Anda di halaman 1dari 651

PEMBAHASAN

LATIHAN SOAL UKDI CLINIC II


OPTIMAPREP
BATCH NOVEMBER 2015
Office Address:
Jl Padang no 5, Manggarai, Setiabudi, Jakarta Selatan
(Belakang Pasaraya Manggarai)
Phone Number : 021 8317064
Pin BB 2A8E2925
WA 081380385694

Medan :
Jl. Setiabudi No. 65 G, Medan
Phone Number : 061 8229229
Pin BB : 24BF7CD2
www.optimaprep.com

dr. Widya, dr. Eno, dr. Yolina


dr. Resthie, dr. Reza, dr. Yusuf
dr. Cemara, dr. Zanetha

ILMU PENYAKIT DALAM

1. Stadium Klinis HIV Menurut WHO pada Dewasa dan Remaja


Stadium

Manifestasi Klinis

HIV Primary Infection

Asimtomatik
Acute Retroviral Syndrome

Clinical Stage 1

Asimtomatik
Limfadenopati generalisata persisten

Clinical Stage 2

Penurunan berat badan <10% dari berat badan asal


Infeksi saluran napas berulang (tonsilitis, sinusitis, otitis, dll)
Herpes Zoster
Cheilitis angularis
Recurrent oral ulceration
Papular pruritic eruptions
Dermatitis seborrhoik
Fungal Nail Infection

Clinical Stage 3

Penurunan berat badan tanpa sebab (>10% berat badan sebelumnya)


Diare yang tidak dapat dijelaskan > 1 bulan
Demam tanpa sebab > 1 bulan (> 37,60C intermiten atau konstan)
Persisten oral candidiasis
Oral hairy leukoplakia
Tb pulmoner
Adanya infeksi bakteria
Acute necrotizing ulcerative stomatitis, gingivitis atau periodontis
Anemia tanpa sebab (Hb < 8 g/dL)
Neutropenia (neutrofil <500 sel/L)
Trombositopenia kronis (thrombosit <50.000 sel/L)

Clinical Stage 4

HIV wasting syndrome (penurunan berat badan >10% BB asal) yang terkait dengan diare kronis (2 atau lebih BAB dengan perubahan konsistensi feses 1 bulan
atau kelemahan tubuh dan panas badan 1 bulan
Pneumocystis pneumonia
Recurrent severe bacterial pneumonia
Chronic herpes simplex infection (orolabial, genital, or anorectal site for >1 month or visceral herpes at any site)
Esophageal candidiasis (or candidiasis of trachea, bronchi, or lungs)
Extrapulmonary tuberculosis
Kaposi sarcoma
Cytomegalovirus infection (retinitis or infection of other organs)
Central nervous system toxoplasmosis

2. Penyakit Paru Obstruktif Kronis

Penyakit paru obstruktif kronis adalah suatu sindrom untuk


menggambarkan kelainan kronis pada paru yang menyebabkan gangguan
airflow pada paru.
Gejala klinis yang paling sering dijumpai adalah sesak napas, batuk
berdahak, nyeri dada, mengi dan dapat berkembang menjadi tachypnea,
distrs napas, Hoover sign (penggunaan otot bantu napas dan napas
paradoxal), sianosis, peningkatan tekanan jugular, edema perifer.
Pemeriksaan fisis didapatkan adanya hiperinflasi, wheezing, suara napas
menurun, hipersonor, ekspirasi memanjang, dan ronki
Faktor risiko yang mendasari adalah merokok tembakau, polusi udara, dan
bahan iritan dan debu.

Pemeriksaan penunjang: Blood Gas Analyzer (hypoxemia,


hypercapnea, asidosis respiratorik), hipernatremia,
defisiensi 1 antitripsin, evaluasi sputum
Pemeriksaan radiologis didapatkan jarak intercostal
melebar, diafragma tumpul, hiperaerasi, dan peningkatan
diameter anteroposterior
Tatalaksana: atasi faktor risiko, bronkodilator short acting,
bronkodilator long acting, kortikosteroid inhalasi, terapi
oksigen, dan atasi komplikasi apabila terdapat cor
pulmonale
Sumber:
http://emedicine.medscape.com/article/297664treatment

3. Artritis Reumatoid
Artritis reumatoid adalah penyakit inflamasi autoimun sistemik, kronis, dan
eksaserbatif yang menyerang persendian dengan target jaringan sinovia.
Gejala khas artritis reumatoid adalah kaku sendi pada bangun pagi, artirtis
simetris, kebanyakan pada jari tangan dan dapat menyerang sendi kaki, bahu,
dan vertebra pada stadium lanjut. Dapat terjadi manifestasi ekstraartikuler
seperti nodul reumatoid, vaskulitis, dan menyerang organ vital.
Diagnosis dini bersifat penting oleh karena kerusakan yang terjadi bersifat
ireversibel.
Diagnosis merupakan kombinasi dari pemeriksaan klinis, laboratorium, dan
radiologis.
Pemeriksaan laboratorium yang digunakan adalah LED, CRP, darah lengkap,
faktor reumatoid, ANA test, dan anti-CCP (Cyclic citrullinated peptide).
Pemeriksaan radiologi meliputi radiologi sendi, MRI, dan USG sendi.

Indikator prognosis buruk pada Artritis Reumatoid:


Banyaknya sendi yang terserang, LED dan CRP yang tinggi,
reumatoid faktor +, erosi sendi pada pemeriksaan radiologis,
dan sosial ekonomi rendah.
Prinsip tatalaksana melibatkan multidisipliner.
Terapi non farmakologis meliputi: terapi diatermi, splint,
fisioterapi, terapi okupasi, menggunakan alat pelindung sendi, dan
alat bantu gerak.
Terapi farmakologis meliputi: analgesik OAINS, DMARDs degan
klorokuin, sulfasalazin, metotreksat, azatioprin, siklosporin.

4. Sirosis Hepatis Tanda dan Gejala


Tanda Kegagalan Fungsi Hati

Tanda Hipertensi Portal

Ikterus
Spider nevi
Ginekomastia
Hipoalbuminemia
Malnutrisi kalori protein
Bulu ketiak rontok
Asites
Eritema Palmaris
white nail
Gangguan proses pembekuan darah

Varises esofagus atau cardia


Splenomegali
Pelebaran vena kolateral
Asites
Hemorrhoid
Caput medusae

Komplikasi Sirosis Hepatis Asites


Asites adalah adanya cairan bebas dalam rongga peritoneum. Pada sirosis hepatis, asites
terbentuk akibat adanya beberapa hal yaitu: hipertensi portal, retensi natrium, vasodilatasi
arteri splanknik, perubahan aliran vaskuler sistemik, peningkatan pembentukan cairan limfe
hepatik dan splanknik, dan hipoalbuminemia.
Patofisiologi yang dipakai sekarang ini adalah teori vasodilatasi perifer. Teori ini menjelaskan
asites terbentuk karena hipertensi porta sebagai faktor lokal dan gangguan fungsi ginjal
sebagai faktor sistemik. Hipertensi portal terjadi akibat vasokonstriksi dan fibrosis sinusoid
yang menyebabkan resistensi aliran vena porta. Sebagai akibatnya terjadi vasodilatasi
splanknik oleh vasodiltor endogen untuk mekanisme kompensasi. Kompensasi tersebut
membuat tekanan transudasi di sinusoid dan kapiler usus meningkat sehingga terjadi
penumpukan cairan di peritoneum. Vasodilator endogen juga menyebabkan adanya
underfilling relatif sehingga tubuh merespon dengan mengaktivasi sistem RAA untuk retensi
cairan.

Vasodilator endogen yang berperan adalah glukagon, NO,


Calcitonine gene related peptide, endoteline, Atrial Natriuretic
Factor, Vasoactive Intestinal Polypeptide, Substansi P,
Prostaglandin, Enkefalin, TNF.
Pemeriksaan fisis asites dilakukan dengan pemeriksaan fisis
(memungkinkan bila cairan minimal 1,5 liter) dengan shifting
dullness, undulasi, atau puddle sign
Pemeriksaan penunjang dengan USG (dapat mendeteksi hingga
50 ml)
Tatalaksana: konservatif dengan diet rendah garam, asupan
cairan, diuresis dan parasentesis pada asites permagna namun
kondisi penderita pada Child B

5. Leptospirosis
Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh Leptospira
icterohemorrhagica. Masa inkubasi 7-12 hari dan dapat
bermanifestasi dari asimtomatik hingga fulminan (sindroma weil)
Faktor risiko adalah daerah tropik, lingkungan berair, adanya
binatang liar atau peliharaan. Reservoir dari leptospira adalah
binatang liar atau domestik yaitu tikus. Infeksi biasanya terjadi
akibat kontak dengan urine binatang reservoir. Leptospira hidup
bersimbiosis pada ginjal tikus.
Perjalanan infeksi leptopsira dimulai dari masa inkubasi
leptopspiremia multiplikasi adherensi vaskulitis kebocoran
sel terjadi perubahan organ tubuh: ginjal, otak, hepar, dan paru.

Manifestasi klinis meliputi panas mendadak tinggi, sakit kepala, nyeri


otot, malaise, nyeri perut, vascular collaps kemudian berlanjut menuju
demam ringan 1-3 hari.
Nyeri kepala yang timbul di daerah frontal, biteemporal, dan
retroorbital dan tidak hilang dengan analgetik
Mialgia yang terjadi umumnya di gastrocnemius. Terdapat pula
conjunctiva suffusion, rash, conjunctivitis, ocular pain, adenopati,
hepatosplenomegali.
Weil sindrom adalah gejala leptospirosis ditambah ikterus, perdarahan,
gangguan paru, jantung, dan hemorrhogik. Umumnya didapatkan
rubinic jaundice (ikterus kemerahan), kencing berwarna gelap,
peningkatan fungsi hati dan ginjal.
Tatalaksana: pada kasus ringan dapat diberikan amoksisilin 500 mg per
hari atau doksisiklin 2 x 100 mg per hari selama 7 hari. Pada kasus berat
dapat diberikan antibiotik intravena (amoksisilin 1 gram per hari).

6. Obat Anti Diabetes Oral


Pembagian obat anti diabetes oral menurut cara kerjanya
Insulin secretagouges: yaitu obat anti diabetes yang memicu sekresi
insulin. Dibagi atas sulfonilurea (chlorpropamide, glibenclamide,
glimepiride, dll) dan non-sulfonil urea (nateglinide, repaglinide, GLP-1
analogue, dan DPP-4 inhibitor)
Insulin sensitizer: obat anti diabetes yang memerbaiki sensitivitas insulin.
Terdiri dari thiazolidinediones (rosiglitazone, pioglitazone, dll), non THD
(muraglitazar, tesaglitazar, dll), metaglidasen, dan biguanides (metformin,
3-guanidinopropionic aid)
Intestine enzyme inhibitors: obat anti diabetes yang bekerja dengan
menghambat enzim di usus sehingga menghambat penyerapan glukosa (glukosidase inhibitor (akarbose, vogiblose, dll) dan -amilase inhibitors
(tendamistase))

7. Cardiac Marker

8. Lokasi Infark Miokard Akut Fibrinolisis

9. Anafilaksis
Anafilaksis adalah reaksi tipe segera yang dimediasi oleh
interaksi antara alergen dengan IgE yang terikat pada
permukaan sel mast atau basofil. Interaksi tersebut akan
menimbulkan berbagai manifestasi klinis yaitu gejala sistemik.
Susah dibedakan dengan reaksi anafilaktoid namun
anafilaktoid secara mekanisme tidak melibatkan IgE.
Manifestasi klinis yang timbul meliputi gejala pada kulit,
pernapasan, kardiovaskuler, gastrointestinal, dan gejala pada
sistem organ lain seperti rinitis, konjungtivitis.

Tatalaksana anafilaksis
Segera berikan suntikan epinefrin 1:1000 0,3 ml i.m di daerah deltoid
atau vastus lateralis. Dapat diulang 15-20 mg bila diperlukan
Hentikan infus media kontras, antibiotika, dan zat lain yang dicurigai
sebagai alergen.
Berikan difenhidramin 50 mg intravena, ranitidin 50 mg atau cimetidin
300 mg intravena, oksigen, infus cairan garam, metilprednisolon 125
mg intravena
Intubasi bila diperlukan
Bila terdapat hipotensi segera berikan rehidrasi dan dopamin atau
norepinefrine.
Bila terdapat sesak napas berikan salbutamol inhalasi dan oksigen

10. Dispepsia Fungsional


Diagnosis ditegakkan dengan Kriteria ROME III
Kriteria Rome III: Diagnosis kriteria harus mencakup
Satu atau lebih dari:

Postprandial fullness
Early satiation
Epigastric pain
Epigastric Burning

DAN
Tidak ada bukti kelainan struktural yang dapat menjelaskan gejala.

Simtom harus timbul 3 bulan terakhir dalam 6 bulan sebelum


diagnosis ditegakkan

Tatalaksana dispepsia
Hindari obat anti inflamasi non steroid
Hindari makanan yang meningkatkan asam lambung
Tatalaksana farmakologis: antasida, H2 bloker, penghambat
pompa proton, dan mucosal protector

11. Idiopathic Thrombocytopenic Purpura (ITP)


Idiopathic Thrombocytopenic Purpura adalah penyakit purpura
trombositopenik yang disebabkan akibat peningkatan destruksi trombosit
oleh karena proses imunologik.
Gejala klinis biasanya perlahan dengan riwayat mudah berdarah dengan
trauma kemudian memberat hingga tanpa trauma. Pemeriksaan fisis pada
umumnya normal hanya ditemukan adanya tanda perdarahan seperti
petekiae, ekimosis, purpura.
Pemeriksaan darah lengkap biasanya didapatkan jumlah trombosit
menurun dengan adanya megakaryosit dan dapat dijumpai anemia karena
perdarahan. Pemeriksaan faal hemostasis biasanya didapatkan retraksi
bekuan normal atau terganggu, masa perdarahan memanjang.
Pemeriksaan sumsumtulang didapatkan megakaryosit meningkat.

Diagnosis banding adalah dengan SLE, obat-obatan, trombopenia post


transfusi, leukemia.
Kriteria diagnosis ITP adalah:

Adanya perdarahan atau purpura pada lebih dari satu lokasi


Tidak diikuti adanya pembesaran limpa
Terdapat trombopenia di bawah 150.000/mm3 pada pemeriksaan darah tepi
Pemeriksaan sumsum tulang didapatkan peningkatan megakaryosit
Ditemukan antiplatelet antibodi (PA-IgG) positif

Pengobatan: steroid, splenektomi


Faktor prognosis buruk: usia tua, refrakter terhadap steroid,
splenektomi, dan imunosupresif lain, jumlah trombosit kurang dari
20.000/mm3, kadar antibodi yang tidak menurun dengan pengobatan

12. Gambaran Radiologis Tuberkulosis


Gambaran radiologik yang dicurigai sebagai lesi TB aktif :
Bayangan berawan / nodular di segmen apikal dan posterior
lobus atas paru dan segmen superior lobus bawah
Kavitas, terutama lebih dari satu, dikelilingi oleh bayangan opak
berawan atau nodular
Bayangan bercak milier
Efusi pleura unilateral (umumnya) atau bilateral (jarang)

Gambaran radiologik yang dicurigai lesi TB inaktif

Fibrotik pada segmen apikal dan atau posterior lobus atas


Kalsifikasi atau fibrotik
Kompleks ranke
Fibrotoraks/Fibrosis parenkim paru dan atau penebalan pleura

Luluh Paru (Destroyed Lung ) :


Gambaran radiologik yang menunjukkan kerusakan jaringan paru yang berat,
biasanya secara klinis disebut luluh paru .Gambaran radiologik luluh paru
terdiri dari atelektasis, multikaviti dan fibrosis parenkim paru. Sulit untuk
menilai aktivitas lesi atau penyakit hanya berdasarkan gambaran radiologik
tersebut. Perlu dilakukan pemeriksaan bakteriologik untuk memastikan
aktivitas proses penyakit.

Luas lesi yang tampak pada foto toraks untuk kepentingan pengobatan
dapat dinyatakan sbb (terutama pada kasus BTA dahak negatif) :
Lesi minimal, bila proses mengenai sebagian dari satu atau dua paru dengan
luas tidak lebih dari volume paru yang terletak di atas chondrostemal junction
dari iga kedua depan dan prosesus spinosus dari vertebra torakalis 4 atau
korpus vertebra torakalis 5 (sela iga 2) dan tidak dijumpai kaviti
Lesi luas bila proses lebih luas dari lesi minimal.

13. Anemia Penyakit Kronis


Anemia penyakit kronis adalah anemia yang sering dijumpai
pada pasien infeksi atau inflamasi maupun keganasan
Patogenesis terdiri dari pemendekan masa hidup eritrosit oleh
karena stress hematologik, penghancuran eritrosit yang terjadi
pada ekstrakorpuskular, gangguan produksi eritrosit berupa
gangguan metabolisme zat besi, dan gangguan pada sumsum
tulang.
Tatalaksana: transfusi, injeksi eritropoietin

Perbedaan Anemia Defisiensi Besi dan Anemia


Penyakit Kronis
Parameter

Normal

Defisiensi Fe

Penyakit Kronis

Serum Iron (mg/dL)

70-90

30

30

TIBC (g/dL)

250-400

Lebih dari 450

Kurang dari 200

% Saturasi

30

15

Kandungan Fe dalam
makrofag

++

+++

Serum Ferritin (g/L)

20-200

10

150

Reseptor Transferin Serum

8-28

> 28

8-28

14. Infeksi Saluran Kemih


Infeksi saluran kemih adalah keradangan bakterial saluran kemih
mulai dari korteks renalis sampai meatus uretra disertai adanya
kolonisasi mikroba di urin.
Patogenesis ISK menyebar melalui endogen, hematofen, limfogen,
dan eksogen.
Manifestasi klinis ISK bervariasi meliputi: asimptomatik, disuria,
polakisuria, urgensi, nyeri suprapubik, tenesmus, panas sampai
menggigil, nyeri kosto-vertebral, mual, dan muntah.
Diagnosis ditegakkan melalui:
Urinalisis: Piuria 5 lpb atau 103. Hematuria: Dijumpai 5-10 eritrosit/lpb

Bakteriuria Asimptomatik:
Perempuan
Biakan urine 1 kali 105 cfu/ml dengan tes nitrit positif
Biakan kuman 2 kali 105 cfu/ml dengan kuman sama

Laki-laki:
Biakan kuman 2 kali 104 cfu/ml dengan kuman sama
Biakan kuman 1 kali 104 cfu/ml dengan tes nitrit positif

Bakteriuria Simptomatik
Sindroma piuria-disuria
Biakan Kuman 1 kali 103 cfu/ml

Akut tanpa komplikasi


Biakan Kuman 1 kali 104 cfu/ml dengan leukosit > 20 sel/mm3

Kronis
Biakan urine 1 kali 105 cfu/ml dengan tes nitrit positif

Pilihan pengobatan: trimetropim-sulfametoksazole 160/800 mg tiap 12


jam selama 3 hari.

15. Perhitungan Koreksi Bikarbonat


Kadar Bikarbonat normal dalam plasma 22-28 mEq/L. Sasaran Koreksi
biasanya hingga kadar bikarbonat 20-22 mEq/L.
Koreksi dengan natrium bikarbonat harus diperhatikan sasaran bikarbonat
yang dituju. Kita harus mengetahui ruang bikarbonat pada kadar
bikarbonat pasien sekarang dan kadar yang kita tuju dengan rumus:
= 0,4 + 2,6: 3
Setelah diketahui ruang bikarbonat, hitung rerata ruang bikarbonat dengan
rumus:
=

+
2

Setelah itu hitung keperluan bikarbonat dengan rumus:

Pembahasan soal no. 15


Ru-Bikar Pasien pada serum bikarbonat 10 mEq/L: 66% BB
Ru-Bikar Pasien pada serum bikarbonat 22 mEq/L: 51% BB
Rerata Ruang Bikarbonat: (66% + 51%):2 = 58,5% BB
Defisit Bikarbonat: 58,5% x 60 x 12 = 421,4 mEq

Koreksi diberikan selama 1-8 jam selama intravena.

16. Dislipidemia

17. Left Bundle Branch Block


LBBB Komplit
QRS kompleks 120 ms
Didapatkan RsR1 pada lead I aVL, V5, dan V6 dan pola RS pada V5 atau V6
Gelombang q tidak didapatkan pada lead I, V5, dan V6. Pada lead aVL, gelombang q
dapat muncul bila tidak ada kelainan jantung.
Puncak gelombang R 60 ms pada V5 dan V6 namun hal tersebut normal pada lead V1V3 bila didapatkan gelombang r pada lead V1-V3
Gelombang ST dan T biasanya berada pada polaritas berlawanan dari kompleks QRS.
Defleksi gelombang T yang searah dengan kompleks QRS dapat merupakan variasi
normal. Apabila keduanya berada pada defleksi upright disebut konkordans positif dan
apabila keduanya berada pada defleksi negatif disebut konkordans negatif.
Dapat terjadi left or right or superior axis deviation.

LBBB Inkomplit
Kompleks QRS berada di antara 110-119 ms
Didapatkan hipertrofi ventrikel kiri
Puncak R 60 ms pada lead V4, V5, dan V6
Tidak didapatkan gelombang q pada lead I, V5, dan V6

18. Intoksikasi Penghambat Kolinesterase


Insektisida penghambat kolinesterase atau insektisida fosfat
organik atau insektisida organnofosfat adalah insektisida poten
yang paling banyak digunakan dalam pertanian dengan toksisitas
yang tinggi. Salah satu bentuk yang sering digunakan adalah
malation, baygon, Hit.
Insektisida penghambat kolinesterase mengikat dan melakukan
fosforilasi enzim karboksilesterase termasuk kolinesterase darah
dan plasma. Ikatan tersebut bersifat ireversibel. Ikatan oleh karena
karbamat bersifat reversibel. Karbamat tidak menembus sawar
darah otak sehingga sifat keracunan karbamat tidak seberat
intoksikasi penghambar kolinesterase.

Dampak dari intoksikasi kolinesterase adalah aktivasi asetilkolin


berlebihan. Efek tersebut adalah:
Reseptor muskarinik: terutama pada saluran makanan, kelenjar ludah,
kelenjar keirngat, pupil, bronhus, jantung. Manifestasi klinis umumnya
DUMBELS (defecation, urination, miosis, bronchospasm, bradycardia,
emesis, lacrimation, salivation)
Reseptor nikotinik: terutama pada otot skelet, bola mata, lidah, kelopak
mata, dan otot pernapasan. Menyebabkan pelepasan epinefrin dan
nor-epinefrin, menimbulkan dampak yang sering disingkat sebagai
muscle weakness, activity of adrenal medulla, cramping
Sistem saraf pusat: nyeri kepala, perupahan emosi, kejang hingga koma

Manifestasi klinis yang paling menonjol; adalah kelainan visus,


hiperaktivitas kelenjar ludah atau keringat atau saluran
makanan, dan kesukaran bernapas.

Keracunan ringan: anoreksia, nyeri kepala, rasa lemah, akut, tremor ludah, tremor kelopak mata, pupil
miosis
Keracunan sedang: nausea, muntah, kejang, hipersalivasi, hiperhidrosis, fasikulasi otot, bradikardia.
Keracunan berat: diare, pupil pin point, reaksi cahaya negatif, sesak napas, sianosis, edema paru,
inkontinensia urin dan feses, kejang, koma, blokade jantung, meninggal.

Diagnosis penunjang dengan pengukuran kadar kolinesterase di dalam darah: Keracunan akut
ringan kadarnya 40-70% normal, keracunan akut sedang 20-40% normal, keracunan berat < 20%
normal, dan keracunan kronik 25-50% normal tanpa adanya bukti keracunan insektisida lain.
Tatalaksana berupa infus dekstrosa 5%, oksigen, jaga jalan napas, suction berkala, mandikan
seluruh tubuh dengan sabung, diazepam bila kejang, atropin sulfat, dan reaktivator
kolinesterase.
Atropinisasi diberikan bolus intravena 1-2,5 mg dan dilanjutkan 0,5-1 mg tiap 5 menit hingga
timbul gejala atropinisasi (muka merah, mulut kering, takikardia, midriasis, febris, dan psikosis).
Bila telah terjadi gejala tersebut interval menjadi tiap 15 menit dan tiap 2 jam hingga 12 jam.
Pemberian dihentikan minimal setelah 2 x 24 jam. Pemberian mendadak dapat menyebabkan
rebound effect berupa gagal napas dan edema paru.

19. Asma Bronkiale

20. Geriatric Giants


Geriatric Giants adalah kumpulan gejala yang disebabkan oleh faktor risiko imobilisasi,
instabilisasi, inkontinensia, dan gangguan fungsi kognitif.
Kelainan yang terjadi dapat memiliki dampak pada fisik, mental dan kehidupan sosial.
Bernard Issac menyempurnakan kumpulan sindrom tersebut menjadi lebih detail yaitu:
gangguan fungsi kognitif (delirium demensia), inkontinensia, postular instability, falls,
Caregiver burnout, pusing, polifarmasi, malnutrisi, kelemahan badan, elder abuse
Adanya 2 atau lebih dari kategori tersebut disertai 1 atau lebih dari adanya faktor risiko
seperti usia lebih dari 75 tahun, hidup sendiri, lebih dari 2 kali mendapat perawatan di
rumah sakit adalah indikasi dilakukannya geriatry assessment.
Kunci dari keberhasilan tatalaksana adalah anamnesis untuk menggali sebanyak-banyaknya
riwayat penyakit, riwayat kehidupan sosial, dan riwayat kehidupan sehari-hari dengan segala
keterbatasannya.

21. Rapid Progressive Glomerulonephritis


Rapid
Progressive
Glomerulonephritis
adalah
sindroma
glomerulonefritis di mana jejas pada golmerulus terjadi begitu akut
dan berat yang ditandai dengan progresi ke arah gagal ginjal secara
cepat, dala hari-minggu.
Diagnosis patologis dengan adanya menunjukkan formasi kresens
pada glomerulus, yaiotu adanya akumulasi fibrin, makrofag,
fibroblas, dan proliferasi sel epitel di kapsul Bowmans space yang
menekan glomerular capillary tuft dan memberi gambaran seperti
bulan sabit.
Manifestasi klinis didapatkan klinis sindroma nefritik, sindroma
neforik, maupun keduanya.

Kecurigaan terhadap RPGN harus ditingkatkan apabila


terdapat: sindroma nefritik akut pada orang dewasa,
sindroma nefritik akut dengan hematuria makroskopis
berat, sindroma nefritik akut dengan proteinuria berat,
sindroma nefritik akut dengan oliguria, gangguan fungsi
ginjal, dan adanya penyakit sistemik.
Tatalaksana RPGN disesuaikan dengan penyebabnya dan
ditambah dengan pemberian steroid pulse yaitu
metilprednisolon 1 gram per hari selama 3 hari, pemberian
imunosupresan dan antitrombotik.

22. Aorta Stenosis


Aorta stenosis adalah obstruksi aliran darah pada katub aorta.
Manifestasi klinis aorta stenosis terdiri dari gejala trias: nyeri dada, gagal
jantung, sinkop. Pasien dapat memiliki hipertensi namun tekanan darah
jarang didapatkan lebih dari 200 mmHg
Pada pemeriksaan fisis didapatkan pulsus alternans, hiperdinamik ventrikel
kiri, murmur sistolik S1, didapatkan splitting S2, P2.
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah serum elektrolit, cardiac
marker, darah lengkap, B-type natriuretic peptide, elektrokardiografi,
kateterisasi jantung, angiografi koroner, stress testing
Tatalaksana farmakologis: digitalis, vasodilators, digoksin, diuretiks, terapi
penggantian katub aorta

23. Perdarahan Saluran Cerna Bagian Atas


Perdarahan saluran cerna bagian atas terjadi proksimal dari ligamentum
treitz. Bentuk klinis dapat dibedakan perdarahan oleh karena varises
esofagus dan non-varises esofagus.
Manifestasi klinis beragam dari anemia defisiensi besi hingga hematemesis
melena.
Etiologi yang paling sering adalah pecahnya varises esofagus, gastritis
erosif, tukak peptik, gastropati kongestif, mallory-weiss syndrome, dan
keganasan.
Prinsip tatalaksana adalah evaluasi status hemodinamik, resusitasi,
anamneses, pemeriksaan fisis, pemeriksaan lain, pastikanberasal dari
saluran cerna atas maupun bawah, diagnosis pasti, dan terapi tatalaksana
awal.

Tatalaksana terdiri dari nonendoskopis: kumbah lambung


lewat NG tube dengan air suhu kamar dengan harapan
dapat mengurangi distensi lambung dan memerbaki proses
homeostatik. Air dingin kurang menguntungkan karena
waktu perdarahan dapat memanjang, perfusi dinding
lambung menurun, dan dapat menimbulkan ulserasi
mukosa, pemberian vitamin K pada pasien dengan
gangguan hati, vasopressin, somatostatin, omeprazole
Tatalaksana endoskopi: contact thermal, noncontact
thermal therapy dengan laser maupun clip, dan TIPS

24. Thyroid Storm


Thyroid Storm adalah keadaan gawat yang terjadi jika gejala hipertiroid
meningkat dengan hebat dalam waktu singkat. Penyakit ini dapat terjadi
pada penderita yang tidak terkontrol dengan baik dan adanya faktor
pencetus seperti infeksi dan trauma
Gejala yang terjadi dapat meliputi:

Semua gejala hipertiroid tampak dalam gradasi yang lebih berat


Febris tinggi
Muntah, diare, sakit perut
Takikardia, aritmia, atrial fibrilasi, hingga ventrikel fibrilasi
Bendungan paru dan dekompensasi kordis kongestif
Hipotensi dehidrasi, dan syok
Delirium hingga koma

Tatalaksana meliputi:
Pemberian cairan dan kalori
Menekan hormon tiroid dengan PTU 200-600 mg/4 jam atau methymazole
20 mg/jam
Menekan pengaruh symphatetic over stimulation dengan:

Propanolol IV 2 mg dan per oral 10-40 mg per 6-8 jam


Turunkan febris
Larutan kalium iodida jenuh 5 tetes per 4 jam lewat sonde
Hidrokortison 100-300 mg/hari
Berikan digitalis dan diuretika bila ada kelemahan jantung dan bendungan paru

Hilangkan faktor pencetus

25. Atrial Fibrillation


Atrial fibrillation adalah suatu bentuk dari aritmia yang sering
didapatkan dengan meningkatnya usia.
Gambaran EKG yang terdapat adalah hilangnya gelombang p
dengan interval R yang iregular dengan kompleks QRS yang sempit.
Adanya atrial fibrillation meningkatkan morbiditas dan mortalitas
karena menurunkan fungsi jantung dan meningkatkan risiko stroke.
Tatalaksana: antikoagulasi, rate control dengan beta blocker,
calcium channel blocker, digoxin, rhythm control dengan electric
atau chemical cardioversion

26. Hipertensi Klasifikasi


Hipertensi adalah adanya didapatkan tekanan darah sistol 140 mmHg
atau tekanan darah diastole 90 mmHg.
Prehipertensi adalah adanya didapatkan tekanan darah sistol 120-139 atau
tekanan darah diastol 80-89 mmHg
White coat hypertension adalah istilah di mana tekanan darah selama
menjalankan aktivitas harian biasa dilakukan dalam batas normal tetapi
bila diperiksa di klinik termasuk hipertensi.
Persisten or Sustained hypertension adalah istilah di mana tekanan darah
meningkat baik diukur di klinik maupun di luar klinik
Isolated systolic hypertension adalah istilah di mana didapatkan tekanan
darah sistol 140 mmHg dan tekanan darah diastol < 90 mmHg.

Accelerated malignant hypertension adalah istilah ntuk


hipertensi diastolik berat di mana tekanan darah diastol > 120
mmHg.
Hypertension urgency: di mana didapatkan tekanan darah diastol >
120 mmHg tanpa disertai kerusakan target organ. Gejala yang sering
didapatkan adalah nyeri kepala, sesak napas, mimisan, dan cemas
Hypertension emergency: adalah di mana didapatkan tekanan
tekanand arah diastol > 120 mmHg dengan disertai kerusakan target
organ.

BEDAH

http://emedicine.medscape.com/article/433779

27. FLAIL CHEST

Fraktur segmental dari tulang-tulang iga yang


berdekatan, sehingga ada bagian dari dinding
dada yang bergerak secara independen

Flail chest:
Beberapa tulang iga
Beberapa garis fraktur pada
satu tulang iga

The first rib is often fractured


posteriorly (black arrows). If multiple
rib fractures occur along the midlateral
(red arrows) or anterior chest wall
(blue arrows), a flail chest (dotted
black lines) may result.

http://emedicine.medscape.com/

Treatment
ABCs dengan c-spine control sesuai indikasi
Analgesik kuat
intercostal blocks
Hindari analgesik narkotik
Ventilation membaik tidal volume meningkat, oksigen darah
meningkat
Ventilasi tekanan positif
Hindari barotrauma
Chest tubes bila dibutuhkan
Perbaiki posisi pasien
Posisikan pasien pada posisi yang paling nyaman dan membantu
mengurangi nyeriPasien miring pada sisi yang terkena
Aggressive pulmonary toilet
Surgical fixation rarely needed
Rawat inap24 hours observasion

28.Appendicitis
Pathophysiology
Lymphoid hyperplasia leads to luminal obstruction
Often follows viral illness
Epithelial cells secrete mucus
Appendix distends, bacteria multiply
Visceral pain begins an average of 17 hours after
obstruction
Increased pressure compromises blood supply
Somatic pain develops
Average time to perforation = 34 hrs.

Seen in 60 %
Anorexia
Periumbilical pain, nausea, vomiting
RLQ pain developing over 24 hrs.

Anorexia and pain are most frequent


Usually nausea, sometimes vomiting
Diarrhea, esp. with pelvic location
Usually tender to palpation
Rebound tenderness is a later findingsuspect perforation

Acute Abdomen
General name for presence of signs, symptoms of
inflammation of peritoneum (abdominal lining)peritonitis
Suspect perforation of the appendix
fever
Anorexia
RLQ pain
Rebound tenderness

facweb.northseattle.edu

29. CEDERA TULANG PUNGGUNG


Klasifikasi TLISS (Thoracolumbar Injury Severity Score)
Berdasarkan :
Mekanisme cedera yang ditentukan dari foto rontgen
Integritas kompleks ligamen posterior
Status neurologis penderita
Proposed by Vaccaro (FOSA Meeting, AAOS 2005, Washington DC)

A. Mekanisme Cedera

Type
Compression

Qualifiers
Lateral Angulasi > 150
Burst

Translational/
Rotational
Distraction

Point
1
1
1

3
4

B. Neurologic Status
Involvement
Intact
Nerve Root
Cord, Conus
Medullaris

Qualifier

Points

Incomplete
Complete

Cauda Equina

0
1
3
2
3

Score
< 3 : Non Operative
4 : Non operative / Operative
> 5 : Operative

C. Integrity of Post Lig.Complex


PLC disrupted in tension, rotation,
or translation

Intact

Points

Suspected / Indeterminate

0
2

Injured

Compression Fracture
Failure of anterior
column
Stable:
Tlso, hyperextension
bracing

Unstable (>50% height,

>30% kyphosis, multi level)

Posterior instrumented
fusion vs non OR
Progressive deformity

Thoracolumbar Fracture
MANAGEMENT
ConservativeFracture
must be stable
Postural Reduction &
Body Spica
BracingTLSO(Thoracic
lumbar sacral orthosis)

Operative

30. Congenital Malformation


Disorder

Definition

Radiologic Findings

Hirschprung

Congenital
aganglionic
megacolon

Barium Enema: a transition zone that


separates the small- to normal-diameter
aganglionic bowel from the dilated bowel
above

Intussusception

A part of the
intestine has
invaginated into
another section of
intestine

Intussusception found in air or barium


enema

Duodenal
atresia

Dueodenum

Plain X-ray: Double Bubble sign

Anal Atresia

birth defects in
Knee chest position/invertogram: to
which the rectum is determined the distance of rectum stump
malformed
to the skin (anal dimple)

http://emedicine.medscape.com/

Intussusception

invertogram

Hirschprung

Classifcation:
A low lesion
colon remains close to the skin
stenosis (narrowing) of the anus
anus may be missing altogether, with the
rectum ending in a blind pouch

A high lesion
the colon is higher up in the pelvis
fistula connecting the rectum and the
bladder, urethra or the vagina

A persistent cloaca

rectum, vagina and urinary tract are joined


into a single channel

http://emedicine.medscape.com/

Learningradiology.om

Duodenal atresia

Classification
Males
1.

Cutaneous (perineal fistula)

2.

Rectourethral fistula
A.

Bulbar

B.

Prostatic

Females
1.

Cutaneous (perineal fistula)

2.

Vestibular fistula

3.

Imperforate anus without fistula

3.

Rectobladder neck fistula

4.

Rectal atresia

4.

Imperforate anus without fistula

5.

Cloaca

5.

Rectal atresia

6.

A.

Short common channel

B.

Long common channel

Complex malformations

Menurut Berdon, membagi


atresia ani berdasarkan tinggi
rendahnya kelainan, yakni :
Atresia ani letak tinggi
bagian distal rectum berakhir di
atas muskulus levator ani (>
1,5cm dengan kulit luar)
Atresia ani letak rendah
distal rectum melewati musculus
levator ani ( jarak <1,5cm dari
kulit luar)

Menurut
Stephen, membagi atresia
ani berdasarkan pada garis
pubococcygeal.
Atresia ani letak tinggi
bagian distal rectum
terletak di atas garis
pubococcygeal.
Atresia ani letak rendah
bila bagian distal rectum
terletak di bawah garis
pubococcygeal.

Management
Newborn Male Anorectal Malformation
Selama 24 jam pertama

Puasa

Cairan melalui infus

Antibiotik

Evaluasi adanya defek yang mungkin menyertai dan dapat mengancam nyawa.
NGT exclude esophageal atresia
Echocardiogram exclude cardiac malformations, esophageal atresia.

