Anda di halaman 1dari 24

BAB IV

HIDROLIKA PEMBORAN
4.1. Rheologi Lumpur Pemboran
4.1.1. Sifat Aliran Lumpur Pemboran
Pola aliran atau rheologi adalah ilmu yang mempelajari perubahan bentuk
dan aliran dari suatu fluida. Dimana dalam rheologi yang terpenting adalah
hubungan antara shear stress (tegangan geser) dan shear rate (laju geser). Apabila
gaya dikenakan pada suatu fluida, maka fluida tersebut akan mengalir.
4.1.1.1. Aliaran Laminer
Merupakan aliran dimana masing-masing partikel dalam fluida bergerak
maju dalam suatu garis lurus. Gerakan aliran partikel-partikel fluida bergerak
pada rate yang lambat, teratur dan geraknya sejajar dengan aliran (dinding)
Kecepatan pada dinding adalah nol dan kecepatan masing-masing pertikel-partikel
yang ada ditengah bergerak lebih cepat.gambar 4.1, menyajikan pola aliran
laminar.

Gambar 4.1.
Pola Aliran Laminer8)

4.1.1.2.Aliran Turbulen
Pola aliran Turbulen, fluida bergerak dengan kecepatan aliran yang lebih
besar dan partikel-pertikel bergerak dengan garis-garis tidak teratur, sehingga
menghasilkan aliran yang berputar. Pada operasi pemboran, aliran turbulen harus
dihindari sedapat mungkin karena turbulensi dapat menyebabkan pembesaran
lubang bor. Gambar 4.2, menyajikan pola aliran turbulen.

Gambar 4.2.
Pola Aliran Turbulen8)
4.1.1.3. Aliran Sumbat
Jenis aliran dimana puncak alirannya agak mendatar dan shear (geser)
terjadi di dekat dinding pipa saja serta ditengah-tengah terdapat aliran tanpa shear,
seperti suatu sumbat. Pada aliran ini fluida bergerak pada kecepatan-kecepatan
rendah apabila viskositas lumpurnya cukup besar,seperti yang dapat dilihat pada
gambar 4.3 :

Gambar 4.3.
Pola Aliran Sumbat (Plug Flow)8)
4.1.1.14. Konsep Reynold Number
Untuk dapat menentukan pola atau tipe aliran tersebut laminar atau
turbulen, digunakan bilangan Reynold (Re). Dalam persamaan untuk menentukan
bilangan Reynold tersebut terlihat bahwa pola aliran fluida pemboran didalam
pipa maupun didalam annulus dipengaruhi oleh kecepatan aliran, viskositas, berat
jenis fluida yang mengalir dalam pipa dan diameter pipa. Dalam literatur, bilangan
Reynold dapat ditentukan dengan persamaan (4-1) :
Re 928

dimana

vD
....(4-1)

:
Re

: Bilangan Reynold, dimensionless

: Viscositas fluida, cp

: Kecepatan aliran,fps

: Densitas fluida,ppg

: Diameter pipa,inch

Dari percobaan pada fluida Newtonian diketahui bahwa Re > 3000 adalah
turbulen flow, dan untuk Re < 2000 adalah laminer flow, sedangkan diantaranya

adalah transitional flow (plug flow). Adanya aliran dipercepat oleh kondisi sumur
yang tidak merata dan gerakan pipa yang tidak beraturan.
4.1.2. Klasifikasi Lumpur Pemboran
4.1.2.1. Fluida Newtonian.
Fluida Newtonian merupakan fluida dimana viskositasnya hanya
dipengaruhi oleh tekanan dan temperatur, misalnya : air, gas, dan minyak encer.
Dalam hal ini viskositas dapat dinyatakan dalam perbandingan antar tegangan
geser (shear stress) dan laju geser (shear rate), dimana perbandingan ini adalah
tetap. Secara matematis dapat dinyatakan dalam persamaan (4-2):

gc ( dVr / dr )

... (4.2)

keterangan :

