Anda di halaman 1dari 28

MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBAHASA ANAK

MELALUI PERMAINAN TATA SUKU KATA


BERGAMBAR DI PAUD AZZAHRAH
SUNGAI GUNTUNG
NAMA
NIM
email

: HAULIATI SEPRINA
: 821647525
: hauliatiseprina@gmail.com
ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan pada kelompok B PAUD AzZahrah, penelitian ini


dilator belakangi oleh masih rendahnya kemampuan berbahasa anak terutama dalam
membedakan suku kata awal/akhir dan membaca, tujuan penelitian ini adalah untuk
meningkatkan kemampuan berbahasa anak melalui permainan tata suku kata
bergambar. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas dengan menggunakan
subjek penelitian anak kelompok B PAUD AzZahrah, tahun pelajaran 2015/2016
sebanyak 17 orang yang terdiri dari 9 orang laki-laki dan 8 orang perempuan, data
diperoleh melalui observasi. Penelitian ini dilakukan 2 siklus dan setiap siklus terdiri
dari tiga kali pertemuan. Manfaat dari penelitian kelas ini adalah supaya kemampuan
anak meningkat dan berkembang secara optimal, selain itu pihak sekolah dan guru
mendapatkan ilmu baru tentang cara meningkatkan kemampuan berbahasa anak.
Hasil dari penelitian yang diperoleh rata-rata persentase kemampuan
berbahasa anak melalui permainan tata suku kata bergambar sebelum tindakan masih
rendah, pada siklus I kemampuan berbahasa anak meningkat, kemudian pada siklus II
kemampuan berbahasa anak lebih meningkat lagi. Kesimpulan dari penelitian ini
adalah melalui permainan tata suku kata bergambar dapat meningkatkan kemampuan
berbahasa anak.
Kata Kunci

: Kemampuan bahasa

I.PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Anak usia 4-6 tahun merupakan bagian dari anak usia dini yang berada
pada usia 0-6 tahun. Pada usia dini secara terminologi disebut sebagai Anak
Prasekolah.

Perkembangan

kecerdasan

pada

masa

ini

mengalami

peningkatan dari 50% menjadi 80%, selain itu berdasarkan Balitbang


Diknas tahun 1999 menunjukkan hampir pada seluruh aspek perkembangan
anak yang masuk TK mempunyai kemampuan lebih tinggi dari pada anak
yang tidak masuk TK.
Usia 4-6 tahun merupakan masa peka bagi anak. Anak mulai sensitif
untuk menerima berbagai upaya perkembangan seluruh potensi anak, masa

peka adalah masa terjadinya pematangan fungsi-fungsi fisik dan psikis yang
siap merespon stimulasi yang diberikan oleh lingkungan. Masa ini
merupakan masa untuk meletakkan dasar pertama dalam mengembangkan
kemampuan fisik, kognitif, bahasa, sosial emosional, konsep diri dan
disiplin, kemandirian, seni, moral dan nilai-nilai agama. Oleh sebab itu
dibutuhkan kondisi dan stimulasi yang sesuai dengan kebutuhan anak agar
pertumbuhan dan perkembangan anak tercapai secara optimal. Sebagai
mana disebutkan dalam UU Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003
pasal 1 ayat 14 yang berbunyi pendidikan anak usia dini adalah suatu
upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai enam
tahun yang dilanjutkan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk
membentuk pertumbuhan dan perkembangan anak memiliki kesiapan
memasuki pendidikan lebih lanjut.
Sebagaimana kita ketahui prinsip pendidikan anak usia dini adalah
bermain sambil belajar, belajar seraya bermain. Jadi sekolah bagi mereka
merupakan taman yang berarti tempat yang nyaman untuk bermain, karena
dunia anak adalah dunia bermain. Melalui prinsip pembelajaran ini
diharapkan berbagai kemampuan dasar anak dapat dikembangkan.
Salah satu kemampuan dasar yang harus dikembangkan adalah
kemampuan bahasa. Pengembangan kemampuan bahasa bertujuan agar
anak

mampu

berkomunikasi

secara

lisan

dengan

lingkungannya.

Perkembangan bahasa anak usia dini diarahkan pada kemampuan


berkomunikasi, baik secara lisan, maupun secara tulisan. Kemampuan
bahasa pada anak usia 4-5 tahun sangat cepat. Kemampuan mereka
menyerap dan mengingat pembicaraan orang disekitarnya sangat tinggi
sehingga periode ini disebut periode merekam. Menurut para peneliti di
Amerika anak-anak umur 5 tahun telah menguasai 2000 kata, dan
pertambahan kata merata tiap bulan 50 kata. Percepatan penguasaan katakata sangat tergantung kepada rangsangan dari lingkungan sosial. Orang tua
dan guru yang sering berkomunikasi membacakan cerita, dan memberikan
kesempatan kepada anak untuk berbicara tentang pengalaman, pikiran dan

perasaan yang besar manfaatnya untuk mempercepat penguasaan bahasa


anak.
Kenyataan dilapangan yang peneliti temui, di kelompok B PAUD Az
Zahrah Jorong Sungai Guntung terlihat masih rendahnya kemampuan
berbahasa anak, terutama dalam membedakan suku kata awal atau akhir
dalam membaca, masih rendahnya pemahaman anak dalam membedakan
huruf B dan D kecil, kurang pasnya anak dalam melafaskan huruf A-Z,
kurang pahamnya anak dalam berbahasa secara lisan ataupun tulisan. Hal ini
disebabkan karena guru kurang memberikan rangsangan dan motivasi
kepada anak, kurang bervariasinya metode dan media pembelajaran yang
digunakan guru di sekolah disebabkan oleh keterbatasan dana yang
menyebabkan anak cepat bosan dan merasa jenuh, kurangnya kreativitas
guru dalam pembelajaran berbahasa.
Untuk memahami bahan tertulis anak perlu membaca dan menulis. Oleh
karena itu belajar bahasa sering dibagi menjadi 2 bagian: belajar bahasa
untuk berkomunikasi dan belajar literasi, yaitu belajar membaca dan
menulis.
1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti menemukan masalah
sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.

Anak kurang memahami perbedaan antara hurur B dan D.


Kurangnya kemampuan anak dalam berbahasa.
Anak masih kurang pas dalam melafalkan urutan huruf dari A Z.
Anak kurang memahami berbahasa lisan ataupun tulisan.
Dari masalah yang teridentifikasi diatas maka peneliti memfokuskan

penelitian kepada rendahnya kemampuan anak dalam berbahasa. Alasan


peneliti memilih masalah tersebut karena: anak belum mampu berbahasa
2.

lisan dengan baik dan benar.


