Anda di halaman 1dari 8

SEKILAS TENTANG HEPATITIS B

I. Definisi
Hepatitis adalah proses terjadinya inflamasi dan atau nekrosis jaringan hati yang
dapat disebabkan oleh infeksi, obat-obatan, toksin, gangguan metabolik, maupun
kelainan autoimun. Infeksi yang disebabkan virus, bakteri, maupun parasit merupakan
penyebab terbanyak hepatitis akut. Virus hepatitis merupakan penyebab terbanyak dari
infeksi tersebut (Arief, 2012).
Hepatitis B adalah penyakit infeksi virus yang ditularkan melalui darah dimana
virus ini adalah yang paling menular dan di banyak bagian dunia, prevalensinya sangat
tinggi. Hepatitis B merupakan infeksi virus yang menyerang hati dan dapat menyebabkan
penyakit akut maupun kronik dan secara potensial merupakan infeksi hati yang
mengancam nyawa disebabkan oleh virus hepatitis B (WHO, 2012).
II. Penyebab
Hepatitis B disebabkan oleh virus Hepatitis B, suatu anggota famili hepadnavirus
yang dapat menyebabkan peradangan hati akut atau kronis yang dapat berlanjut menjadi
sirosis hati atau kanker hati. Hepatitis B akut jika perjalanan penyakit kurang dari 6
bulan sedangkan Hepatitis B kronis bila penyakit menetap, tidak menyembuh secara
klinis atau laboratorium atau pada gambaran patologi anatomi selama 6 bulan (Mustofa
& Kurniawaty, 2013).
Virus

Hepatitis

yang

terbungkus

serta

mengandung

genoma

DNA

(Deoxyribonucleic acid) melingkar. Virus ini merusak fungsi liver dan terus berkembang
biak dalam sel-sel hati (Hepatocytes). Akibat fungsi serangan ini sistem kekebalan tubuh
kemudian memberi reaksi dan melawan. Kalau berhasil maka virus dapat terbasmi habis,
tetapi jika gagal virus akan tetap tinggal dan menyebabkan Hepatitis B kronis (si pasien
sendiri menjadi carrier atau pembawa virus seumur hidupnya). Dalam seluruh proses ini
liver mengalami peradangan (Misnadiarly, 2007).
Seorang penderita hepatitis akan mengalami kuning pada mukosa tubuh dan pada
kulitnya (jaundice). Kekuningan tersebut diakibatkan oleh tingginya kadar bilirubin
dalam darah.

III.Gejala & Efek


A. Gejala Hepatitis
1

1. Hepatitis B akut
Perjalanan hepatitis B akut terjadi dalam empat (4) tahap yang timbul sebagai
akibat dari proses peradangan pada hati, yaitu:
Masa Inkubasi
Masa inkubasi yang merupakan waktu antara saat penularan infeksi dan saat
timbulnya gejala/ikterus, berkisar antara 1-6 bulan, biasanya 60-75 hari.
Fase Prodromal
Fase ini adalah waktu antara timbulnya keluhan-keluhan pertama dan
timbulnya gejala dan ikterus. Keluhan yang sering terjadi seperti : malaise,
rasa lemas, lelah, anoreksia, mual, muntah, terjadi perubahan pada indera
perasa dan penciuman, panas yang tidak tinggi, nyeri kepala, nyeri otot-otot,
rasa tidak enak/nyeri di abdomen, dan perubahan warna urine menjadi cokelat,
dapat dilihat antara 1-5 hari sebelum timbul ikterus, fase prodromal ini
berlangsung antara 3-14 hari.
Fase Ikterus
Dengan timbulnya ikterus, keluhan-keluhan prodromal secara berangsur akan
berkurang, kadang rasa malaise, anoreksia masih terus berlangsung, dan nyeri
abdomen kanan atas bertambah. Untuk deteksi ikterus, sebaliknya dilihat pada
sklera mata. Lama berlangsungnya ikterus dapat berkisar antara 1-6 minggu.
Fase Penyembuhan
Fase ini diawali dengan menghilangnya ikterus dan keluhan-keluhan,
walaupun rasa malaise dan cepat lelah kadang masih terus dirasakan,
hepatomegali dan rasa nyerinya juga berkurang. Fase penyembuhan lamanya
berkisar antara 2-21 minggu.
2. Hepatitis B Kronis
Hepatitis B kronis didefinisikan sebagai peradangan hati yang berlanjut lebih
dari enam bulan sejak timbul keluhan dan gejala penyakit. Perjalanan hepatitis B
kronik dibagi menjadi tiga (3) fase penting, yaitu :
Fase Imunotoleransi
Pada masa anak-anak atau pada dewasa muda, sistem imun tubuh toleren
terhadap VHB sehingga konsentrasi virus dalam darah tinggi, tetapi tidak
terjadi peradangan hati yang berarti. Pada fase ini, VHB ada dalam fase
replikatif dengan titer HBsAg yang sangat tinggi.

Fase Imunoaktif (Fase clearance)


Pada sekitar 30% individu dengan persisten dengan VHB akibat terjadinya
replikasi VHB yang berkepanjangan, terjadi proses nekroinflamasi yang
tampak dari kenaikan konsentrasi Alanine Amino Transferase (ALT). Pada
keadaan ini pasien sudah mulai kehilangan toleransi imun terhadap VHB.
Fase Residual
Pada fase ini tubuh berusaha menghancurkan virus dan menimbulkan
pecahnya sel-sel hati yang terinfeksi VHB. Sekitar 70% dari individu tersebut
akhirnya dapat menghilangkan sebagian besar partikel VHB tanpa ada
kerusakan sel hati yang berarti. Pada keadaan ini titer HBsAg rendah dengan
HBeAg yang menjadi negatif dan anti HBe yang menjadi positif, serta
konsentrasi ALT normal.
Untuk memperkuat diagnosa hepatitis B berdasarkan gejala yang muncul dapat
dilakukan pemeriksaan laboratorium seperti :

HBsAg ( Hepatitis B surface Antigen ) atau antigen permukaan hepatitis B, biasanya


HBsAg dapat terlihat dalam fase akut dan kronik. HBsAg menunjukkan seseorang

sedang dalam fase menularkan penyakit.


Anti HBs ( Hepatitis B surface Antibody ) atau antibodi permukaan hepatitis B,
biasanya anti HBS mucul dalam fase pemulihan dan saat tubuh sudah menunjukan

kekebalan terhadap virus.


Total Hepatitis B Core Antibody ( Anti HBC ) menunjukan infeksi sebelumnya atau

kelanjutan infeksi hepatitis B.


IgM anti-HBc (IgM antibody to hepatitis B core antigen) IgM antibodi untuk
hepatitis B antigen inti (IgM anti-HBc). Positif menunjukkan baru-baru ini infeksi
hepatitis B.

B. Efek Dari Hepatitis B


1. Sirosis hati
Secara lengkap sirosis hati adalah suatu penyakit dimana sirkulasi mikro, anatomi
pembuluh darah besar dan seluruh sitem arsitektur hati mengalami perubahan
menjadi tidak teratur dan terjadi penambahan jaringan ikat (fibrosis) disekitar
parenkim hati yang mengalami regenerasi.
Manifestasi klinis dari Sirosis hati disebabkan oleh satu atau lebih hal-hal yang
tersebut di bawah ini :

Kegagalan prekim hati


Hipertensi portal
Asites
Ensefalophati hepatitis

Keluhan dari sirosis hati dapat berupa :

Merasa kemampuan jasmani menurun


Nausea, nafsu makan menurun dan diikuti dengan penurunan berat badan
Mata berwarna kuning dan buang air kecil berwarna gelap
Pembesaran perut dan kaki bengkak
Perdarahan saluran cerna bagian atas
Pada keadaan lanjut dapat dijumpai pasien tidak sadarkan diri (Hepatic

