Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Profesionalisme dalam pelayanan keperawatan dapat dicapai dengan
mengoptimalkan peran dan fungsi perawat, terutama peran dan fungsi mandiri
perawat. Hal ini dapat diwujudkan dengan baik melalui komunikasi yang
efektif antar perawat, maupun dengan tim kesehatan yang lain. Salah satu
bentuk komunikasi yang harus ditingkatkan efektifitasnya adalah saat
pergantian shift, yaitu saat timbang terima klien.Timbang terima merupakan
teknik atau cara untuk menyampaikan dan menerima sesuatu (informasi) yang
berkaitan dengan keadaan klien. Timbang terima klien harus dilakukan
seefektif mungkin dengan menjelaskan secara singkat jelas dan lengkap
tentang tindakan mandiri perawat, tindakan kolaboratif yang sudah
dilakukan/belum dan perkembangan klien saat itu. Informasi yang
disampaikan harus akurat sehingga kesinambungan asuhan keperawatan dapat
berjalan dengan sempurna. Timbang terima dilakukan oleh perawat primer
antar shift secara tulisan dan lisan.
Timbang terima merupakan teknik atau cara untuk menyampaikan dan
menerima informasi yang berkaitan dengan keadaan klien. Timbang terima
harus dilakukan seefektif mungkin dengan menjelaskan secara singkat, jelas
dan komplit tentang tindakan mandiri perawat, tindakan kolaboratif yang
sudah dilakukan saat itu. Informasi yang disampaikan harus akurat sehingga
kesinambungan asuhan keperawatan dapat berjalan dengan sempurna.
Timbang terima dilakukan oleh perawat primer antar shift secara tulisan dan
lisan.
Selama ini timbang terima sudah dilakukan. Isi dan substansi timbang
terima yang dilakukan selama ini adalah identitas pasien, diagnosa medis,
diagnosa keperawatam, program terapi yang sudah dilakukan dan rencana
tindakan yang akan dilakukan. Timbang terima dilakukan secara lisan dan
tertulis kemudian keliling ke semua pasien. Timbang terima perlu terus
ditingkatkan baik teknik maupun alurnya karena timbang terima merupakan
bagian penting dalam menginformasikan permasalahan klien sehari- hari.
Keakuratan data yang diberikan saat timbang terima sangat penting, karena
dengan timbang terima ini maka pelayanan asuhan keperawatan yang
1

diberikan akan bisa dilaksanakan secara berkelanjutan, dan mewujudkan


tanggungjawab dan tanggunggugat dari seorang perawat. Bila timbang terima
tidak dilakukan dengan baik, maka akan muncul kerancuan dari tindakan
keperawatan yang diberikan karena tidak adanya informasi yang bisa
digunakan sebagai dasar pemberian tindakan keperawatan. Hal ini akan
menurunkan kualitas pelayanan keperawatan dan menurunkan tigkat kepuasan
pasien. Kegiatan timbang terima yang telah dilakukan perlu dipertahankan dan
ditingkatkan kualitasnya.
Berdasarkan kondisi tersebut, maka kelompok akan melaksanakan timbang
terima

pasien

berdasarkan

konsep

Model

Asuhan

Profesional Primary Nursing.


1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian timbang terima?
2. Apa saja tujuan timbang terima?
3. Apa saja langkah-langkah dalam timbang terima?
4. Bagaimana rosedur dalam timbang terima?
5. Apa saja metode dalam timbang terima?
6. Apa saja faktor-faktor dalam timbang terima?
7. Bagaiamana efek timbang terima dalam shift jaga?
8. Bagaimana cara dokumentasi dalam timbang terima?
9. Bagaimana skema timbang terima?
10. Bagaimana mekanisme kegiatan timbang terima?
11. Bagaimana evaluasi dalam timbang terima?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian timbang terima
2. Untuk mengetahui tujuan timbang terima
3. Untuk mengetahui langkah-langkah dalam timbang terima
4. Untuk mengetahui prosedur dalam timbang terima
5. Untuk mengetahui metode dalam timbang terima
6. Untuk mengetahui faktor-faktor dalam timbang terima
7. Untuk mengetahui efek timbang terima dalam shift jaga
8. Untuk mengetahui dokumentasi dalam timbang terima
9. Untuk mengetahui skema timbang terima
10. Untuk mengetahui mekanisme kegiatan timbang terima
11. Untuk mengetahui evaluasi dalam timbang terima

