Anda di halaman 1dari 30

Tujuan Laporan Keuangan

Tujuan utama laporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi,


menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu
entitas syariah yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan
keputusan ekonomi. Beberapa tujuan lainnya adalah :
1. Meningkatkan kepatuhan terhadap prinsip syariah dalam semua transaksi dan
kegiatan usaha.
2. Informasi kepatuhan entitas syariah terhadap prinsip syariah, serta informasi
aset, kewajiban, pendapatan dan beban yang tidak sesuai dengan prinsip
syariah bila ada dan bagaimana perolehan dan penggunaannya.
3. Informasi untuk membantu mengevaluasi pemenuhan tanggung jawab entitas
syariah terhadap amanah dalam mengamankan dana, menginvestasikannya
pada tingkat keuntungan yang layak.
4. Informasi mengenai tingkat keuntungan investasi yang diperoleh penanam
modal dan pemilik dana syirkah temporer; dan informasi mengenai
pemenuhan kewajiban (obligation) fungsi sosial entitas syariah termasuk
pengelolaan dan penyalutan zakat, infak, sedekah, dan wakaf'
Laporan keuangan diharapkan dapat memenuhi kebutuhan bersama
sebagai pengguna laporan keuangan, serta dapat digunakan sebagai bentuk
laporan dan pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan
kepadanya
Bentuk Laporan Keuangan
Laporan keuangan entitas syariah terdiri atas :
1. Posisi Keuangan Entitas Syariah, disajikan sebagai neraca. Laporan ini
menyajikan informasi tentang sumber daya yang dikendalikan, struktur
keuangan, likuiditas dan solvabilitas serta kemampuan beradaptasi terhadap
perubahan lingkungan. Laporan iniberguna untuk memprediksi kemampuan
perusahaan di masa yang akan datang.

2. Informasi Kinerja Entitas Syariah, disajikan dalam laporan laba rugi. Laporan
ini diperlukan untuk menilai perubahan potensial sumber daya ekonomi yang
mungkin dikendalikan di masa depan.
3. Informasi Perubahan Posisi Keuangan Entitas Syariah, yang dapat disusun
berdasarkan definisi dana seperti seluruh sumber daya keuangan, modal kerja,
aset likuid atau kas' Kerangka ini tidak mendefinisikan dana secara spesifik.
Akan tetapi, melalui laporan ini dapat diketahui aktivitas investasi, pendanaan
dan operasi selama periode pelaporan.
4. Informasi Lain, seperti Laporan Penjelasan tentang Pemenuhan Fungsi Sosial
Entitas Syariah. Merupakan informasi yang tidak diatur secara khusus tetapi
relevan bagi pengambilan keputusan sebagian besar pengguna laporan
keuangan.
5. Catatan dan Skedul rambahan, merupakan penampung dari informasi
tambahan yang relevan termasuk pengungkapan tentang risiko dan
ketidakpastian yang memengaruhi entitas. Informasi tentang segmen industri
dan geografi serta pengaruh perubahan harga terhadap entitas juga dapat
disajikan.
Asumsi Dasar
1. Dasar akrual
Laporan keuangan disajikan atas dasar akrual, maksudnya bahwa pengaruh
transaksi dan peristiwa lain diakui pada saat kejadian (dan bukan pada saat kas
atau setara kas diterima atau dibayar) dan diungkapkan dalam catatan
akuntansi serta dilaporkan dalam laporan keuangan pada periode yang
bersangkutan.
Laporan keuangan yang disusun atas dasar akrual memberikan informasi
kepada pemakai tidak hanya transaksi masa lalu yang melibatkan penerimaan
dan pembayaran kas tetapi juga kewajiban pembayaran kas di masa depan
serta sumber daya yang merepresentasikan kas yang akan diterima di masa
depan.

Namun, dalam penghitungan pendapatan untuk tujuan pembagian hasil


usaha menggunakan dasar kas. Hal ini disebabkan bahwa irinsip pembagian
hasil usaha berdasarkan bagi hasil, pendapatan atau hasil yang dimaksud
adalah keuntungan bruto (gross profit).
2. Kelangsungan usaha
Laporan keuangan biasanya disusun atas dasar asumsi kelangsungan usaha
entitas syariah yang akan melanjutkan usahanya di masa depan, oleh karena
itu entitas syariah diasumsikan tidak bermaksud atau berkeinginan melikuidasi
atau mengurangi secara material skal ausahanya. Jika maksud atau keinginan
tersebut timbul, laporan keuangan mungkin harus disusun dengan dasar yang
berbeda dan dasar yang digunakan harus diungkapkan.
Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan
Karakteristik kualitatif merupakan ciri khas yang membuat informasi dalam
laporan keuangan berguna bagi pemakai. Terdapat empat karateristik kualiiatif
pokok, yaitu: dapat dipahami, relevan, keandalan, dan dapat di perbandingkan.
1. Dapat dipahami
Kualitas Penting informasi yang ditampung dalam laporan keuangan adalah
kemudahannya untuk segera dapat dipahami oleh pemakai untuk maksud ini,
pemakai diasumsikan memiliki pengetahuan yang memadai tentang aktivitas
ekonomi dan bisnis, akuntansi, serta kemauan untuk mempelajari informasi
dengan ketekunan yang wajar. Namun demikian, informasi kompleks yang
seharusnya dimasukkan dalam laporan keuangan tidak dapat dikeluarkan
hanya atas dasar pertimbangan bahwa informasi tersebut terlalu sulit untuk
dapat dipahami oleh pemakai tertentu.

2. Relevan
Agar bermanfaat, informasi harus relevan untuk memenuhi kebutuhan
pemakai dalam proses pengambilan keputusan. Informasi memiliki kualitas
relevan kalau dapat memengaruhi keputusan ekonomi pernakai dengan
membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu, masa kini atau masa
depan, serta menegaskan atau mengoreksi hasil evaluasi mereka di masa lalu.
Relevan berarti juga harus berguna untuk peramalan (predictive) dan
penegasan (confirmatory) atas transaksi yang berkaitan satu sama lain.
Relevan juga dipengaruhi oleh hakjkat dan tingkat materialitasnya.
Tingkat materialitas ditentukan berdasarkan pengaruh kelalaian (ambang
batas) terhadap keputusan ekonomi pemakai yang diambil atas dasar laporan
keuangan. Oleh karena itu, materialitas dipengaruhi oleh besarnya kesalahan
dalam mencantumkan atau pencatatan.
Sementara itu, dasar penerapan dalam bagi hasil harus mencerminkan
jumlah yang sebenarnya tanpa mempertimbangkan konsep materialitas.
3. Keandalan
Andal diartikan sebagai bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan
material, dan dapat diandalkan pemakainya sebagai penyajian yang tulus atau
jujur (faithful representation) dari yang seharusnya disajikan atau yang secara
wajar diharapkan dapat disajikan.
Informasi mungkin relevan tetapi jika hakikat atau penyajiannya tidak
dapat diandalkan maka penggunaan informasi tersebut secara potensial dapat
menyesatkan. Misalnya, jika keabsahan dan jumlah tuntutan atas kerugian
dalam suatu tindakan hukum masih dipersengketakan, mungkin tidak tepat
bagi entitas syariah untuk mengakui jumlah seluruh tuntutan tersebut dalam
neraca, meskipun mungkin tepat untuk mengungkapkan jumlah serta keadaan
dari tuntutan tersebut.
Agar dapat diandalkan maka informasi harus memenuhi hal sebagai berikut.
a. Menggambarkan dengan jujur transaksi (penyajian jujur) serta peristiwa
lainnya yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar dapat

