Anda di halaman 1dari 29

BAB II

(ISI)
I.

Prinsip Prinsip Pengembangan Masyarakat


Jim Ife (2002) mengutarakan 26 prinsip dalam pengembangan
masyararakat yang dikelompokkan ke dalam prinsip ekologis, prinsip
keadilan sosial, prinsip menghargai lokal, prinsip proses, serta prinsip global
dan lokal. Ife menekankan bahwa prinsip-prinsip community development
tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi saling berhubungan dan terkait. Prinsipprinsip community development yang disampaikan oleh ife (2002) adalah
sebagai berikut ;
Pertama, prinsip-prinsip ekologis (Ecological principles). Dalam prinsip
ini terdapat lima unsur yang menjadi basis community development
yaitu; Holisme (Holism), Keberlanjutan (Sustainability), Diversitas atau
Keberagaman (Diversity), Pembangunan Bersifat Organik (Organic
development)

dan

Pembangunan

yang

Seimbang

(Balanced

development).
Kedua, Prinsip Keadilan Sosial (Social justice principles). Dalam
community development, penting untuk selalu memadukan pendekatan
ekologis dengan gagasan keadilan sosial. Terdiri dari ; Memusatkan
Perhatian pada Keadaan Struktur yang Merugikan (Addressing structural
disadvantage), Memusatkan Perhatian pada Wacana yang Merugikan
(Addressing

discourses

of

disadvantage),

Pemberdayaan

(Empowerment), Mendefinisikan Kebutuhan (Need definition) dan Hak

Asasi Manusia (Human rights).


Ketiga, Prinsip Menghargai Lokal (Valuing the local). Aksi dari berbasis
kesadaran lokal dewasa ini menjadi perhatian berbagai kalangan. Tema
ini menjadi menguat ketika sentralisme terbukti gagal dalam pelaksanaan
pembangunan. Prinsip lokal tersebut bisa dimaknai sebagai ; Menghargai
Pengetahuan Lokal (Valuing local knowledge), Menghargai Kebudayaan
Lokal (Valuing local culture), Menghargai Sumber Daya Lokal (Valuing

local resources), Menghargai Keahlian Lokal (Valuing local skills),


Menghargai Proses Lokal (Valuing local processes)
Keempat, Prinsip Proses (Process principles). Community development

memandang lebih penting pada prosesnya daripada pada hasilnya, oleh


karena itu banyak penerapan prinsip-prinsip penting community
development terfokus pada gagasan proses. Terdiri dari ; Proses, Hasil,
dan Visi (Process, outcome and vision), Keterpaduan Proses (The
integrity of process), Meningkatkan Kesadaran (Consciousness raising),
Partisipasi (Participation), Kerjasama dan Konsensus (Cooperation and
consensus), Gerak Pembangunan (The pace of development), Damai dan
Tanpa Kekerasan (Peace and non-violence), Inklusif (Inclusiveness),
Membangun Masyarakat (Community building).
Kelima, Prinsip Global dan Lokal (Global and local principles).

Hubungan antara global dan lokal saat ini telah menjadi bagian yang
nyata dari seluruh praktik community development, dan perlu dijadikan
bagian untuk menyadarkan setiap community worker. Prinsip global dan
lokal dalam hal ini adalah Mengkaitkan Global dan Lokal (Linking the
global and the local) dan Praktik Anti Penjajah (Anti-colonialist practice)
Tabel 2.1 Prinsip Pengembangan Masyarakat Menurut Ife (2000)
PRINSIP-PRINSIP

EKOLOGIS

Holisme

Keberlanjutan

Keanekaragaman

Perkembangan Organik

Keseimbangan

KONSEKUENSI / DESKRIPSI
Filosofi ekosentris, Menghormati kehidupan
dan alam, Menolak solusi linear, Perubahan
organik.
Konservasi, Mengurangi konsumsi, Ekonomi
tanpa-pertumbuhan, Membatasi
perkembangan teknologi, Anti-kapitalis.
Menghargai perbedaan, tidak ada jawaban
tunggal, Desentralisasi, Komunikasi jejaring
dan lateral, Tekonologi tingkat rendah.
Menghormati & menghargai sifat2 khusus
suatu masyarakat, dan memungkinkan serta
mendorongnya untuk berkembang sesuai
sesuai dengan caranya yang unik.
Global/lokal, Yin/Yang, Gender,
Hak/tanggungjawab, Perdamaian dan
koperasi.

KEADILAN SOSIAL & HAM

Struktur2 & proses2 pengembangan


masyarakat dpt memperkokoh struktur2
penindasan yg dominan, mis. dengan
membabi-buta ikut memenuhi prosedur2
pihak penguasa.
Mengatasi struktur yang
6
Pekerja Masy. perlu membantu masyarakat
merugikan
untuk membicarakan permasalahan dan
kegelisahan mereka, dan mulai menemukan
segala sesuatu secara bersama, bukan secara
perorangan, agar mereka mampu melakukan
sesuatu mengenai diri mereka.
Perlu bagi pekerja untuk mampu
mengidentifikasi dan membongkar wacana
kekuasaan dan memahami bagaimana
Mengatasi wacana2
7
wacana itu memberikan hak istimewa secara
yang merugikan
efektif dan memberdayakan sebagian
masyarakat, sementara memarjinalkan dan
melemahkan sebagian masyarakat lainnya.
Pemberdayaan adalah suatu bentuk
perubahan yang radikal, yang akan
menjatuhkan struktur2 dan wacana dominasi
yang ada.
8 Pemberdayaan
Membantu menciptakan masyarakat yang
lebih berkeadilan secara sosial, dan
pemberdayaan untuk anggota masyarakat
lokal, terciptanya struktur berbasis
masyarakat yang lebih efektif.
Hak Asasi Manusia penting bagi kerja
masyarakat baik dalam pengertian negatif
(perlindungan hak asasi manusia), maupun
pengertian positif (promosi mengenai hak
asasi manusia). Dalam pengertian negatif,
sangat diperlukan bahwa proyek
9 Hak Asasi Manusia
pengembangan masyarakat selaras dengan
prinsip2 dasar hak asasi manusia, antara lain
hak untuk mendapatkan pekerjaan yang
layak, hak untuk kebebasan berkumpul, dan
hak kebebasan berekspresi perlu dilindungi
(dokumen PBB).
10 Definisi kebutuhan
Fokus penting dari praktik sosial yang sangat
mendasar (Fay, 1987) adalah mengajak
masyarakat berdialog yang akan
mengantarkan mereka menjadi lebih
memahami kebutuhan mereka 'yang
sesungguhnya' (Marcuse, 1964), dan bukan
meminta definisi kebutuhan yang dibuat oleh

orang/pihak lain.