Radiograph of the lumbar spine and the sacrum


Spinal ultrasonogram evaluate for a tethered cord.
Ultrasonography of the abdomen evaluate for renal anomalies.
Urine analysis

Annals of pediatrics surgery. October 2007

Setelah 24 jam
Re evaluate

Bila pasien memiliki fistula perineal


TindakanAnoplasty, tanpa protective colostomy
Dapat dilakukan dalam 48 jam pertama kehidupan

Bila tidak ada mekonium di perineum, direkomendasikan untuk


melakukan pemeriksaan radiologi cross-table lateral radiograph dengan
pasien dalam posisi tengkurap (knee-chest position)
Bila udara dalam rektum berada dibawah os koksigis dan pasoen dalam
kondisi baik, tanpa defek yang lain
Pertimbangkan melakukan posterior sagittal operation (PSARP) dengan
atau tanpa protective colostomy
Bila gas dalam rektum berada diatas os koksigis atau pasien memiliki
mekonium dalam urin, sakrum abnormal atau flat bottom

Harus dilakukan kolostomi terlebih dahulu


Kemudian posterior sagittal anorectoplasty(PSARP) , 1 sampai 2 bulan
kemudian, setelah pasien memiliki kenaikan berat badan yang cukup
Annals of pediatrics surgery. October 2007

31. DVT
Signs and symptoms of DVT include :
Nyeri pada kaki
Tenderness/nyeri tekan pada betis ( merupakan
tanda yang paling penting )
Tenderness/nyeri tekan pada kaki
Bengkak pada kaki
Kaki terasa hangat
Kaki terlihat merahTanda radang pada kaki +
Bluish skin discoloration
Terasa tidak nyaman saat kaki diangkat keatas
(Homans)
http://www.medical-explorer.com/blood.php?022

32. Buergers Disease (Thrombangiitis


Obliterans)

Secara khusus dihubungkan dengan merokok

Terjadi Oklusi pada arteri muskular, dengan predileksi pada pembuluh darah
tibial

Presentation
Nyeri saat beristirahat
Gangrene
Ulceration

Recurrent superficial thrombophlebitis (phlebitis migrans)

Dewasa muda, perokok berat, tidak ada faktor risiko aterosklerosis yang lain

Angiography - diffuse occlusion of distal extremity vessels

Progresivitas dari distal ke proximal

Remisi klinis dengan penghentian merokok

Buergers treatment
Rawat RS
Memastikan diagnosis dan arterial imaging.
Vasoactive dilation is done during initial admission to hospital,
along with debridement of any gangrenous tissue.
Tatalaksana selanjutnya diberikan bergantung keparahan dan
derajat nyeri
Penghentian rokok menurunkan insidens amputasi dan
meningkatkan patensi dan limb salvage pada pasien yang
melalui surgical revascularisation

Vasoactive drugs
Nifedipine dilatasi perifer dan meningkatkan aliran darah
distal
Diberikan bersamaan dengan penghentian rokok, antibiotik dan
iloprost

Pentoxifylline and cilostazol have had good effects, although


there are few supportive data. Pentoxifylline has been
shown to improve pain and healing in ischaemic ulcers.
Cilostazol could be tried in conjunction with or following
failure of other medical therapies (e.g., nifedipine).
http://bestpractice.bmj.com/best-practice/monograph/1148/treatment/step-bystep.html

33. Tibia-fibula Shaft Fracture/ Cruris Fracture


Kruristungkai bawah yang
terdiri dari dua tulang panjang
yaitu tulang tibia dan fibula
Tscherne Classification
0-3
Based on degree of displacement
and comminution
C0simple fracture configuration with
little or no soft tissue injury
C1superficial abrasion, mild to
moderately severe fracture
configuration
C2deep contamination with local skin
or muscle contusion, moderately severe
fracture configuration
C3extensive contusion or crushing of
skin or destruction of muscle, severe
fracture

Clinical Features of Fracture


Fractures of the tibia
and fibula shaft are

the most common


long bone fractures
Caused by direct force
or twisting
Deformity of the
middle third of cruris
Tscherne classification

History of trauma
Symptoms &
signs:

Pain & tenderness


Swelling
Deformity
Crepitus
Loss of function
Abnormal move
N.V. injuries

Tibia-Fibula midshaft fracture


The anterior tibial artery is particularly
vulnerable to injury as it passes through a hiatus
in the interosseus membrane.
The peroneal artery has an anterior
communicating branch to the dorsalis pedis
artery
may therefore be occluded despite an intact
dorsalis pedis pulse
Regardless, dorsalis pedis pulse should always be
checked

Compartment Syndrome
Diagnosis
Nyeri yang amat
Pain and the aggravation of pain by
sangat(Pain out of
passive stretching of the muscles in the
proportion)
compartment in question are the most
sensitive (and generally the only) clinical
Kompartemen teraba
finding before the onset of ischemic
tegang
dysfunction in the nerves and muscles.
Nyeri bila diregangkan
Paresthesia/hypoesthesi
a
Paralysis
Pulselessness/pallor

Clinical Evaluation
Pain most important. Especially pain out of
proportion to the injury (child becoming more
and more restless /needing more analgesia)
Most reliable signs are pain on passive
stretching and pain on palpation of the
involved compartment
Other features like pallor, pulselessness,
paralysis, paraesthesia etc. appear very late and
we should not wait for these things.
Willis &Rorabeck OCNA 1990

Compartment Syndrome
Etiology
Compartment Size
tight dressing; Bandage/Cast
localised external pressure; lying on limb
Closure of fascial defects

Compartment Content
Bleeding; Fx, vas inj, bleeding disorders
Capillary Permeability;
Ischemia / Trauma / Burns / Exercise / Snake Bite / Drug
Injection / IVF

Compartment Syndrome
Etiology

Fractures-closed and open


Blunt trauma
Temp vascular occlusion
Cast/dressing
Closure of fascial defects
Burns/electrical

optimized by optima

Exertional states
IV/A-lines
Intraosseous IV(infant)
Snake bite
Arterial injury

Surgical Treatment

Fasciotomy

Casts and tight


bandages
remove or
loosen any
constricting
bandages

All compartments !!!

Wagner FW: The diabetic foot and amputations of the foot. In Surgery of the Foot. 5th ed. Mann, R editor. St Louis, Mo. The C.V. Mosby Company.

34. Diabetic Foot


Wagner Classification
0- kulit intak (dapat ditemukan deformitas
tulang)

X-ray
osteomyelitis, osteolysis, fractures,
dislocations
Kalsifikasi arteri medial dan gas pada jar.lunak
gangrene

1- Ulkus superfisial terlokalisasi

2- Ulkus dalam sampai tendon, tulang,


ligament atau sendi.
3- abses dalam atau osteomyelitis.
4- Gangren jari-jari kaki atau bag.depan kaki
5- Gangrene seluruh kaki.

http://www.annalsofvascularsurgery.com/article/S0890-5096(11)00060-4

Air fluid level


on CT (short
arrow)

soft-tissue gas

osteomyelitis,
osteolysis,
fractures

Cellulitis. Plain film (dorsoplantar view)


demonstrating increase opacity and diffuse
soft tissue swelling in a patient with cellulitis

35. Peritonitis
Peritonitis
Peradangan dari peritoneum
Disebabkan oleh infeksi bakteri atau jamur atau reaksi inflamasi
peritoneum terhadap darah(pada kasus trauma abdomen)

Jenis:
Peritonitis Primer
Disebabkan oleh penyebaran infeksi dari peradaran darah dan
pembuluh limfe ke peritoneumpenyakit hati
Cairaan terkumpul pada rongga peritoneum, menghasilkan lingkungan
yang cocok untuk pertumbuhan bakteri
Jarang terjadi kurang dari 1% dari seluruh kasus peritonitis

Peritonitis Sekunder
Lebih sering terjadi
Terjadi ketika infeksi menyebar dari traktus bilier atau GIT

http://www.umm.edu/altmed/articles/peritonitis-000127.htm#ixzz28YAqqYSG

Peritonitis Sekunder
Bakteri, enzim, atau cairan empedu mencapai
peritoneum dari suatu robekan yang berasal dari
traktus bilier atau GIT
Robekan tersebut dapat disebabkan oleh:

Pancreatitis
Perforasi appendiks
Ulkus gaster
Crohn's disease
Diverticulitis
Komplikasi Tifoid

Gejala dan Tanda


Distensi dan nyeri pada
abdomen
Demam, menggigil
Nafsu makan berkurang
Mual dan muntah
Peningkatan frekuensi napas
dan nadi
Nafas pendek
Hipotensi
Produksi urin berkurang
Tidak dapat kentut atau BAB

Tanda
BU berkurang atau absenusus tidak
dapat berfungsi
Perut seperti papan
Peritonitis primerasites

Perforasi Gaster

Faktor RisikoUlkus
Peptikum e.c NSAID
Gejala klasik:
Nyeri seluruh lapang perut
yang timbul mendadak
Menjalar sampai ke bahu
Tanda peritonitis

Peneriksaan Fisik
Nyeri tekan seluruh lapang
perut
rigid abdomen; with rebound
and percussion tenderness,
and guarding (a characteristic
drum-like tender abdomen)
Pekak hepar menghilang

Radiologic Findings
Plain radiograph of abdomen
(AP)
Air under diaphragm

http://en.wikipedia.org/wiki/Burn

36. Burn Injury

prick test (+)

Berat luka bakar:


Ringan: derajat 1 luas <
15% a/ derajat II < 2%
Sedang: derajat II 10-15%
a/ derajat III 5-10%
Berat: derajat II > 20%
atau derajat III > 10%
atau mengenai wajah,
tangan-kaki, kelamin,
persendian, pernapasan

To estimate scattered burns: patient's


palm surface = 1% total body surface
area

Total Body
Surface Area

Dada 9%
Perut 9%
Parkland formula = baxter formula
http://www.traumaburn.org/referring/fluid.shtml

18%

37. ASA Classification

E for Emergency Patients


PS Physical status

38. Avascular Necrosis


Definition
Hilangnya aliran darah ke tulang,
menyebabkan kematian dari
komponen sel tulang

Femoral head most common


by far
Shoulder humeral head
Odontoid (Neck)
Scaphoid (Wrist)
Lunate (Wrist)
Talus (Ankle)

Etiologies

Trauma
Alcohol
Steroids
Diving (Caissons Disease)
Sickle Cell
Idiopathic (up to 30% of cases)

Risk Factor
Alcoholism
Pancreatitis
Diabetes
Gout
Elderly

39. Hemoroid

Hemoroid eksterna

Hemoroid Interna

Diluar anal canal, sekitar sphincter

Didalam anal canal

Gejala terjadi karena thrombosis

Gejala timbul karena perdarahan atau


iritasi mukosa

Tidak dapat dimasukkan ke dalam anal


canal

dapat dimasukkan ke dalam anal canal


sampai grade III

Internal Hemorrhoids
Internal hemorrhoidal plexus
V. Rectus Inferior
V. Rectus Media

External Hemorrhoids
external hemrroidal plexus
V. Rectus Inferior

Gambaran Histologis
Hemoroid structur vaskular dalam anal
canal
Gambaran Histologis
Epitel skuomosa kolumnar simplex dan eptel
skuomosa bertingkat dengan pelebaran vena
pada lapisan lamina proria dan submukosa

ACG (American College of


Gastroenterology Guideline
Treatment for internal hemorrhoids by grade:
Grade I hemorrhoids
conservative medical therapy and avoidance of nonsteroidal antiinflammatory drugs (NSAIDs) and spicy or fatty foods
Conservative therapy:
Increased fiber intake and adequate fluids
reducing both prolapse and bleeding

Avoid straining and limit their time spent on the commode


Topical and systemic analgesics; proper anal hygiene
a short course of topical steroid cream

Grade II or III hemorrhoids


initially treated with nonsurgical procedures, rubber band ligation,
sclerotherapy, and infrared coagulation
Rubber band Ligation is the treatment of choice for second-degree
hemorrhoids, and it is a reasonable first-line treatment for thirddegree hemorrhoids
Wald A, Bharucha AE, Cosman BC, et al. ACG clinical guideline: management of benign anorectal disorders. Am J
Gastroenterol. Aug 2014

Very symptomatic grade III and grade IV hemorrhoids


surgical hemorrhoidectomy, or stapled
Very symptomatic gr. III continous bleeding, intractable pain, large
hemoroid gr. III

Treatment of grade IV internal hemorrhoids or any


incarcerated or gangrenous tissue requires prompt surgical
consultation

American Society of Colon and Rectal Surgeons ASCRS


Guidlines

http://www.cghjournal.org/article/S1542-3565%2813%2900017-7/fulltext

Rubber band ligation

Stapled Hemorrhoidectomy

40. Staghorn Kidney Stone


Staghorn calculi are branched stones that occupy a large
portion of the collecting system.
Typically, they fill the renal pelvis and branch into several or all
of the calices.
"partial staghorn" calculus
branched stone that occupies part but not all of the collecting system
"complete staghorn" calculus occupies virtually the entire collecting
system

Location and External Anatomy of


Kidneys

Located retroperitoneally
Lateral to T12L3 vertebrae
Average kidney

12 cm tall, 6 cm wide, 3 cm
thick

Hilus
On concave surface
Vessels and nerves enter
and exit

Renal capsule surrounds the


kidney

Symptoms
Staghorn calculi may contain mixed calcium/struvite or all
calcium stones
Often no symptoms directly related to stone
May present with UTI, flank pain, hematuria
Passage of struvite stone is rare
Can rapidly grow and lead to chronic pyelonephritis and
parenchymal scarring
Struvite stones are radiopaque and can be seen on AXR and CT

Abdominal plain film showing b/l radiopaque


staghorn calculi

Management of staghorn calculi


Medical
Dietary phosphorus
reduction
Antibiotics
rarely successful at
eradicating bacteria in
struvite stone

Acetohydoxamic acid (AHA,


Lithostat
urease inhibitor to stop
stone growth in 80% vs. 40%
on placebo
Use is limited by frequent
side effects including
palpitations, nausea, and
hemolytic anemia

Surgical management
Open surgery
Percutaneous
nephrolithotomy (PNL)
Shock wave lithotripsy
(SWL)

Retrospective study
112 patients with staghorn calculus with mean
follow up 7.7 years

Renal deterioration occurred in 28%


Worse outcome associated with solitary
kidney, recurrent stones, hypertension,
urinary diversion, and neurogenic bladder
J Urol 1995 May;153(5):1403-7

http://urology.iupui.edu/papers/reconstructive_bph/s0094014305001163.pdf

41. Trauma Uretra


Curiga adanya trauma
pada traktus urinarius
bag.bawah, bila:
Terdapat trauma
disekitar traktus
urinarius terutama
fraktur pelvis
Retensi urin setelah
kecelakaan
Darah pada muara OUE
Ekimosis dan hematom
perineal

Uretra Anterior:
Anatomy:
Bulbous urethra
Pendulous urethra
Fossa navicularis

Etiologi:
Straddle type injuries
Intrumentasi
Fractur penis

Prostatic urethra
Membranous urethra

Etiologi:
Fraktur tulang Pelvis

Therapy:
Cystostomi
Immediate Repair

Gejala klinis:

Gejala Klinis:
Disuria, hematuria
Hematom skrotal
Hematom perineal akan timbul bila terjadi robekan pada
fasia Bucks sampai ke dalam fasia Collesbutterfly
hematoma in the perineum
will be present if the injury has disrupted Bucks fascia and
tracks deep to Colles fascia, creating a characteristic
butterfly hematoma in the perineum

Uretra Posterior :
Anatomy

Darah pada muara OUE


Nyeri Pelvis/suprapubis
Perineal/scrotal hematom
RT Prostat letak tinggi atau melayang

Radiologi:
Pelvic photo
Urethrogram

Therapy:
Cystostomi
Delayed Repair

Don't pass a diagnostic


catheter up the patient's
urethra because:

Retrograde
urethrography

The information it will give


will be unreliable.
May contaminate the
haematoma round the
injury.
May damage the slender
bridge of tissue that joins
the two halves of his
injured urethra

Posterior urethral rupture above the


intact urogenital diaphragm
following blunt trauma
http://ps.cnis.ca/wiki/index.php/68._Urinary

Modalitas pencitraan yang


utama untuk mengevaluasi
uretra pada kasus trauma
dan inflamasi pada uretra

42.Kriptorkismus
Kriptorkismus: testis tidak ada dalam skrotum dan tidak dapat
dimasukkan ke skrotum
Ectopic: tidak melewati jalur turunnya testis
Retraktil: dapat dimanipulasi hingga masuk ke dalam skrotum
dan dapat menetap tanpa tarikan
Gliding: dapat dimanipulasi hingga masuk ke dalam skrotum
namun bila dilepas akan tertarik kembali
Ascended: sebelumnya telah ada dalam skrotum lalu tertarik
ke atas secara spontan

Gejala:
Keluhan infertilitas
benjolan di perut bagian
bawah
testis tersebut dapat
mengalami trauma,
infeksi, torsio, atau
berubah menjadi tumor
testis

Pemeriksaan Fisik:
Pada skrotum dan inguinal,
teraba massa seperti
benang
Jaringan ini biasanya
gubernakulum atau
epididimis dan vas
deferens
bisa bersamaan dengan
testis intraabdominal

Testis yang tidak teraba


muncul sekitar 20-30% pada
pasien kriptorkismus
Hanya 20-40% dari testis yang
tidak teraba, saat dioperasi
benar-benar tidak ada

Testicular development and descent


6 wk primordial germ cells
migrate to genital ridge
7 wk testicular differentiation
8 wk testis hormonally active
Sertolis secrete MIF

10-11 wk Leydig cells secrete


T
10-15 wk external genital
differentiation

5-8 wk processus vaginalis


Gubernaculum attaches to lower
epididymis

12 wk transabdominal descent to
internal inguinal ring
26-28 wk gubernaculum swells to
form inguinal canal, testis descends
into scrotum
Insulin-3 (INSL3) effects gubernacular
growth

Undescended
Testis

A, 5th week Testis begins its primary descent;


kidney ascends.
B, 8th-9th weeks. Kidney reaches adult position.
C, 7th month, Testis at internal inguinal ring;
gubernaculum (in inguinal fold) thickens and
shortens. D, Postnatal life.

119

A, Ectopic testes. Perineal ectopia not shown.

B, Undescended testes. Percentages of testes


arrested at different stages of normal descent

120

Treatment
Controversial and Various guidelines
Hormonal
Spontaneous testicular descent closely related to postnatal LH
and T surges
HormonhCG, GnRH, hMG, Combined (hCG & GnRH)
Timing for Hormone therapy:
In term boys, 4 mo
In premies, 6 mo
Surgery
Orchidopexy
American Academy of Pediatrics guidelines for the management of cryptorchidism recommend
that orchidopexy be performed when a child is between the ages of 6 months and 1 year

http://www.aafp.org/afp/2000/1101/p203
7.html

Undescended testes: a
consensus on
management

Eur J Endocrinol December 1, 2008 159 S87-S90

43. Phimosis
Phimosis
Prepusium tidak dapat
ditarik kearah proksimal
Fisiologis pada neonatus
Komplikasiinfeksi
Balanitis
Postitis
Balanopostitis

Treatment
Dexamethasone 0.1% (6
weeks) for spontaneous
retraction
Dorsum incisionbila
telah ada komplikasi

Paraphimosis
Prepusium tidak dapat
ditarik kembali dan
terjepit di sulkus
koronarius
Gawat darurat bila
Obstruksi vena
superfisial edema dan
nyeri Nekrosis glans
penis

Treatment
Manual reposition
Dorsum incision

http://emedicine.medscape.com/article/1015227

44. Hipospadia
Hypospadia
OUE berada pada ventral penis
Three anatomical
characteristics
An ectopic urethral
meatus
An incomplete prepuce
Chordee ventral
shortening and curvature

45. Treatment of Poison ingestion


Gastric lavage/Bilas lambung

Selang Fleksibel dimaskkan dari hidung ke


lambung
Isi lambung kemudian dihisap melalui selang
Na Cl kemudian dimasukkan ke dalam selang
Direkomendasikan sampai 2 jam pada
trichloro acetate & sampai 4 jam pada
Salicylate OD

Induced Vomiting

Ipecac tidak secara rutin direkomendasikan


Risiko aspirasi

Activated charcoal

Diberikan pada pasien yang sadar


Menyerap bahan toksin atau iritan sehingga
menghambat absorbsi GI
Penambahan sorbitol laxative effect
Oral: 25-100 g as a single dose
Pemberian dosis yang berulang, berguna untuk
meningkatkan eliminasi obat-obat tertentu (eg,
theophylline, phenobarbital, carbamazepine, aspirin,
sustained-release products)
Tidak efektif untuk cyanide, mineral acids, caustic alkalis,
organic solvents, iron, ethanol, methanol poisoning,
lithium

Renal elimination
Pengobatan untuk
menstimulasi urinasi atau
defekasito try to flush the
excess drug out of the body
faster.

Forced alkaline diuresis


Pemberian Infus NS+NAHCO3
dalam jumlah besar
Digunakan untuk
mengeliminasi obat yang
bersifat asam(acidic drug) yang
terutama diekskresikan oleh
ginjal salicylates
Serious fluid and electrolytes
disturbance may occur
Need expert monitoring

Hemodialysis or
haemoperfusion:
Reserved for severe poisoning
Drug should be dialyzable i.e.
protein bound with low
volume of distribution
may also be used temporarily
or as long term if the kidneys
are damaged due to the
overdose.

46. Facial Trauma Causes of Mortality


Acute
Airway compromise
Exsanguination
Associated intracranial or cervical-spine injury

Delayed
Meningitis
Oropharyngeal infections

Airway Compromise
Blood in airway
Debris in airway
Vomitus, avulsed tissue, teeth or dentures, foreign bodies

Pharyngeal or retropharyngeal tissue swelling


Posterior tongue displacement from mandible fractures
Especially parasymphisis/symphisis fracturedisruption of anterior
adhesion of the tongue

Muscles of mouth
floor

Parasymphisis and
symphisis area are origins
and insertions of mouths
floor muscles
Disruption of these
structures In fracture can
cause tongue to fall
posteriorly, closing airway

Mandible Fracture
Sites of fractures
Fraktur Condilus
Intracapsular fracture
Extracapsular fracture
High condyle neck fracture
Low condylar fracture

Fraktur Angulus/ ramus (body


fracture)
Canine region (parasymphesial
fracture)
Midline fracture (symphesis
fracture)
Coronoid fracture (rare)

132

Mandibular Fracture

Mandible Midline fracture


Fraktur yang paling sering tidak terdeteksi
(always fine crack)
Dapat merupakan fraktur simfisis atau
parasimfisis
Sering berkaitan dengan fraktur condilus, baik
unilateral atau bilateral
Fraktur unilateralfragment fraktur saling tumpang
tindih
Fraktur bilateralhilangnya kontrol volunter lidah

Long canine tooth represent a weak area and


contributes to parasymphesial fracture
Rarely runs across mental foramen

134

Mandible Midline fracture


Gejala dan Tanda

Pain and tenderness


Swelling and odemea
Development of step deformity
Baal daerah mentalis
Heamatoma pada dasar rongga
mulut atau mukosa bukal
Cedera jaringan lunak pada daerah
dagu dan bibi bawah

Bila terdapat fraktur condilus

Tidak ada pergerakan kondilus pada


sisi yang berlawanan
Deviasi mandibula
Anterior open bite
Terhambat saat menggigit(Gagging
of oclussion)
Trismus

Clinical assessment and diagnosis


History of trauma
(traumatized patients with possible
head injury) and facial injuries

Pemeriksaan fisik
Extroral

Inspectionpenilaian terhadap
asimetris, pembengkakan, ekimosis,
laserasi
Palpation tenderness, pain, step
deformity

Intra- and paraoral

Perdarahan, hematom, robekan


ginggiva, gagging of occlussion and
step deformity dan berkurangnya
sensori dan motorik

Radiographsfracture line
135

Condylar fractures
Fraktur mandibula tersering
Unilateral or bilateral
Intracapsular or extracapsular
Gejala dan Tanda
Bengkak, nyeri, nyeri tekan, keterbatasan pergerakan
Deviasi mandibula kearah sisi yang fraktur
Terhambat saat menggigit(Gagging of occlussion)
Gigi bagian posterior telah kontak sebelum gigi depan bersentuhan pada fraktur kondilus
bilateral atau over-riding fractures

Anterior open bite on opposite side of fracture


Laserasi dari meatus auditorius eksternus
Retroauricular ecchymosis
Kebocoran LCS dan otoredikaitkan dengan fraktus basis kranii
136

Fraktur Prosesus Coronoid


Jarang terjaditrauma langsung ke ramus mandibula dan
mengakibatkan kontraksi M.Temporalis
Dapat ditemukan pada operasi kista ramus mandibula
Nyeri tekan pada bagian depan ramus
Mengakibatkan terbentuknya hematom yang khastell-tale
haematoma

137

Fraktur Ramus Mandibula


Type I Single fracture
Tampak seperti low condylar fracture yang melewati sigmoid
notch
Type II comminuted fracture
Sering terjadi pada cedera akibat missile injuries dan
mengakibatkan sedikit pergeseran karena tarikan otot maseter
dan pterygoid medial
138

Fraktur Angulus dan Corpus Mandibula


Nyeri, nyeru tekan dan trismus
Pembengkakan Extra-oral pada angulus mandibula
dengan deformitas yang jelas
Step deformity behind the molar teeth
Movement and crepitus at the fracture site
Derangement of occlussion
Intra-oral buccal and lingula heamatoma
Involvement of interdental nerve
Gingival tear if fracture in dentated area
Tooth involvement and possible longitudinal split
fracture

139

Radiographs
Plain radiograph

OPG
Lateral oblique
PA mandible
AP mandible (reverse Townes)
Lower occlusal

CT scan
3-D CT imaging
MRI
140

soundnet.cs.princeton.edu

47. Posterior Hip Dislocation


Gejala
Nyeri lutut
Nyeri pada sendi
panggul bag.
belakang
Sulit
menggerakkan
ekstremitas
bawah
Kaki terlihat
memendek dan
dalam posisi
fleksi, endorotasi
dan adduksi
Risk Factor
Kecelakaan
Improper seating
adjustment
sudden break in
the car
netterimages.com

Complication Hip Dislocation


Up to 50% of
patients sustain
concomitant
fractures elsewhere
at the time of hip
dislocation.
Sciatic nerve injury
is present in 10% to
20% of posterior
dislocations

Cedera N. Ischiadikus
Biasanya cabang peroneus yang terkena dengan
sedikit disfungsi dari n. Tibialis
Gejala:
Drop foot
Tidak dapat dorsofleksi kaki

Cedera N. Peroneus
Foot drop :
Complete
sciatic or lateral popliteal nerve injury

Incomplete
superficial or deep peroneal nerve
High lesionstotal foot drop
Low lesionsincomplete foot drop

Type 1 :

Dorsiflexion and inversion is not possible


Front of the leg is wasted
Sensation over the dorsal web space is lost

Type 2 :

Cannot evert but can dorsiflex and invert the foot


Wasting of the outer half of the leg
Sensation lost over outer leg and foot

Gait : - high stepping gait is characteristic .

48. Clavus
Klavus
Penebalan dari kulit karena
tekanan yang intermiten
dan gesekan yang berulang
Kedua hal ini akan
menyebabkan terjadinya
hiperkeratosis

Conditions associated with clavus


formation
Advanced patient age
Amputation (ie, stump callosities)]
Doxorubicin toxicity[20]
Keratoderma palmaris et plantaris
Obesity
Minor trauma

Tatalaksana
Relief of symptoms may be achieved by
thinning and cushioning of the involved lesion
Surgical Care
Surgical options should be used when
conservative measures fail.
Chronic foot pain despite conservative
therapy is the number one indication for
surgery.

Diagnosis

Histologic

Lipoma

Soft mass, pseudofluctuant with a slippery edge

Atherom cyst

Occur when a pilosebaceous unit or a sebaceous gland becomes


blocked. Skin Color is usually normal, and there is a punctum
(comedo, blackhead) on the dome

Dermoid Cyst

Lined by orthokeratinized, stratified squamous epithelium surrounded


by a connective tissue wall. The lumen is usually filled with keratin.
Hair follicles, sebaceous glands, and sweat glands may be seen in the
cyst wall

Epidermal Cyst

A raised nodule on the skin of the face or neck. HistologicLined by


keratinizing epithelium the resembles the epithelium of the skin

49. Hemorrhaegic Shock

50. Sumbatan Jalan Napas Benda Asing


Mengenali sumbatan jalan
napas (tersedak)
Apakah ada napas atau
batuk?
Suara napas bernada
tinggi?
Apakah batuk cukup kuat?
Tidak dapat bicara,
bernapas, atau batuk
Tanda tersedak universal
(memegang leher)
Sianosis

Tersedak pada pasien dewasa sadar


Berikan 5 abdominal thrusts (Heimlich maneuver)

Tempatkan kepalan tangan sedikit di


atas umbilikus
Lakukan 5 thrust ke arah dalam dan atas, dengan
kekuatan hingga pasien terangkat
Hamil atau obese? Berikan chest thrusts
Kepalan pada sternum
Bila tidak berhasil topang dada dengan satu tangan
sementara tangan lein melakukan back blows

Lanjutkan hingga sumbatan teratasi atau pasien


tidak sadar

Pasien anak
Sama dengan dewasa, namun perbedaan
pada tenaga thrusts
Kekuatan tidak sampai anak terangkat dari kakinya

Pasien bayi sadar


Posisikan kepala menghadap ke bawah
5 back blows (periksa apakah ada objek yang keluar)
5 chest thrusts (periksa apakah ada objek yang keluar)

Ulangi

Finger Sweep
Hanya bila jelas terlihat benda asing di rongga
mulut
Tidak ada data yang mendukung mengenai
efektivitas metode ini

Tidak sadar
Jika bayi menjadi tidak
sadar
Berikan ventilasi, bila tidak
masuk, cek apakah ada
benda asing di mulut lalu
coba 2 kali lagi napas
bantuan
Bila tidak masukmulai RJP
30:2
Setiap memberi napas
bantuan, periksa rongga
mulut

Jika Pasien dewasa menjadi tidak


sadar
Mulai RJP 30:2
Setiap memberi napas bantuan, periksa
rongga mulut

Part 5: Adult Basic Life Support: 2010 American Heart Association Guidelines

Choking

Child choking

Abdominal thrust =
Heimlich manouvre

www.resus.org.uk/pages/pchkalgo.pdf

51. Sumbatan Jalan Napas


Mengorok
Obstruksi jalan napas atas
karena lidah

Gurgling
due to obstruction of
upper airway by liquids
(blood, vomit)
Tx: Suction

Wheezing
due to narrowing of the
lower airways

Oropharyngeal Airway
Semicircular, disposable and
made of hard plastic.
Guedel and Berman are the
frequent types.
Guedel tubular dan
memiliki lubang ditengah.
Berman solid and has
channeled sides.
Menarik lidah menjauh dari
dinding faring posterior
Mencegah lidah untuk
jatuh ke hipofaring

52. Triage

Triage Priorities
1. Red- prioritas utama
memerlukan penanganan
segeraberkaitan dengan kondisi
sirkulasi atau respirasi

2. Yellow- prioritas kedua


Dapat menunggu lebih lama, sebelum
transport (45 minutes)

3. Green- Dapat berjalan


Dapat menunggu beberapa jam untuk
transport

4. Black- Meninggal
Akan meninggal dalam penanganan
emergensi memiliki luka yang
mematikan

*** mark triage priorities (tape, tag)

Triage Category: Red


Red (Highest) Priority: Pasien
yang memerlukan penanganan
segera dan transport secepatcepatnya

Gangguan Airway dan breathing


Perdarahan banyak dan tidak terkontrol
Decreased level of consciousness
Severe medical problems
Shock (hypoperfusion)
Severe burns

Yellow
Yellow (Second) Priority:
Pasien yang penanganan
dan traportnya dapat
ditunda sementara waktu
Luka bakar tanpa gangguan
airway
Trauma tulang atau sendi
besar atau trauma multiple
tulang
Trauma tulang belakang
dengan atau tanpa
kerusakan medula spinalis

Green
Green (Low) Priority:
Pasien yang
penanganan dan
transportnya dapat
ditunda sampai yang
terakhir
Fraktur Minor
Trauma jaringan lunak
Minor

Immediate

Patients

Delayed

Deceased

START

Simple Triage And Rapid Treatment

It is a simple step-bystep triage and


treatment method to
be used by the first
rescuers responding to
a multi casualty
incident. It allows
these rescuers to
identify victims at
greatest risk for early
death and to provide
basic stabilization
maneuvers

If you can walk, go stand over there!


All of Yall, go over there! (Texas
version )
Mark green

START Algorithm (Airway/Breathing)


RESPIRATIONS/VENTILATIONS

NONE

YES

REPOSITION AIRWAY

ASSESS RESPIRATIONS/VENTILATIONS

NONE
DECEASED
Immediate

Patients

Delayed

Deceased

YES

> 30/MINUTE

IMMEDIATE

IMMEDIATE

<30/MINUTE
ASSESS
PERFUSION

START Algorithm (Circulation)


PERFUSION

<2 SECONDS
ASSESS
MENTAL STATUS

> 2 SECONDS
CONTROL
BLEEDING

IMMEDIATE

Immediate

Patients

Delayed

Deceased

START Algorithm (Disability)


MENTAL STATUS

FOLLOWS
SIMPLE
COMMANDS
DELAYED

Immediate

Patients

Delayed

Deceased

FAILS TO FOLLOW
SIMPLE
COMMANDS

IMMEDIATE

53. Konjungtivitis
Conjunctivitis is swelling (inflammation) or infection of
the membrane lining the eyelids (conjunctiva)
Pathology

Etiology

Feature

Bacterial

staphylococci
streptococci,
gonocci
Corynebacter
ium strains

Acute onset of redness, grittiness, topical antibiotics


burning sensation, usually bilateral Artificial tears
eyelids difficult to open on waking,
diffuse conjungtival injection,
mucopurulent discharge, Papillae
(+)

Viral

Adenovirus
herpes
simplex virus
or varicellazoster virus

Unilateral watery eye, redness,


discomfort, photophobia, eyelid
edema & pre-auricular
lymphadenopathy, follicular
conjungtivitis, pseudomembrane
(+/-)

http://www.cdc.gov/conjunctivitis/about/treatment.html

Treatment

Days 3-5 of worst, clear


up in 714 days without
treatment
Artificial tears relieve
dryness and inflammation
(swelling)
Antiviral herpes simplex
virus or varicella-zoster
virus

Pathology

Etiology

Feature

Treatment

Fungal

Candida spp. can


cause
conjunctivitis
Blastomyces
dermatitidis
Sporothrix
schenckii

Not common, mostly occur in


immunocompromised patient,
after topical corticosteroid and
antibacterial therapy to an
inflamed eye

Topical antifungal

Vernal

Allergy

Chronic conjungtival bilateral


inflammation, associated atopic
family history, itching,
photophobia, foreign body
sensation, blepharospasm,
cobblestone pappilae, Hornertrantas dots

Removal allergen
Topical antihistamine
Vasoconstrictors

Inclusion

Chlamydia
trachomatis

several weeks/months of red,


irritable eye with mucopurulent
sticky discharge, acute or
subacute onset, ocular irritation,
foreign body sensation, watering,
unilateral ,swollen lids,chemosis
,Follicles

Doxycycline 100 mg PO
bid for 21 days OR
Erythromycin 250 mg
PO qid for 21 days
Topical antibiotics

CHLAMYDIAL
KONJUNGTIVITIS

EPIDEMIOLOGY
Adult chlamydial conjunctivitis is a
sexually transmitted disease (STD)
All ages but particularly young adults
More women than men affected C.
trachomatis serotypes D-K
Histopathology: basophilic intracytoplasmic
epithelial inclusion bodies (on Giemsa
staining)
SYMPTOMS
Unilateral or bilateral involvement
Purulent discharge, crusting of lashes,
swollen lids, or lids "glued together"
Patient may also complain of:
red eyes
irritation
tearing
photophobia
blurred vision

SIGNS
Preauricular lymphadenopathy
Mucopurulent discharge
Conjunctival injection
Chemosis
Follicular reaction (especially bulbar or
plica semilunaris follicles)
Superior micropannus
Fine or coarse epithelial or subepithelial
corneal infiltrates
TREATMENT
Options include one of the following:
Azithromycin 1000mg single dose
Doxycycline 100mg BID for 7 days
Tetracycline 100mg QID x 7 days (avoid in
pregnant women and in children)
Erythromycin 500 mg QID x 7 days
Patient and sexual contacts should be
evaluated and treated for other STDs.

http://www.aao.org/theeyeshaveit/red-eye/chlamydial-conjunctivitis.cfm

54.Conjunctivitis

Follicles

Papillae

Redness

Chemosis

Purulent discharge

Konjungtivitis Alergi
Allergic conjunctivitis may be divided into 5 major
subcategories.
Seasonal allergic conjunctivitis (SAC) and perennial allergic
conjunctivitis (PAC) are commonly grouped together.
Vernal keratoconjunctivitis (VKC), atopic keratoconjunctivitis
(AKC), and giant papillary conjunctivitis (GPC) constitute the
remaining subtypes of allergic conjunctivitis.

Konjungtivitis Atopi
Biasanya ada riwayat atopi
Gejala + Tanda: sensasi terbakar,
sekret mukoid mata merah,
fotofobia
Terdapat papila-papila halus
yang terutama ada di tarsus
inferior
Jarang ditemukan papila raksasa
Karena eksaserbasi datang
berulanga kali
neovaskularisasi kornea,
sikatriks

Terapi topikal jangka panjang: cell mast


stabilizer
Antihistamin oral
Steroid topikal jangka pendek dapat
meredakan gejala

KONJUNGTIVITIS VERNAL
Nama lain:
spring catarrh
seasonal conjunctivitis
warm weather conjunctivitis

Etiologi: reaksi hipersensitivitas bilateral (alergen sulit


diidentifikasi)
Epidemiologi:
Dimulai pada masa prepubertal, bertahan selama 5-10
tahun sejak awitan
Laki-laki > perempuan
Paling sering pada Afrika Sub-Sahara & Timur Tengah
Temperate climate > warm climate > cold climate (hampir
tidak ada)
Vaughan & Asbury General Ophtalmology 17th ed.

Gejala & tanda:


Rasa gatal yang hebat, dapat
disertai fotofobia
Sekret ropy
Riwayat alergi pada RPD/RPK
Tampilan seperti susu pada
konjungtiva
Gambaran cobblestone
(papila raksasa berpermukaan
rata pada konjungtiva tarsal)
Tanda Maxwell-Lyons (sekret
menyerupai benang &
pseudomembran fibrinosa
halus pada tarsal atas, pada
pajanan thdp panas)
Bercak Trantas (bercak
keputihan pada limbus saat
fase aktif penyakit)
Dapat terjadi ulkus kornea
superfisial

Komplikasi:
Blefaritis & konjungtivitis
stafilokokus

Vaughan & Asbury General Ophtalmology 17th ed.

Tatalaksana

Jangka panjang & prevensi


sekunder:

Self-limiting
Akut:
Steroid topikal (+sistemik bila perlu), jangka
pendek mengurangi gatal (waspada efek
samping: glaukoma, katarak, dll.)
Vasokonstriktor topikal
Kompres dingin & ice pack

Antihistamin topikal
Stabilisator sel mast Sodium kromolin
4%: sebagai pengganti steroid bila
gejala sudah dapat dikontrol
Tidur di ruangan yang sejuk dengan AC
Siklosporin 2% topikal (kasus berat &
tidak responsif)

Desensitisasi thdp antigen


(belum menunjukkan hasil baik)

Vaughan & Asbury General Ophtalmology 17th ed.

Table. Major Differentiating Factors Between VKC and AKC


Characteristics

VKC

AKC

Age at onset

Generally presents at a younger age


than AKC

Sex

Males are affected preferentially.

No sex predilection

Seasonal variation

Typically occurs during spring months Generally perennial

Discharge

Thick mucoid discharge

Watery and clear discharge

Conjunctival
scarring

Higher incidence of
conjunctival scarring

Horner-Trantas
dots

Horner-Trantas dots and shield ulcers Presence of Horner-Trantas


are commonly seen.
dots is rare.

Corneal
neovascularization

Not present

Deep corneal
neovascularization tends to
develop

Presence of
eosinophils in
conjunctival
scraping

Conjunctival scraping reveals


eosinophils to a greater degree in
VKC than in AKC

Presence of eosinophils is
less likely

55-56. Keratitis
Keratitis

Inflammation of the cornea

Ulkus Kornea

A corneal ulcer, or ulcerative keratitis, or


eyesore is an inflammatory or more seriously,
infective condition of the cornea involving
disruption of its epithelial layer with
involvement of the corneal stroma.

Keratokonjungtivitis

Inflammation of the cornea and conjunctiva

Blefaritis

Inflammation of the eyelids

Konjungtivitis

Inflammation of the conjunctiva

Fungal keratitis
Diagnosis:

Etiology :
after ocular trauma due to the
introduction of plant materials
into the eye, usually Aspergillus
fusarium and Cephalosporium
species.

Epidemiology :rare
Clinical features:
resembles bacterial keratitis. A
gray-white infiltrate with fine
outliers in the stroma
(satellite lesions). Hypopion.
Condition worsens when
steroid is given.

the history. No response to antibioticsfungal


should be considered.Scrapings from the
margin to examined histologically. Corneal
sensitivity

Treatment :
local natamycin eye ointment. Mydriatics if
there is anterior chamber irritation. Systemic
treatment with ketoconazole.

Prognosis:
show healing process

Opthalmology; Color Atlas of Ophthalmology

Bacterial Keratitis
Etiology/pathogenesis :
Staphylococcus aureus,
Staphylococcus epidermidis,
Streptococcus pneumoniae,
Pseudomonas aeruginosa,
Moraxella.

Epidemiology:
Wearers of contact lenses;
patients with diseases of the
corneal surface (previous
trauma, sicca syndrome, lid
deformities, etc.) are
particularly at risk.

Clinical features :
Pain, photophobia, epiphora, blepharospasm,
mucopurulent secretion, corneal ulcer, corneal
infiltrate, reduction in vision, hypopyon.

Diagnosis.
Clinical appearance, conjunctival swab with
antibiotic sensitivity, scrapings.
Fluoresens test

Treatment according to antibiotic


sensitivity. Not longer than 10 days, as
otherwise no epithelial closure will occur.

