. Bagi peserta didik
Penelitian ini bermanfaat bagi peserta didik sebagai berikut:
1) Meningkatkan keterampilan motorik halus anak.
2) Memperoleh pengalaman langsung mengenai menggunting dengan berbagai
media.
c. Bagi orang tua
Sebagai masukan bagi orang tua dalam meningkatkan kemampuan motorik halus
anak sejak anak usia dini.
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Motorik Halus
a. Pengertian Motorik Halus Anak Usia Dini
Menurut pendapat Sujiono (2005: 12.5) Motorik halus adalah gerakan-gerakan
tubuh yang melibatkan otot-otot kecil, misalnya otot-otot jari tangan, otot muka dan
lain-lain. Gerakan motorik halus, terutama yang melibatkan otot tangan dan jari
biasanya membutuhkan kecermatan tinggi, ketekunan dan koordinasi antara mata dan
otot kecil. Sedangkan menurut Depdiknas (2007:6) motorik halus adalah gerakan
yang hanya melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu yang dilakukan oleh otot-otot
kecil. Oleh karena itu gerakan motorik halus tidak terlalu membutuhkan tenaga, akan
tetapi membutuhkan koordinasi yang cermat serta ketelitian.
b. Tujuan Keterampilan Motorik Halus Anak Usia Dini
Sujiono (2013: 1.14) mengemukakan bahwa semakin baiknya gerakan motorik
halus anak membuat anak dapat berkreasi. Seperti menggunting kertas dengan hasil
guntingan yang lurus, menggambar gambar sederhana dan mewarnai, menggunakan
klip untuk menyatukan dua lembar kertas, menjahit, menganyamkertas serta
menajamkan pensil dengan rautan pensil. Koordinasi antara mata dan tangan dapat
dikembangkan melalui kegiatan menggunting, mewarnai, menempel, memalu,
merangkai benda dengan benang (meronce), menjiplak bentuk. Pengembangan
keterampilan motorik halus akan berpengaruh terhadap kesiapan anak dalam menulis
serta kemampuan daya lihat anak sehingga dapat melatih kemampuan anak melihat ke
arah kiri dan kanan, atas bawah yang penting untuk persiapan membaca awal.
Sebagaimana dikemukakan oleh Sumantri (2005: 9) yang menyebutkan bahwa
tujuan motorik halus untuk anak usia 4-5 tahun yaitu:
1) Mampu mengembangkan kemampuan motorik halus yang berhubungan dengan

keterampilan gerak kedua tangan.


2) Mampu mengendalikan emosi dalam beraktivitas motorik halus.
3) Mampu menggerakkan anggota tubuh yang berhubungan dengan gerak jari jemari:
seperti kesiapan menulis, menggambar dan menggunting, memanipulasi benda.
4) Mampu mengkoordinasi indra mata dan aktivitas tangan dapat dikembangkan
melalui

kegiatan

permainan

membentuk

atau

memanipulasi

dari

tanah

liat/lilin/adonan, mewarnai, menempel, menggunting, memotong, merangkai benda


dengan benang (meronce).
5) Secara khusus tujuan keterampilan motorik halus anak usia (4-6 tahun) adalah anak
dapat menunjukkan kemampuan menggerakkan anggota tubuhnya terutama
terjadinya koordinasi mata dan tangan sebagai persiapan untuk pengenalan
menulis.
c. Fungsi Keterampilan Motorik Halus Anak Usia Dini
Sumantri (2005: 146) mengemukakan bahwa fungsi dari keterampilan motorik
halus yaitu untuk mendukung aspek pengembangan lainnya, seperti motorik halus,
bahasa, dan sosial. Kerena setiap aspek perkembangan tidak terpisah antara satu sama
lain. Hal ini senada sikemukakan oleh Yudha M. Saputra & Rudyanto (2005: 116)
fungsi dari keterampilan motorik halus yaitu: (a) Sebagai alat untuk mengembangkan
keterampilan gerak kedua tangan, (b) Sebagai alat untuk mengembangkan koordinasi
kecepatan tangan dengan gerakan mata, (c) Sebagai alat untuk melatih penguasaan
emosi.
d. Prinsip-prinsip Pengembangan Keterampilan Motorik Halus Anak Usia Dini
Sumantri (2005: 148) mengemukakan bahwa pendekatan pengembangan
motorik halus anak usia Kelompok Bermain hendaknya memperhatikan beberapa
prinsip-prinsip sebagai berikut: (a) berorientasi pada Kebutuhan Anak, (b) belajar
sambil bermain, (c) kreativitas dan Inovatif, (d) Lingkungan Kondusif, (e) tema, (f)
mengembangkan keterampilan hidup, (g) menggunakan kegiatan terpadu, (h) kegiatan
berorientasi pada prinsip-prinsip perkembangan anak.
Kegiatan pengembangkan anak usia dini harus senantiasa berorientasi pada
kebutuhan anak. Anak usia dini adalah masa yang sedang membutuhkan stimulasi
secara tepat untuk mencapai optimalisasi seluruh aspek pengembangan fisik maupun
psikis. Dengan demikian, ragam jenis kegiatan kegiatan pengembangan hendaknya
dilakukan melalui analisis kebutuhan yang disesuaikan dengan berbagai aspek
perkembangan dan kemampuan pada masing-masing anak. Upaya stimulasi yang

diberikan pendidik terhadap anak usia (4-6 tahun) hendaknya dilakukan dalam situasi
yang menyenangkan. Menggunakan pendekatan bermain anak diajak untuk
bereksplorasi, menemukan, dan memanfaatkan obyek-obyek yang dekat denganya
sehingga diharapkan kegiatan akan lebih bermakna.
e. Karakteristik Keterampilan Motorik Halus Umur 4-5 Tahun
Caughlin

(Sumantri,

2005:

104)

mengemukakan

ciri-ciri keterampilan

motorik halus berdasarkan kronologi usia:


1) Keterampilan Motorik Halus Umur 4 Tahun
a)

Membangun menara setinggi 11 kotak.

b)

Menggambar sesuatu yang berarti bagi anak tersebut dan gambar tersebut
dapat dikenali orang lain.

c)

Mempergunakan gerakan-gerakan jemari dalam permainan jemari.

d)

Menjiplak gambar kotak.

e)

Menulis beberapa huruf.

f)

Memotong sederhana.