11

Menghargai
pengetahuan lokal

12

Menghargai budaya
lokal

13

Menghargai sumber
daya lokal

Menghargai
14 keterampilan
masyarakat lokal
15 Menghargai proses
lokal

Bahwa pengetahuan dan keahlian lokal


mungkin menjadi paling bernilai dalam
memberikan informasi tentang
pengembangan masyarakat, dan pengetahuan
serta keahlian lokal ini perlu diidentifikasi
dan diterima, bukan ditempatkan lebih
rendah dari pengetahuan dan keahlian orang
luar. Tentunya ada saat2 kapan pengetahuan
dari luar diperlukan, tapi hal ini harus
menjadi opsi terakhir, hanya setelah
pengetahuan yang diperlukan dari
masyarakat itu tidak tersedia.
Menghargai budaya lokal diperlukan untuk
mengatasi persoalan globalisasi budaya yang
merampas identitas budaya masyarakat, dan
bahwa tradisi dan proses budaya lokal diakui
dan didukung sebagai bagian dari proses
pengembangan masyarakat, dengan catatan
budaya lokal itu tidak bertentangan dengan
prinsip hak asasi manusia, keberlanjutan dan
kebutuhan untuk mengatasi struktur dan
wacana yang merugikan.
Gagasan mengenai menetapkan
kebutuhannya sendiri (self-reliance) pada
prinsip no. 10, mengimplikasikan bahwa
masyarakat seharusnya berupaya
memanfaatkan sumber daya-nya sendiri
(sumber daya finansial, teknik, alam dan
manusianya), bukan mengandalkan
dukungan dari luar.
Bagaimanapun, masyarakat lokal adalah
orang2 yang paling mengetahui masyarakat
dan konteks lokalnya, dan keterampilan2
yang telah dikembangkan secara lokal
mungkin menjadi keterampilan2 yang akan
sangat dibutuhkan dalam lingkungan
tersebut.
Karena segala sesuatu tidak akan berhasil
ketika dipaksakan dari luar, sehingga struktur
dan proses berbasis masyarakat dipandang
sebagai alternatif yang lebih tepat.

16 Partisipasi

17 Proses, hasil dan visi

PROSES
18 Integritas proses

19 Menumbuhkan
kesadaran

Pendekatan pengembangan masyarakat perlu


benar2 bertolak dari dalam masyarakat,
dengan cara yang sesuai dengan konteks
yang spesifik dan sangat peka terhadap
budaya masyarakat lokal, tradisi dan
lingkungan.
Pekerja masyarakat perlu memahami
kompleksitas partisipasi, cara yang
diperjuangkan dan tujuan yang berbeda yang
hendak dicapai. Golongan, gender, dan
ras/etnis perlu diperhatikan dalam partisipasi
(untuk menjaga inklusivitas)
Sebuah analisis partisipasi sebagai
pemberdayaan sangatlah penting. Suatu
apresiasi dari serangkaian pengetahuan dan
keterampilan sangat diperlukan untuk
memaksimalkan partisipasi dan penggunaan
keterampilan ini menjadi sentral untuk
proses bottom-up.
Sangat untuk membicarakan visi, bukan
hasil; hal ini memang kurang spesifik
dibandingkan gagasan mengenai hasil, tapi
masih menekankan pentingnya
menempatkan gagasan mengenai dimana kita
mulai, dan untuk apa semua itu, serta penting
bahwa ide ini dicakup dalam
mempertimbangkan proses, karena ide
tersebut memberikan visi yang menetapkan
tujuan bagi proses.
Proses dalam pengembangan masyarakat
lebih penting daripada hasil, tetapi dalam
pengertian yang sesungguhnya hasil tetap
penting; bagaimanapun, tujuan diharapkan
untuk membangun proses masyarakat yang
dapat berjalan dengan baik. Oleh karena itu,
proses harus sesuai dengan, dan juga
mencerminkan harapan visi atau hasil,
menyangkut isu-isu keberlanjutan, keadilan
sosial dan hak asasi manusia.
Pekerja masyarakat perlu dapat melihat dan
menggunakan peluang apapun untuk
melakukan penumbuhan kesadaran secara
informal, selama percakapan sehari-hari
dengan orang2 di masyarakat.

20

Kerja-sama dan
konsensus

21 Langkah pembangunan

22

Perdamaian dan antikekerasan

23 Inklusivitas

24 Membangun
masyarakat

Ada empat aspek penumbuhan kesadaran,


yaitu : hubungan personal dan politik,
mengembangkan hubungan dialogis, berbagi
pengalaman tentang penindasan, dan
membuka kemungkinan untuk bertindak.
Perspektif ekologis dan pendekatan tanpa
kekerasan, keduanya menekankan
pentingnya struktur kooperatif, bukan
struktur kompetitif. Oleh karena itu, perlu
membangun struktur dan proses alternatif,
yang didasarkan pada kerjasama, bukan
konflik, dengan pembuatan keputusan secara
mufakat atau konsensus.
Konsekuensi alamiah dari perkembangan
organis, yaitu bahwa masyarakat itu sendiri
yang harus menentukan langkah untuk
melakukan perkembangan. Usaha untuk
'mendorong' proses pengembangan
masyarakat yang terlalu cepat dapat
menimbulkan proses yang dikompromikan,
masyarakat jadi kehilangan rasa memiliki
proses itu, dan hilang juga komitmen orang2
yang terlibat.
Dalam konteks ini, prinsip anti kekerasan
menyatakan lebih dari sekadar membebaskan
kekerasan fisik di antara orang-orang.
Gagasan tentang kekerasan struktural berarti
bahwa struktur dan institusi sosial dapat
dipandang sebagai suatu bentuk kekerasan.
Bahwa proses harus mencoba untuk
menegaskan, bukan menyerang, untuk
mencakup, bukan mengucilkan, bekerja
berdampingan, bukan bersaing, dan
menengahi, bukan menghadapi.
Bahwa proses yang berjalan selalu mencoba
untuk merangkul bukan mengucilkan; semua
orang pada hakikatnya dihargai sekalipun
mereka menyampaikan pandangan yang
bersebrangan, dan orang2 dimungkinkan
memiliki peluang untuk mengubah posisi
mereka dari suatu persoalan tanpa 'wajah
kekalahan'.
Selalu berupaya menyadarkan orang2nya,
memperkuat ikatan di antara anggota2nya
dan menekankan ide tentang salingketergantungan (interdependen), bukan

GLOBAL & LOKAL

ketergantungan (dependen), bukan juga


kemandirian (independen). Jadi memperkuat
hubungan di antara orang2 melalui
membangun masyarakat (community
building).
Dalam memahami suatu masyarakat, seorang
Menghubungkan yang
pekerja masyarakat harus mampu memahami
25
global dan lokal
global maupun lokal, dan bagaimana
keduanya saling mempengaruhi/berinteraksi
Pekerja Masy. perlu melawan praktek
kolonialis :
1. melalui kesadaran diri yang kritis (selfawareness), kesadaran politik dan
perenungan
2. pekerja yg menempatkan dirinya dalam
budaya yg dominan atau menguasai perlu
menjabarkan implikasinya
3. menyediakan ruang utk memunculkan
wacana dan tindakan alternatif,
mengungkapkan perlawanan alamiah dari
pihak yang terjajah
26 Praktik anti-kolonialis
4. dengan melangkah mundur, mendengar
dan belajar, sebelum terburu-buru
mengambil tindakan
5. menjaga solidaritas dengan masyarakat
dan berbagi agenda umum
6. bekerja dengan masyarakat
7. menerapkan uji timbal balik, dan bertanya
bagaimana pekerja akan merasakan jika
situasinya terbalik, dan dirinya yang dikenai
'pembangunan' yang diajukan untuk
masyarakat
Menurut Ife (1995) ada 22 (dua puluh dua) prinsip dalam
pengembangan masyarakat, beberapa prinsip yang mendasar yaitu:
a. Integrated Development (Pembangunan Terpadu dan Seimbang)
Kegiatan pengembangan masyarakat harus merupakan

sebuah

pembangunan yang terintegrasi, yang dapat mencakup berbagai aspek


kehidupan manusia, yaitu sosial, ekonomi, politik, budaya, lingkungan,
dan spiritual. Dengan kata lain, ketika kegiatan pengembangan masyarakat
difokuskan pada satu aspek, maka kegiatan tersebut harus memperhatikan
dan memperhitungkan keterkaitan dengan aspek lainnya.
b. Human Right (Menjunjung Tinggi Hak Asasi Manusia)

Kegiatan pengembangan harus dapat menjamin adanya pemenuhan hak


bagi setiap manusia untuk hidup secara layak dan baik. Hak hak yang
perlu diperhatikn oleh pemerintah adalah pemenuhan tiap standard
kehidupan, hak untuk mendapatkan pendidikan, hak untuk berpartisipasi
dalam kehidupan cultural komunitasnya hak untuk berkembang secara
mandiri dan hak untuk mendapat perlindungan keluarga.
c. Sustainability (Berkelanjutan)
Dua aspek penting dalam rangka mewujudkan keberlanjutan pembangunan
adalah pentingnya pembangunan tersebut memperhatikan dimensi
keseimbangan ekologis dan keadilan social. Kegiatan pengembangan
masyarakat harus memperhatikan keberlangsungan lingkungan, sehingga
penggunaan bahan-bahan yang non-renewable harus diminimalisir. Hasil
kegiatan pengembangan masyarakat pun tidak menimbulakn dampak
buruk bagi lingkungan hidup manusia. Sustainability ini mengandung
pengertian pula bahwa kegiatan pengembangan tidak hanya untuk
kepentingan sesaat, namun harus memperhatikan sifat keberlanjutan dari
kegiatan yang direncanakan. Peminimalan terhadap polusi lingkungan dan
konservasi terhadap SDA menjadi issue utama dari pendekatan ekologis
ini. Pada aras keadilan social, distribusi pendapatan yang proposional dari
Negara terhadap warga negaranya menjadi issue yang perlu dikedepankan.
d. Empowerment (Pemberdayaan)
Pemberdayaan merupakan tujuan dari pengembangan masyarakat.
Pemberdayaan

mengandung

arti

menyediakan

sumber-sumber,

kesempatan, pengetahuan dan keterampilan kepada warga masyarakat


untuk meningkatkan kapasitasnya agar dapat menentukan masa depannya,
dan dapat berpartisipasi dalam kehidpan masyarakat dan mempengaruhi
kehidupan masyarakat. Termasuk di dalamnya menghilangkan berbagai
hambatan yang akan menghalangi perkembangan masyarakat. Hal ini juga
berarti bahwa pengembangan masyarakat menjadi proses belajar bagi
masyarakat

untuk

meningkatkan

dirinya,

pengembangan masyaakat dapat berkelanjutan.


e. Self Reliance (Kemandirian)

sehingga

keghiatan

Masyarakat ini berusaha untuk mencari kegunaan dari sumber-sumber


apapun yang mungkin didapatkan daripada mengandalkan dukungan
eksternal. Sumber-sumber tersebut meliputi finansial, teknik, natural dan
manusia.

Kegiatan

pengembangan

masyarakat

sedapat

mungkin

memanfaatkan berbagai sumber yang dimiliki oleh masyarakat daripada


menggantungkan kepada dukungan dari luar. Adapun sumber yang berasal
dari luar haruslah hanya sebagai pendukung saja. Kemandirian komunitas
akan sangat bermanfaat dalam menghadapi ketidak pastian krisis.
f. Organic Development (Pembangunan Organis)
Kegiatan pengembangan merupakan proses yang kompleks dan dinamis.
Selain itu, masyarakat sendiri mempunyai sifat organis. Oleh karena itu,
untuk bisa berkembang membutuhkan lingkungan dan kondisi yang sesuai
dengan

keadaan

masyarakat

yang

unik.

Untuk

itu

percapatan

perkembangan masyarakat hanya bisa ditentukan oleh masyarakat itu


sendiri, dalam pengertian ditentukan oleh kondisi dan situasi pada
masyarakat.
g. The Integrity of Process (Proses Intergritas)
Pengembangan masyarakat tidak hanya mementingkan hasil, namun juga
prosesnya itu sendiri. Proses di dalam pengembangan masyarakat akan
melibatkan berbagai pihak, berbagai teknik, berbagai strategi, yang
kesemuanya harus terintegrasi dan memberikan kesempatan kepada
masyarakat untuk belajar. Proses yang digunakan dalam pengembangan
masayrakat sama pentingnya dengan hasilnya, dan dalam segala sudut
pandang dalam melihat hasil tujuan,. Integritas dari proses adalah
bertujuan untuk menjamin peningkatan pengembangan masyrakat.
h. Co-operation (Kooperasi)
Pengembangan masyarakat lebih membutuhkan struktur yang kooperatif,
mengingat proses pengembangan masyarakat dilakukan untuk dalam
kondisi yang harmonis dan tanpa kekerasan. Kerjasama akan dapat lebih
menguntungkan, karena dalam prosesnya terjadi saling melengkapi dan
saling belajar. Kooperasi mengasumsikan bahwa problem maupun masalah
social yang dihadapi tidak sekedar menjadi tanggung jawab dari komunitas

itu sendiri, melainkan juga harus diatasi bersama sama dengan


komunitas lain.
i. Participation (Partisipasi)
Pengembangan masyarakat sedapat mungkin memaksimalkan partisipasi
masyarakat, dengan tujuan agar setiap orang dapat terlibat secara aktif
dalam aktivitas dan proses masyarakat. Partisipasi ini juga harus
didasarkan kepada kesanggupan masing-masing. Artinya bahwa setiap
orang akan berpartisipasi dengan cara yang berbeda-beda. Dengan
demikian perlu diperhatikan adanya upaya-upaya yang dapat menjamin
partisipasi dari berbagai kelompok masyarakat. Banyaknya warga
masyarakat yang aktif untuk berpartisipasi, maka semakin ideal
kepemilikan komunitas dan proses untuk membuat pe\mbangunan
masyarakat

sebagai

sesuatu

yang

bersifat

inklusif

akan

dapat

direalisasikan.
j. The Personal and The Political (Pembangunan Personal dan Politik)
Hubungan antara personal, political, individu, struktural atau masalahmasalah pribadi dan masalah-masalah umum merupakan komponen
penting dari pengembangan masyarakat. Hal itu hanya jika hubungan ini
membuat kebutuhan-kebutuhan manusia, masalah, aspirasi, derita dan
penerimaan dapat diartikan ke dalam level kegiatan masyarakat yang
efektif.
k. Community Owneship (Pemilikan Komunitas)
Dasar dari pengembangan masyarakat merupakan konsep dari kepemilikan
masyarakat dan kunci prinsipnya adalah untuk memperluas kepemilikan
masyarakat dan berusaha untuk menyusunnya dalam masyarakat yang
tidak memilikinya. Perluasan pemilikan komunitas menjadi aspek penting
dalam pembangunan komunitas, dapat mendorong tumbuhnya rasa
memiliki terhadap identitas komunitas, dapat memberikan alasan bagi
seseorang untuk menjadi aktif terlibat dalam setiap level komunitas, dan
dapat mendorong penggunaan sumber daya secara lebih efisien.
l. Independence from The State (Independen dari Negara)
Pendekatan dalam pengembangan masyarakat harus dapat meminimalisir
bantuan dana dari pemerintah, dana tersebut dapat diperoleh dari sumber
lain.. jika pengembangan masyarakat tidak bergantung pada pemerintah