Keperawatan

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Timbang Terima
Timbang terima memiliki beberapa istilah lain. Beberapa istilah itu
diantaranya handover, handoffs, shift report, signout, signover dan cross
coverage. Handover adalah komunikasi oral dari informasi tentang pasien
yang dilakukan oleh perawat pada pergantian shift jaga. Friesen (2008)
menyebutkan tentang definisi dari handover adalah transfer tentang informasi
(termasuk tanggungjawab dan tanggunggugat) selama perpindahan perawatan
yang berkelanjutan yang mencakup peluang tentang pertanyaan, klarifikasi
dan konfirmasi tentang pasien. Handoffs juga meliputi mekanisme transfer
informasi yang dilakukan, tanggungjawab utama dan kewenangan perawat
dari perawat sebelumnya ke perawat yang akan melanjutnya perawatan.
Nursalam (2008), menyatakan timbang terima adalah suatu cara dalam
menyampaikan sesuatu (laporan) yang berkaitan dengan keadaan klien.
Handover

adalah

waktu

dimana

terjadi

perpindahan

atau

transfer

tanggungjawab tentang pasien dari perawat yang satu ke perawat yang lain.
Tujuan dari handover adalah menyediakan waktu, informasi yang akurat
tentang rencana perawatan pasien, terapi, kondisi terbaru, dan perubahan
yang akan terjadi dan antisipasinya.

Timbang terima adalah suatu cara dalam menyampaikan dan menerima


suatu laporan yang berkaitan dengan keadaan klien. Timbang terima
merupakan kegiatan yang harus dilakukan sebelum pergantian shift. Selain
laporan

antar shift,dapat

disampaikan

juga

informasi-informasi

yang

berkaitan dengan rencana kegiatan yang telah atau belum dilaksanakan.


2.2 Tujuan Timbang Terima
1. Menyampaikan masalah, kondisi, dan keadaan klien (data fokus).
2. Menyampaikan hal-hal yang sudah atau belum dilakukan dalam
asuhan keperawatan kepada klien.
3. Menyampaikan hal-hal penting yang perlu segera ditindaklanjuti oleh
dinas berikutnya.
4. Menyusun rencana kerja untuk dinas berikutnya.
Timbang terima (handover) memiliki tujuan untuk mengakurasi,
mereliabilisasi komunikasi tentang tugas perpindahan informasi yang relevan
yang digunakan untuk kesinambungan dalam keselamatan dan keefektifan
dalam bekerja. Timbang terima (handover) memiliki 2 fungsi utama yaitu:
a. Sebagai forum diskusi untuk bertukar pendapat dan mengekspresikan
perasaan perawat.
b. Sebagai sumber informasi yang akan menjadi dasar dalam penetapan
keputusan dan tindakan keperawatan.
2.3 Langkah-langkah dalam Timbang Terima
1. Kedua kelompok shift dalam keadaan sudah siap.
2. Shift yang akan menyerahkan perlu menyiapkan hal-hal yang akan
disampaikan.
3. Perawat primer menyampaikan kepada perawat penanggung jawab
shift selanjutnya meliputi :
a. Kondisi atau keadaan pasien secara umum
b. Tindak lanjut untuk dinas yang menerima operan
c. Rencana kerja untuk dinas yang menerima laporan
4. Penyampaian timbang terima diatas harus dilakukan secara jelas dan tidak
terburu-buri.
5. Perawat primer

dan

anggota

kedua

langsung melihat keadaan pasien.


(Nursalam, 2002)
2.4 Prosedur dalam Timbang Terima
1. Persiapan
a. Kedua kelompok dalam keadaan siap.
4

shift

bersama-sama

secara

b. Kelompok yang akan bertugas menyiapkan buku catatan.