Keratitis

Vaughn DG, Oftalmologi Umum, ed.14

57. Ablasio Retina


Ablasio retina adalah
suatu keadaan
terpisahnya sel kerucut
dan batang retina (retina
sensorik) dari sel epitel
pigmen retina

Mengakibatkan gangguan
nutrisi retina pembuluh
darah yang bila
berlangsung lama akan
mengakibatkan gangguan
fungsi penglihatan

Jenis:
Rhegmatogenosa (paling sering) lubang /
robekan pada lapisan neuronal menyebabkan
cairan vitreus masuk ke antara retina sensorik
dengan epitel pigmen retina
Traksi adhesi antara vitreus / proliferasi
jaringan fibrovaskular dengan retina
Serosa / hemoragik eksudasi ke dalam ruang
subretina dari pembuluh darah retina

Sumber: Riordan-Eva P, Whitcher JP. Vaughan and Asburys General Ophtalmology 17th ed. Philadephia: McGraw-Hill, 2007.

Etiologi Ablasio Retina


Rhegmatogenosa:

Serosa / hemoragik:

Miopia
Trauma okular
Afakia
Degenerasi lattice

Traksi:
Retinopati DM
proliferatif
Vitreoretinopati
proliferatif
Retinopati prematuritas
Trauma okular

Hipertensi
Oklusi vena retina
sentral
Vaskulitis
Papilledema
Tumor intraokular

Ablasio
Rhegmatogenosa
Sumber: Riordan-Eva P, Whitcher JP. Vaughan and Asburys General Ophtalmology
17th ed. Philadephia: McGraw-Hill, 2007.

Ablasio Retina
Anamnesis:
Riwayat trauma
Riwayat operasi mata
Riwayat kondisi mata sebelumnya
(cth: uveitis, perdarahan vitreus,
miopia berat)
Durasi gejala visual & penurunan
penglihatan

Gejala & Tanda:


Fotopsia (kilatan cahaya) gejala
awal yang sering
Defek lapang pandang bertambah
seiring waktu
Floaters

Funduskopi : adanya robekan


retina, retina yang terangkat
berwarna keabu-abuan, biasanya
ada fibrosis vitreous atau fibrosis
preretinal bila ada traksi. Bila
tidak ditemukan robekan
kemungkinan suatu ablasio
nonregmatogen

Tatalaksana
Ablasio retina
kegawatdaruratan mata
Tatalaksana awal:
Puasakan pasien u/ persiapan
operasi
Hindari tekanan pada bola mata
Batasi aktivitas pasien sampai
diperiksa spesialis mata
Segera konsultasi spesialis retina
konservatif (untuk nonregmatogen),
pneumatic retinopexy, bakel sklera,
vitrektomi tertutup

Sumber: Riordan-Eva P, Whitcher JP. Vaughan and Asburys General Ophtalmology 17th ed. Philadephia: McGraw-Hill, 2007.

58. Gangguan lapang pandang

http://medical-dictionary.thefreedictionary.com/hemianopia

59. Tatalaksana Glaukoma Akut

Tujuan : merendahkan tekanan bola mata secepatnya kemudian bila tekanan normal dan
mata tenang operasi
Supresi produksi aqueous humor
Beta bloker topikal: Timolol maleate 0.25% dan 0.5%, betaxolol 0.25% dan 0.5%,
levobunolol 0.25% dan 0.5%, metipranolol 0.3%, dan carteolol 1% dua kali sehari dan
timolol maleate 0.1%, 0.25%, dan 0.5% gel satu kali sehari (bekerja dalam 20 menit,
reduksi maksimum TIO 1-2 jam stlh diteteskan)
Pemberian timolol topikal tidak cukup efektif dalam menurunkan TIO glaukoma akut
sudut tertutup.
Apraclonidine: 0.5% tiga kali sehari
Brimonidine: 0.2% dua kali sehari
Inhibitor karbonat anhidrase:
Topikal: Dorzolamide hydrochloride 2% dan brinzolamide 1% (2-3 x/hari)
Sistemik: Acetazolamide 500 mg iv dan 4x125-250 mg oral (pada glaukoma akut
sudut tertutup harus segera diberikan, efek mulai bekerja 1 jam, puncak pada 4
jam)
Ilmu Penyakit Mata Ed 3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2006

Tatalaksana Glaukoma Akut

Fasilitasi aliran keluar aqueous humor


Analog prostaglandin: bimatoprost 0.003%, latanoprost 0.005%, dan travoprost 0.004%
(1x/hari), dan unoprostone 0.15% 2x/hari
Agen parasimpatomimetik: Pilocarpine
Epinefrin 0,25-2% 1-2x/hari
Pilokarpin 2% setiap menit selama 5 menit,lalu 1 jam selama 24 jam
Biasanya diberikan satu setengah jam pasca tatalaksana awal
Mata yang tidak dalam serangan juga diberikan miotik untuk mencegah serangan
Pengurangan volume vitreus
Agen hiperosmotik: Dapat juga diberikan Manitol 1.5-2MK/kgBB dalam larutan 20% atau urea
IV; Gliserol 1g/kgBB badan dalam larutan 50%
isosorbide oral, urea iv
Extraocular symptoms:
analgesics
antiemetics
Placing the patient in the supine position lens falls away from the iris decreasing pupillary
block
Pemakaian simpatomimetik yang melebarkan pupil berbahaya
Sumber: Riordan-Eva P, Whitcher JP. Vaughan and Asburys General Ophtalmology 17th ed. Philadephia: McGraw-Hill, 2007.

60-61. KELAINAN REFRAKSI


MATA MERAH
VISUS NORMAL

MATA MERAH
VISUS TURUN

struktur yang
bervaskuler
sklera konjungtiva
tidak
menghalangi
media refraksi
Konjungtivitis murni
Trakoma
mata kering,
xeroftalmia
Pterigium
Pinguekula
Episkleritis
skleritis

mengenai media
refraksi (kornea,
uvea, atau
seluruh mata)

Keratitis
Keratokonjungtivitis
Ulkus Kornea
Uveitis
glaukoma akut
Endoftalmitis
panoftalmitis

ANAMNESIS

MATA TENANG VISUS


TURUN MENDADAK

uveitis posterior
perdarahan vitreous
Ablasio retina
oklusi arteri atau vena
retinal
neuritis optik
neuropati optik akut
karena obat (misalnya
etambutol), migrain,
tumor otak

MATA TENANG
VISUS TURUN
PERLAHAN
Katarak
Glaukoma
retinopati
penyakit sistemik
retinitis
pigmentosa
kelainan refraksi

54. REFRACTIVE DISORDER

KELAINAN REFRAKSI -MIOPIA


MIOPIA bayangan difokuskan di
depan retina, ketika mata tidak
dalam kondisi berakomodasi
(dalam kondisi cahaya atau benda
yang jauh)
Etiologi:
Aksis bola mata terlalu panjang
miopia aksial

Miopia refraktif media refraksi yang


lebih refraktif dari rata-rata:
kelengkungan kornea terlalu besar

Dapat ditolong dengan


menggunakan kacamata negatif
(cekung)

Normal aksis mata 23 mm (untuk setiap


milimeter tambahan panjang sumbu, mata
kira-kira lebih miopik 3 dioptri)
Normal kekuatan refraksi kornea (+43 D)
(setiap 1 mm penambahan diameter
kurvatura kornea, mata lebih miopik 6D)
Normal kekuatan refraksi lensa (+18D)
People with high myopia
more likely to have retinal detachments and
primary open angle glaucoma
more likely to experience floaters

KELAINAN REFRAKSI -MIOPIA


Miopia secara klinis :
Simpleks: kelainan fundus ringan, < -6D
Patologis: Disebut juga sebagai miopia degeneratif, miopia maligna atau
miopia progresif, adanya progresifitas kelainan fundus yang khas pada
pemeriksaan oftalmoskopik, > -6D

Miopia berdasarkan ukuran dioptri lensa :


Ringan : lensa koreksinya 0,25 s/d 3,00 Dioptri
Sedang : lensa koreksinya 3,25 s/d 6,00 Dioptri.
Berat : lensa koreksinya > 6,00 Dioptri.

Miopia berdasarkan umur :

Kongenital : sejak lahir dan menetap pada masa anak-anak.


Miopia onset anak-anak : di bawah umur 20 tahun.
Miopia onset awal dewasa : di antara umur 20 sampai 40 thn.
Miopia onset dewasa : di atas umur 40 tahun (> 40 tahun).

MYOPIA

JENIS MIOPIA
Simple myopia

An eye with simple myopia is an otherwise normal eye that is


either too long for its optical power or, less commonly, too
optically powerful for its axial length. Simple myopia, which is
much more common than the other types of myopia, is generally
less than 6 diopters (D); in many
patients it is less than 4 or 5 D.

Nocturnal Myopia

Occurring only in dim illumination, nocturnal or night myopia is


due
primarily to inlevels of light

Pseudomyopia

the result of an increase in ocular refractive power due to


overstimulation of the eye's accommodative mechanism or
ciliary spasm

Degenerative Myopia

A high degree of myopia associated with degenerative changes in


the posterior segment of the eye

Induced Myopia

Induced or acquired myopia is the result of exposure to various


pharmaceutical agents, variation in blood sugar levels, nuclear
sclerosis of the crystalline lens, or other anomalous conditions.

http:/ / www.aoa.org/ documents/ CPG-15.pdf

KELAINAN REFRAKSI KOREKSI MIOPIA


Myopia
Myopia

Pada miopia, pemilihan


Pada miopia, pemilihan kekuatan
kekuatan lensa untuk
lensa untuk koreksi prinsipnya adalah
koreksi prinsipnya adalah
dengan dioptri yang terkecil dengan
dengan dioptri yang terkecil
visual acuity terbaik.
dengan visual acuity terbaik.
Pemberian lensa dgn kekuatan yg
Pemberian lensa dgn
lebih besar akan memecah berkas
kekuatan yg lebih besar
cahaya terlalu kuat sehingga bayangan
akan memecah berkas
jatuh di belakang retina, akibatnya
cahaya
kuat sehingga
lensa mata
harus terlalu
berakomodasi
agar
jatuh di belakang
bayanganbayangan
jatuh di retina.
retina, akibatnya lensa mata
Sedangkan lensa dgn kekuatan yg
harus berakomodasi agar
lebih kecil akan memecah berkas
bayangan
jatuh
di retina.
cahaya dan
jatuh tepat
di retina
tanpa

Sedangkan
lensa
dgn
lensa mata perlu berakomodasi lagi.
kekuatan yg lebih kecil akan
memecah berkas cahaya
dan jatuh tepat di retina
tanpa lensa mata perlu

62. GERAK BOLA MATA

72. Gerak Bola Mata

GERAK BOLA MATA

63. Trauma Mekanik Bola Mata


Cedera langsung berupa ruda
paksa yang mengenai jaringan
mata.
Beratnya kerusakan jaringan
bergantung dari jenis trauma
serta jaringan yang terkena
Gejala : penurunan tajam
penglihatan; tanda-tanda
trauma pada bola mata
Komplikasi :

Endoftalmitis
Uveitis
Perdarahan vitreous
Hifema
Retinal detachment
Glaukoma
Oftalmia simpatetik

Panduan Tatalaksana Klinik RSCM Kirana, 2012

Pemeriksaan Rutin :
Visus : dgn kartu Snellen/chart
projector + pinhole
TIO : dgn tonometer
aplanasi/schiotz/palpasi
Slit lamp : utk melihat segmen
anterior
USG : utk melihat segmen
posterior (jika memungkinkan)
Ro orbita : jika curiga fraktur
dinding orbita/benda asing

Tatalaksana :
Bergantung pada berat trauma,
mulai dari hanya pemberian
antibiotik sistemik dan atau
topikal, perban tekan, hingga
operasi repair

HIFEMA
Definisi:
Perdarahan pada bilik mata
depan
Tampak seperti warna
merah atau genangan
darah pada dasar iris atau
pada kornea

Halangan pandang parsial


/ komplet
Etiologi: pembedahan
intraokular, trauma
tumpul, trauma laserasi

Tujuan terapi:
Mencegah rebleeding
(biasanya dalam 5 hari
pertama)
Mencegah noda darah
pada kornea
Mencegah atrofi saraf
optik

Komplikasi:

Perdarahan ulang
Sinekiae anterior perifer
Atrofi saraf optik
Glaukoma

Tatalaksana:

Kenali kasus hifema dengan risiko tinggi


bed rest & Elevasi kepala malam hari
Eye patch & eye shield
Mengendalikan peningkatan TIO
Pembedahan bila tak ada perbaikan / terdapat peningkatan TIO
Hindari Aspirin, antiplatelet, NSAID, warfarin
Steroid topikal (dexamethasone 0.1% atau prednisolone acetate 1%
4x/hari)
Pertimbangkan siklopegia (atropine 1% 2x/hari, tetapi masih
kontroversial).

64. Blepharitis

Terdiri dari blefaritis anterior dan


posterior
Blefaritis anterior: radang bilateral
kronik di tepi palpebra
Blefaritis stafilokokus: sisik kering,
palpebra merah, terdapat ulkusulkus kecil sepanjang tepi palpebra,
bulu mata cenderung rontok
antibiotik stafilokokus
Blefaritis seboroik: sisik berminyak,
tidak terjadi ulserasi, tepi palpebra
tidak begitu merah
Blefaritis tipe campuran

Tx blefaritis seboroik: perbaikan hygiene mata


dengan cara:
kompres hangat untuk evakuasi dan melancarkan
sekresi kelenjar
tepi palpebra dicuci + digosok perlahan dengan
shampoo bayi untuk membersihkan skuama
pemberian salep antibiotik eritromisin (bisa
digunakan kombinasi antibioti-KS)

Blefaritis posterior: peradangan palpebra


akibat difungsi kelenjar meibom bersifat
kronik dan bilateral
Kolonisasi stafilokokus
Terdapat peradangan muara meibom,
sumbatan muara oleh sekret kental

Blepharitis

Blefaritis angularis

Definisi

Gejala

Blefaritis
superfisial

Infeksi kelopak superfisial


yang diakibatkan
Staphylococcus

Terdapat krusta dan bila Salep antibiotik


menahun disertai
(sulfasetamid dan
dengan meibomianitis
sulfisoksazol),
pengeluaran pus

Blefaritis
skuamosa/
blefaritis
seboroik

Blefaritis diseratai skuama


atau krusta pada pangkal
bulu mata yang bila
dikupas tidak terjadi luka
pada kulit, berjalan
bersamaan dengan
dermatitis sebore

Etiologi: kelainan
metabolik atau jamur.
Gejala: panas, gatal,
sisik halus dan
penebalan margo
palpebra disertai
madarosis

Membersihkan tepi
kelopak dengan
sampo bayi, salep
mata, dan topikal
steroid

Blefaritis
Angularis

Infeksi Staphyllococcus
pada tepi kelopak di sudut
kelopak atau kantus

Gangguan pada fungsi


pungtum lakrimal,
rekuren, dapat
menyumbat duktus
lakrimal sehingga
mengganggu fungsi
lakrimalis

Dengan sulfa,
tetrasiklin, sengsulfat

Ilmu Penyakit Mata, Sidharta Ilyas

Tatalaksana

65. Konjungtivitis
Conjunctivitis is swelling (inflammation) or infection of
the membrane lining the eyelids (conjunctiva)
Pathology

Etiology

Feature

Bacterial

staphylococci
streptococci,
gonocci
Corynebacter
ium strains

Acute onset of redness, grittiness, topical antibiotics


burning sensation, usually bilateral Artificial tears
eyelids difficult to open on waking,
diffuse conjungtival injection,
mucopurulent discharge, Papillae
(+)

Viral

Adenovirus
herpes
simplex virus
or varicellazoster virus

Unilateral watery eye, redness,


discomfort, photophobia, eyelid
edema & pre-auricular
lymphadenopathy, follicular
conjungtivitis, pseudomembrane
(+/-)

http://www.cdc.gov/conjunctivitis/about/treatment.html

Treatment

Days 3-5 of worst, clear


up in 714 days without
treatment
Artificial tears relieve
dryness and inflammation
(swelling)
Antiviral herpes simplex
virus or varicella-zoster
virus

Pathology

Etiology

Feature

Treatment

Fungal

Candida spp. can


cause
conjunctivitis
Blastomyces
dermatitidis
Sporothrix
schenckii

Not common, mostly occur in


immunocompromised patient,
after topical corticosteroid and
antibacterial therapy to an
inflamed eye

Topical antifungal

Vernal

Allergy

Chronic conjungtival bilateral


inflammation, associated atopic
family history, itching,
photophobia, foreign body
sensation, blepharospasm,
cobblestone pappilae, Hornertrantas dots

Removal allergen
Topical antihistamine
Vasoconstrictors

Inclusion

Chlamydia
trachomatis

several weeks/months of red,


irritable eye with mucopurulent
sticky discharge, acute or
subacute onset, ocular irritation,
foreign body sensation, watering,
unilateral ,swollen lids,chemosis
,Follicles

Doxycycline 100 mg PO
bid for 21 days OR
Erythromycin 250 mg
PO qid for 21 days
Topical antibiotics

http://sdhawan.com/ophthalmology/lens&cataract.pdf E-mail: sdhawan@sdhawan.com

66. Cataract

Any opacity of the lens or loss of transparency of the lens that causes
diminution or impairment of vision
Classification : based on etiological, morphological, stage of maturity
Etiological classification :
Senile
Traumatic (penetrating, concussion, infrared irradiation, electrocution)
Metabolic (diabetes, hypoglicemia, galactosemia, galactokinase deficiency,
hypocalcemia)
Toxic (corticosteroids, chlorpromazine, miotics, gold, amiodarone)
Complicated (anterior uveitis, hereditary retinal and vitreoretinal disorder, high myopia,
intraocular neoplasia
Maternal infections (rubella, toxoplasmosis, CMV)
Maternal drug ingestion (thalidomide, corticosteroids)
Presenile cataract (myotonic dystrophy, atopic dermatitis)
Syndromes with cataract (downs syndrome, werners syndrome, lowes syndrome)
Hereditary
Secondary cataract

Morphological classification :
Capsular
Subcapsular
Nuclear
Cortical
Lamellar
Sutural
Chronological classification:
Congenital (since birth)
Infantile ( first year of life)
Juvenile (1-13years)
Presenile (13-35 years)
Senile

Sign & symptoms:


Near-sightedness (myopia
shift) Early in the
development of age-related
cataract, the power of the
lens may be increased
Reduce the perception of
blue colorsgradual
yellowing and opacification of
the lens
Gradual vision loss
Almost always one eye is
affected earlier than the
other
Shadow test +

Ilmu Penyakit Mata Ed 3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2006

KATARAK-SENILIS
Katarak senilis adalah kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut, yaitu usia di atas 50 tahun
Epidemiologi : 90% dari semua jenis katarak
Etiologi :belum diketahui secara pastimultifaktorial:

Faktor biologi, yaitu karena usia tua dan pengaruh genetik


Faktor fungsional, yaitu akibat akomodasi yang sangat kuat mempunyai efek buruk terhadap serabu-serabut lensa.
Faktor imunologik
Gangguan yang bersifat lokal pada lensa, seperti gangguan nutrisi, gangguan permeabilitas kapsul lensa, efek radiasi cahaya
matahari.
Gangguan metabolisme umum

4 stadium: insipien, imatur (In some patients, at this stage, lens may become swollen due to
continued hydration intumescent cataract), matur, hipermatur
Gejala : distorsi penglihatan, penglihatan kabur/seperti berkabut/berasap, mata tenang
Penyulit : Glaukoma, uveitis
Tatalaksana : operasi (ICCE/ECCE)

BEDAH KATARAK
Lensa diangkat dari mata (ekstraksi lensa) dengan prosedur intrakapsular atau
ekstrakapsular:
Ekstraksi Katarak Intrakapsular (EKIK) :
Mengeluarkan seluruh lensa bersama kapsulnya
Tidak boleh dilakukan pada pasien usia <40thn, yang masih mempunyai
ligamen hialoidea kapsular

Ekstraksi Katarak Ekstrakapsular (EKEK):


Dilakukan pengeluaran isi lensa dengan memecah atau merobek kapsul lensa
anterior sehingga massa lensa dapat keluar melalui robekan tersebut
Dilakukan pada pasien muda, dengan kelainan endotel, bersama-sama
keratoplasti, implantasi lensa intraokuler posterior, perencanaan implastasi
sekunder lensa intraokuler, kemungkinan akan dilakukan bedah glaukoma,
mata dengan predisposisi terjadinya prolaps badan kaca, sebelumnya pasien
mengalami ablasio retina, mata dengan makular edema, pasca bedah ablasi.

Fakofragmentasi dan Fakoemulsifikasi : teknik ekstrakapsular menggunakan


getaran ultrasonik untuk mengangkat nukleus dan korteks melalui insisi
lumbus yang kecil
Sidarta Ilyas, Ilmu Penyakit Mata

Bedah Katarak
Lensa intraokuler salah satu koreksi penglihatan pasca operasi yang paling sering
digunakan.
Tidak perlu melepaskan lensa kontak, mengurangi serta mencegah distorsi lapang
pandang
Indikasi :
Pada katarak monokuler, hemiplegia, memerlukan visus baik, manula

Kontraindikasi :
Tidak dapat dipasang pada gangguan endotel kornea, glaukoma tidak terkontrol, rubeosis iridis,
uveitis berulang, retinopati diabetik proliferatif, penderita yang senang lensa kontak atau
kacamata atau menolak dipasang

Vaughn, Oftalmologi Umum

67. Glasgow Coma Scale

68. Paralisis nervus radialis (Saturday Night Palsy)


Adalah suatu mononeuropati pada nervus radialis.
Banyak didapatkan pada orang yang tidur dengan lengan setelah
mengonsumsi alkohol sehingga sering disebut sebagai Saturday Night Palsy
Dapat disebabkan luka penetrasi atau fraktur kompresi maupun komplikasi
operasi pada daerah lengan
Manifestasi klinis yang khas adanya wrist drop atau drop hand dengan paralisis
otot ekstensor palmar dan parestesi regio yang diinervasi nervus radialis
Diagnosis banding: Posterior cord lesion (didapatkan kelemahan otot deltoid),
isolated finger drop C7 radiculopathy
Terapi: Immobilisasi dengan splint, dapat sembuh spontan bila tidak ada
trauma
Sumber: Harrison, 18th Edition.

69. Sumatriptan
Sumatriptan suatu agen farmakologis yang bekerja terhadap
reseptor 5HT-1 dikembangkan oleh humphrey.
Sifat dari sumatriptan adalah:
Bekerja hanya pada arteri karotis dan percabangannya.
Tidak memiliki dampak pada pembuluh darah perifer baik vasokontriksi
maupun vasodilatasi.
Tidak memiliki aktivitas terhadap platelet.
Bersifat hidrofilik sehingga tidak melekat pada jaringan
Tidak memiliki sifat analgetika dan hanya menghilangkan nyeri pada
migrain melalui vasokontriksi

70. Stroke Hemoragik


Stroke hemoragik disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah dalam
otak (perdarahan intraserebral). Gejala saja tidak dapat membedakan
secara spesifik antara perdarahan atau sistemik. Walaupun demikian,
stroke hemoragik lebih mengindikasikan gejala umum seperti penurunan
kesadaran disertai mual, muntah, dan nyeri kepala akibat peningkatan TIK.
Penurunan kesadaran > 6 skor GCS mortality rate 75%.
Manitol dapat digunakan untuk penurunan TIK
Studi dari INTERACT mengatakan penurunan intensif tekanan darah pada
stroke hemoragik (target sistol < 140 mmHg) dapat menghambat
pertumbuhan hematoma serebri walaupun pasien telah mendapat terapi
antitrombotik.
Sumber: http://emedicine.medscape.com/article/1916662-overview

71. Stroke
Gaze paresis: Lesi di tingkar hemisfer cerebrum,
mata akan terfiksasi ke sisi lesi.
Lesi di tingkat pons, mata akan terfiksasi menjauhi
lesi.

72. Neurinoma Nervus Akustikus atau Schwannoma


Tumor ekstramedular yang tumbuh pada nervus VIII yang keluar
dari nukleusnya pada medula oblongata. Gambaran histopatologi
adanya proliferasi abnormal pada sel schwann.
Manifestasi klinis yang terjadi adalah gangguan saraf yang berada
pada os petrosum sehingga menimbulkan tinitus, destruksi meatus
akustikus internus, gangguan sensibilitas wajah dan gangguan
refleks kornea ipsilateral (nervus V), dan gangguan nervus VII tipe
perifer, dan dapat menimbulkan gejala serebelum dan batang otak.
Pemeriksaan X-ray posisi stenvers dan towne menggambarkan
neurinoma pada sudut antara pons dan serebelum sehingga
disebut juga sebagai cerebello-pontine angle tumor

Tatalaksana neurinoma nervus akustikus memiliki prinsip:


Eksisi tumor dengan bedah
Menghentikan pertumbuhan tumor dengan stereotactic radiation
therapy (microsurgery)
Observasi serial

73. Cerebellar Ataxia


Ataksia serebelar adalah suatu istilah yang digunakan untuk
mengambarkan disfungsi serebelum. Gejala utama dari disfungsi tersebut
adalah hipotonia, asinergi, dismetria, diskronometria, dan disdiadokinesia.
Disfungsi vestibulocerebelum memengaruhi keseimbangan dan kontrol
gerakan mata. Disfungsi pada bagian ini menyebabkan instabilitas postural
yang dapat diamati dari kecenderungan seseorang untuk berdiri dengan
melebarkan kaki untuk memeroleh keseimbangan.
Disfungsi spinocerebelum dapat diamati dengan adanya postur drunken
sailor (ataksia trunkal) yang memiliki ciri khas langkah yang tidak dapat
diprediksi dan langkah yang tidak menentu.
Disfungsi cerebrocerebelum memiliki manifestasi gangguan gerakan
volunter (appendicular ataksia).

74. Drop foot


Drop foot terutama tampak pada musculus tibialis anterior.
Manifestasi klinis yang tampak adalah ketidakmampuan pasien
untuk melakukan dorsofleksi dan pada saat berjalan yang
menyentuh tanah terlebih dahulu adalah ujung kaki disertai
gangguan sensibilitas pada bagian lateral pedis.
Drop foot disebabkan oleh adanya gangguan pada nervus
peroneus yang dapat disebabkan oleh trauma, infeksi, dan
gangguan metabolik seperti diabetes mellitus.
Tatalaksana ditujukan pada kelainan primer.

75. Myasthenia Gravis


MG merupakan kelainan transmisi neuromuskuler dengan
karakteristik kelemahan dan fatigue otot skeletal.
Kelainan yang mendasari MG adalah berkurangnya jumlah reseptor
asetilkolin (AChR) pada membran otot postsinaptik akibat reaksi
autoimun didapat yang menghasilkan antibodi anti-AChR.
90% pasien MG mengalami manifestasi oftalmik. Ptosis sendiri
merupakan tanda yang prominen dari MG.
Fatigue merupakan karakteristik kelopak mata myasthenik, dan
biasanya disertai variasi diurnal atau variasi aktivitas, dan
bertambah berat setelah menatap (terutama ke atas) dalam jangka
waktu yang lama.

Penyebab ptosis secara patofisiologis antara lain:


Aponeurotic or mechanical ptosis
Floppy eye syndome biasanya disertai keratitis atau
konjungtivitis, sensasi benda asing, injeksi konjungtiva, dan ada
kotoran mata. Biasanya berhubungan dengan OSA (obstructive
sleep apneu).
Neurogenic ptosis biasanya disertai defisit neurologis lainnya
Myopathic ptosis
Disorder of neuromuscular junction myasthenis gravis. Ptosis
merupakan tanda yang prominen dari myasthenia gravis.
Disorder of the muscle chromic progressive external
ophthalmoplegia, biasanya disertai gerakan ektraokuler yang
lambat dan terbatas, kedua mata biasanya simetris
Traumatic ptosis
Pseudoptosis
Sumber: http://emedicine.medscape.com/article/1171206

Klasifikasi MG

76. Penyakit Wilson

Merupakan suatu kelainan metabolisme kobalt yang memiliki pola


penurunan autosomal resesif dan menyebabkan penumpukan kobalt
berlebih di dalam tubuh.
Memiliki manifestasi klinis berupa degenerasi hepatolentikular yang
menyebabkan adanya kelainan hepar berupa hepatitis kronis aktif,
hepatitis fulminan, dan sirosis hepatis. Manifestasi klinis di bidang
neurologi dapat berupa chorea, kesulitan bicara, perubahan mood, dan
ataxia.
Pada pemeriksaan fisis didapatkan adanya Kayser Fleisher ring pada kornea
Tatalaksana dengan menggunakan zinc sebagai antagonis kobalt

77. Hernia Nukleus Pulposus


Hernia nukleus pulposus adalah suatu kondisi dimana nukleus
pulposus menembus annulus dan menekan medula spinalis
Gejala yang terjadi sesuai dengan daerah medula spinalis yang
tertekan
Terapi: konservatif (fisioterapi) atau bedah (mikrodisektomi)

78. Sinkop vs Epilepsi?


Manifestasi klinis

Sinkop

Epilepsi

Prodromal

Merasa gelap dan lemah

Didapatkan aura

Kejang

Wajah

Pucat

Sianosis, merah

Posisi kejadian

Berdiri

Segala posisi

Inkontinensia

Lidah tergigit

Rangkaian gejala

Tidak memiliki pola tertentu

Urut

Sehabis serangan

Sadar, lemah

Disorientasi, tidur

EEG

Normal

Abnormal

79. Kelainan Pupil pada Pasien Koma

80. Gerakan Mata

81. Skizofrenia
Kriteria umum diagnosis skizofrenia:

Harus ada minimal 1 gejala berikut:

Thought echoisi pikirannya berulang dikepalanya


Thought insertion or withdrawalisi pikiran yang asing dari luar masuk ke dalam pikirannya
Thought broadcastingisi pikirannya keluar sehingga orang lain/ umum mengetahuinya
Delusion of controlwaham tentang dirinya dikendalikan oleh kekuatan dari luar dirinya
Delusion of influencewaham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu kekuatan tertentu dari
luar
Delusion of passivitywaham tentang dirinya tak berdaya terhadap suatu kekuatan dari luar
Delusion of perceptionpengalaman inderawi yang tidak wajar
Halusinasi auditorik

Atau minimal 2 gejala berikut:

Halusinasi dari panca-indera apa saja


Arus pikiran yang terputus
Perilaku katatonik
Gejala negatif: apatis, bicara jarang, respons emosi menumpul

Gejala-gejala tersebut telah berlangsung minimal 1 bulan.


Maslim R. Buku saku diagnosis gangguan jiwa. Rujukan ringkas dari PPDGJ-III.

Skizofrenia

Gangguan isi pikir, waham, halusinasi, minimal


1 bulan

Paranoid

merasa terancam/dikendalikan

Hebefrenik

15-25 tahun, afek tidak wajar, perilaku tidak dapat diramalkan,


senyum sendiri, waham bizarre

Katatonik

stupor, rigid, gaduh, fleksibilitas cerea

Skizotipal

perilaku/penampilan aneh, kepercayaan aneh, bersifat magik,


pikiran obsesif berulang

Waham menetap

hanya waham

Psikotik akut

gejala psikotik <2 minggu.

Skizoafektif

gejala skizofrenia & afektif bersamaan

Residual

Gejala negatif menonjol, ada riwayat psikotik di masa lalu yang


memenuhi skizofrenia

Simpleks

Gejala negatif yang khas skizofrenia (apatis, bicara jarang, afek


tumpul/tidak wajar) tanpa didahului halusinasi/waham/gejala
psikotik lain. Disertai perubahan perilaku pribadi yang bermakna
(tidak berbuat sesuatu, tanpa tujuan hidup, penarikan diri).

PPDGJ

82. Schizoaffective

Perbedaan Skizofrenia dengan Skizoafektif


Diagnosis

Gejala Psikotik

Gangguan Afektif

Skizofrenia

Ada

Durasi singkat

Skizoafektif

Ada, dengan atau tanpa


gangguan afektif

Hanya ada bila gejala


psikotik (+)

Gangguan afektif dengan


ciri psikotik

Hanya ada selama


gangguan afektif (+).
Waham sesuai dengan
afeknya. Episode depresif
dgn waham bencana &
pasien merasa sebagai
penyebab.

Ada, walau tanpa gejala


psikotik

83. Ansietas
Diagnosis

Characteristic

Gangguan panik

Serangan ansietas yang intens & akut disertai dengan


perasaan akan datangnya kejadian menakutkan.
Tanda utama: serangan panik yang tidak diduga tanpa
adanya provokasi dari stimulus apapun & ada keadaan yang
relatif bebas dari gejala di antara serangan panik.

Gangguan fobik

Rasa takut yang kuat dan persisten terhadap suatu objek atau
situasi, antara lain: hewan, bencana, ketinggian, penyakit,
cedera, dan kematian.

Gangguan
penyesuaian

Gejala emosional (ansietas/afek depresif ) atau perilaku


dalam waktu <3 bulan dari awitan stresor. Tidak
berhubungan dengan duka cita akibat kematian orang lain.

Gangguan cemas
menyeluruh

Ansietas berlebih terus menerus disertai ketegangan motorik


(gemetar, sulit berdiam diri, dan sakit kepala), hiperaktivitas
otonomik (sesak napas, berkeringat, palpitasi, & gangguan
gastrointestinal), kewaspadaan mental (iritabilita).

Gangguan panik
Serangan ansietas yang intens & akut disertai dengan
perasaan akan datangnya kejadian menakutkan.
Tanda utama: serangan panik yang tidak diduga tanpa
adanya provokasi dari stimulus apapun & ada keadaan
yang relatif bebas dari gejala di antara serangan panik
Tanda fisis:
Takikardia, palpitasi, dispnea, dan berkeringat.
Serangan umumnya berlangsung 20-30 menit, jarang
melebihi 1 jam.

Tatalaksana: terapi kognitif perilaku + antidepresan.


PPDGJ
Kaplan & Sadock synopsis of psychiatry.

Tatalaksana Gangguan Panik

Cognitive-Behavioral Therapy
This is a combination of cognitive
therapy
Cognitive therapymodify or
eliminate thought patterns
contributing to the patients
symptoms
Behavioral therapy aims to help
the patient to change his or her
behavior.
Cognitive-behavioral therapy
generally requires at least eight to 12
weeks
Some people may need a longer time
in treatment to learn and implement
the skills

http://www.aafp.org/afp/2005/0215/p733.html

Medication
SSRIs
the first line of medication treatment for
panic disorder

Tricyclic antidepressants
High-potency benzodiazepines
Ex: Clonazepam
may cause depression and are associated
with adverse effects during use and after
discontinuation of therapy
Poorer outcome and global functioning than
antidepresant

monoamine oxidase inhibitors (MAOIs)

Combination Therapy
Psychodynamic therapy
help to relieve the stress that contributes
to panic attacks, they do not seem to stop
the attacks directly

Ven XR :Venlafaxine extended release


SNRI : Serotonin norephinephrine
reuptake inhibitor

http://www.currentpsychiatry.com/home/article/panicdisorder-break-the-fearcircuit/990b7a325883ba278cdf8e46222a61f9.html

84. Ansietas
Diagnosis

Characteristic

Gangguan panik

Serangan ansietas yang intens & akut disertai dengan


perasaan akan datangnya kejadian menakutkan.
Tanda utama: serangan panik yang tidak diduga tanpa
adanya provokasi dari stimulus apapun & ada keadaan yang
relatif bebas dari gejala di antara serangan panik.

Gangguan fobik

Rasa takut yang kuat dan persisten terhadap suatu objek atau
situasi, antara lain: hewan, bencana, ketinggian, penyakit,
cedera, dan kematian.

Gangguan
penyesuaian

Gejala emosional (ansietas/afek depresif ) atau perilaku


dalam waktu <3 bulan dari awitan stresor. Tidak
berhubungan dengan duka cita akibat kematian orang lain.

Gangguan cemas
menyeluruh

Ansietas berlebih terus menerus disertai ketegangan motorik


(gemetar, sulit berdiam diri, dan sakit kepala), hiperaktivitas
otonomik (sesak napas, berkeringat, palpitasi, & gangguan
gastrointestinal), kewaspadaan mental (iritabilita).

Generalized Anxiety Disorder


The two major schools of thought about psychosocial factors
leading to the development of generalized anxiety disorder
are:
the cognitive-behavioral school: patients with generalized anxiety
disorder respond to incorrectly and inaccurately perceived dangers.
The inaccuracy is generated by selective attention to negative details
in the environment, by distortions in information processing, and by
an overly negative view of the person's own ability to cope
the psychoanalytic school hypothesizes that anxiety is a symptom of
unresolved, unconscious conflicts
Kaplan & Sadock synopsis of psychiatry.

85. Mental Retardation

Kaplan & Sadock synopsis of psychiatry.

86. Gangguan Neurotik


Untuk menegakkan diagnosis pasti, gejala
obsesif atau tindakan kompulsif, atau keduaduanya, harus ada hampir setiap hari selama
sedikitnya 2 minggu berturut-turut.
Merupakan sumber penderitaan atau
mengganggu aktivitas penderita

Gejala-gejala obsesif :
1. Harus disadari sebagai pikiran
atau impuls diri sendiri;
2. Sedikitnya ada 1 pikiran/tindakan
yang tidak berhasil dilawan;
3. Pikiran untuk melakukan tindakan
tsb bukan hal yang memberi
kepuasan atau kesenangan
4. Gagasan, pikiran, atau impuls tsb
harus merupakan pengulangan
yang tidak menyenangkan

Predominan Tindakan Kompulsif


(Obsessional Rituals)
Tindakan kompulsif umumnya berkaitan
dengan : kebersihan (mencuci tangan),
memeriksa berulang untuk meyakinkan
bahwa suatu situasi yang dianggap
berpotensi bahaya tidak terjadi, atau
masalah kerapian & keteraturan.
Dilatarbelakangi perasaan takut
terhadap bahaya yang mengancam
dirinya atau bersumber dari dirinya

87. Acute Psychotic

Delirium. Ondria C, Gleason MD., University of Oklahoma College of Medicine, Tulsa, Oklahoma. Am Fam
Physician. 2003 Mar 1;67(5):1027-1034.

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3160230/

Acute schizophrenia is typically associated with severe agitation, which


can result from such symptoms as frightening delusions, hallucinations,
or suspiciousness, or from other causes, including stimulant abuse.
Antipsychotics and benzodiazepines can result in relatively rapid calming
of patients.
Benzodiazepine usually use combine with antipsychotic typical
Lorazepam 1-2 mg IM

Parenteral Antipsychotic atypical can also be used:


Ziprasidone 20 mg
Olanzapine (Zyprexa)

With highly agitated patients, intramuscular administration of


antipsychotics produces a more rapid effect.
Haloperidol IM (easier to do) or IV, initially 2-10 mg.
Then every 4-8 hours, according to the response.
The total maximum dose is 18 mg.

Chlorpromazineif haloperidol not available


not recommend for rapid tranquillization because
Local irritant
if given intramuscularly,risk of cardiovascular complications, in particular hypotension,
especially in the doses required for rapid tranquillization.

Likely to be widely used because of its global accessibility, marked sedating effect,
and its ability to treat violent patients without causing stupor

http://www.clevelandclinicmeded.com/medicalpubs/diseasemanagement/psychiatry-psychology/schizophrenia-acute-psychosis/

http://www.nel.edu/26-2005_4_pdf/NEL260405R03_Mohr.pdf

88. Psikofarmaka
Antipsikotik:
1st gen: klorpromazin, haloperidol.
2nd gen: klozapin, risperidone, olanzapine

Depresi:
Selective serotonin reuptake inhibitor: Fluoxetine,
sertraline, paroxetine.
Tricyclic: amitriptiline, doxepine, imipramine

Manik: lithium, carbamazepine, asam valproat


Anxiolitik: benzodiazepine, buspirone,

Psikofarmaka
Key points for using antipsychotic therapy:
1. An oral atypical antipsychotic drug should be
considered as first-line treatment.
2. Choice of medication should be made on the basis of
prior individual drug response, patient acceptance,
individual side-effect profile and cost-effectiveness,
other medications being prescribed and patient comorbidities.
3. The lowest-effective dose should always be prescribed
initially, with subsequent titration.
4. The dosage of a typical or an atypical antipsychotic
medication should be within the manufacturers
recommended range.

Western Australian Psychotropic Drugs Committee. Antipsychotic Drug Guidelines Version 3 August 2006

Psikofarmaka
Key points for using antipsychotic therapy:
5. Treatment trial should be at least 4-8 weeks before changing antipsychotic
medication.
6. Antipsychotic medications, atypical or conventional, should not be prescribed
concurrently, except for short periods to cover changeover.
7. Treatment should be continued for at least 12 months, then if the disease has
remitted fully, may be ceased gradually over at least 1-2 months.
8. Prophylactic use of anticholinergic agents should be determined on an
individual basis and re-assessment made at 3-monthly intervals.
9. A trial of clozapine should be offered to patients with schizophrenia who are
unresponsive to at least two adequate trials of antipsychotic medications.

