Anda di halaman 1dari 26

UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA ANAK

MELALUI METODE BERCERITA DAN PERMAINAN


BAHASA DI TK PERMATA BUNDA TABEK
PANJANG KECAMATAN BASO
KABUPATEN AGAM
NAMA
NIM
email

: YASNAWATI
: 821630277
: yasnawatiyasna@gmail.com
ABSTRAK

Penelitian ini dilatar belakangi oleh rendahnya kemampuan berbicara anak. Hal ini diduga
penyebabnya, kurang bervariasinya metode yang digunakan guru dalam meningkatkan kemampuan
berbicara anak.Tujuan dari penelitian adalah untuk mengambarkan peningkatkan kemampuan
berbicara anak khususnya dalam 1) berpartisipasi dalam pembicaraan, 2) menyampaikan kalimat
sederhana dan 3) melanjutkan cerita yang sudah didengar,melalui metode bercerita.
Penelitian ini dilaksanakan pada semester II tahun ajaran 2016/2017 di TK Permata Bunda
Tabek Panjang, dengan subjek penelitian berjumlah 20 orang anak, yang terdiri dari siswa laki-laki
10 orang dan anak perempuan 10 orang. Penelitian ini dilaksanakan selama dua minggu yang terdiri
dari II siklus yaitu siklus I dan siklus II sepuluh kali pertemuan. Peningkatan hasil belajar siswa
melalui permainan bahasa dengan pesan berantai dinyatakan dalam bentuk: 1) rencana pelaksanaan
pembelajaran dengan menggunakan permainan bahasa, 2) meningkatkan hasil belajar siswa dengan
menggunakan permainan bahasa.
Peningkatan hasil belajar siswa ini dilaksanakan dalam dua siklius, dimana perolehan rata-rata nilai
anak pada siklus satu bintang tiga sedangkan pada siklus II bintang tiga dan empat.
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa metode bercerita dengan meningkatkan kemampuan
berbicara anak, pada aspek 1) berpartisipasi dalam pembicaraan meningkatkan dengan baik, 2)
menyampaikan kalimat sederhana meningkat dengan baik dan 3) melanjutkan cerita yang sudah
didengar meningkat dengan baik melalui metode bercerita. Maka disarankan pada pendidik
menggunakan metode bercerita dalam peningkatan kemampuan berbicara anak.
Kata Kunci: Kemampuan Bercerita, Metode Bercerita, Permainan Bahasa

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan
emosional anak, juga sebagai penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua . Begitu
penting pembelajaran bahasa ini sehingga harus dipelajari mulai dari TK kelas tinggi. Di
PAUD anak mendapatkan berbagai macam pengetahuan sehingga aspek-aspek
perkembanggan anak berkembang dengan baik. Undang-undang No 20 Tahun 2003
Tentang sistem Pendidikan Nasional Pasal 28 yang berbunyi tentang PAUD yaitu baik itu
keterampilan membaca, menulis, berhitung dan keterampilan yang lainnya, sebagai mana
diuraikan dalam UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1

angka 14 menyatakan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya
pembinaan yang di tujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang
dilakukan melalui pemberian ransangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan
jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih
lanjut.
Pembelajaran Bahasa Indonesia mencakup empat aspek keterampilan yaitu,
keterampilan menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Keempat aspek tersebut
menyimak dan berbicara dikategorikan dalam keterampilan berbahasa lisan, sedangkan
menulis dan membaca dikategorikan dalam keterampilan berbahasa tulis.
Komunikasi lisan yang sering dilakukan dalam kegiatan sehari-hari yaitu
menyimak dan berbicara yang mana keduanya berlangsung dalam waktu yang
bersamaan. Dengan berbicara seseorang dapat menyampaikan informasi kepada orang
lain dan dengan menyimak seseorang dapat menerima informasi yang disampaikan dari
orang lain, dengan demikian peristiwa menyimak selalu dibarengi dengan berbicara.
Bercerita merupakan suatu keterampilan yang harus dimiliki anak agar dapat
memahami bahasa yang digunakan orang lain secara lisan. Oleh sebab itu setiap guru TK
diharapkan berupaya untuk meningkatkan keterampilan menyimak anak, karena dengan
menyimak dan berbicara anak dapat memperoleh dan menyampaikan informasi yang
didengarnya.
1 pembelajaran bercerita ialah dengan mengadakan
Tugas guru yang utama dalam

pembelajaran yang bervariasi. Kegiatan bercerita hendaknya mempunyai tujuan yang


jelas terarah dan lengkap. Di samping itu anak harus menyadari pentingnya menyimak
dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu dalam melaksanakan pembelajaran bercerita guru
diharapkan mampu menentukan strategi pembelajaran bercerita yang diharapkan agar
dapat meningkatkan kemampuan menyimak anak. Salah satu strategi bercerita yang bisa
digunakan adalah dengan media gambar.
1.

Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dalam kegiatan pembelajaran teridentifikasi
bebagai permasalahan, antara lain:
a. Anak kurang konsentrasi dalam belajar terutama dalam bercerita.
b. Metode yang digunakan guru kurang bervariasi.
c. Pembelajaran lebih didominasi oleh guru sehingga anak pasif.
d. Ketika ditanya anak banyak yang diam.
e. Anak kurang paham tantang materi yang diajarkan guru.

2.

Analisis Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka diduga penyebab timbulnya


permasalahan di atas adalah:
a. Strategi pembelajaran yang digunakan guru belum dapat merangsang kemampuan
bercerita anak
b. Media yang digunakan guru kurang menarik bagi anak
c. Anak kurang konsentrasi mendengarkan pernyataan yang dilisankankan guru.
3.

Alternatif dan Prioritas Pemecahan Masalah


Apabila permasalahan pembelajaran di atas tidak dicarikan solusinya, maka
akan berdampak terhadap rendahnya kemampuan anak dalam berbicara. Untuk itu,
alternatif dan prioritas pemecahan masalah yang peneliti lakukan adalah melalui
metode bercerita dan permainan bahasa. Untuk itu penulis ingin melakuakn
penelitian perbaikan pembelajaran dengan judul Penggunaan Metode Bercerita
dan Permainan Bahasa untuk Meningkatkan Kemampuan Bercerita Anak di
TK Permata Bunda Kecamatan Baso.
B.

Rumusan Masalah
Sehubungan dengan latar belakang masalah, maka yang jadi permasalahan dalam

penelitian ini adalah: Bagaimana cara meningkatkan hasil belajar anak tentang
kemampuan bercerita melalui media gambar dengan tema Alam Semesta pada anak
yang dapat dirinci sebagai berikut :
1.

