Anda di halaman 1dari 26

Penerapan Model Collective Commercial Breeding Farm

dalam Rangka Peningkatan Populasi dan Kualitas Genetik


Ternak Ayam Buras Di Propinsi Nusa Tenggara Timur
1. Pendahuluan
Nusa Tenggara Timur telah sejak lama dikenal sebagai daerah peternakan
terutama ternak

ayam buras. Daerah ini dalam sejarahnya menjadi daerah

pemasok ayam buras nasional baik ayam buras potong (jantan yang digemukkan)
maupun ternak bibit untuk Jakarta dan daerah lainnya di Indonesia. Di daerah ini
juga mempunyai populasi ternak kambing dan ayam kampung yang besar.
Gambaran ini menunjukkan bahwa daerah ini sangat potensial untuk
pengembangan peternakan. Potensi sumber pakan dan tenaga kerja yang besar
menjadikan daerah ini mempunyai keunggulan komperatif dalam bidang
peternakan di bandingkan dengan daerah-daerah lain di Indonesia.
Namun demikian apabila kita cermati lebih dalam bahwa ternak-ternak
tersebut bukanlah dihasilkan dari suatu peternakan yang produktif, tangguh dan
ekonomis, melainkan dari suatu sistem peternakan traditional dengan managemen
yang minimal. Karakteristik dari sistem peternakan demikian adalah rendahnya
produktivitas ternak, efesiensi dan sangat sensitif terhadap berbagai perubahan
lingkungan. Dengan karakteristik demikian amatlah sulit dibayangkan bahwa
peternakan di NTT dapat bersaing dengan daerah lain maupun dari negara lain
pada era pasar bebas. Untuk itu adalah tanggung jawab semua pihak untuk
mengembangkan peternakan sehingga menjadi industri peternakan (agribisnis)
dengan efisiensi dan produktivitas yang menjanjikan keuntungan ekonomis
memadai. Keberadaan industri peternakan akan berdampak sangat besar bagi
meningkatnya

pendapatan

peternak,

meningkatnya

ketersediaan

produk

peternakan dengan kualitas yang tinggi namun murah murah dan terjangkau oleh
masyarakat, ketersediaan lapangan pekerjaan bagi tenaga-tenaga kerja serta

peningkatan PAD yang akan memicu perbaikan sarana dan prasarana peternakan
daerah.
Untuk menciptakan daerah berindustri peternakan yang mapan diperlukan
pionir-pionir dalam bidang peternakan yang mau menginvestasikan modalnya dan
mempunyai dedikasi yang tinggi merintis, memperbaiki dan mengembangkan
teknologi dan sistem peternakan yang cocok untuk daerah ini. hal ini penting
mengingat sistem peternakan kita yang masih sangat jauh dari industri. Sebagai
contoh, daerah ini ini dikenal karena ternak ayam burasnya, tetapi ironisnya tidak
ada satupun perusahaan peternakan ayam buras yang beroperasi di daerah ini
melainkan perusahaan pedagang ternak yang selama ini hanya membeli ayam
buras tanpa mau mengembangkan peternakan ayam buras. Pionir-pionir yang
dimaksud di atas dapat saja berasal dari pengusaha-pengusaha tersebut. Di
samping itu pejabat pemerintah, pegawai swasta dan mungkin juga dosen-dosen
peternakan. Kelompok terakhir mungkin akan menjadi peternak yang sukses
karena pengalaman yang dimilikinya tetapi juga bisa berdampak positif bagi
keberlanjutan ekonomi keluarga adalah pemuda.
Ayam buras merupakan ternak yang paling banyak diternakkan dan telah
menjadi bagian penting bagi kehidupan petani peternak di NTT. Hal ini terbukti
dari data yang ada bahwa populasi ayam buras NTT mencapai 10.044.577 ekor
dan di Pulau timor1.763.586 ekor pada tahun 2011 dan dari tahun ke tahun
terdapat kecenderungan untuk meningkat. Perkembangan populasi ayam buras ini
bahkan tidak dipengaruhi oleh perkembangan usaha ayam ras (broiler dan petelur)
yang sangat pesat pada beberapa dekade belakangan ini. Hal ini disebabkan
karena ayam buras memiliki karaketeristik tersendiri yang cocok dengan sumber
daya peternak dan sosial ekonomi masyarakat di NTT terkusus di Pulau timor.
Ayam buras dapat diternakkan dalam jumlah yang sangat terbatas pada sistem
pemeliharaan yang tidak terlalu intensif tetapi tetap menguntungkan. Di samping
itu, ayam buras juga mempunyai pangsa pasar tersendiri dan lebih disukai oleh
konsumen sehingga mempunyai harga yang relatif lebih mahal dibandingkan
dengan ayam ras. Dengan demikian, usaha ayam buras harus terus dikembangkan
agar menjadi industri dengan produktivitas dan efisiensi yang tinggi sehingga

dapat bersaing dengan ayam ras, dan menjadi sumber pendapatan utama bagi
masyarakat peternak.
Kendati demikian, terlepas dari berbagai upaya yang telah dilakukan
selama ini sistem usaha ayam buras hingga kini masih bersifat ekstensif dengan
produktivitas yang rendah. Beberapa permasalahan yang ditemukan dalam
pengembangan ayam buras antara lain : (a), peternak belum mempunyai motivasi
yang tinggi untuk beternak ayam secara intensif, (b) Skala pemeliharaan ayam
buras pada masing-masing peternak masih terbatas sehingga keuntungan yang
diperoleh belum signifikan menyumbang pada pendapatan peternak, (c),
Produktivitas ternak masih sangat rendah (Rendahnya produktivitas ayam buras
dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut terutama berkaitan
dengan teknologi produksi antara lain teknologi pakan, pencegahan penyakit
terutama Tetelo (ND), (d), Perkandangan dan pemisahan anak secara dini), (e)
Sistem pemeliharaan dan teknik budidaya yang masih bersifat ekstensif dengan
aplikasi teknologi minimum, (f), Belum ada spesialisasi pemeliharaan, Jaringan
pemasaran belum terbentuk.
Berdasarkan