= viskositas, cp

= tegangan geser (shear stress), lb/ft2

dVr/dr = shear rate, sec-1


gc

= konstanta gravitasi, 32.2 lbm ft/lbf sec2

4.1.2.2. Fluida Non Newtonian


Merupakan fluida yang mempunyai viskositas tidak konstan, dimana
viskositasnya tergantung pada besarnya shear rate yang terjadi. Pada setiap shear
rate tertentu fluida mempunyai viskositas yang disebut apperent viscosity pada
shear rate tersebut. Contoh dari fluida ini adalah lumpur dan semen.
Fluida non newtonian terdiri dari tiga model, yaitu bingham plastic, power
law, dan modified power law.
4.1.2.2.1. Bingham Plastic
Umumnya fluida pemboran dapat dianggap bingham plastic, dalam hal ini
sebelum ada aliran harus ada minimum shear stress yang disebut yield point (y).

setelah yield point terlampaui maka setiap penambahan shear rate sebanding
dengan plastic viscosity (p) dari pada model ini.
Secara matematis dapat dinyatakan dalam persamaan (4-3) :
( - y)

p
( dVr / dr )
gc

... (4.3)

keterangan :
y

= yield point, lb/100 ft2.

= viskositas plastic, lb/sec-ft.

Penentuan Plastic viscosity (p)


Penentuan plastic viscosity menggunakan persamaan Bingham Plastic

dengan menghitung perbandingan antara shear stress () dengan shear rate ().
Agar harga viskositas nantinya diperoleh dalam satuan centipoises (cp), harga
shear stress dan shear rate dibuat persamaan sebagai berikut :
= 1,067 x C

. (4.4)

= 1,704 x RPM

. (4.5)

Keterangan :

= shear stress ,dyne/sq-cm.

= shear rate , second-1.

= dial reading Fann VG meter, derajat.

RPM

= putaran per menit dari rotor.

Dari persamaan diatas , menurut model bingham plastic diturunkan persamaan


sebagai berikut :

p=

600 300
600 300

. ..(4.6)

Dengan menggunakan persamaan (4.2) dan persamaan (4.3) kedalam persamaan


(4.4) maka diperoleh persamaan sebagai berikut :
p = C600 C300

. ..(4.7)

Gambar 4.4
Kurva Aliran Fluida Newtonian dan Non Newtonian10)

Penentuan Yield Point


Dari persamaan (4.2) dan persamaan (4.3) diatas untuk yield point (y)

dapat juga diturunkan persamaan Bingham Plastic, yaitu :


y = C300 - p

. ..(4.8)

Keterangan :
p

= Plastic viscosity, cp

C600

= dial reading pada 600 RPM, derajat

C300

= dial reading pada 300 RPM, derajat

4.1.2.2.2. Power Law Fluida


Fluida power law ini mneunjukkan sifat shear stress yang akan naik sebagai
fungsi pangkat n dari shear rate.secara matematik dinyatakan :
= k(-dVr/dr)n . (4.9)
Keterangan :

= Indeks konsisitensi yang merupakan tetapan kekentalan dari fluida

= power indeks yang nilainya adalah : 0-1

Untuk harga :
0<n<1 : disebut fluida pseudoplastic
n>1

: disebut fluida dilatant

4.1.2.2.3. Modified Power law


Pada jenis fluida ini berlaku persamaan :

= y + k(-dVr/dr)n

. (4.10)

Gambar 4.5 menyajikan kurva fluida modified power law

Gambar 4.5
kurva fluida modified power law10)
4.2. Kehilangan Tekanan pada Sistem Sirkulasi
Kriteria yang penting dalam perencanaan aliran fluida adalah model aliran
yang dapat membersihkan lubang dari cutting hasil pemboran, yang harus
terangkat keatas dimana aliran yang diharapkan adalah aliran turbulensi pada zona
horisontal dan aliran laminer pada zona vertikal. Sifat aliran yang sesuai untuk
kondisi ini adalah jenis fluida Non Newtonian dan sifat alirannya pseudo plastis.
Yang diharapkan pada bagian lubang horisontal dan pertambahan sudut
perbandingan shear stress dan shear rate telah mencapai suatu titik kondisi linear
dan pada bagian vertical perbandingan shear stress dan shear rate adalah konstan
(linier).

