Anda di halaman 1dari 8

DISLOKASI LENSA

27/11/2011
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 LATAR BELAKANG


Lensa adalah suatu struktur bikonveks, avaskular tak berwarna dan transparan. Tebal sekitar 4
mm dan diameternya 9 mm. Dibelakang iris lensa digantung oleh zonula ( zonula Zinnii) yang
menghubungkannya dengan korpus siliare. Di sebelah anterior lensa terdapat humor aquaeus dan
disebelah posterior terdapat viterus. Kapsul lensa adalah suatu membran semipermeabel yang
dapat dilewati air dan elektrolit. Disebelah depan terdapat selapis epitel subkapsular. Nukleus
lensa lebih keras daripada korteksnya. Sesuai dengan bertambahnya usia, serat-serat lamelar
subepitel terus diproduksi, sehingga lensa lama-kelamaan menjadi kurang elastik.
Lensa terdiri dari enam puluh lima persen air, 35% protein, dan sedikit sekali mineral yang biasa
ada di jaringan tubuh lainnya. Kandungan kalium lebih tinggi di lensa daripada di kebanyakan
jaringan lain. Asam askorbat dan glutation terdapat dalam bentuk teroksidasi maupun tereduksi.
Tidak ada serat nyeri, pembuluh darah atau pun saraf di lensa.
Lensa mata menerima cahaya dari pupil dan meneruskannya pada retina. Fungsi lensa mata
adalah mengatur fokus cahaya, sehingga cahaya jatuh tepat pada bintik kuning retina. Untuk
melihat objek yang jauh (cahaya datang dari jauh), lensa mata akan menipis. Sedangkan untuk
melihat objek yang dekat (cahaya datang dari dekat), lensa mata akan menebal.
Dislokasi lensa adalah keadaan dimana lensa kristalina bergeser atau berubah posisinya dari
kedudukan normalnya akibat rupturnya zonula zinii sebagai pemegangnya

I.2

RUMUSAN MASALAH

I.2.1 Bagaimana etiologi dan patofisiologi dislokasi lensa?


I.2.2 Bagaimana diagnosis dan penatalaksanaan dislokasi lensa?
I.3

TUJUAN

I.3.1 Mengetahui etiologi dan patofisiologi dislokasi lensa.

I.3.2 M

engetahui cara mendiagnosis dan penatalaksanaan dislokasi lensa.

I.4

MANFAAT

I.4.1 Menambah wawasan mengenai ilmu kedokteran pada umumnya, dan ilmu penyakit mata
pada khususnya.
I.4.2 Sebagai proses pembelajaran bagi dokter muda yang sedang mengikuti kepaniteraan
klinik bagian ilmu penyakit mata.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1

ANATOMI LENSA

Lensa adalah suatu struktur bikonveks, avaskular tak berwarna dan transparan. Tebal sekitar 4
mm dan diameternya 9 mm. Dibelakang iris lensa digantung oleh zonula ( zonula Zinnii) yang
menghubungkannya dengan korpus siliare. Di sebelah anterior lensa terdapat humor aquaeus dan
disebelah posterior terdapat viterus. Kapsul lensa adalah suatu membran semipermeabel yang
dapat dilewati air dan elektrolit. Disebelah depan terdapat selapis epitel subkapsular. Nukleus
lensa lebih keras daripada korteksnya. Sesuai dengan bertambahnya usia, serat-serat lamelar
subepitel terus diproduksi, sehingga lensa lama-kelamaan menjadi kurang elastik.
Lensa terdiri dari enam puluh lima persen air, 35% protein, dan sedikit sekali mineral yang biasa
ada di jaringan tubuh lainnya. Kandungan kalium lebih tinggi di lensa daripada di kebanyakan
jaringan lain. Asam askorbat dan glutation terdapat dalam bentuk teroksidasi maupun tereduksi.
Tidak ada serat nyeri, pembuluh darah atau pun saraf di lensa.
Lensa mata menerima cahaya dari pupil dan meneruskannya pada retina. Fungsi lensa mata
adalah mengatur fokus cahaya, sehingga cahaya jatuh tepat pada bintik kuning retina. Untuk
melihat objek yang jauh (cahaya datang dari jauh), lensa mata akan menipis. Sedangkan untuk
melihat objek yang dekat (cahaya datang dari dekat), lensa mata akan menebal.
Fungsi utama lensa adalah memfokuskan berkas cahaya ke retina. Untuk memfokuskan cahaya
yang datang dari jauh, otot-otot siliaris relaksasi, menegangkan serat zonula dan memperkecil
diameter anteroposterior lensa sampai ukurannya yang terkecil, daya refraksi lensa diperkecil
sehingga berkas cahaya paralel atau terfokus ke retina. Untuk memfokuskan cahaya dari benda
dekat, otot siliaris berkontraksi sehingga tegangan zonula berkurang. Kapsul lensa yang elastik
kemudian mempengaruhi lensa menjadi lebih sferis diiringi oleh peningkatan daya biasnya.
Kerjasama fisiologik tersebut antara korpus siliaris, zonula, dan lensa untuk memfokuskan benda
dekat ke retina dikenal sebagai akomodasi. Seiring dengan pertambahan usia, kemampuan

refraksi lensa perlahan-lahan berkurang. Selain itu juga terdapat fungsi refraksi, yang mana
sebagai bagian optik bola mata untuk memfokuskan sinar ke bintik kuning, lensa menyumbang
+18.0- Dioptri.

II.2

DISLOKASI LENSA

II.2.1 Pengertian dan Prevalensi


Dislokasi lensa adalah keadaan dimana lensa kristalina bergeser atau berubah posisinya dari
kedudukan normalnya akibat rupturnya zonula zinii sebagai pemegangnya. 1 Dislokasi lensa
dapat terjadi total (luksasi) ataupun sebagian (subluksasi) yang terjadi akibat proses trauma pada
mata, herediter (sindrom marfan, homosistinuria), ataupun komplikasi dari penyakit lain.
Kejadian dislokasi lensa sangat jarang ditemukan. Sejauh ini data mengenai insidensi dislokasi
lensa pada populasi umum belum diketahui dengan jelas.1 Penyebab tersering dari dislokasi lensa
adalah trauma pada mata, yakni hampir sebagian dari kasus.1 Namun untuk kejadian dislokasi
lensa total (luksasi) akibat trauma ini insidensinya lebih sedikit, sedang untuk dislokasi lensa
sebagian (subluksasi) post trauma insidensnya lebih sering. 2 Untuk penyebab herediter, Sindrom
Marfan merupakan penyebab tersering dimana prevalensinya diperkirakan 5 dari 100.000 anak. 1
Dislokasi lensa terjadi pada 75% penderita Sindrom Marfan dan biasanya bilateral. 1 Sedang
untuk penderita dengan homosistinuria, hampir 90% dari penderita mengalami dislokasi lensa
(luksasi) pada kedua lensanya.1
II.2.2 Klasifikasi
Dislokasi lensa dapat terjadi ke bilik depan, ke vitreus, subskleral, ruang interretina, konjungtiva,
dan ke subtenon. Dislokasi ke bilik depan sering menyebabkan glaukoma akut yang hebat,
sehingga harus segera diekstraksi. Dislokasi ke posterior biasanya lebih tenang dan sering tidak
menimbulkan keluhan, tetapi dapat menyebabkan vitreus menonjol ke bilik depan dan
menyebabkan blok pupil dan peninggian TIO.10
II.2.3 Etiologi / Faktor- Faktor Penyebab
Dislokasi lensa dapat terjadi oleh karena herediter, komplikasi penyakit mata lainnya ataupun
akibat proses trauma yang terjadi pada mata. Dari faktor herediter dapat terjadi pada
keadaan Sindrom Marfan ataupunpada
homosistinuria, dimana zonulazinii sebagai pemegang
lensa menjadi inkompeten.2
Sedangkan untuk faktor trauma, terjadi lebih sering pada kasus trauma tumpul, dimana terjadi
ekspansi dan kompresi pada bola mata yang pada akhirnya dapat mengakibatkan dislokasi lensa. 3
Penyakit lain pada mata yang dapat menyebabkan komplikasi ke arah dislokasi lensa diantaranya
katarak hipermatur dan high myopia.1

Faktor faktor yang mempengaruhi terjadinya dislokasi lensa ditinjau dari teori Blum yang
dibagi menjadi empat faktor, antara lain faktor biologi, faktor perilaku, faktor lingkungan, dan
faktor pelayanan kesehatan.
Faktor Biologi

- Herediter- Mutasi pada gen fibrilin pada


kromosom 15 (Sindrom Marfan)
- Kelainan bawaan yang bersifat autosomal resesif,
dimana terjadi Defisiensi sintetis enzim Cystathione
(Homocystinuria)
- Kelainan bawaan autosomal dominan atau resesif
(Weill-Marchesani Syndrome)
- Usia (dapat terjadi pada semua umur). Unutk
dislokasi lensa karena faktor herediter manifestasi
sudah muncul sejak usia anak- anak.
- Jenis kelamin, tidak ada perbedaan insidens
dislokasi lensa antara laki-laki dan perempuan.