pada

kenyataan

ini

diperlukan

suatu

model

pengembangan yang dapat secara realistis dilaksanakan pada kondisi


masyarakat peternak dan lingkungan NTT. Suatu program pendekatan
yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat peternak dan pembinaan
yang intensif, konsisten dan berkelanjutan dari kolaborasi berbagai pihakpihak terkait termasuk Dinas terkait, Perguruan Tinggi, Pengusaha ternak
ayam buras, LSM dan insan peternakan lainnya. Program terapan
Collective Commercial Breeding Farm yang diusulkan menawarkan
pencapaian beberapa sasaran realistis dalam meningkatkan produktivitas
ternak ayam buras di NTT terkusus di kabupaten kupang kecamatan
taebenu yang mencakup 5 desa yaitu Desa baumata barat, Desa baumata
timur, desa baumata, Desa oeltua dan Desa Bokong, melalui upaya
meningkatkan populasi dan mutu genetik ternak ayam buras melalui
terapan teknologi pada setiap tahapan proses produksi namun tetap

berbasis pada optimalisasi pemanfaatan sumber daya lingkungan


peternakan yang ada.
1. Potensi Dan Prospek Ayam Kampung
Potensi Dan Prospek Pengembangan Ayam Kampung
Perkembangan populasi ayam kampung di NTT selama kurun waktu 5
tahun terakhir (2007 2011) mengalami pertumbuhan yang lamban dimana
jumlah populasi hanya berkembang dari 9.842.891 ekor menjadi 10.528.966 ekor
yang tersebar di 20 daerah tingkat II yang ada (BPS, 2011), atau hanya terjadi
peningkatan sebesar 180.224ekor. Dari penyebaran tersebut Kabupaten Ende dan
Kupang memberikan proporsi yang cukup besar yaitu masing-masing sebesar
1.812.457 ekor (2009) 1.953.132 ekor (2011) dan 2,004,081 ekor (2009)
2.034.292 ekor (2011). Sedangkan daerah lain memberikan proporsi jumlah ternak
maksimal sepertiga dari yang dihasilkan kedua daerah tersebut diatas.
Dari populasi ternak ayam kampung di kabupaten Kupang menunjukan
bahwa populasi ternak ayam kampung di daratan Timor jumlah yang sangat besar
yang perlu dikembangkan. Dimana polpulasi ternak di daratan Timor dapat dilihat
pada Table 1:
Table 1 ; Populasi Ternak Ayam Kampung Di Daratan Timor.
No

Kabupaten/Kota

1
Kupang
2
Timor Tengah Selatan
3
Timor Tengah Utara
4
Belu
5
Kota Kupang
Jumlah
Sumber: Biro Pusat Statistik (2011)

Ayam Kampung
2010
2011
2,004,081
2.034.292
812266
824.511
145075
147.262
803691
815.807
2554
26.119
3.767.667
3.847.991

Dari Tabel ini menunjukan bahwa selalu terjadi penambahan populasi


setiap tahunnya yaitu 80.324 ekor.Dengang demikian maka produktivitas ternak
ayam kampung yang ada perlu dikembangkan secara intensif.
Dalam menunjang program usahatani ayam kampung di suatu wilayah
diperlukan beberapa faktor yang saling berhubungan seperti ketersediaan

sumberdaya dan potensi wilayah, kebutuhan pasar, skala usaha dan pola
pemeliharaan, kelembagaan dan perkreditan.Sumberdaya yang dimaksud adalah
peternak yang mempunyai pengalaman, mau menerima inovasi baru, rajin dan
tekun sehingga mampu berusaha dengan orientasi agribisnis.Sumberdaya potensi
wilayah terutama pakan seperti dedak dan limbah pertanian yang murah dan
mudah diperoleh disamping obat-obatan (vaksin).
Di Nusa Tenggara Timur walaupun jenis usaha ternak ini telah lama
berkembang tetapi banyak mengalami kendala yang bersifat spesifik antara lain :
pemeliharaan bersifat ekstensif, pakan hanya diberikan 2 kali/hari, yaitu pagi dan
sore berupa jagung, dedak dan putak, kematian cukup tinggi yang dapat mencapai
75%, sebagai akibat jarang melakukan vaksinasi. Pamungkas et al. (2000)
melaporkan bahwa kendala lain dalam pengembangan ayam kampung adalah
kurang

tersedia

bibit

unggul,

rendahnya

kemampuan

peternak

dalam

mengidentifikasi penyakit, keterbatasan penyediaan pakan serta kurang menguasai


pemasaran dan pengolahan hasil.
Ratnawaty., et al (1999) melaporkan bahwa respon petani kooperator
terhadap

paket

yang

diintroduksi

berupa

perbaikan

pakan,

vaksinasi,

perkandangan, sangkar telur bentuk kerucut, pemilihan telur tetas dan pemisahan
anak ayam meningkat dari 68,80 menjadi 83,42%, pertambahan bobot badan anak
sebesar 7,64 gram/ekor/hari dan kelayakan usaha dalam pemeliharaan ayam
kampung sebesar 1,13 dengan keuntungan Rp. 95.000,- selama delapan bulan
pemeliharaan.
Tujuan utama dari program ini adalah:
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk membangun suatu usaha agribisnis
ayam buras collektiv dengan memanfaatkan aset yang ada di desa dan memotivasi
jiwa kewirausahaan dari pemuda dengan memberdayakan mereka sepanjang
kegiatan proses produksi.
1. Meningkatkan produktivitas lahan untuk produksi pakan dengan
kualitas dan kontinyuitas yang tinggi yang dibutuhkan untuk
produksi ternak ayam buras. Memproduksi pupuk organik berbahan
dasar litter (campuran feces, sekam, serbuk gergaji yang telah

