Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Perkembangan kemajuan teknologi muncul berbagai macam penyakit yang
mungkin sudah ada yang bisa diketahui penyebabnya ataupun dalam penyelidikan ahli
termasuk penyakit, penangananya serta pola gizi melalui diet yang tepat.
Makanan bukanlah hal sepele yang bisa kita singkirkan, justru ini menjadi hal
yang penting baik pada klien sakit biasa ataupun pada pembedahan. Anggapan
masyarakat mengenai sistem diet selama ini masih banyak sekali kekurangan untuk itu
kita perlu memberi kesadaran yang komprehensif dari cara dan jenis diet yang ada
bukan hanya diet untuk menurunkan atau menaikan berat badan tetapi diet juga penting
untuk mengontrol sebuah penyakit yang akan dilakukan proses pembedahan dapat
memudahkan dokter untuk melakukan pembedahan.

B.

Rumusan Masalah
1. Apa sajakah jenis-jenis diet yang dapat diberikan dalam kasus pembedahan saluran
cerna ?
2. Bagaimana contoh diet pada kasus pembedahan saluran cerna?

C. Tujuan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Dapat mengetahui apa saja jenis-jenis diit yang dapat diberikan dalam kasus
pembedahan saluran cerna.
2. Dapat mengetahui contoh diet pada kasus pembedahan saluran cerna.

BAB II
PEMBAHASAN
Pembedahan merupakan salah satu upaya penyembuhan penyakit melalui prosedur
operasi. Operasi dapat dilakukan secara konvensional, dengan bantuan instumentasi bahkan
ada yang sudah menggunakan teknik robotik. Ahli bedah (surgeon) dapat merupakan seorang
dokter ataupun dokter gigi yang telah memiliki spesialisasi dalam bidang ilmu bedah.
Ada beberapa jenis pembedahan berdasarkan tujuan terdiri dari:
1. Pembedahan diagnostic
Bertujuan untuk menentukan sebab terjadinya gejala dari penyakit seperti biopsy,
eksplorasi dan laparotomi.
2. Pembedahan kuratif
Pembedahan yang dilakukan untuk mengambil bagian dari penyakit, seperti
pembedahan apendiktomy.
3. Pembedahan restorative
Pembedahan yang dilakukan untuk memperbaiki deformitas (kecacatan) dan untuk
menyambung daerah yang terpisah.
4. Pembedahan paliatif
Pembedahan yang dilakukan untuk mengurangi gejala saja dan tidak untuk
mengurangi penyakit
5. Pembedahan kosmetik
Pembedahan yang dilakukan untuk memperbaiki bentuk dalam tubuh misalnya
rhinoplasty (operasi untuk membuat hidung menjadi lebih mancung)
Berbagai persiapan fisik yang harus dilakukan terhadap pasien pre operasi atau pra bedah
antara lain :
a. Status kesehatan fisik secara umum
Sebelum dilakukan pembedahan, penting dilakukan pemeriksaan status
kesehatan secara umum, meliputi identitas klien, riwayat penyakit seperti kesehatan
masa lalu, riwayat kesehatan keluarga, pemeriksaan fisik lengkap, antara lain status
hemodinamika, status kardiovaskuler, status pernafasan, fungsi ginjal dan hepatik,
fungsi endokrin, fungsi imunologi, dan lain-lain. Selain itu pasien harus istirahat yang
cukup, karena dengan istirahat dan tidur yang cukup pasien tidak akan mengalami
stres fisik, tubuh lebih rileks sehingga bagi pasien yang memiliki riwayat hipertensi,
tekanan darahnya dapat stabil dan bagi pasien wanita tidak akan memicu terjadinya
haid lebih awal.
b. Status Nutrisi

Kebutuhan nutrisi ditentukan dengan mengukur tinggi badan dan berat badan,
lipat kulit trisep, lingkar lengan atas, kadar protein darah (albumin dan globulin) dan
keseimbangan nitrogen. Segala bentuk defisiensi nutrisi harus di koreksi sebelum
pembedahan untuk memberikan protein yang cukup untuk perbaikan jaringan.
Kondisi gizi buruk dapat mengakibatkan pasien mengalami berbagai komplikasi
pasca operasi dan mengakibatkan pasien menjadi lebih lama dirawat di rumah sakit.
Komplikasi yang paling sering terjadi adalah infeksi pasca operasi, dehisiensi
(terlepasnya jahitan sehingga luka tidak bisa menyatu), demam dan penyembuhan
luka yang lama. Pada kondisi yang serius pasien dapat mengalami sepsis yang bisa
mengakibatkan kematian.
c. Keseimbangan cairan dan elektrolit
Balance cairan perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan input dan output
cairan. Demikaian juga kadar elektrolit serum harus berada dalam rentang normal.
Kadar elektrolit yang biasanya dilakuakan pemeriksaan diantaranya dalah kadar
natrium serum (normal : 135 145 mmol/l), kadar kalium serum (normal : 3,5-5
mmol/l) dan kadar kreatinin serum (0,70 1,50 mg/dl). Keseimbangan cairan dan
elektrolit terkait erat dengan fungsi ginjal. Dimana ginjal berfungsi mengatur
mekanisme asam basa dan ekskresi metabolit obat-obatan anastesi. Jika fungsi ginjal
baik maka operasi dapat dilakukan dengan baik. Namun jika ginjal mengalami
gangguan seperti oliguri/anuria, insufisiensi renal akut, nefritis akut maka operasi
harus ditunda menunggu perbaikan fungsi ginjal. Kecuali pada kasus-kasus yang
mengancam jiwa.
d. Kebersihan lambung dan kolon
Lambung dan kolon harus di bersihkan terlebih dahulu. Intervensi
keperawatan yang bisa diberikan diantaranya adalah pasien dipuasakan dan dilakukan
tindakan pengosongan lambung dan kolon dengan tindakan enema/lavement.
Lamanya puasa berkisar antara 7 sampai 8 jam (biasanya puasa dilakukan mulai pukul
24.00 WIB). Tujuan dari pengosongan lambung dan kolon adalah untuk menghindari
aspirasi (masuknya cairan lambung ke paru-paru) dan menghindari kontaminasi feses
ke area pembedahan sehingga menghindarkan terjadinya infeksi pasca pembedahan.
Khusus pada pasien yang menbutuhkan operasi CITO (segera), seperti pada pasien
kecelakaan lalu lintas. Maka pengosongan lambung dapat dilakukan dengan cara
pemasangan NGT (naso gastric tube).
e. Pencukuran daerah operasi
f. Personal Hygine
g. Pengosongan kandung kemih
3

