Anda di halaman 1dari 44

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masa nifas merupakan masa yang cukup penting bagi tenaga kesehatan
untuk selalu melakukan pemantauan karena pelaksaan yang kurang maksimal
dapat menyebabkan ibu mengalami berbagai masalah, bahkan dapat berlanjut
pada komplikasi masa nifas, seperti sepsis puerperalis. Jika ditinjau dari
penyebab kematian para ibu, infeksi merupakan penyebab kematian terbanyak
nomor dua setelah perdarahan sehingga sangat tepat jika para tenaga kesehatan
memberikan perhatian yang tinggi pada masa ini. Adanya permasalahan pada
ibu akan berimbas juga kepada kesejahteraan bayi yang dilahirkan karena bayi
tersebut tidak akan mendapatkan perawatan maksimal dari ibunya. Dengan
demikian, angka morbiditas dan mortalitas bayi pun akan meningkat. Infeksi
masa nifas ini bermacam- macam salah satunya adalah infeksi yang terjadi
pada payudara yaitu mastitis yang awalnya adalah karena bendungan ASI.
(Wirnis Ikhfa, 2013)
Bendungan air susu dapat terjadi pada hari ke dua atau ke tiga ketika
payudara telah memproduksi ASI. Bendungan disebabkan oleh pengeluaran air
susu yang tidak lancar, karena bayi tidak cukup untuk menyusui, produksi
meningkat, terlambat menyusukan, hubungan dengan bayi (bounding) kurang
baik, dan dapat pula karena adanya pembantasan waktu menyusui
(Saifuddin, 2009).

Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Pediatrics, menunjukkan


bahwa ASI dapat memberikan perlindungan bagi bayi dalam menurunkan
risiko untuk terjadinya diare, infeksi telinga dan radang selaput otak
(meningitis) bakteri. Juga mampu melindungi terhadap diabetes, kegemukan
dan asma. Pada penelitian sebelumnya, juga disebutkan manfaat ASI dalam
mencegah terjadinya sepsis (infeksi berat) pada bayi yang lahir dengan berat
badan rendah. Bukan hanya itu saja, sang ibu juga memperoleh manfaat yang
tidak kalah besarnya. Menyusui mampu untuk menurunkan risiko untuk
menderita kanker indung telur dan kanker payudara, dan menurunkan risiko
terjadinya patah tulang panggul dan osteoporosis (keropos tulang) saat
menopause nantinya.

Penelitian sebelumnya

juga menyebutkan akan

perlindungan pada ibu dalam menurunkan risiko untuk menderita Rematoid


Arthritis hingga 30% (Hastuti, 2012).
Menurut Roesli Utami (2004) seharusnya proses pemberian susu pada
bayi melibatkan tiga hubungan insani. ibu yang memberikan ASI, si anak yang
diberikan

dan

ayah

sebagai

penyeimbang

hubungan.

Namun

pada

kenyataannya banyak kaum ayah yang merasa tidak terlibat dalam proses sosial
ini cenderung menyerahkan segala urusan pemberian ASI anak pada ibunya
saja, dan merasa tidak perlu ikut campur dalam proses ini. Padahal
keterlibatan seorang ayah dalam proses ini akan memberi motivasi ibu untuk
menyusui. Jika ibu sudah memiliki motivasi dan optimistis bisa menyusui, air
susu-pun akan berhamburan. Kemudian ia menambahkan, banyak kondisi
produksi ASI seorang ibu dikarenakan oleh kondisi emosi seorang ibu. Pada

tahap inilah keterlibatan seorang ayah berperan. Hingga apabila seorang ayah
mampu memperlihatkan rasa sayang dan perhatian terhadap ibu dan anak, bisa
mengakibatkan seorang ibu merasa lebih nyaman dan menghasilkan ASI yang
berlimpah.Namun kenyataan yang ada sekarang ini justru malah kebalikannya.
Banyak ibu sekarang tidak menyusui bayinya karena merasa ASI yang
diproduksinya tidak cukup banyak, encer, atau malah tidak merasa keluar sama
sekali. Padahal menurutnya, bila mengutip dari penelitian WHO (1999),
hanya ada satu dari 1.000 orang ibu yang tidak menyusui, lima dari 10 wanita
(50%) yang sedang menyusui, bila terlambat memberikan ASI kepada bayinya
maka akan terjadi bendungan ASI, sehingga banyak kelenjar ASI yang
membengkak yang berisi ASI yang belum dikeluarkan. Kelenjar ASI dapat
juga membengkak oleh karena adanya Infeksi (biasanya disertai rasa nyeri,
demam, lebih panas dari jaringan sekitarnya). Sebaiknya setiap benjolan pada
payudara

segera

ditindaklanjuti

dan

diberikan

terapi

yang

tepat.

(Ryan, 2011)
Selain itu sering juga ibu tidak menyusui bayinya karena terpaksa, baik
karena faktor intern dari ibu seperti terjadinya bendungan ASI yang
mengakibatkan ibu merasa sakit sewaktu bayinya menyusu, luka-luka pada
putting susu yang sering menyebabkan rasa nyeri, kelainan pada puting susu
dan adanya penyakit tertentu seperti tuberkolose, malaria yang merupakan
alasan untuk tidak menganjurkan ibu menyusui bayinya, demikian juga ibu
yang gizinya tidak baik akan menghasilkan ASI dalam jumlah yang relatif
lebih sedikit dibandingkan ibu yang sehat dan gizinya baik. Disamping itu juga

karena faktor dari pihak bayi seperti bayi lahir sebelum waktunya (prematur)
atau bayi lahir dengan berat badan yang sangat rendah yang mungkin masih
terlalu lemah bila mengisap ASI dari payudara ibunya, serta bayi yang dalam
keadaan sakit (Siregar, 2009).
Menurut World Health Organization (WHO) proporsi kematian bayi baru
lahir di dunia sangat tinggi dengan estimasi sebesar 4 juta kematian bayi baru
lahir pertahun dan 1,4 juta kematian pada bayi baru lahir pada bulan pertama di
Asia tenggara. Hanya sedikit negara di Asia Tenggara yang mempunyai sistem
registrasi kelahiran yang baik sehingga tidak diperoleh data yang akurat
tentang jumlah kematian bayi baru lahir atau pun kematian pada bulan pertama.
Dalam kenyataannya, penurunan angka kematian bayi baru lahir di setiap
negara di Asia Tenggara masih sangat lambat. Perkiraan kematian yang terjadi
karena tetanus adalah sekitar 550.000 lebih dari 50 % kematian yang terjadi di
Afrika dan Asia Tenggara disebabkan karena Infeksi pada tali pusat pada
umumnya menjadi tempat masuk utama bakteri, terutama apabila diberikan
sesuatu yang tidak steril. (Saifuddin, 2009)
Menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI 2012) Angka
kematian bayi baru lahir sebesar 25 per 1000 kelahiran hidup. Sebagian besar
penyebab kematian tersebut dapat dicegah dengan penanganan yang adekuat
hal ini menunjukkan bahwa AKB di Indonesia adalah 35 bayi per 1000
kelahiran hidup, Padahal pada tahun 2015 Indonesia telah menargetkan AKB
menurun menjadi 17 bayi per 1000 kelahiran hidup. (Kemenkes, BKKBNBPS, 2012)

Hasil pengumpulan data profil kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan tahun


2012 jumlah kematian bayi sebesar 861 bayi atau 5.93 per 1000 kelahiran
hidup, oleh karena itu masih perlu upaya dari semua pihak yang terkait dalam
rangka penurunan angka tersebut sehingga target Milinium Development Goals
(MDGs) khususnya penurunan angka kematian dapat tercapai. Penyebab
kematian bayi yang terbanyak adalah disebabkan karena pertumbuhan janin
yang lambat, kekurangan gizi pada janin, kelahiran prematur dan Berat Badan
Lahir Rendah (BBLR) sedangkan penyebab lainnya yang cukup banyak terjadi
adalah kejadian 24 Diare; 21 Pneumonia; 25 Campak; 2 Icterus; 1 Trauma; 3
Infeksi; 19 Kelainan Kongenital; 15 Gizi Buruk; 6 Gizi Kurang; 0 Lain-lain;
107 kurangnya oksigen dalam rahim (hipoksia intrauterus) dan kegagalan nafas
secara spontan dan teratur pada saat lahir atau beberapa saat setelah lahir
(asfiksia lahir) termasuk kekurangan Gizi maupun gizi buruk (Dinkes Sul-Sel
2012)
Data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bone, jumlah
kelahiran pada tahun 2013 yaitu sebanyak 13.471 bayi (95,78%) dan jumlah
kematian bayi tahun 2013 sebanyak 76 (0.56%) bayi. Pada tahun 2014 jumlah
kelahiran sebanyak 13.573 (96,51%). dan jumlah kematian bayi meningkat
menjadi 78 (0.57%) bayi. (Data Dinas Kesehatan Kabupaten Bone, 2015)
Dampak bendungan ASI yaitu statis pada pembuluh limfe akan
mengakibatkan tekanan intraduktal yang akan mempengaruhi berbagai segmen
pada payudara, sehingga tekanan seluruh payudara meningkat, akibatnya
payudara sering terasa penuh, tegang, dan nyeri, walaupun tidak disertai