disemprot dengan probiotik. Serta memproduksi sayuran organik hasil


aplikasi pupuk organik pada tanaman sayuran dengan sistem budidaya
yang ramah lingkungan
2. Pengelolaan pemeliharaan untuk menjamin produktivitas ayam
buras bakalan yang tinggi namun tetap menjamin keberlanjutan
dan kerusakan lingkungan yang minimum dengan memproduksi
telur, DOC dan ayam buras potong serta karkas yang aman dan sehat
(bebas residu antibiotik, mikroba patogen dan mikroba resisten).
3. Pengelolaan breeding dengan seleksi yang ketat.
4. Pengelolaan reproduksi dengan 'controlled mating' atau dengan
inseminasi buatan dalam waktu yang disesuaikan untuk
penetasan yang serempak.
5. Pengelolaan kesehatan intensif untuk menekan angka kematian
dan menjamin tingginya tampilan produksi ternak.
6. Intensifikasi pemeliharaan DOC untuk menekan angka kematian
dan menjamin tingginya laju pertumbuhan dan menghasilkan
berat DOC ayam buras yang tinggi.
7. Pengelolaan managemen panen dan pemasaran dengan
standar mutu sesuai dengan kesetaraan umur, kondisi tubuh
dan sejarah nutrisi.
8. Membuka kesempatan kerja dan memberikan pengalaman kerja
kepada pemuda serta membantu menciptakan akses bagi terciptanya
wirausaha baru

III. Model Pendekatan


Dari pembahasan terdahulu nampak jelas bahwa penurunan populasi
ayam buras yang ada di NTT merupakan permasalahan yang sangat
kompleks yang mencakup sumber daya manusia (SDM), sumber daya
lingkungan (SDL) dan sumber daya ternak (SDT). Pengetahuan kita yang
mendalam tentang berbagai faktor yang menyebabkan permasalahan
tersebut dan telah tersedianya teknologi penanggulangan baik yang
dikembangkan secara lokal maupun dari luar sebenarnya memungkinkan
bagi

kita

untuk

membuat

program-program

pengembangan

yang

bertujuan untuk meningkatkan populasi dan kualitas genetik ayam buras


di NTT.
Sasaran-sasaran tersebut di atas nampaknya hanya mungkin dicapai
dengan pendekatan total (holistic approach) dimana peternak harus
mampu menerapkan beragam teknologi pada setiap tingkatan produksi
dan pasca produksi dalam suatu peternakan modern (modern farming)
berdasarkan

pengelolaan

sumber

daya

lokal

yang

berwawasan

lingkungan dan terintegrasi dengan usaha tani lainnya. Dengan demikian


produktivitas ternak

ayam buras dan terutama lahan yang ada dapat

dioptimalkan. Di samping itu yang lebih penting lagi adalah produk yang
dihasilkan adalah produk dari usaha ternak dengan beroreantasi agribisnis
yang efisien. Produk demikian akan mampu bersaing baik pada tingkatan
nasional maupun produk dari negara lain pada era pasar bebas.
Untuk menjamin efesiensi produksi yang tinggi terutama untuk breeding
yang bertujuan untuk menghasilkan ayam buras bakalan berkualitas
terdapat beberapa prasyarat yang mungkin sulit dipenuhi oleh peternak di
NTT. Prasyarat tersebut antara lain: a) penerapan teknologi tersebut
membutuhkan investasi dan kualitas sumber daya manusia yang tinggi,

dan b) agar teknologi dapat diterapkan secara efisien, unit usaha atau
jumlah ternak harus cukup besar. Sementara itu, peternak ayam buras di
NTT pada umumnya berekonomi lemah, berpendidikan (berketerampilan
rendah) dengan kepemilikan ternak ayam buras yang rendah, i.e. hanya
10 sampai 15 ekor. Dengan demikian, usaha peternakan ayam buras di
NTT

mungkin

akan

sangat

sulit

menjadi

efisien

jika

program

pembangunan peternakan menekankan seluruhnya pada peningkatan


produktivitas di tingkat peternak secara individual. Untuk mencapai jumlah
populasi dasar yand dibutuhkan agar teknologi dapat diaplikasikan secara
efisien, peternak dapat didorong untuk membentuk suatu peternakan
kolektif yang terdiri dari beberapa peternak yang mempunyai sejumlah
ternak ayam buras yang dipelihara secara bersama-sama dalam suatu
kawasan lahan kolektif. Jika hal ini telah dapat diwujudkan maka model
program

yang

ditawarkan

akan

mampu

mendorong

terciptanya

peternakan ayam buras yang mandiri dan efisien melalui:


a) Pendekatan totalitas penerapan teknologi pada setiap tingkatan
produksi dan pasca produksi.
b) Mendorong spesialisasi usaha (tingkatan produksi/sistem usaha atau
produksi) dengan mempertimbangkan:

Peternak (petani) secara individu terlibat pada sub-sistem produksi


yang relatif tidak memerlukan investasi teknologi yang besar yaitu:

Penggemukan

Penghasil pakan (sorgum, jagung dan kacang hijau)

Pengolahan hasil

Sementara itu, sub-sistem produksi yang membutuhkan biaya dan


teknologi tinggi dikelola oleh kelompok peternak yang secara
intensif

dan

berkelanjutan

dibina

oleh

pemerintah

daerah,

bekerjasama dengan pihak perguruan tinggi. , LSM atau terbaik


(pada akhirnya) adalah kelompok peternak (koperasi) :

Breeding

Produksi pakan konsentrat (pellet) untuk penggemukan


dan pembibitan

Pemasaran hasil ternak

Pengolahan limbah untuk produksi pupuk organik

c) Mendorong 'supportive role' dari usaha tani lainnya (tanaman pangan,


perkebunan, kehutanan atau bahkan perikanan) secara terintegrasi.
d) Di samping itu, model yang dikembangkan harus harus menjamin
efesiensi yang tinggi dalam alih teknologi kepada peternak
Untuk merealisasikan model pengembangan tersebut diperlukan
suatu pilot project yang mampu menyediakan kondisi aktual terapan
beberapa program berikut :
1. Program Breeding : diselenggarakan oleh kelompok peternak yang
nantinya akan bernaung dalam wadah koperasi. Usaha dilakukan
secara berkelompok pada suatu luasan tanah kolektif sebagai sebuah
farm kolektif (collective commercial breeding farm, CCBF) dengan
tujuan utama menghasilkan ayam buras bakalan bermutu dengan
paket pakan konsentrat untuk industri penggemukan oleh peternak
secara individu. Kelompok tersebut selanjutnya disebut badan
pengelola

yang

telah

mendapat

pelatihan,

konsultasi

dan

pendampingan oleh pihak Perguruan Tinggi (Fakultas Peternakan


Undana). Badan pengelola tersebut mampu secara profesional
menerapkan lebih dari 13 teknologi untuk menghasilkan paket bakalan
dan pakan berkualitas.
2. Program Pembesaran Anak
3. Program Penggemukan dimana peternak sebagai individu menerima
paket ayam buras bakalan, ternak afkir atau ternak terculling berikut
dengan pakannya konsentrat dari CCBF.

IV. URAIAN PROGRAM

1. Program Breeding oleh CCBF


Collective Commercial Breeding Farm merupakan modern farming
yang melibatkan sekelompok petani diantaranya pemuda produktiv yang
terhimpun dalam wadah koperasi dengan sejumlah besar ternak ayam
burasnya yang merupakan bantuan 'bergulir' dari Pemerintah pada suatu
luasan milik komunitas yang dikelola dengan kaidah peternakan modern
dengan beragam teknologi yang tersedia oleh suatu "temporary
managerial board" yang secara kontinyu sehingga menjamin produktivitas
dan jaminan kualitas produk ( ayam buras bakalan) yang tinggi. Walaupun
merupakan sasaran dari program bahwa pada suatu saat nanti badan
managemen akan berasal dari para peternak profesional, namun untuk
sementara badan tersebut akan terdiri dari seorang menager profesional
dibantu oleh beberapa staf yang ahli dan berketerampilan tinggi dalam
bidangnya masing-masing. Kunci utama dari program ini adalah industri
peternakan kolektif dengan tujuan utama menjamin efektivitas yang
tinggi sehingga akan menawarkan daya saing yang tinggi. Industri
peternakan yang dibangun pada skala kecil pada umumnya akan sulit
menjadi efisien. Sementara itu kolektif disini maksudnya adalah terdiri
dari sekelompok peternak

diantaranya pemuda produktiv

dengan

ternaknya masing-masing (yang dapat disamakan dengan saham


kelompok/koperasi) sehingga program ini cocok untuk peternak kecil
dengan jumlah pemilikan ternak yang rendah. Dengan produktivitas dan
efesiensi tinggi ini diharapkan setiap peternak akan mendapatkan
keuntungan ekstra tanpa harus lebih banyak menggunakan waktu dan
tenaganya untuk terlibat dalam pengelolaan, sementara itu pengelolaan
peternakan ini sepenuhnya diserahkan pada badan managemen tersebut
dalam kelompok tersebut.

Di dalam CCBF terdapat beberapa unit kegiatan dengan beragam


aktivitas. Unit-unit kegiatan tersebut berikut dengan aktivitasnya adalah
sebagai berikut :
1. Industri Pakan Mini dan Pengelolaan lahan tanaman pertanian
a. Pengelolaan lahan tanaman pertanian meliputi:

Perbaikan lahan tanaman pertanian dengan pemagaran (pagar


hidup berupa legumes dan pepohonan), weedling, pemupukan
(organik), introduksi legumes lokal (e.g. pueraria spp, Ausifolia
spp.).

Konversi lahan tanaman pertanian untuk supplemen bank (jagung


dan sorgum) dan pengelolaan pemanfaatannya.

b. Produksi Bahan Pakan konsentrat

Konversi sebagian lahan tanaman pertanian menjadi lahan


tanaman bahan pakan berproduksi tinggi. Contoh: tanaman jagung
dan sorgum sebagai sumber energi dan kacang hijau sebagai
sumber energi dan protein

Menerima bahan pakan dari petani untuk diramu menjadi bahan


pakan

konsentrat

untuk

input

sistem

pembesaran

dan

penggemukan
2. Produksi ayam buras Bakalan Gemukan
a. Pengadaan induk

ayam buras dari pasar hewan, atau milik

peternak anggota dengan memperhatikan:

Aspek produksi (masih produktif, 2 kali bertelur (bertelur),


rangka besar, kondisi tubuh memadai dan memiliki sifat
keindukan tinggi)

Aspek kesehatan: sehat, tidak mengalami gangguan bertelur


dan menetas.

b. Bibit ternak jantan adalah berupa semen (beku) pejantan ayam


bangkok dan ayam arab yang terseleksi
c. Pengelolaan Perkawinan dan Penetasan

Induk yang siap bertelur dipelihara secara berkelompok


pada padang penggembalaan yang terkelola optimal.

IB dilakukan secara terprogram untuk mendapatkan pada


telur yang produktiv yang siap tetas..