maka kedudukannya akan lebih kuat sehingga dapat mengkritik


pemerintah dan bebas dari intervensi pemerintah.
m. Immediate Goals and Ultimate Visions (Tujuan Dekat (Antara) dan Visi
Akhir Jangka Panjang)
Bagi pengembangan masyarakat, kedua elemen tersebut sangat penting,
sehungga perlu untuk mempertahankan keseimbangan antara tujuan jangka
pendek dan jangka panjang. Dalam konteks ini, memiliki makna bahwa
meskipun dalam jangka pendek pembangunan harus diupayakan pada
terwujudnya keadilan social, namun dalam jangka panjang pembangunan
mesti memperhatikan aspek keseimbangan lingkungan agar hasil
pembangunan dapat terus berkelanjutan.
n. The Pace of Development (Tahap Pembangunan)
Konsekuensi dari pengembangan organik adalah masyarakat itu sendiri
yang harus menentukan langkah-langkah pada saat pengembangan
berlangsung. Upaya untuk mendorong pengembangan suatu masyarakat
yang tergesa-gesa bisa berakibat fatal, masyarakat akan kehilangan rasa
memiliki atau bertanggung jawab dalam proses tersebut. Pengembangan
masyarakat akan berhasil atau bergerak dengan kecepatan atau langkah
dari komunitas itu sendiri.
o. External expertise (Bebas dari Tekanan Luar)
Pebangunan masyarakat tidak akan berjalan dengan baik jika ada tekanan
tekanan dari pihak eksternal. Oleh karena itu, pembangunan masyarakat
haruslah dibangun secara murni oleh komunitas itu sendiri dengan
memperhatikan sensitivitas terhadap budaya komunitas local, tradisi dan
lingkungan.
p. Comunity Building (Pembangunan Komunitas)
Semua pengembangan masayarakat harus bertujuan atau menuju pada
pembangunan

masyarakat.

Pembangunan

masyarakat

melibatkan

penguatan dari social interaksi dalam masyarakat, mempersatukan orangorang dan membantu mereka.
q. Process and Outcome (Proses dan Hasil)
Tekanan antara proses dan hasil telah menjadi isu utama dalam pekerjaan
komunitas. Sebuah pendekatan yang kaku cenderung menekankan pada

hasilnya. Yang paling penting adalah hasil yang telah tercapai dan
bagaimana proses dianggap kurang penting. Proses pada dasarnya harus
merefleksikan hasil, demikian juga hasil merupakan refleksi dari proses.
Dalam konteks ini, moral dan etika dalam memperoleh hasil akan menjadi
pusat perhatian.
r. Non-Violence (Anti Kekerasan)
Prinsip tanpa kekerasan tidak hanya mentiadakan kekerasan fisik antara
orang-orang. Ide atau gagasan dari kekerasan terstruktur secara tidak
langsung menggambarkan bahwa struktur social dan institusi-institusi dari
mereka sendirilah yang menentukan kekerasan tersebut.
s. Inclusiveness (Inklusif)
Mengaplikasikan prinsip dari keterlibatan kepada community development
memerlukan proses yang selalu melibatkan daripada tidak melibatkan,
semua orang pada hakikatnya dihargai walaupun mereka mempunyai
pandangan yang berbeda dan perlu diberikan kepercayaan untuk berubah
tanpa harus malu.
t. Consensus (Konsensus)
Kesepakatan dilakukan dalam melakukan perjanjian dan bertujuan untuk
mencapai suatu solusi yang mana seluruh kelompok akan mempunyai rasa
memiliki. Ini adalah dampak dari prinsip tanpa kekerasan dan keterlibatan.
u. Defining Need (Mendefinisikan Kebutuhan)
Merupakan hal yang paling penting dalam menekankan dari pentingnya
pendeskripsian kebutuhan dalam pengembangan masyarakat. Ada 2 prinsip
dalam menentukan definisi kebutuhan, yaitu :
Pembangunan masyarakat harusnya

dilakukan

atas

dasar

kesepakatan dari berbagai elemen yaitu penduduk secara

keseluruhan, konsumen, para penyedia layanan dan para peneliti.


Memperhatikan preseden yang ditimbulkannya dan harus

memperhatikan keadilan social dan ekologis.


v. Confronting Structural Disadvantage (Konfrontasi terhadap Ketimpangan
Sosial)
Kegiatan pengembangan masyarakat harus memastikan bahwa mereka
tidak memperkuat bentuk-benruk dari tekanan struktural seperti kelas,
gender dan ras atau etnik.

II.

Metode dan Teknik Pengembangan Masyarakat


A. Metode Pengembangan Masyarakat
Pembangunan melalui partisipasi masyarakat merupakan salah satu
upaya untuk memberdayakan potensi masyarakat dalam merencanakan
pembangunan yang berkaitan dengan potensi sumber daya lokal berdasarkan
kajian musyawarah, yaitu peningkatan aspirasi berupa keinginan dan
kebutuhan nyata yang ada dalam masyarakat, peningkatan motivasi dan
peran-serta kelompok

masyarakat

dalam

proses

pembangunan,

dan

peningkatan rasa-memiliki pada kelompok masyarakat terhadap program


kegiatan yang telah disusun.
Community Development

dengan

segala

kegiatannya

dalam

pembangunan sebaiknya menghindari metode kerja "doing for the


community", tetapi mengadopsi metode kerja "doing with the community".
Metode kerja doing for, akan menjadikan masyarakat menjadi pasif, kurang
kreatif dan tidak berdaya, bahkan mendidik masyarakat untuk bergantung
pada bantuan pemerintah atau organisasi-organisasi sukarela pemberi
bantuan. Sebaliknya, metode kerja doing with, merangsang masyarakat
menjadi aktif dan dinamis serta mampu mengidentifikasi mana kebutuhan
yang sifatnya - real needs, felt needs dan expected need.
Berdasarkan berbagai pejelasan di atas, maka berbagai metode yang
digunakan dalam proses perencanaan partisipasi pembangunan masyarakat
adalah sebagai berikut :
a. Participatory Rural Appraisal (PRA)
Anonim (2002), pendekatan, metode dan teknik PRA (Participatory Rural
Appraisal) berkembang pada periode 199O-an. Participatory Rural
Appraisal (PRA) adalah sebuah metode pemahaman lokasi dengan cara
belajar dari, untuk dan bersama dengan masyarakat untuk mengetahui,
menganalisa dan mengevaluasi hambatan dan kesempatan melalui multidisiplin dan keahlian untuk menyusun informasi dan pengambilan
keputusan sesuai dengan kebutuhan. PRA mempunyai sejumlah teknik
untuk mengumpulkan dan membahas data. Teknik ini berguna untuk
menumbuhkan partisipasi masyarakat. Teknik-teknik PRA antara lain :

Secondary Data Review (SDR) Review Data Sekunder. Merupakan cara


mengumpulkan sumber-sumber informasi yang telah diterbitkan maupun
yang belum disebarkan. Tujuan dari usaha ini adalah untuk mengetahui
data manakah yang telah ada sehingga tidak perlu lagi dikumpulkan.

Direct Observation Observasi Langsung. Direct Observation adalah


kegiatan observasi langsung pada obyek-obyek tertentu, kejadian, proses,
hubungan-hubungan masyarakat dan mencatatnya. Tujuan dari teknik ini
adalah

untuk

melakukan

cross-check

terhadap

jawaban-jawaban

masyarakat.

Semi-Structured Interviewing (SSI) Wawancara Semi Terstruktur. Teknik


ini adalah wawancara yang mempergunakan panduan pertanyaan
sistematis yang hanya merupakan panduan terbuka dan masih mungkin
untuk berkembang selama interview dilaksanakan. SSI dapat dilakukan
bersama individu yang dianggap mewakili informasi, misalnya wanita,
pria, anak-anak, pemuda, petani, pejabat lokal.

