Anda di halaman 1dari 5

ADAB-ADAB MENGUCAPKAN SALAM

Oleh
Syaikh Abdul Hamid bin Abdirrahman as-Suhaibani

1. Apabila bertemu dengan seorang teman, maka cukupkanlah dengan berjabat tangan
disertai dengan ucapan salam (assalaamu alaikum warahmatullaahi wa barakaatuh)
tanpa berpelukan, kecuali ketika menyambut kedatangannya dari bepergian, karena
memeluknya pada saat tersebut sangat dianjurkan. Hal ini berdasarkan hadits Anas bin
Malik Radhiyallahu anhu, ia berkata
,








.














Apabila Sahabat-Sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam saling berjumpa,
maka mereka saling berjabat tangan, dan apabila mereka datang dari bepergian,
mereka saling berpelukan. [HR. Ath-Thabrani dalam al-Mujamul Ausath no. 97 dan
Imam al-Haitsami berkata dalam kitab Majmauz Zawaa-id VIII/36, Para perawinya
adalah para perawi tsiqah.]
2. Sangat dianjurkan untuk membaca salam secara sempurna, yaitu dengan
mengucapkan, Assalaamu alaikum warahmatullaahi wa barakaatuhu. Hal ini
berdasarkan hadits Imran bin Hushain Radhiyallahu anhu, ia berkata:







Seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan mengucapkan,
Assalaamualaikum. Maka dijawab oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam kemudian ia
duduk, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Sepuluh. Kemudian datang pula
orang lain (yang kedua) memberi salam, Assalaamu alaikum warahmatullaah. Setelah
dijawab oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam ia pun duduk, Nabi Shallallahu alaihi wa
sallam bersabda, Dua puluh. Kemudian datang orang yang lain lagi (ketiga) dan
mengucapkan salam: Assalaamu alaikum warahmatullaahi wa barakaatuh. Maka,
dijawab oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam kemudian ia pun duduk dan Nabi
Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Tiga puluh. [HR. Al-Bukhari dalam al-Adabul
Mufrad no. 986, Abu Dawud no. 5195 dan at-Tirmidzi no. 2689 dan beliau
menghasankannya]
3. Tidak disyariatkan mengucapkan salam dengan lafazh:

Semoga keselamatan tercurah hanya kepada orang yang mengikuti petunjuk.


Apabila yang diberi salam seorang muslim, karena lafazh salam di atas khusus
diperuntukkan selain muslimin sebagaimana dalam surat Nabi Shallallahu alaihi wa
sallam kepada Raja Hiraclius:









...










Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dari
Muhammad hamba Allah dan utusannya, kepada Hiraclius penguasa bangsa Romawi,
keselamatan bagi orang-orang yang mau mengikuti petunjuk.
Sedangkan hikmah di balik memberikan salam kepada orang-orang selain Islam dengan
lafazh tersebut, kemungkinan (hanya Allah Yang Mahatahu) adalah untuk meluluhkan
hati mereka, memberikan rasa aman kepada mereka dengan pengajuan syarat-syarat,
yaitu mengikuti petunjuk Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Dan yang demikian itu
apabila diucapkan kepada seorang muslim itu berarti telah mencabut haknya sebagai
seorang mukmin, karena dia seorang muslim, maka dia adalah orang yang sudah
mendapatkan petunjuk, maka tidak diperbolehkan untuk menggunakan lafazh tersebut
yang ditujukan kepada saudara sesama muslim.
4. Dilarang mengucapkan salam dengan lafazh:
.



Semoga keselamatan senantiasa tercurah atasmu.
Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Tamimah al-Hujaimi dari seorang laki-laki yang
berasal dari kaumnya. Dalam riwayat yang lain dikatakan laki-laki itu bernama Abu Jura
al-Hujaimi, dia berkata:






















.

