Anda di halaman 1dari 29

Atiqa Rahmawati

2313105024
Atiqa Rahmawati
2313 105 024
Pengertian Lumpur Aktif
Lumpur aktif adalah proses biologis yang digunakan untuk menghilangkan senyawa
organik dari air limbah. Seperti trickling filter, proses lumpur aktif yang digunakan untuk
menumbuhkan biomassa organisme aerobik yang akan dikeluarkan sebagai limbah dan
mengubahnya padatan tersuspensi. Hal ini dilakukan dalam tangki aerasi besar. Proses
lumpur aktif mengendap di cekungan aerasi untuk mempertahankan jumlah mikroorganisme
yang memakan substrat yang masuk. "Free Range" merupakan organisme dalam aliran akhir
memiliki efisiensi removal yang tinggi dalam proses lumpur aktif (95-98%) dibandingkan
dengan trickling filter (80-85%).
Istilah Pada Activated Sludge
MLSS/MLVSS (Mixed-Liquor Suspended Solids)/(Mixed-Liquor Volatile Suspended
Solids)
Organisme yang bekerja untuk menghilangkan BOD make up yang
mempunyai kandungan solid besar yang terkandung dalam proses, dan MLSS
dan MLVSS merupakan bagian aktif dari activated sludge. MLSS adalah
Jumlah total dari padatan tersuspensi yang berupa material organic dan
mineral termasuk mikroorganisme, dan solid berada dibawah bak aerasi.
Sedangkan MLVSS berisi material organic yang bukan mikroba hidup dan
hancuran sel yang berada di atas permukaan bawah bak aerasi.
RAS/WS
Merupakan campuran pada clarifiers kedua yang memiliki Konsentrasi
padatan biasanya akan antara 0,5-0,8 persen atau sekitar 5,000-8,000 mg / L.
Sebagian besar akan kembali ke cekungan aerasi untuk menjaga padatan
dalam tangki untuk menangani BOD yang masuk. Proses tersebut lebih
dikenal sebagai Lumpur Aktif Kembali atau RAS. Sedangkan
Sebagian kecil dari lumpur akan hilang dan terbentuk endapan. Hal ini disebut
sebagai Limbah Lumpur Aktif atau WS
Waktu Detention
Waktu yang diperlukan untuk MLSS berada dibagian bawah bak aerasi. Aliran
RAS dapat digunakan untuk memanipulasi waktu penahanan dalam tangki
aerasi. Untuk meningkatkan RAS dapat dilakukan pada malam hari karena
dapat membantu menjaga waktu penahanan yang tepat sebagai influen yang
dapat menurunkan aliran.
F:M Ratio
Salah satu parameter proses yang digunakan untuk mengontrol padatan
lumpur aktif dan persediaan makanan dikenal sebagai rasio Makanan-toMikroorganisme atau F:M rasio. Ini merupakan dasar yang ditetapkan untuk
menentukan berapa banyak makanan yang dikonsumsi organisme setiap hari.

Atiqa Rahmawati
2313105024
Satu pound mikroorganisme akan makan antara 0,15 - 0,6 kg makanan per hari
tergantung pada proses.
MCRT (Sludge Age)
Parameter kontrol lain adalah lamanya waktu mikroorganisme hidup dalam
proses. Jika limbah 5% dari padatan dalam sistem setiap hari, maka MLSS
hanya akan tetap berada dalam sistem rata-rata sekitar 20 hari (100% / 5% per
hari = 20 hari).
SVI (Sludge Volume Index)
pengukuran seberapa baik lumpur aktif mengendap di clarifier. Pengendapan
lumpur sebagian besar tergantung pada kondisi organisme. Lumpur akan
memiliki SVI antara 80 dan 120. Sebagai lumpur menjadi lebih ringan dan
volume meningkatkan SVI juga akan meningkat. SVI dapat digunakan untuk
menghitung jumlah galon yang harus dipindahkan untuk menghilangkan satu
pound padatan.
Proses Activated Sludge
Pada dasarnya ada tiga jenis proses lumpur aktif. Salah satu parameter kontrol adalah
berbagai oksigen terlarut dari 2,0-4,0 mg / L. Persyaratan DO minimum adalah 1-2 mg / L.
Kadar oksigen terlarut dikontrol oleh peralatan aerasi menggunakan blower dan diffusers
atau aerator mekanis.

Tiga tipe tersebut :


Conventional Activated Sludge Process
Lumpur aktif convensional memiliki waktu penahanan dalam bak aerasi
selama 4-6 jam. Sebagian besar BOD dari limbah primer akan dipisahkan atau
sebagian partikel tersuspensi. Konsentrasi MLSS biasanya dijalankan dari 20003500 mg / L. sedangkan F: M rasio harus antara 0,2-0,5. MCRT atau umur
lumpur bervariasi dari 5-15 hari.

Con
tact

Stabilization Process
Contact stabilization menggunakan 2 proses aerasi yang terpisah. Pertama
effluent masuk ke contact chamber dimana mikroba mulai menghancurkan BOD
dan meningkatkan kemampuan untuk mengendap secara keseluruhan. Tapi

Atiqa Rahmawati
2313105024
sebelum masuk ke contact basin, RAS (Return Activated Sludge) akan dilewatkan
ke stabilization basin. Disini, RAS akan diaerasi sampai organik dimakan atau
distabilkan oleh mikroba.
Detention time dalam Contact basin ini adalah dari 0.5-2 jam. Detention
time dalam stabilization basin ini adalah dari 4-8 jam. Konsentrasi MLSS
biasanya ada pada 1200-2000 mg/L di contact chamber dan akan menjadi 40006000 mg/L di stabilization basin. F:M ratio sebesar 0.6 0.75.

Extentended Aeration Process


Detention time dalam Contact basin ini adalah dari 16 - 24 jam. Konsentrasi
MLSS biasanya ada pada 3000-5000 mg/L. Sedangkan F:M ratio sebesar 0.15
0.25.

Oxidation Ditches
Oxidation Ditch adalah salah satu bentuk dari extended aeration process. Wastewater
masuk ke ditch dan disirkulasikan mengelilingi lintasan yaitu brush/rotor horizontal besar.
Sebagian dari rotor tenggelam di ditch, selama rotornya berputar, campuran liquid terdorong

Atiqa Rahmawati
2313105024
mengelilingi lintasan. Rotor juga memberikan aerasi yang dibutuhkan untuk menjaga DO
pada 2 mg/L. BOD pada oxidation ditch dapat bervariasi antara 10-50 lbs/1000 cuft/day.
Effluent dari Oxidation ditch yang melewati secondary clarifier dan RAS dikembalikan
menuju ditch. Level dari DO dan kecepatan dapat di atur dengan mengubah kecepatan dari
rotor dan kedalaman operasi. Kecepatan yang tepat dari oxidation ditch sekitar 1 fps.