Enchephalopathy)
Perasaan gatal yang hebat
2. Kanker Hati
Kanker hati adalah pertumbuhan yang tidak terkontrol dari sel-sel ganas di hati
yang dihasilkan dari sel-sel abnormal pada hati (primer), atau mungkin akibat dari
penyebaran kanker dari bagian tubuh lain (sekunder). Kanker/tumor hati primer
dapat diklasifikasikan menjadi 2 jenis berdasarkan sel asalnya, yaitu
kanker/tumor hati jinak dan kanker/tumor hati ganas. Kanker/tumor hati jinak
contohnya adalah adenoma hepatik dan hiperplasia fokal nodular (focal nodular
hyperplasia=FNH). Untuk kanker/tumor hati ganas contohnya karsinoma
hepatoseluler (HCC).Para peneliti telah menghubungkan infeksi hepatitis-B
(HBV) dan hepatitis-C (HCV) dengan perkembangan kanker hati dan
menemukan hubungan yang signifikan. Diperkirakan bahwa 10-20 persen orang
yang terinfeksi hepatitis B kronik akan berkembang menjadi kanker hati.
3. Kegagalan fungsi hati
Gagal Hati adalah kondisi medis yang ditandai dengan ketidakmampuan sel hati
untuk beregenerasi, menyebabkan kerusakan hati dan hilangnya fungsi hati. Hal
ini biasanya terjadi secara bertahap selama bertahun-tahun. Gagal hati dini sulit
dideteksi akibat gejalanya yang umum, seperti mual, kehilangan nafsu makan dan
rasa lelah. Ketika penyakit berlanjut, gejala lebih serius timbul, seperti ikterus
(penguningan pada kulit), pembengkakan perut, mudah berdarah dan timbul
disorientasi mental. Akan tetapi, pada gagal hati akut, hati dapat kehilangan
fungsinya dalam hitungan hari. Hal ini berpotensi mengancam jiwa karena dapat
menyebabkan komplikasi yang berat, seperti infeksi, edema otak dan perdarahan.
Gagal hati kronis seringkali disebabkan oleh hepatitis B & C, asupan alkohol

berlebihan jangka panjang dan sirosis. Gagal hati akut seringkali berhubungan
dengan overdosis obat-obatan atau infeksi virus. Untungnya, kebanyakan gagal
hati akut dapat membaik ketika agen penyebabnya ditangani atau dihilangkan.
Akan tetapi, pada gagal hati kronis dimana hati memburuk secara progresif
selama bertahun-tahun, kerusakan seringkali bersifat menetap dan penanganan
ditunjukan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. Pada kasus berat,
transplantasi hati mungkin diperlukan.
IV. Perilaku Negatif
Beberapa perilaku negatif yang dapat menyebabkan penularan hepatitis B,yaitu
menggunakan jarum suntik bekas, buang air kecil dan besar sembarangan,meludah
sembarangan, dan berhubungan seksual secara heteroseksual maupunhomoseksual
dengan penderita hepatitis B.
1. Darah
Virus hepatitis B dapat ditularkan melalui kulit, yaitu melalui tusukan yang jelas,
disebut sebagai penularan parenteral (misalnya melalui suntikan, akupuntur,transfusi
darah, hemodialisis, tatto, tindik, dan sebagainya) dan melalui goresan/abrasi kulit.
Sumber penularan tersebut ialah melalui darah. Darah merupakan tempat yang
mengandung konsentrasi virus hepatitis B yang tertinggi. Perjalan hepatitis virus
akut, HBsAg sudah biasa ditemukan 1-2 bulan sebelum timbulgejala dan tanda
bahkan 1 minggu setelah terinfeksi.
2. Air seni dan Feses
Sumber penularan lain yaitu air seni dan tinja. HBsAg dapat ditemukandalam jumlah
yang kecil dalam air seni penderita hepatitis akut B dan pengidapdengan fungsi ginjal
yang normal. Cross 1997 mengemukakan adanyan partikel40 nm HBsAg pada feses
penderita akut hepatitis B.