Faktor Lingkungan
Faktor Perilaku

Faktor Pelayanan Kesehatan

- Lingkungan dengan keadaan yang kurang baik,


(misal: Pencahayaan kurang)
- Kurangnya kesadaran pasien untuk segera
berobat- Kurangnya kesadaran pasien untuk
melakukan pemeriksaan rutin (kontrol)
- Komplikasi dari operasi katarakKeterlambatan dalam diagnosis dini dan terapi
terutama pada kasus dislokasi lensa yang
merupakan komplikasi dari penyakit lain seperti
katarak hipermatur, sehingga kejadian penyakit
tidak dapat dicegah atau diminimalisir dan
seringkali tidak terdeteksi.
-

Kekeliruan dalam diagnosis dan terapi

- Tidak adanya program yang adekuat untuk


proses skrining awal penyakit terutama untuk
dislokasi lensa yang terjadi karena faktor herediter.

Faktor yang Paling Berperan

Faktor yang paling berperan mempengaruhi terjadinya dislokasi lensaadalah faktor pelayanan
kesehatan.
Akar-Akar Permasalahan
Minimnya pengetahuan petugas akan informasi tentang dislokasi lensa,mendeteksi dini,
menegakkan diagnosis dan memberikan penanganan secara tepat.

Akar Masalah Utama


Faktor pelayanan kesehatan yang menjadi masalah utama dalam kasusdislokasi lensa adalah
ketidakmampuan untuk mendeteksi penyakit secara dini,terlambat mendiagnosis, sehingga
terlambat pula dalam pemberian penanganan secara tepat. Hal ini dikarenakan kurangnya
pengetahuan petugas kesehatanakan kasus ini karena kasus ini merupakan kasus yang sangat
jarang ditemukandi lapangan. Oleh karena itu, perlu direncanakan pelaksanaan kegiatan yang
dapat menyelesaikan akar masalah tersebut dengan jalan meningkatkan pengetahuan petugas
mengenai dislokasi lensa.

II.2.4 Patofisiologi
Homocystinuria merupakan gangguan metabolisme yang ditandai dengan meningkatnya kadar
darah pada konsentrasi homosistein urin asam amino yang mengandung sulfur.

Patofisiologi
Adanya kecacatan dalam metabolisme asam amino akan menghasilkan zonules yang rapuh dan
mudah pecah, hal ini akan memungkinkan lensa untuk menggantikan inferonasally atau bahkan
masuk kedalam bilik anterior

Syndrome Marfan
Dislokasi Lensa. Pada anak-anak muda, dislokasi lensa dapat diobati efektif dengan kacamata
atau lensa kontak yang membiaskan sekitar atau melalui lensa. Untuk remaja yang tidak
menyukai penggunaan kacamata atau mengalami gangguan lapang pandang yang terbatas
mungkin menjadi indikasi untuk jenis pemasangan implan lensa intraokuler.
Perbedaan Syndrome Marfan dan Homocytinuria

Syndrome Marfan

Homocytinuria

Autosomal dominanInkompetensi Aorta Autosomal resesifOrgan jantung jarang


terkena
Dislokasi lensa ke atas
Dislokasi lensa ke bawah
Mentalitas normal
Keterbelakangan mental
Scoliosis
Trombosis rekuren
Flat kaki
Osteoporosis
Hernia

II.2.5 Gejala Klinis


Gejala-gejala dislokasi lensa tergantung pada keparahan dan dapat bervariasi dari ringan sampai
miopia berat, Silindris dan fluktuasi visus. Selain itu, visus dapat sangat kabur. Dislokasi lensa
hanya dapat dikonfirmasikan oleh dokter yang menggunakan pemeriksaan mata menggunakan
slit lamp setelah dilakukan dilatasi pupil secara sepenuhnya (midriasis).

