Anda di halaman 1dari 7

LAMPIRAN B

Perhitungan neraca energi dilakukan untuk mengetahui energi yang perlu


ditambahkan atau dilepaskan pada setiap sistem untuk memenuhi kondisi
operasi. Hasil perhitungan neraca energi akan digunakan untuk pemilihan jenis
alat dan ukuran yang sesuai, serta penyediaan energi untuk keseluruhan proses.
Data entalpi dan panas pembentukan didapatkan dari hasil perhitungan
menggunakan metode estimasi Benson. Selain itu untuk perhitungan neraca
energi pada Evaporator, digunakan pemodelan ASPEN HYSYS V 8.8.
Perhitungan neraca energi berdasarkan pada neraca massa yang telah
dihitung sebelumnya. Perhitungan neraca energi dilakukan dengan menggunakan
persamaan 3.2 dengan asumsi seperti yang telah dijelaskan pada subbab 3.2.2
asumsi, persamaan, dan neraca energi setiap unit. Secara umum perhitungan neraca
energi ini didasarkan pada energi aliran masuk sama dengan energi aliran keluar
atau energi yang dilepas sama dengan energi yang diterima, karena diasumsikan
tidak ada heat loss.

B1. Reaktor R-101


Reaksi berlangsung secara endotermis. Perhitungan neraca energi di
reaktor bertujuan untuk mengetahui jumlah pemanas yang dibutuhkan.
Perhitungan neraca energi menggunakan total entalphy flow, dimana entalpi
yang masuk sama dengan entalpi keluar, sehingga selisihnya merupakan entalpi
pemanas yang dibutuhkan. Tabel B.11 menunjukan data entalpi pembentukan
dari setiap komponen.
Tabel B.11 Panas pembentukan
Komponen
Hf (J/mol)
Glukosa
-0,9774
Air
-0,2406
Decanol
-0,3998
Dodecanol
-0,4411
Tetradecanol
-0,4823
Decyl Glucoside
-1,2495
Lauryl Glucoside
-1,3288
Myristyl Glucoside
-1,3320

Tabel B.12 menunjukkan nilai kapasitas panas berdasarkan metode


estimasi Benson. Metode estimasi digunakan karena sulitnya ketersediaan data
kapasitas panas dari produk dan katalis, sehingga dilakukan estimasi. Begitu
pula dengan nilai entalpi pembentukan, dihitung berdasarkan metode Benson..
Metode Benson ini mengestimasi nilai kapasitas panas dan entalpi pembentukan
berdasarkan jumlah ikatan rumus molekulnya.
Tabel B.12 Nilai Kapasitas Panas
Cp 71,95 Cp 95 gas Cp 95 liq
Komponen
(J/mol.K) (J/mol.K) (J/mol.K)
Glukosa
Air
Decanol
Dodecanol
Tetradecanol
Decyl Glucoside
Lauryl Glucoside
Myristyl Glucoside

227,50
75,61
271,58
321,91
372,23
491,84
543,41
592,49

232,48
75,81
278,77
330,47
382,16
504,17
556,89
607,55

33,81
281,42
333,91
386,39

Berdasarkan data panas pembentukan dan kapasitas panas maka dapat


dihitung entalpi masuk dan keluar dari reaktor.
Tout

Q=N H f +

) (

Tin

Cp dT N H f + Cp dT
T

2123,3 mol/ j 0,9774 J/mol + 232.48 J/mol.K) +


Q=

.................B.11

7567,5 mol/ j 0,9774

J/mol + 0 J/mol.K)] - 7567,5 mol/ j 0,9774 J/mol + 227,5 J/mol.K)

Q=1700071624,49
352244715,04
352244,72

J
J
1347826909.45
jam
jam

J
jam

kJ
jam

Tabel 3.3 merupakan hasil perhitungan entalpi keluar dan masuk reaktor. Karena
reaksi yang berlangsung endotermis maka dilakukan pemanasan untuk menjaga

suhu operasi. Selisih dari total entalpi keluar dan masuk reaktor merupakan
panas yang dibutuhkan reaksi, yaitu sebesar 352244,72 kJ/jam.

