Anda di halaman 1dari 32

1

BAB I
PENDAHULUAN
Fraktur mandibula adalah putusnya kontinuitas tulang mandibula.
Hilangnya kontinuitas pada rahang bawah (mandibula), dapat berakibat fatal bila
tidak ditangani dengan benar. Mandibula adalah tulang rahang bawah pada manusia
dan berfungsi sebagai tempat melekatnya gigi geligi. Faktor etiologi utama terjadinya
fraktur mandibula bervariasi berdasarkan lokasi geografis, namun kecelakaan
kendaraan bermotor menjadi penyebab paling umum. Beberapa penyebab lain berupa
kelainan patologis seperti keganasan pada mandibula, kecelakaan saat kerja, dan
kecelakaan akibat olahraga.1
Fraktur mandibula merupakan fraktur kedua tersering pada kerangka
wajah, hal ini disebabkan kondisi mandibula yang terpisah dari kranium. Diagnosis
fraktur mandibula dapat ditunjukkan dengan adanya rasa sakit, pembengkakan, nyeri
tekan, dan maloklusi. Patahnya gigi, adanya gap, tidak ratanya gigi, tidak simetrisnya
arcus dentalis, gigi yang longgar dan krepitasi menunjukkan kemungkinan adanya
fraktur mandibula. Selain hal itu mungkin juga terjadi trismus (nyeri waktu rahang
digerakkan).1,2
Secara khusus penanganan fraktur mandibula dan tulang pada wajah
(maksilofasial) mulai diperkenalkan oleh Hipocrates (460-375 SM) dengan
menggunakan panduan oklusi (hubungan yang ideal antara gigi bawah dan gigi-gigi
rahang atas), sebagai dasar pemikiran dan diagnosis fraktur mandibula. Pada
perkembangan selanjutnya oleh para klinisi menggunakan oklusi sebagai konsep
dasar penanganan fraktur mandibula dan tulang wajah (maksilofasial) terutama dalam
diagnostik dan penatalaksanaannya. Hal ini diikuti dengan perkembangan teknik
fiksasi mulai dari penggunaan pengikat kepala (head bandages), pengikat rahang atas
dan bawah dengan kawat (intermaxilari fixation), serta fiksasi dan imobilisasi
fragmen fraktur dengan menggunakan plat tulang (plate and screw).1,2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi dan Fungsi Mandibula
Mandibula adalah tulang rahang bawah pada manusia dan berfungsi
sebagai tempat menempelnya gigi-geligi. Mandibula berhubungan dengan
basis kranii dengan adanya temporo-mandibular joint dan disangga oleh otototot pengunyahan. Mandibula terdiri dari korpus berbentuk tapal kuda dan
sepasang ramus. Korpus mandibula bertemu dengan ramus masing-masing sisi
pada angulus mandibula. Pada permukaan luar digaris tengah korpus
mandibula terdapat sebuah rigi yang menunjukkan garis fusi dari kedua
belahan selama perkembangan, yaitu simfisis mandibula. 3
Korpus mandibula pada orang dewasa mempunyai processus alveolaris
yang ditandai adanya penonjolan di permukaan luar, sedangkan pada orang tua
yang giginya telah tanggal processus alveolaris mengalami regresi. Bagian
depan dari korpus mandibula terdapat protuberantia mentale yang meninggi
pada tiap-tiap sisi membentuk tuberculum mentale. Bagian permukaan luar di
garis vertical premolar kedua terdapat foramen mentale. Bagian posterior
korpus mandibula mempunyai dua processus yaitu processus coronoideus
anterior yang merupakan insersio otot pengunyahan dan processus condylaris
bagian posterior yang berhubungan langsung dengan sendi temporo
mandibular. Permukaan dalam ramus mandibula terdapat foramen mandibula
yang masuk ke dalam kanalis mandibula, sedangkan permukaan korpus
mandibula terbagi oleh peninggian yang miring disebut linea mylohyoidea
(Platzer, 1997).3
Mandibula dipersarafi oleh 3 cabang nervus yaitu N. Bucalis , N.
Lingualis, dan N. Alveolaris inferior. Nervus mandibularis merupakan cabang
terbesar, yang keluar dari ganglion Gasseri. Saraf keluar dari cranium melalui
foramen ovale, dan bercabang menjadi tiga percabangan.2,3
1. N. Buccalis
n. buccalis keluar tepat di luar foramen ovale. Saraf berjalan di antara
kedua caput m. pterygoideus externus, menyilang ramus untuk kemudian
masuk ke pipi melalui m. buccinators, di sebelah bukal gigi molar ketiga
atas. Cabang-cabang terminalnya menuju membrane mukosa bukal dan
mukoperiosteum di sebelah lateral gigi-gigi molar atas dan bawah.
4

2. N. Lingualis
Nervus Lingualis cabang berikut berjalan ke depan menuju garis median.
Saraf berjalan ke bawah superficial dari m. Pterygoideus internus berlanjut
ke lingual apeks gigi molar ketiga bawah. Pada titik ini saraf masuk ke
dalam basis lingual melalui dasar mulut dan menginervasi duapertiga
anterior

lidah,

mengeluarkan

percabangan

untuk

menginervasi

mukoperiosteum dan membrana mukosa lingual.