Bagaimanakah bentuk perencanaan pembelajaran menggunakan

metode

bercerita dan permainan bahasa untuk meningkatkan kemampuan bercerita anak di


TK Permata Bunda Kecamatan Baso.
2.

Bagaimana pelaksanaan pembelajaran

dengan menggunakan metode

bercerita dan permainan bahasa untuk meningkatkan kemampuan bercerita anak di


TK Permata Bunda Kecamatan Baso.
3.

C.

Bagaimana peningkatan kemampuan berbicara anak menggunakan metode


bercerita dan permainan bahasa untuk meningkatkan kemampuan bercerita anak di
TK Permata Bunda Kecamatan Baso.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang peneliti kemukakan di atas, maka tujuan

penelitian perbaikan ini adalah untuk :

1. Mendeskripsikan tentang bentuk perencanaan pembelajaran dengan metode bercerita


dan permainan bahasa

untuk meningkatkan kemampuan bercerita anak

di TK

Permata Bunda Tabek Panjang Kecamatan Baso


2. Mendeskripsikan tetang pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode
bercerita dan permainan bahasa untuk meningkatkan kemampuan bercerita anak di
TK Permata Bunda Kecamatan Baso
3. Mengetahui tentang penilingkatan kemampuan bercerita anak dengan metode
bercerita dan permainan bahasa untuk meningkatkan kemampuan bercerita anak di
TK Permata Bunda Kecamatan Baso
D.

Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat terutama bagi :
1. Siswa
Meningkatkan motivasi dan konsentrasi belajar anak pada aspek bercerita dalam
bahasa.
2. Guru
Dapat meningkatkan wawasan dan pengalaman dalam meningkatkan kualitas
pembelajaran bercerita melalui strategi permainan bahasa dan strategi belajar lainnya.
3. Bagi sekolah
Dapat memotivasi guru-guru TK Permata Bunda Tabek Panjang untuk menerapkan
model pembelajaran yang lebih aktif, inovatif, kreatif, dan menyenangkan.
4.

Bagi Peneliti
Hasil perbaikan pembelajaran ini dapat digunakan sebagai salah satu persyaratan
dalam menyelesaikan program S1, khusunya Mata kuliah Pemantapan Kemampuan
Profesional (PKP) pada UPBJJ UT Padang
II. KAJIAN PUSTAKA
A. Hasil Belajar
Menurut Sihombing (2000) menjelaskan bahwa pendidikan luar sekolah atau
pendidikan non formal adalah pendidikan yang sasaran ,pendekatan dan keluarannya
berbeda dengan pendidikan sekolah ,selain itu pendidikan luar sekolah merupakan usaha
sadar yang diarahkan untuk menyiapkan ,meningkatkan dan mengembangkan sumber
manusia agar memiliki pengetahuan,keterampilan,sikap dan daya saing untuk merebut

peluang yang tumbuh dan berkembang dengan mengobtimalkan penggunaan sumbersumber yang ada dilingkungannya.
Dalam kehidupan manusia setiap saat selalu mengalami proses belajar. Dalam
proses belajar yang dilakukan manusia akan diperoleh hasil belajar. Belajar yang
dilakukan manusia baik secara formal maupun informal. Setelah proses belajar mengajar
diharapkan terjadi perubahan tingkah laku pada anak dalam kognitif, afektif, dan
psikomotor. Perubahan-perubahan yang terjadi pada diri anak dinamakan hasil belajar di
TK.
Seorang guru harus mampu dalam melaksanakan hasil belajar, agar guru dapat
mengukur dan menilai sampai sejauh mana anak yang mengikuti proses pembelajaran
yang dilaksanakan dapat mencapai keberhasilan. Dalam menentukan keberhasilan anak
dalam proses belajar mengajar tidaklah merupakan suatu pekerjaan yang mudah.
Hasil belajar adalah akibat yang ditimbulkan dari proses pembelajaran yang
dilakukan pada diri anak berupa kognitif, afektif, dan psikomotor. Hasil belajar anak
dapat dilihat dari kemampuanya dalam mengingat pelajaran yang telah disampaikan
selama pembelajaran yang dinyatakan dalam skor dari hasil tanya jawab dan bagaimana
anak tersebut bisa menerapkannya serta mampu memecahkan masalah yang timbul
setelah mendengar cerita dari guru.
Dalam pembelajaran bercerita dengan menggunakan media gambar ada tiga
langkah yang dapat dilakukan yaitu: (1) tahap pra bercerita, (2) saat bercerita, (3) pasca
bercerita.
B. Metode Bercerita
1. Hakikat Bercerita
Mendengarkan adalah proses kegiatan menerima bunyi bahasa yang dilakukan dengan
sengaja tetapi belum ada unsur pemahaman, sedangkan menyimak sudah ada faktor
kesengajaan. Menyimak dalam kegiatan sehari-hari sangatlah penting karena dapat
memperoleh informasi untuk menambah wawasan dan pengetahuan.
2. Pengertian Bercerita
Menurut Moeslichatun,1996:194.Bercerita dalam penelitian ini adalah
menuturkan sesuatu yang mengisahkan tentang perbuatan atau sesuatu kejadian dan
disampaikan secara lisan dengan tujuan membagikan pengalaman dan pengetahuan
kepada orang lain
Menurut Yeti (1999:15) Bercerita

merupakan cara penyampaian atau

penyajian materi pembelajaran secara lisan dalam bentuk cerita dari guru kepada anak

didik taman kanak-kanak. Dalampelaksaan kegiatan pembelajaran di taman kanakkanak metode bercerita dilaksanakan dalam upaya memperkenalkan memberikan
keteranggan atau penjelasan tentang hal baru dalam

rangka

menyampaikan

pembelajaran yang dapat menggembangkan berbagai kopetensi dasar anak taman


kanak-kanak.
bercerita terdiri dari tiga langkah yaitu (1) menerima masukan yang didengar,
(2) melibatkan diri terhadap masukan yang didengar, (3) menginterprestasikan dan
berinteraksi dengan masukan yang didengar.
3. Tujuan Bercerita
Tujuan utama bercerita bagi anak usia 4-6 tahun adalah menangkap,
memahami atau menghayati cerita, ide, gagasan yang tersirat dalam bahan cerita.
Menurut Munaroh (2008:2) mengklasifikasikan tujuan bercerita adalah
sebagai berikut:(1) bercerita untuk mendapatkan pengetahuan, (2) bercerita untuk
menganalisis pengetahuan, (3) bercerita untuk mengevaluasi pengetahuan, (4)
bercerita untuk mendapatkan inspirasi, (5) bercerita untuk menghibur diri, dan (6)
bercerita untuk meningkatkan kemampuan berbicara.
Menurut Khairuddin (2008:2) tujuan bercerita yaitu: (1) untuk membedakan
unsur-unsur fonetik dan struktur kata lisan, (2) untuk menemukan dan
memperkenalkan bunyi-bunyi, kata-kata atau ide-ide baru kepada cerita, (3) bercerita
serta terperinci agar dapat menginterprestasikan ide pokok dan menanggapi secara
tepat.
4. Kemampuan Bercerita
Kemampuan bercerita yang dimiliki oleh anak dapat dibina dan ditingkatkan
apabila guru telah melaksanakan salah satu tugasnya yaitu memperhatikan keadaan
menyimak anak dan memberi kesempatan kepada anak untuk berlatih bercerita
melalui kegiatan yang sesuai dengan perkembangan anak.
C. Permainan
1.