2) Keterampilan Motorik Halus Umur 5 Tahun


a)

Membangun menara setinggi 12 kotak.

b)

Menggambar orang beserta rambut dan hidung.

c)

Mewarnai dengan garis-garis.

d)

Memegang pensil dengan benar antara ibu jari dan dua jari.

e)

Menulis nama depan.

f)

Menjiplak persegi panjang dan segitiga.

g)

Memotong bentuk-bentuk sederhana.


Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri keterampilan motorik

halus anak usia 4-5 Tahun di antaranya memotong bentuk-betuk sederhana.


2. Kegiatan Menggunting
a. Pengertian Menggunting
Menggunting merupakan kegiatan kreatif yang menarik bagi anak-anak.
Menggunting termasuk teknik dasar untuk membuat aneka bentuk kerajinan
tangan, bentuk hiasan dan gambar dari bahan kertas dengan memakai bantuan alat
pemotong. Sumantri (2005: 152) mengemukakan bahwa menggunting adalah
memotong berbagai aneka kertas atau bahan-bahan lain dengan mengikuti alur,
garis atau bentuk-bentuk tertentu merupakan salah satu kegiatan yang
mengembangkan motorik halus anak. Koordinasi mata dan tangan dapat

berkembang melalui kegiatan menggunting. Saat menggunting jari jemari anak


akan bergerak mengikuti pola bentuk yang digunting.
Jamaris (Sumantri, 2005: 181) mengemukakan bahwa anak yang mengalami
kesulitan belajar gerak motorik adalah lemahnya koordinasi gerak visual motorik
yaitu anak yang mengalami kesulitan dalam melakukan koordinasi antara gerak
visual (pandangan mata) dan motorik (gerakan tangan, gerakan jari tangan atau
kaki) secara serempak dan terarah pada satu tujuan seperti yang dilakukan pada
waktu memasukkan benang ke dalam lobang jarum atau pada waktu mewarnai
gambar atau menggunting kertas.
b. Manfaat Kegiatan Menggunting
Sumantri (2005: 157) mengemukakan manfaat kegiatan menggunting untuk
mengembangkan keterampilan, melatih koordinasi tangan dan mata, dan
konsentrasi yang merupakan persiapan awal atau pengenalan kegiatan menulis.
Kegiatan menggunting sangat bermanfaat untuk mengembangkan keterampilan
anak dalam menggerakkan otot-otot tangan dan jari-jari anak.
Menggerak-gerakkan gunting, mengikuti alur guntingan kertas merupakan
kegiatan yang efektif untuk mengasah kemampuan motorik halus anak. Semua ini
bermanfaat untuk merangsang pertumbuhan otak yang lebih maksimal mengingat
di usia ini merupakan masa pertumbuhan otak yang sangat pesat.
c. Langkah-langkah Kerja Menggunting
Kegiatan menggunting merupakan kegiatan kreatif yang menarik bagi anakanak. Menggunting membutuhkan langkah kerja yang memudahkan anak untuk
melakukannya. Secara umum prosedur kerja menggunting menurut Sumanto
(2005: 109) adalah sebagai berikut: (a) tahap persiapan, (b) tahap pelaksanaan, (c)
tahap penyelesaian.
Tahap persiapan, dimulai dengan menentukan bentuk, ukuran dan warna
kertas yang digunakan. Juga dipersiapkan bahan pembantu dan alat yang
diperlukan sesuai model yang
akan dibuat. Menentukan bentuk, ukuran, dan warna kertas yang digunakan
dalam menggunting mempengaruhi tingkat kemudahan anak dalam melakukan
menggunting. Warna kertas yang digunakan dalam menggunting memiliki warna
yang menarik anak.
Tahap pelaksanaan, yaitu melakukan pemotongan kertas tahap demi tahap
sesuai gambar pola (gambar kerja) dengan rapi sampai selesai baik secara langsung