2. Pelaksanaan
Dalam penerapannya, dilakukan timbang terima kepada masing-masing
penanggung jawab :
a. Timbang terima dilaksanakan setiap pergantian shift atau operan.
b. Dari nurse station perawat berdiskusi untuk melaksanakan timbang
terima dengan mengkaji secara komprehensif yang berkaitan tentang
masalah keperawatan klien, rencana tindakan yang sudah dan belum
dilaksanakan serta hal-hal penting lainnya yang perlu dilimpahkan.
c. Hal-hal yang sifatnya khusus dan memerlukan perincian yang lengkap
sebaiknya dicatat secara khusus untuk kemudian diserahterimakan
kepada perawat yang berikutnya.
d. Hal-hal yang perlu disampaikan pada saat timbang terima adalah :
1) Identitas klien dan diagnosa medis.
2) Masalah keperawatan yang kemungkinan masih muncul.
3) Tindakan keperawatan yang sudah dan belum dilaksanakan.
4) Intervensi kolaborasi dan dependen.
5) Rencana umum dan persiapan yang perlu dilakukan dalam kegiatan
selanjutnya, misalnya operasi, pemeriksaan laboratorium atau
pemeriksaan penunjang lainnya, persiapan untuk konsultasi atau
prosedur lainnya yang tidak dilaksanakan secara rutin.
e. Perawat yang melakukan timbang terima dapat melakukan klarifikasi,
tanya jawab dan melakukan validasi terhadap hal-hal yang kurang jelas
Penyampaian pada saat timbang terima secara singkat dan jelas
f. Lama timbang terima untuk setiap klien tidak lebih dari 5 menit
kecuali pada kondisi khusus dan memerlukan penjelasan yang lengkap
dan rinci.
g. Pelaporan untuk timbang terima dituliskan secara langsung pada buku
laporan ruangan oleh perawat.
(Nursalam, 2002)
Timbang terima memiliki 3 tahapan yaitu:
a. Persiapan yang dilakukan oleh perawat yang akan melimpahkan
tanggungjawab. Meliputi faktor informasi yang akan disampaikan oleh
perawat jaga sebelumnya.
b. Pertukaran shift jaga, dimana antara perawat yang akan pulang dan
datang melakukan pertukaran informasi. Waktu terjadinya operan itu
sendiri yang berupa pertukaran informasi yang memungkinkan adanya

komunikasi dua arah antara perawat yang shift sebelumnya kepada


perawat shift yang datang.
c. Pengecekan ulang informasi oleh perawat yang datang tentang tanggung
jawab dan tugas yang dilimpahkan. Merupakan aktivitas dari perawat
yang menerima operan untuk melakukan pengecekan data informasi pada
medical record atau pada pasien langsung.
2.5 Metode dalam Timbang Terima
1. Timbang terima dengan metode tradisional
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Kassesan dan Jagoo (2005)
di sebutkan bahwa operan jaga (handover) yang masih tradisional adalah:
a. Dilakukan hanya di meja perawat.
b. Menggunakan satu arah komunikasi sehingga tidak memungkinkan
munculnya pertanyaan atau diskusi.
c. Jika ada pengecekan ke pasien hanya sekedar memastikan kondisi
secara umum.
d. Tidak ada kontribusi atau feedback dari pasien dan keluarga, sehingga
proses informasi dibutuhkan oleh pasien terkait status kesehatannya
tidak up to date.
2. Timbang terima dengan metode bedside handover
Menurut Kassean dan Jagoo (2005) handover yang dilakukan
sekarang sudah menggunakan model bedside handover yaitu handover
yang dilakukan di samping tempat tidur pasien dengan melibatkan pasien
atau keluarga pasien secara langsung untuk mendapatkan feedback.
Secara umum materi yang disampaikan dalam proses operan jaga baik
secara tradisional maupun bedside handover tidak jauh berbeda, hanya
pada handover memiliki beberapa kelebihan diantaranya:
a. Meningkatkan keterlibatan pasien dalam mengambil keputusan terkait
kondisi penyakitnya secara up to date.
b. Meningkatkan hubungan caring dan komunikasi antara pasien dengan
perawat.
c. Mengurangi waktu untuk melakukan klarifikasi ulang pada kondisi
pasien secara khusus.
Bedside handover

juga

tetap

memperhatikan

aspek

tentang

kerahasiaan pasien jika ada informasi yang harus ditunda terkait adanya
komplikasi penyakit atau persepsi medis yang lain.
Timbang terima memiliki beberapa metode
diantaranya:
6