Sequenced Batch Reactor (SBR)


Sequenced Batch Reactor
merupakan proses yang digunakan
untuk plant kecil dan bukan proses
yang kontinyu. Yaitu dengan cara,
Reactor diisi kemudian di aerasi
untuk periode waktu tertentu,
biasanya 1-3 jam. Setelah aerasi
selesai,
kemudian
diendapkan
didalam
reaktor
dan
effluent
dikeluarkan dari unit bagian atas.
Ketika pemisahan selesai, reaktor
diisi kembali dan proses terulang
kembali.

Biological Growth Rate


Laju Respirasi atau level metabolisme dari biomass akan menentukan seberapa
banyak mikroba makan tiap hari dan seberapa cepat biomass tersebut tumbuh. Mikroba
bekerja pada efisiensi maksimum saat level metabolisme endogenous respiration.
Endogenous Respiration ditentukan dengan pengukuran jumlah DO yang hilang dari sebuah
sampel mixed liquor selama 15 menit (Oxygen Uptake Rate). Umumnya endogenous
respiration terjadi pada OUR 15 30 mg/L per jam. Kemampuan mikroba untuk

Atiqa Rahmawati
2313105024
mengkonsumsi makanan akan turun drastis dari waktu ke waktu jika terdapat pada basins
aeration. Sedangkan pertumbuhan biomassa tergantung pada F : M rasio dan suhu.
Influent Flow Pattern
Pola aliran plug menempatkan beban organik yang tinggi dalam tahap pertama proses
dan terjadi penurunan BOD secara berturut-turut. Karena jumlah udara yang dibutuhkan
secara langsung berhubungan dengan BOD, ini berarti bahwa lebih banyak oksigen yang
dibutuhkan pada tahap pertama dibandingkan yang kedua. Masalah yang mungkin terjadi
adalah mempertahankan tingkat DO.

Complete mix biasanya terjadi pada extended aeration plants. Influent masuk ke center of
a single stage aeration basin dan keluar melalui edge.

Process Control
Terdapat 3 faktor utama yang mempengaruhi efisiensi proses dari activated sludge yaitu
Oxygen Level, RAS flow, dan WAS flow. Ketika Aerator bertipe diffuser digunakan. DO
level ditentukan oleh jumlah airflow ke tiap basin. Jika DO terlalu tinggi, airflow dapat
ditutup melalui valve yang ada pada air header pipes. Keseimbangan airflow di tiap basin
diperlukan untuk menjaga efisiensi operasi.
RAS merupakan faktor utama karena mikroorganisme harus dikembalikan ke aeration
tank sebelum mereka kehabisan DO. Untuk mengimbangi hal tersebut RAS flow perlu
dinaikkan untuk mengurangi detention time nya. Yang nantinya kenaikan dari RAS flow juga
akan berdampak pada pengurangan kedalaman sludge dalam clarifier.
Pengontrolan WAS flow juga diperlukan untuk menjaga F:M Ratio yang diinginkan.
Biasanya, laju WAS flow berkisar 1 2 % dari influent flow. Excess harus dihilangkan untuk
menjaga level MLSS tetap konstan. Ketika MLSS naik maka MCRT juga ikut naik, sehingga
untuk menjaga nya diharuskan untuk menaikkan WAS flow menghilangkan solid berlebih
dari sistem.
Activated Sludge Microorganisms

Atiqa Rahmawati
2313105024
Hampir semua pengurangan BOD dalam lumpur aktif adalah hasil dari aktivitas
bakteri aerobic.
Macam- macam mikroorganisme pada aktif sludge:
1. Amoeboids
Amuba adalah organisme bersel tunggal yang pertama berkembang di lumpur.
mikrorganisme ditemukan dalam lumpur dan tidak berpengaruh pada kondisi
lumpur.
2. Flagelata
Flagelata adalah organisme yang memiliki tubuh sel besar dengan cambuk seperti
embel disebut flagela. mikroorganisme ini dominan, dengan amoeboids, ketika
lumpur masih sangat muda. Lumpur muda memiliki settleability rendah dan SVI
tinggi.
3. Free swimming Ciliates
berbentuk oval dengan rambut kecil atau ciliates. Ciliates ini bergerak dalam
gerakan seperti gelombang untuk mendorong di dalam air dan membawa
makanan. Jumlah mikroorganisme tersebut meningkat ketika lumpur mencapai
kedewasaan dan mencapai settleability yang terbaik dan kemudian drop off
sebagai umur lumpur terus meningkat.
4. Stalked Ciliates
Stalked Ciliates terlihat seperti sekelompok bunga yang melekat pada partikel
lumpur. Stalked Ciliates berbentuk tulip yang memiliki silia dan digunakan untuk
membawa makanan. Para ciliates makan bakteri dan partikel organik sangat kecil.
Mikroorganisme juga dapat memindahkan partikel mikroskopis menjadi partikel
flok yang lebih besar untuk membantu meningkatkan menetap dan kejelasan
limbah
5. Rotifers
Rotifera adalah organisme yang termasuk kelompok kompleks. Mereka memiliki
sembilan sel dan lebih besar dari organisme lain. Mereka memiliki tubuh panjang
dan telescoping dapat menempel pada partikel flok atau bergerak melalui air
seperti ulat

Atiqa Rahmawati
2313105024

Adanya jenis-jenis mikroorganisme menandakan kondisi sludge tersebut berusia


muda atau tua. Sebagai contoh, bila flagellates atau free swiming ciliates mendominasi maka
kondisi sludge termasuk pada Young Sludge sedangkan bila fase rotifer dan stalked
ciliates yang mendominasi maka kondisi sludge termasuk dalam kondisi Old Sludge.
Sludge yang diharapkan adalah yang memiliki fase flagellates, free swiming ciliates dan
stalked ciliates karena memiliki kondisi yang tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua.