Pengosongan kandung kemih dilakukan dengan melakukan pemasangan kateter.


Selain untuk pengongan isi bladder tindakan kateterisasi juga diperluka untuk
mengobservasi balance cairan.
h. Latihan Pra Operasi
Berbagai latihan sangat diperlukan pada pasien sebelum operasi, hal ini sangat
penting sebagai persiapan pasien dalam menghadapi kondisi pasca operasi, seperti
nyeri

daerah

operasi,

batuk

dan

banyak

lendir

pada

tenggorokan.

Latihan yang diberikan pada pasien sebelum operasi antara lain :


1. Latihan nafas dalam
2. Latihan batuk efektif
3. Latihan gerak sendi
A. Diet Yang Dapat Diberikan Dalam Kasus Pembedahan Saluran Cerna
Definisi Diet Saluran Pencernaan dalam konteks bahasa, istilah diet memiliki arti
sebagai jumlah makanan yang dikonsumsi oleh seseorang. Di Indonesia, penggunaan
istilah diet lebih menunjukkan pada usaha menurunkan berat badan atau mengatur asupan
nutrisi. Definisi diet menurut para ahli:
1. Muda (2003) Diet merupakan aturan makan khusus untuk kesehatan dan
sebagainya (biasanya atas petunjuk dokter), berpantang atau menahan diri
terhadap makanan tertentu untuk kesehatan, mengatur kuantitas, dan jenis
makanan untuk mengurangi berat badan atau karena penyakit.
2. Kim dan Lennon (2006) Diet adalah pengurangan kalori untuk mengurangi berat
badan.
3. Hawks (2008) Diet merupakan usaha sadar seseorang dalam membatasi dan
mengontrol makanan yang akan dimakan dengan tujuan untuk mengurangi dan
mempertahankan berat badan.
Diet Saluran Pencernaan Sistem pencernaan atau sistem gastrointestinal adalah sistem
organ dalam manusia yang berfungsi untuk menerima makanan, mencernanya menjadi
zat-zat gizi dan energi, menyerap zat-zat gizi ke dalam aliran darah serta membuang
bagian makanan yang tidak dapat dicerna atau merupakan sisa proses tersebut dari tubuh.
Saluran pencernaan terdiri dari mulut, kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar,
rektum dan anus. Sistem pencernaan juga meliputi organ-organ yang terletak diluar
saluran pencernaan yaitu pankreas, hati dan kandung empedu.
Cara pemberian Makanan selain Oral
a. Tube feeding
Tube Feeding merupakan metode yang paling sering digunakan dalam diet
pasca bedah. Ketika pasien tidak mampu untuk makan melalui mulut setelah
4

melewati operasi, kecelakaan, pingsan, kasrinoma pada esofagus, kebutuhan zat


gizi harus disuplai.
Tube Feeding biasanya dilakukan melalui saluran hidung. Pipa
dimasukkan cairan yang mengandung zat gizi ke dalam tubuh secara aman
menuju dinding perut. Cairan tersebut mengalir ke dalam lambung melalui
rongga. Pasien membutuhkan dukungan yang besar untuk mengatur kondisi ini.
b. Rectal Feeding
Pemberian makan kepada pasien melalui rektum akan membatasi kualitas
dan kuantitas makanan yang diberikan. Makanan tidak dapat melewati katup
ileocecal dengan diserap melalui usus besar.
Beberapa jenis diet, diantaranya adalah sebagai berikut :
1) Diet Makanan Biasa
Makanan biasa sama dengan makanan sehari-hari yang beraneka ragam,
bervariasi dengan bentuk, tekstur dan aroma yang normal. Susunan makanan
mengacu pada Pola Menu Seimbang dan Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang
dianjurkan bagi orang dewasa sehat. Makanan biasa diberikan kepada pasien yang
berdasarkan penyakitnya tidak memerlukan makanan khusus (diet). Walau tidak
ada pantangan secara khusus, makanan sebaiknya diberikan dalam bentuk yang
mudah dicerna dan tidak merangsang pada saluran cerna.
Tujuan diet makanan biasa adalah memberikan makanan sesuai kebutuhan
gizi untuk mencegah dan mengurangi kerusakan jaringan tubuh.
Syarat-syarat diet makanan biasa adalah:
a) Energi sesuai kebutuhan normal orang dewasa sehat dalam keadaan
b)
c)
d)
e)
f)
g)

istirahat;
Protein 10-15% dari kebutuhan energi total;
Lemak 10-25% dari kebutuhan energi total;
Karbohidrat 60-75% dari kebutuhan energi total;
Cukup mineral, vitamin dan kaya serat;
Makanan tidak merangsang saluran cerna;
Makanan sehari-hari beraneka ragam dan bervariasi.