pelaksanaan

a. Menggunakan Tape recorder


Melakukan perekaman data tentang pasien kemudian diperdengarkan
kembali saat perawat jaga selanjutnya telah datang. Metode itu berupa
one way communication.
b. Menggunakan komunikasi Oral atau spoken
Melakukan pertukaran informasi dengan berdiskusi.
c. Menggunakan komunikasi tertulis written
Melakukan pertukaran informasi dengan melihat pada medical record
saja atau media tertulis lain.
Berbagai metode yang digunakan tersebut masih relevan untuk
dilakukan bahkan beberapa rumah sakit menggunakan ketiga metode
untuk dikombinasi.
Menurut Joint Commission Hospital Patient Safety, menyusun
pedoman implementasi untuk timbang terima, selengkapnya sebagai
berikut:
1. Interaksi dalam komunikasi harus memberikan peluang untuk adanya
pertanyaan dari penerima informasi tentang informasi pasien.
2. Informasi tentang pasien yang disampaikan harus up to date meliputi
terapi, pelayanan, kodisi dan kondisi saat ini serta yang harus
diantipasi.
3. Harus ada proses verifikasi tentang penerimaan informasi oleh
perawat penerima dengan melakukan pengecekan dengan membaca,
mengulang atau mengklarifikasi.
4. Penerima harus mendapatkan data tentang riwayat penyakit, termasuk
perawatan dan terapi sebelumnya.
5. Handover tidak disela dengan tindakan lain untuk meminimalkan
kegagalan informasi atau terlupa.
2.6 Faktor-faktor dalam Timbang Terima
1.
2.
3.
4.
5.

Komunikasi yang objective antar sesama petugas kesehatan.


Pemahaman dalam penggunaan terminology keperawatan.
Kemampuan menginterpretasi medical record.
Kemampuan mengobservasi dan menganalisa pasien.
Pemahaman tentang prosedur klinik.

2.7 Efek Timbang Terima dalam Shift Jaga


Timbang terima atau operan jaga memiliki efek-efek yang sangat
mempengaruhi diri seorang perawat sebagai pemberi layanan kepada pasien.
Efek-efek dari shift kerja atau operan adalah sebagai berikut:
1. Efek Fisiologi
7

Kualitas tidur termasuk tidur siang tidak seefektif tidur malam, banyak
gangguan dan biasanya diperlukan waktu istirahat untuk menebus kurang
tidur selama kerja malam. Menurunnya kapasitas fisik kerja akibat
timbulnya perasaan mengantuk dan lelah. Menurunnya nafsu makan dan
gangguan pencernaan.
2. Efek Psikososial
Efek ini berpengeruh adanya gangguan kehidupan keluarga, efek
fisiologis hilangnya waktu luang, kecil kesempatan untuk berinteraksi
dengan teman, dan mengganggu aktivitas kelompok dalam masyarakat.
Saksono (1991) mengemukakan pekerjaan malam berpengaruh terhadap
kehidupan masyarakat yang biasanya dilakukan pada siang atau sore hari.
Sementara pada saat itu bagi pekerja malam dipergunakan untuk istirahat
atau tidur, sehingga tidak dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan
tersebut, akibat tersisih dari lingkungan masyarakat.
3. Efek Kinerja
Kinerja menurun selama kerja shift malam yang diakibatkan oleh efek
fisiologis dan efek psikososial. Menurunnya kinerja dapat mengakibatkan
kemampuan mental menurun yang berpengaruh terhadap perilaku
kewaspadaan pekerjaan seperti kualitas kendali dan pemantauan.
4. Efek Terhadap Kesehatan
Shift kerja menyebabkan gangguan gastrointestinal, masalah ini
cenderung terjadi pada usia 40-50 tahun. Shift kerja juga dapat menjadi
masalah terhadap keseimbangan kadar gula dalam darah bagi penderita
diabetes.
5. Efek Terhadap Keselamatan Kerja
Survei pengaruh shift kerja terhadap kesehatan dan keselamatan kerja
yang dilakukan Smith et. Al (dalam Adiwardana, 1989), melaporkan
bahwa frekuensi kecelakaan paling tinggi terjadi pada akhir rotasi shift
kerja (malam) dengan rata-rata jumlah kecelakaan 0,69 % per tenaga kerja.
Tetapi tidak semua penelitian menyebutkan bahwa kenaikan tingkat
kecelakaan industri terjadi pada shift malam. Terdapat suatu kenyataan
bahwa kecelakaan cenderung banyak terjadi selama shift pagi dan lebih
banyak terjadi pada shift malam.
2.8 Dokumentasi dalam Timbang Terima
8

Dokumentasi adalah salah satu alat yang sering digunakan dalam


komunikasi keperawatan. Hal ini digunakan untuk memvalidasi asuhan
keperawatan, sarana komunikasi antar tim kesehatan, dan merupakan
dokumen pasien dalam pemberian asuhan keperawatan. Ketrampilan
dokumentasi yang efektif memungkinkan perawat untuk mengkomunikasikan
kepada tenaga kesehatan lainnya dan menjelaskan apa yang sudah, sedang,
dan akan dikerjakan oleh perawat.
Yang perlu di dokumentasikan dalam timbang terima antara lain:
1. Identitas pasien.
2. Diagnosa medis pesien.
3. Dokter yang menangani.
4. Kondisi umum pasien saat ini.
5. Masalah keperawatan.
6. Intervensi yang sudah dilakukan.
7. Intervensi yang belum dilakukan.
8. Tindakan kolaborasi.
9. Rencana umum dan persiapan lain.
10. Tanda tangan dan nama terang.
Manfaat pendokumentasian adalah:
1. Dapat digunakan lagi untuk keperluan yang bermanfaat.
2. Mengkomunikasikan kepada tenaga perawat dan tenaga kesehatan lainnya
tentang apa yang sudah dan akan dilakukan kepada pasien.
3. Bermanfaat untuk pendataan pasien yang akurat karena berbagai informasi
mengenai pasien telah dicatat.
(Suarli & Yayan B, 2009)
2.9 Skema Timbang Terima
PASIEN

DIAGNOSA MEDIS
MASALAH

DIAGNOSA
KEPERAWATAN
RENCANA
TINDAKAN

YANG TELAH
DILAKUKAN

YANG AKAN
DILAKUKAN
PERKEMBAN
GAN
KEADAAN
PASIEN
9

MASALAH:
-

TERATASI
BELUM
SEBAGIAN

Gambar 2.1 : Skema timbang terima (Nursalam, 2008)


2.10 Mekanisme Kegiatan Timbang Terima
TAHAP
Pra Timbang

KEGIATAN
1. Kedua

Terima

WAKTU

kelompok

dinas 10 menit

sudah siap dan berkumpul

TEMPAT

PELAKSANA

Nurse

Karu

Station

PP

di Nurse Station.
2. Karu mengecek kesiapan

PA

timbang terima tiap PP.


3. Kelompok
yang
akan
bertugas

menyiapkan

catatan (Work Sheet), PP


yang akan mengoperkan,
menyiapkan buku timbang
terima & nursing kit.
4. Kepala ruangan membuka
acara

timbang

terima

dilanjutkan dengan doa.

Pelaksanaan

PP

dinas

Timbang

timbang terima kepada PP dinas

Terima

sore. Hal-hal
disampaikan

pagi

melakukan 20 menit

yang
PP

perlu

pada

saat

timbang terima :
1. Identitas

klien

dan

diagnosa medis termasuk


hari rawat keberapa atau
post op hari keberapa.
10

Nurse

Karu

Station

PP
PA

2. Masalah keperawatan.
3. Data yang mendukung.
4. Tindakan keperawatan
yang

sudah/belum

dilaksanakan.
5. Rencana umum
perlu

yang

dilakukan:

Pemeriksaan penunjang,
konsul,

prosedur

tindakan tertentu.
6. Karu membuka

Disamping
dan

memberi salam kepada


klien,

PP

menjelaskan
klien,

tidur klien

pagi
tentang

PP

mengenalkan

tempat

sore
anggota

timnya dan melakukan


validasi data.
7. Lama timbang

terima

setiap klien kurang lebih


5 menit, kecuali kondisi
khusus

yang

memerlukan keterangan
lebih rinci.
Post timbang

1. Klarifikasi

hasil

terima

data oleh PP sore.


2. Penyampaian alatkesehatan.
3. Laporan timbang

validasi 5 menit
alat
terima

ditandatangani oleh kedua


PP dan mengetahui Karu
(kalau pagi saja).
4. Reward Karu

terhadap

perawat yang akan dan

11

Nurse

Karu

station

PP
PA

selesai bertugas.
5. Penutup oleh karu.
Hal-hal yang perlu diperhatikan:
1.
2.
3.
4.

Dilaksanakan tepat pada saat pergantian shift.


Dipimpin oleh kepala ruangan atau penanggung jawab
Diikuti oleh semua perawat yang telah dan yang akan dinas
Informasi yang disampaikan harus akurat, singkat, sistematis, dan

menggambarkan kondisi pasien saat ini serta menjaga kerahasiaan pasien.