Analisis Masalah
Proses analisis masalah guru dalam permainan tata suku kata
bergambar selama ini hanya dengan gambar yang biasa saja sehingga
anak merasa bosan dan hasil belajar yang diinginkan tidak sesuai dengan
harapan guru, dari 17 orang anak yang terdiri dari 9 orang anak laki-laki

dan 8 orang anak perempuan hanya 3 orang saja yang mau


memperhatikan guru.
Dari masalah yang teridentifikasi diatas masalah yang ingin peneliti
pecahkan adalah, tentang kemampuan berbahasa anak yang masih
rendah, karena beberapa factor:
a. Peneliti belum memberikan kegiatan permainan tata suku kata
bergambar yang menyenangkan bagi anak.
b. Penggunaan metode pembelajaran kurang bervariasi menyebabkan
kurangnya motivasi siswa terhadap kegiatan.
c. Metode yang digunakan tidak sesuai dengan

materi

yang

menyebabkan siswa tidak focus dalam kegiatan.


d. Alat peraga yang digunakan guru tidak menarik.
e. Guru terlalu mendominasi kelas, sehingga anak cendrung pasif dan
takut untuk mengajukan pertanyaan.
3. Alternatif dan Prioritas Pemecahan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka yang menjadi alternatif
pemecahan masalah rendahnya kemampuan berbahasa yang ingin
peneliti laksanakan adalah dengan cara permainan tata suku kata
bergambar.
4. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka dapat dirumuskan
permasalahannya yaitu: Bagaimana peningkatan kemampuan berbahasa
anak melalui permainan tata suku kata bergambar, di kelompok B PAUD
Az Zahrah Kec Palupuh.
B. Tujuan Penelitian Perbaikan Kegiatan Pengembangan
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam perbaikan ini adalah:
peningkatan kemampuan berbahasa anak melalui permainan tata suku kata
bergambar, baik bahasa lisan maupun tulisan di kelompok B PAUD Az
Zahrah.
C. Manfaat Penelitian Perbaikan Kegiatan Pengembangan
Adapun manfaat dari perbaikan ini diharapkan dapat bermanfaat bagi
pihak-pihak sebagai berikut:
1. Anak didik
a.

Merangsang kemampuan anak dalam kegiatan berbahasa.

b. Memberikan semangat kepada anak dalam meningkatkan kemampuan


berbahasa.

2. Peneliti
a.

Menerapkan ilmu yang telah diperoleh selama ini.

b.

Sebagai wadah untuk menuangkan ide ide yang kreatif.


3. Guru
a. Meningkatkan kemampuan dan kreatifitas guru dalam memilih metode.
b. Membantu guru dalam mengembangkan kemampuan berbahasa anak.
c. Guru dapat mengembangkan kemampuan berbahasa anak lebih baik
lagi.
4. Sekolah
a

Dapat meningkatkan mutu pendidikan sekolah.

Meningkatkan kualitas guru dan sekolah agar tujuan pendidikan dapat


tercapai sesuai dengan yang diharapkan.

5. Peneliti lanjutan
Untuk dijadikan sumber bacaan atau literature bagi peneliti yang
tertarik untuk mengembangkan penelitian selanjutnya.

II. KAJIAN PUSTAKA


A. Landasan Teori
1

Bahasa

a.

Pengertian Bahasa
Badudu dalam (Dhieni, 2005:1.11) menyatakan bahwa bahasa adalah
alat penghubung atau komunikasi antara anggota masyarakat yang
terdiri dari individu-individu yang menyatakan pikiran, perasaan, dan
keinginannya.
Bromley dalam (Dhieni, 2005:1) mendefinisikan bahwa bahasa
sebagai sistem simbol yang teratur untuk mentransfer berbagai ide
maupun informasi yang terdiri dari simbol-simbol visual maupun

b.

verbal.
Tujuan Bahasa
Dhieni (2007:1.21) menyatakan tujuan bahasa untuk menjelaskan
keinginan dan membutuhkan individu serta dapat mengontrol prilaku,

bahasa juga dapat sebagai alat interaksi dengan orang lain, dan
mengekspresikan keunikan individu.
Aisyah (2010: 6.28) menyatakan tujuan bahasa untuk meningkatkan
komunikasi yang sah pada diri seseorang, sebab hal tersebut berguna
c.

sebagai suatu cara untuk merefleksi identitas, nilai dan pengalaman.


Karakteristik Bahasa
Santrock dalam (Dhieni,2005:1.17) menerangkan bahwa
karakteristik bahasa terdiri dari:
1. Sistematis, artinya bahasa merupakan suatu cara menggabungkan
bunyi-bunyian maupun tulisan yang bersifat teratur, standar,
konsisten. Setiap bahasa memiliki tipe konsisten yang bersifat khas.
5
2. Arbitrari, yaitu bahwa bahasa
terdiri dari hubungan-hubungan
antara berbagai macam suara dan visual, objek maupun gagasan.
Setiap bahasa memiliki kata-kata yang berbeda dan memberi

d.

simbol pada angka-angka tertentu.


Manfaat Bahasa
Aisyah (2010:6.30) menyatakan manfaat dari bahasa adalah
untuk memperluas kosa kata serta dapat menolong dan memahami dan
berpartisipasi terhadap semua yang terjadi di sekitar lingkungan.
Bromley dalam (Dhieni, 2005:1.21) ada 5 macam fungsi bahasa
antara lain: 1) Bahasa menjelaskan keinginan dan kebutuhan individu,
2) Bahasa dapat merngubah dan mengontrol prilaku, 3) Bahasa
membantu perkembangan kognitif, 4) Bahasa membantu mempererat
interaksi dengan orang lain 5) Bahasa mengexpresikan keunikan

e.

individu
Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa
Menurut Masyithoh (2005:12) bahasa dapat berkembang
dipengaruhi oleh 1) pengalaman dan situasi yang dihadapi 2)
lingkungan yang baik dan stimulasi yang tepat.
Sedangkan menurut Dhieni (2005:2.26) menjelaskan faktor yang
mempengaruhi perkembangan bahasa individu antara lain : sosial,

2
a.

linguistik, kematangan, biologis, dan kognitif.