Makanan yang tidak dianjurkan untuk diet makanan biasa adalah makanan
yang merangsang, seperti makanan yang berlemak tinggi, terlalu manis, terlalu
berbumbu, dan minuman yang mengandung alkohol.
2) Diet Makanan Lunak
Makanan lunak adalah makanan yang memiliki tekstur yang mudah
dikunyah, ditelan, dan dicerna dibandingkan makanan biasa. Menurut keadaan

penyakit, makanan lunak dapat diberikan langsung kepada pasien atau sebagai
perpindahan dari makanan saring ke makanan biasa.
Tujuan diet makanan lunak adalah memberikan makanan dalam bentuk
lunak yang mudah ditelan dan dicerna sesuai kebutuhan gizi dan keadaan
penyakit.
Syarat-syarat diet makanan lunak adalah sebagai berikut:
a) Energi, protein, dan zat gizi lain cukup;
b) Makanan diberikan dalam bentuk cincang atau lunak, sesuai dengan
keadaan penyakit dan kemampuan makan pasien;
c) Makanan diberikan dalam porsi sedang, yaitu tiga kali makan lengkap dan
dua kali selingan;
d) Makanan mudah cerna, rendah serat, dan tidak mengandung bumbu yang
tajam.
3) Diet Makanan Saring
Makanan saring adalah makanan semi padat yang mempunyai tekstur lebih
halus daripada makanan lunak, sehingga lebih mudah ditelan dan dicerna.
Menurut keadaan penyakit, makanan saring dapat diberikan langsung kepada
pasien atau merupakan perpindahan dari makanan cair kental ke makanan lunak.
Tujuan diet untuk makanan saring adalah memberikan makanan dalam
bentuk semi padat sejumlah yang mendekati kebutuhan gizi pasien untuk jangka
waktu pendek sebagai proses adaptasi terhadap bentuk makanan yang lebih padat.
Syarat-syarat diet makanan saring adalah:
a) Hanya diberikan untuk jangka waktu singkat selama 1-3 hari, karena
kurang memenuhi kebutuhan gizi terutama energi dan tiamin;
b) Rendah serat, diberikan dalam bentuk disaring atau diblender;
c) Diberikan dalam porsi kecil dan sering yaitu 6-8 kali sehari.
Makanan saring diberikan kepada pasien sesudah mengalami operasi tertentu,
pada infeksi akut termasuk infeksi saluran cerna, serta kepada pasien dengan
kesulitan mengunyah dan menelan, atau sebagai perpindahan dari makanan cair ke
makanan lunak. Karena makanan ini kurang serat dan vitamin C, maka sebaiknya
diberikan untuk jangka waktu pendek, yaitu selama 1-3 hari saja.
4) Diet Makanan Cair
Makanan cair adalah makanan yang mempunyai konsistensi cair hingga
kental. Makanan ini diberikan kepada pasien yang mengalami gangguan
mengunyah, menelan, dan mencernakan makanan yang disebabkan oleh
menurunnya kesadaran, suhu tinggi, rasa mual, muntah, pasca perdarahan saluran
6

cerna, serta pra dan pasca bedah. Makanan dapat diberikan secara oral atau
parental.
Menurut konsistensi makanan, makanan cair terdiri atas tiga jenis, yaitu:
makanan cair jernih, makanan cair penuh, dan makanan cair kental. Makanan cair
jernih adalah makanan yang disajikan dalam bentuk cairan jernih pada suhu ruang
dengan kandungan sisa (residu) minimal dan tembus pandang bila diletakkan
dalam wadah bening. Jenis cairan yang diberikan tergantung pada keadaan
penyakit atau jenis operasi yang dijalani.
Tujuan diet makanan cair jernih adalah memberikan makanan dalam bentuk
cair, yang memenuhi kebutuhan cairan tubuh yang mudah diserap dan hanya
sedikit meninggalkan sisa, mencegah dehidrasi yang menghilangkan rasa haus.
Syarat diet makanan cair adalah:
a)
b)
c)
d)
e)
f)

Makanan diberikan dalam bentuk cair jernih;


Bahan makanan hanya terdiri dari sumber karbohidrat;
Tidak merangsang saluran cerna dan mudah diserap;
Sangat rendah sisa;
Diberikan hanya selama 1-2 hari;
Porsi kecil dan diberikan sering.