diharapkan untuk disajikan. Misalnya, neraca harus menggambarkan


dengan jujur transaksi serta peristiwa lainnya dalam bentuk aset,
kewajiban, dana syirkah temporer, serta ekuitas entitas sy?riah pada
tanggal pelaporan. Penggambaran tersebut harus memenuhi kriteria
pengakuan, walaupun terkadang mengalami kesulitan yang melekat untuk
mengidentifikasikan transaksi baik disebabkan oleh kesulitan yang
melekat pada transaksi atau oleh penerapan ukuran dan, teknik penyajian
yang sesuai dengan makna transaksi atau peristiwa tersebut.
b. Dicatat dan disajikan sesuai dengan substansi dan realitas ekonomi yang
sesuai dengan prinsip syariah dan bukan hanya bentuk hukumnya
(substansi mengungguli bentuk).
c. Harus diarahkan untuk kebutuhan umum pemakai dan bukan pihak
tertentu saja (netral).
d. Didasarkan atas pertimbangan yang sehat dalam hal menghadapi
ketidakpastian

peristiwa

dan keadaan

tertentu.

Pertimbangan

ini

mengandung unsur kehati-hatian pada saat melakukan perkiraan atas


ketidakpastian tersebut.
e. Lengkap dalam batasan materialitas dan biaya. Kesengajaan untuk tidak
mengungkapkan akan berakibat informasi menjadi tidak benar sehingga
menjadi tidak dapat diandalkan dan tidak sempurna.
4. Dapat dibandingkan
Pemakai harus dapat membandingkan laporan keuangan entitas syariah antar
periode untuk mengidentifikasi kecenderungan (trend) posisi dan kinerja
keuangan. Pemakai juga harus dapat membandingkan laporan keuangan antar
entitas syariah untuk mengevaluasi posisi keuangan, kinerja serta perubahan
posisi keuangan secara relatif. Oleh karena itu, pembandingan berupa
pengukuran dan penyajian dampak keuangan dari transaksi dan peristiwa lain
yang serupa harus dilakukan secara konsisten untuk entitas syariah tersebut,
antar periode entitas syariah yang sama, untuk entitas syariah yang berbeda,
maupun dengan entitas lain.

Agar dapat dibandingkan, informasi tentang kebijakan akuntansi yang


digunakan dalam penyusunan laporan keuangan dan perubahan kebijakan
serta pengaruh perubahan tersebut juga harus diungkapkan termasuk ketaatan
atas standar akuntansi yang berlaku.
Bila pemakai ingin membandingkan posisi keuangan, kinerja serta
perubahan posisi keuangan antar periode, maka entitas syariah perlu
menyajikan informasi periode sebelumnya dalam laporan keuangan.

Kendala lnformasi yang Relevan dan Andal


Kendala informasi yang relevan dan andal terdapat dalam hal sebagai berikut.
1. Tepat waktu
Jika terdapat penundaan yang tidak semestinya dalam pelaporan, maka
informasi yang dihasilkan akan kehilangan relevansinya. Manajemen mungkin
perlu menyeimbangkan manfaat relatif antara pelaporan tepat waktu dan
ketentuan informasi andal. Dalam usaha mencapai keseimbangan antara
relevansi dan keandalan, kebutuhan pengambil keputusan merupakan
pertimbangan yang menentukan.
2. Keseimbangan antara biaya dan manfaat
Keseimbangan antara biaya dan manfaat lebih merupakan suatu kendala yang
dapat terjadi (pervasive) dari suatu karakteristik kualitatif. Manfaat yang
dihasilkan informasi seharusnya melebihi biaya penyusunannya. Namun
demikian, secara substansi, evaluasi biaya dan manfaat merupakan suatu
proses pertimbangan Qudgement process). Biaya tidak harus dipikul oleh
mereka yang menikmati manfaat. Manfaat mungkin juga dinikmati oleh
pemakai lain di samping oleh mereka yang menjadi tujuan (target)
penyampaian informasi.
Oleh karena itu, kita akan sulit mengaplikasikan uji biaya-manfaat pada
kasus tertentu, sehingga perlu disadari dan dijadikan pertimbangan oleh juga
para penyusun dan pemakai laporan keuangan. Dalam praktik, keseimbangan

atau trade-off di antara berbagai karakteristik kualitatif sering diperlukan.


Pada umumnya, tujuan untuk nlencapai suatu keseimbangan yang tepat di
antara berbagai karakteristik adalah untuk memenuhi tujuan laporan keuangan.
Pada akhirnya, kepentingan relatifdari berbagai karakteristik dalam berbagai
kasus yang berbeda, akan diselesaikan melalui pertimbangan profesional
(professional judgment).
Dalam ciri karakteristik kuatitatif, tidak dijelaskan mengenai konsep
khusus tentang penyajian wajar. Namun, dalam penerapan, muara dari
karakteristik kualitatif pokok dan standar akuntansi keuangan yang sesuai
biasanya akan terlihat pada laporan keuangan yang menggambarkan apa yang
pada umumnya dipahami sebagai suatu pandangan yang wajar dari atau
menyajikan dengan wajar.

Unsur-unsur Laporan Keuangan


Sesuai karakteristik, laporan keuangan entitas syariah, antara lain meliputi:
1. Komponen laporan keuangan yang mencerminkan kegiatan komersial yang
terdiri atas laporan posisi keuangan, laporan laba rugi, laporan arus kas, serta
laporan perubahan ekuitas.
Posisi keuangan
Unsur yang berkaitan secara langsung dengan pengukuran posisi keuangan
adalah aset, kewajiban, dana syirkah temporer dan ekuitas. Pos-pos ini
didefinisikan sebagai berikut.
a. Aset adalah sumber daya yang dikuasai oleh entitas syariah sebagai akibat
dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi di masa depan
diharapkan akan diperoleh entitas syariah.
b. Kewajiban merupakan utang entitas syariah masa kini yang timbul dari
peristiwa masa lalu, penyelesaiannya diharapkan mengakibatkan arus
keluar dari sumber daya entitas syariah yang mengandung manfaat
ekonomi.

