Anda di halaman 1dari 482

PEMBAHASAN

LATIHAN SOAL UKDI CLINIC I


OPTIMAPREP
BATCH NOVEMBER 2015
Office Address:
Jl Padang no 5, Manggarai, Setiabudi, Jakarta Selatan
(Belakang Pasaraya Manggarai)
Phone Number : 021 8317064
Pin BB 2A8E2925
WA 081380385694

Medan :
Jl. Setiabudi No. 65 G, Medan
Phone Number : 061 8229229
Pin BB : 24BF7CD2
www.optimaprep.com

dr. Widya, dr. Eno, dr. Yolina


dr. Resthie, dr. Reza, dr. Yusuf
dr. Cemara, dr. Zanetha

ILMU PENYAKIT DALAM

1. Demam Tifoid

Kultur darah umumnya ditemukan pada minggu pertama


Kultur feses mulai ditemukan pada minggu kedua dan ketiga
Kultur urin mulai ditemukan pada minggu kedua

Demam Typhoid
Kuman penyebab demam tifoid adalah
Salmonella enterica serotype Typhi dan hanya
dapat hidup pada manusia.
Setelah kuman berhasil mengatasi penghadangan
asam lambung yang mungkin melemah karena
satu dan lain hal kuman S.typhi mulai melekat
pada sel mukosa intestinal plak Peyerpintu
gerbang mikroorganisme untuk mencapai
sirkulasi darah melalui saluran limfatik yang
bermuara di kelenjar getah bening mesenterium
yang berhubungan dengan ductus thoracicus.

Gejala Klinik
Gejala klasik yang karakteristik adalah demam
stepladder.
Penderita bisa mengeluh mengenai sakit kepala, mual,
menggigil, tidak nafsu makan dan perut tidak nyaman.
Pada pemeriksaaan penderita dapat menunjukkan
keadaan bradikardi relatif, pada orang yang berkulit
putih bercak merah di kulit (rose spots) dan sebagian
penderita juga memperlihatkan lidah kotor dan
gemetar dengan pinggir kemerahan (typhoid tongue).
Dalam minggu kedua gangguan kesadaran, tambah
lemah dengan demam yang tidak mau turun. Dalam
keadaan ini mungkin juga sudah dapat ditemukan
pembesaran dari hati dan limpa.

Diagnosis
Tes serologik Widal mengandalkan kenaikan titer
serologik minimal empat kali dari semula atau gejala klinik
yang ditunjang oleh kenaikan titer yang diatas angka ratarata penduduk sehat setempat. Banyak kekurangan dari
tes ini tetapi kemudahan dalam pelaksanaannya membuat
tes ini bertahan.
Tes cepat Tubex antigen somatik O9 S.typhi ternyata
lebih sensitif dari tes Widal dan pada saat ini mulai banyak
digunakan hanya sayang masih terbatas untuk S.typhi dan
tidak dapat merekam kelompok kuman paratifi.
Bakteriologi merupakan cara diagnostik paling ideal.
Kuman dapat diisolasi dari darah, sumsum tulang, tinja,
urin, maupun bercak merah di kulit.
Polymerase chain reaction (PCR) dianggap masih sulit dan
mahal

Pengobatan
Obat terpilih saat ini adalah golongan kuinolon,
yang cepat dapat menurunkan demam, jarang
penderitanya menjadi carrier dan efek samping
obat tergolong ringan. Sejak dahulu sampai saat
ini obat ini belum diijinkan secara formal untuk
digunakan padaanak..
Selain itu golongan kloramfenikol dan
cephalosporin juga dapat digunakan.
Untuk kelompok umur muda ini dapat digunakan
obat sefalosporin generasi tiga seperti
parenteral seftriakson atau oral sefiksim

2. Demam rheumatik
Penyakit vaskular kolagen multisistem yang terjadi setelah
infeksi streptokokus grup A pada individu yang rentan.
Keterlibatan kardiovaskular pada penyakit inr ditandai oleh
inflamasi endokardium dan miokardium melaiui proses
autoimun sehingga menyebabkan kerusakan jaringan.
Insidens tertinggi ditemukan pada anak usia 5-15 tahun.
Inflamasi berat dapat mengenai perikardium.
Valvulitis merupakan tanda utama karditis reumatik :
katup mitral (76%),
katup aorta (13%), dan
katup mitral+ aorta (97%).

3-4. Hepatitis
Hepatitis adalah inflamasi hepar yang
disebabkan oleh berbagai macam penyebab.
Penyebab hepatitis bervariasi, dimulai dari
autoimun, hepatitis imbas obat, virus, alkohol,
dan lain-lain.
Virus hepatitis merupakan infeksi sistemik
yang dominan menyerang hepar. Hepatitis
jenis ini paling sering disebabkan oleh virus
hepatotropik (virus Hepatitis A, B, C, D, E).

Hepatitis A
Hepatitis A Virus (HAV) ditularkan melalui
fekal oral, dengan kata lain dari konsumsi air
dan makanan yang terkontaminasi oleh HAV.
Virus terkandung dalam tinja penderita mulai
dari 2-3 minggu sebelum dan 1 minggu
sesudah timbulnya ikterik.

Semua hepatitis virus akut, apapun virus penyebabnya


dapat dibagi ke dalam 4 fase: fase inkubasi, fase
simtomatik preikterik, fase simtomatik ikterik
(jaundice dan sklera ikterik), dan fase konvalesen.
Fase inkubasi tidak bergejala. Infektifitas tertinggi,
dimana partikel virus beredar dalam darah, terjadi
mulai dari akhir fase asimtomatik pada periode
inkubasi hingga fase awal gejala klinis.
Fase preikterik ditandai dengan gejala konstitusional
seperti malaise, mual, dan penurunan nafsu makan.
Gejala lain seperti penurunan berat badan, demam
yang tidak begitu tinggi, nyeri kepala, mialgia, nyeri
sendi, muntah, dan diare merupakan gejala-gejala
lainnya yang tidak selalu muncul.

Setelah ikterik muncul, biasanya gejala-gejala


konstitusional yang dialami oleh pasien akan
menghilang. Ikterik pada hepatitis lebih didominasi
oleh peningkatan bilirubin direk (terkonjugasi). Oleh
karena itu, pada pasien akan ditemui tanda urine yang
berwarna gelap. Kerusakan hepatosit akan
menyebabkan gangguan pada konjugasi bilirubin
indirek, sehingga hiperbilirubinemia yang tidak
terkonjugasi juga bisa meningkat. Fase ikterik pada
hepatitis A biasa terjadi pada orang dewasa, tetapi
tidak pada anak-anak.
Dalam beberapa minggu hingga bulan semua gejala
dan tanda hepatitis seperti ikterik dan gejala sistemik
lainnya akan menghilang begitu memasuki fase
konvalesens.

Marker Hepatitis B

5. HIV-TB
Pasien dengan HIV dapat merubah presentasi
klinis dari penyakit TB
Menurut International Standard For Tubersulosis
Care (ISTC) :
Pemeriksaan HIV diindikasikan pada semua penderita
TB di daerah dengan prevalens HIV tinggi.
Pada daerah dengan prevalens HIV rendah,
pemeriksaan HIV diindikasikan pada mereka dengan
tanda dan gejala yang berhubungan dengan HIV atau
pasien TB dengan risiko tinggi terpajan virus HIV

HIV-TB
Terdapat beberapa karakteristik TB pada pasien
dengan infeksi HIV lanjut (khususnya CD4<200/mm3 )
yang perlu diperhatikan, karena perbedaan temuan
dengan kasus TB pada umumnya:
Pemeriksaan sputum sering negatif
Pemeriksaan tuberkulin dapat menjadi negatif
Pada pemeriksaan foto thoraks lebih umum terlihat
gambaran TB milier dan efusi pleura dibandingkan
dengan pasien imunokompeten.

Prinsip Pemberian ARV dan OAT

6. Hepatoma
Hepatoma merupakan keganasan hati
Berbagai penyebab hepatoma adalah
Infeksi kronik hepatitis Bsirosis hepatoma
Resistensi insulin non alcoholic liver disease
(NAFLD) sirosis hepatoma
Konsumsi alkohol alcohlic liver disease sirosis
hepatoma

Gejala yang akan dialami pasien dengan


hepatoma adalah: ikterik, ascites, mudah memar
(gangguan koagulasi), penurunan berat badan
dan nyeri abdomen.

6. Hepatoma
Tipe hepatoma paling umum adalah
hepatocellular carcinoma
Metode diagnostik yang dapat digunakan
meliputi: pemeriksaan kadar Alfa fetoprotein
(AFP). AFP merupakan penanda tumor yang akan
meningkat pada beberapa kasus seperti:
hepatocelluler carcinoma, germ cell tumor dan
kanker metasatasis hati. Selain itu pemeriksaan
CT-scan dengan kontras juga pilihan metode
diagnostik.

7. Target Lipid
Pada pasien dengan
hipertensi dan memiliki
penyakit jantung
koroner, maka target
utama dari pengobatan
adalah kolesterol LDL.
Trigliserida memberikan
tambahan informasi
untuk pertimbangan
diagnosis dan pilihan
terapi
ESC/EAS Guidelines for the management
of dyslipidaemias 2011

ESC/EAS Guidelines for the management


of dyslipidaemias 2011

8. Ulkus peptikum
Ulkus peptikum adalah suatu penyakit dimana
terjadinya kerusakan integritas mukosa
lambung atau duodenum yang menyebabkan
luka karena inflamasi aktif.

Etiologi
Infeksi H. pylori
Penggunaan Obat: Penggunaan NSAIDs adalah penyebab
paling umum dari ulkus peptikum. Penggunaan NSAID serta
kortikosteroid dapt mengganggu mekanisme pertahanan
lambung.
Faktor gaya hidup: Merokok dapat meningkatkan
pengosongan lambung serta mengganggu produksi
bikarbonat pancreas. Selain itu konsumsi alcohol
meningkatkan erosi lambung
Stres Fisiologis: Trauma mayor, luka bakar hebat
Faktor fisiologis
Genetik
Status hipersekresi: Gastrinoma, cystic fibrosis, dll.

Gejala
Berdasarkan anamnesis bisa didapatkan:
Nyeri epigastrium (pada ulkus duodenum 90 menit-3
jam setelah makan, nyeri yang diperbaiki oleh antacid
atau makanan, nyeri muncul pada tengah malam).
Pada ulkus gaster, nyeri diinisiasi oleh makanan
Mual/muntah
Dyspepsia menetap
Perut kembung
Riwayat pemakaian NSAIDs
Disfagia
Hematemesis/melena

Terapi

Terapi H Pylori
Triple therapy:
Bismuth + metronidazole + tetrasiklin
Ranitidine + tetracycline +
clarithomycin/metronidazole
Omeprazole + Clarythromycin +
Metronidazole/amoxicillin

9-10. Tuberkulosis

Efek Ssamping OAT


MAYOR

Kemungkinan Penyebab

HENTIKAN OBAT

Gatal & kemerahan

Semua jenis OAT

Antihistamin & evaluasi


ketat

Tuli

Streptomisin

Stop streptomisin

Vertigo & nistagmus (n.VIII) Streptomisin

Stop streptomisin

Ikterus

Sebagian besar OAT

Hentikan semua OAT s.d.


ikterik menghilang,
hepatoprotektor

Muntah & confusion

Sebagian besar OAT

Hentikan semua OAT & uji


fungsi hati

Gangguan penglihatan

Etambutol

Stop etambutol

Kelainan sistemik, syok &


purpura

Rifampisin

Stop rifampisin

Minor

Kemungkinan Penyebab

Tata Laksana

Tidak nafsu makan, mual,


sakit perut

Rifampisin

OAT diminum malam


sebelum tidur

Nyeri sendi

Pyrazinamid

Aspirin/allopurinol

Kesemutan s.d. rasa


terbakar di kaki

INH

Vit B6 1 x 100 mg/hari

Urine kemerahan

Rifampisin

Beri penjelasan

11. Marker Jantung


Cardiac troponins berperan petning dalam
mengakkan diagnosis dan stratifikasi risiko.
Khususnya marker berguna dalam membedakan
NSTEMI dan ubstable angina
Troponins merupakan pemeriksaan yang lebih
spesifik dan sensiti dibandingkan marker lain
seperti: creatine kinase (CK), isoenzyme MB (CKMB), dan myoglobin.
Setelah cedera jantung, troponin dapat
meningkat dalam 2-4 jam dan bertahan selama 7
hari
Daftar Pustaka: ESC Guidelines for the management of acute coronary syndromes
in patients presenting without persistent ST-segment elevation

12. Kolelitiasis
Kolelitiasis adalah adanya
batu pada saluran
kantung empedu
Gejala:
Mual
Nyeri regio perut kanan
atas
Nyeri khususnya dipicu
makanan berlemak
Jika disertai infeksi
sekunder,d apat
menyebabkan gejala
demam, dan menggigil.

4F: female, fat, forty dan


fertile

Lokasi Nyeri

Anamnesis

Pemeriksaan
Fisis

Pemeriksaan
Penunjang

Diagnosis

Terapi
PPI:
ome/lansoprazol
H. pylori:
klaritromisin+amoksi
lin+PPI

Nyeri epigastrik
Kembung

Membaik dgn makan Tidak spesifik


(ulkus duodenum),
Memburuk dgn
makan (ulkus
gastrikum)

Urea breath test (+):


H. pylori
Endoskopi:
eritema (gastritis
akut)
atropi (gastritis
kronik)
luka sd submukosa
(ulkus)

Dispepsia

Nyeri epigastrik
menjalar ke
punggung

Gejala: mual &


muntah, Demam
Penyebab: alkohol
(30%), batu empedu
(35%)

Nyeri tekan &


defans, perdarahan
retroperitoneal
(Cullen:
periumbilikal, Gray
Turner: pinggang),
Hipotensi

Peningkatan enzim
amylase & lipase di
darah

Pankreatitis

Nyeri kanan atas/ Prodromal (demam,


epigastrium
malaise, mual)
kuning.
Nyeri kanan atas/ Risk: Female, Fat,
epigastrium
Fourty, Hamil
Prepitasi makanan
berlemak, Mual,
TIDAK Demam

Ikterus,
Hepatomegali

Transaminase,
Serologi HAV, HBSAg,
Anti HBS
USG: hiperekoik dgn
acoustic window

Nyeri epigastrik/
kanan atas menjalar
ke bahu/ punggung

Murphy Sign

Mual/muntah,
Demam

Nyeri tekan
abdomen
Berlangsung 30-180
menit

USG: penebalan
dinding kandung
empedu (double
rims)

Hepatitis Akut

Resusitasi cairan
Nutrisi enteral
Analgesik

Suportif

Kolelitiasis

Kolesistektomi
Asam
ursodeoksikolat

Kolesistitis

Resusitasi cairan
AB: sefalosporin gen.
3 + metronidazol
Kolesistektomi

13. Osteoporosis Primer


Osteoporosis primer dibagi lagi lebih lanjut menjadi:
Tipe I (pasca menopause)
Ini terjadi pada wanita pasca menopause. Dengan begitu,
dapat dikatakan bahwa osteoporosis terjadi karena
kekurangan estrogen (hormon utama pada wanita) yang
membantu mengatur pengangkutan kalsium ke dalam
tulang pada wanita.
Tipe II (Senile)
Terjadi pada pria dan wanita usia. Hilangnya massa tulang
kortikal terbesar terjadi pada usia tersebut. Diakibatkan
oleh kekurangan kalsium yang berhubungan dengan usia
dan ketidakseimbangan antara kecepatan hancurnya
tulang dan pembentukan tulang baru. Penyakit ini
biasanya terjadi pada usia diatas 70 tahun dan dua kali
lebih sering menyerang wanita.

Vitamin D berperan penting dalam absorbsi


kalsium yang akhirnya berhubungan dengan
metabolisme kalsium tulang.
Pada kondisi kekurangan aktivasi vitamin D
seperti pada orang tua dan penyakit ginjal
kronik, maka akan terjadi pengeroposan
tulang sebagai akibat dari resorbsi tulang
untuk mengkompensasi kadar kalsium tulang.

7-dehydrocholesterol merupakan prekursor


vitamin D3 pada lapisan epidermis kulit.
Setelah mengalami reaksi elektrocyclic akibat
paparan terhadap UVB akan membentuk
cholecalciferol. Cholecalciferol akan
dihodroksilasi di hati untuk membentuk
calcifediol langkah terakhir adalah
hidroksilasi oleh ginjal menjadi calcitriol
(bentuk aktif dari vitamin D3)

14. Graves Disease


Tirotoksikosis: manifestasi peningkatan hormon
tiroid dalam sirkulasi. Hipertiroidisme:
tirotoksikosis yang disebabkan oleh kelenjar
tiroid hiperaktif.
Trias:
Hipertirioidsme: pembesaran tiroid hiperfungsional difus.
Optalmopati infiltratif menghasilkan exophthalmos.
Dermopati infiltratif terlokalisasi disebut mixedema
pretibial.

Indeks Wayne utk pasien dengan hipertiroidisme

Skor>19
hipertiroid
Skor<11
eutiroid
Antara 1119equivocal

Faktor Risiko & Etiologi

Kerentanan Genetis
Infeksi
Gender
Stress
Kehamilan
Iodin dan obat-obatan
Iradiasi

Patofisiologi
Autoimunitas sel limfosit B & T ke antigen:
Tiroglobulin
Peroksidase tiroid
Na+I- simporter
Reseptro tirotropin

Hyperthyroidism:

Tes Fungsi Tiroid

TSH, T4
TSH, T4 normal

TSH, T4
TSH, T4 atau T3
TSH, T4 & T3 normal
TSH, T4 dan T3

Preferensi tes dengan fT4


dan fT3 dibanding T4 dan
T3 total karena tidak
dipengaruhi level TBG

TSH normal, T4 abnormal

Hipotiroid
Hipotiroid subklinis,
hipotiroid dalam
perawatan.
TSH secreting tumor,
resistensi hormon tiroid
Hipertiroid
Hipertiroid subklinis
Sick euthyriodism,
gangguan pituitari
Perubahan TBG, gangguan
laboratorium,
amiodaron,tumor TSH
pituitari.

Tata Laksana
Terapi Obat Antitiroid
Titrasi
Blok dan subtitusi (atau blok suplemen)

Tiroidektomi
Dikerjakan dalam kondisi eutiroid klinis maupun
biokimiawi.

RAI radioactive iodium

15. Abses Paru


Abses paru merupakan nekrosis jaringan paru
dengan pembentukan kavitas dengan ukuran
umumnya diatas 2 cm.
Kavitas mengandung debris nekrotik dan
cairan akibat infeksi bakteri.
Berbagai penyebab abses paru adalah
pneumonia, emboli sptik, vasculitis.
Gejala: batuk, demam, keringat malam.

Diagnosis dari abses paru:


Gejala klinis
Pemeriksaan lab (peningkatan LED, sputum,
aspirasi transbronkial)
Pemeriksaan radiologis (xray: abses terlihat pada
sisi unilateral melibatkan lobus atas dan segmen
apikal dari lobus bawah)

16. Leptospira
Penyakit infeksi zoonotik yang disebabkan oleh
Leptospira patogen
Faktor risiko:
Pekerjaan; berkontak secara langsung & tidak
langsung dengan urin atau jaringan binatang yang
infeksius
Bidang pertanian, konstruksi, pembersih selokan,
laboratorium, dokter hewan, pekerja tambang, dan
tentara
Aktivitas berenang, memancing,di dalam air
terkontaminasi & bencana alam (banjir)

Perjalanan penyakit leptospira

Gejala

Keluhan demam yang tidak diketahui sebabnya


Ruam kulit
Sakit kepala terutama bagian frontal
Nyeri otot
Mata merah
Batuk, nyeri dada
Mual dan muntah
Kadang ikterik
Penggalian riwayat aktivitas atau pekerjaan

Tata laksana
Tata laksana suportif pemantauan ketat tanda-tanda vital,
tanda-tanda dehidrasi, perdarahan, keseimbangan cairan,
elektrolit, asam basa
Indikasi rawat inap ikterus, gagal ginjal, atau
trombositopeni
Antibiotik:
Leptospirosis ringan
Doxycycline 100 mg PO atau
Amoxicillin 500 mg PO atau
Ampicillin 500 mg PO
Leptospirosis sedang/berat
Penicillin 1,5 juta unit IV/IM per 6 jam atau
Ceftriaxone 1 gram/hari IV atau
Cefotaxime 1 gram IV per 6 jam

17-18. Demam Berdarah


Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit infeksi
yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh
nyamuk Aedes terutama Ae. aegypti.
Virus dengue (DEN-V) terdiri atas 4 serotipe yaitu DEN
1, DEN 2, DEN 3, dan DEN 4. Semua serotipe tersebut
terdapat di Indonesia
Gejala klinis infeksi dengue bervariasi mulai dari yang
paling ringan berupa flu-like syndrome hingga sindrom
renjatan dengue (SRD) dan kematian. Angka kesakitan
dan kematian akibat DBD di Indonesia masih tinggi.
Kematian terutama disebabkan renjatan hipovolemik
akibat kebocoran plasma dari intravaskular ke ruang
ekstravaskular akibat disfungsi endotel.

Demam Dengue
A. Demam Dengue (DF)
Probable demam akut dengan 2 atau lebih tanda
berikut :
Nyeri kepala
Nyeri retroorbital
Arthralgia
Rash
Manifestasi perdarahan
Leukopenia, DAN
IgM ELISA (+)
Confirmed kasus yang telah terkonfirm dengan
kriteria lab.

B. Demam Berdarah Dengue (DHF)


Empat tanda berikut di bawah ini harus ada :
Demam, atau riwayat demam, biasanya bifasik.
Kecenderungan perdarahan yang ditandai dengan
tes tornikuet (+), peteki/purpura/ekimosis,
perdarahan mukosa/GIT, hemateemesis/melena.
Trombositopenia ( < 100.000 sel/cc)
Bukti adanya kebocoran plasma yang
bermanifestasi sebagai berikut:
Peningkatan hematokrit > 20%
Penurunan hematokrit > 20% setelah pemberian
cairan
Adanya efusi pleura, asites atau hipoproteinemia.

Derajat keparahan DHF


DHF grade 1 : demam + gejala nonspesifik
konstitusional (anorexia, muntah, dll) + tes tornikuet
(+)
DHF grade 2 : sama seperti grade 1, ditambah gejala
perdarahan spontan mukokutan atau GIT (melena,
perdarahan gusi, petekie, dll)
DHF grade 3 (DSS) : ditandai oleh gejala kegagalan
hemodinanik seperti nadi lemah dan cepat (>120x/mnt
), hipotensi (<120 mmHg), dan akral dingin.
DHF grade 4 (DSS) : adanya shock dengan tekanan
darah dan nadi yang tidak terukur.

19-20. Diagnosis Diabetes


Berbagai keluhan dapat ditemukan pada
penyandang diabetes. Kecurigaan kearah
diabetes mellitus perlu dipikirkan apabila
terdapat keluhan klasik DM seperti di bawah ini:
Keluhan klasik DM berupa: poliuria, polidipsia,
polifagia, dan penurunan berat badan yang tidak
dapat dijelaskan sebabnya.
Keluhan lain dapat berupa: lemah badan,
kesemutan, gatal, mata kabur, dan disfungsi
ereksi pada pria, serta pruritus vulvae pada
wanita

Diagnosis
Diagnosis dapat ditegakkan melalui tiga cara:
Keluhan klasik + pemeriksaan glukosa plasma sewaktu
200 mg/dL. Glukosa plasma sewaktu adalah hasil
pemeriksaan sesaat pada suatu hari tanpa memperhatikan
waktu makan terakhir.
Pemeriksaan glukosa plasma puasa 126 mg/dL dengan
adanya keluhan klasik. Glukosa darah puasa artinya pasien
tidak mendapatkan tambahan kalori sedikitnya 8 jam
sebelum pemeriksaan.
Pemeriksaan glukosa 2 jam pada tes toleransi glukosa oral
(TTGO) dengan beban 75 gram glukosa 200 mg/dL .
Pemeriksaan ini lebih sensitif dan spesifik dibanding
dengan pemeriksaan glukosa plasma puasa, namun
pemeriksaan ini memiliki keterbatasan karena sulit untuk
dilakukan berulang-ulang dan dalam praktek sangat jarang
dilakukan karena membutuhkan persiapan khusus.

21-22. Gagal Jantung dan Murmur

23. Pemeriksaan Fungsi Ginjal


Kreatinin merupakan marker penanda fungsi
ginjal yang telah umum digunakan. Kreatinin
merupakan hasil produksi hepar dari metilasi
glycoyamine.
Kreatinin dikeluarkan dari tubuh melalui filtrasi
glomerolus Ginjal, karena itu merupakan
penanda yang baik untuk penurunan fungsi
filtrasi glomerolus.
Jika terjadi penurunan filtrasi, maka akan terjadi
peningkatan creatinin darah

24. Disentri Basiler


Diare mendadak yang disertai darah dan lendir dalam tinja.

Pada disentri shigellosis, pada permulaan sakit, bisa


terdapat diare encer tanpa darah dalam 6-24 jam pertama,
dan setelah 12-72 jam sesudah permulaan sakit,
didapatkan darah dan lendir dalam tinja.
Gejala:
Panas tinggi (39,5 - 40,0 C), kelihatan toksik.
Muntah-muntah.
Anoreksia.
Sakit kram di perut dan sakit di anus saat BAB.
Kadang-kadang disertai dengan gejala menyerupai
ensefalitis dan sepsis (kejang, sakit kepala, letargi, kaku
kuduk, halusinasi).

25. Infeksi saluran kencing


Sistitis: disuria, frekuensi, urgensi, nyeri
suprapubik, urin bau & kelabu.
Pyelonefritis: demam, menggigil, mual, muntah,
nyeri abdomen, diare, silinder leukosit.
Uretritis: disuria, frekuensi, pyuria.
Urinalisis sebaiknya menggunakan urin pagi hari
karena urin terakumulasi sepanjang malam
sehingga lebih banyak kelainan, seperti silinder
atau nitrit, yang dapat ditemukan untuk
diagnostik.

Pielonefritis merupakan infeksi pada ginjal,


umumnya disebabkan karena penjalaran infeksi
ascending dari UTI dibawah.
Gejala yang dialami apsiena dalah demam, nyeri
pinggang, dan mual.
Pada pemeriksaan lab dapat dijumpai:
leukositosis, Pemeriksaan urin: bakteriuria,
hematuria, silinder, pyuria.
Terapi: Ciprofloksasin selama 7 hari atau TMPSMX selama 14 hari

26. ARB

Pasien tanpa keadaan komorbid tertentu dapat


menggunakan diuretik golongan thiazide.
Diuretik thiazide dapat dipertimbangkan sebagai terapi lini
pertama pada sebagian besar kasus hipertensi.
ACE Inhibitor merupakan pengobatan yang rasional untuk
pasien dengan angina, risiko tinggi penyakit jantung
koroner, penyakit ginjal kronis dan diabetes.
ARB dengan indikasi yang sama seperti ACE-Inhibitor
merupakan pilihan yang populer dikarenakan minimnya
efek samping seperti batuk (ditemukan pada 10%
penyandang hipertensi yang mengkonsumsi ACE-I). ARB
juga terbukti mengurangi kejadian kardiovaskular pada
individu risiko tinggi.
Mancia G, De Backer G, Dominiczak A, Cifkova R, Fagard R, Germano F et al. 2007 Giudelines for the
management of arterial hypertension. The task force for the management of arterial hypertension of european
society of hypertension (ESH) and of the european society of cardiology (ESC). European heart Journal 2007;
28: 1462-1536.

