Anda di halaman 1dari 5

Permasalahan Ketidak setaraan Gender di dalam Perusahaan Manufaktur dan Pabrik.

Jenis Pekerjaaan
Gender diartikan sebagai konstruksi sosial budaya yang membedakan karakteristik
maskulin dan feminin. Gender berbeda dengan seks atau jenis kelamin laki-laki dan perempuan
yang bersifat biologis. Pembedaan laki-laki dan perempuan berdasarkan jenis kelamin hanya
menunjuk pada perbedaan biologis semata. Perbedaan secara biologis ini tidak dapat
memasukkan dinamika sosial budaya yang sangat bervariasi antar struktur sosial masyarakat.
Gender merupakan pembedaan laki-laki dan perempuan sebagai hasil konstruksi sosial yang
membentuk identitas laki-laki dan perempuan serta pola perilaku dan kegiatan yang
menyertainya. Pengertian gender ini memberikan ruang yang sangat dominan terhadap dinamika
sosial budaya masyarakat untuk turut mempengaruhi pembedaan peran laki-laki dan perempuan.
Pemisahan berdasarkan jenis kelamin dalam hal pendidikan dan pelatihan, meskipun
sebagian besar keberhasilan telah dicapai dalam meningkatkan prestasi pendidikan perempuan,
namun masih ada perbedaan besar dalam hal bidang studi perempuan dan laki-laki. Pemisahan
berdasarkan jenis kelamin dalam hal pelatihan mengakibatkan adanya perbedaan jenis pekerjaan
berdasarkan jenis kelamin. Perempuan terkonsentrasi dalam berbagai jenis pekerjaan daripada
laki-laki dimana gred pekerjaannya yang lebih rendah.
Dalam pembangunan pemberdayaan perempuan yang terjadi selama ini permasalahan
mendasar yang masih dialami adalah rendahnya partisipasi perempuan dalam pembangunan, di
samping masih adanya berbagai bentuk praktik diskriminasi terhadap perempuan. Rendahnya
kualitas hidup perempuan terjadi di berbagai lini, antara lain sosial budaya, lingkungan,
pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan politik.
Beberapa dari hasil penelitian ditemukan bahwa keterlibatan perempuan menjadi tenaga
kerja di sektor industri atau pabrik, tak lepas dari berbagai tindakan diskriminatif yang terjadi di
lingkungan tempat mereka bekerja. Perempuan masih dianggap sebagai tenaga kerja nomor dua
(sekunder) dan upah tenaga kerja perempuan diperlakukan diskriminatif dengan laki-laki, dilihat
dari resiko serta beban kerjanya (Suyanto dan Hendrarso, 1996 dalam Safitri, 2006). Kondisi
kerja seperti itu menggambarkan kurangnya pemahaman pekerja laki-laki dan perempuan
tentang keadilan / kesetaraan gender dalam industri.
Pekerjaan yang diperuntukkan bagi laki-laki umumnya yang dianggap sesuai dengan
kapasitas biologis, psikologis dan sosial sebagai laki - laki, yang secara umum dikonsepsikan
sebagai orang yang memiliki otot lebih kuat, tingkat resiko dan bahayanya lebih tinggi karena
bekerja di luar rumah yang tingkat keterampilan dan kerjasamanya lebih tinggi. Adapun
pekerjaan yang diperuntukkan bagi perempuan yang dikonsepsikan sebagai orang yang lemah
dengan tingkat resiko lebih rendah, cenderung bersifat mengulang, tidak memerlukan
konsentrasi, dan lebih mudah terputus-putus. Oleh karena itu, tingkat keterampilan perempuan
dianggap rata-rata lebih rendah di banding laki-laki.