Hakikat Permainan

Anak usia TK merupakan usia bermain karena dengan bermain anak dapat
meningkat kreativitasnya dan dapat membantu proses kematangan anak. Dengan
bermain akan memungkinkan anak meneliti lingkungannya dan mempelajari segala
sesuatu, serta dapat memecahkan masalah yang dihadapinya. Permainan juga dapat
meningkatkan perkembangan sosial anak, sehingga anak bisa dengan mudah
berkomunikasi dengan lingkungannya.
2.

Pengertian Permainan

Pada umumnya bermain merupakan suatu aktivitas yang membantu anak


mencapai perkembangan yang utuh, baik fisik, intelektual, sosial, moral dan emosinal
anak. Permainan adalah bagian yang mutlak dari kehidupan anak, melalui permainan
tidak hanya jasmani anak yang berkembang tetapi juga kognisi, emosi, sosial, fisik
dan bahasa.
Menurut Dadan (2006:94) permainan merupakan suatu aktivitas untuk memperoleh
keterampilan dengan cara yang mengembirakan. Bermain bagi anak memiliki nilai
yang tinggi dalam kemajuan dan perkembangan kehidupan sehari-hari.
3.

Manfaat Permainan
Bermain

itu

menyenangkan

karena

dalam

bermain

anak

bebas

mengekspresikan perasaan-perasaan, ide-ide ataupun fantasi-fantasi yang kadang


tidak selalu selaras dengan kenyataan yang sebenarnya. Dan dengan permainan
diharapkan dapat menimbulkan semangat dan motivasi pada diri anak sehingga
pembelajaran dapat menghasilkan proses dan hasil yang baik.
Menurut Sally (2008:1) beberapa

manfaat bermain yang bisa diperoleh

seorang anak melalui permainan antara lain:(1) bermain membantu anak mengenal
lingkungan kehidupan yang lebih baik, (2) pada saat bermain anak banyak berkatakata, (3) bemain memberi kesempatan pada anak untuk mengembangkan aktivitas.
Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa dengan bermain anak dapat meningkatkan
kemampuan berbicara dan bersoalisasi terhadap lingkungannya, dan anak juga dapat
menerima kekalahan dalam suasana yang menyenangkan dan tidak mengancam harga
dirinya secara fatal, tantangan-tantangan dalam permainan secara tidak langsung dapat
merangsang anak untuk berpikir secara cermat dan tepat.
4.

Permainan Bahasa

Pengertian Permainan Bahasa


Menurut Harlock (1978:176) menjelaskan bahasa adalah sarana komonikasi
dengan menyimbolkan pikiran dan perasaan untuk menyampaikan makna kepada
orang lain .Yusuf (2007: 118)mengatakan bahwa bahasa adalah sarana berkomonikasi
pada orang lain.
Pada hakikatnya permainan bahasa merupakan suatu aktivitas untuk memperoleh
suatu keterampilan tertentu dengan cara menggembirakan. Apabila keterampilan yang
diperoleh dalam permainan itu berupa keterampilan berbahasa tertentu, permainan
tersebut dinamakan permainan bahasa Soeparno (dalam Dadan 2006:94).

Ada beberapa faktor penentu keberhasilan permainan bahasa. Menurut


Soeparno (dalam Dadan 2006:95) ada empat faktor yang menentukan
keberhasilan permainan bahasa dikelas yaitu: (1) faktor situasi dan
kondisi, (2) faktor peraturan permainan, (3) faktor pemain dan (4)
faktor pemimpin permainan. Ada empat komponen dalam permainan
bahasa yaitu: (a) adanya pemain, (b) adanya ketentuan dalam
permainan, (c) adanya lingkungan dimana pemain berinteraksi dan (d)
adanya tujuan yang ingin dicapai.
Jenis-jenis permainan bahasa
Menurut Dadan (2006:96) ada beberapa macam permainan yang dapat
digunakan untuk pembelajaran bahasa, antara lain:(1) melihat lalu menggatakan, (2)
membaca lalu melakukan, (3) bercerita lalu pesan berantai, (4) siap laksanakan
perintah.
Permainan merupakan permainan untuk melatih keterampilan berbicara dan
bercerita. Dalam permainan ini guru menyediakan beberapa benda atau sayuran atau
bisa juga buah-buahan dalam sebuah kotak. Anak duduk dalam kelompok, salah satu
anggota kelompok harus melihat suatu benda yang ada di dalam kotak. Setelah dilihat
jelas, anak tersebut harus menjelaskan dengan sejelas-jelasnya kepada kelompoknya
baik ciri-cirinya, rasanya, warnanya atau apa saja yang telah dilihatnya, sedangkan
anggota kelompok lain harus mengambil benda yang dijelaskan oleh anak yang
melihat tadi, siapa kelompok yang paling cepat dan paling banyak mengambil benda
dalam kotak itulah pemenangnya.
Pesan berantai merupakan permainan yang dilakukan dengan cara setiap anak harus
membisikkan suatu kata (untuk di TK) atau kalimat , cerita

kepada pemain

berikutnya, terus berturut-turut sampai pemain yang terakhir, dan pemain yang
terakhir harus mengatakan isi kata , kalimat , cerita yang dibisikan betul atau salah,
bila salah dimana atau siapa yang melakukan kesalahan, dan permainan ini dapat
dilombakan dengan cara berkelompok. Yang setiap kelomok minimal terdiri dari 8
orang.
Kelebihan dan Kekurangan Permainan Bahasa.
Permainan bahasa dalam pelaksanannya memiliki kelebihan dan kekurangan.
Soeparno (dalam Dadan 2006:95) mengungkapkan kelebihan dan kekurangan
permainan bahasa sebagai berikut.
Kelebihan permainan bahasa ialah: (a) permainan bahasa sebagai
metode pembelajaran dapat meningkatkan keaktifan anak dalam proses
belajar mengajar, (b) aktivitas yang dilakukan anak bukan saja fisik
tetapi juga mental, (c) dapat membangkitkan motivasi anak dalam