c. Dana syirkah temporer adalah dana yang diterima sebagai investasi dengan
jangka waktu tertentu dari individu dan pihak lainnya di mana entitas
syariah mempunyai hak untuk mengelola dan menginvestasikan dana
tersebut dengan pembagian hasil investasiberdasarkan kesepakatan.
Dana syirkah temporer tidak dapat digolongkan sebagai kewajiban,
karena entitas syariah tidak berkewajiban untuk mengembalikan dana awal
dari pemilik dana ketika mengalami kerugian kecuali akibat kelalaian atau
wanprestasi entitas syariah. Namun demikian, dia juga tidak dapat
digolongkan sebagai ekuitas karena mempunyai waktu jatuh tempo dan
tidak memiliki hakkepemilikan yang sama dengan pemegang saham.
d. Ekuitas adalah hak residual atas aset entitas syariah setelah dikurangi
semua kewajiban dan dana syirkah temporer. Ekuitas dapat disub
klasifikasikan menjadi setoran modal pemegang saham, saldo laba,
penyisihan saldo laba dan penyisihan penyesuaian pemeliharaan modal.
Kinerja
Unsur yang langsung berkaitan dengan pengukuran penghasilan bersih (laba)
adalah penghasilan dan beban. Unsur penghasilan dan beban didefinisikan berikut
ini.
a. Penghasilan ( income) adalah kenaikan manfaat ekonomi selama suatu periode
akuntansi dalam bentuk pemasukan atau penambahan aset atau penurunan
kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari
kontribusi penanam modal. Penghasilan (income) meliputi pendapatan
(revenues) maupun keuntungan (gain).
b. Beban (expenses) adalah penurunan manfaat ekonomi selama suatu periode
akuntansi dalam bentuk arus keluar atau berkurangnya aset atau terjadinya
kewajiban yang mengakibatkan penurunan ekuitas yang tidak menyangkut
pembagian kepada penanam modal, termasuk di dalamnya beban untuk
pelaksanaan aktivitas entitas syariah maupun kerugian yang timbul.

Hak pihak ketiga atas bagi hasil


Hak pihak ketiga atas bagi hasil dana syirkah temporer adalah bagian bagi hasil
pemilik dana atas keuntungan dan kerugian hasil investasi bersama entitas syariah
dalam suatu periode laporan keuangan.
Hak pihak ketiga atas bagi hasil tidak bisa dikelompokan sebagai beban (ketika
untung) atau pendapatan (ketika rugi). Namun, hakpihakketiga atas bagi hasil
merupakan alokasi keuntungan dan kerugian kepada pemilik dana atas investasi
yang dilakukan bersama dengan entitas syariah.
2. Komponen laporan keuangan yang mencerminkan kegiatan sosial, meliputi
laporan sumber dan penggunaan dana zakat serta laporan sumber dan
penggunaan dana kebajikan.
3. Komponen laporan keuangan lainnya yang mencerminkan kegiatan dan
tanggung jawab khusus entitas syariah tersebut.

Pengukuran Unsur Laporan Keuangan


Sejumlah dasar pengukuran yang berbeda digunakan dalam derajat dan kombinasi
yang berbeda dalam laporan keuangan. Berbagai dasar pengukuran tersebut
adalah sebagai berikut.
1. Biaya historis (historical cost)
Aset dicatat sebesar pengeluaran kas (atau setara kas) yang dibayar atau
sebesar nilai wajar dari imbalan (consideration) yang diberikan untuk
memperoleh aset tersebut pada saat perolehan.
Kewajiban dicatat sebesar jumlah yang diterima sebagai penukar dari
kewajiban (obligation), atau dalam keadaan tertentu (misalnya, pajak
penghasilan), dalam jumlah kas (atau setara kas) yang diharapkan akan
dibayarkan untuk memenuhi kewajiban dalam pelaksanaan usaha yang
normal. Dasar ini adalah dasar pengukuran yang lazim digunakan entitas
syariah dalam penyusunan laporan keuangan.

2. Biaya kini (current cost)


Aset dinilai dalam jumlah kas (atau setara kas) yang seharusnya dibayar bila
aset yang sama atau setara aset diperoleh sekarang.
Kewajiban dinyatakan dalam jumlah kas (atau setara kas) yang tidak
didiskontokan (undiscounted) yang mungkin

akan diperlukan

untuk

menyelesaikan kewajiban (obligafion) sekarang.


3. Nilai realisasi/penyelesaian (realizable/ settlement value)
Aset dinyatakan dalam jumlah kas (atau setara kas) yang dapat diperoleh
sekarang dengan menjual aset dalam pelepasan normal (orderly disposal).
Kewajiban dinyatakan sebesar nilai penyelesaian; yaitu, jumlah kas (atau
setara kas) yang tidak didiskontokan yang diharapkan akan dibayarkan untuk
memenuhi kewajiban dalam pelaksanaan usaha normal. Dasar pengukuran ini
walaupun dapat digunakan tetapi tidak mudah untuk diterapkan dalam kondisi
saat ini. Mengingat manajemen harus menjamin informasi yang disajikan
adalah andal serta dapat dibandingkan.
Laporan Keuangan Bank Syariah (PSAK 101)
Laporan keuangan bank syariah yang lengkap terdiri atas:
(a) Neraca;
(b) Laporan Laba Rugi;
(c) Laporan Arus Kas;
(d) Laporan Perubahan Ekuitas;
(e) Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat;
(f) Laporan Rekonsiliasi Pendapatan dan Bagi Hasil;
(g) Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat;
(h) Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan; dan
(i) Catatan atas Laporan Keuangan.

Ilustrasi 1
PT Bank Syariah X
Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
Per 31 Desember 20X1
Aset
Kas
Penempatan pada Bank Indonesia
Giro pada bank lain
Penempatan pada bank lain
Investasi pada efek/surat berharga
Piutang
Murabahah
Salam
Istishna
Ijarah
Jumlah Piutang
Pembiayaan
Mudharabah
Musyarakah
Jumlah pembiayaan

xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx

xxx
xxx
xxx

Persediaan
Tagihan dan kewajiban akseptasi
Aset ijarah
Aset istishna dalam penyelesaian
Penyertaan pada entitas lain
Aset tetap dan akumulasi penyusutan
Aset lainnya
Jumlah Aset
Kewajiban
Kewajiban segera
Bagi hasil yang belum dibagikan
Simpanan
Simpanan dari bank lain
Hutang :
Salam
Istishna
Jumlah Utang
Kewajiban kepada bank lain
Pembiayaan yang diterima
Hutang Pajak
Estimasi kerugian komitmen dan kontinjensi
Pinjaman yang diterima
Kewajiban lainnya
Pinjaman subordinasi
Jumlah Kewajiban

xxx
xxx
xxx

xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx

Ilustrasi 1
PT Bank Syariah X
Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
Per 31 Desember 20X1
(lanjutan)
Dana Syirkah Temprorer
Dana syirkah temporer dari bukan bank :
Tabungan mudharabah
Deposito mudharabah
Jumlah dana syirkah temporer bukan bank
Dana syirkah temporer dari bank
Tabungan mudharabah
Deposito mudharabah
Jumlah Dana Syirkah Temporer
Musyarakah
Jumlah Ekuitas
Jumlah Kewajiban, Dana Syirkah Temporer dan Ekuitas

xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx

Ilustrasi 2
PT Bank Syariah X
Laporan Laba Rugi
Untuk Periode yang Berakhir pada tanggal 31 Desember 20X1
Pendapatan Pengelolaan Dana oleh Bank sebagai Mudharib
Pendapatan dari jual beli;
Pendapatan marjin murabahah
Pendapatan bersih salam paralel
Pendapatan bersih istishna paralel
Jumlah pendapatan dari sewa
Pendapatan dari sewa;
Pendapatan bersih ijarah
Pendapatan dari bagi hasil;
Pendapatan bagi hasil mudharabah
Pendapatan bagi hasil musyarakah
Pendapatan usaha utama lainnya
Jumlah pendapatan dari bagi hasil
Pendapatan usaha utama lainnya
Jumlah Pendapatan Pengelolaan Dana oleh Bank sebagai Mudharib
Hak pihak ketiga atas bagi hasil
Hak bagi hasil milik bank
Pendapatan Usaha Lainnya
Pendapatan imbalan jasa perbankan
Pendapatan imbalan investasi terkait
Jumlah Pendapatan Usaha Lainnya
Beban Usaha
Beban kepegawaian
Beban administrasi
Beban penyusutan dan amortisasi
Beban usaha lain
Jumlah Beban Usaha
Laba (Rugi) Usaha
Pendapatan dan Beban Nonusaha
Pendapatan nonusaha
Beban nonusaha
Jumlah Pendapatan dan Beban Nonusaha

xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
(xxx)
xxx
xxx
xxx
xxx
(xxx)
(xxx)
(xxx)
(xxx)
(xxx)
xxx
xxx
(xxx)
xxx

Laba (Rugi) sebelum pajak

xxx

Beban Pajak

(xxx)

Laba (rugi) Neto Periode Berjalan

xxx

Ilustrasi 3
PT Bank Syariah X
Laporan Laba Rugi
Untuk Periode yang Berakhir pada tanggal 31 Desember 20X1
Saldo AWAL
Jumlah unit investasi awal periode
Nilai per unit investasi
Penerimaan dana
Penarikan dana
Keuntungan (kerugian) investasi
Biaya administrasi
Imbalan bank sebagai agen investasi
Saldo investasi pada akhir periode
Jumlah unit investasi pada akhir periode
Nilai unit investasi pada akhir periode

xxx
xxx
xxx
xxx
(xxx)
xxx
(xxx)
xxx
xxx
xxx
xxx

Investasi terikat adalah investasi yang bersumber dari pemilik investasi


terikat dan sejenisnya yang dikelola oleh bank syariah sebagai agen investasi.
Investasi terikat bukan merupakan asset maupun kewajiban karena bank syariah
tidak mempunyai hak untuk menggunakan atau mengeluarkan investasi tersebut,
serta bank syariah tidak memiliki kewajiban mengembalikan atau menanggung
risiko investasi. Dalam hal bank syariah bertindak sebagai agen investasi, imbalan
yang diterima adalah besar jumlah yang disepakati tanpa memperhatikan hasil
investasi.

Ilustrasi 4
PT Bank Syariah X
Laporan Rekonsiliasi Pendapatan dan Bagi Hasil
Untuk Periode yang Berakhir pada tanggal 31 Desember 20X1
Pendapatan Usaha Utama (Akrual)
Pengurang :
Pendapatan periode berjalan yang kas atau setara kasnya belum diterima
Pendapatan margin murabahah
Pendapatan istishna
Hak bagi hasil
Pembiayaan mudharabah
Pembiayaan musyarakah
Pendapatan sewa
Jumlah Pengurang
Penambah :
Pendapatan periode berjalan yang kas atau setara kasnya belum diterima
Pendapatan pelunasan piutang
Margin murabahah
Istishna
Pendapatan sewa
Penerimaan piutang bagi hasil ;
Pembiayaan mudharabah
Pembiayaan musyarakah
Jumlah Penambah
Pendapatan yang tersedia untuk bagi hasil
Bagi hasil yang menjadi hak bank syariah
Bagi hasil yang menjadi hak pemilik dana
Dirinci atas :
Hak pemilik dana atas bagi hasil yang sudah didistribusikan
Hak pemilik dana atas bagi hasil yang belum didistribusikan

xxx
(xxx)
(xxx)
(xxx)
(xxx)
(xxx)
(xxx)
xxx

xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx

Ilustrasi 5
PT Bank Syariah X
Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat
Untuk Periode yang Berakhir pada tanggal 31 Desember 20X1
Sumber Dana Zakat
Zakat dari dalam bank syariah
Zakat dari pihak luar bank syariah
Jumlah sumber dana zakat
Penggunaan Dana Zakat
Fakir
Miskin
Amil
Muallaf
Orang yang terlilit hutang (gharim)
Riqab
Fisabilillah
Orang yang dalam perjalanan (ibnu sabil)
Jumlah Penggunaan Dana Zakat
Kenaikan (penurunan) dana zakat
Saldo awal dan zakat
Saldo akhir dana zakat

xxx
xxx
xxx
(xxx)
(xxx)
(xxx)
(xxx)
(xxx)
(xxx)
(xxx)
(xxx)
(xxx)
xxx
xxx
xxx

Ilustrasi 6
PT Bank Syariah X
Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan
Untuk Periode yang Berakhir pada tanggal 31 Desember 20X1
Sumber Dana Kebijakan
Infak Zakat dari dalam bank syariah
Sedekah
Hasil pengelolaan wakaf
Pengembalian dana kebajikan p[roduktif
Denda
Pendapatan nonhalal
Jumlah sumber dana kebajikan

xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx

Penggunaan Dana Kebajikan


Dana kebajikan produktif
Sumbangan
Penggunaan lainnya untuk kepentingan umum
Jumlah Penggunaan Dana Kebajikan

(xxx)
(xxx)
(xxx)

Kenaikan (Penurunan) dana kebajikan


Saldo awal dana kebajikan
Saldo akhir dana kebajikan

xxx

(xxx)
xxx
xxx
xxx

Tujuan Akuntansi Keuangan dan Laporan Keuangan

Kerangka dasar akuntansi disadari merupakan hal penting, dan untuk itu, AAOIFI
telah mengeluarkan Pernyataan No. t dan No. 2. Tujuan akuntansi keuangan untuk
lembaga keuangan syariah menurut AAOIFI yaitu sebagai berikut :
1. Dapat digunakan sebagai panduan bagi dewan standar untuk menghasilkan
standar yang konsisten.
2. Tujuan akan membantu bank dan lembaga keuangan syariah untuk memilih
berbagai alternatif metode akuntansi pada saat standar akuntansi belum
mengatur.
3. Tujuan akan membantu untuk memandu manajemen dalam membuat
pertimbangan Ijudgement pada saat akan menyusun laporan keuangan.
4. Tujuan jika diungkapkan dengan baik, akan meningkatkan kepercayaan
pengguna serta meningkatkan pemahaman informasi akuntansi sehingga
akhirnya akan meningkatkan kepercayaan atas lembaga keuangan syariah.
5. Penetapan tujuan yang mendukung penyusunan standar akuntansi yang
konsisten. Ini seharusnya dapat meningkatkan kepercayaan pengguna laporan
keuangan.
Pendekatan yang digunakan oleh para pemikir Islam dalam AAOIFI untuk
menyusun tujuan laporan keuangan lembaga keuangan syariah adalah dengan cara
mengambil seluruh pemikiran akuntansi kontemporer yang berlaku kemudian
melakukan tes dan analisis apakah pemikiran tersebut sejalan atau bertentangan
dengan syariah islam.
Jika diketahui konsisten atau sesuai, maka akan diterima sedangkan jika
diketahui tidak sesuai maka akan ditolak. Hal ini didasarkan atas kemudahan dan
tingkat penerimaan oleh masyarakat luas atas konsep kontemporer tersebut.
1. Tujuan akuntansi keuangan
a. Untuk menentukan hak dan kewajiban dari pihak yang terlibat dengan
lembaga keuangan syariah tersebut, termasuk hak dan kewajiban dari

transaksi yang belum selesai, terkait dengan penerapan, kewajaran dan


ketaatan atas prinsip dan etika syariah Islam.
b. Untuk menjaga aset dan hak-hak lembaga keuangan syariah.
c. Untuk meningkatkan kemampuan manajerial dan produktivitas dari
lembaga keuangan syariah.
d. Untuk menyiapkan informasi laporan keuangan yang berguna kepada
pengguna laporan keuangan sehingga mereka dapat membuat keputusan
yang tepat dalamberhubungan dengan Iembaga keuangan.
2. Tujuan laporan keuangan kepada pengguna informasi luar
a. Memberikan informasi tentang kepatuhan lembaga keuangan syariah
terhadap syariah Islam, termasuk informasi tentang pemisahan antara
pendapatan dan pengeluaran yang boleh dan tidak menurut svariah Islam.
b. Memberikan informasi tentang sumber daya ekonomi dan kewajiban
lembaga keuangan syariah.
c. Memberikan informasi kepada pihak yang terkait dengan penerimaan dan
penyaluran zakat pada lembaga keuangan syariah.
d. Memberikan informasi untuk mengestimasi arus kas yang dapat
direalisasikan, waktu realisasi dan risiko yang mungkin timbul dari
transaksi dengan lembaga keuangan syariah.
e. Memberikan informasi agar pengguna laporan keuangan dapat menilai dan
mengevaluasi lembaga keuangan syariah apakah telah menjaga dana serta
melakukan investasi dengan tepat termasuk memperoleh imbal hasil yang
memuaskan.
f. Memberikan informasi tentang pelaksanaan tanggung jawab sosial dari
lembaga keuangan syariah.
Akuntansi syariah memberikan penekanan kepada dua hal, yaitu
akuntabilitas dan pelaporan. Akuntabilitas tercermin melalui tauhid bahwa segala
sesuatu di dalam dunia ini harus berjalan sesuai dengan aturan Allah SWT, dan
melalui fungsi manusia sebagai Khalifah Allah di bumi. Pada saat yang sama,

akuntansi merupakan bentuk pertanggungjawaban manusia kepada Allah di mana


seluruh aturan dalam melakukan kegiatan bisnis dan personal harus sesuai dengan
aturan Allah SWT (Napier, 2007).

Pemakai Dan Kebutuhan Lnformasi


Pemakai laporan keuangan menurut AAOIFI antara lain sebagai berikut.
1. Pemegang Saham
2. Pemegang Investasi
3. Pemilik Dana (bagi Deposan Bank)
4. Pemilik Dana Tabungan
5. Pihak yang Melakukan Transaksi Bisnis
6. Pengelola Zakat
7. Pihak yang Mengatur

Paradigma, Asas, da n Karakteristik Transaksi Syariah


Paradigma, asas dan karateristik transaksi syariah tidak dapat dipisahkan dari
ekonomi Islam, karena ekonomi Islam merupakan pelaksanaan syariah Islam
dalam konteks muamalah. Hal ini menunjukkan bahwa transaksi syariah
seharusnya didasarkan atas prinsip dasar ekonomi Islam dan dilaksanakan dalam
rangka mencapai tujuan syariah (maqashidus shariah). Prinsip dasar dalam
ekonomi Islam menurut Ibnu Al-Arabi adalah sebagai berikut.
1. Tidak boleh adanya bunga dan perdagangan tersebut adalah halal.
2. Tidak boleh dilakukan secara tidak adil.
3. Tidak boleh memasukkan hal-hal yang belum pasti atau keadaan yang tidak
jelas.
4. Harus mempertimbangkan Al Maqasid dan Al Masqlih.Di mana Al Maqasid
adalah tujuan harus selalu disesuaikan dengan tuntunan Islam, sedan gkan Al
Masalah adalah kesejahteraan/perbaikan di mukabumi.

Bentuk Laporan Keuangan


Bentuk laporan keuangan yang diminta oleh AAOIFI pada prinsipnya sama
dengan yang terdapat dalam PSAK, tetapi AAOIFI secara tegas menyatakan
bahwa laporan keuangan yang dimaksud adalah laporan keuangan untuk
perbankan syariah. Laporan keuangan yang diminta oleh AAOIFI antara lain
sebagai berikut.
1. Laporan Perubahan Posisi Keuangan
2. Laporan Laba Rugi
3. Laporan Perubahan Ekuitas atau Laporan Perubahan Saldo Laba
4. Laporan Arus Kas
5. Laporan Perubahan Investasi yang Dibatasi dan Ekuivalennya
6. Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat serta Dana Sumbangan
7. Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Qard Hasan

Syarat Kualitatif Laporan Keuangan menurut AAOIFI


1. Relevan. Syarat ini berhubungan dengan proses pengambilan keputusan
sebagai alasan utama disusunnya laporan keuangan. Oleh karena itu, agar
relevan laporan keuangan harus memiliki nilai prediksi dan nilai umpan balik
serta harus disajikan tepat waktu, baik untuk laporan interim maupun untuk
laporan tahunan.
2. Dapat diandalkan. Syarat ini berhubungan dengan tingkat keandalan informasi
yang dihasilkan. Hal ini tidak berarti harus akurat secara absolut, tetapi dapat
diandalkan sesuai dengan kondisi yang melekat pada transaksi termasuk
penggunaan caralmetode untuk penghitungan dan/atau pengungkapan dari
suatu transaksi. Walaupun estimasi dan judgement tidak konsisten dengan
prinsip syariah tetapi hal ini diperbolehkan jika tidak adanya bukti yang
memadai. Dalam syarat ini, harus memiliki penyajian yang wajar, objektif dan
netral, sesuai dengan perintah Allah pada QS 5:8.
3. Dapat dibandingkan Informasi keuangan dapat dibandingkan antara lembaga
keuangan syariah dan di antara dua periode akuntansi yang berbeda bagi
lembaga keuangan yang sama.