Makanan cair jernih diberikan kepada pasien sebelum dan sesudah operasi
tertentu, keadaan mual, muntah dan sebagai makanan tahap awal pasca
pendarahan saluran cerna. Bahan makanan yang boleh diberikan antara lain teh,
sari buah, kaldu, air gula, serta cairan mudah cerna. Makanan dapat ditambah
dengan suplemen energi tinggi dan rendah sisa.
5) Diet pre operasi atau pra bedah
Pemberian diet pra bedah yang harus diperhatikan ialah :
a) Keadaan umum pasien
Memperhatikan apakah keadaan umum dari pasien tersebut normal atau
tidak dalam hal status gizi, gula darah, tekanan darah, ritme jantung,
denyut nadi, fungsi ginjal, dan suhu tubuh pasien.
b) Macam Pembedahan
Mengetahui apakah pasien terssebut akan melakukan bedah minor atau
bedah mayor.
c) Sifat operasi
Mengetahui apakah sifat operasi pasien tersebut bersifat segera/dalam
keadaan darurat atau bersifat berencana /elektif.
d) Macam penyakit
Mengetahui apakah macam dari penyakit pasien tersebut,penyakit
utama/penyakit penyerta.
7

Tujuan Diet Pra Bedah adalah untuk mengusahakan agar status gizi pasien
dalam keadaan optimal pada saat pembedahan, sehingga tersedia cadangan untuk
mengatasi stres dan penyembuhan luka.
Syarat Diet Pra Bedah
1. Energi
a. Bagi pasien dengan status gizi kurang diberikan sebanyak 40-45 kkal/kg
BB.
b. Bagi pasien yang status gizi lebih diberikan sebanyak 10-25% dibawah
kebutuhan energi normal.
c. Bagi pasien yang status gizi baik diberikan sesuai dengan kebutuhan
energi normal ditambah faktor stres sebesar 15% dari AMB ( Angka
Metabolisme Basal ).
d. Bagi pasien dengan penyakit tertentu energi diberikan sesuai dengan
penyakitnya.
2. Protein
a. Bagi pasien yang status gizi kurang, anemia, albumin rendah (<2,5 mg/dl)
diberikan protein tinggi 1,5-2,0 g/kg BB
b. Bagi pasien yang ststus gizi baik atau kegemukan diberikan protein normal
0,8-1 g/kg BB
c. Bagi pasien dengan penyakit tertentu diberikan sesuai dengan penyakinya
3. Lemak cukup, yaitu 15-25% dari kebutuhan energi total. Bagi pasien dengan
penyakit tertentu diberikan sesuai dengan penyakinya
4. Karbohidrat cukup, sebagai sisa dari kebutuhan energi total untuk menghindari
hipermetabolisme. Bagi pasien dengan penyakit tertentu, karbohidrat
diberikan sesuai dengan penyakitnya
5. Vitamin cukup, terutama vitamin B, C, dan K. Bila perlu ditambahkan dalam
bentuk sumplemen
6. Mineral cukup, bila perlu ditambahkan dalam bentuk suplemen
7. Rendah sisa agar mudah dilakukan pembersihan saluran cerna atau klisma,
sehingga tidak menggangu proses pembedahan (tidak buang air besar atau
kecil dimeja operasi).
Indikasi diet pra bedah sesuai dengan jenis dan sifat pembedahan diberikan
dengan indikasi sebagai berikut :
a. Pra bedah darurat atau cito, sebelum pembedahan tidak diberikan diet
tertentu
b. Pra bedah berencana atau elektif,
1) Pra bedah minor atau bedah kecil, seperti tonsilektomi tidak
membutuhkan diet khusus. Pasien dipuasakan 4-5 jam sebelum
8

pembedahan.

Sedangkan

pada

pasien

yang

akan

menjalani

apendiktomi, herniatomi, hemoroidektomi, dan sebagiannya diberikan


Diet Sisa Rendah sehari sebelumnya.
2) Pra bedah mayor atau bedah besar, seperti :
a) Pra bedah besar saluran cerna diberikan Diet Sisa Rendah selama
4-5 hari dengan tahapan:
1. Hari ke-4 sebelum pembedahan diberi Makanan Lunak
2. Hari ke-3 sebelum pembedahan diberi Makanan Saring
3. Hari ke-2 dan 1 hari sebelum pembedahan diberikan Formula
Enteral Sisa Rendah
b) Pra bedah besar di luar saluran cerna diberi Formula Enteral Sisa
Rendah selama 2-3 hari. Pemberian makanan terakhir pada pra
bedah besar dilakukan 12-18 jam sebelum pembedahan, sedangkan
minum terakhir 8 jam sebelumnya.
Rencana Tindakan Diet Pra Bedah
Untuk mengatasi adanya rasa cemas dan takut, dapat dilakukan persiapan
psikologis pada pasien melalui pendidikan kesehatan, penjelasan tentang peristiwa
yang mungkin akan terjadi, seterusnya.
Untuk mengatasi masalah risiko infeksi atau cedera lainnya dapat dilakukan
dengan persiapan prabedah seperti diet, persiapan perut, kulit, persiapan bernapas
dan latihan batuk, persiapan latihan kaki, latihan mobilitas, dan lain-lain.
Persiapan Diet Pra Bedah
Pasien yang akan dibedah memerlukan persiapan khusus dalam hal pengaturan
diet. Pasien boleh menerima makanan biasa sehari sebelum bedah, tetapi 8 jam
sebelum bedah tidak diperbolehkan makan, sedangkan cairan tidak diperbolehkan
8 jam sebelum bedah, sebab makanan atau cairan dalam lambung dapat
menyebabkan terjadinya aspirasi.
Evaluasi Diet Pra Bedah
Evaluasi terhadap masalah prabedah secara umum dapat dinilai dari adanya
kemampuan dalam memahami masalah atau kemungkinan yang terjadi pada intra
dan pascabedah. Tidak ada tanda kecemasan, ketakutan, serta tidak ditemukannya
risiko komplikasi pada infeksi atau cedera lainnya.
Bahan Makanan Sehari (Menu Diet Pra Bedah)
Bahan makanan sehari yang diberikan pada pasien Diet Pra Bedah adalah
makanan lunak, makanan saring dan makanan cair.
9

a. Makanan Lunak
Bahan makanan yang diberikan sehari
Komposisi mentah
Beras

250

Berat (g)

