Anda di halaman 1dari 28

PENINGKATAN KEMAMPUAN KOGNITIF ANAK USIA DINI MELALUI

PERMAINAN TEBAK KATA DAN ANGKA


SESUAI DENGAN WARNA DI TK KUNTUM
MEKAR SIMARASOK KECAMATAN
BASO KABUPATEN AGAM

NAMA
NIM
email

: LILI YARTATI
: 821661368
: liliyartati2016@gmail.com
ABSTRAK

Masalah penelitian ini berawal dari observasi di lapangan, diketahui bahwa


perkembangan kemampuan kognitif anak di TK Kuntum Mekar Simarasok masih sangat
rendah, hal ini di sebabkan oleh karena dilakukan hanya 1-2 kali dalam satu minggu
Selain itu, pada proses kegiatan pengembangan kognitif tidak terjalinya kerja sama
yang baik antara anak dan guru. Hal ini menyebabkan perlu adanya penelitian tentang
peningkatan kemampuan kognitif melalui permainan tebak kata dan angka sesuai dengan
warna di TK Kuntum Mekar Simarasok kecamatan Baso , Kabupaten Agam, Tahun 2016.
Berdasarkan pada permasalahan pemantapan kemampuan profesional maka,tujuan PKP
ini adalah mendeskripsikan kegiatan pengembangan kognitif anak usia dini di TK
Kuntum Mekar Simarasok Kecamatan Baso, Kabupaten Agam Tahun 2016, dengan
menggunakan permainan tebak kata dan angka sesuai dengan warna Pemantapan
kemampuan professional ini di lakukan dengan subjek penalitianyan guru dan anak di
TK Kuntum Mekar Saimarasok Kecamatan Baso, Kabupaten Agam, Tahun 2016 dengan
jumlah pesertadidik 14 orang anak. Metode pengumpulan data dengan menggunakan
observasi,teknik analisis data yang digunakan secara deskriptif kuantitatif dimana
tingkat keberhasilan penelitian berhasil bila lembar observasi kemampuan kognitif
mencapai 85,8%.Langkah-langkah penerapan permainan tebak kata dan angka sesuai
dengan warna: mempersiapkan alat dan bahan, guru mendemonstrasikan tahapan
penyusunan dan pengelompokan kata dan angka sesuai dengan warna pada siklus I.
pertemuan 1 menyusun angka, pertemuan 2 menyusun kata sesuai dengan angka,
pertemuan 3 mengelompokan kata sesuai dengan warna, pertmuan 4 menyusun kata
sesuai angka dan warna pelangi pada tema alam semesta, pertemuan 5 menyusun kata
menjadi sebuah kalimat sempurna.Hasil penelitian menunjukkan skor keberhasilan pada
siklus I sebesar 35,7% . pada siklus II meningkat menjadi 85,8%. Hal ini menunjukkan
peningkatan sebesar 48,3%.Berdasarkan hasil penelitian pengembangan kemampuan
kognitif dapat dilakukan melalui permainan tebak kata dan angka sesuai dengan warna.
Disarankan kepada guru dapat menerapkan kegiatan bermain melalui pengelompokan
kata dan penyusunan angka untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak usia dini.
Bagi sekolah disarankan penelitian ini dapat dijadikan kebijakan dalam meningkatkan
kemampuan kognitif. Disarankan pada peneliti lain agar dapat menerapkan permainan
tebak kata dan angka sesuai dengan warna untuk kemampuan pengembangan kognitif
pada anak usia dini.
Kata kunci : Peningkatan kemampuan kognitif, Permainan tebak kata dan angka sesuai
dengan warna.

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan anak usia dini adalah suatu usaha pembinaan yang ditujukan
kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun, yang dilakukan
melalui pembinaan rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan
dan perkembangan jasmani dan rohani anak agar memiliki kesiapan dalam
memasuki pendidikan lebih lanjut. Sebagai mana di tuangkan dalam Undang
Undang no 20 pasal 1 ayat 14 tahun 2003. Pendidikan anak usia dini dapat
dilakukan dengan cara bermain, melalui kegiatan bermain tebak kata dan
angka, anak dapat mengenal konsep-konsep dasar matematika seperti
mengenal

bilangan

dengan

benda,

mengurutkan

bilangan,

serta

menghubungkan atau mencocokan bilangan. Pada konsep ini perkembangan


kognitif anak sebagai faktor utama dalam perkembangan anak usia dini.
Menurut Pieget (dalam Sunarya S, 2005:161) mengatakan bahwa tujuan
pembelajaran kognitif untuk anak usia dini sebagai logika matematis dengan
cara yang menyenangkan dan tidak rumit. Jadi tujuan pendidikan bukan agar
anak bisa berhitung seratus atau seribu tetapi memahami bahasa matematis
dan berfikir logis.
Pembelajaran menghitung untuk anak usia dini dapat mengembangkan
kemampuan kognitif anak dalam berfikir, fikiran yang digunakan untuk
mengenali, memberi, alasan rasional memahami dan memecahkan masalah
yang ada. Kognitif adalah kemampuan berfikir yang dibawa sejak dari lahir
yang timbul secara alamiah. Kognitif berhubungan dengan intelegensi.
Kognitif lebih bersifat pasif atau statis yang merupakan potensi atau daya
untuk memahami sesuatu, intelegensi, bersifat aktif.
Potensi kognitif ditentukan pada saat konsepsi (pembuahan) namun
terwujud atau tidaknya potensi kognitif tergantung dari potensi yang dibawa
sejak lahir, dan merupakan faktor keturunan yang akan menentukan batas
perkembangan tingkat intelegensi (batas maksimal).
Kognitif juga dapat diartikan sebagai kemampuan verbal, kemampuan
memecahkan masalah, dan kemampuan untuk beradaptasi dan belajar dari
pengalaman sehari-hari. Pengembangan kognitif anak di TK Kuntum Mekar

Simarasok, dirasakan masih sangat rendah, selama kegiatan pembelajaran


bermain tebak kata dan angka masih banyak anak yang keliru dalam
penyusunan angka misalnya anak seringkali keliru dalam mengurutkan angka
sesuai dengan warna dan menyusun kata sehingga menjadi sebuah kalimat
yang sempurna.
Berdasarkan pengamatan terhadap kegiatan pengembangan di TK
Kuntum Mekar Simarasok di temukan adanya masalah tentang rendahnya
kemampuan kognitif anak yang di tandai oleh beberapa kondisi sebagai
berikut: Pertama, rendahnya kemampuan kognitif anak usia dini di TK
Kuntum Mekar Simarasok, dari 14 orang jumlah anak 9 orang tidak
menyukai kegiatan menyusun kata dan pengelompokan angka 5 orang saja
yang mau mengikuti kegiatan ini, atau hanya 8 sampai 10% saja dari jumlah
anak secara keseluruhan. Kedua, sebanyak 80% anak masih mengalami
masalah dalam bidang menyusun angka dan pengelompokan kata. Ketiga,
dalam penyusunan kata menjadi sebuah kalimat sempurna ada 20% anak
yang mengalami kesulitan.
Berdasarkan permasalahan di atas maka peneliti melakukan penelitian
untuk memperbaiki hasil belajar anak. Tindakan yang peneliti ambil adalah
memperbaiki rancangan

pembelajaran dalam peningkatan kemampuan

kognitif anak, melalui permainan tebak kata dan angka sesuai dengan warna.
Rendahnya kemampuan kognitif anak disebabkan berbagai faktor seperti
pembelajaran yang

dilakukan

kurang bervariasi dan guru lebih sering

menggunakan cara pemberian tugas, strategi belajar yang kurang menantang


bagi anak sehingga tingkat kemampuan kognitif anak kurang terasah dan
masih sangat rendah.
1.