Focus Group Discussion Diskusi Kelompok Terfokus. Teknik ini berupa


diskusi antara beberapa orang untuk membicarakan hal-hal bersifat khusus
secara mendalam. Tujuannya untuk memperoleh gambaran terhadap suatu
masalah tertentu dengan lebih rinci.

Preference Ranking and Scoring. Adalah teknik untuk menentukan secara


tepat problem-problem utama dan pilihan-pilihan masyarakat. Tujuan dari
teknik

ini

adalah

untuk

memahami

prioritas-prioritas

kehidupan

masyarakat sehingga mudah untuk diperbandingkan.

Direct

Matrix

Ranking.

Adalah

sebuah

mengidentifikasi daftar criteria obyek

bentuk

ranking

yang

tertentu. Tujuannya

untuk

memahami alasan terhadap pilihan-pilihan masyarakat, misalnya mengapa


mereka lebih suka menanam pohon rambutan dibandingkan dengan pohon
yang lain. Kriteria ini mungkin berbeda dari satu orang dengan orang lain,
misalnya menurut wanita dan pria tentang tanaman sayur.

Peringkat Kesejahteraan. Rangking Kesejahteraan Masyarakat di suatu


tempat tertentu. Tujuannya untuk memperoleh gambaran profil kondisi
sosio-ekonomis dengan cara menggali persepsi perbedaan-perbedaan
kesejahteraan antara satu keluarga dan keluarga yang lainnya dan ketidak
seimbangan

di

masyarakat,

menemukan

indicator-indikator

lokal

mengenai kesejahteraan.

Pemetaan Sosial. Teknik ini adalah suatu cara untuk membuat gambaran
kondisi sosial-ekonomi masyarakat, misalnya gambar posisi pemukiman,
sumber-sumber mata pencaharian, peternakan, jalan, dan sarana-sarana
umum. Hasil gambaran ini merupakan peta umum sebuah lokasi yang
menggambarkan keadaan masyarakat maupun lingkungan fisik.

Transek (Penelusuran). Transek merupakan teknik penggalian informasi


dan media pemahaman daerah melalui penelusuran dengan berjalan
mengikuti garis yang membujur dari suatu sudut ke sudut lain di wilayah
tertentu.

Kalender Musim. Adalah penelusuran kegiatan musiman tentang keadaankeadaan dan permasalahan yang berulang-ulang dalam kurun waktu
tertentu (musiman) di masyarakat. Tujuan teknik ini untuk memfasilitasi
kegiatan penggalian informasi dalam memahami pola kehidupan
masyarakat, kegiatan, masalah-masalah, fokus masyarakat terhadap suatu
tema tertentu, mengkaji pola pemanfaatan waktu, sehingga diketahui
kapan saat-saat sibuk dan saat-saat waktu luang.

Alur Sejarah. Alur sejarah adalah suatu teknik yang digunakan untuk
mengetahui kejadian-kejadian dari suatu waktu sampai keadaan sekarang
dengan persepsi orang setempat. Tujuan dari teknik ini adalah untuk
memperoleh gambaran mengenai topik-topik penting di masyarakat.

Analisa

Mata

Pencaharian.

Masyarakat

akan

terpandu

untuk

mendiskusikan kehidupan mereka dari aspek mata pencaharian. Tujuan


dari teknik ini yaitu memfasilitasi pengenalan dan analisa terhadap jenis

pekerjaan, pembagian kerja pria dan wanita, potensi dan kesempatan,


hambatan.

Diagram Venn. Teknik ini adalah untuk mengetahui hubungan institusional


dengan masyarakat. Tujuannya untuk mengetahui pengaruh masingmasing institusi dalam kehidupan masyarakat serta untuk mengetahui
harapan-harapan apa dari masyarakat terhadap institusi-institusi tersebut.

Kecenderungan dan Perubahan. Adalah teknik untuk mengungkapkan


kecenderungan dan perubahan yang terjadi di masyarakat dan daerahnya
dalam jangka waktu tertentu. Tujuannya untuk memahami perkembangan
bidang-bidang tertentu dan perubahan-perubahan apa yang terjadi di
masyarakat dan daerahnya.

b. Kaji-Tindak Partisipatif (KTP)


Agusta (2005) menyatakan bahwa Kaji-Tindak Partisipatif (KTP) adalah
istilah program sedangkan esensinya menunjuk pada metodologi
Participatory Learning and Action (PLA) atau belajar dari bertindak secara
partisipatif; belajar dan bertindak bersama, aksi-refleksi partisipatif.
Penggunaan istilah PLA dimaksudkan untuk menekankan pengertian
partisipatif pada proses belajar bersama masyarakat untuk pengembangan.
Kaji-Tindak Partisipatif, dan nama kegiatan mencerminkan suatu
dialektika yang dinamis antara kajian dan tindakan secara tak terpisahkan.
Kajian partisipatif menjadi dasar bagi tindakan partisipatif. Jika dari suatu
tindakan terkaji masih ditemui hambatan dan masalah, maka kajian
partisipatif diulang kembali untuk menemukan jalan keluar, demikian
seterusnya. Sebuah kajian partisipatif dalam masyarakat meletakkan
semua pihak yang berpartisipasi apakah sebagai petani, nelayan, pedagang,
aparat desa, atau petugas pelayan masyarakat dalam posisi yang setara
fungsional, dan menghindar dari adanya pihak yang memiliki posisi
istimewa dalam menggali dan merumuskan proses dan hasil kajian.
c. Participatory Research and Development (PRD)
Penelitian mengenai partisipasi dan pembangunan masyarakat memiliki
fokus terhadap upaya menolong anggota masyarakat yang memiliki

kesamaan minat untuk bekerja sama, mengidentifikasi kebutuhan bersama


dan kemudian melakukan kegiatan bersama untuk memenuhi kebutuhan
tersebut. PRD yang merupakan wujud nyata dari pengembangan
masyarakat seringkali diimplementasikan dalam bentuk (a) proyek-proyek
pembangunan yang memungkinkan anggota masyarakat memperoleh
dukungan dalam memenuhi kebutuhannya, dan (b) melalui kampanye dan
aksi sosial yang memungkinkan kebutuhan-kebutuhan tersebut dapat
dipenuhi oleh pihak-pihak lain yang bertanggungjawab (Suharto, 2002).
d. Metode Rapid Rural Appraisal (RRA)
Teknik RRA mulai berkembang pada akhir 1970-an dan diterima secara
akademis pada akhir tahun 1980-an. Teknik RRA berkembang karena
adanya ketidak puasan penggunaan kuisioner pada metode penelitian
konvensional. Kuisioner seringkali menghasilkan suatu hasil yang tidak
tuntas dan informasi yang diperoleh seringkali tidak meyakinkan. Selain
itu, adanya bias dalam melihat kaum miskin, pada metode penelitian
konvensional. Sebagai contoh, kuisioner hanya melihat masyarakat kelas
atas, orang berpendidikan tinggi dan kurang menjangkau masyarakat yang
tinggal di daerah terpencil. Pendekatan dalam RRA hampir sama dengan
PRA antara lain : secondary data review, direct observation, semi-strucuted
interview, workshop dan brainstorming, transect, mapping, ranking and
scoring, developing chronologies of local events, dan case studies
(Anonim, 2002).
Perbedaan yang menonjol dari kedua pendekatan ini adalah dari segi
partisipasi masyarakat. Dalam RRA, informasi dikumpulkan oleh pihak
luar (outsiders), kemudian data dibawa pergi, dianalisa dan peneliti
tersebut membuat perencanaan tanpa menyertakan masyarakat. RRA lebih
bersifat penggalian informasi, sedangkan PRA dilaksanakan bersama-sama
masyarakat (let them do it), mulai dari pengumpulan informasi, analisa
sampai pada perencanaan program.
e.