Tabel B.13 Entalpi Keluar dan Masuk Reaktor


Komponen
Hin (kJ/jam)
Hout (kJ/jam)
Glukosa
Air
Decanol
Dodecanol
Tetradecanol
Decyl Glucoside
Lauryl Glucoside
Myristyl Glucoside
Total

124163,60
184381,51
632,59
1036505,79
640,14
26,40
1475,20
1,68
1347826,91

46891,28
127666,70
0,00
1235517,23
0,00
1582,36
287035,61
1378,44
1700071,62

Pemanasan dilakukan dengan mengalirkan steam ke jaket reaktor.


Suhu umpan berada pada 97,11oC dan suhu keluaran akan dijaga pada suhu
120oC. Steam yang digunakan memiliki suhu masuk 141,8 oC dengan tekanan
3,8 bar yang memiliki entalpi vapour-liquid (HVL) 2138,6 kJ/kg.
m=

Q
H VL

........................................................................B.12

kJ
jam
kJ
2138,6
kg

352244,72
m=

164,71

kg
jam

Berdasarkan persamaan B.12, didapatkan laju steam yang harus dialirkan di


jaket reaktor sebesar 164,71 kg/jam. Namun dikarenakan terdapat heat loss
sebesar 15% maka laju steam tersebut dibagi dengan 0,85 sehingga
didapatkan 193,77 kg/jam.
kg
jam
0,85

164,71
m=

193,77 kg / jam

B.2 Preheater, Heater, dan Cooler


Perhitungan neraca energi pada preheater, heater dan cooler dilakukan
berdasarkan persamaan B.13 dimana entalpi masuk sama dengan entalpi
keluar.

( N Cp T )cold=( N Cp T )hot .............................................................B.13


Preheater 1 (E-101)
Perhitungan neraca energi pada preheater 1 ini dilakukan untuk
mengetahui suhu aliran cold keluaran preheater 1. Karena terdapat heat loss
10% maka laju panas aliran hot dikali 0,9. Data yang digunakan yaitu nilai
kapasitas panas dari setiap komponen yang dapat dilihat pada Tabel B.14.
Tabel B.14 Nilai Kapasitas Panas untuk Preheater 1
Cp 363
Cp 351.72
Komponen
(J/mol.K) (J/mol.K)
Glukosa
240,0429
235,1660
Air
76,1300
75,9200
Decanol
289,7114
282,6603
Dodecanol
343,4876
335,0940
Tetradecanol
397,2639
387,5277
Decyl Glucoside
522,9302
510,8363
Lauryl Glucoside
577,4066
564,1835
Myristyl Glucoside 630,4827
615,7037
Berdasarkan perhitungan menggunakan persamaan B.13 didapatkan
suhu keluaran preheater 1 yaitu 68,18oC.
Preheater 2 (E-102)
Perhitungan neraca energi pada preheater 2 ini dilakukan untuk
mengetahui suhu aliran cold keluaran preheater 2 yang akan menjadi umpan
reaktor. Karena terdapat heat loss 10% maka laju panas aliran hot dikali 0,9.
Data yang digunakan yaitu nilai kapasitas panas dari setiap komponen yang
dapat dilihat pada Tabel B.15.
Tabel B.15 Nilai Kapasitas Panas untuk Preheater 2
Cp 373
Cp 361.18
Komponen
(J/mol.K)
(J/mol.K)
Glukosa
244,3665
239,2561

Air
Decanol
Dodecanol
Tetradecanol
Decyl Glucoside
Lauryl Glucoside
Myristyl Glucoside