5. Timbang terima harus berorientasi pada permasalahan pasien.
6. Pada saat timbang terima di kamar pasien, menggunakan volume yang
cukup sehingga pasien di sebelahnya tidak mendengar sesuatu yang
rahasia bagi klien. Sesuatu yang dianggap rahasia sebaiknya tidak
dibicarakan secara langsung di dekat klien.
7. Sesuatu yang mungkin membuat pasien terkejut dan shock sebaiknya
dibicarakan di nurse station.
(Nursalam, 2008)
2.11 Evaluasi dalam Timbang Terima
1. Evaluasi Struktur
Pada timbang terima, sarana dan prasarana yang menunjang telah
tersedia antara lain : Catatan timbang terima, status klien dan kelompok
shift timbang terima. Kepala ruangan memimpin kegiatan timbang terima
yang dilaksanakan pada pergantian shift yaitu pagi ke sore. Sedangkan
kegiatan timbang terima pada shift sore ke malam dipimpin oleh perawat
primer.
2. Evaluasi Proses
Proses timbang terima dipimpin oleh kepala ruangan dan dilaksanakan
oleh seluruh perawat yang bertugas maupun yang akan mengganti shift.
Perawat primer malam menyerahkan ke perawat primer berikutnya yang
akan mengganti shift. Timbang terima pertama dilakukan di nurse station
kemudian ke bed klien dan kembali lagi ke nurse station. Isi timbang
terima mencakup jumlah klien, masalah keperawatan, intervensi yang
sudah dilakukan dan yang belum dilakukan serta pesan khusus bila ada.
Setiap klien dilakukan timbang terima tidak lebih dari 5 menit saat
klarifikasi ke klien.
3. Evaluasi Hasil
Timbang terima dapat dilaksanakan setiap pergantian shift. Setiap
perawat dapat mengetahui perkembangan klien. Komunikasi antar
perawat berjalan dengan baik.
12

BAB III
SKENARIO ROLE PLAY TIMBANG TERIMA
Strategi Pelaksanaan Timbang Terima Keperawatan
1. PRE KONFERENS
Peran
Kepala Ruangan

: Dimas Ragil

Ketua Tim 1 (Pagi)

: Tutut Sulistiyowati

13

Perawat Pelaksana (Pagi)

: Ashinta Dwi Qumalasari

Perawat Assosiate (Pagi)

: Rizki Emil Linda

Ketua Tim 2 (Sore)

: Windya Noor Vika

Perawat Pelaksana (Sore)

: Nur Virda Amalia

Pasien

: Elok Nur Indah Sari

Job Description
Kepala Ruangan

: Membuka dan faslitator

Ketua Tim

: Membuat intervensi selanjutnya


Melakukan validasi data

Perawat Pelaksana

: Menjelaskan data pasien


Menjelaskan

intervensi

yang

akan

dilakukan
Perawat Assosiate

: Melakukan tindakan yang telah


direncanakan oleh perawat primer dan
evaluasi (soap)

Nurse Station
Kepala Ruangan

: Assalamualaikum wr wb, sebelum kita melakukan


operan, marilah kita ucapkan puji syukur atas
kehadirat Allah

SWT,

karena

rahmat

serta

karunianya lah kita dapat berkumpul disini. Pada


siang hari ini tanggal 30 November 2015 akan
dilakukan kegiatan operan yang rutin kita lakukan
setiap pergantian shift. Dan untuk masing-masing
ketua tim saya persilahkan memvalidasi data yang
sudah

ada

untuk

merencanakan

tindakan

keperawatan selanjutnya.
Ketua Tim 1 (Pagi)

: Baik terimakasih atas waktu yang telah diberikan,


untuk kasus yang terjadi pada Ny. Nursia terkait
masalah nyeri yang dihadapai pasien CA Mamae,
intervensi yang telah dilakukan yaitu memberikan
posisi yang nyaman dan mengajarkan teknik
distraksi

relaksasi

14

kepada

pasien,

kemudian

kemaren juga telah diberikan terapi obat berupa


analgetik sesuai dengan advis dokter. Kepada
perawat pelaksana yang dinas pagi dipersilahkan
menjelaskan kondisi masing-masing pasien saat ini
ke perawat pelaksana yang dinas sore.
Perawat Pelaksana (Pagi) : Assalamualaikum Wr Wb, Terima Kasih untuk
kesempatan yang diberikan kepada Saya Untuk
Menjelaskan Kondisi Pasien Saat Ini, Jumlah
Pasien saat ini adalah 4 orang Dengan Tingkat
Ketergantungan Minimal 1 orang, Parsial 2 orang
dan total care 1 orang. Identitas Pasien Yang
Pertama Nama Ny.Nursia, umur 55 tahun, Tingkat
Ketergantungan minimal care Diagnosa Medis Ca.
Mammae. Keadaan Umum Pasien

baik. Ttv

Terakhir Pukul 13.00 Tens, 120/80 mmHg, Suhu


36,80c, Nadi 80x/menit, RR 20x/menit GCS 15.
pasien

Mengeluhkan nyeri bagian mammae.