THE "BUG" CHART


Bakteri filamen adalah bakteri benang panjang yang terdapat dalam lumpur aktif.
Mereka bermanfaat dalam jumlah kecil. Dalam jumlah besar mereka menciptakan kondisi
yang dikenal sebagai bridging partikel dan mengurangi settleability dari lumpur. Bulking
sludge berwarna coklat gelap. Nocardia adalah jenis filamen yang dapat menyebabkan
bulking dan berbusa dalam lumpur aktif. Mereka memiliki metabolisme yang lebih rendah
dan biasanya menjadi masalah bila terdapat BOD yang tidak dapat dikeluarkan dengan baik.
Penambahan 1,0-1,5 mg / L klorin terhadap aliran RAS sering digunakan dalam sistem
lumpur aktif untuk mengontrol filamen.

Atiqa Rahmawati
2313105024
Beban hidrolik dapat menyebabkan
washout atau ledakan dari dalam lumpur. Ketika
kecepatan clarifier mengalami kenaikan tiba-tiba
dan melebihi kecepatan pengendapan lumpur,
padatan dapat keluar dari atas tangki. Selain
kehilangan padatan dari sistem, kondisi ini
berarti bug tidak melakukan proses dengan
baik.
Aeration Tank Foam
Bioaktivitas di basins aerasi akan selalu menghasilkan beberapa penumpukan busa di
basins. Jika tidak ada busa di basins aerasi biomassa kemungkinan mati. Warna busa
merupakan indikator usia dan kondisi lumpur. Busa putih merupakan indikasi dari lumpur
muda. Busa yang banyak merupakan indikasi lumpur dapat mengendap dengan baik. Busa
gelap berminyak dan berwarna coklat dapat merupakan indikasi di lumpur tua. Hal ini sering
terjadi pada digester aerobik, tetapi bukan pertanda baik dalam basin aerasi. Ini adalah hasil
dari masalah bakteri berserabut

PROSES ACTIVATED SLUDGE


Sistem lumpur aktif merupakan sistem yang digunakan untuk mengontrol air limbah
cair seperti buangan domestik yang mengandung kedua bahan organic terlarut dan
tersuspensi. Proses lumpur aktif adalah proses biologis dengan zat yang non-settleable zat,
proses ini melibatkan zat yang terlarut dan koloid tersebut diubah menjadi lumpur settleable.
Proses lumpur aktif memberikan salah satu proses pengolahan yang dapat dinilai praktis dan
ekonomis praktis. Proses ini tergantung pada kelompok mikroorganisme, terutama bakteri,
bersama dengan protozoa, jamur dan rotifera, m.o. ini dipertahankan kontak dengan bahan
organik dalam limbah dalam aerobik (oksigen yang mengandung) lingkungan. Bahan organik
dibawa dalam air limbah berfungsi sebagai suplai makanan bagi mikroorganisme ini. Tujuan
dasar dari sistem lumpur aktif adalah untuk membangun dan menjaga populasi

Atiqa Rahmawati
2313105024
mikroorganisme yang layak dengan menyediakan makanan (BOD 5) dan lingkungan yang
tepat. Dalam lingkungan yang tepat mikroorganisme mengubah yang terlarut dan bahan
koloid dalam air limbah ke dalam sel-sel baru (lumpur aktif) dan produk akhir (CO 2 dan air).
Selama siklus hidup mereka, mikroorganisme menjalani siklus terus menerus.

Ideal Growth Curve Activated Sludge Batch Operation


Gambar diatas menunjukkan bahwa kurva pertumbuhan yang ideal dibagi menjadi 3
fase utama : pertumbuhan fase logaritmik, fase pertumbuhan menurun, dan fase endogen.
Fase pertama ditunjukkan pada Gambar diatas, fase pertumbuhan logaritmik,
menunjukkan bahwa populasi mikroorganisme meningkat pesat selama periode awal kontak
dengan limbah. Selama fase pertumbuhan logaritmik ada ketersediaan makanan yang tinggi
terhadap mikroorganisme (F/M). Persyaratan oksigen total selama fase ini tetapi terus
meningkat. Tahap kedua ditunjukkan pada Gambar di atas adalah bahwa pertumbuhan
menurun. Sebagai mikroorganisme terus memanfaatkan pasokan makanan, tercapai suatu titik
dimana jumlah batas sisa makanan laju pertumbuhan mikroorganisme. Fase ini menandai
awal suatu masa di mana organisme hidup yang tersisa mulai mengambil nutrisi yang tersedia
di tetangga mereka yang mati. Organisme hidup harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan
makanan, membutuhkan lebih banyak energi, sehingga produk akhir lebih banyak diproduksi.
Tahap akhir ditunjukkan pada Gambar di atas adalah fase endogen yang dimulai ketika
jumlah makanan yang digunakan dalam memproduksi energi dan membentuk produk akhir
lebih besar dari jumlah yang digunakan dalam membentuk bahan selular baru. Produk akhir
lebih dan lebih sedang diproduksi sedangkan produksi massal sel lumpur aktif berada pada
tingkat minimum. Tingkat pemanfaatan oksigen menurun pada fase ini sementara jumlah
total oksigen yang dikonsumsi jelas mencapai nilai terbesar total.
Conventional Activated Sludge

Conventional Activated Sludge


Sistem lumpur aktif konvensional terdiri dari sebuah tangki aerasi air limbah yang
diikuti dengan secondary settler dan garis recycle solid. Air limbah meninggalkan primary

Atiqa Rahmawati
2313105024
settler

kemudian

memasuki sal

ah

satu

ujung rectang

ular

tank

bersamaan

dengan

recycle

lumpur.

waktu tinggal

dalam

conventional

activated

sludge selama 4-8 jam. Lumpur aktif mengandung mikroorganisme aktif biologis yang
mengubah limbah organik
Pencampuran

dalam

untuk

reactor

biomassa dan

senyawa teroksidasi lainnya dan

ini idealnya dianggap

sebagai plug

flow karena

gas.
rasio

panjang/lebar biasanya > 10. Campuran lumpur aktif disalurkan menuju secondary settler,
dimana sludge di endapkan diluar dan fraksi dari sludge tersebut di recycle ke inlet reaktor.
Laju recycle sludge biasanya beroperasi antara 25-30% dari inlet laju alir air limbah dengan
kapasitas pemompaan 100%. BOD tinggi dari air limbah yang masuk reaktor akan
menyebabkan kebutuhan oksigen pada saat itu. Saat aliran melewati tangki, kebutuhan
oksigen secara bertahap akan berkurang. Konsentrasi oksigen dalam reaktor harus minimal 2
mg/l.