Identifikasi masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang di kemukakan di atas
maka dapat di identifikasi beberapa masalah dalam meningkatkan
kemampuan kognitif anak usia dini di TK Kuntum Mekar Simarasok
Kecamatan Baso, Kabupaten Agam.
a. Rendahnya kemampuan kognitif pada anak usia dini di TK Kuntum
Mekar Simarasok, dari 14 orang anak 9 orang anak tidak menyukai
kegiatan ini.

b.

80 % anak masih mengalami masalah dalam bidang menyusun angka

c.

dan pengelompokan kata.


20% anak mengalami masalah dalam bidang penyusunan kata
menjadi sebuah kalimat yang sempurna.
Diantara ke tiga masalah di atas yang menjadi fokus masalah dan

yang di rasa perlu untuk di tindak lanjuti adalah pada masalah menyusun
angka dan pengelompokan kata,alasan penulis mengangkat ini sebagai
fokus penelitian karna pentingnya mengasah kemampuan anak dalam
bidang penyusunan angka dan pengelompokan kata,hal ini erat kaitanya
dengan metematika dan sains, karna usia 5 sampai 6 adalah masa pra SD
yang akan di lalui oleh anak. Maka untuk menanggulangi masalah ini
peneliti menggunakan permainan tebak kata dan angka sesuai dengan
warna yang di jadikan sebagai pemecahan masalah rendahnya
kemampuan kognitif anak di TK Kuntum Mekar Simarasok.
2.

Analisis Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas maka saya mencoba
menganalisis masalah tersebut dengan cara sebagai berikut:
a. Memusyawarahkan dengan teman sejawat
Apakah kegiatan yang saya lakukan sudah sesuai dengan umur anak?
(sudah)
1) Apakah saya sudah mencontohkan terlebih dahulu sebelum
kegiatan dimulai? (sudah)
2) Apakah saya sudah memvariasikan kegiatan tersebut dengan
kegiatan yang lain? (belum)
3) Apakah saya sudah membujuk anak untuk mau mengerjakan
tugasnya? (sudah)
4) Apakah saya sudah memberi reword kepada anak? (sudah)
5) Apakah saya sudah memotifasi anak dalam kegiatan menyusun
b.

kata sesuai dengan warna? (sudah)


Bertanya kepada anak didik
1) Apakah anak ibu suka dengan permainan yang ibu berikan?
(tidak)
2) Apakah kegiatannya tidak menarik? (ya)
3) Apakah penampilan ibu kurang menarik? (tidak)

Dari jawaban saya dan dari jawaban anak,maka penulis menduga


ada beberapa faktor yang menyebabkan munculnya masalah belum
berkembangnya kemampuan kognitif anak.
Faktor faktor tersebut antara lain di sebabkan oleh:
a) Pendidik belum memberikan metode yang menarik bagi anak yang
dapat memotifasi anak dalam melakukan kegiatan.
b) Pendidik tidak melibatkan anak secara lansung dalam kegiatan yang
di adakan.
c) Tidak terjalinya kerja sama yang baik antara pendidik dengan anak
didik.
d) Pendidik belum memberikan permainan tebak kata dan angka sesuai
dengan warna pada anak didik.
Di antara empat faktor di atas yang menjadi solusi pemecahan
masalah adalah dengan menggunakan permainan tebak kata dan
angka sesuai dengan warna.
Saya merasa tidak puas kenapa anak-anak tidak menyukai kegiatan
ini. Padahal saya sudah menyediakan katu huruf dan angka denga warna
yang menarik,dan memberikan contoh pada masing masing anak. Apa
sebenarnya yang terjadi dikelas saya dan apa dampaknya bila kejadian ini
saya biarkan. Untuk itu saya harus mengadakan penelitian terkait
perkembangan kognitif anak di TK Kuntum Mekar Simarasok, dengan
meminta bantuan seorang teman sejawat saya yang berada pada
kelompok umur yang sama.
3.

Alternatif dan prioritas pemecahan masalah


Suntrock, (2001) Pengembangan kognitif, berdasarkan rumusan
masalah di atas maka rancangan pemecahan masalah peningkatan
perkembangan kognitif anak usia dini melalui permainan tebak kata dan
angka sesuai dengan warna, di TK Kuntum Mekar Simarasok dapat di
atasi dengan cara merancang

pembelajaran yang menarik melalui

permainan tebak kata dan angka sesuai dengan warna, serta menjalin
kerja sama antar anak didik dengan cara melibatkan anak secara lansung
dalam setiap kegiatan yang di lakukan
Rumusan Masalah
Berdasarkan analisis masalah di atas maka rumusan masalah adalah
bagaimanakan meningkatkan kemampuan kognitif anak umur 5-6 tahun

dengan permainan tebak kata dan angka sesuai dengan warna di TK Kuntum
Mekar Simarasok Kecamatan Baso.
B. Tujuan Penelitian perbaikan Kegiatan Pengembangan
1. Secara umum
Tujuan penelitian ini secara umum adalah untuk meningkatkan
kemampuan kognitif anak umur 5-6 di TK Kuntum Mekar Simarasok,
2.

melalui permainan tebak kata dan angka sesuai dengan warna.


Secara khusus
Supaya kegiatan menyusun kata dan angka menjadi kegiatan yang

lebih menyenangkan bagi anak usia dini.


C. Manfaat Penelitian Perbaikan Kegiatan Pengembangan
Perbaikan ini diharapkan bisa bermanfaat :
1. Bagi anak
a. Dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak pada masa yang
akan datang
b. Anak menjadi senang dengan kegiatan menebak kata melalui
2.

berbagai permainan.
Bagi guru
a. Menambah wawasan guru dalam meningkatkan kemampuan kognitif
b.

anak usia 5-6 tahun.


Guru lebih kreatif dalam menyediakan kartu huruf yang bervariasi
untuk susun.

3.

4.
5.