Kehilangan tekanan pada sisitem sirkulasi meliputi:


a. Kehilangan Tekanan pada Surface Connection
b. Kehilangan Tekanan pada Drill String
c. Kehilangan Tekanan pada Anulus DP dan DC
d. Kehilangan Tekanan pada bit
4.1.1. Kehilangan Tekanan pada Surface Connection
Kehilangan tekanan pada peralatan permukaan (flow line, stand pipe,
hose, swivel, Kelly) dihitung berdasarkan equivalensi atau perbandingan Pressure
loss yang terjadi pada drill pipe. Kombinasi alat-alat tersebut dibagi menjadi
empat kelas dan masing masing diberi equivalensi terhadap panjang drill pipe
seperti yang tercantum dalam tabel IV
TABEL IV-1
Ekuivalensi Panjang pada Peralatan Permukaan1)
Components of
surface Connections

Standpipe
Drilling Hose
Swivel Washpipe
And gooseneck Kelly
Drillpipe
OD, in
Weigth,
lb/ft
3
4
5

13.3
16.6
19.5

Typical Combinations
No. 1
No. 2
No. 3
No. 4
ID,
L,
ID,
L,
ID,
L,
ID,
L,
in
ft
in
ft
in
ft
in
ft
3
40
3 10
4
45
4
45
2
45
2 55
3
55
3
55
2
4
2 5
2 4
3
6
2 40
3 40
3 40
4
40
Equivalent length of surface Connections in feet of
drillpipe
437

161
761

479
816

340
579

Pressure loss pada surface connection adalah ekuivalensi panjang surface


connection dikalikan Pressure loss pada drill pipe. Sebagai contoh, misalkan

Pressure loss pada drill pipe adalah 0,1 psi/ft dan kombinasi no.4 dengan drill
pipe 5 OD 19,5 lb/ft yang digunakan, maka Pressure loss dipermukaan adalah
579 x 0,1 = 57.9 psi
4.2.2. Kehilangan Tekanan Pada Drill String (DP dan DC)
Kehilangan tekanan pada aliran fluida didalam drill string dibagi menjadi
dua, yaitu kehilangan tekanan pada aliran laminar dan kehilngan tekanan pada
aliran turbulen.
Besarnya kehilangan tekanan pada aliran laminar untuk fluida Newtonian
adalah sebagai berikut :
P

L V
1500 d 2

. (4.11)

Untuk aliran Turbulen ;


f L V 2
. (4.12)
25,8 D

Keterangan :
P

= Kehilangan tekanan di drillstring, psi

= kecepatan fluida, fps

= viskositas absolut, cp

= panjang pipa, ft

= diameter dalam pipa, in

= fanning friction factor, tidak berdimensi


Kecepatan aktual didalam lumpur bor didalam pipa dihitung dengan

persamaan :
V

Q
2.448di 2

. (4.13)

Kecepatan kristis aliran lumpur pemboran didalam pipa dengan persamaan :

Vc

1,078p 1,078 ( p) 2 9.3d 2y


d

. (4.14)

Keterangan :
V

= Kecepatan aktual, ft/sec

Vc

= Kecepatan kritis, ft/sec

= viskositas plastic, cp

= yield point, lb/100 ft2

= densitas lumpur bor, ppg

di

= diameter dalam pipa, in

bila : V > Vc maka aliran turbulen


V < Vc maka aliran laminar
4.2.3. Kehilangan Tekanan Pada Annulus (Annulus DP dan DC)
Untuk perhitungan Kehilangan tekanan pada annulus dapat digunakan
asumsi perhitungan Kehilangan tekanan pada drill string (DP dan DC). Hanya
perlu diperhatikan disini dengan adanya diameter ekuivalen, yang didefiniskan
sebagai radius hidrolik
de d h d p

. (4.15)

Maka Kehilangan tekanan untuk aliran laminar :


P

L V
1500 de 2

. (4.16)

Untuk aliran Turbulent :


P

fLV 2
25,8 de

. (4.17)
Keterangan :
P

= Kehilangan tekanan di drillstring, psi

= kecepatan fluida, fps

= viskositas absolut, cp

= panjang pipa, ft

de

= diameter ekuivalen, ft

= fanning friction factor, tidak berdimensi


Kecepatan aktual didalam lumpur bor didalam pipa dihitung dengan

persamaan :
V

Q
2.448de 2

. (4.18)

Kecepatan kritis aliran lumpur pemboran didalam pipa dengan persamaan :


Vc

1,078p 1,078 ( p) 2 9.3de 2y


de

(4.19)
Keterangan :
V

= Kecepatan aktual, ft/sec.