Completely Mixed Reactor


Beberapa proses mengganti reaktor tangki panjang persegi
konvensional

dengan agitated

vessel

circular di mana

panjang

konsentrasi

dari
limbah

proses
dan

lumpur adalah seragam di seluruh reactor. Modifikasi ini membuat reaktor lebih tahan
terhadap lonjakan BOD dan senyawa beracun dalam inlet air limbah dimana reaktor juga
bertindak sebagai dilutting vessel. Karena sistem konvensional lebih dekat dengan plug
flow, bahan beracun bisa melewati reactor dan membunuh senyawa biologis dalam reaktor.
Penggantian tangki reaktor yang berbentuk persegi panjang (sistem konvensional) tangki
berpengaduk mekanis adalah :

Step Aeration

Atiqa Rahmawati
2313105024
Tidak seperti plan secara konvensional, langkah dari sistem aerasi memperkenalkan
feed air limbah di beberapa titik di sepanjang tangki aerasi. Feed untuk metode ini, dimana
biasa disebut step loading, menjaga faktor proses loading, U, dan kebutuhan oksigen di dalam
tangki lebih seragam daripada proses konvensional. Langkah plan aerasi biasanya dirancang
untuk beban padatan yang sama tetapi beban volumetrik lebih tinggi dari plan konvensional,
karena efisiensi biologis meningkat dimungkinkan oleh konsentrasi limbah lebih seragam.
sebuah flowsheet ditunjukkan pada gambar berikut :

High Rate And Extended Aeration


High Rate And Extended Aeration adalah proses activated sludge secara konvensional
yang dioperasikan secara ekstrim berlawanan dari kedua waktu tinggal hidrolik dan umur
lumpur. High Rate And Extended Aeration beroperasi pada waktu tinggal hidrolik rendah (13 jam) dan umur lumpur berkurang (di bawah 3 hari). Kondisi ini dicapai dengan
menggunakan high process factor yang tinggi dan MLSS yang tinggi di dalam tangki aerasi. .
Aerasi highrate umumnya tidak digunakan ketika efisiensi pengolahan yang tinggi
diperlukan. Proses aerasi diperpanjang menggunakan waktu tinggal yang lama dan umur
lumpur lama tanpa pretreatment primer. Karena volume tangki aerasi besar per unit, proses
ini biasanya dibatasi untuk aplikasi kecil. High Rate And Extended Aeration miliki
konfigurasi yang sama dengan sistem konvensional tetapi sistem lumpur jarang buang,
mengakibatkan respirasi endogen cukup besar, umur lumpur yg tinggi, proses loading yang
rendah. Persyaratan oksigen sering dalam jumlah yang cukup dari lumpur.

Contact Stabilization
Proses kontak stabilisasi memanfaatkan adsorpsi yang cepat dari bahan organik
terlarut dan partikulat oleh activated sludge dan oksidasi lambat dari bahan organik oleh
biomassa. . Proses kontak stabilisasi air limbah selama kurang lebih satu jam untuk langkah
adsorpsi, kemudian memisahkan lumpur dari air limbah dan pemekatan lumpur untuk
tambahan waktu 3-6 jam di dalam tangki terpisah untuk langkah oksidasi. dengan
memusatkan lumpur sebelum oksidasi, volume tangki aerasi jumlah yang berkurang sekitar
50% dari proses konvensional. Kebutuhan udara total kurang lebih sama dan biasa

Atiqa Rahmawati
2313105024
dipergunakan sama dibagi diterapkan ditangki-tangki, contact stabilization sukses digunakan
di mana proporsi yang tinggi dari air BOD limbah adalah dalam bentuk tersuspensi atau
koloid. Proses dari contact stabilization dapat dilihat di gambar di bawah ini :

criteria dan parameter yang terjadi pada Contact Stabilization :


a. Detention time di Contact Basin
: 0.5-2 jam
b. Detention time di stabilization basin : 4-8 jam
c. MLSS akan hilang hingga
: 1200-2000 mg/L di Contact basin
d. Dan MLSS di stabilization basin akan hilang 4000-6000 mg/l
e. F : M ratio nya 0.6
Table 1 : Perbedaan Tipe Proses Activated Sludge

Tangki

Conventional

High Rate and

Contact

Activated Sludge

Extended Aeration
Aerasi dan Klaridier

Stabilization

Aerasi dan Klarifier


terpisah

(bukan klarifier
primer)

Aerasi dan
Klarifier terpisah
Contact Tank : 0.5-

detention
time

4-8 jam

16-24 jam

2 jam
Stabilisation Tank :
4-8 jam
Contact Tank :

MLSS

1100-3000 mg/L

3000-5000 mg/L

1200-2000 mg/L
Stabilisation Tank :
4000-6000 mg/L

F:M
ratio

0.2-0.6
RAS : ke aeration

RAS

Waste sludge :
dibuang ke luar
system CAS

Lagoons And Ponds

0.05-0.2

0.6

recycle sludge : ke

Return Sludge : ke

primary influent

Stabilisation Basin
RAS : ke primary

waste sludge : jarang


ada pembuangan

effulent dari
primary clarifier

Atiqa Rahmawati
2313105024
Lagoon berupa bak dengan kedalaman 1,5 7 meter dengan fresh feed residence time
antara 2- 20 hari. Sistem ini bergantung pada sistem aerasi di permukaan. Lagoon memiliki
beberapa perbedaan dibandingkan proses lumpur aktif, antara lain tidak adanya lumpur yang
direcycle karena lagoon berfungsi sebagai reaktor dan clarifier. . Konsentrasi padatan yang
tersuspensi dalam lagoon juga relatif lebih rendah yaitu sekitar 100- 300 mg MLSS/ liter.
Beberapa macam lagoon yang umum digunakan antara lain adalah:
a. Completely mixed lagoon

Pada lagooon jenis ini, daya pengaduk yang digunakan cukup


konsentrasi padatan dan oksigen terlarut dalam

besar

sehingga

lagoon cukup seragam.

b. Facultative lagoon
Pada lagoon fakultatif, input daya pada pengaduk lebih rendah dibandingkan completely
mixed lagoon sehingga sebagian

padatan terakumulasi di dasar lagoon dan mengalami

dekomposisi anaerobik, sedangkan padatan di permukaan mengalami dekomposisi aerobik.


Kolam lumpur aktif umumnya memiliki kedalaman sekitar 1- 2 meter dan memiliki waktu
tinggal yang relatif lebih lama, antara 10 30 hari. Biasanya ditanami algae yang dapat
berfotosintesis dan memenuhi kebutuhan oksigen dalam proses degradasi.

Atiqa Rahmawati
2313105024
Proses Pada Kolam Lumpur Aktif

Beberapa macam pond yang umum digunakan, antara lain adalah:

c. Facultative pond
Dalam kolam fakultatif, bagian permukaan lagoon mengalami aerasi
angin sehingga suplai oksigen di permukaan terpenuhi dan terjadi proses aerobik
kedalaman tertentu. Kolam jenis ini tidak dapat memproses air limbah dengan
warna yang tinggi, misalnya limbah tekstil, karena proses degradasi

dalam

dengan
hingga
tingkat
kolam

bergantung penetrasi cahaya


d. Anaerobic ponds
Pada kolam anaerobik, suplai oksigen sangat rendah sehingga terjadi reaksi anaerobik
menghasilkan gas metana dan H2S. Baik lagoon maupun kolam lumpur aktif umunya
dimodelkan sebagai tangki yang mengalami pengadukan sempurna dan tanpa recycle.
Dengan asumsi kondisi aliran steady-state serta konsentrasi buangan sangat rendah ( S<<
Km). Waktu tinggal yang relatif lama pada lagoon dan kolam lumpur aktif menyebabkan
sebagian besar BOD pada effluent berasal dari padatan yang tersuspensi, sehingga perlu
dikontrol melalui laju respirasi endogenous.
Pure Oxygen Activated Sludge
Sistem ini terdiri dari beberapa tangki yang teraduk sempurna dan disusun secara seri
dengan oksigen dan air limbah yang bergerak bersamaan. Alasan penggunaan oksigen murni

Atiqa Rahmawati
2313105024
adalah kemampuan transfer oksigen yang lebih besar dibandingkan udara biasa, sehingga
dapat mempertahankan konsentrasi oksigen terlarut di atas 2 ppm. Loading rate dalam sistem
oksigen lebih besar dibandingkan pada sistem udara sehingga jumlah lumpur yang dihasilkan
juga lebih besar. Tingginya tingkat oksigen yang terlarut pada sistem oksigen murni
mendorong pertumbuhan bakteri nitrifikasi sehingga tingkat oksidasi ammonia meningkat.

Pure Oxygen Activated Sludge


Nitrification And Denitrification

Proses Nitrifikasi dan Denitrifikasi

Atiqa Rahmawati
2313105024
Nitrifikasi adalah proses oksidasi ion ammonium menjadi nitrat dengan bantuan
bakteri Nitrosomonas dan Nitrobacter. Bakteri nitrifikasi tumbuh sangat lambat dan sangat
sensitif terhadap berbagai faktor lingkungan, seperti pH, oksigen terlarut (DO), temperatur
dan berbagai senyawa toksik. Konsentrasi DO di atas 1 mg/l merupakan salah satu prasyarat
untuk terjadinya proses nitrifikasi.Reaksi nitrifikasi berjalan seperti berikut:

Dalam proses nitrifikasi tidak terjadi akumulasi nitrit karena laju pertumbuhan
spesifik Nitrobacter lebih cepat dibandingkan Nitrosomonas dan konstanta Michaelis kedua
reaksi tersebut sangat kecil. Oleh karena itu, konversi amonia ke nitrit dibatasi laju reaksi.
Namun pada konsentrasi oksigen di atas 2 mg/l, proses nitrifikasi juga dibatasi oksigen dan
mengikuti kinetika Monod.
Denitrifikasi adalah reduksi nitrat menjadi nitrogen oleh bakteri, misalnya
pseudomonas, melalui reaksi berikut:

Proses denitrifikasi berlangsung dalam kondisi anoksik, dimana bakteri yang bersifat
heterotrof memanfaatkan senyawa nitrogen teroksidasi nitrat, nitrit dan sulfat sebagai aseptor
elektron dalam proses metabolisme dan sintesa sel. Dalam proses denitrifikasi perlu
ditambahkan sumber karbon untuk memungkinkan terjadinya sintesa sel. . Kebutuhan karbon
dapat dipenuhi dari dua sumber, yaitu sumber internal, berasal dari air limbah yang akan
diolah dan material sel (respirasi endogenus), dan sumber eksternal, berasal dari penambahan
air limbah atau sumber karbon yang lain (methanol), yang digunakan bila air limbah yang
diolah tidak mampu menyuplai kebutuhan karbon dengan baik. Konstanta Michaelis pada
proses denitrifikasi lumpur aktif sangatlah kecil sehingga reaktor biasanya dijalankan pada
orde 0 pada tingkat nitrat-nitrogen 1-2 mg/l.
Beberapa macam sistem pengambilan nitrogen adalah sebagai berikut:
a. Preanoxic : sebagian feed nitrat hasil nitrifikasi pada tangki aerobik dikembalikan ke
tangki anoksik, dimana terjadi proses denitrifikasi, dan masuk bersama recycle activated
sludge ke dalam tangki anoksik.

Atiqa Rahmawati
2313105024

b. Postanoxic : recycle activated sludge dikembalikan ke dalam tangki anoksik yang terletak
setelah tangki aerobic

c. Simultaneous : secara umum, sistem ini mirip dengan preanoxic, hanya saja terjadi dalam
1 tanki

Sistem
Preanoxic

+
BOD

dihilangkan

sembelum Alkalinitas dihasilkan sebelum

zona aerobik sehingga ergi yang nitrifikasi


Simultaneous

dibutuhkan sedikit
Dapat digunakan untuk tingkat Volume reaktor besar
N rendah (<3 mg/L)

Perlu kontrol operasi

Hemat energi
Postanoxic

Perlu waktu tinggal lama untuk


mencapai efisiensi tinggi karena
proses denitrifikasi berjalan saat
respirasi endogenous

Design Prosedure Activated Sludge


Di bawah ini akan ditunjukkan proses desain untuk berdasarkan seleksi dari residence time :

Atiqa Rahmawati
2313105024
a. Masukkan informasi yang diperlukan untuk mengolah data. (So, Qo, S), data kinetik(ko,
kd, Km, Y). Jika data kinetik tidak tersedia disediakan, asumsi dari tabel ini adalah di
chapter 12,13 (sundstrom).
b. Ambil nilai dari sludge age, atau proses loading factor U dengan pertimbangan : tingkat
larut karbon dari limbah, suspended solid di effluent, karakteristik settling dari solid
biologis, nutrient removal, stabilitas proses untuk mencegah washout. Sludge age biasa
nya 3-14 hari dan U antara 0.2-0.6 kgBOD/kgMLSS.day.
c. Hitung effluent dari keluaran air limbah dengan pilihan sludge age daari persamaanpersamaan yang terdapat dalam table 6.1 (buku sandstorm) untuk memastikan bahwa S
akan kurang dari nilai input desain. Gunakan nilai S untuk perhitungan selanjutnya.
d. Pilih nilai dari
ini.