Pada perusahaan manufacturing atau pabrik - pabrik ada jenis pekerjaan yang dikerjakan
untuk pekerja atau buruh perempuan, untuk pekerjaan mekanik walaupun bisa saja dilakukan
oleh perempuan yang mempunyai keterampilan mekanik namun ada anggapan bila dilakukan
perempuan akan dianggap kurang sopan. Contoh kasus dapat kita lihat pada pabrik garment ada
pembagian kerja yang tegas antara buruh laki - laki dan perempuan. Departemen - departemen
tertentu semacam spinning, extuder, laminating, sliting, sparepart, disel, pemotongan, dapur,
driver dan sebagainya lebih diserahkan kepada laki - laki. Hal ini berdasarkan bahwa pekerjaan pekerjaan tersebut membutuhkan tenaga yang kuat. Sedangkan buruh perempuan biasanya
ditempatkan pada bagian yang membutuhkan ketelitian dan tidak membutuhkan kekuatan fisik
yang berat seperti bagian finishing, loom, dan garment. Pada departemen tertentu tenaga buruh
perempuan dan laki-laki dipergunakan bersama-sama. Namun demikian di sini pun terdapat
beberapa perbedaan peran dalam pekerjaan laki-laki dan perempuan. Misalnya di bagian potong
terdapat buruh perempuan dan laki-laki. Pekerjaan perempuan mendapatkan bagian untuk
mengukur dan mengatur ukuran, sebab pekerjaan tersebut membutuhkan ketelitian dan buruh
perempuan dianggap lebih teliti dari buruh laki - laki. Sementara laki - laki berperan dalam
potong memotong kain yang jumlahnya banyak dan tebal serta berat atau di bagian ngepresan di
perusahaan plastik misalnya perempuan mendapatkan bagian mengatur dan laki - laki melakukan
bagian pengepresannya. (Annisa, 1996).
Dalam masyarakat industri, pola pembagian kerja belum banyak berbeda dengan
masyarakat agraris. Dalam masyarakat industri kaum perempuan diupayakan untuk terlibat di
dalam kegiatan ekonomi, namun masih banyak warisan agraris dipertahankan di dalamnya.
Secara umum substansi pola publik domestik masih dipertahankan, karena partisipasi perempuan
masih dihargai lebih rendah daripada laki-laki. Lagipula, perempuan masih lebih umum
dialokasikan pada bidang-bidang tertentu seperti pekerjaan tulis - menulis, kesekretariatan, jasa,
dan yang berhubungan dengan kegiatan pengasuhan maupun perawatan seperti guru dan
perawat. Masih sangat sedikit perempuan yang masuk di dalam lingkaran profesional dan
eksekutif. Laki - laki masih tetap dominan di sektor profesi yang memiliki status lebih tinggi,
seperti teknik, arsitek, dokter, kontraktor, manajer, dan lain sebagainya. Laki - laki mendominasi
industri hulu yang produktivitasnya lebih tinggi, sementara perempuan terlibat dalam industru
hilir, yang menangani proses akhir dari sebuah produk (finishing), yang upah produktivitasnya
lebih rendah. Tegasnya, dalam masyarakat industri, pembagian kerja secara seksual, cenderung
dipertahankan. Pola relasi masih berlangsung tidak seimbang, dan dengan demikian status dan
kedudukan perempuan masih lemah.

