Anda di halaman 1dari 22

makalah ambulasi dan mobilisasi

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masyarakat sering kali mendefinisikan kesehatan dan kebugaran fisik mereka
berdasarkan aktivitas mereka karena kesejahteraan mental dan efektivitas fungsi tubuh sangat
bergantung pada status mobilitas mereka. Misalnya, saat seseorang berdiri tegak, paru lebih
muda untuk mengembang, aktivitas usus (peristaltik) menjadi lebih efektif, dan ginjal mampu
mengosongkan kemih secara komplet. Selain itu, pergerakan sangat penting agar tulang dan
otot befungsi sebagaimana mestinya.
Mobilitas, kemampuan untuk bergerak dengan bebas, mudah , berirama, dan terarah
di lingkungan adalah bagian yang sangat penting dalam kehidupan. Individu harus bergerak
untuk melindungi diri dari trauma dan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Mobilitas
amat penting bagi kemandirian individu yang tidak mampu bergerak secara total sama rentan
dan bergantungnya dengan seorang bayi.
Kemampuan untuk bergerak juga mempengaruhi harga diri dan citra tubuh. Bagi
sebagian besar orang, harga diri bergantung pada rasa kemandirian atau perasaan berguna
atau merasa dibutuhkan. Orang yang mengalami gangguan mobilitas dapat merasa tidak
berdaya dan membebani orang lain. Citra tubuh dapat terganggu akibat paralisis, amputasi,
atau kerusakan motorik lain. Reaksi orang lain terhadap gangguan mobilitas dapat juga
mengubah atau mengganggu harga diri dan citra tubuh secara bermakna. Ambulais adalah
salah satu cara untuk mencegah terjadinya gangguan mobilitas karena dengan ambulasi dapat
memperbaiki sirkulasi, mencegah flebotrombosis (thrombosis vena profunda/DVT).
Mengurangi komplikasi immobilisasi pasca operasi, mempercepat pemulihan peristaltic usus,
mempercepat pasien pasca operasi. (kozier, 2010).

B. Rumusan Masalah
1. Apa konsep dasar ambulasi?
2. Apa saja tindakan-tindakan ambulasi?
3. Apa alat-alat yang digunakan dalam pelaksanaan ambulasi?
4. Apa faktor-faktor yang mempengaruhi ambulasi?
5. Apa konsep dasar mobilisasi dan imobilisasi?
6. Bagaimana etiologi imobilisasi?
7. Bagaimana patofisiologi imobilisasi?
8. Bagaimana tanda dan gejala imobilisasi?
9. Apa faktor-faktor yang mempengaruhi mobilisasi?
10. Bagaimana askep dan dokumentasi gangguan pemenuhan kebutuhan ambulasi dan
mobilisasi?
C. Tujuan Masalah
1. Untuk memahami konsep dasar ambulasi
2. Untuk memahami tindakan-tindakan ambulasi
3. Untuk memahami alat-alat yang digunakan dalam pelaksanaan ambulasi
4. Untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi ambulasi
5. Untuk memahami konsep dasar mobilisasi dan imobilisasi

6. Untuk memahami etiologi imobilisasi


7. Untuk memahami patofisiologi imobilisasi
8. Untuk memahami tanda dan gejala imobilisasi
9. Untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi mobilisasi
10. Untuk memahami askep dan dokumentasi gangguan pemenuhan kebutuhan
ambulasi dan mobilisasi

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Konsep Ambulasi dan Mobilisasi
1. Konsep Dasar Ambulasi
Definisi Ambulasi
Ambulasi dini adalah tahapan kegiatan yang dilakukan segera pada pasien pasca
operasi dimulai dari bangun dan duduk sampai pasien turun dari tempat tidur dan mulai
berjalan dengan bantuan alat sesuai dengan kondisi pasien (Asmadi, 2008).
Hal ini harusnya menjadi bagian dalam perencanaan latihan untuk semua pasien.
Ambulasi mendukung kekuatan, daya tahan dan fleksibelitas. Keuntungan dari latihan
berangsur-angsur dapat di tingkatkan seiring dengan pengkajian data pasien menunjukkan
tanda peningkatan toleransi aktivitas. Menurut Kozier 2005 ambulasi adalah aktivitas
berjalan.
Tujuan Ambulasi
Sedangkan Menurut Asmadi (2008) manfaat Ambulasi adalah:
1) Mencegah dampak Immobilisasi pasca operasi meliputi :
a) Sistem Integumen : kerusakan integritas kulit seperti Abrasi, sirkulasi yang
terlambat yang menyebabkan terjadinya Atropi akut dan perubahan turgor kulit.
b) Sistem Kardiovaskuler : Penurunan Kardiak reserve, peningkatan beban kerja
jantung, hipotensi ortostatic, phlebotrombosis.
c) Sistem Respirasi : Penurunan kapasitas vital, Penurunan ventilasi volunter
maksimal, penurunan ventilasi/perfusi setempat, mekanisme batuk yang menurun.
d) Sistem Pencernaan : Anoreksi-Konstipasi, Penurunan Metabolisme.
e) Sistem Perkemihan : Menyebabkan perubahan pada Eliminasi Urine, infeksi
saluran kemih, hiperkalsiuria
f) Sistem Muskulo Skeletal : Penurunan masa otot, osteoporosis, pemendekan serat
otot
g) Sistem Neurosensoris : Kerusakan jaringan, menimbulkan gangguan syaraf pada
bagian distal, nyeri yang hebat.
Manfaat ambulasi adalah untuk memperbaiki sirkulasi, mencegah flebotrombosis
(thrombosis vena profunda/DVT). Mengurangi komplikasi immobilisasi pasca operasi,
mempercepat pemulihan peristaltic usus, mempercepat pasien pasca operasi.
Ambulasi sangat penting dilakukan pada pasien pasca operasi karena jika pasien
membatasi pergerakannya di tempat tidur dan sama sekali tidak melakukan ambulasi pasien
akan semakin sulit untuk memulai berjalan (Kozier, 2010).

2. Tindakan-tindakan Ambulasi
a. Duduk diatas tempat tidur
1) Jelaskan pada pasien prosedur yang akan dilakukan
2) Tempatkan klien pada posisi terlentang
3) Pindahkan semua bantal
4) Posisi menghadap kepala tempat tidur
5) Regangkan kedua kaki perawat dengan kaki paling dekat ke kepala tempat tidur
di belakang kaki yang lain.
6) Tempatkan tangan yang lebih jauh dari klien di bawah bahu klien, sokong
kepalanya dan vetebra servikal.
7) Tempatkan tangan perawat yang lain pada permukaan tempat tidur.
8) Angkat klien ke posisi duduk dengan memindahkan berat badan perawat
dari depan kaki ke belakang kaki.
9) Dorong melawan tempat tidur dengan tangan di permukaan tempat tidur.
b. Duduk di tepi tempat tidur
1) Jelaskan pada pasien prosedur yang akan dilakukan
2) Tempatkan pasien pada posisi miring, menghadap perawat di sisi tempat tidur
tempat ia akan duduk.
3) Pasang pagar tempat tidur pada sisi 2. yang berlawanan.
4) Tinggikan kepala tempat tidur pada ketinggian yang dapat ditoleransi pasien.
5) Berdiri pada sisi panggul klien yang berlawanan.
6) Balikkan secara diagonal sehingga perawat berhadapan dengan pasien
dan menjauh dari sudut tempat tidur.
7) Regangkan kaki perawat dengan kaki palingdekat ke kepala tempat tidur di depan
kaki yang lain
8) Tempatkan lengan yang lebih dekat ke kepala tempat tidur di bawah bahu pasien,
sokong kepala dan lehernya
9) Tempat tangan perawat yang lain di atas paha pasien.
10) Pindahkan tungkai bawah klien dan kaki ke tepi tempat tidur.
11) Tempatkan poros ke arah belakang kaki, yang memungkinkan tungkai atas pasien
memutar ke bawah.
12) Pada saat bersamaan, pindahkan berat badan perawat ke belakang tungkai
danangkat pasien.
13) Tetap didepan pasien sampai mencapai keseimbangan.
14) Turunkan tinggi tempat tidur sampai kaki menyentuh lantai
c. Memindahkan Pasien dari Tempat Tidur ke Kursi
1) Bantu pasien ke posisi duduk di tepi tempat tidur. Buat posisi kursi pada sudut 45
derajat terhadap tempat tidur. Jika menggunakan kursi roda, yakinkan bahwa kusi roda dalam
posisi terkunci.
2) Pasang sabuk pemindahan bila perlu, sesuai kebijakan lembaga.
3) Yakinkan bahwa klien menggunakan sepatu yang stabil dan antislip.
4) Regangkan kedua kaki perawat.
5) Fleksikan panggul dan lutut perawat, sejajarkan lutut perawat dengan pasien
6) Pegang sabuk pemindahan dari bawah atau gapai melalui aksila pasien
dantempatkan tangan pada skapula pasien.
7) Angkat pasien sampai berdiri pada hitungan 3 sambil meluruskan panggul
dankaki, pertahankan lutut agak fleksi.
8) Pertahankan stabilitas kaki yang lemah atau sejajarkan dengan lutut perawat.
9) Berporos pada kaki yang lebih jauh dari kursi, pindahkan pasien secara langsung
ke depan kursi