Daging

100

Telur

50

Tempe

100

Kacang Hijau

25

Sayuran

200

Buah

150

Minyak

25

Gula pasir

40

URT
gelas nasi tim

1
potong sdg
1
butir
4
ptg sdg
2,5
sdm
2
gls
2
bh pisang sdg
2,5 sdm
4
sdm

Contoh Menu
Bubur susu

Pagi

Siang
Bubur saring

Sore
Bubur saring

Telur setengah masak

Semur daging saring

Sup daging saring

Susu

Orak arik telur

Tim tahu

Wortel saring

Bayam saring

Pukul 10.00

Air jeruk
Pukul 16.00

Pepaya saring
Pukul 20.00

Puding vanili + susu

Susu

Susu

b. Makanan saring
Bahan makanan yang diberikan sehari
Komposisi mentah
Beras
Maezena
Daging
Telur
Tahu
Sayuran
Buah
Margarin
Gula pasir
Susu

Berat (g)
90
15
100
100
75
100
200
30
60
800

1
1
3
6
4

URT
gls bubur saring
sdm
gls saring
btr
btr besar
gls saring
gls pepaya saring
sdm
sdm
gls

Contoh menu
10

Pagi

Siang
Bubur saring
Semur daging saring
Orak arik telur
Wortel saring
Air jeruk
Pukul 16.00
Susu

Bubur susu
Telur masak
susu
Pukul 10.00
Puding vanili + susu

Sore
Bubur saring
Sup daging saring
Tim tahu
Bayam saring
Pepaya saring
Pukul 20.00
Susu

c. Makanan cair
Makanan cair dibagi 3 golongan yaitu makanan cair jernih,makanan cair
penuh,dan makanan cair kental.
1) Makanan cair jernih
Bahan makanan/minuman yang diberikan sehari
Pagi
Teh
Pukul 10.00
Air bubur kacang hijau

Siang
Kaldu jernih,air jeruk
Pukul 16.00
Teh

Malam
Kaldu jernih,air jeruk

2) Makanan cair penuh


Pada makanan cair penuh digolongkan menjadi 2 yaitu :
a) Formula rumah sakit ( FRS )
b) Formula komersial ( FK )
Bahan makanan sehari FRS dengan susu yang diberikan
BM

1500 kkal

1800 kkal

2000 kkal

Maizena

Berat
20

URT
4 sdm

Berat
20

URT
4 sdm

Berat
20

URT
4 sdm

Telur ayam

150

3 btr

150

3 btr

150

3 btr

Jeruk

100

2 bh

100

2 bh

100

2 bh

Margarin

10

sdg

20

2 sdm

20

2 sdm

1 sdm

120

24 sdm

160

32 sdm

Susu

penuh 120

bubuk

40

24 sdm

120

24 sdm

160

32 sdm

Susu skim bubuk

80

8 sdm

80

16 sdm

100

20 sdm

50

5 sdm

Gula pasir

8 sdm

Glukosa

11

Contoh bahan makanan yang dianjurkan


1

Jenis FRS
Bahan makanan
Makanan cair Susu penuh, maizena, telur ayam, margarine, gula, sari buah
dengan susu

penuh/skim
Makanan di Nasi tim, telur ayam, daging giling,ikan, tahu,tempe, wortel,

blender
Rendah

labu kuning, sari buah


Sama dengan no.1 tetapi susu diganti yang rendah laktosa

laktosa
Tanpa susu

Kacang hijau, tahu, tempe, wortel, sari buah, telur, tepung


sereal

3) Makanan cair kental


Bahan makanan yang dianjurkan
Sumber karbohidrat
Sumber protein
Sumber lemak
Sayuran
Buah buahan
Bumbu

Kentang, gelatin, tapioca dibuat puding


Susu, es krim, yoghurt, telur ayam, tahu giling
Margarine dan mentega
Sayuran dibuat jus dan dikentalkan dengan gelatin
Buah dibuat jus, jeli dan pure
Garam, bawang merah, gula, kecap

Contoh menu makanan sehari


Pukul 07.00

Pukul 12.00

Pukul 18.00

Sup krim jagung

Kentang pure

Puding maizena

Susu

Jus sayuran

Pukul 10.00

Jus mangga
Pukul 15.00

Pukul 21.00

Milk shake

Jus pepaya

susu

6) Diet Post Operasi


Diet post operasi atau pascabedah adalah makanan yang diberikan kepada
pasien setelah menjalani pembedahan. Pengaturan makanan sesudah pembedahan
tergantung pada macam pembedahan dan jenis penyakit penyerta.
12