Pelecehan Seksual
Pelecehan seksual menurut Mathis dan Jakcson (2001) yaitu tentang pelecehan yang
terjadi di tempat kerja berhubungan dengan tindakan yang ditujukan ke arah seksual, dan
menempatkan tenaga kerja dalam situasi kerja yang merugikan atau menciptakan lingkungan
kerja yang tidak bersahabat. Bila kita menganalisis mengapa pelecehan seksual tersebut terjadi
pada pekerja maupun buruh perempuan, hal ini tidak lepas dari konsep nilai yang melihat bahwa
perempuan itu sebagai gender yang layak untuk mendapat godaan. Hal ini tidak terjadi pada
buruh laki - laki yang dianggap sebagai pihak yang pantas melakukan gangguan dan godaan,
walaupun berkembang jauh menjadi pelecehan. Hal ini dapat pula di analisis berdasarkan
ketimpangan hubungan ekonomi. Berhubungan dengan tindakan yang sewenang - wenang yang
menyebabkan terjadinya pelecehan dan kekerasan seksual di tempat kerja. Tidak ada jaminan
keamanan dan hukum yang membuat perempuan memiliki kekuatan untuk terlibat dalam suatu
pekerjaan. Pelecehan seksual pada pekerja perempuan banyak terjadi dimana - mana. Di
lingkungan tempat bekerja, dalam perjalanan berangkat dan pulang kerja bahkan sampai ketika
anda sampai di rumah, bentuknya pelecehan bisa bermacam - macam, baik pelecehan tersebut
dilakukan secara verbal maupun non verbal.
Pelecehan seksual adalah bentuk diskriminasi seksual serius, yang sebagian besar dialami
oleh perempuan tapi tidak saja dialami perempuan saat mereka sudah bekerja namun pelecehan
dapat terjadi pada tahap rekrutmen atau selama bekerja. Ada dua jenis pelecehan seksual, yaitu
Pemerasan seksual (quid pro quo) dimana tindakan untuk memperoleh keuntungan kerja tertentu
(misalnya kenaikan pangkat, naik gaji) dengan syarat melakukan kegiatan seksual yang bermula
dari ajakan bersifat seksual dengan iming - iming jabatan, intimidasi dari atasan, sentuhan di
bagian tertentu. dan yang kedua lingkungan kerja yang bermusuhan, dimana tindakan untuk
menciptakan lingkungan kerja yang penuh intimidasi, bermusuhan atau hinaan terhadap sang
korban.
Pelecehan ternyata tidak hanya dilakukan oleh mandor atau atasan namun juga bisa
dilakukan oleh teman sekerja dan laki - laki secara umum. Teman sekerja menjadi pengganggu
yang cukup potensial. Gangguan ini sering menyebabkan perempuan meninggalkan tempat kerja
dan keluar, meskipun tidak ada jaminan untuk tidak akan dilecehkan kembali di tempat yang
baru. Pelecehan seksual di tempat kerja dapat diartikan sebagai segala macam bentuk perilaku
yang berkonotasi seksual yang dilakukan secara sepihak dan tidak diharapkan oleh orang yang
menjadi sasaran atau korban. Tindakan lain yang mencakup rentang pelecehan seksual meliputi
main mata, siulan nakal, komentar berkonotasi seks atau gender, humor porno, cubitan, colekan,
tepukan atau sentuhan di bagian tubuh tertentu, gerakan tertentu atau isyarat yang bersifat
seksual.
Salah satu kasus pelecehan seksual di tempat kerja yang pernah terjadi dan cukup
menghebohkan adalah kasus terbongkarnya gambar hasil rekaman seorang pengusaha Warnet di
kota Pati (Jawa Tengah) yang mengharuskan karyawannya mandi di kantor, lalu ia merekam
kegiatan tersebut melalui sebuah kamera di kamar mandi tersebut dan menghubungkannya ke
komputer di meja kerjanya. Pengusaha warnet tersebut juga membuat kuestioner yang isinya

