Anda di halaman 1dari 26

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGENAL BENTUK GEOMETRI

BAGI ANAK UMUR 4-5 TAHUN MELALUI PENGGUNAAN


STRATEGI COOPERATIVE LEARNING DALAM
PERMAINAN BENTUK LOMBA
DI KB PELITA HATI BASO
NAMA
NIM
email

: ADE IRMA SURYANI


: 821643804
: ade131088@gmail.com
ABSTRAK

Kemampuan dalam mengenal bentuk geometri perlu dikembangkan sejak dini termasuk di KB Pelita
Hati Baso. Berdasarkan kondisi awal, peneliti menemukan rendahnya kemampuan anak dalam
mengenal bentuk geometri yaitu 90% Belum Berkembang (BB) dan 10 % Mulai Berkembang (MB).
Penyebabnya karena anak menganggap kegiatan ini tidak menarik dan tidak menyenangkan seperti
kegiatan lainnya. Namun penyebab utamanya adalah dari peneliti sendiri dimana peneliti belum
memberikan kegiatan yang menyenangkan dan belum menemukan strategi yang tepat dalam kegiatan
mengenal bentuk geometri. Untuk itu peneliti berusaha memecahkan masalah ini dengan PTK.
Tujuannya untuk mengetahui apakah penggunaan strategi cooperative learning dalam permainan
bentuk lomba dapat meningkatkan kemampuan anak dalam mengenal bentuk geometri umur 4-5
tahun di KB Pelita Hati Baso. Maka dilaksanakanlah penelitian perbaikan kegiatan pengembangan
ini dalam 2 siklus sesuai dengan prosedur perbaikan pengembangan mulai dari perencanaan,
pelaksanaan, pengamatan sampai refleksi. Setelah dilaksanakan perbaikan kegiatan pengembangan
menggunakan strategi cooperative learning dalam permainan bentuk lomba maka diperolehlah hasil
rata-rata kemampuan anak dalam mengenal bentuk geometri pada siklus I berangsur meningkat
yaitu Belum Berkembang (BB) 36,66%, Mulai Berkembang (MB) 26,66%, dan 36,66% Berkembang
Sesuai Harapan (BSH). Sedangkan pada siklus II rata-ratanya meningkat dengan pesat melebihi
harapan peneliti yaitu Berkembang Sesuai Harapan (BSH) 20% dan Berkembang Sangat Baik (BSB)
80%. Jadi dapat disimpulkan bahwa penerapan strategi cooperative learning dalam permainan
bentuk lomba telah berhasil meningkatkan kemampuan anak dalam mengenal bentuk geometri umur
4-5 tahun di KB Pelita Hati Baso.
Kata Kunci: kemampuan mengenal bentuk geometri, strategi cooperative learning, permainan bentuk
lomba.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini perlu di arahkan pada peletakan
dasar-dasar yang tepat bagi pertumbuhan dan perkembangan manusia seutuhnya.
Pertumbuhan dan perkembangan yang dimaksud mencakup kepada tumbuh kembangnya
fisik, daya fikir, sosial, bahasa dan emosi yang seimbang sebagai dasar pembentukan
pribadi yang utuh.
Anak usia dini adalah kelompok anak yang berada pada proses pertumbuhan dan
perkembangan yang baik, artinya tengah berada dalam fase pertumbuhan dan

perkembangan yang sejalan antara tumbuh kembangnya fisik motorik, kognitif, bahasa
dan sosial emosional.
Masa ini merupakan masa yang sangat findamental bagi kehidupan anak
selanjutnya. Menurut Bredecamp, dkk (dalam Masitoh, dkk 2012:1.14) anak adalah unik,
spontan, aktif dan energik, egosentris, memiliki rasa ingin tahu yang kuat, antusias
terhadap banyak hal, eskploratif, kaya akan fantasi, mudah prustasi, kurang
pertimbangan dalam bertindak, perhatian pendek, dan menunjukkan minat terhadap
teman.
Salah satu dari tugas pengembangan pendidikan anak usia dini yang menjadi
fokus bahasan dalam penelitian ini adalah perkembangan kognitif anak, khususnya lagi
dalam mengenal bentuk geometri.
Mengenalkan bentuk geometri kepada anak usia 4-5 tahun, merupakan kegiatan
penyaluran rasa ingin tahu yang sangat kuat yang dimiliki anak usia dini. Pengenalan
yang dituntut sesuai dengan aspek dalam mengenal bentuk geometri adalah menyebutkan
dan menunjukkan, mengelompokkan, dan meniru bentuk geometri.
Keberhasilan anak dalam mengenal bentuk geometri ini tidak terlepas dari peran
pendidik PAUD itu sendiri. Dengan tugas utama pendidik adalah mendidik, mengajar,
membimbing, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Untuk menjalankan
tugas utama tersebut harus memiliki beberapa kompetensi yaitu kompetensi pedagogik,
kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional dalam Peraturan
Pemerintah (PP) no 13 tahun 2015 sebagai penyempurnaan dari PP no 19/2005 tentang
Standar Nasional Pendidikan Nasional. Sebagai pekerja yang profesional guru dituntut
untuk mampu mengembangkan diri dari entri ke mentor sampai master teacher. Dengan
kata lain guru harus mampu mengembangkan dirinya dari pemula sampai menjadi
seorang yang profesional. Untuk bisa menjadi seorang yang profesional inilah peneliti
melaksanakan penelitian dalam mengenalkan bentuk geometri ini kepada anak .
1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan fenomena yang terjadi dilapangan peneliti menemukan beberapa
masalah di antaranya:
a. Rendahnya kemampuan anak dalam menggunting bebas. Dari 10 orang anak
70% tidak menyukai kegiatan ini. Sehingga 7 orang anak kemampuan
b.

mengguntingnya belum berkembang.


Rendahnya kemampuan mengenal bentuk geometri, dari 10 orang anak hanya
10% saja yang mulai bisa mengenalnya. Sehingga 90% kemampuan mengenal

c.

bentuk geometrinya belum berkembang.


Rendahnya kemampuan membuat bentuk geometri, dari 10 orang anak 80%
tidak bisa melakukannya.

Masalah ini dapat dilihat pada beberapa kegiatan dan kondisi di bawah ini
antara lain:
a. Dalam memilih kegiatan bermain, anak berebut untuk memilih kegiatan
mengenal konsep bilangan dari pada menggunting, mengenal bentuk geometri,
b.

dan membuat bentuk geometri.


Dalam kegiatan menggunting bebas dari 10 orang anak hanya 3 orang saja yang

c.

mau mengerjakannya sampai selesai.


Anak yang tidak mengerjakannya terlihat hanya sedang memain-mainkan

d.

gunting saja dengan wajah yang tidak senang.


Anak tidak bisa mengenal bentuk geometri. Mereka ragu mengatakannya
walaupun mereka mau menyebutkannya, tetapi asal menyebutkannya saja. Segi
tiga dikatakannya segi empat atau bentuk lainnya yang tidak sesuai. Dari 10
orang anak hanya 1 orang saja yang mulai bisa menyebutkannya sedangkan

e.

yang lain masih banyak yang salah karena asal menyebutkan.


Anak tidak mau membuat bentuk geometri mereka diam saja. Dari 10 orang
anak hanya 2 orang saja yang mau mengikutinya
Peneliti merasa bingung kenapa anak-anak tidak menyukai kegiatan ini.