dengan demam. Terlihat kalang payudara lebih lebar sehingga sukar dihisap
oleh bayi. Bendungan ASI yang tidak disusukan secara adekuat akhinya terjadi
mastitis. (Rosiati, 2011)
Berdasarkan latar belakang dan fenomena tersebut di atas, peneliti sangat
tertarik untuk meneliti tentang Faktor-faktor yang Menyebabkan Terjadinya
Bendungan ASI Pada Ibu Post Partum di UPTD Puskesmas Cina Kec. Cina
Kab. Bone Tahun 2015
B. Rumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan permasalahan pada latar belakang di atas, maka rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah : Faktor-faktor Apa Saja yang
Menyebabkan Terjadinya Bendungan ASI Pada Ibu Post Partum Di UPTD
Puskesmas Cina Kec. Cina Kab. Bone Tahun 2015
C. Maksud dan Tujuan Penelitian
1. Maksud Penelitian
Maksud dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor
yang menyebabkan terjadinya bendungan ASI pada ibu post partum di
UPTD Puskesmas Cina Kec. Cina Kab. Bone Tahun 2015.
2. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui terjadinya bendungan ASI pada ibu post partum yang
disebabkan hisapan bayi yang tidak aktif di UPTD Puskesmas Cina Kec.
Cina Kab. Bone Tahun 2015.
b. Untuk mengetahui terjadinya bendungan ASI pada ibu post partum yang
disebabkan karena teknik posisi menyusui bayi yang tidak benar di
UPTD Puskesmas Cina Kec. Cina Kab. Bone Tahun 2015

c. Untuk mengetahui terjadinya bendungan ASI pada ibu post partum di


yang disebabkan kelainan bentuk puting susu di UPTD Puskesmas Cina
Kec. Cina Kab. Bone Tahun 2015
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Dapat memperkaya konsep teori yang menyongsong perkembangan ilmu
pengetahuan

kebidanan

khususnya

pengetahuan

tentang

masalah

Bendungan ASI.
2. Manfaat Praktis
Dapat memberikan masukan yang berarti bagi para ibu dalam meningkatkan
pengetahuan tentang bendungan ASI melalui presfektif motivasi.
a. Bagi Peneliti atau Mahasiswa
Untuk menambah pengetahuan dan pengalaman bagi penulis dalam
menerapkan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan di Akademi
Kebidanan Lapatau Bone.
b. Bagi Instansi Pelayanan
Hasil penelitian ini diharapkan bisa dijadikan masukan bagi pengelola
program kesehatan untuk mengembangkan pendidikan kesehatan
(penyuluhan)

bagi

masyarakat

sebagai

upaya menurunkan angka

kematian ibu dan bayi untuk mencapai Target MDGs 2015.


c. Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan bacaan
dan bahan untuk penelitian selanjutnya

BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

A. Komplikasi Dan Kelainan-Kelainan Dalam Masa Nifas


1. Komplikasi Dalam Masa Nifas
a. Infeksi nifas
Infeksi masa nifas adalah semua peradangan yang disebabkan oleh
masuknya kuman-kuman ke dalam alat-alat genital pada waktu
persalinan dan nifas.Demam nifas atau morbiditas puerperalis meliputi

demam dalam masa nifas oleh sebab apapun. Menurut Joint Committee
on Maternal Welfare, morbiditas puerperalis ialah kenaikan suhu sampai
380 C atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama postpartum, dengan
mengecualikan hari pertama. (Rukiyah, 2010)
b. Endometritis
Endometritis adalah radang pada endometrium, kuman-kuman
memasuki endometrium biasanya pada luka bekas insertion plasenta dan
dalam waktu singkat mengikutsertakan seluruh endometrium. Pada
infeksi dengan kuman yang tidak seberapa patogen, radang terbatas pada
endometrium.
Endometritis adalah infeksi atau desidua endometrium, dengan
ekstensi ke miometriu m dan jaringan parametrial. Endometritis dibagi
menjadi kebidanan dan nonobstetric endometritis. Endometritis dapat
juga terjadi karena kelanjutan dari kelahiran yang tidak normal, seperti
abortus, kelahiran prematur, kelahiran kembar, kelahiran yang sukar
(distokia), perlukaan yang disebabkan
oleh alat-alat yang dipergunakan
9
untuk pertolongan pada kelahiran yang sukar. Jaringan desidua bersamasama dengan bekuan darah menjadi nekrotis dan mengeluarkan getah
berbau dan terdiri atas keping-keping nekrotis serta cairan. (Rukiyah,
2010)
c. Peritonitis
Peritonitis adalah inflamasi peritoneum-lapisan membrane serosa
rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyulit berbahaya yang
dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis atau kumpulan tanda dan
gejala, diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi, defans
muscular, dan tanda-tanda umum inflamasi. (Rukiyah, 2010)

10

d. Bendungan ASI
Bendungan air susu adalah terjadinya pembengkakan pada
payudara

karena

peningkatan

aliran

vena

dan

limfe

sehingga

menyebabkan bendungan ASI dan rasa nyeri disertai kenaikan suhu


badan. (Rukiyah, 2010)
e. Infeksi Payudara.
Dalam masa nifas dapat terjadi infeksi dan peradangan (Mastitis)
pada mammae, Infeksi terjadi melalui luka pada puting susu, tetapi juga
melalui peredarahan darah. Penyakit yang menyerang payudara ternyata
tidak hanya kanker payudara saja. Ada penyakit berbahaya.yaitu mastitis
atau biasa juga disebut dengan radang payudara.
Mastitis ini biasanya diderita oleh ibu yang baru melahirkan dan
menyusui. Radang ini terjadi karena ibu tidak menyusui atau puting
payudaranya lecet karena menyusui. Kondisi ini bisa terjadi pada satu
atau kedua payudara sekaligus.
Mastitis merupakan peradangan payudara yang dapat disertai atau
tidak disertai infeksi.Penyakit ini biasanya menyertai laktasi sehingga
disebut juga mastitis laktasional atau mastitis puerperalis.
Mastitis adalah infeksi pada payudara yang terjadi pada 1-2%
wanita yang menyusui. Mastitis umum terjadi pada minggu 1-5 setelah
melahirkan terutama pada primipara. Infeksi terjadi melalui luka pada
puting susu, tetapi mungkin juga melalui peredaran darah. Mastitis
ditandai dengan nyeri pada payudara, kemerahan area payudara yang
membengkak, demam, menggigil dan penderita merasa lemah dan tidak
nafsu makan. Terjadi beberapa minggu setelah melahirkan. Infeksi ini
biasanya terjadi kira-kira 2 minggu setelah melahirkan yang disebabkan

11

adanya bakteri yang hidup di pemukaan payudara. Kelelahan, stres, dan


pakaian ketat dapat menyebabkan penyumbatan saluran air susu dan
payudara yang sedang nyeri, jika tidak segera diobati bisa terjadi abses.
(Rukiyah, 2010)
2. Kelainan-kelainan Pada Masa Nifas
a. Kelainan pada rahim
1) Sub involusi uteri
Involusi adalah keadaan uterus mengecil oleh kontraksi rahim
dimana berat rahim dari 1000 gram saat setelah bersalin, menjadi 40
60 gram 6 minggu kemudian. Pada beberapa keadaan terjadinya
proses involusi rahim tidak berjalan sebagaimana mestinya, sehingga
proses pengecilannya terlambat. Keadaan demikian disebut sub
involusi uteri. Penyebab terjadinya sub involusi uteri adalah terjadinya
infeksi pada endometrium, terdapat sisa plasenta dan selaputnya,
terdapat bekuan darah atau mioma uteri. Pada palpasi uterus teraba
masih besar, fundus masih tinggi, lochea banyak, dapat berbau dan
terjadi perdarahan.
2) Perdarahan masa nifas
a) Pengertian
Perdarahan lebih dari 500-600 ml dalam masa 24 jam setelah anak
lahir.
b) Pembagian
(1). Perdarahan postpartum primer (early postpartum hemorhage)
yang terjadi pada 24 jam pertama.
(2) Perdarahan postpartum sekunder (late postpartum hemorrhage)
yang terjadi setelah 24 jam.
c) Etiologi
Penyebab perdarahan postpartum primer adalah atonia uteri,
retensio plasenta, sisa plasenta, laserasi jalan lahir dan inversio

12

uteri. Sedangkan penyebab perdarahan postpartum sekunder adalah


sub involusi, retensi sisa plasenta, infeksi nifas.
d) Pencegahan
Pencegahan perdarahan post partum dapat dilakukan dengan
mengenali resiko perdarahan post partum (uterus distensi, partus
lama, partus dengan pacuan), memberikan oksitoksin injeksi
setelah bayi lahir, memastikan kontraksi uterus setelah bayi lahir,
memastikan plasenta lahir lengkap, menangani robekan jalan lahir.
b. Kelainan lain dalam nifas
1) Flegmasia alba dolens
Suatu tromboflebitis yang mengenai satu atau kedua vena
vemoralis.Hal ini disebabkan oleh adanya trombosis atau embolus
yang disebabkan karena adanya perubahan atau kerusakan pada intima
pembuluh darah, perubahan pada susunan darah, laju peredaran darah,
atau karena pengaruh infeksi atau venaseksi.
Faktor predisposisinya adalah usia lanjut, multi paritas, obstetri
operatif, adanya farices dan infeksi nifas. Gejala klinisnya meliputi
suhu badan naik, nyeri kaki dan betis pada saat berjalan atau ditekan
(tanda homan) dan bengkak (tumor) kalau ditekan menjadi cekung
2) Nekrosis hipofisis lobus anterior post partum
Sindroma sheehan atau nekrosis lobus depan dari hipofisis
karena syock akibat perdarahan persalinan. Hipofisis ikut berinvolusi
setelah persalinan karena syock akibat perdarahan hebat pada hipofisis
terjadilah nekrosis pada pars anterior.Mungkin pula nekrosis ini terjadi
karena pembekuan intravaskuler menyebabkan trombosis pada
sinusoid hipofisis. Gejala timbul agalaksia, amenore, dan insufisiensi
hormon pars anterior hipofisis. (Wulandari, 2008)

13

B. Tinjauan Umum Tentang Bendungan ASI


1. Pengertian
Bendungan Asi adalah Bendungan ASI adalah peningkatan aliran vena
dan limfe padapayudara dalam rangka mempersiapkan diri untuk laktasi.
Halini bukan disebabkan overdistensi dari saluran sistem laktasi.(Saifuddin,
2009)
Bendungan air susu adalah terjadinya pembengkakan pada payudara
karena peningkatan aliran vena dan limfe sehingga menyebabkan
bendungan ASI dan rasa nyeri disertai kenaikan suhu badan. (Rukiyah,
2010)
Bendungan asi dapat terjadi karena adanya penyempitan duktus
laktiferus pada payudara ibu dan dapat terjadi pula bila ibu memiliki
kelainan putting susu( misalnya putting susu datar, terbenam, dan cekung).
Sesudah bayi dan plasenta lahir, kadar esterogen dan progesterone turun
dalam 2-3 hari. Dengan ini factor dari hipotalamus yang menghalangi
keluarnya prolactin waktu hamil, dan sangat dipengaruhi oleh esterogen,
tidak dikeluarkan lagi, dan terjadi sekresi prolactin oleh hypopisis. Hormon
ini menyebabkan alveolus-alveolus kelenjar mamma terisi dengan air susu,
tetapi untuk mengeluarkannnya dibutuhkan reflek yang menyebabkan
kontraksi sel sel mioepitelial yang mengelilingi alveolus dan duktus kecil
kelenjar kelenjar tersebut.(Rukiyah, 2010)
2. Faktor-faktor Penyebab
Beberapa faktor yang dapat menyebabkan bendungan ASI, yaitu:
a. Pengosongan mammae yang tidak sempurna
Dalam masa laktasi, terjadi peningkatan produksi ASI pada Ibu yang
produksi ASI-nya berlebihan.apabila bayi sudah kenyang dan selesai
menyusu, & payudara tidak dikosongkan, maka masih terdapat sisa ASI

14

di dalam payudara. Sisa ASI tersebut jika tidak dikeluarkan dapat


menimbulkan bendungan ASI.
b. Faktor hisapan bayi yang tidak aktif
Pada masa laktasi, bila Ibu tidak menyusukan bayinya sesering mungkin
atau jika bayi tidak aktif mengisap, maka akan menimbulkan bendungan
ASI.
c. Faktor posisi menyusui bayi yang tidak benar
Teknik yang salah dalam menyusui dapat mengakibatkan puting susu
menjadi lecet dan menimbulkan rasa nyeri pada saat bayi menyusu.
Akibatnya ibu tidak mau menyusui bayinya dan terjadi bendungan ASI.
d. Puting susu terbenam
Puting susu yang terbenam akan menyulitkan bayi dalam menyusu.
Karena bayi tidak dapat menghisap puting dan areola, bayi tidak mau
menyusu dan akibatnya terjadi bendungan ASI.
e. Puting susu terlalu panjang
Puting susu yang panjang menimbulkan kesulitan pada saat bayi
menyusu karena bayi tidak dapat menghisap areola dan merangsang sinus
laktiferus untuk mengeluarkan ASI. Akibatnya ASI tertahan dan
menimbulkan bendungan ASI
3. Tanda dan Gejala
Ditandainya dengan : Mamma panas serta keras pada perabaan dan
nyeri, puting susu bisa mendatar sehingga bayi sulit menyusu, Pengeluaran
susu kadang terhalang oleh duktuli laktiferi menyempit, payudara bengkak,
keras, panas, nyeri bila ditekan, warnanya kemerahan, suhu tubuh sampai
380C. (Rukiyah, 2010)
Gejala yang biasa terjadi pada bendungan ASI antara lain payudara
penuh terasa panas, berat dan keras, terlihat mengkilat meski tidak
kemerahan. ASI biasanya mengalir tidak lancar, ada pula payudara yang
terbendung membesar, membengkak dan sangat nyeri, puting susu teregang

15

menjadi rata. ASI tidak mengalir dengan mudah dan bayi sulit mengenyut
untuk menghisap ASI. Ibu kadang menjadi demam, tapi biasanya akan
hilang dalam 24 jam. (Yudarma, 2014).
4. Diagnosis
a. Cara inspeksi
Hal ini harus dilakukan pertama dengan tangan di samping dan sesudah
itu dengan tangan keatas, selagi pasien duduk kita akan melihat dilatasi
pembuluh-pembuluh balik di bawah kulit akibat pembesaran tumor jinak
atau ganas di bawah kulit. perlu diperhatikan apakah kulit pada suatu
tempat menjadi merah.
b. Cara palpasi
Ibu harus tidur dan diperiksa secara sistematis bagian medial lebih
dahulu dengan jari-jari yang harus kebagian lateral. Palpasi ini harus
meliputi seluruh payudara, dari parasternal kearah garis aksila belakang,
dan dari subklavikular kearah paling distal. Untuk pemeriksaan orang
sakit harus duduk. Tangan aksila yang akan diperiksa dipegang oleh
pemeriksa dan dokter pemeriksa mengadakan palpasi aksila dengan
tangan yang kontralateral dari tangan si penderita misalnya kalau aksila
kiri orang sakit yang akan diperiksa, tangan kiri dokter mengadakan
palpasi. (Rukiyah, 2010)
5. Penanganan
a. Mencegah terjadinya payudara bengkak.
b. Susukan bayi segera setelah lahir.
c. Susukan bayi tanpa di jadwal.
d. Keluarkan sedikit ASI sebelum menyusui agar payudara lebih lembek.
e. Keluarkan ASI dengan tangan atau pompa bila produksi melebihi
f.

kebutuhan ASI.
Laksanakan perawatan payudara setelah melahirkan.

16

g. Untuk mengurangi rasa sakit pada payudara berikan kompres dingin dan
hangat dengan handuk secara bergantian kiri dan kanan.
h. Untuk memudahkan bayi menghisap atau menangkap puting susu
i.

berikan kompres sebelum menyusui.


Untuk mengurangi bendungan divena dan pembuluh getah bening
dalam
payudara lakukan pengurutan yang dimulai dari puting kearah korpus

mamae, ibu harus rileks, pijat leher dan punggung belakang.


j. Bagi ibu menyusui, dan bayi tidak menetek, bantulah memerah air susu
dengan tangan dan pompa .
k. Berikan konseling suportif Yakinkan kembali tentang nilai menyusui,
bahwa yang aman untuk diteruskan ASI dari payudara yang terkena tidak
akan membahayakan bayinya dan bahwa payudaranya akan pulih baik
bentuk maupun fungsinya.
l.
Untuk mengurangi bendungan divena dan pembuluh getah bening
dalam payudara lakukan pengurutan yang dimulai dari puting kearah
korpus mammae, ibu harus rileks, pijat leher dan punggung belakang.
m. Bagi ibu menyusui, dan bayi tidak menetek, bantulah memerah air susu
dengan tangan dan pompa. (Rukiyah, 2010)
Sedangkan menurut Saifuddin bahwa penanganan bendungan ASI sebaiknya
dilakukan :
1. Bila ibu menyusui bayinya :
a. Susukan sesering mungkin
b. Kedua payudara disusukan
c. Kompres hangat payudara sebelum disusukan
d. Bantu dengan memijat payudara untuk pemulaan menyusui
e. Sangga payudara
f. Kompres dingin pada payudara di antara permulaan waktu menyusui
g. Bila demem tinggi berikan PCT 500 mg per Oral setiap 4 jam
h. Lakukan evaluasi setelah 3 hari untuk mengetahui hasilnya
2. Bila ibu tidak menyusui :
a. Sangga payudara
b. Kompres dingin payudara untuk mengurangi pembengkakan
c. Bila di perlukan berikan PCT 500 mg per Oral setiap 4 jam

17

d. Jangan di pijat atau memakai kompres hangat payudara. (Saifuddin,


2009).
Hal tersebut juga dijelaskan oleh Bahiyatun bahwa apabila payudara
bengkak akibat bendungan ASI maka sebaiknya:
1. Lakukan pengompresan payudara dengan menggunakan kain basah
2.

dan hangat selama 5 menit


Urut payudara dari arah pangkal menuju puting atau gunakan sisir
yang renggang untuk mengurut payudara dengan arah Z menuju

3.

puting dengan diolesi minyak atau baby oil


Keluarkan ASI sebagian dari bagian depan payudara sehingga puting susu

4.

menjadi lunak
Anjurkan ibu untuk menyusukan bayi setiap 2-3 jam. Apabila tidak dapat

5.
6.

menghisap seluruh ASI sisanya dikeluarkan dengan tangan


Meletakkan kain dingin setelah selesai menyusui
Payudara dikeringkan. (Bahiyatun, 2009)

C. Prosedur Tetap Perawatan Payudara Bengkak


Pengertian : Tindakan mengeluarkan ASI untuk mengurangi pembekakan
payudara pada ibu yang mengalami bendungan ASI.
Tujuan :
1.
2.
3.
4.

Mengeluarkan ASI yang terbendung


Mengurangi pembekakan
Meningkatkan rasa nyaman ibu
Mencegah komplikasi lebih lanjut

Kebijakan : Dilakukan pada ibu nifas yang mengalami bendungan ASI


Persiapan :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

2 buah handuk mandi


Gelas untuk menampung ASI
2 buah waslap
- Pintu dan jendela ruangan tertutup
Air hangat dalam waskom
Air dingin dalam waskom

18

Prosedur :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Cuci Tangan
Siapkan alat-alat
Sapa ibu dan jelaskan prosedur
Atur posisi ibu senyaman mungkin, minta duduk bersandar di kursi
Minta pasien membuka pakaian atas dan BH nya
Selimuti tubuh bagian atas dengan handuk mandi
Kompres payudara dengan waslap yang dibasahi air hangat selama5 menit
Lakukan pengurutan payudara kearah puting susu
Pencet areola mamae untuk mengeluarkan ASI dengan cara :
a. Letakkan ibu jari dan telunjuk di luar daerah areola
b. Tekan ke dalam menggunakan ibu jari dan telunjuk ke arah pangkal
payudara
c. Peras dengan ibu jari dan telunjuk sehingga ASI dari bagian depan

10.
11.
12.
13.

payudara terpencar keluar


Letakkan waslap yang dibasahi air dingin pada payudara
Pasang kembali BH dan pakaian atas pasien
Anjurkan ibu duduk nyaman dengan punggung bersandar di kursi
Sarankan ibu menyusui sesering mungkin, paling sedikit 2-3 jam

sehari

dengan lama menyusui maksimal 15 menit


14. Bereskan alat-alat
15. Cuci tangan (Saifuddin AB. 2009).
D. Tinjauan Umum Tentang Variabel yang Diteliti
1. Tinjauan Tentang Hisapan Bayi
Refleks prolaktin adalah Hisapan bayi pada putting ibu menyebabkan
aliran listrik yang bergerak kehipotalamus yang kemudian akan menuju
kelenjar hipofisis bagian depan. Selanjutnya kelenjar ini akan merangsang
sel-sel alveoli yang berfungsi untuk memproduksi ASI. Makin sering dan
makin lama ASI diberikan, maka kadarprolaktin akan tetap tinggal dan akan
berakaibat ASI akan terus di produksi. Efek lain dari prolaktin adalah
menekan fungsi indung telur (ovarium). Efek penekanan inipada ibu yang

19

menyusui secara ekslusif akan memperlambat kemabalinya fungsi


kesuburan dan haid. Dengan kata lain, menyusui secara eksklusif dapat
menjarangkan kehamilan.
Refleks let down (milk ejection refleks) : Bersamaan dengan
pembentukan prolaktin rangsangan hisapan bayi selain disampaikan ke
kelenjar hipofisis bagian belakang dimana kelenjar ini akan mengeluarkan
oksitosin yang berfungsi memacu kontraksi otot polos yang berada dibawah
alveoli dan dinding saluran sekitar kelenjar payudara mengerut sehingga
memeras ASI keluar. Semakin sering ASI diberikan terjadi pengosongan
alveoli, sehingga semakin kecil terjadi pembendungan ASI di alveoli. Untuk
itu dianjurkan kepada ibu menyusukan bayi tidak dibatasi waktu dan on
demand, akan membantu air susu.
Disamping itu kontraksi otot-otot rahim untuk mencegah timbulnya
pendarahan setelah persalinan serta mempercepat proses involusi rahim. Hal
yang membantu refleks oksitosin adalah ibu memikirkan hal-hal yang dapat
menimbulkan rasa kasih sayang terhadap bayi, suara bayi, raut muka bayi,
ibu lebih percaya diri.
Dengan isapan dalam 30 menit setelah lahir akan merangsang
pelepasan oksitosin yang dapat mengurangi haemorhagic post partum,
meskipun ASI belum keluar, kontak fisik bayi dengan ibu dan membantu
ibu menyusui harus tetap di fasilitasi oleh petugas, Karena pada jam
pertama persalinan pelepasan oksitosin berbanding lurus dengan prolaktin,
dalam level tertinggi sehingga memacu otot polos yang berada di alveoli

20

dan akan memperlancar produksi ASI. Juga secara psikologis memberi


kepuasan kepada

ibu dan manfaat yang tidak kalah pentingnya bagi

bayi adalah
mendukung kemampuan untuk menyusui secara naluriah.
Terdapat 2 jenis hisapan ketika bayi menetek, yaitu: hisapan nutritif
(hisapan aktif/hisapan efektif) dan hisapan non-nutritif (mengempeng).
Bayi yang mendapat banyak ASI di payudara akan memiliki
karakteristik hisapan yang khas. Saat bayi mendapatkan ASI, ibu akan
melihat jeda gerakan hisapan dengan melihat ujung dagu bayi setelah dia
membuka mulut lebar dan sebelum dia mengatupkan mulutnya kembali.
Satu siklus hisapan adalah: Mulut terbuka lebar > jeda > mengatupkan
mulut sambil menghisap. Ibu bisa mencoba mempraktekkan cara menghisap
bayi dengan memasukkan jari telunjuk ke dalam mulut dan menghisapnya.
Bayi melakukan hisapan yang lambat dan dalam, kemudian dia
berhenti sebentar dan menunggu saluran ASI mengisi lagi, setelah itu dia
akan melakukan beberapa hisapan yang cepat untuk memerah ASI. Ketika
ASI mengalir ke dalam mulutnya, hisapannya akan menjadi lebih dalam dan
lambat lagi. Kemudian terdengar suara bayi menelan ASI kira-kira sekali
dalam setiap detik.
Berikut ini tanda hisapan nutritif saat bayi menghisap aktif dan efektif
(nutritive sucking):
a. Ibu bisa melihat bagian yang berwarna merah dari bibir bayi. Ini artinya
bibir bayi melengkung keluar, tidak terlipat ke dalam. Tidak terlihat
adanya lepuhan bibir pada bayi.

21

1) Mulut bayi menutup bagian areola ibu sehingga membentuk segel


yang rapat.
2) Sebagian besar areola masuk ke dalam mulut bayi (kurang lebih
diameter 2,5 cm).
Saat bayi menghisap, ibu hanya melihat bagian luar areola dan tidak
melihat bagian dasar puting. Bayi akan menarik jaringan payudara
membentuk dot yang panjang. Puting hanya membentuk sekitar
sepertiga bagian dari dot tersebut. Bayi menyusu pada payudara, bukan
pada putting. Sehingga puting tidak akan lecet.
b. Lidah bayi terjulur antara bagian bawah payudara ibu dan gusi
bawahnya. Saat dagu bayi diturunkan ibu bisa meraba ujung lidahnya
yang membentuk saluran yang melikuk dot jaringan payudara, juga
melingkupi puting dan menjadi bantalan dari gesekan-gesekan gusi
bawahnya.
c. Telinga bayi bergeliat-geliut akibat gerakan otot di depan telinga bayi
selama bayi menghisap dan menelan efektif. Hal ini menunjukkan bayi
menghisap kuat dan efektif menggunakan seluruh geraham bawah.
d. Ibu mendengar suara bayi menelan ASI.
Pada hari-hari pertama, bayi akan menghisap 5-10 kali sebelum ibu bisa
mendengar suaranya menelan ASI. Saat ASI ibu sudah keluar, maka
setelah LDR ibu bisa mendengar suara bayi menelan ASI, biasanya setiap
satu atau dua hisapan. Menghisap dan menelan secara aktif ini terjadi
hingga 10-15 menit pada payudara pertama. Masih bisa dicoba
ditawarkan payudara kedua kepada bayi, kadang bayi mau dan kadang
dia menolak karena sudah kenyang.
e. Hanya sedikit ASI yang keluar menetes dari sudut mulut bayi.

22

f. Ibu tidak mendengar bunyi ribut cup cup cup Suara ribut saat menetek
menunjukkan lidah tidak berada di tempat yang tepat dan segel tidak
rapat akibat perlekatan kurang baik.
g. Pipi bayi tampak menggembung atau membulat selama penyusuan.
Tanda-tanda menyusu yang baik dengan hisapan bayi yang efektif
akan menunjukkan bahwa bayi bisa mendapat cukup ASI. Tanda bayi sudah
kenyang:
a. Bayi mengantuk
b. Bayi melepaskan payudara sendiri
c. Bayi menolak ketika ditawarkan untuk menyusu lagi. (Annisa Karnadi,
2014)
2. Posisi Menyusui
Menyusui merupakan proses ilmiah dan kadang terlihat amat sangat
sederhana, namun bila dilakukakan dengan cara (teknik) yang salah akan
menyebabkan terjadinya puting susu lecet, air susu tidak keluar dengan
sempurna sehingga akan terjadi pembendungan air susu.
Seorang ibu dengan bayi pertamanya mungkin akan mengalami
berbagai masalah, hanya karena tidak mengetahui cara-cara yang
sebenarnya sangat sederhana, seperti caranya menaruh bayi pada payudara
ketika menyusui, hisapan bayi yang mengakibatkan puting terasa nyeri dan
masih banyak lagi masalah yang lain.
Terlebih pada minggu pertama setelah persalinan seorang ibu akan
lebih peka dalam emosi. Untuk itu seorang ibu butuh seseorang yang dapat
membimbingnya dalam merawat bayi termasuk cara menyusui yang benar.
Banyak ibu merasa lebih mudah untuk menyusui bayinya pada satu sisi

23

payudara dibandingkan payudara yang lain, padahal ini dapat menjadi


penyebab statis ASI atau bendungan ASI pada sisi payudara yang tidak
digunakan untuk menyusui. Posisi yang nyaman untuk menyusui sangat
penting. Lecet pada puting susu dan payudara merupakan kondisi yang tidak
normal dalam menyusui, tetapi penyebab lecet yang paling umum adalah
posisi dan perlekatan yang tidak benar pada payudara
Cara menyusui yang benar merupakan metode pemberian ASI melalui
isapan bayi dengan mengatur posisi tubuh bayi dengan benar (Soetjiningsih,
2005). Suatu proses pemberian ASI pada bayi dengan cara memasukkan
seluruh areola payudara (daerah berwarna cokelat di payudara ibu) ke dalam
mulut bayi dan dengan posisi menyusui yang benar (Arini H, 2012).
Tujuan cara menyusui yang benar diantaranya yaitu mencegah agar
puting tidak lecet, menghindari agar bayi tidak tersedak, menghidari
terjadinya komplikasi khususnya bendungan ASI.
Adapun faktor yang mempengaruhi cara menyusui dari mulai posisi
menyusui yang benar dan pengosongan payudara. Cara menyusui sangat
mempengaruhi kenyamanan bayi menghisap air susu. Oleh karena itu,
usahakan agar ibu dapat menyusui dengan baik dan benar. Anjuran yang
ditekankan adalah untuk segera menyusui bayinya setelah melahirkan.
Masih banyak ibu menyusui yang enggan untuk segera menyusui bayinya
dengan alasan setelah melahirkan masih terasa nyeri dan ASI belum banyak
keluar. Selain itu bidan juga menganjurkan supaya dikompres air hangat dan
dilakukan pengosongan payudara. Peradangan pada payudara dan menjadi

24

merah, bengkak, terasa nyeri, suhu tubuh meningkat, keadaan ini karena
kurangnya ASI dihisap atau dikeluarkan atau pengisapan yang tidak efektif
Apabila payudara tidak dikosongkan, maka alveoli akan mengalami
kongesti (bendungan) dan terjadi pembengkakan payudara karena air susu.
Posisi menyusui yang baik dan benar sebaiknya dilakukan sebagai
berikut:
a.

Cuci tangan yang bersih dengan sabun, peras sedikit ASI dan oleskan

b.

sekitar puting, duduk dan berbaring dengan santai.


Ibu harus mencari posisi nyaman, biasanya duduk tegak, ditempat tidur

c.

atau kursi. Ibu harus merasa rileks.


Lengan ibu menopang kepala, leher dan seluruh badan bayi (kepala dan
tubuh berada dalam baris lurus), muka bayi menghadap ke payudara
ibu, hidung bayi didepan puting susu ibu. Posisi bayi harus sedemikian
rupa sehingga perut bayi menghadap ke perut ibu. Bayi seharusnya
berbaring miring dengan seluruh tubuhnya menghadap ibu. Kepalanya
harus sejajar dengan tubuhnya, tidak melengkung ke belakang atau

d.

menyamping telinga, bahu, dan panggul bayi berada dalam satu garis.
Ibu mendekatkan bayi ke tubuhnya (muka bayi ke payudara ibu) dan

e.

mengamati bayi yang siap menyusu : membuka mulut, bergerak


mencari, dan menoleh. Bayi harus berada dekat dengan payudara ibu.
Ibu menyentuhkan puting susunya ke bibir bayi, menunggu hingga
mulut bayi terbuka lebar kemudian mengarahkan mulut bayin keputing
susu ibu hingga bibir bayi dapat menangkap puting susu tersebut. Ibu
memegang payudara dengan satu tangan dengan cara meletakan empat
jari dibawah payudara dan ibu jari di atas payudara. Ibu jari dan
telunjuk berbentuk huruf C.

25

f.

Pastikan bahwa sebagian besar aerola masuk kedalam mulut bayi. Dagu
rapat kepayudara ibu dan hidungnya menyentuh bagian atas payudara.

g.

Bibir bawah bayi melengkung keluar.


Bayi diletakan menghadap ke ibu dengan posisi sanggah seluruh tubuh
bayi, jangan hanya leher dan bahunya saja, kepala dan tubuh bay harus
lurus, hadapkan bayi kedada ibu sehingga, menyentuh bibir bayi

h.

keputing susunya dan menunggu sampai mulut bayi terbuka lebar.


Jika bayi sudah selesai menyusui, ibu mengeluarkan puting dari mulut
bayi dengan cara memasukkan jari kelingking ibu diantara mulut dan

i.

payudara.
Menyendawakan bayi dengan cara menyandarkan bayi dipundak atau
menelungkpkan bayi melintang kemudian menepuk-nepuk punggung

bayi. (Arini H, 2012).


3. Tinjauan Tentang Kelainan Puting Susu
Puting yang kurang menguntungkan sebenarnya tidak selalu menjadi
masalah. Secara umum, ibu tetap masih dapat menyusui bayinya dan upaya
selama

antenatal

umumnya.

Kurang

berguna,

misalnya

dengan

memanipulasi Hoffman, menarik-narik puting, ataupun penggunaan breast


shield dan breast shell.
Tindakan yang paling efisien untuk memperbaiki keadaan ini adalah
isapan langsung yang kuat. Oleh karena itu, sebaiknya tidak dilakukan apaapa, tunggu saja sampai bayi lahir. Segara setelah pasca-lahir lakukan
tindakan-tindakan berikut:
a. Skin-to-skin kontak dan biarkan bayi mengisap sedini mungkin.

26

b. Biarkan bayi mencari puting kemudian mengisapnya. Bila perlu


dicoba berbagai posisi untuk mendapatkan keadan yang paling
menguntungkan. Rangsang puting agar dapat keluar sebelum bayi
mengambil-nya.
c. Apabila puting benar- benar tidak bisa muncul, dapat ditarik dengan
pompa puting susu (nipple puller ), atau yang paling sederhana dengan
sedotan spuit yang dipakai terbalik.
d. Jika tetap mengalami kesulitan, usahakan agar bayi tetap disusui dengan
sedkit penekanan pada areolla mammae dengan jari sehngga terbentuk
dot ketika memasukan puting susu kedalam mulut bayi.
e. Bila terlalu penuh ASI, dapat diperas terlebih dahulu dan diberikan
dengan sendok atau cangkir, atau teteskan langsung kemulut bayi.
Bila perlu lakukan ini hingga 1-2 minggu (Dewi dan Sunarsih, 2011).
Untuk mengetahui apakah puting susu datar/terbenam yaitu dengan
cara menjepit areolaa antara ibu jari telunjuk dibelakang putting susu. Bila
putting menonjol berati putting tersebut normal, namun bila puting tidak
menonjol berarti putting susu datar/terbenam. Cara mengatasinya: Dengan
menggunakan pompa puting. Puting susu yang datar atau terbenam dapat
dibantu agar menonjol dan dapat diisap oleh mulut bayi. Upaya ini dimulai
sejak kehamilan 3 dan biasanya hanya perlu dibantu hingga bayi berusia 57 hari. Puting juga bisa ditarik keluar secara teratur hingga puting akan
sedikit menonjol dan dapat diisapkan kemulut bayi, puting akan lebih
menonjol lagi. (Ambarwati dan Wulandari, 2009)
Cara mengatasinya bisa mempergunakan pompa puting. Puting juga
bisa ditarik keluar secara teratur hingga putting akan sedikit menonjol dan
dapat diisap kemulut bayi sehingga puting akan menonjol lagi. Kelainan

27

putting payudara Puting payudara yang retraksi (tidak menonjol keluar


dengan baik) akan menyebabkan kesukaran meneteki. Bila tidak terlalu
berat dapat dibantu dengan pompa payudara atau air susu dikeluarkan
dengan pijatan tangan/masase. Pada kasus demikian dianjurkan pda akhir
kehamilan atau sebelum menyusui untuk menarik puting keluar dengan
menggunakan jari atau penarik puting (Saifuddin, 2009).
E. Kerangka Konseptual
Adapun kerangka konsep Karya Tulis Ilmiah penelitian ini adalah tentang
Faktor-Faktor Apa Saja Yang Menyebabkan Terjadinya Bendungan ASI Pada
Ibu Post Partum Di Puskesmas Cina Kec. Cina Kab. Bone Tahun 2015, penulis
membatasi hal-hal yang akan diteliti adalah :
Skema Kerangka Pemikiran
Variabel Independen
Variabel Dependen
Hisapan Bayi Yang Tidak Aktif
Posisi Menyusui yang tidak Benar
Aktif
Kelainan bentuk puting Susu
Pengosongan
Mammae Yang
Terbenam
Keterangan
:
Tidak
Sempurna
Variabel Independent
Variabel Dependent
Variabel yang diteliti
Variabel yang tidak diteliti

Bendungan
ASI

28

BAB III
SUBJEK DAN METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian survey yang bersifat
deskriptif dan bertujuan untuk membuat gambaran tentang suatu keadaan
secara objektif. Dimana pada penelitian ini, peneliti ingin memberikan
gambaran Faktor-faktor penyebab ibu post partum yang mengalami
bendungan ASI di UPTD Puskesmas Cina Kec. Cina Kab. Bone tahun 2015.
B. Populasi dan Sampel Penelitian
1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti
tersebut (Notoadmodjo, 2005), Populasi dalam penelitian adalah semua ibu
post partum yang mengalami bendungan ASI di UPTD Puskesmas Cina
Kec. Cina Kab. Bone tahun 2015.
2. Sampel
Sampel adalah sebagian diambil dari keseluruhan objek yang diteliti
dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoadmodjo, 2005)
3. Teknik penarikan sampel

29

Teknik penarikan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah


total sampling yakni keseluruhan ibu post partum di UPTD Puskesmas
Cina Kecamatan Cina Kabupaten Bone Tahun 2015 pada saat penelitian
berlangsung.
C. Lokasi dan Waktu Penelitian
1. Lokasi Penelitian
32
Penelitian akan dilakukan di UPTD Puskesmas Cina Kec. Cina Kab. Bone
tahun 2015.
2. Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari - Mei tahun 2015.
D. Defenisi Operasional dan Kriteria Objektif
1. Bendungan ASI
Defenisi operasional : Keadaan ibu Post partum yang mengalami
pembengkakan payudara yang tercatat di UPTD Puskesmas Cina Kec. Cina
Kab. Bone tahun 2015.
Kriteria Objektif :
a. Ya : Jika ibu mengalami pembengkakan pada payudara
b. Tidak : Jika ibu tidak mengalami pembengkakan pada payudara
2. Hisapan bayi yang tidak Aktif
Defenisi operasional : Hisapan bayi ketika menyusu pada ibunya tidak
mampu mengeluarkan ASI yang banyak dan mengenyangkan bayi.
Kriteria Objektif :
a. Ya : Jika ibu Menjawab dengan benar < 4 dari kusioner yang diberikan
b. Tidak : Jika ibu Menjawab dengan benar 4 dari kusioner yang
3.

diberikan
Posisi Menyusui Yang tidak benar
Defenisi operasional: Posisi menyusui bayi yang tidak benar adalah cara
memberikan memberikan ASI yang tidak sesuai standar operasional cara
pemberian ASI.

30

Kriteria Objektif:
a. Ya : Jika ibu Menjawab dengan benar < 10 dari kusioner yang diberikan
b. Tidak : Jika ibu Menjawab dengan benar 10 dari kusioner yang
diberikan
4. Kelainan Bentuk puting susu
Defenisi operasional : Kelainan Puting susu adalah bentuk puting susu yang
tidak normal
Kriteria Objektif:
a. Ya : Jika puting susu terbenam/datar
b. Tidak : Jika puting susu ibu tidak terbenam/datar
B. Teknik Pengumpulan Data
Data yang diperoleh adalah data primer, dengan melakukan
pengukuran langsung ketempat penelitian dan membagikan kuisioner yang
telah dipersiapkan terlebih dahulu pada responden sebelumnya telah
diberikan penjelasan. Data yang telah dikumpulkan selanjutnya diolah secara
manual dengan menggunakan langka-langkah :
a. Editing
Proses editing dengan memeriksa kembali data yang telah dikumpulkan
dari rekam medik dan data pencatatan KB ini berarti semua data harus
diteliti kelengkapan data yang diberikan dari data yang diberikan.
2. Coding
Untuk memudahkan dalampengolahan data maka untuk setiap data diberi
kode sesuai dengan karakter.
3. Skoring
Tahap ini dilakukan setelah ditetapkan kode jawaban atau hasil observasi
sehingga setiap responden atau hasil observasi dapat diberikan skor. Tidak
ada pedoman yang baku untuk scoring namun scoring harus diberikan.
4. Tabulating
Mentabulasi dengan memuat tabel-tabel sesuai dengan analisis yang
dibutuhkan. (Alimul Azis, 2007).
F. Teknik Analisa Data

31

Setelah data terkumpul kemudian

ditabulasi dan dikelompokkan

sesuai dengan variabel yang diteliti, dikalikan 100% dan hasilnya berupa
prosentase. Data diolah secara manual dengan menggunakan kalkulator,
sedangkan

penyajian data di tampilkan dalam bentuk tabel frekuensi

dan persentase di sertai penjelasan dengan menggunakan Rumus :


Keterangan:

f
x100%
N

P : Presentase
f: Frekuensi
N: Jumlah subjek. (Machfoedz, 2011).

G. Aspek Etis Penelitian


Setelah mendapat persetujuan dari pihak terkait, penelitian dilakukan
dengan menekankan masalah etika yang meliputi :
1. Informed Concent
Merupakan lembar persetujuan yang akan diedarkan sebelum
penelitian dilakukan pada seluruh klien yang memenuhi kriteria inklusi
untuk diteliti. Tujuannya supaya mengerti maksud dan tujuan penelitian
serta dampak yang diteliti selama pengumpulan data. Jika responden
bersedia diteliti maka harus menandatangani lembar persetujuan, jika
responeden menolak untuk diteliti maka peneliti tidak akan memaksa dan
tetap menghormati haknya.
2. Anonimity (Tanpa Nama)

32

Untuk menjaga kerahasiaan identitas responden, peneliti tidak akan


mencantumkan

nama

responden pada lembar pengumpulan

data

(observasi) yang diisi oleh peneliti dan hanya diberi kode tertentu.
3. Confidentiallity (Kerahasiaan)
Informasi yang berhasil dikumpulkan dari sampel peneliti dijaga dan
dijamin kerahasiaannya oleh peneliti dan hanya kelompok tertentu
sajayang mengetahui hasil penelitian atau riset. (Alimul Azis, 2007)

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian tentang Faktor-Faktor yang Menyebabkan
Terjadinya Bendungan ASI Pada Ibu Post Partum di Puskesmas Cina
Kecamatan Cina Kab. Bone Tahun 2015. Dari keseluruhan responden
sebanyak 30 orang berdasarkan karakteristik Pendidikan, Umur dan
Pekerjaan. maka didapatkan hasil yang akan diuraikan sebagai berikut :
4.A.1 Tabel Distribusi Frekuensi Responden Ibu post partum di UPTD
Puskesmas Cina periode Januari-April tahun 2015
Bendungan ASI
Ya
Tidak

Frekuensi
30
89

%
25.2
74.8

Total

119

100

33

Sumber : Data Primer Wilayah Kerja Puskesmas Cina


Berdasarkan tabel 4.A.1, menunjukkan bahwa dari bulan JanuariApril jumlah persalinan di UPTD Puskesmas Cina Tahun 2015 adalah
sebanyak 119 ibu post partum dan yang mengalami bendungan ASI
sebanyak 30 orang (25.2%) dan yang tidak mengalami bendungan ASI
sebanyak 89 orang (74.8%).

4.A.2. Tabel Distribusi Frekwensi Responden yang mengalami bendungan


ASI berdasarkan Faktor Hisapan
37 Bayi .
Hisapan Bayi
Menghisap Baik
Kurang Menghisap

Frekuensi
21
9

Total
30
Sumber : Data Primer Wilayah Kerja Puskesmas Cina

%
70
30
100

Hasil Penelitian menunjukkan bahwa Kejadian Bendungan ASI


berdasarkan Hisapan bayi adalah dari 30 responden sebanyak 21 ibu
post partum (70%) yang memiliki bayi yang memiliki kemampuan
menghisap dengan baik puting susu ibunya dan 9 ibu post partum
(30%) yang memiliki bayi yang memiliki kemampuan yang kurang
baik menghisap puting susu ibunya.
4.A.3. Tabel Distribusi frekwensi responden yang mengalami bendungan ASI
berdasarkan faktor posisi menyusui .
Posisi Menyusui

Frekuensi

34

Tidak Benar
Benar

20
10

Total
30
Sumber : Data Primer Wilayah Kerja Puskesmas Cina

66.7
33.3
100

Hasil Penelitian menunjukkan bahwa Kejadian Bendungan ASI


berdasarkan posisi menyusui adalah dari 30 responden sebanyak 20
ibu post partum (66.7%) yang menyusui bayinya dengan posisi yang
tidak benar dan sebanyak 10 ibu post partum (33.3%) yang menyusui
bayinya dengan posisi yang benar.

4.A.4 Tabel Distribusi frekwensi responden yang mengalami bendungan


ASI berdasarkan faktor kelainan bentuk puting susu.
Karakteristik puting susu
Ada Kelainan
Tidak Ada Kelainan

Frekuensi
26
4

Total
30
Sumber : Data Primer Wilayah Kerja Puskesmas Cina

%
86.7
13.3
100

Hasil Penelitian menunjukkan bahwa Kejadian Bendungan ASI


berdasarkan karakteristik putting susu ibu adalah dari 30 responden
sebanyak 26 ibu post patum (86.7%) yang memiliki kelainan bentuk
puting susu dan sebanyak 4 orang (13.3%) yang tidak memiliki
kelainan bentuk putting susu.
B. Pembahasan
Dari hasil penelitian mengenai Faktor-Faktor yang Menyebabkan
Terjadinya Bendungan ASI Pada Ibu Post Partum di Puskesmas Cina

35

Kecamatan Cina Kab. Bone Tahun 2015. maka pembahasannya sebagai


berikut :
1. Bendungan ASI Yang disebabkan Faktor Hisapan Bayi yang tidak aktif
Berdasarkan tabel 4.A.2, dari 30 responden sebanyak 21 ibu post
partum (70%) yang memiliki bayi yang menghisap dengan baik puting
susu ibunya dan 9 ibu post partum (30%) yang memiliki bayi yang kurang
baik menghisap puting susu ibunya.
Sesudah bayi dan plasenta lahir, kadar esterogen dan progesterone
turun dalam 2-3 hari, faktor dari hipotalamus yang menghalangi keluarnya
prolactin waktu hamil, dan sangat dipengaruhi oleh esterogen, tidak
dikeluarkan lagi, dan terjadi sekresi prolactin oleh hypopisis. Hormon ini
menyebabkan alveolus-alveolus kelenjar mamma terisi dengan air susu,
tetapi untuk mengeluarkannnya dibutuhkan reflek yang menyebabkan
kontraksi sel sel mioepitelial yang mengelilingi alveolus dan duktus kecil
kelenjar kelenjar tersebut. (Rukiyah, 2010).
Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya bendungan ASI
adalah faktor hisapan bayi yang tidak aktif, hal ini sesuai dengan teori
bahwa refleks prolaktin adalah Hisapan bayi pada puting ibu
menyebabkan aliran listrik yang bergerak kehipotalamus yang kemudian
akan menuju kelenjar hipofisis bagian depan. Selanjutnya kelenjar ini akan
merangsang sel-sel alveoli yang berfungsi untuk memproduksi ASI. Makin
sering dan makin lama ASI diberikan, maka kadarprolaktin akan tetap
tinggal dan akan berakaibat ASI akan terus di produksi. Efek lain dari
prolaktin adalah menekan fungsi indung telur (ovarium). Efek penekanan

36

inipada ibu yang menyusui secara ekslusif akan memperlambat


kembalinya fungsi kesuburan dan haid, dengan kata lain, menyusui secara
eksklusif dapat menjarangkan kehamilan.
Refleks let down (milk ejection refleks) : Bersamaan dengan
pembentukan prolaktin rangsangan hisapan bayi selain disampaikan ke
kelenjar hipofisis bagian belakang dimana kelenjar ini akan mengeluarkan
oksitosin yang berfungsi memacu kontraksi otot polos yang berada
dibawah alveoli dan dinding saluran sekitar kelenjar payudara mengerut
sehingga memeras ASI keluar. Semakin sering ASI diberikan terjadi
pengosongan alveoli, sehingga semakin kecil terjadi pembendungan ASI
di alveoli. Untuk itu dianjurkan kepada ibu menyusukan bayi tidak
dibatasi waktu dan on demand, akan membantu air susu. (http://dunia
sehat.nettanda-bayi-menghisap aktif).
Berdasarkan hasil penelitian tidak terdapat adanya kesenjangan
dengan teori bahwa faktor hisapan bayi yang tidak kuat adalah salah satu
faktor yang menyebabkan terjadinya bendungan ASI pada ibu post Partum.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan
oleh Fitriyanti, 2015. Pada penelitian ini, kelompok intervensi maupun
kelompok kontrol berdasarkan masing-masing tingkat stres ibu, sebagian
besar responden dengan pengeluaran kolostrum early, adanya rangsangan
hisap bayi akan mengaktifkan kontraksi myoepitel payudara ibu untuk
keluarnya ASI.
2. Bendungan ASI yang disebabkan faktor posisi menyusui

37

Berdasarkan table 4.A.3. didapatkan dari 30 responden sebanyak 20


ibu post partum (66.7%) yang menyusui bayinya dengan posisi yang tidak
benar dan sebanyak 10 ibu post partum (33.3%) yang menyusui bayinya
dengan posisi yang benar.
Posisi menyusui yang tidak

benar adalah merupakan salah satu

faktor yang menyebakan terjadinya bendungan ASI pada ibu post Partum
karena teknik yang salah dalam menyusui dapat mengakibatkan puting
susu menjadi lecet dan menimbulkan rasa nyeri pada saat bayi menyusu.
Akibatnya ibu tidak mau menyusui bayinya dan terjadi bendungan ASI
(Rukiyah, 2010)
Posisi menyusui sangat mempengaruhi kenyamanan bayi menghisap
air susu. Oleh karena itu, usahakan agar ibu dapat menyusui dengan baik
dan benar. Anjuran yang ditekankan adalah untuk segera menyusui
bayinya setelah melahirkan.
Masih banyak ibu menyusui yang enggan untuk segera menyusui
bayinya dengan alasan setelah melahirkan masih terasa nyeri dan ASI
belum banyak keluar. Selain itu bidan juga menganjurkan supaya
dikompres air hangat dan dilakukan pengosongan payudara. Peradangan
pada payudara dan menjadi merah, bengkak, terasa nyeri, suhu tubuh
meningkat, keadaan ini karena kurangnya ASI dihisap atau dikeluarkan
atau pengisapan yang tidak efektif Apabila payudara tidak dikosongkan,
maka alveoli akan mengalami kongesti (bendungan) dan terjadi
pembengkakan payudara karena air susu.

38

Berdasarkan hasil penelitian tidak terdapat adanya kesenjangan


dengan teori bahwa posisi menyusui yang tidak benar adalah merupakan
salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya bendungan ASI pada ibu
post partum.
Hai ini sejalan dengan hasil penelitian oleh Nur Aeni, 2009 Sebagian
besar responden 30 (51,7%) mempunyai cara yang kurang baik dalam
menyusui anaknya, dan terdapat responden 28 (48,3%) menyusui dengan
cara yang baik.
3. Bendungan ASI yang disebabkan kelainan bentuk Puting Susu
Berdasarkan tabel A.4. dari 30 responden sebanyak 20 ibu post
patum (86.7%) yang memiliki kelainan bentuk puting susu dan sebanyak
4 orang (13.3%) yang tidak memiliki kelainan bentuk putting susu.
Kelainan puting payudara yang retraksi (tidak menonjol keluar
dengan baik) akan menyebabkan kesukaran meneteki. Puting susu yang
terbenam akan menyulitkan bayi dalam menyusu. Karena bayi tidak dapat
menghisap puting dan areola, bayi tidak mau menyusu dan akibatnya
terjadi bendungan ASI.
Puting susu yang panjang menimbulkan kesulitan pada saat bayi
menyusu karena bayi tidak dapat menghisap areola dan merangsang sinus
laktiferus untuk mengeluarkan ASI. Akibatnya ASI tertahan dan
menimbulkan bendungan ASI (Rukiyah, 2010)
Berdasarkan hasil penelitian tidak terdapat adanya kesenjangan
dengan teori bahwa Kelainan bentuk puting susu adalah merupakan salah
satu faktor yang menyebabkan terjadinya bendungan ASI pada ibu post

39

partum.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan
oleh MHD Arifin Siregar, 2015. Pada penelitian ini, Sering juga ibu tidak
menyusui bayinya karena terpaksa, baik karena faktor intern dari ibu
seperti terjadinya bendungan ASI yang mengakibatkan ibu merasa sakit
sewaktu bayinya menyusu, luka-luka pada puting susu yang sering
menyebabkan rasa nyeri,kelainan pada putting susu dan adanya penyakit
tertentu seperti tuberkolose, malaria yang merupakan alasan untuk tidak
menganjurkan ibu menyusui bayinya, demikian juga ibu yang gizinya
tidak baik akan menghasilkan ASI dalam jumlahya relative lebih sedikit
dibandingkan ibu yang sehat dan gizinya baik.

40

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tentang faktor-faktor yang menyebabkan
terjadinya bendungan ASI pada ibu post partum di Puskesmas Cina
kecamatan Cina Kab. Bone Tahun 2015, Angka kejadian pada ibu Post Patum
sebanyak 30 responden dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Faktor penyebab terjadinya bendungan ASI adalah faktor hisapan bayi
yang terbanyak hal ini disebabkan karena hisapan bayi yang kurang aktif..
2. Teknik posisi menyusui menyebabkan terjadinya bendungan ASI, karena
banyak terjadi bendungan ASI pada ibu yang menyusui dengan teknik
yang tidak benar.
3. Kelainan puting payudara menyebabkan terjadinya bendungan ASI
karena sebagian besar ibu yang mempunyai kelainan bentuk payudara
yang mengalami bendungan ASI.

41

B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan, maka penulis
menyarankan hal-hal sebagai berikut
1. Bagi Ibu
Diharapkan bagi ibu sebagai bahan informasi kesehatan dalam
memberikan pengetahuan dan wawasan tentang bendungan ASI yang baik
dan benar.
2. Bagi Puskesmas
Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan masukan dan informasi
dalam pengembangan program-program
kesehatan masyarakat, khususnya
45
tentang pencegahan terjadinya bendungan ASI pada ibu Post Partum.
3. Bagi Program Studi D III Kebidanan Lapatau Bone
Diharapkan pada institusi pendidikan dapat dijadikan sebagai bahan
referensi tambahan perpustakaan tentang Bendungan ASI.
4. Bagi Peneliti Lain
Diharapkan dapat melakukan penelitian lanjutan mengenai Bendungan
ASI pada aspek yang lebih luas dengan metode yang lebih baik dalam
menyempurnakan penelitian ini.

42

DAFTAR PUSTAKA
Alimul Aziz, 2007. Metode Penelitian Keperawatan Dan Teknik. Analisis
Data.Jakarta : Salemba Medika
Annisakarnadi, 2014. Tanda Bayi Menghisap Aktif. (online) http://duniasehat.net
Diunggah 24 Maret 2015.
Arini H. 2012. Mengapa Seorang Ibu Harus Menyusui. Yogyakarta: Flashbooks
Bahiyatun., 2009. Buku Ajar Kebidanan Asuhan Nifas Normal. Jakarta: EGC.
Dewi dan Sunarsih Tri, 2011. Asuhan Kebidanan pada ibu Nifas. Jakarta:
Salemba Medika
Dinkes Sulsel 2012. Profil Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan 2012. Dinkes
Sulsel. Jl.Perintis Kemerdekaan, Km 11 Makassar.
Dinas Kesehatan Kabupaten Bone Tahun 2013
Fitriyanti, Joserizal Serudji, Sunesni, 2015.Pengaruh Mobilisasi Ibu Post Partum
terhadap Pengeluaran Kolostrum. Jurnal Kesehatan Andalas. Bandung
Hastuti, 2012. Referensi Kesehatan. (online)
mine.blogspot.com Di unggah 24 Maret 2015.

http://wwwmidewifehomes-

Iin Dwi Astuti & Titik Kurniawati, 2011. Analisa Hubungan Pengaruh Cara
Menyusui Dengan Kejadian Payudara Bengkak Pada Ibu Post Partum.
Akademi kebidanan Abdi Husada. Semarang
Kemenkes, BKKBN-BPS, 2012.Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia
2012.Kementerian Kesehatan Jakarta.
Mahfoedz, I., 2011. Bio Statistika.Yogyakarta : Fitramaya.

43

MHD. Arifin Siregar. 2015. Pemberian Asi Ekslusif Dan Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhinya.Bagian Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Sumatera Utara. Medan.
Notoadmodjo, 2005.Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta, Edisi ke- 3.
Jakarta
Pemda Tingkat II Bone.2013.Kabupaten Bone Dalam Angka. Bappeda Statistik
Kabupaten Bone
Ryan, 2011. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kejadian Bendungan ASI Pada
Ibu Post Partum. (online) http://www.kti-skripsi.net Di unggah 24 Maret
2015.
Roesli Utami 2004. ASI Eksklusif. Edisi II. Jakarta : Trubus Agrundaya
Rosiati, 2011. Bendungan ASI dan Infeksi Payudara.
http://yuniochyrosiati.blogspot.com Diunggah 24 Maret 2015.

(online)

Rukiyah, 2010.Asuhan Kebidanan IV (Patologi Kebidanan). Jakarta: Trans Info


Media
Saifuddin, 2009.Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal. Jakarta: Yayasan Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Soetjiningsih, 2005. ASI Petunjuk Untuk Tenaga Kesehatan. Jakarta : EGC
Siregar A., 2009. Pemberian ASI Ekslusif dan Faktor-faktor yang
Mempengaruhinya.Bagian Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Wirnis Ikhfa, 2013. Masa Nifas. (online) http://ikhfawi.blogspot.com. Di unggah
24 Maret 2015.
Wulandari, 2008.Asuhan Kebidanan Nifas.Yogyakarta. Cendekia Press.
Yudarma, 2014. Bendungan ASI. (online)
DiUnggah 24 Maret 2015.

https://yudarma.wordpress.com

44

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

A. Identitas
Nama
NIM
Jenis Kelamin
Tempat, Tgl Lahir
Suku
Status
Agama
Alamat
No. HP

: ALMIATI
: 30643
: Perempuan
: Karella, 07 November 1994
: Bugis
: Belum Kawin
: Islam
: Karella Desa Awo Kec. Cina Kab. Bone
: 085 298 806 197

B. Riwayat Pendidikan
1. Tamat SD Tahun 2006
2. Tamat SMP Neg. 1 Barebbo Tahun 2009
3. Tamat SMK Neg. 1 Watampone Tahun 2012
4. Mengikuti Pendidikan di AKBID Lapatau Bone Tahun 212 sampai
sekarang.