10) Instruksikan pasien untuk menggunakan penyangga tangan pada kursi untuk
menyokong.
11) Fleksikan panggul perawat dan lutut saat menurunkan pasien ke kursi.
12) Kaji klien untuk kesejajaran yang tepat.
13) Stabilkan tungkai dengan selimut mandi
14) Ucapkan terima kasih atas upaya pasien dan puji pasien untuk kemajuan dan
penampilannya.
d. Membantu Berjalan
1) Anjurkan pasien untuk meletakkan tangan di samping badan atau memegang
telapak tangan perawat.
2) Berdiri di samping pasien dan pegang telapak dan lengan bahu pasien.
3) Bantu pasien berjalan
e. Memindahkan Pasien dari Tempat Tidur ke Brancard
Merupakan tindakan keperawatan dengan cara memindahkan pasien yang tidak dapat
atau tidak boleh berjalan sendiri dari tempat tidur ke branchard.
1) Atur posisi branchard dalam posisi terkunci
2) Bantu pasien dengan 2 3 perawat
3) Berdiri menghadap pasien
4) Silangkan tangan di depan dada
5) Tekuk lutut anda, kemudian masukkan tangan ke bawah tubuh pasien.
6) Perawat pertama meletakkan tangan di bawah leher/bahu dan bawah
pinggang,perawat kedua meletakkan tangan di bawah pinggang dan pinggul pasien,
sedangkan perawat ketiga meletakkan tangan di bawah pinggul dan kaki.
7) Angkat bersama-sama dan pindahkan ke branchard
f. Melatih Berjalan dengan menggunakan Alat Bantu Jalan
Kruk dan tongkat sering diperlukan untuk meningkatkan mobilitas pasien. Melatih
berjalan dengan menggunakan alat bantu jalan merupakan kewenangan team fioterapi.
Namun perawat tetap bertanggungjawab untuk menindaklanjuti dalam menjamin bahwa
perawatan yang tepat dan dokumentasi yang lengkap dilakukan.
3. Alat-alat yang digunakan dalam pelaksanaan ambulasi
a. Kruk adalah alat yang terbuat dari logam atau kayu dan digunakan permanen
untuk meningkatkan mobilisasi serta untuk menopang tubuh dalam keseimbangan pasien.
Misalnya: Conventional, Adjustable dan lofstrand
b. Canes (tongkat) yaitu alat yang terbuat dari kayu atau logam setinggi pinggang
yang digunakan pada pasien dengan lengan yang mampu dan sehat. Meliputi tongkat berkaki
panjang lurus (single stight-legged) dan tongkat berkaki segi empat (quad cane).
c. Walkers yaitu alat yang terbuat dari logam mempunyai empat penyangga yang
kokoh digunakan pada pasien yang mengalami kelemahan umum, lengan yang kuat dan
mampu menopang tubuh.
4. Faktor-faktor yang mempengaruhi Pelaksanaan Ambulasi
a. Kesehatan Umum
Penyakit, kelemahan, penurunan aktivitas, kurangnya latihan fisik dan lelah kronik
menimbulkan efek yang tidak nyaman pada fungsi musculoskeletal.
b. Tingkat Kesadaran
Pasien dengan kondisi disorienrtasi, bingung atau mengalami perubahan tingkat
kesadaran tidak mampu melakukan ambulasi dini pasca operasi.
c. Nutrisi
Pasien yang kurang nutrisi sering mengalami atropi otot, penurunan jaringan subkutan
yang serius, dan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit. Pasien juga akan mengalami
defisisensi protein, keseimbangan nitrogen dan tidak ada kuatnya asupan vitamin C.

d. Emosi
Perasaan nyaman, kebahagiaan, kepercayaan dan penghargaan pada diri sendiri akan
mempengaruhi pasien untuk melaksanakan prosedur ambulasi.
e. Tingkat Pendidikan
Pendidikan menyebabkan perubahan pada kemampuan intelektual, mengarahkan pada
ketrampilan yang lebih baik dalam mengevaluasi informasi. Pendidikan dapat meningkatkan
kemampuan seseorang untuk mengatur kesehatan mereka, untuk mematuhi saran-saran
kesehatan.
f. Pengetahuan
Hasil penelitian mengatakan bahwa perilaku yang di dasari oleh pengetahuan akan
bertahan lama dari pada yang tidak didasari oleh pengetahuan. (Kozier, 2010)
5. Konsep Dasar Mobilisasi
Definisi Mobilisasi
1) Mobilisasi adalah suatu kondisi dimana tubuh dapat melakukan keegiatan dengan
bebas (Kosier, 2010)
2) Mobilisasi adalah kemampuan seseorang untuk bergerak secara bebas, mudah dan
teratur yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehat. Mobilisasi diperlukan untuk
meninngkatkan kesehatan, memperlambat proses penyakit khususnya penyakit degeneratif
dan untuk aktualisasi. Mobilisasi menyebabkan perbaikan sirkulasi, membuat napas dalam
dan menstimulasi kembali fungsi gastrointestinal normal, dorong untuk menggerakkan kaki
dan tungkai bawah sesegera mungkin, biasanya dalam waktu 12 jam (Asmadi, 2008)
Definisi Imobilisasi
Gangguan mobilitas fisik (immobilisasi) didefinisikan oleh North American
Nursing Diagnosis Association (NANDA) sebagai suatu kedaaan dimana individu yang
mengalami atau beresiko mengalami keterbatsan gerakan fisik. Individu yang mengalami
atau beresiko mengalami keterbatasan gerakan fisik antara lain : lansia, individu
dengan penyakit yang mengalami penurunan kesadaran lebih dari 3 hari atau lebih, individu
yang kehilangan fungsi anatomic akibat perubahan fisiologik (kehilangan fungsi
motorik,klien dengan stroke, klien penggunaa kursi roda), penggunaan alat eksternal (seperti
gipsatau traksi), dan pembatasan gerakan volunteer (Potter, 2005).
Tujuan Mobilisasi
a. Memenuhi kebutuhan dasar manusia
b. Mencegah terjadinya trauma
c. Mempertahankan derajat kesehatan
d. Mempertahankan interaksi sosial dan peran sehari - hari
e. Mencegah hilangnya kemampuan fungsi tubuh
Batasan karakteristik
a. Penurunan waktu reaksi
b. Kesulitan membolak-balik posisi
c. Melakukan aktivitas lain sebagai pengganti pergerakan (mis., meningkatkan
perhatian pada aktivitas orang lain, mengendalikan perilaku, fokus pada
ketunadayaan/aktivitas sebelum sakit)
d. Dispnea setelah beraktifitas
e. Perubahan cara berjalan
f. Gerakan bergetar
g. Keterbatasan kemampuan melakukan keterampilan motorik halus
h. Keterbatasan kemampuan melakukan keterampilan motorik kasar
i. Keterbatasan rentang pergerakan sendi
j. Tremor akibat pergerakan
k. Ketidakstabilan postur