Padahal peneliti sudah menyediakan kertas untuk digunting, sudah mengenalkan


macam-macam bentuk geometri, dan sudah mengajarkan membuat bentuk geometri.
Dengan mengkaji hasil belajar anak, apa sebenarnya yang terjadi di kelas ini dan apa
dampaknya bila kejadian ini peneliti biarkan. Untuk itu peneliti meminta saran
penilik selaku supervisor 2 dalam kontek penelitian ini untuk membantu peneliti
dalam memecahkan masalah ini. Setelah peneliti berdiskusi dengan supervisor 2
maka masalah yang harus peneliti pecahkan adalah masalah kemampuan anak dalam
mengenal bentuk geometri. Karena masalah ini yang terparah di antara masalah yang
lain. Kalau masalah ini tidak diperbaiki maka akan berdampak pada proses
pembelajaran berikutnya dan menimbulkan masalah baru dalam pembelajaran.
2. Analisis Masalah
Berangkat dari identifikasi masalah di atas maka peneliti mencoba
menganalisis masalah ini dengan cara sebagai berikut:
a. Bertanya kepada diri sendiri
1) Apakah kegiatan mengenal bentuk geometri sudah sesuai dengan umur
anak? Kegiatan mengenal bentuk geometri sudah sesuai dengan umur anak.
2) Apakah sudah mencontohkan terlebih dahulu sebelum kegiatan dimulai?
Sebelum kegiatan dimulai sudah dicontohkan terlebih dahulu.
3) Apakah sudah memberikan kegiatan yang menyenangkan bagi anak?
Kegiatan yang diberikan belum membuat anak senang.

4) Apakah sudah mencari strategi yang tepat dalam mengenal bentuk


geometri? Belum mencarikan strategi yang tepat dalam mengenal bentuk
geometri.
5) Apakah sudah membujuk anak untuk mau mengerjakan tugasnya? Anak
sudah di bujuk untuk mau mengerjakan tugasnya.
6) Apakah sudah memberi reword kepada anak? Anak sudah diberi reword
setiap berkegiatan.
7) Apakah sudah memotifasi anak dalam kegiatan mengenal bentuk geometri?
Anak sudah dimotifasi dalam kegiatan mengenal bentuk geometri.
b. Bertanya kepada anak
1) Apakah kegiatannya menyenangkan? Pada umumnya anak belum
menyenangi kegiatan mengenal bentuk geometri.
2) Apakah penampilan ibu menarik? Pada umumnya anak menjawab
penampilan ibu menarik.
Setelah tahu jawabannya maka peneliti menduga ada beberapa faktor yang
menyebabkan munculnya masalah belum berkembangnya kemampuan anak dalam
mengenal bentuk geometri. Faktor-faktor penyebab munculnya masalah tersebut
antara lain:
a. Faktor diri sendiri
Peneliti sebagai guru belum memberikan kegiatan yang menyenangkan
dalam mengenal bentuk geometri. Hal ini belum sesuai dengan karateristik
belajar anak. Karakteristik belajar anak menurut Sue Dockett & Marilyn Fleer
(dalam Masitoh, dkk 2012:6.11), bahwa belajar anak usia dini memiliki
karakteristik simbolik, bermakna, aktif, menyenangkan, sukarela atau volunter,
episodik dan ditentukan aturan.
Peneliti juga belum menggunakan strategi yang tepat dalam mengenal
bentuk geometri padahal banyak jenis-jenis strategi pembelajaran yang bisa
digunakan oleh guru dalam pembelajaran tinggal memilih mana yang tepat
untuk

dilaksanakan.

Kolstelnik

(dalam

Mashitoh,

dkk

2012:7.17),

mengemukakan 7 jenis strategi pembelajaran khusus yang dapat dijadikan


sebagai dasar untuk merencanakan dan melaksanakan kegiatan pembelajaran
b.

pada anak usia dini.


Faktor anak didik
Anak tidak mencobanya karena menganggap mengenal bentuk geometri
itu tidak menarik dan tidak menyenangkan seperti kegiatan yang lain.
Penyebabnya sama dengan hal yang dikemukakan di atas yaitu peneliti belum
memberikan kegiatan yang menyenangkan untuk anak dan belum memilih
strategi yang tepat dalam pembelajaran anak. Kegiatan yang menyenangkan

bagi anak tentunya kegiatan yang sesuai dengan karakteristik anak yaitu
3.

menyenangkan seperti pendapat ahli di atas.


Alternatif dan Prioritas Pemecahan Masalah
Berdasarkan karakteristik belajar anak dan strategi pembelajaran yang ada
tersebut, maka peneliti harus mencari solusi bagaimana kegiatan mengenal bentuk
ini bisa menyenangkan bagi anak. Untuk itu peneliti berdiskusi kembali dengan
kepala sekolah dan mengingat kembali pengalaman peneliti dalam mengajar untuk
mencari beberapa alternatif dalam memecahkan masalah rendahnya kemampuan
mengenal bentuk geometri ini. Maka ditemukanlah beberapa alternatif dalam
memecahkan masalah ini antara lain:
a. Kegiatan mengenal bentuk geometri dengan memakai strategi cooperative
learning melalui permainan bentuk lomba.
Salah satu fungsi bermain adalah untuk memecahkan masalah. Untuk
memecahkan masalah dalam mengenal bentuk geometri bisa dengan cara
bermain. Bermain yang disenangi anak biasanya dalam bentuk lomba.
Permainan bentuk lomba membutuhkan kerjasama. Dengan kerjasama anak
b.

sendirinya cepat mengenal bentuk geometri.


Mengenal bentuk dengan cara bernyanyi.
Bermain membantu perkembangan daya ingat anak. Mengenal bentuk
membutuhkan daya ingat. Untuk itu mengenal bentuk dapat dilakukan dengan

c.

cara bernyanyi.
Mengenal bentuk dengan cara bercerita.
Bercerita dapat mengembangkan kemampuan kognitif anak. Kemampuan
kognitif salah satunya mengenal bentuk geometri. Jadi dengan bercerita dapat
menstimulasi kemampuan anak dalam mengenal bentuk geometri.
Dengan pertimbangan yang matang dari beberapa alternatif tersebut, maka

peneliti mengambil prioritas utama dalam memecahkan masalah rendahnya


kemampuan mengenal bentuk geometri anak umur 4-5 tahun adalah dengan cara
menggunakan strategi cooperatif learning dalam permainan bentuk lomba karena
cara seperti ini sudah sesuai dengan kondisi anak, karakteristik anak yang aktif dan
energik, sarana yang ada, keinginan dari peneliti dan kepala sekolah..
B. Rumusan Masalah
Dari hasil analisis yang telah peneliti lakukan, maka perumusan masalah yang
akan di atasi melalui penelitian ini secara umum adalah Bagaimana meningkatkan
kemampuan mengenal bentuk geometri bagi anak umur 4-5 tahun melalui penggunaan
strategi cooperative learning dalam permainan bentuk lomba di KB Pelita Hati Baso?
Lebih khusus lagi rumusan masalah penelitian ini adalah:

1. Bagaimana perencanaan peningkatan kemampuan mengenal bentuk geometri bagi


anak umur 4-5 tahun melalui strategi cooperative learning dalam permainan bentuk
lomba di KB Pelita Hati Baso.
2. Bagaimana pelaksanaan peningkatan kemampuan mengenal bentuk geometri bagi
anak umur 4-5 tahun melalui strategi cooperative learning dalam permainan bentuk
lomba di KB Pelita Hati Baso.
3. Bagaimana hasil peningkatan kemampuan mengenal bentuk geometri bagi anak umur
4-5 tahun melalui strategi cooperative learning dalam permainan bentuk lomba di KB
Pelita Hati Baso.
C. Tujuan Penelitian Perbaikan Kegiatan Pengembangan
Penelitian perbaikan kegiatan pengembangan ini bertujuan untuk mengetahui
apakah penggunaan strategi coopeative learning dalam permainan bentuk lomba dapat
meningkatkan kemampuan anak umur 4-5 tahun dalam mengenal bentuk geometri di KB
Pelita Hati Baso.
D. Manfaat Penelitian Perbaikan Pengembangan
Penelitian perbaikan pengembangan ini secara teoritis diharapkan bisa bermanfaat
bagi peningkatan kemampuan anak dalam mengenal bentuk geometri umur 4-5 tahun
pada jenjang PAUD khususnya Kelompok Bermain (KB). Sedangkan manfaatnya secara
praktis adalah sebagai berikut:
1. Peneliti dapat memperbaiki pembelajaran dalam mengenal bentuk geometri,
mengembangkan

keterampilan

dalam

mengenal

bentuk

geometri

dan

mengembangkannya kepada anak, dan menjadikan peneliti percaya diri dalam


mengenalkan bentuk geometri kepada anak melalui strategi cooperatvie learning
dalam permainan bentuk lomba.
2. Guru dapat menambah wawasannya dalam meningkatkan kemampuan mengenal
bentuk geometri kepada anak usia 4-5 tahun dan menjadikannya lebih profesional
dalam meningkatkan kemampuan anak dalam mengenal bentuk geometri.
3. Anak dapat pengalaman baru untuk meningkatkan kemampuan mengenal bentuk
geometri menjadi lebih baik, dengan menggunakan strategi cooperative leanirng
dalam permainan bentuk lomba dan dapat membuat anak menjadi senang dengan
kegiatan mengenal bentuk geometri.
4. Orang tua dapat menambah wawasannya untuk menstimulasi kemampuan anak
dalam mengenal bentuk geometri.
5. Sekolah dapat meningkatkan perkembangannya karena guru sudah mampu melakukan
perubahan, dan sekolah lebih maju karena gurunya profesional.
6. Teman sejawat dapat mencoba melakukan perbaikan pembelajaran dalam mengenal
bentuk geometri.

7. Dinas

pendidikan

dapat

menggunakannya

sebagai

bahan

masukan

dalam

memperbaiki mutu dan proses pendidikan dan masukan dalam membuat kontribusi
nyata bagi pendidikan anak usia dini.
KAJIAN PUSTAKA
1.

Kemampuan Mengenal Bentuk Geometri


a. Pengertian kemampuan.
Kemampuan anak tidak lepas dari perkembangan anak itu sendiri.
Kemampuan atau perkembangan menurut Yusuf (dalam Masitoh dkk. 2012:2.3),
diartikan sebagai perubahan-perubahan yang dialami oleh seorang individu
menuju tingkat kematangan yang berlangsung secara sistematis, progresif, dan
b.

berkesenambungan baik yang menyangkut aspek fisik maupun psikis.


Aspek-aspek kemampuan anak usia dini.
Menurut Slamet Suyanto (dalam Soegeng Santoso 2012:4.6) bermain
memiliki peran penting dalam kemampuan atau perkembangan anak antara lain
dalam aspek kemampuan motorik, kognitif, afektif, bahasa, dan sosial

c.

emosional.
Mengenal bentuk geometri
Janice J Beaty (dalam Siti , dkk 2014:5.33) bentuk adalah salah satu
konsep awal yang harus dikuasai anak. Anak dapat membedakan benda

berdasarkan bentuk lebih dulu sebelum berdasarkan ciri-ciri lain.


2. Strategi Cooperative Learning
a. Pengertian strategi cooperative learning (belajar kooperatif)
Konstelnik (dalam Masitoh, dkk 2012:7.1) mengemukakan ada dua
strategi yang bisa diterapkan oleh guru dalam pembelajaran yaitu strategi
pembelajaran umum dan strategi pembelajaran khusus. Salah satu stategi
pembelajaran khusus adalah stategi cooperative learning.
Cohen (dalam Masitoh, dkk 2012:7.24) mendefinisikan strategi belajar
kooperatif sebagai suatu strategi pembelajaran yang melibatkan anak-anak
untuk bekerja sama dalam kelompok yang cukup kecil, dan setiap anak dapat
b.

berpartisipasi dalam tugas-tugas bersama yang telah ditentukan.


Manfaat strategi cooperative learning
Ali Nugraha dkk (2014: 6.13) adapun manfaat dari pembelajaran
kooperatif learning dapat dijabarkan sebagai berikut:
1) Cooperative learning mampu mengembangkan aspek moralitas dan
interaksi sosial peserta didik karena melalui pembelajaran kooperatif,
anak didik
memperoleh kesempatan yang lebih besar untuk
berinteraksi dengan anak yang lain.

2) Cooperative learning mampu mempersiapkan anak didik untuk


belajar bagaimana cara mendapatkan pengetahuan dan informasi
sendiri, baik dari guru, teman, bahan dan sumber belajar lainnya.
3) Meningkatkan kemampuan anak didik bekerja dalam sebuah tim.
4) Cooperative learning membentuk pribadi yang terbuka dan menerima
perbedaan.
5) Cooperative learning membentuk anak untuk selalu aktif dan kreatif.
c.

Langkah-langkah cooperative learning.


Menurut Nur Asma (dalam Nia Desiarti 2015:8) pada dasarnya terdapat
6 langkah dalam pembelajaran kooperatif yaitu: menyampaikan tujuan dan
memotifasi anak, menyajian informasi, mengorganisasikan anak ke dalam
kelompok-kelompok belajar, membimbing, mengevaluasi, dan memberikan

penghargaan.
3. Permainan Bentuk Lomba
a. Pengertian bermain.
B.E.F. Montulalu dkk (2012:1.3) berdasarkan hasil penelitian para ahli,
pengamatan dan pengalaman dapat dikatakan bahwa bermain adalah:
1) Anak memperoleh kesempatan yang ada pada dirinya.
2) Anak akan menemukan dirinya, yaitu kekuatan dan kelemahannya,
kemampuan serta minat dan kebutuhannya.
3) Memberikan peluang bagi anak untuk berkembang seutuhnya.
4) Anak terbiasa menggunakan aspek panca indranya sehingga terlatih dengan

b.

baik.
5) Secara alamiah motifasi anak untuk mengetahui sesuatu lebih mendalam.
Pentingnya bermain.
Banyak teori yang mengatakan apabila anak merasa aman serta
kebutuhan fisiknya terpenuhi anak akan mengkontruksi belajarnya dengan
senang. Guru juga harus memperhatikan kebutuhan anak karena bermain anak
mempengaruhi pendidikan di antaranya:
1) Frost (dalam B.E.F Montulalu, dkk 2012:1.3) anak-anak ingin tetap
bermain walaupun mereka telah mendekati kelelahan yang sangat.
2) Susan Isaach (dalam B.E.F Montulalu, dkk 2012:1.7) bermain

c.

mempertinggi semua aspek pertumbuhan dan perkembangan anak.


Manfaat bermain
Adapun manfaat bermain menurut B.E.F. Montulalu dkk (2012:1.23)
dalam menyusun program pengembangan adalah:
1) Memicu kreatifitas
2) Mencerdasan otak
3) Menanggulangi konflik
4) Melatih empati
5) Mengasah panca indra
6) Media terapi
7) Melakukan penemuan

d.

Jenis-jenis permainan.
Jenis-jenis permainan menurut B.E.F. Montulalu dkk (2012:7.29) ada dua
yaitu bermain bebas dan bermain terpimpin. Bermain terpimpin yang bisa

diciptakan sendiri oleh guru di antaranya:


1) Permainan dalam lingkaran
2) Permainan dengan alat
3) Permainan tanpa alat
4) Permainan dengan angka
5) Permainan dengan nyanyian
6) Permainan bentuk lomba
7) Permainan mengasah panca indra
A. Karateristik Anak.
Karakteristik anak menurut Bredecamp & Copple, Brenner, serta Kellough
(dalam Masitoh, dkk 2012:1.14) adalah anak unik, spontan, aktif dan energik, egosentris,
memiliki rasa ingin tahu yang kuat dan antusias terhadap banyak hal, eksploratif, kaya
dengan fantasi, mudah frustasi, kurang pertimbangan dalam bertindak, perhatian pendek,
masa belajar yang potensial dan menunjukkan minat terhadap teman
B. Karakteristik pembelajaran.
Karakteristik pembelajaran anak usia dini diantaranya:
1. Anak belajar melalui bermain.
Menurut pendapat Solehudin, Sue Docett & Marilyn Fleer (dalam Masitoh, dkk
2012:6.11), mengemukakan bahwa bermain bagi anak usia dini memiliki
karakteristik simbolik, bemakna, aktif, menyenangkan, suka rela atau volunter,
2.

episodik, dan ditentukan aturan.