Western Australian Psychotropic Drugs Committee. Antipsychotic Drug Guidelines Version 3 August 2006

Psikofarmaka
Efficacy
1. Positive Symptoms:
With the exception of clozapine, no differences have been clearly shown
in the efficacy of typical and atypical agents in the treatment of positive
symptoms (eg, hallucinations, delusions, disorganization). Clozapine is
more effective than typical agents.
2. Negative Symptoms:
Atypical agents may be more effective in the treatment of negative
symptoms (eg, affective flattening, anhedonia, avolition) associated with
psychotic disorders.

Psychotropic drug handbook. 2007.

Psikofarmaka

Rusdi Maslim:
CPZ & thioridazine yang sedatif kuat terutama digunakan untuk
sindrom psikosis dengan gejala dominan gaduh gelisah, hiperaktif, sulit
tidur.
Trifluoperazine, flufenazin, & haloperidol yg sedatif lemah digunakan
untuk sindrom psikosis dengan gejala dominan apatis, menarik diri,
afek tumpul, hipoaktif, waham, halusinasi.

Dosis Rekomendasi
Haloperidol
Initial dose:
0.5 to 5 mg orally 2 to 3 times a day

Maintenance dose:
1 to 30 mg/day in 2 to 3 divided doses

Trihexyphenidil
4 to 10 mg/day in 2 or three equally separated doses

89. Gangguan Makan


Diagnosis
Bulimia nervosa

Karakteristik
Kriteria diagnosis harus memenuhi ketiga hal ini:
1. Preokupasi menetap untuk makan
2. Pasien melawan efek kegemukan (merangsang muntah,
pencahar, puasa, obat-obatan penekan nafsu makan)
3. Rasa takut yang berlebihan akan kegemukan & mengatur
beratnya di bawah berat badan yang sehat.

Anoreksia nervosa Kriteria diagnosis harus memenuhi semua hal ini:


1. Berat badan dipertahankan < 15% di bawah normal
2. Ada usaha mengurangi berat (muntah, pencahar, olahraga,
obat penekan nafsu makan)
3. Terdapat distorsi body image
4. Adanya gangguan endokrin yang meluas (amenorea,
peningkatan GH, kortisol.
5. Jika terjadi pada masa prepubertas, maka pubertas dapat
tertunda.

PPDGJ

90. Skizofrenia
Kriteria umum diagnosis skizofrenia:

Harus ada minimal 1 gejala berikut:

Thought echoisi pikirannya berulang dikepalanya


Thought insertion or withdrawalisi pikiran yang asing dari luar masuk ke dalam pikirannya
Thought broadcastingisi pikirannya keluar sehingga orang lain/ umum mengetahuinya
Delusion of controlwaham tentang dirinya dikendalikan oleh kekuatan dari luar dirinya
Delusion of influencewaham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu kekuatan tertentu dari
luar
Delusion of passivitywaham tentang dirinya tak berdaya terhadap suatu kekuatan dari luar
Delusion of perceptionpengalaman inderawi yang tidak wajar
Halusinasi auditorik

Atau minimal 2 gejala berikut:

Halusinasi dari panca-indera apa saja


Arus pikiran yang terputus
Perilaku katatonik
Gejala negatif: apatis, bicara jarang, respons emosi menumpul

Gejala-gejala tersebut telah berlangsung minimal 1 bulan.


Maslim R. Buku saku diagnosis gangguan jiwa. Rujukan ringkas dari PPDGJ-III.

Skizofrenia

Gangguan isi pikir, waham, halusinasi, minimal


1 bulan

Paranoid

merasa terancam/dikendalikan

Hebefrenik

15-25 tahun, afek tidak wajar, perilaku tidak dapat diramalkan,


senyum sendiri

Katatonik

stupor, rigid, gaduh, fleksibilitas cerea

Skizotipal

perilaku/penampilan aneh, kepercayaan aneh, bersifat magik,


pikiran obsesif berulang

Waham menetap

hanya waham

Psikotik akut

gejala psikotik <2 minggu.

Skizoafektif

gejala skizofrenia & afektif bersamaan

Residual

Gejala negatif menonjol, ada riwayat psikotik di masa lalu yang


memenuhi skizofrenia

Simpleks

Gejala negatif yang khas skizofrenia (apatis, bicara jarang, afek


tumpul/tidak wajar) tanpa didahului halusinasi/waham/gejala
psikotik lain. Disertai perubahan perilaku pribadi yang bermakna
(tidak berbuat sesuatu, tanpa tujuan hidup, penarikan diri).

PPDGJ

Gangguan Waham Menetap


Serangkaian gangguan dengan waham-waham yang
berlangsung lama, sebagai satu-satunya gejala klinis yang khas
atau paling mencolok, dan tidak dapat digolongkan sebagai
gangg.mental organik, skizofrenik, atau gangg.afektif
Termasuk : paranoia, psikosis paranoid, keadaan paranoid,
parafrenia

91. Psychiatric Examination


Mental Status Examination
The mental status
examination is the part of
the clinical assessment
that describes the sum
total of the examiner's
observations and
impressions of the
psychiatric patient at the
time of the interview.
The patient's mental status
can change from day to
day or hour to hour.

Mood

sustained emotion that the patient is experiencing. Example:


depressed, anxious, Elicited responses

Affect

Examples: expansive (contagious), euthymic (normal), constricted


(limited variation), blunted (minimal variation), and flat (no
variation). Expansiveso cheerful and full of laughter that it is
difficult to refrain from smiling while interview. Connection
between emotion and the topic of interview

Appearance

Sex, age, ras, nutritional status, posture, motor activity, dress and
grooming, hygiene, eye contact

Thought process Examples: circumstantiality, loose associations, flight of ideas,


neologism, perseveration.

Consciousness

Somnolence, stupor, coma, lethargy, or alert.

Concentration

A cognitive disorder, anxiety, depression, and internal stimuli,


such as auditory hallucinations, can all contribute to impaired
concentration. Subtracting serial 7s from 100 is a simple task that
requires intact concentration and cognitive capacities

Orientation

Time, place, person

Memory

Remote memory: Childhood data. Recent past memory: The past


few months. Recent memory: The past few days. Immediate
retention and recall: ability to repeat three words immediately
and 3 to 5 minutes later

92. Gangguan Ansietas


Ansietas
suatu keadaan aprehensi atau khawatir yang mengeluhkan bahwa sesuatu yang
buruk akan segera terjadi

Gangguan ansietas ditandai dengan gejala fisik seperti:

kecemasan (khawatir akan nasib buruk),


Sulit konsentrasi
ketegangan motorik,
gelisah, gemetar, renjatan
rasa goyah, sakit perut, punggung dan kepala
ketegangan otot, mudah lelah
berkeringat, tangan terasa dingin
Insomnia

Gejala Umum
Gejala Psikologis

Gejala Fisik

Psikofarmaka
Antipsikotik:
1st gen: klorpromazin, haloperidol.
2nd gen: klozapin, risperidone, olanzapine

Depresi:
Selective serotonin reuptake inhibitor: Fluoxetine,
sertraline, paroxetine.
Tricyclic: amitriptiline, doxepine, imipramine

Manik: lithium, carbamazepine, asam valproat


Anxiolitik: benzodiazepine, buspirone

Primary Insomnia
Insomnia is difficulty initiating or maintaining sleep. It is the
most common sleep complaint and may be transient or
persistent.
Primary insomnia is commonly treated with benzodiazepines.

Kaplan & Sadock synopsis of psychiatry

Insomnia
According to severity:
Mild: almost every night,
minimum impairment of
quality of life (QoL)
Moderate: every night,
moderate impairment
QoL with symptoms
(irritability, anxiety,
fatigue)
Severe: every night,
moderate impairment
QoL with more severe
symptoms of irritability,
anxiety, fatigue

According to form of
presentation:
Sleep onset/early
insomnia (difficulty
falling asleep)
Sleep
maintenance/middle
insomnia (waking
frequently)
End of sleep/late
insomnia (waking too
early)

93. Psikiatri anak: Gangguan Autistik


A. a total of six (or more) items from (1), (2), & (3):
(1) At least 2 qualitative impairment in social interaction:
marked impairment in the use of multiple nonverbal behaviors such
as eye-to-eye gaze, facial expression, body postures, and gestures
failure to develop peer relationships
a lack of spontaneous seeking to share enjoyment, interests, or
achievements with other people
lack of social or emotional reciprocity

(2) At least 1 qualitative impairments in communication:


delay in, or total lack of, the development of spoken language
in individuals with adequate speech, marked impairment in the ability
to initiate or sustain a conversation
stereotyped & repetitive use of language or idiosyncratic language
lack of varied, spontaneous make-believe play or social imitative play
appropriate
Kaplan & Sadock synopsis of psychiatry.

Psikiatri anak
Autis: gangguan interaksi sosial, komunikasi, perilaku yang terbatas
& berulang.

Sind Rett: kehilangan ketrampilan tangan & bicara disertai


perlambatan pertumbuhan kepala.
Sind Asperger: gangguan interaksi sosial, pola perilaku berulang,
tanpa keterlambatan kognitif/bahasa.
Ansietas perpisahan: enggan berpisah, takut ditinggal seorang diri,
gejala fisik (sakit kepala, perut, mual, muntah), rasa susah.
Gangguan lain: enuresis, enkopresis, pika, stuttering.
PPDGJ
Kaplan & Sadock synopsis of psychiatry.

94. Reaksi Terhadap Stres Berat


Gangguan stres pascatrauma
kondisi yang ditandai oleh munculnya gejala (gangguan otonomik,
afek, & tingkah laku) setelah melihat, mengalami, atau mendengar
peristiwa traumatis dalam kurun waktu 6 bulan.

Gangguan stres akut


Gangguan yang serupa dengan gangguan stres pascatrauma, yang
muncul segera setelah kejadian

Reaksi Terhadap Stres Berat


Kriteria Diagnosis reaksi stres pascatrauma
Individu terpajan situasi (melihat, mengalami, menghadapi) yang melibatkan
ancaman kematian atau cedera serius atau ancaman lain yang serupa.
Adanya bayang-bayang kejadian yang persisten, berupa gambaran, pikiran,
persepsi, atau mimpi buruk. Individu mengalami gejala penderitaan bila terpajan
pada ingatan akan trauma aslinya.
perilaku menghindar dari bayang-bayang dan pikiran tentang kejadian traumatis
(termasuk orang, tempat, dan aktivitas), dan dapat tidak ingat aspek tertentu
dari kejadian.
Adanya gejala peningkatan kesiagaan yang berlebih seperti insomnia,
iritabililta, sulit konsentrasi, waspada berlebih.
Gejala menyababkan hendaya pada fungsi sosial atau pekerjaan.

95. Skabies
Etiologi: Sarcoptes scabiei
Gejala (4 tanda kardinal):
Pruritus nokturna, menyerang sekelompok orang, ditemukan terowongan,
ditemukan s. scabiei

Burrow ink test:


Papul skabies dilapisi dengan tinta cina biarkan 20-30 menit bersihkan
dengan kapas alkohol: terowongan terlihat lebih gelap dibanding kulit sekitar
karena akumulasi tinta didalam terowongan. Tes dinyatakan positif bila terbetuk
gambaran kanalikuli yang khas berupa garis menyerupai bentuk zigzag.
Burns DA. Diseases Caused by Arthropods and Other Noxious Animals, in: Burns T, Breathnach S, Cox N, Griffiths C. Rooks
Textbook of Dermatology. Vol.2. USA: Blackwell publishing; 2004. 37-47.
Itzhak Brook. Microbiology of Secondary Bacterial Infection in Scabies Lesions.
J Clin Microbiol. 1995. August: 33/2139-2140.

Pengobatan Skabies
Permethrin 5%
Pilihan utama, kontra indikasi pada bayi < 2 bulan , ibu hamil (penggunaan < 2
jam) dan menyusui

Sulfur presipitat (2-10%), biasanya 6%


Aman pd segala umur, dioles 24 jam selama 3 hari

Benzil benzoat 12,5% (anak), 25%


Kontraindikasi menyerupai permethrin

Gameksan 1%
Selama 6 jam, kontraindikasi < 6 tahun

Harahap M. Ilmu Penyakit Kulit.Ed.1. Jakarta: Hipokrates; 2000. 109-13.

Amiruddin MD. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Ed.1. Makassar: Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin ; 2003. 5-10.

96. Entamoeba Histolytica

Kista matang dikeluarkan bersama tinja penderita Infeksi


Entamoeba histolytica (berinti empat) tinja
mengkontaminasi pada makanan, air, atau oleh
tangan. Terjadi ekskistasi (3) terjadi dalam usus dan
berbentuk tropozoit (4) selanjutnya, bermigrasi ke usus
besar. Tropozoit memperbanyak diri dengan cara membelah
diri (binary fission) dan menjadi kista (5), menumpang dalam
tinja.
Kista dapat bertahan beberapa hari - berminggu-minggu pada
keadaan luar
Dalam banyak kasus, tropozoit akan kembali berkembang
menuju lumen usus (A: noninvasive infection) pada carier yang
asimtomatik, kista ada dalam tinjanya. Pasien yang diinfeksi
oleh tropozoit di dalam mukosa ususnya (B: intestinal disease),
atau, menuju aliran darah, secara ekstra intestinal menuju
hati, otak, dan paru (C: extraintestinal disease), dengan
berbagai kelainan patologik.

Morfologi Entamoeba histolytica memiliki bentuk trofozoit dan kista. Trofozoitnya memiliki ciri-ciri morfologi :
Ukuran 10 60 m
Sitoplasma bergranular dan mengandung eritrosit, yang merupakan penand penting untuk diagnosisnya
Terdapat satu buah inti entamoeba, ditandai dengan karyosom padat yang terletak di tengah inti, serta
kromatin yang tersebar di pinggiran inti
Bergerak progresif dengan alat gerak ektoplasma yang lebar, disebut pseudopodia.

97. Ulkus Molle


Ulkus Molle: Penyakit infeksi pada alat kelamin yang akut, setempat
disebabkan oleh Haemophillus ducreyi. Ulkus: kecil, lunak, tidak ada
indurasi, bergaung, kotor (tertutup jaringan nekrotik dan granulasi)
PATOGENESIS :
Masa inkubasi : 1-3 hari

Port dentre merah papul pustula pecah ulkus


Ulkus :

Multiple
Tidak teratur
Dinding bergaung
Indurasi +
Nyeri (dolen)
Kotor

ULKUS MOLE: DIAGNOSIS BANDING


Perbedaan ulkus durum & ulkus mole
Ulkus Durum

Ulkus Mole

Etiologi

T. Pallidum

H. Ducreyi

Masa inkubasi

10 90 hari

1 14 hari

Jumlah lesi

Soliter

Multipel

Bentuk

Bulat, bulat lonjong

Bulat atau lonjong, bentuk cawan

Tepi lesi

Tepi rata, tanda radang (-)

Tidak rata / teratur, tanda radang (+)

Dinding

Tegak lurus

Bergaung

Dasar

Bersih, merah

Jaringan granulasi yg mudah berdarah

Isi

Serum

Jaringan nekrotik, pus

Perabaan / konsistensi

Indurasi (+)

Indurasi (-)

Nyeri atau tidak

Indolen / tidak nyeri

Dolen / nyeri

Pembesaran KGB

Tanda supurasi (-)

Tanda supurasi (+)

Ulkus Mole: Terapi


Sistemik

Azitromycin 1 gr, oral, single dose.


Seftriakson 250 mg dosis tunggal, injeksi IM.
Siprofloksasin 2x500 mg selama 3 hari.
Eritromisin 4x500 mg selama 7 hari.
Amoksisilin + asam klavunat 3x125 mg selama 7 hari.
Streptomisin 1 gr sehari selama 10 hari.
Kotrimoksasol 2x2 tablet selama 7 hari.

Topikal
Kompres dengan larutan normal salin (NaCl 0,9%) 2 kali sehari selama 15 menit.

98. Sifilis
Etiologi
Treponema pallidum, kronik, bersifat sistemik
Dapat menyerang hampir semua organ, dapat menyerupai banyak
penyakit (the great imitator), mempunyai masa laten, dapat
ditularkan dari ibu ke janin

Stadium sifilis
Stadium dini (menular)
Stadium I (sifilis primer)
Papul lentikular yang kemudian menjadi ulkus dinding tidak bergaung, indolen,
teraba indurasi, tidak ada radang akut (ulkus durum) biasanya di genitalia eksterna.
Seminggu setelah afek primer terdapat pembesaran KGB inguinal

Stadium II (sifilis sekunder)


6-8 minggu sejak S I, dapat menyerupai berbagai kelainan kulit (the great imitator),
dapat memberi kelainan pada mukosa, KGB, mata, hepar, tulang, saraf. Kelainan
biasanya tidak gatal, sering disertai limfadenitis generalisata

Sifilis laten dini


Tidak ada gejala klinis, tetapi infeksi masih aktif. Tes serologi darah (VDRL, TPHA)
positif

Stadium rekuren
Relaps dapat terjadi berupa kelainan kulit mirip sifilis sekunder

Stadium sifilis (contd)


Stadium lanjut (tidak menular)
Sifilis laten lanjut
Lama bertahun-tahun, tidak menular, diagnosis dengan tes serologik

Stadium III (sifilis tersier)


3-10 tahun sejak S I, kelainan khas adalah guma (infiltrat sirkumskrip, kronis,
biasanya melunak, destruktif), nodus, dapat menyerang mukosa, tulang,
hepar, jantung & aorta (sifilis kardiovaskular), otak (neurosifilis)

Terapi
Penisilin G prokain/penisilin G benzatin
Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.

Chancre of Primary Syphilis on Labium

Chancre of Primary Syphilis on Penis

Chancre of Primary Syphilis on Lip

Mucocutaneous Lesions of Secondary Syphilis

Condyloma Lata in Secondary Syphilis

Tes Serologi Sifilis


Non Treponemal
Menggunakan antigen tidak spesifikkardiolipin, lesitin,dan kolesterol
AntibodiReagin
Dapat dipakai sebagai tes screening dan keberhasilan pengobatan
ContohVDRL(Venereal Disease Research Laboratory)
Screening
Titer atau lebihtersangka sifilis
Mulai positif setelah 2-4 minggu sejak S I muncul
Mencapai puncak pada S II Lanjutberangsur-angsur negatif

Keberhasilan terapi
Titer akan turun dengan cepat, dalam 6 minggu titer akan menjadi normal

Treponemal
Bersifat spesifik antigen treponemal
Contoh:
TPHA (Treponemal pallidum Haemoglutination Assay)
Kelebihan: Hasil mudah dibaca, cukup sensitif dan spesifik, menjadi reaktif cukup dini
Kekurangan: tidak dapat dipakai untuk menilai hasil terapitetap positif dalam
waktu yang lama

FTA-Abs (Fluorecent Treponemal Antibody Absorption Test)


Reaktif 1 minggu setelah afek primer
Paling sensitif (90%) dua macam IgM, IgG.
IgM penting untuk sifilis kongenital

99. Psoriasis
Psoriasis adalah kelainan autoimun
kronik residif dengan ciri khas bercak
eritem berbatas tegas dengan skuama
kasar, berlapis dan transparan/
berwarna mika.
Etiologi: Faktor genetik, Imunologik,
stress psikis.
Pengobatan: Kortikosteroid, preparat
ter. Pengobatan topikal memberikan
hasil yang cukup baik, diberikan
apabila lesinya terlokalisir.

Lesi Psoriasis
Pada psoriasis terdapat
Fenomena tetesan lilin
Auspitz
Kobner (isomorfik)

Fenomena tetesan lilin dan Auspitz merupakan gambaran khas pada lesi psoriasis dan
merupakan nilai diagnostik, kecuali pada psoriasis inverse (psoriasis pustular), dan
digunakan untuk membandingkan psoriasis dengan penyakit kulit yang mempunyai
morfologi yang sama

Fenomena Kobner: Tidak khas, karena didapati pula pada penyakit lain, misalnya liken
planus, liken nitidus, veruka plana juvenilis, pitiriasis rubra pilaris, dan penyakit Darier.
Fenomena Kobnerdidapatkan insiden yang bervariasi antara 38-76 % pada pasien
psoriasis.

Lesi Khas Psoriasis


Fenomena tetesan lilin
Skuama yang berubah warnanya menjadi putih pada goresan, seperti lilin
yang digores disebabkan oleh berubahnya indeks bias. Cara menggores
dapat menggunakan pingir gelas alas

Fenomena Auspitz
Tampak serum atau darah berbintik-bintik yang disebabkan oleh
papilomatosis.
Cara megerjakannya: Skuama yang berlapis-lapis itu dikerok, bisa dengan
pinggir gelas alas. Setelah skuamanya habis, maka pengerokan harus
dilakukan perlahan-lahan, jika terlalu dalam tidak akan tampak perdarahan
yang berbintik-bintik melainkan perdarahan yang merata.

100. Pemfigoid Bullosa


Kelainan

Penjelasan

Pemfigus vulgaris

Penyakit kulit autoimun berbula kronik, menyerang kulit dan membran


mukosa yang secara histologik ditandai dengan bula intraepidermal akibat
proses akantolisis dan secara imunopatologik ditemukan antibodi terhadap
komponen desmosom pada permukaan keratinosit jenis IgG, baik terikat
maupun beredar dalam darah. Khas: bula kendur, bila pecah menjadi krusta
yang bertahan lama, nikolsky sign (+)

Pemfigoid bulosa

Perbedaan dengan pemfigus vulgaris: keadaan umum baik, dinding bula


tegang , bula subepidermal, terdapat IgG linear

Pemphigus Vulgaris

Pemphigus Vulgaris

Pemphigus Foliceus

Paraneoplastic Pemphigus e.c Castleman


tumor
Cleared when the tumor removed

Bullous Pemphigoid

Cicatricial Pemphigoid

101. DERMATITIS NUMULARIS


Sinonim :
Ekzem numular
Ekzem diskoid

Etiopatogenesis
Tidak diketahui : Multi Faktor
Peningkatan koloni Staphylococcus &

Micrococcus

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.

Mekanisme Hipersensitifitas, infeksi oleh bakteri


Dermatitis kontak ( nikel, krom, kobalt )
Trauma fisik / kimiawi
Kelembaban kurang kulit kering
Stres emosional

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.

Gejala Klinis
>> pada laki-laki
awitan 55 th 65 th/ 15 th 25 th

Subjektif
: gatal hebat
Objektif
Lesi awal: vesikel / papulovesikel bergabung : Coin berbatas
tegas, edematosa & eritematosa
vesikel pecah : krusta kekuningan
melebar : ukuran 5 cm
Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.

Lesi lama
Predileksi
punggung

Distribusi
Jumlah
Ukuran

: likenifikasi, skuama
: tungkai bawah, lengan bawah, badan dan
tangan
: bilateral, simetris
: 1 atau lebih tersebar
: bervariasi milier plakat

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.

Dermatitis Numularis
Perjalanan Penyakit
Papula, makula, vesikula bergabung menjadi bulatan batas tegas,
eritematosa vesikel pecah eksudasi & krusta likenifikasi &
skuama

Atlas Penyakit Kulit & Kelamin Airlangga


University Press

Pengobatan
UMUM
Cari faktor provokasi
Fokal infeksi
Kulit kering
Hindari bahan iritan / alergen
KHUSUS
Sistemik
Topikal

: Antibiotika
Kortikosteroid
: Kompres PK 1/10.000 (lesi basah)
Kortikosteroid (lesi kering)

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.

Diagnosis Banding

102. Vehikulum Obat Topikal


Cairan (solusio, tingtura, kompres)

Membersihkan kulit dari debris


Perlunakan dan pecahnya vesikel, bula, pustula
Keadaan yang basah menjadi kering
Merangsang epitelisasi

Bedak
Penetrasi sedikit
Diberikan pada dermatosis yang kering dan superfisial
Berguna untuk mempertahankan vesikel/bula agar tidak pecah

Salep
Diberikan pada dermatosis yang kering dan kronik, berkrusta
Penetrasi paling kuat
Kontraindikasi pada dermatitis madidans (dengan eksudasi), tidak dianjurkan pada bagian tubuh
yang berambut

Vehikulum obat topikal (contd)


Bedak kocok
Diberikan pada dermatosis yang kering, superfisial, agak luas. Pada keadaan yang subakut
Penetrasi sedikit, mengurangi gatal
Kontraindikasi: dermatitis madidans, daerah berambut

Krim

Indikasi kosmetik
Dermatosis subakut yang luas, penetrasi >> bedah kocok
Boleh digunakan di daerah berambut
Kontaindikasi: dermatitis madidans

Pasta (campuran bedak & vaselin)


Dermatosis yang agak basah (bersifat mengeringkan)
Kontraindikasi: dermatitis madidans, daerah berambut, tidak dianjurkan pada daerah lipatan

Linimen (campuran cairan, bedak, salep)


Diberikan pada dermatosis yang subakut
Kontraindikasi: dermatosis madidans
Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.

103. Varicella (chicken pox)


Infeksi akut oleh virus varicella-zoster yang menyerang kulit dan mukosa
Transmisi secara aerogen
Gejala
Masa inkubasi 14-21 hari
Gejala prodromal: demam subfebris, malaise, nyeri kepala
Disusul erupsi berupa papul eritematosa yang kemudian berubah menjadi vesikel
berupa tetesan air (tear drops), bisa didapatkan umbilikasi menjadi pustula
menjadi krusta. Bisa menimbulkan gejala polimorfik karena timbul vesikel baru.
Predileksi: daerah badan kemudian menyebar secara sentrifugal

Pemeriksaan: percobaan Tzanck


Pengobatan: simtomatik (antipiretik, analgesik, antipruritus)
Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.

Penyakit

Karakteristik

Variola (small pox)

Makula eritematosa papul vesikel pustula krusta. Sifat lesi


monomorfik. Sudah tereradikasi.

Herpes zoster

Reaktivasi dari varicella. Gejala prodromal vesikel jernih vesikel keruh


pustula krusta. Predileksi unilateral dan sesuai dermatom.

Herpes simpleks

Vesikel yang berkelompok di atas kulit yang sembab dan eritematosa pada
daerah dekat mukokutan
HSV tipe I: predileksi di daerah pinggang ke atas terutama daerah mulut dan
hidung
HSV tipe II: predileksi di daerah pinggang ke bawah terutama daerah genital

Impetigo vesikobulosa

Disebabkan S. aureus. Predileksi di ketiak, dada, punggung. Berupa eritema,


bula, dan bula hipopion.

104. Sindrom Stevens-Johnson


ETIOLOGI
Sampai kini blm diketahui secara pasti
Merupakan eritema multiformis derajat berat : Eritema multiformis mayor
Obat sistemik :
Penisilin & sintetiknya, streptomisin, sulfonamida, tetrasiklin, analgetik/antipiretik : derivat salisil,
pirazolon, metamizol, metapiron, parasetamol, klorpromasin, karbamazepin, kinin, antipirin, tegretol
dan jamu
Penyebab lain : Infeksi : bakteri, virus, jamur, parasit neoplasma, pasca vaksinasi, radiasi dan makanan
MDL/PKD/Jan/2006

Sindrom Stevens-Johnson
PATOGENESIS
Belum diketahui dg jelas. Diduga diperan oleh reaksi alergi tipe III dan tipe IV
Rx tipe III akibat terbentuk kompleks antigen-antibodi yg membentuk
mikropresipitasi shg aktivasi sistim komplemen. Akb adanya akumulasi sel
neutrofil yg melepaskan lisozim dan kerusakan jaringan organ target
Rx tipe IV akibat sel limfosit T yang telah tersensitisasi, terkontak ulang dg antigen
yg sama. Sel T tsb melepaskan limfokin & rx peradangan
MDL/PKD/Jan/2006

Sindrom Stevens-Johnson
SIMTOMATOLOGI
Dpt anak dan dewasa, jarang pd usia < 3 tahun
KU variasi, ringan sp berat
Kesadaran : kompos mentis soporo / koma
G/ prodromal : demam tinggi, malaise, nyeri kepala, batuk pilek dan nyeri
tenggorokan
Trias kelainan :
a. Kelainan kulit
b. Kelainan selaput lendir di orifisium
c. Kelainan selaput mata dan mata
MDL/PKD/Jan/2006

Sindrom Stevens-Johnson
a. Kelainan kulit
Eritem, papel, vesikel, bula.
Vesikel & bula pecah erosi.
Prognosis buruk bl purpura (+)
bl lesi generalisata
MDL/PKD/Jan/2006

Sindrom Stevens-Johnson
b. Kelainan

selaput lendir di orifisium


Paling sering (100 %) mukosa mulut
Kemudian disusul orifisium genital eksterna : 50 %
Lubang hidung dan anus : 8 % dan 4 %
Lesi awal : vesikel mukosa bibir, lidah, bukal pecah erosi, ekskoriasi, eksudasi, ulserasi &
pseudomembran, krusta hemoragik kehitaman, tebal, hipersalivasi kesulitan menelan
Kelainan dapat
laring & saluran pernafasan atas gejala ggg
pernafasan
esofagus
hidung rinitis + epistaksis & krusta
Anus jarang ditemukan
MDL/PKD/Jan/2006

Sindrom Stevens-Johnson
c. Kelainan selaput lendir mata
80 % SSJ kelainan selaput lendir mata
Paling sering : konjungtivitis kataralis /
konjungtivitis purulen
Kornea : erosi, perforasi, ulkus, kekeruhan kebutaan
Iritis, uveitis, iridosilitis & udem palpebra
Di samping itu :
Kelainan kuku : onikolisis
Organ tubuh lain : sal. pencernaan, ginjal, : nefritis; hati
MDL/PKD/Jan/2006

Sindrom Stevens-Johnson

MDL/PKD/Jan/2006

Tatalaksana SSJ

Identifikasi dan menghentikan obat penyebab


Perbaikan keseimbangan cairan, elektrolit dan protein
Metil prednisolon 80-120 mg PO atau deksametason injeksi
Antibiotik untuk infeksi (hindari golongan sulfa, penisilin, dan
sefalosporin)

105. Giardiasis
Giardia lamblia
Protozoa berflagel yang meninfeksi duodenum dan usus halus
Manifestasi klinis mulai dari kolonisasi asimptomatik, diare aku, diare
kronik sampai malabsorbsi
Lebih sering pada anak

Biasanya muncul secara sporadis


Transmisi
Air yang terkontaminasi kista giardia
Kista Giardia relatif resisten terhadap klorinasi dan radiasi sinar ultraviolet
Merebus air cukup efektif untuk menginaktivasi kista

fecal-oral route

Giardiasis
Giardia intestinalis =(lamblia)

Trophozoites

Cysts

Giardia Life cycle

CLINICAL MANIFESTATIONS
Masa Inkubasi :12 minggu
Asymptomatic
Diare akut infeksius
Diare kronik dengan kegagalan tumbuh
kembang dan nyeri perut

Symptomatic
Lebih sering pada anak-anak daripada
dewasa

Diare akut
Demam subfebris, mual, anoreksia
Distensi dan nyeri abdominal,
kembung, malaise, flatulence

Stools
profuse and watery and later become
greasy and foul smelling

Tidak mengandung darah, lendir


dan leukosit pada feses
Dapat menyebabkan malabsorbsi

DIAGNOSIS

PREVENTION

Cuci tangan
Pemurnian sumber air dengan adekuat
klorinasi dan filtrasi
Wisatawan ke daerah endemis
disarankan untuk menghindari makanan
yang belum matang.
Stool enzyme immunoassay (EIA) or
Merebus air minum selama min. 1
direct fluorescent antibody tests
menit
more sensitive
Microscopic
trophozoites or cysts in stool
specimens,
Dibutuhkan 3 spesimen tinja untuk
mendapatkan sensitivitas >90%.

Aspiration or biopsy of the


duodenum or upper jejunum

TREATMENT
Yang harus diterapi
Diare akut

failure to thrive
exhibit malabsorption

Therapy
First Line
Tinidazole: >3 yr: 50 mg/kg/day once daily
nitazoxanide
Metronidazole: 15 mg/kg/day in 3 divided doses for 57 days

Second line alternatives:


furazolidone 6 mg/kg/day in 4 divided doses for 10 days
albendazole: >6 yr: 400 mg once a day for 5 days paromomycin, and
quinacrine :6 mg/kg/day in 3 divided doses for 5 days

106. Cutaneous Anthrax


95% of all cases globally
Inkubasi: 2-3 hari
Spora masuk ke dalam kulit melalui luka terbuka atau
ekskoriasi
Papule vesicle ulcer eschar
Case fatality rate 5 to 20%
Untreated septicemia and death
Center for Food Security and Public Health, Iowa State
University, 2011

Day 6
Day 2

Day 4

Day 6
Day 6

Day 10
Center for Food Security and Public Health, Iowa State
University, 2011

The Organism
Bacillus anthracis
Large, gram-positive, non-motile rod,
aerob
Two forms
Vegetative, spore

Over 1,200 strains


Nearly worldwide distribution
Center for Food Security and Public Health, Iowa State
University, 2011

Identifikasi bakteri

107. Media Pertumbuhan Selektif

Eosin methylene blue (EMB): selektif untuk spesies coli


YM (yeast and mold): pH rendah untuk media jamur
MacConkey agar: Untuk bakteri gram (-)
Mannitol salt agar (MSA): Selektif untuk bakteri gram (+)
Xylose lysine desoxyscholate (XLD): Selektif untuk bakteri gram (-)
Buffered charcoal yeast extract agar: untuk Legionella
pneumophila
BairdParker agar: Untuk stafilokokus

Media Pertumbuhan Diferensial


Untuk membedakan subspesies
Blood agar: mengandung darah sapi yang akan menjadi
transparan bila terdapat streptokokus hemolitikus
Eosin methylene blue (EMB): Untuk membedakan bakteri yang
memfermentasi laktosa
MacConkey (MCK): Sama seperti EMB
Mannitol salt agar (MSA): Untuk membedakan bakteri yang
memfermentasi manitol

Agar Lowenstein-Jensen
Sebagai media pertumbuhan bakteri mycobacterium, terutama
mycobacterium tuberculosis
Tampak seperti koloni coklat bergranular

108. Eritema Nodosum Leprosum


REAKSI

LESI

Eritema nodosum leprosum

-Pada tipe MB (BL,LL)


-Nodus eritema dan nyeri
-Predileksi : lengan dan tungkai
-Tidak terjadi perubahan tipe

Reaksi
reversal/borderline/upgradi
ng

-Pada tipe borderline (Li,BL,BB,BT,Ti)


-Terjadi perubahan tipe
- Lesi menjadi lebih aktif/timbul lesi baru
-Peradangan pada saraf dan kulit
-Pada pengobatan 6 bulan pertama

Fenomena lucio

-Reaksi kusta yang sangat berat


-Pada tipe lepromatosa non-nodular difus
-Plak/infiltrat difus, merah muda, bentuk tidak teratur, nyeri (+). Jika lebih berat
dapat disertai purpura dan bula
-Dimulai dari ekstremitas lalu menyebar ke seluruh tubuh

Djuanda A., Hamzah M., Aisah S., 2008, Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin edisi 5. Jakarta: FKUI hal 82-83

L
E.N.L

Lucios phenomenone

Reversal reaction of leprosy

109. Skrining Anemia Pada Anak


The American Academy of Pediatrics (AAP) dan CDC di Amerika
menganjurkan melakukan pemeriksaan (Hb) dan (Ht)
setidaknya satu kali pada usia 9-12 bulan dan diulang 6 bulan
kemudian pada usia 15-18 bulan atau pemeriksaan tambahan
setiap 1 tahun sekali pada usia 2-5 tahun.
Pada bayi prematur atau dengan berat lahir rendah yang tidak
mendapat formula yang difortifikasi besi perlu
dipertimbangkan untuk melakukan pemeriksaan Hb sebelum
usia 6 bulan
Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia

Pemeriksaan tersebut dilakukan pada populasi


dengan risiko tinggi:
kondisi prematur
berat lahir rendah
riwayat mendapat perawatan lama di unit
neonatologi
anak dengan riwayat perdarahan
infeksi kronis
etnik tertentu dengan prevalens anemia yang tinggi
mendapat asi ekslusif tanpa suplementasi
mendapat susu sapi segar pada usia dini
dan faktor risiko sosial lain.

Suplemen Besi

Rekomendasi Ikatan Dokter Indonesia

110. Perawatan Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit


Penilaian bayi baru lahir
1. Apakah bayi cukup bulan?
2. Apakah air ketuban jernih,
tidak bercampur
mekoneum?
3. Apakah bayi menangis?
4. Apakah tonus otot baik?
Lakukan
1. Berikan kehangatan
2. Bersihkan jalan napas
3. Keringkan
4. Nilai warna

Perawatan tali pusat: tali pusat diklem dengan klem


tali pusat, tidak ditutup dengan perban
Studi menunjukkan bahwa tidak ada keuntungan
menggunakan antibiotik atau antiseptik pada
perawatan tali pusat dibandingkan dengan
perawatan kering.
didapatkan bahwa rata-rata waktu pelepasan tali
pusat pada: perawatan kering adalah 9 hari, bubuk
(salisilat, green clay, katoxin) 7 hari, alkohol 11 hari
sedangkan antibiotik 12 hari.

Buku Panduan tatalaksana Bayi Baru lahir di Rumah sakit. Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik.
Kementerian Kesehatan 2010.

Perawatan Bayi Baru Lahir Di Rumah Sakit


Bayi tetap bersama ibunya (rawat gabung).
Inisiasi menyusu dalam jam pertama kehidupan.
Pemberian profilaksis konjungtivitis neonatorum: eritromisin
atau tetrasiklin ointment
Pemberian profilaksis vitamin K1 pada bayi baru lahir 1 mg
dosis tunggal intramuskular
Pemberian vaksin hepatitis B 0.5 mL IM di paha kanan
sekurangnya 2 jam sesudah pemberian vitamin K1.
Buku Panduan tatalaksana Bayi Baru lahir di Rumah sakit. Direktorat Jenderal Bina
Pelayanan Medik. Kementerian Kesehatan 2010.

Perawatan Pada Awal Kehidupan Bayi


Merawat tali pusat
Setelah dipotong, tali pusat dibiarkan
terbuka dan kering dan tidak perlu
dikompres dengan kasa yang
mengandung cairan antiseptik.
Cuci tangan terlebih dahulu, jangan
oleskan apapun pada tali pusat, tidak
perlu ditutup dengan kasa,dengan popok
maupun gurita.
Jika tali pusat kotor, segera cuci bersih
dengan air yang bersih dan sabun lalu
keringkan dengan kain bersih.
Biarkan tali pusat terlepas sendiri.

Memandikan bayi
Saat lahir, bayi belum perlu dimandikan.
Vernix (zat lemak putih)berfungsi untuk
menjaga suhu bayi.
Setelah 6 jam bayi dapat dilap dengan air
hangat saja.
Sebelum tali pusat lepas, bayi dapat
dimandikan dengan kain lap atau spon.
Setelah tali pusat lepas bayi dapat
dimandikan dengan dimasukkan ke dalam
air.

http://idai.or.id/public-articles/klinik/pengasuhan-anak/perawatan-bayi-barulahir.html

Perawatan Pada Awal Kehidupan Bayi


Menidurkan bayi
Dalam sehari bayi dapat tidur sampai
total 20 jam, yang terpecah dalam
periode tidur 20 menit hingga 4 jam.
Usahakan kamar bersuhu sejuk, tidak
terlalu dingin dan tidak terlalu panas,
dan mendapat cahaya serta ventilasi
cukup.
Posisi tidur yang dianjurkan adalah
posisi terlentang untuk mencegah
sudden infant death syndrome (SIDS).

Pola buang air besar (BAB) dan


buang air kecil bayi (BAK)
Bayi normal akan BAK dalam 24
jam pertama dan BAB paling telat
dalam 48 jam pertama.
Selanjutnya bayi akan BAK 5-6 kali
per hari dan BAB 3-4 kali per hari.
Warna BAB akan berubah dari
warna hitam pekat, menjadi hijau
dan akhirnya berwarna
kekuningan pada sekitar usia 5
hari.

http://idai.or.id/public-articles/klinik/pengasuhan-anak/perawatan-bayi-barulahir.html

Perawatan Pada Awal Kehidupan Bayi


Membersihkan popok
dan kemaluan bayi
Bersihkan kemaluan
dari bagian depan ke
belakang dengan
menggunakan kapas
yang sudah dibasahi air
bersih ataupun handuk
basah.