1.
2.

ACE-I (kaptopril, lisinopril): Bradikinin & substansi P batuk


ARB (valsartan, losartan): Tidak menyebabkan batuk

27. Kelenjar Paratiroid


Terdapat 4 kelenjar paratiorid
yang terletak pada bagian
psoterior kelenjar tiroid
Kelenjar parathyorid
bertanggungjawab pada
menjada keseimbangan
kalsium:
Tulang: menstimulasi
pelepasan kalsium, resoorpsi
kalsium oleh osteoklas
Ginjal: menstimulasi absorpsi
kalsium, meningkatkan
absorbsi kalsium di usus

Hyperparathyroid dibagi menjadi dua:


Hyperparathyroid primer: Hasil dari hiperfungsi
kelenjar parathyroid akibat adenoma, hyperplasia
atau kadang carcinoma kelenjar parathyroid
Hyperparathyroid sekunder merupaka kelainan
fisiologis akibat berbagai keadaan yang
menyebabkan hypocalcemia. Penyebabnya adalah
defisiensi vitamin D (akibat kurangnya paparan
sinar matahari) atau penyakit ginjal kronik.

28. Gout

29. Pankreatitis akut


Pankreatitis akut merupakan peradangan pada
pankreas, umumnya disebabkan oleh batu empedu ,
konsumsi alkohol atau hypertrygliseridemia.
Gejala:
Nyeri abdomen bagian atas
Mual, muntah
demam

Pemeriksaan penunjang:
serum amilase dan lipase, enzim hati, kolesterol dan TG.
USG: dapat mengidentifikasi penyebab dari pankreatitis
seperti batu empedu

30. Koma Miksedema


Koma miksedema merupakan keadaan
dekompensasi dari hipotiroid.
Gejala koma miksedema meliputi: penurunan
kesadaran, hypothermia,hipotensi, bradikardia.
Miksedema adalah deposit jaringan konektif
(glycosaminoglycan, asam hyaluronic) pada kulit.
Tidak harus dijumpai pada keadaan koma
hypothyroid namun merupakan sebuah
fenomena yang dapat ditemui.
Terapi: salah satu terapi berupa pemberian
levothyroxine IV.

ILMU BEDAH DAN ANASTESIOLOGI

31. Tension Pneumothoraks

Treatment

Udara yang terkumpul


di rongga pleura tidak
dapat keluar lagi
Tekanan pada
mediastinum,paru dan
pembuluh darah besar
meningkat
Menyebabkan paru
pada bagian yang
terkena kolaps
http://www.trauma.org/index.php/main/article/199/

ABCs dengan c-spine


control sesuai indikasi
Needle Decompression
pada bagian yang
terkena
Oksigen aliran
tinggibag valve mask
Atasi syok karena
kehilangan darah
Memberitahukan RS dan
unit trauma secepatnya
Pemasangan WSD

32. Supracondylar Fracture


Fraktur siku tersering
pada anak-anak
Usia < 8 tahun

Mekanisme
Extension (95%) vs
flexion
Posisi menahan dengan
tangan ekstensi
Posisi menahan dengan
siku fleksi

Mechanism

Clinically
Mild swelling to gross deformity
Arm held to side, immobile,
extension
S-shaped configuration
angulasi lengan atas
Gartland
I - nondisplaced
II - displaced with intact posterior cortex
III - displaced fracture, no intact cortex
A: posteromedial rotation of distal fragment
B: posterolateral rotation

Gartland type I

Gartland type II

Gartland type III

Management
If NeuroVascular compromise - urgent ortho
consult
If no response from ortho in 60 min may
attempt 1 reduction
Watch brachial artery and median nerve
Gartland I splint+ sling and ortho f/u 24h
Gartland II - controversy but most get pinned
Gartland III - closed reduction and pin

http://www.rch.org.au/clinicalguide/guideline_index/fractures/Supracondylar
_fracture_of_the_humerus_Emergency_Department/

Supracondylar Fracture-Reduction

U-slab
http://orthoinfo.aaos.org/topic.cfm?topic=A00513

Conservative treatments take longer time,


risk of malunion, need more radiographic
examination
Surgery is the treatment of choice
Temporary immobilization with arm-sling,
surgery as soon as possible
Kenneth J.; Zuckerman, Joseph D. Handbook of Fractures, 3rd Edition
Lippincott Williams & Wilkins 2006

33. Gallbladder Disorder

Kolangitis
Infeksi pada traktus
biliaris
Trias Charcoat
Demam
Nyeri perut
kuadran kanan
atas
Kuning/ikterik

Pemeriksaan:
USG Abdomen
Endoscopic retrograde
cholangiopancreatography
(ERCP)
Magnetic resonance
cholangiopancreatography
(MRCP)
Percutaneous transhepatic
cholangiogram (PTCA)
Pemeriksaan lab:
Kadar Bilirubin
Kadar enzim hati/tes fungsi hati
Leukosit/White blood count
(WBC)

http://emedicine.medscape.com/article/184043-clinical

Disorder

Clinical Feature

Pancreatitis

Chronic Abdominal pain, normal or mildly elevated pancreatic enzyme levels,


malabsorbsion (steatorrhea), diabetes mellitus (CHRONIC)
sudden in onset abdominal pain radiates the back, worse in supine
position,Profuse vomiting, fever(ACUTE)

Acute cholesistis Acute right upper quadrant pain and tenderness, radiates to back or below
the right shoulder blade,Fever and leukocytosis, Clay-colored stools, jaundice,
Nausea and vomiting,Palpable gallbladder/fullness of the RUQ ,Murphy sign
Cholelithiasis

Episodic abdominal pain (increases when consuming fat), pain resolves over
30 to 90 minutes.localizes the pain to the epigastrium or right upper
quadrant radiation to the right scapular tip (Collins sign).Dyspepsia,Gallstones
on cholecystography or ultrasound scan,4F. Dx:USG, MRCP
Choledocholithiasis at least one gallstone in the common bile duct

Pancreatic
Tumor

>50 years,abdominal pain, lower back pain,jaundice, Dark urine and claycolored stools,Fatigue and weakness, Painless Jaundice, palpable gallbladder
(ie, Courvoisier sign),Loss of appetite and weight loss,Nausea and vomiting,
Trousseau sign, in which blood clots form spontaneously in the portal blood
vessels, the deep veins of the extremities, or the superficial veins anywhere
on the body, Diabetes mellitus, Tumor marker CA 19-9

34. Blunt Abdominal Trauma


Signs of intraperitoneal injury

Nyeri Abdominal, iritasi peritoneum


Distensi karena pneumoperitoneum,
Pembesaran gaster, atau terjadi ileus
Ekimosis daerah pinggang (gray-turner
sign) atau umbilikus(cullen's sign)
retroperitoneal hemorrhage
Kontusio Abdominal seat belts sign
Bising usus mengarahkan pada
trauma intraperitoneal
RT: Darah atau emfisema subkutan

http://regionstraumapro.com/post/663723636

Hollow and Solid Organs


The type of injury will depend on whether the organ injured is
solid or hollow.
hollow organs include:
stomach
intestines
gallbladder
bladder

solid organs
include:
liver
spleen
kidneys

Abdominal Injuries
Ruptur organ berongga

Ruptur Organ Solid

Akan mengeluarkan udara


dan cairan/sekret GIT yang
infeksius
Sangat mengiritasi
peritoneumperitonitis

Menyebabkan perdarahan
internal yang berat
Darah pada rongga
peritoneum peritonitis
Terlihat gejala syok akibat
perdarahan hebat
Gejala peritonitis dapat tidak
terlalu terlihat

35. Urolithiasis
Batu pada saluran kemih
Tanda:

Nyeri pinggang
Irritative voiding symptom
mual
Hematuria mikroskopik

Kristal urin dapat ditemukan


pada urinalisis: kalsium oksalat,
asam urat, sistein
Diagnosis: IVP

optimized by optima

http://urology.iupui.edu/papers/reconstructive_bph/s0094014305001163.pdf

36. Trauma Uretra


Curiga adanya trauma
pada traktus urinarius
bag.bawah, bila:
Terdapat trauma
disekitar traktus
urinarius terutama
fraktur pelvis
Retensi urin setelah
kecelakaan
Darah pada muara OUE
Ekimosis dan hematom
perineal

Don't pass a diagnostic


catheter up the patient's
urethra because:

Retrograde
urethrography

The information it will give


will be unreliable.
May contaminate the
haematoma round the
injury.
May damage the slender
bridge of tissue that joins
the two halves of his
injured urethra
Posterior urethral rupture above the
intact urogenital diaphragm
following blunt trauma
http://ps.cnis.ca/wiki/index.php/68._Urinary

Modalitas pencitraan yang


utama untuk mengevaluasi
uretra pada kasus trauma
dan inflamasi pada uretra

Retrograde Urethrogram (RUG)


Evaluasi uretra
anterior dan posterior
striktur, trauma
Teknik:
Kateter dimasukkan ke
fossa navicularis,
kontras dimasukkan
dan di foto
Terdapat resistensi
pada uretra
membranosa dan
sphincter

Normal RUG

Static Cystourethrography
Mengevaluasi lesi pada
vesikaruptur,
kebocoran, terutama
karena trauma
Vesika diisi dengn
kontras menggunakan
lateter

Voiding Cystourethrogram
(VCUG)
Evaluasi anatomi dan
fungsonal vesikar
Biasanya untuk anakanak dengan ISK
berulang

Foto AP dan oblique


(melihat ekstravasasi
pada vesika posterior
Foto post voiding
Normal Male Cystogram

VCUG

To estimate scattered burns: patient's palm


surface = 1% total body surface area

37. Total Body Surface


Area

Kebutuhan Cairan:
4 x 30 x 70 = 8400 ml
8 jam pertama
8400 ml / 2 = 4200ml
Parkland formula = baxter formula
http://www.traumaburn.org/referring/fluid.shtml

38. Tatalaksana Batu Ginjal

Batu Ureter

39. Hemoroid

Hemoroid eksterna

Hemoroid Interna

Diluar anal canal, sekitar sphincter

Didalam anal canal

Gejala terjadi karena thrombosis

Gejala timbul karena perdarahan atau


iritasi mukosa

Tidak dapat dimasukkan ke dalam anal


canal

dapat dimasukkan ke dalam anal canal


sampai grade III

40.Kriptorkismus
Kriptorkismus: testis tidak ada dalam skrotum dan
tidak dapat dimasukkan ke skrotum
Ectopic: tidak melewati jalur turunnya testis
Retraktil: dapat dimanipulasi hingga masuk ke dalam
skrotum dan dapat menetap tanpa tarikan
Gliding: dapat dimanipulasi hingga masuk ke dalam
skrotum namun bila dilepas akan tertarik kembali
Ascended: sebelumnya telah ada dalam skrotum lalu
tertarik ke atas secara spontan

Testis yang tidak teraba


muncul sekitar 20-30%
pada pasien
kriptorkismus
Hanya 20-40% dari
testis yang tidak teraba,
saat dioperasi benarbenar tidak ada

http://radiologymasterclass.co.uk/tutorials/musculoskeletal/trauma/trauma_x-ray_page8.html

41. Complications of Fracture Healing


Delayed Union
Poor blood supply or infection.

Non-Union
Bone loss or wound contamination.

Malunion
Bone healed in a nonanatomic position
Can be angulated, rotated, or shortened
Affect function?
Likely to affect function?
Consequences with or without treatment

Fibrous Union
Improper immobilization

Avascular necrosis (AVN)


the death of bone cells through lack of blood supply
its internal blood supply is compromised

Avascular Necrosis
Definisi
Hilangnya aliran darah ke
tulang sehingga
menyebabkan matinya selsel tulang

Kaput Femoris
tersering
Bahu Caput humeri
Odontoid (Neck)
Scaphoid (Wrist)
Lunate (Wrist)
Talus (Ankle)

Etiologies

Trauma
Alcohol
Steroids
Diving (Caissons
Disease)
Sickle Cell
Idiopathic (up to 30% of
cases)

Risk Factor
Alcoholism
Pancreatitis
Diabetes
Gout
Elderly

43. Gambaran Histologis


Hemoroid structur
vaskular dalam anal
canal
Gambaran Histologis
Epitel skuomosa
kolumnar simplex dan
eptel skuomosa
bertingkat dengan
pelebaran vena pada
lapisan lamina proria
dan submukosa

http://en.wikipedia.org/wiki/Burn

44. Luka Bakar

prick test (+)

Berat luka bakar:


Ringan: derajat 1 luas <
15% a/ derajat II < 2%
Sedang: derajat II 1015% a/ derajat III 510%
Berat: derajat II > 20%
atau derajat III > 10%
atau mengenai wajah,
tangan-kaki, kelamin,
persendian,
pernapasan

45. Management of Trauma Patient

Assessment of a Spinal Injury Patient


Consider spinal precautions

Cedera Kepala
Intoksikasi
Trauma/jejas diatas bahu
Multiple trauma

Maintain manual stabilization

Vest style versus rapid


extrication
Maintain neutral alignment
Increase of pain or resistance,
restrict movement in position
found

Signs and Symptoms of a


Spinal Cord Injury
Paralisis Extremitas
Nyeri dengan atau tanpa
pergerakan
Tenderness along spine
Kesulitan bernapas
Spinal deformity
Priapism
Posturing
Loss of bowel or bladder control
Nerve impairment to extremities

Airway Management

Simple management
maneuvers
Suction
Chin lift
Jaw thrust
Definitive airway: Cuffed tube
in tracheaendotracheal tube

Pasien tidak sadar:


GCS <9
Obstruksi karena
Lidah
Aspirasi
Benda asing
Trauma Maksilofasial
Trauma leher
Management:
Careful endoscopic exam
Careful and gentle intubation, or
Surgical airway?

Modifikasi untuk pasien dengan kecurigaan trauma medula


spinalis:
1. Tongue/jaw lift
2. Modified jaw thrust

46. The Breast Lump


Tumors

Onset

Feature

Breast cancer

30-menopause

Invasive Ductal Carcinoma , Pagets disease (Ca Insitu),


Peau dorange , hard, Painful, not clear border,
infiltrative, discharge/blood, Retraction of the
nipple,Axillary mass

Fibroadenoma
mammae

< 30 years

They are solid, round, rubbery lumps that move freely in


the breast when pushed upon and are usually painless.

Fibrocystic
mammae

20 to 40 years

lumps in both breasts that increase in size and


tenderness just prior to menstrual bleeding.occasionally
have nipple discharge

Mastitis

18-50 years

Localized breast erythema, warmth, and pain. May be


lactating and may have recently missed feedings.fever.

Philloides
Tumors

30-55 years

intralobular stroma . leaf-likeconfiguration.Firm,


smooth-sided, bumpy (not spiky). Breast skin over the
tumor may become reddish and warm to the touch.
Grow fast.

Duct Papilloma

45-50 years

occurs mainly in large ducts, present with a serous or


bloody nipple discharge

Treatment:
Watchfull waiting
Traditional open excisional biopsy

Biopsy
Pengambilan sampel sel atau jaringan untuk
diperiksa
Untuk menentukan adanya suatu penyakit

Types of Biopsy

Definitions

Excisional biopsy

Bila seluruh massa atau area yang dicurigai dapat diangkat

Incisional biopsy
or core biopsy

Bila hanya sebagian jarinngan sebagai sampel, yang dapat


diangkat, dengan tetap mempertahankan gambaran
histologis jaringan dan sel yang diambil

Needle aspiration
biopsy

Bila sampel jaringan atau cairan diambil dengan jarum tanpa


mempertahankan gambaran histologisnya

Terminology

Definitions

Enucleation

Pengangkatan massa tanpa memotong atau mengiris massa


tersebuteye enucleation

Debulking

Operasi pengangkatan bagian dari tumor ganas yang tidak


dapat diangkat semuanya, untuk meningkatkan efektivitas
dari radiasi atau kemoterapi

Extirpation

Pengangkatan massa dari suatu organ atau jaringan

47. Abdominal Colic

Histologic Findings
Makroskopic
Kongesti dan udem.
Dilatasi lumen yang mengandung pus,fecalith atau
keduanya.
Serosa dilapisi dengan fibrin, eksudat fibrinopurulen atau
pus.

Mikroskopik
Ulserasi mukosa dan infiltrasi PMN, eosinofil, sel plasma,
dan limfosit, diseluruh lapisan dan seringkali sampai
lapisan serosa
Pada stadium lanjut, proses inflamasi melibatkan seluruh
ketebalan dinding apendiks dengan nekrosis dinding
sebagian (perforasi)

Robbins Pathologic Basis of Disease, 6th ed. P.839-840.

soundnet.cs.princeton.edu

48. Posterior Hip Dislocation


Gejala
Nyeri lutus
Nyeri pada sendi
panggul bag.
belakang
Sulit
menggerakkan
ekstremitas
bawah
Kaki terlihat
memendek dan
dalam posisi
fleksi, endorotasi
dan adduksi
Risk Factor
Kecelakaan
Improper seating
adjustment
sudden break in
the car
netterimages.com

49. Intracranial Hemorrhage

Epidural hematoma:
Interval lucid decreased of
consciousness
Etiology: trauma rupture of a.
meningeal media

Subdural hematoma
Hemiparesis, decrease of
consciousness, cephalgia
Etiology: trauma rupture of bridging
vein in elderly or infant

Subarachnoid hemorrhage (stroke)


Thunderclap headache, meningeal
signs, decreased of consciousness
Etiology: aneurysma rupture e.c. heavy
exertion/sexual intercourse

Intracerebral hemorrhage
Paresis, hypesthesia, ataxia, decreased
of consciousness
Etiology: Hypertension,trauma

Misulis KE, Head TC. Netters concise neurology. 1st ed. Saunders; 2007

Tipe Perdarahan

Lokasi

Gejala/Tanda

Perdarahan
intraserebral

Perdarahan di dalam jaringan


otak

Nyeri kepala hebat, penurunan


tingkat kesadaran dalam 24-48jam,
hemiparesis/hemiplegia,
hemisensorik, pin point pupil (bila di
pons)

Perdarahan subdural

Perdarahan antara duramater


dan arakhnoid

Sakit kepala, mual, muntah, vertigo,


papil edema, diplopia, hingga
penurunan kesadaran

Perdarahan epidural

Perdarahan antara tengkorak


Lucid interval (pada 20-50%),
dan duramater, biasanya akibat hemiparesis, penurunan kesadaran
robekan pada a.meningens
progresif, pupil anisokor

Edema otak

merupakan keadaan-gejala patologis, radiologis, maupun tampilan


ntra-operatif dimana keadaan ini mempunyai peranan yang sangat
bermakna pada kejadian pergeseran otak (brain shift) dan
peningkatan tekanan intrakranial

Perdarahan
intraventrikuler

Perdarahan ke dalam ventrikel otak. Gejala : nyeri kepala hebat, kaku


kuduk, muntah, letargi, penurunan kesadaran

50. Colles Fracture


Fraktur tersering pada tulang yang
mengalami osteoporosis
Extra-Articular : 1 inch of distal Radius
Mekanisme trauma: Jatuh pada pergelangan
tangan pada posisi dorsofleksi
Typical deformity : Dinner Fork
Deformity is : Impaction, dorsal
displacement and angulation, radial
displacement and angulation and avulsion of
ulnar styloid process
http://www.learningradiology.com

Colles Fracture

optimized by optima

http://www.learningradiology.com

Smith Fracture
Hampir berlawanan dengan Colles fracture
Lebih jarang terjadi dibandingkan dengan
colles
Mekanisme trauma: Jatuh pada pergelangan
tangan pada posisi palmar fleksi
Typical deformity : Garden Spade
Management is conservative : MUA and
Above Elbow POP
http://www.learningradiology.com

Smith Fracture

http://www.learningradiology.com

Galleazzi Fracture
Fraktur distal radius
dan dislokasi sendi
radio-ulna ke arah
inferior
Like Monteggia fracture
if treated conservatively
it will redisplace
This fracture appeared
in acceptable position
after reduction and POP
http://www.learningradiology.com

51. Hipoksia
1) FULMINANT hypoxia (Arterial Po2<20mmHg)
(eg.aircraft loses cabin pressure above 30,000 feet and no supplemental O2 available)

Occurs in seconds

Unconsciousness in 15-20 sec


Brain death in 4-5 min

2) ACUTE hypoxia (25mmHg<Arterial Po2<40mmHg)


(eg.altitudesof 18,000-25,000 feet)

Symptoms similar to those of ethyl alcohol(lack of coordination,slowed


reflexes,overconfidence)
eventually

Unconsciousness
Coma and death(in minutes to hours)
if the regulatory mechanisms of the body are
inadequate

3) CHRONIC hypoxia (40mmHg<Arterial Po2<60mmHg)


(eg.at altitudes of 10,000-18,000 feet for extended periods of time)

FOR EXTENDED PERIODS OF TIME!!!

Most clinical causes of hypoxia are in these category

Symptoms similar to those of severe fatigue

DYSPNEA
SHORTNESS OF BREATH + RESPIRATORY ARRHYTHMIAS

52. Dis.Bahu (D. Glenohumeralis)

Keluarnya caput humerus dari cavum gleinodalis

Etio : 99% trauma

Pembahagian
1. Dis. Anterior (98 %)
2. Dis.Posterior (2 %)

3. Dis. Inferior

Mekanisme Trauma
1. Puntiran sendi bahu tiba-tiba

2. Tarikan sendi bahu tiba-tiba


3. Tarikan & puntiran tiba-tiba

Dislokasi Anterior
Lengkung (contour) bahu berobah,
Posisi bahu abduksi & rotasi ekterna
Teraba caput humeri di bag anterior
Back anestesi ggn n axilaris
Radiologis memperjelas D
Rontgen Foto
CT Scan

Dislokasi Posterior: Klinis

Lengan dipegang di depan dada


Adduksi
Rotasi interna
Bahu tampak lebih datar (flat and squared off)

http://emedicine.medscape.com/article/184043-clinical

53. Traktus Bilier


Disorder

Clinical Feature

Pancreatitis

Chronic Abdominal pain, normal or mildly elevated pancreatic enzyme levels,


malabsorbsion (steatorrhea), diabetes mellitus (CHRONIC)
sudden in onset abdominal pain radiates the back, worse in supine
position,Profuse vomiting, fever(ACUTE)

Acute cholesistis Acute right upper quadrant pain and tenderness, radiates to back or below
the right shoulder blade,Fever and leukocytosis, Clay-colored stools, jaundice,
Nausea and vomiting,Palpable gallbladder/fullness of the RUQ ,Murphy sign
Cholelithiasis

Episodic abdominal pain (increases when consuming fat), pain resolves over
30 to 90 minutes.localizes the pain to the epigastrium or right upper
quadrant radiation to the right scapular tip (Collins sign).Dyspepsia,Gallstones
on cholecystography or ultrasound scan,4F. Dx:USG, MRCP
Choledocholithiasis at least one gallstone in the common bile duct

Pancreatic
Tumor

>50 years,abdominal pain, lower back pain,jaundice, Dark urine and claycolored stools,Fatigue and weakness, Painless Jaundice, palpable gallbladder
(ie, Courvoisier sign),Loss of appetite and weight loss,Nausea and vomiting,
Trousseau sign, in which blood clots form spontaneously in the portal blood
vessels, the deep veins of the extremities, or the superficial veins anywhere
on the body, Diabetes mellitus, Tumor marker CA 19-9

54. Hemorrhaegic Shock

http://urology.iupui.edu/papers/reconstructive_bph/s0094014305001163.pdf

55. Trauma Uretra


Curiga adanya trauma
pada traktus urinarius
bag.bawah, bila:
Terdapat trauma
disekitar traktus
urinarius terutama
fraktur pelvis
Retensi urin setelah
kecelakaan
Darah pada muara OUE
Ekimosis dan hematom
perineal

Uretra Anterior:
Anatomy:
Bulbous urethra
Pendulous urethra
Fossa navicularis

Etiologi:
Straddle type injuries
Intrumentasi
Fractur penis

Gejala Klinis:
Disuria, hematuria
Hematom skrotal
Hematom perineal akan timbul bila terjadi
robekan pada fasia Bucks sampai ke dalam fasia
Collesbutterfly hematoma in the perineum
will be present if the injury has disrupted Bucks
fascia and tracks deep to Colles fascia, creating a
characteristic butterfly hematoma in the
perineum

Therapy:
Cystostomi
Immediate Repair

Uretra Posterior :
Anatomy
Prostatic urethra
Membranous urethra

Etiologi:
Fraktur tulang Pelvis

Gejala klinis:

Darah pada muara OUE


Nyeri Pelvis/suprapubis
Perineal/scrotal hematom
RT Prostat letak tinggi atau
melayang

Radiologi:
Pelvic photo
Urethrogram

Therapy:
Cystostomi
Delayed Repair

56. Foreign Body Obstruction


Jackson (1936) membagi sumbatan
bronkus menjadi 4 tingkat
1.

Sumbatan sebagian (bypass valve


obstruction=katup bebas)

2.

Sumbatan seperti pentil, ekspirasi


terhambat, atau katup satu arah
(expiratory check valve obstruction)

3.

terdengar wheezing

Stridor inspirasi

Seperti pentil namun hambatan


inspirasi (Inspiratory check valve)

stridor ekspirasi

Iskandar N. Sumbatan Traktus Trakeobronkial. Buku ajar THT edisi 6 FKUI 2007

4.