Bagi peneliti
a. Dapat meningkatkan kemampuan dan kreatifitas peneliti khususnya
dalam bidang pengembangan kemampuan kognitif anak usia dini.
b. Dapat memberikan kesan dan pengalaman bagi peneliti.
Bagi sekolah
a. Dapat meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan
b. Dapat membawa prestasi bagi sekolah
Bagi orang tua
Menambah wawasan orang tua tentang bagaimana cara memotifasi
anak dalam kegiatan dan berbagai permainan yang dapat meransang

6.

perkembangan kemampuan koknitif pada anak usia dini.


Manfaat bagi masyarakat
Dapat membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya
pendidikan bagi anak usia dini.
Dari tujuan penelitian perbaikan pembalajaran di atas dapat di lihat
manfaat penelitian ini yaitu sebagai berikut:

a.

Manfaat Secara Teoritis


Dari hasil penelitian

ini

adalah

untuk

mengembangkan

pengetahuan pendidikan yang berhubungan dengan peningkatan


b.

pendidikan anak usia dini.


Manfaat Secara Praktis
Manfaat bagi siswa dapat meningkatkan kemampuan mengenal
angka dan merangsang kemampuan mengidentifikasi jumlah angka

dan simbolnya dengan media yang menyenangkan.


II. KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Kemampuan kognitif
a. Pengertian Kemampuan kognitif
Depdinas ( 2007 ) kemampuan kognitif merupakan salah satu
dari bidang pengembangan oleh guru untuk meningkatkan
kemampuan

dan

kreativitas

anak

sesuai

dengan

tahap

perkembangannya . Pengembangan kemampauan kognitif bertujuan


agar anak mampu mengolah perolehan belajarnya,menemukan
bermacam macam alternative, pemecahan masalah, pengembangan
kemampuan logika matematika, pengetahuan, ruang dan waktu
,kemampuan memilah dan mengelompokkan dan persiapan berpikir
teliti.
b. Aspek Aspek Kemampuan kognitif
1) Aspek Kemampuan (Berpikir)
Kemampuan kognitif (kemampuan berpikir) merupakan
salah satu aspek yang berpengaruh terhadap munculnya
kreativitas

seseorang.

Kemampuan

berpikir

yang

dapat

mengembangkan kreativitas adalah kemampuan berpikir secara


divergen, yaitu kemampuan untuk memikirkan berbagai
alternatif pemecahan suatu masalah.
2) Aspek Intuisi dan Imajinasi
Kreativitas berkaitan dengan aktivitas belahan otak kanan.
Oleh sebab itu, intuitif dan imajinatif merupakan aspek lain
yang mempengaruhi munculnya kreativitas.
3) Aspek Penginderaan
Kreativitas

dipengaruhi

oleh

aspek

kemampuan

melakukan penginderaan, yaitu kemampuan menggunakan

pancaindera secara peka. Kepekaan dalam penginderaan ini


menyebabkan seseorang dapat menemukan sesuatu yang tidak
dapat dilihat atau dipikirkan oleh orang lain.
4) Aspek Kecerdasan Emosi
Kecerdasan emosi adalah aspek yang berkaitan dengan
keuletan,

kesabaran,

dan

ketabahan

dalam

menghadapi

ketidakpastian dan berbagai masalah yang berkaitan dengan


kreativitas.
c.

Nilai Bermain Bagi Perkembangan Kognitif


Bermain merupakan media yang amat diperlukan untuk
proses berfikir karena menunjang perkembangan intelektual melalui
pengalaman yang memperkaya cara berfikir anak. Bermain
merupakan kesempatan bagi anak untuk bereksplorasi, mengadakan
penelitian-penelitian,

melakukan

percobaan-percobaaan

untuk

memperoleh pengetahuan. Bermain juga membuka kesempatan bagi


anak untuk berkreasi, menemukan serta membentuk dan membangun
saat mereka menggambar, bermain air, bermain dengan tanah liat
atau plastisin dan bermain balok, serta bermain kartu angka atau
huruf.
d. Proses/Tahap Bermain bagi perkembangan kognitif
Montolalu (2007:214) mengatakan bahwa agar dapat
memberi bimbingan kepada anak TK dengan sebaik-baiknya guru
perlu mengetahui bahwa pada umumnya anak-anak melalui
tingkatan-tingkatan atau tahap-tahap (proses) bermain sebagai

2.

berikut:
1) Tahap Manipulatif
2) Tahap Simbolis
3) Tahap Eksplorasi
4) Tahap Eksperimen
5) Tahap dapat Dikenal
Tebak Kata Dan Angka Sesuai Dengan Warna
a. Pengertian tebak kata dan angka
Tebak kata merupakan suatu permainan yang menerapkan pola
perkembangan dan pengembangan dalam bidang kognitif yang
meliputi aspek berhitung, mencocok,menyusun dan menggabungkan
benda maupun huruf atau gabungan kata.

Dalam proses pembelajaran kali ini peneliti menggunakan


praktek langsung, dimana anak dapat bermain kartu angka dengan
mempraktekkannya secara langsung sehingga anak mendapat
pengalaman yang nyata dari materi pembelajaran. upaya Praktek
Langsung merupakan upaya mengajar dimana siswa melaksanakan
kegiatan latihan praktek agar siswa memiliki ketegasan atau
keterampilan yang lebih tinggi dari apa yang telah dipelajari.
3.

Teknik Atau Langkah-langkah Pelaksanaan Permainan Tebak Kata


dan Angka sesuai dengan Warna
Sunarti (2011) upaya peningkatan kognitif anak dalam permainan
tebak kata dan angka merupakan fasilitas penting dalam pembelajaran di
sekolah karena bermanfaat untuk meningkatkan perhatian anak. Dengan
alat peraga kartu anak diajak aktif memperhatikan apa yang diajarkan
guru. Suatu hal yang perlu diingat walaupun fasilitas alat peraga yang
dimiliki sekolah, sangat minim, tapi bila penggunaan alat peraga diikuti
dengan cara anak aktif, maka efektifitas pengajaran dan semakin baik.
Langkah-langkah penerapan permainan tebak kata dan

angka dalam

pembelajaran pada penerapan kognitif anak di kelompok B Taman


Kanak-kanak Kuntum Mekar Simarasok.
a.

Permainan tebak kata dan angka bisa dilakukan dengan menuliskan


angka, dengan satu sisi di beri warna.

b.

Anak menghitung jumlah angka

c.

Jika hitungannya benar anak mambalik kartu dan jika benar maka
angka yang muncul sesuai dengan warna pelangi, jika anak keliru
bantu dia manghitungnya, setelah itu anak kembali menghitung dan
mencocokan dengan warna.

4.

Kelebihan dan Kekurangan permainan tebak kata dan angka


1). Kelebihan permainan tebak kata dan angka sesuai dengan
warna.
a.

Pembelajaran akan lebih bermakna sebab anaksecara dapat

b.

mempelajari dan Memecahkan masalahnya secara langsung.


Cara ini sangat sesuai dengan model pembelajaran
kontruktivisme yang dikembangkan dalam membelajaran saat

ini,yaitu merangsang anak untuk berpikir dalam memecahkan


c.
d.

masalah.
Siswa lebih mudah mengerti dan memahami.
Siswa langsung dapat mempraktekkan setelah mendapatkan
teori.

2). Kekurangan permainan tebak kata dan angka sesuai dengan


warna.
a.

Membutuhkan biaya yang cukup besar,Khususnya terhadap Alat


tertentu.

b.

Tanpa

bimbingan

secara

baik,biasanya

anakanak

yang

mengalami Kesulitan dan tidak mendapat bimbingan dengan


benar dari guru.
c.

Ketidaktersediaan alat peraga atau prasarana yang mendukung.

3) Karakteritik Anak Usia Dini


Anak usia dini memiliki karakter yang khas, beberapa
karakteristik anak usia dini menurut Hartati (Aisyah, dkk, 2010, 1.4)
adalah :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Memiliki rasa ingin tau yang besar


Merupakan pribadi yang unik
Suka berfantasi dan berimajinasi
Masa paling potensial untuk belajar
Menunjukan sikap egosentris
Memiliki rentang daya konsentrasi yang pendek
Sebagai bagian dari makhluk sosial
Berdasarkan pendapat di atas saya menyimpulkan bahwa anak

usia dini memiliki karakteristik yang khas, baik secara fisik, fsikis,
sosial, dan moral.
5. Hakekat Bermain Bagi Anak Usia Dini

a.

Pengertian bermain
Bermain merupakan suatu fenomena yang sangat menarik
perhatian para pendidik, psikologi ahli filsafat dan lain sebagainya.
Mereka lebih tertantang untuk lebih memahami arti bermain yang
dikaitkan dengan tingkah laku manusia.Susanto 2011.Perkembangan
anak usia dini. Bermain merupakan pengertian yang sulit dipahami
karena muncul dalam beraneka macam bentuk. Kehidupan seharihari kegiatan bermain begitu mudah dipahami namun dalam

beberapa situasi sulit dibedakan dengan kegiatan yang bukan


bermain.
b. Manfaat Bermain
Hasil penelitian yang telah dilakukan para ilmuwan
menyatakan bahwa bermain bagi anak mempunyai arti yang sangat
penting karena melaui bermain anak dapat menyalurkan segala
keinginan dan kepuasan kreativitas serta imajinasinya. Melalui
bermain anak dapat melakukan kegiatan-kegiatan fisik belajar
bergaul dengan teman sebaya, membina sikap hidup positif,
mengembangkan peran sesuai dengan jenis kelamin, menambah
perbendaharaan kata dan menyalurkan perasaan tertekan .
Berikut ini akan diuraikan satu persatu manfaat bermain bagi anak
1) Bermain Memicu Kreativitas
Hasil penelitian mendukung dugaan bahwa bermain dan
kreatifitas saling berkaitan karena baik bermain maupun
kreativitas rnengandalkan kemampuan anak menggunakan
simbol-simbol .Kreativitas dapat dipandang sebagai suatu aspek
dari pemecahan masalah yang mempunyai arti dalam bermain.
Saat anak menggunakan daya khayalnya dalam bermain, dengan
menggunakan alat atau tanpa alat mereka lebih kreatif.
2) Bermain Bermanfaat Mencerdaskan Otak
Salah satu contoh permainaan yang dapat mencerdaskan
otak adalah bermain dokter-dokteran. Dalam permainan ini si
anak berpura-pura menjadi dokter dan menjadi pasien. Sebagai
pasien si anak bebas menggunakan imajinasinya dan segenap
pengetahuannnya tentang seorang yang sedang sakit.
3) Bermain Bermanfaat Menanggulangi Konflik
Pada usia TK tingkah laku yang sering muncul ke
permukaan adalah tingkah laku menolak, bersaing, agesit
bertengkar,

meniru,

kerjasama,

egois,

simpatik,

marah,

ngambek, dan berkeinginan untuk diterima oleh lingkungan


sosial mereka. TK memberi peluang bagi anak melalui bermain
dalam kelompok besar maupun kelompok kecil untuk mengatasi
konflik yang terjadi. Sandiwara boneka, bermain dramatisasi

bebas dan bercerita dengan berbagai metode, merupakan


beberapa kegiatan bermain.
4) Bermain Bermanfaat untuk Melatih Empati
Empati adalah pengenalan perasaan, pikiran, dan sikap
orang lain, dapat juga dikatakan pengenalan jiwa orang lain,
dengan kata lain empati adalah keadaan mental yang membuat
seseorang mengidentifikasi atau merasa dirinya dalam keadaan
perasaan atau pikiran dan sikap yang sama dengan orang atau
kelompok lain.
5) Bermain Bermanfaat Mengasah Panca lndera
Banyak jenis permainan TK yang

menunjang

perkembangan kepekaan panca indera seperti permainan


kotak aroma untuk latihan indera penciuman, permainan suara
apa untuk latihan indera pendengaran, gambar-gambar di buku
untuk latihan indera penglihatan, dan permainan merasakan
berbagai rasa makanan dengan mata tertutup untuk melatih
indera pengecapan dan lain-lain.
6) Bermain Sebagai Media Terapi
Sigmund Freud, Bapak psikoanalisis mengemukakan
bahwa anak melakukan bermain sebagai salah satu cara untuk
mengatasi masalah konflik dan kecemasannya. Berawal dari
teori ini para ahli ilmu jiwa mendapat ilham untuk menggunakan
bermain

sebagai

alat

diagnosis

mengobati

anak

yang

bermasalah, yang dikenal di kalangan para ahli dengan terapi


bermain. Namun tidak semua orang dapat melakukannya karena
ini memerlukan keahlian khusus dari mereka yang mendapat
pendidikan dan pelatihan khusus untuk itu.
7) Bermain Melakukan Penemuan

Anak akan bertanya, jika ada sesuatu yang ia


butuhkan/pahami saat bermain. Bagi guru yang berpengalaman,
anak-anak yang sedang bermain sering dilihat, seperti sedang
melakukan penemuan-penemuan setiap waktu. Penemuan
tersebut bisa saja kebetulan, seperti dalam bermain di bak air.
Hurlock dalam Hibana (2005:85) mengemukakan manfaat
bermain bagi perkembangan anak yaitu sebagai berikut:

a) Perkembangan fisik. Bermain berguna untuk mengembangkan


otot dan melatih seluruh bagian tubuh. Bermain juga berfungsi
untuk menyalurkan tenaga yang berguna bagi kesehatan fisik
dan mental anak.
b) Dorongan berkomunikasi. Melalui aktivitas bermain, anak
terdorong untuk berbicara dan berkomunikasi dengan teman
lain, tanpa disadari anak belajar mengungkapkan pikiran dan
perasaannya pada orang lain.
c) Penyaluran

energi

emosional

yang

terpendam.