Induk

yang

sedang

bertelur

akan

dipisahkan

pemeliharaannya untuk mengefisienkan pelaksanaan IB


serta memudahkan pengelolaan pemberian pakan dan
menghindarkan resiko kecelakaan.

Perhatian esktra akan diberikan selama 20 hari untuk


menjamin penetasan anak yang sehat, dengan berat badan
optimal.

d. Pemeliharaan Induk dan Anak

Persiapan dan antisipasi pengaraman

Pemeliharaan anak yang optimal meliputi pengandangan,


bedding, brooding..

e. Pemeliharaan anak ayam buras yang dipisahkan dari induknya


f. Pengelolaan Betina Dara

Pemeliharaan betina dara akan di set-up untuk pubertas


rata-rata 6 bulan sehingga dapat bertelur pada umur 8 bulan.

Betina dara yang tidak pubertas dalam 8 bulan akan diafkir


dan digemukkan

Betina dara yang berahi kemudiaan dikawinkan secara


alamiah dengan pejantan ayam buras terseleksi

Sasaran:

Betina dara yang dalam keadaan bertelur dipelihara terpisah

1. Bakalan ayam buras murni berkualitas karena dipelihara secara


optimal tanpa stess nutrisi sehingga dapat tampil optimal baik
saat penggemukan dan pencapaian pubertas yang lebih cepat.
2. Induk betina afkir yang dapat dijual untuk produksi daging
secara langsung maupun setelah mengalami penggemukan.
3. Semua produk tersebut dihasilkan dengan efisiensi tinggi
karena:
a. Angka penetasan tinggi: 82% sebagai dampak pengelolaan
IB dan perkawinan yang optimal, program culling untuk
mempertahankan viabilitas induk yang optimal.
b. Angka kematian rendah : 1-2% (maksimum 5%) sebagai
hasil upaya pengelolaan penetasan, pemberian pakan
tambahan

pada

DOC,

terhindarnya

kecelakaan

dan

pemeliharaan DOC secara intensif.

3. Pengolahan Limbah
Pengolahan limbah meliputi pengolahan limbah berupa feces
menjadi pupuk organik (bokashi). Seekor ternak dewasa mampu
menghasilkan paling sedikit 0.4 kg bahan kering feces atau 1-1,5 kg feces
segar per harinya sehingga seekor ternak mampu menghasilkan 135 kg
feces kering atau 36 kg pupuk organik segar.
4. Pemasaran
Pemasaran yang efisien adalah salah satu faktor penentu
peningkatan pendapatan peternak. Efisiensi pemasaran yang tinggi
sangat dimungkinkan jika dilakukan oleh CCBF (salah satu tugas pokok
CCBF).
3. Program Penggemukan :

Program penggemukan diprioritaskan dilakukan oleh peternak yang


masuk dalam kelompok CCBF tetapi berperan sebagai individu. Namun
demikian jika produksi bakalan sudah melebihi kemampuan peternak
tersebut

untuk

menggemukkan,

program

penggemukan

ini

dapat

diselenggarakan bekerjasama dengan perusahaan swasta atau peternak


di luar kelompok CCBF (dengan pembetukan kelompok baru di wilayah
tetangga atau kabupaten lainnya). Ternak yang tersedia dari CCBF dalam
program ini yang dapat secara langsung digemukkan adalah:
a. Induk afkir lebih dari 4 kali bertelur
b. Anak dan bakalan jantan
c. Anak dan bakalan betina
d. Pejantan afkir
Di samping itu peternak juga menerima paket pakan konsentrat,
pelayanan kesehatan dan pemasaran oleh CCBF
Penggemukan dapat diarahkan untuk menghasilkan tiga kualitas
produk penggemukan:
a. Sistem penggemukan untuk menghasilkan daging berkualitas
sangat tinggi berupa daging ayam buras. Sasarannya adalah
konsumen terbatas menengah ke atas yang membutuhkan
kualitas daging sangat tinggi seperti keempukan yang tinggi
tetapi berkadar lemak dan kolesterol yang rendah. Pada sistem
ini DOC ayam buras lebih awal (2 minggu) dan langsung
digemukkan selama 3-4 bulan dengan proporsi konsentrat yang
tinggi (60% konsentrat dan 40% jagung).
b. Sistem penggemukan untuk menghasilkan daging berkualitas
tinggi pada bobot badan yang tinggi. Untuk tujuan ini ternak
yang cocok digemukkan adalah bakalan ayam buras jantan, dan
betina atau betina dara yang tidak lolos seleksi (mandul). Untuk
tujuan ini ternak bakalan diatur untuk bertumbuh secara konstan
pada level yang tidak terlalu tinggi namun pembentukan frame

maksimum. Penggemukan dilakukan pada umur dan berat


tertentu selama 3-4 bulan.
c. Sistem penggemukan untuk menghasilkan daging berkualitas
sedang dilakukan pada betina dan pejantan afkir. Produk yang
dihasilkan mempunyai kualitas yang lebih baik daripada daging
yang dipasarkan saat ini di NTT (ayam buras betina afkir yang
tidak mengalami penggemukan), dan sangat baik untuk industri
pengolahan daging (ayam asap).
KEUNGGULAN PROGRAM
1. Menghasilkan produksi ternak dari sumber daya lahan yang terkelola
secara efesien dan berkelanjutan (sustainable) sehingga mampu
bersaing dengan produksi luar (termasuk luar negeri) dalam era pasar
bebas.
2. Menghasilkan produk dengan beragam kualitas untuk beragam
segmen pasar sehingga lebih fleksibel dan tahan terhadap suatu
perubahan tertentu.
3. Menjamin alih teknologi yang efisien dari managerial profesional
kepada peternak
4. Mendorong intensifikasi peternakan
5. Mendorong industri pengolahan hasil peternakan ayam buras
6. Meningkatkan gizi masyarakat
7. Meningkatkan pendapatan peternak secara dramatis
8. Membuka kesempatan kerja dan memberikan pengalaman kerja kepada
pemuda serta membantu menciptakan akses bagi terciptanya wirausaha baru