Metode Participatory Action Research (PAR)

Teoritisasi dalam PAR dimulai dengan pengungkapan-pengungkapan dan


penguraian secara rasional dan kritis terhadap praktek-praktek sosial
mereka. Dari kesemua prinsip-prinsip PAR yang ada, yang terpenting
adalah dalam PAR tidak mengharuskan membuat dan mengelola catatan
rekaman yang menjelaskan apa yang sedang terjadi se-akurat mungkin,
akan tetapi merupakan analisa kritis terhadap situasi yang secara
kelembagaan diciptakan (seperti melalui proyek-proyek, program-program
tertentu atau sistem. Salah satu prinsip dalam PAR yang paling unique
adalah menjadikan pengalaman-pengalaman mereka sendiri sebagai
sasaran pengkajian (objectifying their own experience).
Mahmudi (2004), ada beberapa prinsip-prinsip PAR yang yang harus
dipahami terlebih dahulu. Antara lain, (1) PAR harus diletekkan sebagai
suatu pendekatan untuk memperbaiki praktek-praktek sosial dengan cara
merubahnya dan belajar dari akibat-akibat dari perubahan tersebut. (2),
secara keseluruhan merupakan partisipasi yang murni (autentik) dimana
akan membentuk sebuah spiral yang berkesinambungan sejak dari
perencanaan (planing), tindakan (pelaksanaan atas rencana), observasi
(evaluasi atas pelaksanaan rencana), refleksi (teoritisi pengalaman). (3),
PAR

merupakan

kerjasama

(kolaborasi),

semua

yang

memiliki

tanggungjawab atas tindakan perubahan dilibatkan dalam upaya-upaya


meningkatkan kemampuan mereka. (4) PAR merupakan suatu proses
membangun pemahaman yang sistematis (systematic learning process),
merupakan proses penggunaan kecerdasan kritis saling mendiskusikan
tindakan mereka dan mengembangkannya, sehingga tindakan sosial
mereka akan dapat benar-benar berpengaruh terhadap perubahan sosial.
(5), PAR suatu proses yang melibatkan semua orang dalam teoritisasi atas
pengalaman-pengalaman mereka sendiri.
f.

Metode PPKP (Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan)


Saharia (2003), metode PPKP adalah salah satu metode perencanaan
partisipatif yang bertujuan untuk menggali permasalahan yang ada di
masyarakat, penyebab terjadinya masalah, dan cara mengatasinya dengan

menggunakan sumberdaya lokal atas prinsip pemberdayaan masyarakat


yang acuannya sebagai berikut :

Mengumpulkan informasi yang dilakukan oleh petani sendiri. Bahan


informasi ini dapat digunakan oleh orang lain atau suatu lembaga yang
akan membantu petani.

Mempelajari kondisi dan kehidupan pedesaan dari dan oleh masyarakat


desa untuk saling berbagi, berperan aktif dalam perencanaan, pelaksanaan,
dan pengendalian serta tidak lanjutnya.

Informasi yang diperoleh dengan Metode PPKP dapat digunakan sebagai


bahan perencanaan kegiatan dalam pemberdayaan masyarakat desa
(petani).

Metode PPKP ini dilaksanakan oleh pengambil kebijakan bersama petani,


kelompok pendamping lapangan, dan dari unsur pemerintah desa. Dalam
Metode PPKP ini kelompok pendamping lapangan hanya sebatas
fasilitator.

g. Metode Participatory Learning Methods (PLM)


Thoyib (2007), model pembelajaran partisipatif sebenarnya menekankan
pada proses pembelajaran, di mana kegiatan belajar dalam pelatihan
dibangun atas dasar partisipatif (keikutsertaan) peserta pelatihan dalam
semua aspek kegiatan pelatihan, mulai dari kegiatan merencanakan,
melaksanakan, sampai pada tahap menilai kegiatan pembelajaran dalam
pelatihan. Upaya yang dilakukan pelatih pada prinsipnya lebih ditekankan
pada motivasi dan melibatkan kegiatan peserta.
Pada awal kegiatan pelatihan, intensitas peranan pelatih adalah tinggi.
Peranan ini ditampilkan dalam membantu peserta dengan menyajikan
informasi mengenai bahan ajar (bahan latihan) dan dengan melakukan
motivasi dan bimbingan kepada peserta. Intensitas kegiatan pelatih
(sumber) makin lama makin menurun, sehingga perannya lebih diarahkan
untuk memantau dan memberikan umpan balik terhadap kegiatan

pelatihan dan sebaliknya kegiatan peserta pada awal kegiatan rendah,


kegiatan awal ini digunakan hanya untuk menerima bahan pelatihan,
informasi, petunjuk, bahan-bahan, langkah-langkah kegiatan. Kemudian
partisipasi warga makin lama makin meningkat tinggi dan aktif
membangun suasana pelatihan yang lebih bermakna.
Beberapa teknik yang dapat dipergunakan pada model pelatihan ini adalah:

Teknik dalam tahap pembinaan keakraban : teknik diad, teknik


pembentukan kelompok kecil, teknik pembinaan belajar berkelompok,
teknik bujur sangkar terpecah

Teknik yang dipergunakan pada tahap identifikasi : curah pendapat, dan


wawancara

Teknik dalam tahap perumusan tujuan : teknik Delphi dan diskusi


kelompok (round table discussion)

Teknik pada tahap penyusunan program adalah : teknik pemilihan cepat


(Q-shot technique) dan teknik perancangan program

Teknik yang dapat dipergunakan dalam proses pelatihan : Simulasi, studi


kasus, cerita pemula diskusi (discussion starter story), Buzz group,
pemecahan masalah kritis, forum, role play, magang, kunjungan lapangan
dll

Teknik yang dapat dipergunakan dalam penilaian proses pelatihan, hasil


dan pengaruh kegiatan : respon terinci, cawan ikan (fish bowl technique),
dan pengajuan pendapat tertulis.

h. Metodologi Participatory Assessment (MPA)


Dayal, et, al (2000), Methodology for Participatory Assessments (MPA)
adalah metode yang dikembangkan untuk menjalankan penilaian suatu
proyek pembangunan masyarakat (community development). MPA
merupakan alat yang berguna bagi pembuat kebijakan, manajer program
dan masyarakat, sehingga masayarakat setempat dapat memantau
kesinambungan pembangunan dan mengambil tindakan yang diperlukan
agar menjadi semakin baik. Metodologi tersebut mengungkapkan

bagaimana caranya kaum perempuan dan keluarga yang kurang mampu


dapat ikut berpartisipasi, dan mengambil manfaat dari pembangunan,
bersama-sama dengan kaum lelaki dan keluarga dimana mereka berada.
MPA merupakan pengembangan dari pendekatan-pendekatan partisipatif
misalnya PRA yang merupakan perangkat peralatan dan metode yang
selama bertahun-tahun telah terbukti efektif untuk membuat masyarakat
berpartisipasi. MPA mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

MPA merupakan metode yang ditujukan baik kepada instansi pelaksana


maupun kepada masyarakat untuk mencapai kondisi pengelolaan sarana
yang berkesinambungan dan digunakan secara efektif. Dirancang
sedemikian

rupa

untuk

melibatkan

pihak

yang

berkepentingan

(stakeholder) utama dan menganalisis keberadaan masyarakat yang


memiliki 4 komponen penting: lelaki miskin, perempuan miskin, lelaki
kaya, perempuan kaya.