lalu hitung nilai V, lalu selanjutnya dapat dilihat pada gambar di bawah

Atiqa Rahmawati
2313105024

ACTIVATED SLUDGE MICROBIOLOGY PROBLEMS


AND THEIR CONTROL

Permasalahan mikrobiologi dalam Lumpur Aktif :


1. Pembentukan flock yang buruk, pin flock dan pertumbuhan terdispersi (dispersed
2.
3.
4.
5.
6.
7.

growth)
Toxicity
Masalah Nitrifikasi dan Denitrifikasi
Defisiensi Nutrien dan Bulking and Foaming Polisakarida
Zoogleal Bulking and Foaming
Filamentous Bulking
Filamentous Foaming

1. Pembentukan flock yang buruk, pin flock dan pertumbuhan terdispersi (dispersed
growth)
Dasar pembentukan flok, terjadi pada operasi lumpur aktif activared sludge
dikarenakan gravity clarifier. Pembentukan flok terjadi pada rate pertumbuhan yang
rendah dan pada tingkat nutrient rendah. Pembentukan floc pada activated sludge terletak
pada kemampuan mikroorganisme menempel satu sama lain dan pada nonbiological
particles.
Flok yang kecil (weak flok) dapat terbentuk pada activated sludge yang merupakan
permasalahan utama dalam gelombang yang mengapung di clarifier akhir dan
menghasilkan effluent yang keruh. Flok kecil,seperti pin flok mempunyai diameter
<50m. Pin flok biasanya ternjadi pada keadaan lapar ( F/M yang rendah dan umur
sludge lama).
Mekanismenya :
Biopolimer eksosel yang bermuatan negatif membentuk jembatan diantara
mikroorganisme. Hal ini menyebabkan kation seperti Ca 2+ dan Mg2+ berinteraksi dengan
polimer bermuatan negatif, sehingga sel bisa menyatu satu sama lain (membentuk flock).
No
1.

Masalah

Penyebab

Akibat

Pin Flock Terbentuknya flock berbentuk bola SVI rendah, dan effluen
atau
kasar dengan ukuran yang sangat kecil mempunyai
kekeruhan
pinpoint
(<50m). Biasanya terjadi saat yang tinggi

Atiqa Rahmawati
2313105024

flock

mikroorganisme
dalam
kondisi
kelaparan (F/M sangat rendah dan
umur lumpur yang terlalu lama), atau
bisa
juga
karena
toksisitas
berkepanjangan)

Dispersed
Growth

Mikroorganisme yang berada dalam


lumpur aktif terdispersi menjadi
rumpun yang sangat kecil atau
merupakan sel tunggal, sehingga sulit
mengendap

2.
Effluen menjadi tetap
keruh. Sludge
yang
mengendap pada bak
pengendap akhir kecil,
sehingga jumlah sirkulasi
lumpur berkurang

Ketika hanya terdapat bakteri pembentuk flock, maka flock yang terjadi akan berbentuk
bola kasar. Untuk membentuk irregular flock yang besar, maka perlu ditambahkan
filamentous organisme yang akan menjadi backbone pada flock
2. Toksisitas
Diagnosa Toksisitas dibawah mikroskop :

Ada peningkatan flagellata secara tiba-tiba, yang biasa disebut flagellate bloom
(>10000/mL)

Protozoa dan higher life forms (ciliate dan rotifera) akan mulai mati

Break-up of flock, kadang-kadang diikuti dengan foaming

Kehilangan BOD removal

Filamentous bulking pada proses recovery. Bakteri berfilamen sangat mungkin


terecovery pertama setelah terkena toksik

Toksisitas yang paling umum terjadi adalah sulfide toxicity (H2S). Jika ini terjadi,
disarankan menambah kapur atau alkaline agent yang lain kedalam bak aerasi, sehingga
pH naik menjadi 7,5 atau lebih.
Metode yang lebih baik untuk diagnose toksisitas yaitu OUR untuk mendeteksi racun
sedini mungkin. OUR tes sangat simple dan biasanya tes dilakukan kurang dari 2 jam.
Normal OUR dari lumpur aktif harus diketahui sebelum tes, sehingga pada saat dilakukan
tes secara berkala dapat diketahui berapa keadaan normal untuk sebuah plant.

3. Masalah nitrifikasi dan Denitrifikasi

Atiqa Rahmawati
2313105024

Nitrifikasi dapat menyebabkan masalah pada proses lumpur aktif, masalah yang
disebabkan yaitu pertumbuhan terdispersi dan filament bulking terjadi ketika musim
panas dimana suhu yang hangat mempengaruhi nitrifikasi.

Nitrifikasi dapat menghilangkan klorin. Hal ini dikarenakan kebutuhan Klorin pada
nitrit sangat signifikan (1 bagian nitrit mengkonsumsi 1 bagian klorin)

Extensive nitrification dan alkalinitas air limbah yang rendah dapat menyebabkan
penurunan pH. Hal ini dapat menyebabkan pin flock dan kekeruhan efluen yang
tinggi. Untuk mengatasi masalah ini beberapa plant mereduksi aerasi untuk mereduksi
nitrifikasi atau menambahkan soda ash.

Masalah lain yang disebabkan nitrifikasi yaitu denitrifikasi. Untuk mengontrol


denitrifikasi yaitu dengan mengontrol nitrifikasi (mengurangi umur sludge atau
mereduksi aerasi), atau segera memindahkan sludge dengan cepat dari clarifier akhir,
atau juga dengan menaikkan konsentrasi oksigen terlarut pada clarifier akhir.

Bakteri lumpur aktif umumnya bernafas menggunakan nitrat pada kondisi oksigen
bebas ketika bakteri tersebut mengeluarkan gas nitrogen sebagai by-product

Nitrogen inorganik (ammonia dan nitrat) harus ada pada bak pengendap untuk
mencegah filamentous atau slime bulking dengan kadar 5 mg/L untuk mencegah
masalah nitrifikasi dan denitrifikasi (pH rendah dan floating sludge)

Nitrifikasi dan denitrifikasi terjadi pada sistem paling akhir pada kondisi endogenous
dan mengeluarkan ammonia dari biomassa.