Sumbatan total (stop valve


obstruction)

tidak terdengar stridor

ILMU PENYAKIT MATA

57. Funduskopi
Merupakan pemeriksaan untuk menilai fundus
okuli terutama retina dan papil saraf optik
Papil
Batas tegas, bulat lonjong, kabur
Warna pucat atau merah jambu, ekskavasi

Pembuluh darah retina


Bentuk, jumlah, lurus atau berkelok, warna, titik persilangan,
spasme, rasio arteri dan vena

Retina
Eksudat, perdarahan, sikatrik koroid atau ablasi
Makula lutea
Sidarta ilyas, Ilmu penyakit mata

58. Konjungtivitis Alergika


Swelling (inflamation) or infection of the membrane
lining the eyelids

Vaughn DG, Oftalmologi Umum, ed.14

59. Glaukoma

Glaukoma adalah penyakit saraf mata yang berhubungan dengan peningkatan


tekanan bola mata (TIO Normal : 10-24mmHg)
Ditandai : meningkatnya tekanan intraokuler yang disertai oleh pencekungan
diskus optikus dan pengecilan lapangan pandang
Jenis Glaukoma :
Primer yaitu timbul pada mata yang mempunyai bakat bawaan, biasanya bilateral
dan diturunkan.
Sekunder yang merupakan penyulit penyakit mata lainnya (ada penyebabnya)
biasanya Unilateral

Mekanisme : Gangguan aliran keluar humor akueus akibat kelainan sitem


drainase sudut kamera anterior (sudut terbuka) atau gangguan akses humor
akueus ke sistem drainase (sudut tertutup)
Pemeriksaan :
Tonometri : mengukur tekanan Intraokuler (TIO)
Penilaian diskus optikus : pembesaran cekungan diskus optikus dan pemucatan
diskus
Lapang pandang
Gonioskopi : menilai sudut kamera anterior sudut terbuka atau sudut tertutup

Pengobatan : menurunkan TIO obat-obatan, terapi bedah atau laser

http://emedicine.medscape.com/article/1206147

Types of Glaucoma

www.wikipedia.org

Causes

Etiology

Clinical

Acute Glaucoma

Pupilllary block

Acute onset of ocular pain, nausea, headache, vomitting, blurred


vision, haloes (+), palpable increased of IOP(>21 mm Hg),
conjunctival injection, corneal epithelial edema, mid-dilated
nonreactive pupil, elderly, suffer from hyperopia, and have no
history of glaucoma

Open-angle
(chronic)
glaucoma

Unknown

History of eye pain or redness, Multicolored halos, Headache,


IOP steadily increase, Gonioscopy Open anterior chamber
angles, Progressive visual field loss

Congenital
glaucoma

abnormal eye
development,
congenital infection

present at birth, epiphora, photophobia, and blepharospasm,


buphtalmus (>12 mm)

Secondary
glaucoma

Drugs
(corticosteroids)
Eye diseases (uveitis,
cataract)
Systemic diseases
Trauma

Sign and symptoms like the primary one. Loss of vision

Absolute
glaucoma

end stage of all types of glaucoma, no vision, absence of


pupillary light reflex and pupillary response, stony appearance.
Severe eye pain. The treatment destructive procedure like
cyclocryoapplication, cyclophotocoagulation,injection of 100%
alcohol

60. Buta Warna


Buta warna merah dan hijau laki-laki
Buta warna diturunkan melalui kromosom X

61. Ablasio retina


Adalah lepasnya lapisan
dalam dari retina dari
lapisan epitelium pigment
(choroid)
Gejala dan tanda
Photopsia sensasi
meliat kilat
Gangguan lapang pandang
Adanya sensasi seperti tirai
menutup pandangan

62. Konjungtivitis Bakterialis

63.Tatalaksana Glaukoma Akut


Penurunan TIO beta blocker, alpha 2-adrenergik
agonis, carbonic anhydrase

Tekanan IO diturunkan dengan :


Pilokarpin 2 % tiap menit selama 5 menit tiap 1 jam
selama satu hari
Asetazolamid 500 mg IV tablet 250 mg/4 jam

Nyeri dikurangi dengan xilokain 2%


retrobulbar
Pembedahan hanya untuk glaukoma sudut
sempit iridektomi

64. Hifema
Blood in the front (anterior) chamber of the eye a reddish tinge,
or a small pool of blood at the bottom of the iris or in the cornea.
May partially or completely block vision.
The most common causes of hyphema are intraocular surgery, blunt
trauma, and lacerating trauma
The main goals of treatment are to decrease the risk of rebleeding
within the eye, corneal blood staining, and atrophy of the optic
nerve.
Treatment :elevating the head at night, wearing an patch and
shield, and controlling any increase in intraocular pressure. Surgery
if non-resolving hyphema or high IOP
Complication: rebleeding, peripheral anterior synechiea, atrophy
optic nerve, glaucoma (months or years after due to angle closure)

65. TRAUMA KIMIA MATA

Merupakan trauma yang mengenai bola


mata akibat terpaparnya bahan kimia baik
yang bersifat asam atau basa yang dapat
merusak struktur bola mata tersebut
Keadaan kedaruratan oftalmologi karena
dapat menyebabkan cedera pada mata,
baik ringan, berat bahkan sampai
kehilangan penglihatan
Etiologi : 2 macam bahan yaitu yang
bersifat asam (pH < 7) dan yang bersifat
basa (pH > 7,6)
Pemeriksaan Penunjang :

Kertas Lakmus : cek pH berkala


Slit lamp : cek bag. Anterior mata dan lokasi luka
Tonometri
Funduskopi direk dan indirek

Klasifikasi :
Derajat 1: kornea jernih dan tidak ada
iskemik limbus (prognosis sangat baik)
Derajat 2: kornea berkabut dengan
gambaran iris yang masih terlihat dan
terdapat kurang dari 1/3 iskemik limbus
(prognosis baik)
Derajat 3: epitel kornea hilang total,
stroma berkabut dengan gambaran iris
tidak jelas dan sudah terdapat 1/2
iskemik limbus (prognosis kurang)
Derajat 4: kornea opak dan sudah
terdapat iskemik lebih dari 1/2 limbus
(prognosis sangat buruk)

http://samoke2012.files.wordpress.com/2012/10/trauma-kimia-pada-mata.pdf

Trauma Kimia
Tatalaksana Emergensi :
Irigasi : utk meminimalkan
durasi kontak mata dengan
bahan kimia dan
menormalkan pH mata; dgn
larutan normal saline (atau
setara)
Double eversi kelopak mata :
utk memindahkan material
Debridemen : pada epitel
kornea yang nekrotik

Tatalaksana Medikamentosa :
Steroid : mengurangi
inflamasi dan infiltrasi
neutrofil
Siklopegik : mengistirahatkan
iris, mencegah iritis (atropine
atau scopolamin) dilatasi
pupil
Antibiotik : mencegah infeksi
oleh kuman oportunis

http://samoke2012.files.wordpress.com/2012/10/trauma-kimia-pada-mata.pdf; Ilmu Penyakit Mata, Sidarta Ilyas

The Goals Of
Management :

Removing the offending agent

Immediate copious irrigation

Prophylactic topical antibiotics

Controlling IOP

Inflammatory inhibits reepithelialization


and increases the risk of corneal ulceration
and perforation
Topical steroids
Ascorbate (500 mg PO qid)

Preventing infection

artificial tears
Ascorbate collagen remodeling
Placement of a therapeutic bandage contact
lens until the epithelium has regenerated

Controlling inflammation

Pain relief Topical anesthetic

Promoting ocular surface(epithelial)healing

With a sterile balanced buffered solution


normal saline solution or ringer's lactate
solution
Until the ph (acidity) of the eye returns to
normal

In initial therapy and during the later


recovery phase, if IOP is high (>30 mm Hg)

Control pain

Cycloplegic agentsciliary spasm


Oral pain medication

66. Konjungtivitis Klamidia


EPIDEMIOLOGY
Adult chlamydial conjunctivitis is a
sexually transmitted disease (STD)
All ages but particularly young adults
More women than men affected C.
trachomatis serotypes D-K
Histopathology: basophilic intracytoplasmic
epithelial inclusion bodies (on Giemsa
staining)
SYMPTOMS
Unilateral or bilateral involvement
Purulent discharge, crusting of lashes,
swollen lids, or lids "glued together"
Patient may also complain of:
red eyes
irritation
tearing
photophobia
blurred vision

SIGNS
Preauricular lymphadenopathy
Mucopurulent discharge
Conjunctival injection
Chemosis
Follicular reaction (especially bulbar or
plica semilunaris follicles)
Superior micropannus
Fine or coarse epithelial or subepithelial
corneal infiltrates
TREATMENT
Options include one of the following:
Azithromycin 1000mg single dose
Doxycycline 100mg BID for 7 days
Tetracycline 100mg QID x 7 days (avoid in
pregnant women and in children)
Erythromycin 500 mg QID x 7 days
Patient and sexual contacts should be
evaluated and treated for other STDs.

http://www.aao.org/theeyeshaveit/red-eye/chlamydial-conjunctivitis.cfm

67. Konjungtivitis Akut


Konjungtivitis merupakan radang konjungtiva
atau selaput lendir yang menutupi belakang
kelopak dan bola mata
Gejala khusus pada konjungtivitis adalah
sekret hasil produksi sel goblet

68.Endophtalmitis

Uveitis
acute, sterile anterior segment inflammation
develop symptoms within 12 to 24 hours of the surgery
Red eye and painfull
Slit lamp increased cell and flare, hypopyon formation, diffuse corneal
edema
Swelling of the macula (cystoid macular edema)
between 2 and 12 weeks after cataract surgery
vision becomes blurry after a period of clear vision
Risk Factor:age-related macular degeneration, diabetic retinopathy
Retinal detachment
Fluid seeps through a tear in the retina
shadow in field of vision, floaters or flashing lights
Endophthalmitis
Painful eyeball, Lid oedema, chemosis, conjunctival injection
very poor vision
sensitivity to light
Purulent discharge hypopyon, corneal infiltrates

NEUROLOGI & PSKIATRI

69. CT Scan
CT scan merupakan pemeriksaan gold standar untuk
penegakkan diagnosis stroke
- Stroke hemorargik
Ct- scan merupakan pemeriksaan yang dapat dipercaya
untuk menegakkan diagnosis perdarahan akut
(terutama dalam seminggu pertama serangan stroke)
- Stroke iskemik
dalam satu jam pertama serangan stroke iskemik,
hanya <50% infark yang dapat terlihat perlu
diffusion weighted MRI

CT Scan pada Stroke Iskemik


Stadium Hiperakut (<12
jam serangan)
Normal 50-60%
Arteri hiperdense (dense
MCA sign)
Obstruksi pada nukleus
lentiformis
Insular ribbon sign

Acute : 12 24 jam
serangan
Low density basal
ganglia
Sulcal effacement

1 3 hari setelah
serangan
Peningkatan massa
Transformasi hemorargik

70. Meningitis TB

DIAGNOSIS ME TB

ME TB bersifat subakut
Gejala prodormal :
Demam sub akut, malaise, nyeri
kepala, pusing, muntah dan
perubahan personaliti (muncul
beberapa minggu sebelumnya)

Setelah prodormal selesai, pasien


akan menderita nyeri kepala
hebat, perubahan kesadaran,
stroke, hidrosefalus, dan
neuropati kranial
Kejang jarang terjadi pada orang
dewasa bila ada kemungkinan
meningitis bakterial atau virus
atau tuberkuloma serebri
Kejang sering muncul pada pasien
anak (hampir 50% kasus)

Penegakkan diagnosis berdasar


pada manifestasi klinis dan
pemeriksaan CSF
Pada pemeriksaan CSF
didapatkan :
Pleositosis dengan predominan
limfosit
Total WBC 100 and 500 cells/L.
Pada fase awal, sel darah putih
dapat rendah dengan predominan
neutrofil
Protein meningkat antara 100 dan
500 mg/dL,
Glukosa rendah kurang dari
45mg/dL atau rasio CSF: plasma
<0.5

Marx GE, Chan ED. Tuberculous Meningitis : Diagnosis and Treatment Review. Hindawi Publishing Corporation Tuberculosis Research and
Treatment Volume 2011, Article ID 798764, 9 pages

TERAPI ANTIMIKROBIAL ME TB

71. Nyeri Pinggang Bawah


Neurologic exam
A. Deep tendon reflexes (knee
jerk L4, ankle jerk S1)
B. Straight-leg raise
C. Dorsiflexion of ankle during
straight-leg raise test increases
sciatic tension and pain
D. Plantar flexion at ankle during
straight-leg raise relieves
sciatic tension and pain
E. Ankle clonus
F. Consider rectal exam (for tone)
and check for perianal
sensation (cauda equina
syndrome

72. Afasia
Afasia adalah gangguan berbahasa baik dalam memproduksi dan/atau memahami
bahasa
Tujuh komponen Wernicke-Geshwind Model

Stimulus auditif sistem


audiktif area auditif primer
di girus Hiscl (di kedua lobus
temporalis) area auditif
primer di hemisfer yg dominan
area asosiasi auditif
(Wernicke area) informasi
diteruskan ke daerah enkoding
motorik (area Broca)

Afasia Global
Melibatkan seluruh daerah bahasa di fisura
Sylvii, pasien sama sekali tidak berbicara, atau
sepatah kata atau frasa yang diulang ulang,
artikulasi buruk, tidak bermakna

Afasia Broca (Lesi Frontal)


Pasien tidak bicara atau sedikit bicara,
memerlukan banyak usaha untuk
berbicara, miskin gramtik, menyisipkan,
mengimbuh huruf atau bunyi yg salah
Afasia Wenicke (Sensorik) Lesi
Temporoparietal
Bicara terlalu banyak, kalimat yang
diucapkan tidak mempunyai arti
Afasia Transkortikal

73. Glasgow Coma Scale

74. Stroke
Stroke (WHO MONICA 1986)
Gangguan fungsional otak fokal maupun global akut, lebih dari 24 jam, berasal dari
gangguan aliran darah otak dan bukan disebabkan oleh gangguan peredaran darah
otak sepintas, tumor otak, stroke sekunder karena trauma ataupun infeksi.

Tanda dan Gejala Stroke (De Freitas et al 2009)

Hemidefisit motorik
Hemidefisit sensorik
Penurunan kesadaran
Kelumpuhan nervus fasialis (VII) dan hipoglosus
(XII) sentral
Gangguan fungsi luhur seperti kesulitan
berbahasa (afasia) dan gangguan fungsi intelektual
(demensia)
Buta separuh lapang pandang (hemianopsia)
Defisit batang otak

Siriraj Stroke skor

75. Parkinson
Jarang muncul sebelum usia 40 tahun, resiko meningkat dengan bertambahnya usia dan
mengenai 1-% pasien berumur di atas 65 tahun
Faktor resiko parkinson :
genetik
terpapar pestisida
kopi dan rokok menurunkan resiko terjadinya parkinson

Kerusakan pada
neuron penghasil
dopamine di
Substansia Nigra

Produksi Dopamine

Jalur nigrostriatal :
Dopamine di korpus
striatum

Rigiditas, Bradykinesia,
Tremor, Gangguan berjalan
Wilkinson I, Lennox G. Essential Neurology 4th edition. 2005

76. Sindrom Guillian Barre


Guillain-Barr syndrome (GBS) is a group of autoimmune syndromes consisting of
demyelinating and acute axonal degenerating forms of the disease

77. Bells Palsy


Paresis nervus VII perifer
idiopatik ditemukan
pertama kali oleh Sir
Charles Bell ( 1774-1842)
Etiologi
Inflamasi pada nervus
fascialis di ganglion
geniculatum
menyebabkan kompresi
dan akhirnya terjadi
iskemia dan demyelinisasi
Penyebab inflamasi belum
dapat diidentifikasi,
dicurigai disebabkan oleh
infeksi HSV-1
Tiemstra JD, Khatkhate N. Bell`s Palsy : Diagnosis and Management. Am Fam Physician 2007;76:997-1002, 1004

Tiemstra JD, Khatkhate N. Bell`s Palsy : Diagnosis and Management. Am Fam Physician 2007;76:997-1002, 1004

78. Hernia Nukleus Pulposus


Penonjolan diskus intervertabralis dengan protusi dan
nukleus kedalam kanalis spinalis mengakibatkan penekanan
pada radiks atau cauda equina.

Tanda dan gejala :


1.Mati rasa, gatal dan penurunan pergerakan satu
atau dua ekstremitas.
2.Nyeri tulang belakang
3.Kelemahan satu atau lebih ekstremitas
4.Kehilangan control dari anus dan atau kandung
kemih sebagian atau lengkap.
5. nyeri diperberat akibat peningkatan tekanan
cairan intraspinal (membungkuk, mengangkat,
mengejan, batuk, bersin, juga ketegangan atau
spasme otot), akan berkurang jika tirah baring.

79. Fungsi Otak


Korteks
serebri

-Lobus
oksipital

-Menerima dan memproses


informasi visual

-Lobus
temporal

- Penghidu, pendegaran,
keseimbangan, emosi dan motivasi ,
bahasa

-Lobus
parietal

- area asosiasi sensorik dan


kemampuan visuospasial

-Lobus
frontal

-Konsentrasi, kontrol emosi, area


motorik, tempat koordinasi semua
sinyal dari bagian otak, proses
pemecahan masalah yang kompleks,
kepribadian

Sistem
limbik

Hipokampus
Amygdala

Pembentukan memori baru


Mengatur emosi yang terkait
dengan self perservation

Central
core

-Medulla
oblongata
(medulla)
-Pons
-Cerebellum
-Hipotalamus

-Mengatur respirasi, nadi dan


tekanan darah
-Mengatur siklus bangun dan tidur
-Mengatur refleks, keseimbangan
dan mengkoordinasikan gerakan
-Emosi dan motivasi, reaksi
terhadap stres

80. Motion Sickness


Perasaan mual dan pusing yang terjadi akibat
gerakan saat menaiki mobil, roller coaster
atau menaiki perahu
Terkait dengan sistem keseimbangan yaitu :
Telinga dalam
Mata
Reseptor di kulit
Reseptor di sendi dan otot
SSP

ILMU PSIKIATRI

81. Pemeriksaan status mental


Adalah kesimpulan menyeluruh yang
mendeskripsikan hasil observasi dan kesan dari
pasien selama wawancara
Status mental pasien dapat berubah dengan
waktu
Status mental =
deskripsi: penampilan
}
pembicaraan
}
perilaku
}
pikiran
} pasien selama
wawancara

Pemeriksaan status mental


I. Deskripsi umum
1. Penampilan
2. Perilaku dan aktivitas
psikomotor
3. Sikap terhadap
pemeriksa
II. Mood dan afek
1. Mood
2. Afek
3. Keserasian afek
III. Ciri pembicaraan
IV. Persepsi
V. Isi pikiran dan arah
pikiran ( mental trends )
1. Proses / bentuk pikiran
2. Isi pikiran

VI.
VII.
VIII.
IX.

Kesadaran dan kognisi


Pengendalian impuls
Daya nilai dan tilikan
Taraf dapat dipercaya

Perasaan
( mood & afek )
Mood = suasana perasaan
emosi yang meresap dan terus menerus yang
mewarnai persepsi seseorang akan dunia.
Deskripsi mood
Euthym
: normal
Hypothym
: murung-putus asa-depresif
Hyperthym
: elasi-ekspansif-euforik-manik
Empty
: kosong-hambar
Irritable
: mudah tersinggung
Alexithymia
: sulit mengungkapkan perasaan

Afek :
Ekspresi emosi sesaat, dapat diamati dari
ekspresi wajah, gerak tubuh, irama suara.
Deskripsi Afek :
serasi / tidak serasi
luas terbatas tumpul datar
labil/tegang/cemas

Pembicaraan & Penampilan


Bicara dapat digambarkan didalam
kualitasnya, kecepatan produksi suara dan
kualitasnya.
Penampilan: secara fisik, pakaian, cara
berjalan, rapi/ tidak, terurus/tidak

Tilikan
Dalam arti sempit adalah pemahaman pasien terhadap penyakitnya
Derajat tilikan:
1. Penyangkalan penyakit sama sekali
2. Agak menyadari bahwa mereka adalah sakit dan membutuhkan
bantuan tetapi dalam waktu yang bersamaan menyangkal
penyakitnya.
3. Sadar bahwa mereka adalah sakit tapi melemparkan kesalahan pada
orang lain, pada faktor eksternal atau faktor organik
4. Menyadari dirinya sakit dan butuh bantuan namun tidak memahami
penyebab sakitnya
5. Tilikan intelektual: menerima bahwa pasien sakit dan bahwa gejala
disebabkan gangguan tertentu dalam diri pasien sendiri tetapi TIDAK
menerapkan pengetahuan tersebut untuk pengalaman di masa depan
6. Tilikan emosional sesungguhnya: Tilikan yang sehat, yakni sadar
sepenuhnya tentang situasi dirinya disertai motifasi untuk mencapai
perbaikan

82. Kompulsif
Kompulsif

desakan atau paksaan untuk melakukan sesuatu yang akan


meringankan rasa tidak nyaman akibat obsesi. Jika dilakukan
tindakan kompulsif

Isi pikir

Isi pikiran dimaksudkan pada apa yang sesungguhnya dipikirkan


seseorang: gagasan, keyakinan, preokupasi, obsesi.
arus pikir: cara dimana seseorang menyatukan gagasan dan
asosiasi, yaitu bentuk dimana seseorang berpikir. Proses pikiran
mungkin logis dan koheren atau sama sekali tidak logis dan bahkan
tidak dapat dimengerti (termasuk neologisme, asosiasi longgar,
flight of ideas, tangensial, sirkumtansial)

Flight of ideas

gagasan yang bertubi-tubi melompat dari satu topik ke topik lain

Obsesif

gagasan, bayangan pikiran atau impuls yang timbul dalam pikiran


individu secara berulang-ulang dalam bentuk yang sama

83. Efek samping obat antipsikotik tipikal


Akatisis

syndrome characterized by unpleasant sensations of inner


restlessness that manifests itself with an inability to sit still or
remain motionless. (a subjective disorder characterized by a desire
to be in constant motion resulting in an inability to sit still and a
compulsion to move.)

Rigiditas

Stiffness or inflexibility.

Bradikinesia

extreme slowness of movements and reflexes

Distonia akut

sustained muscle contractions cause twisting and repetitive


movements or abnormal postures (characterized by intermittent
spasmodic or sustained involuntary contractions of muscles in the
face, neck, trunk, pelvis). Frequently a result of antiemetics
metoclopramide, typical antipsychotic eg. Chlorpromazine

Tardive
dyskinesia

an involuntary movement disorder characterized by repetitive


purposeless movements which typically involve the buccolingual
masticatory areas but which can include choreoathetoid limb
movement.

84-85. Sleep Disorder


DSM-IV-TR divides primary sleep disorders
into:
Dyssomnias: disorders of quantity or timing of
sleep
Insomnia
Hypersomnia

Parasomnias: abnormal behaviors during sleep or


the transition between sleep and wakefulness.
Sleep walking , night terror, nightmare
Kaplan & Sadock synopsis of psychiatry

Sleep Disorder
Insomnia is difficulty initiating or maintaining sleep. It is the
most common sleep complaint and may be transient or
persistent.
Primary insomnia is commonly treated with benzodiazepines.

Kaplan & Sadock synopsis of psychiatry

Insomnia
According to severity:
Mild: almost every night,
minimum impairment of
quality of life (QoL)
Moderate: every night,
moderate impairment
QoL with symptoms
(irritability, anxiety,
fatigue)
Severe: every night,
moderate impairment
QoL with more severe
symptoms of irritability,
anxiety, fatigue

According to form of
presentation:
Sleep onset/early
insomnia (difficulty
falling asleep)
Sleep
maintenance/middle
insomnia (waking
frequently)
End of sleep/late
insomnia (waking too
early)

86. Raptus
Abulia: global underactivity (lack of motivation
or desire to perform a task) (eg: In stroke,
abulia results most often from damage to the
frontal lobes)
Raptus: a pathological paroxysm of activity
giving vent to impulse or tension (as in an act
of violence)
Halusinasi: Penginderaan/persepsi sensoris
tanpa adanya stimulus eksternal

87.Obsesif-kompulsif
Untuk menegakan diagnosis pasti, gejala obsesif atau
tindakan kompulsif, atau kedua-duanya, harus ada hampir
setiap hari selama sedikitnya 2 minggu berturut-turut.
Merupakan sumber penderitaan atau mengganggu aktivitas
penderita
Glutamatergic abnormalities in corticostriatal brain circuits
are thought to underlie obsessive-compulsive disorder
(OCD)
Low GABA function is a consistent finding in mood
disorders. Highest concentrations of GABA are found in the
basal ganglia of the brain, followed by the hypothalamus,
hippocampus and amygdala

Gangguan Neurotik
Gejala-gejala obsesif :
1. Harus disadari sebagai pikiran atau impuls diri
sendiri;
2. Sedikitnya ada 1 pikiran/tindakan yang tidak
berhasil dilawan;
3. Pikiran untuk melakukan tindakan tsb bukan hal
yang memberi kepuasan atau kesenangan
4. Gagasan, pikiran, atau impuls tsb harus
merupakan pengulangan yang tidak
menyenangkan

Gangguan Neurotik
Predominan Tindakan Kompulsif (Obsessional Rituals)
Tindakan kompulsif umumnya berkaitan dengan :
kebersihan (mencuci tangan), memeriksa berulang untuk
meyakinkan bahwa suatu situasi yang dianggap berpotensi
bahaya tidak terjadi, atau masalah kerapian & keteraturan.
Dilatarbelakangi perasaan takut terhadap bahaya yang
mengancam dirinya atau bersumber dari dirinya

Diagnosis

Karakteristik

Gangguan panik

Serangan ansietas yang intens & akut disertai perasaan akan


datangnya kejadian menakutkan. Tanda utama: serangan
panik yang tidak diduga tanpa adanya stimulus.

Gangguan cemas
menyeluruh

Ansietas berlebih terus menerus disertai ketegangan motorik


(gemetar, sulit berdiam diri, dan sakit kepala), hiperaktivitas
otonomik (sesak napas, berkeringat, palpitasi, & gangguan
gastrointestinal), kewaspadaan mental (iritabilita).

Gangguan konversi

Merupakan gangguan disosiatif

Depresi

afek depresif, hilang minat & kegembiraan, mudah lelah &


menurunnya aktivitas.

88-89. Kubler-Ross stages of griefing


1. Denial deny the reality of the situation. It is a
defense mechanism that buffers the immediate
shock. block out the words and hide from the facts.
2. Anger The anger may be aimed at God, complete
strangers, friends or family. Anger may be directed at
our dying or deceased loved one.
3. Bargaining
The third stage involves the hope that the individual
can somehow postpone or delay death. Usually, the
negotiation for an extended life is made with a higher
power in exchange for a reformed lifestyle (eg: God)

4.

Depression
During the fourth stage, the grieving person begins to understand
the certainty of death. Because of this, the individual may become
silent, refuse visitors and spend much of the time crying and
grieving. This process allows the dying person to disconnect from
things of love and affection.
Eg: "I'm so sad, why bother with anything?"; "I'm going to die
soon so what's the point?"; "I miss my loved one, why go on?"
5. Acceptance In this last stage, individuals begin to come to terms
with their mortality, or that of a loved one, or other tragic event
Eg."It's going to be okay."; "I can't fight it, I may as well prepare
for it."

90.Depresi
Gejala utama:
1. afek depresif,
2. hilang minat &
kegembiraan,
3. mudah lelah &
menurunnya
aktivitas.

Gejala lainnya:
1. konsentrasi menurun,
2. harga diri & kepercayaan diri
berkurang,
3. rasa bersalah & tidak berguna
yang tidak beralasan,
4. merasa masa depan suram &
pesimistis,
5. gagasan atau perbuatan
membahayakan diri atau bunuh
diri,
6. tidur terganggu,
7. perubahan nafsu makan (naik
atau turun).
PPDGJ

Depresi
Episode depresif ringan: 2 gejala utama + 2 gejala lain > 2
minggu
Episode depresif sedang: 2 gejala utama + 3 gejala lain, >2
minggu.