atau tidak langsung. Menggunting secara langsung yaitu menggunting lembaran


kertas dengan alat gunting sesuai bentuk yang dibuat. Cara menggunting tidak
langsung yaitu menggunting dengan melalui atau tahapan melipat terlebih dahulu
pada lembaran kertas, baru dilakukan pengguntingan sesuai bentuk yang dibuat.
Sedangkan, tahap penyelesaian, yaitu menempelkan hasil guntingan diatas bidang
gambar. Hasil kegiatan menggunting anak ditempel pada buku hasil karya anak
yang nantinya dapat ditunjukkan hasil karya mereka di depan kelas.
Berikut ini jenis menggunting secara langsung dan tidak langsung di
antaranya:
a) Menggunting lurus secara langsung.
b) Menggunting lurus secara tidak langsung.
1) Lipatan setengah, kertas dilipat satu kali dibagian tengah (pola setengah)
kemudian digunting.
2) Lipatan seperempat, caranya: (a) kertas bujur sangkar dilipat miring, (b) hasil
lipatan berbentuk segitiga kemudian dilipat satu kali lagi sampai dihasilkan
bentuk segitiga yang besarnya seperempat dari kertas bujur sangkar.
Selanjutnya digunting sesuai pola yang dibuat.
3) Lipatan seperdelapan, caranya: (a) kertas bujur sangkar dilipat miring, (b)
hasil lipatan berbentuk segitiga kemudian dilipat lagi dua kali sampai
dihasilkan bentuk segitiga yang besarnya seperdelapan dari kertas bujur
sangkar. Selanjutnya digunting sesuai pola yang dibuat.
4) Lipatan rangkap atau bersusun, dibuat dengan menggunakan kertas empat
persegi panjang, kemudian dilipat rangkap memanjang dan selanjutnya
digunting dengan arah berlawanan.
c) Menggunting lengkung secara langsung.
Menggunting lengkung secara langsung yaitu menggunting lembaran
kertas dengan alat gunting secara langsung sesuai bentuk yang dibuat.
d) Pola guntingan lengkung Menggunting lengkung secara tidak langsung.
1) Lipatan setengah, kertas dilipat ditengah kemudian digunting melengkung
mengikuti pola.
2) Lipatan seperempat, kertas dilipat ditengah kemudian digunting melengkung
mengikuti pola.
3) Menggunting lengkung pada lipatan rangkai atau lipatan rangkap.

3. Metode Demonstrasi
a. Pengertian Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi adalah suatu strategi pengembangan dengan cara
memberikan pengalaman belajar melalui perbuatan melihat dan mendengarkan
yang diikuti dengan meniru pekerjaan yang didemonstrasikan. Metode demonstrasi
dapat juga dikatakan sebagai suatu metode untuk memperagakan serangkaian
tindakan berupa gerakan yang menggambarkan suatu cara kerja atau urutan proses
sebuah peristiwa/kejadian. Biasanya metode demonstrasi ini dipakai untuk
membuktikan sesuatu atau gerakan untuk dicontoh.
Di dalam kegiatan anak usia dini, banyak jenis kegiatan yang tidak cukup
dimengerti oleh anak apabila hanya disampaikan dengan penjelasan verbal, tetapi
perlu penjelasan dengan cara memperlihatkan suatu cara kerja berupa tindakan atau
gerakan misalnya, dalam kegiatan keterampilan yang merupakan melipat,
menggunting, membentuk.
Melalui kegiatan demonstrasi, guru dapat meningkatkan pemahaman anak
melaui penglihatan dan pendengaran. Anak diminta untuk memperhatikan dan
mendengarkan baik-baik semua keterangan guru sehingga ia lebih paham tentang
cara mengerjakan sesuatu.
b. Tujuan dan Manfaat Metode Demonstrasi
1) Tujuan metode demonstrasi
Demonstrasi merupakan suatu wahana untuk memberikan pengalaman belajar
agar anak dapat menguasai kemampuan yang diharapkan dengan lebih baik.
Tujuan metode demonstrasi adalah peniruan terhadap model yang dapat
dilakukan.
2) Manfaat metode demonstrasi
Manfaat metode demonstrasi adalah perhatian anak dapat lebih dipusatkan,
proses belajar anak lebih terarah pada materi yang sedang dipelajari dan
pengalaman serta kesan sebagai hasil kegiatan pengembangan lebih melekat
dalam diri anak.
Manfaat tersebut seirama dengan cara berfikir anak usia dini yang bersifat
realistic dan kongkret sehingga dapat mempelajari secara langsung dan jelas
melalui pengamatannya, selain tentunya juga akan menarik perhatiannya.
PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN KEGIATAN PENGEMBANGAN
A. Subjek, Tempat, Waktu Serta Pihak Yang Membantu Penelitian
1. Subjek dari Penelitian
Subjek penelitian perbaikan kegiatan pengembangan ini adalah anak didik
Kelompok Bermain Lembah Teriang Pagadih Mudiak usia 4-5 tahun Kecamatan

Palupuh Kabupaten Agam, dengan jumlah anak 20 orang yang terdiri dari 12 orang
laki-laki dan 8 orang perempuan.
2. Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di Kelompok Bermain Lembah Teriang Pagadih Mudiak
Kecamatan Palupuh Kabupaten Agam
3. Waktu Penelitian
Waktu pelaksanaan penelitian perbaikan kegiatan pengembangan dilaksanakan
pada semester II tahun pelajaran 2015/2016 dengan tema Alam Semesta. Adapun
rincian kegiatan sebagai berikut: 1) pertemuan pertama siklus 1 dilaksanakan pada
hari Senin tanggal 11 April 2016 dengan waktu 3 jam, 2) pertemuan kedua siklus 1
terlaksana pada hari Selasa tanggal 12 April 2016 dengan waktu 3 jam, 3) pertemuan
ketiga siklus 1 terlaksana hari Rabu tanggal 13 April 2016.
Penelitian ini dilanjutkan ke siklus 2 dengan rincian kegiatan sebagai berikut:
1) pertemuan pertama siklus 2 terlaksana pada hari Senin tanggal 18 April 2016, 2)
pertemuan kedua siklus 2 terlaksana pada hari Selasa tanggal 19 April 2016, 3)
pertemuan ketiga siklus 2 terlaksana pada hari Rabu tanggal 20 April 2016.
4. Pihak Yang Membantu Penelitian
Terlaksananya penelitian perbaikan perkembangan ini dengan baik dari awal
penelitian

sampai selesainya penulisan laporan ini tidak terlepas dari bantuan

berbagai pihak yang memberikan bimbingan dan pemikiran serta motivasi kepada
peneliti. Pihak-pihak yang berkonstribusi tersebut adalah 1) Ibu Tutor mata kuliah
selaku supervisor 1 PKP, 2) Ibu Yusmarina, S.Pd sebagai Kepala PAUD Lembah
Teriang sekaligus sebagai supervisor 2 dan penilai 1 PKP dan 3) bu Derdaneli, S.Pd
selaku guru senior dan penilai 2.
B. Desain Prosedur Perbaikan Kegiatan pengembangan
Menurut Arikunto (2006:11), perbaikan tindakan kelas dilaksanakan dengan
19
metode perbaikan tindakan yang terdiri dari empat tahapan yaitu:
1. Perencanaan
2. Pelaksanaan
3. Pengamatan
4. Perenungan
Bagan 3.1
Alur Prosedur Perbaikan Pembelajaran
refleksi

SIKLUS I

observasi

tindakan

Revisi perencanaan

refleksi

tindakan

SIKLUS II

observasi

Hasil dan pelaporan

Sumber: Suharsimi Arikunto (2006: 11)


C. Sumber dan Teknik Analisis Data
1. Sumber Data
Data dianalisis dalam persentase dengan menggunakan rumus untuk mengukur
gambaran peningkatan perkembangan motorik halus anak sebagai berikut :
P = F x 100
P=

F
x 100
N

Keterangan :
P = Angka persentase
F = Frekuensi aktivitas anak
N = Jumlah anak dalam satu kelas
Pengkategorian

nilai

pencapaian

subjek

penelitian

digunakan

klasifikasi

sebagaimana penilaian anak usia 4-5 tahun bermain yaitu:


*

= Belum Berkembang (BB)

**

= Mulai Berkembang (MB)

***

= Berkembang Sesuai Harapan (BSH)

****

= Berkembang Sangat Baik (BSB)

Sebagai indikator keberhasilan dalam penelitian ini maka pada akhir kegiatan
pengembangan setiap siklus minimal anak sudah dapat memegang gunting dan
menggunting sesuai pola. Seandainya indikator keberhasilan belum tercapai, maka
dilanjutkan ke siklus berikutnya dan jika indikator keberhasilan sudah tercapai maka
penelitian berakhir pada siklus II.
Adapun data dapat dianalisis dengan teknik sebagai berikut:
a. Analisis observasi
Hasil observasi dianalisis dengan melakukan penilaian dalam ketepatan

memegang gunting dan hasil guntingan.


b. Analisis catatan laporan
Catatan lapangan dianalisis dengan cara mengelompokkan ringkasan dalam
bentuk pernyataan tentang kemampuan anak dalam menggunting pola dan
gambar.
c. Analisis Reflektif
d. Dilakukan tindakan untuk melihat keputusan penelitian dalam usaha peneliti
mencapai tujuan penelitian.
2. Teknik Analisis Data
a. Data yang di dapat dari kegiatan anak yang di amati selama proses kegiatan
pengembangan berlangsung dilakukan melalui observasi dan hasilnya ditulis
dalam lembaran observasi dan RKH.
b. Dokumentasi berupa kamera untuk merekam kegiatan pengembangan yang
sedang berlangsung.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada bagian ini peneliti akan memaparkan temuan penelitian dalam upaya
meningkatkan kemampuan motorik halus anak dalam kegiatan menggunting di Kelompok
Bermain Lembah Teriang melalui metode demonstrasi, dimana temuan penelitian diuraikan
berdasarkan siklus-siklus tindakan kegiatan pengembangan.
Pelaksanaan tindakan dibagi atas 2 siklus, data setiap siklus dipaparkan terpisah dari
siklus berikutnya. Hal ini dilakukan agar terlihat dengan jelas peningkatan perkembangan.
Hasil penelitian pada setiap siklus dapat dideskripsikan sebagai berikut:
A.

Deskripsi

Hasil

Penelitian

Perbaikan

Kegiatan

Pengembangan
1. Deskripsi Hasil Penelitian Siklus I
Siklus I dilakukan sebanyak 3 kali pertemuan dan pertemuan tersebut
dilaksanakan setiap hari yang dilaksanakan dalam kegiatan inti pada hari Senin
sampai hari Rabu. Pertemuan I dilakukan pada tanggal 11 April 2016 sampai dengan
pertemuan ke III pada tanggal 13 April 2016.
Pada pertemuan pertama peneliti menyediakan gambar bulan, bintang dan
matahari kemudian peneliti memberikan kesempatan kepada anak secara bergantian
untuk menggunting bentuk benda langit dan meminta anak untuk menggunting pola
sesuai contoh yang telah diberikan guru. Kegiatan ini dilakukan selama 3 (tiga) kali
pertemuan, dan pada pertemuan ke II sampai dengan ke III peneliti menyediakan lagi
pola yang lebih bervariasi, setelah itu peneliti meminta anak untuk mengulang
menggunting secara bergantian.
Tabel 4.3

Hasil Observasi Perkembangan Kemampuan Motorik Halus Anak Melalui


Kegiatan Menggunting Dengan Metode Demonstrasi
Pertemuan III Siklus I
No

Aspek yang diamati

1.

Ketepatan
mengendalikan jarijemari ketika
menggunting
Kerapian
menggunting sesuai
pola.
Jumlah
Rata-rata

2.