belajar, (d) dengan permainan materi lebih mengesankan sehingga sukar


dilupakan.
Kekurangan permainan bahasa ialah: (a) bila jumlah anak TK terlalu
banyak akan sulit untuk melibatkan seluruh anak dalam permainan, (b)
tidak semua pelajaran dapat dilaksanakan melalui permainan, (c)
permainan banyak mengandung unsur spekulasi sehingga sulit untuk
dijadikan ukuran yang terpercaya.
Penggunaan Permainan Bahasa dalam Pembelajaran Bercerita
Permainan bahasa dalam pembelajaran bertujuan untuk melatih, memperbaiki,
mengembangkan dan meningkatkan kemampuan bercerita, sebab permainan bahasa
menuntut anak untuk berlatih bercerita yaitu bercerita dari seseorang (guru atau anak)
melalui berbisik kemudian menyampaikan pesan tersebut kepada orang lain sesuai
dengan kalimat yang di ceritakannya.
Adapun langkah pembelajaran bercerita dengan menggunakan permainan
bahasa (pesan berantai dan cerita berantai) yaitu:
a.

Langkah bercerita.

Langkah ini merupakan langkah persiapan sebelum kegiatan bercerita dimulai,


pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah: menentukan kalimat pesan yang
akan digunakan, menentukan pemain atau anak yang akan bermain dan
menjelaskan ketentuan dalam bermain.
b.

Langkah saat bercerita.

Setelah siap untuk melakukan kegiatan bercerita selanjutnya kegiatan yang


dilakukan adalah: mendengarkan pesan yang disampaikan oleh orang lain dan
menyampaikan pesan kepada orang lain melalui berbisik atau bercerita.
c.

Langkah sudah bercerita

Langkah ini merupakan langkah perbaikan dan penyempurnaan dari hasil simakan
dengan membandingkan antara hasil simakan dengan pesan sebenarnya.
III. PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
A. Subjek, Tempat, dan Waktu Penelitian, Pihak yang Membantu
1.

Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah anak TK Permata Bunda Tabek Panjang
Kecamatan Baso Kabupaten Agam yang berjumlah 20 orang yang terdiri dari 10
orang anak laki-laki dan 10 orang anak perempuan . Pertimbangan peneliti

mengambil subjek penelitian tersebut adalah berdasarkan pengamatan peneliti


terhadap anak TK telah memiliki kemampuan membaca.
2. Tempat Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan di TK Permata bunda Tabek
Panjang Kecamatan Baso Kabupaten Agam.
3.

Waktu Penelitian
Waktu yang dibutuhkan untuk penelitian selama 2 bulan yaitu bulan April s/d
Mei 2016. Terhitung dari waktu perencanaan sampai penulisan laporan hasil
penelitian. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Berikut adalah tabel jadwal
penelitian tersebut:
Tabel 3.1 Jadwal Penelitian
No.
1
2

Hari/Tanggal
Sabtu / 9 April 2016
Jumat /15 April 2016

Siklus
Pra Siklus
Siklus I

Tema
Alam Semesta
Alam Semesta

Jumat / 22 April 2016

Siklus II

Alam Semesta

Supervisor 2
Rahmatul
Fauziah, S. Pd
Rahmatul
Fauziah, S. Pd

B. Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran


Berikut bentuk bagan dari desain prosedur perbaikan pembelajaran.
Kondisi Awal
Siklus I
1. Perencanaan
4. Refleksi

3. Pengamatan
Siklus II

2. Pelaksanaan

1. Perencanaan
4. Refleksi

3. Pengamatan

2. Pelaksanaan

5. Hasil

Gambar 3.1 Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran


C. Teknik Analisis Data

Data yang diperoleh dalam penelitian dianalisis dengan menggunakan model


analisis data kualitatif yang ditawarkan oleh Miles dan Huberman (1992:18) yakni
analisis data dimulai dengan menelaah sejak pengumpulan data sampai data terkumpul.
Data tersebut direduksi berdasarkan masalah yang diteliti, diikuti penyajian data dan
terakhir penyimpulan atau ferifikasi. Tahap analisis yang demikian dilakukan berulangulang begitu data selesai dikumpulkan pada setiap tahap pengumpulan data dalam setiap
tindakan. Tahap analisis diuraikan sebagai berikut ini.
1. Menelaah data yang telah terkumpul baik melalui observasi, pencatatan dengan
menggunakan proses transkripsi hasil pengamatan, penyeleksian dan pemilihan data.
Seperti mengelompokan data pada siklus I, dan siklus II. Kegiatan menelaah data
dilaksanakan sejak awal data dikumpulkan.
2.

Reduksi data, meliputi pengkategorikan dan pengklasifikasian. Semua data yang


telah terkumpul diseleksi dan dikelompokan sesuai dengan pusatnya. Data yang
telah dipisah-pisahkan tersebut lalu diseleksi mana yang relevan dan mana yang
tidak relevan. Data yng relevan dianalisis dan yang tidak relevan dibuang.

3. Menyajikan data dilakukan dengan cara mengorganisasikan informasi yang telah


direduksi. Data tersebut mula-mula disajikan terpisah, tetapi setelah tindakan
terakhir direduksi, keseluruhan data tindakan dirangkum

dan disajikan secara

terpadu sehingga diperoleh sajian tunggal berdasarkan fokus pembelajaran


kemampuan bercerita dengan penggunaan media gambar. Menyimpulkan hasil
penelitian tindakan ini

merupakan penyimpulan

akhir penelitian. Kegiatan

dilakukan dengan cara: bertukar pikiran dengan ahli, teman sejawat dan guru, serta
kepala sekolah.
Analisis data dilakukan terhadap data yang telah direduksi baik data perencanaan,
pelaksanaan maupun data penilaian. Analisis data dilakukan dengan cara terpisah-pisah.
Hal ini dilakukan agar dapat ditemukan berbagai informasi yang spesifik dan terpusat
pada berbagai informasi yang mendukung pembelajaran dan yang menghambat
pembelajaran. Dengan demikian pengembangan dan perbaikan atas berbagai kekurangan
dapat dilakukan pada aspek yang bersangkutan.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A.