3. N. Alveolaris Inferior
N. alveolaris Inferior adalah cabang terbesar dari n. Mandibularis. Saraf
turun balik dari m. Pterygoideus externus, disebelah posterior dan dibagian
luar n. lingualis, berjalan antara ramus mandibula dan ligamentum
sphenomandibularis. Bersama-sama dengan arteri alveolaris inferior saraf
berjalan terus di dalam canalis mandibula dan mengeluarkan percabangan
untuk gigi-geligi. Pada foramen mentale saraf bercabang menjadi dua
salah satunya adalah nervus incicivus yang berjalan terus ke depan menuju
garis median sementara nervus mentalis meninggalkan foramen untuk
mempersarafi kulit. Cabang-cabang dari nervus alveolaris inferior adalah :

N. mylohyoideus adalah cabang motorik dari n. alveolaris inferior dan


didistribusikan ke m. Mylohyoideus, dan venter anterior dan m.
Digastrici yang terletak di dasar mulut.

Rami dentalis brevis menginervasi gigi molar, premolar, proc.


alveolaris, dan periosteum

N. mentalis lekuar melalui foramen mentale untuk menginervasi kulit


dagu, kulit dan membrana mukosa labium oris inferior

N. incisivus mengeluarkan cabang-cabang kecil menuju gigi insisivus


sentral, lateral dan caninus

Gambar 1
Nervus Yang terdapat Diwajah
Otot-otot Pengunyahan 2,3
Otot
Persarafan
1. M. temporalis
Nn. Temporales
profundi
(N. mandibularis)

Origo

Insertio

Fungsi

Os. Temporal di

Ujung dan permukaan

Menutup

bawah linea

media proc.

rahang, bagian

temporalis

Coronoideus mandibula

belakang,

inferior dan

menarik balik

lembar dalam

RB (=retrusi)

fascia
2. M. masseter
M. massetericus
(N. mandibularis)

temporalis
Arcus
zygomaticus
Pars

Pars superficialis:

Menutup

angulus mandibula,

rahang

superficialis:

tuberositas masseterica.
Pars profunda:

sisi bawah, dua

permukaan luar ramus

pertiga bagian

mandibula

depan
(bertendo)
Pars profunda:
sepertiga bagian

belakang,
permukaan
3. M. pterygoideus
medialis
N. pterygoideus
medialis
(N. mandibularis)

dalam
Fossa

Permukaan medial

Menutup

pterygoidea dan

angulus mandibula,

rahang

lamina lateralis

tuberositas pterygoidea

proc.
Pterygoidei,
sebagian proc.
Pyramidalis os.

4. M. pterygoideus
lateralis
N. pterygoideus
lateralis
(N. mandibularis

Palatum
Caput superius:

Fovea pterygoidea

Menutup

permukaan luar

(proc. Condilaris

rahang dan

lamina lateralis

mandibula), discus dan

gerakan ke

proc.

kapsul articulation

muka

Pterygoidei,

temporomandibularis.

(=protrusi) RB.

tuber maxillae
Caput inferius
(asesoris): facies
temporalis (ala
major ossis
spenoidalis)

Gambar 2

Caput inferius:
membuka
rahang

Otot-otot Pada Wajah

2.2 Definisi Fraktur Mandibula


Fraktur adalah diskontinuitas dari jaringan tulang yang biasanya
disebabkan oleh adanya kecelakaan yang timbul secara langsung. Fraktur
mandibula adalah putusnya kontinuitas tulang mandibula. Hilangnya
kontinuitas pada rahang bawah (mandibula), yang diakibatkan trauma oleh
wajah ataupun keadaan patologis, dapat berakibat fatal bila tidak ditangani
dengan benar. 1
2.3 Etiologi
Setiap pukulan keras pada muka dapat mengakibatkan terjadinya suatu
fraktur pada mandibula. Daya tahan mandibula terhadap kekuatan impak
adalah lebih besar dibandingkan dengan tulang wajah lainnya. Meskipun
demikian fraktur mandibula lebih sering terjadi dibandingkan dengan bagian
skeleton muka lainnya.1
Factor etiologi utama bervariasi berdasarkan lokasi geografis. Pada
beberapa investigasi seperti Jordan, Singapore, Nigeria, New Zealand,
Denmark, Yunani, dan Japan dilaporkan kecelakaan akibat kendaraan
bermotor paling sering di jumpai. Peneliti di Negara-negara seperti Yordania,
Singapura, Nigeria, Selandia Baru, Denmark, Yunani, dan Jepang melaporkan
kecelakaan kendaraan bermotor menjadi penyebab paling umum.1,2

Kecelakaan lalu
lintas

12 2
27

59

Kekerasan Fisik
(pertengkaran)
Kecelakaan kerja
Kecelakaan saat
olahraga

Diagram 1
Presentase

2.4 Klasifikasi
klasifikasi fraktur mandibula diantaranya adalah : 3,4
1. Menunjukkan regio-regio pada mandibula yaitu: korpus, simfisis, angulus,
ramus, prosesus koronoid, prosesus kondiloid, prosesus alveolar. Fraktur yang
terjadi dapat pada satu, dua atau lebih pada region mandibula ini.

Gambar 3.
Klasifikasi fraktur mandibula berdasarkan lokasi fraktur.

2. Berdasarkan ada tidaknya gigi. Klasifikasi berdasarkan gigi pasien penting


diketahui karena akan menentukan jenis terapi yang akan kita ambil. Dengan
adanya gigi, penyatuan fraktur dapat dilakukan dengan jalan pengikatan gigi
dengan menggunakan kawat. Berikut derajat fraktur mandibula berdasarkan
ada tidaknya gigi: 3,4
a. Fraktur kelas 1 : gigi terdapat di 2 sisi fraktur, penanganan pada fraktur
kelas 1 ini dapat melalui interdental wiring (memasang kawat pada gigi).
b. Fraktur kelas 2 : gigi hanya terdapat di salah satu fraktur
c. Fraktur kelas 3 : tidak terdapat gigi di kedua sisi fraktur, pada keadaan ini
dilakukan melalui open reduction, kemudian dipasangkan plate and screw,
atau bisa juga dengan cara intermaxillary fixation.

Gambar 4
Klasifikasi fraktur mandibula berdasarkan keterlibatan gigi

Dengan melihat cara perawatan, maka pola fraktur mandibula dapat


digolongkan menjadi : 3,4
1. Fraktur Unilateral
Fraktur ini biasanya hanya tunggal, tetapi kadang terjadi lebih dari satu
fraktur yang dapat dijumpai pada satu sisi mandibula dan bila hal ini
terjadi, sering didapatkan pemindahan fragmen secara nyata. Suatu fraktur
korpus mandibula unilateral sering terjadi.

10

Gambar 5
Pola Fraktur Mandibula

2. Fraktur Bilateral
Fraktur bilateral sering terjadi dari suatu kombinasi antara kecelakaan
langsung dan tidak langsung. Fraktur ini umumnya akibat mekanisme yang
menyangkut angulus dan bagian leher kondilar yang berlawanan atau
daerah gigi kaninus dan angulus yang berlawanan.
3. Fraktur Multipel
Gabungan yang sempurna dari kecelakaan langsung dan tidak langsung
dapat menimbulkan terjadinya fraktur multiple. Pada umumnya fraktur ini
terjadi

karena

trauma

tepat

mengenai

titik

tengah

dagu

yang

mengakibatkan fraktur simfisis dan kedua kondilus.


4. Fraktur Berkeping-keping (comminuted)
Fraktur ini hamper selalu diakibatkan oleh kecelakaan langsung yang
cukup keras pada daerah fraktur, seperti pada kasus kecelakaan terkena
peluru saat perang. Dalam sehari-hari, fraktur ini sering terjadi pada
simfisis dan parasimfisis. Fraktur yang disebabkan oleh kontraksi
muskulus yang berlebihan. Kadang fraktur pada prosesus koronoid terjadi
karena adanya kontraksi reflex yang datang sekonyong-konyong mungkin
juga menjadi penyebab terjadinya fraktur pada leher kondilar.