Membersihkan mata, telinga dan hidung


bayi
Mata dapat dibersihkan dengan kapas
bersih yang dibasahi dengan air
hangat, mulai dari arah hidung ke luar.
Kotoran telinga tidak perlu dibersihkan
secara rutin dengan mengorek liang
telinga
Lubang hidung bayi juga tidak perlu
dibersihkan secara khusus

http://idai.or.id/public-articles/klinik/pengasuhan-anak/perawatan-bayi-barulahir.html

111. Pengukuran Suhu Tubuh


Pada umumnya yang diukur adalah suhu aksila
Pada anak dibawah usia 2 tahun dapat diukur di rektum atau lipat
paha. Suhu rektum diukur menggunakan termometer rektal.
Kontraindikasi: peradangan pada rektum
Pada anak diatas 6 tahun suhu dapat diukur di mulut (oral) dengan
cara meletakkan reservoat termometer di bawah lidah. Hanya
dapat dilakukan apabila anak mengerti tujuan pemeriksaan
Semua pengukuran suhu dilakukan 3 menit. Sebelum digunakan,
permukaan air raksa harus dibawah 35:C
Pada umumnya suhu aksila 1 : C lebih rendah dari rektum, sedang
suhu oral 0.5 : C lebih rendah dari suhu rektum.

112. KONTRAINDIKASI IMUNISASI


Berlaku umum untuk semua vaksin
Indikasi Kontra
Reaksi anafilaksis terhadap vaksin
(indikasi kontra pemberian vaksin
tersebut berikutnya)
Reaksi anafilaksis terhadap
konstituen vaksin
Sakit sedang atau berat, dengan
atau tanpa demam

BUKAN Indikasi Kontra


Reaksi lokal ringan-sedang (sakit, kemerahan,
bengkak) sesudah suntikan vaksin
Demam ringan atau sedang pasca vaksinasi
sebelumnya
Sakit akut ringan dengan atau tanpa demam
ringan
Sedang mendapat terapi antibiotik
Masa konvalesen suatu penyakit
Prematuritas
Terpajan terhadap suatu penyakit menular
Riwayat alergi, atau alergi dalam keluarga
Kehamilan Ibu
Penghuni rumah lainnya tidak divaksinasi

Pedoman Imunisasi di Indonesia. Satgas Imunisasi IDAI. 2008

Kontraindikasi Imunisasi Spesifik


Imunisasi

Indikasi Kontra

DTP

Ensefalopati dalam 7 hari pasca DTP sebelumnya


Perhatian khusus :
Demam >40.5:C dan episode hipotonik-hiporesponsif dalam 48 jam pasca
DTP sebelumnya
Kejang dalam 3 hari pasca DTP sebelumnya
Sindrom Guillain Barre dalam 6 minggu pasca vaksinasi

Polio Oral

Infeksi HIV atau kontak HIV serumah


Imunodefisiensi pada pasen atau pada penghuni serumah

Polio Inactivated

Reaksi anafilaksis terhadap neomisin, streptomisin, atau polimiksin-B

MMR

Reaksi anafilaksis terhadap neomisin atau gelatin


Kehamilan
Imunodefisiensi dengan imunosupresi berat

Hepatitis B

Reaksi anafilaksis terhadap ragi

Varisela

Reaksi anafilaksis terhadap neomisin dan gelatin


Kehamilan
Infeksi HIV
Imunodefisiensi

Pertimbangan Tambahan
Anak dengan batuk-pilek ringan dengan atau tanpa demam
boleh diimunisasi, kecuali bila bayi sangat rewel, imunisasi
dapat ditunda 1-2 minggu
Tidak dibenarkan memberikan imunisasi dengan pengurangan
dosis atau dengan dosis terbagi
Anak yang sedang minum antibiotik tetapi diperbolehkan
imunisasi

113. Ikterus Neonatorum

Ikterus neonatorum: fisiologis vs non fisiologis.


Ikterus fisiologis:
Awitan terjadi setelah 24 jam
Memuncak dalam 3-5 hari, menurun dalam 7 hari (pada NCB)
Ikterus fisiologis berlebihan ketika bilirubin serum puncak adalah 7-15
mg/dl pada NCB

Ikterus non fisiologis (patologis)

Awitan terjadi sebelum usia 24 jam


Tingkat kenaikan > 0,5 mg/dl/jam
Tingkat cutoff > 15 mg/dl pada

NCB
Ikterus bertahan > 8 hari pada NCB, > 14 hari pada NKB
Tanda penyakit lain

Gangguan obstruktif menyebabkan hiperbilirubinemia direk. Ditandai


bilirubin direk > 2 mg/dl jika bil tot <5 mg/dl atau bil direk >20% dr total
bilirubin. Penyebab: kolestasis, atresia bilier, kista duktus koledokus.

Indrasanto E. Hiperbilirubinemia pada neonatus.

Kramers Rule

Penilaian klinis ikterus (kramer)


Daerah tubuh

Kadar bilirubin mg/dl

Muka
Dada/punggung

4 -8
5 -12

Perut dan paha

8 -16

Tangan dan kaki

11-18

Telapak tangan/kaki

>15

114. Oral Thrush


Etiology: Candida
Albicans
Clinical Manifestation
White curdish like lesions
on the buccal mucosa,
tongue, palate, and
gingiva. The lesions are
difficult to scrape off and
this differentiates it from
milk. After scraping, there
is an erythematous base
and some bleeding.
Oral candidiasis may be
associated with diaper
candidiasis (diaper rash)

TREATMENT NYSTATIN
Infants
200,000 units PO q6hr (100,000
units in each side of mouth)
Children
Oral suspension: 400,000600,000 units PO q6hr
Intestinal Candidiasis
Oral Tablets: 500,000 units - 1
million units q8hr

115. Acquired Prothrombine Complex Deficiency (APCD) dengan Perdarahan


Intrakranial

Sebelumnya disebut sebagai Hemorrhagic Disease of the


Newborn (HDN) atau Vitamin K Deficiency Bleeding
Etiologinya adalah defisiensi vitamin K yang dialami oleh bayi
karena : (1) Rendahnya kadar vitamin K dalam plasma dan
cadangan di hati, (2) Rendahnya kadar vitamin K dalam ASI, (3)
Tidak mendapat injeksi vitamin K1 pada saat baru lahir
Mulai terjadi 8 hari-6 bulan, insidensi tertinggi 3-8 minggu
80-90% bermanifestasi menjadi perdarahan intrakranial
Pedoman Pelayanan Medis IDAI 2010

Hemorrhagic disease of newborn (HDN)


Acquired prothrombrin complex deficiency (APCD)
Stadium

Characteristic

Early HDN

Occurs within 2 days and not more than 5 days of life. Baby
born of mother who has been on certain drugs: anticonvulsant,
antituberculous drug, antibiotics, VK antagonist anticoagulant.

Classic HDN

Occurs during 2 to 7 day of life when the prothrombin complex


is low. It was found in babies who do not received VKP or
VK supplemented.

Vit K deficiency

Occurs within 2 days and not more than 5 days of life. Definite
etiology inducing VKP is found in association with bleeding:
malabsorption of VK ie gut resection, biliary atresia, severe liver
disease-induced intrahepatic biliary obstruction.

Late HDN / APCD

Acquired bleeding disorder in the 2 week to 6 month age infant


caused by reduced vitamin K dependent clotting factor (II, VII,
IX, X) with a high incidence of intracranial hemorrhage and
responds to VK.

Diagnosis APCD
Diagnosis
Anamnesis : Bayi kecil yang sebelumnya sehat, tiba-tiba tampak pucat,
malas minum, lemah. Tidak mendapat vitamin K saat lahir, konsumsi ASI,
kejang fokal
PF : Pucat tanpa perdarahan yang nyata. Tanda peningkatan tekanan
intrakranial (UUB membonjol, penurunan kesadaran, papil edema), defisit
neurologis fokal
Pemeriksaan Penunjang : Anemia dengan trombosit normal, PT
memanjang, APTT normal/memanjang. USG/CT Scan kepala : perdarahan
intrakranial
Pada bayi dengan kejang fokal, pucat, disertai UUB membonjol harus
difikirkan APCD sampai terbukti bukan
Buku PPM Anak IDAI

Tatalaksana APCD
Pada bayi dengan kejang fokal, pucat, dan UUB membonjol, berikan tatalaksana
APCD sampai terbukti bukan
Vitamin K1 1 mg IM selama 3 hari berturut-turut
Transfusi FFP 10-15 ml/kgBB selama 3 hari berturut-turut
Transfusi PRC sesuai Hb
Tatalaksana kejang dan peningkatan tekanan intrakranial (Manitol 0,5-1
g/kgBB/kali atau furosemid 1 mg/kgBB/kali)
Konsultasi bedah syaraf
Pencegahan : Injeksi Vitamin KI 1 mg IM pada semua bayi baru lahir

Buku PPM Anak IDAI

116. Pewarisan Genetik Thalassemia-

Penurunan genetik thalassemia


beta jika kedua orang tua
merupakan thalassemia trait

NB: need four genes (two from


each parent) to make enough alpha
globin protein chains.

http://imagebank.hematology.org/AssetDetail.aspx?AssetID=9909&AssetType=Asset

Thalassemia-
Penurunan genetik
thalassemia beta jika kedua
orang tua merupakan
thalassemia trait
http://elcaminogmi.dnadirect.com/grc
/patient-site/alpha-thalassemiacarrier-screening/genetics-of-alphathalassemia.html?6AC396EC1151986D
584C6C02B56BBCC0

NB: need two genes (one


from each parent) to
make enough beta globin
protein chains.

117. Kelainan Pembekuan Darah

http://periobasics.com/wp-content/uploads/2013/01/Evaluation-of-bleeding-disorders.jpg

Hemofilia
Hemophilia is the most common inherited
bleeding disorder.
There are:
Hemophilia A : deficiency of factor VIII
Hemophilia B : deficiency of factor IX
Both hemophilia A and B are inherited as Xlinked recessive disorders
Symptoms could occur since the patient
begin to crawl

Epidemiology
Incidence:
hemophilia A ( 85%) 1 : 5,000 10,000 males
(or 1 : 10,000 of male life birth)
hemophilia B ( 15%) 1 : 23,000 30,000 males
(or 1 : 50,000 of male life birth)
Approximately 70% had family history of bleeding
problems
Clinical manifestasion: mild, Moderate, severe

Kuliah Hemofilia FKUI. Pustika A.

Genetic
Inherited as sex (X)-linked recessive
Genes of factor VIII/IX are located on the
distal part of the long arm (q) of X
chromosome
Female (women) are carriers

Kuliah Hemofilia FKUI. Pustika A.

http://www.cdc.gov/ncbddd/hemophilia/inheritance-pattern.html

Clinical manifestation
Bleeding:
usually deep (hematoma, hemarthrosis)
spontaneous or following mild trauma
Type:
hemarthrosis
hematoma
intracranial hemorrhage
hematuria
epistaxis
bleeding of the frenulum (baby)
Kuliah Hemofilia FKUI. Pustika A.

Diagnosis
history of abnormal bleeding in a boy
n normal platelet count
n bleeding time usually normal
n clotting time: prolonged
n prothrombin time usually normal
n partial thromboplastin time prolonged
n decreased antihemophilic factor
n

Antenatal diagnosis

antihemophilic factor level


F-VIII/F-IX gene identification (DNA analysis)
Kuliah Hemofilia FKUI. Pustika A.

Blood component replacement therapy


factor-VIII

factor-IX

(unit/ml)
fresh-frozen plasma
cryoprecipitate
factor-VIII concentrate
factor-IX concentrate

~ 0,5
~ 4,0
25 - 100
-

(ml)

~ 0,6
25 - 35

source of F-VIII: - monoclonal antibody purified;


- intermediate- and high-purity;
- recombinant
Kuliah Hemofilia FKUI. Pustika A.

200
20
10
20

118. Syok Anafilaktik pada Anak


Anaphylaxis is a serious allergic reaction that is rapid in onset and may
cause death.
Anaphylaxis involves an immunoglobulin E (IgE)mediated immediate
hypersensitivity reaction resulting in the release of potent chemical
mediators from mast cells and basophils. Hipersensitivitas tipe 1
most effects involve the cutaneous, respiratory, cardiovascular, and
gastrointestinal systems.
Children with atopy, including asthma, eczema, and allergic rhinitis, are at
higher risk of anaphylaxis.
Certainly, individuals with a previous anaphylactic reaction are at higher
risk for recurrence.
Roni D. Lane and Robert G. Bolte. Pediatric Anaphylaxis in Pediatric Emergency Care. Volume 23, Number 1, January 2007. http://www.library.musc.edu/tree_docs/pem/anaphylaxis-one.pdf

Roni D. Lane and Robert G. Bolte. Pediatric Anaphylaxis in Pediatric Emergency Care. Volume 23, Number 1, January 2007. http://www.library.musc.edu/tree_docs/pem/anaphylaxis-one.pdf

Gejala klinis Syok Anafilaktik


Diagnosis didasarkan atas temuan klinis
Hati-hati karena 69% anak yg menderita anafilaksis tidak memiliki
riwayat alergi terhadap agen kausatifnya.
Gejala bisa timbul dalam hitungan detik hingga beberapa jam (pada
anak rata-rata muncul 5-30 menit postexsposure)
80% 90% mengalami gejala kutaneus, termasuk flushing, pruritus,
urtikaria, diaphoresis, sensasi panas, dan angioedema.
Gejala pernapasan muncul hingga 94% kasus
Gejala tersering: rasa tercekik, pruritus, serak, stridor, dada terasa
berat, wheezing, dan hipoksemia.
Roni D. Lane and Robert G. Bolte. Pediatric Anaphylaxis in Pediatric Emergency Care. Volume 23, Number 1, January 2007. http://www.library.musc.edu/tree_docs/pem/anaphylaxis-one.pdf

Roni D. Lane and Robert


G. Bolte. Pediatric
Anaphylaxis in Pediatric
Emergency Care.
Volume 23, Number 1,
January 2007.
http://www.library.mus
c.edu/tree_docs/pem/a
naphylaxis-one.pdf

http://www.resus.org.uk/pages/anapost1.pdf

ALGORITME TATALAKSANA SYOK ANAFILAKTIK


(lebih lengkap)
http://www.cps.ca/documents/position/emergency-treatment-anaphylaxis

Dosages of Commonly Used Secondary Drugs in the Treatment of Anaphylaxis


Drug

Dose

H1 receptor-blocking agents (antihistamines)a


Diphenhydramine

Oral, IM, IV: 12 mg/kg, every 46 h (100 mg, maximum single dose)

Hydroxyzine

Oral, IM: 0.51 mg/kg, every 46 h (100 mg, maximum single dose)

H2 receptor-blocking agents (also antihistamines)


Cimetidine
Ranitidine

IV: 5 mg/kg, slowly over a 15-min period, every 68 h (300 mg, maximum single
dose)
IV: 1 mg/kg, slowly over a 15-min period, every 68 h (50 mg, maximum single
dose)

Corticosteroids
Methylprednisolone

IV: 1.52 mg/kg, every 46 h (60 mg, maximum single dose)

Prednisone

Oral: 1.52 mg/kg, single morning dose (60 mg, maximum single dose); use
corticosteroids as long as needed

B2-agonist
Albuterol

Nebulizer solution: 0.5% (5 mg/mL), 0.050.15 mg/kg per dose in 23 mL isotonic


sodium chloride solution, maximum 5 mg/dose every 20 min over a 1-h to 2-h
period, or 0.5 mg/kg/h by continuous nebulization (15 mg/h, maximum dose)

Other
Dopamine

IV: 520 g/kg per minute. Mixing 150 mg of dopamine with 250 mL of saline
solution or 5% dextrose in water will produce a solution that, if infused at the rate of
1 mL/kg/h, will deliver 10 g/kg/min. The solution must be free of bicarbonate,
which may inactivate dopamine.
aCetirizine may be considered for oral use, because it is less sedating and, therefore, less likely to lead to

Epinephrine in the Treatment of Anaphylaxisa


Intramuscular (IM) administration
Epinephrine 1:1000 (aqueous): IM (anterolateral thigh), 0.01
mL/kg per dose, up to 0.5 mL, repeated every 515 min, up to
3 doses.b
Intravenous (IV) administration
An initial bolus of IV epinephrine is given to patients not responding
to IM epinephrine using a dilution of 1:10 000 rather than a dilution
of 1:1000. This dilution can be made using 1 mL of the 1:1000
dilution in 9 mL of physiologic saline solution. The dose is 0.01 mg/kg
or 0.1 mL/kg of the 1:10 000 dilution. A continuous infusion should
be started if repeated doses are required. One milligram (1 mL) of
1:1000 dilution of epinephrine added to 250 mL of 5% dextrose in
water, resulting in a concentration of 4 g/mL, is infused initially at a
rate of 0.1 g/kg per minute and increased gradually to 1.5 g/kg
per minute to maintain blood pressure.
a

In addition to epinephrine, maintenance of the airway and administration of oxygen are critical.

If agent causing anaphylactic reaction was given by injection, epinephrine can be injected into the same
site to slow absorption.
b

119. Tetanus Neonatorum

Tetanus : Penyakit spastik paralitik


akut akibat toksin tetanus
(tetanospasmin) yang dihasilkan
Clostridium tetani. Tanda utama :
spasme tanpa gangguan kesadaran
Kejadian tetanus neonatorum sangat
berhubungan dengan aspek
pelayanan kesehatan neonatal,
terutama pelayanan persalinan
(persalinan yang bersih dan aman),
khususnya perawatan tali pusat
Komplikasi yang ditakutkan adalah
spasme otot diafragma

Tanda dan Gejala


Riwayat persalinan yang kurang higienis,
ditolong oleh tenaga nonmedis dan
perawatan tali pusat yang tidak higienis
Bayi sadar, mengalami kekakuan
(spasme) berulang bila terangsang atau
tersentuh
Bayi malas minum
Mulut mencucu (carper mouth)
Trismus (mulut sulit dibuka)
Perut teraba keras seperti papan
Opistotonus
Anggota gerak spastik (boxing position)
Tali pusat kotor/berbau

Pemeriksaan Penunjang
Hanya dilakukan untuk membedakan
dengan sepsis atau meningitis
Pungsi lumbal
Darah rutin, kultur, dan sensitivitas

TETANUS

Tatalaksana

Diazepam 10 mg/kg/hari secara IV dalam 24 jam atau bolus IV setiap 3-6 jam (0,1-0,2 mg/kg per
kali), maksimum 40 mg/kg/hari
Human tetanus imunoglobulin 500 U IM atau Antitoksin Tetanus Serum 5000 U IM
Metronidazol 30 mg/kg/hari dengan interval setiap 6 jam selama 7-10 hari
Berikan pengobatan untuk infeksi lokal tali pusat
Bila terjadi spasme berulang atau gagal napas, rujuk ke RS dengan NICU
Langkah promotif/preventif :
Pelaksanaan Pelayanan Neonatal Esensial, lakukan pemotongan tali pusat secara steril
Tidak mengoles atau menabur sesuatu yang tidak higienis pada tali pusat
Bila sudah terjadi infeksi tali pusat, berikan pengobatan yang tepat dengan antibiotik lokal dan sistemik jika
diperlukan

120. Diare Akut akibat infeksi


Disentri

Diare tidak berdarah

Bakteri (Disentri basiler)

Shigella, penyebab disentri yang


terpenting dan tersering Escherichia coli
enteroinvasif (EIEC)
Salmonella
Campylobacter jejuni, terutama pada bayi

Amoeba (Disentri amoeba),


disebabkan Entamoeba hystolitica,
lebih sering pada anak usia > 5 tahun

Rotavirus
Norwalk virus
Astrovirus
Adenovirus
E coli

Diarrheagenic Escherichia coli


E. coli species are members of the Enterobacteriaceae family.
Characteristic: oxidase-positive, facultatively anaerobic, gram-negative bacilli. Fermentation
of lactose(+).
Five groups of diarrheagenic E. coli
(1) enterotoxigenic E. coli (ETEC) produce secretory enterotoxins;
(2) enteroinvasive E. coli (EIEC) are capable of invading intestinal epithelial cells and causing a
dysenteric illness;
(3) enteropathogenic E. coli (EPEC) are defined by their pattern of adherence to tissue culture
cells and their ability to produce a characteristic alteration in the microvillus membrane, the
attaching and effacing lesion;
(4) shigatoxin-producing E. coli (STEC), also known as enterohemorrhagic E. coli (EHEC), Shigalike toxin-producing E. coli (SLT-EC) and verotoxin-producing E. coli (VTEC) produce Shiga toxins
(Stx) and cause diarrhea, hemorrhagic colitis, and hemolytic-uremic syndrome (HUS);
(5) enteroaggregative E. coli (EAggEC) adhere in vitro to HEp-2 cells in a characteristic
aggregative manner and are associated with persistent diarrhea in children
Behrman: Nelson Textbook of Pediatrics, 17th ed

Diarrheagenic Escherichia coli


Noninflammatory Diarrheas
Enterotoxigenic E. coli (ETEC)

Rapid onset of watery, nonbloody diarrhea of considerable


volume, accompanied by little or no fever. Diarrhea and
other symptoms cease spontaneously after 24 to 72 hours

Inflammatory Diarrheas
Enteroinvasive E. coli (EIEC)

Present most commonly as watery diarrhea. Minority of


patients experience a dysentery syndrome, with fever,
systemic toxicity, crampy abdominal pain, tenesmus, and
urgency

Enteropathogenic E. coli (EPEC)

Profuse watery, nonbloody diarrhea with mucus, vomiting


and low-grade fever. Chronic diarrhea and malnutrition can
occur. Usually at < 2 y.o, esp <6 mo (at weaning period)

Shigatoxin-producing E. coli
(STEC)/EHEC

Symptoms ranging from mild diarrhea to severe


hemorrhagic colitis and hemolytic-uremic syndrome in all
ages

Enteroaggregative E. coli (EAggEC)

Watery, mucoid, secretory diarrhea with low-grade fever


and little or no vomiting. One third of patients have grossly
bloody stools. The watery diarrhea usually persist 14 days

Diarrheagenic Escherichia coli

121. Kernikterus
Kernicterus refers to the neurologic consequences of the deposition of
unconjugated bilirubin in brain tissue
Serum unconjugated bilirubin level exceeds the binding capacity of
albumin unbound lipid-soluble bilirubin crosses the blood-brain barrier
Albumin-bound bilirubin may also cross the blood-brain barrier if damage
has occurred because of asphyxia, acidosis, hypoxia, hypoperfusion,
hyperosmolality, or sepsis in the newborn
The exact bilirubin concentration associated with kernicterus in the healthy
term infant is unpredictable. In the term newborn with hemolysis, a
bilirubin level above 20 mg per dL (342 mol per L) is a concern
Am Fam Physician. 2002 Feb 15;65(4):599-607. Hyperbilirubinemia in the Term Newborn.

Kernikterus
Bilirubin indirek bersifat lipofilik
Peningkatan bilirubin indirek menembus sawar darah otak
ensefalopati bilirubin (kernikterus)
Tahap 1: Letargi, hipotonia, refleks isap buruk
Tahap 2: Demam, hipertonia, opistotonus
Tahap 3: Kondisi terlihat membaik
Sekuele: Kehilangan pendengaran sensorineural
Serebral palsi koreoatetoid
Abnormalitas daya pandang

Kernikterus

Gambar 8. metabolisme bilirubin dalam tubuh..

Perhatikan fungsi hepatosit yang


melakukan konjugasi bilirubin indirek
menjadi bilirubin direk. Adanya ikterik
merupakan manifestasi gangguan di
prehepatik, intrahepatik atau ekstrahepatik.
(Chandrasoma P, Taylor CR. Concise
Pathology. 3rd edition. McGrawHill
http://www.accessmedicine.com diunduh
tanggal 25 Juli 2013)

122. Tuberkulosis pada anak


Pada umumnya anak yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala
yang khas over/underdiagnosed
Batuk BUKAN merupakan gejala utama TB pada anak
Pertimbangkan tuberkulosis pada anak jika :
BB berkurang dalam 2 bulan berturut-turut tanpa sebab yang jelas
atau gagal tumbuh
Demam sampai 2 minggu tanpa sebab yang jelas
Batuk kronik 3 minggu
Riwayat kontak dengan pasien TB paru dewasa

Sistem Skoring
Diagnosis oleh dokter
Perhitungan BB saat
pemeriksaan
Demam dan batuk yang tidak
respons terhadap terapi baku
Cut-of f point: 6
Adanya skrofuloderma
langsung didiagnosis TB
Rontgen bukan alat diagnosis
utama
Reaksi cepat BCG harus
dilakukan skoring
Reaksi cepat BCG harus
dievaluasi dengan sistem
skoring
Total nilai 4 pada anak balita
atau dengan kecurigaan
besar dirujuk ke rumah sakit
Profilaksis INH diberikan pada
anak dengan kontak BTA (+)
dan total nilai <5

Terapi
Anak dengan TB paru atau limfadenitis TB dapat diberikan
regimen 2RHZ/4RH
Kecuali pada anak yang tinggal di daerah dengan prevalensi HIV yang
tinggi atau resistensi isoniazid yang tinggi, atau anak dengan TB paru
yang ekstensif diberikan 2RHZE/4RH

WHO. Rapid advice treatment of tuberculosis in children. http://whqlibdoc.who.int/publications/2010/9789241500449_eng.pdf

Tatalaksana TB
Jika menemukan salah satu tanda di bawah
ini, rujuk ke RS

TB Berat
Pada keadaan TB yang
berat, baik pulmonal
maupun ekstrapulmonal
(TB milier, TB meningitis,
TB tulang, dll):
fase intensif diberikan
minimal 4 macam jenis obat
selama 2 bulan (rifampisin,
INH, pirazinamid, etambutol,
atau streptomisin).
Fase lanjutan diberikan
rifampisin dan INH selama 10
bulan.

Untuk kasus TB tertentu


yaitu TB milier, efusi
pleura TB, pericarditis TB,
TB endobronkial,
meningitis TB, dan
peritonitis TB, diberikan
prednisone
Dosis prednisone 1-2
mg/kgBB/ hari dibagi 3
dosis selama 2-4 minggu
dosis penuh dilanjutkan
tapering off dalam jangka
waktu yang sama.

123. Cerebral Palsy


A diagnostic term used to describe a group of motor
syndromes (development of movement and posture causing
activity limitations) resulting from disorders of early brain
development (developing fetal or infant brain)
The motor disorders of cerebral palsy are often accompanied
by disturbances of sensation, cognition, communication,
perception, and/or behavior and/or a seizure disorder.
CP is caused by a broad group of developmental, genetic,
metabolic, ischemic, infectious, and other acquired etiologies
that produce a common group of neurologic phenotypes

Behrman: Nelson Textbook of Pediatrics, 17th ed

Risk Factor of CP
maternal and prenatal
risk factors

Long menstrual cycle


Previous pregnancy loss
Previous loss of newborn
Maternal mental retardation
Maternal thyroid disorder,
especially iodine deficiency
Maternal seizure disorder
History of delivering a child
weighing less than 2000 g
History of delivering a child with a
motor deficit, mental retardation,
or a sensory deficit

perinatal factors
Prematurity
Chorioamnionitis
Nonvertex and face presentation of the
fetus
Birth asphyxia

Clinical Manifestation
CP is generally divided into several major motor syndromes that differ according to
the pattern of neurologic involvement, neuropathology, and etiology

Clinical Manifestation

Spastic hemiplegia: decreased spontaneous movements on the affected side, the arm is often more
involved than the leg. Spasticity is apparent in the affected extremities, particularly the ankle,
causing an equinovarus deformity of the foot
Spastic diplegia is bilateral spasticity of the legs greater than in the arms. Examination: spasticity in
the legs with brisk reflexes, ankle clonus, and a bilateral Babinski sign. When the child is suspended
by the axillae, a scissoring posture of the lower extremities is maintained
Spastic quadriplegia is the most severe form of CP because of marked motor impairment of all
extremities and the high association with mental retardation and seizures
Athetoid CP, also called choreoathetoid or extrapyramidal CP, is less common than spastic cerebral
palsy. Affected infants are characteristically hypotonic with poor head control and marked head lag

124. Sindrom Nefrotik


Spektrum gejala yang ditandai dengan protein loss yang masif dari
ginjal
Pada anak sindrom nefrotik mayoritas bersifat idiopatik, yang
belum diketahui patofisiologinya secara jelas, namun diperkirakan
terdapat keterlibatan sistem imunitas tubuh, terutama sel
limfosit-T
Gejala klasik: proteinuria, edema, hiperlipidemia, hipoalbuminemia
Gejala lain : hipertensi, hematuria, dan penurunan fungsi ginjal
Di bawah mikroskop: Minimal change nephrotic syndrome
(MCNS)/Nil Lesions/Nil Disease (lipoid nephrosis) merupakan
penyebab tersering dari sindrom nefrotik pada anak, mencakup
90% kasus di bawah 10 tahun dan >50% pd anak yg lbh tua.
Terapi: kortikosteroid (prednison, prednisolon)
Lane JC. Pediatric nephrotic syndrome. http://emedicine.medscape.com/article/982920-overview

Diagnosis
Anamnesis : Bengkak di kedua kelopak mata, perut, tungkai
atau seluruh tubuh. Penurunan jumlah urin. Urin dapat
keruh/kemerahan
Pemeriksaan Fisik : Edema palpebra, tungkai, ascites, edema
skrotum/labia. Terkadang ditemukan hipertensi
Pemeriksaan Penunjang : Proteinuria masif 2+, rasio albumin
kreatinin urin > 2, dapat disertai hematuria. Hipoalbumin
(<2.5g/dl), hiperkolesterolemia (>200 mg/dl). Penurunan
fungsi ginjal dapat ditemukan.

Sindrom Nefrotik (Kriteria)


Sindrom nefrotik : Sindrom klinis dengan gejala proteinuria masif (>
40 mg/m2/jam), hipoalbunemia ( 2,5 g/dl)), edema, dan
hiperkolesterolemia. Kadang disertai hematuria, hipertensi, dan
penurunan fungsi ginjal.
Sindrom nefrotik relaps jarang : Mengalami relaps <2 kali dalam 6
bulan sejak respons awal atau < 4 kali dalam 1 tahun
Sindrom nefrotik relaps sering : Mengalami relaps 2 kali dalam 6
bulan sejak respons awal atau 4 kali dalam 1 tahun
Relaps : Timbulnya proteinuria kembali (>40 mg/m2/jam), atau 2+
selama 3 hari berturut-turut
Pedoman Pelayanan Medis Dept. IKA RSCM dan IDAI

Sindrom Nefrotik (Kriteria)


Sindrom nefrotik resisten steroid : Sindrom nefrotik yang
dengan pemberian prednison dosis penuh (2 mg/kg/hari)
selama 8 minggu tidak mengalami remisi
Sindrom nefrotik dependen steroid : Sindrom nefrotik yang
mengalami relaps setelah dosis prednison diturunkan menjadi
2/3 dosis penuh atau dihentikan dalam 15 hari, dan terjadi 2
kali berturut-turut
Remisi : Keadaan proteinuria negatif atau trace selama 3 hari
berturut-turut
Pedoman Pelayanan Medis Dept. IKA RSCM dan IDAI

Nefrotik vs Nefritik

Tatalaksana

Pedoman Pelayanan Medis Dept. IKA RSCM dan IDAI

125-126. Gagal Jantung Pada Anak

Ada 3 jenis obat yang digunakan untuk terapi gagal jantung:


- Inotropik untuk meningkatkan kontraktilitas jantung
- Diuretik untuk mengurangi preload/ volume diastolik akhir
- Vasodilator untuk mengurangi afterload atau tahanan yang dialami saat ejeksi
ventrikel

127. Hipoglikemia pada Neonatus

Hipoglikemia adalah kondisi bayi dengan kadar glukosa darah


<45 dalam
mg/dl aliran darah fetus
Insulin
(2.6 mmol/L), baik bergejala atau tidak
tidak bergantung dari insulin ibu,
Hipoglikemia berat (<25 mg/dl) dapat menyebabkan palsi tetapi
serebral,
dihasilkan sendiri oleh
retardasi mental, dan lain-lain
pankreas bayi
Etiologi
Pada Ibu DM terjadi hiperglikemia

Peningkatan pemakaian glukosa (hiperinsulin): Neonatus dari ibu DM, Besar masa
dalam peredaran darah
kehamilan, eritroblastosis fetalis
bayi
Penurunan produksi/simpanan glukosa: Prematur, IUGR, asupan tidakuteroplasental
adekuat
Peningkatan pemakaian glukosa: stres perinatal (sepsis, syok, asfiksia,mengatasinya
hipotermia),
melalui hiperplasia
defek metabolisme karbohidrat, defisiensi endokrin, dsb

sel B langerhans yang


menghasilkan insulin insulin
tinggi
Begitu lahir, aliran glukosa yang
menyebabkan hiperglikemia tidak
ada, sedangkan insulin bayi tetap
tinggi hipoglikemia

Pedoman Pelayanan Medis IDAI 2010

Hipoglikemia

Diagnosis
Anamnesis: tremor, iritabilitas, kejang/koma, letargi/apatis, sulit menyusui,
apneu, sianosis, menangis lemah/melengking
PF: BBL >4000 gram, lemas/letargi/kejang beberapa saat sesudah lahir
Penunjang: Pemeriksaan glukosa darah baik strip maupun darah vena, reduksi
urin, elektrolit darah

Penatalaksanaan
Bolus 200 mg/kg dengan dextrosa 10% IV selama 5 menit
Hitung Glucose Infusion Rate (GIR), 6-8 mg/kgBB/menit untuk mencapai GD
maksimal. Dapat dinaikkan sampai maksimal 12mg/kgBB/menit
Cek GD per 6 jam
Bila hasil GD 36-47 mg/dl 2 kali berturut-turut + Infus dextrosa 10%
Bila GD >47 mg/dl setelah 24 jam terapi, infus diturunkan bertahap
2mg/kgBB/menit setiap jam
Tingkatkan asupan oral

SOP Divisi Perinatologi Departemen Ilmu


Kesehatan Anak FKUI RSCM

128. Pediatric Airway Foreign Body

3% in the larynx
13% in the trachea
52% in the right main bronchus
6% in the right lower lobe
bronchus
fewer than 1% in the right
middle lobe bronchus
18% in the left main bronchus
5% in the left lower lobe
bronchus; 2% were bilateral.
In a child in a supine position,
material is more likely to enter
the right main bronchus.

LARYNGEAL FOREIGN BODY


Highest risk of death before
arrival to the hospital
Additional history/physical:

Complete airway obstruction


Hoarseness
Stridor
dyspnea

Imaging Studies
Neck X-Ray lateral and AP:
foreign body in larynx will be
in the anterior and sagittal
planes
Direct Laryngoscopy:
diagnostic and therapeutic

Airway Foreign Body


TRACHEAL FOREIGN BODY

Additional
history/physical:
Complete airway
obstruction
Audible slap
Palpable thud
Asthmatoid wheeze

BRONCHIAL FOREIGN BODY


80-90% of airway foreign
bodies
Right main stem most
common (controversial)
Additional history/physical:
Diagnostic triad (<50% of
cases):
unilateral wheezing
decreased breath sounds
cough

Chronic cough or asthma,


recurrent pneumonia, lung
abscess

http://emedicine.medscape.com/article/1001253-workup

129. PNEUMONIA
Inflammation of the parenchyma of the lungs

http://emedicine.medscape.com/article/967822

Klasifikasi berdasarkan predileksi


Pneumonia lobaris
pada satu lobus atau segmen

Bronkopneumonia.
Ditandai dengan bercak-bercak infiltrat pada lapangan paru.
Dapat disebabkan oleh bakteria maupun virus. Sering pada bayi dan
orang tua.

Pneumonia interstisial

Item

Lobar pneumonia

Bronchopneumonia

Age

Lobar pneumonia Occurs in


otherwise
healthy individuals between 30 - 50
years of age (Young and adults)

Extremes of ages
infants, olds and those
suffering
from chronic debilitating illness
or immuno-suppression.

Organism

Mostly pneumococci (strep.


Pneumonia)

Mixed organisms: viral,


Staphylococci, Streptococci,
H. influenzae, Proteus and
Pseudomonas

Grossly

Lobar or segmental consolidation

Patchy, bilateral of both


lungs

Pneumonia

Tanda utama menurut WHO: fast breathing & lower chest indrawing
Signs and symptoms :
Non respiratory: fever, headache, fatigue, anorexia, lethargy, vomiting and
diarrhea, abdominal pain
Respiratory: cough, chest pain, tachypnea , grunting, nasal flaring,
subcostal retraction (chest indrawing), cyanosis, crackles and rales (ronchi)

Fast breathing (tachypnea)


Respiratory thresholds
Age
Breaths/minute
< 2 months
60
2 - 12 months
50
1 - 5 years
40

Batuk dan/atau dyspnea


ditambah min salah satu:
Kepala terangguk-angguk
Pernapasan cuping
hidung
Tarikan dinding dada
bagian bawah ke dalam
Foto dada menunjukkan
infiltrat luas, konsolidasi
Selain itu bisa didapatkan
pula tanda berikut ini:
takipnea
Suara merintih (grunting)
pada bayi muda
Pada auskultasi
terdengar: crackles
(ronkii), Suara
pernapasan menurun,
suara napas bronkial

VERY SEVERE PNEUMONIA

Di
samping
batuk
atau
kesulitan
bernapas,
hanya
terdapat
napas
cepat
saja.

SEVERE PNEUMONIA

No
tachypnea,
no chest
indrawing

PNEUMONIA

NO PNEUMONIA

Diagnosis Pneumonia (WHO)


Dalam keadaan
yang sangat berat
dapat dijumpai:
Tidak dapat
menyusu atau
minum/makan,
atau
memuntahkan
semuanya
Kejang, letargis
atau tidak
sadar
Sianosis
Distres
pernapasan
berat

rawat jalan
Kotrimoksasol
(4 mg TMP/kg
BB/kali) 2 kali
sehari selama
3 hari atau
Amoksisilin
(25 mg/kg
BB/kali) 2 kali
sehari selama
3 hari.

SEVERE-VERY SEVERE PNEUMONIA

Do
not
adm
inist
er
an
anti
bioti
c

PNEUMONIA

NO PNEUMONIA

Tatalaksana Pneumonia
ampisilin/amoksisilin (25-50 mg/kgBB/kali IV atau
IM setiap 6 jam). Bila anak memberi respons yang
baik dlm 24-72 jam, lanjutkan selama 5 hari.
Selanjutnya dilanjutkan dgn amoksisilin PO (15
mg/ kgBB/kali tiga kali sehari) untuk 5 hari
berikutnya.
Bila keadaan klinis memburuk sebelum 48 jam,
atau terdapat keadaan yang berat (tidak dapat
menyusu atau minum/makan, atau memuntahkan
semuanya, kejang, letargis atau tidak sadar,
sianosis, distres pernapasan berat) maka
ditambahkan kloramfenikol (25 mg/kgBB/kali IM
atau IV setiap 8 jam).
Bila pasien datang dalam keadaan klinis berat,
segera berikan oksigen dan pengobatan kombinasi
ampilisin-kloramfenikol atau ampisilin-gentamisin.
Sebagai alternatif, beri seftriakson (80-100
mg/kgBB IM atau IV sekali sehari).
Gunakan nasal prongs, kateter nasal, atau kateter
nasofaringeal.

130. Imunisasi dan HIV prenatal


Immunizations play an important role in the prevention of childhood diseases.
It is recommended that children infected with HIV/AIDS follow an accelerated
immunization schedule.
The World Health Organization recommends the use of the oral polio vaccine in
asymptomatic HIV-infected children in areas of the world where the inactivated
polio vaccine is not available.
The measles and varicella vaccines are administered to HIV-infected children
who are not severely immunocompromised.
The hepatitis B virus vaccine is recommended for HIV-infected children.
The yellow fever vaccine is recommended at 9 months of age and every 10 years
thereafter for asymptomatic HIV-infected children living in or traveling to HIVendemic areas of the world.