Vc

= Kecepatan kristis, ft/sec.

= viskositas plastic, cp.

= yield point, lb/100 ft2.

= densitas lumpur bor, ppg.

de

= diameter ekuivalen, in.

bila : V > Vc maka aliran turbulen.


V < Vc maka aliran laminar.
4.2.4. Kehilangan tekanan pada Bit
Kehilangan tekanan pada sistem sirkulasi lumpur di bit dalam operasi
pemboran, harus diperhatikan juga. Kehilangan tekanan pada mata bor
dipengaruhi oleh friction loss dan energi mekanik bit. Untuk menghitung
kehilangan tekanan energi mekanik perlu diperhatikan pula kecepatan fluidanya.
Kecepatan fluida nozzle bit memiliki kecepatan yang sangat tinggi (jet velocity),
sehingga untuk menghitung perlu dikoreksi dahulu terhadap Cd (Coefisien Of

Discharge) yang berkisar antara 0,95 sampai 0,98 untuk jet bit. Sedangkan untuk
yang bukan jet bit, Cd berharga 0,85. persamaan yang digunakan untuk
menghitung kecepatan fluida adalah sebagai berikut :
2 g ( P1 P2 )
v Cd

0.5

. (4.20)

Dengan menggunakan Aliran ideal Q = AV , maka dapat dihitung pressure loss di


bit dengan menggunakan persamaan berikut :
P

Q2
2 g Cd 2 A 2

Q2
12032 Cd 2 A 2

. (4.21)

atau
. (4.22)

Keterangan :
P

= kehilangan tekanan pada bit, psi.

= densitas lumpur, ppg.

= laju alir sirkulasi, gpm.

= luas nozzle, in2

= konstanta grafitasi.

Cd

= Coefisien Discharge.
Suatu bit umumnya mempunyai dua atau tiga cone (kerucut), demikian

pula nozzle-nozzlenya. Dalam hal ini A (luas) harus merupakan jumlah masingmasing nozzle. Kemudian untuk mempermudah perhitungan, maka table IV-2
dibawah ini akan menunjukkan jenis nozzle jika diketahui diameternya. Jadi jika
kita menggunakan 3 cone bit jet bit dengan nozzle-nozzle, satu in dan dua 9/32
in maka luas nozzle adalah :
A

= 0,0491 + (0,0621) x 2
= 0,173

4.3. Kapasitas Pengangkatan Cuting


Dalam operasi pemboran, Lumpur yang baru disirkulasikan lewat dalam
pipa dan keluar ke permukaan annulus sambil pengangkat cutting.
Kecepatan pengangkatan cutting ke permukaan dihitung dengan pendekatan
konsep slip velocity. Dimana partikel cutting dapatterangkat apabila kecepatan
fluida pemboran lebih besar daripada kecepatan slip partikel cutting. Gambar 4.6.
menyajikan pengangkatan cutting ke permukaan.

Gambar 4.6
Pengangkatan Partikel Cutting Pada Annulus10)
Secara matematik konsep velocity dapat ditulis sebagai berikut :
Vp = Vf Vs ...(4-23)
Dimana :
Vp = kecepatan partikel cutting,rpm
Vf = kecepatan fluida, rpm

Vs = kecepatan sl;ip, rpm


Dari persamaan diatas dapat dilihat bahwa Vf dan Vs arahnya berlawanan.
Untuk mengimbangi Vs, maka Vf harus diperbesar agar partikel cutting dapat
terangkat.Sehingga pada konsep ini boleh dikatakan bahwa Vs (slip Velocity)
merupakan ukuran kecepatan minimum yang diperlukan untuk mengangkat
cutting atau kecepatan minimum dimana cutting mulai terangakat. Untuk
menentukan besarnya slip velocity, berlaku persamaan :
a. Untuk aliran turbulen
0.5

Dp( p f )

Vs=113,4

1,5 f

(4.24)

a. Unruk aliran laminar


Dp( p f )

Vs=86,5

..(4.25)

Atau,
Vs = 175

Dp( p f )0, 667

0 , 333

0 , 333

...