l. Pergerakan lambat
m. Pergerakan tidak terkoordinasi
(NANDA, 2012)
Jenis Mobilitas dan Imobilitas
a. Jenis Mobilitas
1) Mobilitas penuh, merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak secara penuh
dan bebas sehingga dapat melakukan interaksi sosial dan menjalankan peran sehari-hari.
Mobilitas penuh ini merupakan fungsi saraf motorik volunteer dan sensorik untuk dapat
mengontrol seluruh area tubuh seseorang
2) Mobilitas sebagian, merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak dengan
batasan jelas dan tidak mam.pu bergerak secara bebas karena dipengaruhi oleh gangguan
saraf motorik dan sesnsorik pada area tubuhnya. Hal ini dapat dijumpai pada kasus cedera
atau patah tulang dengan pemasangan traksi. Pada pasien paraplegi dapat mengalami
mobilitas sebagian pada ekstremitas bawah karena kehilangan kontrol motorik dan sensorik.
Mobilitas sebagian ini dibagi menjadi dua jenis, yaitu:
a) Mobilitas sebagian temporer, merupakan kemampuan individu untuk bergerak
dengan batasan yang sifatnya sementara. Hal tersebut dapat disebabkan oleh trauma
reversibel pada system musculoskeletal, contohnya adalah adanya dislokasi sendi dan tulang
b) Mobilitas permanen, merupakan kemampuan individu untuk bergerak dengan
batasan yang sifatnya menetap. Hal tersebut disebabkan oleh rusaknya system saraf yang
reversibel, contohnya terjadinya hemiplegia karena stroke, paraplegi karena cedera tulang
belakang, poliomilitis karena terganggunya system saraf motorik dan sensorik. (Potter, 2010)
b. Jenis Imobilitas
1) Imobilisasi fisik
Imobilisasi fisik merupakan pembatasan untuk bergerak secara fisik dengan tujuan
mencegah terjadinya gangguan komplikasi pergerakan
2) Imobilisasi intelektual
Imobilisasi intelektual merupakan keadaan ketika seseorang mengalami keterbatasan
daya pikir
3) Imobilitas emosional
Imobilitas emosional merupakan keadaan ketika seseorang mengalami pembatasan
secara emosional karena adanya perubahan secara tiba-tiba dalam menyesuaikan diri
4) Imobilitas sosial
Imobilitas sosial merupakan keadaan individu yang mengalami hambatan dalam
melakukan interaksi sosial karena keadaan penyakitnya, sehingga dapat mempengaruhi
perannya dalam kehidupan sosial. (Potter, 2010)
6. Etiologi Imobilisasi
Penyebab utama imobilisasi adalah adanya rasa nyeri, lemah, kekakuan
otot, ketidakseimbangan, dan masalah psikologis. Osteoartritis merupakan penyebab utama
kekakuan pada usia lanjut. Gangguan fungsi kognitif berat seperti pada demensia dan
gangguan fungsi mental seperti pada depresi juga menyebabkan imobilisasi. Kekhawatiran
keluarga yang berlebihan dapat menyebabkan orangusia lanjut terus menerus berbaring di
tempat tidur baik di rumah maupun dirumah sakit (Kozier, 2010).
Penyebab secara umum:
Kelainan postur
Gangguan perkembangan otot
Kerusakan system saraf pusat
Trauma lanngsung pada system mukuloskeletal dan neuromuscular
Kekakuan otot
7. Patofisiologi

Mobilisasi sangat dipengaruhi oleh sistem neuromuskular, meliputi sistem otot,


skeletal, sendi, ligament, tendon, kartilago, dan saraf. Otot Skeletal mengatur gerakan tulang
karena adanya kemampuan otot berkontraksi dan relaksasi yang bekerja sebagai sistem
pengungkit. Ada dua tipe kontraksi otot: isotonik dan isometrik. Pada kontraksi isotonik,
peningkatan tekanan otot menyebabkan otot memendek. Kontraksi isometrik menyebabkan
peningkatan tekanan otot atau kerja otot tetapi tidak ada pemendekan atau gerakan aktif dari
otot, misalnya, menganjurkan klien untuk latihan kuadrisep. Gerakan volunter adalah
kombinasi dari kontraksi isotonik dan isometrik. Meskipun kontraksi isometrik tidak
menyebabkan otot memendek, namun pemakaian energi meningkat. Perawat harus mengenal
adanya peningkatan energi (peningkatan kecepatan pernafasan, fluktuasi irama jantung,
tekanan darah) karena latihan isometrik.
Hal ini menjadi kontra indikasi pada klien yang sakit (infark miokard atau penyakit
obstruksi paru kronik). Postur dan Gerakan Otot merefleksikan kepribadian dan suasana hati
seseorang dan tergantung pada ukuran skeletal dan perkembangan otot skeletal. Koordinasi
dan pengaturan dari kelompok otot tergantung dari tonus otot dan aktifitas dari otot yang
berlawanan, sinergis, dan otot yang melawan gravitasi. Tonus otot adalah suatu keadaan
tegangan otot yang seimbang.
Ketegangan dapat dipertahankan dengan adanya kontraksi dan relaksasi yang
bergantian melalui kerja otot. Tonus otot mempertahankan posisi fungsional tubuh dan
mendukung kembalinya aliran darah ke jantung.
Immobilisasi menyebabkan aktifitas dan tonus otot menjadi berkurang. Skeletal
adalah rangka pendukung tubuh dan terdiri dari empat tipe tulang: panjang, pendek, pipih,
dan ireguler (tidak beraturan). Sistem skeletal berfungsi dalam pergerakan, melindungi organ
vital, membantu mengatur keseimbangan kalsium, berperan dalam pembentukan sel darah
merah. (Potter, 2010)
8. Tanda Dan Gejala
a. Dampak fisiologis dari imobilitas, antara lain:
EFEK
HASIL
Penurunan konsumsi oksigen

Intoleransi ortostatik
maksimum
Penurunan fungsi ventrikel kiri

Peningkatan denyut jantung,


Penurunan volume sekuncup
sinkop
Perlambatan fungsi usus

Penurunan kapasitas
Pengurangan miksi
kebugaran

Konstipasi
Gangguan tidur

Penurunan evakuasi kandung


kemih

Bermimpi pada siang hari,


halusinasi
b. Efek Imobilisasi pada Berbagai Sistem Organ
ORGAN /
PERUBAHAN YANG TERJADI AKIBAT
SISTEM
IMOBILISASI
Muskuloskeletal
Osteoporosis, penurunan massa tulang, hilangnya kekuatan
otot, penurunan area potong lintang otot, kontraktor, degenerasi
rawan sendi, ankilosis, peningkatan tekanan intraartikular,
berkurangnya volume sendi
Kardiopulmonal
Peningkatan denyut nadi istirahat, penurunan perfusi
dan pembuluh darah
miokard, intoleran terhadap ortostatik, penurunan ambilan oksigen

Integumen
Metabolik dan
endokrin

maksimal (VO2 max), deconditioning jantung, penurunan volume


plasma, perubahan uji fungsi paru, atelektasis paru, pneumonia,
peningkatan stasis vena, peningkatan agresi trombosit, dan
hiperkoagulasi
Peningkatan risiko ulkus dekubitus dan laserasi kulit
Keseimbangan nitrogen negatif, hiperkalsiuria, natriuresis
dan deplesi natrium, resistensi insulin (intoleransi glukosa),
hiperlipidemia, serta penurunan absorpsi dan metabolisme
vitamin/mineral

