Anda di halaman 1dari 8

Masa remaja adalah suatu fase perkembangan yang dinamis dalam kehidupan

seseorang. Masa ini merupakan periode transisi dari masa anak ke masa dewasa
yang ditandai dengan percepatan perkembangan fisik, mental, emosional, dan
sosial (Monks, dkk, 2002). Masa remaja adalah masa transisi yang ditandai oleh
adanya perubahan fisik, emosi dan psikis dimana usianaya yakni antara 10-19
tahun dan masa ini adalah suatu periode pematangan organ reproduksi manusia,
dan sering disebut masa pubertas (Widiastuti, dkk, 2009).
Salah satu tanda seorang perempuan memasuki masa pubertas adalah terjadinya
menstruasi. Menstruasi adalah perubahan fisiologis dalam tubuh seorang
perempuan yang terjadi secara berkala yang dialami setiap bulan secara rutin
(Elvira, 2010). Menstruasi adalah siklus reproduksi pada wanita. Siklus tersebut
sangat kompleks, meliputi psikologis, panca indera, korteks serebri, hipofisis
(ovarialaksis), dan endrogen (uterus-endometrium, dan alat seks sekunder)
(Manuaba, 2009). Wanita biasanya pertama kali mengalami menarche pada umur
12-16 tahun (Kusmiran, 2011).
Nyeri haid atau dismenorre merupakan gangguan saat mentruasi yang ditandai
dengan adanya nyeri yang luar biasa sehingga anda tidak dapat melakukan
aktivitas. Gejala yang mungkin terjadi adalah dengan adanya rasa nyeri yang
seperti tertarik pada paha bagian dalam, mual-mual hingga muntah, sakit kepala
dan pusing. Dismenorre disebabkan karena rahim mengalami kontraksi. Reaksi dari
otot akan mempengaruhi prostaglandin. Prostaglandin akan mengalami
peningkatan ketika awal menstruasi kemudian menurun setelah terjadi menstruasi
sehingga mengakibatkan adanya rasa nyeri yang berkurang setelah hari pertama
menstruasi.
Ahli dismenorre dibagi menjadi dua yaitu dismenorre primer dan sekunder.
Dismenorre primer adalah rasa nyeri haid tanpa kelainan alat genetal yang nyata
(sifat nyeri menjalar dari perut bawah ke pinggang dan paha bahkan bisa diikuti
oleh mual, muntah, sakit kepala, dan diare), sedangkan dismenorre sekunder
adalah rasa nyeri yang dapat diidentifikasi penyebabnya seperti kelainan
ginekologik yaitu salpingitis, endometriosis, mioma, IUD dan lain-lain. Dismenorre
primer terjadi biasanya dalam waktu 6 bulan setelah menarche, hal ini disebabkan
karena siklus dari proses ovulasi. Kejadian dari dismenorre primer sangat
dipengaruhi oleh usia wanita karena semakin tua umur seseorang maka semakin
sering pula ia mengalami menstruasi dan semakin lebar leher rahim maka sekresi