Anak belajar dengan cara membangun pengetahuannya
Dengan cara cooperative learning anak akan bisa bekerjasama dengan
orang lain yaitu temannya sehingga dapat membangun pengetahuannya dalam

3.

mengenal bentuk geometri.


Anak belajar secara alamiah
Bobby fisher (dalam Masitoh, dkk 2012:6.15) mengemukakan anak belajar
secara alamiah bukan atas paksaan orang dewasa. Proses alamiah ini akan muncul
jika di stimulasi dengan menyediaan fasilitas pembelajaran yang telah dirancang

4.

dengan baik.
Anak belajar paling baik apabila yang dipelajarinya mempertimbangkan keseluruhan
aspek pengembangan, bermakna, menarik dan fungsional.
Dalam kaitannya dengan kebermaknaan dalam belajar, M. Solehudin
mengutip kesimpulan Bredecamp Rosegrani (dalam Masitoh, dkk 2012:6.15), maka
anak akan belajar dengan baik apabila merasa aman serta kebutuhan fisiknya
terpenuhi, anak mengkonstruksi pengetahuan, anak belajar interaksi sosial dengan

anak lainnya, anak belajar melalui bermain, minat dan kebutuhan anak untuk
mengetahui terpenuhi, dan unsur variasi individual anak diperhatikan.
C. Penerapan strategi cooperative learning dalam permainan bentuk lomba untuk
meningkatkan kemampuan mengenal bentuk geometri.
Strategi cooperative learning dalam permainan bentuk lomba dapat digunakan
dalam mengenal bentuk geometri. Permainan bentuk lomba dapat diciptakan sendiri oleh
guru. Guru menyampaikan tujuan dan memotifasi anak untuk mau mengikuti kegiatan.
Guru mengelompokkan anak tidak lebih dari 4 orang dalam satu kelompok.
PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN KEGIATAN PENGEMBANGAN
Pelaksanaan penelitian perbaikan pengembangan dalam mengenal bentuk geometri
akan peneliti jabarkan secara rinci mulai dari subjek, tempat, dan waktu serta pihak yang
membantu penelitian, desain prosedur perbaikan pengembangan, dan teknik analisis data.
A. Subjek, Tempat, dan Waktu Serta Pihak yang Membantu Penelitian
1. Subjek Penelitian
Anak yang menjadi subjek penelitian adalah anak Kelompok Bermain Pelita
Hati Baso umur 4-5 tahun karena peneliti sebagai guru dari kelompok umur tersebut.
2.

Dengan jumlah anak 10 orang. 8 orang anak perempuan dan 2 orang anak laki-laki.
Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kelompok Bemain Pelita Hati Baso yang
terletak di Kampuang Dulang Panta Jorong Sungai Angek Nagari Simarasok
Kecamatan Baso Kabupaten Agam. Peneliti memilih tempat ini untuk melaksanakan
penelitian perbaikan pengembangan karena peneliti menjadi guru di KB Pelita Hati

3.

tersebut.
Waktu penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada semester II tahun ajaran 2015/2016 dengan
lama penelitian sampai pada pembuatan laporan adalah 2 bulan. Dengan jadwal
penelitian sebagai berikut:
Tabel 3.1
Waktu Penelitian Perbaikan Pembelajaran
No
Kegiatan
1
Kondisi Awal
2
Perencanaan:
- Membuat rancangan siklus I.
- Membuat rancangan siklus II
- Membuat RKH, skenario perbaikan, lembar
observasi anak, lembar penilaian guru, lembar
refleksi, APKG PKP 1 dan APKG PKP 2.
3
Pelaksanaan, Pengamatan, dan Refleksi:

Waktu
30 Maret 2016
4 -10 April 2016
15-18 April 2016
11-13 April 2016
18-20 April 2016

4
4.

- Siklus 1
- Siklus 2
Penyusunan Laporan

12-14 April 2016


19-21 April 2016
25 April 2016

Pihak yang membantu penelitian


Banyak pihak yang telah membantu peneliti dalam melakukan penelitian ini
di antaranya:
1. Ibu Nurfatmi, M.Pd sebagai supervisor 1 beliau telah membimbing dan menilai
peneliti dalam merancang dan melaksanakan kegiatan pengembangan. Beliau
juga telah membantu peneliti dalam merancang, melaksanakan, dan membuat
2.

laporan perbaikan kegiatan pengembangan.


Bapak Jonhardi, S.Pd sebagai supervisor 2 dan penilai , beliau telah melayani
peneliti dalam menyusun RKH dan menilai RKH tersebut serta pelaksanaannya
dengan menggunakan APKG PKP 1 dan 2. Beliau juga membantu peneliti

3.

dalam membuatkan jurnal penilaian perbaikan pengembangan.


Ibu Misrawarni, S.Pd, sebagai penilai yang telah membantu peneliti menilai
dan memberikan saran dalam penelitian ini.

B. Desain Prosedur Perbaikan Pengembangan


Prosedur perbaikan pengembangan untuk satu siklus peneliti sesuaikan dengan
bagan alur berikut ini.
Merencanakan

Melakukan Tindakan

Refleksi

Mengamati

Gambar 3.1
Bagan Alur Tahapan PTK
Wardhani & Wihardit (dalam Sri Tatminingsih 2014.13)
C. Teknik Analisis Data
Untuk menganalisis data penilaian anak peneliti menggunakan data kuantitatif
dari lembar observasi dalam bentuk tabulasi dan persentase agar memudahkan peneliti
melihat hasilnya. Anak yang memperoleh nilai BB (Belum Berkembang), MB (Mulai
Berkembang), BSH (Berkembang Sesuai Harapan), dan BSB (Berkembang Sangat Baik)

disesuaikan dengan namanya. Jumlahnya peneliti persentasekan, dan rata-rata


kemampuan anak juga peneliti persentasekan. Data bentuk tabulasi dan persentase ini
peneliti masukkan ke dalam diagram batang.
Data penilaian anak yang ada peneliti deskripsikan dalam bentuk narasi, grafik,
tabel dan terakhir data tersebut peneliti simpulkan
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada hasil dan pembahasan ini peneliti akan mendeskripsikan tentang temuantemuan hasil penelitian perbaikan kegiatan pengembangan dalam mengenal bentuk
geometri, dan pembahasan mengenai setiap siklus perbaikan pengembangan dalam
mengenal bentuk geometri yang dilaksanakan di KB Pelita Hati Baso pada semester II
tahun ajaran 2016. Pelaksanaannya terdiri dari 2 siklus, dengan lama pelaksanaan 2
minggu. Hasil dan pembahasannya sebagai berikut:
Siklus 1
a. Hasil perencanaan penelitian perbaikan pengembangan
Perencanaan penelitian perbaikan pengembangan siklus I secara umum
disusun berdasarkan hasil refleksi terhadap kondisi awal sesuai dengan
pembimbingan supervisor 1 dan 2. Hasil perencanaan penelitian perbaikan
pengembangan yang telah dibimbing secara berlapis oleh kedua supervisor
tersebut sudah menunjukkan peningkatan kualitas sebuah perencanaan.
Tabel 4.9
Rekapitulasi Persentase Data Hasil Perbaikan Pengembangan
Siklus I
Pertemuan Ke
1
2
4

BB
63,33 %
50 %
36,66 %

MB
26,66 %
36,66 %
26,66 %

BSH
10 %
13,33 %
36,66 %

BSB
0%
0%
0%

Keterangan: BB (Belum berkembang), MB (Mulai Berkembang), BSH (Berkembang Sesuai Harapan), BSH
(Berkembang Sangat Baik).

Dari rekap data tersebut terlihat ada peningkatan kemampuan anak dari
hari ke hari walaupun hanya sedikit peningkatan.

Pada pertemuan pertama

kemampuan anak dalam mengenal bentuk geometri 36,66 % BB, 26,66 % MB,
dan 10 % BSH, pada pertemuan ke dua 50 % BB, 36,66 % MB, dan 13,33 %
BSH, sehingga pada hari terakhir rata-rata persentase kemampuan anak dalam
mengenal bentuk geometri yaitu 36,66 % BB, 26,66 % MB, dan 36,66 BSH.
Grafik 4.1
Hasil Perbaikan Pengembangan Siklus I

Keterangan: BB (Belum berkembang), MB (Mulai Berkembang), BSH (Berkembang Sesuai Harapan),


BSH (Berkembang Sangat Baik).

Hasilnya juga dapat dilihat dari grafik ini dimana pada siklus I
kemampuan anak dalam mengenal bentuk geometri telah berangsur-angsur
meningkat yaitu pada hari ke 1 warna biru menunjukkan kemampuan anak dalam
mengenal bentuk geometri BB 36,66 %, warna coklat menunjukkan MB 26,66 %,
dan warna abu-abu menunjukkan BSH 10 %. Pada hari ke 2 kemampuan anak
dalam mengenal bentuk geometri warna biru menunjukkan 50 % BB, warna
coklat MB 36,66 %, warna abu-abu 13,33 % dan pada hari ke 3 warna biru
menunjukkan BB 36,66 %, warna coklat menunjukkan MB 26,66 %, dan warna
abu-abu BSH 36,66 %.
b. Hasil pengamatan penelitian perbaikan pengembangan.
Pengamatan dilaksanakan berbarengan dengan kegiatan pelaksanaan
perbaikan pengembangan. Dimana pada waktu pelaksanaan perbaikan ini peneliti
mengobservasi anak dengan mengisi lembar observasi anak yang ada pada tahap
pelaksanaan.

Sedangkan

pengamatan

terhadap

kinerja

peneliti

dalam

mempraktekkannya di dalam kelas dinilai oleh supervisor 2 dan penilai


menggunakan APKG PKP 2. Pengamatan dilakukan selama proses kegiatan
sampai akhir kegiatan. Selama melakukan pengamatan peneliti menemukan
masih adanya anak yang tidak mengikuti kegiatan. Secara umum setelah
pelaksanaan perbaikan pengembangan siklus I ini maka dapat dilihat hasil
pengamatan yang peneliti sajikan sebagai berikut.
1) Hasil pengamatan hari ke 3
Tabel 4.12

Lembar Obsevasi
Penilaian Perbaikan Pengembangan
Umur 4-5 Tahun Kelompok Bermain Pelita Hati
Tema/Sub Tema : Alam Semesta/Matahari
Hari/Tanggal : Kamis/14 April 2016
No
1

Aspek yang dinilai


Menyebutkan bentuk geometri

BB
7.8
10

MB
1.3
6

BSB
2.4
5.9

Mengelompokkan bentuk

6.7
9

1.2
10

geometri
Meniru bentuk persegi panjang

3.4
5.8
1.7
8.
10

3.6

2.4
5.9

dan segi tiga dengan 4 posisi

BSH

Keterangan: BB (Belum berkembang), MB (Mulai Berkembang), BSH (Berkembang Sesuai Harapan),


BSH (Berkembang Sangat Baik).

Dilihat dari tabel di atas pada aspek menyebutkan bentuk geometri Belum
Berkembang (BB) 3 orang, Mulai Berkembang (MB) 3 orang, dan Berkembang
Sesuai Harapan (BSH) 4 orang. Pada aspek mengelompokkan bentuk geometri
Belum Berkembang (BB) 4 orang, Mulai Berkembang (MB) 3 orang, dan
Berkembang Sesuai Harapan (BSH) 3 orang. Pada aspek meniru bentuk persegi
panjang dan segi tiga Belum Berkembang (BB) 4 orang, Mulai Berkembang
(MB) 2 orang, dan Berkembang Sesuai Harapan (BSH) 4 orang.

c. Hasil Refleksi penelitian perbaikan pengembangan


Setelah pelaksanaan perbaikan pengembangan selesai setiap pertemuan,
maka peneliti melaksanakan refleksi diri yang dibimbing oleh supervisor dan
disetujui oleh supervisor 1 dengan mengisi lembar refleksi untuk memperbaiki
kinerja peneliti dihari berikutnya.
1) Hasil refleksi hari ke tiga
Anak senang dengan setiap kegiatan dimana sudah ada 4 orang anak yang
berkembang sesuai harapan, namun masih ada 4 orang anak belum bisa
melakukannya. Ada yang salah cara melompati dan salah melakukan
gerakannya. Begitu juga dengan kegiatan meraba dan menyebutkan bentuk
masih ada 3 orang anak yang ragu menyebutannya, dan membuat bentuk
persegi dan segi tiga masih ada 4 orang anak yang belum bisa kemungkinan

peneliti terlalu cepat mencontohkannya sebagaimana langkah pembelajaran


kooperatif guru menyajikan informasi atau cara bermain kepada anak.
Atas bimbingan supervisor 2 maka peneliti akan berusaha
memperbaiki kekurangan peneliti dalam memberikan contoh dengan
perlahan pada siklus berikutnya agar anak mengenali bentuk geometri.
Dapat disimpulkan setelah peneliti melakukan perbaikan demi perbaikan
mulai hari pertama sampai hari ke tiga. Rata-rata kemampuan anak dalam
mengenal bentuk geometri hari demi hari ada peningkatan, tetapi peningkatan
tersebut belumlah sesuai dengan harapan peneliti. Berdasarkan kelebihan dan
kegagalan tersebut peneliti merasa belum puas karena tujuan peneliti belum
tercapai sepenuhnya. Peningkatan ada tetapi belum sesuai harapan maka peneliti
memutuskan untuk melanjutkan perbaikan pada siklus II.
2.

Siklus II
a. Hasil perencanaan penelitian perbaikan pengembangan
Perencanaan siklus II ini sudah berhasil dengan baik karena sudah sesuai
dengan

kualitas

sebuah

perencanaan.

Perencanaannya

peneliti

susun

berdasarkan hasil refleksi siklus I sesuai dengan bimbingan berlapis dari


supervisor 1 dan 2.
1) Hasil pelaksanaan perbaikan pengembangan hari ke 3
Tabel 4.18
Lembar Observasi Perbaikan Pengembangan
Umur 4-5 Tahun Kelompok Bermain Pelita Hati
Tema/Sub Tema
Hari/Tanggal
No
1

: Alam Semesta/Bintang
: Kamis/21 April 2016

Perkembangan
Menunjukkan dan
menyebutkan benda bentuk

geometri.
Mengelompokkan bentuk
geometri

Meniru bentuk persegi


panjang, segi tiga, lingkaran
dengan jari 4 posisi

BB

MB

BSB BSH
7.8
1.2
10
3.4
5.6
9
7.8
1.2
3.4
5.6
9.10
8
2.3
4.5
6.7
9

Keterangan: BB (Belum berkembang), MB (Mulai Berkembang), BSH (Berkembang Sesuai Harapan),


BSH (Berkembang Sangat Baik).