Waktu ketidakmampuan pasien setelah operasi atau pembedahan dapat


diperpendek melalui pemberian zat gizi yang cukup. Hal yang juga harus
diperhatikan dalam pemberian diet pasca operasi untuk mencapai hasil yang
optimal adalah mengenai karakter individu pasien.
Pengaruh operasi terhadap metabolism pasca-operasi tergantung berat
ringannya operasi, keadaan gizi pasien pasca-operasi, dan pengaruh operasi
terhadap kemampuan pasien untuk mencerna dan mengabsorpsi zat-zat gizi.
Setelah operasi sering terjadi peningkatan ekskresi nitrogen dan natrium yang
dapat berlangsung selama 5-7 hari atau lebih pasca-operasi. Peningkatan ekskresi
kalsium terjadi setelah operasi besar, trauma kerangka tubuh, atau setelah lama
tidak bergerak (imobilisasi). Demam meningkatkan kebutuhan energi, sedangkan
luka dan perdarahan meningkatkan kebutuhan protein, zat besi, dan vitamin C.
Cairan yang hilang perlu diganti.
Tujuan diet pascabedah adalah untuk mengupayakan agar status gizi
pasien segera kembali normal untuk mempercepat proses penyembuhan dan
meningkatkan daya tahan tubuh pasien, dengan cara sebagai berikut:
a) Memberikan kebutuhan dasar (cairan, energi, protein)
b) Menggantikan kehilangan protein, glikogen, zat besi, dan zat gizi lain
c) Memperbaiki ketidakseimbangan elektrolit dan cairan
Syarat diet yang disarankan adalah :
1. Mengandung cukup energi, protein, lemak, dan zat-zat gizi
2. Bentuk makanan disesuaikan dengan kemampuan penderita
3. Menghindari makanan yang merangsang (pedas, asam, dll)
4. Suhu makanan lebih baik bersuhu dingin
5. Pembagian porsi makanan sehari diberikan sesuai dengan kemampuan
dan kebiasaan makan penderita.
6. Syarat diet pasca-operasi adalah memberikan makanan secara bertahap
mulai dari bentuk cair, saring, lunak, dan biasa. Pemberian makanan
dari tahap ke tahap tergantung pada macam pembedahan dan keadaan
pasien.
Jenis Diet dan Pemberian
a. Diet Pasca-Bedah I (DPB I)
Diet ini diberikan kepada semua pasien pascabedah :
Pasca-bedah kecil : setelah sadar dan rasa mual hilang
13

Pasca-bedah besar : setelah sadar dan rasa mual hilang serta ada
tanda-tanda usus mulai bekerja
Cara Memberikan Makanan
Selama 6 jam sesudah operasi, makanan yang diberikan berupa air
putih, teh manis, atau cairan lain seperti pada makanan cair jernih.
Makanan ini diberikan dalam waktu sesingkat mungkin, karena
kurang dalam semua zat gizi. Selain itu diberikan makanan
parenteral sesuai kebutuhan.

b. Diet Pasca-Bedah II (PDB II)


Diet pasca-bedah II diberikan kepada pasien pascabedah besar
saluran cerna atau sebagai perpindahan dari Diet Pasca Bedah I.
Cara Memberikan Makanan
Makanan diberikan dalam bentuk cair kental, berupa kaldu jernih,
sirup, sari buah, sup, susu, dan puding rata-rata 8-10 kali sehari
selama pasien tidak tidur. Jumlah cairan yang diberikan tergantung
keadaan dan kondisi pasien. Selain itu dapat diberikan makanan
parenteral bila diperlukan. DPB II diberikan untuk waktu sesingkat
mungkin karena zat gizinya kurang. Makanan yang tidak boleh
diberikan pada diet pasca-bedah II adalah air jeruk dan minuman
yang mengandung karbondioksida.
c. Diet Pascabedah III (DPB III)
DPB III diberikan kepada pasien pascabedah besar saluran cerna
atau sebagai perpindahan dari DPB II. Makanan yang diberikan
berupa makanan saring ditambah susu dan biskuit. Cairan
hendaknya tidak melebihi 2000 ml sehari. Selain dapat diberikan
Makanan Parenteral bila diperlukan. Makanan yang tidak
dianjurkan untuk DPB III adalah makanan dengan bumbu tajam
dan minuman yang mengandung karbondioksida.
d. Diet pasca bedah IV
Berupa nasi Tim dan lauk Tinggi Kalori Tinggi Protein. Makanan
tinggi kalori dan tinggi protein berupa makanan seimbang.
Makanan yang dihindari :
14