4. Defisiensi Nutrien dan Bulking and Foaming Polisakarida


Pada umumnya BOD5:N:P dalam rasio berat dalam limbah yaitu 100:5:1 yang

dibutuhkan untuk menghilangkan BOD secara sempurna.


Polisakharida ekstraselular dihasilkan dari bakteri lumpur aktif untuk pembentukan
flock. Overproduction polisakharida disebabkan defisiensi nutrien (dan juga defisiensi
oksigen atau F/M tinggi), sehingga pengendapan lumpur buruk. Lumpur aktif

normalnya mengandung 10-20% polisakharida pada basis kering.


Tanda dari defisiensi nutrien meliputi : filamentous bulking dan viscous bulking
Salah satu cara mengatasi defisiensi nutrien adalah pastikan bahwa amonia atau nitrat

dan ortho-phosphat masih tersisa dalam effluent.


Rekomendasi konsentrasi pada effluent dari total inorganic nitrogen (ammonia
ditambah nitrat) dan ortho-phosphorus yaitu 1-2 mg/L untuk memastikan nutrient
cukup.

Atiqa Rahmawati
2313105024

5. Zooglea Bulking and Foaming


Kasus khusus dari slime bulking yaitu zooglea bulking, zooglea berkembang biak

dalam lumpur aktif sehingga menghalangi pengendapan sludge.


Mikroorganisme berada dalam jumlah yang sangat besar khususnya zooglea dan

membentuk eksopolisakharida dalam jumlah yang besar.


Dapat menyebabkan masalah slime (jelly) / nonfilamentous bulking / viscous bulking.
Hal ini dapat menyebabkan menurunnya kecapatan pengendapan lumpur dan
mengurang kecepatan kompaksi lumpur. Dalam kondisi yang buruk dapat

mengakibatkan terlepasnya lumpur pada bak pengendapan akhir


Zooglea terjadi pada kondisi F/M yang tinggi dan ketika kandungan asam organik
spesifik dan alkohol juga tinggi yang disebabkan oleh pembusukan atau kondisi
oksigen yang rendah. Jumlah Sludge polysaccharide diukur dengan tes anthrone
dalam keadaan normal (10-20%) ketika zooglea dalam jumlah besar. Anthrone tes
merupakan cara yang baik untuk memisahkan zooglea yang tumbuh secara berlebihan
dari masalah nutrient polysaccharide.

6. Filamentous Bulking
Filamentous bulking dan foaming merupakan masalah serius pada operasi lumpur

aktif.
Pengertian dari filamentous bulking dan foaming, filamen kausatif dan penyebab
pengendaliannya terus meningkat selama lebih dari 20 tahun terakhir sejak eikelboom
dan van buijsem mempublikasikan sistem identifikasi filament mereka pada tahun

1981.
Filamentous Bulking terjadi akibat ekses pertumbuhan mikroorganisme filamentous

dalam jumlah yang besar.


Definisi operasional dari bulking sludge biasanya digunakan SVI >150 ml/g, dan
dapat berubah-ubah dari SVI <100ml/g sampai >300 ml/g, tergantung pada ukuran
dan performa dari clarifier akhir.

Atiqa Rahmawati
2313105024

Operasional yang sering digunakan adalah lumpur dengan SVI>150 ml/g.


Tetapi setiap pabrik memiliki nila SVI tertentu di mana lumpur menumpuk di clarifier
akhir dan dikeluarkan di efluen akhir yang bervariasi dari SVI<100 ml/g sampai
300ml/g.
Beberapa bakteri filamen dapat bermanfaat bagi proses lumpur aktif, tetapi kurangnya
bakteri filamen dapat menyebabkan flok kecil.
Tergantung pada jenis filamen yang terlibat, ada 2 bentuk ganguan dalam
pengendapan lumpur :
1) interfloc-bridging: keadaan dimana filamen membentang sepanjang permukaan
flok dan secara fisik menahan partikel-partikel flok.
2) open-flok structure: keadaan dimana filamen tumbuh dalam flok yang
menyebabkan flok berkembang menjadi besar dan terikat dengan filamen lainnya.
Sludge bulking dapat mengakibatkan hilangnya persediaan lumpur untuk efluen yang
menyebabkan kerusakan lingkungan dan pelanggaran limbah.
Pada kasus yang berat, kehilangan persediaan lumpur dapat menyebabkan hilangnya
kapasitas pengolahan pabrik dan kegagalan proses.
Pada kasus yang kurang berat, bulking menyebabkan laju recycle lumpur yang
dikembalikan berlebih dan masalah dalam pembuangan limbah lumpur aktif
Saat ini ada 24 filamen yang menyebabkan bulking atau foaming lumpur aktif. Dapat
dilihat dalam tabel 1

Atiqa Rahmawati
2313105024

Penyebab Filament

7. Filamentous Foaming
Disebabkan karena tidak terurainya surfaktan serta adanya mikroorganisme
berfilamen

Atiqa Rahmawati
2313105024
Akibatnya Terjadi buih putih pada permukaan bak aerasi dalam jumlah besar yang
dapat melampaui ruang bebas dan melimpah ke bak pengendapan akhir.

Ada 3 organisme filamenteous yang dapat menyebabkan foaming pada lumpur aktif:
Nocardia, Microthrix parvicella (umumnya) dan tipe 1863 (jarang ditemui)
Beberapa Nocardial foam menyebabkan beberapa masalah operasional, termasuk
estetika, bau, dan bahaya keamanan apabila melimpahi basin dan menutupi jalan dan
tangga.
Maka perlu adanya perhatian untuk mengatasi Nocardial foam tersebut.
PRACTICAL CONTROL METHODS FOR FILAMANTOUS BULKING AND
FOAMING
Short Term Control Method
1. Sludge Juggling
Pengaturan debit RAS (Return Activated Sludge) dengan cara meningkatkan debit RAS
untuk mencegah solid wash out ke dalam effluent. RAS flowrate harus meningkat pada
kondisi bulking untuk mencegah kehilangan solid yang keluar.
2.

Polymer and
Coagulant
Addition
Beberapa
penambahan
kimia untuk
meningkatkan
pengendapan

metode
bahan

activated sludge :

Sintetik

Atiqa Rahmawati
2313105024

BM tinggi

Polimer anion / kombinasi dengan polimer kation

Koagulan anorganik (ferric chloride)

Penambahan bahan kimia biasanya ditambahkan untuk MLSS yang meninggalkan basin
aerasi atau secondary clarifier. Jar testing biasanya digunakan untuk menentukan jenis
polimer dan dosisnya.