BCG pada HIV


Di tahun 2007 WHO dan Global Advisory Committee on
Vaccine Safety WHO dan Strategic Advisory Group menjelaskan
bahwa pada prinsipnya pemberian imunisasi BCG menjadi
kontraindikasi pada bayi yang telah terbukti terinfeksi HIV
walaupun tidak bergejala atau asimtomatik, walaupun di
daerah endemis TB.
Hal ini disebabkan karena bayi tersebut berisiko terkena
systemic/disseminated BCG disease di kemudian hari ketika
status bayi tersebut berubah dari HIV menjadi AIDS.

Rekomendasi WHO dan Global Advisory Committee on Vaccine Safety


WHO dan Strategic Advisory Group

Bayi yang lahir dari ibu dengan status infeksi HIV yang tidak
diketahui:
Manfaat vaksinasi BCG lebih besar daripada risiko dan bayi harus
divaksinasi.

Bayi yang status infeksi HIV-nya tidak diketahui dan tidak


menunjukkan tanda atau gejala infeksi HIV, tetapi lahir dari ibu
terinfeksi HIV:
Manfaat vaksinasi BCG biasanya lebih besar daripada risiko, dan bayi
harus menerima vaksinasi BCG setelah mempertimbangkan beberapa
faktor lokal.

Rekomendasi WHO dan Global Advisory Committee on Vaccine Safety


WHO dan Strategic Advisory Group

Bayi yang diketahui terinfeksi HIV, dengan atau tanpa tanda atau
gejala infeksi HIV:
Risiko vaksinasi BCG lebih besar daripada manfaat dan bayi tidak boleh
menerima vaksin, tetapi harus menerima vaksin rutin lain.

Bayi yang status infeksi HIV-nya tidak diketahui tetapi memiliki


tanda atau gejala infeksi HIV dan lahir dari ibu terinfeksi HIV:
Risiko vaksinasi BCG biasanya melampaui manfaat, dan bayi tidak boleh
menerima vaksin pada beberapa minggu pertama kehidupannya, karena
gejala klinis infeksi HIV biasanya muncul setelah bayi berusia tiga bulan.
Namun, vaksin dapat diberikan apabila infeksi HIV dinyatakan tidak ada
berdasarkan tes virologi secara dini.

Rekomendasi WHO dan Global Advisory Committee on Vaccine Safety


WHO dan Strategic Advisory Group

Pada kasus ini termasuk ke dalam kriteria yang kedua. Tetapi


perlu dipertimbangkan faktor lokal, diantaranya:
Prevalensi TB pada populasi umum
Potensi eksposure TB pada bayi
Prevalensi Infeksi HIV
Efektivitas dan coverage dari intervensi untuk mencegah penularan
HIV dari ibu ke anak
kapasitas untuk melakukan diagnosis viral HIV pada bulan-bulan
pertama kehidupan.

131. Obat-obatan yang menyebabkan hiponatremia

Diuretics
Carbamazepine
Chlorpromazine
Analog Vasopressin
Indapamide
SSRI
Teofilin
Amiodarone
ekstasi

4 macam diuretik:
Loop diuretics act in the thick ascending limb
of the loop of Henle
Thiazide-type diuretics in the distal tubule and
connecting segment
Potassium-sparing diuretics in the
aldosterone-sensitive principal cells in the
cortical collecting tubule
Acetazolamide and mannitol act at least in
part in the proximal tubule
http://www.aafp.org/afp/2004/0515/p2387.html#afp20040515p2387-f1

http://www.pathophys.org/wp-content/uploads/2013/02/MPR-nephron.png

Diuretics-induced hyponatremia
Hyponatremia is an occasional but potentially fatal
complication of diuretic therapy.
All cases of severe diuretic-induced hyponatremia have been
due to a thiazide-type diuretic.
A loop diuretic is much less likely to induce hyponatremia
The difference in hyponatremic risk between thiazide-type and
loop diuretics may be related to differences in their tubular site
of action

FUROSEMIDE
Loop diuretics inhibit

FUROSEMIDE
Administration of a loop
diuretic interferes with
this process by
impairing the
accumulation of NaCl in
the medulla.
Thus, although the loop
diuretic can increase
ADH levels by inducing
volume depletion,
responsiveness to ADH
is reduced because of
the impairment in the
medullary gradient.

FUROSEMIDE
As a result, water
retention and the
development of
hyponatremia will
be limited, unless
distal delivery is
very low or water
intake is very high.

MECHANISM

THIAZIDE
The thiazides act in the cortex in the distal
tubule; as a result, they do not interfere
with medullary function or with ADHinduced water retention.
In addition, in vitro data indicate that
thiazides increase water permeability and
water reabsorption in the inner medullary
collecting duct, an effect that is
independent of ADH.
In addition to water retention, the
combination of increased sodium and
potassium excretion (due to the diuretic)
and enhanced water reabsorption (due to
ADH) can result in the excretion of urine
with a sodium plus potassium
concentration higher than that of the
plasma.

THIAZIDE
Loss of this fluid can
directly promote the
development of
hyponatremia
independent of the
degree of water intake.

MECHANISM

Hyponatremia
Hyponatremia is physiologically significant when it indicates a
state of extracellular hyposmolarity and a tendency for free
water to shift from the vascular space to the intracellular
space.
Cellular edema is well tolerated by most tissues, it is not well
tolerated within the rigid confines of the bony calvarium.
Therefore, clinical manifestations of hyponatremia are related
primarily to cerebral edema

Electrolyte: hyponatremia
Natrium concentration is influenced by the balance of natrium
& water in the body.

Harrisons principles of internal medicine. 18th ed.

Electrolyte: hyponatremia
Many symptoms of hyponatremia
are associated with the hypotonic
hydration.
The most common symptoms:
Headache
Nausea
Disorientation
Tiredness
Muscle cramps
Comatose

Biasanya memakai larutan NaCl 3% atau 5% (mengandung natrium 513


mEq/L)
Johnson JY. Fluids and Electrolytes demystified. 2008

132. Resusitasi Neonatus

Kattwinkel J, Perlman JM. Part 15: neonatal resuscitation: 2010 American Heart Association Guidelines for
Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care. Circulation. 2010;122(suppl 3):S909 S919

Teknik Ventilasi dan Kompresi


Ventilasi Tekanan Positif (VTP)
Jika bayi tetap apnu atau megap-megap, atau jika frekuensi denyut
jantung kurang dari 100 per menit setelah langkah awal resusitasi,
VTP dimulai.
Pernapasan awal dan bantuan ventilasi
Bantuan ventilasi harus diberikan dengan frekuensi napas 40 60
kali per menit untuk mencapai dan mempertahankan frekuensi
denyut jantung lebih dari 100 per menit. Penilaian ventilasi awal
yang adekuat ialah perbaikan cepat dari frekuensi denyut jantung.
Kattwinkel, John et al. Part 15: Neonatal Resuscitation: 2010 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation and
Emergency Cardiovascular Care. Circulation. 2010;122(suppl 3):S909S919.

Teknik Ventilasi dan Kompresi


Kompresi dada
Indikasi kompresi dada ialah jika frekuensi denyut jantung kurang dari 60 per menit setelah
ventilasi adekuat dengan oksigen selama 30 detik. Untuk neonatus, rasio kompresi: ventilasi
= 3:1 (1/2 detik untuk masing-masing).
Pernapasan, frekuensi denyut jantung, dan oksigenasi harus dinilai secara periodik dan
kompresi ventilasi tetap dilakukan sampai frekuensi denyut jantung sama atau lebih dari
60 per menit.
Kompresi dada dilakukan pada 1/3 bawah sternum dengan kedalaman 1/3 dari diameter
antero-posterior dada.
Teknik kompresi: (1) teknik kompresi dua ibu jari dengan jari-jari melingkari dada dan
menyokong bagian punggung, (2) teknik kompresi dengan dua jari dimana tangan lain
menahan bagian punggung
Pada kompresi, dada harus dapat berekspansi penuh sebelum kompresi berikutnya, namun
jari yang melakukan kompresi tidak boleh meninggalkan posisi di dada.
Kattwinkel, John et al. Part 15: Neonatal Resuscitation: 2010 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation and
Emergency Cardiovascular Care. Circulation. 2010;122(suppl 3):S909S919.

Kapan menghentikan resusitasi?


Pada bayi baru lahir tanpa adanya denyut jantung, dianggap
layak untuk menghentikan resusitasi jika detak jantung tetap
tidak terdeteksi setelah dilakukan resusitasi selama 10 menit
(kelas IIb, LOE C).
Keputusan untuk tetap meneruskan usaha resusitasi bisa
dipertimbangkan setelah memperhatikan beberapa faktor
seperti etiologi dari henti hantung pasien, usia gestasi, adanya
komplikasi, dan pertimbangan dari orangtua mengenai risiko
morbiditas.
Kattwinkel, John et al. Part 15: Neonatal Resuscitation: 2010 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation and
Emergency Cardiovascular Care. Circulation. 2010;122(suppl 3):S909S919.

133. APGAR Score


Skor APGAR dievaluasi menit ke-1 dan menit ke-5
Tanda

Activity (tonus otot)

Tidak ada

tangan dan kaki


fleksi sedikit

aktif

Pulse

Tidak ada

< 100x/menit

> 100 x/menit

Grimace (reflex
irritability)

Tidak ada
respon

Menyeringai
lemah, gerakan
sedikit

Reaksi melawan,
batuk, bersin

Appearance (warna
kulit)

Sianosis
seluruh
tubuh

Kebiruan pada
ekstremitas

Kemerahan di
seluruh tubuh

Respiration (napas)

Tidak ada

Lambat dan
ireguler

Baik, menangis
kuat

134. Inverted Nipple

Bentuk puting: normal (menonjol), flat


nipple, inverted nipple
Derajat inverted/ terbenam bervariasi
Grade inverted nipple:
Grade 1 : Puting tertarik ke dalam,
masih mudah untuk ditarik dan dapat
bertahan cukup lama tanpa perlu
tarikan. Namun tekanan lembut di
sekitar areola pada kulit dapat
menyebabkan puting tertarik ke
dalam kembali.
Grade 2: Puting yang tertarik ke
dalam dan masih bisa ditarik keluar,
tidak semudah grade 1. Setelah
tarikan dilepas, puting akan masuk ke
dalam kembali
Grade 3: posisinya sangat tertarik ke
dalam dan sulit untuk ditarik keluar
apalagi untuk mempertahankan tetap
terlihat. (karena perlekatan jaringan
puting di jaringan bawahnya)

Utk bisa menyusu scr efektif, bayi harus


bisa meraih puting dan mereganggkannya
ke atas menuju langit-langit mulutnya
Sebagian besar puting rata maupun
terbenam tidak akan menyebabkan
kesulitan dalam menyusui
1/3 wanita bisa mengalami inverted
nipple, tetapi selama kehamilan terjadi
perubahan kulit yg mjd lebih elastis.
Hanya 10% sisanya yg tetap mengalami
inversi saat bayi lahir
pinch test (penekanan daerah areola
sekitar 2 cm di luar puting): utk
menentukan apakah puting datar/
terbenam

Kalau Flat menjadi menonjol


Kalau inverted menjadi retraksi atau
terbenam menghilang

Cara mengatasi inverted nipple

Setelah beberapa kali menyusu, isapan


bayi yg kuat akan mengalahkan gaya yg
menarik puting ke dalan dan membuat
puting menonjol semakin bertambah
besar bayi, isapan semakin kuat, puting
akan semakin keluar.
Hoffman Technique: latihan manual
untuk melepaskan adhesi/ perlekatan yg
terjadi di dasar puting
Place the thumbs of both hands opposite
each other at the base of the nipple and
gently but firmly pull the thumbs away from
each other. Do this up and down and
sideways. Repeat this exercise twice a day at
first, then work up to five times a day. You
can do this during pregnancy to prepare your
nipples, as well as after your baby is born in
order to draw them out.

After baby is born, a breast pump can be used to


draw out a flat or inverted nipple immediately
before putting your baby on the breast.
Pumping can also be useful in order to break the
adhesions under the skin by applying uniform pressure
from the center of the nipple.

Jalan terkahir: rekonstruksi dengan tindakan


pembedahan (operasi).

135. TORCH
Infeksi TORCH
T=toxoplasmosis
O=other (syphilis)
R=rubella
C=cytomegalovirus (CMV)
H=herpes simplex (HSV)

Bayi yang dicurigai terinfeksi


TORCH
Bayi dengan IUGR
Trombositopenia
Ruam abnormal
Riwayat ibu sakit saat hamil
Adanya gejala klasik infeksi

Infeksi Rubella Kongenital


Karakteristik

Single-stranded RNA virus


Dapat dicegah oleh vaksin
Ringan, self-limiting
Infeksi pada trimester pertama
memiliki kemungkinan mengenai
janin yang tinggi

Diagnosis
IgG maternal bisa akibat
imunisasi atau infeksi lampau
tidak dapat dipegang
Virus dapat diisolasi dari sekret

nasal
Tes Serologik Bayi
IgM = Infeksi baru atau kongenital
Peningkatan titer IgG bulanan
mengarah pada kongenital

Diagnosis setelah anak berusia 1


tahun sulit

Terapi
Pencegahan: Imunisasi
Perawatan suportif dengan
mengedukasi orangtua

Manifestasi Klinis

Tuli sensorineural (50-75%)


Katarak dan glaukoma (20-50%)
Kelainan jantung (20-50%)
Neurologis (10-20%)
Lainnya termasuk perutmbuhan terhambat, gangguan tulang,
trombositopenia, lesi blueberry muffin

Toksoplasma

Etiologi: Toxoplasma gondi

Gejala dan Tanda:


Tanpa disertai gejala yang spesifik. Kira-kira hanya 10-20% kasus infeksi Toxoplasma yang disertai gejala ringan, mirip gejala
influenza, bisa timbul rasa lelah, malaise, demam, dan umumnya tidak menimbulkan masalah.
Jika wanita hamil terinfeksi Toxoplasma maka akibat yang dapat terjadi adalah abortus spontan atau keguguran (4%), lahir mati
(3%) atau bayi menderita Toxoplasmosis bawaan. pada Toxoplasmosis bawaan, gejala dapat muncul setelah dewasa, misalnya
kelainan mata dan telinga, retardasi mental, kejang-kejang dn ensefalitis.

Diagnosis
Gejala-gejalanya tidak spesifik atau bahkan tidak menunjukkan gejala (sub klinik).
Pemeriksaan laboratorium: Anti-Toxoplasma IgG, IgM dan IgA, serta Aviditas Anti-Toxoplasma IgG.

Pemeriksaan tersebut perlu dilakukan pada orang yang diduga terinfeksi Toxoplasma, ibu-ibu sebelum atau selama masa hamil (bila
hasilnya negatif pelu diulang sebulan sekali khususnya pada trimester pertama, selanjutnya tiap trimeter), serta bayi baru lahir dari
ibu yang terinfeksi Toxoplasma.

Sumber :Pengertian TORCH Berikut Pencegahannya - Bidanku.comhttp://bidanku.com/pengertian-torch-berikut-pencegahannya

CYTOMEGALOVIRUS (CMV)
Infeksi CMV disebabkan oleh virus Cytomegalo, dan virus ini temasuk golongan virus
keluarga Herpes. Seperti halnya keluarga herpes lainnya, virus CMV dapat tinggal secara
laten dalam tubuh dan CMV merupakan salah satu penyebab infeksi yang berbahaya bagi
janin bila infeksi yang berbahaya bagi janin bila infeksi terjadi saat ibu sedang hamil.
Jika ibu hamil terinfeksi. maka janin yang dikandung mempunyai risiko tertular sehingga
mengalami gangguan misalnya pembesaran hati, kuning, pengkapuran otak, ketulian,
retardasi mental, dan lain-lain.
Pemeriksaan laboratorium sangat bermanfaat untuk mengetahui infeksi akut atau infeski
berulang, dimana infeksi akut mempunyai risiko yang lebih tinggi. Pemeriksaan laboratorium
yang silakukan meliputi Anti CMV IgG dan IgM, serta Aviditas Anti-CMV IgG.

Sumber :Pengertian TORCH Berikut Pencegahannya - Bidanku.comhttp://bidanku.com/pengertian-torch-berikut-pencegahannya

HERPES SIMPLEKS TIPE II


Infeksi herpes pada alat genital (kelamin) disebabkan oleh Virus Herpes Simpleks
tipe II (HSV II). Virus ini dapat berada dalam bentuk laten, menjalar melalui
serabut syaraf sensorik dan berdiam diganglion sistem syaraf otonom.

Bayi yang dilahirkan dari ibu yang terinfeksi HSV II biasanya memperlihatkan
lepuh pada kulit, tetapi hal ini tidak selalu muncul sehingga mungkin tidak
diketahui. Infeksi HSV II pada bayi yang baru lahir dapat berakibat fatal (Pada
lebih dari 50 kasus)
Pemeriksaan laboratorium, yaitu Anti-HSV II IgG dan IgM sangat penting untuk
mendeteksi secara dini terhadap kemungkinan terjadinya infeksi oleh HSV II dan
mencaegah bahaya lebih lanjut pada bayi bila infeksi terjadi pada saat
kehamilan.
Sumber :Pengertian TORCH Berikut Pencegahannya - Bidanku.comhttp://bidanku.com/pengertian-torch-berikut-pencegahannya

136. Tumor Uterus


MYOMA UTERI
Jinak, tumbuh dari miometrium uterus,
terdiri dari otot polos
Nama lain: leiomyoma , fibroid atau
fibromioma.
Ditemukan pada 20% wanita usia
reproduktif
30-50 tahun
Klasifikasi berdasarkan lokasi anatomis:
Submukosa : diantara endometrium
Intramural/interstitial: diantara dinding
uterus
Subserous/subperitoneal: pada permukaan
serosa atau menonjol keluar dari
miometrium

Mioma uteri

MYOMA UTERI
GEJALA:

Menorrhagia dan pemanjangan lama


menstruasi
Nyeri pelvis: terutama saat hamil
karena torsio pada mioma bertangkai
Penekanan pada pelvis: frekuensi,
konstipasi
Abortus spontan
Infertilitas

TANDA:

Teraba massa abdominal yang berasal dari


rongga pelvis, tepi tegas, kenyal dan
permukaan halus, mobile.
Pemeriksaan pelvisUterus membesar
dan iregular, keras
Diagnosis : pemeriksaan bimanual, USG,
histeroskopi, laparoskopi
Terapi:
Observasi: untuk mioma kecil, premenapouse
Operasi : miomektomi atau histerektomi

Current Obstetric and Gynecology Diagnosis and Treatment

Ginekologi FK Unpad

MYOMA UTERI

Histerektomi merupakan tindakan yang paling ideal karena mioma sering multipel dan mencegah residif.
Pada wanita masa reproduksi, sebaiknya ditinggalkan 1 atau kedua ovarium untuk menjaga jangan
menopause sebelum waktunya
Sebaiknya histerektomi totalis, kecuali bila keadaan tidak memungkinkan dapat dilakukan histerektomi
supravaginalis lalu dilakukan rutin pap smear pada tumpul serviks

Posisi Mioma Uteri

a= Subserosa
b= Intramural
c= Submukosa
d= Submukosa bertangkai
e= Fibroid in statu nascendi
F= Fibroid pada ligamen lebar

137. Manajemen Kala III


Setelah bayi dilahirkan, berikan suntikan oksitosin 10 unit IM di
bagian paha atas bagian distal lateral agar kontraksi uterus baik
Jika tidak ada oksitosin, dapat dilakukan:
Merangsang puting payudara ibu atau minta ibu untuk menyusui agar
menghasilkan oksitosin alamiah.
Terapi farmakologi yang dapat diberikan adalah injeksi ergometrin 0,2
mg IM namun tidak boleh dilakukan pada pasien dengan
preeklampsia, eklampsia, dan hipertensi karena dapat memicu
penyakit serebrovaskular.

Lakukan peregangan tali pusat terkendali


Sumber: Buku pelayanan kesehatan ibu di fasilitas kesehatan
dasar dan rujukan

138. Vaginal Discharge


Patologi

Candida

Trikomonas

BV

Gonorre

Chlamydia

Warna

Putih seperti santan

Kuning kehijauan

keabuan

Kuning keruh
(pus)

Non spesifik, ada


darah

Bau

Asam

Seperti ikan

Amis, ikan busuk

Purulen

mukopurulen

Serviks

Bercak putih
menempel pada
serviks

Strawberry cervix

Putih homogen,
melekat

Edema serviks

Edema serviks,
rapuh

Px/

Pseudohifa,
blastospora

Parasit berflagel

Clue cell

Diplokokus gram
(-) intrasel

PMN > 30/LPB

Adneksitis

Penyakit inflamasi yang mengenai tuba falopi dan ovarium.


Gejala: nyeri di perut bawah (unilateral/bilateral), demam, abnormal vaginal discharge,
gangguan menstruasi, mual dan muntah, malaise

Vaginitis

Inflamasi pada vagina, biasanya dihubungkan dengan iritasi/infeksi pada vulva


Gejala: keputihan, gatal, nyeri, inflamasi pada labia, vagina berbau, nyeri saat
berhubungan seksual

Nyeri ovulasi

Nyeri saat ovulasi, pada daerah dekat indung telur di daerah panggul, seperti kram.
Terjadi di tengah-tengah siklus bulanan mens. Nama lain: Misttelschmerz

Servisitis

Inflamasi pada serviks, biasanya akibat infeksi


Gejala: keputihan abnormal, perdarahan vagina abnormal, nyeri saat berhubungan,
nyeri/sulit berkemih, nyeri pelvis, demam

Trichomonas Vaginalis
Merupakan salah satu etiologi dari keputihan pada perempuan
Penularan melalui hubungan seksual.
Gejala: vaginitis, keputihan yang berbuih, berwarna hijau,
berbau khas, uretritis pada pria.
Tanda khas: strawberry cervix atau colpitis macularis oleh
karena dilatasi kapiler oleh karena inflamasi
Tatalaksana: Metronidazole 2x500 mg selama 7 hari

139. Diagnosis Mola Hidatidosa


Meningkatnya kadar -hCG di dalam darah dan urin
Sonde dapat masuk ke cavum uteri tanpa tahanan
Diagnosis pasti adalah dengan ditemukannya gelembung mola.
Gelembung mola tersebut terdiri dari edema stroma villi, villi
avaskular, kumpulan sinsitiotrofoblas atau sitotrofoblas yang
berproliferasi.
USG: didapatkan gambar badai salju atau snowstorm atau
honeycomb uterus pada mola komplit dan gambaran swiss
cheese pada mola partial

Tatalaksana Mola Hidatidosa


Perhatikan keadaan umum ibu
Evakuasi jaringan mola dengan vakum kuret dengan diberikan
oksitosin sebelumnya. Proses kuret dilakukan hingga bersih.
Dapat dianjurkan histerektomi
Lakukan evaluasi berkala untuk kemungkinan menjadi
choriocarcinoma

140. Kehamilan Ektopik

Kehamilan Ektopik
Kehamilan ektopik yang mengalami ruptur disebut KET.
Nyeri goyang serviks ditemukan pada wanita dengan kehamilan
tuba yang ruptur.
Manifestasi klinis lain adalah adanya perdarahan per vaginam yang
dapatmenimbulkan penonjolan cavum Douglas, kesadaran
menurun, pucat, hipotensi, hipovolemia, nyeri abdomen, dan
serviks tertutup.
Penegakkan diagnosis dibantu dengan pemeriksaan USG.
Faktor predisposisi adalah adanya riwayat kehamilan ektopik,
operasi di daerah tuba, penggunaan AKDR, merokok, infertilitis,
riwaya abortus, dan riwayat persalinan sectio caesarea

141. Ekstraksi Vakum: Indikasi


Janin - keadaan janin yang tidak baik yang membutuhkan persalinan segera

Ibu
pembukaan telah lengkap, tetapi bayi tidak kunjung lahir
ibu tidak boleh mengedan
keadaan yang membutuhkan PKII yang singkat
Ibu kelelahan

Syarat

Bagian bawah : belakang kepala


Cukup bulan
Pembukaan lengkap
Kepala sudah cukup di bawah
Ketuban sudah pecah

Prosedur

Pencegahan infeksi
Memasang mangkuk vakum di kepala bayi
Jika perlu, dilakukan pelebaran jalan lahir
Pemastian tidak ada jaringan jalan lahir yang terjepit
Pemompaan untuk menghasilkan tekanan negatif (vakum), sehingga kulit kepala
bayi terpegang
Pemeriksaan ulang tidak ada jaringan jalan lahir yang terjepit
Dilakukan penarikan bayi sesuai arah jalan lahir
Pemantauan kondisi bayi selama penarikan

Tindakan
Incorrect

Correct

Kegagalan

Kepala tidak turun pada tarikan


Tarikan sudah 3x, tetapi kepala bayi belum turun
Tarikan sudah 30 menit
Mangkuk terlepas 3x

Komplikasi Janin

Edema skalp, hilang 1-2 hari


Sefal hematom, hilang dalam 3-4 minggu
Laserasi kulit kepala
Perdarahan intrakranial, sangat jarang

Komplikasi ibu
Robekan jalan lahir

142. Herpes Simpleks


Infeksi akut yang disebabkan oleh HSV yang ditandai dengan adanya vesikel yang
berkelompok di atas kulit yang sembab dan eritematosa di daerah dekat mukokutan
Predileksi HSV tipe I di daerah pinggang ke atas, predileksi HSV tipe II di daerah pinggang ke
bawah terutama genital
Gejala klinis:
Infeksi primer: vesikel berkelompok di atas kulit yang sembab dan eritematosa, berisi cairan
jernih yang kemudian seropurulen, dapat menjadi krusta dan kadang mengalami ulserasi
dangkal, tidak terdapat indurasi, sering disertai gejala sistemik
Fase laten: tidak ditemukan gejala klinis, HSV dapat ditemukan dalam keadaan tidak aktif di
ganglion dorsalis
Infeksi rekuren: gejala lebih ringan dari infeksi primer, akibat HSV yang sebelumnya tidak aktif
mencpai kulit dan menimbulkan gejala klinis

Pemeriksaan: ditemukan pada sel dan dibiak, antibodi, percobaan Tzanck (ditemukan sel
datia berinti banyak dan badan inklusi intranuklear)
Pengobatan: idoksuridin topikal (pada lesi dini), asiklovir
Komplikasi: meningkatkan morbiditas/mortalitas pada janin dengan ibu herpes genitalis
Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.

Indication

Acyclovir

First episode

400 mg tid OR 200


mg 5 times/d (for 710 d)

1000 mg bid (for 710 d)

250 mg tid (for 7-10


d)

Recurrent

400 mg tid (for 3-5


d) OR 800 mg PO tid
(for 2 d)

500 mg bid (for 3 d)

1000 mg bid (for 1


d)

400 mg bid

500 mg qd
or
1000 mg qd
(if >9 recurrences/y)

250 mg bid

Daily suppression

Valacyclovir

Famciclovir

Tzank Smear

http://emedicine.medscape.com/artic
le/274874-overview#aw2aab6b7

HSV-1; orofacial disease


HSV-2; genital disease
Herpetic vesicles appear on the external genitalia, labia majora, labia minora, vaginal vestibule, and introitus.
In moist areas, the vesicles rupture, leaving exquisitely tender ulcers.
medical treatment of herpes simplex virus (HSV) infection is centered around specific antiviral treatment.
HSV-1 Cold sore

HSV-2 Genital Herpes

143. Endometriosis
Kelainan ginekologi jinak di mana terdapat kelenjar
endometrium dan stroma di luar lokasi normal
Dapat ditemukan di peritonium pelvis, ovarium, septum
rektovaginal, ureter, vesika, perikardium, dan pleura
Endometriosis di myometrium dinamakan adenomyosis
Gejala utama: nyeri pada pelvis

Endometriosis
Definisi
Terdapatnya Jaringan
endometrium diluar rahim

Endometriosis di
myometrium dinamakan
adenomyosis

Gejala
Nyeri pelvis (akut atau kronis)
Dyspareunia (nyeri saat berhubungan)
Nyeri saat BAB
Spotting premenstrual dan perdarahan
abnormal
Sulit berkemih dan/ darah pada urin
Infertilitas

Patofisiologi
Genetik
Menstruasi retrograde
Penyebaran limfatik atau vaskular
Coelomic metaplasia
Masalah imunitas
Estrogen (alami atau sintetis)

Efek Pada Tubuh


Berhubungan dengan infertilitas
Keguguran
Kehilangan organ reproduksi (histerektomi)
Efek psikologis
Nyeri kronis

Diagnosis

Terdiagnosis secara kebetulan akibat penyakit lain


Laparoskopi: paling baik untuk deteksi dan terapi

Klasifikasi
Ringan jarang, lesi kecil, tanpa parut
Moderate- Minimal adhesi dan
implantasi superfisial
Berat Organ reproduksi terikat dan
terbungkus, kandung kemih dan usus
besar dapat terkena

Stages

Treatment
1. Operasi
2. Non-Operasi
Gonadotropin-releasing hormone agonists, Danazol, Norethindrone,
Gestrinone
All acyclic, some high androgen, others high progesterone, all low
estrogen
Efek samping: tulang keropos, peningkatan BB, mual, perdarahan
Pain killers (aspirin, morphine, and codeine)

144. Bengkak Pada Wanita Hamil


Hamil tubuh memproduksi cairan ekstra 25% dari BB
perut membesar menekan vena pembengkakan
terutama pada kaki

Bila tiba-tiba + TD meningkat hati-hati preeklampsia

145. Fisiologi Hormon Reproduksi Wanita


Fase Menstruasi
Bila tidak terjadi fertilisasi (ovum tidak dibuahi oleh sperma ), korpus luteum akan
mengkerut menjadi korpus albicans sehingga produksi hormon estrogen dan
progesteron terhenti. Turunnya kadar estrogen dan progesteron menyebabkan
peluruhan endometrium dan ovum, ditandai dengan pendarahan dari uterus selama lk 5
hari dengan volume darah sekitar 50 ml.

Fase Pra Ovulasi


Pada fase akhir menstruasi ini, hipotalamus mengeluarkan hormon Gonadotropin yang
merangsang hipofisis mengeluarkan FSH. FSH merangsang pembentukan folikel primer
di dalam ovarium yang mengelilingi oosit primer. Keduanya akan tumbuh sampai hari ke
14 dari hari I menstruasi, saat itu folikel matang disebut dengan folikel de Graaf dengan
oosit sekunder di dalamnya. Selama pertumbuhannya folikel melepaskan hormon
estrogen yang menyebabkan pembentukan kembali lapisan endometrium (proliferasi)
dan penetralan sifat asam pada serviks agar lebih mendukung kehidupan sperma.

Siklus Menstruasi
Fase Ovulasi
Pada umumnya pada hari ke 14 terjadi perubahan produksi hormon. Peningkatan
kadar estrogen selama pra ovulasi menimbulkan reaksi umpan balik negative
yaitu penghambatan pelepasan FSH dari hipofisis, karena FSH berkurang maka
hipofisis ganti mengeluarkan LH. LH merangsang pelepasan oosit sekunder daria
folikel de Graaf siap untuk dibuahi sperma.

Fase Pasca Ovulasi


Folikel De Graaf yang ditinggalkan oleh oosit sekunder akan berkerut dan
berubah menjadi korpus luteum. Korpus luteum tetap memproduksi estrogen
dan progesteron. Keduanya bekerja menebalkan endometrium, juga merangsang
sekresi lendir pada vagina dan pertumbuhan kelenjar susu pada payudara.
Keseluruhan fungsi tersebut adalah menyiapkan implantasi zygot pada uterus
bila terjadi pembuahan atau kehamilan.

DEFINISI
Ketidakmampuan wanita untuk
hamil dalam jangka waktu 1
tahun setelah hubungan seksual
teratur dan tanpa pengaman

12. INFERTILITY

Tipe
Infertilitas Primer tidak pernah bisa
hamil
Infertilitas Sekunder Kesulitan hamil
setelah pernah hamil sebelumnya

http://en.wikipedia.org/wiki/Infertility

http://www.lawaonline.com/blog/infertility/

INFERTILITAS PADA WANITA

drugs.com

ENDOMETRIOSIS

INFERTILITAS PRIA
1.Spermatocytogenesis
(dipengaruhi hormon
testoteron)
spermatogonia yang
mengalami mitosis berkalikali menjadi spermatosit
primer.

2. Meiois
3. Spermiogenesis

http://www.just.edu.jo/~mafika/733_Reproductive%20Endocrinology/Infertility_MaleInfertility_Treatment.jpg

146. Analisis Semen


Term

Definition

Oligospermia

Jumlah spermatozoa dalam semen sedikit (Sperm count < 15 juta/ml)

Asthenospermia

Gerakan sperma berkurang (<50% motility)

Azoospermia

Tidak ditemukannya sperma dalam semen

Teratospermia

Ditemukannya sperma dengan morfology abnormal

147. Infeksi Saluran Kemih pada Kehamilan


Merupakan kasus infeksi bakterial tersering pada kehamilan.
Perubahan fisiologis kehamilan menyebabkan meningkatnya risiko
stasis urin dan refluks vesikoureteral. Dengan ukuran uretra yang
pendek dan perut membesar memberikan tantangan tersendiri
pada higiene dan sanitasi.
Prinsip tatalaksana ISK pada kehamilan: pemberian antibiotik,
rehidrasi, rawat inap bila terdapat komplikasi.
Tatalaksana ISK: higiene sanitasi pada saat sehabis buang air kecil,
antibiotik (ampisilin 4x500mg, nitrofurantoin 2x100 mg,
sulfisoxazole 4x1 gram, selama 10-14 hari)

148. Anemia pada Kehamilan


Anemia adalah suatu kondisi di mana terdapat kekurangan sel
darah merah atau hemoglobin.
Diagnosis ditegakkan dengan kadar Hb < 11 gram/dL (trimester
I dan III) atau < 10,5 gram/dL (pada trimester II)
Faktor predisposisi
Diet rendah zat besi, B12, dan asam folat
Kelainan gastrointestinal
Penyakit kronis
Adanya riwayat keluarga

Tatalaksana Anemia
Tatalaksana umum anemia
Lakukan pemeriksaan apusan darah tepi untuk melihat morfologi sel darah merah.
Bila fasilitas tidak tersedia berikan tablet 60 mg besi elemental dan 250 g asam folat, 3
kali sehari evaluasi 90 hari.

Tatalaksana khusus anemia


Bila terdapat pemeriksaan apusan darah tepi, lakukan pengobatan sesuai hasil apusan
darah tepi.
Anemia defisiensi besi (hipokromik mikrositer): 180 mg besi elemental per hari
Anemia defisiensi asam folat dan vitamin B12: asam folat 1 x 2 mg, dan vitamin B12 1 x
250-1000g
Transfusi dilakukan bila Hb < 7 g/dL atau hematokrit < 20% atau Hb > 7 g/dL dengan
gejala klinis pusing, pandangan berkunang-kunang atau takikardia

Sumber: Buku pelayanan kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan dasar dan Rujukan

149. Meigs Syndrome


Meigs Syndrome didefinisikan sebagai adanya trias dari tumor jinak
ovarium, efusi pleura, dan asites yang akan mereda setelah tumor
diangkat.
Penyebab paling sering adalah fibroma ovarium
Gejala klinis yang sering didapatkan adalah kelelahan, sesak napas,
adanya massa abdomen-pelvis, perubahan berat badan, batuk
tidak produktif, kembung, amenore pada usia premenopause, dan
menstruasi tidak teratur.
Pemeriksaan fisis didapatkan adanya massa pelvis disertai tanda
efusi pleura dan asites

Pemeriksaan Penunjang Meigs Syndrome


Laboratorium: darah lengkap, serum elektrolit, fungsi ginjal,
fungsi hati, fungsi koagulasi, Ca125.
Imejing: CT-scan abdomen dan thorax, foto rontgen thorax,
parasentensis cairan asites
Terapi: Bedah, suportif
Sumber: http://emedicine.medscape.com/article/255450

150. Bakterial Vaginosis


Bakterial vaginosis atau nonspesifik vaginitis adalah suatu istilah yang
menjelaskan adanya infeksi bakteri sebagai penyebab inflamasi pada
vagina.
Bakteri yang sering didapatkan adalah Gardnerella vaginalis, Mobiluncus,
Bacteroides, Peptostreptococcus, Mycoplasma hominis, Ureaplasma
urealyticum , Eubacterium, Fusobacterium, Veilonella, Streptococcus
viridans, dan Atopobium vaginae
Gejala klinis yang sering dijumpai adalah keputihan, vagina berbau, iritasi
vulva, disuria, dan dispareuni
Faktor risiko yang meningkatkan BV adalah penggunaan antibiotik,
penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim, promiskuitas, douching,
penurunan estrogen.

Pemeriksaan Bakterial Vaginosis

Didapatkan keputihan yang homogen


Labia, introitas, serviks dapat normal maupun didapatkan tanda servisitis.
Keputihan biasanya terdapat banyak di fornix posterior
Dapat ditemukan gelembung pada keputihan
Pemeriksaan mikroskopis cairan keputihan harus memenuhi 3 dari 4
kriteria Amsel untuk menegakkan diagnosis bakterial vaginosis

Didapatkan clue cell.


pH > 4,5
Keputihan bersifat thin, gray, and homogenous
Whiff test + (pemeriksaan KOH 10% didapatkan fishy odor sebagai akibat dari
pelepasan amina yang merupakan produk metabolisme bakteri)

Tatalaksana Bakterial Vaginosis


Pada infeksi asimtomatik tidak perlu diberikan terapi
Pada infeksi simtomatik antibiotik merupakan pilihan utama.
Pilihan obat: metronidazole 2 x 500 mg selama 7 hari atau 4 x
500 mg dosis tunggal. Pada perempuan hamil 2 x 500 mg
selama 7 hari atau 3 x 250 mg selama 7 hari.
Sumber: http://emedicine.medscape.com/article/254342

151. Versi Luar


VERSI adalah prosedur untuk melakukan perubahan presentasi
janin melalui manipulasi fisik dari satu kutub ke kutub lain yang
lebih menguntungkan bagi berlangsungnya proses persalinan
pervaginam dengan baik.
Klasifikasi:
Berdasarkan arah pemutaran
Versi Sepalik : merubah bagian terendah janin menjadi presentasi kepala
Versi Podalik : merubah bagian terendah janin menjadi presentasi bokong

Berdasarkan cara pemutaran


Versi luar (external version)
Versi internal ( internal version)
Versi Bipolar ( Braxton Hicks version)

Syarat Versi Luar


Janin dapat lahir pervaginam atau diperkenankan untuk lahir pervaginam ( tak
ada kontraindikasi )
Bagian terendah janin masih dapat dikeluarkan dari pintu atas panggul (belum
engage)
Dinding perut ibu cukup tipis dan lentur sehingga bagian-bagian tubuh janin
dapat dikenali (terutama kepala) dan dapat dirasakan dari luar dengan baik
Selaput ketuban utuh.
Pada parturien yang sudah inpartu : dilatasi servik kurang dari 4 cm dengan
selaput ketuban yang masih utuh.
Pada ibu yang belum inpartu :
Pada primigravida : usia kehamilan 34 36 minggu.
Pada multigravida : usia kehamilan lebih dari 38 minggu.

Indikasi dan Kontraindikasi Versi Luar

Indikasi :

Letak bokong.
Letak lintang.
Letak kepala dengan talipusat atau tangan terkemuka.
Penempatan dahi.

Kontra indikasi :
Perdarahan antepartum.

Pada plasenta praevia atau plasenta letak rendah, usaha memutar janin dikhawatirkan akan menyebabkan plasenta lepas dari insersionya
sehingga akan menambah perdarahan.

Hipertensi.

Pada penderita hipertensi pada umumnya sudah terjadi perubahan pembuluh arteriole plasenta sehingga manipulasi eksternal dapat semakin
merusak pembuluh darah tersebut sehingga terjadi solusio plasenta.

Cacat uterus.

Jaringan parut akibat sectio caesar atau miomektomi pada mioma intramural merupakan locus minoris resistancea yang mudah mengalami
ruptura uteri.

Kehamilan kembar.
Primitua, nilai sosial anak yang tinggi atau riwayat infertilitas
Insufisiensi plasenta atau gawat janin.

Faktor yang menentukan keberhasilan tindakan versi luar :


Paritas.
Presentasi janin.
Jumlah air ketuban.

Faktor yang mempengaruhi terjadinya kegagalan tindakan versi luar:

Bagian terendah janin sudah engage .