hormon prostaglandin akan semakin berkurang (Novia dan Puspitasari, 2008). Rasa
nyeri yang dirasakan seorang wanita saat menstruasi biasanya karena
meningkatnya sekresi hormon prostaglandin sehingga terjadi kontraksi otot rahim
(miometrium) dan kontraksi pembuluh darah (vasokonstriksi).
Sekitar 1 miliar manusia atau setiap 1 di antara 6 penduduk dunia adalah remaja.
Sebanyak 85% di antaranya hidup di Negara berkembang (Kusmiran, 2012).
Berdasarkan kriteria WHO umur remaja berkisar antara 10-19 tahun. Angka kejadian
nyeri menstruasi di dunia cukup besar, rata-rata lebih dari 50% perempuan di setiap
Negara mengalami nyeri menstruasi. Di Amerika persentasenya sekitar 60%, di
Swedia sekitar 72%, sementara di Indonesia sendiri mencapai 55% (Proverawati
dan Misaroh, 2009).
Hasil sensus penduduk tahun 2010 menunjukkan bahwa jumlah penduduk
Indonesia yaitu sebesar 237.641.326 jiwa, dan 63,4 juta atau 27% di antaranya
adalah remaja umur 10-24 tahun (Sensus Penduduk, 2010). Berdasarkan data dari
National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES), umur rata-rata
menarche (menstruasi pertama) pada anak remaja di Indonesia yaitu 12,5 tahun
dengan kisaran 9-14 tahun. Di Indonesia angka kejadian dismenorre tipe primer
adalah sekitar 54,89% sedangkan sisanya penderita dengan dismenorre sekunder.
Dismenorre terjadi pada remaja dengan prevalensi berkisar antara 43% hingga
93%, dimana sekitar 74-80% remaja mengalami dismenorre ringan, sementara
angka kejadian endometriosis pada remaja dengan nyeri panggul diperkirakan 2538%, sedangkan pada remaja yang tidak memberikan respon positif terhadap
penanganan untuk nyeri haid, endometriosis ditemukan pada 67% kasus di
laparoskopi (Hestiantoro dkk, 2012).
Perlu diwaspadai jika nyeri haid terjadi terus menerus setiap bulannya dalam jangka
waktu yang lama, karena kondisi itu merupakan salah satu gejala endometritis
(penyakit kandungan yang disebabkan timbulnya jaringan otot non-kanker sejenis
tumor fibroid diluar rahim). Dismenorre dikelompokkan sebagai dismenore primer
saat tidak ada sebab yang dapat dikenali dan dismenore sekunder saat ada
kelainan jelas yang menyebabkannya (Sastrowardoyo, 2007).
Mengurangi dismenorre terdapat dua tindakan yaitu secara farmakologis dan non
farmakologis. Prosedur secara farmakologis dapat dilakukan dengan menggunakan
obat analgesic sebagai penghenti rasa sakit dan anti peradangan Non Steroid Anti
Inflamasi Drugs (NSAID) sedangkan prosedur non farmakologi dapat dilakukan

dengan relaksasi, hipnoterapi, kompres air hangat, olahraga teratur, distraksi yakni
dengan cara mengalihkan perhatian melalui kegiatan membaca, menonton TV,
mendengarkan radio dan mendengarkan musik (Arifin, 2008).
Manajemen nyeri non farmakologis, misalnya kompres hangat yaitu dimana
kompres hangat dapat meredakan iskemia dengan menurunkan kontraksi uterus
dan melancarkan pembuluh darah sehingga dapat meredakan nyeri dengan
mengurangi ketegangan dan meningkatkan perasaan sejahtera, meningkatkan
aliran menstruasi, dan meredakan Vasokongesti pelvis (Perry dan Potter, 2010).
Suatu hasil penelitian pertama ada perbedaan tingkat nyeri sebelum dan sesudah
diberikan kompres kering (buli- buli panas) pada ibu bersalin primipara terhadap
penurunan tingkat nyeri pada persalinan normal kala I fase aktif. Ini dapat dilihat
dari nilai rata- rata sebelum diberikan kompres panas kering 4,40 dengan standar
deviasi 0,498 sedangkan setelah diberikan kompres panas kering 3,17 dengan
standar deviasi 0,0699 dan p= 0,000 < 0,05 (Santri Nurul Fitriana, 2009).
Cara lain untuk menurunkan nyeri dismenore adalah pengalihan perhatian. Dimana
tehnik ini dengan memfokuskan diri kepada lingkungan. Lingkungan yang sangat
tenang dan sedikit membangkitkan input sensori. Perhatian harus cukup kuat untuk
melibatkan seluruh perhatian yang tidak menjemukan. Nyeri yang diderita sangat
luas memerlukan berbagai penarik perhatian yang berarti. Metode menarik
perhatian yang digunakan yaitu tehnik nafas dalam dan terapi musik (Long, 2009).
Siedlecki & Good pada tahun 2006 menemukan hasil yang berbeda dimana dalam
penelitian mereka pada 60 orang berusia 50 tahun yang mengeluh nyeri karena
mengidap penyakit osteoarthritis dan rheumatoid arthritis selama setengah tahun,
tidak ditemukannya perbedaan yang signifikan antara musik kesukaan dari sampel
dengan musik pilihan dari peneliti (dimana musik yang digunakan yaitu, jazz, harp,
orchestra, piano, dan synthesizer) (ScienceDaily, 2006).
Berdasarkan uraian tersebut, maka penulis tertarik untuk meneliti tentang
Perbandingan Efektivitas Kompres Air Hangat Dan Terapi Musik Klasik Love Story
Terhadap Penurunan Dismenorre Pada Siswi SMA Negeri 01 Pangkalan Kuras Kab.
Pelelawan