Bermain
Pengertian Bermain
Menurut Catron, dkk dalam (Musfiroh, 2005:1) bermain
merupakan wahana yang memungkinkan anak-anak berkembang
optimal. Bermain secara langsung mempengaruhi wilayah dan aspek

perkembangan anak.Kegiatan bermain memungkinkan anak belajar


tentang diri mereka sendiri, orang lain, dan lingkungannya.Dalam
kegiatan bermain, anak bebas untuk berimajinasi, bereksplorasi, dan
menciptakan sesuatu.
Sedangkan menurut Montolalu, dkk (2005:1.8) bermain merupakan
kegiatan yang dilakukan anak secara spontan karena disenangi, dan ser
ing tanpa tujuan tertentu.
b. Tujuan Bermain
Bermain merupakan tuntunan dan kebutuhan bagi anak.Menurut
Mouslichatoen (1999:32), Tujuan bermain dapat mengembangkan
kreatifitas

anak

yaitu

melakukan

kegiatan

yang

mengandung

kelenturan, memanfaatkan imajinasi atau ekspresi diri, kegiatankegiatan pemecahan masalah, mencari cara baru. Sedangkan tujuan
bermain menurut Diknas (2002:56) antara lain:
a) Dapat mengembangkan daya pikir (kognitif) anak, agar mampu
pengetahuan yang sudah diketahui dengan pengetahuan yang
diperoleh.
b) Melatih

kemampuan

berbahasa

anak

agar

anak

mampu

berkomunikasi secara lisan dengan lingkungan.


c) Melatih keterampilan anak supaya anak dapat mengembangkan
keterampilan motorik halus.
d) Mengembangkan jasmani anak agar keterampilan motorik kasar
anak dalam berolah tubuh yang berguna untuk pertumbuhan dan
kesehatan.
e) Mengembangkan kemampuan social seperti membina hubungan
dengan orang lain.
f) Mengembangkan daya cipta anak supaya kreatif, lancar, fleksibel,
orisinil.
g) Meningkatkan kepekaan emosi anak dengan cara bermacam-macam
perasan dan menumbuhkan kepercayaan diri.
c. Karakteristik Bermain
Menurut Suyanto (2005:122-123) menyatakan karakteristik
bermain pada anak adalah aktif, menyenangkan, voluntir dan motivasi

internal, memiliki aturan, serta simbolik dan berarti. Sedangkan


menurut Montolalu (2005:2.4-2.5) karakteristik anak bermain anak
adalah sukarela, pilihan anak, kegiatan yang menyenangkan, simbolik,
dan aktif melakukan sesuatu.
d. Manfaat Bermain
Hasil penelitian yang telah dilakukan para ilmuan menyatakan
bahwa bermain bagi anak-anak mempunyai arti yang sangat penting
karena melalui bermain anak dapat menyalurkan segala keinginan dan
kepuasan, kreatifitas dan imajinasinya.
Menurut Montolalu, dkk (1,15-1,17) merinci manfaat bermain
yaitu: 1) Bermain memicu kreatifitas anak, 2) Bermain bermanfaat
mencerdaskan otak, 3) Bermain bermanfaat menanggulangi konflik, 4)
Bermain bermanfaat untuk melatih empati anak, 5) Bermain bermanfaat
mengasah panca indra, 6) Bermain sebagai media terapi (pengobatan),
7) Bermain itu melakukan penemuan.
3

Permainan Tata Suku Kata Bergambar


Berbagai penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan, diperoleh
temuan bahwa bermain dan permainan mempunyai manfaat besar bagi
perkembangan anak. Misalnya saja untuk memperoleh pengalaman dalam
membina hubungan dengan sesama teman, menambah perbendaharaan
kata, menyalurkan perasaan-perasaan tertekan dan masih banyak lagi
manfaat yang dapat kita peroleh dari kegiatan bermain dan permainan.
1) Pengertian
Permainan tata suku kata bergambar adalah salah satu permainan
untuk meningkatkan perkembangan bahasa anak dalam mendengarkan,
mengungkapkan dan melatih kemampuan membaca gambar sederhana.
Memulai mengenali kata dan huruf serta membaca gambar yang
memiliki kata atau kalimat sederhana.
2) Kelebihan dan kekurangan
Dapat pula kita lihat kelebihan dan kekurangan permainan tata suku

b.

kata bergambar, seperti yang tertera dibawah ini:


a. Kelebihan
Dapat menambah kosa kata anak.
Memberi kemudahan kepada anak dalam membaca awal.
Memperkuat perkembangan social emosional anak.
Kekurangan

Anak merasa jenuh dengan permainan ini.


Anak merasa permainan ini sulit di kerjakan.
Anak cepat bosan, mereka lebih suka dengan permainan yang lain.
Permainan ini lama untuk dimengerti anak.
3) Langkah langkah
a. Guru mempersiapkan alat/ sumber belajar yang akan digunakan.
b. Guru menyebutkan judul permainan.
c. Guru menyampaikan aturan permainan.
d. Guru meminta anak memulai permainan.
e. Guru memberi bantuan dan bimbingan kepada anak secara klasikal.
f. Guru memberi reword kepada anak.
g. Guru memberi nilai pada anak.
Hakikat Anak Usia Dini
a. Pengertian Anak Usia Dini
Menurut NAEYC (National Assosiation Education For Young
Children) dalam Hartati (2005:7) bahwa anak usia dini adalah
sekelompok individu yang berada pada rentan usia 0-8 tahun.
Sedangkan menurut Suyanto (2005:7) anak usia dini sedang dalam
tahap pertumbuhan dan perkembangan baik fisik maupun mental yang
paling pesat. Dari pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa anak
usia dini adalah kelompok manusia yang berada dalam proses
pertumbuhan dan

perkembangan yang berada pada rentan usia 0-8

tahun.
b. Karakteristik Anak Usia Dini
Bahwa karakteristik perkembangan anak usia dini perlu dipahami
oleh pendidik untuk memudahkan dan melihat perkembangan anak usia
dini sebagai anak didik.
Suyanto (2005:6) mengemukakan bahwa karakteristik setiap anak
bersifat unik, tidak ada dua anak yang sama sekalipun kembar siam.
Setiap anak terlahir dengan potensi yang berbeda-beda.Memiliki
kelebihan, bakat, dan minat sendiri.
Menurut Kellough dalam (Hartati 2007:12-17) karakteristik anak
usia dini adalah sebagai berikut: 1) Egosentris, 2) Memiliki curriosity
yang tinggi, 3) Makhluk sosial, 4) The unique person, 5) Kaya dengan
fantasi, 6) Daya konsentrasi yang pendek, dan 7) Masa usia dini
5

merupakan masa belajar yang paling potensial.


Hakikat Pendidikan Anak Usia Dini
a. Pengertian Pendidikan Anak Usia Dini

Dalam UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional


disebutkan bahwa PAUD:
Suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak
semenjak lahir sampai 6 tahun yang dilakukan melalui
pembinaan rangsangan pendidikan untuk membantu
pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani,
agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan
lebih lanjut.
Selanjutnya menurut Direktorat PAUD dalam (Mutiah,
2010:2)Pendidikan Anak
anak usia dini sangat strategis dalam
pengembangan sumber daya manusia.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan PAUD adalah
pendidikan yang mendasar yang diberikan kepada anak berusia 0-6 tahun
melalui pemberian rangsangan pendidikan agar tumbuh dan berkembang
jasmani dan rohaninya untuk memiliki kesiapan pendidikan selanjutnya.
b. Tujuan Pendidikan Anak Usia Dini
Menurut Suyanto (2005:5) PAUD bertujuan mengembangkan
seluruh potensi anak (the whole child) agar kelak dapat berfungsi
sebagai manusia yang utuh sesuai falsafah suatu bangsa.
Sedangkan menurut Department Pendidikan Nasional (2004:5)
PAUD bertujuan untuk membantu anak didik mengembangkan berbagai
potensi baik psikis dan fisik yang meliputi moral, nilai agama, sosial
emosional, kognitif, bahasa, fisik/motorik, kemandirian dan seni untuk
siap memasuki pendidikan dasar.
c. Fungsi Pendidikan Anak Usia Dini
Beberapa fungsi Pendidikan Anak Usia Dini menurut Sudjiono
(2009:46) yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut: 1) Untuk
mengembangkan seluruh kemampuan yang dimiliki anak sesuai dengan
tahap perkembangannya, 2) Mengenalkan anak dengan dunia sekitar, 3)
Mengembangkan sosialisasi anak, 4) Mengenalkan peraturan dan
menanamkan disiplin pada anak, 5) Memberikan kesempatan pada anak
untuk menikmati masa bermainnya, 6) Memberikan stimulasi kultur
pada anak.

Sedangkan menurut Sholehuddin (2009: 4.14) mengemukakan 5


fungsi pendidikan untuk Anak Usia Dini, yaitu: 1) Pengembangan
potensi, 2) Penanaman dasar-dasar kaidah dan keilmuan, 3)
Pembentukan

dan

pembiasaan

prilaku

yang

diharapkan,

4)

Pengembangan pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan,


5) Pengembangan motivasi dan sikap belajar yang positif.
III. PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN KEGIATAN
PENGEMBANGAN
A. Subjek, Tempat, Waktu Penelitian, Pihak yang Membantu
1 Lokasi
Berdasarkan analisis masalah yang ingin peneliti pecahkan maka
peneliti

memutuskan

yang

menjadi

subjek

penelitian

perbaikan

pembelajaran ini adalah anak didik PAUD Az Zahrah. Yang menjadi dasar
pertimbangan peneliti untuk menetapkan tempat penelitian di PAUD Az
Zahrah karena peneliti adalah pendidik kelompok B yang bertugas di
PAUD ini,peneliti sudah mengetahui situasi dan kondisi PAUD Az Zahrah.
2

Waktu penelitian
Pelaksanaan ini dilaksanakan pada semester dua tahun ajaran
2015/2016, dengan waktu diuraikan pada tabel dibawah ini:
Tabel 3.1 Waktu Pelaksanaan Penelitian
No
A
B

Kegiatan
Kondisi Awal
Perencanaan
1. Membuat proposal
2. Membuat RPPH, alat
penilaian,

April minggu

I,II
April minggu

lembar

II, III

observasi, APKG 1 dan 2


Pelaksanaan

D
E

Waktu

1.
2.
3.
4.

Siklus 1
Refleksi
Siklus 2
Refleksi

Penyusuna laporan

11,12,13 April
14 (11,12,13)

April
18,19,20 April
21 (18,19,20)
April

Pihak yang membantu


1. Supervisor 1
2. Supervisor 2
3. Teman sejawat
3

Tema
Didalam melaksanakan penelian kali ini tema yang peneliti pakai
16

adalah sebagai berikut:


a. Siklus 1( tema Alam Semesta sub temaBenda Langit).
11 tema Gejala Alam).
b. Siklus 2( temaAlam Semesta sub
Kelompok
Berdasarkan masalah yang peneliti temui, maka peneliti menjadikan
anak kelompok B PAUD Az Zahrah menjadi subjek penelitian dengan
jumlah 17 orang, terdiri dari 9 orang laki laki dan 8 orang perempuan.
5

Karakteristik
Kemampuan anak dalam permainan tata suku kata bergambar
kelompok B PAUD Az Zahrah masih rendah. Dari 17 orang anak yang

terdiri dari 9 orang anak laki-laki dan 8 orang anak perempuan.


Pihak Yang Terlibat
Terlaksananya penelitian perbaikan pembelajaran ini dengan baik
dari awal penelitian sampai selesainya penulisan laporan ini tidak terlepas
dari bantuan berbagai pihak yang memberikan bimbingan dan pemikiran
serta motivasi kepada peneliti. Pihak-pihak yang membantu tersebut
adalah:Ibu tutor yang berperan sebagai Supervisor I, Ibuk Pengawas
PAUD yang berperan sebagai Supervisor II, dan tidak lupa teman sejawat
Nova Ridha Nurdin serta anak didik.

B. Desain Prosedur Perbaikan Kegiatan Pemgembangan


Prosedur penelitian ini akan dilakukan secara bersiklus yaitu siklus I dan
II. Apabila penelitian ini tadak selesai pada siklus I, maka akan dilanjutkan
dengan siklus II. Siklus II sangat ditentukan oleh indikator keberhasilan pada
siklus I. tiap siklus terdiri dari 3x pertemuan.
Siklus merupakan ciri khas penelitian tindakan kelas. Dalam Arikunto,
(2006:16) penelitian tindakan kelas secara garis besar terdapat 4 tahapan yang
lazim dilalui yaitu:

Perencanaan

Pelaksanaan

Pengamatan

Refleksi
Adapun model dan penjelasan untuk masing-masing tahapan adalah

sebagai berikut:

Kondisi Awal

Perencanaan

Refleksi

Siklus I

Pelaksanaan

Pengamatan

Perencanaan

Refleksi

Siklus II

Pelaksanaan

Pengamatan

Hasil Penelitian

Bagan 3.1
Prosedur Perbaikan Kegiatan Pengembangan(dalam Arikunto
3. Teknik Pengumpulan Data
a. Format Observasi

Peneliti mencek kegiatan yang dilakukan anak berdasarkan


indikator. Aspek yang diamati guru melalui pedoman ini adalah yang
berkaitan dengan proses belajar mengajar. Ini digunakan untuk
mengetahui kesesuaian pelaksanaan tindakan dengan rencana yang
telah disusun sebelumnya. Format observasi dari peningkatan
kemampuan berbahasa anak melalui permainan tata suku kata
bergambar dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 3.2
Format Observasi
Jumlah 17 anak
No
1.