Bermain

merupakan sarana bagi anak untuk menyalurkan berbagai


ketegangan emosional. Dengan demikian bermain merupakan
terapi cepat dan murah bagi pengembalian kondisi fisik yang
terganggu.
d) Penyaluran dari keinginan dan kebutuhan yang tidak terpenuhi.
Tidak semua keinginan dan kebutuhan anak dapat terpenuhi.
Keinginan yang tidak terpenuhi dalam dunia real dapat
diaplikasikan melalui kegiatan bermain
e) Sumber belajar. Melalui kegiatan bermain, anak belajar
menghargai hal, baik bersifat fisik maupun pengembangan
mental.
f)

Rangsangan kreatifitas. Dalam bermain, anak bebas memilih


dan bereksplorasi, maka bermain dapat mengembangkan
kreativitas anak.

g) Belajar standar moral. Melalui kegiatan bermain, anak belajar


hal-hal yang dapat diterima oleh lingkungan, dan hal-hal yang
ditolak.
h) Mengembangkan

kepribadian.

Secara

pelan

dan

pasti

kepribadian anak akan terbentuk melalui kegiatan bermain.


c.

Jenis-jenis Alat Bermain


Alat permainan pada usia anak TK sangat bermanfaat dalam
membantu mengembangkan seluruh dimensi perkembangan anak,
yaitu bagi perkembangan motorik, kognitif, kreativitas, bahasa,
sosial, perkembangan emosional bagi anak TK. Bahan dan peralatan

yang disediakan hendaknya merupakan sumber belajar yang dapat


membantu mengembangkan seluruh dimensi perkembangan anak
seusia TK, yaitu bagi perkembangan motorik, kognitif, kreativitas,
bahasa sosial, dan perkembangan emosional bagi anak TK.
Sebagaimana dikemukakan oleh Moeslichatoen (1999:50) bahwa
bahan dan peralatan bagi anak TK harus memperhatikan:
d. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi nilai Bermain
Secara umum faktor yang mempengaruhi bermain dibagi dua
katagori yaitu, Faktor internal dan faktor eksternal kedua faktor
tersebut saling mempengaruhi dalam proses belajar individual faktol
internal meliputi faktor fisiologis dan psikologis.
1. Faktor lnternal
Adalah faktor yang berasal dari dalam diri individu dan
dapat mempengaruhi hasil belajar individu. Faktor internal
meliputi faktor fisiologis dan psikologis.
a. Faktor Fisiologis
Adalah faktor yang berhubungan kelangsung dengan kondisi
fisik individual. faktor ini dibedakan menjadi dua macam,
pertama

keadaan

jasmani

pada

umumnya

mempengaruhi aktivitas belajar seseorang.


b. Faktor Psikologis
Adalah keadaan psikologis seseorang
mempengaruhi

proses

belajar.

beberapa

sangat

yang

dapat

faktor

yang

mempengaruhi proses belajar adalah kecerdasan siswa,


motivasi, minat, sikap, bakat dan percaya diri.
2. Faktor eksternal
a. Lingkungan social
Meliputi, teman, guru, keluarga dan masyarakat. Lingkungan
sosial adalah lingkungan dimana seseorang bersosialisasi,
bertemu dan berinteraksi dengan manusia disekitarnya. Guru
adalah seorang yang sangat berhubungan dengan hasil belajar.
b. Lingkungan non-sosial,
Meliputi : kondisi rumah, sekolah, peralatan, alam (cuaca).
Non-sosial seperti halnya kondisi rumah (secara fisik), apakah
rapi, bersih, aman, terkendali dari gangguan yang menurunkan
e.

hasil belajar.
Pengertian pemaianan

Permainan (games) adalah setiap kontes antara pemain yang


berinteraksi satu sama lain dengan mengikuti aturan-aturan tertentu
untuk mencapai tujuan tertentu pula (Sadiman, 1993:75). Jadi
permainan adalah cara bermain dengan mengikuti aturan-aturan
tertentu yang dapat dilakukan secara individu maupun berkelompok
guna mencapai tujuan tertentu. Alat permainan adalah semua alat
bermain yang dapat digunakan oleh peserta didik untuk memenuhi
naluri bermainnya dan memiliki barbagai macam sifat, seperti
bongkar

pasang,

mengelompokkan,

memadukan,

mencari

padanannya, merangkai, membentuk, atau menyusun sesuai dengan


f.

bentuk aslinya.
Faktor yang mempengaruhi permainan anak-anak.
1. Faktor kesehatan
Anak-anak yang memiliki kesehatan yang baik tentu saja
memiliki lebih banyak energi untuk bermain daripada anak-anak
2.

yang kurang sehat dan sering sakit-sakitan,


Faktor Intelegensi.
Anak-anak yang memiliki kercerdasan biasanya lebih aktif
dalam bermain dibandingkan dengan anak-anak yang memiliki

3.

tingkat kecerdasan yang kurang.


Faktor lingkungan
Lingkungan yang menyediakan fasilitas, ruang maupun waktu
bermain bagi anak-anak biasanya merangsang anak-anak untuk

4.

banyak bermain.
Faktor Jenis kelamin.
Biasanya anak-anak perempuan lebih senang melakukan

permainan yang tidak menghabiskan energi yang lebih banyak,


5. Faktor ekonomi.
B. Kerangka Berfikir
Berikut ini akan digambarkan kerangka berpikir dari penelitian ini
Bagan 2.1
Media lembaran huruf dan angka
yang berwarna

Kemampuan kognitif anak usia dini

Memiliki kemampuan
berhitung dengan cepat

Menyusun potongan
kata sesuai dengan
angka

Menyusun kata
menjadi kalimat
sempurna

Kemampuan kognitif Anak Meningkat

III. PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN KEGIATAN


PENGEMBANGAN
A. Subjek, Tempat Dan Waktu Penelitian, Pihak Yang Membantu
1. Tempat Penelitian
Perbaikan dalam meningkatkan kemampuan kognitif anak usia dini
dilaksanakan di Taman Kanak Kanak Kuntum Mekar Simarasok, tahun
2.

ajaran 2015/2016
Waktu Pelaksanaan Penelitian
Penelitian pada semester II tahun pelajaran 2015/2016 tepatnya pada
tanggal 11 sampai 15 April 2016 untuk siklus I dan tanggal 16 sampai 22
April 2016 untuk siklus II.
Berikut tabel pelaksanaan penelitian:
Tabel 3.1

NO
1
2

KEGIATAN
Kondisi Awal
Perencanaan
a.Membuat Proposal
b.Menyusun RKH,alat penilaian,
lembar observasi dan
menyediakan media pembelajaran,dan