(4.26)
Dimana :
Vs = slip velocity , fpm
f = densitas Lumpur , ppg
p = densitas cutting , ppg
Dp = diameter cutting, in
1,5 = koefisien drag aliaran turbulent.
= viskositas nyata ditentukan dengan persamaan(4-27),cp
2,4Vm( 2 N 1) N 200 K ( D d o )

( D d o )(3 N )Vm

(4.27)
Dimana :
2 p

N = 3,32 log ...(4.28)


p

p
.
511N

(4.29)

= yield point, lb/100 ft2

p = plastic viscosity,cp
Vm = kecepatan akiran lumpur di afpm
D

= diameter lubang,in

= indeks kelakuan alir.

do = diameter luar pipa, in


K = konistensi indeks
Kecepatan alairan di annulus ditentukan dengan persamaan :
Vm=

24,51Q
2 ..
D 2 do

(4.30)
Dengan mengetahui besarnya slip velocity , maka dapat diusahakan
cutting terangajkat dengan baik pada rate pompa tertentu.
Bila kita menggunakan pompa piston, maka rate pompa minimum pada
kondisi yang biasa ditemui dalam operasi pemboran (aliran di annulus laminar)
dapat dihitung dengan persamaan :

ROP
0 ,5
Qm= 86,5 Dp p / f 1
A
2
1 dp / dh Ca

(4.31)
Sedangakan rate maksimum dengan persamaan :
Q = 0,00679 S N (2D2-d2) e .(4.32)
Dimana :
Qm = rate minimum, gpm
ROP = kecepatan penembusan,ft/hr.
Ca

= fraksi volume cutting di annulus.

dp

= Diameter lubang, in.

= luas annulus, ft2.

= panjang stroke, in.

= rotasi permenit, rpm.

= diameter tangki piston, in.

= diameter line, in.

= efisiensivolumetric.

4.4. Hidrolika Pada Pahat


Konsep metode hirolika pemboran tidak lain adalah mengoptimalkan
aliran lumpur pada pahat pemboran sehingga dapat membantu laju penembusan
atau penetration rate. Kerja aliran lumpur keluar dari pahat menuju formasi
merupakan pokok pembicaraan dalam hidrolika pemboran. Dengan kerja
optimum, maka diharapkan laju penembusan atau penetration rate dapat
ditingkatkan dan pengangkatan cutting atau lifting capacity yang seefektif
mungkin.
Bila pada pahat konvensional aliran fluida dengan sengaja menyentuh gigi
bit, sehingga gigi bit langsung bersih oleh fluida yang masih bersih oleh fluida
yang sudah mengandung cutting. Sedangkan pada jet bit, pancaran fluida
diutamakan langsung menyentuh batuan formasi yang sedang ditembus, sehingga
fungsi fluida ini sebagai pembantu melepaskan batuan yang masih melekat yang
sudah dipecahkan oleh gigi bit, kemudian fluida yang telah mengandung cutting
tersebut menyentuh gigi bit sebagai fungsi membersihkan dan mendinginkan bit.
Dengan kejadian tersebut, pada jet bit diharapkan akan terjadi penggilingan atau
pemecah ulang (regriding) pada cutting oleh gigi bit sehingga effektifitas bit
maupun laju penembusan dapat lebih baik.
Perbedaan pancaran yang terjadi antara bit konvensional dan jet bit adalah
dengan dipasangnya nozzle, yaitu sebuah lubang yang mempunyai diameter
keluaran lebih kecil daripada masukan sehingga mempertinggi rate. Biasanya
diameter nozzle tersebit dengan satuan 1/32 in.
Faktor-faktor yang mempengaruhi dan menentukan hidrolika dan desain
pahat adalah :
-

Ukuran dan geometri lubang Bor.

Geometri lubang bor meliputi ukuran/diameter lubang bor, diameter


peralatan dan adanya inklinasi lubang bor. Pada suatu pemboran
directional dan horisontal jelas lubang tidak lurus artinya trayek lubang
bor memiliki inklinasi kemiringan yang tertentu. Pada suatu pemboran
dengan lubang bor yang berarah atau memiliki sudut inklinasi tertentu
harus diperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi pembersihan dasar
lubang bor yaitu posisi cutting, konsentrasi cutting, ketebalan cutting dan
kemungkinan

terjadinya

sliding

(penggelundungan)

cutting.

Pada

pemboran horisontal, cutting yang dihasilkan cenderung mudah untuk


mrngendap pada zona horisontal karena jarak cutting ke dinding lubang
bor sangat dekat. Arah pengendapan cutting tersebut adalah tegak lurus
dengan arah aliran lumpur naik. Dengan kondisi geometri lubang bor
horisontal

pembersihan

dasar lubang bor akan optimal

dengan

memperbesar efek turbulensi aliran lumpur pemboran yang berarti


mengoptimalkan laju aliran lumpur. Untuk mendapatkan laju alir optimum
maka kapasitas pompa yang digunakan harus lebih besar. Dimana
kehilangan tekanan pada bit optimum pada nilai 48% tekanan optimum
pompa.
-

Sifat sifik lumpur pemboran.


Sifat fisik lumpur pemboran yang berhubungan dengan kestabilan lubang
bor dan keseimbangan antara tekanan formasi dengan tekanan lubang bor
adalah sifat filtration loss.

Pola aliran.
Pada pemboran Horisontal menggunakan pola aliran turbulen dimana
kecepatan aktual aliran lumpur bor di annulus melebihi kecepatan
kritisnya. Aliran turbulen sifatnya adalah acak, memiliki efek pusaran dan
bersifat mengaduk. Dengan aliran turbulen ini pengangkatan cutting pada
daerah lengkungan dan horisontal dapat berjalan dengan baik. Disamping
itu adanya efek pusaran menyebabkan cutting yang jatuh ke sisi rendah
dinding lubang bor dapat ikut terangkat sehingga timbunan cutting yang
terjadi dapat diminimalisir.

Dalam usaha mengoptimasikan hidrolika pemboran ada tiga prinsip yang


saling berbeda dalam hal anggapananggapan, ketiga prinsip tersebut yaitu :
(Dr. Ing. Ir. Rudi Rubiandini R.S.,1993)
a. Bit Hidraulik Horse Power (BHHP)
Prinsip dasar dari hidrolika ini menganggap bahwa semakin besar daya
yang disampaikan fluida terhadap batuan akan semakin besar pula efek
pembersihannya, sehingga metode ini berusaha untuk mengoptimalkan
horse power atau daya yang digunakan bit dari horse power pompa yang
tersedua dipermukaan.
b. Bit Hydraulik Impact (BHI)
Prinsip dasar dari metode ini menganggap bahwa semakin besar Impact
atau tumbukan sesaat yang diterima batuan formasi dari lumpur yang
dipancarkan dari dari bit, semakin besar pula efek pembersihannya.
Sehingga dapat dikatakan metode ini berusaha untuk mengoptimalkan
Impact pada bit
c. Jet Velocity (JV)
Metode ini berprinsip bahwa semakin besar rate yang terjadi pada bit akan
berarti semakin besar pula efektifitas pembersihan dasar lubang, bearti
metode ini berusaha untuk mengoptimalkan rate pompa supaya rate di bit
maksimum.
Pada dasarnya kemampuan pompa memberikan tekanan pada sistem
sirkulasi adalah habis untuk menanggulangi kehilangan tekanan atau pressure loss
pada sistem sirkulasi. Padahal kehilangan tekanan pada bit adalah parameter yang
cukup menentukan dalam perhitungan optimasi hidrolika, maka kehilangan
tekanan dibagi menjadi dua, yaitu kehilangan tekanan pada seluruh sistem
sirkulasi kecuali di bit yang disebut paracitic pressure loss (Pp) dan bit pressure

loss (Pb), yaitu tekanan yang dihabiskan untuk menumbuk batuan formasi oleh
pancaran fluida di bit.