Aspek yang diamati

BSB
f %

BSH
f %

MB
f %

Anak mampu menyebutkan


kembali urutan kata

2.

Anak mampu mencari suku kata


awal atau akhir

3.

Anak mampu membedakan


suku kata awal atau akhir

4.

Anak mampu membaca gambar


yang memiliki kata sederhana

b. Dokumentasi
Peneliti mendokumentasikan berupa RKH, lembar observasi, dan
foto yang diambil waktu pembelajaran berlangsung.
c. Teknik Analisis Data

Setelah teknik pengumpulan data dilaksanakan, maka langkahlangkah

adalah menganalisis data. Data yang telah berhasil

dikumpulkan kemudian dianalisis dengan menggunakan teknik analisis


deskriptif. Dengan menggunakan rumus yang dirumuskan oleh Haryadi
(2009:24) sebagai berikut:
P = F x 100 %
N
Keterangan: P = persentase yang diperlukan N=jumlah murid
F = Frekuensi nilai murid
Data dapat dianalisis dengan teknik sebagai berikut:
1. Analisis observasi
Hasil observasi dianalisis dengan melakukan penilaian dalam bentuk
kalimat yang dijabarkan.
2. Analisis catatan laporan
Catatan lapangan dianalisis dengan cara mengelompokkan ringkasan
dalam bentuk pernyataan tentang kemampua dalam permainan tata
suku kata bergambar.
3. Melakukan tindakan dengan kegiatan yang berkaitan dengan
permainan tata suku bergambar bertujuan untuk mendapat hasil dari
penelitian untuk meningkatka kemampuan berbahasa anak, baik
bahasa lisan maupun bahasa tulisan.
IV. HASIL PENELITIAN PENGEMBANGAN
A. Deskripsi Hasil Penelitian Perbaikan Kegiatan Pengembangan
1. Kondisi Awal
Pada kondisi awal sebelum penelitian dilakukan terlebih dahulu
peneliti melakukan observasi kemampuan berbahasa anak pada kelompok
B PAUD Az Zahrah, Jorong Sungai Guntung yang berjumlah 17 orang
masih rendah. Hal ini terlihat 14 anak kelompok B mengalami kesulitan
ketika diminta untuk membedakan kata - kata yang mempunyai suku kata
awal atau akhir, dan membaca sederhana sehingga kemampuan membaca
bagi anak tidak berkembang secara optimal. Penelitian dilakukan pada hari
Rabu tanggal 6 April 2016. Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel
dibawah ini:

Tabel 4.1
Hasil Observasi Kemampuan Berbahasa Anak Pada Kondisi Awal
(Sebelum Tindakan)
N
o.
1
2
3
4

Aspek Yang Diamati


Anak mampu menyebutkan
kembali urutan kata
Anak mampu mencari suku
kata awal/akhir
Anak mampu membedakan
suku kata awal/akhir
Anak mampu membaca
gambar yang memiliki kata
sederhana
Nilai Rata-rata

Jumlah 17 Anak
Nilai
BSB
BSH
MB
F
%
F
%
F
%
3
18
4
23
10
59
4

23

23

54

18

18

11

64

18

23

10

59

19

22

58

Berdasarkan tabel 4.1 di atas, hasil observasi kemampuan berbahasa


anak pada kondisi awal (sebelum tindakan) yaitu pada aspek pertama, anak
mampu menyebutkan kembali urutan kata, anak memperoleh nilai BSB 3
orang dengan persentase 18%, anak memperoleh nilai BSH 4 orang
dengan persentase 23% dan anak memperoleh nilai MB 10 orang dengan
persentase 59%.
Aspek kedua, anak mampu mencari suku kata awal/akhir, anak yang
memperoleh nilai BSB 4 orang dengan persentase 23%, anak memperoleh
nilai BSH 4 orang dengan persentase 23% dan anak memperoleh nilai MB
9 orang dengan persentase 54%.
Aspek ketiga, anak mampu membedakan suku kata awal/akhir, anak
yang memperoleh nilai BSB 3 orang dengan persentase 18%, anak
memperoleh nilai BSH 3 orang dengan persentase 18% dan anak
memperoleh nilai MB 11 orang dengan persentase 64%.

Aspek keempat, anak mampu membaca gambar yang memiliki kata


sederhana, anak yang memperoleh nilai BSB 4 orang dengan persentase
23%, anak memperoleh nilai BSH 3 orang dengan persentase 18% dan
anak memperoleh nilai MB,10 orang dengan persentase 59%. Selanjutnya
dapat dilihat pada grafik di bawah ini:
70
60
50
40
30

BSB
BSH
MB

20
10
0
Anak mampu menyebutkan kembali urutan kata

Grafik 4.1
Hasil Observasi Kemampuan Berbahasa Anak Pada Kondisi Awal
(Sebelum Tindakan)
Berdasarkan grafik 4.1 di atas terlihat bahwa kemampuan berbahasa
anak pada kondisi awal (sebelum tindakan) masih belum optimal, ini dapat
dilihat pada rata-rata persentase anak yang memperoleh nilai BSB dari
aspek pertama sampai keempat yaitu 19%, yang memperoleh nilai BSH
22%, yang memperoleh nilai MB 58%. Hal ini menunjukkan bahwa pada
umumnya kemampuan berbahasa anak sebelum tindakan masih rendah dan
belum mencapai keinginan.
Untuk melihat peningkatan kemampuan berbahasa anak pada
siklus I pertemuan ketiga lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah
ini:

Tabel 4.4
Hasil Observasi Kemampuan Berbahasa Anak melalui
Permainan Tata Suku Kata Bergambar Pada Siklus 1 Pertemuan 3

No.