Masalah Keperawatan Yang Ditemukan Adalah


gangguan rasa nyaman nyeri. Intervensi yang
direncanakan :
1. Kaji tingkat nyeri
2. Pertahankan tirah baring, lingkungan yang
tenang.
3. Minimalkan

gangguan

lingkungan

dan

rangsangan.
4. Batasi aktivitas
5. Beri terapi obat analgetik
6. Beri tindakan yang menyenangkan sesuai
indikasi seperti kompres es, posisi nyaman,
tehnik relaksasi, bimbingan imajinasi,
7. Hindari konstipasi.
Demikian yang dapat saya sampaikan,
mengenai laporan tindakan keperawatan akan
disampaikan oleh perawat assosiate.

15

Ketua tim

: Dan selanjutnya kepada perawat Assosiate silahkan


melaporkan tindakan yang telah dilakukan kepada
Ny. Nursia.

Perawat Assosiate (Pagi) : Assalamualaikum Wr. Wb terima atas waktunya,


disini saya akan melaporkan tentang tindakan yang
telah saya lakukan kepada Ny. Nursia.
Implementasi Yang Sudah Dilakukan
1. Mengkaji tingkat nyeri dengan hasil nyeri sedang
2. mempertahankan tirah baring, lingkungan yang
tenang.
3. Minimalkan

gangguan

lingkungan

dan

rangsangan.
4. membatasi aktivitas.
5. Beri obat analgesik.
Intervensi Yang Belum Terlaksana
1. Beri tindakan yang menyenangkan sesuai indikasi
seperti kompres es, posisi nyaman, tehnik
relaksasi, bimbingan imajinasi,
2. Hindari konstipasi.
Evaluasi (Soap)
S

: Pasien mengatakan nyeri mammae berkurang

: Pasien Nampak rileks

: Masalah nyeri sebagian teratasi

: Lanjutkan intervensi.
Demikian yang dapat saya sampaikan tentang

keadaan pasien di ruang anggrek saat ini.


Kepala Ruangan

: Terima kasih untuk perawat pelaksana yang telah


menyampaikan kondisi dari semua pasien saat ini,
mungkin ada yang perlu ditambahkan dari masingmasing ketua tim untuk memvalidasi data. Kalau
tidak ada tambahan mari kita langsung saja menuju ke

16

ruangan pasien ( kepala ruangan mengajak katim


dinas sore ).
2. KONFERENS SAAT BERADA DI RUANGAN PASIEN
Kepala Ruangan

: Assalamualaikum Wr Wb, Bagaimana Keadaannya


ibu Nursia Saat Ini? Seperti Biasa , Ibu, Kita Disini
Akan Melakukan Kegiatan Timbang Terima Yang
Rutin Setiap Pergantian Shift, Tujuan Dari Timbang
Terima Ini Adalah Mengkomunikasikan Keadaan Ibu
Sekarang

Dan

Menyampaikan

Informasi

Yang

Penting Antar Shift Jaga. Perkenalkan kepada perawat


pelaksana pagi dari ada Ns.Tutut Dan Ns Asinta. Dari
ada Ns Windya dan Ns Virda Yang akan bertugas
menggantikan perawat pelaksana pagi ini.
Masing-masing perawat pelaksana dari yang dinas sore melakukan validasi
langsung ke pasien.
Perawat Pelaksana (Sore) : Apa yang dirasakan bu Nursia Saat ini apakah
sudah ada perkembangan yang lebih baik dari
sebelumnya?
Pasien

: Iya suster saya masih lemas dan sakit pada bagian


dada terutama mamae.