Uji statistic menggunakan non parametrik yaitu uji wilcoxon. Uji beda selisih
menggunakan Mann-whitney didapatkan nilai p:0,222 (p>0,05). Hasil uji statistik

menunjukkan tidak adanya pengaruh kompres panas dan kompres dingin terhadap pengurangan
nyeri OA sendi lutut

menunjukkan hasil uji hipotesis antara post test nyeri pada


osteoarthritis sendi lutut dengan nilai p> 0,05 sehingga keputusan yang diambil
adalah Ho ditolak, artinya tidak ada beda pengaruh penurunan nyeri pada
osteoarthritis sendi lutut antara terapi panas dan terapi dingin pada subyek
penelitian di posyandu lansia Desa Nglangon Kelurahan Karang Tengah Sragen
bulan Agustus-September 2012.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah


dilakukan pada remaja putri di SMP Negeri 21
Pekanbaru didapatkan responden terbanyak adalah
umur 14 tahun yaitu pada kelompok kompres
hangat 17 orang (68,0%) dan kelompok kompres
dingin 16 orang (64,0%). Menurut Bobak (2004)
usia ini merupakan kategori remaja awal yang
mana pada masa ini terjadi manarche (menstruasi)
dan disertai dengan rasa nyeri. Nyeri ini biasanya
lebih meningkat terjadi dari bulan keenam sampai
tahun kedua setelah menstruasi pertama kali.
Menstruasi pertama kali biasanya terjadi umur 12
tahun sehingga dismenorea lebih banyak terjadi
pada usia 14 tahun. Selain itu pada usia tersebut
terjadi perkembangan organ-organ reproduksi dan
perubahan hormonal yang signifikan. Menurut
Muttaqin (2011), umur merupakan variabel yang
mempengaruhi nyeri. Perbedaan perkembangan
yang ditemukan antara kelompok usia dapat
mempengaruhi bereaksi terhadap nyeri.
Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang
dilakukan oleh Novia (2008), tentang faktor resiko
yang mempengaruhi kejadian dismenorea primer,
yang mana hasil penelitian menunjukkan umur
adalah salah satu faktor yang mempengaruhi
kejadian dismenorea dan pada usia remaja awal
termasuk salah satu usia yang paling sering
mengalami dismenorea.
Selain itu, responden berasal dari berbagai
suku yaitu Melayu, Minang, Sunda, Jawa dan
Batak dengan suku Melayu yang terbanyak
(42,0%). Hasil penelitian ini sesuai dengan data
Badan Pusat Statistik Provinsi Riau (2010) yakni
suku melayu merupakan masyarakat terbesar

dengan komposisi 37,74% dari seluruh penduduk


Riau. Suku Jawa dan suku Sunda pada umumnya
banyak berada pada kawasan transmigran
sedangkan suku Minang umumnya banyak
bermukim pada kawasan perkotaan seperti
Pekanbaru, Dumai dan Kampar.
Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang
dilakukan oleh Septiani (2007) tentang efektivitas
terapi mozart terhadap penurunan skala nyeri saat
menstruasi pada mahasiswi PSIK-UR program A
2007, didapatkan hasil sebagian besar responden
berasal dari suku melayu. Hal ini dikarenakan
faktor suku sangat berperan penting terhadap
respon seseorang terhadap nyeri. Menurut teori
Muttaqin (2011) yang mengatakan bahwa suku
dan nilai-nilai budaya mempengaruhi cara
individu mengatasi nyeri. Individu mempelajari
apa yang diharapkan dan apa yang diterima oleh
kebudayaan mereka. Hal ini meliputi bagaimana
bereaksi terhadap nyeri.

Tujuan dari kompres hangat adalah pelunakan jaringan


fibrosa, membuat otot tubuh lebih rileks, menurunkan rasa nyeri, dan
memperlancar pasokan aliran darah dan memberikan ketenangan pada
klien. Kompres hangat yang digunakan berfungsi untuk melebarkan
pembuluh darah, menstimulasi sirkulasi darah, dan mengurangi
kekakuan
Smeltzer & Bare (2002), mengemukakan bahwa energi panas
yang hilang atau masuk ke dalam tubuh melalui kulit dengan empat
cara yaitu: Pertama, konduksi: adalah perpindahan panas akibat
paparan langsung kulit dengan benda-benda yang ada di sekitar
tubuh. Biasanya proses kehilangan panas dengan mekanisme
konduksi sangat kecil. Sentuhan dengan benda umumnya memberi
dampak kehilangan suhu yang kecil karena dua mekanisme, yaitu
kecenderungan tubuh untuk terpapar langsung dengan benda relative
jauh lebih kecil dari pada paparan dengan udara, dan sifat isolator
benda menyebabkan proses perpindahan panas tidak dapat terjadi
secara efektif terus-menerus.
Kedua Konveksi, perpindahan panas berdasarkan gerakan
fluida dalam hal ini adalah udara, artinya panas tubuh dapat
dihilangkan bergantung pada aliran udara yang melintasi tubuh
manusia. Konveksi adalah transfer dari energy panas oleh arus udara