V. Sasaran dan Keluaran Program CCBF


Target utama program breeding pada CCBF adalah menghasilkan
ayam buras bakalan dalam jumlah, kualitas dan efesiensi yang tinggi yang
dapat dicapai dengan:
a. Angka penetasan yang tinggi yaitu lebih dari 88% atau
mendekati 100% dengan pengelolaan reproduksi yang optimal
dan betina infertil dikeluarkan dan digantikan oleh betina fertil
(effective culling system).
b. Angka kematian DOC lebih rendah dari 7% yang merupakan
rata-rata mortalitas DOC ayam buras (Anon., 1981). Sementara
angka kematian DOC di Kabupaten Kupang saat ini mencapai
85% (Ili, 2012).
c. Berat lahir yang tinggi yaitu rata-rata 40 gram (Ili, 2015)
dibanding berat lahir ayam buras saat ini yang hanya 35 gram.
d. Berat ayam buras dan berat bakalan yang tinggi.
Sementara itu program penggemukan mempunyai sasaran :
a. Memberdayakan peternak yang berketrampilan rendah dengan
memberikan

bagian

sistem

produksi

yang

relatif

tidak

membutuhkan teknologi yang rumit.


b. Meningkatkan pendapatan peternak tanpa harus mempunyai
modal yang tinggi.
c. Lama penggemukan pendek karena bakalan yang digemukkan
berkualitas tinggi dan ditambah dengan paket pakan yang
disediakan oleh CCF.
Disamping sasaran utama di atas, program yang ditawarkan ini
juga mempunyai sasaran-sasaran lainnya antara lain:
1. Meningkatkan sumbangan terhadap PAD daerah TK. III Kupang
2. Peningkatan pendapatan dan kesejahteraan peternak

3. Memicu industri penggemukan ayam buras dan industri hilir


pengolahan daging
4. Meningkatkan

keterampilan

pemuda

peternak

karena

terekspose dengan teknologi dan organisasi modern


5. Membuka lapangan kerja
6. Memproduksi

pupuk

organik

yang

dapat

mendorong

peningkatan produksi holtikultura


7. Memudahkan pembinaan oleh Pemerintah dengan berbagai
programnya
8. Memberikan

peluang

bagi

penelitian-penelitian

menghasilkan paket teknologi siap terap

untuk

VI. Rencana Pelaksanaan Program


Untuk mendirikan CCBF yang mampu menghasilkan bakalan
berkualitas dan mampu memicu industri penggemukan dan peternakan
ayam buras yang tangguh dan efisien, dibutuhkan program yang
dilaksanakan dalam kurun waktu beberapa tahun (multi years) secara
konsisten

dan

berkesinambungan

sehingga

tujuan

utama

dalam

meningkatkan populasi dan mutu genetik ternak ayam buras dapat


terrealisasikan. Untuk itu, program ini direncanakan untuk dilaksanakan
selama paling tidak 2 tahun secara berturut-turut. Urut-urutan kegiatan
disajikan pada gambar ilustrasi berikut.

Program ini mempunyai sasaran yang jelas ke arah modernisasi


sistem pemeliharaan intensif dengan jaminan efesiensi yang tinggi dalam

memproduksi telur dan ayam buras bakalan dari setiap luasan lahan
'tradisional' milik kolektif. Efesiensi produksi bakalan tersebut dicapai
sebagai dampak pemeliharaan dalam jumlah ternak induk yang besar
(kolektif) yang dikelola dengan menerapkan beragam 'teknologi mutahir'
pada setiap tingkatan pemeliharaan pada luasan yang 'telah' dioptimalkan
produksi pakan (jagung, sorgum dan kacang hijau). Untuk merealisasikan
sasaran tersebut di atas maka program ini meliputi 3 tahap kegiatan yang
dengan total waktu pelaksanaan selama 2, 5 tahun atau paling tidak 1
tahun pertama. Kegiatan pada tahap pertama berupa sosialisasi program
serta survei dan pelatihan. Pada tahap kedua tahun pertama akan
difokuskan untuk persiapan kandang dan ternak. Pada tahap ketiga yang
merupakan tahapan produksi ternak akan dintrodusir ke dalam farm dan
dikelola dengan penerapan beragam teknologi pada setiap tahapan
proses produksi.
Tahap I. Sosialisasi, Survei Lahan dan pelatihan
Pada tahapan ini yang diharapkan berlangsung selama 2 bulan
akan dilakukan berbagai kegiatan yang diawali dengan sosialisasi
program kepada kelompok pemuda peternak yang akan menjadi target
program. Kegiatan ini akan meliputi pertemuan-pertemuan intensif antara
pelaksana program termasuk konsultan dari Fapet Undana dengan
peternak

untuk

menjelaskan

rincian

program

yang

akan

diimplementasikan mulai dari tujuan dan manfaat program hingga rincian


kegiatan yang akan dilaksanakan. Di samping itu pada tahap ini akan
dilakukan pendataan dan restrukturisasi kelompok pemuda peternak yang
telah ada disesuaikan dengan unit aktivitas yang direncanakan. Dan
dilanjutkan dengan survey terhadap lingkungan fisik mikro lahan.
Berdasarkan data dikumpulkan kemudian akan dibuat pemetaan lahan
sesuai dengan arahan kecocokan pemanfaatan lahan. Pada akhir dari
tahap I diharapkan akan dihasilkan rancangan detil tentang peta lokasi
lahan dan maket farm. Tahap I ini akan diakhiri dengan pelatihan.