4.5. Metode Analisa Pengangkatan Cutting


Ada beberapa metode analisa pengangkatan cutting di dalam lubang bor,
diantaranya adalah

1. Ratio Transport Serbuk Bor


2. Konsentrasi Serbuk Bor
3. Indeks Pengendapan Serbuk Bor
Metode-metode tersebut menentukan keberhasilan pengangkatan cutting di
dalam annulus menuju permukaan. Oleh karena itu, untuk memberikan hasil yang
baik, analisa pengangkatan cutting tersebut harus optimal.
4.5.1. Ratio Transport Serbuk Bor
Dari adanya slip velocity, maka cutting memiliki kecepatan yang lebih
lambat dari kecepatan lumpur di annulus dapat dihitung dengan persamaan :
Vp Vf Vs (4-33)

Dengan mengetahui besarnya kecepatan aliran cutting di annulus, kita


dapat menghitung ratio transport dengan menggunakan persamaan :
Ft

Vpt
Vf

..(4-34)

Bila disubstitusikan dengan persamaan sebelunnya maka persamaan


menjadi :

Ft

dimana

Vf Vs
Vf

.(4-35)

Vp

: Kecepatan aliran cutting,fps

Vf

: Kecepatan aliran fluida pemboran,fps

Vs

: Kecepatan slip cutting,fps

Ft

: Transport ratio cutting,percent (%)

Untuk ratio transport positif maka cutting akan terangkat kepermukaan,


sedangkan untuk slip velocity sama dengan nol, maka transport bernilai satu yang
berarti cutting memiliki kecepatan yang sama dengan kecepatan lumpur. Jika
kecepatan slip meningkat maka transport ratio akan menurun.
Ratio

transport

merupakan

parameter

yang

paling

baik

untuk

menggambarkan kapasitas pengangkatan cutting oleh fluida pemboran. Untuk


meningkatkan transport ratio dapat dilakukan dengan mengurangi slip velocity
cutting

dengan

meningkatkan

kecepatan

lumpur

di

annulus

sehingga

kecenderungan pola atau tipe aliran menjadi turbulen.


Ratio transport tidak menggambarkan kondisi pembersihan lubang (hole
cleaning), namun dengan meningkatkan trasport ratio akan menurunkan
konsentrasi cutting di annulus. Sedangkan konsentrasi cutting itu sendiri
dipengaruhi oleh penetration rate. Transport ratio sebesar 100 % tidak akan
menghasilkan konsentrasi cutting 0% di annulus selama masih berlangsung
penetration rate. Batas minimal untuk transport ratio adalah 90%
4.5.2. Konsentrasi Serbuk Bor
Dengan harga transport ratio maka dapat dihitung konsentrasi cutting di
annulus. Menurut pengalaman di lapangan konsentrasi cutting di annulus diatas
5% akan menimbulkan permasalahan seperti : torsi yang tinggi, penurunan
penetration rate dan terjepitnya rangkaian pipa pemboran. Konsentrasi cutting di
annulus dapat diperkirakan dengan persamaan sebagai berikut :

Ca

dimana

( ROP ) D 2
x100% ..(4-36)
14.7 FtQ

:
Ca

: Konsentrasi cutting,%

ROP

: Penetration rate,fph

: Diameter bit,in

Ft

: Transport ratio,%

: Laju alir lumpur,gpm

Apabila harga konsentrasi cutting diatas 5% maka cara yang dapat


dilakukan untuk menurunkan adalah dengan meningkatkan laju alir lumpur atau
meningkatkan trasport rationya.
4.5.3. Indeks Pengendapan Serbuk Bor
Dalam operasi pemboran sumur berarah, analisa pengangkatan cutting arus
mempertimbangkan adanya inklinasi lintasan lubang terhadap arah gravitasi bumi
yang menyebabkan timbulnya vector kecepatan cutting kearah dinding lubang bor
sehingga cutting akan mengendap membentuk endapan.
Menurut Ziedlar (1988), hal ini dikarenakan pada sumur berarah dengan
pola aliran lumpur laminer, adanya penyimpangan lintasan sudut lubang bor
terhadap gravitasi bumi penyebab slip velocity menyebabkan terjadinya arah
kecepatan serbuk bor yang merupakan penguraian dari vektor slip velocity cutting
(Vsa) yang searah dengan lintasan sumur Vsr yang tegak lurus terhadap lintasan
lubang bor sehingga didapat persamaan :
Vsa Vs cos (4-37)
Vsr Vs sin .(4-38)

dimana

:
Vsa

: Slip velocity searah lintasan sumur,fps

Vsr

: Slip velocity radial,fps

Vs

: Slip velocity searah gravitasi bumi,fps

: Sudut inklinasi lintasan sumur.

Dengan adanya Vsr maka cutting akan mengendap dalam waktu Ts yang
dapat ditentukan dengan persamaan :

Ts

1 / 12( Dh Dp )
..(4-39)
Vsr

dimana

:
T

: Waktu yang dibutuhkan cutting untuk mengendap,detik

Dh

: Diamter lubang bor,in

DP

: Dimeter pipa,in

Seberapa jauh jarak yang ditempuh sebelum cutting mengendap dapat


ditentukan dengan persamaan :
Lc (Vs Vsa )Ts (4-

40)
dimana

:
Lc

: Jarak yang ditempuh cutting,ft

Vs

: Kecepatan lumpur diannulus,fps

Vsa

: Slip velocity searah lintasan sumur,fps

Ts

: Waktu yang diperlukan cutting untuk mengendap,detik

Sedangkan untuk menentukan waktu yang diperlukan cutting mencapai


permukaan adalah :

Ts '

Lc '
..(4-41)
(Vs Vsa )

dimana

:
Lc

: Jarak yang ditempuh cutting untuk sampai kepermukaan,ft

Ts

: Waktu yang dibutuhkan untuk melewati lintasan,detik

Dengan kata lain apabila LC lebih pendek dari kedalaman lintasan sumur
pada inklinasi tersebut maka cutting telah mengendap sebelum sampai
kepermukaan.

Ziedler (1988) merumuskan perbandingan waktu antara pengendapan dan


waktu tempuh sampai permukaan tersebut sebagai indeks pengendapan serbuk bor
(Particle Bed Index) dengan persamaan sebagai berikut :

PBI

dimana

1 / 12( Dh Dp )(Vs Vsa )


..(4-42)
LcVsr

:
PBI

: Particle Bed Index (index pengendapan cutting)

Dh

: Diamter lubang bor,in

DP

: Diamter pipa bor,in

Vs

: Kecepatan lumpur di annulus,fps

Vsa

: Kecepatan slip searah lintasan sumur,fps

Lc

: Jarak yang ditempuh,ft

Vsr

: Slip velocity radial,fps

Sedangkan harga PBI dapat ditentukan, maka dipakai acuan sebagai berikut :
PBI>1, tidak terjadi pengendapan cutting
PBI=1, cutting dalam kondisi hampir mengendap
PBI>1, cutting mengalami pengendapan
Cutting atau serbuk bor yang mengendap inilah yang menyebabkan
terjadinya torsi yang tinggi. Untuk mengurangi endapan cutting atau serbuk bor,
salah satunya adalah dengan cara mengubah pola aliran fluida pemboran menjadi
turbulen dengan maksud untuk mengacaukan arah dari Vsr.
Selama pola aliran sumur masih laminer, endapan pada dinding bagian
bawa akan terus bertambah tebal. Endapan ini akan menyebabkan luas annulus
menyempit sehingga kecepatan lumpur akan semakin tinggi hingga suatu saat
kecepatan tersebut akan melampaui kecepatan kritisnya dan menghasilkan pola
aliran turbulen.
Pada kondisi tersebut arah Vsr akan dikacaukan dan gaya gesek lumpur
terhadap permukaan endapan cukup kuat untuk melontarkan serbuk bor yang

berada pada permukaan endapan, selanjutnya endapan berada dalam suatu


kesetimbangan dan tidak akan bertambah tebal lagi.