11

Gambar 6
Pola Fraktur Mandibula Berdasarkan Perawatan. 4

2.1 Gejala Fraktur Mandibula


o
Dislokasi, yaitu berupa perubahan posisi rahang yang menyebabkan maloklusi
atau tidak berkontaknya rahang bawah dan rahang atas. Jika penderita
mengalami pergerakan abnormal pada rahang dan rasa yang sakit jika
o

o
o
o

menggerakkan rahang.
Pembengkakan pada posisi fraktur juga dapat menentukan lokasi fraktur pada
penderita.
Krepitasi berupa suara pada saat pemeriksaan akibat pergeseran dari ujung
tulang yang fraktur bila rahang digerakkan.
Laserasi / fulous yang terjadi pada daerah gusi, mukosa mulut dan daerah
sekitar fraktur.
Discolorisasi perubahan warna pada daerah fraktur akibat pembengkakan,
terjadi pula
Gangguan fungsional berupa penyempitan pembukaan mulut.
Hipersalivasi.
Haloitosis, akibat berkurangnya pergerakan normal mandibula dapat terjadi
stagnasi makanan dan hilangnya efek self cleansing karena gangguan fungsi

o
o
o
o

pengunyahan.
Gangguan jalan nafas pada fraktur mandibula juga dapat terjadi akibat
kerusakan hebat pada mandibula menyebabkan perubahan posisi.
Trismus.
Hematom.
Edema pada jaringan lunak.
Anastesi pada satu sisi bibir bawah, pada gusi atau pada gigi dimana terjadi
kerusakan pada nervus alveolaris inferior. 1,2
12

2.2 Diagnosis
A. Anamnesis
Diagnosis pasien dengan fraktur mandibula dapat dilakukan
dengan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Setiap fraktur
mempunyai riwayat trauma. Posisi waktu kejadian merupakan informasi
yang penting sehingga dapat menggambarkan tipe fraktur yang terjadi.
Bila trauma ragu-ragu atau tidak ada maka kemungkinan fraktur patologis
tetap perlu dipikirkan. Riwayat penderita harus dilengkapi apakah ada
trauma daerah lain (kepala, torak, abdomen, pelvis, dll). Pertanyaanpertanyaan kepada penderita maupun pada orang yang lebih mengetahui
harus jelas dan terarah. 3
Tanyakan pertanyaan spesifik tentang cedera
o Bagaimana terjadinya cedera?
o Apakah pasien kehilangan kesadaran?
o Apakah pasien memiliki masalah visual seperti penglihatan ganda
atau kabur?
o Apakah pasien memiliki masalah pendengaran apapun, seperti
o
o
o
o
o
o

pendengaran menurun?
Apakah gigi kontak seperti biasanya (oklusi normal)
Apakah pasien mampu meggigit tanpa rasa sakit?
Apakah pasien mengalami mati rasa atau kesemutan pada wajah?
Apakah pasien mengalami kesulitan bernapas melalui hidung?
Apakah terdapat perdarahan dari hidung atau telinga?
Apakah pasien mengalami kesulitan membuka atau menutup
mulut? Apakah ada rasa sakit atau kejang otot?

B. Pemeriksaan Fisik
-

Inspeksi
Deformitas

angulasi

medial,

lateral,

posterior

atau

anterior,

diskrepensi, rotasi, perpendekan atau perpanjangan, apakah ada


bengkak atau kebiruan, pada luka yang mengarah ke fraktur terbuka
-

harus diidentifikasi dan ditentukan menurut derajatnya. 4


Palpasi
Nyeri tekan pada daerah fraktur, nyeri bila digerakkan.
Krepitasi
Biasanya penderita sangat nyeri oleh sebab itu pemeriksaan ini harus
gentle dan bila perlu dapat ditiadakan. 4
13

Gerakan : gerakan luar biasa pada daerah fraktur. Gerakan sendi di

sekitarnya terbatas karena nyeri, akibatnya fungsi terganggu. 4


Pemeriksaan trauma di tempat lain seperti kepala, torak, abdomen,

traktus, urinarius dan pelvis. 4


Pemeriksaan komplikasi fraktur seperti neurovaskuler bagian distal
fraktur yang berupa pulsus arteri, warna kulit, temperature kulit,
pengembalian darah ke kapiler. 4

C. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan sinar-X A-P, lateral. Bila perlu dilakukan foto waters.
Untuk pencitraan wajah digunakan proyeksi Waters sehingga bayangan
bagian wajah yang terganggu atau disamarkan oleh struktur tulang
dasar tengkorak dan tulang servikal. Evaluasi radiografis pada
mandibula mencakup foto polos, scan, dan pemeriksaan panoramic.
Tapi pemeriksaan yang baik, yang dapat menunjukkan lokasi serta luas
fraktur adalah CT Scan. Pemeriksaan panoramic juga dapat dilakukan,
hanya saja diperlukan kerja sama antara pasien dan fasilitas
pemeriksaan yang memadai. 2,3

Gambar 7
Foto sefalogram antero-posterior (kiri) dan lateral (kanan)

Radiograf panoramik juga dapat digunakan untuk mendiagnosis fraktur


mandibula. Panoramic menyediakan kemampuan untuk melihat
seluruh

mandibula

dalam

satu

radiograf.

Tetapi

panoramic

membutuhkan pasien tegak, dan tidak memiliki kemampuan melihat


secara detilpada daerah TMJ, simfisis dan gigi/prosesus alveolar.

14

Gambar8
Panoramik

Sedangkan CT scan, terutama CT scan 3 dimensi dapat


membantu dokter dengan image yang berkualitas tinggi untuk survey
fraktur wajah pada daerah lain yang termasuk tulang frontal kompleks
naso-ethmoid-orbital, dan bagian kraniofasial lainnya. Selain itu, CT
scan juga baik untuk rekonstruksi kerangka wajah dan juga ideal untuk
fraktur condyle yang sulit untuk divisualisasi.

Gambar 9
CT scan 3 dimensi beresolusi tinggi yang menunjukkan anatomi mandibula pada
proyeksi A-P (kiri) dan oblik (kanan)

15

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Penatalaksanaan
Prinsip penanganan fraktur mandibula pada langkah awal bersifat
kedaruratan seperti jalan nafas (airway), pernafasan (breathing), sirkulasi
darah termasuk penanganan syok (circulation), penanganan luka jaringan
lunak dan imobilisasi sementara serta evaluasi terhadap kemungkinan cedera
otak.
A: Airway maintenance with cervical spine control/protection
1. Menghilangkan fragmen-fragmen gigi dan tulang yang fraktur.
2. Memudahkan intubasi endotrakeal dengan mereposisi segmen fraktur
wajah untuk membuka jalan nafas oral dan nasofaringeal.
3. Stabilisasi sementara posisi rahang bawah ke arah posterior dengan
fraktur kedua kondilus dan simfisis yang menyebabkan obstruksi jalan
nafas atas.
B: Breathing and adequate ventilation
16

1. Stabilisasi sementara posisi fraktur rahang bawah ke arah posterior


dengan fraktur kedua kondilus dan simfisis yang menyebabkan
obstruksi jalan nafas pada pasien yang sadar.
2. Jumlah oksigen yang harus masuk ke dalam tubuh adalah untuk
dewasa dengan penggunaan 3-6 liter/menit. Lebih dari itu maka tidak
akan membantu peningkatan oksigen dalam tubuh. Oksigen yang
dibutuhkan dalam keadaan darurat adalah sebanyak
C: Circulation with control of hemorrhage
1. Kontrol perdarahan dari hidung atau luka intraoral untuk meningkatkan
jalan nafas dan mengontrol perdarahan.
2. Menekan dan mengikat perdarahan pembuluh wajah dan perdarahan di
kepala.
3. Menempatkan pembalut untuk mengontrol perdarahan dari laserasi
wajah yang meluas dan perdarahan kepala.
D: Disability: neurologic examination
1. Status neurologis ditentukan oleh tingkat kesadaran (composmentis,
somnolen, sopor, koma) dan ukuran pupil, serta reaksi. Dinilai
berdasarkan kategori skor tingkat kesadaran (GCS).
2. Trauma periorbital dapat menyebabkan luka pada okular secara
langsung maupun tdak langsung yang dapat dilihat dari ukuran pupil,
kontur, dan respon yang dapat mengaburkan pemeriksaan neurologis
pada pasien dengan sistem saraf pusat yang utuh.
3. Menentukan perubahan pupil pada pasien dengan perubahan sensoris
(alkohol atau obat) yang tidak berhubungan dengan trauma
intrakranial.
TABEL 1. Kategori dan skor penilaian GCS

17

E: Exposure/ enviromental control


1. Menghilangkan gigi tiruan, tindikan wajah atau lidah, dan melepaskan
apapun yang menutupi daerah trauma utama.
2. Memeriksa adanya jejas/trauma lain dengan membuka pakaian atau
apapun yang menutupi tubuh pasien untuk tindakan lebih lanjut.
Tahap kedua adalah penanganan fraktur secara definitif yaitu :
a. Reduksi/ reposisi fragmen fraktur secara tertutup (close reduction) dan
secara terbuka (open reduction), fiksasi fragmen fraktur dan
imobilisasi, sehingga fragmen tulang yang telah dikembalikan tidak
bergerak sampai fase penyambungan dan penyembuhan tulang selesai.
o Pada prosedur terbuka (Open reduction) yaitu reduksi/ reposisi
fragmen fraktur secara tebuka, bagian yang fraktur dibuka
dengan pembedahan, dan segmen direduksi dan difiksasi secara
langsung dengan menggunakan kawat atau plat.
Indikasi open reduction:
a. Frakturyangtidakmenguntungkanpadasudutmandibula
Frakturinidiindikasikanuntukreduksiterbukabila
fragmenproksimalberubahtempatkearahposterioratau
median dan reduksi tidak dapat dipertahankan tanpa
intraosseuswiring,skrewdanplat.
18