Deskripsi Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran


Penelitian ini dilaksanakan di TK Permata Bunda Tabek Panjang Kecamatan

Baso.pada bab ini memaparkan hasil temuan peningkatan hasil belajar anak pada
pelajaran Ber bahasa dengan menggunakan permainan bahasa pada semester II tahun
pelajaran 2016/2017.
Kondisi awal menunjukkan bahwa kemampuan berbicara anak berkembang
sangat rendah, baik dalam berpartisipasi dalam pembicaraan, menyampaikan kalimat
sederhana ataupun dalam melanjutkan cerita yang sudah didengar. Hasil pengamatan
sebelum melakukan penelitian sebagaimana terlihat pada tabel 4.1 di bawah ini:
Tabel 4.1
Rata-rata

Nilai
No

1
2
3

Aspek yang diamati


Berpartisipasi dalam
pembicaraan
Menyampaikan kalimat
sederhana
Melanjutkan cerita yang
sudah didengar

Jumlah
Anak

10

20

14

70

20

15

20

13

65

20

10

20

14

70

20

Jumlah

35

60

205

Nilai rata-rata

11. 7%

20%

66.7%

Kemampuan Berbicara Anak TK Permata Bunda Tabek Panjang


Kecamatan Baso Semester II Tahun Pelajaran 2015/2016

Data di atas menunjukkan bahwa dari 20 orang anak yang diamati ada 2 orang atau 10%
anak yang memiliki kemampuan mampu dalam keberanian bercerita, 20% lainnya
berada pada kriteria kurang mampu dan 70% dengan kriteria tidak mampu. Kemampuan
berbicara anak dalam menyampaikan kalimat sederhana dengan kriteria mampu
sebanyak 15%, kriteria kurang mampu 20% dan kriteria tidak mampu sebanyak 65%,
dan untuk kemampuan anak dalam melanjutkan cerita yang sudah didengar anak dengan

kriteria mampu sebanyak 10%, 20 untuk kriteria kurang mampu dan 70% dengan kriteria
tidak mampu. Dengan rata-rata perkembangan berbicara anak secara keseluruhan adalah
11.7% dengan kriteria pencapaian mampu, 20% untuk kriteria kurang mampu dan 76.7%
dengan kriteria tidak mampu.
Pelaksanaan tindakan peneliti berkolaborasi dengan teman sejawat yang terbagi
atas beberapa siklus. Hasil peneliti dipaparkan pada setiap siklus dipaparkan sebagai
berikut :
1. Pra siklus
Pelaksanaan pembelajaran pada pra siklus ini dimulai pada tanggal 9 April 2016 .
Pada tahap ini dimulai dari pelaksanaan bercerita dengan permainan bisik-bisik yang
sesuai dengan rencana kegiatan ini dilakukan oleh peneliti sendiri, dimana dari 20 orang
anak TK hanya 65% anak yang sudah baik yang 20% anak mulai baik.
2. Siklus I
1) Pengembangan Berbicara Anak Usia Dini dalam Berpartisipasi dalam
pembicaraan
Tabel 4.6
Hasil Peningkatan KemampuanBerbicaraBerpartisipasi
dalam Pembicaraan Siklus I Pertemuan 5

No
1.

Aspek yang diamati

cepat merespon

2.
3.

berbicara yang lancer


penampilan
berbicara
yang tegap
Jumlah
Rata-rata

Kompetensi
C
f
%
8
40

F
9

%
45

45

45

10

135
45%

K
f
3

%
15

45

10

50

135
45%

30
10%

Pada pertemuan kelima terlihat terjadi peningkatan yang cukup baik yaitu
pada kemampuan anak yang kurang, ditemui 10% anak yang kurang berani dalam
berbicara, 45% untuk kemampuan baik dan kemampuan cukup. Dengan demikian
kegiatan bercerita dengan menggunakan media gambar terbukti dapat
meningkatkan kemampuan berbicara anak dengan baik. Namun karena

kemampuan anak dalam berpartisipasi dalam pembicaraan belum mencapai hasil


yang diharapkan yaitu dengan persentase rata-rata 80% anak dengan kemampuan
baik. Sehingga penelitian dilanjutkan dengan siklus kedua.
2) Pengembangan Berbicara Anak Dalam Menyampaikan

Kalimat

Sederhana
Tabel 4.11
Hasil Peningkatan KemampuanBerbicara Menyampaikan
Kalimat Sederhana Siklus I Pertemuan 5

N
o
1.
2.

F
9

Kompetensi
C
%
f
%
45
10 50

F
1

%
5

45

Aspek yang diamati


kalimat yang mudah
dimengerti
pesan-pesan yang jelas dan
tepat mengucapkannya
Jumlah
Rata-rata

90
45%

10

50

100
50%

10
5%

Hasil pengamatan pada pertemuan kelima terlihat bahwa kemampuan


berbicara anak dalam menyampaikan kalimat sederhana berkembang dengan
baik. Kamampuan ini terlihat dari persentase pencapaian, yaitu untuk anak
dengan kemampuan baik berkembang sebanyak 45%, untuk kemampuan cukup
berkembang sebanyak 50%, sedangkan anak dengan kemampuan kurang hanya
5% atau 1 orang. Dengan demikian dapat dikatakan kegiatan bercerita dengan
menggunakan media gambar mampu membantu perkembangan kemampuan
komunikais lisan anak dengan baik. Hanya saja karena peningkatan yang terjadi
belum mencapai hasil yang diharapkan maka penelitian masih dilanjutkan pada
siklus kedua.
3) Pengembangan Kemampuan Berbicara Anak dalam Melanjutkan cerita
yang sudah didengar
Tabel 4.16
Hasil Pengembangan BerbicaraMelanjutkan cerita
yang sudah didengar Siklus I Pertemuan 5

No

Aspek yang diamati

Kompetensi
M
C
f
%
f
%

K
f

1.
2.
3.

dapat melanjutkan cerita


dengan dengan runut
melanjutkan cerita dengan
kalimat yang jelas
Dapat melanjutkan sesuai
yang didengar
Jumlah
Rata-rata

45

45

10

45

45

10

45

45

10

135
45%

135
45%

30
10%

Pada pertemuan kelima kegiatan bercerita dengan menggunakan media


gambar menunjukkan hasil yang cukup baik, yaitu anak dengan kemampuan baik
dengan persentase 45%, anak dengan kemampuan cukup sebanyak 45%, dan anak
dengan kemampuan kurang sebanyak 10%. Ini artinya anak dengan persentase
kurang sudah berkurang yaitu kira-kira tinggal 2 orang anak yang kurang mampu
dalam melanjutkan cerita yang sudah didengar. Karena tingkat pencapaian anak
yang diharapkan belum mencapai hasil yang diharapkan yaitu belum mencapai
rata-rata pencapaian 80%, sehingga penelitian dilanjutkan dengan siklus
berikutnya yaitu siklus kedua, dan penelitian akan dihentikan jika hasil yang
diharapkan telah didapat.
a. Refleksi
Pembelajaran siklus I difokuskan pada kemmapuan bercerita dengan
menggunakan permainan bahasa. Hasil pengamatan

selama pelaksanaan

pembelajaran didiskusikan dengan pengamat sehingga diperoleh hasil sebagai


berikut :
1) Penyajian pada tahap presentasi berjalan sesuai dengan yang telah
direncanakna.
2) Penggunaan permaian bahasa untuk meningkatkan hasil belajar anak dalam
pembelajaran bercerita sangat menarik perhatian anak.
3) Pada saat anak diminta melakukan permainan pesan berntai anak agak
mengalami kesulitan. Setelah diberi bimbingan sebagian anak sudah dapat
melaksanaknnya tetapi sebagian anak yang lain belum bisa maka dari itu
permaian bahasa dengan menggunakan pesan berantai ini akan diulang pada
siklus II.
4) Rekapitulasi Perkembangan Kemampuan Berbicara Anak Pada Siklus I

Hasil pelajaran anak pada siklus I menunjukkan bahwa jawaban anak belum
sesuai dengan yang diharapkan.
Tabel 4.17 Rekapitulasi Pengembangan Berbicara Anak
Taman Kanak-kanak Siklus I

N
o

Aspek yang
diamati

1.

Berpartisipasi
dalam
pembicaraan
Menyampaika
n kalimat yang
sederhana
Melanjutkan
cerita
yang
sudah
didengar
Jumlah

2.
3.

Rata-rata

PertemuanI
M
C
K
%
%
%
33.
38.
28.
3
3
3

Pertemuan II
M
C
K
%
%
%
43. 45 45
3

30

40

30

40

32.
5

38.
7

28.
7

40

104
.1

117

87

34.
7%

39
%

29
%

Kompetensi
Pertemuan III
M
C
K
%
%
%
43.
45
45
3

Pertemuan IV
M C K
% % %
43 45 45
.3

Pertemuan V
M C K
% % %
10 45 10

45

50

40

45

50

40

45

50

50

45

45

40

45

45

40

45

45

10

45

10

123
.3

13
5

140

123
.3

135

140

13
5

14
0

25

14
0

25

41.
1%

45
%

46.
6%

41.
1%

45
%

46.
6%

12
3.
3
41
.1
%

45
%

46
.6
%

8.
3
%

46
.6
%

8.
3
%

Rekapitulasi perkembangan berbicara anak di atas diambil dari hasil


akhir kegiatan yaitu hasil yang dicapai anak pada pertemuan kelima untuk
masing-masing aspek yang diteliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak
dengan kemampuan baik untuk masing-masing indikator adalah sebanyak 45%,
anak dengan kemampuan cukup dengan persentase 46.6% dan anak dengan
kemampuan kurang dengan persentase kurang sebanyak 8,3%. Dengan demikian
terjadi peningkatan yang sangat baik. Untuk dapat melihat rentang peningkatan

kemampuan

berbicara

anak

seperti

pada

grafik

di

bawah

ini:

50
40
30
20
10

Grafik 4.1 Rekapitulasi Perkembangan Kemampuan Berbicara Anak


Taman Kanak-kanak Pada Siklus I
Grafik perkembangan kemampuan berbicara anak yang dilakukan melalui
kegiatan bercerita dengan media gambar, menunjukkan adanya peningkatan pada
seluruh aspek. Pada pertemuan pertama anak dengan kemampuan baik meningkat
sebanyak 34.7%, untuk kemampuan cukup 39% dan untuk kemampuan kurang
sebanyak 29%, dan merupakan hasil yang kurang memusakan. Pada pertemuan
kedua terjadi peningkatan yaitu untuk kemampuan baik sebanyak 41.1%,
kemampuan cukup 39,4% dan untuk kemampuan kurang sebanyak 19,4%.
Peningkatan ini menunjukkan hasil yang cukup baik, karena jumlah persentse
anak yang kurang mampu sudah berkurang yaitu tingga 19,4%, pertemuan ketiga
persentase kemampuan baik mencapai 45%, kemampuan cukup mencapai 46,6%
dan kemampuan kurang tinggal 8,3%. Ini artinya persentase anak dengan

kemampuan kurang sudah sangat sedikit, dan persentase anak dengan


kemampuan cukup sudah mendekati 50%, namun demikian penelitian masih terus
dilanjutkan sampai hasil yang diharapkan benar-benar optimal.
Berdasarkan hasil pengamatan pada siklus pertama dapat disimpulkan bahwa
kemampuan berbicara anak meningkat dnegan sangat baik, namun hasil yang
dicapai belum sesuai dengan targget yang ditetapkan, sehingga penelitian masih
dilanjutan dengan siklus kedua. Adapun tindakan yang dilakukan pada siklus
kedua ini adalah kegiatan bercerita dengan media gambar dan kartu kata
bergambar, untuk memastikan anak memiliki kemampuan berbicara lebih dan
hasil yang dicapai sesuai dengan target yang diharapkan.

3. Siklus II
1) Pengembangan Berbicara Anak Usia Dini dalam Berpartisipasi dalam
pembicaraan
Tabel 4.22
Hasil Pengembangan Berbicara Berpartisipasi dalam pembicaraan
Siklus II Pertemuan 5

1.

cepat merespon

f
16

Kompetensi
C
K
%
f
%
F
%
80
4
20
-

2.

berbicara yang lancer

16

80

20

3.

penampilan berbicara yang


tegap
Jumlah
Rata-rata

15

75

25

No

Aspek yang diamati

235
78,3%

65
21.7%

0
0%

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa berpartisipasi dalam pembicaraan


meningkat dengan sangat baik, terbukti bahwa anak dengan kemampuan baik
sudah mencapai 78.3%, anak kemampuan cukup sebanyak 36,7% sedangkan
untuk persentase anak dengan kemampuan kurang sudah tidak ditemukan lagi.

2) Pengembangan Berbicara Anak Dalam Menyampaikan Kalimat Sederhana


Tabel 4.27
Hasil Pengembangan Berbicara Menyampaikan Kalimat Sederhana
Siklus II Pertemuan 5
N
o
1.
2.

Aspek yang diamati


kalimat yang mudah
dimengerti
pesan-pesan yang jelas dan
tepat mengucapkannya
Jumlah
Rata-rata

Kompetensi
M
C
f
%
f
%
16
80
4
20

f
-

%
-

16

80

160
80%

20

40
20%

0
0%

Tabel di atas menunjukkan bahwa kemampuan anak dalam menyampaikan


kalimat sederhana sampai dengan pertemuan ketiga ini berkembang sangat baik,
untuk persentase pencapaian kemampuan baik meningkat sampai 80% dan untuk
kemampuan cukup sebanyak 20%, serta 0% untuk kemampuan kurang. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa kegiatan bermain dengan kertu gambar dapat
membantu

terhadap

peningkatan

kemampuan

berbicara

anak

dalam

menyampaikan kalimat sederhana.