3.

Clorin

Chlorination
dan
hydrogen
peroksida
merupakan

dua

senyawa yang digunakan untuk mengontrol organisme filament dan menghentikan

bulking. Clorinasi untuk control bulking telah digunakan lebih dari 50% plant.
Pemberian dosis klorin harus dilakukan secara tepat sehingga dapat membasmi
mikroorganisme flamentous tapi tidak membahayakan organisme-organisme

pembentuk flok
Tiga poin umum dalam penambahan Klorin adalah :
a. Ke aliran RAS pada titik turbulensi
b. Langsung kepada clarifier akhir
c. Dalam sidestream terpasang dimana MLSS dipompa dari dan dikembalikan ke
dalam bak aerasi.
Dosis clorine yang efektif yaitu 1-10 pound clorine/1000 pounds MLVSS
inventory/hari. Dosis clorin harus dimulai dengan dosis yang rendah kemudian
ditingkatkan sampai mencapai titik dosis clorine yang efektif.

Long Term Control Methode


4. Low Dissolved Oxygen Problem
Oksigen bergerak ke arah flok secara difusi, bulk concentration harus cukup tinggi
untuk mencapai pusat flok sebelum habis
Meningkatkan konsentrasi MLSS menyebabkan penurunan sistem F/M dan OUR,
dan perubahan ini dapat mengurangi keterbatasan oksigen dalam floks dan
mengendalikan DO filamen rendah. DO filamen rendah telah dihilangkan dari
banyak sistem dengan peningkatan konsentrasi MLSS.

Atiqa Rahmawati
2313105024
Pada F/M kurang dari 0,5 dan konsentrasi DO >2 mg/L biasanya digunakan untuk
mengontrol filament.
Pengendalian DO yang rendah adalah dengan meningkatkan bak aerasi DO
concentration jika memungkinkan, atau dengan menaikkan bak aerasi konsentrasi
MLSS untuk menurunkan F/M (keduanya harus dilakukan secara bersamaan)
5. Wastewater Septicity and Organic Acids
Septicity digunakan untuk mendiskripsikan kondisi dimana air limbah menjadi
anaerobic, dan bakteri anaerobic menfermentasi material organik menjadi asam
organik seperti asetic,propionik, butryc dan asam valeric.
Banyak filament tumbuh pada asam organik dan beberapa hydrogen sulfide.
Konsentrasi asam organik >100 mg/L dan konsentrasi sulfide >1-2 mg/L biasanya
menyebabkan pertumbuhan yang terlalu cepat dari bakteri.
Kecenderungan akan pembusukan adalah istilah yang

diguakan

untuk

menggambarkan kondisi dimana air limbah menjadi anaerobik dan bakteri aerob
fermentasi bahan organik seperti asetat, propionat, asam butirat, dan valeric
Dapat terjadi di depan pabrik, treatment plant (septic final clarifiers, septic primary
clarifiers, bak aerasi campuran yang buruk, dll). Biasanya ditandai dengan bau seperti
bau telur busuk, warna hitam untuk air limbah, dan korosi
Septisitas dapat dites dengan analisis berbagai basin influen dan effluent untuk
kandungan asam organiknya, menggunakan distilasi dan metode titrasi pH di
Standart Methods. Konsentrasi asam organik >100 mg/L dapat menyebabkan
pertumbuhan dari berbagai filament. HIdrogen sulfide juga dites menggunakan
HACH Chemical Co.test kits. Konsentrasi hydrogen sulfide >1-2 mg/L dapat
menyebabkan pertumbuhan dari filament tipe 021N dan thiothrix I dan II.
Dapat diatasi dengan pre-aeration, oksidasi kimia (klorin, hidrogen peroksida, atau
potassium permanganate) atau pengendapan kimia (ferric chloride). Jika pembusukan
tidak dapat dikurangi maka bak pengendapan dapat dikonfigurasi untuk
memungkinkan perlakuan yang lebih baik dari asam organik dan sulfida.
6. Low F/M Problems and Selectors
Pengendalian F / M rendah dapat dicapai dengan mengurangi konsentrasi MLSS dan
meningkatkan F / M (memanipulasi komponen "M").
Beberapa perubahan operasi yang secara efektif meningkatkan konsentrasi substrat
cocok untuk membantu mengatasi rendahnya F / M.
Operasi ini termasuk: kompartementalisasi kolam aerasi, fed-batch operasi,
perselangan pemasukan limbah, dan penggunaan selector.

Atiqa Rahmawati
2313105024
Filamentous bulking karena rendahnya F / M filamen paling sering terjadi pada
sistem kolam aerasi.
Selector adalah kolam atau saluran pencampuran dimana RAS dan aliran limbah
bercampur sebelum ke kolam aerasi.

7. Nutrient Deficiency
Rasio berat BOD5: N: P dalam limbah cair 100:5:1 diperlukan untuk menghilangkan

BOD.
Tanda kurangnya nutrisi :
a. Filamentous bulking
b. ctivated sludge polisakarida signifikan (slime)
c. Busa polisakarida dalam jumlah besar
Nutrient deficiency setidaknya 1.0 mg/L total inorganik nitrogen (TIN=
amonium+nitrit+nitrat) dan 0.5-1 mg/L ortho-phosporus terkandung dalam effluent.
Penambahan nutrisi :
a. Sumber nitrogen : amonia anhidrat, urea, garam ammonium
b. Sumber fosfor : H3PO4, NaPO4, (NH4)2PO4

8. Foaming Control
Tiga filamen mepenyebab buih: Nocardia, M. parvicella dan tipe 1863. Semua
filamen tumbuh pada lemak dan minyak, dan ini bisa menjadi masalah ketika lemak
dan minyak yang tinggi dalam air limbah.
Jenis Nocardia yang menyebabkan foaming yaitu Nocardia amarae,N.pinensis, N
rhodochrus dan spesies nocardia yang lain.
Nocardia, M. Parvicella terjadi pada umur sludge age yang lama, sludge age yang
terdapat filament tersebut dapat dikontrol dengan suhu pada air limbah, filament akan
berkurang pada suhu tinggi.

Atiqa Rahmawati
2313105024
Pengontrolan secara fisik yang banyak dipraktekkan yaitu dengan memperluas
permukaan jebakan untuk buih dan menyemprotkan air (mengandung 50mg/L clorin).