(Potter, 2010)
9. Faktor-faktor yang mempengaruhi mobilisasi
a. Gaya hidup
Gaya hidup sesorang sangat tergantung dari tingkat pendidikannya. Makin tinggi
tingkat pendidikan seseorang akan di ikuti oleh perilaku yang dapat meningkatkan
kesehatannya. Demikian halnya dengan pengetahuan kesehatan tetang mobilitas seseorang
akan senantiasa melakukan mobilisasi dengan cara yang sehat misalnya; seorang ABRI akan
berjalan dengan gaya berbeda dengan seorang pramugari atau seorang pemambuk.
b. Proses penyakit dan injuri
Adanya penyakit tertentu yang di derita seseorang akan mempengaruhi mobilitasnya
misalnya; seorang yang patah tulang akan kesulitan untukobilisasi secara bebas. Demikian
pula orang yang baru menjalani operasi. Karena adanya nyeri mereka cenderung untuk
bergerak lebih lamban. Ada kalanya klien harus istirahat di tempat tidurkarena mederita
penyakit tertentu misallya; CVA yang berakibat kelumpuhan, typoid dan penyakit
kardiovaskuler.
c. Kebudayaan
Kebudayaan dapat mempengarumi poa dan sikap dalam melakukan aktifitas misalnya;
seorang anak desa yang biasa jalan kaki setiap hari akan berebda mobilitasnya dengan anak
kota yang biasa pakai mobil dalam segala keperluannya. Wanita kraton akan berbeda
mobilitasnya dibandingkan dengan seorang wanita madura dan sebagainya.
d. Tingkat energi
Setiap orang mobilisasi jelas memerlukan tenaga atau energi, orang yang lagi sakit
akan berbeda mobilitasnya di bandingkan dengan orang sehat apalagi dengan seorang pelari.
e. Usia dan status perkembangan
Seorang anak akan berbeda tingkat kemampuan mobilitasny dibandingkan dengan
seorang remaja. Anak yang selalu sakit dalam masa pertumbuhannya akan berbeda pula
tingkat kelincahannya dibandingkan dengan anak yang sering sakit.
f. Faktor resiko
Berbagai faktor fisik, psikologis, dan lingkungan dapat menyebabkan imobilisasi pada
usia lanjut. (Kozier, 2010)
B. Manajemen Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
a. Aspek biologis
1) Usia
Faktor usia berpengaruh terhadap kemampuan melakukan aktifitas, terkait dengan
kekuatan muskuloskeletal. Hal yang perlu dikaji diantaranya adalah postur tubuh yang sesuai
dengan tahap pekembangan individu.
2) Riwayat keperawatan
Hal yang perlu dikaji diantaranya adalah riwayat adanya gangguan pada sistem
muskuloskeletal, ketergantungan terhadap orang lain dalam melakukan aktivitas, jenis latihan
atau olahraga yang sering dilakukan klien dan lain-lain

3) Pemeriksaan fisik, meliputi rentang gerak, kekuatan otot, sikap tubuh, dan
dampak imobilisasi terhadap sistem tubuh.
b. Aspek psikologis
Aspek psikologis yang perlu dikaji di antaranya adalah bagaimana respons psikologis
klien terhadap masalah gangguan aktivitas yang dialaminya, mekanisme koping yang
digunakan klien dalam menghadapi gangguan aktivitas dan lain-lain.
c. Aspek sosial kultural
Pengkajian pada aspek sosial kultural ini dilakukan untuk mengidentifikasi dampak
yang terjadi akibat gangguan aktifitas yang dialami klien terhadap kehidupan sosialnya,
misalnya bagaimana pengaruhnya terhadap pekerjaan, peran diri baik dirumah, kantor
maupun sosial dan lain-lain.
d. Aspek spiritual
Hal yang perlu dikaji pada aspek ini adalah bagaimana keyakinan dan nilai yang
dianut klien dengan kondisi kesehatan yang dialaminya sekarang, seperti apakah klien
menunjukan keputusasaannya? Bagaimana pelaksanaan ibadah klien dengan keterbatasan
kemampuan fisiknya? Dan lain-lain.
e. Kemunduran musculoskeletal
Indikator primer dari keparahan imobilitas pada system musculoskeletal adalah
penurunan tonus, kekuatan, ukuran, dan ketahanan otot; rentang gerak sendi; dan kekuatan
skeletal. Pengkajian fungsi secara periodik dapat digunakan untuk memantau perubahan dan
keefektifan intervensi.
f. Kemunduran kardiovaskuler
Tanda dan gejala kardivaskuler tidak memberikan bukti langsung atau meyaknkan
tentang perkembangan komplikasi imobilitas. Hanya sedikit petunjuk diagnostic yang dapat
diandalkan pada pembentukan trombosis. Tanda-tanda tromboflebitis meliputi eritema,
edema, nyeri tekan dan tanda homans positif. Intoleransi ortostatik dapat menunjukkan suatu
gerakan untuk berdiri tegak seperti gejala peningkatan denyut jantung, penurunan tekanan
darah, pucat, tremor tangan, berkeringat, kesulitandalam mengikuti perintah dan sinkop.
g. Kemunduran Respirasi
Indikasi kemunduran respirasi dibuktikan dari tanda dan gejala atelektasis dan
pneumonia. Tanda-tanda awal meliputi peningkatan temperature dan denyut jantung.
Perubahan-perubahan dalam pergerakan dada, perkusi, bunyi napas, dan gas arteri
mengindikasikan adanaya perluasan dan beratnya kondisi yang terjadi.
h. Perubahan-perubahan integument
Indikator cedera iskemia terhadap jaringan yang pertama adalah reaksi inflamasi.
Perubahan awal terlihat pada permukaan kulit sebagai daerah eritema yang tidak teratur dan
didefinisikan sangat buruk di atas tonjolan tulang yang tidak hilang dalam waktu 3 menit
setelah tekanan dihilangkan.
i. Perubahan-perubahan fungsi urinaria
Bukti dari perubahan-perubahan fungsi urinaria termasuk tanda-tanda fisik berupa
berkemih sedikit dan sering, distensi abdomen bagian bawah, dan batas kandung kemih yang
dapat diraba. Gejala-gejala kesulitan miksi termasuk pernyataan ketidakmampuan untuk
berkemih dan tekanan atau nyeri pada abdomen bagian bawah
j. Perubahan-perubahan Gastrointestinal
Sensasi subjektif dari konstipasi termasuk rasa tidak nyaman pada abdomen bagian
bawah, rasa penuh, tekanan. Pengosonganh rectum yang tidak sempurna, anoreksia, mual
gelisah, depresi mental, iritabilitas, kelemahan, dan sakit kepala.
k. Faktor Lingkungan
Lingkungan tempat tinggal klien memberikan bukti untuk intervensi. Di dalam rumah,
kamar mandi tanpa pegangan, karpet yang lepas, penerangan yang tidak adekuat, tangga yang

tinggi, lantai licin, dan tempat duduk toilet yang rendah dapat menurunkan mobilitas klien.
Hambatan-hambatan institusional terhadap mobilitas termasuk jalan koridor yang terhalang,
tempat tidudan posisi yang tinggi, dan cairan pada lantai. Identifikasi dan penghilangan
hambatan-hambatan yang potensial dapat meningkatakan mobilitas.
Pengkajian
Masalah
Sistem Muskuloskeletal
Mengukur lingkar lengan dan
Penurunan lingkar otot
tungkai
akibat penurunan massa otot
Mempalpasi dan mengamati
Kekauan atau nyeri sendi
sendi tubuh
Melakukan pengukuran
Penurunan rentang
goniometrik pada rentang pergerakan
pergerakan sendi, kontraktur sendi
sendi
Sistem Kardiovaskuler
Mengauskultasi jantung
Peningkatan frekuensi
Mengukur tekanan darah
jantung
Mempalpasi dan mengobservasi
Hipotensi ortostatik
sakrum, tungkai, dan kaki
Edema tergantung perifer,
peningkatan pembengkakan vena
Mempalpasi perifer
perifer
Mengukur lingkar otot betis
Kelemahan denyut nadi perifer
Mengamati otot betis apakah
Edema
ada kemerahan, nyeri tekan, dan
Tromboflebitis
pembengkakan
Sistem Pernafasan
Mengamati pergerakan dada
Mengauskultasi dada

Sistem Metabolisme
Mengukur tinggi dan berat
badan
Mempalpasi kulit
Sistem Perkemihan
Mengukur asupan dan haluaran

Pergerakan dada asimetris,


dispnea
Penurunan bunyi napas,
ronki basah, mengi, dan
peningkatan frekuensi pernapasan
Penurunan berat badan
akibat atrofi otot dan kehilangan
lemak subkutan
Edema umum akibat
penurunan kadar protein darah
Dehidrasi

cairan
Menginspeksi urine
Mempalpasi kandung kemih
Sistem Pencernaan
Mengamati feses
Mengauskultasi bising usus