Aku mencari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, namun aku tidak mendapatinya,
kemudian aku duduk, tiba-tiba datang sekelompok orang dan beliau ada di an-ara
mereka sedang aku tidak mengenalnya, saat itu beliau sedang mendamaikan beberapa
dari mereka (yang berselisih). Kemudian setelah selesai ada sebagian dari mereka yang
berdiri bersama dengan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam kemudian berkata,

Wahai Rasulullah, tatkala aku melihat hal tersebut, maka aku katakan: Alaikas salaam
ya Rasulullah, alaikas salaam ya Rasulullah, alaikas salaam ya Rasulullah (semoga
keselamatan senantiasa tercurah atasmu, wahai Rasulullah, 3x). Kemudian Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Janganlah engkau berkata seperti itu.
Sesungguhnya alaikas salaam itu adalah salam kepada orang mati, sesungguhnya
alaikas salaam itu adalah salam kepada orang mati, sesungguhnya alaikas salaam itu
adalah salam kepada orang mati. Kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam
mendekatiku seraya berkata: Apabila seseorang bertemu dengan saudaranya sesama
muslim, hendaklah ia mengucapkan Assalaamu alaikum warahmatullaah. Kemudian
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan jawabannya kepadaku, seraya
bersabda: Wa alaika warahmatullaahi (dan semoga rahmat Allah juga ter-limpah
atasmu, 3x). [HR. Abu Dawud no. 4084, at-Tirmidzi no. 2721, Ahmad V/63-64, dan
yang lainnya. Lafazh hadits ini berdasarkan riwayat at-Tirmidzi]
5. Dibolehkan berdiri untuk memberikan salam sebagai ucapan selamat atau
belasungkawa atau berdiri untuk menolong orang yang sudah jompo (lemah) atau
berdirinya seorang anak untuk (menghormati) orang tuanya atau seorang isteri kepada
suaminya atau sebaliknya, sebagaimana juga berdirinya untuk menyambut orang yang
baru datang dari bepergian (safar), juga berdiri seseorang dari majelisnya untuk
menyambut orang yang datang pada majelis tersebut. Hal ini berdasarkan dalil-dalil
yang berkaitan dengan hal-hal tersebut yang tidak memungkinkan untuk dijabarkan di
sini. Dan begitu juga tidak boleh seseorang atau lebih berdiri dalam rangka memberi
hormat kepada seseorang yang sedang duduk, sebagaimana kebiasaan para raja atau
penguasa bengis lainnya. Namun dikecualikan dalam hal ini apabila berdiri untuk tujuan
yang bermanfaat, sebagaimana berdirinya Maqil bin Yasar untuk mengangkat ranting
dari bongkahan kayu yang ada di atas kepala Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam
ketika peristiwa Baiah. [HR. Muslim]
Sedangkan sengaja bangkit berdiri ketika melihat seseorang, seperti ketika orang-orang
berada di suatu majelis kemudian datang seseorang lalu mereka berdiri dan memberi
salam padanya, pendapat yang kuat dalam hal ini adalah haram hukumnya. Hal ini
berdasarkan apa yang diriwayatkan dari Muawiyah bahwa dia pernah masuk ke suatu
rumah yang di dalamnya terdapat Ibnu Amir dan Ibnuz Zubair. Kemudian Ibnu Amir
berdiri sedangkan Ibnuz Zubair tetap duduk. Lalu Muawiyah berkata: Duduklah,
sungguh aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:










.



Barangsiapa yang senang jika para hamba Allah berdiri (memberi hormat) kepadanya,
maka silakan menempati tempat duduknya di dalam Neraka. [HR. Abu Dawud no.
5229, at-Tirmidzi no. 2915, Ahmad IV/93, 100. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah
no. 357]
6. Tidak dibenarkan mencukupkan salam hanya dengan isyarat (lambaian tangan)

semata tanpa menyertainya dengan lafazh as-salaamu alaikum, hal ini berdasarkan
hadits dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam
bersabda,





.