Episode depresif berat: 3 gejala utama + 4 gejala lain > 2


minggu. Jika gejala amat berat & awitannya cepat,
diagnosis boleh ditegakkan meski kurang dari 2 minggu.
Episode depresif berat dengan gejala psikotik: episode
depresif berat + waham, halusinasi, atau stupor depresif.
PPDGJ

Depresi
Kombinasi psikoterapi & farmakoterapi adalah terapi paling efektif.
The different antidepressant class adverse effect profiles make the
SSRIs more tolerable than the TCAs SSRI is commonly used as
first line drug for major depression.
Contoh:
Sertraline dosis awal 1x50 mg
Fluoxetine dosis awal 1x20 mg

91.Eksebisionisme
Istilah

Keterangan

Sado-masokisme

Preferensi terhadap aktifitas seksual yang menimbulkan rasa sakit


atau penghinaan. Pelaku disebut Sadism, Resipien disebut
masokism

Fetihisme

Mengandalkan benda mati sebagai rangsangan untuk


membangkitkan keinginan seksual dan kepuasan seksual. Contoh :
pakaian dalam atau sepatu

Voyeurisme

Kecenderungan berulang atau menetap untuk melihat orang yang


sedang berhubungan seksual atau berperilaku intim seperti
sedang menanggalkan pakaian

Ekshibisionisme

Kecenderungan yang berulang atau menetap untuk memamerkan


alat kelamin kepada asing (biasanya lawan jenis) atau pada orang
banyak ditempat umum

Nekrofilia

Perilaku seksual terhadap mayat

Frotteurism

Sexually arousing fantasies, sexual urges, or behaviors involving


touching and rubbing against a nonconsenting person.

92. Sexual Dysfunction


Sexual desire disorders
Hypoactive Sexual Desire Disorder (HSDD);
Persistently or recurrently deficient (or absent) sexual
fantasies and desire for sexual activity
Sexual Aversion Disorder (SAD)
Persistent or recurrent extreme aversion to, and avoidance of,
all (or almost all) genital sexual contact with a sexual partner.

Sexual arousal disorders


Female Sexual Arousal Disorder (FSAD)
Persistent or recurrent inability to attain, or to maintain until
completion of the sexual activity, an adequate lubricationswelling response of sexual excitement.
Male Erectile Disorder
Persistent or recurrent inability to attain, or to maintain until
completion of the sexual activity, an adequate erection.
Kaplan & Sadock synopsis of psychiatry

Sexual Dysfunction

Orgasmic disorders
Female Orgasmic Disorder (Inhibited Female Orgasm)

Male Orgasmic Disorder (Inhibited Male Orgasm): sometimes called


inhibited orgasm or retarded ejaculation, a man achieves ejaculation
during coitus with great difficulty
Premature Ejaculation

Sexual pain disorders

Dyspareunia: recurrent or persistent genital pain associated with sexual


intercourse.
Vaginismus: involuntary muscle constriction of the outer third of the
vagina that interferes with penile insertion and intercourse.

Sexual dysfunction due to general medical condition

Substance-Induced Sexual Dysfunction


With impaired desire/With impaired arousal/With impaired orgasm/With
sexual pain/With onset during intoxication
Kaplan & Sadock synopsis of psychiatry

ILMU PENYAKIT KULIT DAN


KELAMIN

93. Urinary Tract Infection (UTI)


Pathophysiology
1. Infection spreads from renal pelvis to renal cortex
2. Kidney grossly edematous; localized abscesses in cortex
surface
3. E. Coli responsible organism for 85% of acute pyelonephritis;
also Proteus, Klebsiella

Manifestations
1. Demam dan menggigil yang tiba-tiba
2. Malaise
3. muntah
4. Nyeri pinggang
5. Nyeri dan nyeri ketok Costovertebral
6. Urinary frequency, dysuria

Ada di GIT
Patofisiologi:

E. coli

Infeksi endogen setelah menembus barier imun


Sepsis dengan fokus infeksi pada traktus urinarius atau GIT,
merupakan bakteri gram negatif tersering penyebab sepsis
Urinary tract infectionSebagian besar menginfeksi pasien
dalam komunitas, ditransmisikan dari GIT secara asenden,
beberapa serotipe menempel pada traktus urinarius
Forms complex of numerous o-somatic, H- flagellar and K capsular antigens

Kultur Media Mc Conkey


Koloni merah mudamemfermentasi laktosa

Tes indentifikasi (IMViCIndol, metil, Voges,citrat)


Identifikasi bakteri enterobactericeae
Tes indoluntuk membedakan bakteri batang gram
negatif dalam famili Enterobacteriaceaemerubah
triptofan menjadi indole
tes indol +
Escherichia coli
Haemophilus influenzae
Proteus sp. (not P. mirabilis and P. penneri)
Vibrio sp

Tes indol

most Bacillus sp.


Enterobacter sp.
most Klebsiella sp.
Proteus mirabilis,
Pseudomonas sp.

Tes Methyl Red identifikasi bakteri melalui jalur


fermentasi glukosa yang digunakan
Jalur fermentasi
Menghasilkan produk asam yang cepat diubah menjadi produk
netral

Butylene glycol pathway


Produk netralacetoin and 2,3-butanediol

Mixed acid pathway


Produk asamlactic, acetic, and formic acid

Indikator pH
Merah: pH < 4.4
Kuning: pH > 6.2
Orange : diantaranya

Tes Voges-Proskauer
Mendeteksi bakteri yang menggunakan butylene
glycol pathway dan memproduksi acetoin
Hasil:
Positif: merah
Negatif: warna tembaga (copper color)

http://www.microbelibrary.org/library/laboratorytest/3204-methyl-red-and-voges-proskauer-test-protocols

Tes biokimia E.coli


Tes indol +
Tes Methyl menghasilkan warna merah
Tes Voges-Proskauer -

94. Ektima
Ektima adalah ulkus superficial dengan krusta yang
disebabkan oleh infeksi Streptococcus B hemoliticus.
Pada pemeriksaan fisik akan terlihat krusta tebal
berwarna kuning berlokasi di tungkai bawah, yaitu
tempat yang banyak mendapat trauma.
Streptococcus adalah bakteri golongan gram positif
pada pewarnaan gram (berwarna ungu). Hal ini
disebabkan karena lapisan peptidoglikan.
Pengobatan dari ektima adalah pengangkatan krusta
dan pemberian salep antibiotik seperti basitrasin,
mupirocin dan neomisin.

95. Varisela
Varisela adalah infeksi akut primer oleh infeksi virus
varisela-zoster yang menyerang kulit dan mukosa.
Gejala klinis berupa demam yang tidak terlalu tinggi,
nyeri kepala, erupsi kulit berupa papul eritmatosa yang
dalam beberapa jam berubah menjadi vesikel. Vesikel
yang khas berbentuk tetesan embun (tear drop)
Pengobatan: antipiretik, analgesik, bedak untuk
mengurangi rasa gatal dan mencegah pecahnya vesikel.
Asan salisilat dosis rendah (1-2%) mempunyai efek
keratoplastik, menunjang pembentukan keratin baru.
Pada konsentrasi tinggi (3-20%) bersifat keratolitik dan
dipakaiuntuk keadaan dermatosis yang hiperkeratotik.

96. Ptiriasis Versikolor


Penyakit jamur superficial yang kronik
Etiologi: Malassezia furfur
Gejala klinis: gatal ringan, bercak berskuama
halus yang berwarna putih sampai coklat
kehitaman pada badan dan kadang-kadang
dapat menyerang ketiak, lipat paha, lengan,
tungkai atas.

Buku ajar ilmu penyakit kulit dan kelamin FKUI edisi kelima

Diagnosis:
Selain gejala klinis, pemeriksaan penunjang yang
dapat dilakukan adalah pemeriksaan KOH 20%:
hifa pendek dan spora bulat berkelompok.

PENTING dibedakan.
Pemeriksaan KOH 20% pada tinea: hifa bersekat,
spora bercabang (artospora)
KOH 10% pada candida: hifa semu, blastospora

97. Miasis
Miasis adalah kontaminasi tubuh
oleh larva.
Biasanya pada luka terbuka yang
tidak bersih dan menyebabkan larva
bisa sampai ke luka tersebut.
Lalat merupakan salah satu vektor
penyebar larva.
Penanganan larva adalah dengan
menjaga kebersihan diri dan luka.
Larva harus dibersihkan dan luka
juga dibesihkan. Apabila dicurigai
terdapat infeksi bakteri dapat
diberikan antiobiotik.

98. Trichuris Trichiura


Cacing ini berbentuk seperti cambuk di
ujungnya. Berwarna abu merah muda. Cacing
betina lebih kecil dari jantan.
Telur dari cacing ini berukuran 50 x 20m.
Berwarna kecoklatan dengan kedua
ujung/kutub yang transparan
Pengobatan: Mebendazole, albendazole

Cacing dewasa T.
Trichiura

Telur T. Trichiura

Telur cacing
Ascaris lumbricoides telur
berbentuk bulat berlapis
dengan bagian luar bergerigi
Ancylostoma duodenale dan
necator americanus telur
oval dengan segmented
ovum
Trichuris trichiuratelur
seperti tempayan

99. Lepra
Penyakit infeksi kronik yang disebabkan oleh
Mycobacterium leprae
Lesi kulit: terdapat ebrbagai jenis lesikulit
pada leprae: makula, papul dengan
pewarnaan hipopigmentasi atau eritematosa
Deformitas terjdi akibat langsung dari
granuloma yang merusak jaringan sekitarnya.
Gangguan anestesia dapat menyebabkan
deformitas

Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan bakterioskopik dengan pewarnaan
Ziehl Neelsen dapat menghitung jumlah
bakteri
Pemeriksaan histopatologisBerasal dari jaringan
lesi lepra ditemukan sel vrichow (histiosit
dengan M leprae di dalamnya)
Pemeriksaan serologik: pemeriksaan antibodi
terhadap M. leprae

Pengobatan leprae:
DDS, Rifampisin, klofazimin.

Yang tidak kalah penting adalah pencegahan


cacat. Pasien kusta meiliki risiko yang lebih
tinggi utk menderita kecacatan karena
gangguan sensorik dan kelemahan otot.
Edukasi cara penggunaan sepatu, sarung
tangan, memeriksa jika ada luka dan
perawatan kulit.

Pengobatan

100. Miliaria
Kelainan kulit akibat retensi keringat
Miliaria kristalina:
Vesikel berukuran 1-2 mm pada bedan setelah banyak berkeringat, tanpa
tanda radang, pada bagian yang tertutup pakaian, keluhan tidak
ada. Tx/ menghindari panas, pakaian tipis & menyerap keringat
Miliaria rubra:
Papul merah yang gatal, pada badan dan tempat-tempat tekanan/gesekan
pakaian. Tx/ menghindari panas, pakaian tipis & menyerap keringat, bedak
salisil 2% + menthol 0,25-2%, losio calamin
Miliaria profunda
Timbul setelah miliaria rubra, papul putih, keras di badan dan ekstremitas,
tidak gatal, tidak eritema. Tx/ menghindari panas, pakaian tipis &
menyerap keringat, losio calamin, resorsin 3%

101. Ptiriasis Versikolor


Penyakit jamur superficial yang kronik
Etiologi: Malassezia furfur
Gejala klinis: gatal ringan, bercak berskuama
halus yang berwarna putih sampai coklat
kehitaman pada badan dan kadang-kadang
dapat menyerang ketiak, lipat paha, lengan,
tungkai atas.

Buku ajar ilmu penyakit kulit dan kelamin FKUI edisi kelima

Diagnosis:
Selain gejala klinis, pemeriksaan penunjang yang
dapat dilakukan adalah pemeriksaan KOH 20%:
hifa pendek dan spora bulat berkelompok.

PENTING dibedakan.
Pemeriksaan KOH 20% pada tinea: hifa bersekat,
spora bercabang (artospora)
KOH 10% pada candida: hifa semu, blastospora

102-103. Urtikaria
Reaksi vaskular pada kulit akibat bermacammacam sebab.
Edema setempat yang cepat timbul dan
menghilang perlahan-lahan, berwarna pucat
dan kemerahan
Etiologi: obat, makanan, gigitan serangga,
inhalan

Buku ajar ilmu penyakit kulit dan kelamin FKUI edisi kelima

Patogenesis urtikaria:
Faktor fisik (panas. Dingin), inhalan, makanan)
sel mast/basofil histamin, serotonin
vasodilatasi dan permeabilitas meningkat
urtikaria.

Pengobatan urtikaria:
Hindari penyebab
Antihistamin (chlortrimethon, cimetidine)
Kortikosteroidurtikaria akut
Desensitisasi (pada urtikaria dingin, melakukan
sensitisasi air pada suhu 10C, 2xsehari selama 23minggu)

104. Skabies
Penyakit kulit akibat imfestasi dan sensitisasi
Sarcoptes scabei
Cara penularan: Kontak langsung (kulit dengan
kulit), kontak tak langsung (melalui benda)
Kelainan kulit terjadi tidak hanya disebabkan oleh
tungau, namun juga karena garukan. Ditemukan
papul, vesikel, urtika. Dengan garukan akan
timbul erosi, ekskoriasi, krusta dan infeksi
sekunder.
Buku ajar ilmu penyakit kulit dan kelamin FKUI
edisi kelima

Gejala klinis, 4 tanda kardinal:


Pruritus nokturna: gatal pada malam hari yang
disebabkan karena aktivitas tungau lebih tinggi pada
suhu yg lembab dan panas
Menyerang secara kelompok: pada satu keluarga.
Karena penyakit ini dapat menualr melalui kontak
Kanikulus: terowongan putih keabuan berbentuk garis
lurus atau berkelok. Pada ujung terowongan dapat
ditemukan papul atau vesikel.
Menemukan tungau: dapat ditemukan satu atau lebih
stadium hidup tungau ini.

Pegobatan: (Pasien dan seluruh keluarga arus


diobati untuk mencegah infeksi kembali karena
kontak langsung)
Belerang endap 4-20% tidak efektif terhadap stadium
telur.
Emulsi benzil-benzoas 20-25% efektif terhadap semua
stadium, diberikan setiap malam selama tiga hari
Gameksan 1% efektif terhadap semua stadium, tidak
dianjurkan pada anak dibawah 6 tahun dan wanita hamil
Permetrin 5% dihapus setelah pemberian selama 10
jam. Tidak dianjurkan pada bayi dibawah umur 2 bulan.

ILMU KESEHATAN ANAK

105. TATALAKSANA DENGUE

WHO. SEARO. Guidelines for treatment of dengue fever/dengue hemorrhagic fever in


small hospitals. 1999.

106.ACQUIRED PROTHROMBINE COMPLEX DEFICIENCY (APCD)/HEMORRHAGIC


DISEASE OF THE NEWBORN (HDN)/ VITAMIN DEFICIENCY BLEEDING

Etiologi defisiensi vitamin K krn:


Rendahnya kadar vitamin K dalam plasma dan
cadangan di hati
Rendahnya kadar vitamin K dalam ASI
Tidak mendapat injeksi vitamin K1 pada saat baru
lahir

Pedoman Pelayanan Medis IDAI 2010

Hemorrhagic disease of newborn (HDN)


Acquired prothrombrin complex deficiency (APCD)
Stadium

Characteristic

Early HDN

Occurs within 2 days and not more than 5 days of life. Baby
born of mother who has been on certain drugs: anticonvulsant,
antituberculous drug, antibiotics, VK antagonist anticoagulant.

Classic HDN

Occurs during 2 to 7 day of life when the prothrombin complex


is low. It was found in babies who do not received VKP or
VK supplemented.

Vit K deficiency

Occurs within 2 days and not more than 5 days of life. Definite
etiology inducing VKP is found in association with bleeding:
malabsorption of VK ie gut resection, biliary atresia, severe liver
disease-induced intrahepatic biliary obstruction.

Late HDN / APCD

Acquired bleeding disorder in the 2 week to 6 month age infant


caused by reduced vitamin K dependent clotting factor (II, VII,
IX, X) with a high incidence of intracranial hemorrhage and
responds to VK.

Diagnosis APCD
Diagnosis
Anamnesis : Bayi kecil yang sebelumnya sehat, tiba-tiba
tampak pucat, malas minum, lemah. Tidak mendapat
vitamin K saat lahir, konsumsi ASI, kejang fokal
PF : Pucat tanpa perdarahan yang nyata. Tanda
peningkatan tekanan intrakranial (UUB membonjol,
penurunan kesadaran, papil edema), defisit neurologis
fokal
Lab: Anemia dengan trombosit normal, PT memanjang,
APTT normal/memanjang. USG/CT Scan kepala :
perdarahan intrakranial
Pada bayi dengan kejang fokal, pucat, disertai UUB
membonjol harus dipikirkan APCD sampai terbukti bukan
Buku PPM Anak IDAI

Tatalaksana APCD

Vitamin K1 1 mg IM selama 3 hari berturut-turut


Transfusi FFP 10-15 ml/kgBB selama 3 hari berturut-turut
Transfusi PRC sesuai Hb
Tatalaksana kejang dan peningkatan tekanan intrakranial
(Manitol 0,5-1 g/kgBB/kali atau furosemid 1 mg/kgBB/kali)
Konsultasi bedah syaraf
Pencegahan : Injeksi Vitamin KI 1 mg IM pada semua bayi
baru lahir

Buku PPM Anak IDAI

107. Derajat dehidrasi & komplikasi diare

KOMPLIKASI DIARE
Dehidrasi
Asidosis Metabolik
Hipoglikemia, terutama dengan predisposisi
undernutrition
Gangguan elektrolit

Hiponatremia
Hipernatremia
Hipokalemia
(NB: kondisi hiperkalemia bisa menstimulasi intestinal
motility menyebabkan watery diarrhea.)

Gangguan gizi
Gangguan sirkulasi (syok)

KELAINAN ELEKTROLIT PADA DIARE


HIPERnatremia (> 144 mEq/L)
Hiperrefleks, mental status changes (lethargy,
stupor, coma etc), seizures

HIPONatremia (<136 mEq/L)


Hiporeflexia, mental status changes, SEIZURES

HIPOKalemia (<3.6 mEq/L)


Muscle weakness, cramps, tetany, polyuria,
polydipsia, decreased motor strength, ileus,
orthostatic hypotension

108. Tatalaksana GIZI BURUK


No Tindakan
Tindaklanjut
3-6
mg 7-26
1. Atasi/cegah hipoglikemia

Stabilisasi
H 1-2

Transisi
H 3-7

Rehabilitasi
H 8-14
mg

2. Atasi/cegah hipotermia
3. Atasi/cegah dehidrasi

4. Perbaiki gangguan elektrolit


5. Obati infeksi
6. Perbaiki def. nutrien mikro
7. Makanan stab & trans
8. Makanan Tumb.kejar
9. Stimulasi
10. Siapkan tindak lanjut

tanpa Fe

+ Fe

HIPOGLIKEMIA
Semua anak dengan gizi
buruk berisiko hipoglikemia
(< 54 mg/dl)
Jika tidak memungkinkan
periksa GDS, maka semua
anak gizi buruk dianggap
hipoglikemia
Segera beri F-75 pertama,
bila tidak dapat disediakan
dengan cepat, berikan 50 ml
glukosa/ gula 10% (1 sendok
teh munjung gula dalam 50
ml air) oral/NGT.

Jika anak tidak sadar, beri


larutan glukosa 10% IV
bolus 5 ml/kg BB, atau
larutan glukosa/larutan gula
pasir 50 ml dengan NGT.
Lanjutkan pemberian F-75
setiap 23 jam, siang dan
malam selama minimal dua
hari.

HIPOTERMIA (Suhu aksilar < 35.5 C)


Pastikan bahwa anak berpakaian (termasuk
kepalanya). Tutup dengan selimut hangat dan
letakkan pemanas/ lampu di dekatnya, atau
lakukan metode kanguru.
Ukur suhu aksilar anak setiap 2 jam s.d suhu
menjadi 36.5 C/lbh.
Jika digunakan pemanas, ukur suhu tiap
setengah jam. Hentikan pemanasan bila suhu
mencapai 36.5 C

DEHIDRASI
Jangan gunakan infus untuk rehidrasi, kecuali
pada kasus dehidrasi berat dengan syok.
Beri ReSoMal, secara oral atau melalui NGT
beri 5 ml/kgBB setiap 30 menit untuk 2 jam
pertama
setelah 2 jam, berikan ReSoMal 510
ml/kgBB/jam berselang-seling dengan F-75
dengan jumlah yang sama, setiap jam selama 10
jam.

109. Tatalaksana defisiensi mikronutrien pada gizi buruk

Asam folat (5 mg pada hari 1, dan selanjutnya 1 mg/hari)


Seng (2 mg Zn elemental/kgBB/hari)
Tembaga (0.3 mg Cu/kgBB/hari)
Ferosulfat 3 mg/kgBB/hari setelah berat badan naik (mulai
fase rehabilitasi)
Vitamin A diberikan secara oral pada hari ke 1 dengan:

Jika ada gejala defisiensi vitamin A, atau pernah sakit


campak dalam 3 bulan terakhir, beri vitamin A dengan
dosis sesuai umur pada hari ke 1, 2, dan 15.

110. Patofisiologi Sindrom Nefrotik

Renal Disease

Haematuria, oliguria, hypertension, pulmonary oedema to


suggest acute glomerulonephritis. Frothy urine suggests
nephrotic syndrome.

Liver Disease

Stigmata of chronic liver disease such as jaundice, palmar


erythema, clubbing, pruritic rash, hepatosplenomegaly
with gross ascites in the absence of jaundice to exclude
portal vein thrombosis

Allergic Reaction
Cardiac Disease

Edema usually mild, commonly periorbital. History of


allergen exposure

Decreased effort tolerance, orthopnoea, paroxysmal


nocturnal dyspnoea and signs such as cardiomegaly, gallop
rhythm, lung crepitations and turgid liver

Evaluasi

111-112.HISTOPATOLOGI PENYAKIT
GLOMERULAR

D-C

The glomerular basement membrane (GBM) of the kidney is the basal lamina
layer of the glomerulus.
The GBM is a fusion of the endothelial cell and podocyte basal laminas

NORMAL
GLOMERULUS

This is a normal glomerulus by light


microscopy.

Minimal-Change Glomerulonephritis
Also known as Nil Lesions or Nil Disease
(lipoid nephrosis)
Minimal change nephrotic syndrome (MCNS)
is the most common cause of the nephrotic
syndrome in children, accounting for 90% of
cases under the age of 10 years and more
than 50% in older children.
Nephrology (Carlton). 2007 Dec;12 Suppl 3:S11-4.
Pathophysiology of minimal change nephrotic syndrome and focal segmental glomerulosclerosis.
Cho MH, Hong EH, Lee TH, Ko CW.http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17995521

Minimal-change disease (MCD), also known as lipoid nephrosis or nil disease, is the
most common single form of nephrotic syndrome in children. It refers to a
histopathologic lesion in the glomerulus that almost always is associated with
nephrotic syndrome. It typically is a disease of childhood, but it also can occur in
adults.

Glomerulonephritis, crescentic (RPGN). Light microscopy (25x hematoxylin and eosin stain):
Compression of the glomerular tuft with a circumferential cellular crescent that occupies most of
the Bowman space. Rapidly progressive glomerulonephritis (RPGN) is defined as any glomerular
disease characterized by extensive crescents (usually >50%) as the principal histologic finding and
by a rapid loss of renal function (usually a 50% decline in the glomerular filtration rate [GFR]
within 3 mo) as the clinical correlate.
Image courtesy of Madeleine Moussa, MD, FRCPC, Department of Pathology, London Health Sciences Centre, London, Ontario, Canada.

This is focal segmental glomerulosclerosis (FSGS). An area of collagenous


sclerosis runs across the middle of this glomerulus. As the name implies,
only some (focal) glomeruli are affected and just part of the affected
glomerulus is involved (segmental) with the sclerosis. In contrast to
minimal change disease, patients with FSGS are more likely to have nonselective proteinuria, hematuria, progression to chronic renal failure,
and poor response to corticosteroid therapy

This glomerulus is hypercellular and capillary


loops are poorly defined. This is a type of
proliferative glomerulonephritis known as postinfectious glomerulonephritis. This case followed
a group A beta hemolytic streptococcal infection
of the pharynx 3 weeks earlier, and thus it could
be termed 'post-streptococcal
gomerulonephritis'.

The hypercellularity of post-infectious


glomerulonephritis is due to increased
numbers of epithelial, endothelial, and
mesangial cells as well as neutrophils
in and around the glomerular capillary
loops. This disease may follow several
weeks after infection with certain
strains of group A beta hemolytic
streptococci. Patients who have had a
strep infection typically have an
elevated anti-streptolysin O (ASO) titer.

http://library.med.utah.edu/WebPath/RENAHTML

Here is the light microscopic appearance of membranous nephropathy in which the


capillary loops are thickened and prominent, but the cellularity is not increased.
Membranous GN is the most common cause for nephrotic syndrome in adults. In most
cases there is no underlying condition present (idiopathic). However, some cases of
membranous GN can be linked to a chronic infectious disease such as hepatitis B, a
carcinoma, or SLE.

Mesangial Proliferative GN
Mesangioproliferative pattern of glomerular
injury is characterized by the expansion of
mesangial matrix and the mesangial
hypercellularity.
Contoh: immune disease such as IgA
nephropathy or class II lupus nephritis or nonimmune diseases such as early diabetic
glomerulosclerosis

Membranoproliferative
glomerulonephritis (MPGN)
Membranoproliferative glomerulonephritis (MPGN) is an
uncommon cause of chronic nephritis that occurs primarily
in children and young adults.
This entity refers to a pattern of glomerular injury based on
characteristic histopathologic findings, including:
(1) proliferation of mesangial and endothelial cells and
expansion of the mesangial matrix
(2) thickening of the peripheral capillary walls by subendothelial
immune deposits and/or intramembranous dense deposits
(3) mesangial interposition into the capillary wall, giving rise to a
double-contour or tram-track appearance on light microscopy

Membranoproliferative
glomerulonephritis (MPGN)
type I. Glomerulus with
mesangial interposition
producing a double contouring
of basement membranes,
which, in areas, appear to
surround subendothelial
deposits (Jones silver
methenaminestained section;
original magnification 400).
Courtesy of John A. Minielly,
MD.

Chronic GN. A Masson trichrome preparation shows complete replacement of virtually all glomeruli by bluestaining collagen. (Courtesy of Dr. M. A. Venkatachalam, Department of Pathology, University of Texas Health
Sciences Center, San Antonio, Texas.)

113. Pemeriksaan Penunjang edema


Urine dipstick and microscopy (urinalysis)
Proteinuria, haematuria and casts are indicative of renal
disease

Renal function test


Raised serum urea and creatinine are indicative of renal
disease

Full blood count


Liver function test
hypoalbuminaemia in the absence of circulatory overload
suggests hypoproteinaemic states
hyperbilirubinaemia and transaminitis suggest liver disease

Chest X-ray and electrocardiogram

High-grade vesicoureteral reflux (VUR) may


increase the risk for pyelonephritis, and VUR
has been reported in as many as 33% of
children with acute pyelonephritis
Vesicoureteral reflux and chronic
pyelonephritis are usually associated with
proteinuria of less than 1 g per 24 hours.
When there is massive proteinuria an
associated glomerulopathy is usually present.
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/1246101

114-115. Oral Thrush & Nipple+ductal CANDIDIASIS


Women tend to be more prone to
candida, due to the fact that the
anatomy of a woman suits
candida.
Candida albicans is normal in
adult gastrointestinal tracts and
vaginas. During pregnancy, the
colonization of C. albicans rate
may be 33%.
Immunosuppressed patients are
more susceptible to oral
candidiasis, cutaneous and
systemic infections.
It also affects babies as they can
get infected through breast milk
oral candidiasis

Symptoms and signs:


shiny or flaky skin of the
nipple/areola
Thrush on nipples
Unusually red, sensitive or itchy
nipples
burning pain of the nipple/areola
stabbing/ nonstabbing pain of the
breast that gets worse after a
breast-feed and increases for up to
two hours
Thrush or had thrush when gave
birth
the baby has oral thrush and/or
diaper dermatitis

Nipple + Ductal Candidiasis


History:
antibiotics during labor
or postpartum
prior history of cracked
nipples
the use of pacifiers and
bottles by the infant.