maupun air. Saat tubuh kehilangan panas melalui konduksi dengan


udara sekitar yang lebih dingin, udara yang bersentuhan dengan kulit
menjadi hangat. Karena udara panas lebih ringan dibandingkan udara
dingin, udara panas berpindah ketika udara dingin bergerak ke kulit
untuk menggantikan udara panas. Pergerakan udara ini disebut arus
konveksi, membantu membawa panas dari tubuh. Kombinasi dari
proses konveksi dan konduksi guna membawa pergi panas dari tubuh
dibantu oleh pergerakan paksa udara melintasi permukaan tubuh,
seperti kipas angin, angin, pergerakan tubuh saat menaiki sepeda dan
lain-lain.
Ketiga adalah radiasi, radiasi adalah mekanisme kehilangan
panas tubuh dalam bentuk gelombang panas inframerah. Gelombang
inframerah yang dipancarkan dari tubuh memiliki panjang
gelombang 520 mikrometer. Tubuh manusia memancarkan
gelombang panas ke segala penjuru tubuh. Radiasi merupakan
mekanisme kehilangan panas paling besar pada kulit 60 % atau 15 %
seluruh mekanisme kehilangan panas. Panas adalah energi kinetik
pada gerakan molekul. Sebagian besar energi pada gerakan ini dapat
di pindahkan ke udara bila suhu udara lebih dingin dari kulit. Sekali
suhu udara bersentuhan dengan kulit, suhu udara menjadi sama dan
tidak terjadi lagi pertukaran gas, yang terjadi hanya prosespergerakan
udara sehingga udara baru yang suhunya lebih dingin dari suhu
tubuh.
Keempat adalah evaporasi, evaporasi (penguapan air dari
kulit) dapat memfasilitasi perpindahan panas tubuh. Setiap satu gram
air yang mengalami evaporasi akan menyebabkan kehilangan panas
tubuh sebesar 0,58 kilokalori. Pada kondisi individu tidak
berkeringat, mekanisme evaporasi berlangsung sekitar 450-600
ml/hari. Hal ini menyebabkan kehilangan panas terus menerus
dengan kecepatan 12-16 kalori per jam. Evaporasi ini tidak dapat
dikendalikan karena evaporasi terjadi akibat difusi molekul air secara
terus-menerus melalui kulit dan sistem pernafasan.
Prinsip kerja kompres hangat dengan mempergunakan bulibuli
panas yang dibungkus kain yaitu secara konduksi dimana terjadi
perpindahan panas dari buli-buli panas ke dalam perut yang akan
melancarkan sirkulasi darah dan menurunkan ketegangan otot
sehingga akan menurunkan nyeri pada saat dismenorea primer,
karena pada wanita yang dismenorea ini mengalami kontraksi uterus
dan kontraksi otot polos. Menurut Perry & Potter (2005), kompres
hangat dilakukan dengan mempergunakan buli-buli panas yang
dibungkus kain yaitu secara konduksi dimana terjadi pemindahan
panas dari buli-buli ke dalam tubuh sehingga akan menyebabkan
pelebaran pembuluh darah dan akan terjadi penurunan ketegangan
otot sehingga nyeri haid yang dirasakan akan berkurang atau hilang.
B. Hasil Penelitian yang Relevan
Penelitian yang telah membuktikan tentang keberhasilan teknik