Perawat Pelaksana (Sore) : Iya ibu, lemas dan sakit pada bagian kepala yang
dirasakan merupakan efek dari proses penyakit,
namun ibu jangan terlalu cemas karena sudah ada
perawatan yang diberikan dan terapi obat yang di
berikan dokter untuk mengatasi masalah yang
diderita ibu saat ini, (perawat memberikan posisi
senyaman mungkin pada pasien dan mengajarkan
teknik distraksi, relaksasi untuk mengurangi rasa
nyeri)

baik ya ibu,

tidak perlu sungkan bila

memerlukan bantuan, kami akan akan selalu siap


memberikan pelayanan yang terbaik.

17

Demikian perawat pelaksana dari masing-masing tim (sore) menanyakan


secara bergantian keluhan dari semua pasien yang ada di ruang perawatan
untuk memvalidasi data yang dilaporkan oleh perawat pelaksana pada tim
(pagi)
Kepala ruangan

: Sebelum saya akhiri mungkin ada tambahan atau


koreksi yang perlu didiskusikan kembali ?
Jika tidak saya ucapkan terima kasih pada semua
pihak yang telah mengikuti timbang terima ini.
Wassalamualaikum wr wb
(sambil berjabat tangan dengan semua anggota
timbang terima sambil meninggalkan kamar pasien
dan akan menuju ke nurse station)

3. POST KONFERENS
Kepala ruangan

: Kita tadi sudah bersama-sama melakukan kegiatan


timbang terima, saya berharap dengan adanya
kegiatan ini proses pendelegasian tugas antar shift
bisa jelas dan terstruktur. Mungkin dari pasien tadi
ada yang masih harus di diskusikan lagi?

Perawat pelaksana dari yang dinas sore mengklarifikasikan hasil


validasi kepada Karu, Katim dinas pagi dan katim dinas sore, serta
Perawat pelaksana yang dinas pagi.
Perawat Pelaksana (Sore) : Iya, ada tambahan dari pasien kamar VII atas
nama

Ny. Nursia masih mengeluh nyeri

bagian post oprasi.


PP (Pagi)

: Sudah diberikan terapi obat yang sesuai


dengan anjuran dari dokter.

Ketua Tim (sore)

: Untuk intervensi selanjutnya pasien Ny. Nursia


Beri tindakan yang menyenangkan sesuai
indikasi seperti kompres es, berikan posisi
yang nyaman dan ajarkan teknik distraksi
relaksasi, bila perlu konsulkan lagi ke dokter

18

jaga untuk terapi obat apakah masih bisa


diberikan atau diganti dngan obat yang lain.
Kepala ruangan

: Terima kasih atas kerjasamanya dari ketua tim


1 dan ketua tim 2 beserta perawat pelaksana
yang telah bekerja dengan baik. Demikian tadi
timbang terima ini semoga apa yang telah kita
lakukan

hari

keuntungan

ini

bagi

memberikan
kita

semua,

banyak
dan

kita

diberikan kelancaran dalam melaksanakan


tugas masing-masing. Demikian saya akhiri
Wassalamualaikum wr, wb.

BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Timbang terima adalah suatu cara dalam menyampaikan dan menerima
suatu laporan yang berkaitan dengan keadaan klien. Timbang terima
merupakan kegiatan yang harus dilakukan sebelum pergantian shift. Selain
laporan

antar shift,dapat

disampaikan

juga

informasi-informasi

yang

berkaitan dengan rencana kegiatan yang telah atau belum dilaksanakan.


Timbang terima adalah satu cara dalam menyampaikan dan menerima
sesuatu (laporan) yang berkaitan dengan keadaan klien (Nursalam, 2002).
Timbang terima bertujuan untuk kesinambungan informasi mengenai keadaan
klien secara menyeluruh sehingga tercapai asuhan keperawatan yang optimal.
4.2 Saran
Sebagai pemberi pelayanan keperawatan, perawat kiranya lebih mematuhi
SOP yang ditetapkan, menerapkan kerjasama dengan tim kesehatan dalam
pemberian pelayanan kesehatan, menerapkan komunikasi yang baik terhadap

19

pasien dan keluarga serta tenaga kesehatan lainnya, peka dalam


menyelesaikan

masalah

terhadap

kejadian

tidak

diharapkan,

mendokumentasikan dengan benar semua asuhan keperawatan yang diberikan


kepada pasien dan keluarga. Pada laporan timbang terima hendaknya
dilengkapi dengan tanda tangan PP pagi dan PP sore sebagai dokumentasi
keperawatan.

20