Dilihat dari tabel di atas perkembangan kemampuan anak dalam


mengenal bentuk geometri Belum Berkembang (BB) 0 orang, Mulai
Berkembang (MB) 0 orang, Berkembang Sesuai Harapan (BSH) 3 orang,
dan Berkembang Sangat Baik (BSB) 7 orang. Pada aspek mengelompokkan
bentuk geometri Belum Berkembang (BB) 0 orang, Mulai Berkembang (MB)
0 orang, Berkembang Sesuai Harapan (BSH) 2 orang, dan Berkembang
Sangat Baik (BSB) 8 orang. Pada aspek meniru bentuk geometri Belum
Berkembang (BB) 0 orang, Mulai Berkembang (MB) 0 orang, Berkembang
Sesuai Harapan (BSH) 1 orang, dan Berkembang Sangat Baik (BSB) 9
orang.
Perhitungan presentase kemampuan anak dalam mengenal bentuk
geometri umur 4-5 tahun di KB Pelita Hati pada hari ke 3 siklus II dari 10
orang anak adalah sebagai berikut:
Tabel 4.19
Data Persentase
Perbaikan Pengembangan Umur 4-5 Tahun Kelompok Bermain Pelita
Hati
Tema/Sub Tema
Hari/Tanggal
No
1

Perkembangan

: Alam Semesta/Bintang
: Kamis/21 April 2016
BB %

% BS

BSH

B
7.8
10

30

1.2
3.4
5.6
9

70

7.8

20

80

10

1.2
3.4
5.6
9.10
2.3
4.5
6.7
9

Menunjuk dan
menyebutkan
benda bentuk

geometri
Mengelompokk
an bentuk

geometri
Membuat
bentuk persegi
panjang, segi

90

tiga, lingkaran
dengan jari 4
posisi
Rata-rata

20

80

Keterangan: BB (Belum berkembang), MB (Mulai Berkembang), BSH (Berkembang Sesuai Harapan),


BSH (Berkembang Sangat Baik).

Dari tabel di atas dapat dilihat presentase kemampuan anak dalam


mengenal bentuk geometri pada hari ke 3 siklus II adalah BB 0%, MB 0%,
BSH 20%, dan BSB 80%. Berikut ditampilkan dalam diagram batang.
Berikut peneliti tampilkan rata-rata hasil kemampuan anak setiap
hari selama 3 hari pelaksanaan pada siklus II ini dalam tabel persentase dan
grafik di bawah ini.
Tabel 4.20
Rekapitulasi Persentase Data Hasil Perbaikan Pengembangan Siklus
II
Hari Ke
1
2
3

BB
0%
0%
0%

MB
23,33 %
10 %
0%

BSH
43,33 %
50 %
20 %

BSB
33,33 %
40 %
80 %

Keterangan: BB (Belum berkembang), MB (Mulai Berkembang), BSH (Berkembang Sesuai Harapan),


BSH (Berkembang Sangat Baik).

Dari rekap data tersebut terlihat ada peningkatan rata-rata persentase


kemampuan anak hari demi hari. Pada hari pertama pertemuan BB 0 %, MB
23,33%, BSH 43,33%, BSB 33,33%. Pada hari ke 2 rata-ratanya meningkat
lagi BB 0%, MB 10%, BSH 50%, dan BSB 40 %. Sehingga pada hari
terakhir rata-rata persentase kemampuan anak dalam mengenal bentuk
geometri sudah meningkat yaitu 0 % BB, 0 % MB, 20 % BSH atau
Berkembang Sesuai Harapan, dan 80 % BSB atau Berkembang Sangat Baik.
Grafik 4.2
Hasil Perbaikan Pengembangan Siklus II

Keterangan: BB (Belum berkembang), MB (Mulai Berkembang), BSH (Berkembang Sesuai


Harapan), BSH (Berkembang Sangat Baik).

Hasilnya juga dapat dilihat dari grafik ini dimana pada siklus II
terjadi peningkatan pada hari ke 1 dimana warna coklat menunjukkan MB
23,33%, warna abu-abu menunjukkan BSH 43,33%, dan warna kuning
menunjukkan BSB 33,33%. Pada hari ke 2 terjadi peningkatan yang
ditunjukkan warna coklat 10% MB, warna abu-abu BSH 50%, dan warna
kuning BSB 40%. Sehingga pada hari ke 3 sudah mencapai hasil yang sangat
memuaskan yaitu warna abu-abu menunjukkan BSH 20 % dan warna kuning
menunjukkan BSB 80 %.
Berikut peneliti tampilkan hasil penilaian setiap siklus, dimana bisa
dilihat perbandingan hasil setiap siklusnya melalui tabel dan grafik di bawah
ini.
Tabel 4.21
Rekapitulasi Persentase Data Hasil Perbaikan Pengembangan
Siklus II
Siklus
Siklus 1
Siklus 2

BB
36,66 %
0%

MB
26,66 %
0%

BSH
36,66 %
20 %

BSB
0%
80 %

Keterangan: BB (Belum berkembang), MB (Mulai Berkembang), BSH (Berkembang Sesuai


Harapan), BSH (Berkembang Sangat Baik).

Dari rekap data tersebut terlihat ada peningkatan kemampuan anak


setiap siklusnya. Dimana rata-rata kemampuan anak dalam mengenal bentuk
geometri pada siklus II ini telah melebihi hasil dari siklus I, dimana siklus I

BB 36,66%, MB 26,66%, dan BSH hanya 30 % sedangkan pada siklus II BB


0 %, MB 0%, BSH 20% dan BSB 80%.
Grafik 4.3
Hasil Perbaikan Pengembangan Persiklus

Keterangan: BB (Belum berkembang), MB (Mulai Berkembang), BSH (Berkembang Sesuai Harapan),


BSH (Berkembang Sangat Baik).

Dari grafik tersebut terlihat kemampuan anak dalam mengenal


bentuk geometri pada kondisi awal 90 % BB dengan diagram berwarna biru,
10 % MB dengan diagram berwarna coklat, BSH dan BSB masih 0 %.
Sedangkan rata-rata kemampuan anak pada siklus II ini telah melebihi hasil
dari siklus I, dimana siklus I BB 36,66% dengan warna biru, MB 26,66%
dengan warna coklat, dan BSH hanya 30 % dengan warna abu-abu
sedangkan pada siklus II BB 0 % (sudah tidak ada), MB 0 % (sudah tidak
ada) , BSH 20 % dengan warna abu-abu dan BSB 80 % dengan warna
kuning.
a. Hasil pengamatan penelitian perbaikan pengembangan
Pengamatan ini dilaksanakan pada waktu pelaksanaan perbaikan.
Peneliti mengamati anak dengan mengisi lembar observasi anak. Sedangkan
supervisor 2 mengamati peneliti dengan menggunakan APKG PKP 2.
Pengamatan dilakukan selama proses kegiatan sampai akhir kegiatan. Selama
melakukan pengamatan pada siklus II di hari ke 1 peneliti menemukan masih
ada 2 sampai 3 orang anak yang baru mulai mengenal bentuk geometri.
Tetapi pada hari terakhir siklus II tidak ada lagi yang belum berkembang,
semua anak sudah berkembang sesuai harapan peneliti bahkan ada yang
berkembang sangat baik. Secara umum hasil pengamatan siklus II sebagai
berikut.

Hasil pengamatan hari ke 3.