Aspek Yang Diamati

Anak mampu menyebutkan


kembali urutan tata suku kata
bergambar
Anak mampu mencari tata
suku kata bergambar
Anak mampu membedakan
tata suku kata bergambar
Anak mampu membaca tata
suku kata bergambar
Nilai Rata-rata

2
3
4

Jumlah 17 Anak
Nilai
BSB
BSH
MB
F
%
F
%
F
%
7
42
6
35
4
23

35

42

23

35

35

30

35

42

23

37

39

25

Berdasarkan tabel 4.4 di atas untuk siklus I pertemuan tiga, terlihat


kemampuan berbahasa anak pada aspek pertama, anak mampu
menyebutkan kembali urutan tata suku kata bergambar anak memperoleh
nilai BSB 7 orang dengan persentase 42%, anak memperoleh nilai BSH,
6 orang dengan persentase 35% dan anak memperoleh nilai MB 4 orang
dengan persentase 23%,
Aspek kedua, anak mampu mencari tata suku kata bergambar anak
yang memperoleh nilai BSB 6 orang dengan persentase 35%, anak
memperoleh nilai BSH 7 orang dengan persentase 42% dan anak
memperoleh nilai MB 4 orang dengan persentase 23%.
Aspek ketiga, anak mampu membedakan suku kata bergambar anak
yang memperoleh nilai BSB 6 orang dengan persentase 35%, anak
memperoleh nilai BSH

6 orang dengan persentase 35% dan anak

memperoleh nilai MB 5 orang dengan persentase 30%.

Aspek keempat, anak mampu membaca tata suku kata bergambar


anak yang memperoleh nilai BSB 6 orang dengan persentase 35%, anak
memperoleh nilai BSH 7 orang dengan persentase 42% dan anak
memperoleh nilai MB 4 orang dengan persentase 23%.
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan pada pertemuan
ketiga dapat kita lihat kemampuan berbahasa bagi anak melalui
permainan tata suku kata bergambar sudah mengalami peningkatan tetapi
masih juga belum mencapai tingkat perkembangan yaitu 75%.
Selanjutnya dapat dilihat pada grafik di bawah ini:
45
40
35
30
25

BSB

20

BSH
MB

15
10
5
0
Anak mampu menyebutkan kembali urutan tata suku kata bergambar

Grafik 4,4
Hasil Observasi Kemampuan Berbahasa Anak melalui
Permainan Tata Suku Kata Bergambar Pada Siklus 1
Pertemuan 3
Berdasarkan grafik 4.4 di atas terlihat bahwa rata-rata persentase
anak yang memperoleh nilai BSB dari aspek pertama sampai keempat
yaitu 37%, yang mendapatkan nilai BSH 39%, dan yang mendapatkan
nilai MB 25%. Hal ini menunjukkan bahwa pada umumnya
pengembangan

kemampuan

berbahasa

anak

sudah

mengalami

peningkatan tetapi masih belum mencapai tingkat perkembangan yaitu


75%.
a) Refleksi

Berdasarkan refleksi hasi kegiatan pengembangan kekuatan yang


peneliti rasakan dalam merancang kegiatan peneliti sudah sesuai dengan
tema dan sub tema,dalam merancang kegiatan pengembangan sudah
sesuai dengan perkembangan anak, karena dorongan hati nurani dan
rasa tanggung

jawab

untuk mencerdaskan

kehidupan

bangsa.

Sedangkan kelemahan peneliti masih dalam penguasaan kelas dan


menerangkan kegiatan, kelemahan ini terjadi karena peneliti masih
kuarang memahami karakteristik anak, dan dalam menerangkan
kegiatan kurang efisien, hal ini disebabkan karena peneliti kurang
percaya diri.
Deskripsi Siklus II
Dari hasil refleksi siklus I maka ada beberapa hal yang perlu
dilanjutkan pada siklus ke II karena ada beberapa hal yang perlu diperbaiki
pertemuan pertama pada hari Senin tanggal 18 April 2016, pertemuan
kedua pada Selasa tanggal 19 April 2016, pertemuan ke tiga hari Rabu
tanggal20 April 2016. Sebelum melaksanakan penelitian guru perlu
mempersiapkan RPPH dapat dilihat pada lampiran.
Tabel 4.7
Hasil Observasi Peningkatan Kemampuan Berbahasa Anak melalui
Permainan Tata Suku Kata Bergambar Pada Siklus II Pertemuan 3

No.

Aspek Yang Diamati

Anak mampu menyebutkan


kembali urutan tata suku
kata bergambar
Anak mampu mencari tata
suku kata bergambar
Anak mampu membedakan
tata suku kata bergambar
Anak mampu membaca tata
suku kata bergambar
Nilai Rata-rata

2
3
4

Jumlah 17 Anak
Nilai
BSB
BSH
MB
F
%
F
%
F
%
15
89
2
11
0
0

16

94

14

82

18

15

89

11

81

12

Berdasarkan tabel 4.7 di atas untuk siklus II pertemuan ketiga terlihat


kemampuan berbahasa anak pada aspek pertama, anak mampu
menyebutkan kembali urutan tata suku kata bergambar anak memperoleh

nilai BSB 15 orang dengan persentase 89%, anak memperoleh nilai BSH 2
orang dengan persentase 11% dan anak memperoleh nilai rendah sudah
tidak ada lagi.
Aspek kedua, anak mampu mencari tata suku kata bergambar anak
yang memperoleh nilai BSB 16 orang dengan persentase 94%, anak
memperoleh nilai BSH 1 orang dengan persentase 6% dan anak
memperoleh nilai rendah sudah tidak ada lagi.
Aspek ketiga, anak mampu membedakan tata suku kata bergambar
anak yang memperoleh nilai BSB 14 orang dengan persentase 82%, anak
memperoleh nilai BSH 3 orang dengan persentase 18% dan anak
memperoleh nilai rendah sudah tidak ada lagi.
Aspek keempat, anak mampu mampu membaca tata suku kata
bergambar anak yang memperoleh nilai BSB 15 orang dengan persentase
89%, anak memperoleh nilai BSH 2 orang dengan persentase 11% dan
anak memperoleh nilai rendah sudah tidak ada lagi. Selanjutnya dapat
dilihat pada grafik di bawah ini:
100
90
80
70
60
50
40

BSB
BSH
MB

30
20
10
0
Anak mampu menyebutkan kembali urutan tata sukukata bergambar

Grafik 4.7
Hasil Observasi Kemampuan Berbahasa Anak Melalui
Permaianan Tata Suku Kata Bergambar Pada Siklus II Pertemuan3

Berdasarkan grafik 4.7 di atas terlihat bahwa rata-rata persentase


anak yang memperoleh nilai BSB dari aspek pertama sampai keempat
yaitu 81%, yang mendapatkan nilai BSH 12%, dan yang mendapatkan
nilai MB 0%.
Refleksi
Berdasarkan refleksi hasi kegiatan pengembangan kekuatan yang
peneliti rasakan dalam merancang kegiatan peneliti sudah sesuai dengan
tema dan sub tema, dalam merancang kegiatan pengembangan sudah
sesuai dengan perkembangan anak, penataan kegiatan berjalan lancar,
penggunaan waktu sudah bisa teratasi, dalam komunikasi dengan anak
sudah baik, anak sudah merasa senang karena media pembelajaran telah
dapat menarik perhatian mereka, ini semua karena kerja peneliti untuk
mencapai hasil yang lebih baik.
B Pembahasan Hasil Penelitian Perbaikan Kegiatan Pengembangan
a.