Urine pekat, keruh; berat


jenis urine tinggi
Distensi kandung kemih
akibat retensi urine
Feses kering, kecil, keras
Penurunan bising usus

karena penurunan motilitas usus


Sistem Integumen
Menginspeksi kulit
Kerusakan integritas kulit
(Kozier, 2010)
Pemeriksaan Fisik
a. Mengkaji skelet tubuh
Adanya deformitas dan kesejajaran. Pertumbuhan tulang yang abnormal akibat tumor
tulang. Pemendekan ekstremitas, amputasi dan bagian tubuh yang tidak dalam kesejajaran
anatomis. Angulasi abnormal pada tulang panjang atau gerakan pada titik selain sendi
biasanya menandakan adanya patah tulang.
b. Mengkaji tulang belakang
Skoliosis (deviasi kurvatura lateral tulang belakang)
Kifosis (kenaikan kurvatura tulang belakang bagian dada)
Lordosis (membebek, kurvatura tulang belakang bagian pinggang berlebihan)
c. Mengkaji sistem persendian
Pemeriksaan fisik sendi terdiri dari inspekstang pergerakan aktif, dan jika pergerakan
aktif tidak memungkinkan, kaji rentang pergerakan pasif. Perawat harus mengkaji hal-hal
berikut:
Apakah ada pembengkakan atau kemerahan sendi, yang dapat menunjukan
keberadaan cedera atau inflamasi.
Apakah ada deformitas, seperti pembesaran atau kontraktur tulang, dan
simetrisitas tulang yang terkena.
Perkembangnan otot yang berhubungan dengan tiap sendi dan ukuran relatif serta
simetrisitas otot di setiap sisi tubuh.
Apakah ada nyeri tekan tekan yang dilaporkan atau yang dipalpasi.
Krepitasi (teraba atau terdengar sensasi krek atau gesekan yang dihasilkan oleh
pergerakan sendi).
Peningkatan suhu pada sendi. Palpasi sendi dengan menggunakan bagian
punggung jari dan bandingkan dengan suhu pada sendi simetrisnya.
Derajat pergerakan sendi. Minta klien menggerakkan bagian tubuh tertentu. Jika
diindikasikan, ukur besarnya pergerakan dengan menggunakan goniometer, sebuah peralatan
yang mengukur sudut sendi dalam ukuran derajat.
Pengkajian rentang gerak tidak boleh menyebabkan terlalu letih dan pergerakan sendi
perlu dilakukan secara halus, pelan dan berirama. Tidak ada sendi yang harus digerakkan
secara paksa. Pergerakan yang tidak sama dan tersentak-sentak dan pemaksaan dapat
menyebabkan cedera pada sendi dan otot serta ligamen yang ada di sekitarnya.
d. Mengkaji sistem otot
Kemampuan mengubah posisi, kekuatan otot dan koordinasi, dan ukuran masingmasing otot. Lingkar ekstremitas untuk memantau adanya edema atau atropfi, nyeri otot.
e. Mengkaji cara berjalan
Adanya gerakan yang tidak teratur dianggap tidak normal. Bila salah satu ekstremitas
lebih pendek dari yang lain. Berbagai kondisi neurologist yang berhubungan dengan cara
berjalan abnormal (mis.cara berjalan spastic hemiparesis - stroke, cara berjalan selangkahselangkah penyakit lower motor neuron, cara berjalan bergetar penyakit Parkinson).
f. Mengkaji kulit dan sirkulasi perifer
Palpasi kulit dapat menunjukkan adanya suhu yang lebih panas atau lebih dingin dari
lainnya dan adanya edema. Sirkulasi perifer dievaluasi dengan mengkaji denyut perifer,
warna, suhu dan waktu pengisian kapiler.
g. Mengkaji fungsional klien
(Kozier, 2010)

Kategori tingkat kemampuan aktivitas


TINGKAT
AKTIVITAS/ MOBILITAS

0
1
2
3

KATEGORI

Mampu merawat sendiri secara penuh


Memerlukan penggunaan alat
Memerlukan bantuan atau pengawasan orang lain
Memerlukan bantuan, pengawasan orang lain, dan
peralatan
Sangat tergantung dan tidak dapat melakukan atau
berpartisipasi dalam perawatan

Rentang gerak (range of motion-ROM)


GERAK SENDI

Bahu

Siku
Pergel
angan tangan

Tanga
n dan jari

DERAJAT
RENTANG NORMAL

Adduksi: gerakan lengan ke lateral


dari posisi samping ke atas kepala, telapak
tangan menghadap ke posisi yang paling
jauh.
Fleksi: angkat lengan bawah ke arah
depan dan ke arah atas menuju bahu.
Fleksi: tekuk jari-jari tangan ke arah
bagian dalam lengan bawah.
Ekstensi: luruskan pergelangan tangan
dari posisi fleksi
Hiperekstensi: tekuk jari-jari tangan
ke arah belakang sejauh mungkin
Abduksi: tekuk pergelangan tangan ke
sisi ibu jari ketika telapak tangan menghadap
ke atas.
Adduksi: tekuk pergelangan tangan ke
arah kelingking telapak tangan menghadap ke
atas.
Fleksi: buat kepalan tangan
Ekstensi: luruskan jari
Hiperekstensi: tekuk jari-jari tangan
ke belakang sejauh mungkin
Abduksi: kembangkan jari tangan
Adduksi: rapatkan jari-jari tangan dari
posisi abduksi

180

150
80-90
80-90
70-90
0-20
30-50
90
90
30
20
20

Derajat kekuatan otot


S
KALA

PERSENTASE
KEKUATAN NORMAL (%)

0
1

0
10

25

50

KARAKTERISTIK

Paralisis sempurna
Tidak ada gerakan, kontraksi otot
dapat di palpasi atau dilihat
Gerakan otot penuh melawan gravitasi
dengan topangan
Gerakan yang normal melawan

75

100

gravitasi
Gerakan penuh yang normal melawan
gravitasi dan melawan tahanan minimal
Kekuatan normal, gerakan penuh yang
normal melawan gravitasi dan tahanan penuh

KATZ INDEX
AKTIVIT

KEMANDIRIAN
(1 poin)
TIDAK ADA pemantauan,
perintah ataupun didampingi

MANDI

(1 poin)
Sanggup mandi sendiri tanpa
bantuan, atau hanya memerlukan
bantuan pada bagian tubuh tertentu
(punggung, genital, atau ekstermitas
lumpuh)
(1 poin)
Berpakaian lengkap mandiri.
Bisa jadi membutuhkan bantuan unutk
memakai sepatu
(1 poin)
Mampu ke kamar kecil (toilet),
mengganti pakaian, membersihkan
genital tanpa bantuan
(1 poin)
Masuk dan bangun dari tempat
tidur / kursi tanpa bantuan. Alat bantu
berpindah posisi bisa diterima
(1 poin)
Mampu mengontrol secara baik
perkemihan dan buang air besar
(1 poin)
Mampu memasukkan makanan
ke mulut tanpa bantuan. Persiapan
makan bisa jadi dilakukan oleh orang
lain.

AS

BERPAKA
IAN
TOILETIN
G
PINDAH
POSISI
KONTINE
NSIA
MAKAN

KETERGANTUNGAN
(0 poin)
Dengan pemantauan, perintah,
pendampingan personal atau perawatan
total
(0 poin)
Mandi dengan bantuan lebih
dari satu bagian tuguh, masuk dan keluar
kamar mandi. Dimandikan dengan
bantuan total
(0 poin)
Membutuhkan bantuan dalam
berpakaian, atau dipakaikan baju secara
keseluruhan
(0 poin)
Butuh bantuan menuju dan
keluar toilet, membersihkan sendiri atau
menggunakan telepon
(0 poin)
Butuh bantuan dalam berpindah
dari tempat tidur ke kursi, atau dibantu
total
(0 poin)
Sebagian atau total
inkontinensia bowel dan bladder
(0 poin)
Membutuhkan bantuan
sebagian atau total dalam makan, atau
memerlukan makanan parenteral

Total Poin :
6 = Tinggi (Mandiri); 4 = Sedang; <2 = Ganggaun fungsi berat; 0 = Rendah (Sangat tergantung)

Indeks ADL BARTHEL (BAI)


N
FUNGSI
S
KETERANGAN
KOR
1
Mengendalikan
0
Tak terkendali/ tak teratur (perlu
rangsang pembuangan
pencahar).
tinja
1
Kadang-kadang tak terkendali (1x
seminggu).
2
Terkendali teratur.
2
Mengendalikan
0
Tak terkendali atau pakai kateter
rangsang berkemih
1
Kadang-kadang tak terkendali
(hanya 1x/24 jam)

Membersihkan diri
(seka muka, sisir rambut,
sikat gigi)
4
Penggunaan
jamban, masuk dan keluar
(melepaskan, memakai
celana, membersihkan,
menyiram)
5
Makan
6