Tabel 4.24
Lembar Observasi Perbaikan Pengembangan
Umur 4-5 Tahun Kelompok Bermain Pelita Hati
Tema/Sub Tema
Hari/Tanggal
No
1

: Alam Semesta/Bintang
: Kamis/21 April 2016

Perkembangan
Menunjukkan dan
menyebutkan benda bentuk

geometri.
Mengelompokkan bentuk
geometri

Meniru bentuk persegi


panjang, segi tiga, lingkaran
dengan jari 4 posisi

BB

MB

BSB BSH
7.8
1.2
10
3.4
5.6
9
7.8
1.2
3.4
5.6
9.10
8
2.3
4.5
6.7
9

Keterangan: BB (Belum berkembang), MB (Mulai Berkembang), BSH (Berkembang Sesuai Harapan),


BSH (Berkembang Sangat Baik).

Dilihat dari tabel di atas pada aspek menunjuk dan menyebutkan 7 benda
bentuk geometri Berkembang Sesuai Harapan (BSH) 7 orang, dan
Berkembang Sangat Baik 3 orang. Pada aspek mengelompokkan bentuk
geometri Berkembang Sesuai Harapan (BSH) 2 orang, dan Berkembang
Sangat Baik (BSB) 8 orang. Pada aspek meniru bentuk persegi panjang
Berkembang Sesuai Harapan (BSH) 1 orang, dan Berkembang Sangat Baik
(BSB) 9 orang

b. Hasil refleksi penelitian perbaikan pengembangan


Setelah pelaksanaan perbaikan pengembangan selesai setiap
pertemuan, maka peneliti melaksanakan refleksi diri yang dibimbing oleh

supervisor dan disetujui oleh supervisor 1 dengan mengisi lembar refleksi


untuk memperbaiki kinerja peneliti dihari berikutnya. Hasil refleksi yang telah
dilaksanakan selama tiga hari ini peneliti paparkan satu persatu yang
mencakup keberhasilan, kegagalan, faktor-faktor yang menyebabkan, dan
alasan tindakan perbaikan pembelajaran sebagai berikut.
3) Hasil refleksi hari ke 3
Pada hasil refleksi peneliti telah berhasil membuat anak senang
melaksanakan semua kegiatan. Ketika menebak bentuk dengan main
mata-mata, baru saja temannya melihat suatu bentuk langsung ditebak
anak dengan jawaban yang betul. Begitu juga dengan kegiatan lomba
mencocokkan bentuk hampir semua kelompok menyelesaiannya dengan
cepat dan ingin bermain lagi dan lagi walau mereka sudah lelah. Dalam
membuat bentuk dengan jari anak sudah mahir melakukannya.
Berdasarkan refleksi tersebut maka peneliti tidak menemukan
lagi kegagalan.

Dengan keberhasilan

maka

peneliti

akan terus

menggunakan strategi cooperative learning ini dalam meningkatkan


kemampuan anak dalam mengenal bentuk geometri.
Dapat disimpulkan setelah peneliti melakukan perbaikan demi
perbaikan hari demi hari pada siklus I dan siklus II. Rata-rata kemampuan
anak dalam mengenal bentuk geometri sudah meningkat,

peningkatan

tersebut sudah melebihi harapan peneliti yaitu sudah berkembang sangat


baik.
Berdasarkan peningkatan tersebut peneliti sudah merasa puas karena
tujuan peneliti sudah tercapai sepenuhnya, untuk itu peneliti memutuskan
untuk berhenti melaksanakan perbaikan pada siklus II ini.
B. Pembahasan Dari Setiap Siklus
1. Siklus I
Analisis siklus I
Berdasarkan pengamatan akhir siklus 1 dan diskusi dengan

supervisor 2

setelah melaksanakan RKH perbaikan sesuai skenario perbaikan, secara umum


pelaksanaan perbaikan pembelajaran dengan menggunakan strategi cooperative
learning dalam permainan bentuk lomba masih menunjukkan hasil yang belum
maksimal ini terjadi pada semua aspek penilaian pada perkembangan kemampuan

dalam mengenal bentuk geometri yaitu menunjuk dan menyebutkan bentuk geometri,
mengelompokkan, dan meniru bentuk geometri. Untuk lebih rincinya peneliti sajikan
dalam bentuk tabel pada halaman berikut ini.
Tabel 4.25
Lembar Observasi
Penilaian Perbaikan Pengembangan
Umur 4-5 Tahun Kelompok Bermain Pelita Hati
Tema/Sub Tema : Alam Semesta/Matahari
Hari/Tanggal : Kamis/14 April 2016
No
1

Aspek yang dinilai


Menyebutkan bentuk geometri

BB
7.8
10

MB
1.3
6

BSB
2.4
5.9

Mengelompokkan bentuk

6.7
9

1.2
10

geometri
Meniru bentuk persegi panjang

3.4
5.8
1.7
8.
10

3.6

2.4
5.9

dan segi tiga dengan 4 posisi

BSH

Keterangan: BB (Belum berkembang), MB (Mulai Berkembang), BSH (Berkembang Sesuai Harapan),


BSH (Berkembang Sangat Baik).

Dilihat dari tabel di atas pada akhir sikklus I kemampuan anak dalam
mengenal bentuk geometri dapat disimpulkan bahwa belum terjadi peningkatan
kemampuan anak yang maksimal dalam mengenal bentuk geometri pada ketiga
aspek. Pada aspek menyebutkan bentuk geometri Mulai Berkembang (MB) 3
orang, dan Berkembang Sesuai Harapan (BSH) 4 orang, dan masih ditemukan
kelemahan

dimana

orang

lagi

Belum

Berkembang.

Pada

aspek

mengelompokkan bentuk geometri Mulai Berkembang (MB) 3 orang, dan


Berkembang Sesuai Harapan (BSH) 3 orang, dan masih menemukan kelemahan
dimana 4 orang anak Belum Berkembang (BB). Begitu juga pada aspek meniru
bentuk persegi panjang dan segi tiga Mulai Berkembang (MB) 2 orang, dan
Berkembang Sesuai Harapan (BSH) 4 orang dan 4 orang anak Belum
Berkembang.
Berangkat dari masih adanya kelemahan peneliti pada siklus I inilah
peneliti memutuskan untuk melanjutkannya ke siklus II karena peneliti belum
merasa puas dengan perkembangan anak karena masih ada anak yang belum
berkembang dan belum ada yang sesuai dengan harapan peneliti. Peneliti

menargetkan 90 % kemampuan anak sudah sesuai dengan harapan pada siklus


II.
2. Siklus II
Analisis siklus II
Hasil pelaksanaan penelitian kegiatan pengembangan pada siklus II dapat
dilihat pada tabel di halaman berikut ini.
Tabel 4.26
Lembar Observasi Perbaikan Pengembangan
Umur 4-5 Tahun Kelompok Bermain Pelita Hati
Tema/Sub Tema
Hari/Tanggal
No
1

: Alam Semesta/Bintang
: Kamis/21 April 2016

Perkembangan
Menunjukkan dan

BB

MB

menyebutkan benda bentuk


2

geometri.
Mengelompokkan bentuk
geometri

Meniru bentuk persegi


panjang, segi tiga, lingkaran
dengan jari 4 posisi

BSB BSH
7.8
1.2
10
3.4
5.6
9
7.8
1.2
3.4
5.6
9.10
8
2.3
4.5
6.7
9

Keterangan: BB (Belum berkembang), MB (Mulai Berkembang), BSH (Berkembang Sesuai Harapan),


BSH (Berkembang Sangat Baik).