Pembahasan Siklus I
Berdasarkan hasil yang dicapai pada siklus I dapat dijabarkan
keberhasilan peningkatan kemampuan berbahasa anak melalui permainan
tata suku kata bergambar terlihat sudah mulai meningkat. Hal ini terlihat
pada peningkatan angka dari indikator kinerja baik terhadap kesenangan
belajar maupun hasil yang dicapai oleh anak.
Berdasarkan hasil kegiatan pembelajaran yang dilakukan maka
peneliti mendapatkan hal hal sebagai berikut:
a) Anak berminat dan tertarik untuk mengikuti pembelajaran untuk
meningkatkan kemampuan berbahasa anak melalui permainan tata suku
kata bergambar.
b) Perkembangan kemampuan berbahasa anak melalui permainan tata
suku kata bergambar ada peningkatan, namun belum mencapai 75%.
c) Terlihat adanya anak yang masih ragu ragu dalam mengikuti kegiatan
dan masih belum bersemangat karena alat peraga yang masih kurang
menarik.
a) Teori yang mendukung
Kemampuan berbahasa anak pada siklus I mengalami peningkatan
yang baik, baik bahasa lisan maupun bahasa tulisan. Menurut

Badudu(1989) menyatakan bahwa bahasa adalah alat penghubung atau


komunikasi antar anggota masyarakat. Bromley(1992) juga menyebutkan
4 macam bahasa( menyimak, berbicara, membaca, menulis), berhubungan
dengan penelitian ini bahasa menurut Bromley(1992) menyatakan bahwa
bahasa merupakan suatu system tata bahasa yang begitu rumit yang
bersifat semantik (tata suku kata dan kalimat).
Berdasarkan tabel 4.8 diatas dapat kita lihat hasil rata rata kemampuan
anak pada siklus I Pertemuan 1 anak yang dapat nilai BSB dengan
persentase 27%, BSH dengan persentase 28 %, MB dengan persentase 46
%. Pertemuan 2 anak yang dapat nilai BSB dengan persentase 33%, BSH
dengan persentase 31%, MB dengan persentase 37%. Pertemuan 3 anak
yang dapat nilai BSB dengan persentase 37%, BSH dengan persentase
39%, MB dengan persentase 25 %. Untuk lebih lanjut dapat dilihat grafik
di bawah ini:

45
40
35
30
25
20

Pertemuan I
Pertemuan II
Pertemuan III

15
10
5
0
Anak mampu menyebutkan kembali urutan tata suku kata bergambar

Grafik 4.8
Hasil Observasi Kegiatan Anak Dalam Permainan Tata Suku Kata
Bergambar Pada Siklus I Pertemuan 1, 2, 3

Berdasarkan grafik 4.8 di atas dapat diambil sebuah kesimpulan


bahwa kemampuan berbahasa anak terjadi peningkatan yaitu rata-rata
persentase siklus I pertemuan pertama hanya 27%, kemudian naik pada
pertemuan kedua 33%, dan pada pertemuan ketiga naik lagi menjadi
37%.Peningkatan

dan

kemampuan

berbahasa

anak

dapat

dilihat

berdasarkan tabel dan grafik rekapitulasi siklus I, namun persentase


peningkatannya belum optimal dan perlu ada perbaikan di siklus II.
b. Pembahasan Siklus II
Analisis Siklus II
Berdasarkan persentase kemampuan berbahasa memberikan arti
bahwa perbaikan yang telah dilakukan terhadap kelemahan yang
ditemukan pada siklus I telah berhasil mencapai sasaran. Ketertarikan
anak dengan kegiatan permainan tata suku kata bergambar dapat
diartikan semakin tinggi persentase kemampuan berbahasa anak. Hasil
yang diperoleh belum mencapai tingkat perkembangan, maka dari itu
peneliti melakukan perbaikan pada siklus II dengan menambah media.
b) Teori Yang Mendukung
Hal ini sesuai dengan pendapat Hamalik dalam Dhieni (2001 :
10.3) media alat, metode, komunikasi dan interes antara guru dan anak
dalam proses pendidikan dan pembelajaran disekolah. Kemudian pada
siklus II ini peneliti merubah strategi pembelajara yang sesuai dengan
pendapat

Masitoh

(2005)

yang

mengatakan

bahwa

strategi

pembelajaran sebagai usaha guru dalam menerapkan berbagai metode


dalam pembelajaran untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
Kemampuan berbahasa anak melalui permainan tata suku kata
bergambar meningkat secara signifikan. Hal ini terlihat dari:
1 Anak mampu menyebutkan kembali tata suku kata bergambar yang
telah disediakan pada siklus I nilai BSB 42%,pada siklus II
meningkat naik menjadi 59%.
2) Anak mampu mencari tata suku kata bergambar pada siklus I nilai
BSB 35% pada siklus II meningkat lagi menjadi 94%.
3) Anak mampu membedakan tata suku kata bergambar pada siklus I
nilai BSB 35% pada siklus II meningkat naik menjadi 82%.
4) Anak mampu membaca tata suku kata bergambar pada siklus I nilai
BSB 15% meningkat naik menjadi 89%.