Bagian janin sulit diidentifikasi (terutama kepala).
Kontraksi uterus yang sangat sering terjadi.
Hidramnion.
Talipusat pendek.
Kaki janin dalam keadaan ekstensi (frank breech)

Kriteria Versi Luar dianggap gagal:


Ibu mengeluh nyeri saat dilakukan pemutaran.
Terjadi gawat janin atau hasil NST memperlihatkan adanya gangguan
terhadap kondisi janin.
Bagian janin tidak dapat diidentifikasi dengan baik oleh karena sering
terjadi kontraksi uterus saat dilakukan palpasi.
Terasa hambatan yang kuat saat melakukan rotasi.

Masalah kontroversial dalam tindakan versi luar :


Penggunaan tokolitik
Penggunaan analgesia epidural

Komplikasi Versi Luar :

Solusio plasenta
Ruptura uteri
Emboli air ketuban
Hemorrhagia fetomaternal
Isoimunisasi
Persalinan Preterm
Gawat janin dan IUFD

Sumber: American College of Obstetricians and Gynecologists :


External Cephalic version. Practice Bulletin No 13, February 2000

152. HIV pada Kehamilan


Primary HIV infection
Asymptomatic
Acute retroviral syndrome
Clinical stage 1
Asymptomatic
Persistent generalized lymphadenopathy (PGL)
Clinical stage 2
Moderate unexplained weight loss (<10% of presumed or measured body weight)
Recurrent respiratory tract infections (RTIs, sinusitis, bronchitis, otitis media, pharyngitis)
Herpes zoster
Angular cheilitis
Recurrent oral ulcerations
Papular pruritic eruptions
Seborrhoeic dermatitis
Fungal nail infections of fingers

Clinical stage 3
Conditions where a presumptive diagnosis can be made on the basis of clinical
signs or simple investigations
Severe weight loss (>10% of presumed or measured body weight)
Unexplained chronic diarrhoea for longer than one month
Unexplained persistent fever (intermittent or constant for longer than one month)
Oral candidiasis
Oral hairy leukoplakia
Pulmonary tuberculosis (TB) diagnosed in last two years
Severe presumed bacterial infections (e.g. pneumonia, empyema, pyomyositis, bone or
joint infection, meningitis, bacteraemia)
Acute necrotizing ulcerative stomatitis, gingivitis or periodontitis
Conditions where confirmatory diagnostic testing is necessary
Unexplained anaemia (<8 g/dl), and or neutropenia (<500/mm3) and or
thrombocytopenia (<50 000/ mm3) for more than one month

Clinical stage 4
Conditions where a presumptive diagnosis can be made on the basis of clinical
signs or simple investigations
HIV wasting syndrome
Pneumocystis pneumonia
Recurrent severe or radiological bacterial pneumonia
Chronic herpes simplex infection (orolabial, genital or anorectal of more than one months
duration)
Oesophageal candidiasis
Extrapulmonary TB
Kaposis sarcoma
Central nervous system (CNS) toxoplasmosis
HIV encephalopathy
Conditions where confirmatory diagnostic testing is necessary:
Extrapulmonary cryptococcosis including meningitis
Disseminated non-tuberculous mycobacteria infection
Progressive multifocal leukoencephalopathy (PML)
Candida of trachea, bronchi or lungs
Cryptosporidiosis
Isosporiasis
Visceral herpes simplex infection
Cytomegalovirus (CMV) infection (retinitis or of an organ other than liver, spleen or lymph nodes)
Any disseminated mycosis (e.g. histoplasmosis, coccidiomycosis, penicilliosis)
Recurrent non-typhoidal salmonella septicaemia
Lymphoma (cerebral or B cell non-Hodgkin)
Invasive cervical carcinoma
Visceral leishmaniasis

153. Varisela pada Kehamilan


Faktor predisposisi infeksi variela: kontak dengan penderita cacar, belum
mendapatkan vaksinasi cacar sebelumnya, dan kurangnya status nutrisi
Diagnosis varisela: lesi kulit berupa vesikel kemerahan dan gatal di seluruh tubuh
yang sering disertai demam.
Tatalaksana umum: pencegahan infeksi sebelum hamil dengan vaksinasi,
pencegahan infeksi selama kehamilan dengan menghindari kontak, dan
pencegahan infeksi pasca salin dengan memberikan vaksinasi
Tatalaksana khusus: ibu dengan varicella + pneumonitis diberikan asiklovir 800
mg per oral 5 kali per hari selama 7 hari, pada komplikasi yang lebih berat
asiklovir IV diberikan pada dosis 10-15 mg/kgBB setiap 8 jam selama 5-10 hari
dimulai dari 24-72 jam setelah muncul luar
Asiklovir efektif diberikan 24 jam setelah muncul ruam. Aman digunakan pada
kehamilan di atas 20 minggu, sebelum itu harus diberikan dengan hati-hati.

Prognosis Varisela pada Kehamilan


Pada kehamilan kurang dari 28 minggu: risiko sindrom varisela fetal
yang ditandai dengan adanya mikroftalmia, korioretinitis, katarak,
gangguan saraf, hipoplasia ekstremitas, mikrosefali, atrofi korteks
serebri, dan gangguan tumbuh kembang janin
Pada kehamilan lebih dari 28 minggu terdapat risiko kelahiran
preterm dan ketuban pecah dini
Evaluasi USG untuk mendeteksi kelainan janin
Jika ibu terinfeksi 5 hari sebelum atau 2 hari sesudah persalinan
berikan Varicella Zoster Immunoglobulin (VZIG) pada bayi
Sumber: buku pelayanan kesehatan ibu di fasilitas kesehatan dasar
dan rujukan.

Panduan Tatalaksana HIV


Situasi Klinis

Rekomendasi Pengobatan

ODHA sedang terapi ARV kemudian hamil

Lanjutkan paduan (ganti dengan NVP atau golongan protease inhibitor jika sedang
menggunakan EFV pada trimester I)
Lanjutkan dengan paduan ARV yang sama selama dan sesudah persalinan

ODHA hamil dengan jumlah dalam stadium klinis 1 atau jumlah CD4 > 350/mm3 dan belum

Mulai ARV pada minggu ke-14 kehamilan.


Panduan sebagai berikut:
AZT + 3TC + NVP (AZT 2 x 300 mg, 3TC 2 x 150 mg, NVP 2 x 200 mg) atau
TDF + 3TC (FTC) + NVP (TDF 1 x 300 mg, 3TC 2 x 150 mg, NVP 2 x 200 mg)
AZT + 3TC + EFV (AZT 2 x 300 mg, 3TC 2 x 150 mg, EFV 1 x 600 mg)
TDF + 3TC (FTC) + EFV (TDF 1 x 300 mg, 3TC 1 x 300 mg, EFV 1 x 600 mg)

ODHA hamil dengan jumlah CD4 < 350/mm3 atau stadium klinis 2,3,4.

Segera mulai terapi ARV seperti panduan di atas

ODHA hamil dengan tuberkulosis aktif

OAT tetap diberikan


Paduan untuk ibu, bila pengobatan mulai trimester II dan III: AZT (TDF) + 3TC + EFV

Ibu hamil dalam masa persalinan dan status HIV ibu tidak diketahui

Tawarkan tes HIV dalam masa persalinan atau tes setelah persalinan. Jika hasil tes reaktif
dapat diberikan paduan sesuai ketentuan di atas.

ODHA datang dalam masa persalinan dan belum mendapat terapi ARV

Berikan paduan terapi sesuai dengan ketentuan di atas

Keterangan:
NVP = Nevirapin, AZT = zidovudin, 3TC = lamivudin, FTC = emtricitabine, EFV = efavirenz, TDF = Tenofovir disiproxil
Nevirapin bila diberikan pada CD4 250 mm3 atau dapat menimbulkan reaksi hipersensitif berat. Efavirenz bersifat teratogenik pada kehamilan trimester I.
Sumber: Buku kesehatan ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan

154. Anti Oksidan Pada Pre Eklampsia


Serum wanita hamil normal memiliki mekanisme antioksidan yang
berfungsi mengendalikan peroksidasi lemak yang diperkirakan berperan
dalam disfungsi sel endotel pada preeklamsia.
Serum wanita dengan preeklamsia memperlihatkan penurunan mencolok
aktivitas antioksidan.
Terapi antioksidan secara bermakna menurunkan aktivasi sel endotel dan
mengisyaratkan bahwa terapi semacam ini mungkin bermanfaat untuk
mencegah preeklamsia. Juga terjadi penurunan bermakna insiden
preeklamsia pada mereka yang mendapat vitamin C dan E dibandingkan
dengan kelompok kontrol
Bobak, Margaret Duncan. 2000. Perawatan Maternitas dan
Ginekologi. Bandung
: YIA-PKP

155. Abortus
DIAGNOSIS

PERDARAHAN

SERVIKS

BESAR UTERUS

GEJALA LAIN

Abortus imminens

Sedikit-sedang

Tertutup lunak

Sesuai usia kehamilan

Tes kehamilan +
Nyeri perut
Uterus lunak

Abortus insipiens

Sedang-banyak

Terbuka lunak

Sesuai atau lebih kecil

Nyeri perut hebat


Uterus lunak

Abortus inkomplit

Sedikit-banyak

Terbuka lunak

Lebih kecil dari usia Nyeri perut kuat


kehamilan
Jaringan +
Uterus lunak

Abortus komplit

Sedikit-tidak ada

Tertutup atau terbuka Lebih kecil dari usia Sedikit atau tanpa nyeri perut
lunak
kehamilan
Jaringan keluar
Uterus kenyal

Abortus septik

Perdarahan berbau

Lunak

Membesar, nyeri tekan Demam


leukositosis

Missed abortion

Tidak ada

Tertutup

Lebih kecil dari usia Tidak terdapat gejala nyeri


kehamilan
perut
Tidak disertai ekspulsi jaringan
konsepsi

Abortus Imminens

Abortus Komplit

Abortus Insipiens

Abortus Inkomplit

Missed Abortion

156. Hormon Adrenal dan Menstruasi


Pada tumor kelenjar adrenal, terdapat hipersekresi hormonhormon yang dihasilkan
Zona fasikulata menghasilkan hormon kortisol yang apabila
terjadi hipersekresi akan menimbulkan sindrom Cushing
Zona retikularis menghasilkan hormon androgen, dan bila
terjadi hipersekresi akan menimbulkan gangguan menstruasi
pada wanita

157. Hipertensi Dalam Kehamilan

Hipertensi Kronik
Hipertensi Gestasional
Pre Eklampsia Ringan
Pre Eklampsia Berat
Superimposed Pre Eklampsia
HELLP Syndrome
Eklampsia
Sumber: Buku pelayanan kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan dasar dan
Rujukan

Hipertensi Kronik
Definisi
Hipertensi tanpa proteinuria yang timbul dari sebelum kehamilan dan
menetap setelah persalinan

Diagnosis
Tekanan darah 140/90 mmHg
Sudah ada riwayat hipertensi sebelum hamil, atau diketahui adanya
hipertensi pada usia kehamilan <20 minggu
Tidak ada proteinuria (diperiksa dengan tes celup urin)
Dapat disertai keterlibatan organ lain, seperti mata, jantung, dan ginjal
Sumber: Buku pelayanan kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan dasar dan
Rujukan

Hipertensi Kronik
Tatalaksana
Jika pasien sebelum hamil sudah mendapat obat antihipertensi, dan terkontrol dengan
baik, lanjutkan pengobatan tersebut dengan obat yang sesuai untuk ibu hamil
Jika sistolik >160 mmHg/diastolik > 110 mmHg antihipertensi
Jika terdapat proteinuria atau tanda-tanda dan gejala lain, pikirkan superimposed
preeklampsia dan tangani seperti preeklampsia
Berikan suplementasi kalsium1,5-2 g/hari dan aspirin 75 mg/hari mulai dari usia
kehamilan 20 minggu
Pantau pertumbuhan dan kondisi janin Jika tidak ada komplikasi, tunggu sampai
aterm
Jika DJJ <100 kali/menit atau >180 kali/menit, tangani seperti gawat janin.
Jika terdapat pertumbuhan janin terhambat, pertimbangkan terminasi kehamilan
Sumber: Buku pelayanan kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan dasar dan
Rujukan

Hipertensi Gestasional
Definisi
Hipertensi tanpa proteinuria yang timbul setelah kehamilan 20 minggu dan menghilang setelah
persalinan

Diagnosis

TD 140/90 mmHg
Tidak ada riwayat hipertensi sebelum hamil, tekanan darah normal di usia kehamilan <12 minggu
Tidak ada proteinuria (diperiksa dengan tes celup urin)
Dapat disertai tanda dan gejala preeklampsia, seperti nyeri ulu hati dan trombositopenia

Tatalaksana Umum
Pantau TD, urin (untuk proteinuria), dan kondisi janin setiap minggu.
Jika tekanan darah meningkat, tangani sebagai preeklampsia ringan.
Jika kondisi janin memburuk atau terjadi pertumbuhan janin terhambat, rawat untuk penilaian
kesehatan janin.
Beri tahu pasien dan keluarga tanda bahaya dan gejala preeklampsia dan eklampsia.
Jika tekanan darah stabil, janin dapat dilahirkan secara normal.
Sumber: Buku pelayanan kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan dasar dan
Rujukan

Pre Eklampsia
Preeklampsia Ringan
Tekanan darah 140/90 mmHg pada usia kehamilan > 20 minggu
Tes celup urin menunjukkan proteinuria 1+ atau pemeriksaan protein kuantitatif
menunjukkan hasil >300 mg/24 jam

Preeklampsia Berat
Tekanan darah >160/110 mmHg pada usia kehamilan >20 minggu
Tes celup urin menunjukkan proteinuria 2+ atau pemeriksaan protein kuantitatif
menunjukkan hasil >5 g/24 jam; atau disertai keterlibatan organ lain:

Trombositopenia (<100.000 sel/uL), hemolisis mikroangiopati


Peningkatan SGOT/SGPT, nyeri abdomen kuadran kanan atas
Sakit kepala , skotoma penglihatan
Pertumbuhan janin terhambat, oligohidramnion
Edema paru dan/atau gagal jantung kongestif
Oliguria (< 500ml/24jam), kreatinin > 1,2 mg/dl
Sumber: Buku pelayanan kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan dasar
dan Rujukan

Pre Eklampsia & Eklampsia


Superimposed preeklampsia pada hipertensi kronik
Ibu dengan riwayat hipertensi kronik (sudah ada sebelum usia kehamilan
20 minggu)
Tes celup urin menunjukkan proteinuria >+1 atau trombosit <100.000
sel/uL pada usia kehamilan > 20 minggu

Eklampsia
Kejang umum dan/atau koma
Ada tanda dan gejala preeklampsia
Tidak ada kemungkinan penyebab lain (misalnya epilepsi, perdarahan
subarakhnoid, dan meningitis)
Sumber: Buku pelayanan kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan dasar
dan Rujukan

Tatalaksana Preeklampsia-eklampsia

Tatalaksana umum
Semua ibu dengan preeklampsia maupun eklampsia harus dirawat masuk rumah sakit

Pertimbangkan persalinan atau terminasi kehamilan


Induksi persalinan dianjurkan bagi ibu dengan preeklampsia berat dengan janin yang belum viable atau
tidak akan viable dalam 1-2 minggu.
Pada ibu dengan preeklampsia berat, di mana janin sudah viable namun usia kehamilan belum mencapai 34
minggu, manajemen ekspektan dianjurkan, asalkan tidak terdapat kontraindikasi
Pada ibu dengan preeklampsia berat, di mana usia kehamilan antara 34 dan 37 minggu, manajemen
ekspektan boleh dianjurkan, asalkan tidak terdapat hipertensi yang tidak terkontrol, disfungsi organ ibu, dan
gawat janin. Lakukan pengawasan ketat.
Pada ibu dengan preeklampsia berat yang kehamilannya sudah aterm, persalinan dini dianjurkan.
Pada ibu dengan preeklampsia ringan atau hipertensi gestasional ringan yang sudah aterm, induksi
persalinan dianjurkan.

Sumber: Buku Kesehatan Ibu di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Dasar dan Rujukan

Tatalaksana Preeklampsia-eklampsia

Antihipertensi
Ibu dengan hipertensi berat perlu mendapat terapi antihipertensi
Ibu dengan terapi antihipertensi di masa antenatal dianjurkan untuk melanjutkan terapi antihipertensi
hingga persalinan.
Terapi antihipertensi dianjurkan untuk hipertensi pasca persalinan berat
Antihipertensi yang diberikan nifedipin, nikardipin, dan metildopa. Jangan berikan ARB inhibitor, ACE
inhibitor dan klortiazid pada ibu hamil

Pemeriksaan penunjang tambahan

Hitung darah perifer lengkap


Golongan darah AB0, Rh, dan uji pencocokan silang.
Fungsi hati (LDH, SGOT, SGPT)
Fungsi ginjal (ureum, kreatinin serum)
Fungsi koagulasi (PT, APTT, fibrinogen)
USG (terutama jika ada indikasi gawat janin atau pertumbuhan janin terhambat)

Sumber: Buku Kesehatan Ibu di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Dasar


dan Rujukan

Tatalaksana Khusus
Edema paru
Edema paru dapat diketahui dari adanya sesak napas, hipertensi, batuk berbusa,
ronki basah halus pada basal paru pada ibu dengan preeklampsia berat.
Tatalaksana

Posisikan ibu dalam posisi tegak


Oksigen
Furosemide 40 mg IV
Bila produksi urin masih rendah (<30 ml/jam dalam 4 jam) pemberian furosemid dapat
diulang.
Ukur Keseimbangan cairan. Batasi cairan yang masuk

Sindrom HELLP (hemolysis, elevated liver enzymes, low platelets) dilakukan


dengan terminasi kehamilan
Sumber: Buku Kesehatan Ibu di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Dasar
dan Rujukan, 2013

Tatalaksana Eklampsia
Pencegahan dan Tatalaksana Kejang
Bila terjadi kejang perhatikan prinsip ABCD
Magnesium sulfat diberikan sebagai tatalaksana kejang pada eklampsia dan
pencegahan kejang pada preeklampsia berat. Dosis pemberian magnesium
sulfat intravena adalah 4 gram selama 20 menit untuk dosis awal dilanjutkan
6 gram selama 6 jam untuk dosis rumatan. Magnesium sulfat dapat diberikan
IM dengan dosis 5 gram pada bokong kiri dan 5 gram pada bokong kanan.
Syarat pemberian magnesium sulfat adalah terdapat refleks patella, tersedia
kalsium glukonas, dan jumlah urin minimal 0,5 ml/kgBB/jam

Sumber: Buku Kesehatan Ibu di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Dasar


dan Rujukan

158. Siklus Menstruasi


Fase Folikular
Masa pematangan sel telur dalam folikel, pada wanita berbeda-beda

Fase Luteal
Masa dari ovulasi hingga terjadinya menstruasi
Pada semua wanita hampir sama, berkisar antara 10-16 hari, dengan
rata-rata 14 hari

159. Hiperemesis Gravidarum


Definisi: keluhan mual,muntah pada ibu hamil yang berat hingga
mengganggu aktivitas sehari-hari.
Biasanya mulai setelah minggu ke-6 dan baik dengan sendirinya
sekitar minggu ke-12
Etiologi : Kemungkinan kadar BhCG yang tinggi atau faktor
psikologik
Predisposisi :primigravida, mola hidatidosa dan kehamilan ganda.
Akibat mual muntah dehidrasi elektrolit berkurang,
hemokonsentrasi, aseton darah meningkat kerusakan liver

Tingkatan Hiperemesis Gravidarum


Tingkat 1 :
lemah,napsu makan, BB,nyeri epigastrium, nadi,turgor kulit
berkurang,TD sistolik, lidah kering, mata cekung.

Tingkat 2 :
apatis, nadi cepat dan kecil, lidah kering dan kotor, mata sedikit ikterik,
kadang suhu sedikit , oliguria, aseton tercium dalam hawa pernafasan.

Tingkat 3 :
KU lebih lemah lagi, muntah-muntah berhenti, kesadaran menurun dari
somnolen sampai koma, nadi lebih cepat, TD lebih turun. Komplikasi fatal
ensefalopati Wernicke : nystagmus, diplopia, perubahan mental.Ikterik

Tatalaksana Hiperemesis Gravidarum


Tatalaksana umum Hiperemesis Gravidarum:
Pertahankan kecukupan nutrisi ibu.
Istirahat cukup dan hindari kelelahan

Tatalaksana Medikamentosa
Berikan 10 mg doksilamin dikombinasikan dengan 10 mg piridoksin hingga 4
tablet per hari (2 tablet saat akan tidur, 1 tablet saat pagi dan 1 tablet saat siang)
Dimenhidrinat 50-100 mg per oral atau supositoria 4-6 kali sehari ATAU
prometazine 5-10 mg 3-4 kali sehari per oral atau supositoria dapat diberikan bila
doksilamin tidak berhasil
Bila masih tidak teratasi dapat diberikan Ondansetron 8 mg per oral tiap 12 jam
atau Klorpromazin 10-25 mg per oral atau 50-100 mg IM tiap 4-6 jam bila masih
berlum teratasai dan tidak terjadi dehidrasi.

Tatalaksana dehidrasi pada Hiperemesis Gravidarum

Atasi dehidrasi dan ketosis


Berikan Infus Dx 10% + B kompleks IV
Lanjutkan dengan infus yang mempunyai komposisi kalori dan elektrolit yang memadai seperti: KaEN Mg 3, Trifuchsin
dll.
Atasi defisit asam amino
Atasi defisit elektrolit
Balans cairan ketat hingga tidak dijumpai lagi ketosis dan defisit elektrolit
Berikan obat anti muntah: metchlorpropamid, largactil, ondansetron, atau metilprednisolon
Berikan suport psikologis
Jika dijumpai keadaan patologis: atasi
Jika kehamilannya patologis (misal: Mola Hidatidosa) lakukan evakuasi
Nutrisi per oral diberikan bertahap dan jenis yang diberikan sesuai apa yang dikehendaki pasien
Perhatikan pemasangan kateter infus untuk sering diberikan salep heparinkarena cairan infus yang diberikan relatif pekat.
Infus dilepas bila kondisi pasien benar-benar telah segar dan dapat makan dengan porsi wajar

Sumber: http://emedicine.medscape.com/article/254751-overview

160. Asam Folat dan Kehamilan


Kebutuhan akan folic acid sampai 50-100 g/hari pada wanita
normal dan 300-400 g/hari pada wanita hamil sedangkan hamil
kembar lebih besar lagi.
Dosis
Untuk defisiensi asam folat: 250-1000 mcg (microgram) per hari.
Untuk wanita hamil dalam menghindari defek pada tube nerual: Minimal
400 mcg asam folat per hari
Wanita dengan riwayat kehamilan sebelumnya memiliki komplikasi defek
tube neural biasanya mengkonsumsi 4mg asam folat per hari pada sebulan
pertama sebelum kehamilan dan diteruskan hingga 3 bulan setelah
konsepsi.

Spina bifida

161. Odd Ratio

optimized by optima

optimized by optima
Fletcher RH, Fletcher SW, Wagner EH. Clinical epidemiologythe
essentials. 3rd ed. Baltimore: Williams & Wilkins, 1996

Case control

optimized by optima

162. Cara pengambilan sampel


Cara sampling Random

Keterangan

Simple Random Sampling

pengambilan sampel dari semua anggota populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan
strata/tingkatan yang ada dalam populasi itu

Stratified Sampling

Penentuan tingkat berdasarkan karakteristik tertentu. Misalnya : menurut usia, pendidikan, golongan
pangkat, dan sebagainya

Cluster Sampling

disebut juga sebagai teknik sampling daerah. Teknik ini digunakan apabila populasi tersebar dalam
beberapa daerah, propinsi, kabupaten, kecamatan, dan seterusnya

Cara sampling Non-Random

Keterangan

Systematical Sampling

anggota sampel dipilh berdasarkan urutan tertentu. Misalnya setiap kelipatan 10 atau 100 dari daftar
pegawai disuatu kantor, pengambilan sampel hanya nomor genap atau yang ganjil saja.

Porpusive Sampling

sampel yang dipilih secara khusus berdasarkan tujuan penelitiannya.

Snowball Sampling

Dari sampel yang sedikit tersebut peneliti mencari informasi sampel lain dari yang dijadikan sampel
terdahulu, sehingga makin lama jumlah sampelnya makin banyak

Quota Sampling

anggota sampel pada suatu tingkat dipilih dengan jumlah tertentu (kuota) dengan ciri-ciri tertentu

Convenience sampling

mengambil sampel secara sembarang (kapanpun dan dimanapun menemukan) asal memenuhi syarat
sebagai sampel dari populasi tertentu

When population is small, homogeneous


& readily available. All subsets of the
frame are given an equal probability.

The frame organized into separate


"strata." Each stratum is then sampled as
an independent sub-population, out of
which individual elements can be
randomly selected
In this technique, the total population is
divided into these groups (or clusters) and
a simple random sample of the groups is
selected (two stage)
Ex. Area sampling or geographical cluster
sampling

Sampel probabilitas (random)


Each member of the population has a known non-zero probability of
being selected.

Multistage Sampling

Complex form of cluster sampling. Instead of using all the elements contained in
the selected clusters, the researcher randomly selects elements from each cluster.
The technique is used frequently when a complete list of all members of the
population does not exist and is inappropriate.

163. Family Diagnosis Assessment

Family APGAR
APGAR Keluarga merupakan kuesioner skrining singkat yang
dirancang untuk merefleksikan kepuasan anggota keluarga
dengan status fungsional keluarga dan untuk mencatat
anggota-anggota rumah tangga.
APGAR ini merupakan singkatan dari; Adaptation, Partnership,
Growth, Affection dan Resolve.

Family Life Cycle/Circle


Siklus Hidup Keluarga (Family Life Cycle) adalah istilah yang digunakan
untuk menggambarkan perubahan-perubahan dalam jumlah anggota,
komposisi dan fungsi keluarga sepanjang hidupnya. Siklus hidup keluarga
juga merupakan gambaran rangkaian tahapan yang akan terjadi atau
diprediksi yang dialami kebanyakan keluarga.
Siklus hidup keluarga terdiri dari variabel yang dibuat secara sistematis
menggabungkan variable demografik yaitu status pernikahan, ukuran
keluarga, umur anggota keluarga, dan status pekerjaan kepala keluarga.
Tahapan-tahapan dalam family life cycle meliputi Tahap Perkawinan, Tahap
Melahirkan Anak, Tahap Membesarkan Anak-Anak Memasuki Sekolah
Dasar, Tahap Membesarkan Anak-Anak Usia Remaja, Tahap Keluarga Mulai
Melepaskan Anak-Anak, Tahap Tahun-tahun Pertengahan, Tahap Usia Tua

Family Genogram
Suatu alat bantu berupa peta skema dari silsilah keluarga pasien yang berguna
untuk mendapatkan informasi mengenai nama anggota keluarga, kualitas
hubungan antar anggota keluarga
Berisi nama, umur, status menikah, riwayat perkawinan, anak-anak, keluarga
satu rumah, penyakit spesifik, tahun meninggal, dan pekerjaan.
Juga mengenai informasi tentang hubungan emosional, jarak/konflik antar
anggota keluarga, hubungan penting dengan profesional yang lain serta
informasi lain yang relevan.

164. Vaksin
Rangkaian sejuk (Cold Chain) adalah satu sistem untuk penyimpanan dan penghantaran
vaksin dalam keadaan daripada pengeluar sehingga kepada individu yang diimunisasikan
Rantai dingin merupakan cara menjaga agar vaksin dapat digunakan dalam keadaan baik
atau tidak rusak, sehingga mempunyai kemampuan atau efek kekebalan bagi penerimanya.
Jika vaksin di luar temperatur yang dianjurkan maka akan mengurangi potensi kekebalannya.
Berdasarkan sensitivitas terhadap suhu, penggolongan vaksin adalah sebagai berikut:
Vaksin sensitive beku (Freeze sensitive = FS), adalah golongan vaksin yang akan rusak terhadap
suhu dingin dibawah 0C (beku) yaitu: Hepatitis B, DPT, DPT-HB, DT, TT
Vaksin sensitive panas (Heat Sensitive = HS), adalah golongan vaksin yang akan rusak terhadap
paparan panas yang berlebih yaitu: BCG, Polio, Campak

Untuk membantu petugas dalam memantau suhu penyimpanan dan pengiriman vaksin ini,
ada berbagai alat dengan indikator yang sangat peka seperti Vaccine Vial Monitor (VVM),
Freeze watch atau Freezetag serta Time Temperatur Monitor (TTM).

Vaksin Sensitif Beku


Suhu terlalu dingin: Pada vaksin Hepatitis B, DPT-HB di suhu - 0,5 C dapat
bertahan selama maksimum jam dan DPT, DT, TT pada suhu - 5 C S/D 10 C dapat bertahan selama maksimum 1,5 2 jam.
Suhu terlalu panas: Sedangkan vaksin DPT, DPT-HB, DT pada suhu
beberapa C diatas suhu udara luar (ambient temperature < 34 C) dapat
bertahan 14 hari sedangkan Hepatitis B dan TT dapat bertahan 30 hari.
Vaksin DPT, TT, DT, HB dan DPT-HB akan rusak bila terpapar suhu beku.
Masing-masing vaksin tersebut memiliki titik beku tersediri, yaitu vaksin
Hepatitis B beku pada suhu -0,5 C, sedang vaksin DPT, DT Dan TT akan
beku pada suhu -5 C.
Vaksin Sensitif Panas
Polio beberapa C diatas suhu udara luar (ambient temperature < 34 C)
dapat bertahan selama 2 hari sedangkan Campak dan BCG beberapa C
diatas suhu udara luar dapat bertahan 7 hari.

VVM ( Vaccine Vial Monitor)


Pada vaksin hidup.
Menilai vaksin apakah sudah pernah terpapar suhu DIATAS batas yg
diperbolehkan. Caranya membandingkan warna kotak dengan lingkaran
disekitarnya.
VVM A : warna kotak masih putih dari lingkaran sekitar
VVM B : warna vaksin berubah lebih gelap tapi masih lebih terang dari
lingkaran sekitar
VVM C : warna vaksin sama gelapnya dengan lingkarang sekitar
VVM D : warna vaksin lebih gelap dari lingkaran sekitar

Keterangan:
VVM A : bila belum kadaluwarsa, boleh digunakan
VVM B : bila belum kadaluwarsa, SEGERA gunakan vaksin
VVM C dan D : JANGAN digunakan, segera lapor pimpinan

FREEZE WATCH dan FREEZE TAG


Untuk vaksin inaktif.
Untuk mengetahui apakah vaksin pernah terpapar suhu DIBAWAH 0 C.
Tanda freeze watch bila warna biru melebar, vaksin tidak boleh dipakai.
Tanda freeze tag bila muncul tanda silang, vaksin tidak boleh dipakai.
Warna dan Kejernihan
Merupakan indikator kestabilan vaksin.
Vaksin polio harus berwarna kuning orange. Bila warnanya berubah menjadi
pucat atau kemerahan berarti pH nya telah berubah sehingga tidak stabil dan
tidak boleh digunakan.
Vaksin toksoid, rekombinan, dan polisakarida berwarna putih berkabut. Bila
menggumpal atau ada endapan, maka sudah pernah beku, tidak boleh
digunakan.
Uji kocok untuk membuktikan vaksin pernah membeku atau tidak. Caranya kocok
vaksin, diamkan selama 60 menit, bila ada endapan, jangan digunakan.

Penyimpanan Vaksin

175.

Langkah-langkah shake test sebagai berikut :


Periksa freeze watch, freeze tag, catatan/grafik suhu lemari es untuk melihat tanda-tanda bahwa suhu lemari es
tersebut pernah turun di bawah titik beku.
Freeze watch : Apakah kertas absorban berubah menjadi biru.
Bila menggunakan freeze tag : Apakah tanda telah berubah jadi tanda X.
Termometer : Apakah suhu turun hingga di bawah titik beku ?
Bila salah satu atau ketiga jawabannya YA.
LAKUKAN UJI KOCOK (SHAKE TEST)
Pilih satu contoh dari tiap tipe dan batch vaksin yang dicurigai pernah beku, utamakan yang dekat dengan
evaporator dan bagian lemari es yang paling dingin. Beri label Tersangka beku Bandingkan dengan vaksin dari
tipe dan batch yang sama yang sengaja dibekukan hingga beku padat seluruhnya dan beri label Dibekukan
Biarkan contoh Dibekukan dan vaksin Tersangka beku sampai mencair seluruhnya.
Kocok contoh Dibekukan dan vaksin Tersangka beku secara bersamaan.
Amati contoh Dibekukan dan vaksin Tersangka beku Bersebelahan untuk membandingkan waktu
pengendapan. (Umumnya 5-30 menit).
Bila terjadi :
Pengendapan vaksin Tersangka beku lebih lambat dari contoh Dibekukan., vaksin dapat digunakan.
Pengendapan vaksin Tersangka beku sama atau lebih cepat daripada contoh Dibekukan jangan
digunakan, vaksin sudah rusak.

165. Serkom, SIP, STR

166. BADAN KELENGKAPAN IDI


MKEK: Sebagai Lembaga Penegak Etik Kedokteran. melaksanakan
tugas bimbingan, pengawasan dan penilaian pelaksanaan etik
kedokteran, sehingga pengabdian profesi dan peran aktifnya tetap
sesuai, searah dan sejalan dengan cita-cita luhur profesi kedokteran
Divisi Pembinaan
Divisi Kemahkamahan:
Majelis Pemeriksa MKEK

MKDKI: sebagai Lembaga Penegak Disiplin Kedokteran


BHP2A: Biro Hukum,Pembelaan dan Pembinaan Anggota
Badan kelengkapan IDI yang bertugas melakukan pembinaan dalam hukum
kesehatan,membela anggota dalam melakukan profesinya baik yang menyangkut masalah
etik, hukum administrasi atau organisasi, baik diminta atau tidak diminta
560

WEWENANG DIVISI PEMBINAAN ETIKA PROFESI MKEK:

Memantau perencanaan, proses dan evaluasi pelaksanaan etika kedokteran yang dilakukan oleh
setiap dokter
Melakukan penilaian singkat, penyaringan, pengelompokan dan pemilahan kasus sengketa medik,
kasus dugaan pelanggaran etika kedokteran untuk ditindak lanjuti atau tidak ditindak lanjuti divisi
kemahkamahan
Membantu divisi kemahkamahan dalam menelaah kasus sengketamedik atau etikolegal
menyelesaikan kasus ringan mendahului penyidangan perkara oleh divisi kemahkamahan
Mengeksekusi sanksi etik, pembinaan etika, merekomendasikan pemulihan hak-hak profesi dokter
yang telah menjalani sanksi etik atau tidak terbukti melakukan pelanggaran etik

561

WEWENANG DIVISI KEMAHKAMAHAN MKEK:


Menilai keabsahan dan meneliti pengaduan, menetapkan persidangan, menilai
bukti, memanggil dan memeriksa saksi, menyidangkan, membuat keputusan dan
menjatuhkan sanksi etika
Menyidangkan kasus yang dikirim dari MKDKI atau lembaga disiplin tenaga
kesehatan lainnya
Merujuk kasus sengketa medik ke MKDKI
Memulihkan hak-hak profesi dokter
Melakukan pemeriksaan, penyidangan bersama majelis etik dari organisasi profesi
lainnya yang terkait

562

PUTUSAN MAJELIS MKEK:


Putusan adalah ketentuan akhir berupa ketetapan bersalah atau tidak
bersalah, dengan dinyatakan melanggar atau tidak melanggar Kodeki
Putusan bersalah diikuti dengan sanksi, sekaligus cara, ciri dan lama
pembinaan
Kecuali dinyatakan lain, putusa MKEK bersifat rahasia
Putusan yang sudah bersifat final dikirimkan ke Divisi Pembinaan Etika
Profesi untuk ditentukan pelaksanaan sanksinya

563

Apabila kasusnya juga menyangkut pelanggaran disiplin atau hukum yang sedang
dalam proses penanganan, maka persidangan dan pembuatan putusan MKEK
ditunda
Kepada pihak pasien pengadu, putusan dapat disampaikan secara lisan, bukti
tertulisnya disimpan di MKEK
Putusan MKEK dapat dikirim ke MKDKI propinsi, atau ke lembaga resmi yang
bertanggung jawab atas akreditasi, lisensi dan registrasi dokter
Salinan putusan MKEK tidak boleh diberikan kepada penyidik atas alasan apapun

564

167. Puskesmas
Rasio dokter-penduduk bervariasi, muai 1:5000 sampai 1:2500
(rata-rata 1:4000)
1 dokter sebagai kepala puskesmas (dapat merangkap sebagai
dokter di poliklinik umum), 1 dokter bertugas di puskesmas
pembantu dan melakukan kunjungan ke posyandu dibantu
bidan.

Satuan Penunjang Puskesmas


Puskesmas pembantu
adalah unit pelayanan kesehatan yang sederhana dan berfungsi menunjang dan membantu
melaksanakan kegiatan-kegiatan yang dilakukan puskesmas dlm ruang lingkup wilayah yg
lebih kecil. Dalam Repelita V wilayah kerja pustu meliputi 2-3 desa atau dengan jumlah
penduduk 2500 (luar jawa&bali) sampai 10.000 orang (jawa & bali)
Puskesmas Keliling
merupakan unit pelayanan kesehatan keliling yg dilengkapi dengan kendaraan bermotor
roda 4 atau perahu bermotor dan peralatan kesehatan, peralatan komunikasi serta sejumlah
tenaga yg berasal dari puskesmas
Bidan yg bertugas di desa
Ditempatkan di suatu desa dan bertanggung jawab langsung kepada kepala puskesmas.
Wilayah kerja dengan jumlah penduduk rata-rata 3000 orang.Tugas utama adalah membina
peran serta masyarakat melalui pembinaan posyandu dan pertolongan persalinan langsung
di rumah.

Berkaitan INPRES kesehatan No 5 Th 1974, Nomor 7 tahun 1975


dan nomor 4 tahun 1976, sejak pelita III maka konsep wilayah
puskesmas diperkecil yang mencakup suatu wilayah yang
mempunyai jumlah penduduk 30 000 jiwa
Sejak tahun 1979 mulai dirintis pembangunan puskesmas di daerahdaerah tingkat kelurahan atau desa yang memiliki jumalah penduduk
30 000 jiwa. Koordinasi kegiatan : salah satu puskesmas tersebut di
tunjuk sebagai penanggungjawab yang selanjutnya disebut sebagai
puskesmas induk sedang yang lain disebut puskesma pembantu. 2
kategori ini dikenal sampai sekarang

168. Perjalanan Alamiah Penyakit

169. Water Related Infection

170. Rantai penularan

Melihat Perjalanan penyakit pada pejamu, bentuk pembawa kuman (carrier)


dapat dibagi dalam beberapa jenis :
Healthy carrier (inapparent): Mereka yang dalam sejarahnya tidak pernah
menampakkan menderita penyakit tersebut secara klinis akan tetapi
mengandung unsur penyebab yang dapat menular kepada orang lain
Incubatory carrier (masa tunas): Mereka yang masih dalam masa inkubasi
tetapi telah mempunyai potensi untuk menularkan penyakit
Convalescent carrier (baru sembuh klinis): Mereka yang baru sembuh dari
penyakit menular tertentu tetapi masih merupakan sumber penularan
penyakit tersebut untuk masa tertentu
Chronic carrier (menahun): Merupakan sumber penularan yang cukup
lama

171. Rahasia profesi


Profesi dokter dapat melanggar rahasia profesi misalnya
kerahasiaan pasien bila menyangkut kepentingan yang lebih
penting atau jika dibiarkan akan memberikan dampak yang
lebih besar.

Contoh kasus:
Confidentiality and Sexually Transmitted Infections
Three situations that may justify breaching confidentiality:
there is abuse of a vulnerable person, such as a child or older person;
there is public health risk, such as with communicable disease; and
the patient is a substantial danger to himself/herself or to others

To consider in STD: the risk of reinfection, the seriousness of harm


The physician should limit the confidentiality breach to include only the
information each person needs to know

STDs in Patients with Multiple Partners: Confidentiality. JANET FLEETWOOD, PH.D., Am Fam Physician. 2006 Dec 1;74(11):1963-1964

Informing sexual contacts of patients with


a serious communicable disease
You may disclose information to a known sexual contact of a
patient with a sexually transmitted serious communicable disease
if you have reason to think that they are at risk of infection and
that the patient has not informed them and cannot be persuaded
to do so
Doctor should tell the patient before making the disclosure, if it is
practicable and safe to do so

Confidentiality: disclosing information about serious communicable diseases. General Medical Council.
September 2009.