WAKTU
April 2016
April 2016
April 2016

3
3.

c.APKG I Siklus I, APKG II Siklus I


d.APKG I Siklus II, APKG II Siklus II
Pelaksanaan
a. Siklus I
b. Refleksi siklus I
c. Siklus II
d. Refleksi Siklus II

15 April 2016
15 April 2016

Penyusunan Laporan

8 Mei 2016

11 sampai 15 April 2016


11 sampai 15 April 2016
18 sampai 22 April 2016
18 sampai 22 April 2016

Tema Pembelajaran
Penelitian dilakukan pada semester II dengan tema dan sub tema
pelajaran adalah:
Siklus I
Siklus II

Tema

: Alam Semesta

Sub Tema

: Benda-Benda Langit

Tema

: Alam Semesta

Sub Tema

: Benda-Benda Langit

4. Kelompok
Anak usia dini Taman Kanak Kanak Kuntum Mekar Simarasok, tahun
ajaran 2015/2016 dengan anak yang berjumlah 14 orang 9 pada
kelompok B diantaranya bermasalah dalam bidang kognitif.
5. Karakteristik anak kondisi awal sesuai dengan masalah yang di teliti
Pada kondisi awal sebelum penelitian ini di laksanakan kemampuan
kognitif anak di TK Kuntum Mekar Simarasok Kecamatan Baso sangat
rendah.
6. Pihak Yang Membantu
Dalam pelaksanaan Penelitian ini penulis di bantu oleh beberapa
pihak dan dua orang penilai yaitu :
a) Supervisor 1 adalah Ibu Dra. Nita Evalina selaku pembimbing yang
banyak memberi masukan dan bimbingan dalam pembuatan Laporan
Pemantapan Kemampan Propesioanal.
b) Supervisor 2 adalah Ibu Asteti Arina S.Pd yang memberi arahan
dalam pelaksanaan perbaikan pengembangan dengan mengunakan
lembar pengamatan yang telah peneliti siapkan dalam instrumen
penilaian.
c) Penilai 2 adalah Ibu Neliza wati yang membantu untuk menilai
RKH dengan mengunakan APKG 1 dan APKG 2.
d) Anak didik TK Kuntum Mekar Simarasok yang berperan aktif dan
terlibat lansung serta selaku objek penelitian

B. Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran


1. Prosedur Perbaikan Kegiatan Pengembangan

Bagan 3.1
Bagan Prosedur Perbaikan Kegiatan Pengembangan
Perencanaan

Pelaksanaan

Menyusun kata dan


angka sesuai
denganwarna

Observasi

Perenungan

Siklus II
Perencanaan

Pelaksanaan

Merangkai kata menjadi


kalimat sempurna
sesuai dengan angka
Perenungan
----------------------------Observasi
--------------------------------------------------------Sumber : Suharsimi Arikunto
( 2007 : 3) Tahap
----------------------------Penelitian berhasil
----------------------------a) Pengamatan (Observation)
----------------------------Tahap pengamatan,dimana guru mengevaluasi
saat kegiatan
----------------------------anak berlangsung. setelah mengamati guru ----------------------------merenung dan mencari
kelemahan dan kekuatan dari pembelajaran----------------------------yang telah dibuat oleh
--------------------------

guru.

Data yang di dapat dari kegiatan anak yang di amati selama


proses pembelajaran berlangsung dilakukan melalui observasi dan
hasilnya ditulis dalam lembaran observasi
Dokumentasi berupa kamera untuk memotret kegiatan
pembelajaran yang sedang berlangsung.
Tabel 3.2
Instumen Observasi

No

Aspek yang dinilai

Menyusun kata sesuai


dengan angka
Menyusun
kalimat
singkat tentang alam
semesta
Merangkai kata menjadi
sebuah kalimat yang
sempurna
Jumlah
Rata-Rata

BB
F

Nilai
MB
BSH
F
%
F %

BSB
F
%

b) Refleksi
Merefleksi merupakan upaya untuk mencoba dan melihat
serta merenungkan kembali apa hasil yang telah di capai setelah
melakukan penelitian pada siklus I, sehingga kelemahan yang
terdapat pada silus I akan di perbaiki dan di sempurnakan pada siklus
berikutnya.Refleksi ini di lakukan sebelum pelaksanaan perbaikan
pembelajaran.
c) Tahapan Pelaksanaan Perbaikan
1) Siklus 1
Pelaksanaan siklus pertama dilaksanakan tanggal 11 sampai 15
April 2016 di kelompok B Taman Kanak- Kanak Kuntum Mekar
Simarasok dengan diamati oleh Supervisor 2.
2) Siklus II
Dalam pelaksanaan perbaikan pembelajaran pada siklus II guru
membuat rencana pelaksanan yang mana siklus II dilaksanakan
pada tanggal 18 sampai dengan 22 April 2016 dan di amati oleh
penguji 1 dan 2
B. Teknik Analisis Data
Menurut Anas Sudijono (2004:43) untuk menentukan keberhasilan
aktivitas guru dan kemampuan kognitif anak selama proses pembelajaran
diolah dengan menggunakan rumus persentase, yaitu sebagai berikut :
Keterangan:
F

Frekuensi yang sedang dicari persentasenya

Number of Cases (jumlah frekuensi/banyaknya individu)

Angka persentase

100%

Bilangan Tetap

Dalam menentukan kriteria, maka dilakukan pengelompokkan atas 4


kriteria penilaian (Arikunto: 2002.246) sebagai berikut:
1. 76% 100% tergolong baik
2. 56% 75% tergolong cukup baik
3. 40% 55% tergolong kurang baik
4. 40% kebawah tergolong tidak baik.
Adapun data dalam penelitian ini adalah data tentang kemampuan
kognitif anak yang diperoleh dari hasil pengamatan (lembaran observasi),
serta dokumentasi.
C. Teknik Pengumpulan Data
1. Data yang di dapat dari kegiatan anak yang di amati selama proses
pembelajaran berlangsung dilakukan melalui observasi dan hasilnya
2.

ditulis dalam lembaran observasi dan RPPH.


Dokumentasi berupa kamera untuk merekam pembelajaran yang sedang
berlangsung.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Deskripsi Hasil Penelitian Perbaikan Kegiatan Pengembangan
1.