cenderung berkonotasi seksual, misalnya: apakah reaksi anda jika dicium oleh bos anda? Diam
saja, ganti membalas, atau dianggap biasa. Ia juga membuat aturan yang cenderung aneh seperti
kewajiban mandi di kantor pada jam tertentu, tidak boleh memakai kain panjang atau celana
panjang (Tabloid Nova dalam Papu, 2002)
Penyebab pelecehan seksual yang sering terjadi karena adanya daya tarik seksual atau
rangsangan yang alami diantara dua jenis kelamin yang berbeda (Mackinnon, 1979). Ditambah
lagi wanita yang menjadi korban tidak berani menolak perlakuan karena takut kehilangan
pekerjaan. Menurut Mackinnon (1979), bidang pekerjaan bagi perempuan umumnya terbatas,
tidak seluas laki-laki. Karena keterbatasan itu wanita menjadi susah untuk menghindari tindak
pelecehan yang diterimanya. Contoh lain dari beberapa pelecehan seksual yang lebih ekstrim
adalah mengintimidasi / mengancam korban untuk melakukan berbagai kegiatan yang bisa
membuat korban tidak nyaman seperti ajakan melakukan hubungan seksual atau pemerkosaan.
Bila kita menganalisis ketimpangan gender pada kasus buruh perempuan di perusahaan
manufaktur dan pabrik ini, kita dapat melihat dan menganalisisnya dengan analisis gender.
Analisis gender dan feminis melihat kedudukan perempuan yang relatif rendah dalam
pasar tenaga kerja ini tidak dapat dipisahkan dari sistem sosial yang menempatkan perempuan
pada kedudukan yang lebih rendah dari laki - laki. (Anker dan Hein, 1986). Penjelasan penjelasan di atas berusaha melihat ketimpangan yang dialami oleh perempuan khususnya buruh
perempuan di pabrik - pabrik. Secara fakta dan uraian teoritis telah memperlihatkan bahwa
memang ada kondisi bias gender laki - laki di dalam pabrik, sehingga menimbulkan
ketidakadilan seperti marginalisasi, subordinasi, streotipe, yang semuanya menggunakan ukuran
nilai laki - laki yang terbungkus di dalam nilai - nilai patriarkhi. Ternyata pabrik sebagai
fenomena kapitalisme tetap saja mengadopsi nilai-nilai patriarkhi yang diwujudkan dalam
kerangka hubungan majikan dan buruh perempuan di dalam pabrik. Hal ini mengakibatkan
terjadinya perbedaan - perbedaan antara yang diterima buruh laki - laki dengan buruh perempuan
karena perbedaan gender. Perbedaan upah, pembagian kerja, jenjang karier, penyediaan fasilitas
kerja sampai kepada pelecehan seksual kesemuanya terjadi karena pemahaman tertentu terhadap
gender perempuan yang berakibat merugikan buruh perempuan itu sendiri, karena mereka terusmenerus dalam kondisi tertindas.
Kondisi - kondisi dari penjelasan fakta dan teoritis di atas dapatlah kita sampai pada suatu
permasalahan bahwa bias gender laki - laki di dalam pabrik yang mengakibatkan ketidakadilan
gender terhadap gender perempuan. Ketidakadilan gender ini tentu saja sangat merugikan buruh
perempuan yang termanifestasikan dalam bentuk perbedaan upah dan gaji, marginalisasi buruh
perempuan dengan penempatan kerja yang sangat dikotomis, kestatisan jenjang karier sampai
kepada pelecehan seksual. Kondisi ini terjadi dengan penyebab utama karena buruh perempuan
itu bergender perempuan dengan setumpuk nilai - nilai keperempuanannya sehingga ia dianggap
pantas mendapat perlakuan diskriminasi demikian. Hal ini bisa berjalan masih belum terlihat
pemberontakan karena nilai - nilai patriarkhi yang mendukung kepada hubungan yang sangat
tegas antara laki - laki dan perempuan.

Tinjauan Pustaka

Tabloid Annisa, Suara Kaum Perempuan No. III/12/1996, untuk kalangan sendiri.
Safitri, Astri Sundari. 2006. Gender, Industri, dan Pengaruhnya terhadap Otonomi Perempuan
dalam Pendidikan Anak: Kasus Pekerja Perempuan pada Industri Garment, di Kelurahan
Cibuluh, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, Propinsi Jawa Barat. Skripsi. Institut Pertanian
Bogor.
Mathis, & Jackson. (2001). Managemen sumber daya manusia. Jakarta : Salemba Emban Patria.
Mackinnon, A. (1979). Everyday life of a working woman. New York : Fresh Book
Papu, J. (2005). Pelecehan seksual di tempat kerja. www.e-psikologi.com. Diakses tanggal 20
juni 2007

Online
https://www.google.co.id/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=10&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwj0oJHU8LLK
AhWBS44KHSjRDVgQFghLMAk&url=http%3A%2F%2Flibrary.usu.ac.id%2Fdownload
%2Ffisip%2Fsosiologi-hadriana2.pdf&usg=AFQjCNEmh10OLK4YTT6Ha1ljDoqrrZQOw&bvm=bv.112064104,d.c2E
http://www.gajimu.com/main/pekerjaan-yanglayak/perlakuan-adil-saat-bekerja/pelecehanseksual/pelecehan-seksual
https://www.google.co.id/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=3&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwjPwc3p_LLKAh
UOGo4KHcySBXUQFggmMAI&url=http%3A%2F%2Fwww.gunadarma.ac.id