BSB
F
%
7
35

BSH
F
%
8
40

MB
F
%
4
20

F
1

%
5

35
70
35%

40
80
40%

20

BB

40
20%

10
5%

Sampai dengan pertemuan III kemampuan motorik halus anak meningkat


dengan baik, Indikator 1) ketepatan mengendalikan jari-jemari ketika
menggunting, anak dengan kriteria berkembang sangat baik sebanyak 7 orang
atau 35%. Yang mendapat kriteria berkembang sesuai harapan sebanyak 8 orang
atau 40%, kriteria mulai berkembang 4 orang atau 20% dan kriteria belum
berkembang mulai berkurang menjadi 1 orang atau 5%. Indikator 2) Kerapian
menggunting sesuai pola, anak dengan kriteria berkembang sangat baik
sebanyak 7 orang atau 35%. Yang mendapat kriteria berkembang sesuai harapan
sebanyak 8 orang atau 40%, kriteria mulai berkembang 4 orang atau 20% dan
kriteria belum berkembang mulai berkurang menjadi 1 orang atau 5%.
Peningkatan kemampuan motorik halus anak pada pertemuan III dapat
dilihat pada grafik 4.3 berikut ini:
45
40
35
30
25
Ketepatan mengendalikan jari-jemari ketika menggunting Kerapian menggunting sesuai pola
20

15
10
5
0
BSB

BSH

MB

BB

Grafik 4.3
Hasil Observasi Perkembangan Kemampuan Motorik halus Anak Melalui
Kegiatan Menggunting Dengan Metode Demonstrasi Pertemuan III Siklus I
Pada grafik 4.3 terlihat peningkatan yang sangat baik pada kemampuan
motorik halus anak. Persentase anak yang mendapat nilai berkembang sangat
baik sudah mencapai 25%, anak dengan nilai berkembang sesuai harapan
menjadi 37,5%. Dan anak yang mulai berkembang 25% dan belum berkembang
12,5%.
1) Refleksi
Sampai dengan pertemuan III Siklus I kemampuan motorik halus
anak menunjukkan hasil kurang memuaskan. Karena hasil yang dicapai
belum optimal. Maka peneliti masih melanjutkan ke Siklus II, oleh sebab
itu pada Siklus II peneliti melakukan perbaikan tindakan untuk kegiatan
c.

menggunting dengan metode demonstrasi.


Hasil Pengamatan

Tindakan

Perbaikan

Kegiatan Pengembangan
Dari hasil pengolahan data pada siklus I sebanyak 3 kali pertemuan menunjukkan
hasil kurang memuaskan untuk kemampuan motorik halus anak. Kemampuan
ketepatan mengendalikan jari-jemari ketika menggunting dan kerapian menggunting
sesuai pola hasil yang dicapai belum optimal maka penelitian masih terus dilanjutkan
dengan siklus II. Kurang optimalnya hasil yang diperoleh diduga karena kegiatan
kegiatan menggunting dengan metode demonstrasi kurang memberikan kesempatan
kepada anak untuk menggunting dengan kegiatan yang menarik bagi anak. Oleh sebab
itu pada siklus II peneliti melakukan perbaikan tindakan melalui kegiatan
menggunting dengan metode demonstrasi. Dan dalam pelaksanaannya peneliti

melibatkan anak secara aktif untuk mendemonstrasikan cara menggunting dengan


aturan yang telah disampaikan guru.
2.

Deskripsi dan Hasil Penelitian Pada Siklus 2


a. Hasil Perencanaan Tindakan Perbaikan Kegiatan pengembangan.
Perencanaan perbaikan kegiatan pengembangan untuk siklus 2 disusun
berdasarkan hasil refleksi dari pertemuan siklus 1. Berdasarkan data yang telah
diperoleh dari hasil refleksi tersebut masih ditemui kekurangan dan kelemahan.
Sehingga perlu dilakukan tindakan perbaikan pada siklus 2.
Adapun perencanaan perbaikan kegiatan pengembangan yang telah
dilaksanakan pada siklus 2 ini terdiri dari:
1) Rancangan satu siklus untuk siklus 2
2) Rencana Kegiatan Harian (RKH) yang merupakan penjabaran dari Rancangan
Satu Siklus. Dimana RKH tersebut disusun untuk tiga kali pertemuan.
3) Skenario perbaikan untuk pelaksanaan ketiga RKH tersebut.
Dokumen perencanaan perbaikan tersebut peneliti sajikan sebagai berikut:
Tabel 4.6
Hasil Observasi Perkembangan Kemampuan Motorik halus Anak Melalui
Kegiatan Menggunting Dengan Metode Demonstrasi
Pertemuan III Siklus II
N
o
1.

2.

Aspek yang diamati

F
17

BSB
%
85

F
3

BSH
%
15

F
0

MB
%
0

BB
F
0

%
0

Ketepatan
mengendalikan jarijemari ketika
menggunting
Kerapian
17
85
3
15
0
0
0
0
menggunting sesuai
pola.
Jumlah
243,75
30
0
0
Rata-rata
170%
15%
0%
0%
Sampai dengan pertemuan III kemampuan motorik halus anak

meningkat dengan baik, Indikator 1) Ketepatan mengendalikan jari-jemari


ketika menggunting, anak dengan kriteria berkembang sangat baik sebanyak 17
orang atau 85%. Yang mendapat kriteria berkembang sesuai harapan sebanyak 3
orang atau 15%, kriteria mulai berkembang dan kriteria belum berkembang
sudah 0%. Indikator 2) Kerapian menggunting sesuai pola, anak dengan kriteria
berkembang sangat baik sebanyak 17 orang atau 85%. Yang mendapat kriteria
berkembang sesuai harapan sebanyak 3 orang atau 15%, kriteria mulai
berkembang dan kriteria belum berkembang sudah 0%.