Disesuaikan dengan kondisi klien


Misalnya :
1) Darah tinggi mengurangi konsumsi garam dan kolesterol
2) Kencing manis mengurangi konsumsi gula
3) Orang yang alergi terhadap makanan tertentu seperti telur,
ikan asin, Kacang harus dihindari
Rencana Tindakan Diet Pascabedah
a. Meningkatkan proses penyembuhan luka untuk mengurangi rasa nyeri
yang dapat dilakukan dengan cara merawat luka dan memperbaiki asupan
makanan yang tinggi protein dan vitamin C. protein dan vitamin C dapat
membantu pembentukan kolagen, dan mempertahankan integritas dinding
kapiler.
b. Mempertahankan respirasi yang sempurna dengan cara latihan napas,
yakni tarik napas yang dalam dengan mulut terbuka, tahan selama 3 detik,
kemudian hembuskan. Atau, dapat pula dilakukan dengan cara menarik
napas melalui hidung dengan menggunakan diafragma, kemudian
keluarkan napas perlahan-lahan melalui mulut yang dikuncupkan.
c. Mempertahankan sirkulasi, dengan cara menggunakan stocking pada
pasien yang berisiko tromboplebitis atau pasien dilatih agar tidak duduk
terlalu lama dan harus meninggikan kaki pada tempat duduk guna
memperlancar vena balik.
d. Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit dengan cara
memberikan cairan sesuai dengan kebutuhan pasien dan monitor asupan
dan output serta mempertahankan nutrisi yang cukup.
e. Mempertahankan eliminasi dengan cara mempertahankan asupan dan out
put serta mencegah tejadnya retensi urine .
b. Mempertahankan aktivitas dengan cara latihan memperkuat otot sebelum
ambulatory.
c. Mengurangi kecemasan dengan cara melakukan komunikasi secara
terapeutik.
Evaluasi Diet Pascabedah
Evaluasi terhadap masalah pascabedah secara umum dapat dinilai dari adanya
kemampuan dalam mempertahankan status kesehatan, seperti adanya peningkatan
proses penyembuhan luka, sistem respirasi yang sempurna, sistem sirkulasi,
keseimbangan cairan dan elektrolit, sistem eliminasi, aktivitas, serta tidak
ditemukan tanda kecemasan lanjutan.
15

Definisi Diet Pasca Bedah Lewat Pipa Lambung


Yang disebut dengan Diet Pasca Bedah Lewat Pipa Lambung adalah
pemberian makanan bagi pasien dalam keadaan khusus seperti koma, terbakar,
gangguan psikis.
Disini makanan harus diberikan lewat pipa lambung (enteral) atau Naso
Gastrik Tube (NGT). Cara Memberikan Diet Pasca Bedah Lewat Pipa Lambung
Adapun cara memberikan Diet Pasca Bedah Lewat Pipa Lambung ialah
makanan diberikan sebagai makanan cair kental penuh, 1 kkal/ml, sebanyak 250
ml tiap 3 jam bila tidak tidur. Dan makanan diharapkan dapat merangsang
peristaltik lambung.
Bahan makanan sehari diet pasca bedah lewat pipa lambung
Pukul 07.00

Pukul 12.00

Pukul 18.00

Sup krim jagung

Kentang pure

Puding maizena

Susu

Jus sayuran

Pukul 10.00

Jus mangga
Pukul 15.00

Pukul 21.00

Milk shake

Jus pepaya

susu

Nilai gizi diet pasca bedah lewat pipa lambung


Energi

1385 Besi 21,8 mg

kkal
Protein 49 g

Vitamin A 2628,6 RE

Lemak 50 g

Kalsium 386 mg

Karbohidrat 199 Thiamin 0,8 mg


g

Vitamin C
190 mg

Definisi Diet Pasca Bedah Lewat Pipa Jejenum


Adapun Diet Pasca Bedah lewat pipa jejenum adalah pemberian makanan bagi
pasien yang tidak dapat menerima makanan melalui oral atau pipa lambung.
Disini makanan diberikan langsung ke jejenum dengan menggunakan pipa
jejenum atau Jejenum Feeding Fistula (JFF). Cara memberikan diet pasca bedah
lewat pipa jejenum
Adapun cara memberikan Diet Pasca Bedah Lewat Pipa Jejenum ialah dengan
cara makanan diberikan sebagai makanan cair yang tidak memerlukan pencernaan
lambung dan tidak merangsang jejenum secara mekanis maupun osmotis.
16

Cairan diberikan tetes demi tetes secara perlahan ,aga tidak terjadi diare atau
kejang. Diet ini juga diberikan pada waktu yang singkat karena kurang energi,
protein, vitamin, dan zat besi lainnya.
Bahan makanan sehari diet pasca bedah lewat jejenum
Susu bubuk

80 g

Air kapur (USP)

420 ml

Dekstrin maltosa

20 g

Air

200 ml

Nilai gizi Diet Pasca Bedah lewat jejenum


Energi
Protein
Lemak
Karbohidrat
Kalsium
Besi
Vitamin A
Tiamin
Vitamin C

484 kkal
20 g
24 g
48 g
723 mg
0,5 mg
1256 RE
0,2 mg
4,8 mg

B. Contoh Diet Pada Kasus Pembedahan Saluran Cerna


1. Diet Untuk Bedah Kantung Empedu dan Kombinasi dengan Abdomino-Perineal
Bedah pada kantung empedu yang dikombinasikan dengan Abdomino-Perineal,
oral feeding biasanya diberikan di awal. Berikut adalah sebuah contoh jadwal diet
yang sederhana:
Hari pertama (hari saat operasi): dipenuhi kebutuhan transfusi dan formula infus
yang cukup.
Hari kedua : ditambah sejumlah kecil cairan (teh, gelatin, dan air jahe) tanpa susu
atau jus buah.
Hari ketiga : cairan, termasuk susu skim dan jus buah boleh diberikan. Pemberian
makanan pembuluh darah melalui infus dilanjutkan, kecuali glukosa dalam air,
ditambah vitamin dapat digantikan dengan bagian dari larutan garam.

