Anda di halaman 1dari 9

BAB IV

KEGIATAN LAPANGAN
4.1. Praktek geolistrik
4.1.1 Alat pengukuran data geolistrik
Lokasi pengambilan data geolistrik berasal dari daerah kampus UNDANA dengan 4 titik.
Pengambilan data geolistrik tersebut menggunakan metode schlumberger.
Alat yang digunakan dalam pengukuran geolistrik:
1. Dua buah elektroda arus terbuat dari besi
2. Dua buah elektroda potensial terbuat dari tembaga
3. Dua gulung kabel (elektroda arus) sepanjang sekitar 400 meter
4. Dua gulung kabel (elektroda potensial) sekitar 100 meter
5. Sebuah accu 24 volt sebagi sumber arus
6. Dua buah palu untuk menanam elektroda
7. GPS
8. Alat tulis (bulpen dan kertas)
9. Meteran pita 50 meter
10. Tabel data atau lembar kerja sebagai tempat inputan data di lapangan
11. Kamera untuk pengambilan gambar saat praktek berlansung
12. Sebuah laptop untuk menginput dan menginterpretasi data hasil geolistrik

Spesifikasi alat geolistrik


Pemancar (transmitter)
1. Catu daya

Spesifikasi
12/24 volt, nminimal 6 AH

2. Daya

200 W@ (12 volt)


300 W (24 volt)
Maksimum 350 volt (12 volt ) atau
maksimum 450 volt (24 volt)
Maksimum 2000 mA
1 mA

3. Tegangan keluar
4. Arus keluar
5. Ketelitian arus
Penerima (receiver parabola)
1. Impedansi
2. Batas ukur pembacaan
3. Ketelitian
4. Kompensator
- Kasar
- Halus

Spesifikasi
10 M-ohm
0,1 mV hingga 500 V
0,1 V
10 kali putar (precision multiturn potensimeter)
1 kali putar (wire wound ressistor)

Gambar 4.1 alat geolislistrik Nainura


KETERANGAN PANEL
(1)

: Terminal P1 (M), untuk hubungan elektroda potensial

(2)

: Terminal P2 (N), untuk hubungan elektroda potensial

(3)

: Display potensial, untuk menampilkan nilai arus dalam volt

(4)

: Display untuk menunjukan nilai Volt atau Milivolt pengukuran,

secara autorange
(5)

: Display untuk menunjukan nilai arus pengukuran dalam (mA)

(6)

: Current Loop, Untuk menunjukan tahanan kedua elektroda arus,


apakah patok C1

dan C2 telah terpasang dengan baik

(7)

: Terminal C1, untuk hubungan ke elektroda arus kabel dan patok

C1 (A)
(8)

: Terminal C2 untuk hubungan ke elektroda arus kebel dan patok

C2 (B)
(9)

: Fuse 15A, untuk pemutus arus apabila ada beban lebih atau

hubungan singkat
(10)

: Terminal input power positif (+)

(11)

: Terminal input power negatif (-)

(12)

: Compensator (course) untuk setelan nilai volt di (4) secara kasar

(13)

: Compensator (fine) untuk setelan nilai volt di (4) secara halus

(14)

: Tombol start, untuk melakukan pengukuran

(15)

: Tombol Hold, untuk menyimpan sementara nilai pembacaan volt

di display (4)
(16)

: Power On/Off untuk menghidupkan alat ukur dan display

(17)
: Saklar Volt, Untuk menaikan / menurunkan tengangan keluar
guna pengukuran

Gambar 4.2. Alat-alat pengambilan data geolistrik

4.1.2 Susunan alat geolistrik


Susunan alat geolistrik dalam metoda geolistrik sounding konvigurasi schlumberger yang
digunakan adalah dengan memasang 4 buah elektroda dan diletakan dalam sebuah garis lurus
serta simetris terhadap titik tengah, yaitu dua buah elektroda arus dibagian luar dan dua buah

elektroda tegangan di bagian dalam. Adapun skema penyusunan peralatan ditunjukan sebagai
berikut:

Alat resistivity meter, accu serta gulungan kabel diletakan ditengah-tengah lintasan patokan
elektroda potensia dan arus, dan masing-masing kabel dikaitkan ketiap elektroda arus dan
potensial menggunakan isolasi. Ujung kabel yang lainnya disambungkan ke resistivity meter
(kabel yang mengait elektroda arus dan disambungkan ke amperemeter, sedangkan kabel
yang mengait elektroda potensial disambungkan ke voltmeter).
4.1.3.Pengukuran di lapangan
Kegiatan lapangan di lakukan di daerah UNDANA dengan mengambil data dari 4 titik
berbeda Setelah tiba di lokasi geolistrik, maka pelaksanaan geolistrik dimulai dengan mencari
titik lokasi yang memungkinkan untuk mengoperasikan alat, dalam hal ini tempat yang
dimaksut yaitu tempat yang rata untuk meletakan alat dan tempat yang leluasa untuk bisa
mematok elektroda. Sebelum dilakukan pengukuran, dilakukan penentuan arah lintasan
(azimuth) dan posisi elektroda serta bentangan kabel menggunakan alat kompas geologi.
Untu pembuata lintasan pengukuran geolistrik jauh sebelum pelaksanaan geolistrikdengan
mempertimbangkan aspek geologi.
Setelah menemukan tempat yang cocok, kemudian rangkai alat geolistrik dengan
menancapkan elektroda arus dan tegangan sesuai dengan jarak yang telah ditentukan. Setelah
itu, hubungkan masing-masing elektroda dengan kutub yang ada pada alat geolistrik sesuai

dengan potensialnya. Kemudian menghubungkan alat geolistrik dengan sumber tegangan


(accu). Untuk memperoleh data dari alat geolistrik, kita menginjeksikan potensial ke
elektroda tegangan. Dari alat geolistrik akan muncul nilai tegangan dan nilai arus. Untuk
data yang berbeda kita merubah jarak antar elektroda yang sudah ditentukan sebelumnya
(pada kerja praktek ini dilakukan konfigurasi schlumberger, dengan mengulang kembali
langkah-langkah diatas sesuai jarak yang telah ditentukan.
4.2. Praktikum pemboran
4.1.1Persiapan pemboran
Persiapan pengeboran, dalam tahap ini terdiri atas:
Pembuatan bak pengendap, bak penampung, serta saluran sirkulasinya. Yang perlu
diperhatikan adalah volume dan sirkulasi fluida yang terlalu cepat.
Pemasangan balok landasan mesin, papan untuk saluran sirkulasi dan lantai dasar mesin.
Pengesetan mesin dan pompa
Pendirian menara.
Persiapan lainnya seperti lumpur bor Pengeboran dengan kedalaman dan diameter tertentu
4.2.2 Pelaksanaan Pemboran
a. Sistem kerja
Pemboran dilakukan dengan sistem bor putar ( rotary drilling ) yang menggunakan
tenaga mesin. Tenaga mesin sumur bor di dapat dari gerak putar hosrisontal mesin diesel
yang dimodifikasi untuk menghasilkan tenaga putar tegak lurus yang akan menjalankan stang
bor dan mata bor.
b. Bak Sirkulasi (bak lumpur pemboran)
Untuk menampung fluida pembilas yang akan digunakan dalam proses pengeboran, maka
akan dibuat satu unit bak sirkulasi. Berupa galian ke dalam tanah yang diberi campuran
bentonite sebagai lumpur pemboran.