Both nipple/areola skin


and milk should be
tested to detect
Candida

Treatment:
apply miconazole cream
after every feed and
remove any residual
cream before the next
feed
Persistent cases of
nipple yeast or
presumptive ductal yeast
oral fluconazole.

Oral Thrush
Etiology: Candida
Albicans
Clinical Manifestation
White curdish like lesions
on the buccal mucosa,
tongue, palate, and
gingiva. The lesions are
difficult to scrape off and
this differentiates it from
milk. After scraping, there
is an erythematous base
and some bleeding.
Oral candidiasis may be
associated with diaper
candidiasis (diaper rash)

TREATMENT NYSTATIN
Infants
200,000 units PO q6hr (100,000
units in each side of mouth)
Children
Oral suspension: 400,000600,000 units PO q6hr
Intestinal Candidiasis
Oral Tablets: 500,000 units - 1
million units q8hr

116.HYPOGLYCEMIA IN INFANT OF DIABETIC MOTHER


Hipoglikemia adalah kondisi bayi dengan kadar glukosa
darah <45 mg/dl (2.6 mmol/L), baik bergejala atau
tidak
Hipoglikemia berat (<25 mg/dl) dapat menyebabkan
palsi serebral, retardasi mental, dan lain-lain
Etiologi
Peningkatan pemakaian glukosa (hiperinsulin): Neonatus
dari ibu DM, Besar masa kehamilan, eritroblastosis fetalis
Penurunan produksi/simpanan glukosa: Prematur, IUGR,
asupan tidak adekuat
Peningkatan pemakaian glukosa: stres perinatal (sepsis,
syok, asfiksia, hipotermia), defek metabolisme karbohidrat,
defisiensi endokrin, dsb
Pedoman Pelayanan Medis IDAI 2010

Hipoglikemia
Diagnosis
Anamnesis: tremor, iritabilitas, kejang/koma, letargi/apatis, sulit menyusui,
apneu, sianosis, menangis lemah/melengking
PF: BBL >4000 gram, lemas/letargi/kejang beberapa saat sesudah lahir
Penunjang: Pemeriksaan glukosa darah baik strip maupun darah vena, reduksi
urin, elektrolit darah

Penatalaksanaan
Bolus 200 mg/kg dengan dextrosa 10% IV selama 5 menit
Hitung Glucose Infusion Rate (GIR), 6-8 mg/kgBB/menit untuk mencapai GD
maksimal. Dapat dinaikkan sampai maksimal 12mg/kgBB/menit
Cek GD per 6 jam
Bila hasil GD 36-47 mg/dl 2 kali berturut-turut + Infus dextrosa 10%
Bila GD >47 mg/dl setelah 24 jam terapi, infus diturunkan bertahap
2mg/kgBB/menit setiap jam
Tingkatkan asupan oral

HYPOGLYCEMIA IN INFANT OF DIABETIC


MOTHER
Determination of
plasma or whole blood
glucose should be made
at the following points:
As soon as possible after
birth
Repeat determinations
at 30 minutes, 1 hour, 2
hours, 4 hours, 8 hours,
and 12 hours after birth
At any time abnormal
clinical signs are
observed

If the plasma value is less


than 36 mg/dL, intervention
is needed IF
plasma glucose remains
below this level
it does not increase after a
feeding
the infant develops symptoms
of hypoglycemia.

If the plasma value is less


than 20-25 mg/dL, IV
glucose should be
administered, with the
target glucose level being
more than 45 mg/dL.

Guidelines for maintaining


euglycemia
Immediate IV therapy with 2mL/kg infusion of dextrose
10% in any symptomatic infant
with hypoglycemia; (D10)
provides 100 mg/mL of
dextrose
Administration over 5-10
minutes is usually
recommended because of the
high osmolarity.
Maintenance of a continuous
infusion of dextrose at rate of
6-8 mg/kg/min of dextrose is
necessary after the bolus.

If glucose levels remain less


than 40 mg/dL, the dextrose
infusion may be increased by 2
mg/kg/min until euglycemia is
achieved.
Once the infant's glucose
levels have been stable for 12
hours, IV glucose may be
tapered by 1-2 mg/kg/min.
Profound hypoglycemia may
require therapy with
hydrocortisone.

117.DIFFERENTIAL DIAGNOSIS OF
PEDIATRIC WHEEZING

118-119. Hemolytic anemia: Cold Agglutinin disease

120-121. Sepsis
Sindrom klinik penyakit sistemik akibat infeksi
yang terjadi pada satu bulan pertama kehidupan.
Mortalitas mencapai 13-25%
Jenis :
Early Onset = Dalam 3 hari pertama, awitan tiba-tiba,
cepat berkembang menjadi syok septik
Late Onset = setelah usia 3 hari, sering diatas 1
minggu, ada fokus infeksi, sering disertai meningitis

Tanda awal sepsis pada bayi baru lahir tidak


spesifik diperlukan skrining dan pengelolaan
faktor risiko
Sepsis Neonatal. Pedoman Pelayanan Medis. Ikatan Dokter Anak Indonesia 2010.

SEPSIS
Early onset sepsis:
Timbul dalam 72 jam pertama kehidupan
Mikroorganisme berasal dari infeksi transplasental
atau ascending infection dari serviks (kolonisasi
bakteri di traktus genitourinari)
Mikroorganisme yg mjd penyebab:

Group B Streptococcus (GBS)


Escherichia coli
Coagulase-negative Staphylococcus
Haemophilus influenzae
Listeria monocytogenes

Pneumonia is more common in early-onset sepsis

Late-onset sepsis
Muncul hari ke 4-90; organisme didapat dari lingkungan sekitar.
Mikroorganisme penyebab:
Coagulase-negative Staphylococcus (susceptible to first-generation
cephalosporin) leading cause of late-onset infections
Staphylococcus aureus
E coli
Klebsiella
Pseudomonas
Enterobacter
Candida
Group B Streptococcus (GBS)
Serratia
Acinetobacter
Anaerobes

Fokus infeksi: kulit, sal. napas, konjungtiva, (GI) tract, dan umbilikus.
Alat/ vektor : kateter urin, IV kateter (jarum infus), kontak dgn
caregivers yg terkontaminasi kolonisasi bakteri.
Meningitis and bacteremia are more common in late-onset sepsis

Skrining
Kecurigaan besar sepsis bila :
Bayi umur sampai dengan usia 3 hari
Riwayat ibu dengan infeksi rahim, demam dengan
kecurigaan infeksi berat, atau ketuban pecah dini
Bayi memiliki dua atau lebih gejala yang tergolong
dalam kategori A, atau tiga atau lebih gejala pada
kategori B

Bayi usia lebih dari 3 hari


Bayi memiliki dua atau lebih temuan Kategori A atau
tiga atau lebih temuan Kategori B

Kelompok Temuan berhubungan dengan Sepsis


Kategori A

Kategori B

Kesulitan Bernapas (>60x/menit, retraksi


dinding dada, grunting, sianosis sentral,
apnea)

Tremor

Kejang

Letargi atau lunglai, malas minum padahal


sebelumnya minum dengan baik

Tidak sadar

Mengantuk atau aktivitas berkurang

Suhu tubuh tidak normal (sejak lahir dan


tidak memberi respons terhadap terapi)
atau suhu tidak stabil sesudah
pengukuran suhu selama tiga kali atau
lebih

Iritabel, muntah, perut kembung

Persalinan di lingkungan yang kurang


higienis

Tanda-tanda mulai muncul setelah hari


ke-empat

Kondisi memburuk secara cepat dan


dramatis

Air ketuban bercampur mekonium

Stages of sepsis based on American College of Chest Physicians/Society of Critical Care Medicine
Consensus Panel guidelines
http://emedicine.medscape.com/article/169640-overview

SINDROM DISFUNGSI MULTIORGAN Terdapat disfungsi multi organ meskipun


telah mendapatkan pengobatan optimal

Kriteria SIRS

Brahm Goldstein, MD; Brett Giroir, MD; Adrienne Randolph, MD; and the Members of the International Consensus Conference on Pediatric Sepsis. International pediatric sepsis consensus conference:
Definitions for sepsis and organ dysfunction in pediatrics. Pediatr Crit Care Med 2005 Vol. 6, No. 1

122. Tatalaksana campak


Pada umumnya tidak memerlukan rawat inap.
Beri Vitamin A. Tanyakan apakah anak sudah mendapat
vitamin A pada bulan Agustus dan Februari. Jika belum,
berikan 50 000 IU (jika umur anak < 6 bulan), 100 000
IU (611 bulan) atau 200 000 IU (12 bulan hingga 5
tahun).
Perawatan penunjang simtomatik
Jika demam parasetamol.
nutrisi dan cairan sesuai dengan kebutuhan.
Perawatan mata Jika mata bernanah, bersihkan +
Oleskan salep mata kloramfenikol/tetrasiklin, 3 kali sehari
selama 7 hari.

123.INTOLERANSI LAKTOSA
Diare akut: berlangsung < 1 minggu,
umumnya karena infeksi (umumnya e.c
rotavirus)
Diare akut cair
Diare akut berdarah

Diare berlanjut: diare infeksi yang


berlanjut > 1 minggu
Diare Persisten: Bila diare melanjut tidak
sembuh dan melewati 14 hari atau lebih
Diare kronik: diare karena sebab apapun
yang berlangsung 14 hari atau lebih

Diare Persisten
Intoleransi laktosa
Alergi protein susu sapi
Malabsorpsi nutrien

Bakteri tumbuhlampau
Infeksi persisten
Antibiotic-Associated
Diarrhea

Symptoms of lactose intolerance


include the following:
GI symptoms
Bloating, abdominal discomfort, meteorism, and
flatulence that occur from 1 hour to a few hours after
ingestion of milk or dairy products may signify lactose
intolerance

Stool characteristics: Loose, watery, acidic stool


often with excessive flatus and associated with
urgency that occurs a few hours after the
ingestion of lactose-containing substances is
typical.

Pemeriksaan Intoleransi Laktosa


Stool analysis
Reducing substances in the stool indicate that
carbohydrates are not being absorbed.
Acidic stool is defined by a pH level of less than
5.5. This is an indication of likely carbohydrate
malabsorption, even in the absence of reducing
substances.

Uji Hidrogen Napas Gold Standard


Pemeriksaan yang didasarkan atas adanya
peningkatan kadar hidrogen dalam udara
ekspirasi
Gas hidrogen dalam udara ekspirasi berasal
dari hasil fermentasi bakteri di kolon maupun
di usus halus terhadap substrat yang tidak
tercerna akibat defisiensi laktase baik

124. Serologi Dengue

Primary infection:
IgM: detectable by days 35 after
the onset of illness, by about 2
weeks & undetectable after 23
months.
IgG: detectable at low level by the
end of the first week & remain for
a longer period (for many years).

Secondary infection:
IgG: detectable at high levels in
the initial phase, persist from
several months to a lifelong
period.
IgM: significantly lower in
secondary infection cases.

125-126. Derajat + tatalaksana diare

Scoring: Fewer than two signs from column B and C: no signs of dehydration
< 5%, 2 signs in column B: Moderate dehydration 5-10%, 2 signs in
column C: > 10% severe dehydration

Pilar penanganan diare


Rehidrasi: dapat diberikan oral/parenteral tergantung
status dehidrasinya
Tanpa dehidrasi TERAPI A
5 cc/kg ORS setiap habis muntah
10cc/kg ORS setiap habis mencret

Dehidrasi ringan sedang TERAPI B


75 cc/kg ORS dalam 3 jam
Bila per oral tidak memungkinkan, dapat diberikan parenteral
tergantung kebutuhan maintenance cairan + defisit cairan

Dehidrasi berat (parenteral) TERAPI C


Golongan Umur

Pemberian Pertama
30 ml/kgbb selama :

Pemberian Berikut
70 ml/kgbb selama :

Bayi ( < umur 12 bulan )

1 jam

5 jam

Anak ( 12 bln 5 tahun )

30 menit

2.5 jam

Pilar penanganan diare


Terapi nutrisi
Pemberian ASI harus dilanjutkan
Beri makan segera setelah anak mampu makan
Jangan memuasakan anak
Kadang-kadang makanan tertentu diperlukan selama diare
Makan lebih banyak untuk mencegah malnutrisi

Terapi medikamentosa
Antibiotik, bila terdapat indikasi (eg. kolera, shigellosis, amebiasis,
giardiasis)
Probiotik
Zinc: diberikan dalam dosis 20 mg untuk anak di atas 6 bulan, dan 10
mg untuk bayi berusia kurang dari 6 bulan selama 10 hari
Obat-obatan anti diare terbukti tidak bermanfaat

Edukasi pada orang tua


Tanda-tanda dehidrasi, cara membuat ORS, kapan dibawa ke RS, dsb.

127. Hitung Cairan


Maintenance: Holiday-Segar
Method (Berlaku utk usia>4 minggu)
Kebutuhan selama 24 jam:
10 kg pertama x 100 mL + 10 kg
kedua + x 50 mL + sisanya x 20 mL
ATAU kebutuhan per jam:
10 kg pertama x 4 mL + 10 kg
kedua x 2 mL + sisanya x 1 mL

Calculate Deficit/terapi pengganti


Mild Dehydration: 4% deficit (50
ml/kg deficit, 30 ml/kg if >10 kg)
Moderate Dehydration: 8% deficit
(100 ml/kg deficit, 60 ml/kg if >10
kg)
Severe Dehydration: 12% deficit
(120 ml/kg deficit)
On Going Loss/ Concomitant water
loss setiap muntah/ diare
Can be measured directly (eg,
NGT, catheter, stool
measurements) or estimated (eg:
10cc/kgBB/diare; 5
cc/kgbb/muntah)

128-130.Tatalaksana Status Epileptikus

Definisi
keadaan dimana terjadinya dua atau lebih
rangkaian kejang tanpa adanya pemulihan
kesadaran diantara kejang
atau serangan yang berlangsung terus
menerus selama 30 menit atau lebih

ILMU OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

131. Infeksi Saluran Kemih


Infeksi saluran kemih (ISK)
adalah istilah umum yang
menunjukkan
keberadaan
mikroorganisme dalam urin,
mulai dari yang tanpa gejala
(asimptomatik)
sampai
mengarah ke infeksi berat.
Episode bakteriuria signifikan
(yaitu infeksi dengan jumlah
koloni
>100.000
mikroorganisme tunggal per
ml)

ISK sederhana (uncomplicated)


yaitu ISK pada pasien tanpa
disertai kelainan anatomi
maupun kelainan struktur
saluran kemih.
ISK rumit (complicated) adalah
ISK pada pasien dengan
kelainan struktur saluran
kemih, atau adanya penyakit
sistemik.
ISK Berulang yaitu timbulnya
kembali bakteriuria setelah
sebelumnya dapat dibasmi
dengan terapi antibiotika pada
infeksi yang pertama.


ISK pada ibu hamil :
Asymptomatic bacteriuria, acute
cystitis, dan acute pyelonephritis
ISK bagian bawah: infeksi pada
kandung kemih/ vesika urinaria
(sistisis) dan uretra, batas atas
dan bawah adalah vesicoureteric
valve.
ISK bagian atas mungkin
berhubungan dengan kerusakan
ginjal dan komplikasi yang berat
serta membutuhkan pemeriksaan
penunjang dan terapi yang cepat

ISK bagian atas (pielonefritis)


Demam (akut 39.5 40 C),
menggigil
Nyeri pinggang
Malaise
Anoreksia
Nyeri tekan pada sudut
kostovertebra dan abdomen

ISK bagian bawah (Sistitis)

Disuria
Polakisuria
Nokturia
Frekuensi dan urgensi
Nyeri suprapubik
Hematuria
Nyeri pada skrotum (epididimoorkitis)

Medscape, dasar - dasar Urology;


http://www.drugs.com/pregnancy/ciproflo
xacin.html

Antibiotik

Kehamilan

Ciprofloxacin C, beberapa ahli berpendapat


cipro kontraindikasi saat
kehamilan terutama saat
trimester 1, European
Network of Teratology
Information Services
Melaporkan dari 549 kasus
paparan fluoroquinolone
(termasuk ciprofloxacin),
dilaporkan congenital
malformations 4.8%

Amoxicillin

Ceftriaxone

Imipenem

tetrasiklin

Dalam pilihan ada 2


obat yang sebaiknya
tidak diberikan kepada
ibu hamil, tetapi
dalam list pengobatan
ISK yang termasuk
adalah golongan
Quinolon
(Ciprofloxacin)

Antimicrobial Agents Used for Treatment of Pregnant


Women with Asymptomatic Bacteriuria

Single-dose treatment
Amoxicillin, 3 g
Ampicillin, 2 g
Cephalosporin, 2 g
Nitrofurantoin, 200 mg
Trimethoprim-sulfamethoxazole, 320/1600 mg
3-day course
Amoxicillin, 500 mg three times daily
Ampicillin, 250 mg four times daily
Cephalosporin, 250 mg four times daily
Ciprofloxacin, 250 mg twice daily
Levofloxacin, 250 mg daily
Nitrofurantoin, 50 to 100 mg four times daily; 100 mg twice
daily
Trimethoprim-sulfamethoxazole, 160/800 mg two times
daily
Other
Nitrofurantoin, 100 mg four times daily for 10 days
Nitrofurantoin, 100 mg at bedtime for 10 days
Treatment failures
Nitrofurantoin, 100 mg four times daily for 21 days
Suppression for bacterial persistence or recurrence
Nitrofurantoin, 100 mg at bedtime for remainder of
pregnancy

Antibiotic Regimen for Pyelonephritis


Antibiotic Dosage

Route

Frequency

Ampicillin 12 g
plus
gentamicin 2 mg/kg,
then 1.7
mg/kg

IV

q46h

IV

q8h

Ampicillin/ 3 g
sulbactam

IV

q6h

Cefazolin

IV

q68h

Ceftriaxon 12 g
e

IV or IM

q24h

Mezlocillin 3 g

IV

q6h

Piperacillin 4 g

IV

q8h

12 g

William's Obstetric 22nd, Current Diagnosis and


Treatment in Obstetrics and Gyncecology

132. TB Pada kehamilan


Obat antituberkulosis harus tetap diberikan kecuali streptomisin,
dapat menembus barrier plasenta efek samping streptomisin pada
gangguan pendengaran janin (ototoksik)
Pada prinsipnya ibu hamil sama dengan pasien TB yang tidak hamil
hanya tidak diperbolehkan pemberian streptomisin
Pada pasien TB yang menyusui, OAT dan ASI tetap dapat diberikan,
walaupun beberapa OAT dapat masuk ke dalam ASI, akan tetapi
konsentrasinya kecil dan tidak menyebabkan toksik pada bayi
Pada perempuan usia produktif yang mendapat pengobatan TB
dengan rifampisin, dianjurkan untuk tidak menggunakan kontrasepsi
hormonal, karena dapat terjadi interaksi obat yang menyebabkan
efektivitas obat kontrasepsi hormonal berkurang.
Tidak ada indikasi pengguguran pada pasien TB dengan kehamilan

133. Kontrasepsi
Suntikan KB 3 Bulan. Suntikan KB ini mengandung hormon Depo
Medroxyprogesterone Acetate (hormon progestin) 150 mg. Sesuai dengan
namanya, suntikan ini diberikan setiap 3 bulan (12 Minggu). Suntikan
pertama biasanya diberikan 7 hari pertama periode menstruasi Anda, atau
6 minggu setelah melahirkan. Suntikan KB 3 Bulanan ada yang dikemas
dalam cairan 3ml atau 1ml
Suntikan KB 1 Bulan. Suntikan KB ini mengandung kombinasi hormon
Medroxyprogesterone Acetate (hormon progestin) dan Estradiol
Cypionate (hormon estrogen). Komposisi hormon dan cara kerja Suntikan
KB 1 Bulan mirip dengan Pil KB Kombinasi. Suntikan pertama diberikan 7
hari pertama periode menstruasi Anda, atau 6 minggu setelah melahirkan
bila Anda tidak menyusui.

134. IUD
Ketika ujung dari IUD tak tampak, perangkat mungkin
sudah hilang atau sudah terjadi perforasi rahim, atau
mungkin terjadi kehamilan.
Jangan pernah berasumsi perangkat telah hilang/
keluar dari rahim kecuali terlihat!
Bila terjadi kehilangan perangkat yang dilakukan
menyelidiki keberadaan IUD pada uterus : 1) USG, 2)
RO Abdomen dan Pelvis, 3) hysterography dengan
kontras dapat dilakukan 4) alternatif lain Hysteroscopy
Jika ternyata terdapat kehamilan maka prosedur yang
diperbolehkan hanyalan 1) USG
Williams Obstetric 22nd

135. Kontrasepsi Barier : Kondom

136. Anemia pada ibu hamil


Definisi: kadar Hb < 11
g/dl (pada trimester I dan
III) atau < 10,5 g/dl (pada
trimester II)
Klasifikasi
Anemia defisiensi besi
Anemia karena perdarahan
akut
Anemia defisiensi asam
folat

Derajat anemia:
Anemia ringan: Hb 9-10.9 g/
dL
Anemia sedang: Hb 7-9 g/ dL
Anemia berat: Hb <7 g/ dL
Anemia sangat berat: Hb <4 g/
dL
Investigasi: DPL, apusan darah
tepi, profil besi, kadar asam
folat dan B.12, retikulosit,
profil koagulasi, fungsi hati dan
ginjal, skrining
hemoglobinopati.

Suplementasi besi pada


kehamilan
Total kebutuhan besi saat
kehamilan: 900 mg.
Kebutuhan rata-rata harian:
4-6 mg.
Suplementasi yang
dianjurkan WHO pada
negara dengan prevalensi
anemia pada kehamilan
yang tinggi: 60 mg besi
elemental selama 6 bulan
dan 5 mg asam folat.

Komplikasi (anemia sedang-berat)


Maternal, keluhan: fatique,
dispnea, sinkop, nyeri dada.
Mortalitas >>
Antenatal: berat badan sulit naik,
persalinan prematur, preeklampsia, solusio plasenta,
infeksi, ketuban pecah dini.
Intranatal: gangguan persalinan,
perdarahan dan syok, gagal
jantung
Postnatal: sepsis purpueralis, subinvolusi uterus dan emboli.
Fetal: gangguan perkembangan
mental, BBLR, prematur,
kematian perinatal,
oligohidramnion, abortus
spontan, hipertrofi plasenta.

Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo,


2010

Transfusi Pada Kehamilan


Transfusi dengan sel darah merah tetap dilakukan ketika
tingkat Hb adalah 7 10 g/dl, pada kondisi :
Terjadi perdarahan terus menerus
Terdapat tanda tanda penurunan daya angkut oksigen (paru
paru kronis atau penyakit kardiovaskular) selama pembedahan
Menurunnya eritropoiesis
Ketika transfusi autologous akan digunakan. Setiap unit sel
darah merah yang ditransfusi akan meningkatkan hemoglobin
1 g/dl (dan meningkatkan hematokrit 1 - 3%) pada seorang
perempuan dengan berat badan 70 kg.

Pengobatan pengganti yang spesifik harus dipikirkan


sebelum melakukan transfusi, bila anemia disebabkan
oleh kekurangan zat besi, folat, atau vitamin B12
Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo,
2010

137. Hukum Naegele


HPHT (Hari

Tgl

Bln

Thn

13

06

2012

+7

-3

+1

20

2013

+14

-3

+1

Pertama Haid
Terakhir)

Siklus 28 hari

Untuk Siklus 35

Hari

Hari Pertama Haid Terakhir


Saat persalinan tergantung
pada saat ovulasi. Karena
saat ovulasi ditentukan oleh
lamanya siklus, hukum
Naegele hanya berlaku
untuk siklus +28 Hari.
Jika siklusnya panjang,
ovulasi terjadi lebih jauh
dari hari pertama haid
terakhir dan persalinan juga
akan jadi lebih jauh dari
haid terakhir

Obstetri Fisiologi FK UNPAD, 2011

138. Persalinan

Persalinan normal:
proses pengeluaran buah
kehamilan (bayi, plasenta dan
selaput ketuban)
usia gestasi aterm (>37 42
minggu)
persalinan spontan (dari rahim ibu
melalui jalan lahir dengan tenaga
ibu sendiri (tidak ada intervensi
dari luar).
presentasi kepala (posisi belakang
kepala)
tidak lebih dari 18 jam
Tidak ada komplikasi pada ibu
maupun janin.

Kala I
Dimulainya proses persalinan yang ditandai dengan
adanya kontraksi yang teratur, adekuat dan
menyebabkan perubahan pada serviks hingga
mencapai pembukaan lengkap. Terdiri dari:
Fase laten:
dimulai dari awal kontraksi hingga
pembukaan mendekati 4 cm
kontraksi mulai teratur tetapi lamanya
masih diantara 20-30 detik
Berlangsung sekitar 8 jam
Fase aktif:
kontraksi di atas 3 kali/ 10 menit
lama kontraksi 40 detik dan mules
pembukaan dari 4 cm sampai lengkap
(10cm)
terdapat penurunan bagian terbawah
janin
Berlangsung sekitar 6 jam (Kecepatan
rata-rata 1cm/jam pada nulipara dan 12cm/jam pada multipara).
Fase akselerasi 3 4 cm dalam 2 jam
Fase kemajuan maksimal, dari
pembukaan 4 9 cm dicapai dalam 2
jam
Fase deselerasi dari pembukaan 9 cm
sampai 10 cm dalam 2 jam

Tanda dan gejala persalinan:


Timbulnya his persalinan, yaitu his pembukaan dengan
sifat :
Nyeri melingkar dari punggung hingga ke perut
depan
Teratur
Makin lama interval makin pendek dan
intensitas makin kuat
Jika berjalan bertambah kuat
Berpengaruh pada pendataran atau
pembukaan serviks
Keluar lendir bercampur darah
Keluar cairan banyak tiba-tiba dari jalan lahir (bila
ketuban pecah)
Pada pemeriksaan dalam: terjadi pendataran dan
pembukaan serviks

Kala II
Dimulai pada saat pembukaan
serviks telah lengkap dan
berakhir pada saat bayi telah lahir
lengkap.
His menjadi lebih kuat, lebih
sering, dan lebih lama. Selaput
ketuban mungkin juga sudah
pecah/ baru pecah spontan pada
awal Kala 2.
Rata-rata waktu untuk
keseluruhan proses Kala 2 pada
primigravida 1,5 jam, dan
multipara 0,5 jam
Kala II lama: > 1 jam pada
multigravida; > 2 jam pada
primigravida

Kala III
Dimulai pada saat bayi telah lahir
lengkap, dan berakhir dengan
lahirnya plasenta.
Berlangsung 30 menit.
Tanda-tanda pelepasan plasenta
Tali pusat memanjang
Uterus membulat
Keluar semburan darah

Manajemen aktif kala III


Menyuntikan oksitosin dalam 1 menit
setelah bayi lahir, 10 IU secara IM pada
1/3 paha atas bagian lateral
Melakukan penegangan tali pusat
terkendali dan dorongan dorso-kranial
sampai plasenta terlepas
Melakukan masase uterus segera
setelah plasenta dan selaput ketuban
lahir

Kala IV
Segera setelah lahirnya plasenta
hingga 2 jam post partum
Monitor pada kala IV
Pemantaun kontraksi dan pencegahan
perdarahan pervaginam:

Setiap 2-3 kali dalam 15 mrenit pertama


pasca salin
Setiap 15 menit pada 1 jam pertama
pasca salin
Setiap 20-30 menit pada jam kedua
pasca salin

Pemeriksaan tekanan darah, nadi dan


kandung kemih ibu setiap 15 menit
pada jam pertama dan setiap 30 menit
pada jam kedua pasca salin.
Pemeriksaan tanda vital bayi

Memastikan bayi bernapas baik (4060x/ menit) dan suhu stabil (36.537.50C)

139. Gemeli

DEFINISI

JENIS KEHAMILAN KEMBAR

Kehamilan multipel (multiple


pregnancy) adalah suatu kehamilan
dengan dua janin atau lebih.

Sering disebut juga sebagai


kehamilan kembar (twin pregnancy)
- sebenarnya istilah ini lebih tepat
untuk kehamilan dengan DUA janin.

Kehamilan kembar dizigotik / multizigotik


Terjadi dari dua telur (di) atau lebih (multi)
yang dibuahi, kemudian masing-masing
tumbuh menjadi janin lengkap.
Insidens (kehamilan dari dua telur) sekitar
60% dari seluruh kehamilan kembar.
Disebut juga kembar fraternal, kembar
binovular / multiovular, kembar heterolog.
Anak-anak jenis kelaminnya dapat sama
atau berbeda, karakteristik fisik umumnya
berbeda.
Plasenta dan selaput janin : masingmasing anak memiliki korion dan
amnionnya sendiri, namun plasenta
mungkin terpisah masing-masing atau
tumbuh menjadi satu (2 amnion, 2 korion,
2 atau 1 plasenta)

Istilah :
dua janin - gemelli / "kembar" / twin
tiga janin - triplet / "kembar tiga"
empat janin - quadruplet / "kembar
empat"
lima janin - quintiplet / "kembar
lima", dan seterusnya.

Kehamilan kembar monozigotik


Terjadi dari satu telur. Disebut juga kembar identik,
kembar uniovular, kembar homolog.
Insidens sekitar 30% dari seluruh kehamilan kembar.
Kedua anak jenis kelamin sama, ukuran
antropologiknya sama, rupanya mirip, dapat sama
persis atau bayangan cermin, sidik jari dan telapak
tangan sama. Mungkin salah satu kidal karena area
dominan korteks serebrinya berlawanan dari
saudaranya.
Plasenta dan selaput janin : tergantung pada usia
saat terjadinya segmentasi

FAKTOR PREDISPOSISI / ETIOLOGI

Faktor distribusi (bangsa, hereditas, umur, paritas)


hanya berpengaruh sedikit, hampir tidak berbeda
bermakna di antara populasi.

Kehamilan berasal dari lebih dari satu telur


(umumnya dua telur) dapat terjadi pada :
1. pemakaian obat-obatan induksi ovulasi
(clomiphen, hormon gonadotropin) menyebabkan
terjadi pematangan lebih dari satu folikel dalam
setiap siklus.
2. prosedur fertilisasi in vitro, di mana beberapa
embrio yang dibuahi diimplantasikan dalam uterus,
jika semua berkembang dengan baik maka terjadi
pertumbuhan lebih dari satu.

Kehamilan berasal dari satu telur terjadi :


Akibat adanya kerja faktor penghambat (inhibiting
factor) pada masa awal pertumbuhan embrio
intrauterin, mempengaruhi segmentasi selanjutnya
pada berbagai tingkatan.

Anamnesis
Riwayat kembar dalam
keluarga
Perut >besar dari
kehamilan biasa
Pergerakan anak lebih
sering

Pemeriksaan Fisik
Inspeksi Perut > besar
dari kehamilan biasa
Palpasi Fundus > tinggi
Teraba 2 / 3 bagian besar
Auskultasi BJ pada 2
tempat yg sama jelas
Pem. Penunjang
Foto rontgen : 2 kerangka
janin
Sonogram : mgg ke- 6-7

140.Persalinan
Periode kehamilan adalah:
Aterm: janin dikatakan cukup bulan apabila usia kehamilannya
mencapai 38-42 minggu
Prematur/preterm: janin dengan usia kehamilan kurang dari 38
minggu
Postmatur/postterm: janin dengan usia kehamilan lebih dari 42
minggu
Perinatal: periode dimulai pada usia kehamilan 22 minggu
dengan berat janin 500 gram hingga 7 hari setelah bayi
dilahirkan
Masa nifas: periode segera setelah kelahiran bayi hingga 40 hari
(6 minggu) dimana tubuh ibu kembali ke kondisi sebelum hamil

Tanda-tanda persalinan (inpartu) :


Timbulnya his persalinan, yaitu his
pembukaan dengan sifat :
Nyeri melingkar dari punggung
hingga ke perut depan
Teratur
Makin lama makin pendek
intervalnya dan makin kuat
intensitasnya
Kalau berjalan bertambah kuat
Mempunyai pengaruh pada
pendataran atau pembukaan
serviks
Keluar lendir bercampur darah
Keluar cairan banyak tiba-tiba dari
jalan lahir (bila ketuban pecah)

Dibagi dalam 4 kala :


Kala I : mulai dari his
persalinan sampai
pembukaan cervix lengkap,
terdiri dari 2 fase:
Fase laten : pembukaan <
4 cm
Fase aktif : pembukaan 410 cm
Kala II : dari pembukaan
lengkap sampai lahir bayi
Kala III : dari lahir bayi sampai
lahir plasenta
Kala IV : masa 1 jam setelah
plasenta lahir

141. PREEKLAMSI
ringan

berat

sistolik 140 - <160 mmHg


diastolik antara 90-<110
mmHg
proteinuri (> 300 mg/24
jam/>+1 dipstick)

Sistolik > 160 mmHg atau Diastolik > 110


mmHg.
Proteinuri > 2 g/24 jam atau > +2 dipstick
Kreatinin serum > 1,2 mg% disertai oliguri
Trombosit < 100.000/mm3
Angiolisis mikroangiopati (peningkatan kadar
LDH)
Peninggian kadar enzim hati (SGOT dan
SGPT)
Sakit kepala yang menetap/gangguan
visus&serebral
Nyeri epigastrium menetap
Pertumbuhan janin terhambat
Edema paru disertai sianosis
HELLP Syndrome

EKLAMSI
Kejang kejang, yang
tidak disingkirkan oleh
penyebab lain, pada
penderita preeklamsi,
bisa terjadi sebelum,
selama, atau segera
setelah persalinan.
SUPERIMPOSED PREEKLAMSI
Preeklamsi/eklamsi yang
terjadi pada pasien yang
menderita hipertensi
kronis.

HIPERTENSI KRONIS
Hipertensi sebelum kehamilan
/ sebelum kehamilan berumur
20 minggu/ setelah kehamilan
berumur >20 minggu /
menetap hingga 12 minggu
pasca persalinan.
Tensi 140/90 mmHg untuk
pertama kalinya dalam
kehamilan
Proteinuri (-)

TERAPI
Preeklamsi ringan

Rawat inap Istirahat (tirah baring/ tidur miring kekiri)


Pemantauan tekanan darah dan protein urine setiap hari.
Obat-obatan antioksidan atau anti agregasi trombosit
Roboransia
Kortikosteroid pada kehamilan 24-34 minggu.
Methyl Dopa 3 x 250 mg bila diastol 100-110 mmHg.
Pemantauan kesejahteraan janin USG (Doppler) dan CTG.
Jika diastol turun sampai normal pasien dipulangkan
Jika diastol naik dan disertai dengan tanda-tanda preeklamsi berat
pasien dikelola sebagai preeklamsi berat.
Umur kehamilan > 37 minggu pertimbangkan terminasi
kehamilan.

Preeklamsi Berat

Rawat bersama dengan Bagian yang terkait (IPD, Saraf, Mata, Anestesi).
A. Perawatan aktif
a. Indikasi
i. Ibu :
1. kehamilan > 37 minggu
2. adanya gejala impending eklamsi
ii. Janin :
1. adanya tanda-tanda gawat janin
2. adanya tanda-tanda IUGR
iii. Laboratorik :
adanya HELLP syndrome
b. Pengobatan medisinal
1. Infus larutan ringer laktat
2. Pemberian obat : MgSO4
3. Diuretikum
4. Antihipertensi, bila : Sistolik > 180 mmHg dan Diastolik > 110 mmHg
5. Kardiotonika
6. Obat-obat antipiretik
7. Antibiotika
8. Antinyeri

c. Pengelolaan Obstetrik
Cara terminasi kehamilan
Belum inpartu :
1. Induksi persalinan : amniotomi + tetes oksitosin dengan syarat skor Bishop > 6
2. Seksio sesarea bila ;
a. Syarat tetes oksitosin tidak dipenuhi atau adanya kontra indikasi tetes
oksitosin
b. 8 jam sejak dimulainya tetes oksitosin belum masuk fase aktif
Pada primigravida lebih diarahkan untuk dilakukan terminasi dengan seksio
sesarea.
Sudah inpartu :
Kala I
Fase laten : Amniotomi + tetes oksitosin dengan syarat skor Bishop > 6.
Fase aktif :Amniotomi
Bila his tidak adekuat, diberikan tetes oksitosin.
Bila 6 jam setelah amniotomi belum terjadi pembukaan lengkap,
pertimbangkan seksio sesarea.
Amniotomi dan tetes oksitosin dilakukan sekurang-kurangnya 15 menit setelah
pemberian pengobatan medisinal.
Kala II :
Pada persalinan pervaginam, maka kala II diselesaikan dengan partus buatan.

B. Pengelolaan konservatif
a. Indikasi :
Hamil preterm (< 37 minggu) tanpa tanda2 impending eklamsi dgn keadaan
janin baik
b. Pengobatan medisinal :
Sama dengan perawatan medisinal pengelolaan secara aktif.
c. Pengelolaan obstetrik
1. Selama perawatan konservatif, tindakan observasi dan evaluasi sama seperti
perawatan aktif, termasuk pemeriksaan tes tanpa kontraksi dan USG untuk
memantau kesejahteraan janin
2. Bila setelah 2 kali 24 jam tidak ada perbaikan maka keadaan ini dianggap
sebagai kegagalan pengobatan medisinal dan harus diterminasi. Cara terminasi
sesuai dengan pengelolaan aktif.

Eklamsi
Rawat bersama di unit perawatan intensif dengan
bagian-bagian yang terkait.
1. Obat anti kejang
2. Obat-obat supportif
3. Perawatan pasien dengan serangan kejang
4. Perawatan pasien dengan koma
5. Pengobatan Obstetrik

142. Bayi dari ibu dengan tuberkulosis


Jika ibu menderita TB paru aktif dan diobati selama kurang lebih dari dua
bulan sebelum melahirkan atau terdiagnosis menderita TB sesudah
melahirkan:
Yakinkan ibu bahwa aman untuk memberikan ASI pada bayinya
Jangan memberikan vaksin TB saat bayi baru lahir
Berikan isoniazid profilaksis 5 mg/ kgbb oral satu kali sehari
Pada umur 6 minggu evaluasi bayi kembali, perhatikan pertambahan berat
badan bayi, dan jika mungkin lakukan foto dada
Jika didapat temuan ke arah penyakit aktif mulai pengobatan OAT lengkap
Jika bayi terlihat baik dan hasil pemeriksaan negatif lanjutkan profilaksis
INH sampai 6 bulan pengobatan
Tunda pemberian vaksin BCG sampai 2 minggu sesudah pengobatan
selesai. Jika BCG sudah diberikan, ulangi lagi imunisasi BCG 2 minggu
sesudah pengobatan isoniazid selesai

buku saku pelayanan kesehatan anak di


rumah sakit WHO

143.LATAR BELAKANG PONED


Belum terpenuhinya kebutuhan baik dari segi
jumlah maupun distribusi SDM Kesehatan yang
kompeten dalam melakukan
pelayanan/penanganan berbagai kasus obstetrineonatal (baik yang esensial maupun
emergensi)
Masih tingginya AKI dan AKB di Indonesia
MDGs 2015 yang harus dicapai (indikator 4 dan
5)

TUJUAN
Meningkatkan jumlah dan distribusi SDM
Kesehatan yang berkompeten dalam
melaksanakan pelayanan obstetri-neonatal
(baik esensial maupun emergensi)
Menurunkan AKI menjadi 102/100.000
Kelahiran Hidup ; dan AKB menjadi 23/1000
Kelahiran Hidup sesuai target indikator 4 dan 5
MDGs

Penyebab Langsung:
Penyebab langsung
kematian ibu merupakan
aspek medis yang
harus ditangani oleh
tenaga medis atau tenaga
kesehatan. Kasus- kasus
tersebut antara lain
pendarahan, eklampsia,
partus lama, komplikasi
aborsi dan infeksi
(Kementerian
Kesehatan RI, 2009).

Penyebab Tidak
Langsung: Penyebab tidak
langsung kematian ibu
adalah aspek Non
medis yang merupakan
penyebab yang mendasar
antara lain status
perempuan dalam
keluarga, keberadaan
anak, sosial budaya,
pendidikan, sosial
ekonomi, dan geografis
daerah.

144. PERDARAHAN ANTEPARTUM

Perdarahan antepartum
kegawatdaruratan obstetri
penyebab utama morbiditas & mortalitas
maternal & perinatal
Merupakan penyulit pada 2-5% dari
seluruh kehamilan

PERDARAHAN
ANTEPARTUM
Definisi
Perdarahan dari jalan lahir
pada usia kehamilan 20
minggu sebelum lahirnya
janin.
Dapat disebabkan oleh :
o plasenta previa
o solusio plasenta
o sebab lainnya yang belum
dapat ditentukan

SOLUSIO PLASENTA
Terlepasnya plasenta sebagian
atau seluruhnya, pada
plasenta yang implantasinya
normal di atas 22 minggu dan
sebelum janin lahir.

Nama lain : Abruptio


placentae, Ablatio placentae,
accidental haemorrhage, &
Premature separation of the
normally omplanted placenta.

Gejala dan Tanda


Perdarahan disertai nyeri diluar his.
Anemi dan syok
Rahim keras seperti papan dan nyeri
dipegang karena isi rahim bertambah
dengan darah yang terkumpul di
belakang plasenta sehingga rahim
teregang (uterus en bois).
Palpasi sukar karena rahim keras.
Fundus uteri makin lama makin naik.
Bunyi jantung biasanya tidak ada.
Pada toucher teraba ketuban yang
tegang terus menerus karena isi rahim
bertambah.
Sering proteinuri karena disertai
preeklamsi.
Adanya impresi dari hematom
retroplasenta.

PLASENTA PREVIA

Plasenta yang letaknya tidak


normal sehingga menutupi
sebagian atau seluruh ostium
uteri internum.
Klasifikasi
Plasenta previa totalis : seluruh
ostium internum tertutup oleh
plasenta.
Plasenta previa lateralis : hanya
sebagian dari ostium tertutup
oleh plasenta.
Plasenta previa marginalis : hanya
pada pinggir ostium terdapat
plasenta.

Gejala-Gejala

Gejala yang terpenting :


perdarahan tanpa nyeri.
Pada plasenta previa, ukuran
panjang rahim berkurang pada
plasenta previa lebih sering disertai
kelainan letak.
Mungkin sekali terjadi perdarahan
pasca persalinan dikarenakan :
Plasenta melekat lebih erat pada
dinding rahim (plasenta akreta).
Daerah perlekatannya luas.
Kontraksi segmen bawah rahim
kurang mekanisme penutupan
pembuluh darah pada insersi
plasenta tidak baik.

Bahaya untuk Ibu pada


plasenta previa :
Syok hipovolemik
Infeksi-sepsis
Emboli udara (jarang)
Kelainan koagulopati
sampai syok
Kematian

145. Varixcella zooster


Herpes zoster adalah penyakit yg
disebabkan oleh virus variselazoster yg meneyrang kulit dan
mukosa, infeksi merupakan
reaktivasi virus yg terjadi setelah
infksi primer
Gejala klinis herpes zooster paling
sering terkena daerah torakal ,
gejala prodomal , timbul eritema
berkelompk, vesikel yg
berkelompok. lokalisasi
berdasarkan dermatomal sesuai
dengan tempat pesyarafan dan
unilateral

Varicella disebabkan oleh virus Varicella


Zoster. Transmisi atau penyebaran
Varicella adalah melalui:
droplet pernafasan yang
mengandung virus
Kontak langsung dengan penderita
saat lesi berupa papula atau vesikel
Anak-anak dengan
Leukemia/Limfoma yang belum mendapat
vaksinasi dan belum pernah menderita
Varicella
Penderita HIV, AIDS, dan gangguan
imunodefiiensi
Individu yang menerima obat
imunosupresan (steroid)
Wanita hamil
Individu immunocompromised
yang belum ada riwayat menderita
Varicella

PENATALAKSANAAN
Umum
- Menjelaskan kepada penderita tentang penyakit dan
pengobatan
- Memberitahu penderita untuk menjaga beruntus
beruntus berisi cairan agar tidak pecah (taburi bedak dan
jangan digaruk)
- Menerangkan kepada penderita mengenai komplikasi
penyakit yang dapat terjadi dan penanganan yang dapat
dilakukan ( nyeri menetap setelah erupsi menghilang,
infeksi sekunder, komplikasi sistemik )
Khusus
- topikal : bedak + salisilat 2 %
- sistemik : acyclovir tablet 5 x 800 mg/ hari selama 7 hari

146 & 147. Persalinan buatan

KALA II MEMANJANG
Persalinan kala II memanjang (prolonged expulsive phase) atau disebut juga
partus tak maju adalah suatu persalinan dengan his yang adekuat namun tidak
menunjukkan kemajuan pada pembukaan serviks, turunnya kepala dan
putaran paksi selama 2 jam terakhir.
Faktor faktor penyebabnya adalah :
Kelainan letak janin
Kelainan kelainan panggul
Kelainan his dan mengejan
Pimpinan partus yang salah
Janin besar atau ada kelainan kongenital
Primitua
Perut gantung atau grandemulti
Ketuban pecah dini

Gejala Klinik
Pada ibu :Gelisah, letih, suhu badan
meningkat, berkeringat, nadi cepat,
pernafasan cepat. Di daerah lokal
sering dijumpai : Ring Bandl, edema
vulva, edema serviks, cairan
ketuban berbau dan terdapat
mekonium.
Pada janin: Denyut jantung janin
cepat/hebat/tidak teratur bahkan
negatif, Air ketuban terdapat
mekonium, kental kehijau-hijauan
dan berbau, Caput Succedeneum
yang besar, Moulage kepala yang
hebat, IUFD (Intra Uterin Fetal
Death)

Penatalaksanaan : dapat dilakukan partus


spontan, ekstraksi vakum, ekstraksi forceps,
sectio caesaria, dan lain-lain
Jika pembukaan sudah lengkap dan ibu
merasa ingin meneran, bimbing ibu untuk
meneran secara efektif dan benar. Catatkan
dalam partograf.
Jika ibu tidak ada dorongan untuk meneran
setelah 60 menit pembukaan lengkap,
anjurkan ibu untuk mulai meneran disetiap
puncak kontraksi.
Jika bayi tidak lahir setelah 60 menit upaya
tersebut diatas atau jika kelahiran bayi tidak
akan segera terjadi, rujuk ibu segera karena
tidak turunnya kepala bayi mungkin
disebabkan oleh disproporsi kepala-panggul
(CPD).

b. Jika tidak ada kemajuan


Upaya mengedan ibu
penurunan kepala :
menambah resiko pada bayi
Jika kepala tidak lebih dari 1/5 di
karena mengurangi jumlah
atas simfisis pubis atau bagian
oksigen ke plasenta.
tulang kepala di stasion (O),
Dianjurkan mengedan
lakukan ekstraksi vakum atau
secara spontan (mengedan
cunam/forsep
dan menahan nafas terlalu
Jika kepala diantara 1/5-3/5 di
atas simfisis pubis, atau bagian
lama, tidak dianjurkan)
tulang kepala di antara stasion
a. Jika malpresentasi dan
(O)-(-2), lakukan ekstraksi vakum
tanda-tanda obstruksi bisa
Jika kepala lebih dari 3/5 di atas
disingkirkan, berikan infus
simfisis pubis atau bagian tulang
oksitosin
kepala di atas stasion (-2)
lakukan seksio caesarea.

Ekstraksi cunam/forceps
adalah suatu tindakan
bantuan persalinan di mana
janin dilahirkan dengan
suatu tarikan cunam /
forceps yang dipasang pada
kepalanya
Forceps / cunam adalah alat
bantu persalinan, terbuat
dari logam, terdiri dari
sepasang (2 buah) sendok
yaitu sendok cunam kiri dan
sendok cunam kanan.

Indikasi :
Prinsip : keadaan yang memerlukan
pertolongan persalinan kala dua yang
dipercepat, karena jika terlambat dapat
membahayakan keadaan ibu dan / atau janin.
Indikasi ibu : preeklampsia / eklampsia,
ruptura uteri membakat, penyakit jantung,
asma, dan lain-lain.
Indikasi janin : gawat janin
Ekstraksi Forseps
Kontraindikasi :
1. Bayi prematur (karena kompresi pada
tulang kepala yang belum matang / belum
memiliki kemampuan moulage yang baik
dapat menyebabkan terjadi perdarahan
periventrikular.
2. Disproporsi sefalopelvik.

Syarat :
1. Janin aterm.
2. Janin harus dapat lahir
pervaginam (tidak ada
disproporsi)
3. Pembukaan serviks sudah
lengkap.
4. Kepala janin sudah engaged.
5. Selaput ketuban sudah
pecah, atau jika belum,
dipecahkan.
Bila Ekstraksi Vakum harus
ada HIS dan tenaga mengejan
ibu

Indikasi SC
Riwayat SC Sebelumnya
Dystocia
Gawat Janin
Presentasi Bokong

148. Tali Pusat Menumbung

Tali Pusat Menumbung adalah


keadaan tali pusat ada di samping
atau di bawah bagian terbawah janin.
Meskipun merupakan komplikasi
yang jarang kurang dari 1 persen
(0.3 sampai 0.6 persen) tetapi
artinya besar sekali oleh karena
angka kematian janin yang tinggi dan
bahaya untuk ibu bertambah besar
akibat tindakan operatif yang
digunakan dalam penanganannya.
Penekanan tali pusat antara bagian
terbawah janin dengan panggul ibu
mengurangi atau menghentikan
aliran darah ke janin dan bila tidak
dikoreksi
akan
menyebabkan
kematian bayi.

Etiologi: presentasi abnormal,


prematuritas, kehamilan ganda,
hydramnion
DIAGNOSIS TALI PUSAT
MENUMBUNG
Diagnosis tali pusat menumbung
dibuat dengan dua cara:

(1) melihat tali pusat di luar vulva,


dan

(2) meraba tali pusat pada


pemeriksaan vaginal. Oleh karena
kematian janin tinggi bila tali pusat
sudah keluar melalui introitus, harus
dicari cara-cara untuk dapat
menegakkan diagnosis lebih awal.

Persalinan

Persalinan normal:
proses pengeluaran buah
kehamilan (bayi, plasenta dan
selaput ketuban)
usia gestasi aterm (>37 42
minggu)
persalinan spontan (dari rahim ibu
melalui jalan lahir dengan tenaga
ibu sendiri (tidak ada intervensi
dari luar).
presentasi kepala (posisi belakang
kepala)
tidak lebih dari 18 jam
Tidak ada komplikasi pada ibu
maupun janin.

Kala I
Dimulainya proses persalinan yang ditandai dengan
adanya kontraksi yang teratur, adekuat dan
menyebabkan perubahan pada serviks hingga
mencapai pembukaan lengkap. Terdiri dari:
Fase laten:
dimulai dari awal kontraksi hingga
pembukaan mendekati 4 cm
kontraksi mulai teratur tetapi lamanya
masih diantara 20-30 detik
Berlangsung sekitar 8 jam
Fase aktif:
kontraksi di atas 3 kali/ 10 menit
lama kontraksi 40 detik dan mules
pembukaan dari 4 cm sampai lengkap
(10cm)
terdapat penurunan bagian terbawah
janin
Berlangsung sekitar 6 jam (Kecepatan
rata-rata 1cm/jam pada nulipara dan 12cm/jam pada multipara).
Fase akselerasi 3 4 cm dalam 2 jam
Fase kemajuan maksimal, dari
pembukaan 4 9 cm dicapai dalam 2
jam
Fase deselerasi dari pembukaan 9 cm
sampai 10 cm dalam 2 jam

Tanda dan gejala persalinan:


Timbulnya his persalinan, yaitu his
pembukaan dengan sifat :
Nyeri melingkar dari punggung
hingga ke perut depan
Teratur
Makin lama interval makin
pendek dan intensitas makin
kuat
Jika berjalan bertambah kuat
Berpengaruh pada pendataran
atau pembukaan serviks
Keluar lendir bercampur darah
Keluar cairan banyak tiba-tiba dari
jalan lahir (bila ketuban pecah)
Pada pemeriksaan dalam: terjadi
pendataran dan pembukaan serviks

Kala II
Dimulai pada saat pembukaan
serviks telah lengkap dan
berakhir pada saat bayi telah lahir
lengkap.
His menjadi lebih kuat, lebih
sering, dan lebih lama. Selaput
ketuban mungkin juga sudah
pecah/ baru pecah spontan pada
awal Kala 2.
Rata-rata waktu untuk
keseluruhan proses Kala 2 pada
primigravida 1,5 jam, dan
multipara 0,5 jam
Kala II lama: > 1 jam pada
multigravida; > 2 jam pada
primigravida

149. Pemeriksaan Dalam


Untuk menentukan apakah penderita benar
dalam keadaan inpartu
Untuk menentukan faktor janin dan panggul
Menentukan ramalan persalinan

INDIKASI

KONTRA INDIKASI

Primipara, kehamilan 36 mg
bagian bawah janin belum
masuk PAP
Menentukan kemajuan
persalinan
Ketuban pecah sedang
bagian bawah janin masih
tinggi
Menentukan tindakan

Perdarahan
Plasenta previa
Ketuban pecah dini
Persalinan preterm

Akurasi dan Penentuan Waktu Pemeriksaan


Dalam
Penentuan waktu pemeriksaan dalam harus relevan
terhadap masing masing individu ibu supaya
mendapat pengkajian yang adekuat mengenai
kemajuannya dan tidak boleh dilakukan terlalu sering
atau hanya demi rutinitas.
Pengkajian ini biasanya tiap 4 jam dan definisi
kemajuan seperti dilatasi serviks 4 cm perjam sangat
bervariasi diantara unit dan dalam literatur.