Berdasarkan nilai rata-rata yang diperoleh anak pada siklus II


terjadi perbaikan yang diharapkan yaitu pada pertemuan II hasil yang
diperoleh sudah mencapai tingkat perkembangan. Hal ini karna peneliti
melakukan perbaikan pada siklus II pertemuan 2 dengan mencari
metode lain supaya permainan lebih menarik lagi dan membimbing
anak yang mengalami kesulitan secara individu. Hal ini sesuai dengan
pendapat Tjesaputra dengan strategi keaktifan anak dapat berkembang
dan kemampuan kreatifitas anak dapat direalisasikan secara nyata.
Kemampuan berbahasa anak pada siklus I mengalami
peningkatan yang baik, baik bahasa lisan maupun bahasa tulisan.
Peningkatan kemampuan bahasa anak pada siklus II untuk lebih
jelasnya dapat kita lihat tabel 4.9 dibawah ini:
pada siklus II kemampuan berbahasa anak meningkat lagi yaitu
rata-rata persentase siklus II pertemuan pertama anak yang memperoleh
nilai BSB dengan persentase 44%,BSH dengan persentase 34%, MB
dengan persentase 23%. Pertemuan kedua anak yang memperoleh nilai
BSB dengan persentase 54%, BSH dengan persentase 29%, MB dengan
persentase 18%. Pada pertemuan ketiga anak yang memperoleh nilai
BSB dengan persentase 81%, BSH dengan persentase 12%, MB dengan
persentase 0.
Metode dan alat peraga yang digunakan dapat memberikan
semangat pada saat anak melakukan permainan. Pembelajaran yang
didapat pada siklus II ini mengalami peningkatan proses dan hasil belajar
yang sangat memuaskan.
Berdasarkan hasil observasi pada siklus II, maka peneliti
mendapatkan hal-hal sebagai berikut:
a. Anak berminat dan tertarik mengikuti pembelajaran untuk
meningkatkan kemampuan berbahasa anak melalui permainan tata
suku kata bergambar.
b. Perkembangan kemampuan berbahasa anak melalui permainan tata
suku kata bergambar meningkat.
c. Terlihat anak sangat senang dan bersemangat karena alat peraga
yang membantu guru dalam menerapkan kegiatan berbahasa telah
diperbanyak dan lebih menarik.

d. Metode dan alat peraga yang digunakan dapat memberikan semangat


pada saat anak melakukan permainan.
Berdasarkan table 4.9 diatas untuk lebih jelasnya hasil kemampuan
berbahasa anak melalui permainan tata suku kata bergambar dapat dilihat
dari grafik dibawah:
100
90
80
70
60
50
40

Pertemuan I
Pertemuan II
Pertemuan III

30
20
10
0
Anak mampu menyebutkan kembali tata suku kata bergambar

Grafik 4.9
Hasil Observasi Kemampuan Berbahasa Anak melalui Permaianan Tata
Suku Kata Bergambar Pada Siklus II Pertemuan 1, 2, 3
Berdasarkan grafik 4.9 di atas dapat diambil kesimpulan bahwa
kemampuan berbahasa anak telah meningkat yaitu rata-rata persentase
siklus II pertemuan pertama hanya 44%, kemudian naik pada pertemuan
kedua menjadi 54%, dan pada pertemuan ketiga naik lagi menjadi 81%.
Telah mencapai hasil yang memuaskan.
Dari pencapaian siklus I dan siklus II yakni permainan tata suku
kata bergambar dapat meningkatkan kemampuan berbahasa anak pada
kelompok B PAUD Az Zahrah.
Hasil dari siklus II pertemuan ketiga telah menunjukkan
kemampuan berbahasa anak setelah beberapa kali pertemuan mengalami
peningkatan dan sudah sesuai dengan kreteria yang ditentukan yaitu 75%
sementara hasil yang didapat mencapai 81%, maka penelitian tidak perlu
dilanjutkan lagi

V. SIMPULAN DAN SARAN TINDAKLANJUT


A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada BAB I
sampai BAB IV,maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1 Permainan tata suku kata bergambar merupakan suatu permainan yang dapat
meningkatkan kemampuan berbahasa pada anak, terutama di sekolah tempat peneliti
2

melakukan penelitian.
Peningkatan dari pelaksanaan parmainan tata suku kata bergambar dapat dilihat dari
peningkatan pada siklus I ke siklus II yaitu pada siklus I nilai rata-rata yang terdapat
pada anak BSB dengan persentase 37% dan pada siklus II naik dengan persentase

81%.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas dapat diberikan saran-saran sebagai berikut:
1 Pihak sekolah sebaiknya menyediakan media-media yang dapat mengembangkan
kemampuan berbahasa bagi anak melalui berbagai macam permainan yang menarik
2

bagi anak.
Disarankan kepada guru PAUD untuk menjabarkan permainan Tata Suku Kata
bergambar sebagai strategi yang dapat merangsang kemampuan berbahasa bagi anak

secara langsung pada proses pembelajaran.


Peneliti telah berhasil melaksanakannya dengan menggunakan subjek penelitian
siswa Kelompok B PAUD Az Zahrah Jorong Sungai Guntung, Nagari Pasia Laweh,
dengan harapan guru dapat memahami terus kebutuhan dan masalah anak dalam

belajar.
Disarankan bagi peneliti yang lain dapat melakukan dan mengungkapkan lebih jauh
tentang kemampuan berbahasa bagi anak melalui permainan dan media

pembelajaran yang lain.


Bagi pembaca diharapkan dapat menggunakan PKP ini sebagai sumber ilmu dan
menambah wawasan.

DAFTAR PUSTAKA
Aisyah, Siti. 2002. Perkembangan dan Konsep Dasar Pengembangan Anak Usia Dini.
Jakarta:Universitas Terbuka.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta:Bumi Aksara.
Bentri, Alwen, dkk. 2005. Usulan Penelitian untuk Kualitas Pembelajaran di LPTK.
Padang:UNP
Darmansyah. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Padang:Suka Bina Press.

Depdiknas.2004. Kurikulum TK dan RA. Jakarta:Depdiknas


----------------. 2003. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistim Pendidikan
Nasional. Jakarta:Departemen Pendidikan Nasional.
Dhieni, Nurbiana. dkk. 2009. Metode Pengembangan Bahasa. Jakarta: Universitas Terbuka.
Hartati, Sovia. 2007. How To Be a Good Teacher and To Be a Good Mother. Seri Panduan
Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Dirjen
Haryadi. 2009. Statistik Pendidikan. Jakarta:Prestasi Pustaka Raya
Helfi. 2012. Peningkatan Kemampuan Membaca Anak melalui Permainan dinding Kosa
Kata Bergambar di TK At-Taqwa Lawang Kecamatan Matur Kabupaten Agam.
Skripsi. Padang: UNP
Jamaris, Martini. 2006. Perkembangan & Pengembangan Anak Usia Taman Kanakkanak .Jakarta:Grasindo.
Kementrian Pendidikan Nasional. 2010. Pedoman Perkembangan Program Pembelajaran di
Taman Kanak-kanak. Jakarta:Kementrian PendidikanNasional.
Masitoh, dkk. 2005. Pendekatan pembelajaran aktif di taman kanak kanak. Jakarta:
Departement Pendididkan Nasional. Direktorat Jendral pendidikan.
Montolalu, B. E. F, dkk. Bermaindan Permainan Anak. Jakarta:BumiAksara.
Moeslichatoen. 2004. Metode Pengajaran di Taman Kanak-kanak. Jakarta: PT Rineka Cipta.