MPA menggunakan satu set indikator yang sector specific untuk


mengukur kesinambungan, kebutuhan, gender dan kepekaan akan
kemiskinan. Masing-masing diukur dengan menggunakan urutan alat
partisipatifi pada masyarakat, instansi pelaksana dan pembuat kebijakan.
Hasil dari penilaian pada tingkat masyarakat dibawa oleh wakil-wakil
masyarakat pengguna dan instansi pelaksana ke dalam rapat pihak
berkepentingan (stakeholder), dengan tujuan untuk secara bersama
mengevaluasi faktor-faktor kelembagaan yang berpengaruh pada dampak
proyek dan kesinambungan pada tingkat lapangan. Hasil dari penilaian
kelembagaan digunakan untuk melakukan peninjauan ulang atas kebijakan
pada tingkat program atau tingkat nasional.

MPA menghasilkan sejumlah data kualitatif tingkat desa, sebagiannya


dapat dikuantitatifkan kedalam sistem ordinal oleh para warga desa itu
sendiri. Data kuantitatif ini dapat dianalisis secara statistik.

Dengan cara ini kita dapat mengadakan analisis antar masyarakat, antar
proyek dan antar waktu, serta pada tingkat program. Dengan demikian

MPA dapat digunakan untuk menghasilkan informasi manajemen untuk


proyek skala besar dan data yang sesuai untuk analisis program.
Berbagai metode diatas dapat dilaksanakan sesuai tujuan pelaksanaan
pembangunan yang diharapkan oleh masyarakat yaitu meningkatkan
kesejahteraan rakyat secara keseluruhan. Partisipasi masyarakat dalam
manajemen pembangunan akan menghantarkan masyarakat untuk dapat
memahami masalah-masalah yang dihadapi, menganalisa akar-akar masalah
tersebut, mendesain kegiatan-kegiatan terpilih, serta memberikan kerangka
untuk pemantauan dan evaluasi pelaksanaan pembangunan.
B. Teknik Pengembangan Masyarakat
Penerapan model/pendekatan/metode pengembangan masyarakat perlu
menerapkan taktik/teknik yang tepat. Hal penting yang juga menjadi
perhatian adalah bahwa setiap upaya perubahan dalam masyarakat, selalu
berkaitan dengan persoalan alokasi sumber yang bersifat terbatas. Menurut
Brager yang dimaksud dengan teknik adalah: .... any skillful method used to
gain an end (Brager et al. 1987). Menurut Brager et al. 1987 terdapat 4
aspek utama yang disarankan Brager dalam pemilihan taktik pemberian
pelayanan, yaitu:
Taktik yang akan diterapkan harus terencana dengan baik
Taktik yang dipilih digunakan untuk menghasilkan respon-respon

spesifik
Pemilihan taktik dilakukan dengan melibatkan interaksi dengan

orang lain
Pemilihan taktik harus berorientasi pada tujuan (goal oriented).
Menurut Netting (1993) unsur ke lima yang juga penting dipertimbangkan
dalam pemilihan taktik adalah: Taktik yang dipilih tidak membahayakan
sistem klien, dan jika mungkin sistem klien selalu terlibat dalam pemilihan
taktik intervensi yang akan digunakan.
Brager (1987) dan Holloway (1978) membagi 3 jenis teknik (taktik)
dalam pengembangan masyarakat:
a. Kolaborasi (Kerjasama)

Kolaborasi dilakukan apabila sistem sasaran setuju (mudah teryakinkan


untuk sepakat) dengan sistem kegiatan mengenai perlunya perubahan dan
dukungan alokasi sumber. Ada dua jenis teknik kolaborasi, yaitu:
Implementasi
Digunakan manakala sistem kegiatan dan sistem sasaran bekerja
sama dengan kesepakatan akan perubahan yang diinginkan serta
adanya dukungan pengambil keputusan akan alokasi dana yang

dibutuhkan.
Membangun kapasitas (capacity building) yang dilakukan melalui:
Partisipasi, mengacu pada kegiatan-kegiatan yang
berupaya untuk melibatkan anggota sistem klien dalam

usaha perubahan.
Pemberdayaan (empowerment)
b. Kampanye (Penyuluhan Sosial)
Teknik ini diperlukan untuk dilakukan apabila sistem sasaran tidak
menolak untuk berkomunikasi dengan sistem kegiatan, akan tetapi
konsensus akan perlunya perubahan belum tercapai, atau sistem sasaran
mendukung perubahan tetapi tidak ada alokasi sumber untuk perubahan
tersebut.
Teknik Edukasi
Sistem perubahan berinteraksi dengan sistem sasaran dengan
menyajikan berbagai persepsi, sikap, opini, data dan informasi
mengenai perubahan yang diinginkan, dengan tujuan untuk
meyakinkan sistem sasaran mengubah cara berpikir atau
bertindaknya, yang selama ini dianggap kurang sejalan dengan

perubahan yang diperlukan.


Teknik Persuasi
Mengacu pada seni untuk meyakinkan orang lain agar menerima
dan mendukung pandangan-pandangannya atau persepsinya
mengenai suatu isu.
Kooptasi (Cooptation)
Meminimalkan kemungkinan terjadinya oposisi dengan
cara menyerap atau melibatkan anggota-anggota sistem
sasaran ke dalam sistem kegiatan. Pelibatan anggota
kelompok sasaran secara individual disebut informal

cooptation, sedangkan melibatkan sistem sasaran secara

kelompok disebut formal cooptation.


Lobi (Lobbying)
Lobi adalah bentuk persuasi yang mengarah pada
perubahan kebijakan di bawah jelajah sistem pengendalian.
Kegiatan diarahkan pada para elit yang menjadi kunci
dalam

perumusan

kebijakan.

Hal

yang

penting

dipertimbangkan dalam melakukan lobi adalah faktual dan


jujur; tidak berbelit-belit dan didukung data; diskusi
diarahkan

pada

tinjauan

kritis

mengenai

objek

pembicaraan(sisi baik dan buruknya).


c. Kontes
Kontes dilakukan apabila sistem sasaran tidak setuju dengan perubahan
dan atau alokasi sumber dan masih terbuka bagi terjadinya komunikasi
mengenai ketidaksepakatan ini. Kegiatan yang termasuk kategori teknik
ini, adalah:
- Tawar menawar (bargaining) dan negosiasi
Teknik negosiasi dilakukan apabila kesepakatan atas pelaksanaan
perubahan yang harus dilakukan, masih belum dicapai, dan masih
perlu dirundingkan. Atau, kesepakatan mengenai perubahan yang
diinginkan telah dapat dicapai, akan tetapi alokasi sumber yang
-

diperlukanmasih belum disepakati.