Tahap II. Persiapan Lahan, kandang dan Produksi Pakan (jagung,


sorgum dan kacang hijau)
Lokasi farm kolektif dapat meliputi luasan lahan seluas paling
sedikit 2 ha dari masing-masing wilayah desa binaan yang terletak di
kawasan Kecamatan Taebenu. Lahan tersebut merupakan lahan yang
selama ini diusahakan dalam menanam tanaman pangan oleh pemuda
peternak setempat. Dari luasan lahan tersebut 0.5 ha akan diperuntukkan
sebagai kandang. Sementara itu, 1,5 ha akan diperuntukkan untuk
tanaman jagung, sorgum dan kacang hijau sebagai untuk produksi pakan
konsentrat.
A. Pengelolaan Lokasi Usaha
Berbeda dengan program-program yang telah dilakukan selama ini,
program ini didahului dengan upaya pengelolaan lokasi usaha yang
diperlukan untuk pembuatan kandang dan meningkatkan efesiensi
pemanfaatan melalui pengaturan pola penanaman tanaman jagung,
sorgum dan kacang hijau. Untuk mampu mengelola padangan tersebut
dengan efesien diperlukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut.
1. Pemagaran
Pemagaran sangat diperlukan untuk memaksimalkan produksi
hijauan untuk ternak ruminansia milik pribadi pemuda peternak dan
efesiensi

pemanfaatan

lahan.

Pemagaran

memungkinkan

untuk

menghindarkan intervensi ternak dan binatang lain, kebakaran dan


berbagai aktivitas yang dapat menyebabkan kerusakan lingkungan.
Seluas 2 ha lahan akan dipagar menjadi 3 petak masing-masing seluas
0,5 ha sehingga memungkinkan penerapan pola pengelolaam untuk
meningkatkan efesiensi pemanfaatan lahan. Pagar yang akan dibuat
adalah pagar hidup berupa legum pohon sehingga dapat meningkatkan
produksi dan kualitas padang serta mampu memberi naungan pada ternak

2. Meningkatkan produktivitas dan kualitas pakan


Rendahnya produktivitas ayam buras yang ada saat ini terutama
disebabkan

oleh

semakin

menurunnya

produktivitas

karena

pola

pemeliharaan tradisional.
.
3. Pengelolaan pola Pemeliharaan
Pengaturan

pola

pemeliharaan

sangat

diperlukan

untuk

peningkatan efesiensi produktivitas ternak yang maksimum. Pengelolaan


pola pemeliharaan meliputi:
a. Sistem pemeliharaan (dikandangkan dan di lepas pada
umbaran)
b. Pengaturan ternak yang di umbaran. Ternak yang di umbaran
sebuah petakan akan diatur menurut kebutuhan nutrisinya.
Ternak yang membutuhkan nutrisi tertinggi misalnya anak ayam
buras lepas sapih akan dipersilahkan di umbaran pertama diikuti
oleh ayam buras sedang bertelur..

4. Produksi Pakan Konsentrat Berkualitas (Industri Pakan Mini)


Pada umur fisiologis tertentu seperti pada DOC dan pada induk
bertelur ternak membutuhkan kuantitas dan terutama kualitas pakan yang
tinggi untuk menjamin produksi telur dan pertumbuhan yang maksimal
sesuai dengan kapasitas genetiknya. Pada periode fisiologis tersebut
diperlukan pemberian pakan berkualitas tinggi berupa pakan konsentrat.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut seluas 1,5 ha akan dialokasikan
untuk produksi pakan konsentrat bekerjasama dengan petani setempat
pada sistem bagi hasil. Farm akan menyediakan sarana produksi yang
diperlukan dan petani mengerjakan seluruh proses dari penanaman
hingga panen. Tanaman yang akan ditanam adalah jagung, sorgum dan
kacang hijau dalam suatu pola tanam tumpang sari yang mampu

memaksimalkan produksi dan ketersediaan. Bahan-bahan pakan tersebut


akan dibuat dalam bentuk campuran ransum dalam bentuk pellet atau
crumble yang akan dipersiapkan sebagai suplemen bagi ternak yang ada
di dalam farm maupun dijual kepada peternak penggemukan yang
memanfaatkan bakalan yang diproduksi dari farm.
Tahap III. Produksi
B. Pengadaan Ternak
Setelah lokasi usaha dipagar dan pembangunan kandang serta
pakan telah siap maka pengadaan ternak ayam buras induk akan
dilakukan melalui seleksi yang ketat untuk menjamin mutu genetik yang
tinggi. Ayam buras induk harus masuk pada kriteria dalam awal masa
produktif (2-3 kali bertelur), sehat fisik dan reproduksi, berpenampilan
genetik (fenotifik) tinggi dan jinak. Jumlah ternak yang akan didatangkan
disesuaikan dengan kapasitas tampung kandang yang diperkirakan
mampu menampung sekitar 300 ekor induk atau 500 ekor ternak (total
populasi). Pengadaan ternak-ternak tersebut akan dilakukan oleh pihak
Lembaga LKPM2 untuk selanjutnya dikelola secara kolektif oleh 60
pemuda peternak yang tergabung dalam suatu wadah kelompok/koperasi.
Ternak tersebut dapat merupakan bantuan bergulir atau dalam bentuk
kredit ringan kepada peternak dimana akan di gulirkan pada kelompokkelompok pemuda yang akan dibentuk .
C. Pengelolaan Breeding dan Reproduksi Ternak
Pengelolaan breeding dan reproduksi adalah salah satu kunci
penting dalam program ini. Untuk menghasilkan bakalan berkualitas dan
selanjutnya secara cepat digemukkan oleh peternak diperlukan upaya
untuk mengatur perkawinan untuk menghasilkan bangsa ayam buras yang
mempunyai kecepatan tertinggi pada berbagai sistem pemeliharaan yang
dapat ditempuh dengan inseminasi buatan (IB) dan atau perkawinan

dengan pejantan unggul, menghasilkan penetasan yang serentak


sehingga akan menjamin efesiensi yang tinggi pada pengelolaan
pemeliharaan dan pemasaran.
Program peternakan kolektif ini mentargetkan untuk menghasilkan
berbagai jenis produk telur dan bakalan yang berbeda masing-masing :
a a. Telur konsumsi
b b. Bakalan ayam buras bibit (jantan dan betina) yang merupakan
bakalan pada umur 4-6 bukan dengan tampilan fenotific dan
genetik prima
c

b. Bakalan gemukan (jantan dan betina)