3) Pengembangan Kemampuan Berbicara Anak dalam Melanjutkan cerita


yang sudah didengar
Tabel 4.32
Hasil Pengembangan BerbicaraMelanjutkan cerita
yang sudah didengar Siklus II Pertemuan 5
No
1.
2.
3.

F
17

Kompetensi
C
%
f
%
85
3 15

f
-

%
-

17

85

15

18

90

10

Aspek yang diamati


dapat melanjutkan cerita
dengan dengan runut
melanjutkan cerita dengan
kalimat yang jelas
Dapat melanjutkan sesuai
yang didengar
Jumlah
Rata-rata

345
86.25%

55
13,75%

0
0%

Data di atas dapat dijelaskan bahwa kemampuan berbicara anak sampai


dengan pertemuan kelima menunjukkan hasil yang sangat baik. Yaitu persentase
pencapaian anak dengan kemampuan baik meningkat sampai 86.25% dan
persentase anak dengan kemampuan cukup sebanyak 13.75%, dan 0% untuk
persentase anak dengan kemampuan kurang.
a. Refleksi
Pengamatan dilakukan oleh teman sejawat secara terus menerus mulai dari
tindakan pertama sampai kepada berakhirnya tindakan. Pengamatan yang
dilakukan pada satu tindakan dapat mempengaruhi penyusunan tindakan
selanjutnya. Hasil pengamatan ini kemudian didiskusikan dengan guru, kemudian
diadakan refleksi untuk perencana- an siklus berikutnya.
Selama penelitian ini berlangsung, aspek guru (Peneliti/praktisi) yang
diamati oleh observer, adalah sebagai berikut:
1)

Peneliti menggunakan permainan bahasa yang dapat meningkatkan

pembelajaran.
2)

Penggunaan permainan bahasa dapat meningkatkan hasil bekajar anak.

3)

Peneliti tanya jawab tentang pembelajaran.

4)

Peneliti mengamati pelaksanaan permaian bahasa dengan cermat.

5)

Anak menunjukkan rasa keingintahuan yang besar.

6)

Anak tekun dan cermat dalam mengerjakan tugas.

7)

Anak berusaha mengerjakan semua tugas sebaik mungkin dalamwaktu

singkat.
8)

Anak serius dan berminat dalam mengikuti pembelajaran.

9)

Anak memerlukan dorongan dan bimbingan dari guru untuk

menjalankan tugas sebaik-baiknya.


10)

Anak aktif permainan.

11)

Hasil tanya jawab pada siklus II menunjukkan bahwa jawaban sudah

sesuai dengan yang diharapkan.


Tabel berikut ini akan diulas tentang rekapitulasi peningkatan kemampuan
berbicara anak pada siklus II.

Tabel 4.33
Rekapitulasi Pengembangan Berbicara Anak Taman Kanak-kanak Siklus II
N
o

Aspek yang
diamati

1.

Berpartisipas
i dalam
pembicaraan
Menyampaik
an kalimat
yang
sederhana
Melanjutkan
cerita yang
sudah
didengar
Jumlah

2.
3.

Rata-rata

PertemuanI
M
C
K
%
%
%
51. 46. 3.
6
6
3
55

Pertemuan II
M
C
K
%
%
%
63. 36,6 0
3

0
45

60

35

Kompetensi
Pertemuan III
Pertemuan IV
M
C
K M
C
K
%
%
% %
%
%
63 36, 0 63. 36,
0
.3
6
3
6
65

65
0

40

65

35
23.8

76.
2

16
6.6

131
.6

3.
3

204
.5

95.5

55.
5

43,
7

1.
1

68.
2

31.8

76
.2

20
4.
5
68
.2

0
35

0
23.
8

76.
2

Pertemuan V
M
C
K
%
%
%
78.
21,
0
3
7
0
80

20

86.
2

13.
8

0
23.
8

95.
5

20
4.5

95.
5

244
.5

55.
5

31.
8

68.
2

31.
8

81.
5

18.
5

90
80
70
60
50
40

30
20
10
0
Pertemuan
Pertemuan
1
Pertemuan
2
Pertemuan
3
Pertemuan
4
5
Grafik 4.2 Rekapitulas Pengembangan Berbicara Anak
Taman Kanak- kanak Siklus II
Rekapitulasi perkembangan berbicara anak di atas diambil dari hasil akhir
kegiatan yaitu hasil yang dicapai anak pada pertemuan kelima untuk masingmasing aspek yang diteliti. Hasil penelitian menunjukkan kemampuan masingmasing indikator adalah sebanyak 55.5%, anak dengan kemampuan cukup

dengan persentase 68.2% dan anak dengan kemampuan kurang dengan persentase
kurang sebanyak 81.5%. Dengan demikian terjadi peningkatan yang sangat baik.

B. Pembahasan Hasil Penelitian Perbaikan Kegiatan pengembangan


1. Pembahasan Siklus I
Pada bagian ini dilakukan pembahasan hasil penelitian yang telah dipaparkan
di atas. Pusat pembahasannya adalah penggunaan permainan bahasa untuk
meningkatkan hasil belajar anak pada pembelajaran pada anak di TK Permata Bunda
Tabek Panjang. Dari pusat bahasan tersebut, kemudian dibahas implikasi hasil
penelitian

bagi

pengembangan

pembelajaran

Kemampuan

bercerita

dalam

Pembelajaran Ber bahasa.


Berdasarkan catatan hasil pengamatan dan diskusi peneliti dengan teman
sejawat, penyebab belum suksesnya siklus 1 ini secara garis besar adalah tidak
memberi penguatan kepada anak tidak melibatkan seluruhnya.
Dari analisis penelitian siklus 1 kemampuan di TK baru mencapai cukup
rendah dengan kualifikasi Cukup. Berdasarkan hasil diperoleh pada pengamatan
siklus 1, maka direncanakan untuk melakukan perbaikan pada pembelajaran
berikutnya siklus II, guru harus memperhatikan kekurangan-kekurangan selama
proses pembelajaran pada siklus 1 dan memperbaikinya pada siklus II.
2. Pembahasan Siklus II
Pembelajaran dalam kemampuan bercerita melalui permainan bahasa pada
siklus II ini berjalan dengan baik. Guru sudah berhasil menyuruh anak melakukan
berbicara anak.
Dari analisis penelitian siklus II, nilai rata-rata kelas sudah mencapai 69,8%
dengan kualifiasi Baik. Berdasarkan hasil pengamatan, siklus II sudah mencapai
target yang diinginkan dan peneliti sudah berhasil dalam meningkatkan hasil belajar
dengan menggunakan permainan bahasa mealui kemampuan bercerita dalam
pembelajaran Ber bahasa tema Alam Semesta di TK.
Melalui penelitian ini dibuktikan bahwa penggunaan permainan bahasa dalam
meningkatkan hasil belajar anak melalui kemampuan bercerita telah mencapai sasaran
yang diinginkan. Hal ini dapat dilihat dari rekapitulasi hasil belajar anak di setiap
siklus.