4. Konsisten.

Metode

yang

akan

digunakan

untuk

perhitungan

dan

pengungkapan akuntansi yang sama untuk dua periode penyajian laporan


keuangan.
5. Dapat dimengerti. Informasi yang disajikan dapat dimengerti dengan mudah
bagi rata-rata pengguna laporan keuangan. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi
Muhammad SAW bahwa Muslim harus memberikan informasi kepada orang
lain sesuai dengan kemampuan mereka untuk mengerti

Perdebatan Para Pemikir Akuntansi merigenai Kerangka Akuntansi


Pada bagian ini pembahasan kerangka akuntansi syariah langsung dijelaskan pada
konsep masing-masing sehingga tidak dikelompokkan kembali sebagai asumsi,
karakteristik kualitatif, dan sebagainya.
1. Entitas unit akuntansi
Konsep ini diartikan bahwa setiap perusahaan adalah suatu unit akuntansi
yang terpisah dan harus dibedakan dengan pemiliknya atau dengan perusahaan
lain (Belkoui, 2000). Terdapat beberapa teori tentang kepemilikan di antaranya
adalah sebagai berikut.
a. Proprietary Theory, di mana kepemilikan terhadap perusahaan tercermin
pada akun ekuitas sehingga persamaannya Aset-Kewajiban = Ekuitas.
b. Entity Theory, di mana pemilik hanya memiliki hak atas sebagian dari
kepemilikan perusahaan, karena pemilik adalah hanya salah satu yang
berhak atas perusahaan, sehingga persamaannya adalah Aset = Kewajiban
+ Ekuitas.
Para ulama fikih baik klasik maupun kontemporer serta para pemikir
akuntansi Islam, masih berbeda pendapat mengenai teori ini. Mereka yang
mendukung di antaranya adalah Adnan & Gaffikin (1997), Abdul Rahman
(Napier, 2007), Attiah (1989). Konsep tersebut beralasan bahwa dalam Islam
ada juga konsep akuntansi yang harus terpisah dari unit akuntansi seperti:
wakaf, baitul maal, zakat dan pemerintahan. Dasar yang digunakan oleh para
ulama fikih yang setuju dengan konsep ini adalah firman Allah dalam QS

4:29. "... kecuqli dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama
suka di antara kamu"... dan hadis Nabi Muhammad SAW: Orang mukmin itu
(dalam urusan mereka) menurut syarat yangtelah mereka sepakati, kecuali satu
syarat, yaitu : menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal.
Sedangkan mereka yang tidak setuju dengan konsep ini di antaranya:
Gambling & Karim (1991), Khan (Napier,2007) beralasan bahwa perusahaan
adalah suatu bentuk entitas hukum yang tidak dapat dipisahkan dengan
pemiliknya terutama yang berkaitan dengan utang. AAOIFI menerima konsep
ini dengan dasar saling memercayai dan masjid telah menjadi contoh adanya
konsep entitas unit akuntansi yang terpisah dalam masyarakat Islam. Konsep
ini, menurut AAOIFI, tidak menyalahi aturan dasar dalam transaksi syariah.
Bahkan, pemisahan tersebut memudahkan pihak ketiga berhubungan dengan
perusahaan termasuk kalau hendak melakukan kerja sama, memudahkan
pengadilan jika terjadi permasalahan dalam transaksi serta prinsip dasar
muamalah bahwa seluruh muamalah dibolehkan kecuali yang dilarang dalam
Al-Quran dan Hadis.
2. Kegiatan usaha yang berkelanjutan
Konsep berkelanjutan ini dijelaskan mengasumsikan bahwa perusahaan akan
terus berlanjut di masa yang akan dating. Konsep ini memegang peranan
yang besar dalam standar akuntansi serta penyusunan laporan keuangan,
karena konsep ini akan berhubungan dengan konsep harga perolehan dan
penilaian aset tetap.
Konsep ini juga banyak dikritisi oleh pemikir akuntansi, termasuk
pemikir akuntansi Islam. Mereka yang menolak konsep ini (Adnan & Gaffakin
1997) beralasan bahwa semua makhluk adalah fana (tidak dapat hidup
selamanya) dan hanya Allah yang akan terus hidup selamanya.
Pendapat ini ditolak oleh mereka yang mendukung dengan mengatakan
bahwa Islam sangat mendukung orang yang bekerja dan menabung untuk
mengantisipasi hari di masa depan sebagaimana disampaikan dalam QS 57:7
dan Al Hadis: 'Allah menyayangi orang yang mencari nafkah yang baik dan

menafkahkannya secara sederhana serta menabung sisanya untuk persiapan


pada hari ia membutuhkan dan pada hari fakirnya." (HR. Muslim).
Selain

itu,

zakat

yang

dilakukan

setiap

tahun

secara

berkesinambungan, juga merupakan bukti bahwa konsep ini sesuai dengan


konsep usaha yang selalu berlanjut harus dikeluarkan zakatnya setiap tahun.
AAOIFI sendiri menerima konsep ini dengan alasan bahwa dalam
perjanjian tentang mudharabah secara formal memiliki waktu tertentu yang
akan berlanjut di masa yang akan datang.
3. Periodisasi
Menurut konsep ini, adanya perubahan atas kekayaan perusahaan pada laporan
keuangan harus dijelaskan secara periodik (Belkoui, 2000). Konsep ini
berhubungan dengan konsep kegiatan usaha yang berkelanjutan. Konsep ini
diterima oleh AAOIFI dan para pemikir akuntansi Islam.
4. Satuan mata uang
Proses perhitungan dan komunikasi aktivitas dalam perusahaan hanya
mencatat yang dapat dihitung dengan satuan mata uang, dan secara implisit
mengasumsikan bahwa daya beli mata uang tersebut adalah stabil.
Konsep ini memiliki dua konsekuensi. Pertama, akuntan akan hanya
memperhitungkan segala sesuatu yang hanya dapat dinyatakan dalam mata
uang serta mengabaikan informasi yang tidak dapat disajikan dalam satuan
mata uang. Kedua, mengabaikan kenyataan bahwa daya beli mata uang tidak
selamanya sama karena adanya inflasi. Perubahan harga akan menimbulkan
dua masalah dalam akuntansi yaitu masalah penilaian dan masalah
pengukuran.
Pemikir akuntansi dan ulama fikih berbeda pendapat tentang konsep
ini, antara lain adalah Ahmed (Napier, 2007) yang menyatakan bahwa
penggunaan uang sebagai alat perhitungan dalam lingkungan yang memiliki
tingkat inflasi tinggi sangat dipertanyakan. Penyebabnya adalah Islam
memerintahkan untuk berbuat adil seperti tercantum dalam QS 6:152, QS

7:85, serta QS 4:29. Inflasi menurunkan nilai sesungguhnya dari pinjaman


dengan Qard Hassan karena pemberi pinjaman akan menerima nilai yang lebih
kecil.
Untuk meminimalisir dampak inflasi, dapat dilakukan dengan
penyesuaian atas indeks atau koreksi harga. Masalahnya adalah indeks
tersebut tidak diterima oleh 4 (empat) Imam Mazhab fikih. Sementara itu,
penerapan nilai penggantilreplacement cost atau nilai wajarlfair value juga
tidak sederhana, sehingga masih dianggap bukanlah solusi yang memadai,
walaupun saat ini IFRS telah merekomendasikan penyajian aset tetap dengan
menggunakan nilai wajar (current/fair value). Berdasarkan hal tersebut, Attiah
(1989) mengusulkan penggunaan emas dan perak sebagai alat ukur karena
kedua komoditas tersebut memiliki nilai yang konsisten dan penentuan nisab
zakat )uga menggunakan komoditas tersebut.
AAOFI menerima konsep ini berdasarkan hasil pertemuan The Islamic
Fiqh Academy di Kuwait pada bulan Desember 1988 yang menyatakan bahwa
utang seharusnya dinilai pada jumlah uang tanpa melihat perubahan nilai
uangnya. Pemikir akuntansi yang menerima konsep ini, bersikap pragmatis
karena belum ada metode yang lebih baik lagi untuk mengatasi masalah ini.
5. Konservatif
Merupakan konsep yang digunakan oleh akuntan untuk melaporkan nilai yang
rendah untuk aset dan pendapatan serta nilai yang tinggi untuk kewa)iban dan
beban. Hal ini memiliki dampak bahwa untuk transaksi yang berpengaruh
terhadap kewajiban dan beban akan diakui dengan cepat sedangkan untuk aset
dan pendapatan sebaliknya.
Konsep ini sendiri dikritik oleh banyak pemikir akuntansi seperti
Belkoui (2000) dan Hendrikson ( 1982) terutama dalam hal penyajian data
yang relevan dan dapat diandalkan. Pemikir akuntansi Islam juga banyak yang
mengkritisi konsep ini, karena akan membuat perhitungan zakat yang
didasarkan atas aset menjadi terlalu rendah. (Attiah, Gambling dan Karim).

Akan tetapi, jika dilihat dari perhitungan pembagian laba untuk


transaksi mudharabah memang konsep ini dapat digunakan, mengingat bagi
hasil dilakukan setelah diketahui laba direalisasikan. AAOIFI tidak membahas
mengenai konsep ini dalam standar yang telah dikeluarkan.
6. Harga perolehan
Merupakan konsep di mana aset dicatat sejumlah kas atau setara kas yang
dibayarkan pada saat memperoleh sesuatu, sedangkan kewajiban dicatat pada
jumlah uang yang akan diterima dari pertukaran atas kewajiban.
Alasan penggunaan konsep ini adalah harga perolehan merupakan
harga yang dapat diverifikasi dan objektif pada saat pertama kali diperoleh
sekaligus sangat efisien (tidak sulit penerapannya dan memudahkan).
Walaupun banyak kritik diberikan atas konsep ini terkait dengan adanya
perubahan dalam kemampuan beli dan perubahan harga, konsep ini tetap
digunakan dalam akuntansi konvensional.
Pemikir akuntansi Islam (seperti: Gambling & Karim, Hamid,
Sulaiman) lebih memilih untuk menggunakan nilai sekarang (current value)
dibandingkan harga perolehan khususnya untuk melakukan perhitungan zakat.
Sedangkan Mirza dan Baydoun (1999) lebih memilih untuk menggunakan
nilai sekarang (current value) sebagai tambahan informasi dari harga
perolehan dengan alasan harga pasar saat ini juga tidak mencerminkan nilai di
masa yang akan datang dan penggunaan harga sekarang akan lebih relevan
untuk perusahaan yang akan dijual/dibeli pihak lain atau dilikuidasi.
7. Penandingan antara pendapatan dan beban (matching)
Merupakan konsep di mana pendapatan diakui pada suatu periode tertentu
sesuai prinsip pengakuan pendapatan secara bersamaan dengan pengakuan
beban. Implikasi dari konsep ini adalah beban harus diakui pada periode di
mana pendapatan diakui.
Untuk beban yang memiliki hubungan sebab akibat dengan
pendapatan, proses pembebanan akan dapat dilakukan dengan mudah. Untuk

jenis beban lainnya, perlu ditetapkan waktu tertentu untuk melakukan


pembebanan pada periode yang tetap (Hendriksen ,1982). Konsep
penandingan ini dianggap berhubungan dengan konsep akrual mengingat cara
untuk membebankan beban yang tidak memiliki hubungan sebab akibat
dengan pendapatan akan dibebankan pada periode di mana mereka
memberikan manfaat atau saat terjadinya.
Konsep ini diterima oleh AAOIFI terkait dengan konsep untuk
membebankan beban pada saat diterima manfaat. Peneliti akuntansi Islam
berbeda tentang konsep ini. Gambling & Karim (1991) dan Khan
(sebagaimana dalam Napier, 1994) menganggap konsep ini kurang penting
karena akan lebih baik melakukan penilaian laba dengan pendekatan aset
liability sehingga jika aset berpih naik berarti telah terjadi laba.
Sementara itu, Zaid (2004) menerima konsep ini, sesuai dengan hal
yang telah dilakukan pada zaman awal berdirinya negara Islam, seperti
perhitungan wakaf, mudharabah dan zakat mal, seperti: "Pendapatan yang
diperoleh dari wakaf setelah memperhitungkan objek-objek wakaf dan itu
adalah milik si pemegang keuntungan". Begitu pula biaya yang dikeluarkan
oleh seorang mitra mudharabah adalah sama halnya seorang konsumen dan
sisanya dibagi di antara mitra mudharabah (pemilik harta dan pekerja).
8. Dasar akrual
Konsep ini mengatakakan bahwa pengakuan pendapatan dilakukan saat suatu
manfaat itu diperoleh, bukan pada saat kas diterima. Hal yang sama terjadi
untuk beban yaitu beban diakui pada saat manfaat diterima dan bukan pada
saat kas dibayarkan. Metode ini berhubungan dengan konsep penandingan
beban dengan manfaat.
Konsep diterima oleh AAOIFI dengan mengacu atas pendapat dari
Khalifah Umar bin Khattab (Napier, 2007): "Nilailah barang daganganmu dan
bayarlah zakatnya (jika telah masuk nisab dan haulnya)". Hal ini memberi
implikasi bahwa zakat harus dibayar atas kekayaan yang meningkat dan
konsep ini paling baik untuk menilai kekayaan.