II.2.6 Pengobatan
Ekstraksi dislokasi lensa bisa sulit, sehingga subluxated lensa sendiri bukan merupakan alasan
yang cukup untuk dilakukan operasi. Dengan tidak adanya glaucoma sudut tertutup,
dekompensasi kornea, peradangan atau kecacatan visual, membiarkan subluxated lensa
mendukung pilihan non-bedah. Untuk penstabilan kesalahan, koreksi visual dengan kacamata
atau lensa kontak dapat menjadi pilihan.
Jika luxates lensa ke dalam ruang posterior tetapi tidak terjadi peradangan, hanya dilakukan
memantau kondisi. Namun, jika peradangan tidak terjadi dan ada ancaman kerusakan retina,
perlu dilakukan vitrectomy dan ekstraksi lensa.
Jika lensa telah secara spontan terjadi dislokasi ke ruang anterior, atau di mana pasien mengalami
dislokasi anterior, ikuti protokol ini: pasien diposisikan berbaring, kemudian hati-hati
memanipulasi kepala sampai lensa jatuh kembali ke tempat di fosa. Terapkan solusi pilocarpine
dan mendapatkan konsultasi bedah.
Jika terjadi blok pupil, berlanjut menjaid glaukoma sudut tertutup, laser iridotomy perifer
diindikasikan sesegera mungkin. Namun, tingkat keberhasilannya rendah. Dengan demikian,
pasien kemudian harus menjalani ekstraksi lensa dengan implantasi lensa intraokular. Sementara

beberapa ahli bedah mata telah sukses dengan implan ruang posterior, lensa bilik anterior
biasanya menjadi modalitas pilihan.

II.2.7 Komplikasi dan Prognosis


Dalam setiap kasus dislokasi lensa, kemungkinan kuat akan terjadi blok pupil dan sekunder
glaukoma sudut tertutup.
-

Delapan puluh % pasien dengan sindrom Marfan akan mengalami subluksasi lensa.

Kenyataan bahwa subluksasi lensa bukan alasan yang kuat untuk dilakukan pembedahan
pengeluaran lensa.
Gejala subluksasi dapat dikelola secara efektif dengan lensa kontak buram atau terapi
jangka panjang pilocarpine.
BAB III
PENUTUP

III.1

KESIMPULAN

Dislokasi lensa adalah keadaan dimana lensa kristalina bergeser atau berubah posisinya dari
kedudukan normalnya akibat rupturnya zonula zinii sebagai pemegangnya. 1 Dislokasi lensa
dapat terjadi total (luksasi) ataupun sebagian (subluksasi) yang terjadi akibat proses trauma pada
mata, herediter (sindrom marfan, homosistinuria), ataupun komplikasi dari penyakit lain.
Kejadian dislokasi lensa sangat jarang ditemukan.
III.2

SARAN

Mahasiswa diharapkan lebih mengenalkan kepada masyarakat tentang penyakit dislokasi lensa.

DAFTAR PUSTAKA

1. Eifrig, C. W. Ectopia Lentis. 2009. Emedicine


2. Crick, R. P, and Khaw, P. T. A Textbook Of Clinical Ophthalmology 3rd Edition. 2003.
World Scientific Publishing Co. Pte. Ltd.

3. Azar. D. T, and Napoli. J. J. The Crystalline Lens and Cataract in Manualof Ocular
Diagnosis and Therapy, 6th Edition. 2008. Lippincott Williams& Wilkins
4. Vaughan. D. G., Asbury. T., dan Eva. P. R. Oftalmologi Umum. 2000.Widya Medika:
Jakarta.
5. Kanski JJ. Clinical Ophthalmology A Synopsis. Butterworth-Heinemann, Boston, 2009.
6. Grayson CE. What Is a Stye. Taken from : www.webmd.com. 2010.
7. Ilyas S. Penuntun Umum Penyakit Mata. Cet. IV. Jakarta : Penerbit FKUI. 1996. h. 28-9.
8. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata. Cet.II. Jakarta: Penerbit FKUI. 1998. h. 92-4.
1. Lang G. Ophthalmology A Short Textbook. Thieme. Stuttgart New York. 2000.
2. Khaw PT, Shah P, Elkington AR. Injury to the eye. Br Med J 2004;328:36-8