Kemampuan berbicara anak yang pada awalnya cukup rendah, namun setelah
dilakukan tindakan selama dua siklus penelitian dengan dua tindakan yang berbeda
menunjukan peningkatan hasil yang sangat baik. Berikut ini akan digambarkan
peningkatan kemampuan berbicara anak mulai dari kondisi awal, siklus I dan siklus
II.

Tabel 4.34
Rekapitulasi Peningkatan Kemampuan Berbicara Anak dari Kondisi Awal,
Siklus I dan Siklus II dengan Kategori Mampu
Selisih
Siklus I
Kondisi
No Aspek yang dinilai
Siklus I Siklus II dengan
Awal
kondisi
awal
1 Berpartisipasi
10
45
78.3
35
. dalam berbicara
2 Menyampaikan
15
45
80
30
. kalimt sederhana
3 Melanjutkan
10
45
86.2
35
. cerita yang sudah
didengar
Jumlah
35
135
244.5
100
Mean/rata-rata

11.7%

45%

81.5%

33.3%

Selisih
siklus I
dengan
Siklus II

Jumlah Selisih
Kondisi Awal
dengan Siklus
II

33.3

68.3

35

65

41.2

76.2

109.5

209.5

36.5%

69.8%

Berpartisipasi dalam
berbicara
Menyampaikan kalimt
sederhana
Melanjutkan cerita yang
sudah didengar

Grafik 4.3

Rekapitulasi Peningkatan Kemampuan Berbicara Anak dari Kondisi


Awal, Siklus I dan Siklus II dengan Kategori Mampu

Data di atas menunjukan bahwa kemampuan berbicara anak meningkat setelah


melakukan kegiatan bercerita dengan media gambar. Selisih hasil yang didapat dari
kondisi awal dan setelah siklus pertama adalah senilai 33.3%, selisih siklus I dan
siklus II senilai 36.5% dan selisih kondisi awal dengan siklus I adalah 69.8%.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metode bercerita dengan media gambar
dapat meningkatkan kemampuan berbicara anak dengan baik, khususnya
kemampuan dalam dalam tiga aspek kemampuan berbicara yang peneliti amati.

V. SIMPULAN DAN SARAN TINDAK LANJUT


A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa:
1. Penggunaan metode bercerita dan permainan bahasa dapat meningkatkan
kemampuan bercerita anak
2. Dengan menggunakan metode bercerita dan permaian bahasa, maka kemampuan
bercerita anak dapat lebih meningkat.
3. Penggunaan metode bercerita dan permainan bahasa dapat meningkatkan
kemampuan bercerita anak di TK Permata Bunda Tabek Panjang. Hal ini dapat
dilihat dari hasil belajar pada setiap siklus. Pada Pra Siklus hasil yang diperoleh
11.7%, Setelah diadakan perbaikan, pada Siklus I hasil yang diperoleh anak lebih

meningkat menjadi 45%. Selanjutnya setelah diadakan perbaikan pada Siklus II,
maka terjadi lagi peningkatan kemampuan berbicara anak yaitu 81.5%.
B. Saran Tindak Lanjut

Berdasarkan simpulan yang telah diperoleh dalam penelitian ini, dapat diajukan
beberapa saran, yaitu:
1.

Agar guru terutama guru TK hendaknya dapat meningkatkan


kemampuan bercerita anak dalam belajar melalui peggunaan metode bercerita dan
permainan bahasa pada pelajaran Berbahasa

2.

Agar guru dapat membangkitkan motivasi anak dalam belajar,


sehingga pembelajaran menjadi bermakna bagi anak.

DAFTAR PUSTAKA
Masitoh,dkk. 2014.Strategi pembelajaran TK.Jakarta . Universitas Terbuka
Muslichatoen. 2005 . Metode pengajaran Taman Kanak-Kanak: Jakarta:
PT Rineka cipta.
Ahmad, Rohani. 1997. Media Instruksional Edukatif. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Arsyad, Azhar. 2003. Media Pembelajaran. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
-----------------. 2006. Media Pembelajaran. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Hamalik, Oemar. 1993. Proses pembelajaran Mengajar. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
M. Ngalim Purwanto. 1996. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Ritawati. 2001. Penggunaan Pendekatan KonstruktiIVisme dalam Pembelajaran Membaca
Pemahaman Bagi Siswa Kelas IV SDN Sumbersari III Kec. Lowokwaru Kodya
Malang. Malang. Tesis tidak diterbitkan. PPs- UniIVersitas Negeri Malang.
Rochiyati Wiraadmaja. 2005. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Rosda Karya.
Rustam Mundilarto. 2004. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Depdiknas. Tersedia dalam
http://klinikpembelajaran.com/booklet/penelitian-tindakan-kelas.pdf. (diakses 05
Oktober 2014).
Sadiman, S Arief, dkk. 2007. Media Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Nana Sudjana, dkk. 1997. Media Pengajaran. Bandung: CIV. Sinar Dunia.
----------------, dkk. 2007. Media Pengajaran. Bandung: CIV. Sinar Dunia.
Suharsimi Arikunto. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pedekatan Praktek. Jakarta: PT. Rineka
Cipta.
Sumantri, Mulyani, dkk. 1999. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: DEPDIKBUD.
Supriyadi. http://akhmadsudrajad.wordpress.com/2024/01/21/penelitian-tindakankelas(diakses 05 Oktober 2014).
Suwarsih Madya. 2024. Penelitian Tindakan Kelas I. Tersedia pada
http://www.ktiguru.org/index.php/ptk-I. (diakses 05 Oktober 2014).
Wahyudin Nur Nasution. 2024. Efektifitas Strategi Pembelajaran Kooperatif dan Ekspositori
Terhadap Hasil Belajar Sains. Tersedia Pada http://

www.litogama.orang/jurnal/edisi/strategi pembelajaran.htm (diakses 05 Oktober


2014).