Berubah sikap dari


berbaring ke duduk

Berpindah/
berjalan

Memakai baju

Naik turun tangga

Mandi

2
0
1
0
1
2
0
1
2
0
1
2
3
0
1
2
3
0
1
2
0
1
2
0
1

Mandiri
Butuh pertolongan orang lain
Mandiri
Tergantung pertolongan orang lain
Perlu pertolongan pada beberapa
kegiatan tetapi dapat mengerjakan sendiri
beberapa kegiatan yang lain.
Mandiri
Tidak mampu
Perlu ditolong memotong makanan
Mandiri
Tidak mampu
Perlu banyak bantuan untuk bias
duduk
Bantuan minimal 1 orang.
Mandiri
Tidak mampu
Bisa (pindah) dengan kursi roda.
Berjalan dengan bantuan 1 orang.
Mandiri
Tergantung orang lain
Sebagian dibantu (mis: memakai
baju)
Mandiri.
Tidak mampu
Butuh pertolongan
Mandiri
Tergantung orang lain
Mandiri

Skor BAI :
20
: Mandiri
12 - 19 : Ketergantungan ringan
9 - 11 : Ketergantungan sedang
5 - 8 : Ketergantungan berat
0 - 4 : Ketergantungan total
Pemeriksaan Penunjang
1) Sinar X tulang menggambarkan kepadatan tulang, tekstur, dan perubahan
hubungan tulang.
2) CT scan (Computed Tomography) menunjukkan rincian bidang tertentu tulang
yang terkena dan dapat memperlihatkan tumor jaringan lunak atau cidera ligament atau
tendon. Digunakan untuk mengidentifikasi lokasi dan panjangnya patah tulang didaerah yang
sulit dievaluasi.
3) MRI (Magnetik Resonance Imaging) adalah tehnik pencitraan khusus,
noninvasive, yang menggunakan medan magnet, gelombang radio, dan computer untuk

memperlihatkan abnormalitas (mis: tumor atau penyempitan jalur jaringan lunak melalui
tulang. dll.
4) Pemeriksaan Laboratorium: Hb pada trauma, Ca pada imobilisasi lama, Alkali
Fospat , kreatinin dan SGOT pada kerusakan otot. (Potter, 2010)
2. Diagnosis Keperawatan
Adapun diagnosis keperawatan yang muncul pada gangguan pemenuhan kebutuhan
ambulasi dan mobilisasi yaitu:
a. Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan gangguan sensori persepsi
b. Nyeri akut yang berhubungan dengan cedera fisik
c. Kerusakan intergritas kulit yang berhubungan dengan imobilisasi fisik
d. Intoleran aktivitas yang berhubungan dengan kelemahan umum
e. Defisit perawatan diri yang berhubungan dengan ganggaun muskuloskeletal
f. Konstipasi yang berhubungan dengan: penurunan aktivitas, penurunan motilitas
kolon sekunder akibat peningkatan produksi adrenalin
g. Ketidakefektifan koping yang berhubungan dengan: Pribadi yang rentan dalam
krisis situasi, ketidakmampuan untuk melaksanakan fungsi peran yang biasa dilakukan,
ketergantungan pada orang lain, harga diri rendah (kronik, situasional)
h. Risiko disuse syndrome yang berhubungan dengan paralisis, imobilisasi mekanis,
anjuran imobilisasi, nyeri hebat, dan perubahan tingakt kesadaran
i. Defisiensi aktivitas pengalihan yang berhubungan dengan: Tirah baring dalam
waktu yang lama
j. Disrefleksia otonom yang berhubungan dengan: Cedera medulla spinalis T7 atau
diatasnya
k. Inkontenensia Urine:fungsional/total yang berhubungan dengan: gangguan
neurologis
l. Insomnia yang berhubungan dengan; kurang aktivitas fisik, nyeri dan
ketidaknyamanan, ketidakmampuan untuk mengubah posisi secara mandiri atau mengambil
posisi tidur yang biasa dilakukan
m. Retensi urine yang berhubungan dengan: Penurunan tonus otot kandung kemih,
ketidakmampuan untuk merelaksasi otot perineal, malu menggunakan pispot, kurang privasi,
posisi yang tidak alami untuk berkemih. (NANDA, 2012)
3. Intervensi Keperawatan
N
Diagnosa
Tujuan
Rencana Tindakan (NIC)
o.
Keperawatan (NANDA) Keperawatan (NOC)
1
Hambatan
Tujuan/Kriteria
Promosi Mekanika
Mobilitas Fisik yang
Evaluasi:
Tubuh: memfasilitasi penggunaan
berhubungan dengan
Memperlihatkan postur dan pergerakan dalam
gangguan sensori
aktivitas sehari-hari untuk mencegah
penggunaan alat bantu
persepsi
keletihan dan ketegangan atau cedera
secara benar dengan
muskuloskeletal.
pengawasan
Promosi Latihan Fisik:
Meminta
Latihan
Kekuatan:Memfasilitasi
bantuan untuk aktivitas
pelatihan otot resistif secara rutin
mobilisasi, jika diperlukan
untuk mempertahankan atau
Melakukan
meningkatkan kekuatan otot.
aktivitas kehidupan sehariTerapi latihan fisik:
hari secara mandiri dengan
Ambulasi:Meningkatkan dan
alat bantu.
membantu dalam berjalan untuk
Menyangga
mempertahankan atau
berat badan
mengembalikan fungsi tubuh

Berjalan dengan
menggunakan langkahlangkah yang benar sejauh
Berpindah dari
dan ke kursi atau kursi roda
Menggunkan
kursi roda secara efektif

Nyeri akut yang


berhubungan dengan
cedera fisik

Tujuan/Kriteria
evaluasi
Memperlihatkan
teknik relaksasi secara
individual yang efektif
untuk mencapai
kenyamanan
Mempertahankan
tingkat nyeri dengan skala
0-10
Melaporkan
kesejahteraan fisik dan
psikologis
Mengenali faktor

autonom dan volunter selama


pengobatan dan pemulihan dari
kondisi sakit atau cedera.
Terapi Latihan
Fisik:Keseimbangan:Menggunakan
aktivitas, postur dan gerakan tertentu
untuk mempertahankan,
meningkatkan atau memulihkan
keseimbangan.
Terapi Latihan Fisik:
Mobilitas Sendi:Menggunakan
gerakan tubuh aktif dan pasif untuk
mempertahankan atau
mengembalikan fleksibiltas sendi.
Terapi Latihan Fisik:
Pengendalian Otot:Menggunakan
aktivitas tertentu atau protokol
latihan yang sesuai untuk
meningkatkan atau mengembalikan
gerakan tubuh yang terkendali.
Pengaturan Posisi:Mengatur
posisi pasien atau bagian tubuh
pasien secara hati-hati untuk
meningkatkan kesejahteraan
fisiologis dan psikologis.
Pengaturan Posisi: Kursi
Roda: Mengatur posisi pasien
dengan benar di kursi roda pilihan
untuk mencapai rasa nyaman,
meningkatkan integritas kulit, dan
menumbuhkan kemandirian pasien.
Bantuan Perawatan
Diri:Berpindah:Membantu individu
untuk mengubah posisi
tubuhnya.
Pemberian
Analgesik:Menggunakan agensagens farmakologi untuk
mengurangi atau menghilangkan
nyeri
Manajemen
Medikasi:Memfasilitasi penggunaan
obat resep atau obat bebas secara
aman dan efektif
Manajemen
Nyeri: Meringankan atau
mengurangi nyeri sampai pada
tingkat kenyamanan yang dapat
diterima oleh pasien
Bantuan Analgesia yang

Kerusakan
intergritas kulit yang
berhubungan dengan
imobilisasi fisik

penyebab dan menggunakan


tindakan untuk
memodifikasi faktor tersebut
Melaporkan nyeri
kepada penyedia layanan
kesehatan
Menggunakan
tindakan meredakan nyeri
dengan analgesik dan
nonanalgesik secara tepat
Tidak mengalami
gangguan dalam frekuensi
pernafasan, frekuensi
jantung, atau tekanan darah
Mempertahankan
selera makan yang baik
Melaporkan pola
tidur yang baik
Melaporkan
kemampuan untuk
mempertahankan perfoma
peran dan hubungan
interpersonal
Tujuan/Kriteria
evaluasi
Pasien/keluarga
menunjukkan rutinitas
perawatan kulit atau
perawatan luka yang
optimal
Drainase purulen
atau bau luka minimal
Tidak ada lepuh
atau maserasi pada kulit
Nekrosis, selumur,
lubang, perluasan luka ke
jaringan di bawah kulit atau
pembentukan saluran sinus
berkurang atau tidak ada
Eritema kulit dan
eritema di sekitar luka
minimal

dikendalikan oleh pasien


PCA(Pateint-Controlled
Analgesia): Memudahkan
pengendalian pemberian dan
pengaturan analgesik oleh pasien
Manajemen
sedasi:Memberikan sedatif,
memantau respons pasien dan
memberikan dukungan fisiologis
yang dibutuhkan selama prosedur
diagnostik atau terapeutik.