Aksi masyarakat (social action)
Teknik aksi sosial, hanya dilakukan apabila pekerja sosial
berhadapan dengan situasi dimana masy. berada dalam fihak yang
dirugikan, dan pekerja sosial maupun masy. tidak melihat adanya
kesamaan tujuan antara berbagai fihak yang seharusnya bekerja
sama untuk kepentingan masyarakat. Perlu menjadi catatan, bahwa
penggunaan teknik aksi sosial memiliki resiko yang sangat besar
baik bagi masy. maupun pekerja sosial sendiri, sehingga teknik ini
biasanya

menjadi

masyarakat.

pilihan

terakhir

dalam

pengembangan

Beberapa teknik aksi sosial yang biasa digunakan, diantaranya


adalah:
Aksi legal (legal action), misal demontrasi
Aksi Melawan Hukum (illegal action),

misal

ketidakpatuhan warga.
Class action lawsuit, yaitu teknik yang mengacu pada

suatu situasi dimana suatu kesatuan dituntut karena


melakukan pelanggaran hukum tertentu dan diperkirakan
bahwa pengadilan akan diberlakukan untuk keseluruhan

(BAB III)
KESIMPULAN
1. Prinsip prinsip pengembangan masyarakat menurut Ife (2002) terdapat
26 prinsip, yaitu : Holisme (Holism), Keberlanjutan (Sustainability),
Diversitas atau Keberagaman (Diversity), Pembangunan Bersifat Organik
(Organic development) dan Pembangunan yang Seimbang (Balanced
development), Memusatkan Perhatian pada Keadaan Struktur yang
Merugikan (Addressing structural disadvantage), Memusatkan Perhatian
pada Wacana yang Merugikan (Addressing discourses of disadvantage),
Pemberdayaan

(Empowerment),

Mendefinisikan

Kebutuhan

(Need

definition) dan Hak Asasi Manusia (Human rights), Menghargai


Pengetahuan Lokal (Valuing local knowledge), Menghargai Kebudayaan
Lokal (Valuing local culture), Menghargai Sumber Daya Lokal (Valuing
local resources), Menghargai Keahlian Lokal (Valuing local skills),
Menghargai Proses Lokal (Valuing local processes), Proses, Hasil, dan Visi
(Process, outcome and vision), Keterpaduan Proses (The integrity of
process), Meningkatkan Kesadaran (Consciousness raising), Partisipasi
(Participation), Kerjasama dan Konsensus (Cooperation and consensus),
Gerak Pembangunan (The pace of development), Damai dan Tanpa
Kekerasan

(Peace

and

non-violence),

Inklusif

(Inclusiveness),

Membangun Masyarakat (Community building), Mengkaitkan Global dan


Lokal (Linking the global and the local) dan Praktik Anti Penjajah (Anticolonialist practice).
2. Prinsip prinsip pengembangan masyarakat menurut Ife (1995) terdapat
22 prinsip, yaitu : Integrated Development, Confronting Structural
Disadvantage, Human Rights, Sustainability, Empowerment, The Personal
and The Political, Community Owneship, Self Reliance, Independence
from The State, Immediate Goals and Ultimate Visions, Organic
Development, The Pace of Development, External expertise, Comunity
Building, Process and Outcome, The Integrity Of Process, Non-violence,
Inclusiveness, Consensus,

Co-operation, Participation, dan Defining

Need.
3. Metode pengembangan masyarakat : Participatory Rural Appraisal (PRA),
Tindak Partisipatif (KTP), Participatory Research and Development
(PRD), Metode Rapid Rural Appraisal (RRA), Metode Participatory
Action Research (PAR), Metode PPKP (Pemahaman Partisipatif Kondisi
Pedesaan), dan Metode Participatory Learning Methods (PLM).
4. Teknik pengembangan masyarakat : Teknik kolaborasi, kampanye dan
kontes.

DAFTAR PUSTAKA
Bahua, Mohamad Ikbal. 2007. http://eeqbal.blogspot.com/2007/12/metodeperencanaan-partisipatif-dalam.html (Diakses pada tanggal 10 Oktober
2011 pukul 20.00 WIB)
Khawari, Nurul. 2010. http://nkhawari.wordpress.com/2010/03/15/communitydevelopment-berbasis-usaha-produktif/ (Diakses pada tanggal 9 Oktober
2011 pukul 21.05 WIB)
Kurniawan, Irvan Arif. 2011. http://duniaalay.blogspot.com/ (Diakses pada
tanggal 10 Oktober 2011 pukul 23.00 WIB)
Darwis, Rudi Saprudin. 2008. http://blogs.unpad.ac.id/rsdarwis/?p=8 (Diakses
pada tanggal 10 Oktober 2011 pukul 23.10 WIB)
Suparjan dan Hempri, Suyatno. 2003. Pengembangan Masyarakat. Aditya Media.
Yogjakarta

BAB I
(PENDAHULUAN)
Salah satu persoalan mendasar kehidupan bernegara dalam proses
penyelenggaran pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah adalah
bagaimana membangun atau menciptakan mekanisme pemerintahan yang dapat
mengemban misinya untuk mewujudkan raison deetre pemerintahan yaitu
mensejahterakan
kesejahteraan

masyarakat
masyarakat

secara
tersebut,

berkeadilan.

Untuk

pemerintah

harus

mewujudkan
melaksanakan

pembangunan. Selain untuk memelihara keabsahannya (legitimasi), pemerintah


juga akan dapat membawa kemajuan bagi masyarakatnya sesuai dengan
perkembangan jaman. Terdapat dua hal yang harus dilaksanakan oleh pemerintah,
pertama: perlu aspiratif terhadap aspirasi-aspirasi yang disampaikan oleh
masyarakatnya, dan perlu sensitive terhadap kebutuhan rakyatnya. Pemerintah
perlu mengetahui apa yang dibutuhkan oleh rakyatnya serta mau mendengarkan
apa kemauannya. Kedua : pemerintah perlu melibatkan segenap kemauan dan
kemampuan yang dimiliki oleh masyarakat dalam melaksanakan pembangunan.
Dengan kata lain pemerintah perlu menempatkan rakyat sebagai subjek
pembangunan, bukan hanya sebagai objek pembangunan.
Keberhasilan

pelaksanaan

pembangunan

masyarakat

Community

development sangat bergantung kepada peranan pemerintah dan masyarakatnya.


Keduanya harus mampu menciptakan sinegri. Tanpa melibatkan masyarakat,

pemerintah tidak akan dapat mencapai hasil pembangunan secara optimal.


Pembangunan hanya akan melahirkan produk-produk baru yang kurang berarti
bagi masyarakatnya, tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya. Demikian
pula sebaliknya, tanpa peran yang optimal dari pemerintah, pembangunan akan
berjalan secara tidak teratur dan tidak terarah, yang akhirnya akan menimbulkan
permasalahan baru. Selain memerlukan keterlibatan masyarakat, pembangunan
juga membutuhkan strategi yang tepat agar dapat lebih efisien dari segi
pembiayaan dan efektif dari segi hasil. Pemilihan strategi pembangunan ini
penting karena akan menentukan dimana peran pemerintah dan dimana peran
masyarakat, sehingga kedua pihak mampu berperan secara optimal dan sinergis.
Selain dengan amanat yang diemban dalam UU No. 22 / 1999,
perencanaan pembangunan dan pelaksanaannya harus berorientasi ke bawah dan
melibatkan masyarakat luas, melalui pemberian wewenang perencanaan dan
pelaksanaan pembangunan di tingkat daerah. Dengan cara ini pemerintah makin
mampu menyerap aspirasi masyarakat banyak, sehingga pembangunan yang
dilaksanakan dapat memberdayakan dan memenuhi kebutuhan rakyat banyak.
Rakyat harus menjadi pelaku dalam pembangunan, masyarakat perlu dibina dan
dipersiapkan untuk dapat merumuskan sendiri permasalahan yang dihadapi,
merencanakan langkah-langkah yang diperlukan, melaksanakan rencana yang
telah diprogramkan, menikmati produk yang dihasilkan dan melestarikan program
yang telah dirumuskan dan dilaksanakan.