Untuk lebih jelasnya perkembangan motorik halus anak pada pertemuan


III dapat dilihat pada grafik dibawah ini:
90
80
70
60

Ketepatan mengendalikan
jari-jemari ketika
menggunting
Kerapian menggunting
sesuai pola

50
40
30
20
10
0
BSB

BSH

MB

BB

Grafik 4.6
Hasil Observasi Perkembangan Kemampuan Motorik halus Anak
Melalui Kegiatan Menggunting Dengan Metode Demonstrasi Pertemuan
III Siklus II
Berdasarkan pada grafik diatas, kemampuan motorik halus anak pada
pertemuan III terlihat peningkatan kemampuan motorik halus anak. Dimana
anak yang memperoleh nilai berkembang sangat baik persentasenya meningkat
menjadi 85% dan untuk anak yang berkembang sesuai harapan persentasenya
15%. Sedangkan untuk anak yang mendapat nilai mulai berkembang dan belum
berkembang 0%.
a) Refleksi

Pada pertemuan III siklus II dilaksanakan berdasarkan hasil pengolahan


data pada pertemuan I sampai III, maka kemampuan motorik halus anak dengan
kriteria berkembang sangat baik sebanyak 17 orang anak atau 85% dari 20
orang anak maka peneliti sudah berhasil dengan kegiatan pengembangan.
c. Hasil Pengamatan Tindakan Perbaikan Kegiatan Pengembangan
Refleksi siklus II dilaksanakan berdasarkan hasil pengolahan data pada
pertemuan I sampai pertemuan III, kemudian diolah secara keseluruhan, tiga
kali pertemuan yang dilakukan pada siklus II.
Berdasarkan

hasil

pengolahan

data

dapat

disimpulkan

bahwa

kemampuan motorik halus anak mengalami peningkatan yang sangat baik,


karena hasil yang dicapai sudah mencapai target yang peneliti inginkan yaitu
75% anak dengan kriteria pencapaian berkembang sangat baik, dan hasil
pengolahan data menunjukan bahwa 85% telah mencapai kriteria berkembang
sangat baik. Berdasarkan hasil pengolahan data maka peneliti memutuskan
untuk menghentikan penelitian sampai dengan siklus kedua ini.
Pembahasan dari Setiap Siklus
Berdasarkan hasil pengolahan data secara kuantitiatif perlu peningkatan hasil mulai
dari kondisi awal kemampuan motorik halus anak dengan kriteria nilai berkembang
sangat baik berada pada rentang angka 0%, setelah siklus I meningkat menjadi 15%, dan
setelah siklus II pencapaian dengan kriteria berkembang sangat baik meningkat baik
sampai 85%. Data kuantitatif anak secara keseluruhan dapat dilihat pada tabel di bawah
ini :
Tabel 4.7
Hasil Observasi Perkembangan Kemampuan Motorik halus Anak Melalui Kegiatan
Menggunting Dengan Metode Demonstrasi
Pada Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II
Kondisi Awal
F
%
1 2 1 1
Pertemuan I
0 0 0 0
Pertemuan II 0 0 0 0
Pertemuan III 0 0 0 0
Peningkatan kemampuan
Kriteria

Siklus I
%
1 2
1
2
3 3 15 15
5 5 25 25
7 7 35 35
motorik halus anak
F

Siklus II
F

1
2
1
2
10 10 50 50
14 14 70 70
17 17 85 85
dalam menggunting meningkat

dengan baik setelah dilakukan dengan metode demonstrasi. Pada kondisi awal
kemampuan dengan kriteria berkembang sangat baik 0%, setelah siklus I meningkat,

pada pertemuan I meningkat menjadi 15% atau 3 orang, pada pertemuan II meningkat
menjadi 25% atau 5 orang anak, pada pertemuan III meningkat menjadi 35% atau 7
orang anak. Pada siklus II, pertemuan I untuk kriteria berkembang sangat baik
mengalami peningkatan menjadi 10 orang anak atau 50%, pada pertemuan II meningkat
menjadi 70% atau 14 orang anak, setelah pertemuan III meningkat menjadi 85% atau 17
orang. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kegiatan menggunting dengan metode
demonstrasi mampu meningkatkan kemampuan motorik halus anak.
Untuk lebih jelasnya peningkatan kemampuan motorik halus anak pada kondisi
awal, siklus I dan siklus II dapat dilihat pada grafik berikut ini:
90

85

80

70

70
60
50

50

Kondisi Awal
Siklus I
Siklus II

40
30
20
10
0
Pertemuan I

Pertemuan II Pertemuan III

Grafik 4.7
Hasil Observasi Perkembangan Kemampuan Motorik halus Anak Melalui Kegiatan
Menggunting Dengan Metode Demonstrasi
Pada Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II