Kondisi Awal
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukan di atas
terlihat bahwa masih banyak anak yang mengalami masalah dalam
bidang pengembangan kognitif serta belum berkembang dan jauh dari
hasil belajar yang hendak dicapai. Upaya peningkatan kemampuan
kognitif anak sesuai dengan indikasi yang diajukan sebagai hasil
pengamatan sebelum dilakukan tindakan.
Tabel 4.1
Kategori Penilaian Kemampuan Kognitif Anak Kondisi Awal
Aspek yang dinilai

BB

Anak dapat menjawab pertanyaan dari guru


tentang kumpulan kata dan warna yang
mereka temukan
Anak dapat berkomunikasi, berbicara lancar
ketika menceritakan urutan kata dan warna
dari kartu warna dan kata yang telah di
sediakan

MB

BSH

BSB


Anak dapat menyusun kata-kata yang mereka
dapatkan sesuai dengan warnanya
Anak berani mengungkapkan pendapat dan
keyakinannya dalam permainan Tebak kata
dan warna sesuai dengan tema Alam Semesta.
Anak kritis terhadap pendapat orang lain
dalam permainan Tebak kata dan warna
Anak dapat merangkai kata-kata yang mereka
temukan menjadi sebuah kalimat sempurna

Terlihat pada tabel 4.1 di atas terlihat bahwa kemampuan kognitif


anak pada tahap awal sebelum di lakukanya penelitian masih sangat
rendah, maka peneliti memutuskan untuk melenjutkan penelitian pada
hari berikutnya.

No
1.

Tabel 4.2
Data kemampuan kognitif anak usia dini di TK Kuntum Mekar
Sebelum Tindakan
Kompetensi
Indikator
BSB
BSH
MB
BB
F % F
%
F
%
F
%
Menyusun kata sesuai 0
0
1
7,2
4
28,5 9
64,3
dengan angka

2.

Mengelompokan
sesuai dengan
pelangi

kata
warna

7,2

28,5

64,3

3.

Melanjutkan
kegiatan
sesuai dengan ketentuan
dan tema alam semesta
Jumlah

7,2

28,5

64,3

Rata-rata

0
0%

21,6
7,2%

85,5
28,5%

192,9
64,3%

Pada tabel 4.2 di atas terlihat tingkat kemampuan kognitif anak


di TK Kuntum Mekar Simarasok masih sangat rendah, maka perlu di
lakukan penelitian dalam bidang pengembangan kognitif

KONDISI AWAL

Grafik 4.1
Perkembangan Kognitif Anak Di TK Kuntum Mekar Simarasok
Kemampuan perkembangan kognitif anak yang tergambar pada
grafik 4.1 di atas dimana ada 0% anak yang memiliki kemampuan
kognitif berkembang sangat baik, 7,2% anak yang berkembang sesuai
harapan, dan 28,5% anak yang mulai berkembang serta terdapat 64,3%
anak yang belum berkembang. Dengan demikian perlu dilakukan
tindakan agar perkembangan kognitif anak berkembang dengan baik.
2.

Deskripsi dan Hasil Penelitian Pada Siklus I


Tabel 4.7
Hasil Observasi Kemampuan Kognitif Anak Dalam Permainan
Tebak Kata Dan Angka Sesuai Dengan Warna
Pertemuan V Siklus 1
Kompetensi
No
Indikator
BSB
BSH
MB
BB
F
%
F
%
F %
F
%
1. Menyusun kata sesuai 5
35,7
9
64,3 0
0
0
0
dengan angka
2.

Mengelompokan
sesuai dengan
pelangi

kata
warna

35,7

64,3

3.

Melanjutkan
kegiatan
sesuai dengan ketentuan
dan tema alam semesta

35,7

64,3

Jumlah

107,1

Rata-rata

35,7%

192,9
64,3%

0
0%

0
0%

Sampai dengan pertemuan keempat kemampuan kognitif anak


meningkat dengan baik, Indikator 1) Menyusun kata sesuai dengan
angka dengan kriteria berkembang sangat baik sebanyak 5 orang
atau 35,7%. Yang mendapat kriteria berkembang sesuai harapan
sebanyak 9 orang atau 64,3%, kriteria mulai berkembang sudah tidak
ada lagi atau 0% dan kriteria belum berkembang sudah 0% atau tidak
ada anak yang mendapat nilai dengan kriteria belum berkembang.
Indikator 2) Mengelompokan kata sesuai dengan warna pelangi
dengan kriteria berkembang sangat baik sebanyak sebanyak 5 orang
atau 35,7%. Yang mendapat kriteria berkembang sesuai harapan
sebanyak 9 orang atau 64,3%, kriteria mulai berkembang sudah tidak
ada lagi atau 0% dan kriteria belum berkembang sudah 0% atau tidak
ada anak yang mendapat nilai dengan kriteria belum berkembang.
Dan indikator 3) Melanjutkan kegiatan sesuai dengan ketentuan dan
tema alam semesta dengan kriteria berkembang sangat baik
sebanyak sebanyak 5 orang atau 35,7%. Yang mendapat kriteria
berkembang sesuai harapan sebanyak 9 orang atau 64,3%, kriteria
mulai berkembang sudah tidak ada lagi atau 0% dan kriteria belum
berkembang sudah 0% atau tidak ada anak yang mendapat nilai
dengan kriteria belum berkembang.

Grafik 4.6
Peningkatan Kemampuan Kognitif Anak pada Siklus I
Pertemuan V
Pada grafik 4.6 di atas dapat di lihat bahwa tingkat
perkembangan kognitif anak usia dini di TK Kuntum Mekar
Simarasok sudah mengalami peningkatan yang cukup baik.
a.

Refleksi
Hasil pengolahan data pada siklus pertama sebanyak 5 kali
pertemuan menunjukan hasil yang sangat baik. Berdasarkan hasil
pengolahan data pada siklus pertama

terjadi peningkatan

kemampuan kognitif anak dalam permainan tebak kata dan angka


sesuai dengan warna anak dengan kriteria berkembang sangat baik
pada pertemuan pertama sebanyak 0%, perteman ke dua meningkat
menjadi 7,25%, pertemuan ke 3 meningkat menjadi 14,3%,
pertemuan ke 4 meningkat menjadi 21,5% dan pertemuan ke 5
1.

menjadi 35,7%.
Deskripsi Siklus II
Siklus II dilakukan setelah melakukan refleksi hasil siklus
pertama, dengan tindakan guru.melalui permainan tebak kata dan angka
sesuai dengan warna, Adapun hasil pengolahan data pada siklus kedua
dapat dilihat pada uraian berikut ini :

Tabel 4.12
Hasil Observasi Kemampuan Kognitif Anak Dalam Permainan
Tebak Kata Dan Angka Sesuai Dengan warna
Pertemuan V Siklus II
Kompetensi
No
Indikator
BSB
BSH
MB
BB
F
%
F
%
F %
F
%
1. Menyusun
kata
sesuai 12
85,8
2
14,2 0
0
0
0
dengan angka
2.

Mengelompokan kata sesuai


dengan warna pelangi

12

85,8

14,2

3.