b. Fraktur yang tidak menguntungkan pada bodi mandibula


ataudaerahparasimpisismandibula
Otot mylohyoid, digastrikus, geniohyoid dan
genioglosusdapatmenyebabkanperpindahanfragmenlebih
jauh. Ketikadilakukanperawatanreduksiterbuka,fraktur
parasimpisis cenderung membuka pada border inferior,
dengan aspek dari segmen mandibula berputar ke arah
medianpadatitikfiksasi. Denganrotasimedialdaribody
mandibula, cusp lingual seluruh premolar dan molar
bergerak keluar dari kontak oklusal. Kalau konstriksi ini
tidakdiperbaiki,akanterjadiinefisiensipengunyahandan
perubahanperiodontalyangburuk.

Gambar 10
Inefesiensi Pengunyahan dan Perubahan Periodontal yang Buruk.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Fraktur yang unfavourable dan tergeser dari tempatnya.


Kegagalan dengan teknik closed reduction
Fraktur yang memerlukan osteotomy (malunion)
Fraktur yang memerlukan bone graft
Fraktur multipel
Fraktur condyle bilateral

o Pada teknik closed reduction, yaitu reduksi/reposisi fragmen


fraktur secara tertutup, reduksi fraktur dan imobilisasi
mandibula dicapai dengan menempatkan peralatan fiksasi
maksilomandibular. Perawatan fraktur dengan menggunakan
intermaxillay fixation (IMF) disebut juga reduksi tertutup
19

karena tidak adanya pembukaan dan manipulasi terhadap area


fraktur secara langsung. Teknik IMF yang biasanya paling
banyak digunakan ialah penggunaan arch bar.
Indikasi closed reduction:
a.
b.
c.
d.

Fraktur yang favourable tanpa adanya pergeseran tempat


Fraktur komunitif yang sangat nyata
Fraktur edentulous (menggunakan protesa mandibula)
Fraktur pada anak dalam masa pertumbuhan gigi

3.2 Terapi Medis


Pasien dengan fraktur non-displaced atau minimal displace fraktur condilar
dapat diobati dengan analgesic, diet lunak, dan observasi. Pasien dengan
fraktur coronoideus sebaiknya diperlakukan sama. Selain itu, pasienpasien ini mungkin memerlukan latihan mandibula untuk mencegah
trismus.3,4
Obat-obatan yang dapat digunakan :
1. Antibiotika, diberikan golongan penisilin selama seminggu.
2. Untuk luka wajah gunakan Cefazolin (Sefalosporin)
3. Untuk luka rongga mulu gunakan Klindamisin
4. Jika gelisah diberikan diazepam
5. Manajemen nyeri
Gunakan obat oral untuk luka ringan dan obat parenteral jika pasien
tidak dapat mengambil obat oral (yaitu, tidak melalui mulut).
6. Anti-inflamasi gunakan ibuprofen, naproxen atau ketorolac.
3.3 Terapi Bedah
Prosedur penanganan fraktur mandibula : 4
1. Anamesa
2. Ro Panoramic, CT Scan, Thorax
3. Persiapan alat dan bahan
4. Anastesi umum
5. Berikan betadine pada setengah wajah dan Vaseline pada bibir
6. Asepsis daerah yang ingin di operasi

20

7. Pasang archbar dan wire pada masing-masing gigi di rahang atas dan
bawah

Gambar 11
Jenis-jenis archbar.

8. Oklusi rahang atas dan rahang bawah dan disatukan dengan kawat.

Gambar 12
Imobilisasi fraktur melalui fiksasi

9. Lakukan insisi sekitar daerah fraktur mandibula


10. Buka mukosa menggunakan rasparatorium, sehingga menemukan
daerah fraktur sesuai dengan foto panoramic dan CT scan.
11. Sejajarkan oklusi
21

12. Pasang plat dan Screw

Gambar 13
Penggunaan plat dan screw

13. Spooling H2O2 dan aquades


14. Jahit bagian dalam dan bagian luar fraktur mandibula.
15. Spooling dengan aquades bersihkan daerah yang dilakukan operasi
16. Bersihkan muka yang tadi diberikan betadine menggunakan kassa
basah
17. Instruksi pasien agar diet lunak, pembengkakan pada wajah dapat
dikompres dengan air dingin
18. Kontrol sehari kemudian dan pasang rubber untuk mempertahankan
stabilitas otot

Gambar 14
Penggunaan rubber
22

d. Tindak lanjut Post operasi


Setelah periode pascaoperatif, pasien diberikan analgesic serta
antibiotic spectrum luas untuk pasien fraktur terbuka dan dievaluasi ulang
kebutuhan nutrisi. Pantau fiksasi intermaksila selama 4-6 minggu, dan
kencangkan kawat setiap 2 minggu. Setelah kawat dilepaskan, dievaluasi
untuk memastikan penyatuan fraktur dengan foto panoramik.
3.4 Komplikasi
Secara umum komplikasi yang bisa terjadi setelah perawatan fraktur
mandibulaadalahsebagaiberikut(Peterson,1998):
Terjadinyainfeksibila:
o
o
o
o

Tindakandebridemenyangkurangsempurnadansterilisasiyangkurangbaik
Pemberianobatobatanyangkurangadekuat
Pasienyangkurangkoopertif
Penyebaraninfeksidarijaringansekitarnya
NonUnionyaitutidakbersambungnyaujungujungtulangyangfrakturkarena
:

o
o
o
o
o

Fragmenfragmentulangtidakditahandenganrigid
Frakturdibiarkanterlalulama
AlatFiksasiterlalucepatdibuka
Adanyajaringanlunak,seratoto,jaringanfibrousdiantarafragmentulang
Gangguansistemikataupenyakitkronis
Malunionyaituterjadinyapenyembuhantulangyangtidakdalamhubungan

anatomisnormalyangdisebabkankarena:
o Reposisiyangkurangbaik
o fiksasiyangkurangbaik
o Alatfiksasiyangterlaucepatdibuka

o
o
o
o

Delayedunionyaituketerlambatanpenyembuhankarena:
Adanyainterposisidiantarajaringanlunakdiantarafragmen
Fiksasiyangkurangbaik
Kurangnyareparatifvitaldaritubuhkarenagangguansistemik
Trismus karena adanya fibrosis atau disfungsi atropi dari otototot

pengunyahan.
o Kerusakansyarafyangbisadisebabkankarenatraumayanghebatpadawaktu
23

kecelakaanatauterputusnyasyarafolehfragmentulang.

Laporan Kasus
No RM

: 736350

Nama Pasien

: Shella Devani

Tanggal Lahir

: 28 Januari 1994
24

Usia

: 21 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Ruang

: Cendrawasih 3 kamar 4

Alamat

: Kp. Cikedokan, Cikarang

Anamnesa
Pasien datang ke IGD RS Bhayangkara Tk. I R. Said Sukanto dengan keluhan pukul 13.30
pada hari senin, tanggal 25 Januari 2015 kecelakaan dari motor di daerah kalimalang, karena
menghindari batu besar dijalan namun terpeleset dan terbalik sehingga motor dan helm
hancur, sejak kejadian itu pingsan tidak sadarkan diri, tidak ada pendarahan dari hidung dan
telinga namun hanya pada bibir bawah sebanyak 2 kantong, hingga sesampainya di IGD
merasa pusing, nyeri pada bagian mulut, tidak bisa menggerakkan mulut, bengkak pada kedua
pipi.
Pemeriksaan Klinis

A. Ekstra Oral
Inspeksi

Lokasi / regio
Bentuk Kelainan
Warna

Palpasi
Suhu
: Normal
Batas : Jelas
Mudah digerakkan / tidak digerakkan : Tidak mudah digerakkan
Permukaan
: Bengkak
Konsistensi
: Keras
Nyeri Tekan
: Negatif (+)
Fluktuasi
: Negatif (-)

: pipi kiri, bibir atas dan bawah


: pembengkakan, luka
: kemerahan

25

B. Intra Oral
Inspeksi
Kelainan
Lokasi
Warna

: Pembengkakan, fraktur mandibula


: kanan den kiri
: Normal

Pemeriksaan Penunjang

A. Ro Foto

: Panoramik, CT Scan kepala

26

B. Pemeriksaan Lab
(13.9);

Hb

Leukosit

(13.500);

(41);

Trombosit

Hematokrit
(272.000)
Diagnosa Utama

Fraktur Mandibula Dextra + Sinistra


Rencana Terapi
Operasi

Laporan Pre Operasi


Pasien masuk ruang rawat inap tanggal 25 Januari 2016 (Jam 20.45)
A.

B.