Dilihat dari tabel akhir siklus II di atas dapat disimpulkan bahwa


peningkatan kemampuan anak dalam mengenal bentuk geometri dengan
menggunakan strategi cooperative learning dalam permainan bentuk lomba
telah menunjukkan hasil yang diharapkan . ini terlihat pada aspek menunjuk
dan menyebutkan bentuk geometri sudah Berkembang Sesuai Harapan
(BSH) 3 orang, dan Berkembang Sangat Baik (BSB) 7 orang. Pada aspek
mengelompokkan bentuk geometri

sudah Berkembang Sesuai Harapan

(BSH) 2 orang, dan Berkembang Sangat Baik (BSB) 8 orang. Pada aspek
meniru bentuk geometri Berkembang sudah Sesuai Harapan (BSH) 1 orang,
dan Berkembang Sangat Baik (BSB) 9 orang.
Secara keseluruhan rekap perkembangan anak dalam mengenal
bentuk geometri bisa dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.27
Rekapitulasi Persentase Data Hasil Perbaikan Pembelajaran
persiklus
Siklus
Siklus 1
Siklus 2

BB
36,66 %
0%

MB
26,66 %
0%

BSH
36,66 %
20 %

BSB
0%
80 %

Keterangan: BB (Belum berkembang), MB (Mulai Berkembang), BSH (Berkembang Sesuai Harapan),


BSH (Berkembang Sangat Baik).

Dari rekap data tersebut terlihat ada peningkatan kemampuan anak


dalam mengenal bentuk geometri. Dimana rata-rata pada siklus II ini telah
melebihi rata-rata hasil dari siklus I yaitu siklus I BB 36,66%, MB 26,66%,
dan BSH hanya 30 % sedangkan pada siklus II tidak ditemukan lagi yang BB
dan MB tetapi semuanya sudah BSH 20% dan BSB 80%.
Grafik 4.4
Hasil Perbaikan Pengembangan Persiklus

Keterangan: BB (Belum berkembang), MB (Mulai Berkembang), BSH (Berkembang Sesuai Harapan),


BSH (Berkembang Sangat Baik).

Dari grafik tersebut rata-rata pada siklus II ini telah melebihi hasil
dari siklus I, dimana siklus I BB 36,66% dengan warna biru, MB 26,66%
dengan warna coklat, dan BSH hanya 30 % dengan warna abu-abu
sedangkan pada siklus II BB 0 % (sudah tidak ada), MB 0 % (sudah tidak
ada) , BSH 20 % dengan warna abu-abu dan BSB 80 % dengan warna
kuning.
Kegiatan perbaikan pengembangan pada akhir siklus II jumlah anak
yang dapat mengenal bentuk geometri secara kualitatif sudah berangsurangsur naik, sehingga pada siklus II jumlah tersebut sudah melebihi harapan

peneliti yaitu sudah berkembang sangat baik. Meskipun pada siklus pertama
jumlahnya belum mencapai target yang diharapkan. Hal ini terjadi karena
peneliti selalu memperhatikan masukan dari supervisor dan penilai, sehingga
selalu berusaha agar anak dapat mengenal bentuk geometri sesuai dengan
langkah-langkah strategi cooperative learning Nur Asma (dalam Nia
Desiarti, 2015:8) yang disesuaikan dengan kebutuhan anak M Solehudin
(dalam Masitoh, dkk 2012:6.15). Sebagai mana yang terungkap dalam
pelaksanaan akhir siklus II dimana anak sangat antusias dalam bermain tanpa
merasa terpaksa Bobby Fisher (dalam Masitoh, dkk 2012:6.15). Semua anak
aktif dalam bermain mereka tidak mau berhenti bermain walaupun mereka
telah merasa lelah Frost (dalam B.E.F Montulalu, dkk 2012:1.3).
Berdasarkan hasil refleksi dan analisis siklus II yang telah diuraikan
di atas maka peneliti menyimpulkan bahwa tujuan perbaikan pembelajaran
dalam peningkatan kemampuan mengenal bentuk geometri bagi anak umur
4-5 tahun melalui penggunaan strategi cooperative learning dalam permainan
bentuk lomba di KB Pelita Hati Baso telah tercapai sepenuhnya. Untuk itu
peneliti memutuskan untuk menutup perbaikan pengembangn ini pada siklus
II.
SIMPULAN DAN TINDAK LANJUT
Pada bagian simpulan dan tindak lanjut ini peneliti menyimpulkan hasil pelaksanaan
penelitian perbaikan kegiatan pengembangan dan saran sebagai realisasi tindak lanjut hasil
PTK yang telah peneliti laksanakan.
A. Simpulan
Berdasarkan hasil perencanaan, hasil pelaksanaan, hasil observasi perbaikan
pembelajaran dan tujuan penelitian maka peneliti dapat menarik kesimpulan dari
penelitian ini yaitu:
1. Perencanaan kegiatan pengembangan menggunakan strategi cooperatif learning
dalam permainan bentuk lomba yang telah dilaksanakan di KB Pelita Hati Baso
kelompok umur 4-5 tahun disesuaikan dengan langkah-langkah strategi tersebut,
2.

namun adakalanya dimodifikasi sesuai situasi dan kondisi yang ada.


Pelaksanaan kegiatan pengembangan menggunakan strategi cooperative learning
dalam permainan bentuk lomba di KB Pelita Hati Baso umur 4-5 tahun telah
meningkatkan keaktifan anak dalam bermain sehingga membuat anak senang dalam

mengenal bentuk geometri. Strategi dan permainan bentuk lomba yang dilaksanakan
3.

menarik bagi anak terbukti pada akhir siklus anak tidak mau berhenti bermain.
Hasil pengembangan menggunakan strategi cooperative learning dalam permainan
bentuk lomba di KB Pelita Hati Baso umur 4-5 tahun telah meningkatkan
kemampuan anak dalam mengenal bentuk geometri. Dengan rata-rata perkembangan
kemampuan anak dalam mengenal bentuk geometri pada siklus II ini telah melebihi
hasil dari siklus I, dimana siklus I BB 36,66%, MB 26,66%, dan BSH hanya 30 %

sedangkan pada siklus II BB 0 %, MB 0%, BSH 20% dan BSB 80%.


B. Saran Tindak lanjut
Berdasarkan kesimpulan yang telah dicantumkan di atas, maka guru kelompok
umur 4-5 tahun sebaiknya menggunakan strategi cooperative learning dalam permainan
bentuk lomba. Strategi ini hendaknya dilakukan secara berkesenambungan dan terus
menerus untuk menstimulasi perkembangan anak supaya bisa mengenal bentuk geometri
dan juga perkembangan lainnya. Penggunaan strategi pembelajaran kooperatif dalam
permainan bentuk lomba ini perlu disosialisasikan oleh guru kepada orang tua agar kedua
mitra ini bisa bekerjasama dan sejalan dalam meningkatkan kemampuan anak dalam
berbagai aspek perkembangan terutama dalam mengenal bentuk geometri.
DAFTAR PUSTAKA
Aisyah, Siti dkk. 2014. Perkembangan dan Konsep Dasar Pengembangan Anak Usia Dini.
Jakarta: Universitas Terbuka
Desiarti, Nia. 2015. Peningkatan Hasil Belajar Siswa pada Pembelajaran IPA Melalui Model
Pembelajaran Cooperative Tipe Jigsaw di kelas V SDN 29 Koto Hilalang
Kecamatan Ampek Angkek. Padang: PKP UT Padang.
Masitoh, dkk. 2012. Strategi Pembelajaran TK. Jakarta: Universitas Terbuka.
Montulalu, B.E.F dkk. 2012. Bermain dan Permainan anak. Jakarta: Universitas Terbuka.
Nugraha, Ali dkk. 2014. Kurikulum dan Bahan Belajar TK. Jakarta: Universitas Terbuka.
Nurani Sujiono, Yuliani dkk. 2011. Metode Pengembangan Kognitif. Jakarta: Universitas
Terbuka.
Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2015 Tentang Standar Pendidikan Nasional. Jakarta:
Depertemen Pendidikan Nasional.
S. Winataputra, Udin dkk. 2012. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas
Terbuka.
Tatminingsih, sri 2014. Panduan Pemantapan Kemampuan Profesional. Jakarta: Universitas
Terbuka.
Undang-undang Nomor 58 Tahun 2009 Tentang Peraturan Menteri Pendidikan Nasional.