Anda di halaman 1dari 2

Faizal Agung Pratomo

MT Batch X
TRAGEDI PERUNGGASAN DI NEGERI SENDIRI
Sebuah majalah nasional menyebutkan bahwa perdagangan industri perunggasan nasional
kini mencapai Rp 400 triliun per tahun dengan aset total Rp 150 triliun. Industri ini terbagi
menjadi enam sub sektor industri peternakan, dari hulu hingga hilir, mulai dari industri pakan,
perbibitan, ayam pedaging, ayam petelur, rumah potong ayam hingga pengolahan produk ayam
menjadi makanan. Hal ini menandakan bahwa sektor ini merupakan salah satu sektor utama yang
mendukung perekonomian bangsa ini, terutama mengenai produksi produk asal ayam, seperti
daging dan telur. Seharusnya dengan perkembangan sektor industri ini, bangsa ini pun bisa
tersenyum, dengan semakin mendekati swasembada daging ayam dan telur, sehingga bisa
mencerdaskan dan mensejahterakan masyarakat serta bisa bersaing dengan perunggasan negaranegara tetangga. Akan tetapi, pada kenyataannya, terjadi tragedi saling sikut menyikut antar
pelaku sektor industri ini, bahkan sampai beberapa perusahaan disangkutkan ke masalah-masalah
di ranah hukum.
Seharusnya kondisi itu semua tidak terjadi, jika pemerintah bisa menyelaraskan kebijakan
dan menjadi mediator dari semua permasalahan unggas ini, atau bahkan menjadi pengadil
dengan ketegasan kebijakan yang ditempuh. Mungkin, permasalahan ini muncul mulai dari hulu
hingga hilir, mulai produksi bahan baku dalam negeri untuk industri pakan yang terbatas, hingga
produksi daging ayam yang ada di pasaran. Misalkan, bahan baku untuk industri yang masih
diimpor, harusnya diserap dari lokal, dengan cara produksi bahan baku yang berkualitas dengan
adanya kemitraan antara industri pakan dengan petani atau kelompok tani, dengan cara budidaya
didampingi oleh pemerintah dan penyedia benih atau pupuk. Kemudian, pada peternak rakyat,
mungkin bisa difokuskan ke arah kemitraan dengan perusahaan industri besar yang produknya
diarahkan kembali ke perusaan tersebut atau jika merupakan peternak mandiri, harusnya ada
kerja sama dengan pemerintah, dalam hal ini SDM yang memiliki kompetensi dalam peternakan
atau kedokteran hewan, mengenai hal budidaya yang baik dengan teknologi yang tepat guna dan
kerja sama dengan industri pembibitan terkait DOC serta pengarahan tentang business plan dan
roadmap produk yang dihasilkan mengarah ke kalangan menengah ke bawah, sehingga peternak
mandiri pun bisa bertahan dan dijamin keberlangsungan bisnisnya tanpa bersaing dengan
perusahaan-perusahaan multinasional.

Faizal Agung Pratomo


MT Batch X
Selanjutnya, industri peternakan besar, untuk mengefisienkan produksi dari hulu hingga
hilir, sekiranya perusahaan bisa diberi kesempatan untuk memelihara GGPS, bahkan hingga pure
line yang mungkin bisa diprakarsai oleh pemerintah, dan selanjutnya produk dari perusahaan
besar ini harusnya diarahkan ke frozen meat serta produk olahan unggas, bahkan bisa menjadi
komoditas ekspor, jadi hal ini menghindari persaingan langsung dengan para peternak mandiri.
Selain itu, seharusnya industri perunggasan di Indonesia seluruhnya merupakan industri yang
terintegrasi dari hulu hingga hilir. Misalkan sebuah perusahaan yang hanya membidangi bagian
hulu, produknya bisa diarahkan ke perusahaan yang membidangi budidaya hingga ke hilir,
sehingga memang harus dibutuhkan kerjasama antar perusahaan dan tidak terjadi impor produk
unggas yang dikabarkan berasal dari Brazil atau AS masuk ke Indonesia. Mungkin, ini bisa
menjadi salah satu kebijakan yang bisa diambil oleh pemerintah untuk memperbaiki kondisi
perunggasan yang terlepas dari kepentingan politis. Terakhir, yang tidak kalah penting adalah
edukasi kepada konsumen dari pemerintah dan industri perunggasan itu sendiri terkait
pentingnya konsumsi daging, telur dan olahan produk ayam. Hal ini berkaitan dengan konsumsi
produk unggas yang rendah, sehingga diharapkan jika konsumsi yang meningkat seiring dengan
kenaikan penghasilan per kapita, bisa menjadikan produk unggas dari industri bisa terserap
dengan baik. Hal-hal ini kiranya merupakan menjadi salah satu solusi dan butuh ketegasan serta
konsistensi dari pemerintah dan kerja sama antar pihak di industri ini. Semoga permasalahan
unggas ini bisa terselesaikan dan mendapatkan jalan tengah yang baik, sehingga perunggasan
Indonesia siap dalam persaingan pasar bebas ASEAN dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN.