Anda di halaman 1dari 12

PENANGANAN LIMBAH BIOLOGI DAN KLINIK

PENANGANAN LIMBAH
BIOLOGI DAN KLINIK

DISUSUN OLEH
ABEL LEOKADIA BONGUDEMO (13300001)
RENATO HAMID (13300030)
VIKTORINUS TRIWARDANI (13300044)

PROGRAM STUDI D3ANALIS KESEHATAN


STIKES GUNA BANGSA YOGYAKARTA
2013
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar belakang
Melihat belum optimalnya pelayanan kesehatan di masyarakat

dan untuk

menigkatkan derajat kesehatan masyarakat, pendirian rumah sakit baik oleh pemerintah
maupun swasta khususnya di daerah perkotaan semakin meningkat. Dampak negatif
pendirian rumah sakit-rumah sakit tersebut salah satunya adalah pencemaran lingkungan
akibat limbah yang tidak ditangani secara serius. Hal ini dikarenakan dalam limbah rumah
sakit dapat mengandung berbagai jasad renik penyebab penyakit pada manusia termasuk,

disentri, demam typhoid dan hepatitis sehingga limbah harus diolah sebelum dibuang ke
lingkungan.
Limbah rumah sakit adalah semua limbah yang dihasilkan oleh kegiatan rumah sakit
dan kegiatan penunjang lainnya. Secara umum sampah dan limbah rumah sakit dibagi dalam
dua kelompok besar, yaitu limbah klinis dan non klinis baik padat maupun cair. Bentuk
limbah klinis bermacam-macam. Limbah klinis lebih bersifat infeksius daripada limbah non
klinis
Limbah infeksius mencakup pengertian sebagai berikut: Limbah yang berkaitan
dengan pasien yang memerlukan isolasi penyakit menular (perawatan intensif). Limbah
laboratorium yang berkaitan dengan pemeriksaan mikrobiologi dari poliklinik dan ruang
perawatan/isolasi penyakit menular. Limbah jaringan tubuh meliputi organ, anggota badan,
darah dan cairan tubuh, biasanya dihasilkan pada saat pembedahan atau otopsi. Limbah
sitotoksik adalah bahan yang terkontaminasi atau mungkin terkontaminasi dengan obat
sitotoksik selama peracikan, pengangkutan atau tindakan terapi sitotoksik.
Sampai saat ini sebagian rumah sakit pemerintah dan swasta telah dilengkapi dengan
fasilitas pengelolaan limbah, meskipun perlu untuk disempurnakan. Namun disadari bahwa
pengelolaan limbah rumah sakit masih perlu ditingkatkan terutama dilingkungan masyarakat
rumah sakit.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Limbah
Limbah (menurut PP NO 12, 1995) adalah bahan sisa suatu kegiatan dan atau proses
produksi.

Sedangkan

limbah

rumah

sakit

menurut

Permenkes

RI

nomor:

1204/MENKES/SK/X/2004 Tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit adalah


semua limbah yang dihasilkan dari kegiatan rumah sakit dalam bentuk padat, cair, dan gas.
Limbah rumah sakit bisa mengandung bermacam-macam mikroorganisme bergantung
pada jenis rumah sakit, tingkat pengolahan yang dilakukan sebelum dibuang. Limbah cair
rumah sakit dapat mengandung bahan organik dan anorganik yang umumnya diukur dan
parameter BOD, COD, TSS, dan lain-lain. Sementara limbah padat rumah sakit terdiri atas
sampah mudah membusuk, sampah mudah terbakar, dan lain-lain. Limbah-limbah tersebut
kemungkinan besar mengandung mikroorganisme patogen atau bahan kimia beracun

berbahaya yang menyebabkan penyakit infeksi dan dapat tersebar ke lingkungan rumah sakit
yang disebabkan oleh teknik pelayanan kesehatan yang kurang memadai, kesalahan
penanganan bahan-bahan terkontaminasi dan peralatan, serta penyediaan dan pemeliharaan
sarana sanitasi yang masih buruk. Limbah benda tajam adalah semua benda yang mempunyai
permukaan tajam yang dapat melukai / merobek permukaan tubuh.
Limbah gas adalah semua limbah yang berbentuk gas yang berasal dari kegiatan
pembakaran di rumah sakit seperti insinerator, dapur, perlengkapan generator, anastesi, dan
pembuatan obat citotoksik. Limbah sitotoksis adalah limbah dari bahan yang terkontaminasi
dari persiapan dan pemberian obat sitotoksis untuk kemoterapi kanker yang mempunyai
kemampuan untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan sel hidup.
B.

Jenis-jenis limbah
Jenis-jenis limbah rumah sakit meliputi bagian sebagai berikut ini :

1.

Limbah Klinik

Limbah dihasilkan selama pelayanan pasien secara rutin pembedahan dan di unitunit resiko tinggi. Limbah ini mungkin berbahaya dan mengakibatkan resiko tinggi infeksi
kuman dan populasi umum dan staf Rumah Sakit. Oleh karena itu perlu diberi label yang
jelas sebagai resiko tinggi. Contoh limbah jenis tersebut ialah perban atau pembungkus yang
kotor, cairan badan, anggota badan yang diamputasi, jarum-jarum dan semprit bekas, kantung
urine dan produk darah.
2.

Limbah Patologi
Limbah ini juga dianggap beresiko tinggi dan sebaiknya diautoclaf sebelum keluar

dari unit patologi. Limbah tersebut harus diberi label biohazard.


3.

Limbah Bukan Klinik


Limbah ini meliputi kertas-kertas pembungkus atau kantong dan plastik yang tidak

berkontak dengan cairan badan. Meskipun tidak menimbulkan resiko sakit, limbah tersebut
cukup merepotkan karena memerlukan tempat yang besar untuk mengangkut dan
membuangnya.
4.

Limbah Radioaktif
Walaupun limbah ini tidak menimbulkan persoalan pengendalian infeksi di rumah

sakit, pembuangan secara aman perlu diatur dengan baik. Pemberian kode warna yang
berbeda untuk masing-masing sangat membantu pengelolaan limbah tersebut.

Tempat limbah diseluruh rumah sakit harus memiliki warna yang sesuai, sehingga
limbah dapat dipisah-pisahkan ditempat sumbernya.
1. Bangsal harus memiliki dua macam tempat limbah dengan dua warna, satu untuk
limbah klinik dan yang lain untuk bukan klinik
2. Semua limbah dari kantor, biasanya berupa alat-alat tulis dianggap sebagai limbah
bukan klinik
3. Semua limbah yang keluar dari unit patologi harus dianggap sebagai limbah klinik
dan perlu dinyatakan aman sebelum dibuang.
D.

Pengelolaan limbah
Pengelolaan limbah RS dilakukan dengan berbagai cara. Yang diutamakan adalah

sterilisasi, yakni berupa pengurangan (reduce) dalam volume, penggunaan kembali (reuse)
dengan sterilisasi lebih dulu, daur ulang (recycle), dan pengolahan (treatment).
Berikut adalah beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam merumuskan
kebijakan kodifikasi dengan warna yang menyangkut hal-hal berikut :
1.

Pemisahan Limbah
a. Limbah harus dipisahkan dari sumbernya
b. Semua limbah beresiko tinggi hendaknya diberi label jelas
c. Perlu digunakan kantung plastik dengan warna-warna yang berbeda yang menunjukkan
kemana kantong plastik harus diangkut untuk insinerasi atau dibuang.
2.

Penyimpanan Limbah
Dibeberapa Negara kantung plastik cukup mahal sehingga sebagai gantinya dapat

digunkanan kantung kertas yang tahan bocor (dibuat secara lokal sehingga dapat diperloleh
dengan mudah) kantung kertas ini dapat ditempeli dengan strip berwarna, kemudian
ditempatkan ditong dengan kode warna dibangsal dan unit-unit lain.
3.
Penanganan Limbah
a. Kantung-kantung dengan warna harus dibuang jika telah terisi 2/3 bagian. Kemudian diikiat
bagian atasnya dan diberik label yang jelas.
b. Kantung harus diangkut dengan memegang lehernya, sehingga jika dibawa mengayun
menjauhi badan limbah tidak tercecer keluar dan diletakkan ditempat
dikumpulkan.

tertentu untuk

c. Petugas pengumpul limbah harus memastikan kantung-kantung dengan warna yang sama
telah dijadikan satu dan dikirimkan ketempat yang sesuai.
d. Kantung harus disimpan pada kotak-kotak yang kedap terhadap kutu dan hewan perusak
sebelum diangkut ketempat pembuangan.
4.

Pengangkutan Limbah
Kantung limbah dipisahkan dan sekaligus dipisahkan menurut kode warnanya.

Limbah bagian bukan klinik misalnya dibawa kekompaktor, limbah bagian Klinik dibawa
keinsenerator. Pengangkutan dengan kendaraan khusus (mungkin ada kerjasama dengan
dinas pekerja umum) kendaraan yang digunakan untuk mengangkut limbah tersebut
sebaiknya dikosongkan dan dibersihkan setiap hari, jika perlu (misalnya bila ada kebocoran
kantung limbah) dibersihkan dengan menggunakan larutan klorin.
5.

Pembuangan Limbah
Setelah dimanfaatkan dengan konpaktor, limbah bukan klinik dapat dibuang ditempat

penimbunan sampah (Land-fill site), semua limbah infeksi harus diolah dengan cara
desinfeksi, dekontaminasi, sterilisasi, dan insinerasi. Jika tidak mungkin harus ditimbun
dengan kapur dan ditanam limbah dapur sebaiknya dibuang pada hari yang sama sehingga
tidak sampai membusuk.
Teknologi pembakaran (incineration ) adalah alternatif yang menarik dalam teknologi
pengolahan limbah. Insinerasi mengurangi volume dan massa limbah hingga sekitar 90%
(volume) dan 75% (berat). Teknologi ini sebenarnya bukan solusi final dari sistem
pengolahan limbah padat karena pada dasarnya hanya memindahkan limbah dari bentuk
padat yang kasat mata ke bentuk gas yang tidak kasat mata.
DAFTAR PUSTAKA
Anggraheni Heksanengtyas, 2011 , Pengolahan dan Penanganan Limbah Laboratorium,
http://anggraheniheksaningtyas.blogspot.com/2011/06/pengolahan-dan-penangananlimbah.html?m=1 , 9 Oktober 2013, Yogyakarta.
Anshar Bonas Silfa, 2013, Pengolahan Sampah / Limbah RumahSakit dan
Permasalahannya., http://ansharcaniago.wordpress.com/2013/02/24/pengelolaansampahlimbah-rumah-sakit-dan-permasalahannya/ , 10 Oktober 2013, Yogyakarta.
Argo Khoirul Anas, 2009, Apa itu Limbah,
http://argokhoirulanas.wordpress.com/2009/05/09/apa-itu-limbah/ , 10 oktober 2013 ,
Yogyakarta.
Permenkes RI nomor: 1204/MENKES/SK/X/2004 Tentang Persyaratan Kesehatan
Lingkungan Rumah Sakit
000000000

PENANGANAN LIMBAH LABORATORIUM


Disusun oleh :
Afrilia Fitri Astuti

(09303241006)

Anistia Fenta Fellana

(09303241022)

Yoshita Kumala Shanty (09393241025)


Esteri Septya Hadi

(09303241042)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2012

1. A. Pengertian Limbah Laboratorium


Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun
domestik(rumah tangga), yang lebih dikenal sebagai sampah, yang kehadirannya pada suatu
saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis.
Menurut Recycling and Waste Management Act limbah didefinisikan sebagai benda bergerak
yang diinginkan oleh pemiliknya untuk dibuang atau pembuangannya dengan cara yang
sesuai, yang aman untuk kesejahteraan umum dan untuk melindungi lingkungan. Limbah
laboratorium adalah limbah yang berasal dari kegiatan laboratorium.
Sumber limbah laboratorium dapat berasal diantaranya dari :

Bahan baku yang telah kadaluarsa

Bahan habis pakai (misal medium biakan/ perbenihan yang tidak terpakai)

Produk proses di laboratorium (misal sisa spesimen)

Produk upaya penanganan limbah (misal jarum suntik sekali pakai)

1. B. Macam-macam Limbah Laboratorium


Berdasarkan jenisnya, maka klasifikasi pengumpulan limbah laboratorium adalah:

Kelas

Jenis
Pelarut organik bebas halogen dan senyawa organik dalam

larutan
Pelarut organik mengandung halogen dan senyawa organik

dalam larutan

Residu padatan bahan kimia laboratorium organik


Garam dalam larutan: lakukan penyesuaian kandungan

kemasan pada pH 6 -8

Residu bahan anorganik beracun dan garam logam berat dan larutannya

Senyawa beracun mudah terbakar

Residu air raksa dan garam anorganik raksa

Residu garam logam; tiap logam harus dikumpulkan secara terpisah

Padatan anorganik

Kumpulan terpisah limbah kaca, logam dan plastik

Berdasarkan sifatnya, limbah dibedakan menjadi:

1) Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)


Suatu limbah digolongkan sebagai limbah B3 bila mengandung bahan berbahaya atau
beracun yang sifat dan konsentrasinya, baik langsung maupun tidak langsung, dapat merusak
atau mencemarkan lingkungan hidup atau membahayakan kesehatan manusia. Limbah
beracun dibagi menjadi:

Limbah mudah meledak

Limbah mudah terbakar.

Limbah reaktif

Limbah beracun

Limbah yang menyebabkan infeksi

Limbah yang bersifat korosif

2) Limbah infeksius
Limbah infeksius meliputi limbah yang berkaitan dengan pasien yang memerlukan isolasi
penyakit menular serta limbah laboratorium yang berkaitan dengan pemeriksaan
mikrobiologi dari poliklinik, ruang perawatan dan ruang isolasi penyakit menular.
3) Limbah radioaktif
Limbah radioaktif adalah bahan yang terkontaminasi dengan radio isotop yang berasal dari
penggunaan medis atau riset radionucleida.
4) Limbah umum
Berdasarkan bentuk limbah yang dihasilkan, dibedakan menjadi:
1) Limbah padat
Limbah padat di laboratorium relatif kecil, biasanya berupa endapan atau kertas saring
terpakai, sehingga masih dapat diatasi. Limbah padat dibedakan menjadi:
v Limbah padat infeksius
v Limbah padat non infeksius
2) Limbah gas
Limbah yang berupa gas umumnya dalam jumlah kecil, sehingga relatif masih aman untuk
dibuang langsung di udara, contohnya limbah yang dihasilkan dari penggunaan generator,
sterilisasi dengan etilen oksida atau dari thermometer yang pecah (uap air raksa).

3) Limbah cair
Limbah cair adalah sisa dari suatu hasil usaha atau kegiatan yang berwujud cair (PP No.82
Thn 2001). Umumnya laboratorium berlokasi di sekitar kawasan hunian, sehingga akumulasi
limbah cair yang meresap ke dalam air tanah dapat membahayakan lingkungan sekitar.
Limbah cair terbagi atas:

Limbah cair infeksius

Limbah cair domestic

Limbah cair kimia

Berdasarkan atas dasar asalnya, dikelompokkan menjadi 2 yaitu :


r Limbah organik
Limbah ini terdiri atas bahan-bahan yang besifat organik seperti dari kegiatan rumah tangga,
kegiatan industri. Limbah ini juga bisa dengan mudah diuraikan melalui proses yang alami.
r Limbah anorganik
Limbah anorganik berasal dari sumber daya alamyang tidak dapat di uraikan dan tidak dapat
diperbaharui.

1. C. Cara Pengelolaan Limbah Laboratorium


Tujuan penanganan limbah adalah untuk mengurangi resiko pemaparan limbah terhadap
kuman yang menimbulkan penyakit (patogen) yang mungkin berada dalam limbah tersebut.
Penanganan limbah antara lain ditentukan oleh sifat limbah, yaitu :
1. Limbah berbahaya dan beracun, dengan cara :
2. Netralisasi
Limbah yang bersifat asam dinetralkan dengan basa seperti kapur tohor, CaO atau Ca(OH)2
Sebaliknya, limbah yang bersifat basa dinetralkan dengan asam seperti H2SO4 atau HCI.
1. b. Pengendapan/sedimentasi, koagulasi dan flokulasi
Kontaminan logam berat dalam ciaran diendapkan dengan tawas/FeC13, Ca(OH)2/CaO
karena dapat mengikat As, Zn, Ni. Mn dan Hg.
1. c. Reduksi-Oksidasi
Terhadap zat organik toksik dalam limbah dapat dilakukan reaksi reduksi oksidasi (redoks)
sehingga terbentuk zat yang kurang/tidak toksik.

1. d. Penukaran ion
Ion logam berat nikel, Ni dapat diserap oleh kation, sedangkan anion beracun dapat diserap
oleh resin anion.
1. 2. Limbah infeksius
Ada beberapa metode penanganan limbah cair/padat yang bersifat infeksius, yaitu
1. a. Metode Desinfeksi
Adalah penanganan limbah (terutama cair) dengan cara penambahan bahan-bahan kimia yang
dapat mematikan atau membuat kuman-kuman penyakit menjadi tidak aktif.
1. Metode Pengenceran (Dilution)
dengan cara mengencerkan air limbah sampai mencapai konsentrasi yang cukup rendah,
kemudian baru dibuang ke badan-badan air. Kerugiannya ialah bahan kontaminasi terhadap
badan-badan air masih tetap ada, pengendapan yang terjadi dapat menimbulkan
pendangkalan terhadap badan-badan air seperti selokan, sungai dan sebagainya sehingga
dapat menimbulkan banjir.
1. c. Metode Proses Biologis
dengan menggunakan bakteri-bakteri pengurai. Bakteri-bakteri tersebut akan menimbulkan
dekomposisi zat-zat organik yang terdapat dalam limbah.
1. d. Metode Ditanam (Landfill)
Yaitu penanganan limbah dengan menimbunnya dalam tanah.
1. e. Metode Insinerasi (Pembakaran)
Pemusnah limbah dengan cara memasukkan ke dalam insinerator. Dalam insinerator senyawa
kimia karbon yang ada dibebaskan ke atmosfir sebagai CO2 dan H2O. Bahan-bahan seperti
mineral, logam dan bahan organik lainnya (kuman penyakit, jaringan tubuh, hewan, darah,
bahan kimia, kertas, plastik) yang tidak terbakar tersisa dalam bentuk abu yang beratnya 1030% dari berat aslinya (tergantung dari jenis limbah).
1. 3. Limbah radioaktif
Masalah penanganan limbah radioaktif dapat diperkecil dengan memakai radioaktif sekecil
mungkin, menciptakan disiplin kerja yang ketat dan menggunakan alat yang mudah
didekontaminasi. Penanganan limbah radioaktif dibedakan berdasarkan:
1. a. Bentuk : cair, padat dan gas,
2. b. Tinggi-rendahnya tingkat radiasi sinar gamma (),
3. c. Tinggi-rendahnya aktifitas

4. d. Panjang-pendeknya waktu paruh,


5. e. Sifat : dapat dibakar atau tidak.
Ada 2 sistem penanganan limbah radioaktif :
1. Dilaksanakan oleh pemakai secara perorangan dengan memakai proses peluruhan,
peguburan dan pembuangan.
2. b. Dilaksanakan secara kolektif oleh instansi pengolahan limbah radioaktif, seperti
Badan Tanaga Atom Nasional (BATAN).
1. 4. Limbah umum
Limbah umum non infeksius setelah dikumpulkan dalam wadah kantong plastik diikat kuat
dan dibakar di insinerator

1. D. Langkah nyata yang dapat dilakukan untuk mengurangi limbah di


laboratorium
2. Penggunaan kembali limbah laboratorium berupa bahan kimia yang telah digunakan,
setelah melalui prosedur daur ulang yang sesuai. Sebagai contoh: (hal ini paling
sesuai untuk pelarut yang telah digunakan) Pelarut organik seperti etanol, aseton,
kloroform, dan dietil eter dikumpulkan di dalam laboratorium secara terpisah dan
dilakukan destilasi.
3. sebelum melakukan reaksi kimia, dilakukan perhitungan mol reaktan-reaktan yang
bereaksi secara tepat sehingga tidak menimbulkan residu berupa sisia bahan kimia.
Selain menghemat bahan yang ada, hal ini juga akan mengurangi limbah yang
dihasilkan.
4. Pembuangan langsung dari laboratorium. Metoda pembuangan langsung ini dapat
diterapkan untuk bahan-bahan kimia yang dapat larut dalam air. Bahan-bahan kimia
yang dapat larut dalam air dibuang langsung melalui bak pembuangan limbah
laboratorium. Untuk bahan kimia sisa yang mengandung asam atau basa harus
dilakukan penetralan, selanjutnya baru bisa dibuang. Untuk bahan kimia sisa yang
mengandung logam-logam berat dan beracun seperti Pb, Hg, Cd, dan sebagainya,
endapannya harus dipisahkan terlebih dahulu. Kemudian cairannya dinetralkan dan
dibuang.
5. Dengan pembakaran terbuka. Metoda pembakaran terbuka dapat dterapkan untuk
bahan-bahan organik yang kadar racunnya rendah dan tidak terlalu berbahaya. Bahanbahan organik tersebut dibakar ditempat yang aman dan jauh dari pemukiman
penduduk.
6. Pembakaran dalan insenerator. Metoda pembakaran dalam insenerator dapat
diterapkan untuk bahan-bahan toksik yang jika dibakar ditempat terbuka akan
menghasilkan senyawa-senyawa yang bersifat toksik.

7.

Dikubur didalam tanah dengan perlindungan tertentu agar tidak merembes ke badan
air. Metoda ini dapat diterapkan untuk zat-zat padat yang reaktif dan beracun

Anda mungkin juga menyukai