Dari grafik 4.7 diatas dapat dilihat peningkatan kemampuan motorik halus anak
pada kondisi awal, siklus I dan siklus II. Pada kondisi awal kemampuan motorik halus
anak dengan kriteria berkembang sangat baik masih 0%, pada siklus I pertemuan I
meningkat menjadi 15%, pertemuan II menjadi 25%, dan pertemuan III meningkat
menjadi 35%. Sedangkan pada siklus II kemampuan motorik halus anak dengan kriteria
berkembang sangat baik pada pertemuan I yaitu 50%, pertemuan II meningkat menjadi
70%, pertemuan III meningkat menjadi 85%.
Berdasarkan uraian di atas maka peningkatan kemampuan menggunting dengan
metode demonstrasi secara individu maupun klasikal dapat meningkatkan kemampuan
motorik halus anak, hal ini terbukti dari hasil pengolahan data sebagian besar anak
memiliki kemampuan untuk menggunting dengan metode demonstrasi pada saat
penelitian.
Peningkatan ini sesuai dengan Sumantri (2005: 157) mengemukakan manfaat
kegiatan menggunting untuk mengembangkan keterampilan, melatih koordinasi tangan
dan mata, dan konsentrasi yang merupakan persiapan awal atau pengenalan kegiatan
menulis. Kegiatan menggunting sangat bermanfaat untuk mengembangkan keterampilan
anak dalam menggerakkan otot-otot tangan dan jari-jari anak.
Menggerak-gerakkan gunting, mengikuti alur guntingan kertas merupakan
kegiatan yang efektif untuk mengasah kemampuan motorik halus anak. Semua ini
bermanfaat untuk merangsang pertumbuhan otak yang lebih maksimal mengingat di
usia ini merupakan masa pertumbuhan otak yang sangat pesat.
Ketika anak berhasil menggunting dia akan melihat hasilnya. Hal ini merupakan
suatu reward positif yang akan meningkatkan kepercayaan dirinya untuk melakukan
kegiatan itu kembali. Gerakan-gerakan halus yang dilakukan saat latihan menggunting
kelak akan membantu anak lebih mudah belajar menulis. Anak-anak yang sangat kaku
memegang pensil dan yang tulisannya tidak beraturan, bisa jadi akibat kemampuan
motorik halusnya tidak dilatih dengan baik sewaktu kecil. Menggunting dapat menjadi
sarana untuk mengungkapkan ekspresi dan kreativitas anak. Koordinasi mata dan
tangan pada kegiatan menggunting akan menstimulus kerja otak sehingga kemampuan
motorik halus anak pun akan makin terasah.
Dimana metode demonstrasi merupakan suatu metode mengajar dimana seorang
guru, orang luar atau manusia sumber yang sengaja diminta atau anak menunjukkan
kepada kelas suatu benda aslinya, tiruan (wakil dari benda asli) atau suatu proses,
misalnya bagaimana cara membuat peta timbul, bagaimana cara menggunakan kamera

dengan hasil yang baik, dan sebagainya. Menurut Muhibbin Syah (2000), metode
demonstrasi adalah metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian,
aturan, dan urutan melakukan sesuatu kegiatan baik secara langsung maupun melalui
penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang
sedang disajikan.
Jadi dengan menggunakan metode demonstrasi maka untuk pencapaian
kemampuan motorik halus anak dapat berkembang dengan baik. Karena anak
langsung melihat contoh pengerjaannnya dan anak bias mencobakannya secara
langsung.
1. Siklus I
Berdasarkan hasil pengolahan data pada siklus pertama yang digambarkan
pada tabel berikut ini adalah peningkatan kemampuan motorik halus anak yang
dibatasi pada kriteria berkembang sangat baik,dan hasil pengolahan data pada siklus
I dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 4.8
Rekapitulasi Hasil Observasi Perkembangan Kemampuan Motorik halus Anak
Melalui Kegiatan Menggunting Dengan Metode Demonstrasi Siklus I

No

1.

2.

Aspek yang
diamati

Ketepatan
mengendalikan
jari-jemari
dengan baik.
Kerapaian
menggunting
sesuai pola
Jumlah
Rata-rata

Pertemuan I
Jumlah
anak
berkemba %
ng sangat
baik
3
15

15

Pertemuan II
Jumlah
anak
berkemba
%
ng sangat
baik
5
25

25

30
15%

Pertemuan III
Jumlah
anak
berkemba %
ng sangat
baik
7
35

35

50
50 %

70
35%

Hasil penelitian tentang peningkatan kemampuan motorik halus anak pada


siklus I yang dilakukan sebanyak 3 kali pertemuan dimana kemampuan anak 1)
Kegiatan menggunting berdasarkan ketepatan mengendalikan jari-jemari dengan
baik pada pertemuan pertama hanya terdapat 3 orang anak yang mendapat nilai
dengan kriteria berkembang sangat baik atau 15%, pada pertemuan kedua meningkat

menjadi 5 orang atau 25%, pertemuan ketiga meningkat menjadi 7 orang atau 35%.
Untuk kemampuan 2) Kegiatan menggunting berdasarkan Kerapaian menggunting
sesuai pola, pertemuan pertama hanya terdapat 3 orang anak yang mendapat nilai
dengan kriteria berkembang sangat baik atau 15%, pada pertemuan kedua meningkat
menjadi 5 orang atau 25%, pertemuan ketiga meningkat menjadi 7 orang atau 35%.
Rata-rata peningkatan kemampuan motorik halus anak pada siklus pertama
dapat dilihat pada grafik di bawah ini :
40
35
30
25

Ketepatan mengendalikan
jari-jemari dengan baik
Kerapaian menggunting
sesuai pola

20
15
10
5
0
Pertemuan I

Pertemuan II

Pertemuan III

Grafik 4.8
Rekapitulasi Hasil Observasi Perkembangan Kemampuan Motorik halus Anak
Melalui Kegiatan Menggunting Dengan Metode Demonstrasi Siklus I
Grafik 4.8 di atas menunjukan bahwa kemampun motorik halus anak
meningkat dengan baik pada tiap pertemuan, pada pertemuan pertama 15% anak