Selain kewajiban menyimpan rahasia kedokteran, dalam


beberapa hal bahkan diwajibkan untuk melaporkan, yaitu
berdasarkan:
UU no.1 ttg karantina laut,
UU no.2 ttg karantina udara,
UU no.6 ttg wabah penyakit menular,
Instruksi Menkes RI no.72/Menkes/Inst/II/1988 ttg kwajiban
melaporkan penderita dengan gejala AIDS
Hukum pidana: pengungkapan rahasia diatur dalam KUHP Pasal 112
yang menyangkut pengungkapan rahasia negara dan pasal 322 yang
menyangkut profesi

172. Surat Kuasa


Surat kuasa ini merupakan jenis surat yang akurat karena, surat kuasa ini sering berkaitan
dengan lembaga hukum oleh sebab itu surat kuasa dapat diartikan kuasa yaitu untuk
mewakili kepentingan hukum seseorang.
Surat Kuasa Umum
Surat kuasa ini bertujuan memberikan kuasa kepada seseorang untuk mengurus kepentingan
pemberi kuasa, yaitu:
Melakukan tindakan pengurusan harta kekayaan pemberi kuasa.
Pengurus itu berkaitan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan kepentingan pemberian
kuasa atas harta kekayaan.
Titik berat kuasa hanya meliputi perbuatan atau tindakan pengurusan kepentingan pemberi kuasa.

Surat Kuasa Khusus


Dalam surat kuasa ini, pemberian kuasa dapat dilakukan secara khusus, yaitu hanya
mengenai suatu kepentingan atau lebih. Bentuk inilah yang menjadi landasan pemberian
kuasa untuk bertindak didepan pengadilan mewakili kepentingan pemberian kuasa sebagai
pihak.

Ciri-ciri Surat Kuasa :


Surat berisi pemberian kuasa kepada seseorang untuk
mengurus sesuatu kepentingan.
Bahasa yang digunakan singkat, lugas, efektif, dan tidak
terbelit-belit.

optimized by optima

173. Teknik pengumpulan data


Teknik

Keterangan

Wawancara

proses komunikasi atau interaksi untuk mengumpulkan informasi dengan cara tanya jawab antara peneliti
dengan informan atau subjek penelitian

Teknik

Keterangan

Observasi partisipasi

adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui
pengamatan dan penginderaan di mana peneliti terlibat dalam keseharian informan

observasi nonpartisipan

yaitu peneliti melakukan penelitian dengan cara tidak melibatkan dirinya dalam interaksi dengan objek
penelitian. Sehingga, peneliti tidak memposisikan dirinya sebagai anggota kelompok yang diteliti

Observasi tidak
terstruktur

ialah pengamatan yang dilakukan tanpa menggunakan pedoman observasi, sehingga peneliti
mengembangkan pengamatannya berdasarkan perkembangan yang terjadi di lapangan

Observasi kelompok

ialah pengamatan yang dilakukan oleh sekelompok tim peneliti terhadap sebuah isu yang diangkat
menjadi objek penelitian

Teknik

Keterangan

Focus Group
Discussion

yaitu upaya menemukan makna sebuah isu oleh sekelompok orang yang dianggap mewakili sejumlah publik
yang berbeda lewat diskusi untuk menghindari diri pemaknaan yang salah oleh seorang peneliti

Hariwijaya, M, Metodologi dan teknik penulisan skripsi, tesis, dan disertasi, elMatera Publishing, Yogyakarta, 2007

174. Sumber-sumber bias


1. Proses seleksi atau partisipasi subyek ( bias seleksi)
2. Proses pengumpulan data ( bias informasi)
3. Tercampurnya efek pajanan utama dengan efek faktor risiko
eksternal lainnya ( kerancuan/ confounding)

Bias seleksi
Distorsi efek berkaitan dengan cara pemilihan subyek kedalam
populasi studi
Bisa terjadi bila status penyakit pada studi kohort
(retrospektif), atau status exposure pada kasus kontrol atau
kedua-duanya pada studi kros-seksional mempengaruhi
pemilihan subyek pada kelompok-kelompok yang
diperbandingkan

Bias informasi
Bias informasi (information bias) atau bias observasi (observation bias)
atau bias pengukuran (measurement bias) adalah bias yang terjadi
karena perbedaan sistematik dalam mutu dan cara pengumpulan data
(misalnya karena menggunakan kriteria atau metode pengukuran yang
tidak sahih) tentang pajanan atau penyakit/masalah kesehatan dari
kelompok-kelompok studi.
Ascertainment Bias disebut juga Information Bias. Merupakan
penyimpangan dalam memperkirakan efek atau pengaruh karena
kesalahan pengukuran atau kesalahan pengelompokan subyek
penelitian menurut satu atau lebih variabel.

Types of bias
1. Sample (subject selection) biases
which may result in the subjects in the sample being
unrepresentative of the population which you are interested in

2. Measurement (detection) biases


which include issues related to how the outcome of interest was
measured

3. Intervention (performance) biases


which involve how the treatment itself was carried out.

Selection Bias
Volunteer or referral bias
People who volunteer to participate in a study (or who are referred to it) are often different than
non-volunteers/non-referrals. This bias usually, but not always, favors the treatment group, as
volunteers tend to be more motivated and concerned about their health.
Non-response bias
When those who do not respond to a survey differ in important ways from those who respond or
participate. This bias can work in either direction.
Self-selection bias
Arises in any situation in which individuals select themselves into a group
Prevalence-incidence bias
Happens when mild or asymptomatic cases as well as fatal short disease episodes are missed
when studies are performed late in disease process

http://www.umdnj.edu/idsweb/shared/biases.htm

Measurement Bias
Instrument bias. Calibration errors lead to inaccurate measurements being
recorded
Insensitive measure bias. When the measurement tool(s) used are not sensitive
enough to detect what might be important differences in the variable of interest.
Expectation bias. Occurs in the absence of masking or blinding, when observers
may measuring data toward the expected outcome.
Recall or memory bias. If outcomes being measured require that subjects recall
past events. Often a person recalls positive events more than negative ones.
Attention bias. Occurs because people who are part of a study are usually aware
of their involvement, and as a result of the attention received may give more
favorable responses or perform better than people who are unaware of the
studys intent.
Verification or work-up bias. Associated mainly with test validation studies. In
http://www.umdnj.edu/idsweb/shared/biases.htm

Intervention Bias
Contamination bias. When members of the 'control' group inadvertently receive the
treatment or are exposed to the intervention
Co-intervention bias. When some subjects are receiving other (unaccounted for)
interventions at the same time as the study treatment.
Timing bias(es). If an intervention is provided over a long period of time, maturation alone
could be the cause for improvement. If treatment is very short in duration, there may not
have been sufficient time for a noticeable effect in the outcomes of interest.
Compliance bias. When differences in subject adherence to the planned treatment regimen
or intervention affect the study outcomes.
Withdrawal bias. When subjects who leave the study (drop-outs) differ significantly from
those that remain.
Proficiency bias. When the interventions or treatments are not applied equally to subjects.
This may be due to skill or training differences among personnel and/or differences in
resources
http://www.umdnj.edu/idsweb/shared/biases.htm

175. Metode PAHO

Pemecahan Masalah
I. Membuat Prioritas Masalah
Priority = Importance x Technological Feasibility x Resources
Pentingnya masalah (Importancy = I) yang terdiri dari:

Prevalence = P. Merupakan besarnya masalah


Severity = S .Akibat yang ditimbulkan oleh masalah
Rate of Increase = RI. Merupakan suatu kenaikan besarnya masalah
Degree of unmeet need = DU. Yaitu derajat kebutuhan masyarakat yang tidak terpenuhi
Social Benefit = SB. Adalah keuntungan sosial karena selesainya masalah
Public Concern = PB. Merupakan rasa prihatin masyarakat terhadap masalah
Political Climate = PC. Adalah suasana politik

Importance = Prevalence + Severity +Rate of Increase + Degree of unmet need + Political Climate + Social Benefit
+ Public Concern

Technology = T . Merupakan kelayakan teknologi . Makin layak teknologi yang tersedia dan
dapat dipakai untuk mengatasi masalah, makin diprioritaskan masalah tersebut.
Sumber daya yang tersedia (Resources = R). Terdiri dari tenaga (man), dana (money), dan
sarana (material). Penyelesaian masalah akan semakin diprioritaskan bila sumber daya
yang diperlukan tersedia.
(P = priority, T = technology, I =importancy, R=resources), dengan memberi nilai antara 1
(tidak penting) sampai dengan 5 (sangat penting).

II. Alternatif Pemecahan Masalah


III. Prioritas Pemecahan Masalah
= Efektivitas Jalan keluar (MxIxV)
Efisiensi jalan keluar (C)
Efektifitas jalan keluar : Magnitude x Importancy x Velocity
Magnitude : Besarnya masalah yang dapat diatasi
Importancy : Pentingnya jalan keluar untuk permasalahan
Velocity : Kecepatan jalan keluar mengatasi masalah

Efisiensi jalan keluar berkaitan dengan cost


Nilai diberikan 1-5

176. Keabsahan Data


Dalam penelitian kuantitatif untuk mendapatkan data yang
valid dan reliabel yang diuji validitas dan reliabilitasnya adalah
instrumen penelitiannya.
Dalam penelitian kualitatif yang diuji adalah datanya. Dalam
penelitian kualitatif, temuan atau data dapat dinyatakan valid
apabila tidak ada perbedaan antara yang dilaporkan peneliti
dengan apa yang sesungguhnya terjadi pada obyek yang
diteliti.

Uji kredibilitas data atau kepercayaan terhadap hasil penelitian


kualitatif antara lain dilakukan dengan perpanjangan pengamatan,
peningkatan ketekunan dalam penelitian, peer debriefing,
triangulasi, analisis kasus negatif, bahan referensi, dan mengadakan
member check.

Perpanjangan pengamatan: Perpanjangan pengamatan ini berarti


hubungan peneliti dengan narasumber akan semakin terbentuk
rapport, semakin akrab (tidak ada jarak lagi), semakin terbukti,
saling mempercayai sehingga tidak ada informasi yang
disembunyikan lagi.
Meningkatkan ketekunan: berarti melakukan pengamatan secara
lebih cermat dan berkesinambungan.
Peer debriefing (membicarakannya dengan orang lain):
mengekspos hasil sementara atau hasil akhir yang diperoleh dalam
bentuk diskusi analitik dengan rekan-rekan sejawat.

Triangulasi: pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai


cara dan berbagai waktu. Pemeriksaan keabsahan data yang
memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data untuk keperluan
pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data tersebut.
Analisis kasus negatif: Kasus negatif adalah kasus yang tidak sesuai
atau berbeda dengan hasil penelitian hingga pada saat tertentu.
Bahan referensi: adanya pendukung untuk membuktikan data yang
telah ditemukan oleh peneliti.
Member check: proses pengecekan data yang diperoleh peneliti
kepada pemberi data. Tujuan member check adalah untuk
mengetahui seberapa jauh data yang diperoleh sesuai dengan apa
yang diberikan oleh pemberi data.

177. Infanticide

178. KDRT
Kekerasan dalam rumah tangga :
Undang-Undang PKDRT ini menyebutkan bahwa Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah
setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya
kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran
rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau
perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga (Pasal 1
ayat 1).

Siapa saja yang termasuk didalam lingkup rumah tangga :


Lingkup rumah tangga dalam Undang-Undang ini meliputi (Pasal 2 ayat 1):
Suami, isteri, dan anak (termasuk anak angkat dan anak tiri);
Orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan orang sebagaimana dimaksud
dalam huruf a karena hubungan darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan, dan perwalian,
yang menetap dalam rumah tangga (mertua, menantu, ipar dan besan); dan/atau rang yang
bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga tersebut (Pekerja
Rumah Tangga).

Ketentuan Pidana Pasal 44

179. Euthanasia
Dengan sengaja tidak melakukan sesuatu untuk memperpanjang hidup
seorang pasien atau sengaja melakukan sesuatu untuk memperpendek
hidup atau mengakhiri hidup seorang pasien, dan ini dilakukan untuk
kepentingan pasien sendiri
Konsep mati : Jika batang otak telah mati (brain stem death) dapat
diyakini bahwa manusia tersebut telah mati baik secara fisik maupun
sosial. Yang harus diyakini adalah proses kematian tersebut bersifat
irreversible.

EUTHANASIA AKTIF
Perbuatan yang dilakukan secara medik melalui intervensi aktif
oleh seorang dokter dengan tujuan untuk mengakhiri hidup
manusia
MEMATIKAN SECARA SENGAJA
Kondisi sudah sangat parah / stadium akhir
Tidak mungkin sembuh / bertahan lama
Dokter memberikan suntikan yang mematikan

Euthanasia aktif
Eutanasia aktif langsung
Dilakukannya tindakan medik secara terarah yg diperhitungkan
akan mengakhiri hidup pasien, atau memperpendek hidup
pasien.
Eutanasia aktif tidak langsung
Saat dokter atau tenaga kesehatan melakukan tindakan medik
untuk meringankan penderitaan pasien, namun mengetahui
adanya risiko tersebut dapat memperpendek atau mengakhiri
hidup pasien

EUTHANASIA PASIF
Perbuatan menghentikan atau mencabut segala tindakan
atau pengobatan yang perlu untuk mempertahankan
hidup manusia
TINDAKAN DOKTER BERUPA PENGHENTIAN PENGOBATAN PASIEN
Tidak mungkin disembuhkan
Kondisi ekonomi pasien terbatas

Ditinjau dari jenis permintaan


Voluntary euthanasia: euthanasia yang dilakukan atas permintaan pasien
secara sadar dan dilakukan berulang-ulang
Involuntary euthanasia: didasarkan pada keputusan dari seseorang yang tidak
berkompeten atau tidak berhak untuk mengambil suatu keputusan, misalnya
wali dari si pasien. Namun di sisi lain, kondisi pasien sendiri tidak
memungkinkan untuk memberikan ijin, misalnya pasien mengalami koma atau
tidak sadar. Pada umumnya, pengambilan keputusan untuk melakukan
euthanasia didasarkan pada ketidaktegaan seseorang melihat sang pasien
kesakitan.

Euthanasia
Menurut KODEKI (pasal 9, bab II), dokter tidak diperbolehkan:
Menggugurkan kandungan
Mengakhiri hidup seseorang yang sakit meskipun menurut pengetahuan
tidak akan sembuh lagi.

Tapi, bila pasien telah mengalami mati batang otak, maka secara
keseluruhan pasien tersebut telah mati meskipun jantung masih
berdenyut.
Penghentian tindakan terapeutik dilakukan dengan
mempertimbangkan keinginan pasien & keluarga pasien.

Euthanasia
Ketentuan pidana terkait euthanasia aktif dengan permintaan:
Pasal 344 KUHP:
Barang siapa menghilangkan jiwa orang lain atas permintaan orang
itu sendiri, yang disebutnya dengan nyata & sungguh-sungguh,
dihukum penjara selama-lamanya dua belas tahun.

Ketentuan pidana terkait euthanasia aktif/pasif tanpa


permintaan:
Pasal 338, 340, 339 KUHP dihukum penjara.

Euthanasia
Pendapat sebagian ahli hukum: melakukan perawatan medis
yang tidak ada gunanya dapat dianggap sebagai penganiayaan
dokter seharusnya tidak memberi terapi jika secara medis
hasilnya tidak dapat diharapkan, apalagi jika tanpa izin pasien.

180. Luka Akibat Kekerasan


Kekerasan Benda Tumpul
Memar
Perdarahan dalam jaringan bawah kulit akibat pecahnya kapiler/vena;
Dapat memberikan petunjuk tentang bentuk benda penyebab
Luka Lecet
Cedera pada epidermis yang bersentuhan dengan benda yang memiliki
permukaan kasar atau runcing
Luka Robek
Luka terbuka akibat trauma benda tumpul, menyebabkan kulit teregang ke
satu arah.
Bentuk luka tidak beraturan, tepi tidak rata, jembatan jaringan

Kekerasan Benda Setengah Tajam


Cedera akibat benda tumpul yang memiliki tepi rata (mis. meja,
lempeng besi, gigi)
Luka : seperti akibat benda tumpul tapi bentuknya beraturan
Jejas Gigit (bite-mark) : luka lecet tekan/hematom berbentuk garis
lengkung terputus-putus

Kekerasan Benda Tajam


Luka iris, luka tusuk, luka bacok
Tepi dan dinding luka yang rata, berbentuk garis, tidak terdapat
jembatan jaringan, dasar luka bentuk garis atau titik

Visum et Repertum untuk Perlukaan


Tujuan pemeriksaan forensik pada korban hidup : Untuk
mengetahui penyebab luka dan derajat parahnya luka
Dalam pemberitaan disebutkan : Keadaan umum korban, luka-luka
dengan uraian letak, jenis, sifat, ukuran, serta tindakan medik yang
dilakukan, riwayat perjalanan penyakit, dan keadaan akhir saat
perawatan selesai.
Dalam kesimpulan disebutkan : luka-luka atau cedera yang
ditemukan, jenis benda penyebab, serta derajat perlukaan. Tidak
dituliskan pendapat bagaimana terjadinya luka dan oleh siapa.

181. Tenggelam
Kematian akibat mati lemas (asfiksia) disebabkan masuknya cairan
ke dalam saluran pernapasan
Mekanisme kematian :

Asfiksia akibat spasme laring


Asfiksia akibat gangging dan choking
Refleks vagal
Fibrilasi ventrikel (air tawar) konsentrasi elektrolit air tawar lebih
rendah menyebabkan gangguan keseimbangan ion K+ dan Ca++
Edema pulmoner (air asin) konsentrasi elektrolit lebih tinggi, air tertarik
dari sirkulasi pulmonal ke jar.interstisial

Tenggelam
Perlu ditentukan pada pemeriksaan :
Identitas korban
Apakah korban masih hidup sebelum tenggelam

Pemeriksaan diatom
Kadar elektrolit magnesium darah
Benda asing dalam paru dan saluran pernapasan
Air dalam lambung dengan sifat sama dengan air tempat korban tenggelam

Penyebab kematian sebenarnya

Tenggelam
Faktor yang berperan pada proses kematian (alkohol, obat-obatan)
Tempat korban pertama kali tenggelam
Pemeriksaan diatom dari air tempat korban ditemukan membantu
menentukan apakah korban tenggelam di tempat itu atau tempat lain

Pemeriksaan Diatom : Alga bersel satu, dinding silikat tahan panas dan asam kuat.
Dijumpai dalam air tawar, air laut, air sungai, dan air sumur. Bila seseorang mati
karena tenggelam, maka cairan bersama diatom masuk ke saluran pernapasan
atau pencernaan.

Perbedaan Tenggelam
Air Tawar vs Air Laut
Air Tawar

Air Laut

Paru-paru besar, relatif kering dan ringan

Paru-paru besar, relatif basah dan berat

Hemodilusi

Hemokonsentrasi

Hipervolemi

Hipovolemi

Hiperkalemi

Hipokalemi

Hiponatremia

Hipernatremia

Berat jenis darah di jantung kiri lebih rendah

Berat jenis darah di jantung kiri lebih tinggi

182. Visum et Repertum


VeR : keterangan yang dibuat oleh dokter atas permintaan penyidik yang
berwenang, mengenai hasil pemeriksaan medik, berdasarkan keilmuannya dan
dibawah sumpah, untuk kepentingan peradilan
Pasal 133 KUHAP:
Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik
luka, keracunan, ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan
tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli
kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.
Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan
secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan
luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat
Permintaan bantuan kepada dokter sebagai ahli hanya dapat diajukan secara tertulis
dengan menyebutkan secara jelas jenis pemeriksaan yang dikehendaki
Pasal 7(1) butir h dan pasal 11 KUHAP : yang berwenang meminta keterangan ahli
penyidik & penyidik pembantu

183 & 184. Pemeriksaan jenazah akibat asfiksia

Kasus Pencekikan
Penekanan leher dengan tangan yang menyebabkan dinding
saluran napas bagian atas tertekan dan terjadi penyempitan
saluran nafas sehingga udara pernapasan tidak dapat lewat
Mekanisme:
Asfiksia
Refleks vagal: akibat rangsangan pada reseptor nervus vagus pada
corpus caroticus di percabangan arteri karotis interna dan eksterna

Pencekikan
Ditemukan pembendungan pada muka dan kepala karena
turut tertekan pembuluh darah vena dan arteri superfisial,
arteri vertebralis tidak terganggu
Tanda kekerasan pada leher: luka lecet kecil, dangkal,
berbentuk bulan sabit akibat penekanan kuku jari, luka memar
Fraktur tulang lidah (os hyoid) dan kornu superior rawan
gondok unilateral. Patah tulang lidah terkadang merupakan
satu-satunya bukti adanya kekerasan bila mayat sudah alma
dikubur sebelum diperiksa.

185. Kejahatan seksual

186. Luka Memar


Memar/ kontusio adalah suatu perdarahan dalam jaringan bawah
kulit/kutis akibat pecahnya kapiler dan vena, yang disebabkan oleh
kekerasan benda tumpul.
Umur luka memar secara kasar dapat diperkirakan melalui
perubahan warnanya. Pada saat timbul, memar berwarna merah
kemudian berubah menjadi ungu atau hitam, setelah 4-5 hari akan
berwarna hijau yang kemudian akan berubah menjadi kuning
dalam 7-10 hari dan akhirnya menghilang dalam 14-15 hari.
Perubahan warna tersebut berlangsung mulai dari tepi dan
waktunya dapat bervariasi tergantung derajat dan berbagai faktor
yang memengaruhinya.

187. Anatomi Tuba Telinga

Tuba Eustachius menghubungkan rongga telinga tengah dengan nasofaring


Fungsi: ventilasi, drainase sekret, menghalangi sekret masuk dari nasofaring ke
telinga tengah
Pada anak, tuba lebih pendek, lebih lebar, dan kedudukannya lebih horizontal
dari orang dewasa. Oleh karena itu, lebih mudah terkena otitis media

188. Fistula Preaurikuler


Terjadi akibat kegagalan penggabungan
tuberkel
Sering ditemukan di depan tragus, bulat
atau lonjong, ukuran seujung pensil. Dari
muara fistel, sering keluar cairan dari kel.
sebasea
Pasien biasanya datang dengan obstruksi
atau fistula terinfeksi
Terapi: antibiotik. Bila terbentuk abses,
insisi drainase. Operasi jika sekret keluar
berkepanjangan atau terjadi infeksi
berulang

189. Penurunan pendengaran


Garpu tala
512 Hz
Tes Rinne

Normal

Tuli Kondukif

Tuli Sensorineural

Positif

Negatif

Positif

Tes Weber

Tidak ada
lateralisasi

Lateralisasi ke
telinga sakit

Lateralisasi ke
telinga sehat

Sama dengan
pemeriksa

Memanjang

Memendek

Tes Swabach

190. Presbiakusis
Tuli SN frekuensi tinggi, simetris
Umumnya mulai usia 65 tahun, laki-laki lebih cepat
Terjadi akibat proses degenerasi perubahan struktur koklea dan N.VIII.
Terjadi atrofi dan degenerasi sel rambut penunjang pada organ Corti pada koklea
Perubahan vaskular pada stria vaskularis
Berkurangnya jumlah dan ukuran sel ganglion dan saraf

Klinis: berkurang pendengaran perlahan, progresif, simetris pada kedua


telinga. Kapan berkurangnya pendengaran tidak diketahui pasti. Tinitus,
cocktail party deafness, fenomena recruitment
Terapi: hearing aid, speech reading (latihan membaca ujaran), auditory
training (latihan mendengar)

191. Audiometri
Tes Bisik

Semi kuantitatif, menentukan derajat ketulian secara kasar. Hal yang perlu diperhatikan ialah
ruangan cukup tenang, panjang minimal 6 meter. Pada nilai normal tes berbisik : 5/6 6/6

Tes Garpu Tala

Pemeriksaan kualitatif, Jenis pemeriksaan ini adalah tes rinne, schwabach, dan weber.

Tes Audiometri tutur

Untuk menilai kemampuan pasien dalam pembicaraan sehari-hari, dan untuk menilai pemberian alat
bantu dengar. Pada tes ini dipakai kata-kata yang sudah disusun dalam silabus (suku kata). Pasien
diminta untuk mengulangi kata-kata yang didengar melalui kaset tape recorder.

Tes
Audiometri Diperiksa kelenturan membran timpani dengan tekanan tertentu pada meatus akustikus eksternus.
Pada lesi di koklea, ambang rangsang refleks stapedius menurun, sedangkan pada lesi di retrokoklea,
impedans
ambang itu naik.
Tes Audiometri Nada Dilakukan dengan menggunakan audiometer, dan hasil pencatatannya disebut audiogram. Dapat
dilakukan pada anak berusia lebih dari 4 tahun yang kooperatif. Sebagai sumber suara digunakan
Murni
nada murni yaitu bunyi yang hanya terdiri dari 1 frekuensi. Menilai hantaran suara melalui udara (air
conduction) dengan headphone beda frekuensi, serta menilai hantaran tulang (bone conduction)
dengan bone vibrator pada prosesus mastoid.

Pemeriksaan lainnya
Function
Otoacoustic emission

a sound which is generated from within the inner ear;


related to the amplification function of the cochlea;
simple, non-invasive, test for hearing defects in newborn babies and in children who are too young to cooperate in
conventional hearing tests

Auditory brainstem response

an auditory evoked potential extracted from ongoing electrical activity in the brain and recorded via electrodes
placed on the scalp.;
The resulting recording is a series of vertex positive waves of which I through V are evaluated;
used for newborn hearing screening, auditory threshold estimation, intraoperative monitoring, determining
hearing loss type and degree, and auditory nerve and brainstem lesion detection

Behavioural observation
audiometry

presenting sounds to a baby and observing their responses;

Visual reinforcement
audiometry

The procedure relies on continued cooperation of the child, in particular their ability to stay in the required test
position;
VRA uses lighted and/or animated toys that are flashed on simultaneously with the presentation of an auditory
signal (warble tones, narrow band noise or speech) during a conditioning period.

Pure tone audiometry

a subjective, behavioural measurement of hearing threshold, as it relies on patient response to pure tone stimuli.
used on adults and children old enough to cooperate with the test procedure
hearing test used to identify hearing threshold levels of an individual, enabling determination of the degree, type
and configuration of a hearing loss;

192. Pansinusitis
Sinusitis: Inflamasi mukosa sinus paranasal. Umumnya, disertai atau
dipicu oleh rinitis, sehingga sering disebut rinosinusitis
Bila mengenai beberapa sinus, disebut multisinusitis. Bila mengenai
semua sinus, disebut pansinusitis
Keluhan: hidung tersumbat disertai nyeri pada muka dan ingus
purulen, post-nasal drip
Tanda khas: pus di meatus medius atau superior
Penunjang: foto polos Waters, PA, lateral. Gold standard-nya adalah
CT san
Terapi: dekongestan, antibiotik, bedah FEES

193. Pemeriksaan radiologi


Benda asing di hidung:
Clear his nose and try to see the foreign body. If you cannot see it, take a lateral X-ray.
With the exception of metallic or calcified objects, most nasal foreign bodies (NFBs) are radiolucent.
When an alternate diagnosis (ie, tumor, sinusitis) is being considered, advanced imaging (eg, CT scan) may be helpful.
(http://www.meb.uni-bonn.de/dtc/primsurg/docbook/html/x9164.htm, http://emedicine.medscape.com/article/763767overview#aw2aab6b6l)
Allergic rhinitis:
While radiographic studies are not needed to establish the diagnosis of allergic rhinitis, they can be helpful for evaluating
possible structural abnormalities or to help detect complications or comorbid conditions, such as sinusitis or adenoid
hypertrophy.
A 3-view sinus series (Caldwell, Waters, and lateral views) can be helpful in evaluating for sinusitis of the maxillary, frontal, and
sphenoid sinuses.
Plain x-ray films can be helpful for diagnosing acute sinusitis, but CT scanning of the sinuses is more sensitive and specific.
For chronic sinusitis, plain x-ray films are often inconclusive, and CT scan is much preferred.
(http://allergycases.org/2012/02/facial-features-of-allergic-disease.html, http://emedicine.medscape.com/article/134825workup#a0720

194. Abses Peritonsil


Abses peritonsil terjadi akibat komplikasi tonsilitis akut atau infeksi yang
bersumber dari kelenjar mucus Weber di kutub atas tonsil. Biasanya unilateral
Biasanya kuman penyebabnya sama dengan kuman penyebab tonsilitis.
Selain gejala dan tanda tonsilitis akut, terdapat juga odinofagia (nyeru menelan)
yang hebat, biasanya pada sisi yang sama juga dan nyeri telinga (otalgia), muntah
(regurgitasi), mulut berbau (foetor ex ore), hipersalivasi, suara sengau, dan
(trismus), serta pembengkakan kelenjar submandibula dengan nyeri tekan
Pada stadium permulaan (stadium infiltrat), selain pembengkakan, tampak
permukaan hiperemis.
Bila proses berlanjut, daerah tersebut lebih lunak dan kekuningan. Tonsil
terdorong ke tengah, depan, dan bawah, uvula bengkak, dan terdorong ke sisi
kontralateral.
Bila terus berlanjut, peradangan jaringan di sekitarnya menyebabkan iritasi
m.pterigoid interna, sehingga timbul trismus.

Waktu (setelah
akut)
Trismus

Infiltrat peritonsil
tonsilitis 13 hari
Biasanya kurang/ tidak ada

Abses peritonsil
45 hari
Ada

Untuk memastikan infiltrate atau abses peritonsil, dilakukan pungsi percobaan di tempat yang paling
bombans (umumnya pada kutub atas tonsil).
jika pus (+): abses
Jika pus (-): infiltrate
Terapi abses peritonsil:
Stadium infiltrasi
Stadium abses
Antibiotika dosis tinggi
Bila telah terbentuk abses, dilakukan insisi drainase.
penisilin
600.000-1.200.000
unit
atau Kemudian dianjurkan operasi tonsilektomi, paling
ampisilin/amoksisilin 3-4 x 250-500 mg atau
baik 2-3 minggu sesudah drainase abses.
sefalosporin 3-4 x 250-500 mg, metronidazol 3-4 x
250-500 m).
Obat simtomatik
Kumur-kumur dengan air hangat dan kompres
dingin pada leher.

195. Tonsilitis
Acute Tonsilitis

Chronic Tonsilits

Fever, sore throat, foul breath,


dysphagia, odynophagia and tender
cervical lymph nodes.
Airway obstruction may manifest as
mouth breathing, snoring, sleep
disordered breathing, nocturnal
breathing pauses, or sleep apnea.
Symptoms usually resolve in 3-4 days
but may last up to 2 weeks despite
adequate therapy.

Chronic sore throat, halitosis, tonsillitis,


and persistent tender cervical nodes

Tonsilitis Kronik
Acute tonsillitis:
Viral: similar with acute rhinits + sore throat
Bacterial: GABHS, pneumococcus, S. viridan, S.
pyogenes.

Detritus follicular tonsillitits


Detritus coalesce lacunar tonsillitis.
Sore throat, odinophagia, fever, malaise, otalgia.
Th: penicillin or erythromicin

Chronic tonsillitis
Persistent sore throat, anorexia, dysphagia, & pharyngotonsillar
erythema
Lymphoid tissue is replaced by scar widened crypt, filled by
detritus.
Foul breath, throat felt dry.
Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.
Diagnostic handbook of otorhinolaryngology.

Technique for swabbing the throat:


1. Depress the patient's tongue completely with
a sterile tongue blade.
2. Using the appropriate sterile swab, start at
one side of the throat. Vigorously swab the
tonsillar fissa, go across the back of the throat
and finish by swabbing the other tonsillar fissa.
Be sure to swab any obvious pus. Withdraw the
swab and take care to avoid touching lips, teeth,
palate, cheeks, or tongue.

Tonsilitis akut
Radang akut tonsil oleh Streptokokus beta
hemolitikus grup A
Klinis: nyeri tenggorok, nyeri menelan, demam
dengan suhu tinggi, lesu, nyeri sendi, otalgia.
Tonsil membengkak, hiperemis, dan terdapat
detritus bentuk folikel, lakuna, atau tertutup
membran semu. KGB submandibula bengkak
dan nyeri tekan
Terapi: antibiotika spektrum luas, antipiretik,
obat kumur

Tonsilitis kronik
Faktor predisposisi: rokok menahun, higiene
mulut buruk, pengobatan tonsilitis akut yang
tidak adekuat
Klinis: tonsil membesar dengan permukaan yang
tidak rata, kriptus melebar dan beberapa kripti
terisi detritus. Rasa mengganjal di tenggorok,
rasa kering, dan napas berbau
Terapi: ditujukan pada higiene mulut dengan
berkumur atau obat isap. Tonsilektomi jika
infeksi berulang atau kronik, gejala sumbatan,
atau kecurigaan neoplasma

196. Faringitis
Diagnosis

Characteristic

Dyphteri

Local inflammation & toxin-mediated tissue necrosis causes formation of a fibrinous, patchy,
adherent, gray-black pseudomembrane

Angina plaut vincent

Caused by Treponema vincentii and Spirochaeta denticulata and arises most often in
conditions of overcrowding. Sighs: fever, unilateral pain on swallowing, and ipsilateral cervical
lymphadenopathy; unilateral deep ulcer on the upper pole of the tonsil, which is covered by a
white exudative membrane.

Ca tonsil

Painful ulceration with induration of the tonsil. Lymph node enlargement.

Syphilitic pharyngitis

Painless ulcer in primary syphillis. Secondary syphilis: headache, malaise, low-grade fever,
sore throat, rhinorrhea, neck mass, and rash. Pharynx : oval, red maculopapules & white
patches. The tonsils (unilateral or bilateral) may be enlarged and red.

Tonsilitis TB

hypertrophic tonsils with ulceration & white exudates. Granulomatous inflammation, ZiehlNeelsen stain (+).

1) Cummings otolaryngology head & neck surgery. 2) Current diagnosis & treatment in otorhinolaryngology.

Diagnosis

Characteristic

Tonsilitis difteri

Tonsil membengkak ditutupi bercak putih kotor membentuk membran semu, dapat meluas ke
palatum mole, uvula, nasofaring, laring, trakea, & bronkus. Bila membran diangkat dapat berdarah.
Kelenjar limfa dapat membesar bull neck atau Burgemeesters hals

Faringitis luetika

Primer:
Bercak keputihan pada lidah, palatum mole, tonsil, & dinding posterior faring. Ulkus faring yg
tidak nyeri & pembesaran KGB mandibula yang tidak nyeri tekan.
Sekunder:
Eritema pada dinding faring yang menjalar ke arah laring.
Tersier:
Terdapat guma pada tonsil & palatum.

Tonsilitis TB

Tonsil hipertrofi dengan ulserasi & eksudat putih.


Inflamasi granulomatosa, Ziehl-Neelsen stain (+).

1) Cummings otolaryngology head & neck surgery. 2) Current diagnosis & treatment in otorhinolaryngology.

Faringitis bacterial:
Penyebab paling sering adalah Streptokokus -hemolitikus grup A
Klinis: nyeri tenggorok, demam tinggi, jarang disertai batuk
PF: tonsil membesar, faring dan tonsil hiperemis, dan terdapat
eksudat di permukaannya. Bercak petekhie pada palatum dan
faring. KGB colli anterior membesar, kenyal, NT(+)
Terapi: antibiotik (penisilin G benzatin, amoksisilin, atau
eritromisin), analgetika, kumur dengan air hangat atau antiseptik

197. Laringitis akut


Croup merupakan inflamasi dan obstruksi berat di jalan napas atas dan bisa
muncul sebagai laringotrakeobronkitis (paling umum), laringitis, dan laringitis
spasmodik akut. Croup harus selalu dibedakan dari epiglotitis.
Laringitis
- Biasanya ringan; tidak menyebabkan distres respiratorik kecuali pada bayi
- Sakit tenggorokan dan batuk yang bisa berkembang menjadi suara parau
- Retraksi suprasternal dan interkostal
- Stridor inspiratorik
- Dispnea
- Bunyi napas berkurang
- Gelisah
- Di stadium lanjutan : dispnea dan letih parah

Tindakan Penanganan
- Beri kelembaban dingin saat pasien tidur
- Beri antipiretik, misalnya asetaminofen
- Pasien yang mengalami distres respiratorik yang menunggu
hidrasi oral harus dirawat inap dan membutuhkan penggantian
cairan untuk mencegah dehidrasi
- Terapi antibiotik diperlukan untuk infeksi bakteri
- Terapi oksigen juga bisa dibutuhkan
- Epinefrin bisa meringankan stridor untuk sementara waktu,
sedangkan glukokortikoid yang dinebulasi atau parental memberi
keringanan di banyak kasus.

198. Pemeriksaan pendengaran

Function
Otoacoustic emission

a sound which is generated from within the inner ear;


related to the amplification function of the cochlea;
simple, non-invasive, test for hearing defects in newborn babies and in children who are too young to
cooperate in conventional hearing tests

Auditory brainstem response

an auditory evoked potential extracted from ongoing electrical activity in the brain and recorded via
electrodes placed on the scalp.;
The resulting recording is a series of vertex positive waves of which I through V are evaluated;
used for newborn hearing screening, auditory threshold estimation, intraoperative monitoring, determining
hearing loss type and degree, and auditory nerve and brainstem lesion detection

Behavioural observation
audiometry

presenting sounds to a baby and observing their responses;

Visual reinforcement
audiometry

The procedure relies on continued cooperation of the child, in particular their ability to stay in the required
test position;
VRA uses lighted and/or animated toys that are flashed on simultaneously with the presentation of an
auditory signal (warble tones, narrow band noise or speech) during a conditioning period.

Pure tone audiometry

a subjective, behavioural measurement of hearing threshold, as it relies on patient response to pure tone
stimuli.
used on adults and children old enough to cooperate with the test procedure
hearing test used to identify hearing threshold levels of an individual, enabling determination of the degree,
type and configuration of a hearing loss;

199. Angiofibroma Nasofaring Juvenile


Deskripsi

Batasan

Tumor jinak pembuluh darah di nasofaring (secara klinis bersifat ganas)


Umumnya pada laki-laki dekade ke -2 (7 19 tahun)
Tumor tumbuh di bawah mukosa ditepi posterior dan lateral koana di atap nasofaring

Gejala

Anamnesis: hidung tersumbat progresif, disertai epistaksis masif berulang, dapat disertai rinore,
hiposmia, tuli dan otalgia
Rinoskopi posterior: massa tumor konsistensi kenyal, warna abu-abu sampai merah muda diliputi
selaput lendir keunguan
Penunjang: Foto waters tampak tanda Holman Miller, CT scan, MRI, arteriografi

Terapi

Operasi
Terapi hormonal
Radioterapi

Sumber: Buku ajar ilmu THT 2007

200.Epistaksis
Epistaksis Anterior

Epistaksis Posterior

Sumber

Plexus Kisselbach
Arteri etmoidalis anterior

Arteri sfenopalatina
Arteri etmoidalis posterior

Gejala

Perdarahan ringan

Perdarahan hebat

Etiologi

Trauma (mengorek hidung), infeksi

Hipertensi, arteriosklerosis, pnyakit


kardiovaskular

Terapi

Menekan hidung selama 10 15


Kaustik dengan Nitrat Argenti 25 %
Tampon anterior selama 2 hari

Tampon posterior (Bellocq) 2 3 hari

Sumber: Buku ajar ilmu THT 2007

optimized by optima

Epistaksis anterior

Epistaksis anterior

Sumber perdarahan

Pleksus Kiesselbach,
anterior

a.

etmoidalis A. etmoidalis anterior, a. sfenopalatina

Gejala

Ringan, dapat berhenti sendiri

Perdarahan lebih hebat, jarang berhenti


sendiri

Faktor risiko

Sering mengorek hidung

Sering pada pasien HT, arteriosklerosis,


penyakit KV

Terapi awal

Perbaikan KU, posisikan duduk, mencari sumber perdarahan, pasang tampon


sementara dengan kapas yang dibasahi adrenalin 1/5.000-1/10.000 dan lidocaine
2%

Terapi spesifik

Menekan hidung 1015


Kaustik dengan AgNO3
antibiotik
Tampon anterior 2 hari

dan

Tampon posterior (Bellocq) 2 hari


krim Kauterisasi atau ligasi a. sfenopalatina