3. Air liur
HbsAg sering dijumpai pada air liur penderita hepatitis akut maupun pengidap.
Partikel virus hepatitis B telah diperlihatkan pada pemeriksaan mikroskop elektron air
liur pengidap hepatitis B, HBsAg ditemukan dalam air liur3 minggu sesudah timbul
gejala dan menghilang sebelum HBsAg dalam serum menjadi negatif. Air liur
mengandung sejumlah kecil partikel virus hepatitis Bnamun daya infeksinya rendah.

4. Penularan melalui hubungan seksual


Selaput lendir genitalia (vagina) dapat menjadi pintu masuk virus hepatitis B.
Hubungan seksual menjadi perantara masuknya virus hepatitis B kepasangan.
Penularan secara seksual lebih banyak terjadi. Sebuah penelitian menyatakan, 70%
homoseksual terinfeksi virus hepatitis B setelah 5 tahun melakukanhubungan seksual
aktif.
V. Perilaku Positif Guna Pencegahan
Beberapa perilaku positif untuk mencegah penyakit hepatitis B, yaitu :
1. Alat makan antara penderita dan yang bukan penderita dipisahkan serta diletakkan
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

ditempat yang berbeda


Tidak menggunakan sikat gigi, pisau cukur dan jarum suntik secara bersamaan
Gunakan kondom dengan baik dan konsistensaat melakukan hubungan seksual
Mencuci tangan dengan sabun di air yang mengalir
Tidak meludah sembarangan
Gunakan alat tattoo dan piercing yang steril
Jika memungkinkan pilihlah pengobatan dengan oral dari pada dengan injeksi
Bagi ibu hamil, berkonsultasi dengan dokter tentang bagaimana cara mencegah

penularan pada bayi


9. Membiasakan PHBS
10. Pemeriksaan darah rutin - HbsAg
11. Melakukan vaksinansi Hepatitis B
Vaksin hepatitis B adalah andalan pencegahan hepatitis B. WHO merekomendasikan
bahwa semua bayi menerima vaksin hepatitis B sesegera mungkin setelah lahir,
sebaiknya dalam waktu 24 jam dan harus diikuti oleh 2 atau 3x vaksinasi ulang
(Booster).

Gambar 1. Jadwal Vaksinasi Pada Anak


VI. Perilaku Positif Guna Pengobatan
A. Hepatitis Akut
Pada dasarnya terdapat 3 cara umum dalam penatalaksanaan hepatitis B akut, yaitu :
1. Tirah Baring
Merupakan suatu cara dalam mengobati suatu penyakit walaupun sebenarnya
tidak boleh memaksa penderita menjalani tirah baring secara penuh jika penderita
masih merasa kuat. Jika penderita merasa baik walau mata masih kuning, pederita
boleh melakukan aktvitas asal mampu dan tidak merasa letih. Sebaiknya semua
kegiatan dilakukan secara bertahap.
2. Diet
Pada prinsipnya penderita harus mendapat diet cukup kalori. Jika penderita
merasa mual, muntah, dan tidak nafsu makan dapat dibantu dengan memberikan
infus cairan glucose. Tidak ada dasar untuk membatasi lemak dalam dietnya.
3. Obat-obatan
Pada saat ini belum ada obat yang mempunyai khasiat memperbaiki nekrosis hati
dan memperpendek perjalanan penyakit hepatitis virus akut.

B. Hepatitis Kronis
Ada 3 bentuk pengobatan yang ditunjukan terhadap hepatitis B kronik, yaitu :
1. Penggunaan obat yang mencegah proses replikasi virus, misalnya interveron,
acyclovir, ribarivin, phosponoformic acid, intercalating acid.
2. Penggunaan obat-obat yang memodulasi keadaan sistem imun, misalnya
plasmaperesis, hepatitis immune RNA, imuno suppresif.
3. Biological Response Modifiers, termasuk obat baru Thymosin alfa.