Sebelum memulai penggalian bak, akan dilakukan pengecekan terhadap gambar lokasi
terhadap kemungkinan adanya kabel pipa utulitas yang tertanam pada lokasi bak sirkulasi.
Apabila ada indikasi jalur pipa atau kabel maka akan diadakan pemindahan lokasi galian bak
sirkulasi atas persetujuan bersama. Apabila gambar detail untuk tujuan tersebut tidak
tersedia, maka pembuatan bak akan dimulai dengan galian kecil sekeliling bak untuk
mengurangi resiko rusaknya kabel atau pipa yang tertanam.
c. Pompa lumpur
Lumpur pemboran disalurkan dari Tangki Lumpur ke dalam lubang bor dengan menggunakan
Pompa Lumpur melalui rangkaian pemboran hingga sampai ke pahat, naik kembali ke
permukaan melalui annulus antara pipa pemboran dan dinding lubang, dan kembali ke Tangki
Lumpur untuk dikondisikan lagi agar lumpur siap untuk dipompakan ke lubang bor kembali

d. Alat bor
Pemboran sumur di lakukan dengan mengkombinasikan putaran dan tekanan pada mata bor
.Pada pemboran konvensional,seluruh pipa bor di putar dari atas permukaan dengan alat yang
di sebut turntable. turntable ini diputar oleh mesin desel,baik secara elektrik ataupun tranmisi
mekanikal. Dengan putaran,roda gerigi di mata bor akan menggali bebatuan.daya dorong
mata bor di peroleh dari berat pipa bor.Semakin dalam sumur di bor,semakin banyak pipa bor
yang di pakai dan di sambung satu persatu. Selama pemboran lumpur di pompakan dari
pompa lumpur masuk melalui dalam pipa bor bawah menuju mata bor.Nosel di mata bor akan
menginjeksikan lumpur tadi keluar dengan kcepatan tinggi sng akan membantu menggali
bebatuan.Kemudian lumpur naik kembali kepermukaan lewat annulus, yaitu celah antara
lubang sumur dan polah bor,membawa cutting hasil pemboran
Lumpur berfungsi sebagai lubrikasi dan medium pendingin untuk pipa pemboran dan mata
bor. Lumpur merupakan komponen penting dalam pngendalian sumur (well control) karena
tekanan hidrostatisnya di pakai untuk mencegah fluida pormasi masuk ke dalam
sumur.lumpur juga membentuk lapisan solid sepanjang dinding sumur(filter-cake) yang
berguna untuk mengontrol fluida yang hilang kedalam formasi (fluid-loss)

e. Stang bor
Stang bor merupakan pipa yang terbuat dari baja, dimana bagian pipa ujung ujungnya
terdapat ulir, dimana fungsinya sebagai penghubung antara dua buahstang bor.
Dalam kegiatan pemboran, stang bor berfungsi sebagai:
1. Menstranmisikan putaran, tekanan, dan tumbuka yang dihasilkan oleh mesin bor
menuju mata bor
2. Jalan keluar masuknya fluida bor, panjang stang bor yang umum digunakandalam
operasi pemboran adalah 10 ft (3m) dan 30 ft (9m), tetapi hal ini
bisa berubah tergantung dengan tujuan dan efisiensi pemboran. Kriteria yang harusdip
erhatikan dalam pemilihan ukuran meliputi tujuan pemboran, kedalaman pemboran,
kekerasan batuan, metode sirkulasi fluida, diameter lubang bor

f. Mata bor
Mata bor

merupakan

salah

satu

komponen

dalam

pemboran

yang

digunakankhususnya sebagai alat pembuat lubang (hole making tool ) Gaya dorong
dapatdihasilkan melalui tumbukan yang dilakukan pada pemboran tumbuk,pemuatan
bit. mekanisme pemboran putar dengan bantuan mesin putar mekanik yang dapat
memutar bit(setelah ditransmisikan oleh stang bor) dan dengan bantuan gaya dorong
statik mengabrasi batuan yang ditembus. Gaya dorong yang bersifat static yang
secaratidak langsung turut menunjang gaya- gaya tersebut diatas misalnya berat
daristang bor dan berat rig
Faktor- faktor yang harus diperhatiakan dalam pemilihan bit yaitu:
1. Ukuran dan bentuk mata bor
2. Ukuran gigi mata bor
3. Berat mata bor
4. Kekerasan matriks