relaksasi nafas dalam dan kompres hangat dapat menurunkan tingkat nyeri
diantaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh Yusrizal, Yus, (2012)
dengan judul: Pengaruh Teknik Relaksasi Nafas dalam dan Masase Terhadap
Penurunan Skala Nyeri Pada Pasien Pasca Apendiktomi Di Ruangan Bedah
RSUD Dr. M. Zein Painan, menggunakan desain quasy-eksperimen dengan
rancangan pretest-posttest with control group, menyimpulkan bahwa teknik
relaksasi nafas dalam dan masase dapat menurunkan skala nyeri pada klien
pasca apendiktomi dengan hasil uji statistik kelompok eksperimen dan
kelompok control didapatkan nilai p = 0,000 ( p<0,05). Perbedaan penelitian
Yusrizal, Yus (2012) dengan penelitian ini yaitu terletak pada variabel bebas
dan terikat, pada penelitian ini menggunakan rancangan pretest-posttest
design.
Penelitian yang hampir sama juga dilakukan oleh Ryanti Primandani
Putri (2011) dengan judul: Pengaruh Tehnik Relaksasi Nafas Dalam dan
Mendengarkan Ayat Al-Quran Terhadap Tingkat Nyeri Saat Menstruasi Pada
Mahasiswa PSIK menyebutkan bahwa pada
kelompok eksperimen terdapat penurunan nyeri menstruasi 73,3% dengan
nilai P = 0,000 sedangkan pada kelompok kontrol, tidak terdapat penurunan
nyeri yang signifikan, ditandai dengan P = 0,317. Perbedaan dengan
penelitian ini terletak pada variabel bebas, pada penelitian ini variabel
bebasnya adalah relaksasi dan kompres hangat.
Penelitian lain yang hampir sama adalah penelitian yang dilakukan oleh
Ernawati (2010), yang berjudul Terapi Relaksasi terhadap Nyeri Dismenore
Pada Mahasiswi Universitas Muhhammadiyah Semarang, menyebutkan
bahwa ada perbedaan bermakna antara nyeri dismenore sebelum dan sesudah
dilakukan teknik relaksasi nafas dalam pada mahasiswa S-1 Keperawatan
UNIMUS dan ada pengaruh teknik relaksasi nafas dalam dengan nyeri
dismenore yang ditandai kelompok eksperimen mengalami penurunan nyeri
dari 31 orang (62 %) nyeri sedang menjadi nyeri ringan sebanyak 35 orang
(70 %) dari sampel sejumlah 50 orang dengan uji wilcoxon diketahui nilai
significant difference p = 0,000, < (0,05). Perbedaan dengan penelitian ini
adalah penelitian yang dilakukan oleh ernawati, hanya satu variable bebas,
sedangkan pada penelitian ini ada dua variable bebas.
Penelitian sejenis yang hampir sama juga dilakukan oleh
Rahayuningrum (2012), yang berjudul Perbedaan Pengaruh Teknik Relaksasi
Nafas Dalam Dan Kompres Hangat Dalam Menurunkan Dismenorea Pada
Remaja SMA Negeri 3 Padang, menggunakan desain Quasy Eksperiment,
menyebutkan terdapat penurunan yang bermakna pada skala dismenorea pada
masing-masing kelompok (p=0,000). Analisa bivariat menunjukkan tidak
terdapat perbedaan yang bermakna penurunan skala dismenorea pada remaja
yang diberi teknik relaksasi nafas dalam dan kompres hangat. Perbedaan
dengan penelitian ini adalah pada penelitian Rahayuningrum uji statistik yang
digunakan adalah uji t, sedangkan pada penelitian ini menggunakan MannWhitney U Test.
Penelitian yang hampir sama juga dilakukan oleh Fanada (2012), yang
berjudul Pengaruh Kompres Hangat dalam Menurunkan Skala Nyeri Pada

Lansia yang Mengalami Nyeri Rematik Di Panti Sosial Tresna Werdha


Teratai Palembang, hasil penelitian dengan uji T Dependen diperoleh nilai
significancy 0,000 ( p value < 0,05), menunjukkan adanya perbedaan skala
nyeri yang signifikan antara sebelum dikompres hangat dengan sesudah
kompres hangat, diperoleh mean sebelum dikompres hangat adalah 2,45
dengan standar deviasi 0,510, sedangkan pada skala nyeri sesudah dikompres
hangat didapatkan mean 0,20 dengan standar deviasi 0,410 sehingga dapat
ditarik kesimpulan bahwa kompres hangat dapat menurunkan skala nyeri
pada lansia yang mengalami rematik. Perbedaan dengan penelitian ini adalah
penelitian yang dilakukan oleh Fanada, hanya satu variabel bebas, sedangkan
pada penelitian ini ada dua variabel bebas.