17

Hari keempat : sejumlah kecil campuran cairan yang mengandung tinggi protein
boleh ditambahkan. Pada hari ini 1 liter protein hidrolisat dapat dihilangkan dari
pemberian makanan bagi pembuluh darah.
Hari kelima : jumlah makanan boleh ditingkatkan, setidaknya 70-100 gram. Protein
harus tersedia dalam oral feeding. Pemberian vitamin secara oral sudah bisa
diberikan. Pemberian makan pembuluh darah melalui infus dapat dihentikan.
Hari keenam : Diet makanan biasa sudah bisa diberikan kepada pasien.
Beberapa pasien yang kantung empedunya dioperasi, mungkin lebih merasa
nyaman dengan diet rendah lemak untuk beberapa minggu atau bahkan beberapa
bulan setelah operasi.
2.

Diet Pasca Operasi Anus/Dubur


Operasi dubur hampir sama dengan hemorrhoidectomy, pemberian makan
biasanya dilakukan dalam waktu 24 jam atau sesegera mungkin, bergantung pada
anastesi yang telah diatur. Beberapa pembedah lebih suka memberi diet rendah serat,
dengan sisa yang terbatas untuk mengurangi pergerakan isi perut. Hal lain yang
diperbolehkan diet normal dan menambah defekasi yang dibantu dengan minyak
mineral.
Penggunaan jangka panjang minyak mineral dapat mengurangi karena
menganggu penyerapan beberapa mineral dan vitamin.

3.

Diet Pasca Operasi Umum


Diet yang ditentukan untuk pasien yang mempunyai riwayat bedah tulang atau
gigi, atau yang telah mengalami kecelakaan kecil, dapat diberi lebih dulu program
diet yang lebih cepat dibandingkan dengan program diet pasca operasi
gastrointestinal. Secara bertahap, pasien dapat mengkonsumsi diet berupa cairan
penuh pada hari kedua setelah operasi, diet makanan lunak pada hari ketiga, dan diet
makanan biasa pada hari keempat. Kondisi pasien menentukan diet yang akan
dikonsumsi. Yang perlu diperhatikan adalah diet tersebut harus dapat memenuhi
kebutuhan kalori dan protein. Vitamin secara bertahap diberikan sebagai suplemen.

4.

Diet Pasca Operasi Mulut dan atau Esofagus


Setelah operasi mulut atau esofagus, pemberian makanan secara parenteral yang
biasanya diberikan pada pasien di awal, dengan pemberian makan dengan
menggunakan tabung. Sejak pasien tinggal di rumah sakit untuk jangka waktu yang
cukup lama, yang paling utama adalah formula diet yang akan diberikan harus
memenuhi kebutuhan semua zat gizi. Kebutuhan cairan dapat dipenuhi secara oral,
18

jenisnya dapat diperoleh dengan mengencerkan makanan padat, seperti kentang,


daging cincang, sayuran dan buah dengan cara diblender atau disaring dan
ditambahkan cairan.
5.

Menu Diet Post Operasi dalam 1 Hari ( Amandel )


Makanan cair dapat berupa susu, tatapi tidak boleh terlalu panas. Makanan dalam
suhu dingin lebih baik karena dapat mempercepat berhentinya perdarahan. Setelah
tahap makanan cair, dapat diberikan makanan dalam bentuk saring bertahap ke
makanan lunak dan kembali seperti semasa sehat, sesuai dengan kemampuan pasien
menerima makanan.
Pagi
Bubur Sumsum
Orak-Arik Tahu
Telur Rebus Setengah Matang
Pukul 10.00
Puding caramel atau es krim
Siang
Bubur Saring
Orak-arik tahu
Sup Makaroni
Jus Pepaya
Pukul 16.00
Puding
Sore
Bubur saring
Ayam giling bumbu
Tahu kukus
Sup oyong

19

BAB III
PENUTUP
A.

Simpulan
Simpulan yang dapat kami petik dari makalah ini, yaitu:
1. Jenis-jenis diet yang dapat diberikan dalam kasus pembedahan saluran cerna.
a. Diet makanan biasa
b. Diet makanan lunak
c. Diet makanan saring
d. Diet makanan cair
e. Diet pre operasi atau prabedah
f. Diet post operasi atau pascabedah
2. Contoh diet pada kasus pembedahan saluran cerna.
20

a. Diet Untuk Bedah Kantung Empedu dan Kombinasi dengan Abdominob.


c.
d.
e.

Perineal
Diet Pasca Operasi Anus/Dubur
Diet Pasca Operasi Umum
Diet Pasca Operasi Mulut dan atau Esofagus
Menu Diet Post Operasi dalam 1 Hari ( Amandel )

DAFTAR PUSTAKA
Almatsier,Sunita (Ed).2011. Penuntun Diet Edisi Baru . Jakarta : PT Gramedia Pustaka
Utama.
Mahaji Putri, Rona Sari. Tanpa tahun. Gizi dan Terapi Diet. Malang
Uliyah musrifatul. 2013.

Ketrampilan Dasar Praktek Klinik Untuk Kebidanan.Jakarta:

salemba medika
Cameron, John L. 1997. Terapi Bedah Mutakhir (Hal: 576), Jakarta: Binarupa Aksara
http://www.detikhealth.com/read/2010/10/02/110327/1453718/763/makan-sebelum-operasidapat-mempercepat-masa-pemulihan
http://www.smallcrab.com/makanan-dan-gizi/617-jenis-makanan-untuk-diet

21