Tanda-tanda Vital (TTV)

T : 120/80 mmHg

N : 80x/menit

S : 36 C

P : 20x/menit

Instruksi Pre Operasi

Puasa 6 jam sebelum operasi

Skin test

Inj. Piracetam 3x1, Citicolir 3x500 mg, Transamin 3x1 amp, Tramal/amp

Pemasangan infus

Laporan Operasi
Tanggal operasi : 26 Januari 2016
Tindakan : Pemasangan orif, anestesi umum
Tahapan :
1) Persiapan alat dan bahan operasi
2) Pasien di telentangkan di atas meja operasi
3) Dokter anestesi melakukan anestesi umum secara nasal
27

4) Dilakukan asepsis dan antisepsis pada daerah operasi


5) Pemasangan bite block
6) Dilakukan injeksi vasokonstriktor untuk mengurangi perdarahan di daerah operasi
7) Rahang atas dan rahang bawah dibantu untuk oklusi normal
8) Pemsangan arch bar pada rahang atas dan rahang bawah lntramaxillary fixation (IMF)
9) Insisi intraoral daerah kerja dengan menggunakan blade pada rahang sebelah kanan
10) Flap dibuka dengan menggunakan rasparatorium
11) Dinding dipisahkan dengan menggunakan rasparatorium
12) Dilakukan reposisi tulang mandibula
13) Fiksasi tulang mandibula
14) Dilakukan pengeburan tulang mandibula untuk pemasangan plat beserta screw
15) Lalu dilanjutkan dengan nsisi ekstraoral daerah kerja pada rahang sebelah kiri
16) Flap dibuka dengan menggunakan rasparatorium
17) Dinding dipisahkan dengan menggunakan rasparatorium
18) Dilakukan reposisi tulang mandibula
19) Fiksasi tulang mandibula
20) Dilakukan pengeburan tulang mandibula untuk pemasangan plat beserta screw
21) Lalu dilakukan insisi intraoral daerah kerja pada rahang sebelah kanan
22) Flap dibuka menggunakan rasparatorium
23) Dinding dipisahkan dengan menggunakan rasparatorium
24) Dilakukan reposisi tulang mandibula
25) Fiksasi tulang mandibula
26) Dilakukan pengeburan tulang mandibula untuk pemasangan plat beserta screw
27) lntramaxillary fixation (IMF) dilepas
28) Dilakukan odontektomi pada gigi 38 dan 48
29) Dilakukan penjahitan pada semua bagian yang sudah diinsisi, daerah odontektomi
(diberikan spongostan sebelumnya) , beserta luka pada daerah komisura bibir sebelah
kiri
30) Spooling dengan NaCl
31) Bersihkan dengan asepsis
32) Dokter anestesi melepaskan alat anestesi
33) Pasien dipindahkan ke ruang pemulihan
34) Berikan instruksi post op
- Puasa sampai BU (+), FL (+)
- Diet lunak
- Observasi bleeding
- Kompres dingin kedua pipi yang bengkak
28

35) Resep post op :


Inj. Ceftriaxone 3x1 gr
Inj. Keteroloc 3x1 amp
Inj. Dexamethasone

3x1 amp

Inj. Rantin

3x1 amp

29

30

BAB IV
KESIMPULAN
Fraktur mandibula merupakan salah satu fraktur fasial yang sering terjadi dan
sebagian besar diakibatkan karena kecelakaan lalu lintas. Ada dua cara
penatalaksanaan fraktur mandibula yaitu close reduction dan open reduction. Pada
teknik tertutup (close reduction) yaitu reduksi/ reposisi fragmen fraktur secara
tertutup, reduksi fraktur dan imobilisasi mandibula dicapai dengan jalan
menempatkan

peralatan

fiksasi

maksilomandibular.

Untuk

penatalaksanaan

kebanyakan fraktur mandibular dan secara spesifik diindikasikan untuk kasus diman
gigi terdapat pada semua segmen atau segmen edentulous di sebelah proksimal
dengan pergeseran yang hanya sedikit. Pada prosedur terbuka (Open reduction) yaitu
reduksi/ reposisi fragmen fraktur secara tebuka, bagian yang fraktur dibuka dengan
pembedahan, dan segmen direduksi dan difiksasi secara langsung dengan
menggunakan kawat atau plat.

31

DAFTAR PUSTAKA
1. Ajmal S, Khan M. A, Malik S. A. (2007). Management protocol of mandibular
ractures at Pakistan Institute of Medical sciences, Islamabad, Pakistan. J. Ayub Med
Coll Abbottabad. Volume 19, issue 3, available at http://www.ayubmed.edu.pk
2. Barrera J. E, Batuella T. G. (2010). Mandibular Angle Fractures: Treatment.
3. Pedersen, Gordon W. 1996. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Alih Bahasa Purwanto
dan Basoeseno. Cetakan I. Jakarta: EGC.
4. Pedersen & Peterson Fonseca, 2005. Oral and Maxillofasial Surgery 3rd Ed. Missouri:
Elsevier.

32