Pemeliharaan akses
dialisis: memelihara area akses
pembuluh darah arteri
Kewaspadaan
Lateks:Menurunkan resiko reaksi
sistematik terhadap lateks
Pemberian
Obat:Mempersiapkan, memberikan
dan mengevaluasi keefektifan obat
resep dan obat nonresep
Perawatan Area
Insisi:Membersihkan, memantau
dan meningkatkan proses
penyembuhan pada luka yang
ditutup dengan jahitan, klip atau
staples
Manajemen Area
Penekanan:Meminimalkan
penekanan pada bagian tubuh
Perawatan Ulkus
Dekubitus: Memfasilitasi
penyembuhan ulkus dekubitus
Manajemen
Pruritus:Mencegah dan mengobati
gatal
Surveilans

Intoleran
Aktivitas yang
berhubungan dengan
kelemahan umum

Tujuan/kriteria
evaluasi
Mengidentifikasi
aktivitas atau situasi yang
menimbulkan kecemasan
yang dapat mengakibatkan
intoleran aktivitas
Berpartisipasi
dalam aktivitas fisik yang
dibutuhkan dengan
peningkatan normal denyut
jantung, frekuensi
pernafasandan tekanan
darah serta memantau pola
dengan batas normal
Mengungkapkan
secara verbal pemahaman
tentang kebutuhan oksigen,
obat dan atau peralatan yang
dapat meningkatkan
toleransi terhadap aktivitas
Menampilkan
aktivitas kehidupan seharihari (AKS) dengan beberapa
bantuan (misalnya eliminasi
dengan bantaun ambulasi
untuk ke kamar mandi)
Menampilkan
manajemen pemeliharaan
rumah dengan beberapa
bantuan (misalnya,
membutuhkan bantuan
untuk kebersihan setiap
minggu)

Kulit:Mengumpulkan dan
menganalisis data pasien untuk
mempertahankan integritas kulit dan
membaran mukosa
Perawatan Luka:Mencegah
komplikasi luka dan meningkatkan
penyembuhan luka.
Terapi Aktivitas:Memberi
anjuran tentang dan bantuan dalam
aktivitas fisik, kognitif, sosial, dan
spritual yang spesifik untuk
meningkatkan rentang, frekuensi,
atau durasi aktivitas individu atau
kelompok
Manajemen
Energi:Mengatur penggunaan energi
untuk mengatasi atau mencegah
kelelahan dan mengoptimalkan
fungsi
Manajemen
Lingkungan:Memanipulasi
lingkungan sekitar pasien utnuk
memperoleh manfaat terapeutik,
stimulasi sensorik, dan kesejahteraan
psikologis
Terapi Latihan Fisik:
Mobilitas Sendi:Menggunakan
gerakan tubuh aktif atau pasif untuk
mempertahankan atau memperbaiki
fleksibilitas sendi
Terapi Latihan Fisik:
Pengendalian Otot:Menggunakan
aktivitas atau protokol latihan yang
spesifik untuk meningkatkan atau
memulihkan gerakan tubuh yang
terkontrol
Promosi Latihan
Fisik:Latihan
Kekuatan:Memfasilitasi latihan otot
resistif secara rutin untuk
mempertahankan meningkatkan
kekuatan otot
Bantuan Pemeliharaan
Rumah: Membantu pasien dan
keluarga untuk menjaga rumah
sebagai tempat tinggal yang bersih,
aman dan menyenangkan
Manajemen Alam
Perasaan: Memberi rasa keamanan,
stabilitas, pemulihan dan

Defisit Perawatan
Diri yang berhubungan
dengan ganggaun
muskuloskeletal

Tujuan/kriteria
evaluasi
Menerima bantuan
atau perawatan total dari
pemberi asuhan, jika
diperlukan
Mengungkapkan
secara verbal kepuasan
tentang kebersihan tubuh
dan higiene oral
Mempertahankan
mobilitas yang diperlukan
untuk ke kamar mandi dan
menyediakan perlengkapan
mandi
Mampu
menghidupkan dan
mangatur pancaran dan suhu
air
Membersihkan dan
mengeringkan tubuh
Melakukan
perawatan mulut
Menggunakan
deodoran

pemeliharaan pasien yang


mengalami disfungsi alam perasaan
baik depresi maupun peningkatan
alam perasaan
Bantuan Perawatan
Diri:Membantu individu untuk
melakukan AKS
Bantuan Perawatan diri:
AKSI: Membantu dan mengarahkan
individu untuk melakukan aktivitas
kehidupan sehari-hari instrumental
(AKSI) yang diperlukan untuk
berfungsi di rumah atau di komunita.
Mandi: Membersihkan tubuh
yang berguna untuk relaksasi,
kebersihan dan penyembuhan
Pemeliharaan Kesehatan
Mulut: Pemeliharaan dan promosi
hgiene oral dan kesehatan gigi untuk
pasien yang berisiko mengalami lesi
mulut dan gigi
Perawatan
Ostomi:Pemeliharaan eliminasi
melalui stoma dan perawatan
jaringan sekitar
Bantuan Perawatan Diri,
Mandi/Hygine:Membantu pasien
untuk memenuhi hygine pribadi

4. Implementasi
a. Terapi
1) Penatalaksanaan Umum
a) Kerjasama tim medis interdisiplin dengan partisipasi pasien, keluarga, dan
pramuwerdha.
b) Edukasi pada pasien dan keluarga mengenai bahaya tirah baring lama, pentingnya
latihan bertahap dan ambulasi dini, serta mencegah ketergantungan pasien dengan melakukan
aktivitas kehidupan sehari-hari sendiri, semampu pasien.

c) Dilakukan pengkajian geriatri paripurna, perumusan target fungsional, dan


pembuatan rencana terapi yang mencakup pula perkiraan waktu yang diperlukan untuk
mencapai target terapi.
d) Temu dan kenali tatalaksana infeksi, malnutrisi, anemia, gangguan cairan dan
elektrolit yang mungkin terjadi pada kasus imobilisasi, serta penyakit/ kondisi penyetara
lainnya.
e) Evaluasi seluruh obat-obatan yang dikonsumsi; obat-obatan yang dapat
menyebabkan kelemahan atau kelelahan harus diturunkan dosisnya atau dihentkan bila
memungkinkan.
f) Berikan nutrisi yang adekuat, asupan cairan dan makanan yang mengandung
serat, serta suplementasi vitamin dan mineral.
g) Program latihan dan remobilisasi dimulai ketika kestabilan kondisi medis terjadi
meliputi latihan mobilitas di tempat tidur, latihan gerak sendi (pasif, aktif, dan aktif dengan
bantuan), latihan penguat otot-otot (isotonik, isometrik, isokinetik), latihan koordinasi/
keseimbangan, dan ambulasi terbatas.
h) Bila diperlukan, sediakan dan ajarkan cara penggunaan alat-alat bantu berdiri dan
ambulasi.
i) Manajemen miksi dan defekasi, termasuk penggunaan komod atau toilet.
2) Tata laksana Khusus
a) Tatalaksana faktor risiko imobilisasi
b) Tatalaksana komplikasi akibat imobilisasi.
c) Pada keadaan-keadaan khusus, konsultasikan kondisi medik kepada dokter
spesialis yang kompeten.
d) Lakukan remobilisasi segera dan bertahap pada pasienpasien yang mengalami
sakit atau dirawat di rumah sakit dan panti werdha untuk mobilitas yang adekuat bagi usia
lanjut yang mengalami disabilitas permanen.
3) Penatalaksanaan lain yaitu:
a) Pengaturan Posisi Tubuh sesuai Kebutuhan Pasien
Pengaturan posisi dalam mengatasi masalah kebutuhan mobilitas, digunakan untuk
meningkatkan kekuatan, ketahanan otot, dan fleksibilitas sendi. Posisi-posisi tersebut, yaitu:
1) Posisi fowler (setengah duduk)
2) Posisi litotomi
3) Posisi dorsal recumbent
4) Posisi supinasi (terlentang)
5) Posisi pronasi (tengkurap)
6) Posisi lateral (miring)
7) Posisi sim
8) Posisi trendelenbeg (kepala lebih rendah dari kaki)
b) Ambulasi dini
Cara ini adalah salah satu tindakan yang dapat meningkatkan kekuatan dan ketahanan
otot serta meningkatkan fungsi kardiovaskular.. Tindakan ini bisa dilakukan dengan cara
melatih posisi duduk di tempat tidur, turun dari tempat tidur, bergerak ke kursi roda, dan lainlain.
c) Melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri juga dilakukan untuk melatih
kekuatan, ketahanan, kemampuan sendi agar mudah bergerak, serta meningkatkan fungsi
kardiovaskular.
d) Latihan isotonik dan isometrik
Latihan ini juga dapat dilakukan untuk melatih kekuatan dan ketahanan otot dengan
cara mengangkat beban ringan, lalu beban yang berat. Latihan isotonik (dynamic exercise)