76,3400
295,9624
350,9288
405,8953
533,6518
589,1291
643,5847

76,1000
288,5737
342,1334
395,6930
520,9789
575,2731
628,0982

Berdasarkan perhitungan menggunakan persamaan B.13 didapatkan


suhu keluaran preheater 2 yaitu 92,77oC.
Heater (E-103)
Perhitungan neraca energi pada heater bertujuan untuk mengetahui
laju alir steam untuk memanaskan aliran. Karena terdapat heat loss 10%
maka laju panas aliran hot dikali 0,9. Data yang digunakan yaitu nilai
kapasitas panas dari setiap komponen yang dapat dilihat pada Tabel B.16.
Tabel B.16 Nilai Kapasitas Panas untuk Heater 2
Cp 333,4
Cp 353
Komponen
(J/mol.K) (J/mol.K)
Glukosa
227,25
235,72
Air
75,59
75,94
Decanol
271,21
283,46
Dodecanol
321,46
336,05
Tetradecanol
371,72
388,63
Decyl Glucoside
491,19
512,21
Lauryl Glucoside
542,71
565,68
Myristyl Glucoside
591,70
617,38
Steam yang digunakan memiliki suhu masuk 120,2oC dengan tekanan
2 bar yang memiliki entalpi vapour-liquid (H VL) 2201,6 kJ/kg. Berdasarkan
spesifikasi tersebut dan persamaan B.12 didapatkan laju steam sebesar 187,1
kg/jam. Namun dikarenakan terdapat heat loss 10%, maka laju steam tersebut
dibagi efisiensi 90%, didapatkan laju steam yang seharusnya dialirkan 207,89
kg/jam.
Cooler (HE-105)
Cooler bertujuan untuk menurunkan suhu aliran keluaran reaktor yang
berupa gas. Suhu aliran diturunkan karena separator S-101 beroparasi pada
suhu 44,19oC sedangkan suhu aliran keluar reaktor 120oC.

Perhitungan neraca energi pada cooler ini bertujuan untuk mengetahui


suhu aliran hot keluaran cooler. Karena terdapat heat loss 10% maka laju
panas aliran hot dikali 0,9. Diagram blok neraca energi Cooler dengan
menggunakan cooling water dapat dilihat pada Gambar 3.6.
Setelah dilakukan perhitungan dengan menggunakan persamaan 3.9
didapatkan laju cooling water yang harus dialirkan di shell cooler ini yaitu
sebesar 111,31 kg/jam.

B.3 Evaporator
Evaporator bertujuan untuk memekatkan produk Lauryl Glucoside
dengan memisahkan kandungan Lauryl Alcohol. Dikarenakan perbedaan
tekanan yang cukup besar, maka perhitungan neraca energi dilakukan dengan
menggunakan pemodelan ASPEN HYSYS V 8.8. Fluid package yang
digunakan yaitu Antoine.
Perhitungan neraca energi di evaporator ini bertujuan untuk
mengetahui panas yang perlu ditambahkan selama proses evaporasi.
Sehingga dapat diketahui jumlah kebutuhan steam yang harus dialirkan.
Evaporator 1 (FE-101)
Evaporator 1 bertujuan untuk mengurangi komponen Lauryl Alcohol
pada produk hingga 0,4 %wt. Perhitungan neraca energi menggunakan
pemodelan untuk mengetahui entalpi steam yang harus diumpankan.
Steam yang digunakan memiliki suhu masuk 162oC dengan tekanan 6,5
bar yang memiliki entalpi vapour-liquid (HVL) 2074,4 kJ/kg. Berdasarkan
spesifikasi tersebut dan persamaan B.12 didapatkan laju steam sebesar
1072,44 kg/jam. Namun dikarenakan terdapat heat loss 15%, maka laju steam
tersebut dibagi efisiensi 85%, didapatkan laju steam yang seharusnya
dialirkan 1261,7 kg/jam.
Evaporator 2 (FE-102)
Produk keluaran evaporator 1 mengandung lauryl alcohol 0,4 %wt
sedangkan spesifikasi produk yang diinginkan 0,05%wt. Maka dari itu

dilakukan pemisahan lagi di evaporator 2. Evaporator 2 dapat mengurangi


komponen Lauryl Alcohol pada produk hingga 0,02 %wt.
Perhitungan

neraca

energi

menggunakan

pemodelan

untuk

mengetahui entalpi steam yang harus diumpankan. Steam yang digunakan


memiliki suhu masuk 162oC dengan tekanan 6,5 bar yang memiliki entalpi
vapour-liquid (HVL) 2074,4 kJ/kg. Berdasarkan spesifikasi tersebut dan
persamaan B.12 didapatkan laju steam sebesar 272,57 kg/jam. Namun
dikarenakan terdapat heat loss 15%, maka laju steam tersebut dibagi efisiensi
85%, didapatkan laju steam yang seharusnya dialirkan 320,67 kg/jam.