Mereka yang tidak menerima konsep ini mengatakan bahwa konsep


akrual tidak dapat dipakai sebagai cara menghitung zakat mengingat zakat
harus dibayar berdasarkan kekayaan yang telah diterima manfaatnya (menurut
Mazhab Maliki) dan juga bagi hasil atas mudharabah didasarkan atas
keuntungan kas yang diterima (menurut Mazhab Syaf i).
9. Pengungkapan penuh
Konsep ini mengharuskan pengungkapan informasi sesuai dengan kebutuhan
informasi dari mayoritas pembaca laporan keuangan. Seluruh stakeholders
perusahaan memiliki hak untuk menerima informasi perusahaan. Namun
demikian, tidak berarti bahwa seluruh informasi harus diungkapkan sehingga
bisa membingungkan. Hal yang perlu dilihat adalah kewajaran (fairness),
kemadaian (adequacy) serta keterbukaan (transparency) informasi serta
kepada siapa informasi tersebut harus disajikan.
Konsep ini diterima oleh para pemikir akuntansi Islam bahkan dari
sejak zaman awal Islam, karena Islam sangat mengutamakan prinsip keadilan
termasukkeadilan dalam memperoleh informasi, seperti mengenai pengelolaan
zakalyangsangat diperlukan oleh para muzaki dan mustahik.
AAOIFI tidak menjelaskan konsep ini pada pernyataan nomor 1 dan
nomor 2 tentang tujuan dan konsep akuntansi untuk lembaga syariah, namun
secara implisit menerima konsep ini melalui hal-hal yang harus diungkapkan
pada laporan keuangan lembaga syariah.
10. Substansi mengungguli bentuk
Konsep ini diadopsi oleh akuntansi bahwa hakikat dari suatu transaksi lebih
penting dari bentuk hukum transaksi itu sendiri. Penerapan substansi
mengungguli bentuk pada akuntansi konvensional adalah capital leasing.
Ketentuan syariah tidak mengenal konsep ini mengingat seluruh
transaksi didasarkan atas akad dan akad tersebut akan selalu sama antara bunyi
akad (dalam bentuk hukum) dengan substansi dari akad itu sendiri, karena

Islam melarang transaksi yang kurang jelas. AAOIFI sendiri tidak


menjelaskan tentang konsep ini.

Beberapa Pemikiran ke Depan


Berdasarkan dinamika pemikiran konsep-konsep di atas, ada sebagian pemikir
akuntansi Islam yang mengusulkan terobosan pemikiran yang agak berbeda, di
antaranya:
1. Neraca yang Menggunakan Nilai Saat i ni (current value balance sheef), untuk
mengatasi kelemahan dari historical cost yang kurang cocok dengan pola
perhitungan zakat yang mengharuskan perhitungan kekayaan dengan nilai
sekarang. Alasan lainnya, adalah dengan menggunakan nilai sekarang akan
mempermudah pengguna laporan keuangan untuk mengambil keputusan
karena nilai yang disajikan lebih relevan dibanding nllathistorical cost.
IFRS (International Financial Reporting Standard) juga telah
merekomendasikan nilai saat ini (current value) tntuk aset yang disajikan
dalam laporan keuangan, dan negara-negara di dunia sedang dalam proses
untuk mengadopsi IFRS sebagai standar pelaporan di negara masing-masing.
Walaupun penggunaan current value lebih relevan, tetapi pihak yang
kurang setuju atas penerapan tersebut menganggap penggunaan current value
lebih besar nuansa judgement khususnya untuk aset yang tidak memiliki pasar
sekaligus akan ada tambahan biaya bagi perusahaan dalam rangka melakukan
appraisal atas aset yang mereka miliki agar dapat disajikan dengan current
value.
2. Laporan Nilai Tambah (Value Added Statement) sebagai pengganti laporan
laba atau sebagai laporan tambahan atas neraca dan laporan laba rugi. Usulan
ini didasarkan atas pertimbangan bahwa unsur terpenting di dalam akuntansi
syariah bukanlah kinerja operasional (laba bersih), tetapi kinerja dari sisi
pandang para stakeholders dan nilai sosial yang dapat didistribusikan secara
adil kepada kelompok yang terlibat dengan perusahaan dalam menghasilkan
nilai tambah.

Nilai tambah sendiri didefinisikan oleh The British Discussion Paper


the Corporate Report (1975) sebagai:
Value added is the wealth the reporting entity has been able to create by
its own and its employees' efforts. This statement should show how value
added has been used to pay those contributing to its creation. lt usefully
elaborate on the profit and loss qcoount and in time, may come to
regarded as a preferable way of describing performance.
Konsep nilai tambah pada awalnya dikembangkan dalam akuntansi
sosial dan lingkungan (Mook, 2003), dan dianggap sebagai jawaban atas
kelemahan akuntansi keuangan konvensional sehingga diusulkan sebagai
laporan tambahan.
Selanjutnya Baydoun dan Willet (1994,2000) mengusulkan bentuk
laporan nilai tambah syariah setelah melakukan rekonstruksi melalui telaah
filosofis-teoritis akuntansi syariah.
Format Value Added Statementyang diusulkan oleh Baydoun dan
Wiilet (1994,2000) adalah:
Value Added Sttement
For the period endad..
Sorces:
Revenues
Bought in items
Revaluation
Sub Total Sources :
Distribution :
Bene ciaries
Government
Employees
Owners
Charities
Reinvested Fund
Prot Retained
Revaluation
Sub Total Distribution

xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx

Dalam perkembangan selanjutnya, syariah value Added statement


dianggap lebih sesuai dengan aktivitas ekonomi Islam yang adil dan beretika,

serta sejalan dengan tujuan akuntabiritas dari akuntansi syariah, khususnya


pendapatan dan beban yang harus ditanggung oleh public.
Pemikir akuntansi Islam juga melakukan perubahan atas format value
added statement dengan cara mengeluarkan zakat yang awalnya dianggap
bagian dari charity dan menyajikannya secara khusus setelah Gross Value
Added. Hal ini sesuai dengan makna zakat yang bukan hanya sekadar
sumbangan tetapi juga memiliki nilai pembersihan sertimerupakan hal yang
wajib bagi muslim, seperti yang diusulkan oleh Mulawarman et al (2006)
adalah sebagai berikut
Value Added Sttement
For the period endad..
Sorces:
Revenues
Bought in items
Revaluation
Sub Total Sources :
Zakat:
Zakat to 8 Asnaf
Net Value Added
Distribution
Government
Employees
Owners
Infak Shadaqah
Reinvested Fund
Prot Retained
Revaluation
Sub Total Distribution

xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx

Laporan nilai tambah ini masih dalam tataran konsep, mengingat


AAOIFI belum mewajibkan hal tersebut pada pernyataannya. Di samping itu,
hasil penelitian oleh Sulaiman (1999) menunjukkan bahwa tidak ada
perbedaan persepsi tentang kegunaan neraca dengan nilai sekarang serta
laporan nilai tambah di kalangan orang muslim dan nonmuslim termasuk
pengelola zakat, penelitian ini secara implisit menyimpulkan bahwa pembaca
laporan keuangan masih menganggap apa yang disajikan melalui bentuk
laporan keuangan saat ini masih sesuai dengan kebutuhan mereka.