Janganlah kalian memberikan salam sebagaimana salamnya orang-orang Yahudi,
karena sesungguhnya cara Yahudi memberi salam adalah dengan (anggukan) kepala
dan lambaian tangan atau dengan isyarat (tertentu).[HR. At-Tirmidzi no. 2695, dengan
sanad hasan. Lihat Silsilah al-Ahaadits ash-Shahiihah no. 2194]
Larangan tersebut dikhususkan bagi orang yang masih sanggup untuk mengucapkan
lafazh salam dengan lisannya baik secara hissi maupun syari. Namun dibolehkan bagi
mereka yang mempunyai kesibukan, sehingga mereka susah atau tercegah untuk
menjawab salam, misalnya orang yang sedang shalat, atau orang yang terlihat jauh,
atau orang bisu dan begitu pula bentuk salam bagi orang yang tuli.
7. Berusaha sungguh-sungguh untuk menyebarkan salam, dan tidak kikir di dalam
melakukannya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam:







.

Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu perbuatan apabila kalian lakukan
niscaya akan membuat kalian saling mencintai satu sama lain? Sebarkanlah salam di
antara kalian (ketika saling bertemu). [HR. Muslim no. 54, Abu Dawud no. 5193, Ibnu
Majah no. 3692 dan Ahmad II/391, 442]
Di dalam hadits di atas, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk
menyebarkan salam agar kebaikan dapat tersebar, hati menjadi saling terpaut dan
barisan menjadi bersatu.
8. Tidak selayaknya untuk meninggalkan adab-adab dan ucapan salam kepada anak
kecil, sebagaimana diriwayatkan dari Anas, bahwa beliau melewati beberapa anak-anak
kecil lalu beliau memberi salam kepada mereka dan berkata: Rasulullah Shallallahu
alaihi wa sallam melakukan hal tersebut. [HR. Al-Bukhari no. 6247, Muslim no. 2168,
Abu Dawud no. 5202 dan at-Tirmidzi no. 2696]
Ini merupakan bagian akhlaq beliau Shallallahu alaihi wa sallam yang agung dan
adabnya yang mulia, dan ini merupakan pendidikan bagi anak-anak untuk mempelajari
sunnah-sunnah dan melatih mereka agar dapat menerapkan adab-adab yang mulia
sehingga nantinya tumbuh dewasa sebagai orang yang mempunyai adab yang mulia
tersebut.
9. Tidak selayaknya meninggalkan ucapan salam ketika selesai dari suatu majelis. Hal

ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam:






.

Apabila salah seorang di antara kalian sampai pada suatu majelis maka hendaklah ia
mengucapkan salam, jika setelah itu hendak duduk maka silakan duduk, lalu apabila ia
hendak berdiri meninggalkan majelis sedangkan orang lain masih duduk hendaklah
mengucapkan salam, karena saat kedatangan tidak lebih berhak untuk diucapkan
salam di dalamnya dari saat kepergian. [HR. Ahmad dan lainnya, shahih][1]
Tidak selayaknya memulai memberikan salam kepada orang kafir. Hal ini berdasarkan
sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam,



.











Janganlah kalian memulai memberikan salam kepada orang Yahudi dan Nasrani,
apabila kalian bertemu dengan salah seorang dari mereka di jalan maka paksalah
mereka hingga mereka berada di jalan yang sempit. [HR. Muslim no. 2167, at-Tirmidzi
no. 2701 dan Abu Dawud no. 5205]
[Disalin dari kitab Aadaab Islaamiyyah, Penulis Abdul Hamid bin Abdirrahman asSuhaibani, Judul dalam Bahasa Indonesia Adab Harian Muslim Teladan, Penerjemah
Zaki Rahmawan, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir Bogor, Cetakan Kedua Shafar 1427H Maret 2006M]
_______
Footnote
[1]. Lafazh yang lainnya adalah:

Apabila salah seorang di antara kalian sampai pada suatu majelis, hendaklah ia
mengucapkan salam. Lalu apabila ia hendak berdiri meninggalkan majelis, maka
hendaklah mengucapkan salam, karena saat kedatangan tidak lebih berhak untuk
diucapkan salam di dalamnya dari saat kepergian. [HR. Al-Bukhari dalam al-Adabul
Mufrad no. 986, Abu Dawud no. 5208, at-Tirmidzi no. 2707, dishahihkan oleh Ibnu
Hibban no. 1931]