dapat dilakukan dengan rentang gerak (ROM) secara aktif, sedangkan latihan isometrik
(static exercise) dapat dilakukan dengan meningkatkan curah jantung dan denyut nadi.
e) Latihan ROM Pasif dan Aktif
Latihan ini baik ROM aktif maupun pasif merupakan tindakan pelatihan untuk
mengurangi kekakuan pada sendi dan kelemahan otot.
Latihan-latihan itu, yaitu :
1) Fleksi dan ekstensi pergelangan tangan
2) Fleksi dan ekstensi siku
3) Pronasi dan supinasi lengan bawah
4) Pronasi fleksi bahu
5) Abduksi dan adduksi
6) Rotasi bahu
7) Fleksi dan ekstensi jari-jari
8) Infersi dan efersi kaki
9) Fleksi dan ekstensi pergelangan kaki
10) Fleksi dan ekstensi lutut
11) Rotasi pangkal paha
12) Abduksi dan adduksi pangkal paha
f) Latihan Napas Dalam dan Batuk Efektif
Latihan ini dilakukan untuk meningkatkan fungsi respirasi sebagai dampak terjadinya
imobilitas.
g) Melakukan Postural Drainase
Postural drainase merupakan cara klasik untuk mengeluarkan sekret dari paru dengan
menggunakan gaya berat (gravitasi) dari sekret itu sendiri. Postural drainase dilakukan untuk
mencegah terkumpulnya sekret dalam saluran napas tetapi juga mempercepat pengeluaran
sekret sehingga tidak terjadi atelektasis, sehingga dapat meningkatkan fungsi respirasi. Pada
penderita dengan produksi sputum yang banyak, postural drainase lebih efektif bila diikuti
dengan perkusi dan vibrasi dada.
h) Melakukan komunikasi terapeutik
Cara ini dilakukan untuk memperbaiki gangguan psikologis yaitu dengan cara berbagi
perasaan dengan pasien, membantu pasien untuk mengekspresikan kecemasannya,
memberikan dukungan moril, dan lain-lain. (Potter, 2010)
5. Evaluasi
Tujuan yang diterapkan selama fase perencanaan dievaluasi sesuai dengan hasil
tertentu yang diharapkan, dan juga diterapkan pada fase tersebut. Saat hasil yang diharapkan
tidak terpenuhi, pertimbangkan pertanyaan berikut ini:
1) Beritahu saya mengapa Anda tidak mampu menigkatkan aktivitas yang telah kita
rencanakan.
2) Aktivitas apa yang menghambat Anda melakukan tugas tersebut saat ini.
3) Beritahu saya bagaimana perasaan Anda terkait ketidakmampuan berpakaian
sendiri dan membuat makanan sendiri.
4) Latihan apa yang Anda rasakan paling membantu
5) Tujuan apa yang Anda inginkan untuk disusun pada aktivitas Anda. (Potter, 2010)
6. Dokumentasi Keperawatan
Dokumentasi keperawatan merupakan tindakan mencatat setiap data yang didapat
oleh perawat dalam sebuah dokumen yang sisitematis. Proses mencatat tidak hanya menulis
data pada format yang tersedia. Dokumentasi keperawatan menitikberatkan pada proses dan
hasil pencatatan (Potter & Perry, 2006). Hal tersebut berarti bahwa mulai dari proses
mencatat sampai mempertahankan kualitas catatan harus diperhatikan, karena dokumen
keperawatan memegang perannan yang sangat penting.

Selama fase implementasi, perawat mendokumentasikan tindakan keperawatan


seperti: pemberian obat, perawatan luka, pengaturan posisi, infus IV, kateterisasi urine, dll.
(Iyer, 2004)
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Masyarakat sering kali mendefinisikan kesehatan dan kebugaran fisik mereka
berdasarkan aktivitas mereka karena kesejahteraan mental dan efektivitas fungsi tubuh sangat
bergantung pada status mobilitas mereka. Misalnya, saat seseorang berdiri tegak, paru lebih
muda untuk mengembang, aktivitas usus (peristaltik) menjadi lebih efektif, dan ginjal mampu
mengosongkan kemih secara komplet. Selain itu, pergerakan sangat penting agar tulang dan
otot befungsi sebagaimana mestinya.
Mobilitas, kemampuan untuk bergerak dengan bebas, mudah , berirama, dan terarah
di lingkungan adalah bagian yang sangat penting dalam kehidupan. Individu harus bergerak
untuk melindungi diri dari trauma dan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Mobilitas
amat penting bagi kemandirian individu yang tidak mampu bergerak secara total sama rentan
dan bergantungnya dengan seorang bayi.
Kemampuan untuk bergerak juga mempengaruhi harga diri dan citra tubuh. Bagi
sebagian besar orang, harga diri bergantung pada rasa kemandirian atau perasaan berguna
atau merasa dibutuhkan. Orang yang mengalami gangguan mobilitas dapat merasa tidak
berdaya dan membebani orang lain. Citra tubuh dapat terganggu akibat paralisis, amputasi,
atau kerusakan motorik lain. Reaksi orang lain terhadap gangguan mobilitas dapat juga
mengubah atau mengganggu harga diri dan citra tubuh secara bermakna. Ambulais adalah
salah satu cara untuk mencegah terjadinya gangguan mobilitas karena dengan ambulasi dapat
memperbaiki sirkulasi, mencegah flebotrombosis (thrombosis vena profunda/DVT).
Mengurangi komplikasi immobilisasi pasca operasi, mempercepat pemulihan peristaltic usus,
mempercepat pasien pasca operasi. (kozier, 2010).
B. Saran
Segala usaha telah kami lakukan. Namun dalam pembuatan makalah ini terdapat
kekurangan . Oleh karena itu, kami sangat memerlukan kritik dan saran saudara(i) demi
kesempurnaan kedepannya.
DAFTAR PUSTAKA
Potter & Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawaran. Edisi 4. Jakarta: EGC
Potter & Perry. 2006. Buku ajar fundal mental keperawatan konsep, proses dan
praktik. Edisi 4. Jakarta : EGC.
Potter & Perry. 2010. Fundamental keperawatan. Edisis 7. Jakarta: Elsevier
Kozier, dkk. 2010. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Edisi 7. Jakarta: EGC
Asmadi. 2008. Konsep dan aplikasi kebutuhan dasar klien. Jakarta : Salemba Medika.
Herdman, T.H. 2012. Diagnosis Keperawatan NANDA. Jakarta: EGC
Wilkinson, M. Judith, Ahern, R. Nanchy. 2011. Buku Saku
Diagnosis ------------------- -Keperawatan Diagnosis NANDA Intervensi NIC dan Kriteria
Hasil NOC. ---------Edisi 9. Jakarta: EGC
Iyer, P.W, Camp, N.H. 2004. Dokumentasi Keperawatan. Edisi 3. Jakarta: EGC

Anda mungkin juga menyukai