1. Penyerentakan berahi akan dilakukan untuk tujuan-tujuan sbb.:


a. Efesiensi pelaksanaan inseminasi buatan
b. Efesiensi pengelolaan dan pembesaran DOC dan anak lepas
sapih
c. Efesiensi pemasaran
2. Inseminasi Buatan
Inseminasi buatan adalah cara utama untuk menghasilkan
kebuntingan pada program ini. IB akan dilakukan menurut teknik dan
waktu yang tepat dan segala macam upaya akan dilakukan untuk
memaksimumkan angka penetasan. Inseminasi akan dilakukan pada
induk berahi selama tiga kali siklus berahi. Jika dalam 3 kali inseminasi
tidak

menghasilkan

kebuntingan,

ternak

akan

diperiksa

dan

dipertimbangkan untuk diafkir.


3. Penanganan Penetasan
Perhatian penuh akan diberikan kepada induk yang akan
mengeram. Prediksi waktu penetasan dengan mudah dapat dilakukan
mengingat tanggal pertaman mengeram tercatat dengan baik. Induk-induk
yang mendekati waktu pengeraman akan dipisahkan dari kelompoknya

pada petakan kandang. Penetasan juga dapat dilakukan dengan


menggunakan mesin penetasan..
4. Pengelolaan Induk
Perhatian terhadap kesehatan reproduksi akan dilakukan terutama
pada induk pasca betelur sehingga menjamin suksesnya reproduksi pasca
pengeraman
Calon induk pengganti akan digunakan ternak ayam buras yang
dibeli dan dipersiapkan secara seksama untuk mampu menggantikan
induk yang ada secepat mungkin. Ini akan menjamin daya reproduksi
yang tinggi dan replacement rate yang tinggi.
D. Penanganan dan Pengelolaan DOC
Kunci sukses dari program ini tergantung dari kemampuan kita
mempertahankan jumlah anak yang ditetaskan pada laju pertumbuhan
yang tinggi. Perhatian ekstra akan diberikan pada penanganan DOC
terutama selama dan pasca penetasan. Kegiatan-kegiatan yang akan
dilakukan:
1. Pemeliharaan DOC pada kandang yang memadai namun sederhana
sehingga terhindar dari hujan/angin dan dilengkapi dengan pemanas
buatan untuk memberikan kenyamanan pada DOC.
2. Penyapihan akan dilakukan pada waktu 2 minggu untuk efesiensi
pemeliharaan anak dan kesehatan produktivitas induk. Selanjutnya
DOC lepas sapih tersebut akan dipelihara berkelompok pada pakan
berkualitas baik (dalam kandang).
E. Pengelolaan Kesehatan
Pengelolaan kesehatan perlu diperhatikan secara serius untuk
menghindarkan tingkat kematian yang tinggi dan mempertahankan laju
pertumbuhan yang tinggi. Untuk tujuan tersebut vaksinasi dengan dosis
dan waktu yang tepat akan dilakukan. Diagnosa dan penangan awal akan

dilakukan

sementara

menunggu

seorang

dokter

hewan.

Sistem

pemeliharaan dalam program ini sangat memungkinkan pengelolaan


kesehatan dapat dilakukan secara efesien.
F. Pengelolaan Perkandangan
Penyediaan perkandangan dan perkantoran yang baik adalah
aspek penting dalam program ini. Kandang dan segala perlengkapannya
akan dibuat dari bahan-bahan sederhana tetapi dengan konstruksi sesuai
dengan peruntukannya. Beragam macam kandang: kandang anak, induk
bertelur dan kandang kawin semuanya akan disediakan.
Gudang penyimpan pakan dan pengolahan pakan juga akan
disediakan. Disamping itu unit pengumpul dan pengolah limbah juga akan
dibuat.
G. Managemen Pemasaran dan Ekonomi
Suatu sistem managemen pemasaran yang baik oleh seorang yang
menguasai

ekonomi

yang

baik

diperlukan

untuk

memaksimalkan

pendapatan.
Pemasaran produk utama yaitu telur konsumsi dan ayam buras
bakalan dapat meliputi jalur-jalur sebagai berikut sesuai produk yang
dihasilkan:
a. Ayam buras bakalan jantan dapat dipasarkan dalam pola
kontrak dan kerjasama kepada peternak sekitar. Hal yang sama
juga dapat dilakukan kepada peternak yang mempunyai
kemampuan dan pengalaman dalam bidang penggemukan.
b. Ayam buras bakalan betina dapat diberikan kepada peternak
peserta atau peternak disekitarnya dengan pola gaduhan tanpa
harus secara langsung membayar harga bakalan. Setelah
dipelihara beberapa lama maka dapat dijual kepada industri
pengolah daging.

c. Ayam buras betina afkir dapat dipasarkan di pasar-pasar


tradisional untuk memenuhi kebutuhan daging lokal atau
kepada industri pengolah daging.
Pemasaran produk tambahan seperti pupuk organik bokashi dapat
diarahkan kepada para pekebun sayur. Kelebihan pakan konsentrat yang
dihasilkan dapat dipasarkan di pasar lokal.