Periksa dalam berulang dalam persalinan


merupakan intervensi invasif tanpa manfaat
yang terbukti.
Periksa dalam tidak seakurat yang diperkirakan
oleh praktisi. Hasilnya bervariasi dari satu
praktisi ke praktisi lain, dan bahkan dari
pemeriksa yang sama pada pemeriksaan
ulangan.
Kadang temuan yang berlebihan dari apa yang
sebenarnya terjadi pada tubuh ibu. Misalnya,
sering terjadi pada ibu multipara yang
pembukaan 6 cm beberapa menit yang lalu dan
sekarang mengejan.

150.PENDAHULUAN
Hipertensi adalah masalah kesehatan yang paling sering
ditemui dalam kehamilan.
Hipertensi merupakan komplikasi kehamilan kira-kira 5-15%
dari seluruh kehamilan dan merupakan salah satu dari tiga
penyebab tertinggi mortalitas dan morbiditas ibu bersalin.
Hipertensi dalam kehamilan (HDK) adalah salah satu
penyebab morbiditas dan mortalitas ibu di samping
perdarahan dan infeksi.
Pada HDK juga didapatkan angka mortalitas dan morbiditas
bayi yang cukup tinggi. Untuk itu diperlukan perhatian serta
penanganan yang serius terhadap ibu hamil dengan
penyakit ini.

KLASIFIKASI
Hipertensi kronik
Preeklamsi-eklampsi
Hipertensi kronik dengan superimposed
preeklampsia
Hipertensi gestasional

DEFINISI
Hipertensi kronik
Adalah hipertensi pada ibu hamil yang sudah ditemukan sebelum
kehamilan atau yang ditemukan pada umur kehamilan kurang dari 20
minggu, dan yang menetap setelah 12 minggu pasca persalinan

Preeklampsia
Ialah timbulnya hipertensi disertai proteinuria akibat kehamilan,
setelah umur kehamilan 20 minggu.

Eklampsia
Adalah kelainan akut pada preeklamsi, dalam kehamilan, persalinan
atau nifas yang ditandai dengan timbulnya kejang dengan atau tanpa
koma.

Hipertensi gestasional (juga disebut transient hypertension)


Adalah timbulnya hipertensi dalam kehamilan tanpa disertai
proteinuria.Gejala ini akan hilang dalam setelah 3 bulan pascasalin
atau kehamilan dengan tanda-tanda preeklampsia tetapi tanpa
proteinuria.

FAKTOR RISIKO
Primigravida, Primipaternitas
Hiperplasentosis, misalnya: mola hidatidosa,
kehamilan multiple, diabetes mellitus, hidrops
fetalis, bayi besar
Umur yang ekstrim (< 18tahun dan >35 tahun )
Riwayat keluarga pernah preeclampsia/eklampsia
Penyakit-penyakit ginjal dan hipertensi yang
sudah ada sebelum hamil
Obesitas

Pre Eklampsia
Definisi
timbulnya hipertensi disertai proteinuria akibat kehamilan,
setelah umur kehamilan 20 minggu.
Etiologi
Penyebab preeklampsia belum diketahui dengan pasti.
Meskipun demikian penyakit ini lebih sering ditemukan
pada wanita hamil yang :
1. Primigravida
2. Hiperplasentosis
3. Mempunyai dasar penyakit vaskuler
4. Mempunyai riwayat preeklampsia / eklampsia dalam
keluarganya.

PREEKLAMPSIA BERAT
Tujuan terapi pada PE:
1.
2.
3.
4.

Mencegah kejang dan mencegah perdarahan intrakranial


Mengendalikan tekanan darah
Mencegah kerusakan berat pada organ vital
Melahirkan janin yang sehat

Terminasi kehamilan adalah terapi defintif pada


kehamilan > 36 minggu atau bila terbukti sudah
adanya maturasi paru atau terdapat gawat janin.
Penatalaksanaan kasus PEB pada kehamilan
preterm merupakan bahan kontroversi.

EKLAMPSIA
Eklampsia terjadi pada 0.2 0.5% persalinan dengan
faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian sama
dengan yang ada pada PE.
Kadang-kadang E terjadi pada kehamilan < 20
minggu.

75% kejang terjadi sebelum persalinan.


50% dari eklampsia pasca persalinan terjadi dalam
waktu 48 jam pasca persalinan.

TERAPI
1. Terapi PRENATAL
MgSO4 i.v dilanjutkan dengan Mg SO4 infuse atau i.m
(sebagai loading dose ) dan diteruskan dengan pemberian
berkala secara i.m
MgSO4 20% 4 gr dalam 100cc RL untuk 15 menit,
kemudian PD.
Maintanence dose MgSO4 20% 10 gr dalam 500cc RL, 20
gtt/menit.
Pemberian antihipertensi secara berkala i.v atau per-oral
bila TD diastolik > 110 mmHg
Hindari pemberian diuretik dan batasi pemberian cairan
intravena kecuali bila perdarahan hebat. Jangan berikan
cairan hiperosmotik
Akhiri kehamilan atau persalinan.

TERAPI
Pengendalian Hipertensi
Hidralazine
Pemberian hidralazine i.v bila TD Diastolik > 100
mmHg atau TD Sistolik > 160 mmHg.
Dosis: 5 mg i.v selang 20 menit sampai TD Diastolik
90 100 mmHg
Efek puncak 30 60 menit
Duration of action 4 6 jam
Efek samping : nyeri kepala, pusing, palpitasi,
angina.

Terapi PASCA PERSALINAN


Setelah persalinan, pemilihan jenis obat anti HT menjadi lebih
bebas.
Pemberian diuretik tidak lagi merupakan kontraindikasi.
MgSO4 diberikan sampai 24 jam pasca persalinan.
Phenobarbital 120 mg/hari dapat diberikan pada pasien
dengan HT persisten dimana diuresis masih belum terjadi.
Bila 24 jam pasca persalinan TD Diastolik masih diatas 110
mmHg dapat diberikan obat anti HT lainnya a.l diuretik,
calcium channel blocker, ACE inhibitor , betta blocker dsbnya.
Pemeriksaan TD dilakukan dalam posisi berdiri untuk
menghindari kesalahan pemeriksaan.

151. Abortus

Pengertian Abortus
Abortus adalah kehamilan yang berhenti
prosesnya pada umur kehamilan
di bawah 20 minggu, atau berat fetus yang
lahir 500 gram atau kurang (Chalik,
1998).
Sedangkan Llewollyn & Jones (2002)
mendefenisikan abortus adalah keluarnya
janin sebelum mencapai viabilitas, dimana
masa gestasi belum mencapai 22
minggu dan beratnya kurang dari 500
gram.
WHO merekomendasikan viabilitas
apabila masa gestasi telah mencapai 22
minggu atau lebih dan berat janin 500
gram atau lebih.

Berdasarkan proses terjadinya abortus


dapat digolongkan dalam dua golongan
yaitu abortus spontan dan abortus
provokatus (buatan). Abortus provokatus
terbagi ke dalam dua jenis yaitu abortus
provokatus terapeutik dan abortus
provokatus kriminalis.

152.KONTRASEPSI
pencegahan terbuahinya sel telur
oleh sel sperma (konsepsi) atau
pencegahan
menempelnya sel telur yang telah
dibuahi ke dinding rahim
Akseptabilitas :
cara kontrasepsi ini terus dipilih
dan baru ditinggalkan jika
kehamilan ingin dicapai
Efektivitas :
menilai jumlah kehamilan yang
terjadi setelah menggunakan
kontrasepsi tersebut

Kontrasepsi ideal

Dapat dipercaya
Tidak menimbulkan efek yang mengganggu
kesehatan
Daya kerjanya dapat diatur menurut kebutuhan
Tidak menimbulkan gangguan sewaktu melakukan
koitus
Tidak memerlukan motivasi terus-menerus
Mudah pelaksanaannya
Murah harganya (dapat dijangkau)
Dapat diterima penggunaannya oleh pasangan
yang bersangkutan

Metode KB Alamiah
Pantang Berkala (Rhythm Method), OginoKnaus
Daur menstruasi
Wanita daur haidnya relatif teratur, masa
subur : 48 jam sebelum ovulasi dan berakhir
24 jam setelah ovulasi. (H-2 sampai H+1)
Kegagalan : terutama apabila wanita yang
memiliki siklus haid yang tidak teratur

Kontrasepsi

Mekanisme pencegahan

Coitus Interruptus (Sanggama Terputus)

Senggama terputus atau dalam artian penis


dikeluarkan dari vagina sesaat sebelum
ejakulasi terjadi cairan sperma tidak akan
masuk kedalam rahim pembuahan.

Metode Suhu

Menjelang ovulasi suhu basal badan akan


turun, dan sekitar 24 jam setelah ovulasi,
suhu basal badan akan naik kembali lebih
tinggi daripada suhu sebelum ovulasi

Metode Mukus Servikal (Metode Billings)

mendekati masa ovulasi,mukus menjadi


relatif bening dan sangat licin (seperti putih
telur), dan dapat diregangkan di antara kedua
jari (spinnbarkeit)

Amenorhea Laktasi (Lactational


Ammenorhea Method / LAM

Sangat efektif, dapat langsung dimulai postpartum,


memotivasi ibu untuk memberikan ASI eksklusif,
memfasilitasi transisi untuk penggunaan
kontraseptif yang modern, menjaga kontraksi
uterus,
membina hubungan baik ibu-anak, nutrisi sehat
untuk bayi, meningkatkan tumbuh kembang bayi,
non-invasif dan tidak memiliki efek samping

Kontrasepsi

Mekanisme pencegahan

KONDOM

DIAFRAGMA

Tidak menimbulkan resiko terhadap kesehatan


Efektif, praktis, murah & dapat dipakai secara umum
Memberi dorongan bagi pria untuk berpartisipasi dalam kontrasepsi
Dapat mencegah ejakulasi dini
Metode kontrasepsi sementara bila metode kontrasepsi lainnya harus ditunda

Tidak menimbulkan resiko terhadap kesehatan


Segera dirasakan efektivitasnya
Dapat dikontrol oleh klien sendiri
Sebagai metode kontrasepsi sementara yang baik setelah metode lain
ditunda
Dapat mencegah kanker servix

SPERMISIDA
Kontrasepsi busa, tablet dan krim dapat efektif bila digunakan dengan atau tanpa
kontrasepsi lain
Kurang efektif Kegagalan (pemakaian benar?)
Harus menunggu sekitar 7 10 menit
Hanya efektif dalam 1-2 jam

Mekanisme pencegahan
METODE
KB
HORMONAL
Pil KB (dosis rendah estrogen &
Mencegah ovulasi (pematangan dan
Kontrasepsi

progesteron)
Jenis :
Pil kombinasi
Pil sekunseal
Once a month pil
Pil mini
Morning after pil

Suntik KB

pelepasan sel telur)


Meningkatkan kekentalan lendir leher rahim
sehingga menghalangi masuknya sperma
Membuat dinding rongga rahim tidak siap
menerima hasil pembuahan

Depo provera (medroxyprogestin


acetate)
Cyclofem (medroxyprogesteron acetate
dan estrogen)
Noresterat (Norethindrone enanthate)
derivat testosteron.
Mekanisme Kerja Kontrasepsi Suntikan
Menghalangi pengeluaran FSH dan LH
Mengentalkan lender serviks
Merubah suasana endometrium

Implan

Kontrasepsi implant mekanisme kerjanya adalah menekan ovulasi


membuat getah serviks menjadi kental dan membuat endometrium
tidak sempat menerima hasil konsepsi.
Sangat efektif untuk masa 3 tahun (untuk jenis 1 dan 2 batang) dan 5
tahun (untuk jenis 6 batang).

IUD

Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopii


Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai cavum uteri
Mencegah sperma dan ovum bertemu

Jenis:
a.Lippes-Loop
b. Saf-T-Coil
c. Dana-Super
d. Copper-T (Gyne-T)
e. Copper-7 (Gravigard)
f. Multiload
g. Progesterone IUD

Kontrasepsi mantap (Sterilisasi)


Metode Operasi Wanita
(MOW)/TubektomiTubektomi
setiap tindakan pada kedua saluran telur yang
menyebabkan wanita bersangkutan tidak hamil
lagi. Dilakukan dengan mengikat / ligasi tuba
fallopii.

Metode Operasi Pria


(MOP)/Vasektomivasektomi
tindakan mengikat / ligasi vas deferens
untuk menghambat lewatnya sperma dari testis

153. Eritroblastosis fetalis

Eritroblastosis fetalis atau dalam


adalah suatu kelainan berupa
hemolisis (pecahnya sel darah merah)
pada janin yang akan nampak pada
bayi yang baru lahir karena
perbedaan golongan darah dengan
ibunya.
Perbedaan faktor golongan darah ini
akan mengakibatkan terbentuknya
sistem imun (antibodi) ibu sebagai
respon terhadap sel darah bayi yang
mengadung suatu antigen.
Eritroblastosis fetalis biasanya terjadi
apabila bayi bergolongan darah
rhesus
positif sedangkan
ibu
bergolongan darah rhesus negatif.

Eritroblastosis fetalis terjadi apabila seorang laki-laki yang


bergolongan darah rhesus positif menikah dengan wanita
yang bergolongan darah rhesus negatif, maka anak mereka
kemungkinan besar bergolongan darah rhesus positif
karena faktor rhesus bersifat dominan secera genetika.
Kasus Eritroblastosis fetalis biasanya terjadi pada kehamilan
anak kedua dan seterusnya jika semua anak rhesusnya
positif. Pada kehamilan pertama darah janin tidak banyak
yang masuk ke dalam sirkulasi darah ibu sehingga tidak
terbentuk antibodi pada tubuh ibu, baru pada saat
melahirkan darah janin banyak masuk ke sistem sirkulasi
darah ibu. Terbentuknya antibodi setelahnya tidak
berpengaruh karena bayi sudah terlahir.

154. ABORTUS
Ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup
diluar kandungan.
Sebagai batasan ialah kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin
kurang dari 500 gram
Abortus : Berakhirnya kehamilan pada umur kehamilan 20 minggu atau
berat janin 500 gram. Pada diagnosis Abortus harus jelas ada
pemeriksaan kehamilan (+)

ETIOLOGI
Penyebab abortus bervariasi, umumnya lebih dari
satu penyebab , penyebab terbanyak adalah
1. Faktor Genetik
2. Kelainan Kongenital Uterus
3. Autoimun
4. Defek fase luteal
5. Infeksi
6. Hematologik
7. Lingkungan

KLASIFIKASI ABORTUS
Sarwono (2008) membagi abortus menjadi
beberapa klasifikasi yaitu
1. Abortus Spontan
2. Abortus Imminens (keguguran
mengancam)
3. Abortus Incipiene (keguguran berlangsung)
1. Abortus incomplete
2. Abortus complete
3. Abortus infeksiosa dan abortus septik

Ditemukan pada abortus buatan yang


dikerjakan tanpa memperhatikan asepsis dan
antisepsis
1. Missed abortion (retensi janin mati)
2. Abortus habitualis
3. Abortus provokatus , adalah terminasi
kehamilan secara medis atau bedah sebelum
janin mampu hidup, dibagi lagi menjadi :
a. Abortus therapeutic (abortus medisinalis)
b. Abortus kriminalis
c. Unsafe Abortion

KLASIFIKASI ABORTUS
1. Abortus spontan
Abortus yang terjadi tanpa tindakan mekanis
atau ,medis untuk mengosongkan uterus. Disebut
juga keguguran (misscarriage)
2. Abortus Imminens (keguguran mengancam)
Peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada
kehamilan sebelumnya <20 minggu, hasil konsepsi
masih dalam uterus dan adanya dilatas iserviks.

KLASIFIKASI ABORTUS
3. Abortus Insipiene (keguguran berlangsung)
Peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan
<20 minggu dengan adanya dilatasi serviks
uteri.
Abortus ini dibagi lagi menjadi :
a. Abortus Incomplete : pengeluaran sebagian
hasil konsepsi dan masih terdapat sisa
tertinggal di uterus.

b. Abortus Complete : seluruh hasil konsepsi


telah dikeluarkan dengan lengkap dari cavum
uteri .
c. Abortus infeksiosa dan septik : abortus yang
disertai infeksi genitalia, sedangkan abortus
septik adalah abortus infeksiosa berat dengan
penyebaran kuman atau toksin nya ke dalam
peredaran darah atau peritonium

ABORTUS LAINNYA
1. Missed abortion (retensi janin mati):
Janin mati tertahan didalam kavum uteri tidak dikeluarkan
selama 8 minggu atau lebih
2. Abortus habitualis
Keadaan dimana pasen mengalami keguguran berturut-turut
3 kali atau lebih.
3. Abortus provokatus
Terminasi kehamilan secara medis atau bedah sebelum janin
mampu hidup

ABORTUS
insipien
Ostium uteri

Inkomplet

iminens

missed

menutup

membuka

menutup

menutup

Hasil konsepsi Dalam


kavum uteri

Seluruh nya
telah keluar

Sebagian
telah keluar

Masih baik

mumi

Besar uterus

Mengecil,
sehingga
perdarahan
sedikit

Sesuai
dengan
umur
kehamilan

Tidak sesuai
umur
kehamilan

Tes urin

membuka

kompletus

Sesuai
kehamilan

+ sampai
7-10 hari

PENATALAKSANAAN
Abortus Insipiens :
- evakuasi
- kuretase bila perdarahan banyak
- Pasca tindakan perbaiki keadaan umum,
pemberian uterotonika, antibiotik profilaksis
Abortus Complete : tidak memerlukan tindakan
khusus atau pengobatan . Biasanya hanya diberi
roborantia bila pasien memerlukan.
Abortus Incomplete :
-evakuasi
-uterotonika
-Antibiotik

PENATALAKSANAAN
Abortus Iminens
Pengelolaan penderita ini tergantung informe consent
yang diberikan . Bila ibu ini masih menghendaki maka
pengelolaan harus maksimal untuk mempertahankan
kehamilan. - Pemeriksaan USG diperlukan untuk
mengetahui pertumbuhan janin yang ada dan
mengetahui keadaan plasenta
Tirah baring sampai perdarahan berhenti
Spasmolitik agar uterus tidak berkontraksi atau diberi
progesteron untuk mencegah terjadinya abortus.
Pasien boleh pulang setelah tidak terjadi perdarahan
dengan pesan khusus pasen tidak boleh berhubungan
seksual dulu sampai kurang 2 minggu.

155. Menopause
Menopause : berhentinya
menstruasi secara
permanen, terjadi pada usia
rata rata 51 tahun.
Menaopause berhubungan
dengan hormonal dan
berhubungan dengan
hipotalamus pituitari yang
mengatur siklus menstruasi,
tetapi menopause bukanlah
proses yang berasal dari
sentral

Pada tingkat ovarium


terdapat deplesi folikel
ovarium, dan tidak dapat
merespon terhadap FSH
maupun LH
Sehingga akan menjadi
peningkatan FSH untuk
merangsang ovarium, tetapi
justru estrogen rendah
karena ovarium mengalami
deplesi folikel.

Novak Gynecology ed 14, 2006

156. TB Pada kehamilan


Obat antituberkulosis harus tetap diberikan kecuali streptomisin,
dapat menembus barrier plasenta efek samping streptomisin pada
gangguan pendengaran janin (ototoksik)
Pada prinsipnya ibu hamil sama dengan pasien TB yang tidak hamil
hanya tidak diperbolehkan pemberian streptomisin
Pada pasien TB yang menyusui, OAT dan ASI tetap dapat diberikan,
walaupun beberapa OAT dapat masuk ke dalam ASI, akan tetapi
konsentrasinya kecil dan tidak menyebabkan toksik pada bayi
Pada perempuan usia produktif yang mendapat pengobatan TB
dengan rifampisin, dianjurkan untuk tidak menggunakan kontrasepsi
hormonal, karena dapat terjadi interaksi obat yang menyebabkan
efektivitas obat kontrasepsi hormonal berkurang.
Tidak ada indikasi pengguguran pada pasien TB dengan kehamilan

ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

157. Tanatologi
Lebam mayat
Mulai tampak 20-30 menit pascamati. Well developed within the
next 3 to 4 hours
Lengkap & menetap setelah 8-12 jam, sebelumnya masih dapat
memucat pada penekanan dan berpindah

Kaku mayat:
Mulai tampak 2 jam pascamati, dimulai dari bagian luar
tubuh/otot-otot kecil (sentripetal)
Lengkap setelah 12 jam & dipertahankan selama 12 jam, lalu
menghilang dalam urutan yang sama

Pembusukan:
Tampak kehijauan di perut kanan bawah 24 jam pasca mati
Larva lalat dijumpai 36-48 jam pascamati

158. KUHP nomor 8 1981 Bab 5


Pasal 4 Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik
Indonesia Nomor 14 Tahun 2012 tentang Manajemen
Penyidikan Tindak Pidana (Perkap 14/2012), dasar
dilakukan penyidikan adalah:
a. laporan polisi/pengaduan;
b. surat perintah tugas;
c. laporan hasil penyelidikan (LHP);
d. surat perintah penyidikan; dan
e. Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan
(SPDP).

159. Kode Etik Kedokteran


Pasal 3
Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya,
seorang dokter tidak boleh dipengaruhi oleh
sesuatu yang mengakibatkan hilangnya
kebebasan dan kemandirian profesi.
Bagian penjelasan pasal 3 point 3
Membuat ikatan atau menerima imbalan dari
perusahaan farmasi/obat, perusahaan alat
kesehatan/kedokteran atau badan lain yang
dapat mempengaruhi pekerjaan dokter

160. Surat Kematian


Surat kematian ialah surat yang berisi
pernyataan bahwa seseorang telah dinyatakan
meninggal dunia menurut pemeriksaan medis.
Tujuan pembuatan surat kematian
Pemakaman
Asuransi
Harta warisan
Statistik

161. Empati
Empati sebagaimana dikemukakan kali
pertama pada 1909 berasal dari bahasa latin
em dan pathos yang artinya feeling into
Komunikasi dengan empati (komunikasi
efektif) merupakan salah satu dari tujuh area
kompetensi utama bidang kedokteran yang
harus dikuasai oleh semua dokter, dokter
spesialis dan dokter gigi, termasuk juga
paramedis

Empati vs simpati
Simpati adalah suatu proses dimana
seseorang merasa tertarik terhadap pihak lain,
sehingga mampu merasakan apa yang dialami,
dilakukan dan diderita orang lain.
empati adalah kemampuan kita dalam
menyelami perasaan orang lain tanpa harus
tenggelam di dalamnya.

162. Malpraktik vs non-malpraktik


Malpraktik medik : Kelalaian seorang
dokter/tenaga kesehatan untuk mempergunakan
tingkat keterampilan dan ilmu pengetahuan
dalam mengobati pasien menurut ukuran di
lingkungan yang sama
UU No.23 tahun 1992 ttg Tenaga Kesehatan :
Kelalaian berarti (a) tidak melakukan sesuatu
yang seharusnya dilakukan, atau (b) melakukan
sesuatu tindakan yang seharusnya tidak dilakukan

Dikatakan malpraktek medik jika:


Dokter kurang menguasai ilmu pengetahuan yang sudah
berlaku umum.
Memberikan pelayanan di bawah standar profesi (tidak
lege artis)
Melakukan kelalaian yang berat atau pelayanan dengan
tidak hati-hati
Melakukan tindakan medik yang bertentangan dengan
hukum.

Kelalaian tidak dianggap suatu pelanggaran hukum jika


kelalaian tidak membawa kerugian atau cedera dan
orang tersebut dapat menerimanya
Sanksi terberat adalah sanksi pidana: KUHP pasal 304,
pasal 306, pasal 350.

Criminal Negligence ("guilty mind) : Willful blindness


where the individual intentionally avoids adverting to
the reality of a situation. The distinction between
recklessness and criminal negligence lies in the
presence or absence of foresight as to the prohibited
consequences.
Near Miss : Unplanned event that did not result in
injury, illness, or damage but had the potential to do
so. Only a fortunate break in the chain of events
prevented an injury, fatality or damage
Misconduct : A wrongful, improper conduct motivated
by premeditated or intentional purpose or by obstinate
indifference to the consequences of one's acts. Refers
to an action, rather than neglecting. Unacceptable but
is not a criminal offense.

163. Luka tembak


Komponen pemeriksaan

Efek nyala api


Efek asap
Efek mesiu
Efek anak peluru
Efek metal
Efek moncong laras

Jenis luka tembak masuk berdasarkan jarak


Kontak (tempel) senjata ditempel di kulit hard contact/
soft contact
Ditemukan gelang kontusi, kelim tatto (bila senjata ditekan sangat
kuat ke kulit, bubuk mesiu akan masuk ke dalam jaringan subkutan),
luka bakar (akibat ledakan mesiu), jaringan subkutan rusak berat
(karena semua komponen peluru masuk ke bawah kulit), rambut
hangus, imprinted tatto (moncong laras nempel di kulit)

Dekat jarak <60 cm


Kelim tato, tepi luka rata

Jauh jarak >60 cm


komponen yang terlibat hanya peluru saja

164. Disaster Victim Identification (DVI)

165. KUHP
Pasal 352
1) Kecuali yang tersebut dalam pasal 353 dan 356,
maka penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit
atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan
atau pencarian, diancam, sebagai penganiayaan ringan,
dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau
pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus
rupiah
Pidana dapat ditambah sepertiga bagi orang yang
melakukan kejahatan itu terhadap orang yang bekerja
padanya, atau menjadi bawahannya.

166. Gantung
Jenis-jenis penggantungan
Accidental hanging tidak sengaja
Kecelakaan pada saat akrobatik
Erotic asphyxiation sensasi tercekik atau sesak
menimbulkan rangsangan seksual

Suicidal hanging bunuh diri dengan gantung


diri
Homicidal hanging dibunuh orang lain dengan
dijerat atau digantung

Gantung
Keterangan

Bunuh diri

Pembunuhan

TKP

Keadaan TKP tenang, rapih, dan


dijumpai surat peninggalan kepada
orang tertentu
Tempat yang dipilih tersembunyi,
pintu terkunci dari dalam, korban
berpakaian rapih

Keadaan TKP tidak beraturan, tanda


perkelahian
Tidak terdapat tempat tertentu, surat
bernada ancaman, alat biasanya
dipersiapkan dan tidak ditemukan di
TKP

Simpul mati
Hanya satu
Serong ke atas
Dekat

Simpul Hidup
Satu atau lebih
mendatar
Jauh

Jarang
Dekat/jauh

+
Banyak
Dekat, dapat tidak tergantung

Alat Penjerat
-Simpul
-Jumlah Lilitan
-Arah
-Jarak ttk tumpusimpul
Korban
Luka perlawanan
Luka lain
Jarak dari lantai

167. Tanatologi
Lebam mayat
Mulai tampak 20-30 menit pascamati. Well developed within the
next 3 to 4 hours
Lengkap & menetap setelah 8-12 jam, sebelumnya masih dapat
memucat pada penekanan dan berpindah

Kaku mayat:
Mulai tampak 2 jam pascamati, dimulai dari bagian luar
tubuh/otot-otot kecil (sentripetal)
Lengkap setelah 12 jam & dipertahankan selama 12 jam, lalu
menghilang dalam urutan yang sama

Pembusukan:
Tampak kehijauan di perut kanan bawah 24 jam pasca mati
Larva lalat dijumpai 36-48 jam pascamati

168. Informed Consent


Pasien dewasa
Diri sendiri
Spouse (istri atau suami saat ini)
Anak yang sudah dewasa (>21)

Pasien anak
Kedua orangtua
Wali legal

ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS

169. Kaidah Dasar Moral


Kaidah dasar moral terdiri atas:
1. Autonomy: pasien dapat mengambil keputusan

sendiri & dijamin kerahasiaan medisnya dasar


informed consent & kerahasiaan medis
2. Nonmaleficence (Do No Harm): tidak dengan
sengaja melakukan tindakan yang malah
merugikan/invasif tanpa ada hasilnya dasar agar
tidak terjadi kelalaian medis
3. Beneficence: mengambil langkah yang bermanfaat,
untuk mencegah atau menghilangkan sakit
4. Justice: perlakuan yang sama untuk kasus yang sama

170. Penggalian Kondisi Keluarga


Penilaian fungsi keluarga
Family APGAR
Adaptation cara anggota keluarga menghadapi
masalah
Partnership cara anggota keluarga komunikasi
Growth perubahan anggota keluarga
Affection cara anggota keluarga menanggapi respon
emosional
Resolve cara anggota keluarga berbagi dalam hal
waktu, ruang, dan uang

171. Promosi Kesehatan


Berdasarkan Teknik Komunikasi
a. Metode penyuluhan langsung.
Dalam hal ini para penyuluh langsung berhadapan atau bertatap
muka dengan
sasaran. Termasuk di sini antara lain : kunjungan rumah, pertemuan
diskusi (FGD),
pertemuan di balai desa, pertemuan di Posyandu, dll.
b. Metode yang tidak langsung.
Dalam hal ini para penyuluh tidak langsung berhadapan
secara tatap muka dengan sasaran, tetapi ia menyampaikan
pesannya dengan
perantara (media). Umpamanya publikasi dalam bentuk media
cetak, melalui
pertunjukan film, dsb

Berdasarkan Jumlah Sasaran Yang Dicapai


A. Pendekatan Perorangan
Dalam hal ini para penyuluh berhubungan secara langsung maupun tidak langsung
dengan sasaran secara perorangan, antara lain : kunjungan rumah, hubungan
telepon, dan lain-lain
B. Pendekatan Kelompok
Dalam pendekatan ini petugas promosi berhubungan dengan sekolompok sasaran.
Beberapa metode penyuluhan yang masuk dalam ketegori ini antara lain :
Pertemuan, Demostrasi, Diskusi kelompok, Pertemuan FGD, dan lain-lain
C. . Pendekatan Masal
Petugas Promosi Kesehatan menyampaikan pesannya secara sekaligus kepada
sasaran yang jumlahnya banyak. Beberapa metode yang masuk dalam golongan ini
adalah : Pertemuan umum, pertunjukan kesenian, Penyebaran tulisan/poster/media
cetak lainnya, Pemutaran film, dll

172. Keluarga
Menurut Goldenberg (1980) ada sembilan macam bentuk keluarga,
antara lain :
Keluarga inti (nuclear family): Keluarga yang terdiri dari suami, istri serta
anak-anak kandung
Keluarga besar (extended family): Keluarga yang terdiri dari tiga generasi
yang hidup bersama dalam satu rumah seperti keluarga inti disertai :
paman, tante, orang tua (kakak-nenek), keponakan, dll)
Keluarga campuran (blended family): Keluarga yang terdiri dari suami, istri,
anak-anak kandung serta anak-anak tiri.
Keluarga menurut hukum umum (common law family): Keluarga yang
terdiri dari pria dan wanita yang tidak terikat dalam perkawinan sah serta
anak-anak mereka yang tinggal bersama. Tidak diakui di beberapa negara
Keluarga orang tua tunggal (single parent family): Terdiri dari pria atau
wanita, mungkin karena bercerai, berpisah, ditinggal mati atau mungkin
tidak pernah menikah, serta anak-anak mereka tinggal bersama

Keluarga
Keluarga hidup bersama (commune family): Keluarga yang terdiri dari pria,
wanita dan anak-anak yang tinggal bersama tanpa hubungan
darah/pernikahan, berbagi hak, dan tanggung jawab serta memiliki
kekayaan bersama
Keluarga serial (serial family): Keluarga yang terdiri dari pria dan wanita
yang telah menikah dan mungkin telah punya anak, tetapi kemudian
bercerai dan masing-masing menikah lagi serta memiliki anak-anak
dengan pasangan masing-masing, tetapi semuanya menganggap sebagai
satu keluarga
Keluarga gabungan/komposit (composite family): Keluarga terdiri dari
suami dengan beberapa istri dan anak-anaknya (poliandri) atau istri
dengan beberapa suami dan anak-anaknya (poligini) yang hidup bersama.
Keluarga tinggal bersama (cohabitation family): Keluarga yang terdiri dari
pria dan wanita yang hidup bersama tanpa ada ikatan perkawinan yang
sah.

173. Millenium Development Goals


Indikator peningkatan umur harapan hidup dengan
target tahun 2014 yaitu 72 tahun
Indikator peningkatan persentase cakupan persalinan
yang ditolong oleh tenaga kesehatan dengan target
tahun 2014 sebesar 90 %
Indikator prevalensi pengidap HIV (persentase
penduduk 15 tahun ke atas yang memiliki pengetahuan
HIV dan AIDS) dengan target tahun 2014 sebesar 90%
Indikator persentase penduduk yang memiliki Jaminan
Kesehatan dengan target tahun 2014 sebesar 80,10%

MDG
Indikator penurunan angka kematian ibu melahirkan per
100.000 kelahiran hidup dengan target tahun 2014 sebesar
118 per 100.000 kelahiran hidup
Indikator penurunan angka kematian bayi per 1000
kelahiran hidup dengan target tahun 2014 sebesar 24 per
1000 kelahiran hidup
Indikator penurunan Total Fertility Rate dengan target
tahun 2014 sebesar 2,1
Indikator peningkatan persentase jangkauan akses sumber
air bersih dengantarget tahun 2014 sebesar 68%
Indikator penurunan kasus malaria (annual parasite index
API) dengan target tahun 2014 sebesar 1

174. Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)


adalah bidang yang terkait dengan kesehatan,
keselamatan, dan kesejahteraan manusia yang
bekerja di sebuah institusi maupun lokasi
proyek.
Tujuan K3 adalah untuk memelihara
kesehatan dan keselamatan lingkungan kerja

K3
Dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan
Transmigrasi No. Per.08/Men/VII/2010
tentang pelindung diri:
Safety helmet
Masker
Sarung tangan
ear plug
dll

175. Desain Penelitian


Desain Penelitian

Deskripsi

Cohort

Dilakukan identifikasi terlebih dahulu adanya


kausa, kemudian subjek diikuti secara prospektif
selama periode tertentu untuk mencari ada atau
tidaknya efek

Clinical trial

Merupakan studi intervensi, yaitu suatu penelitian


eksperimental terencana yang dilakukan pada
manusia. Peneliti memberikan perlakukan pada
subyek penelitian, kemudian efek perlakuan
diukur dan dianalisis.

Deskriptif

Penelitian yang bertujuan melakukan deskripsi


mengenai fenomena yang ditemukan. Hasil
penelitian disajikan apa adanya, peneliti tidak
menganalisis mengapa fenomena tersebut dapat
terjadi

176. Perencanaan Program Kesehatan


No

Urutan

Keterangan

Rumusan misi

latar belakang, cita-cita, tujuan pokok, tugas pokok,


serta ruang lingkup kegiatan ruang organisasi

Rumusan masalah

beratnya masalah yang dihadapi

Rumusan tujuan

target yang ingin dicapai (manfaat adalah bagian dari


rumusan tujuan)

Rumusan kegiatan

Asumsi perencanaan

Strategi pendekatan

Kelompok sasaran

Waktu

Pelaksana kegiatan

10

Biaya

11

Metode evaluasi

menilai faktor pendukung dan penghambat kegiatan

177.Program imunisasi
Backlog fighting, merupakan upaya aktif melengkapi
imunisasi dasar pada anak yang berumur 1 3 tahun.
Sasaran prioritas adalah desa/kelurahan yang selama
dua tahun berturut turut tidak mencapai standard
Universal Child Immunization (UCI)
Crash program, merupakan imunisasi tambahan yang
ditujukan untuk wilayah yang memerlukan intervensi
secara cepat untuk mencegah terjadinya KLB.
Sedangkan kriteria pemilihan lokasi imunisasi jenis ini
antara lain : 1. Angka kematian bayi dan angka PD3I
tinggi 2. Kekurangan tenaga, sarana, dana 3. Desa yang
selama 3 tahun berturut-turut tidak mencapai target
UCI

Program Imunisasi
Imunisasi dalam penanganan KLB (Outbreak
Response Imunization atau ORI
Kegiatan imunisasi khusus, meliputi Pekan
Imunisasi Nasional (PIN), Sub Pekan Imunisasi
Nasional, dan Cacth-up campaign campak

178. Probability Samples


each member of the population has a known nonzero probability of being selected.
Sampling Methods

Description

Simple Random Sampling

A sample selected from a population in such manner


that all member of the population have an equal
chance of being selected

Stratified Random Sampling

A sample selected so that certain characteristic are


represented in the sample in the same proportion as
they occur in the population. Use when there are
specific sub-groups to investigate

Systematic Random Sampling

Sample is obtained by selecting every Nth name in a


population

Cluster Random Sampling

A sample is obtained by using groups as the sampling


unit rather than individuals. Use when population
groups are separated and access to all is difficult, eg. in
many distant cities

When population is small,


homogeneous & readily
available. All subsets of the
frame are given an equal
probability.
The frame organized into
separate "strata." Each stratum
is then sampled as an
independent sub-population,
out of which individual
elements can be randomly
selected

In this technique, the total


population is divided into these
groups (or clusters) and
a simple random sample of the
groups is selected (two stage)
Ex. Area
sampling or geographical
cluster sampling

Nonprobability Sampling
Members are selected from the population in some
nonrandom manner.
Sampling Methods

Description

Convenience Sampling

Sample is obtained by any group of individuals that available


for the study. Used when you cannot proactively seek out
subjects.

Purposive/Judgment
Sampling

Sample is obtained from individuals who have special


qualification/expertise. Using judgment to select sample. Used
when you are studying particular groups

Snowball Sampling

Relies on referrals from initial subjects to generate additional


subjects. Used when the desired sample characteristic is rare

Quota Sampling

The researcher first identifies the stratums and their


proportions as they are represented in the population. Then
convenience or judgment sampling is used to select the
required number of subjects from each stratum. When you are
studying a number of groups and when sub-groups are small

179. Istilah dalam Control Trial


Effectiveness vs efficacy menilai kemampuan
obat untuk mencapai hasil yang diinginkan
Effectiveness settingnya pada tempat praktek
sehari, dengan banyak variable yang diikut sertakan
(contoh kepatuhan minum obat, komorbid pada
pasien) settingnya REAL
Efficacy settingnya pada lingkungan yang
terkontrol, dengan menggunakan seleksi ketat pada
subjek, dan mengeksklusi variable2 yang mengganggu
protokol pemberian obat settingnya IDEAL

Istilah dalam control trial


Efficient menilai kemampuan obat
menghasilkan efek yang diinginkan
berdasarkan variable waktu dan uang
Safety menilai kemampuan obat
menghasilkan efek yang diinginkan
berdasarkan variable efek samping dan
tingkat toksisitas
Sesuatu yang efficacious belum tentu efektif,
dan belum tentu efficient

180. Parameter epidemiology


p-value : besarnya nilai probabilitas dari hasil penelitian,
bila hipotesis 0 adalah benar
PPV = positive predictive value
Pada uji diagnostik
Persentase pasien dengan hasil (+) yang benar memiliki penyakit
(dipengaruhi prevalensi penyakit)

NNT = number needed to treat


Pada clinical trial, untuk lihat efisiensi terapi

Odd ratio:
Lebih representatif pada penelitian case control

Relative risk:
Lebih representatif pada penelitian cohort

Absolute risk: risiko memiliki penyakit dalam kurun waktu tertentu

181. Promosi Kesehatan


Berdasarkan Teknik Komunikasi
a. Metode penyuluhan langsung.
Dalam hal ini para penyuluh langsung berhadapan atau bertatap
muka dengan
sasaran. Termasuk di sini antara lain : kunjungan rumah, pertemuan
diskusi (FGD),
pertemuan di balai desa, pertemuan di Posyandu, dll.
b. Metode yang tidak langsung.
Dalam hal ini para penyuluh tidak langsung berhadapan
secara tatap muka dengan sasaran, tetapi ia menyampaikan
pesannya dengan
perantara (media). Umpamanya publikasi dalam bentuk media
cetak, melalui
pertunjukan film, dsb

Parameter epidemioloy
1. Liat nilai p terlebih dahulu menentukan
penelitian bermakna secara statistik atau tidak.
Bila nilai p < bermakna secara statistik
2. Kemudian liat odds ratio menentukan
seberapa kuat kemaknaan tersebut
3. Kemudian liat interval kepercayaan 95%
menentukan apakah kemaknaan tersebut ada
dipopulasi. Bila pada interval mengandung nilai
1 tidak bermakna di populasi, contoh IK95%
0,2 5 ada nilai 1; IK95% 2,1 5 tidak ada
nilai 1

182. Kejadian Luar Biasa


Kejadian Luar Biasa adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian
kesakitan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis dalam
kurun waktu dan daerah tertentu (Depkes, 2000).
Suatu penyakit atau keracunan dapat dikatakan KLB apabila memenuhi
kriteria sebagai berikut :
Timbulnya suatu penyakit/penyakit menular yang sebelumnya tidak ada/tidak
dikenal.
Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus-menerus selama 3 kurun waktu
berturut-turut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu, bulan, tahun).
Peningkatan kejadian penyakit/kematian, dua kali atau lebih dibandingkan
dengan periode sebelumnya (hari, minggu, bulan, tahun).
Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan dua kali lipat
atau lebih bila dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam tahun
sebelumnya.
Angka rata-rata per bulan selama satu tahun menunjukkan kenaikan dua kali
lipat atau lebih dibandingkan dengan angka rata-rata per bulan dari tahun
sebelumnya.

Kejadian Luar Biasa


Case Fatality Rate (CFR) dari suatu penyakit dalam suatu kurun
waktu tertentu menunjukkan kenaikan 50% atau lebih dibanding
dengan CFR dari periode sebelumnya.
Propotional rate (PR) penderita baru dari suatu periode tertentu
menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibanding periode
yang sama dan kurun waktu atau tahun sebelumnya.
Beberapa penyakit khusus : kolera, DHF/DSS
Setiap peningkatan kasus dari periode sebelumnya (pada daerah
endemis).
Terdapat satu atau lebih penderita baru dimana pada periode 4
minggu sebelumnya daerah tersebut dinyatakan bebas dari penyakit
yang bersangkutan.

Beberapa penyakit yang dialami 1 atau lebih penderita :


a) Keracunan makanan
b) Keracunan pestisida

183. Sensitivitas, Spesifisitas, PPV, NPV


Kanker Paru

Merokok

Positif

Negatif

Total

Positif

A+B

Negatif

C+D

total

A+C

B+D

Sensitivitas A / (A+C)
Spesifisitas D/ (B+D)
Nilai prediksi positif A / (A+B)
Nilai prediksi negatif D / (C+D)

184. Epidemiologi Kasus TB


Angka penjaringan suspek penemuan
pasien dalam suatu wilayah tertentu, dengan
memperhatikan kecenderungannya dari waktu
ke waktu (triwulan/tahunan)

Epidemiologi Kasus TB
Angka Notifikasi kasus angka yang
menunjukkan jumlah pasien baru yang
ditemukan dan tercatat di antara 100.000
penduduk di suatu wilayah tertentu.
Angka ini berguna untukmenunjukkan
kecenderungan (trend) meningkat atau
menurunnua penemuan pasien pada wilayah
tersebut.

Epidemiologi Kasus TB
Angka konversi prosentase pasien baru TB
paru BTA positif yang mengalami perubahan
menjadi BTA negatif setelah menjalani masa
pengobatan intensif.

Epidemiologi Kasus TB
Angka kesembuhan angka prosentase
pasien bau TB paru BTA positif yang sembuh
setelah selesai masa pengobatan, diantara
pasien baru TB paru BTA positif yang tercatat.

185. Puskesmas
Pembagian Puskesmas
1. Puskesmas kecamatan (puskesmas pembina)
2. Puskesmas kelurahan/desa (puskesmas pembantu)
Puskesmas pembantu
adalah unit pelayanan kesehatan yang sederhana dan
berfungsi menunjang dan membantu melaksanakan
kegiatan-kegiatan yang dilakukan puskesmas dlm ruang
lingkup wilayah yg lebih kecil.
Dalam Repelita V wilayah kerja pustu meliputi 2-3 desa
atau dgn jmlh penduduk 2500 (luar jawa&bali) sampai
10.000 orang (jawa&bali)

Puskesmas
Puskesmas Keliling
merupakan unit pelayanan kesehatan keliling
yg dilengkapi dgn kendaraan bermotor roda 4
atau perahu bermotor dan peralatan
kesehatan, peralatan komunikasi serta
sejumlah tenaga yg berasal dari puskesmas

186. Metode Pengambilan Informasi


Metode delphie survey menggunakan
kuesioner kepada peserta lainnya
Metode bryant menggunakan skoring,
berdasarkan komponen prevalensi,
kegawatan, perhatian masyarakat,
kemampuan managerial
Metode delbeq menggunakan skoring,
berdasarkan komponen besar masalah,
kegawatan, uang, dan fasilitas yang tersedia

187. Komponen Epidemiologi


Waktu
Tempat
Orang contoh usia, jenis kelamin

188. Sasaran Promosi Kesehatan


Sasaran Primer : individu atau kelompok yang
diharapkan berubah perilakunya
Sasaran Sekunder : individu atau kelompok dan
organisasi yang mempengaruhi perubahan perilaku
sasaran primer. (Cth. tokoh masyarakat, tokoh agama,
petugas kesehatan, petugas lembaga pemasyarakatan)
Sasaran Tersier : individu atau kelompok dan organisasi
yang memiliki kewenangan untuk membuat kebijakan
dan keputusan (Cth. para pejabat eksekutif, legislatif,
penyandang dana, pimpinan dan media massa)

ILMU PENYAKIT THT

189. Tes Penala

Rinne

Weber

Schwabach

Diagnosis

Positif

Tidak ada
lateralisasi

Sama
dengan
pemeriksa

Normal

Negatif

Lateralisasi
ke telinga
yang sakit

Memanjang

Tuli
konduktif

Positif

Lateralisasi
ke telinga
yang sehat

Memendek

Tuli
sensorineu
ral

190. Ramsay Hunt Syndrome


Herpes Zoster Otikus
infeksi virus varicella zooster pada telinga dalam, telinga tengah dan telinga luar
otalgia berat yang disertai dengan erupsi kulit biasanya pada Canlis Akustikus Externa
dan pinna.

Ramsay Hunt Syndrome HZO yang disertai dengan paralisis n VII

Patofisiologi :
Merupakan reaktifasi dari varicella-zoster virus (VZV) yang terdistribus
sepanjang saraf sensoris yang menginervasi telinga, termasuk didalamnya
ganglion genikulatum.
Apabila gejala disertai kurang pendengaran dan vertigo, maka ini adalah
akibat penjalaran infeksi virus langsung pada N. VIII pada posisi sudut
serebelo pontin, atau melalui vasa vasorum.

Tanda dan gejala


* Ruam merah yang nyeri dengan lepuh berisi
cairan di gendang telinga, saluran telinga
eksternal, bagian luar telinga, atap dari mulut
(langit-langit) atau lidah
* Kelemahan (kelumpuhan) pada sisi yang sama
seperti telinga yang terkinfeksi
* Kesulitan menutup satu mata
* Sakit telinga
* Pendengaran berkurang
* Dering di telinga (tinnitus)
* Sebuah sensasi berputar atau bergerak (vertigo)
* Perubahan dalam persepsi rasa

191. BPPV

Vertigo perifer

192. Penyakit Meniere


Akibat adanya hidrops endolimph pada koklea dan
vestibulum
Gejala
Vertigo episodic, muncul tiba-tiba tanpa gejala pendahulu,
biasa diikuti dengan mual dan muntah, dengan ataxia dan
nystagmus.
Gangguan pendengaran yang berubah-ubah biasanya
muncul sebelum/selama episode vertigo, dan membaik
saat keluhan vertigo hilang. Pasien dengan Meniere
Disease tidak tahan mendengar suara terlalu keras.
Telinga berdenging/Tinnitus
Rasa penuh atau tekanan pada telinga yang terkena

Diagnosis meniere:
Vertigo hilang timbul
Fluktuasi gangguan pendengaran
Menyingkirkan adanya penyebab dari sentral, misal: tumor
N VIII
Pemeriksaan pendengaran: tuli sensorineural

Tidak ditemukan pemeriksaan yang signifikan pada


pemeriksaan otoskop. Sedangkan nystagmus dapat
muncul pada serangan gejala.
Pemeriksaan Rinne + dengan konduksi tulang
berkurang pada telinga yang sakit, dan Pemeriksaan
Webber lateralisasi terjadi pada telinga yang sehat.
Pada pemeriksaan audimetri, hasilnya adalah gangguan
pendengaran sensori-neural.
Pengobatan: obat simptomatik, vasodilator perifer,
pengobatan antiiskemia.

193. Pemeriksaan Radiografi

194. Tes pendengaran


Rinne

Weber

Schwabach
Sama dengan
pemeriksa

Diagnosis

Positif

Tidak ada
lateralisasi

Normal

Negatif

Lateralisasi ke
Memanjang
telinga yang sakit

Tuli konduktif

Positif

Lateralisasi ke
Memendek
telinga yang sehat

Tuli
sensorineural

195. Otitis Media Supuratif Kronis


Otitis media supuratif kronis adalah infeksi
kronis di telinga tengah dengan perforasi
mebran timpani dan sekret yang keluar dari
telinga tengah terus menerus atau hilang
timbul.
OMA dengan perforasi mebran timpani
menjadi otitis media supuratif jika prosesnya
lebih dari dua bulan.

Jenis-jenis OMSK:
OMSK tipe aman (tipe mukosa/benigna)
OMSK tipe bahaya (disertai kolesteatoma),
kolesteatoma jenis ini biasanya menyebabkan
perforasi di daerah marginal atau atik dari
membarn timpani.

Terapi OMSK
OMSK tipe benigna:
Secara umum terapi OMSK jinak adalah konservatif.
Obat yang dapat digunakan berupa obat cuci telinga
H2O2 3% selama 3-5 hari, antibiotik (penggunaan
antara 1-2 minggu) dan antibiotik oral. Miringoplasti
atau timpanoplasti dapat dilakukan setelah dua bulan
ketika keadaan sekret sudah kering.

OMSK tipe bahaya:


Secara umum pembedahan ], mastoidektomi dengan
atau timpanoplasti.

196. Othematoma (pseudocyst of auricle)


Etiologinya hingga saat ini tidak diketahui, namun
diduga karena adanya defek embriogenesis yang
berkontribusi pada pembentukan formasi pseudokista
ini
Gejala
Pembengkakan tanpa nyeri pada daerah anterior atau
lateral dari daun telinga
Berkembang 4-12 minggu
Riwayat trauma minor

Pengobatan
Drainase
Steroid oral dan intralesi

197. Rhinitis
Diagnosis

Clinical Findings

Rinitis alergi

Riwayat atopi. Gejala: bersin, gatal, rinorea, kongesti. Tanda: mukosa


edema, basah, pucat atau livid, sekret banyak.

Rinitis
vasomotor

Gejala: hidung tersumbar dipengaruhi posisi, rinorea, bersin. Pemicu:


asap/rokok, pedas, dingin, perubahan suhu, lelah, stres. Tanda: mukosa
edema, konka hipertrofi merah gelap.

Rinitis hipertrofi

Hipertrofi konka inferior karena inflamasi kronis yang disebabkan oleh


infeksi bakteri, atau dapat juga akrena rinitis alergi & vasomotor. Gejala:
hidung tersumbat, mulut kering, sakit kepala. Sekret banyak &
mukopurulen.

Rinitis atrofi /
ozaena

Disebabkan Klesiella ozaena atau stafilokok, streptokok, P. Aeruginosa


pada pasien ekonomi/higiene kurang. Sekret hijau kental, napas bau,
hidung tersumbat, hiposmia, sefalgia. Rinoskopi: atrofi konka media &
inferior, sekret & krusta hijau.

Rinitis
medikamentosa

Hidung tersumbat yang memburuk terkait penggunaan vasokonstriktor


topikal. Perubahan: vasodilatasi, stroma edema,hipersekresi mukus.
Rinoskopi: edema/hipertrofi konka dengan sekret hidung yang
berlebihan.

198.Otitis media akut


Otitis media: peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga,
tuba eustachius, antrum mastoid dan sel mastoid.
Otitis media akut dengan perforasi membran telinga akan menjadi
otitis media kronik setelah 2 bulan.
Etiologi: Streptococcus pneumoniae 35%, Haemophilus influenzae
25%, Moraxella catarrhalis 15%.
Tahapan:
Oklusi tuba: retraksi membran timpani atau berwarna keruh.
Hiperemik/presupurasi: tampak hiperemis dan pelebaran pembuluh
darah.
Supurasi: edema yanghebat pada mukosa telinga tengah, bulging,
demam, nyeri
Perforasi: membran timpani ruptur, demam menurun
Resolusi: jika membran timpani tetap utuh maka membran timpani
akan kembali normal.
Buku ajar ilmu THTK&L FKUI edisi keenam

Stadium hiperemis

Stadium supurasi

Terapi:
Occlusion tubal: topical decongestan(ephedrin
HCl)
Presuppuration: AB for at least 7 days
(ampicylin/amoxcylin/ erythromicin) &analgetic.
Suppuration: AB, myringotomy.
Perforation: ear wash H2O2 3% & AB.
Resolution: if secrete isnt stopped ab is
continued until 3 weeks

199. Epistaksis
Epistaksis anterior
Perdarahan dari arteri
eithmoidalis anterior atau pleksus
kisselbach
Biasanta diawali oleh trauma atau
infeksi
Penanganan awal berupa
penekanan digital selama 10-15
menit. Jika perdarahan terlihat
dapat dikauter
Jika masih berdarah dapat
ditampon anterior 2x24 jam

Epistaksis posterior

Perdarahan dimulai dari anterior


eithmoidalis posterior atau arteri
sphenopalatina
Mempengaruhi pasien dengan
hipertensi atau arteriosklerosis
Terapi: aplikasi tampon
belloq/posterior selama 2-3 hari.

Buku ajar ilmu THTK&L FKUI edisi keenam

200. Abses Peritonsil