yang mendapat nilai dengan kriteria berkembang sangat baik, pertemuan kedua
meningkat menjadi 25%, pertemuan ketiga meningkat lagi menjadi 35%.
2. Siklus II
Berdasarkan hasil pengolahan data pada siklus II yang digambarkan pada tabel
berikut ini adalah peningkatan kemampuan motorik halus anak yang dibatasi pada
kriteria berkembang sangat baik,dan hasil pengolahan data pada siklus II dapat
dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 4.9
Rekapitulasi Hasil Observasi Perkembangan Kemampuan Motorik Halus Anak
Melalui Kegiatan Menggunting Dengan Metode Demonstrasi
Siklus II
Pertemuan I
Pertemuan II
Pertemuan III
Jumlah
Jumlah
Jumlah
Aspek yang
anak
anak
anak
No
diamati
berkemba
%
berkemba
%
berkemba
%
ng sangat
ng sangat
ng sangat
baik
baik
baik
1. Ketepatan
10
50
14
70
17
85
mengendalikan
jari-jemari
dengan baik.
2. Kerapaian
10
50
14
70
17
85
menggunting
sesuai pola
Jumlah
100
140
170
Rata-rata
50%
70%
85%
Hasil penelitian tentang peningkatan kemampuan motorik halus anak pada
siklus II yang dilakukan sebanyak 3 kali pertemuan dimana kemampuan anak 1)
Kegiatan menggunting berdasarkan ketepatan mengendalikan jari-jemari dengan
baik pada pertemuan pertama 10 orang atau 50% anak yang mendapat nilai dengan
kriteria berkembang sangat baik, pada pertemuan kedua meningkat menjadi 14

orang atau 70%, pertemuan ketiga meningkat menjadi 17 orang atau 85%. Untuk
kemampuan 2) Kegiatan menggunting berdasarkan kerapaian menggunting sesuai
pola, pertemuan pertama 10 orang atau 50% anak yang mendapat nilai dengan
kriteria berkembang sangat baik, pada pertemuan kedua meningkat menjadi 14
orang atau 70%, pertemuan ketiga meningkat menjadi 17 orang atau 85%.
Rata-rata peningkatan kemampuan motorik halus anak pada siklus II dapat
dilihat pada grafik 4.9 di bawah ini :
90
80
70
60
Ketepatan
mengendalikan jari-jemari
dengan baik
Kerapaian menggunting
sesuai pola

50
40
30
20
10
0
Pertemuan 1

Pertemuan 2

Pertemuan 3

Grafik 4.9
Hasil Observasi Perkembangan Kemampuan Motorik halus Anak Melalui
Kegiatan Menggunting Dengan Metode Demonstrasi
Siklus II
Grafik di atas menunjukan bahwa kemampun motorik halus anak
meningkat dengan baik pada tiap pertemuan, pada pertemuan pertama 50% anak
yang mendapat nilai dengan kriteria berkembang sangat baik, pertemuan kedua
meningkat menjadi 70%, pertemuan ketiga meningkat lagi menjadi 85%.
SIMPULAN DAN TINDAK LANJUT
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengolahan data maka kesimpulan dari penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Kegiatan menggunting dengan metode demontrasi meningkatkan motorik halus,
dimana anak langsung melihat proses ketika kegiatan menggunting berlangsung,
sehingga anak juga bisa langsung mencobakannya.

2. Kemampuan awal anak yang sangat rendah dalam ketepatan menggunakan jarijemari ketika menggunting, dimana pada kondisi awal kemampuan berkembang
sangat baik hanya 0% setelah diadakan metode demonstrasi dalam menggunting
maka kemampuan berkembang sangat baik meningkat menjadi 85% pada siklus 2.
3. Begitu juga kemampuan awal anak juga sangat rendah dalam ketepatan
menggunting sesuai dengan pola atau gambar, dimana pada kondisi awal
kemampuan berkembang sangat baik hanya 0% setelah diadakan metode
demonstrasi dalam menggunting maka kemampuan berkembang sangat baik
meningkat menjadi 85% pada siklus 2.
B. Saran Tindak Lanjut
Berdasarkan kesimpulan dari penelitian maka peneliti mengemukakan beberapa
saran baik saran untuk guru maupun untuk pengelola PAUD atau TK dalam
mengembangkan potensi anak usia dini.
1. Kemampuan motorik halus anak baik dalam ketepatan menggunakan jari-jemari
ketika memegang gunting maupun ketepatan menggunting sesuai pola atau gambar
bisa terus ditingkatkan melalui metode demostrasi dan kegiatan yang bervariasi.
2. Anak memiliki berbagai kemampuan atau potensi yang dapat dan harus
diikembangkan. Dan pengembangan kemampuan tersebut dilakukan oleh orang tua
dan guru. Untuk dapat mengembangkan kemampuan dan potensi anak guru dan
orang tua hendaklah memahami tentang kegiatan pengembangan anak memalui
kegiatan pengembangan yang menyenangkan yaitu melalui kegiatan bermain dan
permainan.
3. Selain kemampuan motorik halus, anak juga memiliki kemampuan lain yang harus
dikembangkan. Oleh sebab itu pendidik dituntut untuk kreatif dan inovatif dalam
melalukan pembaharuan kegiatan pengembangan untuk dapat mengembangkan
berbagai potensi anak.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Bumi Aksara. Jakarta
Dhiene, Nurbiana. 2009. Metode Pengembangan Bahasa. Jakarta: Universitas Terbuka
Depdiknas, 2003. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Naional.
Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional.

Depdiknas, 2004. Standar Kompetensi Kurikulum TK/RA. Jakarta : Departemen Pendidikan


Nasional.Direktorat Jendra Pendidikan Tinggi. Direktorat Jendral Pendidik Tenaga
Kependidikan dan Tenaga Perguruan Tinggi.
Muiz, Azizah. 20015. Metode Pengembangan Perilaku dan Kemampuan Dasar Anak Usia
Dini. Jakarta : Universitas Terbuka
Sujiono, Bambang. 2013. Metode Pengembangan Fisik. Jakarta: Universitas Terbuka
Sumantri. 2005. Pengembangan Keterampilan Motorik Anak Usia Dini. Depdiknas. Jakarta.
Undang-Undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 tentang Pendidikan Anak Usia Dini BAB
I, Pasal 1, butir 14.