Melanjutkan kegiatan sesuai


dengan ketentuan dan tema
alam semesta
Jumlah

12

85,8

14,2

256,5

42,6

Rata-rata

85,8%

14,2%

0%

0%

Tabel 4.12 menunjukan sampai dengan pertemuan kelima


kemampuan kognitif anak meningkat dengan baik, Indikator 1)
Menyusun kata sesuai dengan angka dengan kriteria berkembang
sangat baik sebanyak 12 orang atau 85,8%. Yang mendapat kriteria
berkembang sesuai harapan sebanyak 2 orang atau 14,2%, kriteria
mulai berkembang dan kriteria belum berkembang sudah 0%.
Indikator 2) Mengelompokan kata dan angka sesuai dengan warna
pelangi dengan kriteria berkembang sangat baik 12 orang atau
85,8%. Yang mendapat kriteria berkembang sesuai harapan sebanyak
2 orang atau 14,2%, kriteria mulai berkembang dan kriteria belum
berkembang sudah 0%, dan indikator 3) Melanjutkan kegiatan sesuai
dengan ketentuan dan tema alam semesta dengan kriteria
berkembang sangat baik 12 orang atau 85,5%. Yang mendapat
kriteria berkembang sesuai harapan sebanyak 2 orang atau 14,2%,
kriteria mulai berkembang dan kriteria belum sudah 0%.

Grafik 4.1I
Peningkatan Kemampuan Kognitif Anak pada Siklus II
Pertemuan V
Terlihat pada grafik 4.11 peningkatan kemampuan kognitif
anak usia dini di TK Kuntum Mekar Simarasok sudah mencapai

hasil yang memuaskan baik bagi anak didik maupun bagi guru atau
peneliti
a.

Refleksi
Refleksi siklus kedua ini dilaksanakan berdasarkan hasil
pengolahan data pada pertemuan kelima, kemudian diolah secara
keseluruhan selama lima kali pertemuan yang dilakukan pada siklus
kedua dan di peroleh hasil yang sangat memuaskan karna pada
pertemuan pertama di siklus ke II ini kemampuan kognitif anak
meningkat menjadi 42,9%, dan pada pertemuan kedua meningkat
50%, pada pertemuan ke tiga meningkat 57,2%, pada pertemuan ke 4
meningkat 71,4%, dan pada pertemuan ke lima meningkat menjadi
85,8%. Melihat hasil pencapaian peningkatan kemampuan kognitif
anak pada siklus II ini sudah mencapai hasil yang memuaskan maka
penelitian di hentikan pada siklus II ini.
Berdasarkan
disimpulkan

bahwa

hasil

pengolahan

kemampuan

data

kognitif

kualitatif
anak

dapat

mengalami

peningkatan yang sangat baik, karena hasil yang dicapai sudah


mencapai target yang peneliti inginkan yaitu 75% anak dengan
kriteria pencapaian berkembang sangat baik, dan hasil pengolahan
data menunjukan bahwa 85,8% telah mencapai kriteria berkembang
sangat baik. Berdasarkan hasil pengolahan data maka diputuskan
untuk menghentikan penelitian sampai dengan siklus kedua.
V. SIMPULAN DAN TINDAK LANJUT
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengolahan data maka kesimpulan dari penelitian ini
adalah sebagai berikut:
1.

Permainan tebak kata dan angka sesuai dengan warna dapat


meningkatkan kemampuan kognitif anak dalam bidang berhitung,
menyusun, mengelompokkan dan membedakan warna .

2.

Memberikan

permainan

tebak

kata

dan

angka

juga

dapat

mengembangkan kemampuan anak dalam bidang matematika dan seni


karena metode ini juga menggunakan konsep warna sesuai dengan tema.

3.

Permainan yang dilakukan baik secara individu maupun kelompok


ternyata dapat mengembangkan kemampuan kognitif anak dengan cepat.
Karena melalui permainan ini anak-anak sangat tertarik untuk melakukan
berbagai kegiatan yang berhubungan dengan kognitif.

B. Saran
Berdasarkan kesimpulan dari penelitian maka peneliti mengemukakan
beberapa saran baik saran untuk guru maupun untuk pengelola PAUD atau
Lembaga.
a.

Agar anak memiliki berbagai kemampuan atau potensi yang dapat dan harus
diikembangkan, sebaiknya pengembangan kemampuan tersebut dilakukan oleh
orang tua dan guru. Untuk dapat mengembangkan kemampuan dan potensi
anak, guru dan orang tua hendaklah memahami tentang pembelajaran anak
memalui kegiatan pembelajaran yang menyenangkan yaitu melalui kegiatan

b.

bermain dan permainan.


pendidik dituntut untuk kreatif dan inovatif dalam melakukan pembaharuan
pembelajaran untuk dapat mengembangkan berbagai potensi anak.

c.

Agar kemampuan kognitif berkembang dengan baik dalam lingkungan


sekolah ataupun dalam kehidupan sehari-hari maka pendidik/guru harus
menerapkan suatu kegiatan yang berhubungan dengan kemampuan dalam
bidang matematika dan sains.

DAFTAR PUSTAKA
Anwar. A (2007) Pendidikan Anak Usia Dini Bandung: Alfabeta
Dr. Paul Suparno. 2001 Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget. Jogjakarta.
Karnisius
Elkind (2012:1.14). Bermain dan Permainan Anak. Jakarta: Universitas
Terbuka,.
Gagne (2007). Pengertian Belajar Jammars (1980). Pengertian Hasil Belajar.
Jakarta: Universitas Terbuka
Montolalu.W (2008) Bermain Dalam Kelompok, Bermain Dengan Angka. JKT.
Grasindo
Moeslicatoen (2004) Metode Pembelajaran Di TK. Jakarta. Roneka Cipta
Rillero & Haury (1994). Metode Praktek Langsung. Jakarta: Universitas Terbuka.

Santrock (2014:2.24), Metode Pengembangan Perilaku dan Kemampuan Dasar


Anak Usia Dini. Jakarta: Universitas Terbuka.
Sudjana (2009). Definisi Media dan Alat Peraga Pendidikan). Jakarta: Universitas
Terbuka.
Sehat Jaya.2011. Faktor faktor yang mempengaruhi perkembangan kognitif Di
unduh dari http// id. Shvoong.com. Tgl 21 Mei 2016
Susanto 2011 Perkembangan Anak Usia Dini. Jakarta. Kencana Pradana Media
Group
Sunarti 2011Upaya Meningkatkan Kemampuan Kognitif Anak Dalam
Pembelajaran Melalui Permainan Tebak Kata Dan Angka Tahu Ajaran
2010/2011 Skrip Surakarta. 21 Mei 2016
Todkirotum (2012). Pengertian Kartu Angka. Jakarta: Universitas Terbuka.
Usman, Basyirudin. (2012). Keunggulan Metode Praktek Langsung. Jakarta:
Universitas Terbuka.
Vygotsky (2012:1.9). Bermain dan Permainan Anak. Jakarta: Universitas
Terbuka.